Anda di halaman 1dari 18

Interview dengan Bapak AM Safwan di Yayasan Rausyanfikr Interviewer : Ulya Amaliya, Amalia Estetika, Dian Aji Wardhana, Hadza

Min Fadhli R AM Safwan: Ada outlinenya? 00:00:01-7

Ulya Amaliya: A.. outline... ini gambarannya...

00:00:05-7

AM Safwan: Ini riset apa kalau boleh tahu? Targetnya?

00:00:25-1

Ulya Amaliya: Ini Hibah Riset, pak..dari jurusan Ilmu Hubungan Internasional, tema utamanya sih tentang gelombang demokratisasi di Timur Tengah.. 00:00:36-3

AM Safwan: Riset kelompok apa tugas kuliah ini? 00:00:40-0

Ulya Amaliya: Kelompok pak, hibah riset.. 00:00:42-2

AM Safwan: Program? 00:00:43-9

Ulya Amaliya: Programnya fakultas pak.. 00:00:45-5

AM Safwan: Gimana nih? Apa yang bisa saya bantu? 00:00:49-7

Ulya Amaliya: Jadi kan itu, tema utama kalo dari fakultas itu, kita kan dari Ilmu Hubungan Internasional pak, jadi tentang gelombang demokratisasi di Timur Tengah, nah kita bawa kasusnya itu Iran, yang kita tahu itu di Iran ada institusi Wilayatul Faqih, gitu.. yang itu kaya, itu.. sebetulnya [unclear] dari satu orang gitu,

dari seorang Imam Besar, kekuasaannya bisa dibilang absolut juga, dia penguasa tertinggi di Iran.. dan dia.. 00:01:25-7

AM Safwan: Absolut dari mana teorinya? 00:01:27-6

Ulya Amaliya: Kalau dulu, kita ada apa namanya, ngelist kekuasaannya dia di media, Wilayatul Faqih, jadi dia punya kekuasaan kaya untuk [unclear], 00:01:40-8

AM Safwan: Absolut itu ada anunya, teorinya? Tentang absolut? Atau pandangan? 00:01:45-4

Ulya Amaliya: Bukan pak.. Pandangan aja.. 00:01:46-9

AM Safwan: Tidak mudah ya memberikan justifikasi kalau tidak ada dasar teorinya, oke.. yak, terus.. 00:01:54-9

Ulya Amaliya: Selain dia penguasa tertinggi, kekuasaannya dia itu besar, dan itu kan yang jadi permasalahan di negara-negara sekitar Timur Tengah itu, sekarang ini gitu kan, jadi, kalo misalnya mereka menganggap pemimpin mereka korupsi, berkuasa terlalu lama, tertinggi, gitu kan, akhirnya mereka digulingkan.. belakangan ini, gitu sih, apakah gelombang demokratisasi di Timur Tengah ini akan berpengaruh juga terhadap keberadaan institusi Wilayatul Faqih di Iran? Kan ini menyebar.. Gitu sih pak, pertanyaannya.. 00:02:33-5

AM Safwan: Yak, apa lagi? 00:02:38-7

Ulya Amaliya: Kita kan nyempitinnya mungkin dari setelah Revolusi Melati di Februari 2011, sampai Juli ini gitu, ada apa aja sih di Iran...kaya misalnya... 00:02:50-1

AM Safwan: Periodenya? 00:02:52-3

Ulya Amaliya: Dari revolusi Tunisia yang Februari 2011 sampai Juli ini gitu, periode spesifiknya seperti itu.. ada apa aja sih di Iran yang kira kira itu merupakan bisa dianggap pengaruh dari gelombang demokratisasi negara-negara tetangganya, kaya misalnya adakah demo, atau adakah reaksi oposisinya.. Kalau yang bapak tahu dan bapak pahami? 00:03:19-3

Ulya Amaliya: Atau mungkin, kalau dari bapak, Wilayatul Faqih itu sebenarnya apa sih pak? 00:03:32-4

AM Safwan: Nah, itu dulu yang penting mbak... 00:03:33-8

AM Safwan: Tadi, menggunakan kata besar dan absolut itu beda.. Besar dan absolut itu, orang lebih banyak mengatakan absolut.. 00:03:48-6

AM Safwan: Pertama, analisisnya revolusi di Timur Tengah itu faktornya apa saja? Tunisia, Mesir... faktor apa yang ada disana sehingga itu bisa terjadi gelombang besar? 00:04:04-5

Amalia Estetika: Mungkin pertama ekonomi ya pak... [disrupted with ringtone].. sebagian besar masyarakat itu ekonominya tidak baik, hanya baik dilingkungan elitnya, itu yang utama, terus udah kaya gitu mungkin mereka sudah bosan dengan kediktatoran, bisa kita lihat di Tunisia sama Mesir itu kan, sama sama diktator, terus Libya juga, mereka hampir lebih dari 10 tahun, bahkan lebih dari 20 tahun, ada disana.. lalu mungkin ada yang ketiga adalah media bapak, karena awal dari pergerakan mereka yang seperti kami tahu adalah lewat media seperti Twitter, Facebook... 00:04:46-6

AM Safwan: Betul...

00:04:44-6

Amalia Estetika: Itu juga memacu semangat jadi satu, orang ke orang lain, jadi mereka dapat berkumpul untuk... [disrupted with noise] 00:04:53-2

AM Safwan: Mungkin yang lain, silakan? Ada argumen lain? 00:05:02-9

Dian Aji Wardhana: Aa.. Ditambah lagi, selain faktor-faktor ekonomi itu, yang buat rakyat bergejolak itu adalah gimana rezim yang selama ini memimpin mereka itu banyak men-supress, menekan apapun yang tidak sesuai dengan pandangan rezim itu, misalkan di Libya itu, segala yang berbau barat itu jadi agak dihindari.. dan sebagainya, dan juga, pandangan yang tidak sesuai di berangus, dan di Iran sendiri, ada juga hal seperti itu, ada pengekangan terhadap masyarakat akan nilai apa yang seharusnya dianut atau yang tidak dianut, dan malah itu juga lebih personal daripada negara-negara lain di Timur Tengah, misalnya media yang tidak boleh masuk kampanye atau digunakan sampai.. [disrupted with noise].. dan mungkin itu yang saya pikir memicu ketidakpuasan rakyat untuk melawan pemimpinnya 00:06:20-1

AM Safwan: Ketidakpuasan? 00:06:29-5

Dian Aji Wardhana: Dia pengen sesuatu yang lebih bebas dan lebih baru, dan ngeliat tetangga-tetangganya yang sekarang sudah dalam tanda kutip berhasil dalam mendapatkan apa yang mereka impikan, mungkin apakah hal itu berpengaruh kepada rakyat Iran untuk melakukan hal yang sama, seperti itu... 00:06:52-6

AM Safwan: Apa lagi? 00:07:03-9

AM Safwan: Disini di.. ada premis kewenangan absolut.. ee.. sejauh yang saya tahu tidak absolut, karena dia ada majelis Ghub-raighan, ada dewan ulama, dan dia bisa jatuh.. bisa.. ee.. karena itu teori ini harus bisa dipertanggungjawabkan.. dikutip dari.. Pak Cipto ya? Saya kira Pak Cipto, ee.. harus, saya punya bukunya,

saya sudah baca bukunya, banyak referensi-referensi sekunder, tapi usahanya bagus untuk mendeskripsikan Iran, saya sudah pelajari bukunya memang, dan premis absolut itu tidak ada dalam Wilayatul Faqih, bisa dilihat dalam Konstitusi.. karena dia ada yang pengimbangnya, 12 majelis Ghubraighan, dan dia dipilih oleh 12 ini.. tapi 12 ini bisa menjatuhkan, itu pertama, nanti buku-bukunya bisa dilihat, karena itu untuk kata absolut ini saya kira tidak bisa, absolut itu tidak mungkin ada di alam ini, dan mereka juga belajar filsafat, dan tahu absolutisme itu tidak mungkin, orang pasti berbeda-beda, tidak ada orang yang bisa memutlakkan, dan mereka saya kira tidak perlu diajarin karena mereka sudah tamat dengan Plato, Aristoteles, dan semuanya, dan mereka membaca [unclear].. mungkin perlu dibahas ini, apa betul itu absolut? Kalau ditanya menurut saya, sejauh yang saya pahami dari referensi, dengan interaksi saya dengan ulama Iran, jadi saya kira tidak absolut, kalau ini mau disandingkan saya punya profesor di Jakarta yang bisa ditanyakan, profesor Iran yang ada di Indonesia, Prof. Dr. Sayed Ahmad Fazeli. Bisa dicek disana.. atau ke Jakarta, ke Doktor Khalid al-Walid, atau Kang Jalal, atau lainnya, saya kira bisa diacu pandangan saya kepada ekspert yang lebih ekspert dari saya.. Eee, saya kira, kutipan ke Pak Cipto ini sebagai sebuah kutipan ini tidak masalah, tapi tidak bisa saya terima.. Wilayatul Faqih itu tidak absolut, karena itu ijtihad mbak ya, bukan, Imam Khomeini memiliki ijtihad namanya Wilayatul Faqih, pemerintahan oleh Ulama, kalau Ulama sesungguhnya kan bukan seperti ini, dia marja'iyyah namanya, jadi atas Wilayatul Faqih itu ada marja'iyyah, nah dalam teologisnya itu berhentinya di marja'iyyah, nah Imam Khomeini ini masuk untuk meneruskan peran marja'iyyah ini lebih luas, kalau marja'iyyah ini dulu lebih terbatas dalam peran-peran agama yang individu, sekarang meluas ke bidang politik, nah itu menjadi Wilayatul Faqih, nah konsep Wilayatul Faqih jika dicitrakan oleh Imam Khomeini, ini hukan sesuatu yang absolut, tidak ya, artinya individunya itu kekuasaannya tidak absolut, bisa jatuh, bisa jatuh... kalau dia kedapatan korupsi, jatuh.. dan antum, teman-teman ketahui, bahwa Wilayatul Faqih, Imam Sayed Ali Khomeini itu harus hidup sederhana dan itu tidak mungkin bisa jatuh, dan kalau urusan jatuh kalau orang sudah mulai urusan duit, dia mulai keliatan simbol simbol kemewahannya, dia pasti jatuh, karena ada pengimbangannya dengan 12 ulama.. gak mungkin, ga didapatkan.. bisa percaya bisa tidak, tapi itu yang terjadi.. dia menikahkan anaknya itu dengan sederhana, bahkan pinjam uang, susah dibayangkan itu, jadi dalam arti itu, Wilayatul Faqih itu tidak absolut, diatasnya itu ada Marja'iyyah, inipun juga tidak absolut, pada penyandangnya ya, pada yang memegang itu, ee.. jadi, Wilayatul Faqih sebagai sebuah konsep, sebagai konsep yang disandang oleh pemimpinnya, otoritasnya tidak mutlak bisa dijatuhkan oleh 12 ulama, dan dia dipilih lho.. Jadi itu ya, dia tidak absolut, bisa ditanyakan juga kepada dosennya itu.. dan salah satu syarat seorang Wilayatul Faqih ini, disebut disana Rahbar itu, yang menyandang Wilayatul Faqih itu Rahbar.. itu wajib hidup sederhana, ketika dia terpilih jadi Rahbar ini, Imam Sayed Ali yang terbaru, dia lepaskan semua harta-harta, kacamatanya pun dilepas yang mewah, wajib itu... dalam doktrin wilayatul faqih, wilayatul faqih ini harus hidup sebagaimana rakyatnya paling kecil, dalam posisi ini tidak bisa dia menampakkan kemewahan, saya kira yang cukup representatif itu.. Riza Sihbudi ya, sayangnya Bambang Cipto.. saya kira

dia [Riza] cukup representatif, menurut pemahaman saya, referensinya cukup.. Pak Bambang saya kira tidak terlalu jelas, kalau berkaitan dengan ini, tentang ini, saya baca juga tentang Wilaaytul Faqih di buku beliau, jadi bahwa dia adalah otoritas mutlak itu tidak ya, dia bisa dijatuhkan, cuma sistem ini bukan rakyat yang datang, setiap rakyat itu adalah sistem marja'iyyah, setiap orang Syiah yang ada di Iran mengikuti pada mustahibnya, nah mustahib yang diikuti ini yang besar ini duduk di dewan ulama itu, dewan ulama ini katakanlah yang mewakili mustahib besar, nah dalam dewan ulama ini terpilihlah satu mustahib, menjadi wilayatul faqih, ulama yang mustahib.. alim... kemudian Imam Ali Khameini keluar dari sini, ini bisa jatuh sesuai dengan pertimbangan 12 ulama, karena hirarkinya kuat ya disana, setiap orang itu terikat pada mustahibnya, sehingga kekuatan ulama itu jauh lebih kuat daripada negara, kekuatan kulturalnya lebih kuat.. Jadi ee.. Imam Ali Khameini sekarang ini, kalau menampilkan ciri-ciri yang bertentangan dengan ajaran pemimpin agama, itu pasti jatuh.. saya misalnya, kan berwilayatul faqih kepada dia, dia tidak bisa memaksa saya kalau melihat dia menurut kriteria saya adalah kriteria yang menunjukkan kemewahan, zolim, saya langsung memutuskan, langsung terputus hubungan saya dalam konsep wilayatul faqih, dia kasih uang ke saya tidak bisa, karena ini tanggungjawab keagamaan, saya tidak bisa meneruskan ikatan wilayatul faqih saya kepada dia, misalnya ini ya, kalau saya memosisikan diri saya orang Iran, tidak bisa saya melanjutkan kalau dia menunjukkan ciri kemewahan, zolim, ada nepotisme.. bisa dicek, tunjukkan bukti bukti bahwa lingkaran keluarganya wilayatul faqih ini terlibat dalam bisnis, itu tidak ada.. tidak mungkin masuk, tidak boleh mengambil kesempatan, anaknya saja sekolah di Qom itu gak ada yang tau yang mana anaknya, pengajar saja tidak ada yang tau, tidak boleh.. kan pasti dong, secara psikologi orang memberikan sambutan yang luar biasa, tapi kalau di Indonesia dengan umpama Pak Amien Rais dikasih anaknya itu tidak boleh diwilayatul faqih, tapi kalau di bidang politik bagi wilayatul faqih - silahkan, itu tidak boleh,karena punya jaringan orangtuanya, karena itu mewariskannya tidak boleh kepada anak, karena dasarnya itu pada kepakarannya, kehandalannnya.. jadi susunannya Wilayatul Faqih, Marja'iyyah, baru Imamah.. baru kenabian, baru masuk pada Tuhan.. Allah, Nabi, Imam, Mustahib, baru Rahbar, kalau itu orangnya kan, kalo sistemnya.. Wilayatul Faqih, Marja'iyyah, Imamah, An-Nubuwwah, baru Tuhan.. nah yang mutlak itu hanya sampai pada Imam.. Imam, Nabi, Allah ini mutlak, dibawahnya tidak.. artinya orangnya ya? Kalau konsepsinya sampai kepada Marja'iyyah itu mutlak, tapi mutlak keseluruhan itu hanya sampai Imamah.. Marja'iyyah, Wilayatul Faqih.. tidak, saya kira studi-studi di Indonesia ini banyak yang salah paham, termasuk Dr. Bambang Cipto, ini saya pikir dia perlu riset ke Iran, jangan hanya dari buku-buku.. Kasian ya, kalau dari buku-buku begitu, tidak tau, atau dari sumber-sumber dari otoritas disana.. tidak.. ee.. 00:18:47-7

Ulya Amaliya: Kalau kekuasaan dia yang seumur hidup? 00:18:51-1

AM Safwan: Tidak seumur hidup, tidak ada konsep seumur hidup.. 00:18:53-3

Ulya Amaliya: Kalau misalnya dia selama hayatnya, dia tidak.. 00:19:00-7

AM Safwan: Iya, selama dia adil, selama dia tidak nepotis, dia punya mobil mewah sedikit itu pasti jatuh, ga boleh, perhatikan hidupnya Imam Khomeini, begitu juga dengan penggantinya, harus begitu, karena dia sudah mentalak sudah urusan dunia, ya.. tidak boleh dia kecenderungan kepada dunia.. untuk wilayatul faqih ini, kalau orang cari uang untuk urusan dunia tidak apa-apa, tapi dia sudah tidak boleh... 00:19:36-7

Ulya Amaliya: Konsekuensinya sebagai Imam Besar? Ini tertulis, misalnya ada kesepakatannya atau memang sederhana aja? 00:19:50-5

AM Safwan: Ngga, ada dong konsepsinya, ada.. gak mungkin, ini kan konsep, buku acuannya salah satunya al-hukum al-islamiyah, pemikiran politik Islam dalam pemerintahan, kok ga bisa common sense, mereka juga masyarakat intelektual, disana juga buku yang terbit 200 ribu judul, bukan di Indonesia yang hanya 87 ribu judul.. itupun indonesia terjemahan dan sebagainya..kita bukan melebih-lebihkan tapi memang itu kenyataannya... kalau mereka terdidik pasti ada acuan.. 00:20:33-5

Ulya Amaliya: kalau misalnya yang kita tahu mereka itu sangat terbatas arus informasi masyarakatnya misalnya mereka tidak boleh bikin akun facebook gitu... 00:20:50-3

AM Safwan: Setahu saya tidak ya, [unclear]..disana dengan teknologi IT, disana yang namanya ebook itu sudah biasa, kerjanya orang men-scan semua naskah.. 00:21:03-5

Hadza Min Fadhli R:

Mmm.. Tapi, kalau tentang represi pak, saya dengar

komentar dari Ayatollah Montazeri, dan beliau merupakan salah satu orang yang vokal terhadap Ahmadinejad.. Beliau juga mengatakan bahwa rezimnya Ahmadinejad ini rezim yang zolim, sudah seharusnya Ayatollah Ali Khamenei melakukan intervensi supaya Ahmadinejad tidak melakukan kekerasan, itu bagaimana pak? 00:21:36-2

AM Safwan: Pertama, menisbatkan kata zolim ya.. melakukan sesuatu yang tercela, ya.. pandangan Ayatollah Montazeri disitu bisa di maklumi, bisa dipahami, tapi, ee.. tugas seorang Wilayatul Faqih ini tidak mengintervensi apa yang dilakukan secara teknis apa yang sudah ditentukan oleh negara.. dia cuma menjaga saja institusi, sistemnya.. tidak akan mengurusi masalah sistem administrasi, siapa menterinya.. itu sudah tidak mungkin.. karena dia sudah membagi kekuasaan itu tho... jadi kalau Montazeri menyuruh itu saya kira Montazeri tidak demokratis.. Ahmadinejad itu dipilih oleh rakyat, jadi tidak boleh kita memaksakan kita untuk mengintervensi orang yang telah dipilih oleh rakyat.. pemilu terbuka.. tingkat partisipasi pemilu di Iran lebih tinggi daripada di Amerika sana, terus.. eee...yang menjadi tugas wilayatul faqih itu harus sudah tahu apa wilayah yang dia bisa... ee.. [unclear].. kalau dia melanggar dasar-dasar islam, sedangkan pemerintahnya kan hukum teknis.. nggak bisa kita memasuki wilayah teknis administratif. Administrasi itu masalah biasa ya, masalah pemerintahan, masalah yang.. ke atas ini apakah dia melanggar prinsip2 demokrasi, eh maaf, prinsip2 islam.. kalau dia tidak melanggar tidak mungkin itu dibiarkan oleh Ahmadinejad.. tapi selama dia tidak melanggar prinsip2 Islam.. maka selama itu tidak ada intervensi dan tidak mungkin.. Ahmadinejad itu dipilih oleh rakyat.. terakhir itu pada Imam Khameini.. jadi tidak mungkin kalau rakyat memilih pemerintahan dengan [unclear].. 00:24:02-6

Ulya Amaliya: Walaupun katanya Imam Khameini itu punya juga hak untuk memberhentikan presiden.. walau.. 00:24:09-9

AM Safwan: Tidak ada, tidak ada dalam.. kecuali itu urusan yang melanggar prinsip-prinsip Islam.. kalau yang lain tidak bisa 00:24:16-8

Hadza Min Fadhli R: Misalnya, krisis konstitusi gitu ya pak? 00:24:21-4

AM Safwan: Konstitusi itu Wilayatul Faqih.. 00:24:24-8

Hadza Min Fadhli R: Wilayatul Faqih? 00:24:25-2

AM Safwan: He-eh... Tapi kalau administrasi pemerintahan Ahmadinejad mau kerja sama siapa.. eh, sayed Ali Khameini memandang bahwa Ahmadinejad ini sikapnya berbeda dengan sebelumnya, tapi itu keputusan politik yang telah ditetapkan oleh rakyat... dia keras, tapi dulu kan juga pernah yang dulu namanya Khatami, dia lemah.. ee, bukan lemah, dia baik dalam membangun dialog kan, dan juga tidak masalah dengan Ali Khameini, itulah mereka sulitnya membaca Iran, dulu, ee.. akan dibilang ini rejim waktu Khatami masuk, dianggap ini rejim yang sangat otoriter, begitu Khatami keluar, barat melihat dia moderat.. tergantung maunya Barat, tapi ingat, kita lihat dari sisi Imam Sayed Ali Khameini, tidak ada masalah dia dialog, ketemu dengan siapa namanya, Paus.. ketemu dan ndak ada masalah kok, apa dihentikan khatami? Nggak.. sebaliknya hal yang sama terjadi pada Ahmadinejad.. prinsipnya apakah memang iran ini menuntut sesuatu yang sama dengan [unclear], dua duanya tidak melanggar konstitusi, jadi saya pikir kalau Ayatollah Montazeri menyuruh untuk mengintervensi sudah keluar lagi dari sistem yang mau dijalankan, mana Wilayatul Faqih mana kekuasaan eksekutif atau Presiden..dan ingat tidak mungkin dalam sistem wilayatul faqih ada langkah-langkah dari Ahmadinejad tanpa berhubungan dengan wilayatul faqih, tidak mungkin itu terjadi.. tidak ada sejarahnya di Iran presiden itu dipecat.. ya.. selama itu dipilih oleh rakyat, dan selama ini kan iya.. dan kita tidak mendengar isu korupsi..tidak mendengar isu-isu nepotisme.. dari mereka.. jadi absolut, intervensi saya kira kita tidak ingin menjadikan Iran itu menjadi determinasi wilayatul faqih masuk ke dalam pintu pintu kekuasaan negara.. gitu.. mereka hanya menjaga konstitusi negara, konstitusi negara tidak melarang negara untuk bekerjasama dengan siapapun...kalau sekarang ini garisnya Montazeri adalah orang-orang yang menolak Ahmadinejad... tapi ketika Khatami masuk kekuasaan, mereka adalah orang-orangnya.. tidak membaca itu, problemnya bukan pada Wilayatul Faqih, problemnya pada negara, politik.. yang orang-orang dibelakang Karroubi itu orang-orangnya Khatami, Rafsanjani, yang pernah juga duduk dalam pemerintahan, yang dianggap Barat sangat radikal..tapi sekarang dianggap Barat sebagai moderat... jadi perlu ditanya ke Pak Cipto, absolut ini darimana teorinya? kan disini, Pak Cipto mestinya ada rujukannya, di buku itu, di halaman dua, page two........... apakah ada kemungkinan terpengaruh pengaruh Timur Tengah? saya kira pengaruh ada ya.. orang yang tidak setuju dengan rejim Ahmadinejad itu pasti ada ya.. dan juga banyak ya 00:28:45-2

Hadza Min Fadhli R: Mousavi ya.. 00:28:49-5

AM Safwan: Ya.. Mousavi dan sebagainya..saya tidak.. [unclear].. pasti ada pengaruh.. tapi sejauh mana pengaruh itu bisa menjatuhkan.. jatuhnya Wilayatul Faqih jatuh itu karena Imam Sayed Ali Khameini sendiri, dan rakyatnya menghendaaki... 00:29:10-0

Ulya Amaliya: Kalau misalnya tuntunan dalam negeri itu lebih dari presidennya.. 00:29:29-7

AM Safwan: Ya, yang dituntut kan sebenarnya.. ini afirmatif bahwa demonstrasi itu bukan pada wilayatul faqih, tapi kepada Presiden.. karenanya kan dia minta itu Montazeri supaya wilayatul faqih itu intervensi, itu tidak bisa dong.. itu sudah dibagi dan tidak boleh imam melakukan itu, kalau imam mau melakukan itu, habis itu Mousavi, suruh rakyat itu demo semua sama dia, terjadi demo tandingan.. tapi itu kan tidak dilakukan.. kalau seperti dilakukan oleh Mesir, ada gak demo tandingan.. yang bisa melawan kelompok.. ya tidak, kalau dilakukan, pasti rakyat berantem.. tapi banyak yang minta, tapi tidak mungkin dilakukan.. karena mereka tahu yang mau menghancurkan sistem wilayatul faqih itu barat lho.. [pause].. pak Cipto mengajar di HI UGM? 00:30:46-6

Hadza Min Fadhli R.: HI UMY pak.. 00:30:48-9

AM Safwan: UMY aja ya.. Ada HI, perempuan bagus tulisannya itu siapa namanya? 00:30:56-7

Ulya Amaliya: Bu Siti Muthiah Setiawati.. 00:30:57-8

AM Safwan: Iya itu, saya lihat di Kompas, wah ini, bakal penelitian anda.. 00:31:01-3

AM Safwan: Gelombang Timur Tengah itu kan faktor aristokrasi, dominasi

kekuasaan presiden, sedangkan di Iran, presiden hanya dua kali.. iya.. cuman dua kali.. siapa yang demokratis? He-he-he.. Mesir kan udah berapa lama.. Ben Ali berapa lama, dan di Iran cuma 2 kali.. seseorang mau mengeritik Ahmadinejad dari sisi apa? Kesederhanaannya dan sebagainya.. 00:31:55-6

Hadza Min Fadhli R.: Kalau melihat komentar Ali Khameini juga, dia melihat bahwa negara-negara di Timur Tengah itu ingin meniru revolusi Islam Iran tahun 79, pak.. 00:32:05-9

AM Safwan: Saya belum baca itu, tapi saya pikir.. ee... Revolusi Timur Tengah itu revolusi manusia, bukan konsep.. lebih pada manusia sudah muak.. dan itu menurut saya revolusi fitrah, kan kita tidak melihat tokohnya, siapa tokohnya di Tunisia? Siapa tokohnya di Mesir? Dan itukan menjelaskan kepada kita betapa masyarakat itu akan sampai kepada titik balik dimana dia juga akan muak.. kalau revolusi Iran memang masalah muak, tapi ada yang menggerakkannya dan ada ide yang ditawarkan, sedangkan ini pasca Mesir kan, orang jadi berdebat tentang sistem apa yang akan dipakai.. ya.. dan itu yang belum ada sekarang.. bergejolak gak sekarang Mesir? Masih.. karena orang [unclear].. tapi reaksinya dalam fitrah manusia itu, dan tidak ada yang bisa bendung.. dan itu menurut saya bukan revolusi agama, revolusi fitrah - revolusi sosial.. mau tidak.. Indonesia saya pikir tidak lama lagi kalau begini begini terus.. ya.. DPRnya, Presidennya, semuanya.. Republik apa ini.. negara gagal.. tapi ya kita harus menghormati hukum.. oke itu .. mungkin bisa dipertajam, silakan? Siapa pembimbing risetnya ini? 00:33:37-8

Ulya Amaliya: Pak Nur Rachmat.. 00:33:39-6

AM Safwan: Nur Rachmat..

00:33:40-9

Hadza Min Fadhli R.: Pak Nur Rachmat itu cuma pembimbing teknis aja pak.. 00:33:45-1

AM Safwan: Kalau pembimbing ahli? 00:33:46-9

Ulya Amaliya: Sebenarnya, kami direkomendasikan kepada Bu Siti Muthi'ah.. tapi [unclear].. kita akhirnya diarahkan untuk konsultasi ke dosen muda, Mas Faris namanya 00:34:06-8

AM Safwan: Mmm.. Ada doktor Sosiologi UGM yang pernah ke Iran.. Pak Supradja, dia [unclear] research di Iran 3 bulan.. dia melihat langsung, dan dia lagi menyiapkan bukunya... dan memang bayangan dia terbalik dengan kenyataannya.. Ini sudah ada nih.. Wilayatul Faqih yang dapat menentukan keadaan damai atau perang.. sudah ada.. kalau pemberhentian wakil presiden, saya kira tidak ada dalam konstitusi, tapi itu, kesan yang didapat mungkin saja, tapi tidak ada.. faktor Wilayatul Faqih yang dianggap mutlak, tidak.. nggak.. mutlak itu berlaku sama yang mau terikat sama fatwa itu.. tidak itu.. sama fatwa MUI kan, yang berlaku yang mau ikut, yang tidak gak papa, kan namanya fatwa.... apalagi yang mau ditanyakan? 00:35:53-3

AM Safwan: Jadi Wilayatul Faqih tidak mutlak, dia bisa dijatuhkan.. dan dia dipilih. Menarik tadi, dimana dia akan tetap bertahan selama dia tidak merusak kriteria itu.. 00:36:18-0

Hadza Min Fadhli R.: Proses pemilihan wilayatul faqih itu bagaimana pak? Apa melalui mufakat atau melalui petunjuk siapa? 00:36:32-5

AM Safwan: Tetap kita katakan bahwa dia dipilih oleh dewan 12, darimana sumber penilaiannya itu, merupakan otoritas yang 12 itu, tapi yang 12 itu juga dipilih oleh orang yang dibawah.. 00:36:43-5

Ulya Amaliya: Kalau faktor dari luarnya itu kan.. Amerika itu kan punya.. 00:37:25-9

AM Safwan: Yang ini bisa dimatikan? Ganti yang putih.. Mm, bagaimana tadi? 00:37:42-0

Ulya Amaliya: Jadi bisa jadikan, gelombang demokratisasi di Timur Tengah.. banyak apa ya, banyak faktor yang berasal dari luar, misalnya dorongan dari Amerika bahwa pemerintah yang baik adalah pemerintah yang demokratis.. sedangkan semua yang ada di Timur Tengah ini tidak demokratis.. kaya doktrin-doktrinnya, kira2 kalau menurut bapak, dari Amerika sendiri [unclear] bahaya nggak sih buat kedudukan Wilayatul Faqih... 00:38:19-8

AM Safwan: ...yang tidak demokratis? 00:38:21-3

Ulya Amaliya: Iya.. 00:38:21-6

AM Safwan: Saya kira tidak bahaya.. karena orang disana memilih Wilayatul Faqih atas dasar pengetahuan, karena itu pilihannya adalah pilihan agama, ideologis.. bahwa Amerika mengatakan itu tidak demokratis, tidak apa-apa.. itukan pilihan rakyatnya..bukan Amerika.. kan rakyat, dan rakyat itu tidak bisa didikte, rakyat itu kan punya nurani.. saya kira Amerika juga harus demokratis, pada akhirnya kan rakyat yang menilai.. kalau pada akhirnya rakyat memberontak, pasti akan berontak dia.. kan ukurannya alami saja, pertumbuhan ekonomi.. ya.. tekanan-tekanan [unclear].. kalau itu terjadi pasti juga akan terjadi di Iran.. tidak, kita tidak menganggap bahwa Iran steril dari itu, sangat mungkin.. kalau itu memang jatuh, ya saya memang setuju itu dijatuhkan Wilayatul Faqih, kalau itu memang negeri ini tidak mensejahterakan rakyatnya, negeri ini melakukan represivitas, saya kira negeri ini harus dijatuhkan.. tidak boleh dengan alasan menjaga institusi ini, kemudian outputnya rakyat itu menderita, itu tidak boleh.. karena outputnya kan berhubungan dengan rakyat.. nah, pertanyaan yang menariknya itu kan kita bisa menguji indikator-indikator itu.. makanya kalau bisa itu UGM ada yang ke Iran lah, jangan hanya referensi-referensi sekunder, orang yang selevel pak Cipto, doktor.. ini tidak punya referensi primer..itu yang anda maksud pertanyaan.. menyaksikan langsung dan mengambil data itu dilapangan.. ada apa itu.. kok di Iran bisa begitu.. tidak sembarang.. kewenangan absolut! Itu secara teoritis, tidak bisa dipertanggungjawabkan, bagaimana ini? Saya kira Pak Amien lah tahu.. 00:40:28-0

Ulya Amaliya: Tapi susah ketemunya pak.. 00:40:35-2

AM Safwan: Karena saya tahu Pak Supradja itu ke Iran benar-benar mendapat banyak tantangan dari profesor yang ada di UGM.. Ya karena sangat western ya.. ya gak papa orang punya banyak pilihan, saya kira kalian jadi kaget seperti ini karena tidak punya.. sumber-sumber yang valid.. dan menurut saya itu kan menjadi tidak intelektual.. tidak ilmiah, kalau ilmiah itu kan harus ada dasar perimbangan.. dan dengan kalian kesini, saya sangat menyambut karena ini mengambil data primer.. 00:41:04-0

Dian Aji Wardhana: Kalau di Iran itu, bisa disimpulkan bahwa ternyata.. Wilayatul Faqih tidak absolut.. 00:41:21-4

AM Safwan: Oh tidak.. tidak.. 00:41:22-1

Dian Aji Wardhana: Revolusi yang terjadi di tetangganya itu.. terjadi karena adanya ketidakpuasan.. tapi, ketidakpuasan itu tidak ditemukan di masyarakat Iran.. dan.. 00:41:41-8

Ulya Amaliya: ..karena mereka memilihnya dengan sadar.. dan protesnya itu pada Presiden kan.. 00:41:45-7

AM Safwan: Ya kalau kita lihat itu Montazeri, Hossaeni.. semuanya kan ke Ahmadinejad, bukan kepada Wilayatul Faqih, coba cari apa namanya, argumentasi-argumentasi yang anda kumpulkan, berita yang mengarahkan demo itu kepada Wilayatul Faqih, saya punya kliping kompas, tidak ada itu.. bukan, tapi kepada Ahmadinejad.. kalau itu iya tentu ada orang yang tidak sepakat dengan rejimnya Ahmadinejad yang sangat keras.. bisa jadi Imam Sayed Ali Khameini tidak sepakat dengan gayanya.. tapi kan itu tidak boleh menjatuhkan presiden, kalau itu pertimbangan agama iya, tapi kalau kebijakan dalam negeri, luar negeri ini.. 00:42:42-3

Hadza Min Fadhli R.: Tapi mungkin nggak pak, kalau seandainya Iran menjalin hubungan dengan Amerika Serikat, Wilayatul Faqih tidak boleh menolak? 00:42:52-5

AM Safwan: Oh tidak bisa.. buktinya Khatami membuka dialog kebudayaan, tapi kan Iran maunya kalau mau pemerintahan harus sama-sama adil, jangan posisi satu dibawah dan satu diatas.. kan itu yang dikehendaki oleh Iran.. prinsipnya kalau anda tidak bisa bikin nuklir, sedangkan Pakistan bisa, India bisa, kenapa kamu tidak bisa? jawab itu kan, baru kita bisa dialog! Tapi kalau sejak awal kami sudah dibilang tidak bisa [maksudnya tidak boleh - red.] dan anda bisa, itu kan aneh.. kita semua sudah berpikir, kira2 apakah itu, Israel bisa.. dan tidak diapa-apain itu, kenapa Iran tidak bisa? Dan dalam fatwa Imam Khomeini, nuklir itu tidak boleh untuk senjata... haram hukumnya menggunakan nuklir untuk perang.. tidak boleh nuklir itu, haram hukumnya.. itu juga orang tidak banyak tahu.. karena itu, Imam Khomeini mengatakan ini 30 tahun yang lalu, nuklir itu apa? Untuk [ganti] minyak bumi.. 30 tahun yang lalu, Imam Khoemini menyatakan kalau kita kehabisan, kita pasti minta ke Amerika, kalau minta pasti kita nanti mendikte.. itu saja.. dan tidak ada masalah.. buktinya Khatami sudah memulai dialog kebudayaan.. tidak ada halangan kok dialog peradaban itu, tidak mungkin, tidak boleh ada halangan.. bisa dicek berapa banyak peneliti-peneliti Amerika yang boleh ke Iran, boleh penelitian ke Iran.. kecuali ditutup itu pintu ilmiah, ini kan tidak, yang ditutup ini politik pemerintahan, kalau mau adil dulu, baru bisa kita dialog, tapi kalau penelitian ilmiah.. kebudayaan.. saya kira tidak ada halangan, tidak ada dalam undang-undang.. dimana orang Amerika tidak boleh masuk, banyak peneliti Iran yang suka pergi ke Amerika itu.. 00:45:18-1

Ulya Amaliya: Kewajibannya Wilayatul Faqih yang tidak boleh.. dan hidup sederhana itu ada di buku apa pak? 00:45:34-0

AM Safwan: Ada di buku Sistem Pemerintahan Islam itu.. edisi barunya itu kita cetak ulang.. Imam Khomeini.. sebagai pencetusnya.. dan ingat itu bukan mutlak lho, wilayatul faqih itu adalah i'tibari aqliyahnya.. bukan syar'iah, karena dalam Syi'ah negara Islam itu tidak ada.. tidak ada dalam doktrin Syi'ah bahwa kita orang Syi'ah harus bikin negara Islam.. seperti Hizbut Tahrir, kita gak sepakat.. apa yang ada di pemerintahan kita.. jadi Republik Islam Iran itu i'tibari aqli.. bukan syari'at karena dalam Syi'ah itu tidak ada negara Islam, jadi pemerintah berdasarkan Islam iya, bukan negara Islam.. karena kalau dia pakai syari'at Islam itu kenapa dia pakai trias politica? Bukankah trias politica itu eropa? DPR, kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif... ini teori demokrasi kan.. ini berarti memadukan, ini eksperimentasi.. dibuku pemerintahan Imam Khomeini ini keputusan akal, bukan syari'at.. karena itu ada ulama Syi'ah juga yang asasnya juga imamah dia tidak sepakat, jadi bukan satu garis lho itu, ada seperti Sistani tidak sepakat dengan hal itu, ada Ayatollah Khu'i, besar ini.. tapi tidak menganut hal itu.. bisa dicari di internet.. Ayatollah Montazeri yang antum maksud itu

merupakan pengkonsepsi Wilayatul Faqih... 00:48:45-5

Hadza Min Fadhli Robby: Salah satunya ya pak?

00:48:47-5

AM Safwan: Iya.. dan dianggap konsepnya luar biasa.. itu menunjukkan bahwa dia tidak menolak WilayatulFaqih.. relasi antara Rahbar dengan Presiden, mungkin itu yang dia persoalkan.. buat saya, Ahmadinejad itu nakal, bandel gitu ya.. kalau saya lebih suka perpaduan antara Khatami-Ahmadinejad.. Khatami ini banyak mengembangkan dialog, cuma itu kan gaya orang.. bagaimana kita lihat? Sekarang kan outputnya ekonomi.. yang rasional menurut saya adalah yang mengritik Ahmadinejad dalam masalah ekonomi.. memang ada stagnasi di beberapa level dan itu harus dikritik, Ahmadinejad... untuk yang itu saya kira masuk akal karena itu indikator yang bisa dibaca kan.. 00:49:53-2

AM Safwan: Dilihat dari rumusan masalahnya, akankah gelombang demokratisasi di Timur Tengah ini akan berdampak pada keberadaan institusi.. ee.. saya. menganggap akan punya pengaruh.. pasti ada pengaruhnya, tetapi apakah, akan bubar ini.. karena kalau bubar wilayatul faqih, pasti akan bubar Republik Islam Iran.. saya kira ada ya, institusi.. saya menganggap untuk sekarang ini ada kemungkinan untuk itu 00:51:14-2

Hadza Min Fadhli R.: Pengaruh legitimasi Ahmadinejad? 00:51:16-7

AM Safwan: Ahmadinejad iya, dan itu harus dikritik Ahmadinejad.. 00:51:18-8

Ulya Amaliya: Tapi kalau [unclear].. 00:51:22-2

AM Safwan: Sejauh ini, saya tidak melihat dasar itu, karena persoalannya pada Ahmadinejad.. pada Karroubi ini salah satunya.. bisa dilihat dari media, adakah perlawanan langsung terhadap Faqih, sejauh yang saya lihat tidak, tapi kalau Ahmadinejad iya, dan itu tidak apa-apa.. Tapi pun, nanti kalau harus jatuh lagi tidak apa-apa, tapi pun kalau nanti [Wilayatul Faqih] harus jatuhpun tidak

apa-apa..saya setuju dengan Wilayatul Faqih, tapi apakah ini akan bertahan.. saya nggak tahu, sekarang masih.. kedepan kita tidak tahu, karena ini kan harus mencari manusia super..yang bisa hidup dalam sederhana, tidak bergeming pada dunia.. ya.. mana bisa orang yang punya kekuasaan besar tapi tidak ada yang diambil dalam hidupnya..ini yang tidak anda dapatkan dimana-mana kecuali dalam teologi Islam..karena begitu dia mengambil pasti jatuh.. 00:52:47-9

Interviewer [who?]: [unclear] 00:53:22-5

AM Safwan: Itu satu permasalahan ya, harus pada deskripsi dulu, jadi wilayatul faqih itu, dan ini kan sudah anda kutip langsung dari Ministry of Foreign Affairs.. bahwa wilayatul faqih ini dipilih oleh majelis ahli, jadi sudah gugur itu absolutisme yang disebut oleh pak bambang, ini makalah anda sendiri membantahnya.. nah kan, nggak dibaca ini makalahnya..dipilih, memang benar ini dipilih.. dan kenyataannya memang benar.. memang Imam Sayed Ali Khameini itu manusia biasa lho, bukan ma'shum! Bukan orang suci.. dia bisa jatuh.. dia bisa jatuh... kalau bilang absolut ini, saya kira ini.. bertentangan dengan alam, ini bukan manusia suci, bisa jatuh... tidak ada dalam konstitusi Imam Ali Khameini itu manusia suci dan tidak mungkin salah.. gak mungkin yang namanya manusia itu gak bisa salah.. begitu salah jatuh.. dalam urusan kekuasaan.. Ini lagi pernyataan Pak Cipto ini... saya kira Pak Cipto perlu dikritisi, keberadaan Wilayatul Faqih sebagai sebuah institusi yang dominan tidak pernah mendapat persetujuan dari beberapa ayatollah sepuh di Iran.. ingat, ini adalah majelis..bahwa ada yang tidak sependapat ijtihad.. tapi yang memilih dan dipilih ini kan majelis, sistem! SBY itu kan presiden, tapi saya tidak memilih dia.. tapi dia presiden kita, kita harus menghormati hukum kan.. dan ini [unclear].. kalo nanya saya, saya lebih suka Gus Dur.. SBY tidak tidak pilih.. saya lebih pilih Pak Amien Rais kalau kesederhanaan.. tapi, ini sistem! kita sudah bertahun di demokrasi, kita yang kalah ini menghormati keputusan.. jadi kalau ini memang tidak mendapat pemimpin, kalau semuanya minta persetujuan semua orang.. tidak akan ada yang bisa bikin persetujuan itu [tidak ada yang disepakati -red.], persetujuan dalam sistem, saya kira Pak Cipto perlu diundang utnuk bisa menjelaskan.. dan saya sudah menyebutkan yang tidak setuju itu Ayatollah Sistani, Ayatollah Khu'i... dan ini besar ini ulama. Tidak semua, tapi kan dia tidak masuk dalam sistem.. jadi ini bahasa yang membangun kesan bahwa ini seolah-olah dipaksakan, saya kira perlu dikritisi, supaya dia [Pak Cipto] tidak bicara diatas angin... harus ada sumber.. 00:56:36-6

Ulya Amaliya: Tapi mungkin absolut itu dimaksudkan buat menunjukkan bahwa kekuasaannya besar.. 00:56:43-2

AM Safwan: Besar dan absolut itu beda lho... SBY ini besar kekuasaannya, tapi tidak absolut.. 00:56:52-3

AM Safwan: Jadi.. rumusan masalahnya sudah.. tujuannya, kekuatan sistem demokrasi, pengaruh gelombang demokrasi, iya.. bisa terjadi.. perhatian Wilayatul Faqih kepada Ahmadinejad, iya, dia harus ditekan.. iya.. ke negara.. karenanya saya punya informasi, memang ini hanya tuturan saja, kata Bapak Alm. Kuntowijoyo bukan 'sejarah yang tercatat' ... memang ada, kritik wilayatul faqih ini kepada Ahmadinejad untuk lebih mengurangi bicara dalam hal-hal yang bisa memancing reaksi Barat.. itu evaluasi dan itu.. fine saja.. 00:58:01-6

AM Safwan: Kalau nanti suatu saat ada yang jadi dosen, mbok UGM punya native lah dari Iran yang bisa bicara.. jangan hanya dari Barat.. Amerika.. dari Iran juga.. supaya tidak bias.. saya memang bukan native.. tapi saya memang harus bertanggungjawab.. dari setiap apa yang dipelajari.. karena mengatakan absolut, tidak bisa diterima secara akal, apalagi faktanya tidak, dan ini ditulis oleh seorang doktor, karena orang tidak ada yang tau, artinya itu hak dia untuk berpendapat itu.. tapi kan, harus ada referensi pembanding, karena namanya ilmiah.. dan anda sudah membandingkan toh.. ada dari ministry of foreign affairs, [Wilayatul Faqih] dipilih oleh majelis ahli, dipilih! 00:59:21-4