Anda di halaman 1dari 8

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakanng Diabetes Mellitus (DM), kini menjadi ancaman yang serius bagi umat manusia di dunia. Pada tahun 2003, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 194 juta jiwa atau 5,1% dari 3,8 milyar penduduk dunia usia 20 - 79 tahun menderita DM dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 333 juta jiwa. Pada tahun yang sama International Diabetes Foundation (IDF) memperkirakan prevalensi DM dunia adalah 1,9% dan menjadikan DM sebagai penyebab kematian urutan ke-7 dunia ( Bustan, 1997 ). Menurut data WHO 2003, Prevalensi dan insiden penyakit ini meningkat secara drastis di negara-negara industri baru dan negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Pada tahun 2003 terdapat sekitar 150 juta kasus Diabetes didunia, dan pada tahun 2025 diperkirakan jumlahnya meningkat dua kali lipat (Yulianto dalam Agustina 2005). Meningkatnya prevalensi Diabetes Melitus di beberapa negara berkembang, akibat peningkatan kemakmuran di negara bersangkutan. Peningkatan pendapatan per kapita dan perubahan gaya hidup terutama di kota-kota besar, menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit degeneratif, seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK), Hipertensi, Hiperlipidemia dan Diabetes Mellitus ( Rikesdas. 2007 ) Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang saat ini makin bertambah jumlahnya di Indonesia ( Suyono, 1992). Secara

epidemiologis, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Mellitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7% dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%. Pada tahun 2005, daerah semi-urban seperti Sumatera Barat melaporkan prevalensi diabetes mellitus sebesar 5,1% dan Pekajangan (Jawa Tengah) 9,2%. Bali telah meneliti prevalensi beberapa daerah rural dengan hasil antara 3,9-7,2% pada 2004 dan Singaparna tahun 1995 tercatat 1,1%. Sedangkan provinsi Nusa Tenggara Barat termasuk dalam salah satu provinsi yang memiliki prevalensi di atas prevalensi nasional dibetes yaitu 4,1%. Prevalensi nasional Penyakit Diabetes Melitus adalah 1,1% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala) (Riskesdas, 2007). Di NTB sendiri terjadi penurunan kasus dari tahun ke tahun, berdasarkan penemuan seluruh kasus Diabetes Mellitus Tipe 2 dari puskesmas dan rumah sakit di NTB dari tahun 2007 sampai 2009 didapatkan sebagai berikut : pada tahun 2007 didapatkan 12,259 kasus, tahun 2008 didapatkan 8,779 kasus, pada tahun 2009 didapatkan 7,763 kasus. Data di atas merupakan data underestimate yang tidak dapat menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Umur ternyata merupakan salah satu faktor yang sangat penting pengaruhnya terhadap prevalensi diabetes maupun gangguan toleransi glukosa. Hampir setiap studi epidemiologi baik cross-sectional maupun longitudinal menunjukkan bahwa

prevalensi gangguan toleransi gangguan glukosa meningkat bersama pertambahan umur ( Rochmah, 2007 ). World Health Organization menyebutkan bahwa setelah seseorang mencapai umur 30 tahun maka kadar glukosa darah akan naik 1-2 mg %/tahun dan akan naik sekitar 5,6-13 mg% pada 2 jam setelah makan. Berdasarkan hal tersebut tidaklah mengherankan apabila umur merupakan salah satu faktor utama terjadinya kenaikan prevalensi diabetes dan gangguan toleransi glukosa. Penelitian yang dilakukan pada dasawarsa terakhir ini tentang perkembangan kependudukan didapatkan jumlah penduduk lanjut usia yang meningkat (Rochmah, 2007 ). Menurut data tentang penyakit tidak menular terbaru yang dimiliki Dinkes Provinsi NTB didapatkan kejadian DM tipe 2 dan penyakit metabolic lainnya paling tinggi pada lansia (Data Dinkes NTB 2009). Peningkatan upaya kesehatan di Indonesia sebagai hasil dari bertambah baiknya keadaan ekonomi dan taraf hidup masyarakat mengakibatkan jumlah orang yang berusia lanjut semakin bertambah. Di Negara maju seperti Amerika serikat pertambahan usia lanjut mencapai 1000 orang perhari (Suprapto, 1989). Pada tahun 2020 jumlah orang lanjut usia diproyeksikan sebesar 11,34% (BPS, 1992). Dari data USA Bureu of the Cencus, bahkan Indonesia di perkirakan akan mengalami pertambahan jumlah lansia terbesar di seluruh dunia, antara tahun 1990-2025, yaitu sebesar 414 % (Kinsella dan Trauber). Perubahan sruktur penduduk akibat penurunan mortalitas dan peningkatan usia harapan hidup yang

bermula sejak dasawarsa

70-an di negara-negara berkembang membawa

konsekwensi pembengkakan penduduk usia lanjut (Surapati dan Prayitno, 1994). Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan, usia lanjut yang mengalami gangguan toleransi glukosa mencapai sekitar 50-92%. Jadi dapat dibayangkan bahwa dengan laju kenaikan jumlah penduduk usia lanjut yang semakin cepat, maka prevalensi pasien gangguan toleransi glukosa dan diabetes usia lanjut akan meningkat dengan cepat pula ( Bustan, 1997 ). Mencapai masa tua adalah suatu anugrah tersendiri dimana seseorang dapat melalui tantangan secara fisik, psikologis, dan ekonomi yang telah dialami sebelumnya, serta dapat lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Seiring dengan pertambahan usia, terjadi perubahan berupa berkurangnya sebagian besar cadangan system fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit, terutama penyakit-penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes mellitus, obesitas ( Hutapea, 2005 ). Penuaan dapat mengubah, menyebabkan perubahan komposisi tubuh dan perubahan pola makan. Jika dibandingkan dengan orang yang lebih muda, lansia cenderung mempunyai komposisi lemak tubuh yang lebih besar. Komponen masa tubuh yang berupa lemak membutuhkan energi yang lebih sedikit untuk memeliharanya dibandingkan masa tubuh berupa otot (Sinaga, 1994). Di samping itu aktivitas fisik yang cendrung menurun seiring dengan bertambahnya usia juga dapat mempertinggi resiko obesitas (1994, Sinaga). Obesitas sentral sangat berkorelasi dengan timbulnya dibetes mellitus . Obesitas yang terjadi pada lanjut

usia dapat meningkatkan resiko terjadinya diabetes mellitus tipe 2 ( Sugondo, 2006 ). Urbanisasi dan perubahan gaya hidup akibat peningkatan status ekonomi yang terjadi di negara-negara berkembang berdampak pada peningkatan prevalensi obesitas, termasuk juga di Indonesia. Walaupun belum ada penelitian yang baku mengenai obesitas, data yang sudah ada saat ini menunjukkan terjadinya pertambahan penduduk dengan obesitas, terutama di kota-kota besar. Pada penelitian epidemiologi di daerah Abadijaya, Depok pada tahun 2001 di dapatkan 48,6%, pada tahun 2002 didapatkan 45% dan 2003 didapatkan 44% orang dengan berat badan lebih dan obesitas. Mortalitas yang berkaitan dengan obesitas, terutama obesitas sentral erat kaitanya dengan sindrom metabolik, yaitu satu kelompok kelainan metabolik yang selain obesitas meliputi resistensi insulin, gangguan toleransi glukosa, abnormalitas trigliserida dan hemostasis, disfungsi endotel dan hipertensi yang kesemuanya secara sendiri-sendiri atau bersama-sama merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya arterosklerosis dan penyakit akibat kelainan pembuluh darah seperti penyakit jantung koroner, strok, gangrene dan lain-lain ( Sugondo, 2006 ).

1.2. Batasan Masalah Dari uraian latar belakang di atas, peneliti membatasi area penelitian untuk mengetahui seberapa besar resiko lansia yang mengalami obesitas untuk terkena diabetes mellitus.

1.3. Rumusan Masalah Dengan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia terutama dengan riwayat obesitas, maka penyakit-penyakit yang timbul sebagai akibat dari proses penuaan akan semakin banyak pula, terutama dibetes mellitus tipe 2, maka berdasarkan latar belakang tersebut rumusan masalah dalam karya tulis ilmiah ini adalah Bagaimana pengaruh obesitas terhadap kejadian Diabetes Mellitus tipe 2 pada lansia?

1.4. Tujuan Penelitian 1.4.1.Tujuan umum Menganalisis besarnya faktor resiko menderita DM Tipe 2 antara lansia dengan riwayat obesitas dan non obesitas di panti sosial Tresna Werda PUSPA KARMA Mataram dan anggota PERSADIA cabang Mataram. 1.4.2. Tujuan khusus 1. Sebagai syarat kelulusan program studi S1 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar. 2. Mengetahui besarnya proporsi obesitas dan non obesitas pada kelompok lansia dengan Diabetes Mellitus tipe 2 3. Mengetahui besarnya proporsi obesitas dan non obesitas pada lansia tanpa Diabetes Mellitus tipe 2.

4. Menganalisis besarnya resiko menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 pada lansia dengan riwayat obesitas dibandingkan dengan lansia tanpa riwayat obesitas baik pada kelompok kasus maupun kontrol. 1.5. Manfaat Penelitian 1.5.1. Manfaat bagi peneliti 1. Sebagai syarat kelulusan program studi S1 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar. 2. Sebagai wahana untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat selama masa perkuliahan. 1.5.2. Manfaat bagi pelayan kesehatan Petugas pelayanan kesehatan dapat mengetahui besarnya resiko terjadinya DM tipe 2 pada kelompok dengan faktor risiko(obesitas) tersebut sehingga dapat diberikan langkah-langkah pencegahan kepada masyarakat untuk menghindari terjadinya DM tipe 2 pada kedua kelompok resiko. 1.5.3. Manfaat bagi peneliti lain Memberikan informasi kepada peneliti lain bahwa penelitian ini dapat digunakan sebagai perbandingan dan dapat dikembangkan lagi untuk penelitian selanjutnya terutama yang berhubungan dengan diabetes mellitus tipe 2 pada lanjut usia. 1.5.4. Manfaat bagi masyarakat Penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan masyarakat bahwa obesitas dan lanjut usia dapat meningkatkan resiko terjadinya Diabetes Mellitus Tipe 2, sehingga diharapakan dengan bertambahnya pemahaman akan

faktor resiko tersebut, masyarakat mampu untuk mencegah dan meminimalisir, baik penyakit maupun komplikasinya.

1.6. Hipotesis Ho : lansia dengan riwayat obesitas tidak beresiko untuk menderita Diabetes Mellitus tipe 2. H1 : lansia dengan riwayat obesitas beresiko lebih besar untuk menderita Diabetes Mellitus tipe 2.