Anda di halaman 1dari 5

Risalah Singkat Seputar Khitbah

Penyusun
Abdullah Assaif


15 Maret 2011


Didistribusikan Oleh
Perpustakaan Online
http://pustaka-ebook.com



Dilarang menggunakan e-book ini untuk kepentingan komersial tanpa izin dari pemateri yg
bersangkutan. Silakan download e-book ini dan sebarkan untuk membantu dakwah dan pendidikan
Islam





Makna Khitbah ) -==- ( : Menunjukkan keinginan untuk menikah dengan wanita tertentu, serta
memberitahukan keinginan itu kepada wanita atau walinya. Pemberitahuan ini bisa langsung
dilakukan oleh si pengkhitbah dan bisa juga melalui wali atau wakilnya. Apabila yang dikhitbah
atau wali menerimanya maka sempurnalah prosesi khitbah diantara keduanya. Dan setelah itu
berlakulah kaidah-kaidah syariat yang akan kita sebutkan setelah ini insyaallah
1
.

Sedangkan secara terminologis, khitbah itu berasal dari kata khataba yakhtubu ) -== -==- (
yang berarti mengucapkan perkataan yang digunakan untuk menasehati, atau dapat pula
berarti memuji seseorang, dan yang sejenis itu
2
. Sedang orang yang melakukan khitbah disebut
Khaatib
3
) -='=' ( , sedangkan yang dikhitbah disebut Makhtuubah ) -' -== ( .

Sedangkan di dalam terminologi masyarakat Indonesia, Khitbah ini biasa disebut juga dengan
Lamaran atau Pinangan.


Hikmah Khitbah : Khitbah adalah pendahuluan dari proses pernikahan untuk saling
mengenalnya satu pihak dengan pihak lainnya yang akan melangsungkan pernikahan.
Tujuannya adalah untuk mengenal akhlak, sifat dasar, serta kecendrungan calon pasangan.
Namun proses ini harus tetap berada di dalam koridor yang dibolehkan syariat. Karena khitbah
ini hanya sekedar janji untuk melakukan pernikahan dan bukan akad pernikahan itu sendiri.


Hukum Khitbah : Terdapat riwayat dalam kitab Raudhatut Thalibin bahwa Imam Ghazali As-
Syafii menyebutkan sunnahnya khitbah, berdasarkan contoh yang telah dilakukan Nabi
Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Begitu juga di dalam kitab Al-Mughni karya
Ibnu Qudamah disebutkan, Disunnahkan bagi seorang yang akan menikah untuk melakukan
khitbah sebelum melakukan akad pernikahan (sebagai proses pendahuluan sebelum melakukan
akad pernikahan,- pent). Berdasar hadits Nabi, Setiap hal penting yang tidak diawali terlebih
dahulu dengan hamdalah maka dia terpotong (kurang afdhal). (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan
Ibnu Majah)
4
Akan tetapi sebagian Syafiiyyah dan ulama-ulama lainnya menyebutkan bahwa
hukum khitbah adalah mubah dan bukan sunnah.


Khitbah Yang Dilarang : Yaitu khitbah yang dilakukan seorang laki-laki yang tidak memenuhi
tiga syarat :

1. Wanita haruslah tidak terikat pernikahan (bukan istri orang), dan tidak sedang dalam
masa iddah sehabis perceraian atau ditinggal mati suami.


1
Al-Fiqh Al-Islamy wa Adillatuhu, 7/10
2
Fiqhus Sunnah, 2/16
3
Sedangkan yang melakukan khutbah jumat disebut Khatiiib ) ( , dengan huruf YA dan bukan ALIF.
4
Al-Mughni, 9/465
Tidak boleh melakukan khitbah terhadap wanita secara terang-terangan namun
dibolehkan melalui isyarat atau sindiran, semisal, Kamu butuh suami baru yang mampu
menjagamu. Atau Aku sedang mencari seorang gadis penyabar seperti kamu. Dan
yang sebagainya. Berdasarkan firman Allah, Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang
wanita-wanita itu

(yang sedang dalam masa iddah) dengan sindiran atau kamu
menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui
bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, akan tetapi janganlah kamu
mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar
mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf. Dan janganlah kamu
ber'azam (bertetap hati) untuk berakad nikah sebelum habis 'iddahnya. Dan
ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, takutlah
kamu kepada-Nya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyantun. (QS. Al-Baqarah : 235)

2. Bukan bagian dari mahram (yang diharamkan menikahinya), semisal saudari kandung,
saudari sepersusuan, bibi, keponakan, ibu kandung, dst. (Penting : Sepupu dan Saudara
Ipar bukan termasuk mahram)

3. Wanita yang akan dikhitbah belum dikhitbah lelaki lain. Kecuali bila sudah jelas bahwa
pengkhitbah pertama membatalkan khitbahnya atau khitbah itu telah ditolak oleh pihak
perempuan. Rasulullah melarang mengkhitbah wanita yang telah dikhitbah, beliau
bersabda, Seorang mukmin adalah saudara mukmin lainnya. Tidak boleh baginya
untuk menawar dagangan diatas tawaran saudaranya, dan tidak halal pula melamar
(wanita) diatas lamaran saudaranya hingga dia meninggalkannya. (HR. Ahmad dan
Muslim)


Setelah Proses Khitbah Diterima : Khitbah itu hanyalah perjanjian untuk melakukan pernikahan
dan bukan bagian dari pernikahan, karena pernikahan tidak sah kecuali dengan prosesi akad
yang telah kita kenal bersama (yaitu ijab-qobul). Maka kedua calon mempelai itu masih
berstatus ajnabi (asing) dan tidak halal untuk laki-laki untuk melihat wanita yang dikhitbahnya
melebihi batas yang ditolerir syariat, yaitu wajah dan telapak tangan
5
. Begitu juga tidak halal
bagi mereka untuk berduaan.


Memandang Wanita Dan Mencari Tahu Sifat Fisiknya : Rasulullah memerintahkan kepada
seorang yang akan menikah untuk melihat terlebih dahulu calon istrinya, Diriwayatkan dari
Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, Jika seorang
diantaramu meminang wanita dan dia mampu untuk memandangnya sehingga memberikan
motivasi untuk menikahi perempuan itu, maka lakukanlah..!
6
Namun melihat disini tidak

5
Al-Fiqh Al-Islamy wa Adillatuhu, 7/10
6
Di dalam Kitab Fiqhus Sunnah, 2/18
boleh melebihi batas aurat yang diperbolehkan, yaitu wajah dan telapak tangan sebagaimana
telah kita sebutkan sebelum ini.

Adapun mencari tahu sifat fisik wanita semisal bau badan, keringat, dsb, diperbolehkan dengan
melalui perantara, baik itu kerabat wanita yang dipercaya atau wanita dari keluarga yang
dikhitbah. Sebagaimana Rasulullah pernah memerintahkan kepada Ummu Sulaim untuk
memeriksa sifat fisik seorang wanita, Rasulullah berkata, Perhatikanlah urat di atas mata
kakinya dan cium bau pangkal lehernya! Dan dalam riwayat lain, Cium bau mulutnya! (HR.
Ahmad, Hakim Thabrani, dan Baihaqi)


Larangan Berduaan Walau Telah Melakukan Khitbah : Seorang yang telah mengkhitbah
dilarang untuk berduaan dengan wanita yang telah dikhitbah karena keduanya belum menikah
dan masih berstatus ajnabiy (asing). Berdasarkan hadits Rasulullah, Tidaklah seorang laki-laki
berduaan dengan wanita yang tidak halal baginya kecuali ketiganya adalah syaitan, kecuali
bersama mahram. (HR. Ahmad)


Hukum Udul -- (Membatalkan Khitbah) : Khitbah adalah sebuah janji yang diucapkan
untuk mengikat laki-laki dan perempuan di masa yang akan datang. Tidak ada hukuman fisik
bagi mereka yang melanggar janji, namun Rasulullah sangat mencela perbuatan ini bahkan
terkatagorikan sebagai salah satu ciri kemunafikan. Rasulullah bersabda, Tanda-tanda
kemunafikan itu ada tiga, apabila berbicara dia berbohong, apabila berjanji dia mengingkari,
dan apabila dipercaya dia berkhianat.


Hadiah Dari Pihak Peminang Saat Proses Khitbah : Dalam tradisi beberapa masyarakat di negri
kita adalah seorang peminang memberikan hadiah kepada yang akan dipinang. Lalu bagaimana
bila pinangan atau khitbah ini dibatalkan? Haruskah hadiah dikembalikan kepada si peminang?

Yang pertama harus kita perjelas terlebih dahulu, apakah hadiah yang diberikan ini merupakan
mahar yang dibayar sebelum pernikahan atau bukan. Bila hadiah itu adalah mahar maka harus
dikembalikan kepada pihak peminang bila khitbahnya dibatalkan. Akan tetapi bila hadiah itu
bukanlah mahar maka dia sama seperti hibah (pemberian).

Pada dasarnya seseorang yang memberikan hibah dilarang untuk mengambil kembali barang
yang telah dihibahkannya, Rasulullah bersabda, Tidak halal bagi seorang yang memberikan
atau menghibahkan suatu pemberian kemudian mengambilnya kembali, kecuali pemberian
seorang bapak kepada anaknya. (HR. Ashabus Sunan) Namun bila pemberian itu
dimaksudkan untuk mendapatkan sesuatu, namun orang tersebut tidak mendapatkan maksud
yang dituju dengan memberi hadiah tersebut, maka dia berhak untuk mengambilnya kembali.
Diriwayatkan dari Salim, dari Bapaknya, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,
Barangsiapa yang menghibahkan suatu pemberian, maka dia (yang memberi) lebih berhak
ke atas pemberian itu selama dia tidak mendapat balasan (ganti) darinya.
7


Menurut madzhab Hanafiyah, hadiah itu harus dikembalikan jika bentuknya tetap dan tidak
berubah, semisal cincin, gelang, atau perabotan rumah tangga. Adapun bila bentuknya berubah
semisal makanan, buah-buahan, kain yang telah dijahit menjadi baju, dan sebagainya maka
tidak wajib untuk dikembalikan.

Namun menurut madzhab Syafiiyyah dan Hanabilah, walau barang itu sudah beralih bentuk
atau sudah tidak ada lagi, maka harus dikembalikan berupa harga sejumlah barang yang
diberikan tersebut.

Adapun Malikiyah membedakan, bila pembatalan itu berasal dari pihak yang dikhitbah (wanita)
maka pemberian harus dikembalikan baik masih utuh ataupun telah berubah. Namun bila
pembatalan itu berasal dari pihak laki-laki maka pemberian itu tidak harus dikembalikan.
8



Annuaimy, 15 Maret 2011
Abdullah Assaif

7
Fiqhus Sunnah, 2/21
8
Fiqhus Sunnah, 2/21-22 ; Al-Fiqhul Islam Wa Adillatuhu, 7/26-27