Anda di halaman 1dari 11

PERBANDINGAN PENYESUAIAN DIRI MAHASISWA BERKEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT PADA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

(PGSD) UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 1)

Aspin 2) Abstrak : Penelitian ini adalah Bagaimanakah penyesuaian diri mahasiswa yang

berkepribadian ekstrovert dan mahasiswa berkepribadian introvert dan apakah ada perbedaan penyesuaian diri mahasiswa yang berkepribaian ekstrovert dengan mahasiswa berkepribadian introvert Pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Haluoleo Kendari. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Perbandingan penyesuaian diri mahasiswa berkepribadian ekstrovert dan introvert pada program studi pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) Universitas Haluoleo Kendari. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa akhir Pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Haluoleo Kendari yang terdiri 50 orang Sampel penelitian ini adalah mahasiswa yang akan di tes kepribadiannya antara kepribadian ekstrovert dan introvert lalu di tarik sampel sebanyak 25 orang mahasiswa berkepribadian ekstrovert dan 25 orang berkepribadian introvert. Penelitian ini termasuk penelitian komparatif (Perbandingan). Instrumen penelitian ini adalah angket pengisian tes kepribadian terdiri dari 8 butir yang menggunakan skala semantik deferensial dan angket penyesuaian diri menggunakan skala likert terdiri dari 30 item ada 2 item tidak valid. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik deskriptif dan analisis inferensial. Skripsi menunjukkan bahwa (1) Ratarata penyesuaian diri mahasiswa berkepribadian ekstrovert PGSD Universitas Haluoleo Kendari sebesar 94 dan rata-rata penyesuaian diri mahasiswa semester akhir berkepribadian introvert PGSD Universitas Haluoleo Kendari sebesar 87,6 (2) Hasil analisis inferensial dengan Uji t diperoleh thitung (7,630) < ttabel (1,708) pada taraf kepercayaan 95 % yang menunjukan bahwa penyesuaian diri mahasiswa yang berkepribadian ekstrovert lebih tinggi dibanding rata-rata penyesuaian diri mahasiswa berkepribadian introvert pada PGSD Unhalu. Kata Kunci : PGSD, ekstrovert, introvert PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup tanpa manusia lain dan senantiasa berusaha untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Hubungan antar manusia merupakan fenomena yang menjadi perwujudan dari pemenuhan kebutuhan individu terhadap manusia lain untuk mengembangkan dan mempertahankan hidup.

1) Ringkasan Hasil Penelitian 2) Dosen Tetap Pada FKIP Unhalu

Nashori (2003: 27) menyatakan bahwa berbagai pandangan dan pengalaman hidup menunjukkan bahwa keberhasilan hidup manusia banyak ditentukan oleh kemampuannya mengelola diri dan kemampuan mengelola hubungan dengan orang lain. Mahasiswa sebagai bagian dari manusia, tentunya tidak bisa melepaskan diri dari kodratnya untuk senantiasa berhubungan dengan orang lain. Mahasiswa akan berhubungan dengan sesama mahasiswa, pada dosen serta staf akademik lain yang ada di kampusnya. Mahasiswa adalah golongan intelektual yang sedang menjalani pendidikan di perguruan tinggi dan nantinya mampu bertindak sebagai pemimpin yang terampil, baik sebagai pemimpin masyarakat, negara ataupun di dunia kerja yang digelutinya, Aryatmi, (1992:30). Mahasiswa sadar bahwa mencari bekal untuk menjadi kaum intelektual di kemudian hari tidak hanya dengan mengejar ilmu dan kepandaian, tetapi juga melalui interaksi sosial dan melakukan sesuatu bagi kehidupan kemanusiaan yaitu penyesuaian diri. Mahasiswa melakukan interaksi sosial tidak hanya terbatas pada tempat tinggal keberadaannya, untuk itu mahasiswa harus mampu beradaptasi bersama temanteman demi mendapatkan penyesuaian diri dan pengakuan dari teman-teman mahasiswa sekampus dan sederajat yang lainnya. Prayitno, (2008) tugas dan tanggung jawab mahasiswa selain menimba ilmu, tetapi juga meluas pada pengenalan diri akan keberadaan dirinya pada teman-temannya. Untuk mampu beradaptasi dalam kampus, mahasiswa terlebih dahulu dihadapkan pada kenyataan bahwa ketika mahasiswa memasuki dunia pendidikan tinggi akan berhadapan dengan berbagai realita yang tidak jarang berbeda dengan gambaran ideal atau pengalaman belajar pada masa-masa sebelumnya di sekolah menengah atas. Realitas yang harus dihadapi adalah proses perubahan jenjang pendidikan yang termasuk di dalamnya adanya pemantapan status dan identitas pada diri mahasiswa yang mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan peranannya sesuai dengan status pendidikan baru yang sedang ditempuh. Hal ini dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang dahulu belajar di SMA dan kemudian masuk perguruan tinggi akan mengalami berbagai perubahan, mulai dari sistem pengajaran, materi atau beban pelajaran, pengaturan jadwal belajar yang ditentukan oleh mahasiswa sendiri, dan sebagainya yang artinya mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri dalam menyesuaikan diri pada saat menjalani proses belajar di perguruan tinggi. Hubungan antar pribadi yang terjalin antar mahasiswa yang memiliki kepribadian ektrovert dan introvert seringkali tidak bisa terlepas dari konflik-konflik interpersonal yang timbul dari interaksi-interaksi yang terjadi dari penyesuaian diri mereka. Konflik bisa timbul dari perbedaan karakter, perbedaan pandangan, lebih-lebih karena pada masing-masing mahasiswa mempunyai perbedaan suku dan agama serta adanya perbedaan kepentingan, status ekonomi, status sosial, status keluarga yang kadang bisa menimbulkan gesekan antar kepribadian. Keadaan yang berberbeda-beda ini seringkali menyebabkan benturan pola pikir dalam menyikapi masalah yang terjadi pada kegiatan perkuliahan. Individu yang memiliki perasaan rendah diri, cemas, dan mudah terpengaruh dikatakan memiliki konsep diri yang negatif. Individu dengan konsep diri negatif akan memiliki tingkat penyesuaian diri yang rendah serta memiliki kecemasan dalam hubungan interpersonal sehingga akan mengganggu kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, sebaliknya juga yang memiliki konsep diri yang

positif memiliki tingkat penyesuaian diri yang lebih mudah dalam membangun kerjasama dan berhubungan dengan sekitarnya. Eysenck mengatakan bahwa orang yang bertipe kepribadian introvert tidak banyak bicara, mawas diri, memiliki rencana sebelum melakukan sesuatu, tidak percaya dengan faktor kebetulan, memikirkan masalah kehidupan sehari-hari secara serius, menyukai keteraturan dalam hidup mereka, jarang berperilaku agresif, tidak mudah hilang kesabaran, dan menempatkan standar etis yang tinggi dalam hidup mereka. Sedangkan orang yang bertipe ekstrovert tidak terlalu memusingkan suatu masalah, cenderung agresif, mudah kehilangan kesabaran, perasaannya kurang dapat terkontrol dengan baik, dan kurang dapat dipercaya. Bila orang introvert dan ekstrovert dengan karakteristik-karakteristik di atas mengalami sebuah konflik maka akan terlihat bahwa tipe introvert cenderung lebih mampu dalam mengelola konflik. Dari pengamatan peneliti pada mahasiswa Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ditemukan masalah yang cukup mendasar terhadap penyesuaian diri antar sesama mahasiswa. Ini dimungkinkan akibat dari perbedaan kepribadian, yang berproses lewat penyesuaian dirinya, karena setiap mahasiswa memiliki kepribadian terbuka (ekstrovert) yaitu mahasiswa yang senang dengan banyak variasi dan aktif dalam banyak kegiatan ektrakurikuler sering mendapat penerimaan pada sebagaian besar teman-temannya, di lain sisi juga nampak mahasiswa di tempat tenang yang dia dapat berrefleksi keadaan dirinya tanpa terganggu dari keramaian di sekitarnya dan kepribadian (Introvert) yang dalam melakukan sesuatu pekerjaannya, pada tugas senang memperhatikan ke hal-hal detail, mencari arti yang tersembunyi pada setiap kejadian didalam di dirinya. Dari beberapa gejala (fenomena) secara psikologis yang terjadi secara interpersonal di atas peneliti sangat tertarik untuk melihat perbandingan penyesuaian diri mahasiswa yang cenderung berkepribadian ekstrovert (terbuka) dan yang berkepribadian introvert (tertutup). TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah : a. Untuk mengetahui jumlah mahasiswa yang berkepribadian ekstrovert dan introvert b. Untuk mendeskripsikan penyesuaian diri mahasiswa yang kepribadian ekstrovert dan mahasiswa yang kepribadian introvert c. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan penyesuaian diri mahasiswa yang berkepribaian ekstrovert dengan introvert Hasil penelitian ini dapat dibagi menjadi dua manfaat yaitu : a. Manfaat teoritis Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan psikologi pendidikan konsentrasi bimbingan dan konseling khususnya mengenai penyesuaian diri antara mahasiswa yang berkepribadian ekstrovert dan introvert. b. Manfaat Praktis 1. Sebagai bahan informasi dalam penelitian selanjutnya akan penyesuaian diri mahasiswa baik berkepribadian ekstrovert ataupun introvert.

2. Bagi tenaga pendidik sebagai bahan acuan dalam memahami penyesuaian diri mahasiswa berkepribadian ekstrovert dan introvert yang akan menyelesaikan studinya? METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian komparatif yaitu membandingkan Penyesuaian diri mahasiswa berkepribadian ekstrovet dengan mahasiswa berkepribadian introvert dan mendeskripsikannya sesuai dengan tujuan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan 5 januari sampai dengan 19 maret 2011 pada mahasiswa reguler semester akhir program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Haluoleo Kendari. Dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel terikat (penyesuaian diri) dengan membandingkan dua varians yaitu: mahasiswa berkepribadian ekstrovert dan mahasiswa berkepribadian introvert. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif kuliah semester akhir di program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Haluoleo Kendari Tahun Ajaran 2010/2011 dengan jumlah populasi sebanyak 70 mahasiswa dengan menggunakan tekhnik purposive random sampling, Arikunto (1998) bahwa jika subyek penelitian kurang dari 100 maka sebaiknya diambil semua dan karena populasinya tidak mencukupi 100 orang hanya 70 orang maka semua populasi dijadikan sampel. Data yang diperoleh dari lapangan yaitu lewat angket yang tersebar pada sejumlah mahasiswa semester akhir PGSD, dengan mengisi angket kepribadian 8 item dan untuk mengukur penyesuaian dirinya, uji coba angket dilakukan melalui perhitungan validitas angket dengan menggunakan rumus product moment. Selanjutnya data yang diperoleh di analisis dengan teknik statistik yaitu uji-t, Sebelum menguji penelitian yang di ajukan, terlebih dahulu melakukan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas data dan uji homogenitas data. HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Deskriptif Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada mahasiswa semester akhir PGSD Unhalu Kendari 2010/2011. Data yang dideskripsikan tersebut merupakan acuan untuk mengetahui lebih jelas mengenai jumlah kecenderunagn kepribadian yang dimiliki oleh masing- masing mahasiswa yang berjumlah 70 orang. Dari hasil angket pemisahan pada kedua bentuk kepribadian antara mahasiswa berkepribadian Ekstrovert dan berkepribadian Introvert di peroleh data bahwa mahasiswa PGSD Unhalu memiliki kepribadian yang di dominasi oleh mahasiswa cenderung berkepribadian introvert, dan data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel.2 Distribusi data kepribadian ekstrovert dan introvert No 1. 2. Jenis Kepribadian Cenderung Ekstrovert Cenderung Introvert Interval 21 32 13 - 22 Jumlah mahasiswa 25 45 Presentase (%) 35,71 64,28 100 Ket. Sedikit Banyak

Jumlah 70 Sumber: Diolah dari data penelitian 2011

Berdasarkan Tabel 2 di atas, terdapat 25 orang (35,71%) mahasiswa yang memiliki kecenderungan berkepribadian Ekstrovert, dan 45 orang (64,28%) mahasiswa yang memiliki kecenderungan berkepribadian Introvert, dengan ini menggambarkan bahwa tingkat kepribadian yang paling banyak di dominansi oleh mahasiswa yang berkepribadian introvert dengan jumlah 45 orang sedangkan yang lainnya adalah orang yang memiliki kepribadian ekstrovert dengan jumlah 25 orang. Nilai persentase terbesar yaitu 64,28% mengisyaratkan tergolong cukup banyak adalah mahasiswa yang berkepribadian introvert. Tabel 3. Persentase dan Kategori Penyesuaian Diri Mahasiswa Berkepribadian Ekstrovert
No 1

Klasifikasi
83 - 92 93 - 103 104 - 113

Frekuensi 7 14 4 25

2 3

Jumlah

Presentase Kriteria (%) 28 Rendah 56 Sedang 16 Tinggi 100

Dari hasil analisis deskriptif dari penyesuaian diri mahasiswa kepribadian ekstrovert (X1), diperoleh nilai maksimum data penyesuaian diri mahasiswa PGSD unhalu Kendari yang dicapai melalui angket penelitian adalah 113 dan nilai minimum 83 dengan rata-rata 94 dan besarnya simpangan rata-rata (simpangan baku) adalah 8,34. Berdasarkan hasil klasifikasi data penyesuaian diri mahasiswa ekstrovert (X1) yang diklasifikasikan kedalam tiga kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi, yaitu pada tabel 3 diatas maka diperoleh keterangan bahwa sebanyak 56 % mahasiswa mengalami kondisi Penyesuaian diri yang sedang, 28 % pada kategori rendah dan 16 % ada pada kategori tinggi sehingga secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi penyesuaian diri mahasiswa berkepribadian ekstrovert pada PGSD Unhalu Kendari tergolong sedang atau kondisi yang baik.

Tabel 4. Persentase dan kategori penyesuaian diri nilai mahasiswa berkepribadian introvert Persentase No. Klasifikasi Frekuensi Kriteria (%) 1. 2. 3. 75 83 84 92 93 101 Jumlah 7 13 5 25 28 52 20 100 Rendah Sedang Tinggi

Dari hasil analisis deskriptif penyesuaian diri mahasiswa kepribadian introvert (X2) maka tabel di atas maka tingkat penyesuaian diri mahasiswa kepribadian Introvert berada pada kategori sedang yaitu 13 orang mahasiswa dengan presentase 52%, ada 7 orang mahasiswa yang berada dalam kategori rendah dengan presentase 28%. Dan ada 5 orang mahasiswa dalam kategori tinggi dengan nilai persentase yaitu 20%. 1. Analisis Statistik Inferensial Untuk menganalisis perbedaan tingkat penyesuaian diri antara mahasiswa ekstrovert dengan introvert di PGSD Unhalu Kendari maka dilakukan analisis inferensial yang bertujuan untuk menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan rumus uji-t. Namun sebelum dilakukan uji-t tersebut terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas, uji normalitas data serta uji homogenitas data. 1. Uji Persyaratan Analisis a. Uji Validitas Uji persyaratan analisis yaitu dengan menggunakan korelasi product moment terpenuhi atau tidak. Dari hasil pengujian validitas angket Penyesuaian diri mahasiswa baik kepribadian ekstrovert maupun introvert yang sebanyak 30 item pernyataan ditemukan bahwa ada 28 item yang valid dan 2 item yang tidak valid (invalid) dengan rhitung = 0,4283 contohnya item nomor 1, sedangkan rtabel = 0,279, jadi rhitung> rtabel atau (0,4283>0,279). b. Uji Reliabilitas Berdasarkan hasil uji reliabilitas angket, ditemukan angka koefesien reliabilitas keseluruhan butir angket r11 yaitu 0,814 maka r11= 0,814>rtabel 0,404 yang berarti reliabilitas angket tinggi. c. Uji Normalitas Pada pengujian normalitas data untuk penyesuaian diri mahasiswa yang kepribadian ekstrovert dan kepribadian introvert pada program studi PGSD Unhalu Kendari diperoleh seperti tabel berikut ini:

Tabel 5. Hasil uji chi kuadrat


No 1 2 Data X1 X2

x 2hitung
-58,354 -13,928

x 2tabel
= (0,05)
11,070 12,592

Kesimpulan Ho Distribusi Diterima Normal Diterima Normal

Pengujian normalitas data penelitian menggunakan uji Chi kuadrat dengan kriteria bahwa subjek yang diteliti berdistribusi normal apabila x2hitung > x2tabel.. dibuktikan dengan hasil uji Chi Kuadrat pada tabel di atas. d. Uji Homogenitas Hasil pengujian homogenitas data penyesuaian diri mahasiswa yang kepribadian ekstrovert dan introvert di program studi PGSD Unhalu kendari menggunakan uji-F, Fhitung = 1,0034 atau dibulatkan 1 kriteria pengujian yaitu tolak Ho jika F a (n1 1 ; n2 1) nilai yang lain diterima H1 pada taraf 2 kebebasan = 0,05. Berdasarkan hasil perhitungan menunjukan bahwa Fhitung (1,0034) > Ftabel (2,62) dengan demikian Ho di tolak yang yang berarti data kedua kelompok adalah homogen. 2. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah Apakah ada perbedaan penyesuaian diri mahasiswa berkepribadian ekstrovert dengan introvert pada program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Haluoleo Kendari? Setelah dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus uji t yang disajikan pada (lampiran 12). Maka diperoleh thitung = 7,667 pada taraf kebebasan = 0,05 sedangkan ttabel = 2,064 karena thitung > ttabel maka Ho ditolak H1 diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan dari penyesuaian diri mahasiswa berkepribadian ekstrovert dengan mahasiswa berkepribadian introvert. Pembahasan Berdasarkan hasil uji hipotesis hasil (uji- t =7,667) menerangkan bahwa H0 ditolak. Hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan penyesuaian diri antara mahasiswa ekstrovert dengan introvert di PGSD Unhalu Kendari. Hal ini didukung pula oleh analisis secara deskriptif yang mana mahasiswa kepribadian ekstrovert memiliki rata-rata skor penyesuaian diri sebesar 94 yang berarti berada pada kategori tingkat penyesuaian diri yang sedikit tinggi. Sementara itu, Mahasiswa yang berkepribadian introvert memiliki rata-rata skor penyesuaian diri sebesar 87,76 yang berarti berada pada kategori tingkat penyesuaian diri yang rendah. Perbedaan rata-rata skor penyesuaian diri tersebut menegaskan bahwa mahasiswa ekstrovert memiliki penyesuaian diri yang lebih baik dibanding mahasiswa introvert.

Mahasiswa yang berkepribadian introvert akan terasa nyaman karena mereka memiliki teman yang dapat melakukan proses penyesuaian diri yang sangat baik khususnya bagi mahasiswa ekstrovert dengan potensi diatas rata-rata. Namun berdasarkan nilai persentase sebesar 52% yang artinya cukup banyak mahasiswa introvert yang memiliki tingkat penyesuaian diri yang sedang hal ini mengindikasikan masih adanya kelemahan dalam hal kebersamaan dengan mahasiswa ekstrovert. Menurut Hurlock (1992: 247) mengatakan bahwa usia memegang peranan penting dalam menentukan penyesuaian diri seseorang terutama usia 18 - 40 tahun. Dalam perkembangan usia ini merupakan periode khusus, dimana seseorang menghadapi perubahan peran yang kompleks baik peran keluarga, pekerjaan atau lingkungan sosial. Penyesuaian diri yang baik (tinggi) dapat terjadi diakibatkan oleh meningkatnya kemampuan individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, mengatasi ketegangan frustasi dan konflik secara sukses serta menghasilkan hubungan yang harmonis antara kebutuhan dirinya dengan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup, seperti yang dilakukan pada semua mahasiswa sejawatnya. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Ali dan Asrori. (2005) bahwa penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mencakup responrespon mental dan perilaku yang diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar atau lingkungan tempat individu berada. Senada dengan hal tersebut, Haryadi, dkk (2007) mengungkapkan bahwa penyesuaian diri adalah kemampuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan atau dapat pula mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan atau keinginan diri sendiri. Terjadinya penyesuaian diri yang baik pada mahasisiwa ekstrovert bukan berarti melemahkan mahasiswa introvert pada setiap proses perkuliahan. Hasil analisis dekripsi menunjukkan bahwa persentase 52% yang berarti cukup banyak mahasiswa introvert yang memiliki penyesuaian diri pada kategori yang sedang. Dalam berusaha mengatasi penyesuaian diri yang rendah atau sedang bukan berarti hal yang negatif bagi mereka namun justru dengan hal tersebut mereka mampu beradaptasi untuk meningkatkan penyesuaian dirinya. Hal tersebut tidak lepas dari beberapa karena ada beberapa faktor yang menjadi penyebab penyesuaian dirinya rendah atau sedang. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Haryadi dkk(2009) bahwa: Kemampuan menerima dan memahami diri sebagaimana adanya. Karakteristik ini mengandung pengertian bahwa orang yang mempunyai penyesuaian diri yang rendah adalah orang yang sanggup menerima kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangan di samping kelebihan-kelebihannya. Individu tersebut mampu menghayati kepuasan terhadap keadaan dirinya sendiri, dan membenci apalagi merusak keadaan dirinya betapapun kurang memuaskan menurut penilaiannya. Hal ini bukan berarti bersikap pasif menerima keadaan yang demikian, melainkan ada usaha aktif disertai kesanggupan mengembangkan segenap bakat, potensi, serta kemampuannya secara maksimal. Beberapa faktor tersebut di atas dapat menggiring mahasiswa pada suatu kondisi yang dapat menyesuaikan diri dan menjadi produktif apabila ia tidak bisa

menemukan jalan keluar dari persoalan-persoalan yang dihadapinya. Sesungguhnya kegagalan dalam menyesuaiakan diri terkadang membuat kita sebagai mahasiswa sedikit mengalami kesulitan dalam perkuliahan di kampus. Disamping itu kurangnya pengendalian diri terhadap masalah terlebih pada saat perkuliahan akibat tingkah dan perbuatan tidak senonoh dari teman sejawatnya maka akan membuat kita lebih menurunkan nilai dari penyesuaian diri. Hal ini menunjukkan bahwa karena kurangnya pemahaman akan penyesuaian diri dengan tipe kepribadian orang baik itu tipe kepribadian terbuka (ekstrovert) maupun tipe kepribadian tertutup (introvert). Bila mana pemahaman dapat mereka diketahui bahwa penyesuaian diri mahasiswa kepribadian ekstrovert adalah mahasiswa yang suka keramaian, lebih berdaya ingat kuat, cepat memiliki teman baru, senang bercerita keadaan sekarang, mudah berteman orang baru, bersosialisasi dengan baik, lebih memiliki daya juang fisik yang tinggi, mudah meredakan kemarahan, mudah tertawa, suka menahan perasaannya dan mahasiswa yang berkepribadian introvert adalah mahasiswa yang selalu sukamembatasi diri untuk tidak sembarang berteman, senang berlama-lam di depan computer, lebih intropeksi diri, lebih banyak mengalah daripada berdebat, lebih bekerja keras, selalu menetapkan target tinggi, sering menjaga jarak terhadap orang lain, cenderung pemalu. Sehingga kepribadian sangat memberi perbedaan penyesuaian diri baik kepribadian ekstrovert maupun kepribadian introvert. Yang pada akhirnya akan berkurang masalah-masalah seperti permusuhan, kemarahan, depresi, dan emosi negatif lain. Hal ini diungkapkan oleh (Arifianti, 2007) bahwa mereka yang mudah marah, putus asa, sulit mengendalikan dorongan hati, sulit mengambil keputusan, dan sulit memotivasi diri di akibat karena kegagalan penyesuaian pribadi seperti kegoncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya sebagai akibat adanya jarak pemisah antara kemampuan individu dan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungannya. Memahami tipe kepribadian baik tipe kepribadian ekstrovert maupun kepribadian introvert akan mudah bagi mahasiswa mengenali teman-teman sejawatnya karena tipe kepribadian adalah satu hal yang sangat membedakan karakter, sifat dan kejadian interpersonal seseorang terhadap stimulus yang dihadapinya. Dengan demikian untuk menjaga keseimbangan pemenuhan kebutuhan para mahasiswa maka sinergi serta peran aktif mahasiswa pada setiap kegiatannya perlu ditingkatn karena pemahaman terhadap penyesuaian diri dengan kepribadian yang berbeda mudah menimbulkan permasalahan olehnya itu sebagai teman karibnya, kedua orang tua, para dosen, dan individu yang berhubungan langsung dengan mahasiswa harus mudah memahami dan saling mengerti demi menciptakan generasi sumber daya manusia yang handal dan berkualitas sehingga menjadi pemimpin pada masa akan datang.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian ini dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. Rata-rata penyesuaian diri mahasiswa berkepribadian ekstrovert pada Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Unhalu Kendari berada pada kategori sedang jumlah yang sedikit 2. Rata-rata penyesuaian diri mahasiswa berkepribadian introvert pada Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Unhalu Kendari berada pada kategori sedang dengan jumlah mahasiswa yang banyak 3. Berdasarkan hasil penelitian dengan ujit t 7,664 ini di temukan bahwa ada perbedaan yang signifikan dari penyesuiaian diri mahasiswa yang memiliki kepribadian ekstrovert dan introvert. Dan memiliki perbedaan jumlah penyesuaian diri antara mahasiswa yang berkepribadian ekstrovert dan mahasiswa yang berkepribadian introvert pada Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Unhalu Kendari

Saran 1. Diharapkan pada mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Unhalu Kendari agar melakukan kerjasama berlaku pro aktive terhadap kegiatan bersama demi meningkatkan kemampuan diri dan penyesuaian diri antar mahasiswa secara alami baik di linkungan kampus maupun diluar kampus. 2. Diharapkan agar para dosen untuk memaksimalkan kegiatan kelompok belajar bersama untuk mengembangkan keterampilan hidup agar mahasiswa memiliki keterampilan, sikap, perilaku adaptif, kooperatif dan kompetitif dalam menghadapi tantangan dan tuntutan hidup sehari-hari secara efektif. 3. Diharapkan pada peneliti lain yang berkeinginan untuk mendalami permasalahan pada penelitian ini, agar diperoleh kesimpulan yang lebih baik lagi sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penanganan masalah penyesuaian diri dengan tipe kepribadian ekstrovert maupun introvert pada setiap mahasiswa di seluruh Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. Abu, 2004. Psikologi belajar. Edisi Revisi Jakarta: Rineka Cipta Ali, M. & Asrori, M. (2005). Psikologi remaja perkembangan peserta didik, Jakarta : PT Bumi Aksar Akademik Guru Minimal S1/DIV (UU-RI No.14 tahun 2005 Bab IV pasal 9) diakses tanggal 16 Mei 2011. Www.wordpress.com/2009/12/04/kompetensi-profesionalismeguru/undang-undang. Aryatmi, 1992. Prilaku Remaja daerah Pinggiran dan Kota. Swastika media Cipta. Surabaya. Arifianti, Ranti Putri 2007. Hubungan antara Kecenderungan Kepribadian Ekstrovert Introvert dengan Burnout pada Perawat. Surabaya.Unibaya.Fakultas Psikologi. Dipublikasikan. Arikunto, Suharsimi, 1995. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Chaplin, J.P. (2001). Kamus lengkap psikologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Eysenck, H.J. 2004.Psychlogy An International Perspective. New York University. Ny.10001 Fatimah, N.(2006). Psikologi perkembangan. Bandung: Pusaka Setia Firman, John.2002. Motivasi Dari Seorang Psikolog. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada Gunawan, Ary H, 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarata: Rineka Cipta
Goleman, D. (1996). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books

Gerungan, WA, (1964-1991). Psikologi Sosial. Jakarta: Refika Aditama. Hartini, N. 2002. Kamus Sosiologi Dan Kependudukan. Yogyakarta. Panji Pustaka Volume 3. Nomor 2. Halaman 109-118. Haryadi, Sugeng dkk. (2008) Perkembangan peserta didik. Cetakan ke 3. Semarang:IKIP Semarang Press.