Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Industri merupakan salah satu penyumbang limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan. Mengingat penting dan besarnya dampak yang ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan, penting bagi sektor industri untuk memahami dasar-dasar teknologi pengolahan limbah cair. Teknik-teknik pengolahan air dan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya yang telah dikembangkan secara umum dibagi menjadi 3 metode pengolahan yaitu pengolahan secara fisika, pengolahan secara kimia, dan pengolahan secara biologi. Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-pertikel yang tidak mudah mengendap / koloid, logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahanbahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan atau lebih dikenal proses koagulasi-flokulasi. Hal ini dibutuhkan peran aktif flokulan baik organik maupun anorganik. Flokulasi merupakan satuan proses penting dalam pengolahan air, limbah cair domestik, industri dan pemanfaatan mineral. Flokulasi bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi, turbidity, warna, dan mikroorganisme. Penambahan flokulan menyebabkan terjadinya penetralan muatan dengan mengikuti mekanisme bridging yang kemudian bergabung bersama membentuk flok sehingga

Bab I Pendahuluan

I-2

akhirnya dapat diendapkan. Flokulan berfungsi sebagai pembentuk partikel yang lebih besar / flok [23]. Flokulan komersial dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu organik dan anorganik. Dari kedua flokulan ini flokulan organik lebih efektif
[29]

. Flokulan

organik dapat berupa polimer alami dan sintetik. Sebagai flokulan, polimer sintetik lebih efektif daripada yang alami. Flokulan ini lebih disukai karena tidak perlu mengatur pH media, dapat digunakan hanya dalam jumlah kecil 1-5 ppm, flok yang terbentuk lebih besar, lebih kuat dan pengendapannya lebih baik / menghasilkan sedikit sludge. Flokulan anorganik sering menimbulkan masalah baru karena menghasilkan banyak sludge dalam proses flokulasi. Efisiensi flokulasi polimer meningkat seiring dengan meningkatnya berat molekul. Diantara flokulan polimer, polimer sintetik bisa dibuat dengan mengontrol berat molekul, distribusi berat molekul, struktur kimia polimer, dan perbandingan gugus fungsi dari polimer backbone.[23] Polimer sintetik biasa disebut dengan polimer. Polyacrylamide merupakan salah satu polimer sintetik yang sangat efektif sebagai flokulan karena mempunyai daya ikat kuat terhadap partikel yang tersuspensi dalam air, akan tetapi tidak tahan terhadap gesekan mekanis (unshear stable) dan unbiodegradable [17]. Polyacrylamide dalam bentuk homopolimer ataupun komonomernya merupakan flokulan yang baik untuk penanganan hasil buangan pabrik yang berupa limbah cair. Kegunaan lainnya adalah dalam proses pencucian batubara non-cooking pada pembangkit listrik dan industri semen, sehingga akan mampu mengurangi biaya pengangkutan, dan meningkatkan faktor utilitas pabrik[10]. Polyacrylamide dengan massa molekul 12x106 biasa digunakan sebagai retention aid dalam pembuatan kertas. Sedangkan Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan

I-3

polyacrylamide dengan berat molekul (2-20x106) digunakan dalam flokulasi. Flokulan ini banyak diaplikasikan dalam proses penjernihan air yang digunakan pada berbagai proses industri seperti pretreatment / pengolahan awal air boiler, pengolahan buangan dari pabrik kertas, dan pengolahan sampah. [othmer, vol A21] Polimer alami misalnya starch / pati umumnya mudah terurai / biodegradable, kaku / shear stable / sedikit tahan gesekan mekanis, murah harganya, dan mudah didapat. Sifat biodegradable ini dapat menyebabkan polimer alam tidak tahan lama[23]. Starch merupakan salah satu jenis polisakarida. Polisakarida merupakan salah satu polimer alami yang bisa digunakan sebagai flokulan. Polisakarida terdiri dari beberapa jenis seperti xanthan gum, guargum, starch, dan sebagainya [9]. Semua polimer, polimer alam maupun sintetik memiliki satu atau lebih kekurangan dan kelebihan [23]. Polimer alami dan sintetik dapat dimodifikasi dengan mengkombinasikannya untuk memperoleh sifat unggul dari kelebihan kedua polimer. Kopolimerisasi graf merupakan salah satu metode yang paling umum digunakan untuk memodifikasi sifat-sifat kimia dan fisika polimer alami dan sintetik. Salah satu keuntungan dari kopolimerisasi graf ini adalah berkurangnya sifat biodegradable, dan munculnya sifat shear stable
[23]

. Untuk mendapatkan flokulan polimer yang

shear stable, lebih efisien dan sedikit terbiodegradasi yang dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan atau menggabungkan polimer sintetik pada backbone polimer alami, dimana istilah lain dari menumbuhkan / menggabungkan dalam sintesa kopolimer graf disebut grafting. Kopolimer graf dari guar gum / xanthan gum / starch dan polyacrylamide menunjukkan karakterisasi flokulasi yang lebih baik daripada polisakarida sendiri dan beberapa polimer sintetik sebagai flokulan. Dari Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan

I-4

sekian jenis polisakarida, kopolimer graf dengan starch sebagai backbone merupakan flokulan yang cukup baik. Sintesa kopolimer graf sangat dipengaruhi oleh proses inisiasi pada sintesa nt-PAM dan coupling reaction. Inisiator merupakan pembentuk radikal bebas sebagai pemicu polimerisasi. Coupling reaction merupakan reaksi penggabungan nt-PAM pada polimer backbone starch. Penelitian-penelitian tentang pembuatan kopolimer graf telah dilakukan oleh Rath, dkk (1997), pembuatan kopolimer graf antara beberapa jenis polisakarida dengan Polyacrylamide dengan teknik polimerisasi larutan. Disimpulkan bahwa, pada Amylopectin-g-Polyacrylamide dengan rantai polyacrylamide berjumlah sedikit tetapi panjang merupakan flokulan yang paling efektif. Tripathy, dkk. (2000), karakteristik flokulasi dari Sodium Alginate-g-Polyacrylamide (SAG-VI) lebih baik daripada flokulan komersial yang berbasis polyacrylamide rantai lurus dalam suspensi slime bijih besi. Fares, dkk. (2003), melakukan sintesa Starch-g-N-tertbutylacrylamide. Hasilnya adalah konsentrasi monomer, konsentrasi inisiator, suhu, dan waktu reaksi berpengaruh pada %GE (grafting effsiency) dan %GY (grafting yield). Shaojie, dkk (2003), melakukan sintesa Starch-graft-Polyacrylamide kationik dengan polimerisasi inversi emulsi dan reaksi Manich, hasilnya adalah konsentrasi monomer, konsentrasi inisiator, konsentrasi Starch, dan temperatur reaksi berpengaruh pada %GE (grafting efficiency) dan %GY (grafting yield). Sofia, dkk (2004), melakukan sintesa starch-g-polyacrylamide sebagai flokulan dengan metode grafting dan uji karakteristik flokulasinya. Hasilnya adalah konsentrasi monomer, inisiator, suhu, dan waktu reaksi berpengaruh pada %GE (grafting eficiency) dan %GY (grafting yield). Dina dan Mila, (2005), melakukan sintesa Starch-graftPolyacrylamide sebagai flokulan dengan metode grafting from dan grafting to dan Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan

I-5

uji karakteristik flokulasinya dimana konsentrasi starch dan konsentrasi inisiator CAN berpengaruh pada %GE dan %GY. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa kopolimer graf (starch-graft-Polyacrylamide) memiliki kemampuan flokulasi lebih baik dibandingkan dengan polimer rantai lurus (starch atau polyacrylamide)
[29]

Kemampuan kopolimer graf sebagai flokulan dipengaruhi oleh panjang dan jumlah rantai graf, sedikit rantai graf tetapi panjang merupakan flokulan yang lebih efektif. Telah terbukti bahwa konsentrasi monomer acrylamide, konsentrasi inisiator, waktu dan temperatur reaksi penggabungan berpengaruh pada panjang dan jumlah rantai graf. Akan tetapi, starch sebagai polimer backbone memiliki struktur molekul pendek, hal ini dapat mengurangi capture capacity terhadap partikel kontaminan. Acrylamide sebagai monomer pembentuk rantai nt-PAM konsentrasinya kecil pada polimerisasi acrylamide. Ketika konsentrasi monomer acrylamide berlebih dapat terbentuk polimer gel, ini disebabkan adanya konversi reaksi tinggi. Inisiator sebagai pembentuk radikal bebas pada acrylamide, ketika konsentrasinya berlebih bisa menjadi pemicu terjadinya terminasi selama polimerisasi acrylamide karena adanya tumbukan yang semakin cepat antar radikal. Maka dilakukan penelitian lanjut dengan pengembangan metode grafting to untuk mendapatkan flokulan yang efektif dan efisien. Kopolimerisasi graf dari starch dan acrylamide (St-g-PAM) dilakukan dengan data-data pengaruh perbandingan konsentrasi monomer acrylamide, konsentrasi inisiator, waktu coupling reaction, dan suhu coupling reaction terhadap jumlah dan panjang rantai polyacrylamide yang tumbuh pada backbone starch.

Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan 1.2 Perumusan Masalah

I-6

Metode umum yang telah banyak dilakukan pada penelitian sebelumnya tentang sintesa starch-graf-polyacrylamide dilakukan dengan metode grafting from yaitu menumbuhkan dan sekaligus menggabungkan monomer acrylamide pada polimer backbone dan kebanyakan dilakukan dalam media homogen. Sintesa kopolimer graf ini dilakukan dengan metode grafting to yaitu dengan mensintesa non-terminated polyacrylamide dari acrylamide tanpa dilakukan terminasi dan menggabungkan non-terminated polyacrylamide pada polimer backbone starch. Panjang rantai graf berpengaruh pada capture capacity dan flocculating power flokulan. Keseragaman panjang rantai graf berpengaruh pada flocculating power flokulan. Kemampuan kopolimer graf sebagai flokulan dipengaruhi oleh panjang dan jumlah rantai graf, sedikit rantai graf tapi panjang merupakan flokulan yang efektif[20]. Sintesa starch-graft-polyacrylamide tergantung pada keberhasilan proses inisiasi pada sintesa nt-PAM dan coupling reaction. Oksigen dapat menjadi penghambat dan pelambat (inhibitor) kuat dalam polimerisasi. Polimerisasi inversi emulsi sangat sensitif terhadap oksigen dimana oksigen ini akan memotong radikal-radikal utama pada konsentrasi lebih rendah dari 1 ppm. Berat molekul polyacrylamide berkurang dengan semakin lamanya waktu inhibition karena oksigen juga dapat bereaksi dengan makroradikal sehingga terjadi reaksi terminasi. [2] Selama polimerisasi acrylamide, berat molekul makromolekul

polyacrylamide meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan kenaikan viskositas yang dipengaruhi oleh konsentrasi monomer acrylamide berlebih yang menyebabkan terbentuknya polimer gel. Gel Effect ditunjukkan dengan adanya kenaikan viskositas Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan

I-7

larutan dan kenaikan laju reaksi polimerisasi yang kemudian mengalami penurunan. Gel Effect menunjukkan matriks polimer tinggi sehingga gerakan molekul polimer semakin kecil. Hal ini berpengaruh pada proses coupling reaction. Pelarutan polyacrylamide berpengaruh pada konversi reaksi sehingga memicu reaksi polimerisasi kembali. Selain itu juga dapat mempermudah gerakan molekul polimer dalam proses coupling reaction. Perbandingan jumlah insiator dan jumlah monomer berpengaruh pada berat molekul non-terminated polyacrylamide. Berat molekul polyacrylamide mempunyai pengaruh linier terhadap flocculating power flokulan. Pada dasarnya flokulan berbasis polyacrylamide dengan rantai polyacrylamide panjang merupakan flokulan yang lebih efektif
[23]

. Untuk itu dilakukan sintesa nt-PAM secara terpisah dengan

pelarutan polimer backbone starch. Sintesa nt-PAM dilakukan dengan penumbuhan radikal acrylamide selama waktu sintesa. Inisiator sebagai pembentuk radikal bebas acrylamide bisa menjadi agen terminasi pada perbandingan inisiator terhadap acrylamide lebih besar. Hal ini juga dapat menyebabkan kenaikan laju reaksi polimerisasi dan dihasilkan nt-PAM berat molekul rendah. Coupling reaction merupakan reaksi penggabungan nt-PAM pada polimer backbone starch. Suhu dan waktu coupling reaction berpengaruh pada jumlah nonterminated polyacrylamide yang tergabung pada polimer backbone starch. Perbandingan jumlah makromolekul acrylamide dan backbone starch menjadi faktor penting dalam proses coupling reaction. Berdasarkan permasalahan tersebut telah dilakukan penelitian lanjut sintesa starch-graf-polyacrylamide dengan metode grafting to dengan teknik polimerisasi larutan, teknik pelarutan polyacrylamide, dan teknik polimerisasi inverse emulsi Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan

I-8

dengan variasi perbandingan jumlah acrylamide dan inisiator, serta pengaruh suhu dan waktu coupling reaction. Polimerisasi inverse emulsi dilakukan untuk mendapatkan rantai graf seragam dengan berat molekul tinggi. Hasil sintesa St-gPAM telah dilakukan analisa dengan analisa FTIR, analisa NMR, %GE, %GY, dan viskositas instrinsik. Uji flokulasi St-g-PAM dilakukan pada suspensi limbah besi dan kaolin. 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1 Mempelajari perubahan %GE, %GY, dan viskositas instrinsik starch-graftpolyacrylamide dengan teknik polimerisasi larutan oleh konsentrasi monomer acrylamide, konsentrasi inisiator, suhu coupling reaction, dan waktu coupling reaction. 2 Mempelajari perubahan %GE, %GY, dan viskositas instrinsik starch-graftpolyacrylamide dengan teknik polimerisasi inversi emulsi oleh konsentrasi monomer acrylamide, konsentrasi inisiator, suhu coupling reaction, dan waktu coupling reaction. 3 Mempelajari kinerja flokulasi dari kopolimer graf hasil sintesa terhadap suspensi kaolin, dan besi. 1.4. Manfaat Penelitian Dari penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan flokulan yang biodegradable yang memiliki flocculating power lebih efektif dan efisien serta ramah lingkungan. Serta diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang flokulan yang berbasis bahan alam. Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan

I-9

Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan

I - 10

Dengan polimerisasi inversi emulsi monomer terpolimerisasi di dalam micelle. Diharapkan polimer yang terbentuk di dalam micelle memiliki panjang yang seragam ketika laju polimerisasi di tiap micelle sama. Keseragaman konsentrasi di dalam micelle sangat ditentukan oleh ukuran micelle yang dikenal dengan CMC (Critical Concentration Micelle) Dengan inversi emulsi, polimer diharapkan terlokalisasi dengan baik pada micelle sehingga diharapkan polimer yang terbentuk memiliki panjang yang seragam. metode grafting from, dengan adanya kenaikan mol inisiator menyebabkan kenaikan kemudian penurunan %GE dan %GY, serta penurunan viskositas intrinsik, sedangkan kenaikan mol acrylamide menaikkan %GE, %GY, viskositas instrinsik, dan waktu reaksi menyebabkan kenaikan kemudian penurunan %GE, %GY, dan penurunan viskositas instrinsik. 4 Mempelajari pengaruh konsentrasi surfactan terhadap kestabilan polimer pada polimerisasi inversi emulsi. Latar belakang Starch sebagai polimer backbone diharapkan memiliki rantai panjang, ketika backbone Starch panjang kemungkinan nt-PAM yang tergraftkan semakin banyak. Hal ini kemungkinan dapat dicapai dengan adanya Starch murni. Maka perlu dilakukan sintesa Starch dari singkong. Sehingga kemungkinan polimer yang terbentuk panjang Sehingga perlu dikembangkan penelitian lanjut sintesa Starch-g-

Polyacrylamide dengan metode grafting to dengan teknik pelarutan polimer dan teknik polimerisasi inversi emulsi untuk mendapatkan rantai graft yang seragam dan Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan

I - 11

panjang serta diharapkan dengan polimerisasi inversi emulsi didapatkan berat molekul tinggi. karena dengan inversi emulsi hanya ada satu radikal bebas yang dapat dicangkokkan ke backbone Starch. Telah diketahui bahwa pada polimerisasi Acrylamide dengan konsentrasi monomer berlebih dihasilkan gel polimer. Efek gel menunjukkan adanya konversi tinggi dan berat molekul tinggi. Konversi tinggi menyebabkan laju reaksi semakin kecil. ( konsentrasi monomer tinggi, menyebabkan terbentuknya polimer viskos, kecepatan pembentukan polimer (kecepatan polimerisasi semakin cepat karena tiap monomer saling berebut untuk bertumbukan membentuk polimer, sehingga kemungkinan distribusi panjang rantai PAM yang terbentuk bervariasi).

Pelarutan suatu polimer berbeda dengan pelarutan senyawa yang mempunyai berat molekul rendah karena adanya dimensi-dimensi yang sangat berbeda antara pelarut dan molekul polimer. Pelarutan polimer terjadi dalam dua tahap, pertama molekul pelarut berdifusi melewati matriks polimer untuk membentuk suatu massa menggembung dan tercerai berai (tersolvasi) yang disebut gel. Pada tahap kedua, gel akan pecah dan molekul-molekulnya terdispersi ke dalam larutan sejati (Sofyan, 2000).

Dengan teknik polimerisasi larutan, sulit untuk memisahkan produk polimer dari pelarutnya. sehingga hanya cocok jika diaplikasikan langsung dengan penggunaan pelarutnya, dan kemungkinan berat molekul yang didapatkan rendah. Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan

I - 12

Gel merupakan struktur jaringan polimer yang sangat besar, yang diikuti dengan perubahan mendadak sifat polimer atau satu bentuk massa menggembung dari polimer karena adanya difusi solven dan tercerai berai. Pada polimerisasi Acrylamide dengan konsentrasi monomer Acrylamide berlebih dapat menyebabkan terbentuknya larutan viskos polimer atau gel polimer. Konsentrasi monomer Acrylamide tinggi menyebabkan laju reaksi polimerisasi tinggi, hal ini kemungkinan menyebabkan distribusi panjang molekul Polyacrylamide bervariasi. Gel polimer dapat juga terjadi karena konversi reaksi tinggi. Adanya konversi reaksi tinggi menyebabkan laju reaksi polimerisasi semakin kecil. Polimerisasi dengan konsentrasi Acrylamide berlebih menyebabkan terjadinya polimerisasi lanjut (Jenkins, 2000). Gel polimer menunjukkan viskositas polimer tinggi yang berarti berat molekulnya tinggi.

Mempelajari pengaruh konsentrasi monomer Acrylamide dan konsentrasi inisiator terhadap laju reaksi grafting. dan settlingnya selama flokulasi lebih baik daripada koagulasi elektrolit

sederhana.

Flokulan dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu anorganik dan organik. Flokulan organik lebih efektif karena hanya memerlukan jumlah yang sedikit untuk memperoleh hasil yang sama dengan sejumlah besar flokulan anorganik, menghasilkan sedikit sludge, dan tidak membutuhkan penyesuaian pH. Flokulan organik dapat berupa polimer alami dan sintetik. Polimer sintetik dan alami yang digunakan sebagai flokulan ini merupakan polimer yang larut dalam air. Salah satu contoh polimer linier sintetik yang larut dalam air adalah Polyacrylamide. Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan

I - 13

Polimer alami yang sering digunakan sebagai flokulan adalah starch, guar gum, xanthan gum, dan asam alginat. Selama ini flokulan komersial yang banyak digunakan adalah polimer sintetik yang tidak bisa dibiodegradasi. Sedangkan flokulan anorganik yang sering digunakan adalah garam dari logam multivalensi seperti aluminium dan besi. Flokulan anorganik menghasilkan banyak sludge yang merupakan masalah besar. Baru-baru ini pemanfaatan produk biodegradable semakin gencar diisukan dalam upaya pelestarian lingkungan, maka perlu diupayakan secara maksimal pemanfaatan polimer alami biodegradable sebagai flokulan.

Metode grafting from merupakan metode yang efisien akan tetapi biasanya sulit untuk memprediksi struktur molekuler dari kopolimer graft, dan panjang rantai graft bervariasi karena melibatkan reaksi penggabungan sekaligus penumbuhan monomer pada polimer backbone.

Polyacrylamide merupakan salah satu jenis water soluble polimer. Air merupakan persyaratan penting untuk kehidupan manusia dan beberapa industri modern. Air sebagai sumber daya alam perlu dilestarikan kemampuannya agar tetap bermanfaat bagi kehidupan maka perlu dilakukan pengendalian beban limbah yang masuk perairan / badan air. Sebelum dilakukan pembuangan ke lingkungan harus mendapat perlakuan khusus karena limbah cair mengandung berbagai kontaminan baik kontaminan organik maupun anorganik dan pertikel tersuspensi yang cukup berbahaya bagi lingkungan sehingga perlu dilakukan pemisahan. Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan

I - 14

Flokulasi merupakan satuan proses penting dalam pengolahan air, limbah cair domestik, industri dan pemanfaatan mineral. Flokulasi bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi, turbidity, warna, dan mikroorganisme. Flokulasi disebabkan oleh adanya penambahan sejumlah kecil chemical aid yang dikenal sebagai flokulan. Proses bergabungnya primary particles menjadi flok-flok ini disebut dengan proses flokulasi. Flokulan sebagai chemical aid berfungsi membentuk partikel yang lebih besar / flok |Singh, 2000].

Penanganan limbah cair dapat diolah secara fisik, kimia dan biologi. Pengolahan secara fisik disebut juga pengolahan primer (primer treatment). Proses ini merupakan proses termurah dan termudah, karena tidak memerlukan biaya operasi yang tinggi. Metode ini hanya digunakan untuk memisahkan partikel-

partikel padat di dalam limbah. Beberapa kegiatan yang termasuk dalam pengolahan secara fisik antara lain : floatasi, sedimentasi, dan filtrasi.

Pengolahan secara kimia disebut juga pengolahan sekunder (secondary treatment) yang bisanya relatif lebih mahal dibandingkan dengan proses pengolahan secara fisik. Metode ini umumnya digunakan untuk mengendapkan bahan-bahan berbahaya yang terlarut dalam limbah cair menjadi padat. Pengolahan dengan cara ini meliputi proses-proses netralisasi, flokulasi, koagulasi, dan ekstrasi. Pengolahan secara biologi merupakan tahap akhir dari pengolahan sekunder bahan-bahan organik yang terkandung di dalam limbah cair. Limbah yang hanya mengandung bahan organik saja dan tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya,

Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Bab I Pendahuluan

I - 15

dapat langsung digunakan atau didahului denghan pengolahan secara fisik (Sugiharto, 1987). http://rudyct.tripod.com/sem2_023/kel4_sem1_023.htm

Air merupakan bahan yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan fungsinya bagi kehidupan tidak pernah dapat digantikan oleh senyawa lain. Badan manusia terdiri dari 65% air atau terdapat sekitar 47 liter air per orang dewasa. Setiap hari 2,50 liter dari jumlah air tersebut harus diganti dengan air yang baru. Diperkirakan dari sejumlah air yang harus diganti, 1,5 liter berasal dari air minum dan sekitar 1 liter berasal dari bahan makanan yang dikonsumsi. Semua air biasanya tidak bersih sempurna, selalu mengandung senyawa pencemar. Bahkan tetes air hujan selalu tercemari debu dan karbondioksida waktu jatuh dari angkasa. Air permukaan merupakan air baku utama bagi produksi air minum di kota-kota besar. Sumber air permukaan dapat berupa sungai, danau, mata air, waduk, empang dan air dari saluran irigasi. Kebanyakan air permukaan mengandung sisa dari limbah perumahan, industri dan pertanian. http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=16610

Laporan Tesis Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS