Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KEKUATAN-KEKUATAN POLITIK

HAKEKAT MILITER DAN POLITIK DALAM SEJARAH PERKEMBANGANNYA Oleh Kelompok 1


Eko Indrayadi NIM. 109033200006 M. Hasan al-Bishry NIM. 109033200020 Ahmad Garaudi NIM. 109033200047 Selamet NIM. 109033200021

JURUSAN ILMU POLITIK SEMESTER IV FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA TAHUN 2010/2011

Pendahuluan Militer dan politik ibarat dua sisi mata uang yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Peranan militer di dalam lingkungan kekuasaan merupakan kesatuan mutlak dan tidak terlepas dari sebuah prinsip dasar pendirian negara yang menuntut dan mengedepankan pentingnya lembaga-lembaga tersruktur. Merupakan tugas dari militer yang berfungsi untuk menjaga dan melindungi kedaulatan sebuah negara. Sebagaimana yang terjadi di dalam setiap pemerintahan yang ada di dunia, relasi militer sebagai kekuatan-kekuatan politik pada suatu negara notabenenya tidak bisa dilepaskan dari karakteristik sistem politiknya. Hal ini jelas terlihat di negara-negara yang menganut sistem otoriter atau totaliter, dimana peran besar militer sebagai salah satu aktor politik sangat jelas terlihat, atau bahkan merupakan penguasa seperti yang ditemukan di negara-negara yang dipimpin oleh junta militer. Sementara itu di negara-negara yang demokratis. Peranan militer di dalam lingkaran kekuasaan cenderung mengalami penurunan dan mengecil. Mungkin ini karena adanya anggapan bahwa sebuah pemerintahan yang demokratis menolak campur tangan militer yang secara de jure harus berada di bawah kendali politisi sipil. Mengingat pengaruh arus gelombang globalisasi yang berdampak pada munculnya proses demokratisasi besar-besaran yang ada di dunia pada beberapa dekade terakhir abad ke-20, pengaruh militer di banyak negara banyak mengalami penurunan. Meskipun yang terlihat pada saat ini, ada beberapa variasi mengenai keterlibatan militer dalam politik. Di negara-negara Barat, yang menganut prinsip supremasi sipil, peran militer cenderung dikendalikan oleh para politisi sipil. Tetapi, hal ini tidak berarti sistem pemerintahan Barat menafikkan peran serta militer dalam pemerintahan. Hal ini dinyatakan oleh C. Wright Mills (1956) dalam Marijan yang menyebutkan bahwa, Militer merupakan satu dari tiga kelompok yang paling berpengaruh,

secara politik di Amerika Serikat. Pengaruh itu khususnya, berkaitan dengan kebijakan-kebijakan pertahanan dan politik luar negeri.1 Sementara itu, peran militer semakin kuat pada negara-negara yang pada mulanya mengalami chaos of power, dimana kekuasaan politik yang pada mulanya dipimpin dan dimiliki oleh kelompok sipil diambil secara paksa melalui coup oleh kelompok militer. Misalnya yang terjadi di negara-negara Amerika Latin dan lainya. Khususnya pada Argentina antara tahun 1930 sampai 1989 yang menuntut keterlibatan militer pada setiap proses pergantian pemerintahan. Terlepas dari semua itu, posisi dan peran militer dalam sebuah negara sangatlah besar dimana sebagai salah satu kelompok kekuatan politik, mereka memiliki kendali-kendali yang begitu besar dalam proses pembuatan kebijakan politis. Walaupun, terkadang derajat keterlibatan tersebut berbeda-beda antara negara yang satu dengan negara yang lainnya. Mengingat hal itu, penulis mencoba untuk melakukan analisis dan telaah mendalam mengenai peran serta keterlibatan militer di dalam ranah-ranah politik pemerintahan, khususnya di Indonesia. Dengan tujuan untuk mencoba memahami lebih jauh bagaimana ikatan tersebut dapat terbentuk. 1. Pengertian Militer Secara etimologis militer berasal dari bahasa Inggris, Military yaitu the soldier; the army the armed forces yang berarti prajurit atau tentara; Angkatan Darat2. Sedangkan secara terminologis, militer dapat didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang memiliki satu kesatuan dengan tingkat hirarki yang jelas dan tersruktur, dan bertugas untuk menjaga/melindungi kawasan tertentu3. 2. Sejarah Pembentukan Militer Ada tiga fase yang mendasari terbentuknya militer di suatu negara, fase itu ialah: Pertama, pembentukkan militer pada masa grilya. Kedua, pembentukkan
1

C. Wright Mills dalam Kacung Marijan, Sistem Politik Indonesia:Konsolidasi Demokrasi Pasca Orde Baru, (Jakarta: Prenada Media Group, 2010), hlm. 243. 2 Arif Yulianto dalam Haniah Hanafie, Handout Mahasiswa: Kekuatan-Kekuatan Politik (2007), hlm. 26. 3 B.N. Marbun, Kamus Politik (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007), hlm. 316.

militer pada masa penjajahan, dan Ketiga, pembentukkan militer pada pada masa kemerdekaan.4 Pada fase pertama, pembentukkan militer merupakan tuntutan dari keadaan (kondisi) yang mengharuskan masyarakat atau penduduk dari suatu wilayah dalam menghadapi serangan musuh yang hendak merebut atau menjajah wilayah mereka. Dengan struktur hirarki yang masih belum jelas dan rapi, sekumpulan orang tersebut berjuang dengan bergrilya melawan musuh dengan senjata yang seadanya. Pada saat ini, peran militer hanya terkhusus pada usahausaha melindungi (saving and care). Dimana kesatuan yang terbentuk dalam kelompok tersebut, biasanya karena adanya ikatan-ikatan emosional yang diimplikasikan dalam sikap cinta tanah air. Pada fase kedua, militer terbentuk karena adanya kebutuhan terhadap pasukan yang mampu mendukung dan menunjukkan loyalitas dalam melakukan penertiban wilayah internal dan melindungi dari serangan eksternal. Militer dibentuk oleh penjajah dengan tujuan dan fungsi sebagai tentara tambahan yang sewaktu-waktu mampu dijadikan koloni angkatan perang mereka. Pihak penjajah melakukan pelatihan-pelatihan terhadap penduduk pribumi wilayah yang didudukinya dengan tujuan supaya penduduk-penduduk tersebut mampu memberikan tenaganya sebagai pasukan-pasukan sukarela yang nantinya akan digunakan sebagai tentara-tentara koloni. Namun, tidak semua kebijakan yang dilakukan oleh penjajah dalam membentuk militer di daerah jajahannya berhasil. Terkadang pasukan yang dilatih itu menjadi pukulan telak bagi mereka. Karena hanya sebagian kecil saja yang bersikap patuh mengabdi kepada pihak penjajah. Sementara lainnya, berubah pikiran dan melakukan pemberontakan-pemberontakan di wilayah internal kekuasaan penjajah. Contoh dari pasukan itu adalah KNIL pada masa penjajahan Belanda dan Heiho, Seinendan, PETA, Hisbullah, dll pada saat penjajahan jepang di Indonesia. Sedangkan fase yang ketiga adalah fase pembentukkan militer pada masa kemerdekaan. Pada fase ini profersionalitas dalam militer telah tersusun dengan
4

Haniah Hanafie, Handout Mahasiswa: Kekuatan-Kekuatan Politik, hlm. 26-27.

jelas dan rapi. Militer mulai memiliki pembagian wilayah yang secara de facto maupun de jure. Dimana, mereka juga telah memiliki ikatan emosional dan ideologis yang tinggi terhadap tugas dan fungsinya sebagai pelindung dan penjaga kedaulatan wilayah negara. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Haniah Hanafie dalam Handout Mahasiswa Ilmu Politik UIN Jakarta (2007), Dari segi pembangunanpun militer memiliki kelebihan yang tentu saja ada keterkaitan dengan profesinya, yaitu dengan membandingkan dengan negara lain, lebih terikat kepada cara-cara berfikir yang rasional, efisien, dan pragmatis. Dan terakhir menjaga jarak dengan sipil, sehingga tidak tergantung kepada sikap masyarakat sipil.5 3. Militer dan Politik Dalam menjembati antara militer dan politik ada beberapa hal yang akan menjadi fokus bahasan kita, diantaranya: orientasi militer, sumber-sumber kekuatan militer, pola hubungan militer dan sipil, keterlibatan militer dalam politik, serta alasan militer Indonesia terjun ke politik. 3.1 Orientasi Militer Setiap tindakan orientasi merupakan sebuah pengawejewantahan dari tujuan dasar yang merupakan akibat dari reaksi terhadap jenis-jenis pelembagaan kekuasaan sipil di dalam pemerintahan. Namun, hal itu tidak bisa putus hubungan dengan tindak tanduk dari militer sebagai salah satu pelengkap proses tersebut. Menurut Almos Palmutter dalam Haniah, ada tiga jenis orientasi militer6, yakni: Pertama, Prajurit Profesional merupakan prajurit yang menonjol dalam politik yang stabil. Biasanya, tipe ini terdapat dalam masyarakat industri kapitalis yang memang merupakan lingkungan sesuai untuk prajurit profesional. Dari tipe prajurit professional ini, Samuel P. Huntington7 mencoba untuk melakukan analisis kembali dan menemukan bahwa prajurit profesional memiliki tipe-tipe lain, seperti prajurit profesional modern dan prajurit profesional klasik.
5 6

Ibid, hlm, 29. Almos Palmutter dalam Haniah Hanafie, hlm. 30. 7 Ibid, hlm. 30.

Perbedaan keduanya adalah terletak pada supremasi legitimasi yang mereka berikan kepada pemimpin yang berasal dari masyarakat sipil. Adapun ciri-ciri prajurit profesional menurut Huntington ada 4, yakni: 1) Keahlian (Manajemen Kekerasan), 2) Pertautan (Tanggung jawab kepada klien, masyarakat, dan negara), 3) Korporatisme (Kesadaran kelompok dan organisasi), serta 4) Ideologi (Semangat militer).8 Namun, menurut Amos, korporatisme dan ideologilah yang paling penting, karena kedua hal ini merupakan alasan krusial yang menjadi landasan militer terjun ke dalam dunia politik. Kedua, Prajurit Pretorian, yang berkembang di lingkungan yang mengalami ketidaksetabilan politik. Model sebenarnya sama dengan model militer yang dikemukakan oleh Huntington. Tetapi, karena kurang diperhatikan dan selalu dikendalikan oleh pemerintahan sipil. Maka mereka melakukan tindakan intervensi. Umumnya, naluri emosional yang menjadi dorongan keterlibatan mereka dalam dunia politik. Menurut Arif9 dalam Haniah, ada beberapa ciri kaum Pretorian antara lain: a. Sering muncul di negara-negara bersifat agraris/transisi atau secara ideologi terpecah-pecah. b. Baik secara potensial maupun faktual cenderung melakukan campur tangan yang permanen. c. Memiliki kekuasaan merubah konstitusi. d. Mempengaruhi lembaga militer secara negatif. e. Menurunkan standarr-standar profesionalisme. f. Kudeta silih berganti, lebih mementingkan ideologi militer daripada skill dan pengetahuan sebagai prasyarat profesional. g. Bersifat patrimonial, yang dikatakan Weber sebagai hubungan-hubungan ketergantungan yang didasarkan pada loyalitas dan kesetiaan.

8 9

Ibid, hlm. 31. Arif Yulianto, Militer dan Politik Di Indonesia Pasca Orba dalam Haniah Hanafie(2007), hlm. 31-32.

Selain itu, menurut Almost Palmutter10 tipe Prajurit Pretorian, juga memiliki dua jenis, yakni Pretorian Historis dan Modern. Pretorian Historis adalah jenis yang memiliki hubungan wewenang berdasarkan tradisi. Misalnya pasukan kerajaan yang bertugas melayani keabsahan kerajaan dengan membela senat dari serangan-serangan tentara yang memberontak. Sedangkan Pretorian Modern adalah kelompok tentara yang menentang keabsahan dan menawarkan kekuasaan baru. Hubungan wewenang berdasarkan pada rasio dan hukum. Disini militer memiliki campur tangan yang luas dalam bidang eksekutif, serta memiliki wewenang utuh untuk melakukan dominasi secara politik. Bentuk yang ketiga adalah Prajurit Revolusioner yang lahir dan terbentuk karena adanya pengaruh dari kelompok revolusioner yang ingin melakukan perebutan kekuasaan. Prajurit ini cenderung memiliki sifat anti korp/non corporate. Ia tidak mensyaratkan keahlian, pendidikan, dan pelatihan. Sementara, korps pewira mengalami politisasi dan memiliki hubungan simbolik dengan revolusi yang terjadi. Tentara ini memiliki asas dan tujuan untuk mendukung revolusi yang terjadi. Mereka hanyalah pelengkap mobilisasi kelompok revolusioner yang ingin merebut kekuasaan. 3.2 Sumber-Sumber Power Militer Institusi militer memiliki perbedaan dengan institusi lainnya karena militer memiliki ciri khusus dan keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh kelompok masyarakat lainnya, termasuk masyarakat sipil. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Herman Finer dalam Arbi Sanit dalam Haniah, yakni: 1. Tentara lebih terorganisir, 2. Memiliki sentralisasi komando, 3. Terdapat jenjang hirarki, 4. Disiplin, 5. Komunikasi intern dan lancar, 6. Esprit de corps.
10

Ibid, hlm, 32.

Dan yang paling penting adalah hak untuk melakukan monopoli terhadap kepemilikan senjata oleh pihak militer. Selain itu, Arbi Sanit11 juga mengemukan bahwa ditinjau dari segi sosial. Militer juga memiliki beberapa keunggulan, yaitu: Pertama, lebih cepat berkenalan dengan teknologi. Kedua, proses akulturasi lebih mengarah kepada kea rah teknologi, dan Ketiga, lebih mengarah kepada negara secara keseluruhan. 3.3 Pola Hubungan Militer dan Sipil Relasi antara militer dan sipil sebenarnya bergantung pada bagaimana sistem suatu negara dibentuk dan dikelola. Menurut Arif Yulianto dalam Haniah12, ada dua macam bentuk sistem pemerintahan, yakni: Pertama, pemerintahan demokratik liberal yang memperlihatkan hubungan yang berbentuk supremasi sipil dan Kedua, rezim otoritarian dimana pola hubungan antara militer dan sipil mengalami variasi derajat perbedaannya, serta umumnya refleksi militer terhadap golongan sipil lebih dominant. Selain itu, dikatakan juga oleh Hardito dalam Arif dalam Haniah13, bahwa pola hubungan sipil-militer dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: Dominasi Sipil, Dominasi Militer, dan sejajar. Selanjutnya, menurut Ikrar Nusa Bakti14, yang melihat dari dua persfektif negara, yaitu negara-negara Barat dan negara berkembang. Pada model negara Barat, hubungan lebih menekankan pada supremasi sipil atas militer, sehingga militer hanya menjadi subordinat dari pemerintahan sipil yang dipilih melalui pemilu. Model ini merupakan pengaruh dari adanya kemajuan dan kestabilan politik yang merupakan dampak dari demokratisasi. Pemrintahan yang mendapat anspirasi rakyat melalui proses Pemilu memiliki kewenangan terhadap kebijakankebijakan yang dilakukan oleh militer. Tetapi, militer tidak secara keseluruhan didominasi oleh sipil karena pihak militer juga memiliki andil dalam memutuskan persoalan-persoalan keamanan negara secara keseluruhan.
11 12

Ibid, hlm, 28. Ibid, hlm, 33. 13 Ibid, hlm. 34. 14 Ibid, hlm. 34

Sedangkan pada model kedua yang pada negara-negara berkembang. Dikotomi antara sipil dan militer bersifat kemitraan. Sehingga sering terjadi pergantian posisi tergantung kelompok mana yang memiliki kekuatan. Apabila kelompok militer lemah, maka kelompok sipil yang memegang pemerintahan.dan begitu pula sebaliknya, ketika kelompok sipil kehilangan kekuatan, maka kelompok militer yang akan memegang tampuk kekuasaan. Elliot A. Cohen dalam Haniah15 mengklasifikasikan pola hubungan ke dalam empat model, yaitu: 1) The Traditional Model (Kelompok Profesional dan terisolasi secara sosial) 2) The Constabulary Model (Bersifat managers dan tidak terlibat politik) 3) The Military as Reflection of Society (Berperan membangun Civil Society) 4) The Guardian Military (Melindungi orde sosial dan politik) Sedangkan Huntington16 membagi menjadi dua tipe mengenai hal keterlibatan hubungan militer dengan sipil, yakni subjectif Civilian Control dan Objective Civilian Control. Pada Subjectif Civilian Control, kekuasaan sipil lebih besar daripada militer, sehingga memberikan kesan adanya politisasi dalam tubuh militer. Sedangkan pada Objective Civilian Control, kekuasaan profesionalisme militer diminimkan tetapi tidak dihilangkan. 4. Alasan Militer Indonesia terjun Ke Dalam Politik Sebelum membahas lebih jauh mengenai faktor kausal yang mendorong terjunnya militer atau TNI di percatutan politik Indonesia. Terlebih dahulu kita pahami mengapa derajat keterlibatan militer di Indonesia dalam dunia politik. Sebagaimana yang kita pahami bersama, keterlibatan militer dan politik di Indonesia tidak bisa dilepaskan begitu saja dari corak sistem politik Indonesia dari masa ke masa. Ketika pemerintahan di pimpin oleh presiden pertama, Ir. Soekarno. Militer di Indonesia sebenarnya sudah memiliki andil yang besar dalam dunia politik. Meskipun pada awalnya Bung Karno dengan tegas menyatakan dalam salah satu pidatonya bahwa ABRI hanya bertugas dalam mengurusi hal-hal
15 16

Ibid, hlm. 36. Ibid, hlm. 38.

yang bersifat keamanan dan tidak diperbolehkan ikut campur dalam kegiatan politik negara. Tetapi, konsepsi mengenai negara NASAKOM yang ditelurkan oleh Bung Karno telah memaksa ABRI, khususnya AD untuk ikut cuci tangan dalam permasalahan politik di Indonesia. Mengingat setelah terjadi peristiwa Gestapu, tangan ABRI semakin luas menjangkau ranah politik Indonesia, setelah dikeluarkannya Supersemar pada tanggal 11 Maret 1966. Hal ini terus berlanjut hingga naiknya Soeharto sebagai Presiden Indonesia menggantikan Ir. Soekarno yang notabene merupakan icon dari militer Indonesia. Desain politik Orde Baru yang didirikan oleh Soeharto yang sebelumnya berasal dari golongan militer semakin mengokohkan kekuatan militer dalam mengibaskan sayap kekuasaannya, terkhusus pada politik dan birokrasi. Menurut Pengamat Politik, Eep Saefulloh Fatah ada beberapa alasan yang mendorong keterlibatan militer ke dalam dunia politik pada masa Orde baru, yakni17: Pertama, karena adanya dorongan dari fenomena umum Dunia Ketiga, yang memunculkan anggapan bahwa militer pada masa Orde Baru adalah kekuatan sosial-politik yang paling siap dalam hal organisasi dan skills untuk memasuki birokrasi. Kedua, keadaan awal pada masa Orde Baru yang ditandai dengan kecurigaan terhadap pemimpin-pemimpin sipil yang berasal dari partai politik. Ketiga, adanya proses penetrasi yang memunculkan paradigma bahwa militer adalah pihak yang dianggap paling sesuai sebagai penguasa politik, serta dapat menciptakan keadaan stabil dalam tatanan pemerintahan. Lalu yang keempat, hilangnya kekuatan legitimasi terhadap pemimpin-pemimpin sipil yang berasal dari partai politik yang menyebabkan terbukanya jalan lebar bagi militer untuk maju ke dalam politik dan merebut kekuasaan. Munculnya peranan militer yang terlalu mendominasi tatanan politik pada masa Orde Baru ternyata berdampak secara hegemonik pada tatanan pemerintahan. Meskipun keadaan yang relatif stabil dan ditandai dengan pembangunan yang maju dalam segala bidang. Proses demokratisasi menjadi
17

http//:mediaindonesia.com/artikel: M Alfan Alfian M//Perubahan Politik dan Reformasi Militer//

terhambat dan jalan di tempat karena adanya penekanan yang terlalu berlebihan oleh pihak-pihak militer. Hal inilah yang mendasari kelompok sipil untuk kembali bangkit meraih kembali kekuasaan yang telah dipegang oleh militer selama kurang lebih 32 tahun. Menguatnya tuntutan terhadap arus demokrasi yang memuncak dengan adanya reformasi pada 28 Mei 1998 telah menjadi bukti bahwa adanya kejenuhan rakyat terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh pihak militer. Mengingat ada beberapa permasalahan yang timbul, seperti pembatasan terhadap demokrasi, pengontrolan yang ketat terhadap masyarakat, serta menjadi alat sebagai pelanggeng kekuasaan penguasa, hingga pelanggaran HAM. Semua permasalahan inilah yang mendasari wacana pemisahan kembali antara militer yang dalam hal ini adalah TNI untuk kembali kepada khitah-nya. Meskipun kita belum mengetahui seberapa ikhlas kelompok militer untuk rela meninggalkan kancah perpolitikan di Indonesia. Namun yang pasti, arus demokratisasi yang menuntut terbentuknya profesionalisme dalam militer telah menjadi salah satu sebab terbesar bagi mereka untuk meninggalkan dunia perpolitikan. 1971 100 1977 100 1982 100 1987 100 1992 100 1997 75 1999 38 2004 0

Tabel Anggota DPR dari TNI, 1971-200418 Berdasarkan table di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa peran serta militer dalam bidang legislasi di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan dari awal mula berdirinya Orde Baru hingga tumbuhnya Orde Reformasi. Secara formal dapat kita antitesiskan bahwa hal ini merupakan salah satu bentuk kesadaran yang timbul dari kelompok militer. Sebagaimana bisa kita lihat dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Markas Besar TNI pada tahun 2001,
Reformasi internal TNI lahir, bukanlah karena adanya tekanan dan desakan dari pihak luar, dan tidak juga karena adanya tuntutan reformasi dan demokratisasi. Tetapi, lebih dari itu, hakikat reformasi internal ini merupakan
18

Kacung Marijan, Sistem Politik Indonesia:Konsolidasi Demokrasi Pasca Orde Baru, hlm. 253.

komitmen dan kesadaran TNI untuk menjawab tantangan masa depan bangsa dalam era globalisasi yang penuh persaingan antar bangsa. (Mabes, TNI 2001a:2)19

Berdasarkan pada pernyataan itu maka sudah jelas bahwa keterlibatan TNI yang mewakili pihak militer dalam suatu tatanan pemerintahan politik pada saat ini sudah mulai mengalami pergeseran dan digantikan oleh pihak sipil karena adanya tuntutan terhadap demokrasi yang berdampak pada modernisasi sistem pemerintahan. Meskipun begitu, penulis beranggapan bahwa proses pemisahan secara kelembagaan antara militer dan politik pada saat ini masih menyiratkan sebuah anggapan bahwa keterlibatan riil militer dalam politik masih sulit dihilangkan. Walaupun TNI pada saat ini tidak lagi memiliki hak-hak istimewa, seperti memiliki wakil yang terlibat aktif di DPR. Mereka masih mampu melakukan intervensi ke dalam tubuh politik karena mengingat upaya untuk melakukan koter dan sterilisasi militer dari politik adalah hal yang sulit untuk dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA Budiardjo, MiriamDasar-Dasar Ilmu Politik, PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2008 Hendarsah, Amir. Buku Pintar Politik: Sejarah Pemerintahan Ketatanegaraan. Jogja Great Publisher, Yogyakarta. 2009 Marbun, B.N. Kamus Politik. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. 2007 dan

19

Ibid, hlm. 253.

Pribadi, Toto. Dkk. Sistem Politik Di Indonesia. Universitas Terbuka. Jakarta. 2007 Marijan, Kacung. Sistem Politik Indonesia: Konsolidasi Demokrasi Pasca-Orde Baru. Prenada Media Group. Jakarta. 2010.

Diktat Hanafie, haniah. Handout Kekuatan-Kekuatan Politik. FISIP UIN Jakarta. 2007 Webside http://mediaindonesia.com/artikel: M Alfan Alfian M//Perubahan Politik dan Reformasi Militer// (dibuka pada Jumat 11 Maret 2011, pada pukul 09.30 wib). http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Sejarah_militer_Indonesia).

Anda mungkin juga menyukai