Anda di halaman 1dari 10

REFERAT

ANASTESI INHALASI

Diajukan Oleh : Alvina [ 11 2010 227 ] Hendra Nuryanto [ 11 2010 167 ] Christiansen Waisuda [ 11 2010 151 ] Muhammad Khairussyakirin [ 11 2010 233 ] Posti Siswati [ 11 2010 137 ]

Dokter Pembimbing : dr. Imam Sudrajat, Sp.An

KEPANITERAAN ILMU ANESTESIOLOGI


RUMAH SAKIT BAYUKARTA KARAWANG Periode 27Juni2011 3 September 2011 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2011

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan bimbingan-Nya kami dapat menyelesaikan referat ini dengan baik dan lancar, walaupun berbagai halangan dan hambatan telah kami alami bahkan terlalu banyak sehingga tidak dapat kami sebutkan satu persatu, tetapi yang terutama adalah tugas pendidikan yang dibebankan kepada kami. Referat ini dibuat untuk memenuhi tugas pembelajaran kami dalam studi kepaniteraan kedokteran yang sedang kami jalankan saat ini. Dalam referat ini berisikan mengenai tinjauan kepustakaan mengenai anestesi inhalasi serta agen anestesi yang digunakan. Hasil pembelajaran yang kami dapat dari peninjauan kepustakaan tersebut kami tuangkan dalam referat ini. Kami harap referat ini dapat memberi informasi yang berguna bagi para pembacanya, baik bagi teman-teman sejawat kami, kalangan medis lain, maupun kalangan awam yang sangat membutuhkan informasi mengenai topik ini. Akhir kata, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan referat ini, terutama kepada dosen pembimbing kami, Dokter Imam Sudrajat, Sp. An. Kami juga mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam referat ini baik kesalahan dalam pemilihan kata-kata maupun penulisan.Kami menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, oleh karenanya saran dan kritik sangat kami harapkan dari para pembaca.

Jakarta, Juli 2011 Penulis

LEMBAR PENGESAHAN

Dengan ini kami;

Alvina [ 11 2010 227 ] Hendra Nuryanto [ 11 2010 167 ] Christiansen Waisuda [ 11 2010 151 ] Muhammad Khairussyakirin[ 11 2010 233 ] Posti Siswati [ 11 2010 137 ]

Mengajukan referat berjudul Anestesi Inhalasi sebagai salah satupersyaratan menyelesaikan kepaniteraan Profesi Dokter Stase Anastesi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana dibawah bimbingan dokter Imam Sudrajat, Sp.An, di RS Bayukarta Karawang selama periode 27 Juni 2011 sampai dengan 03 September 2011.

Menyetujui dan mengesahkan Dokter Pembimbing

dr. Imam Sudrajat, Sp.An

BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG Anestesi inhalasi merupakan obat-obatan yang paling sering digunakan untuk keperluan anestesi umum.Penambahan obat anestesi inhalasi ke dalam oksigen inspirasi sebanyak 1% saja dapat menyebabkan ketidaksadaran dan amnesia, yang mana keadaan tersebut adalah komponen esensial untuk anestesi umum.Peningkatan sedasi/hipnosis dan analgesia dapat dicapai dengan mengkombinasikan dengan adjuvan intravena, seperti opioid atau benzodiazepin.Anestesi inhalasi semakin populer digunakan dalam anestesi umum oleh karena kemudahan penggunaannya, juga karena efeknya yang dapat dimonitor. Pada anestesi inhalasi, konsentrasi jaringan dapat diperkirakan dengan cara mengetahui konsentrasi akhir tidal dari obat yang bersangkutan, sedangkan hal serupa tidak didapatkan pada penggunaan anestesi intravena. Sebagai tambahan, gas anestesi yang mudah menguap relatif murah. Kelemahan terpenting dari anestesi inhalasi adalah sempitnya jarak antara dosis terapeutik dan dosis letal, namun hal ini dapat diatasi dengan memonitor konsentrasi di jaringan dan dengan melakukan titrasi ke

keadaan akhir klinis yang biasanya. Obat anestesi inhalasi yang paling terkenal poten pada penggunaan untuk operasi bedah dewasa adalah isofluran, dan dua jenis baru yaitu sevofluran dan desfluran.Untuk anak-anak, halotan dan sevofluran adalah yang paling banyak digunakan.Walaupun banyak kesamaan antara obat-obatan anestesi inhalasi dalam hal efek keseluruhan, namun terdapat perbedaan-perbedaan yang mempengaruhi pemilihan obat-obat tersebut oleh para ahli anastesi. Untuk memilih obat yang digunakan tergantung dari kesehatan pasien dan efek yang diinginkan untuk keperluan prosedur operasinya. Penekanan utama pada bab ini adalah pembahasan mengenai empat obat anestesi inhalasi yang paling sering digunakan. Juga untuk kelengkapan materi dan berkaitan dengan masalah metabolisme dan toksisitas ginjal, akan dibahas mengenai enfluran dan metoksifluorin.

BAB II

ISI
A. KEISTIMEWAAN ANESTESI INHALASI Kecepatan, Wujud Gas, dan Rute Pemberian Zat-zat anestesi inhalasi tergolong cepat berefek pada tubuh, dan untuk keperluan anestesi umum, efek yang cepat timbul ini memberikan keamanan. Kemampuan untuk meningkatkan atau menurunkan level anestesi sesuai kebutuhan dapat mencegah suatu kecelakaan anestesi. Kecepatan timbulnya efek juga berpengaruh terhadap efisiensi. Proses induksi yang cepat dapat menghasilkan persiapan operasi yang lebih baik dan cepat. Penghilangan efek yang cepat berakibat pada singkatnya masa pemulihan dan tentunya lebih cepat diperbolehkan pulang. Secara teknis, nitrogen oksida merupakan satu-satunya gas sejati, dengan potensi anestesi melalui penguapan dari cairan yang mudah menguap. Namun untuk mudahnya, ia disebut gas saja karena berbentuk gas ketika diberikan melalui paru-paru. Sebagai gas, tidak ada yang berubah secara signifikan dari keadaan gas ideal.Seluruh agen ini tidak terionisasi dan memiliki berat molekul yang rendah, yang memungkinkan mereka untuk berdifusi secara cepat tanpa memerlukan difusi terfasilitasi ataupun transpor aktif dari aliran darah ke jaringan. Keuntungan lain dari gas adalah bahwa mereka dapat masuk ke aliran darah melalui rute inhalasi, merupakan rute yang unik karena anestesi inhalasi merupakan jalur dua arah pada paru-paru, maksudnya dimasukkan dan dieliminasi melalui rute yang sama. Kecuali untuk bronkodilator atau pemasukan obat endotrakeal untuk resusitasi jantung, perkecualian tersebut karena rute mereka merupakan jalur satu arah , maksudnya rute pemasukan obatnya berbeda dengan rute eliminasinya. Kecepatan, wujud gas, dan rute administrasi.Semuanya bersama-sama memberikan keuntungan dan keistimewaan dalam anestesi inhalasikemampuan untuk menurunkan konsentrasi dalam plasma secara cepat semudah meningkatkan konsentrasinya.

B.

KARAKTERISTIK FISIK GAS ANESTESI INHALASI Tujuan pemberian anestesi inhalasi adalah untuk menghasilkan keadaan anestesi dengan

cara memasukkan molekul anestesi dalam konsentrasi spesifik ke dalam sistem saraf pusat (SSP). Hal ini dilakukan dengan cara memasukkan obat ke paru-paru yang kelak akan

terdistribusi dan mencapai keseimbangan dengan otak dan sumsum tulang belakang. Tercapainya keseimbangan terpengaruh oleh tiga faktor : 1. Perpindahan dua arah anestesi inhalasi melalui paru-paru dari dan ke aliran darah, dan sesudahnya dari dan ke jaringan SSP ketika tekanan parsial mencapai keseimbangan. 2. Plasma dan jaringan memiliki kapasitas yang rendah untuk menyerap obat dibandingkan dengan jumlah yang bisa masuk lewat paru-paru, sehingga akibatnya kita dapat dengan cepat menambah atau mengurangi konsentrasi obat di aliran darah dan SSP. Metabolisme, ekskresi, dan redistribusi obat inhalasi tergolong sedikit bila dibandingkan

dengan tingkat pemasukkan atau pengeluarannya dari paru-paru. Hal ini memudahkan kita untuk memelihara konsentrasi di darah dan jaringan SSP.

C.

TINJAUAN KLINIS PENGGUNAAN ANESTESI INHALASI a. Halotan Halotan, cairan yang relatif tidak mudah terbakar, merupakan anestesi volatil yang paling banyak digunakan sekarang.Halotan merupakan alkana, suatu derivat halogen dengan substitusi etana (gambar 15-1) yang mulai digunakan tahun 1956.Struktur halogen didalamnya membuat halotan tidak mudah terbakar. Derajat kelarutannya dalam darah tergolong sedang dan relatif tidak berbau, sehingga dapat diinhalasi melalui sungkup wajah facemask. Agar halotan tidak terbakar diperlukan suatu ikatan karbon-fluorin dan golongan trifluorokarbon untuk menjasa kestabilan molekulnya. Meskipun stabil, halotan dapat teroksidasi dan pecah bila terpapar sinar ultra violet dan terurai menjadi asam klorat (HCl), asam hidrobomid (HBr) klorida (Cl-), bromida (Br-) dan phosgene (COCl2). Untuk mencegah pemecahan tersebut halotan sebaiknya disimpan di dalam botol berwarna kecoklatan dan ditambahkan pengawet (timol 0,01%) untuk mencegah terjadinya oksidasi. Dengan timol penguapan halotan menjadi berkurang dibandingkan penggunaannya pada jenis anestesi volatil lain. Halotan akan terabsorbsi bila kontak dengan dry soda lime dan terurai menjadi BCDFE (2-bromo2kloro-1,1-difluoroetana) yang bersifat toksik pada model binatang.Pada manusia, halotan diduga menyebabkan immune-mediated hepatitis dan sensitisasi terhadap epinefrin yang menyebabkan aritmia, selain itu diduga pula menyebabkan bradikardia jika digunakan untuk anak-anak.

b.

Enfluran Enfluran, suatu halogenasi eter dengan metil-etil, merupakan isomer

isofluran.Pada temperatur kamar relatif tidak mudah terbakar, namun berbau.Dengan dosis tinggi diduga menimbulkan aktivitas gelombang otak seperti kejang (pada EEG). Metabolisme enfluran dalam tubuh meningkatkan kadar fluor darah dan jarang menyebabkan penurunan kadarnya pada ginjal. Penggunaannya lebih luas dibandingkan isofluran karena terbukti memiliki efek samping lebih sedikit.Akhir-akhir ini penggunaannya mulai berkurang, dan obat anestesi baru dengan kelarutan rendah lebih banyak digunakan. c. Isofluran Isofluran, suatu halogenasi eter dengan metil-etil, berupa cairan bening, berbau sangat kuat, tidak mudah terbakar dalam suhu kamar. Pada penggunaan klinis isofluran menempati urutan ke-2, dimana stabilitasnya tinggi dan tahan terhadap penyimpanan sampai dengan 5 tahun atau paparan sinar matahari dan merupakan gold standard sejak anestesi mulai dikenalkan pada tahun 70an. Pada sebuah peride dilaporkan adanya kemungkinan terjadinya coronary steal karena efek vasodilatasi yang kuat pada pasien dengan penyakit jantung koroner, meskipun pada kenyataannya kejadian ini hampir tidak pernah terjadi. d. Desfluran Desfluran merupakan fluorinasi eter dengan metil-etil yang berbeda 1 atom dengan isofluran ;yaitu penggantian atom klor dengan fluor pada komponen -etil.

Fluorinasi tersebut menyebabkan perbedaan efek, kelarutan dalam darah dan jaringan lebih rendah (darah : kelarutan desfluran sama dengan NO) dan menghilangkan potensi ( MAC desfluran 5 kali lebih tinggi dibandingkan isofluran), selain itu fluorinasi metil etil secara lengkap akan meningkatkan tekanan penguapan (mengurangi ikatan antar molekul). Sekarang dikembangkan teknologi penguapan agar konsentrasi gas desfluran tetap terjaga, disini diperlukan adanya penghangatan dan pengaturan penguapan dengan tenaga listrik.Satu keunggulan desfluran adalah tidak adanya metabolisme terhadap

trifluoroasetat dalam serum sehingga tidak menyebabkan immune-mediated hepatitis. Karena berbau sangat kuat maka desfluran tidak dapat diberikan melalui facemask karena

dapat menimbulkan batuk, salivasi, penderita akan menahan nafasnya dan terjadi spasme laring. Dalam CO2 yang sangat kering, desfluran dapat terurai menjadi karbon monoksida, begitu pula dengan isofluran dan enfluran (namun lebih rendah). Desfluran memiliki tingkat kelarutan paling rendah diantara golongan anestesi volatil, terlebih kelarutannya dalam lemak hanya setengah dari jenis volatil yang lain. Secara teoritis desfluran baik digunakan untuk pembedahan yang lama dengan saturasi jaringan yang rendah.Desfluran diduga menyebabkan aktivasi simpatis (sementara), hipertensi dan takhikardia bila digunakan dengan konsentrasi tinggi atau diinspirasi secara sering/cepat.e. Sevofluran

Sevofluran merupakan isoprofil eter dengan fluorinasi metil dan berbau. Tekanan penguapannya hampir sama dengan enfluran dan dapat digunakan pada evaporizer konvensional, kelarutan sevofluran dalam darah sedikit lebih rendah dibandingkan desfluran namun tetap lebih unggul dari golongan volatil lainnya. Potensi sevofluran sekitar setengah dari isofluran dan perubahan strukturnya (kecuali fluorinasi) paling sering disebabkan oleh lepasnya rantai profil pada molekul eternya. Sevofluran tidak terlalu berbau (tidak menusuk) dan memiliki efek bronkodilator sehingga banyak dipilih untuk induksi melalui sungkup wajah pada anak dan orang dewasa. Efek vasodilator koroner sevofluran sama degan isofluran tetapi lebih cepat 10-20x dimetabolisme. Seperti halnya isofluran dan metoksifluran, metabolisme sevofluran akan menghasilkan fluorida namun peninggian kadar fluride oleh metabolisme sevofluran diduga tidak menyebabkan penurunan kadarnya pada ginjal seperti yang terjadi pada metabolisme metoksifluran. Berbeda dari golongan volatil lainnya, sevofluran tidak dimetabolisme menjadi trifluoroasetat, namun metabolitnya berupa asil halide (hexafluoro-isopropanol) yang tidak menstimuli pembentukan antibodi sehingga tidak pernah dilaporkan kejadian

immune-mediated hepatitis setelah penggunaannya. Sevofluran tidak membentuk karbon monoksida (CO) bila terpapar CO2 absorbents. Bila terpapar CO2 sevofluran akan terurai menjadi vinil halida yang disebut unsur (compound) A, yang dalam dosis tertentu bersifak nefrotoksik pada percobaan (tikus) namun diduga tidak berhubungan dengan gagal ginjal pada manusia bahkan dengan aliran (gas flow) 11/menit atau kurang. f. Xenon

Xenon merupakan suatu gas inert, namun sulit didapat dan mahal karena dianggap memenuhi kritera sebagai anestesi inhalasi yang ideal. Koefisien partisinya dalam darah mencapai 0,14 dan tidak seperti anestesi volatil lain (kecuali metoksifluran), xenon memiliki beberapa tingkat analgesi. Namun pada MAC 71% efek tersebut akan menghilang. Xenon tidak eksplosif dan tidak berbau sehingga dapat diinhalasi dengan mudah, selain itu tidak menyebabkan depresi myokardium. Karena dapat meninggalkan bekas dan harganya yang mahal, diperlukan sistem anestesi baru untuk mendaur ulang xenon, bila hal tersebut sulit dilakukan maka sebaiknya xenon diberikan dalam aliran yang sangat kecil atau dengan sistem tertutup sehingga mengurangi sisa metabolitnya. g. Nitrogen Oksida N2O merupakan suatu gas yang berbau, berpotensi rendah (MAC 104%), tidak mudah terbakar dan relatif tidak larut dalam darah.N2O paling banyak digunakan sebagai anestesi tambahan pada kombinasi opioid atau volatil pada anestesi umum. Meskipun tidak mudah terbakar, N2O akan membantu suatu pembakaran. Tidak seperti penggunaan anestesi volatil lainnya, N2O tidak menghasilkan efek relaksasi otot namun dikatakan memiliki efek analgesi. Sejauh ini penggunaan N2O masih kontroversi, diantaranya: menimbulkan mual dan muntah post-operatif, efek toksik terhadap fungsi sel karena inaktivasi vitamin B-12, efeknya terhadap absorbsi dan ekspansi terhadap struktur (rongga tubuh) yang berisi udara dan efeknya terhadap perkembangan embrio. Absorbsi dan expansinya ke dalam rongga tubuh merupakan hal yang paling banyak disorot dan diduga disebabkan oleh kelarutannya dalam darah jauh lebih besar daripada nitrogen. Beberapa ruang/organ secara normal berisi udara seperti usus dan telinga tengah, namun bila terdapat pada ruang lain (seperti pada pneumothoraks) maka diasumsikan sebagai keadaan yang patologis (bisa karena penyakit ataupun suatu tindakan bedah). Nitrogen dalam darah tidak berpindah secara mudah ke dalam ruang/rongga tersebut, namun sebaliknya N2O akan berdifusi dengan mudah sehingga meningkatkan tekanan dalam ruang tersebut dan menyebabkan pembesaran. Perpindahan N2O ke dalam jaringan akan terus berlangsung sampai tekanan parsialnya pada darah dan alveoli relatif seimbang, sehingga sampai pada suatu keadaan yang seimbang aliran tersebut akan terhenti dengan sendirinya. Semakin tinggi kadar N2O yang dihirup maka semakin tinggi pula tekanan parsial yang dibutuhkan untuk mencapai keseimbangan tersebut.

Penggunaan 75% N2O dapat menyebabkan pneumothoraks yang membesar 2-3 kali dalam 10-30 menit, selain itu kateter arteri pulmonal yang berisi gas serta ETT dapat turut mengembang. Keadaan tersebut diduga menyebabkan kerusakan pada jaringan dan meningkatkan tekanan dalam arteri pulmonal dan kelinci, dengan penambahan N2O maka trakea. Pada percobaan terhadap

jumlah udara yang diperlukan untuk

menimbulkan emboli udara yang menyebabkan gangguan kardiovaskuler adalah lebih sedikit. Akumulasi N2O pada telinga tengah dapat mengurangi pendengan post-operatif dan dikontraindikasikan pada timpanoplasti karena dapat meningkatkan tekanan dan merubah graft timpani.

Daftar Pustaka 1. Buku anestesi yg 1 ama 2 (krn pink fotokopi ga ada dafpust nya -.-) 2. Buku ijo lange 3.