Anda di halaman 1dari 1

Laktulosa untuk Ensefalopati Hepatik

Oleh : Dr. Martin Leman Ensefalopati hepatik terjadi bila kerusakan hati menyebabkannya tak dapat lagi menyaring toksin dalam darah atau bila aliran darah ke hati terhambat. Ini dapat terjadi pada hepatitis fulminan akut maupun hepatitis kronik. Meningkatnya kadar amonia dalam darah, dianggap penyebab utama gangguan ini. Toksin lain yang juga diduga berhubungan adalah asam lemak rantai pendek, dan merkaptan. Amonia adalah produk pencernaan protein oleh bakteri dalam usus. Normalnya, amonia dimetabolisme hati menjadi urea dan diekskresikan sebagai urin. Amonia yang tinggi dalam darah mengubah keseimbangan neurotransmiter dalam otak. Teori ini sesuai keadaan di mana turunnya kadar amonia memperbaiki gejala ensefalopati. Terapi ensefalopati hepatik bertujuan menetralisir toksin, terutama amonia. Terapi yang dapat digunakan adalah laktulosa, yaitu disakarida sintetik yang tidak dicerna usus. Laktulosa dihidrolisa bakteri usus menjadi asam laktat dan asetat. Lingkungan asam ini mengionisasi amonia menjadi ion amonium, sehingga tidak berdifusi melalui membran colon dan akan diekskresikan bersama faeses. Laktulosa juga menghambat pembentukan amonia oleh bakteri usus. Kelebihan laktulosa lainnya adalah sifat katarsis yang dimilikinya. Laktulosa akan menarik cairan sehingga melunakkan faeses dan merangsang peristaltik usus. Peningkatan peristaltik usus akan memendekkan transit time faeses dalam colon, sehingga amonia yang terserap semakin sedikit. Pemberian antibiotik seperti metronidazol dan neomisin juga diketahui dapat mengurangi kadar toksin karena menekan bakteri dalam usus. Namun penggunaan secara jangka panjang tidak dianjurkan karena efek sampingnya ; mengingat neomisin bersifat ototoksik dan nefrotoksik. Antibiotik biasanya baru digunakan bila laktulosa tidak memberi hasil. Secara umum dikatakan laktulosa menghambat produksi dan penyerapan amonia di dalam usus, dan meningkatkan eliminasinya melalui faeces. Efikasi dan keamanan laktulosa dalam pencegahan ensefalopati ini telah dibuktikan berbagai penelitian. (ML)