Anda di halaman 1dari 29

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut UU sisdiknas No.

20 tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya utnuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan negara. Mulyono ( 2006 ) menjelaskan pengertian pendidikan mempunyai maksud bahwa peserta didik harus aktif

mengembangkan potensi dirinya. Disadari atau tidak bahwa mutu pendidikan Indonesia saat ini banyak mendapat sorotan dari berbagai pihak. Hal ini terjadi karena nilai prestasi siswa belum memuaskan. Nilai yang ditunjukkan siswa belum

menunjukkan peningkatan. Nilai siswa dikatakan meningkat apabila hasil evaluasi siswa meningkat. Berhasil tidaknya peningkatan prestasi belajar siswa ditentukan oleh beberapa faktor. Salah satu faktornya adalah peran pendidik atau guru. Hal ini dikarenakan guru mempunyai tugas utama yaitu mendidik, mengajar, dan melatih siswa. Untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka guru harus mampu menguasai beberapat kompetensi, termasuk kompetensi guru dalam mengelola kelas ketika berlangsung proses belajar mengajar.Upaya guru untuk meningkatkan prestasi siswa dalam kegiatan pembelajaran harus di tempuh guru. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang dapat menumbuhkan minat dan bakat

siswa serta dapat mendorong siswa untuk mencari pengetahuan yang lebih banyak lagi agar diri siswa tumbuh perasaan bahwa belajar merupakan suatu kebutuhan sehingga mereka ingin terus belajar untuk memahami hal-hal yang dianggap baru. Dalam proses pembelajaran, aktifitas yang dilakukan oleh siswa adalah belajar. Menurut para ahli psikologi, belajar adalah suatu proses perubahan prilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu ( 2005 ). Pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila semua materi yang dipelajari dapat dikuasai siswa dengan melihat hasil yang di peroleh pada kegiatan akhir yaitu nilai evaluasi. Tingkat penguasaan materi dapat diukur dengan nilai yang diperoleh setiap siswa yang dalam proses pembelajaran tentunya perbaikan pembelajaran adalah tujuan yang diharapkan. Sesuai dengan hasil tersebut, maka penulis melakukan perbaikan pembelajaran melalui penelitian Tindakan Kelas ( PTK ).

B. Rumusan Masalah 1. Mata Pelajaran IPS Berdasarkan proses pembelajaran yang menyebabkan

ketidakberhasilan tujuan yang diharapkan pada pelajaran IPS materi pokok uang, perolehan nilai akhir siswa masih di bawah nilai standar. Ketentuan dari jumlah siswa sebanyak 30 siswa hanya 11 anak yang mendapat nilai 75 ke atas baru 28,95%, kemungkinan-

kemungkinan faktor yang menyebabkan adalah : a. Kurangnya alat peraga dan media pembelajaran sehingga sebagian besar siswa pasif

b. Guru terlalu cepat menyampaikan materi, siswa kurang memahami materi. c. Kurang memberi contoh-contoh dan tugas, bahasa sehingga Indonesia siswa untuk

mengalami

kesulitan

menggunakan

menuliskan gagasannya dalam bentuk kalimat. d. Pembelajaran didominasi guru, siswa kurang diberi kesempatan untuk bertanya. Berdasarkan identifikasi masalah pembelajaran tersebut di atas maka yang perlu menjadi fokus perbaikan adalah Bagaimana meningkatkan prestasi belajar siswa bila menggunakan media pembelajaran dan metode mengajar yang bervariasi pada siswa kelas III Madrasah ibtidaiyah

C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran sehingga prestasi belajar siswa dapat meningkat dengan menggunakan media pembelajaran dan metode yang bervariasi. D. Manfaat Penelitian Manfaat hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) cukup besar

sumbangannya bagi guru sebagai peneliti, siswa dan sekolah pendidikan secara umum. 1. Manfaat PTK bagi Guru

a. PTK dapat dimanfaatkan oleh guru untuk memperbaiki pembeljaran yang dikelolanya karena sasaran akhir PTK adalah perbaikan pembelajaran. Pembelajaran ini akan menimbulkan rasa puas bagi guru karena ia sudah melakukan sesuatu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dikelolanya. b. PTK dapat membuat guru menjadi percaya diri karena guru mampu melakukan analisa terhadap kinerjanya sendiri di dalamm kelas sehingga menemukan kelebihan dan kekurangnnya kemudian mengembangkan alternatif untuk mengatasi kekurangannya. c. PTK dapat mengembangkan kemempuan profesional, kemampuan guru sebagai penenliti, karena dengan PTK guru mampu belajar dari tindakan yang dilakukan untuk mengadakan perbaikan. d. Melalui PTK guru mendapat kesempatan untuk berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan sendiri, guru tidak hanya menerima hasil perbaikan yang ditemukan orang lain, namun ia sendiri adalah perancang dan pelaku perbaikan tersebut, yang menghasilkan berbagai teori dalam memperbaiki pembelajaran. Hasil yang ditemukan sendiri merupakan dorongan yang kuat bagi guru untuk terus menerus melakukan perbaikan. 2. Manfaat PTK bagi siswa / Pembelajaran Dengan adanya PTK kesalahan dalam proses pembelajaran akan cepat dianalisis dan diperbaiki, sehingga kesalahan tersebut tidak akan berlanjut. Jika kesalahan dapat diperbaiki, hasil belajar siswa

diharapkan dapat meningkat. Sebaiknya jika kesalahan dalam proses pembelajaran dibiarkan berlarut-larut, maka guru akan tetap mengajar

dengan cara sama sehingga hasil belajar siswa pun tetap sama, bahkan mungkin menurun. Di samping meningkatkan hasil belajar siswa, PTK yang dilaksanakan guru juga dapat menjadi model bagi siswa. 3. Manfaat PTK bagi Sekolah Sekolah yang para gurunya sudah kesempatan mampu yang membuat besar untuk

perubahan/perbaikan

mempunyai

berkembang pesat. Berbagai perbaikan akan dapat diwujudkan seperti penanggulangan berbagai masalah belajar siswa, perbaikan kesalahan konsep, serta penanggulangan berbagai kesulitan mengajar yang dialami oleh guru. Dengan terbiasanya para guru melakukan PTK, berbagai strategi/teknik pembelajaran dapat dihasilkan dari sekolah ini untuk disebarluaskan ke sekolah lain. Dengan demikian, sekolah mempunyai kesempatan yang besar untuk berubah secara

menyeluruh. Dalam konteks ini, PTK memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah, yang tercermin dari peningkatan kemampuan profesional para guru, perbaikkan proses dan hasil belajar siswa. E. Ruang Lingkup Laporan ini disusun selama penulis melakukan kegiatan perbaikan, serta selama pelaksanaan, observasi dan kegiatan perbaikan

pembelajaran yang dilaksanakan dalam 3 siklus untuk mata pelajaran IPS Kelas III. Berkenaan dengan itu, laporan ini memuat pendahuluan, kajian pustaka, pelaksanaan perbaikan, hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan dan saran, daftar pustaka serta lampiran-lampiran.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Masalah

perbaikan

pembelajaran

merupakan

masalah

yang

cukup

kompleks dimana banyak faktor yang ikut mempengaruhinya di antarannya guru, siswa, metode, media dan lain-lain. Guru merupakan komponen pengajar yang memegang peranan penting dan utama, karena keberhasilan proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh faktor guru. Tugas-tugas guru adalah menyampaikan materi pelajaran kepada siswa melalui interaksi komunikasi dalam proses belajar mengajar yang dilakukannya. Keberhasilan guru dalam menyempaikan materi sangat bergantung pada kelancaran interaksi komunikasi antara guru dengan siswanya dan penggunaan metode serta media yang tepat. Dari proses pembelajaran tersebut proses belajar siswa dari waktu ke waktu akan meningkat. Dalam bagian pertma ini penulis akan memaparkan tentang belajar. Menurut Gagne dalam Udin S. Winataputra, MA., dkk (2004:2.3) Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Dalam hal ini belajar memiliki ciri utama yaitu proses, perubahan perilaku, dan pengalaman. Menurut Skinner dalam H. Dinn Wahyudin, D. Supriadi, Ishak Abdulhak (2004:2.24) Belajar adalah perubahan perilaku. Di sini ada dua hal yang penting yaitu pertama pemilihan stimulus yang diskriminatif, dan kedua penggunaan penguatan Menurut Gagne dalam H. Dinn Wahyudin, D. Supriadi, Ishak Abdulhak (2004:3.25) Belajar merupakan proses dari yang sederhana ke yang kompleks. Tahapan belajarnya : belajar melalui tanda (signal), melalui rangsangan reaksi (stimulus respons), berangkai (chaining), secara verbal, membedakan

(discrimination), konsep, prinsip, dan untuk pemecahan masalah.

Menurut Piaget dalam H. Dinn Wahyudin, D. Supriadi, Ishak Abdulhak (2004:3.25) Belajar bersifat individual artinya proses belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungan. Perkembangan individu tersebut dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan intelektual meliputi : Sensori motor (0-2 tahun), Praoperasional (2-7 tahun), Operasional konkret (7-11 tahun), dan Operasional formal (11 tahun keatas). Menurut Sund dalam H. Dinn Wahyudin, D. Supriadi, Ishak Abdulhak (2004: 3.26) Belajar adalah proses penemuan, proses mental, intelektual, dan emosional yang dapat melibatkan siswa dalam mengolah bahan belajar. Disini siswa akan melakukan terlebih dahulu berbagai kegiatan seperti : pengamatan, analisi, sampai pada kesimpulan sementara. Menurut Rogers dalam H. Dinn Wahyudin, D. Supriadi, Ishak Abdulhak (2004:3.26) Belajar harus memiliki makna bagi peserta didik, pengorganisasian bahan dan dan ide baru harus dalam kerangka memberi makna bagi peserta didik. Dalam hal ini memiliki langkah-langkah sebagai berikut : peserta didik diberi kesempatan untuk belajar secara terstruktur, peserta didik membuat kontrak belajar, Guru menggunakan metode inkuiri atau belajar menemukan. Guru umumnya menggunakan metode stimulasi sedangkan perannya lebih sebagai fasilitator, dan pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga kreativitas peserta didik dapat terus dikembangkan. Menurut Wardani, dkk (1994 : 4) Belajar adalah suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya respon utama, dengan syarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah laku baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangang atau oleh adanya perubahan sementara karena suatu hal.

Menurut Noehi Nasution M.A, dkk (1994 : 114) Belajar adalah proses perubahan yang terus menerus terjadi dalam diri individu yang tidak ditentukan oleh unsur turunan genetis, tetapi lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor eksternal. Dari beberapa pendapat di atas, Penulis menyimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah prilakunya sebagai akibat pengalaman, dan bersifat individual artinya proses belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya, serta berlangsung terus menerus terjadi dalam diri individu yang tidak ditentukan oleh unsur keturunan genetis Kita tahu bahwa antara belajar dan mengajar merupakan suatu kegiatan yang tak terpisahkan, dalam hal ini, penulis akan menyampaikan beberapa pendapat tentang teori mengajar. Menurut Udin S. Wnataputra, M.A, dkk (2004:2.3) Mengajar adalah membelajarkan siswa, dalam arti mendorong dan membimbing siswa belajar. Membelajarkan siswa terkandung maksud guru berupaya mengaktifkan siswa belajar. Dengan demikian didalam proses pembelajaran, guru menggunakan strategi dan media apapun semata-mata supaya siswa belajar. Mengajar merupakan salah satu tugas guru untuk melaksanakan

kurikulum, oleh karena itu guru harus memahami kurikulum yang menjadi pedoman didalam mengajar. Jadi disini jelas bahwa mengajar bukan hanya menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa, melainkan yang terpenting adalah bagaimana bahan pelajaran tersebut dapat disajikan dan dipelajari oleh siswa secara efektif dan efisien. Menurut Gagne dalam Noehi Nasution M.A, dkk (1994 : 114) Mengajar adalah pekerjaan transformatif yang dilakukan seorang guru atau suatu tim

dalam rangka mengoptimalisasikan pencapaian tingkat kematangan dan tujuan belajar anak didik. Disini mengajar dapat diartikan menata berbagai kondisi belajar secara pantas. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan Mengajar adalah membelajarkan siswa, dalam arti memberi dorongan dan bimbingan kepada siswa untuk belajar, dalam hal ini tugas guru bukan hanya menyampaikan bahan pelajaran pada siswa saja, melainkan bagaimana bahan pelajaran tersebut dapat disajikan dan dipelajari oleh siswa secara efektif dan efisien agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan yakni siswa menjadi pintar Karena adanya kegiatan belajar dan mengajar maka akan menghasilkan prestasi belajar, dalam hal ini, penulis menulis teori prestasi belajar. Menurut Udin S. Winataputra, M.A, dkk (2004 : 4.16) Prestasi belajar siswa adalah sesuatu yang akan diperoleh Pengalaman siswa belajar setelah (learning menempuh Exprerience)

proses/pengalaman

belajarnya.

merupakan suatu proses kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penulis sangat sependapat dengan teori di atas karena siswa memperoleh prestasi belajar setelah menjalani proses belajar mengajar. Sedangkan prestasi belajar tersebut diperoleh siswa tidak konstan. Proses kegiatan belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh alternatif metode mangajar yang digunakan oleh guru. Menurut Udin S. Winataputra, M.A, dkk (2004: 4.4) Metode mengajar merupakan cara yang digunakan guru dalam membelajarkan siswa agar terjadi interaksi dalam proses pembelajarn. Setiao metode mengajar masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda dalam membentuk pengalaman belajar siswa, tetapi satu dengan yang lainnya saling

menunjang. Ada bermacam-macam metode mengajar diantaranya metode ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas, latihan, demonstrasi,

eksperimen, dan observasi. Diantara metode-metode mengajar ini masingmasing memiliki keunggulan dan kelemahan. Disini penulis dalam memperbaiki pembelajaran mata pelajaran IPA memilih metode demonstrasi. Metode demonstrasi adalah salah satu teknik mengajar yang dilakukan oleh seorang guru untuk orang lain yang dengan sengaja diminta atau siswa sendiri ditunjuk untuk memperlihatkan kepada kelas tentang sesuatu proses atau cara melakukan sesuatu. Metode demonstrasi digunakan bilamana : 1. Memberi latihan kepemimpinan 2. Memudahkan penjelasan agar siswa langsung mengetahui dan terampil melakukannya. 3. Untuk membantu siswa memahami suatu proses secara tepat dan teliti Keunggulan metode demonstrasi 1. Perhatian siswa akan dapat terpusat sepenuhnya pada anak yang demonstrasi 2. Memberikan pengalaman praktis yang dapat membentuk ingatan yang kuat dan ketrampilan dalam berbuat 3. Hal-hal yang menjadi teka-teki siswa dapat terjawab

4. Menghindarkan kesalahan siswa dalam mengambil suatu kesimpulan, karena mereka mengamati secara langsung jalannya proses demonstrasi yang diadakan. Kelemahan metode ini adalah : 1. Persiapan dalam pelaksanaannya memakan waktu lama 2. Metode ini akan tidak efektif bila tidak ditunjang dengan peralatan yang lengkap sesuai dengan kebutuhan 3. Sukar dilaksanakan bila siswa belum matang kemampuan untuk

melaksanakannya Sedangkan dalam pembelajaran mata pelajaran IPS penulis metode tanya jawab. Metode tanya jawab adalah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan dan siswa memberikan jawaban atau sebaliknya siswa diberi kesempatan bertanya dan guru menjawab pertanyaan. Metode tanya jawab layak dipakai bila dilakukan: 1. Sebagai ulangan yang telah lalu 2. Sebagai selingan dalam menjelaskan pelajaran 3. Untuk merangsang siswa agar perhatian mereka lebih terpusat pada maslah yang sedang dibicarakan 4. Untuk mengarahkan proses berfikir siswa 5. Metode tanya jawab ini dapat memberikan: a. Kelas akan menjadi hidup karena siswa di bawah ke arah berfikir yang diajukan oleh guru

b. Siswa

berani

mengemukakan

pertanyaan

atau

jawaban

atas

pertanyaan yang diajukan oleh guru c. Dapat mengaktifkan retensi terhadap pelajaran yang telah lalu. Sedangkan kelemahan metode ini adalah : 1. Waktu pelajaran tersita dan guru kurang mengontrol banyaknya pertanyaan dari siswa tidak dapat dijawab secara tepat. 2. Terjadinya penyimpangan yang perhatian tidak siswa belamana dengan terdapat yang

pertanyaan/jawaban dibicarakan.

berkenaan

sasaran

3. Jalannya pengajaran kurang terkoordinir karena pertanyaan dari siswa tidaki dapat dijawab secara tepat, baik guru maupun siswa.

BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN A. Subjek Penelitian Penelitian perbaikan pembelajaran dilaksanakan : 1. Tempat penelitian 2. Kelas 3. Semester 4. Mata Pelajaran 5. Karakteristik Siswa di daerah Pertanian 6. Jadwal Pelaksanaan Perbaikan N o 1. 2. 3. Hari, Tanggal Rabu, 2011 Rabu, 2 23 Waktu Mata Pelajaran Ilmu Siklus : MI Islamiyah Cibunar : III (tiga) : II (dua) : Ilmu Pengetahuan Sosial : Siswa dengan latar belakang kehidupan

Pebruari 07.1508.25 Pebruari 07.1508.25 Maret 07.1508.25

Pengetahuan Pertam

Sosial a Ilmu Pengetahuan Kedua Sosial Ilmu Pengetahuan Ketiga Sosial

2011 Jumuah, 2011

11

B. Deskripsi Per Siklus

Siklus I I. Rencana Perbaikan Setelah menelaah permasalahan-permasalahan yang muncul dalam pembelajaran yang telah difokuskan maka direncanakan perbaikanperbaikan sebagai berikut : Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial 1). Penggunaan metode tanya jawab agar hasil pengamatan lebih

baik dan efektif 2). Pembimbingan kepada siswa menyimpulkan hasil pengamatan 2. Pelaksanaan Perbaikan Berdasarkan masalah yang dirumuskan maka langkah-

langkah perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan adalah : 3. Hasil Perbaikan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Dari analisa hasil observasi selama proses perbaikan pembelajaran terlihat adanya kemajuan dengan melihat angka rata-rata

penguasaan materi pelajaran sebelum siklus yaitu 45% dan setelah siklus I menjadi 66%. 4. Refleksi Mata Pelajaran Ilmu Pengetrahuan IPS Upaya perbaikan yang dilakukan ternyata hasilnya belum

memuaskan, beberapa faktor baik dari guru maupun siswa turut

menentukan. Faktor guru yang masih belum dapat memberikan bimbingan secara merata ke seluruh siswa dan juga faktor siswa yang belum terbiasa melakukan tugas-tugas pengamatan. Dengan demikian masih dirasa perlu adanya perbaikan siklus II dengan lebih menitikberatkan pada pengamatan cara kerja alat-alat teknologi produksi lainnya. Siklus II 1. Rencana Perbaikan Kegiatan perbaikan pembelajaran untuk siklus II ini direncanakan sama dengan siklus I Untuk mata Pelajaran IPS. 2. Pelaksanaan Perbaikan Berdasarkan masalah yang dirumuskan maka langkah-langkah perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan adalah : Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial 1) Memberikan penugasan kepada siswa secara kelompok untuk mengamati mata uang sebagai alat memenuhi kebutuhan dan mencatat hasil pengamatan. 2) Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan hasil

pengamatan. 3. Hasil Perbaikan Mata Pelajaran Ilu Pengetahuan Sosial

Pada mata pelajaranIPS tingkat pencapaian penguasaan materi pelajaran menunjukkan kenaikan yang lebih menggembirakan dari angka 45% di siklus I menjadi 66% di siklus II. 4. Refleksi Kecilnya tingkat kemajuan yang dicapai ketika melakukan perbaikan pembelajaran membuat peneliti melakukan diskudi yang lebih

mendalam, baik dengan teman sejawat maupun dengan pembimbing. Hasilnya akan diupayakan perbaikan pembelajaran dengan materi yang diperbaiki masih sdama-sama dengan siklus I dan siklus II Siklus III 1. Rencana Perbaikan Kegiatan perbaikan pembelajaran untuk siklus III ini direncanakan sama dengan siklus II baik untuk mata pelajaran IPS 2. Pelaksanaan Perbaikan Berdasarkan masalah yang dirumuskan maka langkah-langkah perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan adalah : Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial 1) Memberikan penugasan kepada siswa secara kelompok untuk mengamati mata uang sebagai alat memenuhi kebutuhan dan mencatat hasil pengamatan 2) Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan hasil pengamatan 3. Hasil Perbaikan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan IPS

Pada mata pelajaran IPS juga hampir sama dengan IPA, terjadi kenaikan tingkat penguasaan siswa siklus II yang hanya 66% menjadi 83%. Disamping angka tingkat pengusaan materi yang naik kemampuan siswa dalam mendeskripsikan satu obyek dengan obyek lainnya juga makin membaik, ini terlihat dalam lembar kerja siswa. 4. Refleksi Tercapainya angka ketuntasan minimal pada dua mata pelajaran yang diadakan perbaikan dan meningkatnya penguasaan siswa

terhadap materi pelajaran membuat peneliti mencukupkan tindakan perbaikan pembelajaran sampai siklus II. Namun ada masalah-masalah yang masih belum dapat diperbaiki dari kegiatan ini misalnya kemampuan dalam memindahkan pengetahuan dalam diri siswa ke dalam bentuk bahasa tulis. Menurut peneliti hal ini baru dapat diselesaikan dengan latihan yang lebih baik, intensif dalam membuat kesimpulan dan pemberian motivasi dalam hal meningkatkan minat membaca siswa.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Per Siklus

Mata Pelajaran IPS Hasil penelitian selama pra siklus, siklus I, siklus II dan siklus III pada pembelajaran IPS adalah sebagai berikut : a. Partisipasi siswa dalam proses Belajar Mengajar Pra Siklus Jml. Perse Siswa 20 6 4 30 n -tase 66,7 20 13,3 100% Siklus I Jml. Perse Siswa 12 10 8 30 n -tase 40 33,3 26,7 100% Siklus II Siklus III Jml. Perse Jml. Perse Sisw a 3 6 21 30 n -tase 10 30 70 100 Sisw a 2 6 22 n -tase 6,7 20 73,3 100 %

Partisip asi Siswa Acuh Sedang Aktif Jumlah

30 % Tabel 3. Tingkat partisipasi siswa pada mata pelajaran IPS

b. Partisipasi siswa dalam menyerap materi pelajaran Partisipasi Pra Siklus Siklus I Siklus II Siklus III

Jml. Siswa Siswa

Perse n -tase 80 20

Jml. Sisw a 20 10

Perse n -tase 66,7 33,3

Jml. Sisw a 18 12

Perse n -tase 60 40

Jml. Sisw a 12 18

Perse n -tase 40 80

Nilai < 75 24 Nilai 6 75 Tuntas 6 Belajar Tidak tuntas belajar Nilai ratarata Taraf = Serap 24

20

10

33,3

12

40

18

80

80

20

66,7

18

60

12

40

1500 : 30 = 50

2000 : 30 2190 : 30 2490 : 30 = = = x 100

66 73 83 50 x 100 % 66 x 100 73 x 100 83 %= %= %=

50% 66 % 73 % 83 % Tabel 4. Tingkat prestasi siswa pada mata pelajaran IPS

c. Berikut hasil ulangan IPS selama pra siklus, siklus I, siklus II, siklus III Pra Siklus Freku FX -ensi 11 2 5 0 0 0 0 0 0 12 0 330 70 200 0 0 0 0 0 0 900 0 Siklus I Freku FX -ensi 0 0 3 0 5 0 4 1 0 7 10 0 0 120 0 250 0 240 65 0 32,5 800 -ensi 0 0 0 0 4 0 1 1 0 12 11 0 0 0 0 200 0 60 65 0 900 880 Siklus II Freku FX Siklus III Freku FX -ensi 0 0 0 0 0 0 0 1 0 7 8 0 0 0 0 0 0 0 65 0 525 640

Nilai ......... 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80

85 90 95 100 Jumla h Ratarata

0 0 0 0 30

0 0 0 0 1500

0 0 0 0 30

0 0 0 0 180

0 0 0 0 30

0 0 0 0 2190

0 0 0 0 30

0 0 0 0 2395

1500 : 30 = 50

1800 : 30 = 60

2190 : 30 = 73

2395 : 30 = 83

d. Grafik nilai rata-rata mapel IPA pra siklus, siklus I, siklus II dan siklus III

Grafik 2. Diagram nilai rata-rata mata pelajaran IPS Berdasarkan data-data Siklus I, Siklus II, dan Siklus III diatas maka dapat dianalisa sebagai berikut :

Mata Pelajaran IPS

Pra Siklus Siswa yang mendapat nilai kurang dari 75 sebanyak 24 siswa dari 30 siswa atau 80 %. Siswa yang mendapat nilai lebih dari 75 sebanyak 6 siswa atau 20 %. Rata-rata pada pra siklus 50 %.

Siklus I Siswa yang mendapat nilai kurang dari 75 sebanyak 20 siswa dari 30 siswa atau 66,7 %. Siswa yang mendapat nilai lebih dari 75 sebanyak 10 siswa atau 33,3 %. Rata-rata pada siklus I 66 %.

Siklus II Siswa yang mendapat nilai kurang dari 75 sebanyak 18 siswa dari 30 siswa atau 60 %. Siswa yang mendapat nilai lebih dari 75 sebanyak 12 siswa atau 40 %. Rata-rata pada siklus II 73 %.

Siklus III Siswa yang mendapat nilai kurang dari 75 sebanyak 12 siswa dari 30 siswa atau 40 %. Siswa yang mendapat nilai lebih dari 75 sebanyak 18 siswa atau 60 %.

Rata-rata pada siklus III 83 %.

Hasil Pengamatan Teman Sejawat Dari pengamatan teman sejawat, guru praktikum sudah baik hanya masih ada sedikit kekurangan, sebelum dilaksanakan perbaikan pembelajaran, siswa hendaknya diberi tahu lebih dahulu agar pada waktu teman sejawat masuk kelas, siswa tidak terkejut dan semua menengok ke belakang, sehingga perbaikan pembelajaran tidak terganggu, bahkan persiapan guru yang sudah matang, baik rencana pembelajaran, alat peraga, lembar kerja, dan perangkat lainnya dapat dilaksanakan dengan lancar, untuk itu agar perbaikan pembelajaran lebih berhasil, guru perlu menyempurnakannya.

B. Pembahasan Per Siklus Dari hasil perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan baik dari siklus I, siklus II dan siklus III mata pelajaran IPA dengan materi Gerak Benda dan mata pelajaran IPS dengan materi Uang. Metode mengajar dan penggunaan alat peraga merupakan cara yang digunakan guru dalam pembelajaran, agar terjadi interaksi dalam proses pembelajaran, lebih bermakna. Menurut Gagne (1978:97) bahwa metode mengajar memiliki keterkaitan yang kuat dengan tujuan

pembelajaran.

Untuk mata pelajaran Ipa dengan materi pokok Gerak benda lebih cocok dengan penggunaan alat peraga benda konkrit dan

pementauan tutor sebaya serta bimbingan individu. Adapun kelebihan menggunakan alat peraga benda konkrit antara lain : 1. Siswa akan lebih terlibat langsung dalam pembelajaran 2. Materi akan lebih terlibat langsung dalam pembelajaran 3. Meningkatkan motivasi belajar siswa 4. Membantu guru dalam proses pembelajaran yaitu mempermudah dalam menanamkan konsep Sedangkan kekurangnnya adalah sebagai berikut : 1. Memerlukan biaya 2. Perlu persiapan Kelebihan menggunakan bimbingan individu dan tutor sebaya : 1. Materi akan lebih cepat dipahami siswa 2. Dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan individu 3. Guru dapat mengetahui daya serap siswa secara individu 4. Perbaikan lebih terfokus Sedangkan kekurangannya : 1. Memerlukan kesabaran 2. Memerlukan waktu yang lama

3. Materi yang disampaikan terbatas 4. Memerlukan tempat tersendiri Untuk mata pelajaran IPS dengan materi pokok uang akan lebih cocok dengan menggunakan metode diskusi. Adapun kelebihan dari metode diskusi kelompok antara lain : 1. Siswa dapat berinteraksi sosial 2. Siswa dapat belajar mengeluarkan pendapat 3. Membina hubungan komunikator 4. Siswa dapat belajar menghargai pendapat orang lain 5. Dapat membangkitkan keberanian Sedangkan kekurangan/kelemahan dari metode diskusi kelompok adalah : 1. Memerlukan waktu yang banyak 2. Siswa yang pandai yang kelihatan aktif 3. Apabila siswa tidak memahami topik pembelajaran tidak efektif 4. Adanya siswa yang lamban, kurang motivasi, diskusi kurang berhasil. Ternyata metode diskusi dapat meningkatkan hasil prestasi belajar siswa, sebab siswa lebih berani untuk menanggapi cerita yang didengar. Dengan diskusi siswa lebih memahami materi yang

disampaikan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A. Kesimpulan

Dari hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan antara lain : Mata pelajaran IPS a. Pembelajaran IPS bisa dikatakan berhasil apabila konsep dasar materi sudah dipahami siswa sebagai modal dasar kepemahaman materi selanjutnya. Appersepsi juga berperan penting sebagai penghubung antara konsep yang telah dimiliki anak dengan konsep baru. b. Memberi tugas siswa menyebutkan jenis-jenis uang, sedang memberikan kesempatan siswa untuk mengetahui jenis-jenis uang dan kegunaan uang dalam kehidupan sehari-hari c. Memberi kesempatan bertanya kepada siswa dan guru menjawab pertanyaan atau sebaliknya guru mengajukan pertanyaan dan siswa memberikan jawaban.

B. Saran Tindak Lanjut Berdasarkan kesimpulan tersebut, beberapa hal yang

sebaiknya dilakukan oleh guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa diantaranya adalah :

Mata Pelajaran IPS

a. Supaya kebenaran konsep dalam pembelajaran IPS dapat diserap dengan benar oleh siswa, maka dalam pembelajaran IPS peneliti menyarankan agar para guru menggunakan metode bervariasi, sehingga siswa terdesain memperoleh pengalaman menyajikan pengamatan. mengamati, informasi yang mengumpulkan diperoleh dari data diskusi dan dan

Siswa memkperoleh pengalaman langsung

dengan latihan, dengan kata lain proses belajar, siswa bisa berhasil apabila dalam menerima informasi melalui proses memahami sebuah konsep kemudian menyerapnya pada akhirnya bisa menerapkannya. b. Berdasarkan pembelajaran pengalaman melalui PTK melaksanakan guru perbaikan aktif

disarankan

memanfaatkan kegiatan KKG sebagai wahana bertukar pikir dan pengalaman yang berkenaan dengan permasalahan yang dihadapi sehari-hari dalam proses pembelajaran.