Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN PT. Bank Sumut Unit Usaha Syariah sudah terbentuk sejak tahun 2004.

Pembentukan Unit Usaha Syariah ini dalam rangka memberikan layanan yang lebih luas kepada masyarakat yang berkeinginan mendapatkan layanan perbankan yang lebih selaras dengan prinsip hukum islam. PT. Bank Sumut Unit Usaha Syariah ini diharapkan akan menjadi pemain utama Bank Syariah di Sumatera Utara dengan pangsa pasar terbesar yang beroperasi secara sehat dan menjadi sumber andalan profitabilitas bagi PT. Bank Sumut. Dalam rangka mewujudkan sasaran tersebut, Unit Usaha Syariah menawarkan beberapa produk pengumpulan dana pihak ketiga (funding) dan penyaluran dana (lending). Produk-produk penyaluran dana (pembiayaan) Unit Usaha Syariah diantaranya adalah pembiayaan Murabahah, Mudharabah iB Bank Sumut dan Al-Qardh. Pada kesempatan ini penulis akan membahas mengenai penyaluran pembiayaan Murabahah kepada pengusaha/wiraswasta. Hal ini dianggap penting karena penyaluran pembiayaan tersebut dapat membantu pihak pengusaha/wiraswasta dalam meningkatkan usahanya dan disisi lain akan memberikan pendapatan bagi PT. Bank Sumut. Berkaitan dengan hal tersebut maka penulis memilih judul Analisis Sistem Penyaluran Pembiayaan Murabahah Kepada Pengusaha/Wiraswasta pada PT. Bank Sumut Unit Usaha Syariah Cabang Tebing Tinggi. Dengan rumusan masalah bagaimanakah Tinggi. Karya tulis ini dibuat dalam rangka memenuhi penilaian calon pegawai berdasarkan SK direksi No.069/Dir/DSDM-PL/SK/2010 Tanggal 30 April Tentang pedoman Tata Cara Pembuatan dan Penilaian Karya Tulis Bagi Calon Pegawai PT. Bank Sumut dan untuk meningkatkan pengetahuan/pemahaman penulis terhadap sistem penyaluran pembiayaan Murabahah kepada pihak pengusaha/wiraswasta. sistem penyaluran pembiayaan Murabahah kepada pengusaha/wiraswasta pada PT. Bank Sumut Unit Usaha Syariah Cabang Tebing

BAB II PEMBAHASAN A. Pembiayaan Murabahah. Berdasarkan SK Direksi PT.Bank Sumut Nomor : 048/DIR/DUSy-PDJs/SK/2009 Tentang Pembiayaan Murabahah, 1. Pengertian Murabahah Murabahah adalah fasilitas pembiayaan dengan prinsip jual beli barang pada harga perolehan dengan tambahan keuntungan (marjin) yang disepakati dimana pihak Bank bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli yang pembayarannya dapat dilakukan secara angsuran. 2. Rukun dan Syarat Murabahah Transaksi Murabahah dapat dilakukan apabila telah terpenuhi rukun-rukun, yaitu : a. Adanya penjual (Bai) b. Adanya pembeli (Musytari) c. Adanya barang yang menjadi objek jual beli (Mabi) d. Adanya harga jual (Tsaman) e. Adanya ijab qobul (shighat) yang dinyatakan dalam Akad 3. Akad Murabahah sah menurut syariah apabila dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. Penjual memberi tahu biaya modal kepada nasabah b. Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan c. Jual beli harus bebas dari riba d. Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian e. Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang. 4. Tujuan Penggunaan

Pembiayaan murabahah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan tambahan asset namun kekurangan dana untuk melunasinya secara sekaligus. Berdasarkan penggunaannya pembiayaan murabahah dibagi kepada dua kelompok penggunaan yaitu : a. Murabahah untuk konsumtif, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk pembelian atau pengadaan barang yang bukan untuk tujuan mendapatkan laba, baik berupa barang yang habis sekaligus pada saat digunakan berulang-ulang. b. Murabahah untuk investasi, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk pembelian atau pengadaan barang modal dalam rangka melakukan kegiatan produksi dan berbagai kegiatan produktif yang bertujuan untuk mendapatkan laba dan dapat digunakan berulang-ulang dalam jangka menengah maupun panjang. 5. Sasaran Adapun sasaran dari pembiayaan Murabahah ini adalah : a. Perorangan yang berpenghasilan tetap, yaitu bagian dari masyarakat yang memperoleh penghasilan secara rutin melalui kegiatan sehari-hari yang dapat dibuktikan secara fisik maupun administrative, yang dapat dikelompokkan kepada beberapa bagian, antara lain : Pegawai (secara individu dan berkelompok), pengusaha (wiraswasta), Profesional (apoteker, dokter, akuntan, notaries, pengacara, dan lain-lain) b. Badan usaha, yaitu entity business yang memenuhi ketentuan perundangundangan yang berlaku untuk perusahaan dalam bentuk CV, Firma, perseroan Terbatas (PT) dan lembaga lain yang bertujuan untuk mendapatkan laba. B. Prosedur Pemberian Murabahah Kepada Pengusaha/Wiraswasta. Adapun prosedur di dalam pemberian Murabahah kepada pengusaha/wiraswasta adalah :

1. Mengisi dan menandatangani surat permohonan pembiayaan murabahah dan dilengkapi dengan lampiran spesifikasi barang yang dipesan sesuai dengan format yang disediakan bank. 2. Memenuhi kelengkapan persyaratan administrasi untuk pembiayaan dengan memperlihatkan asli dokumen yang dijadikan lampiran surat permohonan. 3. Petugas Bank memeriksa kelengkapan dan kebenaran lampiran-lampiran dari surat permohonan pembiayaan kemudian pada fotokopi dokumen tersebut distempel fotokopi sesuai aslinya yang diparaf oleh petugas dan ditandatangani oleh Pinsi Pemasaran. Khusus untuk fotokopi dokumen surat barang agunan dan surat yang diikat harus ditandatangani pemimpin cabang, sedangkan petugas Pinsi pemasaran cukup memaraf. 4. Berdasarkan dokumen yang telah diterima tersebut petugas mencari informasi awal dengan melakukan wawancara sebelum dilakukannya survey pemeriksaan setempat (checking on the spot). 5. Bank melakukan konfirmasi melalui sistim informasi debitur (SID) dan kantor Cabang Konvensional yang berada pada sekitar wilayah operasional, untuk mengetahui apakah pemohon telah memiliki fasilitas kredit/pembiayaan pada Bank lain dan kualitasnya. 6. Bank melakukan konfirmasi dan survey ke tempat bekerja/usaha dan atau lokasi rencana investasi untuk memastikan kebenaran dan keakuratan data informasi wawancara. 7. Untuk jumlah pembiaayan kepada nasabah atau grup nasabah lebih dari Rp.5.000.000.000,-(lima miliar rupiah), penilaian agunan wajib dilakukan oleh penilai independen disamping penilaian juga dilakukan oleh pihak Bank, sedangkan pembiayaan dengan jumlah sampai dengan Rp.5.000.000,- (lima milyar rupiah) penilaian dilakukan oleh petugas Bank. 8. Setelah data diatas diperoleh selanjutnya bank melakukan analisis pembiayaan yang mencakup : a. Data pemohon/nasabah b. Keterangan usaha

c. Data legalitas Usaha d. Data Pembiayaan e. Data Barang Agunan f. Aspek Manajemen g. Aspek Hukum h. Aspek Teknis i. Aspek Pemasaran j. Aspek Keuangan (Neraca, L/R dan Cash flow) 9. Jika berdasarkan analisis, pemohon layak menerima fasilitas pembiayaan murabahah maka Bank menerbitkan SP4 kepada nasabah dan sebagai tanda persetujuan nasabah menandatangani di atas materai cukup. 10. Jika berdasarkan analisis Bank, nasabah tidak layak menerima fasilitas pembiayaan murabahah maka harus segera memberitahukan penolakan dengan bahasa yang santun tanpa harus memberitahukan alas an penolakan , dengan waktu maksimal 7 (tujuh) hari dari tanggal agenda masuk surat permohonan yang telah lengkap. 11. Pembiayaan dikatakan layak jika berdasarkan penilaian analis data Bank telah terpenuhi dan yakin bahwa nasabah dari penghasilan/gaji dapat membayar seluruh kewajibannya kepada Bank sampai pembiayaan dinyatakan lunas oleh Bank, sedangkan nasabah yang tidak layak jika keadaanya tidak menggambarkan akan kemampuannya menyelesaikan kewajibannya kepada Bank. 12. Apabila pemberian pembiayaan melebihi wewenang Pemimpin Cabang Syariah, maka kantor Cabang agar mengajukan permohonan izin memberikan pembiayaan (IMP) kepada Direksi Cq. Divisi Usaha Syariah dengan melampirkan data : a. Asli surat permohonan izin memberikan pembiayaan dari kantor cabang. b. Fotokopi surat permohonan calon nasabah dan lampiran spesifikasi barang-barang yang akan dipesan.

c. Fotokopi kelengkapan persyaratan/administrasi pembiayaan yang masih berlaku. d. Fotokopi surat konfirmasi antar Bank beserta jawabannya dan SID e. Fotokopi analisa pendahuluan termasuk bukti-bukti pendukung tujuan pembiayaan dan sumber pengembalian pembiayaan. f. Fotokopi analisa lanjutan (data aspek yaitu manajemen, hukum, teknis, pemasaran dan keuangan) g. Fotokopi daftar taksasi, sket lokasi, asli foto tempat usaha dan foto agunan yang diambil dari beberapa sudut h. Fotokopi surat agunan dan PBB terakhir. 13. Untuk pemberian pembiayaan yang melebihi wewenang pemimpin cabang pembantu syariah, maka kantor cabang pembantu syariah mengakukan permohonan izin memberikan pembiayaan (IMP) kepada Pemimpin Cabang Syariah induknya dengan melampirkan data sebagaimana yang disebutkan pada point 1 di atas. C. Analisis Prosedur Pemberian Murabahah Kepada Pengusaha/Wiraswasta. Dalam pemberian pembiayaan Murabahah kepada pengusaha/wiraswasta pada tahap awal pemohon harus melengkapi kelengkapan persyaratan administrasi, seperti Fotokopi identitas diri, pemilik barang agunan suami/istri yang masih berlaku (KTP/SIM atau yang dipersamakan dengan itu), pas photo suami istri ukuran 3x4, Fotokopi surat nikah, fotokopi kartu keluarga, fotokopi surat agunan, fotokopi bukti pembayaran PBB dan STTS, fotokopi bukti-bukti legalitas usaha, fotokopi NPWP untuk pembiayaan diatas Rp.100 juta serta mengisi lampiran spesifikasi barang yang akan dipesan. Setelah persyaratan tersebut di atas lengkap, selanjutnya petugas pemasaran memeriksa kesesuaian berkas tersebut dengan aslinya yang ditunjukkan oleh pemohon. Kemudian petugas melakukan verifikasi awal untuk menggali informasi awal dari nasabah yang kemudian akan dibandingkan dengan verifikasi berikutnya pada saat checking on the spot. Apabila pada saat verifikasi awal diperkirakan usaha pemohon layak untuk dibiayai maka petugas akan membuat Surat

permohonan pembiayaan yang selanjutnya ditandatangani pemohon, setelah itu berkas permohonan pembiayaan pemohon diagendakan dan didisposisi oleh Pemimpin cabang. Sebelum dilakukan taksasi ke lapangan, petugas pemasaran harus terlebih dahulu melakukan pengecekan mengenai informasi debitur melalui sistem informasi debitur yang disediakan oleh BI untuk mengetahui apakah pemohon telah mendapatkan fasilitas pembiayaan pada Bank lain dan juga pengecekan di bank sumut konvensional yang berada disekitar wilayah operasional agar terhindar dari double financing. Berdasarkan dokumen-dokumen tersebut diatas, petugas pemasaran melakukan survey untuk memastikan kebenaran dan keakuratan data informasi pada wawancara awal. Dalam perbankan syariah kegiatan survey pada umumnya dilakukan untuk menilai apa yang disebut dengan 5 C + 1 S, yaitu : 1. Character Penilaian karakter ini penting dilakukan untuk menilai bagaimana kepribadian nasabah yang sebenarnya, agar kita sebagai pihak perbankan tidak salah menyalurkan pembiayaan pada orang yang memiliki kepribadian yang negatif. Penilaian karakter ini dapat dilakukan dengan cara mencari informasi mengenai pemohon melalui masyarakat sekitar tempat tinggal pemohon atau melalui nasabah kita yang bertempat tinggal dekat dengan rumah pemohon dan atau orang-orang yang kenal dengan pemohon, misalnya seperti mitra usaha pemohon. 2. Capacity Yaitu penilaian secara subyektif tentang kemampuan pemohon untuk melakukan pembayaran. Kemampuan ini dapat diukur dengan catatan yang terdapat dalam sistem informasi debitur apabila pemohon pernah mendapat fasilitas pembiayaan sebelumnya dan juga melalui pengamatan di lapangan atas sarana usahanya seperti tempat usaha, pekerja, ala-alat, serta metode kegiatan. 3. Capital

Yaitu penilaian terhadap kemampuan modal yang dimilki oleh pemohon yang diukur dengan posisi usaha secara keseluruhan yang ditujukan oleh rasio financial dan penekanan pada komposisi modalnya. 4. Collateral Yaitu jaminan yang dimiliki oleh pemohon. Penilaian ini bertujuan untuk lebih meyakinkan bahwa jika suatu resiko kegagalan pembayaran terjadi, maka jaminan dapat dipakai sebagai pengganti dari kewajiban. Berdasarkan Surat Edaran Direksi Nomor : 035/DIR/DUSy-SP/SE/2005 Hal Rasio Agunan Pembiayaan, rasio agunan untuk pembiayaan Murabahah minimal 125% dari fasilitas pembiayaan. 5. Condition of Economy Petugas pemasaran harus melihat kondisi ekonomi yang terjadi di masyarakat secara spesifik dan keterkaitan dengan jenis usaha yang dilakukan oleh pemohon. Hal tersebut karena kondisi eksternal berperan besar dalam proses berjalannya usaha pemohon. 6. Syariah Penilaian ini dilakukan untuk menegaskan bahwa usaha yang akan dibiayai benar-benar usaha yang tidak melanggar prinsip ekonomi syariah. Setelah dilakukan survey, maka selanjutnya petugas pemasaran melakukan analisa pembiayaan yang terdiri dari : 1. Data pemohon Pada 2. Keterangan Usaha 3. Data legalitas Usaha 4. Data Pembiayaan 5. Data Barang Agunan 6. Aspek Manajemen 7. Aspek Hukum 8. Aspek Teknis 9. Aspek Pemasaran

10. Aspek Keuangan (Neraca, L/R dan Cash flow)

PT. Bank SUMUT pada saat ini telah menerapkan system online terhadap seluruh kantor dengan menggunakan system aplikasi OLIBs (On-line Integrated Banking System). Diharapkan dengan adanya system aplikasi ini akan mempermudah proses operasional dan dapat melakukan kegiatan perbankan secara efektif dan efisien. Disamping itu PT. Bank SUMUT juga terus melakukan perbaikan dengan terus melakukan perubahan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk setiap kegiatan operasional dengan tujuan untuk lebih menyesuaikan dengan kondisi yang ada. A. Pelaksana Penyelamatan Kredit

Berdasarkan Nota Dinas No. XXX penulis ditempatkan pada bagian Pelaksana Penyelamatan Kredit. Sebagai Pelaksana Penyelamatan Kredit penulis bertugas untuk mengatasi kredit bermasalah atau dalam pengertian lainnya menangani debitur yang telah menunggak dalam melunasi kewajibannya, bahkan tidak dapat lagi menyelesaikan kewajibannya untuk membayar fasilitas kredit yang telah dinikmatinya sehingga dampak dari kredit bermasah yang mempengaruhi kinerja manajemen Bank Sumut khususnya Cabang Kisaran dapat diminimalisir.Yang dimaksud dengan kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjammeminjam antara Bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Sedangkan kredit bermasalah (problem loan) adalah kredit yang telah atau diperkirakan akan mengalami kesulitan pembayaran pokok dan atau bunga kredit yang masih tercatat pada Neraca maupun yang telah diadministratifkan (diluar Neraca). Gejala timbulnya kredit bermasalah dapat dilihat dari : 1. Debitur mulai melakukan tunggakan pembayaran angsuran pokok dan atau bunga. 2. Debitur melakukan penyimpangan penggunaan dana kredit dari tujuan awal. 3. Adanya masalah internal yang terjadi dalam perusahaan atau usaha yang dikelola debitur. Jika suatu bank mempunyai kredit bermasalah yang besar, secara umum bank tersebut akan mengalami permasalahan, antara lain : 1. Bank tidak akan memperoleh bunga dari debitur, dilain sisi bank harus tetap membayar bunga kepada penabung. 2. Bank diharuskan membuat cadangan penghapusan piutang pinjaman yang cukup besar, yang mana pembentukan cadangan penghapusan pinjaman ini akan dibebankan ke laba bank tersebut. 3. Bank akan kehilangan kesempatan untuk memutarkan / menyalurkan dana kepada peminjam-peminjam yang lain / baru.

10

Menurut pengamatan penulis selama membantu pekerjaan di Seksi Administrasi dan Penyelamatan Kredit khususnya di bidang penyelamatan kredit, dalam prakteknya adapun penyebab timbulnya kredit bermasalah adalah antara lain : 1. Menurunnya kondisi usaha bisnis perusahaan, yang disebabkan merosotnya kondisi ekonomi umum dan/atau bidang usaha dimana mereka beroperasi. 2. Adanya salah urus dalam pengelolaan usaha bisnis perusahaan atau karena kurang berpengalaman dalam bidang usaha yang ditangani. 3. Problem keluarga misalnya perceraian, kematian, sakit yang berkepanjangan atau pemborosan dana oleh salah satu atau beberapa orang anggota keluarga. 4. Kegagalan debitur pada bidang usaha atau perusahaan mereka yang lain. 5. Munculnya kejadian diluar kekuasaan debitur (Force Majeur). 6. Watak buruk debitur (yang dari semula memang telah merencanakan tidak akan mengembalikan kredit). 7. Lemahnya pengawasan terhadap kredit yang diberikan. 1. Penggolongan Kualitas Kredit Dalam prakteknya bank memberikan tingkatan-tingkatan kolektibilitas terhadap setiap debiturnya. Maksudnya adalah bank melakukan penggolongan terhadap debitur dalam hal kelancaran pembayaran kreditnya. Adapun penggolongan tersebut terdiri dari : a. Lancar (Pass) / Sandi 1 Kredit dapat dikategorikan Lancar (Pass) apabila memenuhi kriteria : Pembayaran tepat waktu, perkembangan rekening baik dan tidak terdapat tunggakan serta sesuai dengan persyaratan kredit. Dokumentasi kredit lengkap dan pengikatan agunan kuat. Hubungan antara debitur dengan bank terpelihara baik, debitur selalu menyampaikan informasi keuangan secara teratur dan baik. b. Dalam Perhatian Khusus ( Special Mention ) / Sandi 2 Kredit dapat dikategorikan dalam perhatian khusus ( Spesial Mention ) apabila memenuhi kriteria :

11

hari.

Terdapat tunggakan pembayaran pokok dan atau bunga sampai 90 Jarang mengalami cerukan. Hubungan antara debitur dengan bank terpelihara dengan baik, Dokumentasi kredit lengkap dan pengikatan agunan kuat Pelanggaran perjanjian kredit yang tidak prinsipil.

debitur selalu menyampaikan informasi keuangan secara teratur dan baik c.

Kurang Lancar ( Sub standard ) / Sandi 3 Kredit dapat dikategorikan kurang lancar ( Sub Standard ) apabila memenuhi kriteria : Terdapat tunggakan pembayaran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 90 hari s/d 120 hari. Terdapat cerukan yang berulang kali khususnya untuk menutupi kerugian operasional dan kekurangan arus kas. Hubungan debitur dengan bank memburuk dan informasi keuangan tidak dapat dipercaya. Dokumentasi kredit kurang lengkap dan pengikatan agunan yang lemah. Pelanggaran terhadap persyaratan pokok kredit. Perpanjangan kredit untuk menyembunyikan kesulitan keuangan.

d.

Diragukan ( Doubtful ) / Sandi 4 Kredit dapat kriteria : Terdapat tunggakan pembayaran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 120 s/d 180 hari Terjadi cerukan yang bersifat permanen khususnya untuk menutupi kerugian operasional. Hubungan antara debitur dengan bank semakin memburuk dan informasi keuangan tidak tersedia atau tidak dapat dipercaya. dikategorikan diragukan (Doubtful) apabila memenuhi

12

lemah.

Dokumentasi kredit tidak lengkap dan pengikatan agunan yang Pelanggaran yang prinsipil terhadap persyaratan pokok dalam perjanjian kredit.

e. Macet ( Loss ) / Sandi 5 Kredit dapat dikategorikan macet ( Loss ) apabila memenuhi kriteria : Terdapat tunggakan pembayaran pokok dan atau bunga yang melampaui 180 hari. Dokumentasi kredit dan atau pengikatan agunan tidak ada. f. Selain penggolongan diatas, masih terdapat 1 ( satu ) jenis kualitas kredit yang telah dihapusbuku dari neraca ( off balance sheet ) namun masih harus ditagih oleh bank kepada debitur yaitu Kredit Hapus Buku ( Write off ) atau lazim disebut Kredit Sandi 6 atau Kredit Administratif. Biaya hapus buku kredit ini diambil dari biaya cadangan masing-masing unit kantor yang memberikan fasilitas kredit. Dan hasil yang diperoleh dari penagihan Kredit Sandi 6 ini langsung masuk ke dalam kas unit kantor sebagai pendapatan / laba dari kantor tersebut. Penulis selaku petugas penyelamatan kredit PT. Bank Sumut Cabang Kisaran setiap harinya bertugas untuk melakukan penagihan ( follow up ) terhadap debitur sandi 2 ( dua ) dan khususnya terhadap debitur yang masuk ke dalam sandi 3, 4, 5, dan 6 ( adm ). 2. Evaluasi dan Dokumentasi Dalam proses terhadap penyelesaian kredit bermasalah diperlukan informasi dan dokumentasi yang berguna untuk mengevaluasi terhadap kredit-kredit yang bermasalah. Selama penulis berada pada Informasi yang dibutuhkan sekurangkurangnya memuat hal-hal sebagai berikut : a. Penjelasan mengenai penyebab terjadinya tunggakan pokok dan bunga yang didasarkan atas faktor-faktor yang berkaitan dengan usaha debitur. b. Rincian dan kelangkapan dokumen yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan penyelesaian kredit bermasalah antara lain akad kredit dan

13

dokumen lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan penyelesaian kredit bermasalah. c. Mempelajari kembali aspek hukum yaitu isi perjanjian kredit, pengikatan agunan dan pengikatan-pengikatan lainnya yang telah dilakukan dengan tujuan untuk pengamanan bank dalam mengambil keputusan. d. Meneliti dan menilai kembali agunan kredit. Penulis juga sering membantu dalam proses penilaian kembali agunan kredit. Hal yang dilakukan penulis adalah membantu memfoto agunan dan menilai kembali agunan dengan membuat laporan retaksasi yang di diketahui dan setujui oleh Kepala Seksi Administrasi dan Penyelamatan Kredit dan Pemimpin Cabang. 3. Analisa Dalam melakukan analisa terhadap debitur yang kreditnya bermasalah harus dilakukan penilaian kembali dengan memperhatikan seluruh aspek dari debitur dan pemilik barang jaminan ( aspek hukum, aspek marketing, aspek keuangan dan sebagainya ). Hal ini dilakukan untuk memudahkan petugas dalam melakukan pendekatan kepada debitur dan mengambil keputusan penyelesaian masalah. Penulis selaku petugas harus bisa memahami karakter dari debitur serta menilai kemampuan dan kemauan debitur dalam penyelesaian kreditnya. Setelah analisa dilakukan terhadap debitur, petugas Penyelamatan Kredit dapat mengembangkan alternatif dalam penyelesaian kredit bermasalah tersebut. Dalam pemilihan alternatif penyelesaian masalah yang harus diperhatikan petugas adalah potensi keberhasilan dalam menerapkan alternatif penyelesaian, resiko yang dihadapi, serta penilaian terhadap iktikad dan prospek debitur. Setelah debitur dinilai kategorinya, dengan mengacu pada kriteria mengenai iktikad debitur dan prospek usahanya, maka langkah penyelesaian hutang terhadap debitur-debitur tersebut adalah sebagai berikut : 1) Debitur A : Iktikad baik, prospek usahanya ada : dilakukan negosiasi guna mencari cara penyelesaian yang disepakati untuk penyelesaian kredit bermasalah. 2) Debitur B : Iktikad baik, prospek usahanya tidak cukup :

14

dilakukan penyelesaian secara komersil misalnya penyelesaian kredit dengan cara mendapat bantuan keluarga, penjualan/pengambil alihan barang agunan dan diluar agunan. 3) Debitur C : Iktikad kurang, prospek usahanya ada : dilakukan langkah-langkah melalui proses hukum agar menjadi kooperatif. Apabila tetap tidak kooperatif maka proses hukum dilanjutkan, antara lain dengan penyitaan dan kepailitan. 4) Debitur D : Iktikad kurang, prospek usahnya tidak cukup : dilakukan langkah-langkah melalui proses hukum termasuk penyitaan dan kepailitan. Setelah mengevaluasi dan menganalisis permasalahan penyelesaian kredit, hal ini harus dituangkan dalam bentuk memorandum atau proposal. Sebelum proposal atau memorandum tersebut dibuat, debitur harus mengajukan permohonan kepada pemimpin cabang terlebih dahulu. Setelah di disposisi oleh pemimpin cabang, barulah prosposal atau memorandum tersebut dibuat oleh petugas berdasarkan hasil disposisi dari pemimpin cabang. Penulis selaku petugas penyelamatan kredit sering membantu dalam proses pembuatan memorandum atau proposal untuk penyelesaian kredit bermasalah yang pengajuannya : Kantor Pusat : Untuk Kantor Pusat oleh Kepala Bidang Penyelesaian Kredit I, Kepala Bidang Penyelesaian Kredit II, Kepala Bidang Hukum serta Kepala Bidang Administrasi dan Laporan mengajukan memorandum atau proposal kepada Kepala Divisi Penyelamatan Kredit sebatas wewenangnya dan apabila telah melampaui batas wewenangnya maka memorandum atau proposal diajukan kepada Direksi melalui Kepala Divisi Penyelamatan Kredit. Kantor Cabang : Untuk Kantor Cabang oleh Kepala Bagian Penyelamatan Kredit, Kepala Seksi Penyelamatan Kredit dan Kepala Seksi Pemasaran ( untuk kantor Cabang yang belum ada Seksi Penyelamatan Kreditnya ), memorandum atau proposal diajukan kepada :

15

1) Pemimpin Cabang sebatas wewenangnya. 2) Kepala Divisi Penyelamatan Kredit apabila telah melampaui batas wewenang Pemimpin Cabang tetapi masih dalam batas wewenang Kepala Divisi Penyelamatan Kredit. 3) Direksi apabila telah melampaui batas wewenang Pemimpin Cabang dan Kepala Divisi Penyelamatan Kredit melalui Divisi Penyelamatan Kredit. Sesuai dengan Surat Edaran No. 011/DIR/DPK-ADL/SE/2006 tanggal 15 Maret 2006 tentang Kewenangan Pemberian Utang Bunga dan Denda Untuk Tujuan Penyelesaian Kredit Bermasalah. kepada Kepala Divisi Penyelamatan Kredit dan Pemimpin Cabang diberikan wewenang untuk memutus pemberian diskon utang bunga dan denda, dengan ketentuan : 1. Kepala Divisi Penyelamatan Kredit diberikan wewenang untuk membebaskan utang bunga sebesar 50 % dari total utang bunga atas kredit yang akan diselesaikan dengan ketentuan kredit yang akan diselesaiakn tersebut dinyatakan macet dalam jangka waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun atau telah administratif (write off) dan plafond kredit maksimal sebesar wewenang Kepala Divisi Kredit dalam persetujuan pemberian kredit untuk setiap debitur dan atau grup debitur. 2. Kepada Pemimpin Cabang diberikan wewenang untuk membebaskan utang bunga sebesar 25 % dari total utang bunga atas kredit yang akan diselesaikan dengan ketentutan kredit yang akan diselesaiakan tersebut dinyatakan macet dalam jangka waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun atau telah administratif (write off) dan plafond kredit maksimal sebesar wewenang Pemimpin Cabang dalam persetujuan pemberian kredit untuk setiap debitu dan atau grup debitur. 3. Kepada Kepala Divisi Penyelamatan Kredit dan Pemimpin Cabang diberikan wewenang untuk membebaskan utang denda keterlambatan penyetoran atas kredit angsuran sebesar 100 % dengan ketentuan kredit yang akan diselesaiakn tersebut dinyatakan macet dalam jangka waktu sekurangkurangnya 1 (satu) tahun atau telah administratif (write off).

16

Dalam memberikan rekomendasi penyelesaian kredit bermasalah sesuai dengan Surat Keputusan Direksi No. 016/DIR/DPK-ADL/SK/2006 tanggal 15 Maret 2006 tentang Kebijakan Penyelesaian Kredit Bermasalah, dapat dilakukan melalui satu atau lebih cara dibawah ini : 1. Restrukturisasi Kredit. 2. Pembebasan sebahagian atau seluruh tunggakan denda. 3. Pembebasan sebahagian atau seluruh tunggakan bunga. 4. Pembebasan sebahagian pokok. 5. Pemberian kelonggaran waktu pembayaran. 6. Penarikan sebahagian barang agunan kredit. 7. Pengambil alihan agunan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 8. Penjualan kredit / hak tagih. 9. Penyerahan piutang ke Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). 10. Penyelesaian melalui lembaga hukum. 4. Tindak Lanjut Dalam rangka penyelesaian kredit bermasalah yang direkomendasi atau diputuskan melalui satu atau lebih cara tersebut diatas maka penulis selaku petugas penyelamatan kredit melakukan : a. Meminta kepada debitur untuk membuat surat pernyataan kepada Bank yang isinya tidak akan melakukan kelalaian pembayaran atas angsuran yang dijadwalkan. b. Pengawasan secara aktif dan kunjungan langsung secara rutin atas kesepakatan yang diambil dengan tujuan jangan sampai terjadi lagi tunggakan pembayaran. Sebelum melaksanakan kunjungan langsung, petugas harus memiliki surat tugas jalan. Penulis selaku petugas sebelum melaksanakan kunjungan terlebih dahulu membuat surat tugas jalan, yang berisi nama petugas beserta nama-nama debitur yang akan dikunjungi. Surat tugas jalan diketahui oleh Kepala Seksi Administrasi dan Penyelamatan kredit dan disetujui oleh Pemimpin Cabang.

17

Ketika melakukan kunjungan terhadap debitur, penulis membuat risalah atau catatan yang berisi tentang hasil pembicaraan petugas dengan debitur. Setelah pembicaraan selesai dan petugas juga sudah mencatat hasil pembicaraan dengan debitur, kemudian penulis meminta debitur untuk menandatangani risalah tersebut. Risalah tersebut akan dilaporkan kepada Kepala Seksi Administrasi dan Penyelamatan Kredit serta Pemimpin Cabang. 5. Pelaporan Dalam menindak lanjuti keputusan yang akan ditetapkan dalam penyelesaian kredit bermasalah, Kepala Divisi Penyelamatan Kredit secara rutin memonitor dan mengevaluasi laporan yang dibuat oleh bidang yang ada pada Divisi Penyelamatan Kredit dan untuk Pemimpin Cabang secara rutin memonitor dan mengevaluasi laporan yang dibuat oleh Bagian / Seksi Penyelamatan Kredit, Kepala Seksi Pemasaarn (untuk Kantor Cabang yang belum ada Seksi Penyelamatan Kreditnya). Sesuai dengan Surat Edaran No. 011/DIR/DPK-ADL/SE/2006 tanggal 15 Maret 2006 tentang Kewenangan Pemberian Keringanan Utang Bunga dan Denda Untuk Tujuan Penyelesaian Kredit Bermasalah, laporan ini sudah harus diterima oleh Divisi Kredit selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya untuk direkap dan selanjutnya dikirimkan kembali ke kantor cabang sebagai bahan pertimbangan pemberian kredit. Penulis pada setiap awal bulan membantu dalam proses pengerjaan laporan bulanan yang ada pada Seksi Administrasi dan Penyelamatan Kredit. Laporan yang dikerjakan oleh penulis antara lain : 1. Laporan BDT 2. Laporan Penarikan Kredit yang di Write Off (WO) pada bulan Juni 2005 dan September 2006. 3. Laporan Debitur yang diberikan pembebasan bunga dan denda. 4. Laporan Restrukturisasi Kredit. 5. L B. Pelaksana Administrasi Kredit 1. Jenis Produk dan Persyaratan Kredit PT. Bank Sumut

18

Pemberian kredit merupakan salah satu usaha Bank Sumut untuk membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah di segala bidang serta sebagai salah satu kelengkapan otonomi daerah di bidang perbankan dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Dilingkungan PT. Bank Sumut sendiri, produk kredit terbagi dalam beberapa macam. Disini penulis akan menjelaskan beberapa produk kredit yang ada pada PT. Bank Sumut dan juga penulis sering membantu dalam proses pencairan kredit khususnya dalam hal pembuatan PMK (Perjanjian Membuka Kredit) dan pembukaan rekening pinjaman. Produk kredit tersebut adalah : 1. KMG (Kredit Multi Guna) 2. KAL (Kredit Angsuran Lainnya) 3. Kredit Umum 4. Kredit SPK (Surat Perintah Kerja) a. KMG (Kredit Multi Guna) Kredit Multi Guna adalah fasilitas kredit yang diberikan secara perorangan kepada pegawai yang sumber pengembaliannya dari penghasilan tetap dan pemberiannya melalui Dinas / Instansi / Koperasi Pegawai / Lembaga / Perusahaan tempat pegawai yang bersangkutan bekerja, dengan tujuan untuk membiayai keperluan yang bersifat konsumtif, investasi dan modal kerja. Penerima kredit adalah pegawai yang masih aktif (tidak termasuk pegawai PT. Bank Sumut), dari Dinas / Instansi / Koperasi Pegawai / Lembaga / Perusahaan yang telah melakukan perjanjian kerjasama dengan bank. Kebijakan PT. Bank Sumut mengenai Kredit Multi Guna tertuang dalam SK Direksi No. 499/DI/DK-K/SK/2006 tanggal 26 Desember 2006. Maksimum kredit yang dapat diberikan untuk kredit KMG adalah sebesar : 1) Kredit Multi Guna Konsumtif 1) Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai BUMN/BUMD maksimum sebesar 40% (empat puluh persen) dari jumlah penghasilan sebulan menurut daftar gaji dikali dengan jangka waktu Kredit Multi Guna. 2) Non Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai BUMN/BUMD maksimum 40% (empat puluh persen) dari jumlah penghasilan sebulan menurut daftar gaji

19

dikali dengan jangka waktu Kredit Multi Guna atau maksimum kredit sebesar Rp.75.000.000,- (tujuh puluh lima juta rupiah). 2) Kredit Multi Guna Modal Kerja & Investasi a) Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai BUMN/BUMD maksimum sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan sebulan menurut daftar gaji dikali dengan jangka waktu Kredit Multi Guna. b) Non Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai BUMN/BUMD maksimum sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan sebulan menurut daftar gaji dikali dengan jangka waktu Kredit Multi Guna atau maksimum kredit sebesar Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah). Yang menjadi jaminan untuk kredit KMG adalah : 1) Gaji beserta hak lainnya yang dinyatakan dalan Surat Pernyataan/Kuasa yang ditandatangani debitur beserta suami/istri dan diketahui Kepala Dinas / Instansi / Koperasi Pegawai / Lembaga / Perusahaan terlampir. 2) Asli Kartu Pegawai (Karpeg) atau Kartu Registrasi Induk Pegawai atau Surat Keputusan Kenaikan Golongan/Ruang Pegawai terakhir dan atau yang dipersamakan dengan itu (bagi pegawai yang pembayaran gajinya tidak melalui PT. Bank Sumut) 3) Penyimpanan dokumen asli Jaminan kredit sesuai dengan SOP kredit komersil yang berlaku. Jangka waktu KMG dibagi ke dalam 3 (tiga) kelompok jangka waktu, yaitu : 1) Jangka Pendek adalah fasilitas KMG yang mempunyai jangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun. 2) Jangka Menengah adalah fasilitas KMG yang mempunyai jangka waktu sampai dengan 3 (tiga) tahun. 3) Jangka Panjang adalah fasilitas KMG yang mempunyai jangka waktu lebih dari 3 (tiga) tahun. Untuk suku bunga kredit KMG adalah sebesar 12% pa Flat. Hal ini sesuai dengan Surat Edaran Direksi No. 52/DIR/DKR/SE/2006 tanggal 29 Desember 2006 . Biaya yang dibebankan untuk kredit KMG adalah biaya admininstrasi kredit yaitu :

20

1) Jangka waktu 1 tahun s/d 3 tahun sebesar 2) Jangka waktu 3 tahun s/d 4 tahun sebesar 3) Jangka waktu 4 tahun s/d 5 tahun sebesar 4) Jangka waktu 5 tahun s/d 6 tahun sebesar 5) Jangka waktu 6 tahun s/d 7 tahun sebesar kredit adalah :

1.5 % 2% 2.5 % 3% 3.5 %

Dokumen-dokumen yang perlu dilengkapi sebagai persyaratan dalam administrasi 1) Perjanjian Kerjasama (MOU) dengan Dinas / Instansi / Koperasi. 2) Fotocopy Surat Keputusan Pengangkatan Kepala dan Bendaharawan Instansi peminjam pekerja (legalisir). 3) Surat pengantar dari Instansi yang bersangkutan ke Bank. 4) Formulir permohonan kredit yang telah ditandatangi pemohon dan Suami / Isteri. 5) Surat Kuasa Memotong Gaji beserta hak lainnya. 6) Surat Pernyataan dan Surat Kuasa yang ditandatangi pemohon dan Suami / Isteri yang diketahui oleh Kepala Instansi yang bersangkutan. 7) Fotocopy daftar gaji bulan terakhir yang telah dilegalisir oleh Kepala Instansi yang bersangkutan. 8) Fotocopy KTP atau kartu pengenal lainnya (SIM, Pasport, Surat Keterangan Lurah, dan sebagainya) yang masih berlaku, dan foto copy KTP atau kartu pengenal resmi lainnya suami/istri apabila sudah menikah. 9) Asli/fotocopy Kartu Pegawai (KARPEG) bagi PNS dan kartu identitas karyawan lainnya bagi pegawai non PNS. 10) Fotocopy NPWP pribadi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 11) Surat Keterangan Domisili Usaha dari Lurah/Kepala Desa untuk pemohon KMG Modal Kerja dan Investasi. Debitur dapat melunaskan kredit yang sedang dinikmati sebelum kredit jatuh tempo dan dapat memohon fasilitas Kredit Multi Guna yang baru. Perhitungan pelunasan jatuh tempo adalah sebesar Baki debet kredit ditambah dengan bunga bulan

21

berjalan. Lunas Sebelum Jatuh tempo untuk meminjam kredit baru dapat diajukan, sepanjang syarat-syarat pemberian kredit dapat dipenuhi. b. KAL (Kredit Angsuran Lainnya) Kebijakan PT. Bank Sumut mengenai Kredit Angsuran Lainnya tertuang dalam SE Direksi No. 069/DIR/BPK-KI/SE/96 tanggal 12 Februari 1996. Kredit Angsuran Lainnya (KAL) adalah kredit angsuran yang diberikan kepada perorangan atau badan usaha yang bertujuan untuk membiayai : 1) Membangun/membeli/merehab rumah tempat tinggal. 2) Membangun/membeli/merehab tempat usaha. 3) Membeli tanah tapak perumahan. 4) Membeli kendaraan 5) Membeli peralatan/perlengkapan usaha. 6) Membiayai pendidikan anak. 7) Dan usaha lain yang layak dibiayai, termasuk agribisnis. Jangka waktu kredit KAL sendiri adalah maksimum 5 (lima) tahun termasuk masa tenggang waktu (grace period). Suku bunga dihitung secara annuitas, penyesuaian floating rate ditetapkan dalam 6 bulan sekali selam periode Januari sampai dengan Juni dan Juli sampai dengan Desember dalam tahun berjalan. Sesuai dengan ketentuan Surat Edaran No. 012/DIR/DKR-KR/SE/2007 tentang Tingkat Suku Bunga, Biaya Administrasi dan Provisi, mengatur bahwa tingkat suku bunga kredit angsuran lainnya adalah : 16 % Pa apabila Plafond Kredit Rp. 200 juta. 15 % Pa apabila Plafond Kredit > Rp. 200 juta. Mengenai agunan kredit, juga telah ditetapkan. Barang Agunan kredit KAL dapat berupa barang bergerak, tidak bergerak, proyek yang dibiayai (dalam bentuk fisik) dan lainnya yang mem-back-up kredit dengan ratio agunan sebesar 125 %. Barang agunan adalah milik sendiri atau milik suami/ isteri/ orang tua/ anak/ mertua/ saudara/ dari pemohon kredit yang diserahkan kepada pemohon secara notarial akte. Biaya kredit yang dikenakan terhadap pinjaman KAL adalah : 1) Biaya Provisi kredit adalah sebesar 0,50 %

22

2) Biaya Administrasi kredit sesuai jangka waktu yaitu : Jangka waktu > 1 s/d 2 tahun = Jangka waktu > 2 s/d 4 tahun = Jangka waktu > 4 s/d 5 tahun = 1,0 % 1,5 % 2,0 %

Jangka waktu > 5 tahun ditetapkan oleh Direksi. Untuk memperoleh kredit KAL, pemohon juga harus menyediakan dana sendiri minimum 20 % dari proyek yang dibiayai. Dokumen-dokumen yang harus dipersiapkan nasabah sebagai persyaratan administrasi dalam proses pencairan kredit adalah antara lain : 1) Bagi Pemohon Perorangan, kelengkapan administrasi yang harus dipenuhi adalah : Mengajukan permohonan Kredit Angsuran Lainnya (KAL) atas nama si calon debitur. 1 (satu) lembar foto copy NPWP bagi yang dipersyaratkan. 1 (satu) lembar foto copy surat barang jaminan dengan ketentuan apabila dalam bentuk surat tanah harus dilampirkan foto copy Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang terakhir. 1 (satu) Lembar foto copy KTP pemohon kredit (Suami / Istri). 1 (satu) Lembar foto copy Kartu Rumah Tangga pemohon kredit dan pemilik barang jaminan. 2) Bagi Pemohon badan usaha/usaha perorangan, kelengkapan administrasi yang harus dipenuhi adalah : Mengajukan permohonan Kredit Angsuran Lainnya (KAL). 1(satu) set foto copy biodata perusahaan yang terdiri dari akta pendirian / perobahan badan usaha dan izin izin usaha (SIUP, TDP, SKITU, dan Sertifikasi Badan Usaha). 1 (satu) lembar foto copy NPWP bagi yang dipersyaratkan.

23

1 (satu) set foto copy surat barang jaminan dengan ketentuan apabila dalam bentuk surat tanah harus dilampirkan foto copy Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang terakhir. 1 (satu) set laporan keuangan 2 tahun terakhir yang terdiri dari Neraca dan Laporan Rugi Laba. 1 (satu) set rencana / Budget penerimaan dan pengeluaran satu tahun kedepan. 1 (satu) lembar foto copy Kartu Rumah Tangga (KRT) pemohon kredit dan pemilik barang jaminan. c. Kredit Rekening Koran Kredit Rekening Korang adalah kredit dengan sistem rekening koran yang diberikan kepada perorangan atau badan usaha untuk menambah modal kerja usaha yang layak dibiayai oleh bank. Jenis-jenis sektor usaha yang dapat dibiayai adalah antara lain : 1. Perdagangan, restoran dan hotel. 2. Pertanian. 3. Industri. 4. Pengangkutan , pergudangan dan komunikasi. 5. Jasa-jasa sosial masyarakat, seperti : hiburan dan kebudayaan, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. 6. Jasa-jasa dunia usaha, seperti : jasa profesi, biro iklan, biro perjalanan, dan lain-lain. Jangka waktu dalam kredit umum sendiri adalah maksimum 12 bulan (dapat diperbaharui) atau dapat diperpanjang apabila kredit telah jatuh tempo serta dapat dapat juga dilakukan penambahan plafond. Sesuai dengan ketentuan Surat Edaran No. 012/DIR/DKR-KR/SE/2007 tentang Tingkat Suku Bunga, Biaya Administrasi dan Provisi, mengatur bahwa tingkat suku bunga kredit angsuran lainnya adalah : a. 16 % Pa apabila Plafond Kredit Rp. 200 juta. b. 15 % Pa apabila Plafond Kredit > Rp. 200 juta. Biaya kredit yang dikenakan dalam proses pencairan kredit umum adalah :

24

1) Biaya Provisi kredit sebesar 0,5 % dari plafond kredit. 2) Administrasi kredit sebesar 1 % dari plafond kredit. 3) Biaya notaris dan asuransi barang agunan sesuai tarif yang berlaku. Mengenai barang agunan juga memiliki ketentuan tersendiri. Dalam kredit umum, barang agunan tidak boleh seluruhnya milik pihak ketiga, harus ada barang agunan milik debitur itu sendiri minimal 50 % dari nilai taksasi seluruh agunan kredit. Kemudian ratio agunan terhadap kredit adalah minimum sebesar 125 %. d. Kredit SPK (Surat Perintah Kerja) Kredit SPK (Surat Perintah Kerja) adalah kredit modal kerja dalam bentuk rekening koran untuk membantu pengusaha dalam pembiayaan melaksanakan pekerjaan proyek dari pemerintah dan swasta. Persyaratan untuk memperoleh kredit SPK adalah sebagai berikut : 1. Pemohon kredit adalah kontraktor/ rekanan yang mempunyai badan hukum dan profesional dibidang jasa konstruksi, leveransir, dsb. 2. Mempunyai SPK/ Kontrak Kerja dari pemerintah atau swasta. 3. Meyerahkan dokumen yang dipersyaratkan. Penerima kredit SPK adalah : 1) Pemenang tender. Disini yang dimaksud dengan pemenang tender adalah perusahaan yang tertera pada SPK/Konrak dan telah melakukan perikatan tertulis dengan kepala kantor/satuan kerja/pemimpin proyek/bagian proyek pengguna barang/jasa. 2) Pemegang SPK. Disini yang dimaksud dengan pemegang SPK adalah perusahaan yang mendapat SPK berdasarkan kuasa dari pemenang tender. Setiap debitur yang mendapat kredit SPK berdasarkan kuasa dari pemenang tender harus melampirkan : a) Surat Kuasa Notarial Akte dengan hak substitusi dari pengurus perusahaan pemenang tender/ SPK/ Kontrak kepada calon debitur / debitur. b) Surat Kuasa kepada bank dari pengurus perusahaan pemenang tender/ SPK/ Kontrak untuk memindahbukukan dari rekening pemenang tender/

25

SPK/ Kontrak ke rekening debitur setiap pembayaran pekerjaan yang digunakan untuk penurunan plafond/ pelunasan kredit. Plafond kredit yang dapat diberikan untuk kredit SPK adalah sebesar : 1) Maksimum 60 % dari harga pekerjaan sebagaimana tercantum didalam order untuk pekerjaan pembangunan fisik seperti pekerjaan sipil, bangunan dan sejenisnya. 2) Maksimum 75 % dari harga pekerjaan fisik seperti pekerjaan sipil, bangunan dan sejenisnya. Jangka waktu untuk kredit SPK sendiri adalah : 1) Jangka waktu kredit adalah berdasarkan jangka waktu proyek ditambah waktu yang layak 3 (tiga) bulan. 2) Perpanjangan jangka waktu kredit karena perubahan jangka waktu SPK dapat dilakukan hanya jika ada pemberitahuan Pimpro berupa addendum kontrak. 3) Apabila dari perhitungan atas pembayaran proyek yang disetorkan ke rekening sehingga kredit menjadi lunas, maka perjanjian kredit otomatis berakhir walaupun jangka waktu kredit belum berakhir. Mengenai barang agunan dalam kredit SPK telah ditetapkan. Persyaratan mengenai barang agunan adalah sebagai berikut : 1) Agunan Utama yaitu hak tagih atas dasar SPK/ Kontrak Kerja dan Surat Pernyataan penyaluran pembayaran yang ditandatangani Pimpro/ Bendaharawan Proyek serta Surat Kuasa dari Rekanan/ Kontraktor kepada PT. Bank Sumut. 2) Agunan tambahan berupa barang bergerak dan tidak bergerak atau agunan tunai milik pemohon atau milik pihak ketiga. 3) Ratio Agunan tambahan a) SPK/Kontrak kerja yang dananya berasal dari APBN/APBD, BUMN/BUMD atau dana luar negeri minimal 50 % dari plafon kredit. b) SPK/Kontrak kerja yang dananya berasal dari perusahaan swasta minimal 100 % dari plafon induk.

26

Biaya kredit yang dikenakan terhadap debitur dalam proses pemberian kredit adalah sebesar : 1) Biaya Provisi kredit sebesar 2) Biaya Administrasi kredit sebesar 3) Biaya Supervisi kredit sebesar 0,50 % pertahun (dari plafon kredit). 1,00 % pertahun (dari plafon kredit). 0,50 % (dari plafon kredit).

4) Biaya notaris dan asuransi barang agunan sesuai tarif yang berlaku. Apabila kredit lunas sebelum jatuh tempo, maka biaya administrasi dan Provisi untuk jangka waktu yang belum dilalui dikembalikan secara proporsional. Tingkat suku bunga kredit SPK sesuai dengan Surat Edaran No. 012/DIR/DKRKR/SE/2007 tanggal 7 Maret 2007 tentang Tingkat Suku Bunga, Biaya Administrasi dan Provisi, adalah sebesar 16 % pa dengan sistem floating rate. 2. Prosedur pengikatan agunan Jaminan dalam pemberian kredit merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam melakukan analisis terhadap permohonan pinjaman. Sebagai pelaksana administrasi kredit penulis harus mengetahui tentang tata cara pengikatan jaminan yang benar secara hukum agar tidak menimbulkan masalah, terutama pada waktu melakukan eksekusi jika diperlukan. Debitur pemberi jaminan harus berkuasa penuh atas barang yang dijaminkannya. Dengan kata lain, debitur adalah pemilik barang yang berhak menjual atau menjaminkan barang tersebut. Barang yang dijaminkan harus dilakukan pengikatan secara formal / tertulis agar berlaku sebagai alat bukti apabila suatu saat terjadi permasalahan tentang kebenaran, akan terjadi penyerahan benda-benda tersebut kepada kreditur, sekaligus membuktikan juga hak-hak apa yang diperoleh kreditur dari debitur terhadap barang jaminan tersebut apabila suatu saat debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan. Pada PT. Bank Sumut, pelaksanaan pengikatan barang agunan bagi Kantor Cabang yang ada kantor notaris di wilayahnya maka pengikatan barang agunan harus dilakukan dengan notarial akte. Sedangkan bagi yang tidak ada kantor notaris diwilayahnya, maka pengikatan barang agunan dilaksanakan dihadapan pejabat yang

27

berwenang untuk itu (Bupati / Walikota atau Ketua Pengadilan Negeri atau Camat PPAT). a. Pengikatan Barang Agunan Tidak Bergerak Agunan berupa tanah dilakukan pengikatan dengan Hak Tanggungan (HT) dan atau Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT). 1. Barang agunan berupa tanah berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut, yang menjadi agunan atas kredit atau fasilitas bank lainnya, dengan plafond diatas Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) wajib dibebankan Hak Tanggungan. Dengan ketentuan surat / alas tanah yang diagunkan telah sertifikat. Jika belum, pengikatan dilakukan dengan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) dan wajib dibebankan Hak Tanggungan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sesudah diterbitkan SKMHT tersebut. Besar nilai Hak tanggungan yang dibebankan atas setiap barang agunan (tanah) minimal sebesar nilai taksasi barang agunan tersebut. 2. Barang agunan berupa tanah berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut, yang menjadi agunan atas kredit atau fasilitas bank lainnya, dengan plafond sampai dengan Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) wajib diikat dengan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT). Dengan ketentuan jangka waktu berlaku SKMHT sama dengan masa berlaku perjanjian pokok. Surat hak tanah tersebut sudah sertifikat. 3. Pemberian kredit atau fasilitas bank lainnya, untuk membiayai SPK / Proyek (Pemerintah, BUMN, BUMD) yang jangka waktu pelaksanaan proyeknya tidak melebihi 1 (satu) tahun, pengikatan agunannya dapat dilakukan tanpa pembebanan Hak Tanggungan (HT) dan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan. 4. Pengakuan Hutang, Surat Kuasa Menjual dan Persetujuan Untuk Menjual kepada Bank merupakan pengikatan atas kredit atau fasilitas bank lainnya yang barang agunannya berupa tanah tetapi tidak dibebankan Hak Tanggungan atau SKMHT seperti yang berlaku pada pemberian kredit atau

28

fasilitas bank lainnya untuk membiayai SPK / Proyek (Pemerintah, BUMN, BUMD). b. Pengikatan Agunan Barang Bergerak dapat dilakukan dengan : Hak Gadai yaitu : Barang-barang yang diikat diserahkan untuk disimpan oleh bank Pemberian Hak Gadai tidak diharuskan dengan akta otentik (akta notaris) Barang yang diserahkan harus dilepaskan dari kekuasaan orang yang memberikan hak gadai. 2. Fiducia yaitu pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda..

29

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari uraian diatas dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Pendidikan dan Pelatihan ( Job Training ) bagi calon pegawai PT. Bank SUMUT merupakan suatu proses yang harus dilalui oleh setiap calon pegawai untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para pegawai baru dalam memahami dan melaksanakan pekerjaan. 2. Pelaksana Penyelamatan Kredit bertugas untuk mengatasi kredit bermasalah atau dalam pengertian lainnya menangani debitur yang telah menunggak dalam melunasi kewajibannya, bahkan tidak dapat lagi menyelesaikan kewajibannya untuk membayar fasilitas kredit yang telah dinikmatinya. 3. Kredit Multi Guna merupakan salah satu fasilitas kredit yang ditawarkan oleh PT. Bank Sumut yang diperuntukkan bagi pegawai pemerintah maupun swasta, dimana sistem pembayarannya dilakukan oleh bendahara dengan memotong gaji secara kolektif. 4. Kredit Angsuran Lainnya yaitu kredit yang diberikan kepada perorangan atau badan usaha yang bertujuan untuk membangun/ merehap/ membeli rumah tempat tinggal, tempat usaha dan membeli perlengkapan usaha. 5. Kredit Rekening Korang adalah kredit dengan sistem rekening koran yang diberikan kepada perorangan atau badan usaha untuk menambah modal kerja usaha yang layak dibiayai oleh bank. 6. Kredit SPK (Surat Perintah Kerja) adalah kredit modal kerja dalam bentuk rekening koran untuk membantu pengusaha dalam pembiayaan melaksanakan pekerjaan proyek dari pemerintah dan swasta. 7. Pengikatan atas barang jaminan harus dilakukan sesuai dengan tata cara pengikatan yang benar secara hukum agar tidak menimbulkan masalah, terutama pada waktu melakukan eksekusi jika diperlukan.

30

8. Pengikatan barang agunan tidak bergerak (tanah) diikat dengan Hak Tanggungan (HT) dan atau Surat Kuasa membebankan Hak Tanggungan. 9. Pengikatan agunan barang bergerak dilakukan dengan Hak Gadai dan Fiducia. B. Saran 1. Dalam menyusun jadwal kunjungan, tim penyelamatan kredit sebaiknya membuat daftar kunjungan rutin terhadap debitur bermasalah. Hal ini dilakukan agar petugas dapat memantau perkembangan debitur. 2. Penulis sering mendapat hambatan ketika melaksanakan pekerjaan dengan menggunakan sistem OLIBS. Kendala yang dihadapi adalah masalah kecepatan akses jaringan. Proses pekerjaan menjadi lambat karena sering rusaknya jaringan OLIBS.

31

BAB IV ISTILAH PERBANKAN 1. Bank adalah suatu lembaga perantara yang dipercaya untuk menghimpun dana dari masyarakat yang kelebihan dana dan meyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan dana melalui fasilitas kredit guna mendorong pembangunan perekonomian. 2. Agunan adalah hak dan kekuasaan atas barang bergerak maupun tidak bergerak baik berwujud maupun tidak berwujud yang diserahkan oleh debitur kepada Bank, guna menjamin pelunasan hutangnya. 3. Taksasi adalah suatu taksiran terhadap nilai (value) suatu barang secara wajar. 4. Nilai Agunan adalah nilai yang wajar suatu agunan yang diserahkan oleh debitur pada bank sehingga apabila terjadi penjualan / pelelangan terhadap barang agunan, hasilnya akan dapat melunasi kredit beserta bunganya dan kewajiban lainnya. 5. Insurable adalah suatu barang yang dapat dipertanggungkan kepada perusahaan Asuransi. 6. Saleable/Marketable adalah suatu barang yang mempunyai nilai jual cepat/mudah dipasarkan dengan segera. 7. Cessie adalah penyerahan piutang atas nama yang dilakukan dengan cara membuat akta otentik yang disetujui oleh pihak tertagih. 8. Borgtocht adalah suatu persetujuan dengan mana seorang pihak ketiga, untuk kepentingan kreditur mengikat diri untuk memenuhi kewajiban si debitur apabila debitur tersebut lalai/tidak memenuhi kewajibannya. 9. Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. 10. Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang

32

merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan hutang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain. 11. Bank Garansi adalah jaminan bank yang diberikan kepada nasabah sebagai pihak yang dijamin (terjamin) untuk memenuhi suatu kewajiban apabila yang dijamin dikemudian hari melakukan wanprestasi terhadap pihak penerima jaminan atas sesuatu yang telah diperjanjikan. 12. Fraud Risk adalah suatu resiko yang dihadapi bank karena kerugian akibat adanya ketidak jujuran, penipuan atau perilaku yang tidak baik lainnya yang dilakukan nasabah, karyawan, pejabat bank dan lain sebagainya. 13. Kolektibilitas adalah keadaan tentang kelancaran atau kemungkinan pembayaran angsuran pinjaman pokok dan bunganya. 14. Kliring adalah suatu tata cara perhitungan hutang piutang dalam bentuk suratsurat dagang dan surat-surat berharga dari suatu bank terhadap bank lainnya dengan maksud agar penyelesaiannya dapat terselenggara dengan mudah dan aman, serta untuk memperluas dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral. 15. Properti Terbengkalai (Abondoned Property) adalah aktiva tetap dalam bentuk properti yang dimiliki Bank tetapi tidak digunakan untuk kegiatan usaha Bank yang lazim. 16. Inkaso adalah Pengiriman dokumen berharga untuk di tagihkan pembayarannya kepada pihak tertagih, yaitu pihak yang menerbitkan dokumen berharga tersebut. 17. Surat Berharga adalah surat pengakuan utang, wesel, obligasi, sekuritas kredit, atau setiap derivatifnya, atau kepentingan lain, atau suatu kewajiban dari penerbit, dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang. 18. Cash Loan adalah suatu bentuk kredit yang memungkinkan nasabah menarik dana tunai secara langsung tanpa adanya persyaratan khusus, seperti kredit investasi dan kredit modal kerja. 19. Credit Risk adalah resiko yang dihadapi bank karena menyalurkan dananya dalam bentuk pinjaman kepada masyarakat. Karena berbagai sebab, debitur mungkin

33

saja menjadi tidak memenuhi kewajibannya kepada bank seperti pembayaran pokok pinjaman, pembayaran bunga, dan lain-lain. 20. Liquidity Risk adalah resiko yang dihadapi oleh bank dalam rangka memenuhi kebutuhan likuiditasnya.

34