Anda di halaman 1dari 3

ANAK BELAJAR DARI KEHIDUPANNYA

Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan Jika anak dibesarkan dengan kebenaran dan keadilan Jika anak dibesarkan dengan kepercayaan Jika anak dibesarkan dengan cinta dalam kehidupan Jika anak dibesarkan dengan pikiran

celaan, ia belajar memaki permusuhan, ia belajar berkelahi ketakutan, ia belajar gelisah rasa iba, ia belajar menyesali diri olok-olok, ia belajar rendah diri iri hati, ia belajar kedengkian dipermalukan, ia belajar merasa bersalah dorongan, ia belajar percaya diri toleransi, ia belajar menahan diri pujian, ia belajar menghargai penerimaan, ia belajar mencintai dukungan, ia belajar menyenangi diri pengakuan, ia belajar mengenali tujuan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar rasa aman, ia belajar menaruh persahabatan, ia belajar menemukan ketentraman, ia belajar berdamai dengan

Dorothy Law Nolte

Berapa banyak kata-2 negatif yang diterima anak setiap harinya?


Displaying all 2 posts.

Dian Suatu hari seorang anak diantar kedua orangtuanya datang ke ruang praktek saya untuk konsultasi. Ayah anak tersebut dengan lantangnya di dapan anaknya bercerita: Bu, tolong anak saya. Saya sudah pusing menghadapinya. Anak saya ini (maaf) bodoh dan goblog sekali. Tidak seperti kakak dan adiknya yang selalu juara kelas, dan saya sekarang dapat peringatan dari sekolahnya kalau anak saya ini bakal tinggal kelas. Saya pusing busudah saya kasih les di rumah dengan manggil guru ke rumah tapi tetap aja dia g.bl.g. Saya sempat merinding dan istigfar waktu si ayah menceritakan mengenai kondisi anaknya dan merasa kasihan melihat si anak mendengarkan kata-kata ayahnya. Pertama-tama saya lakukan tes IQ bagi anak, untuk mengetahui mental anak tersebut. Dan ternyata IQ anak tersebut berada di atas rata-rata (kok aneh ya..anak dengan IQ setinggi itu bisa dapat peringatan tidak akan naik kelas). Kemudian saya ajak anak tersebut untuk dialog, dan si anak ternyata benar-nenar memiliki konsep diri yang negative terhadap dirinya sendiri. Ketika saya tanya, apa kesulitannya dalam menghadapi pelajaran, si anak menjawab: Tante, saya kan bodohjadi orang bodoh kan gak mungkin bisa pinter dan bisa belajar. Benar-benar penilaian terhadap diri sendiri yang negative. Bagaimana dia bisa belajar dengan baik, kalau dia sendiri tidak yakin akan kemampuan yang dimilikinya. Akhirnya kita lakukan terapi untuk memperbaiki konsep diri yang salah pada diri anak tersebut. Tapi tidak hanya anak yang kita terapi, orangtua juga ikut kita terapi agar merubah caranya dalam menghadapi anak. Selain itu saya juga minta pihak sekolah untuk memberi kesempatan pada anak untuk tetap naik kelas dengan percobaan 3 bulan dan minta dukungan sekolah juga dalam memperbaiki konsep diri si anak. Dan Alhamdulillahsetelah 6 bulan saya mendapat kabar bahwa anak tersebut masuk 10 besar di kelasnya. Nahapa yang sebenarnya terjadi ? Kita semua sebenarnya dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang tidak pernah terpuaskan, dan kita semua mempunyai alatalat yang kita perlukan untuk memuaskannya. Coba kita perhatikan seorang bayi yang meneliti dengan seksama sebuah maninan barunya. Ia memasukkannya ke mulut untuk mengetahui rasanya, kemudian digoyangkannya, diangkat, diputar dan sekali-sekali dijatuhkannya. Proses penelitian yang dilakukan bayi ini disebut belajar secara menyeluruh (global learning). Global Learning merupakan cara efektif dan alamiah bagi seorang manusia untuk mempelajari bahwa otak seorang anak hingga usia 6 atau tujuh tahun adalah seperti spon, menyerap berbagai fakta, sifat-sifat fisik, dan kerumitan bahasa yang kacau dengan cara yang menyenangkan dan bebas stress. Proses ini juga ditambah dengan factor-faktor umpan balik positif dan rangsangan dari lingkungan, dan kita telah menciptakan kondisi sempurna untuk belajar apa saja. Coba perhatikan seorang anak yang baru belajar berjalan. Ini suatu proses yang sebenarnya cukup rumit baik secara fisik maupun mental yang hampir-hampir mustahil untuk dijelaskan dengan kata-kata atau diajarkan tanpa mendemonstrasikannya. Tapi, si anak dapat melakukannya walau berkali-kali terjatuh dan tersandung, dan anak tidak pernah merasa gagal ketika tersandung. Mengapa begitu? Coba kita ingat, sebagai orang dewasa, beberapa kasus ketika kita menyerah mempelajari sesuatu setelah satu atau dua kali gagal. Jadi, mengapa pada saat belajar berjalan kita mencoba dan mencoba lagi sampai akhirnya bisa berjalan? Hal itu terjadi karena pada saat kita kecilkita tidak mengenal konsep mengenai kegagalan. Orangtua selalu meyakinkan kita bahwa kita bisa terus melakukannya dan mereka terus mendampingin kita dan mendorong kita untuk terus belajar berjalan. Setiap keberhasilan selalu diakhiri dengan kegembiraan yang memompa diri dan semangat kita untuk lebih berhasil. Lalu suatu hari, pada saat kita mulai masuk sekolah, di ruang kelas guru menanyakan suatu pertanyaan pada kita, dan dengan antusias kita menjawab pertanyaan tersebut. Tapi apa yang terjadi? Teman-teman sekelas mentertawakan jawaban kita dan guru tokoh yang kita anggap penting pada saat itu berkata:jawaban kamu salahibu tidak mengerti

kenapa kamu tidak bisa menjawab dengan benar pertanyaan semudah itu. Saat itu kita akan merasa malu sekali. Keyakinan kita terguncang dan benih-benih keraguan mulai tertanam dalam jiwa kita. Bagi sebagian orang, inilah awal terbentuknya citra negative diri. Dan sejak itu belajar menjadi tugas yang sangat berat dan tidak menyenangkan.

Pada Tahun 1982, Jack Canfield, pakar masalah kepercayaan diri melakukan penelitian terhadap seratus orang anak. Tugas periset untuk mencatat berapa banyak komentar positif dan komentar negative yang diterima seorang anak setiap harinya. Dan hasil dari penemuan Canfield adalah bahwa setiap anak rata-rata menerima 460 komentar negative atau kritik dan hanya 75 komentar positif atau mendukung yang diterimanya. Jadi, komentar negative enam kali lebih banyak dibandingkan komentar positif. Umpan balik yang kontinyu ini sangat berbahaya. Dan setelah beberapa tahun bersekolah, kemandekan belajar yang sesungguhnya benar-benar terjadi, dan secara tidak sadar anak-anak menghalangi/menutupi pengalaman belajar mereka.
Dan setelah lulus dari sekolah dasar, kata belajar itu sendiri bisa membuat murid merasa tegang dan terbebani. Umpan balik negative ini tidak hanya didapatkan anak di luar lingkungan rumah, di rumahdi tempat yang seharusnya anak meradakan kenyamanan, umpan balik negative ini juag didapatkannya dari orangtua/keluarga yang seharusnya membantu dan mendukungnya. Sebagai contoh, banyak orang tua yang merasa jengkel pada kelakuan anaknya dan menyebut anaknya dengan pemalas, nakal, bandel, dll. Mudah-mudahan kita selalu diingatkan untuk terus mendukung anak-anak kita tercinta dan sedikit demi sedikit membiasakan diri untuk tidak memberikan umpan negative pada anak-anak kita dengan julukan-julukan yang tidak mendukung. Ada pepatah yang mengatakan, apa yang kita katakan/ucapkan pada anak-anak kita, adalah doa kita terhadapnya. Mulai sekarang, kita introspeksidan mulai membiasakan diri untuk memberikan umpan-umpan positif pada anak dan terus memberikan dukungan. Pada saat anak mengalami suatu kegagalan, bantu anak untuk bisa segera pulih dari kekecewaannya dan yakinkan anak untuk tidak takut mencoba dan mencoba lagi. Kegagalan bukan untuk ditakuti, tapi dari kegagalan kita bisa mengambil hikmah dan mencoba cara lain yang mungkin lebih baik.