Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

A. Acara

: Pembuatan Formula Enteral Instan

B. Hari / Tanggal : Rabu / 22 Desember 2010 C. Tujuan :

Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu : 1. Memilih berbagai bahan makanan yang berkualitas baik untuk menyusun formula enteral instan dari BMC 2. Mengenal berbagai macam formula enteral berdasarkan kebutuhan klinis pasien 3. Menyusun diatas kertas berbagai makanan untuk digunakan sebagai BMC berdasarkan golongan sasaran 4. Mengeringkan bahan makanan sehingga didapatkan produk tepung dan kering 5. Mengolah BMC menjadi formula enteral instan

BAB II METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan 1. Pisau 1 buah 2. Timbangan 1 buah 3. Talenan 1 buah 4. Panci 1 buah 5. Kompor 1 buah 6. Ayakan 1 buah 7. Oven 1 buah B. Cara kerja a. Membuat tepung formula enteral Tepung beras, telur ayam ras, tahu, wortel, minyak kelapa sawit, gula pasir, madu, jeruk manis Menimbang bahan sesuai takaran 8. Food processor 1 buah 9. Loyang 1 buah 10. Pips NGT 1 buah 11. Blender 1 buah 12. Gelas 2 buah 13. Bahan formula enteral () 14. Pan enteral

Merebus wortel, telur dan tahu

Mencampurkan semua bahan dalam blender sampai halus

Mengeringkan menggunakan oven dengan menaruh hasil campuran yang halus ke dalam loyang dan ratakan

Mengambil hasil bahan yang sudah kering dari loyang 2

Memasukkan bahan yang sudah kering ke dalam processor sampai menjadi tepung

Tepung yang sudah jadi di ayak hingga didapatkan hasil tepugn yang benar benar halus

b. Membandingkan formula enteral dan komersial

Hepatosol, diabetasol, nephrisol, panenteral, proten

Tepung BMC

Melarutkan pada 250 ml air hangat Melihat sifat organoleptik keduanya

Membandingkan nilai gizi

Menguji kesukaan

Membahas hasil

c. Uji viskositas

Hepatosol, diabetasol, nephrisol, panenteral, proten

Tepung BMC

Melarutkan pada 250 ml air hangat Memasukkan ke dalam pipa Naso Gastric Tube (NGT)

Mengamati

Membahas hasil

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Tabel 1.1 Tabel hasil pengamatan formula enteral Uji organoleptik Organoleptik Warna Aroma Rasa Bentuk Sifat Formula enteral Coklat tua, kalo didiamkan ada endapan Seperti cengkaeh Seperti kopi tidak dikasih gula Cair Cair Formula enteral komersial Putih Vanili Manis Cair Sedikit kental

Tabel 1.2 Tabel hasil pengamatan nilai gizi dalam 100 gr Nilai gizi Energi (kcal) Protein (g) Formula enteral 205 5,825 Formulasi enteral komersial 200 6,12

Lemak (g) Karbohidrat (g)

5,075 36,25

10,28 21,81

Tabel 1.3 Tabel uji viskositas Dapat melalui pipa Ya Tidak Ya

B. Pembahasan Makanan enteral merupakan makanan yang diberikan pada pasien melalui oral atau pipa (sonde) selama saluran pencernaan pasien masih berfungsi dengan baik. Tingginya kasus malnutrisi pada pasien rawat inap di beberapa rumah sakit menyebabkan makanan enteral memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan. Pengembangan formula makanan jenis ini sangat potensial karena selain jumlah permintaan yang cukup tinggi, makanan enteral dapat dibuat dengan memanfaatkan bahan lokal yang tersedia (Khasanah, 2010) Keuntungan dari enteral itu sendiri adalah fisiologis, menyediakan fungsi kekebalan, menyediakan fungsi pertahanan usus, tidak mahal dibandingkan TPN, meningkatkan aliran s. planchnic yang melindungi dari cedera iskemik atau reperfusi, tersedia apabial rute enteral merupakan kontraindikasi, dapat meningkatkan asupan bila orang tidak adekuat penuh kurang dari 24 jam, sedikit kontraindikasi. Sedangkan kerugian dari enteral adalah membutuhkan waktu untuk mencapai sokongan yang utuh, tergantung fungsi saluran cerna, kontradiksi pada obstruksi intestinal, ketidakstabilan hemodinamik :output tinggi pada fistula enterokutaneus, diare berat, berhubungan dengan atropi jaringan limfoid sistem digestif,

morbiditas septic yang meningkat, memberikan dukungan tumbuhnya bakteri, translokasi mikroorganisme pada sirkulasi portal (Escallon, 2003). Komponen yang dibuat pada kelompok ini terdiri dari tepung beras sebagai sumber karbohidrat, telur ayam ras sebagai sumber protein hewani, tahu sebagai sumber protein nabati, wortel sebagai karbohidrat, minyak kelapa sawit sebagai sumber lemak, gula pasir, madu, jeruk manis sebagai sumber vitamin. Semua ini sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mencukupi kebutuhan nilai gizi enteral sonde lengkap. Hasil formula enteral yang sudah dibuat dibandingkan oleh formula enteral komersial. Nilai gizi formulasi enteral yang dibuat mengandung 205,3 kkal energi, protein sebesar 5,825 gr, lemak sebesar 5,075 gr, dan karbohidrat 36,25 gr. Nilai tersebut cukup memenuhi ketentuan sonde lengkap yang harus memenuhi kebutuhan nilai gizi sebesar 200 kkal untuk energi, protein sebesar 5,6 gr, lemak sebesar 4,8 gr, dan karbohidrat 33,6 gr hanya memiliki selisih sedikit pada masing masing nilai gizi. Pada kali ini formula enteral komersial yang digunakan adalah Pan Enteral. Formula enteral komersial yang digunakan adalah Pan enteral. Pan enteral adalah formula nutrisi lengkap untuk oral dan tube feeding dengan rasa vanilla. Komposisi dari pan enteral itu sendiri adalah setiap bungkusnya memiliki berat 40 gr yang mengandung energi sebesar 200 kkal, protein 6,12 gr, karbohidrat 21,81 gr, lemak 10,28 gr, dan mengandung vitamin dan mineral. Dosis yang dianjurkan adalah untuk dewasa 1 saset dilarutkan dalam 200 ml air, diberikan 8-10 kali/hari. Untuk anak : hari 1 :1/2 saset dilarutkan dalam 200 mL air, hari kedua dan seterusnya : 1 saset dilarutkan dalam 200 ml air diberikan 6-8 kali/hari. Untuk bayi : hari 1 :1/3 saset dilarutkan dalam 200 mL air, hari kedua dan seterusnya : 1 saset dilarutkan dalam 200 ml air diberikan 3-5 kali/hari (Anonim, 2010) Dari kedua nilai gizi diatas, ada sedikit selisih pada nilai energy, pada nilai energy formula enteral sebesar 205,3 kkal sedangkan untuk nilai energy formula enteral komersial sebesar 200 kkal. Nilai protein ada selisih, untuk nilai protein formula enteral yang dibuat sebesar 5,825 gr sedangkan nilai protein formula enteral komersial sebesar 6,12 gr. Menurut ketentuan sonde lengkap nilai protein yaitu sebesar 5,6 gr. pada nilai lemak, nilai lemak formula enteral komersial lebih tinggi yaitu sebesar 10,28 gr sedangkan untuk nilai lemak formula enteral yang dibuat sebesar 5,075. Menurut ketentuan sonde lengkap nilai lemak yaitu sebesar 4,8 gr. Nilai karbohidrat tertinggi pada formula enteral yang dibuat yaitu sebesar 36,25 gr sedangkan untuk nilai karbihidrat pada formula enteral komersial yaitu sebesar 21, 81 gr. Menurut ketentuan sonde lengkap nilai karbohidrat yaitu sebesar 33,6 gr 6

Dari hasil uji organoleptik, formula enteral yang dibuat memiliki warna coklat tua. Warna coklat tua didapatkan dari hasil semua bahan yang digunakan dalam pembuatan tepung yang dipanaskan didalam oven selama kurang lebih satu jam, sehingga berefek warnanya jadi coklat tua. Selain itu jika didiamkan akan ada endapan minyak, hal itu dikarenakan pada bahan dasar pembuatan tepung adalah minyak yang tidak dapat menyatu dengan air. Rasa pahit didapatkan dari campuran berbagai bahan yang notebene tidak semuanya manis sehingga pada hasil akhir menjadi sedikit pahit. Aromanya adalah seperti cengkeh, hal ini dikarenakan bahan yang digunakan dalam pembutan tepung tidak terlalu menyengat dan memiliki bau yang tidak terlalu khas jadi aroma tepung yang dihasilkan menjadi sedikit harum seperti cengkeh. Bentuk cair dan teksturnya cair sehingga bisa dilewati melalui pipa NGT. Pada uji organoleptik pada formulasi enteral komersial warnanya putih, aroma vanilla, rasa manis, bentuk cair, dan tekstur sedikit kental namun bisa dilewati melalui tabung NGT. Penambahan aroma vanilla dapat mempengaruhi warna, rasa dan aroma sehingga memiliki penampakan yang lebih baik dibandingkan formula enteral yang dibuat tanpa ada penambahan rasa. Emulsifier juga mempengaruhi penampakan warna dari formula enteral komersial itu sendiri sehingga tidak seperti formula enteral yang dibuat terdapat endapan minyak diatasnya. Emulsifier adalah zat yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi, yaitu campuran 2 zat yang tidak mudah untuk saling bercampur seperti air dan minyak. Tanpa penambahan zat ini (emulsifier), emulsi/campuran menjadi kurang stabil dan mudah terpisah (Andriani, 2007) Formula enteral yang sudah dilarutkan dan formula enterla komersial yang sudah dilarutkan masing masing dimasukkan ke dalam tabung NGT dan keduanya sama sama bisa melewati tabung NGT. Hal itu berarti keduanya memiliki viskositas yang rendah atau bisa dikatakan encer. Faktor faktor yang mempengaruhi viskositas itu sendiri adalah besarnya partikel bubuk formulasi enteral yang dihasilkan, karena keduanya berupa bubuk yang halus sehingga setelah dilarutkan dan dimasukkan ke dalam tabung NGT tidak akan mengendap dan dapat melewati tabung NGT dengan lancar. Endapan juga bisa mempengaruhi viskositas, apabila formulasi enteral yang sudah dilarutkan banyak endapan secara langsung bisa menghambat jalannya larutan di dalam tabung NGT. Tabel 1.4 Tabel uji kesukaan terhadap formula enteral yang dibuat Nama mahasiswa Uji kesukaan 7

1 Levi Sonia Riska Ira Keterangan : 1 : amat sangat suka 2 : sangat suka 3 : suka 4 : agak tidak suka 5 : tidak suka

Tabel 1.4 Tabel uji kesukaan terhadap formula enteral yang dibuat Nama mahasiswa Levi Sonia Riska Ira Uji kesukaan 1 2

Keterangan : 1 : amat sangat suka 2 : sangat suka 3 : suka

4 : agak tidak suka 5 : tidak suka

Pada uji kesukaan terhadap kedua formula enteral, untuk uji kesukaan formula enteral yang dibuat ke empat orang yang telah mengkonsumsi formula enteral, kesemuanya tidak suka sedangkan pada uji kesukaan terhadap formula enteral komersial ke empat orang yang sudah mencoba, kesemuanya merasa suka. Hal in dikarenakan pada formula enteral komersial sudah ditambah aroma vanilla dan manis sehingga rasanya lebih enak dan memiliki kenampakan yang lebih baik dibanding formula enteral yang dibuat karena tidak tidak ditambah penambah aroma dan memiliki kenampakan yang baik.

BAB IV KESIMPULAN

1. 2.

Bahan yang digunakan untuk menyusun BMC harus bernilai gizi tinggi selain itu Macam macam formula enteral adalah diabetasol untuk sonde diabetes mellitus

juga disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi sonde lengkap, dapat diterima citarasanya. diberikan pada pasien diabetes mellitus, pan enteral untuk sonde lengkap, hepatosol diberikan untuk pasien penderita hepatitis, nephrisol diberikan untuk pasien penderita gangguan ginjal, dan proten untuk pasien penderita kurang energy protein dan mempercepat penyembuhan. 3. Komponen yang dibuat pada kelompok ini terdiri dari tepung beras sebagai sumber karbohidrat, telur ayam ras sebagai sumber protein hewani, tahu sebagai sumber protein nabati, wortel sebagai karbohidrat, minyak kelapa sawit sebagai sumber lemak, gula pasir, madu, jeruk manis sebagai sumber vitamin. 4. Semua bahan yang ditentukan untuk menjadi formula enteral mengalami proses pengeringan dengan cara pengovenan untuk mendapatkan hasil yang kering sehingga hasil akhirnya menjadi tepung. 5. Tepung yang sudah jadi dilarutkan dalam air hangat untuk disajikan.

10

DAFTAR PUSTAKA Andriani, Ria. 2007. Bahan kue tambahan. Diakses dari http://kamusdapurku.blogspot.com pada tanggal 29 Desember 2010 Anonim. 2010. Pan enteral. Diakses dari http://www.otsuka.co.id/ pada tanggal 28 Desember 2010 Escallon Jetal. Nutrition in critical care. In:McCamish Metal, editors. Anintegrated approach to patient total nutritional therapy. 2nd ed. Penn-sylvania : Elsevier ; 2003. P. 117 28 Khasanah, Yuniar. 2010. Karakteristik Gizi Makanan Enteral dari Bahan Pangan Lokal. Diakses dari http://www.lipi.go.id pada tanggal 28 Desember 2010

11