Anda di halaman 1dari 19

BAB I KASUS

Sesosok mayat bayi ditemukan di suatu tempat sampah. Masyarakat melaporkannya kepada polisi. Mereka juga melaporkan bahwa semalam mereka melihat seorang perempuan yang menghentikan mobilnya di dekat tempat sampah dan berada disana cukup lama. Seorang dari anggota masyarakat sempat mencatatnomor mobil perempuan tersebut. Polisi mengambil mayat bayi tersebut dan menyerahkannya kepada anda sebagai dokter direktur rumah sakit. Polisi juga menyatakan bahwa sebentar lagi si perempuan yang dicurigai sebagai pelakunya akan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Anda harus mengatur segalanya agar semua pemeriksaan dapat berjalan drngan baik dan membreafing para dokter yang akan menjadi pemeriksa.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


I. KETERANGAN AHLI Keterangan dokter untuk membuat keterangan ahli telah diatur dalam pasal 133 KUHAP. Keterangan ahli ini akan dijadikan sebagai alat bukti yang sah di depan siding peradilan (pasal 184 KUHAP). Pengertian Keterangan Ahli adalah sesuai dengan pasal 1 butir 28 KUHAP : Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Sehubungan dengan pengertian diatas dapatlah dikemukakan beberapa hal penting : A. Pihak Yang Berwenang Meminta Keterangan Ahli Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1) yang berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli adalah penyidik. Penyidik pembantu juga mempunyai wewenang tersebut sesuai dengan pasal 11 KUHAP. Adapun yang termasuk dalam kategori penyidik menurut KUHAP pasal 6 ayat (1) jo PP 27 tahun 1983 pasal 2 ayat (1) adalah Pejabat Polisi Negara RI yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang dengan pangkat serendah-rendahnya Pembantu Letnan Dua. Sedangkan penyidik pembantu berpangkat serendah-rendahnya Sersan Dua. Dalam PP yang sama disebutkan bahwa bila penyidik tersebut adalah pegawai negeri sipil, maka kepangkatannya adalah serendah-rendahnya golongan II/b untuk penyidik dan II/a untuk penyidik pembantu. Bila di suatu Kepolisian Sektor tidak ada pejabat penyidik seperti diatas, maka Kepala Kepolisian Sektor yang berpangkat bintara di bawah Pembantu Letnan Dua dikategorikan pula sebagai penyidik karena jabatannya (PP 27 tahun 1983 pasal 2 ayat (2)). B. Pihak Yang Berwenang Membuat Keterangan Ahli

Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1) yang berwenang melakukan pemeriksaan forensic yang menyangkut tubuh manusia dan membuat Keterangan Ahli adalah dokter ahli kedokteran kehakiman (forensik), dokter dan ahli lainnya. C. Prosedur Permintaan Keterangan Ahli Permintaan Keterangan Ahli oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis, dan hal ini secara tegas telah diatur dalam KUHAP pasal 133 ayat (2), terutama untuk korban mati. Jenasah harus diperlakukan dengan baik, diberi label identitas dan penyidik wajib memberitahukan dan menjelaskan kepada keluarga korban mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan . Mereka yang menghalangi pemeriksaan jenasah untuk kepentingan pengadilan diancam hukuman sesuai dengan pasal 222 KUHP. D. Penggunaan Keterangan Ahli Penggunaan keterangan ahli dalan hal ini Visuk Et Repertum adalah untuk keperluan pengadilan. Oleh karena itu, Keterangan Ahli ini hanya boleh diberikan kepada penyidik (instansi) yang memintanya II. VISUM ET REPERTUM Visum Et Repertum adalah keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan dibawah sumpah, untuk kepentingan peradilan. A. Peranan Dan Fungsi Visum Et Repertum Visum Et Repertum adalah salah satu alat bukti yang sh sebagaimana tertulis dalam pasal 184 KUHAP. Berperan juga dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. B. Jenis Dan Bentuk Visum Et Repertum

Dalam konsep Visum Et Repertum di atas, dikenal beberapa jenis Visum Et Repertum, yaitu: Visum Et Repertum perlukaan (termasuk keracunan) Visum Et Repertum kejahatan susila Visum Et Repertum jenasah Visum Et Repertum psikiatrik

Visum Et Repertum terdiri dari 5 bagian yang tetap, yaitu : 1. Pro Justitia Diletakkan di bagian atas. Kata ini untuk menjelaskan bahwa Visum Et Repertum ini khusus dibuat untuk tujuan peradilan. 2. Pendahuluan Bagian ini menerangkan nama dokter pembuat visum dan institusinya, instansi penyidik pemintanya berikut nomor dan tanggal surat permintaannya, tempat dan waktu pemeriksaan, serta identitas korban yang diperiksa. 3. Pemberitaan Bagian ini berisi hasil pemeriksaan medik tentang keadaan kesehatan atau sakit atau luka korban yang berkaitan dengan perkaranya, tindakan medik yang dilakukan serta keadaannya selesai pengobatan/perawataan. 4. Kesimpulan Berisi pendapat dokter berdasarkan keilmuannya, menganai jenis perlukaan/cedera yang ditemukan dan jenis kekerasan atau zat penyebabnya, serta derajat perlukaan atau sebab kematiannya. 5. Penutup Berisikan sumpah dokter yang menanganinya Demikianlah Visum Et Repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. III. TANATOLOGI

Tanatologi adalah bagian ilmu kedokteran forensik yang mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Dalam tanatologi ada beberapa istilah tentang mati, yaitu : Mati Somatis (mati klinis), terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga system penunjang kehidupan yaitu susunan saraf pusat, sirkulasi dan respirasi yang menetap. Mati Suri, terhentinya ketiga system tersebut yang ditentukan dengan alat kedokteran yang sederhana. Dengan alat yang canggih masih terbukti bahwa fungsi tersebut masih berfungsi. Mati Seluler, kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian somatik. Mati Serebral, kerusakan kedua hemisfer otak yang menetap kecuali batang otak dan serebelum, sehingga system respirasi dan sirkulasi masih berfungsi dengan bantuan alat (vegetatif) Mati Otak (batang otak), terjadi kerusakan batang otak dan serebelum. Dapat dikatakan pasien tidak hidup lagi dan alat dapat dihentikan. Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenali secara klinis pada seseorang berupa tanda kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat A. Tanda Kematian Tidak Pasti - Pernafasan berhenti - Terhentinya sirkulasi - Kulit pusat - Tonus otot menghilang dan relaksasi - Segmentasi pembuluh darah retina - Pengeringan kornea B. Tanda Pasti Kematian - Lebam mayat (livor mortis)

Setelah kematian eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya gravitasi, membentuk bercak warna merah ungu pada bagian terbawah tubuh. - Kaku mayat (rigor mortis) Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi ini dibutuhkan untuk mengubah ADP menjadi ATP. - Penurunan suhu (algor mortis) Hal ini terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke benda yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi, dan konveksi. - Pembusukan (decomposition, putrefaction) Hal ini adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis dan kerja bakteri - Adiposera (lilin mayat) Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak atau berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati. - Mummifikasi Hal ini adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan IV. PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI(1) Yang dimaksud dengan pembunuhan anak sendiri menurut undang-undang ialah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak.

Pembunuhan anak sendiri terdapat dalam KUHP bab kejahatan terhadap nyawa orang. Pasal 341. Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama 7 tahun. Pasal 342. Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan kaena takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat akan dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun. Pasal 343. Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang lain yang turut serta melakukan sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana. Dapat ditarik 3 faktor penting berdasarkan bunyi undang-undang di atas, yaitu: Ibu. Hanya ibu kandung yang dapat dihukum karena melakukan pembunuhan anak sendiri. Status perkawinan tidak dipersoalkan. Waktu. Tidak disebutkan batasan waktu yang jelas dalam undang-undang. Dapat dianggap pada saat belum timbul rasa kasih saying seorang ibu pada anaknya. Sebab bila telah timbu rasa kasih saying maka ibu tersebut akan merawat dan bukan membunuhnya. Psikis. Ibu membunuh anaknya karena terdorong oleh rasa takut kelahiran anaknya akan diketahui orang. Bila ditemukan mayat bayi di tempat yang tidak semestinya, seperti di tempat sampah, got, sungai dan sebagainya, maka kemungkinan bayi tersebut merupakan korban pembunuhan anak sendiri, pembunuhan, lahir mati kemudian dibuang, atau bayi yang ditelantarkan sampai mati. Seperti yang diterangkan dalam pasal-pasal berikut ini.:

Pasal

181.

Barang

siapa

mengubur,

menyembunyikan,

membawa

lari

atau

menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

kematian atau

kelahirannya, diancam dengan pidana penjara selama 9 bulan atau pidana denda

Pasal 308. Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya, tidak lama sesudah melahirkan, menempatkannya untuk ditemukan atau meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri dari padanya, maka maksimum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh. Untuk memenuhi kriteria pembunuhan anak sendiri, dengan sendirinya bayi tersebut harus dilahirkan hidup setelah seluru tubuhnya keluar dari tubuh ibu. Bila bayi lahir mati kemudian dilakkan tindakan membunuh, maka hal ini bukan merupakan pembunuhan anak sendiri maupun pembunuhan, dan tidak dipersoalkan apakah bayi cukup bulan atau belum, viable maupun non-viable.

BAB III PEMBAHASAN


I.ASPEK HUKUM DAN MEDIKOLEGAL 2,3 Dari kasus ini untuk melakukan pemeriksaan kedokteran forensik dan pembuatan visum et repertum baik terhadap mayat bayi maupun pemeriksaan terhadap orang yang diduga sebagai tersangka,kita sebagai dokter memerlukan permintaan tertulis dari pihak penyidik.Sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 133 KUHAP .Dan wewenang penyidik ini diperkuat dengan kewajiban dokter yang diatur dalam pasal 179 KUHAP apabila dokter menolak maka akan dikenakan sanksi pasal 216 dan 224 KUHAP. Dalam memecahkan masalah-masalah hukum penyidik membutuhkan bantuan dari dokter sebagi pembari keterangan ahli yang kemudian akan dituangkan dalam visum et repertum,yang kemudian akan digunakan sebagai alat bukti yang sah dalam persidangan. Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1) yang berwenang melakukan pemeriksaan forensic yang menyangkut tubuh manusia dan membuat Keterangan Ahli adalah dokter ahli kedokteran kehakiman (forensik), dokter dan ahli lainnya. Dalam pembuatan visum et repertum dapat mengikutsertakan beberapa dokter yang memang dibutuhkan dalam pemeriksaan. Kasus diatas diduga berhubungan dengan kasus pembunuhan anak sendiri,atau hubungan dengan tindak pidana yang menyangkut anak yang baru dilahirkan, Perbedaan yang mendasar adalah adalah pada pembunuhan anak sendiri anak belum diberi perawatan kemudian dibunuh oleh ibu kandungnya sesaat setelah dilahirakan ataupun saat dilahirkan dengan alas an ibu ini takut ketahuan telah melahirkan anak tersebut.Dalam hal ini ada 3 aspek penting yakni faktor: 1.Ibu kandungpembunuhan dilakukan oleh ibu kandung 2.Tenggang waktu -saat dilahirkan atau sesudah dilahirkan -lahir hidup atau mati,dan -sudah diberi perawatan atau belum

3.Psikis Sedangkan pada kasus tindak pidana yang berhubungan dengan anak yang baru dilahirkan, si ibu sengaja meninggalkan anak tanpa membunuhnya meskipun mungkin si anak dapat pula meninggal jika ditinggalkan begitu saja dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk dia bertahan hidup. Anak juga bisa sudah dirawat baru ditinggalkan,dalam arti sudah diberi pakaian,dibersihkan,ataupun tidak. Untuk itu harus dibuktikan lewat pemeriksaan yang ada dan si Pelaku dalam hal ini adalah ibu dari anak ini ditindak berdasarkan undang-undang yang berlaku. Pasal-pasal yang mengatur hal-hal yang tersebut di atas adalah: a.Pembunuhan Anak Sendiri: Pasal 341,342,dan 343 KUHP b.Tindak pidana lain yang berhubungan dengan anak yang baru dilahirkan:Pasal 181, 305,306,dan 308 KUHP II. PEMERIKSAAN UNTUK MAYAT BAYI Hal-hal yang perlu ditentukan dari autopsi : 1. Apakah bayi baru dilahirkan dan belum dirawat 2. Apakah viable dan non viable 3. Usia bayi dalam kandungan 4. Lahir hidup atau mati 5. Bila terbukti lahir hidup dan telah dirawat.berapa jam/hari usua bayi tersebut 6. Sebab mati Untuk kepentingan hukum,pada hakekatnya yang perlu dijawab adalah : 1. Apakah bayi baru dilahirkan dan belum dirawat 2. Apakah benar lahir hidup 3. Apakah penyebab kematian bayi tersebut

LANGKAH PEMERIKSAAN A. Pemeriksaan Luar 1. Bayi cukup bulan,prematur,atau non viable 2. Kulit 3. Tali pusat 4. Kepalaada kaput seksudanium,molase tulang tengkorak 5. Tanda kekerasantanda pembekapan,pencekikan,memar,lecet 6. Mulutbenda asing,robekan di palatum mole 7.Lehertanda penekanan,resapan darah 8. Rongga dada 9. Tanda asfiksiaTardieus spot 10. Tulang belakangtanda kekerasan,kelainan kongenital 11. Pusat penulangan B.Untuk menentukan bayi lahir sudah dirawat atau belum dilihat dari: 1. Tidak berpakaian 2. Berlumuran darah dan lendir 3. Verniks caseosa/lemak bayi pada dahi,leher,lipat ketiak,lipat lengan/lutut,bokong. 4. Tali pusat masih berhubungan dengan placenta,terpotong tepi tidak rata, tidak diikat 5. Periksa adanya mekonium atau tahi gagak C. Untuk menentukan usia bayi dalam kandungan Rumus De Haase: ukur panjang bayi lalu gunakan rumus (Panjang badan: 5)x 4 Minggu. D. Untuk mementukan viable Timbang berat badan bayi. Dapat dikatakan viable jika berat badan >1000 gram,dan usia > 28 minggu. Selain itu ukur panjang kepala-tumit >35 cm,kepala tungging >23 cm, dan lingkar kepala >23 cm.

E.Untuk menentukan bayi cukup bulan/tidak 1 a. Ukuran antropometrik - usia dalam kandungan 37 minggu , 42 minggu - BBL 2500-4000 gram - Panjang kepala-tumit = 46-50 cm - Panjang kepala-tungging = >30 cm - Lingkar kepala fronto-occipital = 33-34 cm - Diameter dada = 8-9 cm - Diameter perut = 7-8 cm - Lingkar dada = 30-33 cm - Lingkar perut = 28-30 cm b.Ciri-ciri eksternal - Rambut kepala relatif kasar,masing-masing helai terpisah satu sama lain dan tampak mengkilap - Alis mata sudah lengkap, bagian lateralnya sudah terdapat - Rawan telinga sudah terbentuk sempurna - Puting susu sudah berbatas tegas dengan diameter 7 mm - Prosesus xypoideus sudah menonjol ke dorsal - Skin opacity/jaringan lemak bawah kulit cukup tebal - Garis tapak tangan dan kaki sudah melebihi 2/3 bagian - Kuku jari tangan sudah melewati ujung jari - Testis sudah turun sempurna - Labium minora sudah tertutup dengan baik oleh labium mayor - Sudah terbentuk pusat-pusat penulangan Pemeriksaan pusat-pusat penulangan ada 2 cara : 1. Tidak langsung : dengan rontgen 2. Langsung : - distal femur pada cakram epifise terdapat bercak merah dengan diameter 45mm

proksimal tibia

- talus,calcaneus, dan calcaneus cuboid F. Untuk menentukan bayi lahir hidup/mati 1,4 Bayi lahir hidup - dada telah mengembang dan diafragma sudah turun sampai sela iga 4-5 - pemeriksaan makroskopik paru: paru sudah mengisi rongga dada, berwarna merah muda tidak merata, pleura tegang, menunukkan gambaran mozaik (karena alveoli sudah berisi udara). Gambaran marmer (karena pembuluh darah interstitial berisi darah). Konsistensi seperti spons,teraba derik udara.Berat paru bertambah hingga dua kali atau kira-kira 1/35 x berat badan. - Uji apung paru (+) - Pemeriksaan mikroskopik paru: gambaran projection (-), alveoli mengembang sempurna,dinding alveoli tipis. - Adanya udara dalam saluran cerna : udara dalam duodenumartinya telah hidup 6-12 jam.bila dalam usus besar telah hidup 12-24 jam Bayi lahir mati -Tanda maserasi: ada vesikel/bula pada epidermis, epidermis berwarna putih dan berbau tengik,hiperekstnsi tungkai,organ-organ tampak basah tapi tidak berbau busuk - Dada belum mengenbang diafragma masih setinggi iga 3-4 - Pemeriksaan makroskopik paru: peru-paru berwarna kelabu ungu merata seperti hati, konsistensi padat, tidak teraba derik udara dan pleura longgar (shack pleura). Berat paru kira-kira 1/70 x BB - Uji apung paru (-) - Pemeriksaan mikroskopik paru: Adanya tonjolan (projection) berbentuk bantal (cushion-like),dengan pewarnaan gomori dan ladewig paru bayi yang belum bernapas dan membusuk tampak serabut retikulin yang berkelok-kelok pada dinding alveoli,mungkin ditemukan tanda inhalasi cairan amnion yang luas,mungkin ditemukan mekonium pada bronkioli dan alveoli.

- Lahir mati ditandai pula oleh ditemukannya keadaan yang tidak memungkinkan untuk terjadinya kehidupan seperti : trauma persalinan hebat, perdarahan otak yang hebat, pneumonia intra uterin, kelainan kongenital yang fatal seperti anensefalus. G. Penentuan umur bayi ekstra uterine 1,2,4 Penentuan umur bayi ekstra uterin, dilihat dari perubahan bayi: - udara dalam saluran cernajika dalam duodenum bayi telah hidup beberapa saat,dalam usus halus telah hidup 1-2 jam, dalam usus besar 5-6 jam, dalam rektum telah hidup 12 jam - mekonium dalam kolonkeluar semua dalam waktu 24 jam - eritrosit berintihilang dalam 24 jam - Ginjalpada hari ke2-4 terdapat deposit asam ura berwarna jingga berbentuk kipas (fan-shapped) - Perubahan sirkulasi darah 3-4 hari : obliterasi arteri dan vena umbilikalis 3-4 minggu : duktus venosus tertutup 3 minggu -1 bulan : foramen ovale tertutup 3 minggu-1 bulan ; duktus arteriosus menutup H. Mencari dan menemukan tanda-tanda kekerasan Trauna lahir: Kaput seksudanium,sefal hematom,fraktur tulang tengkorak,ball fracture,molase hebat tulang-tulang kepala, ruptur limpa (jarang) ,ruptur hati (paling jarang) I. Mencari Sebab dan Mekanisme kematian 1 Yang paling sering menimbulkan kematian pada pembunuhan anak sendiri adalah ASFIKSIA. Mungkin pula disebabkan trauma tumpul (jarang),dan trauma tajam (jarang sekali). Karena itu penting untuk kita melihat adanya tanda-tanda asfiksia pada bayi:sianosis di ujung bibir,hidung,dan ekstemitas,adanya ptekie di organ-organ dalam dan konjungtiva,adanya busa halus di saluran napas,lebam mayat yang lebih gelap dan

luas,oedem pulmoner.Selain itu lecet tekan dan memar pada leher (mungkin karena pencekikan),memar bagian dalam bibir (pembekapan), resapan darah,ataupun jejas jerat (mungkin karena penjeratan), benda asing di saluran napas (mungkin karena gagging,chocking). Trauma tumpul dibuktikan dengan adanya memar, fraktur, lecet dan trauma tajam dibuktikan dari adanya luka tusuk, sayat ataupun bacok. III. PEMERIKSAAN TERHADAP TERSANGKA IBUNYA 2 Pada kasus diketahui bahwa warga setempat sempat mencatat nomor polisi dari mobil orang yang diduga adalah tersangka, maka mungkin akan mempermudah pencarian ibunya. Kemudian kita sebagi dokter yang diminta melakukan pemeriksaan terhada[ ibu haruslah menentukan : a. Mencocokkan waktu partus ibu dengan waktu lahir anakhormon androgen di urine,tanda-tanda kehamilan,partus b. Mencari data antropologi yang khas pada ibu dan anak c. Memeriksa golongan darah ibu dan anak d. Sidik jari DNA IV. PEMERIKSAAN HUBUNGAN ANTARA BAYI DENGAN IBUNYA 2 a. Pemeriksaan Golongan darah,hal ini sulit karena tidak diketahui golongan darah ayah. Eksklusi hanya dapat ditegakkan bila dua faktor dominan terdapat bersamasama pada satuindividu sedangkan individu lain tidak mempunyai sama sekali. Contohnya: Bila ibu golongan darah AB sedangkan anal golongan darah O (tidak mungkin). b. Pemeriksaan DNA, yaitu dengan melihat separuh dari DNA si ank sama dengan DNA ibu. V. VISUM et REPERTUM 1,2 Kesimpulan dalam Visum et Repertum sehubungan dengan kasus Pembunuhan Anak Sendiri mencakup : 1. Bayi laki-laki/perempuan 2. Golongan darah bayi

3. Cukup bulan/belum cukup bulan dalam kandungan 4. Hidup pada saat dilahirkan 5. Belum ada perawatan bayi 6. Jenis luka 7. Jenis kekerasan 8. Sebab kematian

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiyanto,Arif,dkk. Buku Ilmu Kedokteran Forensik. FKUI. Jakarta. 1997 2. Sampurna,Budi,dkk.Peranan Ilmu Forensik Dalam Penegakkan Hukum. FKUI. Jakarta. 2003 3. Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran.FKUI. Jakarta. 1994 4. Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Teknik Autopsi Forensik. FKUI.Jakarta.2000

LAPORAN HASIL DISKUSI KELOMPOK 1 TOPIK IV MO-FORENSIK PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI

Jimmy Christianto Joan Jutamulia Julita July Widiastuti Karina Laviani Kartika Permatasari Kartika Putri Pertiwi Kolanda Maria Septauli Kussulistyaji Aryo P M. Abdul Hadi Muhammad Taufiq

030.05.124 030.05.125 030.05.126 030.05.127 030.05.128 030.05.129 030.05.130 030.05.132 030.05.133 030.05.265 030.05.266

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA 2007