Anda di halaman 1dari 24

BAB II LANDASAN TEORI

1Untuk membuat suatu Prototype Alat Deteksi Kebakaran Hutan Berbasis Mikrokontroler ATMega8535 , maka diperlukan landasan teori dari komponen yang akan dipergunakan sehingga dapat diketahui karakteristik dan prinsip kerja dari rangkaian tersebut serta dapat menghasilkan keluaran yang diharapkan. Secara umum rangkaian ini terdiri dari sebagai berikut, yaitu : 2.1 Mikrokontroler Mikrokontroler adalah suatu chip yang memiliki memory, register dan CPU yang dapat melakukuakan fungsi kendali pada suatu alat atau robot. Arsitektur mikrokontroler yang semakin komplek dan memudahkan para pengembang untuk mendesain system elektronika yang canggih. 2.1.1 Jenis-jenis Mikrokontroler Berdasarkan arsitekturnya mikro kontroler dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu RISC (Reduce Instrution Set Computer) dan CISC (Kompleks Instruction Set Computer).. RISC mempunyai jumlah intruksi yang terbatas, tetapi mempunyai banyak fasilitas yang dapat digunakan Sebaliknya CISC memiliki instruksi yang cukup banyak, tetapi fitur yang ada hanya sedikit. Masing-masing mikrokontroler tersebut mempunyai keturunan atau keluarga sendiri- sendiri. Sekarang kita akan membahas pembagian jenis-jenis mikrokontroler yang telah umum digunakan. 2.1.2 Keluarga MCS 51

Mikrokontroler jenis ini termasuk kedalam siklus clock.

mikrokontroler yang

mempunyai arsitektur CISC. Sebagian besar instruksinya dieksekusi dalam 12 Mikrokontroler ini dirancang untuk aplikasi mikrokontroler chip tunggal, namun dalam penggunaannya sebuah mode perluasan telah mengizinkan sebuah ROM luar 64 KB dan RAM luar 64KB diberikan alamat dengan cara jalur pemilihan chip yang terpisah untuk akses program dan memory data. Salah satu kemampuan dari AT80S51 adalah pemasukan sebuah mesin pemroses Boolean yang mengizinkan operasi logika Boolean tingkatan bit dapat dilakukan secara langsung dan efisien dalam register internal dan RAM. Karena itulah MCS51 digunakan untuk rangkaian dasar PLC (Programable ) 2.1.3 AVR Mikrokontroler AVR (Alv and Vegard RISC processor) merupakan mikrokontroler RISC 8 bit. Karena RISC inilah sebagian besar kode instruksinya dikemas dalam satu siklus clock. AVR adalah jenis mikrokontroler yang paling sering digunakan dalam bidang elektronika dan instrumentrasi. Secara umum, AVR dapat dikelompokan dalam 4 kelas. Pada dasarnya yang membedakan masing-masing kelas adalah memori, peripheral dan fungsinya. Keempat keluarga tersebut adalah AT/Tiny, AT90sxx, ATMega dan AT86RFxx. 2.1.4 PIC PIC adalah keluarga mikrokontroler tipe RISC. PIC pada awalnya dibuat menggunakan teknologi General instruments 16 bit CPU yaitu cp 1600. Pic dibuat pertama kali pada 1975 untuk meningkatkan performa system pada I/O. Saat ini PIC telah dilengkapi dengan dengan EPROM dan komunikasi serial, UART, kernel control motor, serta memory program dari 512 word 32 word. 1 word disini sama dengan 1 instruksi bahasa assembly yang bervariasi dari 12 bit hingga 16 bit, tergantung dari tipe PICmicro. Jenis-jenis PIC antara lain adalah PIC 16F84A, PIC 16F873, PIC 16F874, PIC12F629, PIC 16F877.

Saat ini mikrokontroler yang baik untuk digunakan adalah PIC 16F877 karena mikrokontroler ini mendukung ADC 8 chanel yang mempunyai fitur-fitur yang lengkap untuk membuat robot. 2.1.5 Maxim Maxim merupakan salah satu produsen chip yang focus pada komponen digital dan komunikasi seperti mikrokontroler, akuisi data dan komponen RF(Frekwensi Radio). Mikrokontroler yang dikeluarkan oleh maxim mendukung jaringan computer antara lain 80C400 dengan kesepatan tinggi. 2.1.6 Renesas Mikrokontroler Renesas yang dikenal adalah R8C/Tiny Series. Renesas sendiri adalah produsen semikonduktor yang merupakan gabungan dari Mitsubishi dan Hitachi. Mikrokontroler R8C/Tiny Series termasuk dalam keluarga M16C, dan mempunyai beberapa seri antara lain R8C/10, R8C/11, R8C/12. Masing-masing seri mempunyai besar flash ROM dan jumlah pin I/O yang berbeda-beda. Mikrokontroler Renesas mempunyai banyak fitur yang dapat kita gunakan, fitur-fitur tersabut antara lain : Flash ROM dan internal RAM relative cukup besar Sudah ada ON chip debugger Built-in ADC 10 bit sebanyak 12 chanel 2 buah UART, 1 bisa dipakai pada mode sinkron Timer 8 bit dan 1 timer 16 bit 2 buah rangkaian built-in untuk membangkitkan clock

2.2. Mikrokontroler Atmega8535 Mikrokontroler AVR (Alf and Vegards Risc Prosessor) merupakan salah satu perkembangan produk mikroelektronika dari vendor Atmel. AVR merupakan teknologi yang memiliki kemampuan baik dengan biaya ekonomis yang cukup minimal. Mikrokontroler AVR memiliki arsitektur RISC 8 bit, dimana semua

instruksi dikemas dalam kode 16 bit dan sebagian besar instruksi dieksekusi dalam 1 (satu) siklus clock, berbeda dengan instruksi MCS51 yang membutuhkan 12 siklus clock. Tentu saja itu terjadi karena kedua jenis mikrokontroler tersebut memiliki arsitektur yang berbeda. AVR berteknologi RISC (Reduced Instruction Set Computing), sedang MCS 51 berteknologi CISC (Complex Instruction Set Computing). Secara umum AVR dapat dikelompokkan menjadi 4 kelas, yaitu keluarga ATiny, keluarga AT90Sxx, Keluarga ATMega, dan AT86RFxx. Pada dasarnya yang membedakan masing-masing kelas adalah memori, peripheral, dan fungsinya. Dari segi arsitektur dan instruksi yang digunakan, mereka bisa dikatakan hampir sama.

2.2.1 Arsitektur ATMega8535

Dari gambar 2.1 dapat dilihat bahwa ATMega8535 memiliki bagian sebagai berikut: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. 2.2.2 Saluran I/O sebanyak 32 buah, yaitu port A, Port B, Port C, dan Port D. ADC 10 bit sebanyak 8 saluran. Tiga buah Timer/Counter dengan kemampuan pembandingan. CPU yang terdiri atas 32 buah register. Watchdog Timer dengan Osilator Internal. SRAM sebanyak 512 byte. Memori Flash sebesar 8 kb dengan kemampuan Read While Write. Unit Interupsi internal dan eksternal. Port antarmuka SPI. EEPROM sebesar 512 byte yang dapat diprogram saat operasi. Antarmuka komparator analog. Port USART untuk komunikasi serial.

Fitur ATMega8535

Kapabilitas detail dari ATMega8535 adalah sebagai berikut: a. Sistem mikroprosessor 8 bit berbasis RISC dengan kecepatan maksimal 16 MHz. b. Kapabilitas memori Flash 8 KB, SRAM sebesar 512 byte, dan EEPROM (Electrically Erasable Programmable Read Only Memory) sebesar 512 byte. c. ADC Internal dengan fidelitas 10 bit sebanyak 8 saluran. d. Portal komunikasi serial (USART) dengan kecepatan maksimal 2,5 Mbps. e. Enam pilihan mode sleep menghemat penggunaan daya listrik.

2.2.3 Konfigurasi Pin ATMega8535

Konfigurasi pin ATMega8535 bisa dilihat pada gambar 2.4 Dari gambar tersebut dapat dijelaskan secara fungsional konfigurasi pin ATMega8535 sebagai berikut: a. VCC merupakan pin yang berfungsi sebagai pin masukan catu daya. b. GND merupakan pin ground. c. Port A (PA0..PA7) merupakan pin I/O dua arah dan pin masukan ADC. d. Port B (PB0..PB7) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi khusus, yaitu Timer/Counter, komparator analog, dan SPI. e. Port C (PC0..PC7) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi khusus, yaitu TWI, komparator analog, dan Timer Oscilator. f. Port D (PD0..PD7) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi khusus, yaitu komparator analog, interupsi eksternal, dan komunikasi serial. g. RESET merupakan pin yang digunakan untuk mereset mikrokontroler. h. XTAL1 dan XTAL2 merupakan pin masukan clock eksternal. i. AVCC merupakan pin masukan tegangan untuk ADC. j. AREF merupakan pin masukan tegangan referensi ADC.

Gambar 2.1 Pin Mikrokontroler ATMega8535

2.2.4

I/O Port Port I/O mikrokontroler ATMega8535 dapat difungsikan sebagai input

ataupun output dengan keluaran high atau low. Untuk mengatur fungsi port I/O sebagai input ataupun output. Perlu dilakukan setting pada DDR dan port. Tabel 2.1 merupakan tabel pengaturan port I/O: Tabel 2.1 Konfigurasi Setting Port I/O

10

Dari tabel diatas, menyetting input/output adalah: a. Input; DDR bit 0 dan port bit 1 b. Output High; DDR bit 1 dan Port bit 1 c. Output Low; DDR bit 1 dan Port bit 0 Logika Port I/O dapat diubah-ubah dalam program secara byte atau hanya bit tertentu. Mengubah sebuah keluaran bit I/O dapat dilakukan menggunakan perintah cbi (clear bit I/O) untuk menghasilkan output low atau perintah sbi (set bit I/O) untuk menghasilkan output high. Pengubahan secara byte dilakukan dengan perintah in atau out yang menggunakan register Bantu. Port I/O sebagai output hanya memberikan arus sourching sebesar 20 mA. 2.2.5 ADC (Analog to Digital Converter) Dalam mikrokontroler ATMega8535 terdapat fitur ADC (Analog Digital Converter), fitur ini berfungsi untuk mengubah besaran/sinyal analog (biasanya keluaran dari sensor) ke besaran digital untuk kemudian diolah oleh mikrokontroler. Hal ini dikarenakan mikrokontroler hanya mengenal logika 1 atau 0. Fitur dari ADC ATMega8535 adalah sebagai berikut: Resolusi 10 Bit Waktu konversi 65-260s 8 chanel input 0-Vcc input ADC 3 mode pemilihan tegangan referensi

11

Inisialisasi ADC Untuk mengunakan/mengaktifkan ADC diperlukan pengaturan register-

register ADC. Inisialisai register ADC ini dilakukan untuk menentukan clock, tegangan referensi, format data output dan mode pembacaan. Berikut ini adalh format konfigurasi dari register-register ADC :

ADC Multiplexer Selection Register (ADMUX) Register ini digunakan untuk mengatur tegangan refesensi yang akan

dipakai oleh ADC, format dat output ADC dan saluran ADC.

Gambar 2.2 Register ADMUX

Keterangan :
a. Bit 7:6-REFS1

: Reference Selection Bit

Bit REFS1 dan REFS2 digunakan untuk menentukan tegangan referensi dari ADC. Bit ini tidak dapat diubah pada saat konversi sedang berlangsung. Tabel 2.2 Tegangan Referensi ADC REFS1 0 0 1 1 REFS2 0 1 0 1 Tegangan Referensi Pin AREF Pin AVCC, dengan pin AREF diberi kapasitor Tidak digunakan Internal 2.56 v dengan pin AREF diberi kapasitor

Table diatas menjelaskan data yang dikirim ke pin REFS1 dan REFS2 pada register ADMUX dan hubungannya dengan tegangan referensi yang akan digunakan oleh ADC.

12

b.

Bit 5-ADLAR

: ADC Left Adjust Result

Bit ADLAR digunakan untuk mengatur format penyimpanan data ADC pada register ADCL dan ADCH
c. Bit 4:0-MUX4-0

: Analog Chanel and Gain Selection Bit

Digunakan untuk menentukan pin masukan analog ADC pada mode konversi tunggal atau untuk menentukan pin-pin masukan analog dan nilai penguatnya (gain) pada mode penguat beda.

2.3 LCD (Liquid Crystal Display) Liquid Crystal Display (LCD) merupakan perangkat (devais) yang sering digunakan untuk menampilkan data selain menggunakan seven segment. LCD berfungsi sebagai salah satu alat komunikasi dengan manusia dalam bentuk tulisan/gambar. Untuk menghubungkan mikrokontroler dengan LCD dibutuhkan konfigurasi antara pin-pin yang ada di LCD dengan port yang ada di mikrokontroler. Konfigurasi pin LCD dan mikrokontroler dapat dilihat pada tabel 2.13. Tabel 2.3 Koneksi antara pin LCD dengan Mikrokontroler Pin LCD 1 2 4 5 6 11 12 13 14 Keterangan GND +5V RS RD EN D4 D5 D6 D7 Pin Mikrokontroler 11 10 22 23 24 26 27 28 29 Keterangan GND VCC Port C.0 Port C.1 Port C.2 Port C.4 Port C.5 Port C.6 Port C.7

13

Interface LCD merupakan sebuah parallel bus, dimana hal ini sangat memudahkan dan sangat cepat dalam pembacaan dan penulisan data dari atau ke LCD. Kode ASCII yang ditampilkan sepanjang 8 bit dikirim ke LCD secara 4 atau 8 bit pada satu waktu. Jika mode 4 bit yang digunakan, maka 2 nibble data dikirim untuk membuat sepenuhnya 8 bit (pertama dikirim 4 bit MSB lalu 4 bit LSB dengan pulsa clock EN setiap nibblenya). Jalur kontrol EN digunakan untuk memberitahu LCD bahwa

mikrokontroller mengirimkan data ke LCD. Untuk mengirim data ke LCD program harus menset EN ke kondisi high (1) dan kemudian menset dua jalur kontrol lainnya (RS dan R/W) atau juga mengirimkan data ke jalur data bus. Saat jalur lainnya sudah siap, EN harus diset ke 0 dan tunggu beberapa saat (tergantung pada datasheet LCD), dan set EN kembali ke high (1). Ketika jalur RS berada dalam kondisi low (0), data yang dikirimkan ke LCD dianggap sebagai sebuah perintah atau instruksi khusus (seperti bersihkan layar, posisi kursor dll). Ketika RS dalam kondisi high atau 1, data yang dikirimkan adalah data ASCII yang akan ditampilkan dilayar. Jalur kontrol R/W harus berada dalam kondisi low (0) saat informasi pada data bus akan dituliskan ke LCD. Apabila R/W berada dalam kondisi high (1), maka program akan melakukan query (pembacaan) data dari LCD. Instruksi pembacaan hanya satu, yaitu Get LCD status (membaca status

14

LCD), lainnya merupakan instruksi penulisan. Jadi hampir setiap aplikasi yang menggunakan LCD, R/W selalu diset ke 0. Jalur data dapat terdiri 4 atau 8 jalur (tergantung mode yang dipilih pengguna), mereka dinamakan DB0, DB1, DB2, DB3, DB4, DB5, DB6 dan DB7. Mengirim data secara parallel baik 4 atau 8 bit merupakan 2 mode operasi primer. Untuk membuat sebuah aplikasi interface LCD, menentukan mode operasi merupakan hal yang paling penting. Mode 8 bit sangat baik digunakan ketika kecepatan menjadi keutamaan dalam sebuah aplikasi dan setidaknya minimal tersedia 11 pin I/O (3 pin untuk kontrol, 8 pin untuk data). Sedangkan mode 4 bit minimal hanya membutuhkan 7 bit (3 pin untuk kontrol, 4 untuk data). 2.4 Sensor Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari masa ke masa berkembang cepat terutama di bidang otomasi industri. Perkembangan ini tampak jelas di bidang industry, robotika maupun alat-alat yang mempunyai kemampuan otomatis, dimana sebelumnya banyak pekerjaan menggunakan tangan manusia, kemudian beralih menggunakan mesin, berikutnya dengan electro-mechanic (semi otomatis) dan sekarang sudah menggunakan robotic (full automatic) seperti penggunaan Flexible Manufacturing Systems (FMS) dan Computerized Integrated Manufacture (CIM) dan sebagainya. Model apapun yang digunakan dalam sistem otomasi pemabrikan sangat tergantung kepada keandalan sistem kendali yang dipakai. Hasil penelitian menunjukan secanggih apapun sistem kendali yang dipakai akan sangat tergantung kepada sensor yang digunakan.. Sensor dan transduser merupakan peralatan atau komponen yang mempunyai peranan penting dalam sebuah sistem pengaturan otomatis. Ketepatan dan kesesuaian dalam memilih sebuah sensor akan sangat menentukan kinerja dari sistem pengaturan secara otomatis.

15

2.4.1

Definisi Sensor D Sharon, dkk (1982), mengatakan sensor adalah suatu peralatan yang

berfungsi untuk mendeteksi gejala-gejala atau sinyal-sinyal yang berasal dari perubahan suatu energi seperti energi listrik, energi fisika, energi kimia, energi biologi, energi mekanik dan sebagainya

2.4.2

Klasifikasi Sensor Secara umum berdasarkan fungsi dan penggunaannya sensor dapat

dikelompokan menjadi 3 bagian yaitu:

a. Sensor Mekanis

Sensor mekanis adalah sensor yang mendeteksi perubahan gerak mekanis, seperti perpindahan atau pergeseran atau posisi, gerak lurus dan melingkar, tekanan, aliran, level dsb. Contoh; strain gage, linear variable deferential transformer (LVDT), proximity, potensiometer, load cell, bourdon tube, dsb.

b. Sensor Optik (cahaya)

Sensor optic atau cahaya adalah sensor yang mendeteksi perubahan cahaya dari sumber cahaya, pantulan cahaya ataupun bias cahaya yang mengernai benda atau ruangan. Contoh; photo cell, photo transistor, photo diode, photo voltaic, photo multiplier, pyrometer optic, dsb.
c. Sensor Thermal (panas)

16

Sensor Thermal adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi gejala perubahan panas/temperature/suhu pada suatu dimensi benda atau dimensi ruang tertentu. Contohnya; bimetal, termistor, termokopel, RTD, photo transistor, photo dioda, photo multiplier, photovoltaik, infrared pyrometer, hygrometer, dsb. Setiap sensor suhu memiliki temperatur kerja yang berbeda, untuk pengukuran suhu disekitar kamar yaitu antara -35oC sampai 150oC, dapat dipilih sensor NTC, PTC, transistor, dioda dan IC hibrid. Untuk suhu menengah yaitu antara 150oC sampai 700oC, dapat dipilih thermocouple dan RTD. Untuk suhu yang lebih tinggi sampai 1500oC, tidak memungkinkan lagi dipergunakan sensorsensor kontak langsung, maka teknis pengukurannya dilakukan menggunakan cara radiasi. Untuk pengukuran suhu pada daerah sangat dingin dibawah 65oK = -208oC ( 0oC = 273,16oK ) dapat digunakan resistor karbon biasa karena pada suhu ini karbon berlaku seperti semikonduktor. Untuk suhu antara 65oK sampai -35oC dapat digunakan kristal silikon dengan kemurnian tinggi sebagai sensor. Gambar 2.2. berikut memperlihatkan karakteristik dari beberapa jenis sensor suhu yang ada. Termistor Termistor atau tahanan thermal adalah alat semikonduktor yang berkelakuan sebagai tahanan dengan koefisien tahanan temperatur yang tinggi, yang biasanya negatif. Umumnya tahanan termistor pada temperatur ruang dapat berkurang 6% untuk setiap kenaikan temperatur sebesar 1oC. Kepekaan yang tinggi terhadap perubahan temperatur ini membuat termistor sangat sesuai untuk pengukuran, pengontrolan dan kompensasi temperatur secara presisi. Termistor terbuat dari campuran oksida-oksida logam yang diendapkan seperti: mangan (Mn), nikel (Ni), cobalt (Co), tembaga (Cu), besi (Fe) dan uranium (U). Rangkuman tahanannya adalah dari 0,5 sampai 75 dan tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ukuran paling kecil berbentuk mani-

17

manik (beads) dengan diameter 0,15 mm sampai 1,25 mm, bentuk piringan (disk) atau cincin (washer) dengan ukuran 2,5 mm sampai 25 mm. Cincin-cincin dapat ditumpukan dan di tempatkan secara seri atau paralel guna memperbesar disipasi daya.

Thermocouple

RTD

Thermistor

IC Sensor

V, I

T Advantages self powered simple rugged inexpensive wide variety - wide temperature Disadvantages range non linear low voltage reference required least stable least sensitive - expensive - most stable

T - high output - fast - two-wire ohms - most accurate - more linear than termocouple

T most linear highest output inexpensive

measurement

- non linear - limited temperature range - fragile - power supply required self heating

- T < 200oC - power supply required - slow - self heating - limited configuration

- power supply required - small R - low absolute resistance - self heating

18

Termokopel Pembuatan termokopel didasarkan atas sifat thermal bahan logam. Jika

sebuah batang logam dipanaskan pada salah satu ujungnya maka pada ujung tersebut elektron-elektron dalam logam akan bergerak semakin aktif dan akan menempati ruang yang semakin luas, elektron-elektron saling desak dan bergerak ke arah ujung batang yang tidak dipanaskan. Dengan demikian pada ujung batang yang dipanaskan akan terjadi muatan positif.

Ujung panas

Ujung dingin

Arus elektron akan mengalir dari ujung panas ke ujung dingin

Gambar 2.4 Arah gerak elektron jika logam dipanaskan

2.5 Sensor Suhu LM35 Sensor suhu LM35 adalah komponen elektronika yang memiliki fungsi untuk mengubah besaran suhu menjadi besaran listrik dalam bentuk tegangan. Sensor Suhu LM35 yang dipakai dalam penelitian ini berupa komponen elektronika elektronika yang diproduksi oleh National Semiconductor. LM35 memiliki keakuratan tinggi dan kemudahan perancangan jika dibandingkan dengan sensor suhu yang lain, LM35 juga mempunyai keluaran impedansi yang

19

rendah dan linieritas yang tinggi sehingga dapat dengan mudah dihubungkan dengan rangkaian kendali khusus serta tidak memerlukan penyetelan lanjutan. Meskipun tegangan sensor ini dapat mencapai 30 volt akan tetapi yang diberikan kesensor adalah sebesar 5 volt, sehingga dapat digunakan dengan catu daya tunggal dengan ketentuan bahwa LM35 hanya membutuhkan arus sebesar 60 A hal ini berarti LM35 mempunyai kemampuan menghasilkan panas (selfheating) dari sensor yang dapat menyebabkan kesalahan pembacaan yang rendah yaitu kurang dari 0,5 C pada suhu 25 C.

Gambar 2.5 Sensor Suhu LM35 Gambar diatas menunjukan bentuk dan konfigurasi pin dari LM35. 3 pin LM35 menujukan fungsi masing-masing pin diantaranya, pin 1 berfungsi sebagai sumber tegangan kerja dari LM35, pin 2 atau tengah digunakan sebagai tegangan keluaran atau Vout dengan jangkauan kerja dari 0 Volt sampai dengan 1,5 Volt dengan tegangan operasi sensor LM35 yang dapat digunakan antar 4 Volt sampai 30 Volt. Keluaran sensor ini akan naik sebesar 10 mV setiap derajad celcius sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :

VLM35 = Suhu*10mV

Secara prinsip sensor akan melakukan penginderaan pada saat perubahan suhu setiap suhu 1 C akan menunjukan tegangan sebesar 10 mV. Pada penempatannya LM35 dapat ditempelkan dengan perekat atau dapat pula disemen pada permukaan akan tetapi suhunya akan sedikit berkurang sekitar 0,01 C

20

karena terserap pada suhu permukaan tersebut. Dengan cara seperti ini diharapkan selisih antara suhu udara dan suhu permukaan dapat dideteksi oleh sensor LM35 sama dengan suhu disekitarnya, jika suhu udara disekitarnya jauh lebih tinggi atau jauh lebih rendah dari suhu permukaan, maka LM35 berada pada suhu permukaan dan suhu udara disekitarnya . Jarak yang jauh diperlukan penghubung yang tidak terpengaruh oleh interferensi dari luar, dengan demikian digunakan kabel selubung yang ditanahkan sehingga dapat bertindak sebagai suatu antenna penerima dan simpangan didalamnya, juga dapat bertindak sebagai perata arus yang mengkoreksi pada kasus yang sedemikian, dengan mengunakan metode bypass kapasitor dari Vin untuk ditanahkan. Berikut ini adalah karakteristik dari sensor LM35. 1. Memiliki sensitivitas suhu, dengan faktor skala linier antara tegangan dan suhu 10 mVolt/C, sehingga dapat dikalibrasi langsung dalam celcius. 2. Memiliki ketepatan atau akurasi kalibrasi yaitu 0,5C pada suhu 25 C 3. Memiliki jangkauan maksimal operasi suhu antara -55 C sampai +150 C. 4. Bekerja pada tegangan 4 sampai 30 volt. 5. Memiliki arus rendah yaitu kurang dari 60 A. 6. Memiliki pemanasan sendiri yang rendah (low-heating) yaitu kurang dari 0,1 C pada udara diam. 7. Memiliki impedansi keluaran yang rendah yaitu 0,1 W untuk beban 1 mA. 8. Memiliki ketidaklinieran hanya sekitar C. 2.6 Dasar Pemrograman Bahasa C

21

Bahasa C luas digunakan untuk pemrograman berbagai jenis perangkat, termasuk mikrokontroler. Bahasa ini sudah merupakan high level language, dimana memudahkan programmer menuangkan algoritmanya. Untuk mengetahui dasar bahasa C dapat dipelajari sebagai berikut. 2.6.1 Struktur Penulisan Program

#include < [library1.h] > // Opsional #include < [library2.h] > // Opsional #define [nama1] [nilai] ; // Opsional #define [nama2] [nilai] ; // Opsional [global variables] // Opsional [functions] // Opsional void main(void) // Program Utama { [Deklarasi local variable/constant] [Isi Program Utama] }

2.6.2

Tipe Data char : 1 byte ( -128 s/d 127 ) unsigned char : 1 byte ( 0 s/d 255 ) int : 2 byte ( -32768 s/d 32767 ) unsigned int : 2 byte ( 0 s/d 65535 ) long : 4 byte ( -2147483648 s/d 2147483647 ) unsigned long : 4 byte ( 0 s/d 4294967295 )

22

float : bilangan desimal array : kumpulan data-data yang sama tipenya. Deklarasi Variabel dan Konstanta Variabel adalah memori penyimpanan data yang nilainya dapat diubahubah. Penulisan : [tipe data] [nama] = [nilai] ;

2.6.3

Konstanta adalah memori penyimpanan data yang nilainya tidak dapat diubah. Penulisan : const [nama] = [nilai] ;

Tambahan: Global variabel/konstanta yang dapat diakses di seluruh bagian program. Local variabel/konstanta yang hanya dapat diakses oleh fungsi tempat dideklarasikannya.

2.6.4

Pernyataan Statement adalah setiap operasi dalam pemrograman, harus diakhiri

dengan [ ; ] atau [ } ]. Statement tidak akan dieksekusi bila diawali dengan tanda [ // ] untuk satu baris. Lebih dari 1 baris gunakan pasangan [ /* ] dan [ */ ]. Statement yang tidak dieksekusi disebut juga comments / komentar. Contoh: suhu=adc/255*100; //contoh rumus perhitungan suhu 2.6.5 Fungsi

Function adalah bagian program yang dapat dipanggil oleh program utama. Penulisan :

23

[tipe data hasil] [nama function]([tipe data input 1],[tipe data input 2]) { [statement] ; } 2.6.6 Pernyataan Kondisi dan Perulangan

if else : digunakan untuk penyeleksian kondisi if ( [persyaratan] ) { [statement1]; [statement2]; } else { [statement3]; [statement4]; } for : digunakan untuk looping dengan jumlah yang sudah diketahui for ( [nilai awal] ; [persyaratan] ; [operasi nilai] ) { [statement1]; [statement2]; }

while : digunakan untuk looping jika dan salama memenuhi syarat tertentu while ( [persyaratan] ) { [statement1]; [statement2]; }

24

do while : digunakan untuk looping jika dan salama memenuhi syarat tertentu, namun minimal 1 kali do { [statement1]; [statement2]; } while ( [persyaratan] ) switch case : digunakan untuk seleksi dengan banyak kondisi switch ( [nama variabel] ) { case [nilai1]: [statement]; break; case [nilai2]: [statement]; break; } 2.6.7

Operasi Logika dan Biner Logika AND :&& NOT : ! OR : ||

Biner AND : & OR : | XOR : ^ Shift right: >> Shift left : << Komplemen : ~

2.6.8

Operasi Relasional (perbandingan)

25

Sama dengan : == Tidak sama dengan : != Lebih besar : > Lebih besar sama dengan : >= Lebih kecil : < Lebih kecil sama dengan : <= Operasi Aritmatika + , - , * , / : tambah,kurang,kali,bagi += , -= , *= , /= : nilai di sebelah kiri operator di tambah/kurang/kali/bagi dengan nilai di sebelah kanan operator % : sisa bagi ++ , -- : tambah satu (increment) , kurang satu (decrement) Contoh : a = 5 * 6 + 2 / 2 -1 ; maka nilai a adalah 30 a *= 5 ; jika nilai awal a adalah 30, maka nilai a = 30x5 = 150. a += 3 ; jika nilai awal a adalah 30, maka nilai a = 30+5 = 33. a++ ; jika nilai awal a adalah 5 maka nilai a = a+1 = 6. a-- ; jika nilai awal a adalah 5 maka nilai a = a-1 = 4

2.6.9

2.7

Modulasi Digital Pengunci Pergeseran Frekuensi (Frequency Shift Keying / FSK)

26

Ekpresi yang umum untuk sebuah sinyal FSK biner adalah diperlihatkan pada persamaan berikut.

dengan : v(t) = adalah bentuk gelombang FSK biner VC = puncak amplitudo carrier tanpa termodulasi C = carrier frekuensi (dalam radian) fm(t) = frekuensi sinyal digital biner pemodulasi = beda sinyal pemodulasi (dalam radian) Pada sebuah modulator FSK biner, center dari frekuensi carrier tergeser terdeviasi) oleh masukan data biner. Sebagai kons ekuensinya, keluaran pada suatu modulator FSK biner adalah suatu fungsi step pada domain frekuensi. Sesuai perubahan sinyal masukan biner dari suatu logika 0 ke logika 1, dan sebaliknya, keluaran FSK bergeser diantara dua frekuensi: suatu mark frekuensi atau logic 1 dan suatu space frekuensi atau logic 0. Modulator FSK biner, ada suatu perubahan frekuensi keluaran setiap adanya perubahan kondisi logic pada sinyal masukan. Sebagai konsekuensinya, laju perubahan keluaran adalah sebanding dengan laju perubahan masukan. Suatu FSK biner secara sederhana diberikan seperti Gambar 2.15.

27

Gambar 2.16 Sistem Modulasi FSK Biner