Anda di halaman 1dari 3

TUGAS

HUKUM PERIZINAN

NAMA ; PRIMA YENNI NPM : 08100056100192

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS TAMAN SISWA PADANG 2012

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG

KASUS Pasal 13 (1) Persyaratan jarak bebas bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) meliputi: a. garis sempadan bangunan gedung dengan as jalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau jaringan tegangan tinggi; b. jarak antara bangunan gedung dengan batas-batas persil, dan jarak antara as jalan dan pagar halaman yang diizinkan pada lokasi yang bersangkutan. (2) Persyaratan jarak bebas bangunan gedung atau bagian bangunan gedung yang dibangun di bawah permukaan tanah harus mempertimbangkan batas-batas lokasi, keamanan, dan tidak mengganggu fungsi utilitas kota, serta pelaksanaan pembangunannya. (3) Ketentuan mengenai persyaratan jarak bebas bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. ARGUMENTASI Pada pasal 13 UU no .28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung ayat (1) mengatur tentang jarak bebas bangunan gedung yaitu garis sempadan bangunan gedung dengan as jalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau jaringan tegangan tinggi; dan jarak antara bangunan gedung dengan batas-batas persil, dan jarak antara as jalan dan pagar halaman yang diizinkan pada lokasi yang bersangkutan. Dimana persyaratan jarak bebas bagunan gedung atau bagian bangunan gedung yang dibangun di bawah permukaan tanah harus mempertimbangkan batas-batas lokasi, keamanan, dan tidak mengganggu fungsi utilitas kota, serta pelaksanaan pembangunannya. Namun pada kenyataannya pada beberapa lokasi salah satunya di Kelurahan Koto lalang dimana salah seorang pemilik rumah menambah bangunan rumahnya yaitu menambah warung yang

menyambung dengan bangunan induk dan dak betonnya telah melewati batas tanahnya sehingga air cucuran atapnya jatuh di badan jalan. Selain itu apabila ada kendaraan yang lewat yang membawa barang-barang yang besar (melebihi badan jalan) maka akan sulit lewat dan tidak hanya itu nantinya pada saat akan melebarkan jalan maka atomatis akan merusak bangunan baru yang telah dibuat oleh pemilik rumah tersebut. Pada Undang-undang No. 28 tahun 2002 khususnya pasal 13, tidak dijela skan batas bebas yang dimkasud, dan batas tersebut diserahkan kepada Peraturan Pemerintah dan dikuatkan lagi dengan Peraturan Daerah setempat. Dalam hal ini saya berpendapat bahwa Penyerahan batas bebas pada pemerintahan daerah setempat bersifat rancu dimana pada penerapannya sering kali terjadi kesalahan dan kelalaian dari petugas untuk dapat memeriksa dan meneliti setiap izin menambah bangunan. Pemilik bangunan sering kali menambah bangunannya tanpa