Anda di halaman 1dari 111

TINJAUAN KEMBALI BENDUNGAN KEDUNG OMBO

DALAM HAL KELAYAKAN


ELEVASI MERCU BENDUNG
Tugas Akhir
Untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat sarjana S-1 Teknik Sipil

Disusun oleh :
INDAH WULANDARI
NIM: D.100.980.095
NIRM: 98.6.106.03010.501095

Kepada
JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2009

LEMBAR PENGESAHAN
TINJAUAN KEMBALI BENDUNGAN KEDUNG OMBO
DALAM HAL KELAYAKAN
ELEVASI MERCU BENDUNG
Tugas Akhir
Diajukan dan dipertahankan pada Ujian Pendadaran
Tugas Akhir di hadapan Dewan Penguji
Pada tanggal
Diajukan oleh :
INDAH WULANDARI
NIM: D.100.980.095
NIRM: 98.6.106.03010.501095
Susunan Dewan Penguji
Pembimbing Utama

Pembimbing Pendamping

(Ir. H. Hermono, SB.M Eng)


NIP : 110 032 522

(Jaji Abdurrosyid,ST,MT)
NIK : 691
Anggota

(Gurawan Djati Wibowo, ST)


NIK : 782
Tugas Akhir ini diterima sebagai salah satu persyaratan
Untuk mencapai derajat Sarjana S-I Teknik Sipil
Surakarta, .
Dekan Fakultas Teknik,

Ketua Jurusan Teknik Sipil

(Ir. H. Sri Widodo, MT)


NIK : 542

(H. M.Ujianto, ST, MT)


NIK : 728

HALAMAN MOTTO

Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai


penolongmu, sesungguhnya Allah S.W.T beserta orang-orang yang sabar.
(Qs. Al Baqarah :45)

Telah pasti datangnya ketetapan Allah,


maka janganlah kamu meminta agar disegerakan ( datang) nya.
(Qs.An-Nahl : 1)

Sesungguhnya setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan, maka apabila


telah selesai suatu urusan kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan
yang lain dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kamu berharap.
(Qs. Alam Nasyah::6-8)

Pabila kau senantiasa menghadap ke matahari,


kau takkan pernah melihat bayanganmu.
( Hellen Keiler )

HALAMAN PERSEMBAHAN

Kususun Tugas Akhir ini dan Kupersembahkan


Kepada mereka yang kucintai
Gusti Allah beserta Rosul, Malaikat dan Wali-walinya
yang telah memberi aku barokah dan hidayah
hingga dapat kuselesaikan tugas akhir ini.
Bapanda ( Alm) Bripka. Edy Sutarso
segala doa dan nasehatnya merupakan cambuk
dalam meraih harapan dan cita.
Ibunda Nanik Mulyani, S.IP
Nasehat dan bimbinganmu yang selalu
menyejukkan hati dikala suka dan duka.
Simbah-simbahku terkasih
Sarwo Mitro Atmojo (Alm) dan Mbah Putri,
Yoseph Subroto (Alm) dan Mak Ni (Alm),
doa dan restunya penghibur dalam bimbang dan lara.
Adik-adikku tersayang
Fitria Senja M.N, Dwi Listyandari, SE, Edi Kusmanto, S.STP.
Keberhasilan yang telah kalian raih
merupakan dorongan moril yang sangat berharga
Seseorang yang aku cintai
Andi Supriyadi,
Kesetian dan perhatianmu
memberi arti penting dalam hidupku

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum, Wr. Wb.


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, tang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas akhir ini
dengan baik.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Tugas Akhir ini
masih jauh dari sempurna, walaupun penulis telah berusaha sebaik mungkin.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, bimbingan serta kerjasama yang baik
dari berbagai pihak tidak akan bisa mewujudkan Tugas Akhir ini,. Maka penulis
merasa selayaknya apabila dalam kesempatan ini dengan segala rasa untuk
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada yang terhormat :
1. Bapak Ir. Sri Widodo, M.T, selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
2. Bapak M. Ujianto, ST, M.T, selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.
3. Bapak Ir. Suwardi, M.T, selaku Pembimbing Akademik.
4. Bapak Ir. H. Hermono.S.B,M.Eng, selaku Pembimbing Utama yang
telah memberikan bantuan dan pengarahan kepada penulis.
5. Bapak Jaji Abdurrosyid, ST, selaku Pembimbing Pendamping yang telah
memberikan bantuan dan pengarahan kepada penulis.
6. Bapak Gurawan Djati Wibowo, ST, selaku Dewan Penguji Tugas Akhir
yang telah bersedia meluangkan waktunya dalam ujian pendadaran.
7. Bapak Ir. H. A. Karim Fatchan, M.T, selaku Dosen Tamu dalam ujian
seminar pra pendadaran.
8. Keluarga besar Mbah Sarwo Mitro Atmojo : Mbah kakung (Alm), Mbah
putri, Mas Gatot, Mas Yusuf, Blk Titik, Blk Yani, Om Bambang, Om

Rahmad, Mbk Nana, Sigit, Ririn, Niken, Bagus, Tiyar, Andang, Eko,
untuk kehangatan keluarga ini..
9. Keluarga besar Mbah Joseph Subrata : Mbah Kakung (Alm), Mak Ni
(Alm), Blk Tri, Om Jono (Alm), Om Nono, Om Mamet, Blk Is, Blk Evi,
Upik, Priyo, Nur, Putri, Rina, Nia, untuk semua doa dan restunya.
10. My best friend satu kolam dan satu waduk hidro : Mas Atmo, Mas
Kurnia, Mbk Yessa, Mbk Anik, Mas Adit, Mas Gepeng, Arif Nobita,
Mas irwan, Nugroho, Hasan, Dwi Si-Mex, Berliana, Zum-zum, Roji,
Klowor, Dwi irigasi, Yoyok, Asshairu Lithing, Bayu, untuk semua
perjuangan kita menghidupkan hidro F.T. Sipil UMS.
11. My Best Prent : Diyah Becky, Yuli, Peyox, Dona, Muryanti, Tiwul,
Nana, Mince, Mbk.Fera, Mbk.Nita, Haryani, thanks guys tanpa
dukungan kalian aku tak mungkin bisa menyelesaikan tugas akhir ini.
12. Keluarga besar Divisi Pecinta Alam Mahasiswa Teknik (DINAMIK) :
Mas Goang, Mas Rico, Mbk Les, Mas Ser, Mas Tebing, Cangkir, Polo,
Mas Emon, Budi Jembrey, Konthis, Kondom, Warsito, Kicek, Logro,
Asih, Ceplos, Mas Woni, Gundul, Badrun, Tahu, Mbk Naning, Mbk
Eko, Mbk Dewi, Atak, Kingkong, Bedor, Heri, Rahma, Kopral, Babe,
dll. Untuk semua persahabatan yang indah dan tak terlupakan.
13. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya Tugas Akhir ini.
Semoga amal baik semua pihak mendapat balasan dari Allah SWT.
Akhirnya harapan penulis semoga dengan tersusunnya Tugas Akhir ini dapat
bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamualaikum, Wr. Wb.

Surakarta,

April 2009

Penulis

DAFTAR NOTASI
A

= Luas daerah Pengaliran (km2)

= Koefisien debit bangunan pelimpah (m1/2/dt)

= Tinggi energi dihitung dari elevasi mercu spillway (ml)

= Debit yang masuk ke dalam waduk (m3/dt)

= Panjang alur sungai (km)

= Jumlah stasiun pengamatan

= Debit banjir maksimum (m3/dt)

= Curah hujan daerah (mm)

= Besarnya tampungan (storage) waduk (m)

= Deviasi Standar

= Waktu (jam)

= Nilai rata-rata

= Jumlah data

Be

= Lebar efektif ambang pelimpah (m)

Ck

= Koefisien Kurtosis

Cs

= Koefisien asimetri

Cv

= Koefisien Variasi

Qa

= Limpasan setelah mencapai debit puncak ( m 3 /dt)

QP

= Debit puncak banjir ( m 3 /dt)

Ro

= Hujan satuan ( mm)

Rt

= Intensitas hujan satuan untuk jam ke-n (mm)

tg

= Waktu kosentrasi (jam)

Tp

= Tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak (jam)

= Periode penelusuran (detik, jam atau hari)

T0,3

= Waktu yang diperlukan oleh penurunan debit sampai menjadi 30 % dan


puncak (jam)

= Keadaan pada saat permulaan penelusuran (m3/dt)

= Keadaan pada akhir penelusuran (m3/dt)

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel III.1 Rumus-rumus koefisien pengaliran ........................................... 22
Tabel III.2 Nilai Koefisien Pengaliran (oleh Dr. Mononobe) ...................... 24
Tabel III.3 Klasifikasi Kriteria Periode Ulang (Return Period)................... 26
Tabel V.i

Data Curah Hujan Maksimum (mm) Stasiun Klimatologi


Gede ........................................................................................... 39

Tabel V.ii

Data Curah Hujan Maksimum (mm) Stasiun Klimatologi


Kemusu ...................................................................................... 39

Tabel V.iii Data Curah Hujan Maksimum (mm) Stasiun Klimatologi


Sambi ......................................................................................... 40
Tabel V.1a Perataan Hujan Metode Thiessen Pada Tahun 1993 .................. 40
Tabel V.1b Perataan Hujan Metode Thiessen Pada Tahun 1994 .................. 41
Tabel V.1c Perataan Hujan Metode Thiessen Pada Tahun 1995 .................. 41
Tabel V.1d Perataan Hujan Metode Thiessen Pada Tahun 1996 .................. 42
Tabel V.1e Perataan Hujan Metode Thiessen Pada Tahun 1997 .................. 42
Tabel V.1f Perataan Hujan Metode Thiessen Pada Tahun 1998 .................. 43
Tabel V.1g Perataan Hujan Metode Thiessen Pada Tahun 1999 .................. 43
Tabel V.1h Perataan Hujan Metode Thiessen Pada Tahun 2000 .................. 44
Tabel V.1i Perataan Hujan Metode Thiessen Pada Tahun 2001 .................. 44
Tabel V.1j Perataan Hujan Metode Thiessen Pada Tahun 2002 .................. 45
Tabel V.1k Curah hujan maksimum hasil rata-rata Thiessen ....................... 45
Tabel V.2

Analisis Frekwensi Hujan DPS Waduk Kedung Ombo............. 46

Tabel V.3

Pemilihan Jenis distribusi menurut criteria Sri Harto (1981)..... 48

Tabel V.4

Perhitungan Metode Log Pearson Type III................................ 48

Tabel V.5

Harga harga G ( Koefisien Pearson) untuk Periode Ulang Tertentu..... 50

Tabel V.6

Hasil Hujan Rancangan Metode Log Pearson Type III ............. 50

Tabel V.7

Nilai Koefisien Pengaliran untuk periode ulang tertentu........... 51

Tabel V.8

Intensitas Hujan Satuan untuk jam ke n..................................... 51

Tabel V.9

Distribusi Hujan Satuan ............................................................. 52

Tabel V.10 Analisis Hujan Effektif .............................................................. 52


Tabel V.11 Ordinat Hidrograf Satuan Nakayasu .......................................... 54
Tabel V.12 Hidrograf banjir rancangan periode ulang 1000 tahun .............. 58
Tabel V.13 Debit Banjir Rancangan Maksimum Hasil Dari Berbagai
Metode ....................................................................................... 68
Tabel V.14 Hubungan elevasi muka air-tampungan-debit (H-S-D) ............. 69
Tabel V.15 Penelusuran banjir lewat waduk dengan metode Puls
Grapichal dengan t = 1 jam...................................................... 71
Tabel V.16 Data untuk kapasitas pelimpahan waduk metode Goodrichs ... 74
Tabel V.17 Penelusuran banjir lewat waduk menggunakan metode
Goodrichs.................................................................................. 76
Tabel V.18 Hasil Pembahasan dari berbagai metode yang digunakan ........... 79

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar III.1 Hitungan hujan dengan metode Rata-rata Aljabar ................... 11
Gambar III.2 Hitungan hujan dengan metode Poligon Thiessen ................... 12
Gambar III.3 Hitungan hujan dengan metode Isohyet ................................... 13
Gambar III.4 Sketsa Hidrograf Nakayasu...................................................... 19
Gambar IV.1 Bagan alir flood routing lewat waduk...................................... 33
Gambar V.1 Sketsa Hidrograf Nakayasu...................................................... 53

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1

Data curah hujan bulanan yang terjadi pada stasiun Gede,


stasiun Kemusu dan stasiun Sambi.

Lampiran 2

Harga-harga G (koefisien Pearson) untuk periode ulang tertentu.

Lampiran 3

Tabel Kurva Karakteristik Waduk Kedung Ombo

Lampiran 4

Regresi karakteristik waduk Kedung Ombo

Lampiran 5

Grafik kapasitas waduk Kedung Ombo berdasarkan pengukuran


echo sounding tahun 1989 dan 1994

Lampiran 6

Regresi Puls I

Lampiran 7

Regresi Puls II

Lampiran 8

Regresi Goodrichs I

Lampiran 9

Regresi Goodrichs II

Lampiran 10

Grafik Inflow - Outflow Waduk Kedung Ombo

Lampiran 11

Peta Lokasi waduk Kedung Ombo

Lampiran 12

Peta DAS Waduk Kedung Ombo

Lampiran 13

Peta stasiun pencatat hujan pada DAS Sungai Serang.

Lampiran 14

Peta Poligon Thiessen DAS Sungai Serang.

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL..........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN...........................................................................ii
HALAMAN MOTTO ......................................................................................iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................iv
KATA PENGANTAR ...................................................................................... v
DAFTAR NOTASI .........................................................................................vii
DAFATAR TABEL .......................................................................................viii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ x
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................xi
DAFTAR ISI...................................................................................................xii
ABSTRAKSI .................................................................................................. xv
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah............................................................... 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................ 2
C. Tujuan Penelitian ......................................................................... 2
D. Batasan Masalah .......................................................................... 2
E. Manfaat Penelitian ....................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Penelitian Sejenis Sebelumnya .................................................... 4
1. Rr. Djenitri Hesti Wulan Prasetiani ....................................... 4
2. Gurawan Djati W ................................................................... 5
3. Damar Danang Jaya ............................................................... 6
4. Mukhlis Amirudin.................................................................. 8
BAB III LANDASAN TEORI
A. Hujan Rata-rata Pada Suatu Daerah........................................... 10
1) Metode Rata-rata Aljabar (Mean Arithmetic Method) ......... 10
2) Metode Poligon Thiessen ..................................................... 11
3) Metode Isohyet..................................................................... 13

B. Analisa Frekwensi...................................................................... 14
C. Analisa Hujan Rancangan .......................................................... 15
1) Distribusi Normal...........................................................................................15
2) Distribusi Log Normal...................................................................................16
3) Distribusi Log Pearson Type III...................................................................16
4) Metode Gumbel..............................................................................................17
D. Banjir Rancangan...................................................................................................18
1) Perhitungan Debit Banjir Menggunakan Hidragraf Satuan............... 18
2) Perhitungan Debit Banjir Metode Empiris........................... 22
a. Metode Haspers.............................................................. 22
b. Metode Rasional Mononobe .......................................... 23
c. Metode Melchior............................................................ 25
E. Klafikasi Kriteria Periode Ulang (Return Period) ..................... 26
F. Penelusuran Banjir Pada Waduk................................................ 27
1. Penelusuran Waduk Metode Puls Grapichal........................ 28
2. Penelusuran Waduk Metode Goodrich ................................ 29
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian........................................................................ 31
B. Pengumpulan Data ..................................................................... 31
C. Teknik Pengolahan Data ............................................................ 32
D. Langkah Pembahasan Metode Puls Grapichal........................... 34
E. Langkah Pembahasan Metode Goodrich ................................... 35
F. Data Teknis Waduk ................................................................... 37
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Debit Maksimum (Inflow)............................................ 38
1) Curah Hujan Daerah (Wilayah) Waduk Kedung Ombo ...... 38
B. Hujan Rancangan ....................................................................... 46
1) Analisa Frekwensi................................................................ 46
2) Analisis Hujan Rancangan ................................................... 48
C. Hidrograf Satuan Banjir Rancangan .......................................... 50
1) Koefisien Aliran ................................................................... 50

2) Distribusi Hujan Satuan ....................................................... 51


3) Hujan Effektif ...................................................................... 52
4) Ordinat Hidrograf Satuan Nakayasu .................................... 52
5) Hidrograf Banjir Rancangan ................................................ 57
6) Perhitungan Debit Metode Empiris...................................... 62
a. Metode Haspers ........................................................... 62
b. Metode Rasional Mononobe .......................................... 64
c. Metode Melchior............................................................ 66
D.Analisa penelusuran banjir lewat waduk Kedung Ombo ............. 68
E.Hasil pembahasan ......................................................................... 79
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ................................................................................ 81
B. Saran........................................................................................... 81
DAFTAR PUSTAKA

ABSTRAKSI
Waduk Kedung Ombo yang terletak di desa Kedung Ombo, memiliki
keberadaan yang penting sebagai bendungan serbaguna untuk pelayanan irigasi
dan air baku, PLTA, pengendalian banjir, perikanan serta pariwisata. Mengingat
pentingnya keberadaan waduk tersebut maka perlu diadakan penelitian untuk
tinjauan ulang keamanan waduk Kedung Ombo dari banjir rencana dengan
metode routing banjir di waduk. Dengan routing banjir yang di peroleh akan
digunakan untuk mengontrol apakah waduk Kedung Ombo aman terhadap bahaya
overtopping dari banjir rencana yang terjadi.
Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data curah hujan
harian selama 10 tahun dari 3 stasiun, data karakteristik waduk, data sungai, peta
DAS serta data spillway Waduk Kedung Ombo. Langkah perhitungan dimulai
dengan menghitung curah hujan rerata daerah menggunakan metode Poligon
Thiessen dan dilanjutkan dengan analisis frekuensi data curah hujan maksimum.
Hasil analisis frekuensi data curah hujan tersebut digunakan untuk input analisis
banjir rancangan dengan HSS Nakayasu. Untuk analisis routing banjir di waduk
menggunakan metode Puls Grapichal dan metode Goodrich. Dengan
membandingkan antara elevasi muka air banjir maksimum terhadap elevasi
puncak bendungan yang ada, maka dapat ditentukan aman atau tidaknya kondisi
puncak bendungan tersebut.
Hasil analisis menunjukkan bahwa elevasi muka air waduk maksimum
menurut metode Puls 91,19643 m dengan outflow maksimum 104,693147 m3/dt
dan menurut metode Goodrichs 91,19508 m dengan outflow maksimum
104,516377 m3/dt, yang berarti lebih rendah dari elevasi puncak bendungan 95 m.
Redaman banjir yang di dapat berdasarkan metode Puls sebesar 80,18079873 %
dan berdasarkan metode Goodrichs sebesar 80,21426262 %. Dengan selisih
tinggi elevasi 3,80357 m dan 3,80492 lebih besar dari tinggi jagaan yang
dipersyaratkan (3,0 m) berarti kondisi puncak bendungan aman dari bahaya
limpasan yang disebabkan datangnya banjir maksimum dan sanggup menerima
debit masukan untuk periode ulang 1000 tahun dengan Q total 568,241 m3/dt.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Waduk Kedung Ombo yang terletak di desa Kedung Ombo, pada pertemuan
tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Boyolali, Sragen dan Grobogan merupakan salah
satu waduk yang berfungsi sebagai bendungan serbaguna yaitu untuk pelayanan
irigasi dan air baku, PLTA, pengendalian banjir, perikanan dan pariwisata. Potensi
air Waduk Kedung Ombo berasal dari sungai utama yaitu Sungai Serang. Daerah
genangan waduk Kedung Ombo meliputi sebagian wilayah Kabupaten Grobogan,
Boyolali, dan Sragen, serta daerah layanan Waduk Kedung Ombo, meliputi
wilayah Kabupaten Grobogan, Demak, Kudus, dan Pati.
Waduk Kedung Ombo yang diresmikan penggunaannya pada tahun 1989
oleh Presiden Soeharto, memiliki tugas ganda yang saling berkaitan. Dalam
peresmiannya waktu itu, Presiden mengemukakan bahwa Waduk Kedung Ombo
merupakan salah satu hasil pembangunan yang berupa pemanfaatan alam untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat. Apa yang dikatakan Presiden ini kini sudah
terbukti, bahwa kesejahteraan warga di daerah sekitar Waduk Kedung Ombo
semakin meningkat dibandingkan dengan keadaan sebelum waduk berfungsi.
Melihat dari pentingnya fungsi Waduk Kedung Ombo tersebut, maka sangat
perlu diadakan kajian ulang untuk evaluasi keamanan Waduk Kedung Ombo dari
banjir yang datang, dengan metode routing banjir di Waduk.
Dari kajian ini diharapkan dapat sebagai kontrol terhadap keamanan Waduk
Kedung Ombo jika banjir datang pada saat waduk dalam kondisi kritis.
Disamping itu kajian ini juga untuk mengetahui kemampuan Waduk Kedung
Ombo dalam meredam banjir.

B. Rumusan Masalah
Waduk Kedung Ombo merupakan andalan untuk irigasi dan untuk
memenuhi kebutuhan listrik. Dilihat dari pasokan air dari Sungai Serang yang
masuk waduk pada musim hujan sangat menguntungkan, sehingga akan
menambah volume air waduk. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi tampungan
maksimum Waduk Kedung Ombo agar pemanfaatan air yang masuk kedalam
waduk bisa lebih optimal. Selain itu perlu juga dilakukan kajian ulang keamanan
waduk yang bisa diketahui dengan analisis penelusuran banjir (flood routing).
C. Tujuan Penelitian
1) Menentukan elevasi muka air banjir maksimal pada Waduk Kedung Ombo.
2) Mengetahui apakah elevasi puncak bendungan yang ada masih cukup aman.
terhadap limpahan banjir pada saat waduk dalam kondisi kritik.
3) Mengetahui kemampuan Waduk Kedung Ombo dalam meredam banjir.
D. Batasan Masalah
Agar tidak terjadi perluasan pembahasan, penulis memberikan batasanbatasan dalam penelitian sebagai berikut:
1) Studi ini merupakan studi penelitian yang berupa studi kasus yang terjadi
pada Waduk Kedung Ombo Kabupaten Boyolali.
2) Studi ini ditekankan pada analisis routing banjir dan debit keluaran(outflow)
dari Waduk Kedung Ombo dengan metode penelusuran banjir ( flood routing ).
3) Analisis karakter hidrologi (hujan maupun aliran) tidak memperhatikan efek
"trend" (kecenderungan).
4) Analisis

penelusuran

banjir

(flood

routing)

pada

menggunakan metode Puls grapichal dan metode Goodrich.

waduk

dengan

E. Manfaat Penelitian
1) Manfaat secara teoritis.
Dapat mengaplikasikan (penerapan) metode penelusuran banjir pada kasus
Waduk Kedung Ombo.
2) Manfaat secara praktis
a)

Dapat mengetahui cara-cara menyelesaikan persoalan pengendalian


banjir dan ramalan banjir.

b) Dengan mengetahui batas - batas elevasi air banjir maksimum maupun


minimum, maka dapat meningkatkan manfaat/optimalisasi fungsi waduk
untuk irigasi dan perikanan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Sejenis Sebelumnya
Ada beberapa penelitian serupa yang pernah dilakukan peneliti-peneliti
terdahulu, peneliti-peneliti tersebut antara lain adalah :
5. Rr. Djenitri Hesti Wulan Prasetiani
Rr. Djenitri Hesti Wulan Prasetiani (2000) dalam tugas akhirnya yang
berjudul Kajian Muka Air Banjir Pada Waduk Sermo, menyusun tugas akhir
ini dengan pertimbangan pentingnya fungsi Waduk Sermo sebagai pariboga
(irigasi) untuk daerah Clereng, Pengasih, Pekik Jamal, serta pentingnya fungsi
Waduk Sermo sebagai suplesi ke beberapa bendungan dibagian bawah.
Tujuan penelitian tersebut dilakukan untuk menentukan elevasi muka air
banjir maksimal pada Waduk Sermo. Yang kedua adalah untuk mengetahui
apakah elevasi puncak bendungan yang ada masih cukup aman terhadap
limpasan banjir. Yang ketiga untuk mengetahui besarnya debit keluaran yang
terbuang percuma dan yang keempat untuk mengatasi agar diperoleh
tampungan air yang lebih besar dari sebelumnya dan agar pengeluaran air lebih
hemat.
Penelitian ini dilakukan di 3 stasiun pencatat hujan yang ada pada daerah
pengaliran sungai/ kali Ngrancah dan sekitarnya. Yaitu Stasiun Wates, Kenteng
dan Hargorejo. Analisa penelusuran banjir dilakukan dengan menggunakan
metode hidrologi ( metode Pull Grafical ).
Kesimpulan yang di peroleh dalam penulisan tugas akhir ini antara lain:
a. Didapat elevasi muka air waduk maksimum tercapai + 137,29 m.
Sedangkan debit keluar terbesar yang melimpah lewat bangunan pelimpah
adalah 32,103 m3/dt. Ini adalah lebih kecil dari debit masuk ke waduk
maksimum sebesar 148,226 m3 /dt, sehingga ada pemotongan debit puncak
sebesar 148,226 32,103 = 116,123 m3/dt. Disinilah arti pengendalian
banjir dengan menggunakan waduk.

b. Dengan didapatkannya tinggi jagaan waduk lebih besar dari tinggi jagaan
praktis yang dipersyaratkan (4,31 3,5 m), maka kondisi Waduk Sermo
aman terhadap bahaya limpasan yang disebabkan datangnya debit banjir
maksimum periode ulang 50 tahun, dengan Q total 148.226 m3/dt.
Dari penelitian yang telah dilakukan ini Rr.Djenitri Hesti Wulan
Prasetiani menyarankan agar elevasi mercu spillway ditinggikan sampai
mencapai batas mendekati tinggi jagaan praktis (4,31>3,5). Hal ini
dimaksudkan untuk meningkatkan potensi daya tampung. Selain itu untuk
menjaga keamanan, jika mercu Spillway itu ditinggikan maka perlu juga
menambah Spillway darurat. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga bahaya banjir
yang tidak terduga yang bisa menyebabkan limpasan.
6. Gurawan Djati W
Gurawan Djati Wibowo (2002) dalam penelitiannya yang berjudul
Perbandingan Beberapa Metode Routing Banjir di waduk, menyusun penelitian
ini dengan pertimbangan perlunya diadakan kajian ulang untuk mengevaluasi
keamanan Waduk Sermo dari banjir yang datang, dengan metode routing banjir
di waduk, mengingat pentingnya fungsi Waduk Sermo untuk melayani
kebutuhan manusia. Penelitian ini disusun dengan tujuan untuk tinjauan ulang
keamanan Waduk Sermo dari banjir rancangan yang terjadi. Data yang
digunakan adalah data sekunder, berupa data hujan rencana 50 tahun dan
karakteristik Waduk Sermo (Jenitri 2000). Sedangkan pada analisis routing
banjir untuk evaluasi keamanan Waduk dari banjir rencana menggunakan
metode Pull Grafical, Newton Raphson dan Runge Kutta Orde 3. Secara umum

basil routing memberikan basil yang hampir sama dengan sedikit penyimpangan
dari beberapa metode tersebut. Berdasarkan metode cara analisisnya metode
Runge Kutta memberikan hasil yang teliti, disusul metode Newton Raphson
dan Level Pool serta Pull Grafical.

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini antara lain:


a. Secara teoritis keempat metode routing banjir dapat diterapkan dilapangan.

b. Waduk Sermo aman terhadap bahaya overtopping dengan banjir rencana 50


tahun.
c. Perbedaan redaman banjir berkisar 4 % dari keempat metode routing banjir.
Dari penelitian ini dapat dipahami bahwa kelemahan metode Pull
Grafical dan Level Pool adalah terletak pada prediksi titik diantara titik - titik

pengukuran echosounder dilakukan dengan cara linier, dan kemungkinan


kenyataan dilapangan tidak linier. Sedangkan kelemahan metode Newton
Raphson adalah kurva karakteristik hasil regresi mempunyai korelasi yang

kecil terhadap hasil pengukuran echosounding dan pemetaan. Sehingga


didapatkan penyimpangan yang besar dari hasil pengukuran. Sedangkan
kelemahan metode Runge Kuta Orde 3 adalah jika ternyata kenyataan
dilapangan fungsi tampungan terhadap elevasi muka air merupakan fungsi
polinom derajad 4 atau lebih, sehingga prediksi Runge Kuta Orde 3
mempunyai error ( kesalahan), akan tetapi dari pengalaman di lapangan fungsi
polinom tingkat tinggi jarang dijumpai.
Berdasarkan pertimbangan diatas Gurawan Djati Wibowo tidak dapat
menentukan metode routing yang paling tepat. Hal ini dikarenakan tidak
didapatkannya data inflow banjir dan catatan outflow sebagai kalibrasi yang
sama persis dengan hasil perhitungan yang ada. Keahlian seorang engineer di
dalam membaca alam dan hasil pengukuran tampungan waduk sangat
membantu dalam menentukan metode yang cocok diterapkan di lapangan.
7. Damar Danang Jaya
Damar Danang Jaya (2002), dalam tugas akhirnya yang berjudul Analisis
Routing Banjir Waduk Mrica Banjarnegara, menyusun tugas akhir ini dengan
pertimbangan pentingnya keberadaan Waduk Mrica sebagai Pembangkit
Listrik Tenaga Air PLTA PB. Soedirman atau PLTA Mrica oleh PLN
Pembangkit dan Penyaluran Jawa bagian barat sektor Mrica. Maka perlu
diketahui berapa debit masukan dan berapa debit keluaran maksimal yang
terbuang lewat pelimpah. Untuk itu perlu adanya analisa muka air dan debit
pengeluaran banjir.

Tujuan penelitian ini dilakukan antara lain adalah untuk menentukan


elevasi muka air banjir pada Waduk Mrica, yang kedua untuk mengetahui
apakah elevasi puncak bendungan yang ada masih cukup aman terhadap
limpahan banjir, yang ketiga untuk mengetahui besarnya debit keluaran yang
terbuang percuma, dan yang keempat untuk mengatasi agar memperoleh
tampungan air yang lebih besar dari sebelumnya dan agar pengeluaran air lebih
hemat.
Kesimpulan yang diperoleh dalam penulisan tugas akhir ini antara lain :
b. Pola operasi pintu radial dilakukan sebagai berikut :
1.

Pada elevasi diatas 225,3m, keempat pintu spillway dibuka masing masing sebesar 0,3 m.

2.

Setelah elevasi muka air waduk mencapai 233 m keempat pintu


spillway dibuka penuh.

c. Adanya inflow yang masuk kedalam waduk akan menambah ketinggian


muka air waduk, dan outflow melalui pelimpahan dapat diatur sesuai
dengan pengoperasian pintu radial. Sehingga didapatkan elevasi tampungan
waduk yang optimal.
d. Kondisi Waduk Mrica aman terhadap bahaya limpahan yang disebabkan
datangnya debit banjir maksimum periode ulang 50 tahun.
e. Dengan memanfaatkan pintu radial maka elevasi muka air waduk dapat
diatur sesuai dengan pola operasi pintu radial.
Dari penelitian yang telah dilakukan ini Damar Danang Jaya
menyarankan dimanfaatkannya pintu radial secara optimal yaitu dengan
merubah pola operasi pintu radial dengan menaikkan elevasi penutupan pintu
radial, sehingga didapatkan elevasi tampungan waduk yang optimal atau
mendekati tinggi jagaan waduk yang dipersyaratkan. Hal ini dilakukan karena
didapatkan tinggi jagaan teoritis lebih besar dari tinggi jagaan praktis yang
dipersyaratkan.

8. Mukhlis Amirudin
Mukhlis Amirudin (2004), dalam tugas akhirnya yang berjudul Tinjauan
Perencanaan Tubuh Bendungan Waduk Delingan Kabupaten Karanganyar,
menyusun tugas akhir ini dengan pertimbangan perlu adanya survei yang
menunjukkan bahwa setelah bendungan Delingan direhabilitasi maka
bendungan akan stabil, mengingat aktivitas pertanian dan keselamatan
penduduk disebelah selatan waduk menjadi sangat penting dengan tidak
stabilnya tubuh bendungan.
Tujuan penelitian ini dilakukan antara lain adalah untuk mengetahui
elevasi muka air banjir maksimal pada Waduk Delingan. Yang kedua untuk
mengetahui apakah elevasi puncak bendungan yang ada masih cukup aman
terhadap limpahan banjir dan untuk mengetahui apakah pelaksanaan
rehabilitasi bendungan sudah sesuai spesifikasi, sehingga didapatkan hasil
sesuai yang diharapkan.
Penelitian ini dilakukan di stasiun pencatat hujan yang ada pada daerah
DPS Sungai Tempuran. Analisisnya menggunakan metode hidrologi (metode
Pull Grafical).

Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini antara lain:


a.

Penelusuran banjir dengan metode Pull Grafical menghasilkan debit


Outflow 80,007 m3 / dt untuk kala ulang 50 tahun.

b.

Angka keamanan telah memenuhi syarat sehingga penambahan kapasitas


waduk dengan menaikkan muka air, aman dilakukan.

c.

Debit rembesan dari chimney drain dapat ditampung oleh colector drain.
8.10 -5 m3/dt/ m' > 2,5839.10-5 m3/dt.

d.

Kecepatan aliran filtrasi lebih kecil dari kecepatan kritis aliran filtrasi.
V = 1,6182.10-5 m/dt < V Kr = 0,2976 m3/dt.

e.

Kapasitas rembesan total pada tubuh dan pondasi bendungan adalah


29,0878 m3/hari/ 300 meter.

Dari

penelitian

yang

telah

dilakukan

ini,

Mukhlis

Amirudin

menyarankan untuk menganalisa lebih lanjut perhitungan spillway, Investasi


Rencana Anggaran Biaya dan Perencanaan Pemakaian Waduk sebagai sumber
energi pada Pembangkit Listrik Tenaga Air untuk dapat diperhitungkan pada
analisa selanjutnya. Selain itu disarankan juga untuk menggunakan data-data
dari hasil - hasil penelitian langsung dilapangan.
Dengan dasar pertimbangan dari penelitian - penelitian terdahulu tentang
tinjauan perencanaan ulang pada tubuh bendungan, maka dalam tugas akhir ini
penulis ingin membuat suatu perhitungan tinjauan kembali bendungan Kedung
Ombo dalam hal kelayakan elevasi mercu bendungan dengan menggunakan
Metode Puls Grapichal dan Metode Goodrich.

BAB III
LANDASAN TEORI
A. Hujan Rata-rata Pada Suatu Daerah
Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan suatu rancangan
pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir adalah curah hujan rata-rata
yang terkait bukan curah hujan pada suatu titik tertentu. Curah curah hujan ini
disebut curah hujan wilayah / daerah dan dinyatakan data satuan mm.
Cara perhitungan. curah hujan daerah dan pengaruh curah hujan di beberapa
titik dapat dihitung dengan beberapa cara, diantaranya :
1) Metode rata-rata aljabar (mean arithmetic method)
Metode hitungan dengan rata-rata aljabar (mean arithmetic method) ini
merupakan cara yang paling sederhana dan memberikan hasil yang tidak teliti.
Hal tersebut diantaranya karena setiap stasiun dianggap mempunyai bobot
yang sama. Hal ini hanya dapat digunakan kalau hujan yang terjadi dalam DAS
homogen dan variasi tahunannya tidak terlalu besar. Keadaan hujan di
Indonesia (daerah tropik pada umumnya) sangat bersifat setempat, dengan
variasi ruang (spatial variation) yang sangat besar.
R=

1
. (R1 + R2 + ... + Rn)....................................................................(3.1)
n

dengan :
R

= Curah hujan daerah

R1,R2... Rn

= Curah hujan di tiap titik pengamatan

= jumlah titik-titik pengamatan.

Gambar III.1. Hitungan hujan dengan metode rata-rata aljabar

2) Metode Poligon Thiessen


Hitungan dengan Poligon Thiessen dilakukan seperti sketsa pada gambar
III.2. Metode ini memberikan bobot tertentu untuk setiap stasiun hujan dengan
pengertian bahwa setiap stasiun hujan dianggap mewakili hujan dalam suatu
daerah dengan luas tertentu, dan luas tersebut merupakan faktor koreksi
(weighing factor) bagi hujan di stasiun yang bersangkutan. Luas masingmasing daerah tersebut diperoleh dengan cara berikut (Sri Harto, 1993) :
a. Semua stasiun yang terdapat di dalam (atau di luar) DAS dihubungkan
dengan garis, sehingga terbentuk jaringan segitiga-segitiga. (Hendaknya
dihindari terbentuknya segitiga dengan sudut sangat tumpul).
b. Pada masing-masing segitiga ditarik garis sumbunya, dan semua garis
sumbu tersebut membentuk poligon.
c. Luas daerah yang hujannya dianggap mewakili oleh salah satu stasiun
yang bersangkutan adalah daerah yang dibatasi oleh garis-garis poligon
tersebut (atau dengan batas DAS).
d. Luas relatif daerah ini dengan luas DAS merupakan faktor koreksinya.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada persamaan di bawah ini :


R = W1.R1+W2.R2+..+Wn.Rn.......(3.2)
W1,W2,..Wn=

A1 A2 An
......(3.3)
A A A

dengan :
R

= hujan rata-rata DAS, dalam mm

A1,A2,..An

= luas masing-masing poligon, dalam km2

R1,R2... Rn

= curah hujan di tiap stasiun pengamatan, dalam mm

= jumlah stasiun pengamatan.

W1,W2,..Wn = faktor pembobot Thiessen untuk masing-masing stasiun.


Gambar III.2. Hitungan hujan dengan metode Poligon Thiessen

Metode Thiessen memberikan hasil yang lebih teliti dari pada cara aljabar
rata-rata. Kelemahan metode ini adalah penentuan titik pengamatan dan
pemilihan ketinggian akan mempengaruhi ketelitian hasil yang didapat.
Demikian pula apabila ada salah satu stasiun tidak berfungsi, misalnya rusak
atau data tidak benar, maka poligon harus diubah.

3) Metode Isohyet
Metode ini dilakukan dengan membuat garis isohyet yaitu garis yang
menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai kedalaman hujan sama pada
saat yang bersamaan. Cara membuat garis isohyet adalah dengan cara
interpolasi data antar stasiun.
Pada prinsipnya, cara ini mengikuti sedekat mungkin kenyataan di alam,
dengan mencari bobot yang sesuai untuk suatu nilai tebal hujan. Tidak jarang
pula, luas untuk hitungan bobot adalah luas antara dua garis kontur dan nilai
hujan yang mewakili luas antara dua kontur adalah nilai rerata aljabar antara
dua kontur tersebut.
R = W1.R1+W2.R2+..+Wn.Rn...........(3.4)
dengan :
R

= hujan rata-rata DAS, dalam mm

R1,R2... Rn

= Hujan rata-rata antara dua buah isohyet, dalam mm

W1,W2,..Wn = perbandingan luas DAS antara dua isohyet dan luas total
DAS.
Kelemahan utama cara isohyet ini adalah pembuatan garis kontur yang
sangat dipengaruhi oleh si pembuat kontur, sehingga bersifat subyektif.
Dengan data yang sama, tiga orang yang berbeda dapat melukis garis kontur
yang berbeda dan menghasilkan nilai rerata hujan daerah yang berbeda pula.
Gambar III.3. Hitungan hujan dengan metode Isohyet

Dari ketiga metode ini dipilih metode poligon untuk analisa selanjutnya.
Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa titik pengamatan di dalam daerah itu
tersebar merata dan kondisinya jarang-jarang. Selain itu karena dalam metode
Thiessen diperhitungkan pula daerah pengaruh tiap titik pengamatan atau

disebut faktor pembobot bagi masing-masing stasiun pengamatan, sehingga


memberikan hasil perhitungan yang lebih teliti dan akurat daripada metode
yang lain. Disamping itu faktor subyektivitas dapat dihindari dengan
penggunaan metode ini.
B. Analisa Frekuensi
Dalam penentuan distribusi frekuensi ada beberapa persyaratan yang perlu
dipenuhi, yaitu mengenai nilai parameter-parameter statistiknya. Parameter
tersebut antara lain : koefisien variasi, koefisien asimetri (skewness) dan koefisien
kurtosis.
Analisis frekuensi harus dilakukan secara bertahap dan sesuai dengan urutan
kerja yang telah ada karena hasil dari masing masing perhitungan tergantung dan
saling mempengaruhi terhadap hasil perhitungan sebelumnya. Berikut adalah
penerapan dari langkah-langkah analisis frekuensi setelah persiapan data
dilakukan.
Standar deviasi (S) :
n

S=

(X
i 1

X )2

n 1

...... (3.5)

dengan :
S

= standar deviasi

= curah hujan rancangan pada periode tertentu

= curah hujan harian maksimum rata-rata

= Jumlah data

Koefisien variasi (Cv) :


Cv =

S
...... (3.6)
X

dengan :
Cv = koefisien variasi
Koefisien Asimetri / Skewness (Cs) :
Cs =

n
.
(
X

X
) 3 ... (3.7)

( n 1).( n 2).S 3

dengan :
Cs = Koefisien Asimetri / Skewness
Koefisien Kurtosis (Ck) :
Ck =

n
. ( X X ) 4 ) .... (3.8)
4
(n 1).(n 2).(n 3) S

dengan :
Ck = Koefisien Kurtosis
C. Analisa Hujan Rancangan
Perhitungan hujan rancangan dapat dikerjakan dengan berbagai metode
distribusi, yaitu metode normal, log normal, Gumbel, maupun log Pearson Type
III. Hal ini tergantung dari hasil perhitungan analisa frekuensi.
1). Distribusi Normal
Fungsi kerapatan kemungkinan (probability density function) distribusi ini
adalah sebagai berikut (Sri Harto, 1993) :
P (x) =

1
S 2

( x x )2

.e

2S 2

....................................................................................(3.9)

dengan :
P = fungsi kerapatan kemungkinan
S = deviasi standar

X = nilai rata-rata

X = variabel alat

Sifat khas lain dari jenis distribusi ini adalah nilai koefisien skewness hampir
sama dengan nol (Cs 0) dan nilai koefisien kurtosis mendekati tiga (Ck 3).
2). Distribusi Log Normal
Fungsi kerapatan kemungkinan (probability densiy function) distribusi ini
adalah sebagai berikut (Sri Harto, 1993):
1

P(X) =

Sn 2

.e ( 0 ,5 (ln x Xn / Sn ) ) ......................................................................(3.10)

dengan :
Xn = 0,5. ln
Sn = ln [

X + S2

S2 + x
x2

] ....................................................................(3.11)

] ..............................................................................(3.12)

Besarnya skewness (Cs) = Cv3 + 3. Cv............................................................(3.13)


Besarnya Kurtosis (Ck) = Cv8 +6.Cv6 + 15. Cv4 + 16. Cv2 +3.......................(3.14)
dengan :
P = fungsi kerapatan kemungkinan
S = deviasi standar

X = nilai rata-rata
X = variabel alat
3). Distribusi Log Pearson Type III
Untuk menghitung banjir perencanaan dalam praktek, The Hydrology

Committee of The Water Resources Council USA, menganjurkan pertama kali


mentransformasi data ke nilai-nilai logaritmanya, kemudian menghitung
parameter-parameter statistiknya, karena informasi tersebut, maka cara ini disebut
Log Pearson Type III.
Garis besar analisis ini sebagai berikut :
a. Mengubah data debit banjir tahunan sebanyak n buah.
XI .X2 ............ Xn menjadi log XI .log X2

................ Log

X n.

b. Menghitung harga rata-rata dengan rumus :


n

Log X =

c.

log X
i 1

(3.15)
n
Menghitung harga standart deviasi dengan rumus :
n

s =

(log

X 1 log X ) 2

i 1

n 1

.. (3.16)

dengan :
s = Standart deviasi
d.

Menghitung koefisien asimetri dengan rumus :

(log X
Cs =

log X ) 2

( n 1)( n 2) s 2

.. (3.17)

dengan :
Cs = Koefisien asimetri
e.

Menghitung logaritma debit dengan waktu balik yang dikehendaki dengan rumus
sebagai berikut :

Log q = log X + G . s .... (3.18)


dengan :G = Koefisien Pearson
q = Hujan rancangan
s = Standart Deviasi
f.

Mencari anti log q untuk mendapatkan nilai yang diharapkan terjadi pada tingkat
peluang atau periode tertentu sesuai dengan nilai Cs nya.

4). Metode Gumbel

Fungsi kerapatan kemungkinan (probability densiy function) distribusi ini


adalah sebagai berikut (Sri Harto, 1993):
P' ( X ) = ee

A( X B )

............................................................................................(3.19)

dengan :
A = 1,281/S............................................................................................(3.20)

B = X - 0,45. S.....................................................................................(3.21)

Nilai Cs = 1,1396 dan Ck = 5,4003


dengan :
P = fungsi kerapatan kemungkinan
S = deviasi standar

X = nilai rata-rata
X = variabel alat
D. Banjir Rancangan

Perkiraan debit banjir dapat dilakukan dengan :


- Menggunakan hidrograf satuan
- Menggunakan rumus empiris
- Cara statistik
3) Perhitungan Debit Banjir Menggunakan Hidrograf Satuan

Dari perhitungan banjir rancangan dalam penelitian ini digunakan cara hidrograf
satuan dengan pertimbangan bahwa cara ini adalah cara yang paling dipercaya dan
hasilnya berupa grafik hidrograf yang dapat dipakai sebagai debit masukan (inflow) pada
analisis penelusuran banjir. Pada sungai-sungai yang tidak ada atau sedikit sekali
dilakukan observasi hidrograf banjirnya, maka perlu ditentukan karakteristik atau
parameter daerah pengaliran tersebut terlebih dahulu, misalnya waktu untuk mencapai
puncak hidrograf, lebar dasar, luas DAS, kemiringan dasar sungai, panjang alur terpanjang
(Length of the longestt channel) Koefisen pengaliran (run of coefficient) dan
sebagainya. korelasi tersebut biasanya digunakan hidrograf-hidrograf sintetik yang telah
dikembangkan di negara lain seperti Metode Nakayasu, Metode Snyder Alexejev,
Metode Gama l, dan lain sebagainya.
Adapun parameter-parameter tersebut harus sesuai dahulu dengan
karateristik daerah pengaliran yang ditinjau. Hidrograf Satuan Sintetik (HSS)
Nakayasu. Nakayasu berbangsa Jepang membuat rumus hidrograf satuansatuan sintetik dari penyelidikan sebagai berikut :

Qp =

ARo
(3.21)
3 , 6 ( 0 ,3Tp + T 0 ,3 )

dengan :
Qp

= debit puncak banjir ( m 3 /dt)

Ro

= hujan satuan (mm)

= luas daerah pengaliran sungai (km 2 )

Tp

= tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak (jam)

T0,3

= waktu yang diperlukan oleh penurunan debit sampai menjadi 30 %


dan puncak (jam)

Bagian lengkung/kurva naik (rising limb) hidrograf satuan mempunyai


persamaan sebagai berikut :
t
Qa = Qp

Tp

2,4

(3.22)

dengan :
Qa

= Limpasan setelah mencapai debit puncak ( m 3 /dt)

= waktu (jam)

Qp

= debit puncak banjir ( m 3 /dt)

Tp

= tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak (jam)


Tg
Qmax
0,8 tr

Kurva naik

Kurva turun
Qp
0,3 Qp

tr

Tp

T 0,30

1,5 T 0,30

Gambar III.4. Sketsa Hidrograf Nakayasu

0,32 Qp
T = waktu (jam)

Bagian lengkung / kurva turun (decreasing limb) mempunyai persamaan sebagai


berikut :
Kurva turun I
Qd 1 >0,3. Qp
Qd 1 = Qp 0,3

(t T p ) / T0 , 3

...(3.23)

dengan :
Qd 1 = Kurva turun 1
Kurva turun 2
0,3 2 . Qp > Qd 2 > 0,3 2 . Qp
(t T + 0,5.T0 , 3 ) / (1,5.T0 , 3 )
.......(3.24)
Qd2= Qp.0,3 p
dengan :
Qd2 = Kurva turun 2
Kurva turun 3
0,3 2 Qp> Q.d 3
(t T +1,5.T0 , 3 ) / (2.T0 , 3 )
......(3.25)
Qd 3 = Qp.0,3 p
dengan :
Qd 3 = Kurva turun 3
Waktu konsentrasi (time log) dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
- untuk L >15 km
tg = 0,21 L 0, 7 ..(3.26)
- untuk L <15 km
tg = 0,4 + 0,058 L ................... (3.27)
dengan : L = panjang alur sungai (km)
tg = waktu konsentrasi (jam)
tenggang waktu dinyatakan dengan persamaan
Tp = tg +0,8 tr ........... (3.28)
waktu effektif (Effectif time) dihitung dengan persamaan
Tr = 0,5 tg sampai tg .... (3.29)
waktu yang diperlukan oleh penurunan debit dari debit puncak sampai menjadi 30
% dari debit puncak dapat dihitung dengan persamaan :
T0,3 = . tg ...... (3.30)

0 , 25
= 0 , 47 ( A. L )

Tg

dengan : = Koefisien pengaliran


Menurut Wanielista, M.P dalam bukunya yang berjudul Hidrologi Water Quantity
and Qualility Control, Unit Hidrograf Satuan adalah :
Volume
LuasDPS

=1

Apabila hasil yang diperoleh belum 1 maka harus dikalikan dengan hasil yang
diperoleh dari pembagian antara volume (Q) dengan luas DPS (L) yang ada. Dari
hasil tersebut volume yang didapat baru dapat digunakan untuk mencari Hidrograf
Banjir Rancangan yang di gunakan.
Intensitas hujan untuk satuan dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut
Rt = Ro (T / t )2 / 3 .... (3.31)
T

dengan :
T = lamanya hujan dalam lokasi, diambil 5 jam (untuk daerah Kedung Ombo
dengan intensitas curah hujannya sedang, sehingga diasumsikan T = 5 jam ).
Ro = hujan satuan (mm)
Rt = intensitas hujan satuan untuk jam ke-n (mm)
Distribusi hujan satuan dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
Hujan ke (t) = t.Rt-(t-1)R (t 1 ) . (3.32)
dimana : t = waktu jam ke-n
Hujan efektif dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :
R efektif = . R rancangan .. (3.33)
dimana :

= koefisien pengaliran

R rancangan = hujan rancangan (mm)


Maka hujan efektif jam ke-n dinyatakan sebagai berikut :
R jam ke-n = R efektif . D. .. (3.34)
dengan : D

= Distribusi (%)

Rjam ke -n = Hujan efektif jam ke-n (mm)


Sedangkan koefisien pengaliran dapat ditentukan dengan rumus-rumus yang
tercantum pada Tabel III.1 berikut ini :

Tabel III.1 Rumus-rumus koefisien pengaliran

No

Daerah

Kondisi

Curah

Rumus Koefisien

Sungai
1

Hulu

2
3

Pengaliran Rerata

= 1-15,7/Rt 3 / 4

Tengah

Sungai biasa

= 1-5,65/Rt 1 / 2

Tengah

Sungai di

Rt>200mm

= 1-7,20/Rt 1 / 2

zona lava
4

Tengah

Rt<200mm

= 1-3,14/Rt 1 / 3

Hilir

= 1-6,60/Rt 1 / 2

Sumber : Dikutip dari S. Sosrodarsono dan K.Takeda, hidrologi untuk pengairan


( Jakarta : PT. Pradnya Paramita, 1978 ).
4) Perhitungan Debit Banjir Metode Empiris

Digunakan bila terdapat data hidrologi yang cukup banyak variabel yang
mempengaruhi debit, sedang rumus-rumus empiris umumnya merupakan
korelasi beberapa variabel, maka dengan sendirinya tidak mungkin diperoleh
hasil yang dapat dipercaya. Tapi ini dapat memperkirakan harga yang kasar
secara cepat.
Adapun rumus empiris yang kami kemukakan disini antara lain : Metode
Haspers, Rasional Mononobe, dan Metode Melchior.
a. Metode Haspers

Rumus umum dari debit banjir rancangan adalah


QT= . . qT . A ..... (3.35)
Dimana :
QT = Debit banjir maksimum (m3/dt),
= Koefisien pengaliran,
= Koefisien reduksi,
qT = Intensitas hujan untuk periode ulang tertentu (mm)
A = Luas Daerah Pengaliran (km2)
persamaan intensitas hujan untuk periode ulang tertentu adalah :
qT = rT

3 , 6 .t

...... (3.36)

dimana :
rT = Curah hujan efektif periode ulang tertentu (mm)
t = Waktu konsentrasi (jam)
persamaan curah hujan efektif periode ulang tertentu dapat ditulis sebagai
berikut :
rT = 0,707 . RT . t+1...... (3.37)
dimana :
rT= Hujan rancangan untuk periode ulang tertentu (mm).
koefisien reduksi dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
1

0 , 4 .t
0 , 75
= 1+ t + 3,27 . 10
. A .... (3.38)

t + 15

12

dimana :
= Koefisien reduksi
Koefisien pengaliran (run off) dinyatakan dengan persamaan sebagai
berikut:
0 .7
= 1 + 0 , 012 . A 0 .7 .... (3.39)

1 + 0 , 075 . A

Adapun waktu konsentrasi (time concentration) dinyatakan dengan


persamaan sebagai berikut :
T = 0,1 . L0,8.So-0,3.... (3.40)
dimana :
L

= Panjang sungai dari ujung hulu sampai titik pengamatan (km)

So

= Kemiringan dasar sungai.

b. Metode Rasional Mononobe

Rumus ini adalah rumus yang tertua dan terkenal diantara rumusrumus empiris. Rumus ini banyak digunakan untuk sungai-sungai biasa
dengan daerah pengaliran yang luas. Bentuk umum rumus rasional ini
adalah sebagai berikut :
Q = 1 . . r . A ...... (3.41)
3,6

dimana :
Q = Debit banjir maksimum (m3/dt)
= Koefisien pengaliran,
r = Intensitas hujuan rata-rata selama waktu tiba dari banjir (mm/jam).
A = Luas DPS/ Catchment area (km2)
Intensitas hujan rancangan menurut Mononobe dinyatakan dengan
rT = RT [ 24 ] 2/3.... (3.42)
24

dimana :
rT = Hujan rancangan untuk periode ulang tertentu (mm).
Waktu konsentrasi dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
t = L ......... (3.43)
V

dimana :
V = Kecepatan rambat banjir ke tempat titik pengamatan (km/jam)
L = Panjang sungai dari ujung hulu sampai titik pengamatan (km)
Adapun kecepatan rambat banjir dinyatakan dengan persamaan sebagai
berikut :
V = 72 [ H ] 0.6.... (3.44)
L

dimana :
H = Perbedaan elevasi dengan titik terjauh DPS.
Adapun mengenai koefisien pengaliran () dapat ditentukan harganya
berdasarkan tabel dari Dr. Mononobe sebagaimana berikut ini.
Tabel III.2. Nilai Koefisien Pengaliran (oleh Dr. Mononobe)

No

Kondisi Daerah Pengaliran Dan Sungai

Harga

Daerah bergunung dan curam

0,75 0,90

Daerah pegunungan tertier

0,70 0,80

Sungai dengan tanah dan hutan dibagian atas

0,50 0,75

dan bawahnya
4

Tanah dataran yang ditanami

0,45 0,60

Sawah waktu dialiri

0,70 0,80

Sungai bergunung

0,75 0,85

Sungai dataran

0,45 0,75

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Pengairan Direktorat


Sungai , Cara Menghitung Design Flood (Jakarta : Badan Penerbit
Pekerjaan Umum, 1980).
c. Metode Melchior

Besarnya debit banjir maksimum dinyatakan dengan persamaan sebagai


berikut :
Qmax = T . . rT . A...... (3.45)
dimana :
Qmax = Debit banjir maksimum (m3/dt)
T

Koefisien pengaliran untuk masing-masing periode ulang tertentu

rT

Intensitas hujan rancangan (mm)

= Luas DPS/ Catchment area (km2)

Koefisien reduksi dinyatakan dengan persaman sebagai berikut :


A = 1970 - 3960+1720. ...... (3.46)
0.12

Waktu konsentrasi dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :


t = 100.L ...... (3.47)
60.V

dimana :
V

= Kecepatan rambat banjir ke tempat titik pengamatan (km/jam)

L = Panjang sungai dari ujung hulu sampai titik pengamatan (km)


Koefisien aliran () berkisar antara 0,42 0,62 dan Melchior menganjurkan
untuk memakai = 0,52.

E. Klasifikasi Kriteria Periode Ulang (Return Period)

Klasifikasi ini menentukan kriteria debit banjir periode ulang tertentu data
kaitannya dengan perencanaan bangunan konstruksi, kriteria itu terdiri dari :
Tabel III.3. Rekomendasi Periode Ulang Minimum Banjir Rencana (tahun)

Untuk Desain Bangunan-bangunan Pengendali Banjir dan


Bangunan Pelengkapnya di Sungai
Jenis Bangunan

Periode Ulang

Keterangan

(Tahun)
Bangunan

pelindung

25

tebing sungai.
Perlindungan

Krib, Bronjong, Riprap,


dll.

gerusan

50

Riprap, Bronjong, dll.

lereng tanggul.
Normalisasi / perbaikan

Bervarisi

alur.

Untuk

alur

digunakan

debit

alami
alur

penuh atau debit regime


sungai.
Bendung

50-1000

Jembatan

50

Jalur perlintasan pipa.

50

Jalur pelintasan pipa yang


melintang diatas sungai
atau

tertanam

didasar

sungai dan mengangkut


bahan non polusi.
100

Jalur pelintasan pipa yang


melintang diatas sungai
atau

tertanam

didasar

sungai dan mengangkut


bahan polutan.
Sumber : CIDA, 1993

F. Penelusuran Banjir Pada Waduk

Waduk dengan debit sebagai fungsi dari elevasi permukaan air, memberikan
sarana penelusuran yang paling sederhana dari semua keadaan penelusuran.
Waduk semacam ini mungkin mempunyai saluran air tanpa pintu dan atau saluran
pelimpah tanpa pengontrol. Waduk yang mempunyai saluran air atau saluran
pelimpah dapat diperlakukan sebagai waduk sederhana pintunya tetap pada
bukaan tertentu. Data yang diketahui pada waduk tersebut adalah kurva simpanan
elevasi dari kurva debit elevasi air.
Persamaan penelusuran banjir dapat ditulis sebagai berikut :

I1 + I 2
Q
Q
t + ( S1 1 t ) = ( S1 2 t ) ... (3.48)
2
2
2
Atau
I1 + I 2
S Q
S
Q
+ ( 1 2 ) = 2 + 2 ..... (3.49)
2
2
2
t 2

S1 Q2
S
Q

= 1dan 2 + 2 = 2 ... (3.50)


2
2
2
t
dapat ditulis sebagai berikut :
I1 + I 2
+ 1 = 2 ...................................... (3.51)
2
dengan:
I

= debit yang masuk ke dalam waduk (m3/dt)

= debit yang keluar dari waduk (m3/ dt)

= periode penelusuran (detik, jam atau hari)

= besarnya tampungan.(storage) waduk (m)

= keadaan pada saat permulaan penelusuran.

= keadaan pada akhir penelusuran.


II dan I2 dapat diketahui dari hidrograf debit masuk ke waduk jika periode

penelusuran (routing periode) t telah ditentukan. S1 merupakan tampungan waduk


pada permulaan periode penelusuran yang diukur dari dalam fasilitas pengeluaran
(mercu bangunan pelimpah atau sumbu terowongan outlet). Q1 adalah debit keluar
pada permulaan periode penelusuran. Kalau fasilitas pengeluaran berupa

bangunan pelimpah (spillway), maka digunakan rumus sebagai berikut :


Q = C.Be.H 3 / 2 ....(3.52)
dengan :
C

= koefisien debit bangunan pelimpah (asumsi = 1,7-2,2 m1/2/dt)

Be

= lebar efektif ambang pelimpah (m)

= tinggi energi dihitung dari elevasi mercu spillway (m)

Persamaan tinggi energi yaitu :


H=h+

V2
.(3.53)
2g

dengan :
h
= tinggi muka air waduk dihitung dari elevasi mercu spillway (m)
V
= kecepatan aliran (m/dt)
g
= percepatan gravitasi (9,81 m/dt)
Ada beberapa prosedur penelusuran (routing) yang bisa dipakai untuk
menganalisa penelusuran banjir lewat waduk (reservoir routing). Penelusuran
tersebut tergantung bagaimana persamaan dasar routing disusun kembali. Schulz
(1976), mengemukakan dua cara penyelesaian yaitu Metode Goodrich (Goodrich
Reservoir Routing Method) dan Metode Puls (The Puls Storage Indication
Method). Analisa penelitian dipakai dua metode tersebut diatas.
1) Penelusuran Waduk Metode Puls Grapichal
Pada analisa ini diperlukan data dan informasi, yaitu :
a. Hidrograf debit masukan (inflow hydrograph)
= I1, I2, I3, In. Hal ini bisa diperoleh dari data catatan pengukuran debit
otomatis atau dengan cara analisa hidrograf banjir rancangan.
b. Hubungan antara elevasi permukaan air waduk (reservoir stage) dan
kapasitas debit keluaran (discharge capacity), bisa dalam bentuk grafik
maupun tabel.
c. Hubungan antara elevasi permukaan air waduk dan kapasitas tampung
(reservoir storage capacity), bisa dalam bentuk grafik maupun tabel.
d. Keadaan tampung awal (elevasi muka air mula-mula), debit mula-mula,
tampungan mula-mula.
Penelusuran banjir diawali dengan asumsi dari kontinuitas seluruh sistem air
yang mana :

ds
= I D ... (3.54)
dt
dimana :
S = tampungan dari sebuah volume
I = debit masukan atau sekumpulan input dari dasar aliran atau volume
persatuan waktu.
D = pelepasan atau debit keluaran dari suatu sistem dalam satu unit volume
per satuan waktu.
t = waktu, biasanya dihitung berdasarkan satuan hari.

Hal tersebut diatas bila asumsi dari kontinuitas tidak valid dalam prakteknya
yang disebabkan oleh rembesan dan kehilangan penguapan dari sungai atau
tampungan atau sebab dari aliran anak sungai yang tidak penting. Dimana
kondisi ini diketahui masih ada, kondisi yang perlu dari persamaan (3.54).
Untuk lebih jelasnya persamaan (3.54) dapat ditulis lagi sebagai berikut :
S
= I D ....... (3.55)
t
tetapi S, adalah perubah dalam tampungan selama jangka waktu tertentu,

t diturunkan menjadi jangka waktu penelusuran t, dimana :


S 2 S1
=ID
t

Jangka waktu penelusuran telah dipilih seperti diatas dimana debit masukan
rata-rata dan debit keluaran dapat dinyatakan sebagai berikut :
I = 1/2 (I1+I2)
D = 1/2 (D1+D2)
Persamaan ini digantikan ke dalam persamaan penelusuran :
S 2 S1
= 1/2 (I1 + I2) 1/2 (D1 + D2) ... (3.56)
t
t
2) Penelusuran Waduk Metode Goodrich

Jika tampungan berupa waduk, persamaan (3.56) dapat disusun kembali


sebagai berikut :
2 S 2 2 S1
= I1 + I2 D1 D2..................................................................(3.57)
t
t

Setelah dalam tampungan, jangka waktu debit keluaran dapat ditulis sebagai
berikut :
Jika pada situasi awal tampungan pada waduk telah diketahui (diasumsikan)
dan jika hidrograf debit masukan telah dimasukkan, kemudian semua syaratsyarat ditempatkan di bagian kanan pada persamaan (3.56) yang telah
diketahui. Sehingga harga di sebelah kiri dapat dihitung. Bagian pada sebelah
kiri mempunyai syarat tampungan yang diketahui sesudah debit masukan
ditambahkan dengan tampungan dan menghasilkan debit keluaran. Kapasitas
debit keluaran merupakan fungsi grafik pada kapasitas tampungan. Maka
pengeluarannya dapat dibagi dari bagian tampungan yang baru. Metode
Goodrich bergantung pada manipulasi syarat fungsi tampungan.

2S

+ D]

yang mana dapat dihitung dari hubungan :

2S

D] = [

2S

+ D ] - 2D

Penelusuran waduk dapat juga mempunyai jalan keluar yang digunakan untuk
fungsi tampungan yang ditunjukkan pada bentuk yang berbeda. Persamaan
(3.56) dapat disusun kembali sebagai berikut :
(I1 + I2)t + (S1- 1/2D1t) = (S2 + D2t).................................................(3.58)
Angka-angka pada buku-buku hidrologi telah diberikan pada persamaan
ini. Ada beberapa bentuk data yang agak ruwet, meskipun hal ini
diperbolehkan dalam penyusunan tabel sebagai tingkatan pada proses
penghitungan untuk waduk (reservoir).
Metode Puls berguna di beberapa tipe perencanaan pengendalian
banjir dimana percobaan tersebut dibuat untuk membatasi debit keluaran untuk
beberapa kapasitas terusan aliran sungai. Metode Puls merupakan dasar untuk
susunan pada persamaan (3.59) :

I1 I 2
D
D
t + S1 - 1 t = S2 + 2 t ..................................................................(3.59)
2
2
2
Dimana S2 +

D2
t, dinamakan rencana tampungan.
2

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian terletak di antara tiga kabupaten yaitu, Kabupaten
Boyolali, Kabupaten Sragen dan Kabupaten Grobogan, tepatnya pada Waduk
Kedung Ombo di Desa Kedung Ombo.

B. Pengumpulan Data
Data diperoleh menggunakan data-data yang pernah dicatat dan di desain
oleh instansi yang berkepentingan dalam hal ini DPU Pengairan Daerah Jawa
Tengah.
Data tersebut kemudian diolah menjadi data siap pakai yang nantinya
menjadi masukan d a l a m analisa selanjutnya. Adapun data tersebut adalah:
1) Data Harian Hujan Maksimum
Diambil dari stasiun pencatat yang ada pada daerah pengaliran sungai Serang.
Hujan maksimal diambil dari tahun 1993 sampai tahun 2002.
2) Peta-peta

Peta Propinsi Dati I Daerah Jawa Tengah


Peta Kabupaten Dati II Boyolali
Peta Kabupaten Dati II Sragen
Peta Kabupaten Dati II Grobogan
Peta situasi Waduk Kedung Ombo
Peta stasiun hujan dari sungai
Peta catchment area Waduk Kedung Ombo
3) Data waduk

Grafik elevasi dan volume air waduk


Data elevasi mercu pelimpah dan lebar pelimpah
Data elevasi tanggul
Data jaringan irigasi waduk

C. Teknik Pengolahan Data


Dilakukan perataan hujan yang menggunakan metode Thiessen dari data
hujan harian hasil pencatatan curah hujan dari daerah masing-masing pos stasiun
pencatat hujan yang ada pada daerah DPS sungai Serang. Kemudian dicari hujan
harian maksimum dari hasil perataan tadi, lalu diadakan analisis frekuensi yaitu
untuk menentukan jenis sebaran (distribusi frekuensi) apa yang layak dipakai
dalam penentuan hujan rancangan. Sebagai acuan standar dalam analisis frekuensi
ini adalah nilai koefisien variasi (Cv), nilai koefisien asimetri (Cs) dan nilai

koefisien kurtosis (Ck).


Dari distribusi frekuensi terpilih ditentukan nilai hujan rancangan untuk
periode ulang tertentu. Kemudian ditentukan hujan agihan (hujan efektif).
Parameter DPS seperti : luas DPS, panjang sungai, kemiringan sungai, dan
sebagainya. Bersama-sama hujan efektif menentukan banjir rancangan. Banjir
rancangan ini dapat diperoleh baik dengan Hidrograf Satuan Sintetik (HSS)
maupun metode emipiris.
Debit banjir dari hidrograf sintetis tersebut dijadikan sebagai debit masukan.
Debit masukan dan data elevasi muka air waduk, tampungan (storage), debit
keluaran melalui pelimpah dipakai dalam analisis penelusuran banjir (flood

routing). Data debit tersebut juga digunakan untuk penentuan elevasi muka air
waduk maksimum dan debit keluaran maksimum lewat pelimpah. Elevasi muka
air waduk maksimum dikontrol terhadap elevasi puncak bendungan.
Apabila selisih puncak bendungan dengan elevasi muka air banjir
maksimum lebih besar dari tinggi jagaan puncak bendungan (free board) berarti
aman, dan begitu sebaliknya. Kondisi tidak aman tersebut perlu adanya
penanggulangan terhadap bahaya limpasan seperti dengan peninggian puncak
bendungan dan pelebaran limpahan . Teknik pengolahan data secara lengkap dapat
dilihat pada Gambar IV.I.

Hujan harian di
setiap stasiun

Peta topografi
Catchment Area/DPS

Rata-rata Thiesen
(hujan daerah)
Parameter DPS
Data Waduk

Hujan harian
maksimum

Analisis frekuensi :
Pemilihan distribusi

Analisa banjir dengan


Hidrograf Satuan Sintetis
Nakayasu dan Metode
Empiris:Haspers, Rasional
Mononobe, Melchior.

Hujan
rancangan
v

Pengagihan hujan
(hujan efektif)

Debit Masukan
(inflow)

Data hubungan antara :


Elevasi, Tampungan (storage),
Debit keluaran (outflow) dengan
Metode Puls Grapichal dan
Goodrich.

Menentukan :
Elevasi muka air banjir maksimun,
Debit keluaran (outflow) maksimum
lewat spillway dengan Metode Puls
Grapichal dan Goodrich.

Kontrol elevasi
muka air maksimum
terhadap puncak bend

Elevasi puncak bend Elevasi muka air >Fb

Ya
Aman

Tidak

Tidak
aman

Perlu penanggulangan
seperti :
- Peninggian puncak bend
- Pelebaran spillway

Gambar IV.1. Bagan alir flood routing lewat waduk

D. Langkah Pembahasan Metode Puls Grapichal


1) Debit masukan (in f l o w ) diambil dari banjir sintetis 1000 tahunan dengan
asumsi sebagai standart perencanaan bendung.
2) Periode penelusuran banjir (routing periode) ditentukan dengan menggunakan
beberapa periode penelusuran (t) yaitu t = 1 jam.
3) Fasilitas pengeluaran berupa bangunan pelimpah ( s p i l w a y ) .
4) Diasumsikan dengan kondisi waduk sederhana buangan otomatis lewat satu
pelimpah dengan pintu bukaan lainnya tertutup (hanya dibuka sewaktu- waktu
dioperasikan).
5) Pada saat permulaan terjadi banjir (t=0) elevasi dari waduk setinggi bangunan
pelimpah.
6) Diasumsikan hanya satu saluran sebagai masukan debit yaitu saluran yang
berasal dari sungai Serang, sedangkan mengenai masukan debit dari saluran
lain diabaikan.
7) Menyiapkan tabel pertama yang menunjukkan hubungan antara elevasi muka
air, kapasitas tampungan dan besaran debit.
8) Menentukan periode penelusuran (routing interval)
9) Mengubah kapasitas tampungan waduk (reservoir storage capacity) ke dalam
satuan debit untuk waktu interval/periode penelusuran yang sudah ditentukan.
10) Menggambar (plot) grafik besaran debit (discharge capacity) terhadap
kapasitas tampungan (storage capacity).
11) Menggambar (plot) garis tambahan dari

S2
Q pada sisi lain garis
t

tampungan (storage line), yaitu pada suatu harga Q diperoleh Q. t dan


memplotkan ke kanan dan ke kiri di garis S.
12) Menyiapkan tabel kedua untuk perhitungan routing yang menunjukkan adanya
a) Waktu

b) Inflow
c) Inflow rata-rata selama periode waktu/interval routing
d) Debit keluaran (Outflow)
e)

S1 Q1

t 2

] = 1

f)

S 2 Q2
+
2
t

] = 2

g) elevasi muka air apabila diperlukan.


13) Menulis harga-harga debit masukan (inflow hydrograph) ke dalam kolom

inflow.
14) Menghitung rata-rata inflow T=
15) Mendapatkan harga

I1 + I 2
untuk semua periode waktu.
2

S1 Q1

= 1 untuk situasi/elevasi awal dari muka air


t 2

waduk.
16) Menghitung jumlah

S 2 Q2
+
2
t

I 2 + Q2
2

]+

1 yang sama dengan nilai dari

] = 2

17) Diplotkan dengan grafik inflow, maka diperoleh Q2 untuk nilai hitung dari 2
dan memasukkan sebagai nilai Q kedalam tabel.
18) Mengurangkan

nilai

Q2

ke

2 untuk

mendapatkan

nilai

Q1 dan

memasukkannya ke dalam tabel.


19) Menambahkan
mendapatkan

rata-rata

S 3 Q3
+
2
t

inflow

I 2 + Q3
2

ke

S 3 Q3

t 2

untuk

] dan memasukkan ke dalam tabel.

20) Ulangi langkah 11 sehingga seluruh hidrograf debit masukan (inflow

hydrograph) ditelusuri.
E. Langkah Pembahasan Metode Goodrich
1) Debit masukan (in f l o w ) diambil dari banjir sintetis 1000 tahunan dengan
asumsi sebagai standart perencanaan bendung.
2) Periode

penelusuran

banjir

(routing

periode)

ditentukan

dengan

menggunakan beberapa periode penelusuran (t) yaitu t = 1 jam.


3) Fasilitas pengeluaran berupa bangunan pelimpah ( s p i l w a y ) .
4) Diasumsikan dengan kondisi waduk sederhana buangan otomatis lewat satu

pelimpah dengan pintu bukaan lainnya tertutup (hanya dibuka sewaktuwaktu dioperasikan).
5) Pada saat permulaan terjadi banjir (t=0) elevasi dari waduk setinggi bangunan
pelimpah.
6) Diasumsikan hanya satu saluran sebagai masukan debit yaitu saluran yang
berasal dari sungai Serang, sedangkan mengenai masukan debit dari saluran
lain diabaikan.
7) Menentukan hidrograf debit masukan.
8) Menentukan (asumsi) situasi awal tampungan.
9) Kurva tampungan waduk
10) Kurva kapasitas keluaran
11) Menentukan periode penelusuran
12) Menentukan elevasi waduk yang tepat
13) Mengetahui tampungan waduk sebagai acuan elevasi waduk
14) Mengetahui kapasitas keluaran waduk sebagai acuan untuk elevasinya
15) Menghitung

2S
+D
t

16) Menggambar fungsi grafik tampungan dan kapasitas keluaran


17) Mendapatkan fungsi tampungan yang pertama
18) Menghitung fungsi debit keluar.
19) Menghitung fungsi tampungan yang baru.
20) Membaca grafik untuk mengetahui besaran debit.
21) Menghitung fungsi besaran debit. Ulangi sampai semua debit masukan telah
ditelusuri.
22) Membuat grafik debit masukan dan debit hidrograf.

F. Data Teknis Waduk


Data teknis Waduk Kedung Ombo yang terkait dengan pola eksploitasi
waduk dirangkum sebagai berikut :

Elevasi mercu bendung

: +96,00 m

Panjang mercu bendung

: 1600,00 m

Lebar mercu bendung

: 40,00 m

Tinggi bendung

: 60,00 m

Tipe bendung

: inti tegak, timbunan batu

Luas waduk

: 6,576 ha

Luas daerah tangkapan air

: 577,597 km2

Elevasi muka air banjir tertinggi

: +95,00

Elevasi mercu pelimpah utama

: +90,00

Elevasi muka air normal

: +73,50

Elevasi muka air minimum pelepasan


suplai irigasi

: +67,50

Elevasi muka air minimum pelepasan


operasi PLTA dan suplai air minum

: +64,50

Elevasi intake

: +55,60

Tampungan total (gross storage )

: 723 juta m3

Tampungan mati ( dead storage )

: 88,4 juta m3

Tampungan efektif ( effective storage )

: 634,6 juta m3

Perkiraan usia waduk

: 60 tahun

Waduk Kedung Ombo menampung air sejumlah total 723 juta meter
kubik pada saat waduk penuh, TMA +90,00. Dari volume air tersebut, sejumlah
634,6 juta meter kubik dapat dimanfaatkan untuk memasok kebutuhan air hilir.
Pasokan air ke hilir dimungkinkan dengan pelepasan (release) melalui intake yang
berada pada El. +55,60 menuju waterway conduit. Waterway ini berfungsi sebagai
pipa pesat ke pembangkit listrik PLTA Kedung Ombo, sebelum air mengalir ke

tailrace untuk selanjutnya menuju Bendungan Sidorejo. Diujung hilir, waterway


dilengkapi dengan sebuah bypass untuk memfasilitasi apabila diinginkan aliran
tidak melalui turbin.

BAB. V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
D. Analisis Debit Masukan (Inflow)
Sehubungan tidak adanya data inflow hasil pengukuran langsung di
lapangan, maka data inflow dapat di dekati dengan analisis banjir rancangan
metode Hidrograf Satuan Sintetis Nakayasu. Sebelum melangkah pada
pembahasan banjir rancangan, terlebih dahulu membahas analisis curah hujan
daerah (wilayah), analisis hujan rancangan dan ordinat hidrograf satuan. Hasil
analisis banjir rancangan Hidrograf Satuan Sintetis ini di gunakan sebagai debit

inflow pada analisis penelusuran banjir (flood Routing) selanjutnya.


1) Curah Hujan Daerah (Wilayah) Waduk Kedung Ombo
Metode hitungan ini merupakan perataan hujan daerah menggunakan
metode Poligon Thiessen, dengan faktor pembobot untuk setiap stasiun data
luas Daerah Pengaliran Sungai (DPS) untuk masing-masing stasiun adalah:
- Luas DPS Stasiun Gede

= 292,278 km2

- Luas DPS Stasiun Kemusu

= 264,442 km2

- Luas DPS Stasiun Sambi

= 20,877 km2
= 577,597 km2

Maka faktor pembobot Thiessen untuk masing-masing sebagai berikut:


Stasiun Gede

: WG =

292 ,278
= 0,506
577 ,597

Stasiun Kemusu

: WK =

264 ,442
= 0,458
577 ,597

Stasiun Sambi

: WS =

20,877
= 0,036
577 ,597

Dalam perhitungan ini digunakan data hujan harian di setiap pos.


Dari data hujan harian masing- masing pos, di hitung hujan daerah dengan
menggunakan metode Poligon Thiessen.

Tabel V.i. Data Curah Hujan Maksimum (mm) Stasiun Klimatologi Gede
no

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Periode
pengamatan

Jan

Feb

1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002

69
58
73
84
101
73
97
52
82
79

0
0
104
56
114
36
63
76
51
31

Mar

Curah Hujan Maksimum (mm)


Apr Mei Jun Jul Ags Sep

Okt

Nov

Des

Maks
(mm)

64
95
75
65
62
116
66
96
49
48

58
60
67
34
62
94
54
54
72
47

2
49
47
20
27
71
101
79
65
41

56
46
0
93
51
52
61
41
41
100

47
41
83
105
55
105
63
95
67
119

69
95
104
105
114
116
101
96
82
119

47
22
64
14
57
42
40
57
19
26

66
0
32
20
3
25
46
23
21
51

0
0
41
5
0
61
38
47
38
0

23
0
0
35
0
26
15
47
0
43

36
0
51
16
0
35
21
24
4
0

Sumber : Data di lapangan (oleh PLTA Kedung Ombo)


Tabel V.ii. Data Curah Hujan Maksimum (mm) Stasiun Klimatologi Kemusu
No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Periode
pengamatan

Jan

Feb

Mar

1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002

46
95
45
34
80
77
58
56
43
98

140
64
42
47
0
96
56
58
46
27

97
52
45
25
37
81
37
46
36
78

Curah Hujan Maksimum (mm)


Apr Mei Jun Jul Ags Sep

Okt

Nov

Des

Maks
(mm)

96
81
34
19
74
96
46
46
18
85

32
21
42
13
23
32
28
33
43
82

56
16
73
17
28
47
18
23
0
84

56
74
115
45
56
79
47
42
0
48

140
95
115
47
80
96
58
58
46
98

23
24
17
21
13
47
16
18
18
26

21
14
0
35
0
47
7
34
18
30

14
0
31
5
0
43
18
17
22
62

Sumber : Data di lapangan (oleh PLTA Kedung Ombo)

24
11
14
0
0
21
12
0
0
3

34
0
78
7
0
21
18
8
7
48

Tabel V.iii. Data Curah Hujan Maksimum (mm) Stasiun Klimatologi Sambi
No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Periode
pengamatan

Jan

Feb

Mar

1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002

166
55
78
86
75
38
106
41
101
72

94
0
115
131
63
70
99
25
112
90

84
84
62
35
50
84
42
75
47
96

Curah Hujan Maksimum (mm)


Apr Mei Jun Jul Ags Sep

Okt

Nov

Des

Maks
(mm)

32
56
162
67
32
69
60
32
0
0

75
26
68
94
18
17
58
68
96
26

69
80
62
60
78
60
52
0
94
35

80
25
91
78
107
50
65
30
99
101

166
84
162
131
107
85
106
80
151
101

36
15
80
55
32
23
51
80
151
31

25
0
61
20
0
85
0
7
94
8

29
0
30
0
0
39
10
7
40
7

6
0
0
81
0
65
15
28
0
0

26
0
85
15
0
13
0
5
25
0

Sumber : Data di lapangan (oleh PLTA Kedung Ombo)

Tabel V.1a. Perataan hujan Metode Thiessen pada tahun 1993


1993

Sta. Gede

R
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des

69
0
64
58
47
66
0
23
36
2
56
47

WG = 0,506
R = WGx R
34,914
0
32,384
29,348
23,782
33,396
0
11,638
18,216
1,012
28,336
23,782

Sta. Kemusu

WK = 0,458
R = WKx R

46
140
97
96
23
21
14
24
34
32
56
56

21,068
64,12
44,426
43,968
10,534
9,618
6,412
10,992
15,572
14,656
25,648
25,648

Curah hujan maksimum tahun 1993= 80 mm

Sta. Sambi

R
166
94
84
32
36
25
29
6
26
75
69
80

WS= 0,036
R = WKx R
5,976
3,384
3,024
1,152
1,296
0,9
1,044
0,216
0,936
2,7
2,484
2,88

Rata-rata
Thiessen
(R)
mm

Pembulatan
X

61,958
67,504
79,834
74,468
35,612
43,914
7,456
22,846
34,724
18,368
56,468
52,31

62
68
80
74
36
44
7
23
35
18
56
52

(mm)

Tabel V.1b. Perataan hujan Metode Thiessen pada tahun 1994


1994

Sta. Gede
WG = 0,506
R = WGx R

R
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des

58
0
95
60
22
0
0
0
0
49
46
41

29,348
0
48,07
30,36
11,132
0
0
0
0
24,794
23,276
20,746

Sta. Kemusu

Sta. Sambi

WK = 0,458
R = WKx R

R
95
64
52
81
24
14
0
11
0
21
16
74

WS= 0,036
R = WKx R

43,51
29,312
23,816
37,098
10,992
6,412
0
5,038
0
9,618
7,328
33,892

55
0
84
56
15
0
0
0
0
26
80
25

1,98
0
3,024
2,016
0,54
0
0
0
0
0,936
2,88
0,9

Rata-rata
Thiessen
(R)
mm

Pembulatan
X

74,838
29,312
74,91
69,474
22,664
6,412
0
5,038
0
35,348
33,484
55,538

75
29
75
69
23
6
0
5
0
35
33
56

(mm)

Curah hujan maksimum tahun 1994 = 75 mm


Tabel V.1c. Perataan hujan Metode Thiessen pada tahun 1995
1995

Sta. Gede

Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des

WG = 0,506
R = WGx
R
73
36,938
104
52,624
75
37,95
67
33,902
64
32,384
32
16,192
41
20,746
0
0
51
25,806
47
23,782
0
0
83
41,998
R

Sta. Kemusu

Sta. Sambi

WK = 0,458
R = WKx R

45
42
45
34
17
0
31
14
78
42
73
115

20,61
19,236
20,61
15,72
7,786
0
14,198
6,412
35,724
19,236
33,434
52,67

R
78
115
62
162
80
61
30
0
85
68
62
91

Curah hujan maksimum tahun 1995 = 98 mm

WS= 0,036
R = WKx R
2,808
4,14
2,232
5,832
2,88
2,196
1,08
0
3,06
2,448
2,232
3,276

Rata-rata
Thiessen
(R)
mm

Pembulatan
X

60,356
76
60,792
55,306
43,05
18,388
36,024
6,412
64,59
45,466
35,666
97,944

60
76
61
55
43
18
36
6
65
45
36
98

(mm)

Tabel V.1d. Perataan hujan Metode Thiessen pada tahun 1996


199
6

Sta. Gede

R
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des

WG = 0,506
R = WGx R

84
56
65
34
14
20
5
35
16
20
93
105

42,504
28,336
32,89
17,204
7,084
10,12
2,53
17,71
8,096
10,12
47,058
53,13

Sta. Kemusu

WK = 0,458
R = WKx R

34
47
25
19
21
35
5
0
7
13
17
45

15,572
21,526
11,45
8,702
9,618
16,03
2,29
0
3,206
5,954
7,786
20,61

Sta. Sambi

WS= 0,036
R = WKx R

86
131
35
67
55
20
0
81
15
94
60
78

3,096
4,716
1,26
2,412
1,98
0,72
0
2,916
0,54
3,384
2,16
2,808

Rata-rata
Thiessen
(R)
mm

Pembulatan
X

61,172
54,578
45,6
28,318
18,682
26,87
4,82
20,626
11,842
19,458
57,004
76,548

61
55
46
28
19
27
5
21
12
19
57
77

(mm)

Curah hujan maksimum tahun 1996 = 77 mm


Tabel V.1e. Perataan hujan Metode Thiessen pada tahun 1997
1997

Sta. Gede

R
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des

101
114
62
62
57
3
0
0
0
27
51
55

WG = 0,506
R = WGx R
51,106
57,684
31,372
31,372
28,842
1,518
0
0
0
13,662
25,806
27,83

Sta. Kemusu

R
80
0
37
74
13
0
0
0
0
23
28
56

WK = 0,458
R = WKx R
36,64
0
16,946
33,892
5,954
0
0
0
0
10,534
12,824
25,648

Curah hujan maksimum tahun 1997 = 90 mm

Sta. Sambi

R
75
63
50
32
32
0
0
0
0
18
78
107

WS= 0,036
R = WKx R
2,7
2,268
1,8
1,152
1,152
0
0
0
0
0,648
2,808
3,852

Rata-rata
Thiessen
(R)
mm

Pembulatan
X

90,446
59,952
50,118
66,416
35,948
1,518
0
0
0
24,844
41,438
57,33

90
60
50
66
36
2
0
0
0
25
41
57

(mm)

Tabel V.1f. Perataan hujan Metode Thiessen pada tahun 1998


199
8

Sta. Gede

R
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des

WG = 0,506
R = WGx R

73
36
116
94
42
25
61
26
35
71
52
105

36,938
18,216
58,696
47,564
21,252
12,65
30,866
13,156
17,71
35,926
26,312
53,13

Sta. Kemusu

R
77
96
81
96
47
47
43
21
21
32
47
79

WK = 0,458
R = WKx R
35,266
43,968
37,098
43,968
21,526
21,526
19,694
9,618
9,618
14,656
21,526
36,182

Sta. Sambi

R
38
70
84
69
23
85
39
65
13
17
60
50

WS= 0,036
R = WKx R
1,368
2,52
3,024
2,484
0,828
3,06
1,404
2,34
0,468
0,612
2,16
1,8

Rata-rata
Thiessen
(R)
mm

Pembulatan
X

73,572
64,704
98,818
94,016
43,606
37,236
51,964
25,114
27,796
51,194
49,998
91,112

74
65
99
94
44
37
52
25
28
51
50
91

(mm)

Curah hujan maksimum tahun 1998 = 99 mm

Tabel V.1g. Perataan hujan Metode Thiessen pada tahun 1999


199
9

Sta. Gede

R
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des

WG = 0,506
R = WGx R

97
63
66
54
40
46
38
15
21
101
61
63

49,082
31,878
33,396
27,324
20,24
23,276
19,228
7,59
10,626
51,106
30,866
31,878

Sta. Kemusu

R
58
56
37
46
16
7
18
12
18
28
18
47

WK = 0,458
R = WKx R
26,564
25,648
16,946
21,068
7,328
3,206
8,244
5,496
8,244
12,824
8,244
21,526

Curah hujan maksimum tahun 1999 = 79 mm

Sta. Sambi

R
106
99
42
60
51
0
10
15
0
58
52
65

WS= 0,036
R = WKx R
3,816
3,564
1,512
2,16
1,836
0
0,36
0,54
0
2,088
1,872
2,34

Rata-rata
Thiessen
(R)
mm

Pembulatan
X

79,462
61,09
51,854
50,552
29,404
26,482
27,832
13,626
18,87
66,018
40,982
55,744

79
61
52
51
29
26
28
14
19
66
41
56

(mm)

Tabel V.1h. Perataan hujan Metode Thiessen pada tahun 2000


2000

Sta. Gede

R
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des

52
76
96
54
57
23
47
47
24
79
41
95

WG = 0,506
R = WGx R
26,312
38,456
48,576
27,324
28,842
11,638
23,782
23,782
12,144
39,974
20,746
48,07

Sta. Kemusu

R
56
58
46
46
18
34
17
0
8
33
23
42

WK = 0,458
R = WKx R
25,648
26,564
21,068
21,068
8,244
15,572
7,786
0
3,664
15,114
10,534
19,236

Sta. Sambi

R
41
25
75
32
80
7
7
28
5
68
0
30

WS= 0,036
R = WKx R
1,476
0,9
2,7
1,152
2,88
0,252
0,252
1,008
0,18
2,448
0
1,08

Rata-rata
Thiessen
(R)
mm

Pembulatan
X

53,436
65,92
72,344
49,544
39,966
27,462
31,82
24,79
15,988
57,536
31,28
68,386

53
66
72
50
40
27
32
25
16
58
31
68

(mm)

Curah hujan maksimum tahun 2000 = 72 mm


Tabel V.1i. Perataan hujan Metode Thiessen pada tahun 2001
2001

Sta. Gede

R
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des

82
51
49
72
19
21
38
0
4
65
41
67

WG = 0,506
R = WGx R
41,492
25,806
24,794
36,432
9,614
10,626
19,228
0
2,024
32,89
20,746
33,902

Sta. Kemusu

R
43
46
36
18
18
18
22
0
7
43
0
0

WK = 0,458
R = WKx R
19,694
21,068
16,488
8,244
8,244
8,244
10,076
0
3,206
19,694
0
0

Curah hujan maksimum tahun 2001 = 65 mm

Sta. Sambi

R
101
112
47
0
151
94
40
0
25
96
94
99

WS= 0,036
R = WKx R
3,636
4,032
1,692
0
5,436
3,384
1,44
0
0,9
3,456
3,384
3,564

Rata-rata
Thiessen
(R)
mm

Pembulatan
X

64,822
50,906
42,974
44,676
23,294
22,254
30,744
0
6,13
56,04
24,13
37,466

65
51
43
45
23
22
31
0
6
56
24
37

(mm)

Tabel V.1j. Perataan hujan Metode Thiessen pada tahun 2002


2002

Sta. Gede

Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des

WG = 0,506
R = WGx
R
79
39,974
31
15,686
48
24,288
47
23,782
26
13,156
51
25,806
0
0
43
21,758
0
0
41
20,746
100
50,6
119
60,214

Sta. Kemusu

WK = 0,458
R = WKx R

98
27
78
85
26
30
62
3
48
82
84
48

44,884
12,366
35,724
38,93
11,908
13,74
28,396
1,374
21,984
37,556
38,472
21,984

Sta. Sambi

R
72
90
96
0
31
8
7
0
0
26
35
101

WS= 0,036
R = WKx R
2,592
3,24
3,456
0
1,116
0,288
0,252
0
0
0,936
1,26
3,636

Rata-rata
Thiessen
(R)
mm

Pembulatan
X

87,45
31,292
63,468
62,712
26,18
39,834
28,648
23,132
21,984
59,238
90,332
85,834

87
31
63
63
26
40
29
23
22
59
90
86

(mm)

Curah hujan maksimum tahun 2002 = 90 mm


Tabel V.1k. Curah hujan maksimum hasil rata-rata Thiessen

Tahun
Curah Hujan

1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002
80

75

98

77

90

99

79

72

65

90

Maks (mm)
Keterangan Tabel V. 1a j
R = Curah Hujan Daerah
- diambil dari data curah hujan harian maksimum yang terjadi pada stasiun hujan
Gede, stasiun hujan Kemusu, stasiun hujan sambi pada tahun 1993 sampai
dengan tahun 2002 (pada lampiran hal A-1).

E. Hujan Rancangan
1) Analisa Frekwensi

Dalam menentukan distribusi frekwensi yang cocok untuk analisis hujan


rancangan diadakan analisis frekwensi seperti berikut ini :
Tabel V.2. Analisis Frekwensi hujan daerah DPS Waduk Kedung Ombo

2
2001

x
urut
3
65

2000

No

Tahun

1
1

x2

4
4.225

(x - x )2
5
306,25

(x - x )3
6
-5.359

(x - x )4
7
93.789,0625

72

5.184

110,25

-1.158

12.155,0625

1994

75

5.625

56,25

-422

3.164,0625

1996

77

5.929

30,25

-166

915,0625

1999

79

6.241

12,25

-43

150,0625

1993

80

6.400

6,25

-16

39,0625

1997

90

8.100

56,25

422

3.164,0625

2002

90

8.100

56,25

422

3.164,0625

1995

98

9.604

240,25

3.724

57.720,0625

10

1998

99

9.801

272,25

4.492

74.120,0625

825

69.209

1.146,5

1.896

248.380,625

Rata rata hitung (Mean) :

x = x = 825 =82,5

10

contoh :
penjelasan perhitugan frekuensi hujan daerah waduk Kedung Ombo sebagai
berikut :
Kolom 3 : x urut : diurutkan dari x terkecil 65 ke x terbesar 99
Kolom 4 : x2 : 652 = 4225

Kolom 5 : (x X )2 = (65 82,5)2 = 306,25

Kolom 6 : (x X )3 dimana X rata rata mean = 82,5


: (65 82,5)3 = -5.359

Kolom 7 : ( x X )4
: (65 82,5)4 = 93.789,0625
Demikian seterusnya seperti perhitungan pada tabel diatas.
Menghitung Standart Deviasi ( Simpangan Baku ) :
Berdasarka persamaan (3.5) maka besar S:
1146 ,5
10 1

S =

= 11,287
Menghitung Koefisien Variasi :
Berdasarkan Persamaan (3.6) maka besar Cv :
Cv =

11,287
82 ,5

= 0,137
Menghitung Koefisien Asimetri (Skewnes) :
Berdasarkan persamaan (3.7) maka besar Cs :
Cs =

10
x (1.896)
(10 1).( 10 2 ).( 11 , 287 ) 3

= 0,183
Menghitung Koefisien Kurtosisis :
Berdasarkan Persamaan (3.8) maka besar Ck :
Ck =

10
x ( 248.380,625)
(10 1).( 10 2 ).( 10 3 ).( 11 , 287 ) 4

= 0,304
Menghitung Perbandingan Cs : Cv
Berdasarkan Persamaan Cs (3.7) di banding Cv (3.6) maka :
Cs 0,183
=
Cv 0,137
= 1,336

Tabel V.3. Pemilihan Jenis distribusi menurut criteria Sri Harto (1981)

Distribusi

Syarat

Hasil Hitungan

Keterangan

Normal

Cs 0,00
Ck 3,00

Cs = 0,183
Ck = 0,304

Tidak dipilih

Log Normal

Cs
3,00
Cv

Cs
= 1,336
Cv

Tidak dipilih

Gumbel

Cs 1,1396
Ck 5,4002

Cs = 0,183
Ck = 0,304

Tidak dipilih

Hasil hitungan di atas tidak mendekati harga syarat maka ketiga jenis
distribusi diatas tidak dapat dipilih,untuk selanjutnya dipilih distribusi Log
Pearson Type III.
2) Analisis Hujan Rancangan

Penelitian hujan rancangan menggunakan distribusi Log Pearson Type III


sesuai dengan hasil analisis frekwensi diatas. Langkah perhitungan adalah
sebagai berikut di bawah ini. Pada tabel V.4 di bawah ini akan diperoleh harga
rata- rata hitung dari log x sebagai berikut :
n

Log X =

log X
i 1

n
19,128
=
10
= 1,9128

Contoh perhitungan dengan Metode Log Pearson Type III


Tabel V.4. Perhitungan Metode Log Pearson Type III
(Log X

(Log X

Log x )2

(Log X

Log x )3

No

x
1

Loq x
2

(Loq x)2
4

Log x )
5

65
72
75
77
79

1,813

3,287

-0,100

0,010

-0,001

1,857

3,450

-0,055

0,003

0,000

1,875

3,516

-0,038

0,001

0,000

1,886

3,559

-0,026

0,001

0,000

1,898

3,601

-0,015

0,000

0,000

2
3
4
5

80
90
90
98
99

6
7
8
9
10

1,903

3,622

-0,010

0,000

0,000

1,954

3,819

0,041

0,002

0,000

1,954

3,819

0,041

0,002

0,000

1,991

3,965

0,078

0,006

0,000

1,996

3,983

0,083

0,007

0,001

19,128

36,619

0,000

0,032

0,000

Penjelasan perhitungan Metode Log Pearson Type III


Kolom 1 = diambil dari Tabel V.2 pada kolom 2
Kolom 2 = Log x Log 65 = 1,813
Kolom 3 = ( Log x)2 (Log 65)2 = 3,287

Kolom 4 = (Log x- Log x )


= (1,8131,913) = -0,100

Kolom 5 = (Log x- Log x )2


= (1,8131,913)2 = 0,010

Kolom 6 = (Log x- Log x ) 3


= (1,8131,913)3 = 0,000
Demikian perhitungan seterusnya sampai No.10, sehingga di dapat jumlah
sebagai berikut :
Jumlah Log x

= 19,128

Jumlah ( Log x)2

= 36,619

Jumlah (Log x- Log x )2

Jumlah (Log x- Log x ) 3

= 0,032
= 0,000

Meghitung Standart Deviasi berdasarkan persamaan (3.8) maka :


0 , 032
10 1

s =

= 0,060
Menghitung Koefisien Asimetri (kemencengan), berdasarkan persamaan (3.8)
maka :
Cs =

0,000
= 0,000
(10 1)(10 2)( 0.060 ) 3

Maka harga- harga G (Koefisien Pearson) di dapat dari tabel lampiran A-2 untuk harga Cs
= 0, sehingga diperoleh nilai nilai G untuk rencana periode ulang tertentu seperti tertera
pada tabel di bawah ini :
Tabel V.5. Harga harga G ( Koefisien Pearson) untuk Periode Ulang Tertentu

T
G

10

25

50

100

200

1000

0,842

1,282

1,751

2,054

2,326

2,576

3,090

Tabel V.6. Hasil Hujan Rancangan Metode Log Pearson Type III

G
S
Log R.Ti anLog R.Ti
T
Log x
(tahun)
(mm)
0
0,06
1,913
81,846
2
1,913
0,06
1,964
5
1,913
0,842
92,045
0,06
1,990
10
1,913
1,282
97,724
0,06
2,018
25
1,913
1,751
104,231
0,06
2,036
50
1,913
2,054
108,643
0,06
2,053
100
1,913
2,326
112,979
0,06
2,068
200
1,913
2,576
116,949
0,06
2,098
1000
1,913
3,09
125,314
Menghitung Hujan Rancangan (R.Ti) dengan persamaan (3.10)

Pembulatan
R.Ti
(mm)
81,85
92,05
97,72
104,23
108,64
112,98
116,95
125,31

Log R.Ti

= Log x + G.Si

Log R.T2

= 1,913 + (0 x 0,060) = 1,913

R.T2 = 81,846 mm 82 mm
Demikian seterusnya sampai perhitungan R.T1000
F. Hidrograf Satuan Banjir Rancangan
1) Koefisien Aliran

Dari tabel rumus- rumus koefisien pengaliran/ limpasan lihat Tabel III.1.
landasan teori daerah sungai bagian tengah dan kondisi curah hujan Rt > 200
mm maka dipakai formula : (berdasarkan rumus- rumus pengaliran Tabel
III.1.)
= 1-3,14/Rt 1 / 3

P
(%)
50
20
10
4
2
1
0,5
0,1

Sehingga diperoleh harga harga koefisien pengaliran seperti pada tabel


berikut :
Tabel V.7. Nilai Koefisien Pengaliran untuk periode ulang tertentu

Rt

Koefisien Pengaliran

(tahun)

(mm)

()

81,85

0,277

92,05

0,305

10

97,72

0,318

25

104,23

0,333

50

108,64

0,342

100

112,98

0,350

200

116,95

0,358

1000

125,31

0,373

2) Distribusi Hujan Satuan

Dengan menggunakan rumus formula hujan satuan (Persamaan 3.21)


Rt : Ro (T / t )2 / 3
T

Dengan :
Rt : intensitas hujan satuan untuk jam ke-n (mm)
T

: lamanya hujan dalam sehari, diambil 5 jam

Ro : hujan satuan mm (= 1 mm)


t

: waktu jam ke-n

Maka diperoleh intensitas hujan satuan sebagaimana tabel berikut ini :


Tabel V.8. Intensitas Hujan Satuan untuk jam ke n

T (jam)
5,0
Contoh :

Jam ke 1
0,5848

Jam ke 1
Rt = Ro (T / t )2 / 3
T

Jam ke 2
0,3684

Rt (mm)
Jam ke 3
0,2811

Jam ke 4
0,2321

Jam ke 5
0,2000

Rt = 1 (5 / 1)2 / 3
5

= 0,5848
Dari intensitas hujan satuan kemudian di hitung distribusi hujan satuannya
sebagaimana analisis tabel berikut ini :
Tabel V.9. Distribusi Hujan Satuan

Distribusi Hujan
Hujan ke (t) : t.Rt (t-1). R (t-1)
Jam ke 1

Jam ke 2

Jam ke 3

Jam ke 4

Jam ke 5

0,5848

0,152

0,1065

0,0851

0,0716

58,48 %

15,2%

10,65 %

8,51 %

7,16 %

3) Hujan Effektif
Tabel V.10. Analisis Hujan Effektif
Waktu
(jam)
1
2
3
4
5
R. Eff
K. Aliran
R.Rencana

Distribusi
(%)
58,48
15,2
10,65
8,51
7,16
100

2 thn
13,249
3,444
2,413
1,928
1,622
22,656
0,277
81,85

5 thn
16,395
4,261
2,986
2,386
2,007
28,035
0,305

10 thn
18,189
4,728
3,312
2,647
2,227
31,103
0,318

92,05

97,72

Keterangan :
R.Eff

: Hujan Effektif

K.Aliran

: Koeffisien Aliran

R. Rencana : Hujan Rancangan


4) Ordinat Hidrograf Satuan Nakayasu

Diketahui data :
-

Luas DPS Waduk Kedung Ombo


A = 577,597 km2

Panjang sungai Serang


L = 159,5 km

Hujan Effektif (mm/jam)


25 thn
50 thn 100 thn
20,284 21,724 23,156
5,272
5,646
6,019
3,694
3,956
4,217
2,952
3,161
3,370
2,484
2,660
2,835
34,686 37,148 39,597
0,333
0,342
0,350
104,23

108,64

112,98

200 thn
24,479
6,362
4,458
3,562
2,997
41,858
0,358

1000 thn
27,298
7,095
4,971
3,972
3,342
46,680
0,373

116,95

125,31

Tg
Q
0,8 tr

Qmax

Kurva naik

Kurva turun
Qp
0,3 Qp

tr

T 0,30

Tp

1,5 T 0,30

0,32 Qp
T = waktu (jam)

Gambar V.1 Sketsa Hidrograf Nakayasu


Menghitung konsentrasi (Time lag) : berdasarkan persamaan (3.27), maka :
Tg = 0,21.L 0,7 = 0,21 159,50,7 = 7,314 7,3 jam
Menghitung waktu (Effectif time) : berdasarkan persamaan (3.29), maka :
Tr = 0,5 s/d 1,0 tg diambil 1 jam
Menghitung waktu awal hingga debit puncak maka :
Tp = tg + 0,8 x tr = 7,3 + 0,8 x 1 = 8,1 jam
Menghitung koefisien pengaliran () =
0 , 25
= 0 , 47 ( A. L )

Tg

0 , 25
= 0 , 47 ( 577 ,597 x159 ,5 )

7 ,3

= 1,122
Waktu yang diperlukan oleh penurunan debit dari puncak sampai menjadi 30
% dari debit puncak adalah :
T0.3

= . Tg = 1,122 x 7,3 = 8,191 jam

1,5. T 0.3 = 1,5 x 8,191 = 12,286 jam

Debit puncak banjir


Qp =

A . Ro
3 , 6 ( 0 ,30 .Tp + T0 , 30 )

Qp =

577 ,597 x1, 00


3 , 6 ( 0 ,30 x 8 ,1 + 8 ,191 )

Qp = 15,106 m3/dt
Kurva naik :
Qa = Qp (t/Tp)2,4
Qa = 15,106 (t/8,1)2,4
Kurva turun 1 :
Q.d1 = Qp . 0,30 (t-Tp) / ( T0.3)
Qd1 = 15,106 . 0,30 ( t-8,1) / (8,191)
Kurva turun 2 :
Qd2 = Qp . 0,30 (t-Tp + 0,5.T0,3)/(1,5. T0,3)
Qd2 = 15,106 . 0,30 (t - 4)/(12,286)
Kurva turun 3 :
Qd3 = Qp . 0,30 (t-Tp+1,5. T0,3) / (2.T0,3)
Qd3 = 15,106 . 0,30 (t+4,187) / (16,382)
T
(jam)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Tabel V.11. Ordinat Hidrograf Satuan Nakayasu


Q1
Q2
Keterangan
(m/dt) (m/dt)
0,000
0,000
Kurva naik (Qa)
0,100
0,101
0<t<Tp
0,526
0,531
0<t<8.1
1,393
1,405
2,778
2,803
4,746
4,788
7,351
7,416
10,642 10,736
14,662 14,792
13,234 13,351
Kurva turun 1(Qd1)
11,425 11,526
Tp<t<Tp+T0.3
9,863
9,951
8.1<t<8.1+8.191
8,515
8,590
8.1<t<16.291
7,351
7,416
6,346
6,402
5,479
5,527

16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59

4,730
4,226
3,831
3,473
3,149
2,855
2,589
2,347
2,128
1,929
1,749
1,586
1,438
1,318
1,225
1,138
1,057
0,982
0,913
0,848
0,788
0,732
0,680
0,632
0,587
0,546
0,507
0,471
0,438
0,407
0,378
0,351
0,326
0,303
0,282
0,262
0,243
0,226
0,210
0,195
0,181
0,168
0,156
0,145

4,772
4,263
3,865
3,504
3,177
2,881
2,612
2,368
2,147
1,946
1,765
1,600
1,451
1,330
1,235
1,148
1,067
0,991
0,921
0,855
0,795
0,739
0,686
0,638
0,592
0,550
0,511
0,475
0,442
0,410
0,381
0,354
0,329
0,306
0,284
0,264
0,245
0,228
0,212
0,197
0,183
0,170
0,158
0,147

Kurva turun 2(Qd2)


(Tp+T0.3)<t(Tp+T0.3+1.5xT0.3)
16.291<t28.578

Kurva turun 3 (Qd3)


Tp+T0.3+1.5xT0.3<t<~
8.1+8.191+1.5x8.191<t<t~
28.578<t<t~

60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103

0,135
0,125
0,117
0,108
0,101
0,094
0,087
0,081
0,075
0,070
0,065
0,060
0,056
0,052
0,048
0,045
0,042
0,039
0,036
0,033
0,031
0,029
0,027
0,025
0,023
0,022
0,020
0,019
0,017
0,016
0,015
0,014
0,013
0,012
0,011
0,010
0,010
0,009
0,008
0,008
0,007
0,007
0,006
0,006

0,136
0,127
0,118
0,109
0,102
0,094
0,088
0,081
0,076
0,070
0,065
0,061
0,056
0,052
0,049
0,045
0,042
0,039
0,036
0,034
0,031
0,029
0,027
0,025
0,023
0,022
0,020
0,019
0,017
0,016
0,015
0,014
0,013
0,012
0,011
0,010
0,010
0,009
0,008
0,008
0,007
0,007
0,006
0,006

104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137

0,005
0,005
0,005
0,004
0,004
0,004
0,003
0,003
0,003
0,003
0,003
0,002
0,002
0,002
0,002
0,002
0,002
0,002
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,000

0,005
0,005
0,005
0,004
0,004
0,004
0,003
0,003
0,003
0,003
0,003
0,002
0,002
0,002
0,002
0,002
0,002
0,002
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,000

5) Hidrograf Banjir Rancangan

Hidrograf banjir rancangan sungai Serang ( Waduk Kedung Ombo)


Metode Nakayasu untuk periode ulang 1000 tahun. Dalam hal ini digunakan
Tabel V.1. analisa Hidrograf satuan (unit hidrograf) dan hujan efektif untuk

periode banjir dengan acuan adalah Ordinat Hidrograf Satuan. Hasil


perhitungan adalah merupakan jumlah total analisa dari jam ke 1 sampai jam

ke 5. Hasil ini adalah sebagai debit masukan (Q inflow) yang akan digunakan
pada penelusuran banjir berikutnya.
Tabel V.12. Hidrograf Banjir Rancangan Periode Ulang 1000 Tahun
t
(jam)

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Unit
hidrograf
(Q2)
m3/dt
1
0,000
0,101
0,531
1,405
2,803
4,788
7,416
10,736
14,792
13,351
11,526
9,951
8,590
7,416
6,402
5,527
4,772
4,263
3,865
3,504
3,177
2,881
2,612
2,368
2,147
1,946
1,765
1,600
1,451
1,330
1,235
1,148
1,067
0,991

Hujan jam
Hujan
Hujan
Hujan
Hujan
ke
jam ke
jam ke
jam ke
jam ke
Q total
1
2
3
4
5
m3/dt
Re=27.298 Re=7.095 Re=4.971 Re=3.972 Re=3.342
2
3
4
5
6
7
0,000
0,000
2,746
0,000
2,746
14,495
0,714
0,000
15,209
38,356
3,767
0,500
0,000
42,624
76,504
9,969
2,640
0,400
0,000
89,513
130,699
19,884
6,985
2,109
0,336
160,013
202,445
33,970
13,932
5,581
1,775
257,701
293,075
52,617
23,800
11,132
4,696
385,320
403,793
76,173
36,865
19,017
9,366
545,215
364,464
104,950
53,369
29,457
16,001 568,241
314,644
94,728
73,531
42,644
24,785 550,331
271,633
81,779
66,369
58,754
35,880 514,416
234,503
70,600
57,297
53,031
49,435 464,866
202,447
60,949
49,465
45,782
44,620 403,264
174,774
52,618
42,703
39,524
38,521 348,140
150,883
45,425
36,866
34,121
33,255 300,551
130,258
39,216
31,827
29,457
28,709 259,467
116,370
33,855
27,476
25,430
24,785 227,917
105,507
30,246
23,720
21,954
21,397 202,824
95,658
27,422
21,191
18,953
18,472 181,697
86,729
24,863
19,213
16,932
15,947 163,684
78,633
22,542
17,420
15,352
14,247 148,193
71,293
20,437
15,793
13,919
12,917 134,360
64,638
18,530
14,319
12,620
11,711 121,818
58,604
16,800
12,983
11,442
10,618 110,446
53,134
15,232
11,771
10,373
9,627
100,136
48,174
13,810
10,672
9,405
8,728
90,789
43,677
12,521
9,676
8,527
7,913
82,314
39,600
11,352
8,773
7,731
7,175
74,630
36,295
10,292
7,954
7,010
6,505
68,056
33,723
9,433
7,211
6,355
5,898
62,621
31,334
8,765
6,609
5,762
5,347
57,817
29,114
8,144
6,141
5,281
4,848
53,528
27,051
7,567
5,706
4,907
4,443
49,674

34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76

0,921
0,855
0,795
0,739
0,686
0,638
0,592
0,550
0,511
0,475
0,442
0,410
0,381
0,354
0,329
0,306
0,284
0,264
0,245
0,228
0,212
0,197
0,183
0,170
0,158
0,147
0,136
0,127
0,118
0,109
0,102
0,094
0,088
0,081
0,076
0,070
0,065
0,061
0,056
0,052
0,049
0,045
0,042

25,134
23,353
21,698
20,161
18,732
17,405
16,172
15,026
13,961
12,972
12,053
11,199
10,405
9,668
8,983
8,346
7,755
7,205
6,695
6,220
5,780
5,370
4,990
4,636
4,308
4,002
3,719
3,455
3,210
2,983
2,772
2,575
2,393
2,223
2,066
1,919
1,783
1,657
1,539
1,430
1,329
1,235
1,147

7,031
6,533
6,070
5,640
5,240
4,869
4,524
4,203
3,905
3,629
3,371
3,133
2,911
2,704
2,513
2,335
2,169
2,016
1,873
1,740
1,617
1,502
1,396
1,297
1,205
1,120
1,040
0,967
0,898
0,834
0,775
0,720
0,669
0,622
0,578
0,537
0,499
0,463
0,431
0,400
0,372
0,345
0,321

5,302
4,926
4,577
4,253
3,951
3,671
3,411
3,169
2,945
2,736
2,542
2,362
2,195
2,039
1,895
1,761
1,636
1,520
1,412
1,312
1,219
1,133
1,052
0,978
0,909
0,844
0,784
0,729
0,677
0,629
0,585
0,543
0,505
0,469
0,436
0,405
0,376
0,349
0,325
0,302
0,280
0,260
0,242

4,559
4,236
3,936
3,657
3,398
3,157
2,933
2,726
2,532
2,353
2,186
2,031
1,887
1,754
1,629
1,514
1,407
1,307
1,214
1,128
1,048
0,974
0,905
0,841
0,781
0,726
0,675
0,627
0,582
0,541
0,503
0,467
0,434
0,403
0,375
0,348
0,323
0,301
0,279
0,259
0,241
0,224
0,208

4,129
3,836
3,564
3,312
3,077
2,859
2,656
2,468
2,293
2,131
1,980
1,840
1,709
1,588
1,476
1,371
1,274
1,184
1,100
1,022
0,949
0,882
0,820
0,762
0,708
0,657
0,611
0,568
0,527
0,490
0,455
0,423
0,393
0,365
0,339
0,315
0,293
0,272
0,253
0,235
0,218
0,203
0,188

46,154
42,884
39,845
37,022
34,398
31,961
29,696
27,592
25,637
23,820
22,133
20,564
19,107
17,753
16,495
15,326
14,240
13,231
12,294
11,423
10,613
9,861
9,163
8,513
7,910
7,350
6,829
6,345
5,895
5,478
5,089
4,729
4,394
4,082
3,793
3,524
3,275
3,043
2,827
2,627
2,441
2,268
2,107

77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119

0,039
0,036
0,034
0,031
0,029
0,027
0,025
0,023
0,022
0,020
0,019
0,017
0,016
0,015
0,014
0,013
0,012
0,011
0,010
0,010
0,009
0,008
0,008
0,007
0,007
0,006
0,006
0,005
0,005
0,005
0,004
0,004
0,004
0,003
0,003
0,003
0,003
0,003
0,002
0,002
0,002
0,002
0,002

1,066
0,991
0,920
0,855
0,795
0,738
0,686
0,637
0,592
0,550
0,511
0,475
0,441
0,410
0,381
0,354
0,329
0,306
0,284
0,264
0,245
0,228
0,212
0,197
0,183
0,170
0,158
0,147
0,136
0,127
0,118
0,109
0,101
0,094
0,088
0,081
0,076
0,070
0,065
0,061
0,056
0,052
0,049

0,298
0,277
0,257
0,239
0,222
0,207
0,192
0,178
0,166
0,154
0,143
0,133
0,123
0,115
0,107
0,099
0,092
0,085
0,079
0,074
0,069
0,064
0,059
0,055
0,051
0,047
0,044
0,041
0,038
0,035
0,033
0,031
0,028
0,026
0,025
0,023
0,021
0,020
0,018
0,017
0,016
0,015
0,014

0,225
0,209
0,194
0,180
0,168
0,156
0,145
0,134
0,125
0,116
0,108
0,100
0,093
0,086
0,080
0,075
0,069
0,064
0,060
0,056
0,052
0,048
0,045
0,041
0,039
0,036
0,033
0,031
0,029
0,027
0,025
0,023
0,021
0,020
0,018
0,017
0,016
0,015
0,014
0,013
0,012
0,011
0,010

0,193
0,180
0,167
0,155
0,144
0,134
0,124
0,116
0,107
0,100
0,093
0,086
0,080
0,074
0,069
0,064
0,060
0,055
0,052
0,048
0,044
0,041
0,038
0,036
0,033
0,031
0,029
0,027
0,025
0,023
0,021
0,020
0,018
0,017
0,016
0,015
0,014
0,013
0,012
0,011
0,010
0,010
0,009

0,175
0,163
0,151
0,140
0,131
0,121
0,113
0,105
0,097
0,090
0,084
0,078
0,072
0,067
0,063
0,058
0,054
0,050
0,047
0,043
0,040
0,037
0,035
0,032
0,030
0,028
0,026
0,024
0,022
0,021
0,019
0,018
0,017
0,015
0,014
0,013
0,012
0,012
0,011
0,010
0,009
0,009
0,008

1,958
1,819
1,690
1,570
1,459
1,356
1,260
1,170
1,087
1,010
0,939
0,872
0,810
0,753
0,700
0,650
0,604
0,561
0,521
0,485
0,450
0,418
0,389
0,361
0,336
0,312
0,290
0,269
0,250
0,232
0,216
0,201
0,186
0,173
0,161
0,149
0,139
0,129
0,120
0,111
0,104
0,096
0,089

120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141

0,002
0,002
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,001
0,000

0,045
0,042
0,039
0,036
0,034
0,031
0,029
0,027
0,025
0,023
0,022
0,020
0,019
0,017
0,016
0,015
0,014
0,000
0,000
0,000
0,000
0,000

0,013
0,012
0,011
0,010
0,009
0,009
0,008
0,008
0,007
0,007
0,006
0,006
0,005
0,005
0,005
0,004
0,004
0,004
0,000
0,000
0,000
0,000

0,010
0,009
0,008
0,008
0,007
0,007
0,006
0,006
0,005
0,005
0,005
0,004
0,004
0,004
0,003
0,003
0,003
0,003
0,003
0,000
0,000
0,000

0,008
0,008
0,007
0,007
0,006
0,006
0,005
0,005
0,005
0,004
0,004
0,004
0,003
0,003
0,003
0,003
0,003
0,002
0,002
0,002
0,000
0,000

0,007
0,007
0,006
0,006
0,006
0,005
0,005
0,004
0,004
0,004
0,004
0,003
0,003
0,003
0,003
0,002
0,002
0,002
0,002
0,002
0,002
0,000

Penjelasan perhitungan Hidrograf banjir rancangan periode ulang 1000 tahun :


Kolom 1 diketahui unit hidrograf = 0,000 m3/dt saat t = 0,0
Hujan jam ke 1 = unit hidrograf x hujan jam ke 1
= 0,000 x (Re = 27,298) = 0,000
Hujan jam ke 2 = 0,000 x (Re = 7,095) = 0,000
Hujan jam ke 3 = 0,000 x (Re = 4,971) = 0,000
Hujan jam ke 4 = 0,000 x (Re = 3,972) = 0,000
Hujan jam ke 5 = 0,000 x (Re = 3,342) = 0,000
Kolom 1 diketahui unit hidrograf = 0,101 m3/dt saat t = 1
Hujan jam ke 1 = unit hidrograf x hujan jam ke 1
= 0,101x (Re = 27,298) = 2,747
Hujan jam ke 2 = 0,101 x (Re = 7,095) = 0,714
Hujan jam ke 3 = 0,101 x (Re = 4,971) = 0,500

0,083
0,077
0,072
0,067
0,062
0,058
0,053
0,050
0,046
0,043
0,040
0,037
0,034
0,032
0,030
0,028
0,026
0,011
0,007
0,004
0,002
0,000

Hujan jam ke 4 = 0,101 x (Re = 3,972) = 0,400


Hujan jam ke 5 = 0,101 x (Re = 3,342) = 0,336
Demikian untuk perhitungan seterusnya, akhirnya bahwa perhitungan
tersebut menunjukkan Q total maksimum terjadi pada saat t = 9,0 (jam), lebih
jelasnya lihat Tabel V. 12.
T (jam)

= 9,0 jam

Kolom 1 unit hidrograf

= 13,351 m3/dt

Kolom 2 hujan jam ke 1 (Re = 27,298)

364,464

Kolom 3 hujan jam ke 2 (Re = 7,095)

104,950

Kolom 4 hujan jam ke 3 (Re = 4,971)

53,369

Kolom 5 hujan jam ke 4 (Re = 3,972)

29,457

Kolom 6 hujan jam ke 5 (Re = 3,342)

16,001 +

Sehingga kolom 7

568,241 m3/dt

6) Perhitungan Debit Metode Empiris

Metode ini digunakan untuk memperkirakan harga ebit banjir secara


kasar dan cepat. Juga digunakan untuk memeriksa hasil yang didapat dengan
perhitungan metode Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Nakayasu. Dalam hal ini
metode empiris yang dipakai antara lain : Metode Haspers, Rasional
Mononobe dan Melchior. Perhitungannya disajikan sebagaimana berikut ini.
a. Metode Haspers

Diketahui data sebagai berikut :


- Luas DPS (Catchment Area) Waduk Kedung Ombo :
A = 577,597 km2
- Panjang sungai Serang : L = 159,5 km
- Kemiringan dasar sungai rata-rata : So = 0,03939
Waktu Konsentrasi (Time Concentracion) :
t = 0,1. L0.8 .So-0.3
= 0,1 x (159,5)0.8 x (0,03939)-0.3
= 15,261 jam
Koefisien Pengaliran (Coefficien Run Off) :

0 .7
= 1 + 0 , 012 . A 0 .7

1 + 0 , 075 . A

0 .7
= 1 + 0 , 012 x ( 577 ,597 ) 0 .7

1 + 0 , 075 x ( 577 , 597 )

= 0,2731
Koefisien Reduksi :
0 .4 t
1/ = 1 + ( t + 3 ,27 x10

t + 15

)x (

A 0 .75
12

0 . 4 x 15 . 261
1/ = 1 + ( 15 , 261 + 3, 7 x210

(15 , 261 ) + 15

)
)x (

( 577 ,597 ) 0 .75


12

1/ = 1,6047888
= 0,6231349 0,623
Curah hujan periode ulang tertentu :
Untuk t : 15,261 jam

Rt = 0,707. R . t+1 maka :

R2

= 0,707 x 81,85 x 15,261+1

= 233,324 mm

R5

= 0,707 x 92,05 x 15,261+1

= 262,399 mm

R10 = 0,707 x 97,72 x 15,261+1

= 278,563 mm

R25 = 0,707 x 104,23 x 15,261+1

= 297,121 mm

R50 = 0,707 x 108,64 x 15,261+1

= 309,692 mm

R100 = 0,707 x 112,98 x 15,261+1

= 322,064 mm

R200 = 0,707 x 116,95 x 15,261+1

= 333,381 mm

R1000 = 0,707 x 125,31 x 15,261+1

= 357,212 mm

Intensitas hujan yang diperhitungkan untuk periode ulang tertentu :


qt =

Rt
3 , 6 xt

q2 =

233 ,324
3 , 6 x15 , 261

= 4,247 m/dt

q5 =

262 ,399
3 , 6 x15 , 261

= 4,776 m/dt

q10 =

278 ,563
3 , 6 x15 , 261

= 5,070 m/dt

q25 =

297 ,121
3 , 6 x15 , 261

= 5,408 m/dt

q50 = 309 , 692

= 5,637 m/dt

q100 = 322 , 064

= 5,862 m/dt

3 , 6 x15 , 261

3 , 6 x15 , 261

q200 =

333 ,381
3 , 6 x15 , 261

q1000 = 357 , 212

3 , 6 x15 , 261

= 6,068 m/dt
= 6,502 m/dt

Debit banjir rancangan :


Qt = ..q.A
Q2 = 0,2731 x 0,623 x 4,247 x 577,597 = 417,357 m3/dt
Q5 = 0,2731 x 0,623 x 4,776 x 577,597 = 469,367 m3/dt
Q10 = 0,2731 x 0,623 x 5,070 x 577,597 = 498,279 m3/dt
Q25 = 0,2731 x 0,623 x 5,408 x 577,597 = 531,474 m3/dt
Q50 = 0,2731 x 0,623 x 5,637 x 577,597 = 553,961 m3/dt
Q100 = 0,2731 x 0,623 x 5,862 x 577,597 = 576,091 m3/dt
Q200 = 0,2731 x 0,623 x 6,068 x 577,597 = 596,334 m3/dt
Q1000= 0,2731 x 0,623 x 6,502 x 577,597 = 638,962 m3/dt
b. Metode Rasional Mononobe

Diketahui data sebagai berikut :


- Luas DPS (Catchment Area) Waduk Kedung Ombo :
A = 577,597 km2
- Panjang sungai Serang : L = 159,5 km = 159.500 m
- Kemiringan dasar sungai rata-rata : So = 0,03939
Waktu Konsentrasi (Time Concentracion) :
t=

L
72 .( So ) 0 , 6

159 ,500

= 15,463 jam

72 x ( 0 , 03939 ) 0 , 6

Koefisien Pengaliran (Coefficien Run Off) :


Koefisien pengaliran dari tabel Mononobe, untuk kondisi sungai di
daerah pegunungan yaitu 0,75 0,85. Maka diambil koefisien pengaliran
= 0,80
Intensitas hujan rancangan :
rt

= Rt

r2

= 81 ,85 (

r5

= 92 , 05

24
15 , 463

)2 / 3

= 5,142 mm

r10 = 97 , 72

24
15 , 463

)2 / 3

= 5,458 mm

24

24
t

24
15 , 463

24

24

24

)2 / 3

)2 / 3

= 4,572 mm

r25 = 104 , 23

24
15 , 463

)2 / 3 = 5,822 mm

r50 = 108 , 64

24
15 , 463

)2 / 3 = 6,068 mm

24

24

r100 = 112 ,98 (

24
15 , 463

24

r200 = 116 ,95

24

r1000 = 125 ,31 (


24

24
15 , 463

24
15 , 463

)2 / 3

= 6,311 mm

)2 / 3 = 6,532 mm
)2 / 3

= 6,999 mm

Besarnya debit banjir maksimum :


QT = .r . A
3 .6

Q2 = 0 ,80 x 4 ,572 x 577 ,597

= 586,811 m3/dt

Q5 = 0 ,80 x 5 ,142 x 577 ,597

= 659,938 m3/dt

3,6

3,6

Q10 = 0 ,80 x 5 , 458 x 577 ,597

= 700,588 m3/dt

Q25 = 0 ,80 x 5 ,822 x 577 ,597

= 747,261 m3/dt

Q50 = 0 ,80 x 6 , 068 x 577 ,597

= 778,878 m3/dt

Q100 = 0 ,80 x 6 ,311 x 577 ,597

= 809,993 m3/dt

Q200 = 0 ,80 x 6 ,532 x 577 ,597

= 838,455 m3/dt

3, 6

3, 6

3, 6

3, 6

3, 6

Q1000 = 0 ,80 x 6 ,999 x 577 ,597 = 898,391 m3/dt


3,6

c. Metode Melchior

Diketahui data sebagai berikut :


- Luas DPS (Catchment Area) Waduk Kedung Ombo :
A = 577,597 km2
- Panjang sungai Serang : L = 159,55 km = 159.500 m
- Perbedaan elevasi dengan titik terjauh DPS adalah H = 719 m
Koefisien Pengaliran (Coefficien Run Off) :
Koefisien aliran () berkisar antara 0,42 0,62 dan Melchior menganjurkan
untuk memakai = 0,52.
Kecepatan rambat banjir ke tempat titik pengamatan :
V = 72 ( H
L

= 72 ( 719

159 ,5

)0 .6

)0 .6 = 2,8165 km/jam

Waktu konsentrasi :
t = 1000 . L
60 .V

t = 1000 x159 ,5
60 x 2 ,8165

t = 943,842 jam = 39,3 hari

Koefisien reduksi ()
1970

A=

-3960+1720

0 ,12

1720 2 4537,597. +2308,1116 = 0


2
1.2 = 4537 ,597 ( 4537 ,597 ) 4 x1720 x 2308 ,1116

2 x1720

diperoleh 1 = 1,949 dan 2 = 0,688 maka diambil harga = 1,949


Intensitas curah hujan :
rt = R t

24

24
t

)2 / 3

24
943 ,846

r2= 81 ,85
24

)2 / 3

= 0,295 mm

r5= 92 , 05 (

24
943 ,846

r10= 97 , 72

24
943 , 486

)2 / 3

= 0,352 mm

r25= 104 , 23 (

24
943 , 486

)2 / 3

= 0,376 mm

r50= 108 , 64 (

24
943 , 486

)2 / 3

= 0,391 mm

24

24

24

24

)2 / 3

= 0,332 mm

r100= 112 ,98 (

24
943 , 486

)2 / 3

= 0,407 mm

24
943 , 486

)2 / 3

= 0,421 mm

24

r200=

116 , 95
24

r1000= 125 ,31


24

24
943 , 486

)2 / 3

= 0,451 mm

Besarnya debit banjir maksimum :


Qmax = i .i .ri .A m3/dt
Q2

= 0,52 x 1,949 x 0,295 x 577,597 = 172,632 m3/dt

Q5

= 0,52 x 1,949 x 0,332 x 577,597 = 194,145 m3/dt

Q10

= 0,52 x 1,949 x 0,352 x 577,597 = 206,104 m3/dt

Q25

= 0,52 x 1,949 x 0,376 x 577,597 = 219,834 m3/dt

Q50

= 0,52 x 1,949 x 0,391 x 577,597 = 229,135 m3/dt

Q100 = 0,52 x 1,949 x 0,407 x 577,597 = 238,289 m3/dt


Q200 = 0,52 x 1,949 x 0,421 x 577,597 = 246,662 m3/dt
Q1000 = 0,52 x 1,949 x 0,451 x 577,597 = 264,294 m3/dt
Adapun perhitungan banjir rancangan untuk metode-metode empiris
seperti

Haspers,

Rasional

Mononobe,

maupun

Melchior

merupakan

pembanding dan pengontrol dari metode HSS Nakayasu. Secara keseluruhan


dapat ditampilkan pada Tabel V.13 berikut ini
Tabel V.13 Debit Banjir Rancangan Maksimum Hasil Dari Berbagai Metode

Periode
Ulang (thn)
1000
Keterangan :

Metode
Haspers
638,962

Debit Banjir Rancangan (m3/dt)


Metode
Metode
Rasional Mononobe
Melchior
898,391
264,294

Metode HSS
Nakayasu
568,241

Yang dipakai Debit Banjir Rencana Metode Nakayasu sebesar 568,241


3

m /dt, karena karena kondisi sungai Serang termasuk dalam sungai yang lebar
dan panjang, biasanya untuk sungai yang lebar dan panjang digunakan metode
Nakayasu. Selain itu metode ini mempunyai variabel yang lebih banyak dan
lebih rinci dibandingkan Metode Empiris. Metode Nakayasu juga dianjurkan
untuk digunakan pada DAS yang besar sedangkan Metode Empiris lebih
banyak digunakan pada DAS yang lebih kecil.

G. Analisa Penelusuran Banjir Lewat Waduk Kedung Ombo

Data-data yang diketahui :


1.

Waduk Kedung Ombo dilengkapi fasilitas bangunan pelimpah

2.

Mercu pelimpah berelevasi EL + 90 m

3.

Panjang ambang 40 m

4.

Koefisien debit diambil konstan C = 2 m1/2.dt

5.

Pada saat permulaan banjir (t = 0) elevasi air waduk setinggi ambang


bangunan pelimpah.

Besarnya tampungan (storage) di atas ambang bangunan pelimpah pada


elevasi-elevasi tertentu adalah seperti tercantum pada Tabel V.14 di bawah ini,
dapat digunakan untuk analisa penelusuran banjir. Sedangan hidrograf debit
masuk ke dalam waduk, dapat diambil dari Tabel V.12 dengan metode
penelusuran banjir t = 1 jam (3600 detik).
Tabel V.14. Hubungan elevasi muka air-tampungan-debit (H-S-D)

Elevasi

H3/2

Storage

S/t + D/2

(m)
1
0
0,01
0,02
0,03
0,04
0,05
0,06
0,07
0,08
0,09
0,1
0,11
0,12
0,13
0,14
0,15
0,16
0,17
0,18
0,19
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
1,4
1,6
1,8
2
2,2

(m)
2
0
0,001
0,002828
0,005196
0,008
0,01118
0,014697
0,01852
0,022627
0,027
0,031623
0,036483
0,041569
0,046872
0,052383
0,058095
0,064
0,070093
0,076368
0,082819
0,089443
0,252982
0,464758
0,715542
1
1,314534
1,656502
2,023858
2,414953
2,828427
3,263127

(m)
3
0
0,080000
0,226274
0,415692
0,640000
0,894427
1,175755
1,481621
1,810193
2,160000
2,529822
2,918630
3,325538
3,749773
4,190656
4,647580
5,120000
5,607424
6,109403
6,625526
7,155418
20,238577
37,180640
57,243340
80,000000
105,162731
132,520187
161,908616
193,196273
226,274170
261,050187

(m3/dt)
4
743970000
744395182
744820526
745246034
745671705
746097540
746523537
746949698
747376023
747802510
748229161
748655976
749082954
749510095
749937400
750364869
750792501
751220296
751648256
752076379
752504666
761104829
769770739
778502646
787300800
796165450
805096845
814095235
823160870
832294000
841494874

(m3/dt)
5
206658,3333
206776,4793
206894,7038
207012,9951
207131,3492
207249,7638
207368,2371
207486,7681
207605,3558
207723,9995
207842,6986
207961,4526
208080,261
208199,1235
208318,0398
208437,0095
208556,0324
208675,1083
208794,2369
208913,418
209032,6515
211428,1273
213843,7957
216279,3568
218734,6667
221209,6507
223704,2725
226218,5196
228752,3955
231305,9149
233879,1011

D
(Outflow)
m3/dt
6
0
0,08
0,22627417
0,41569219
0,64
0,89442719
1,17575508
1,48162073
1,81019336
2,16
2,52982213
2,91862982
3,32553755
3,74977333
4,19065627
4,64758002
5,12
5,60742365
6,10940259
6,62552639
7,15541753
20,238577
37,1806401
57,2433402
80
105,162731
132,520187
161,908616
193,196273
226,27417
261,050187

7
-0,00700208
0,089215029
0,230979707
0,414322685
0,635259798
0,88979277
1,173910214
1,483588241
1,814790872
2,163470346
2,519555631
3,133545131
3,753758699
4,380190702
5,012835649
5,651688151
6,296742903
6,947994663
7,605438234
8,269068455
8,938880191
23,62534638
40,74057753
60,23965204
82,0735068
106,1887115
132,5273545
161,0269454
191,6203151
224,2355132
258,7956987

2,4
2,6
2,8
3
3,2
3,4
3,6
3,8
4
4,2
4,4
4,6
4,8
5

3,718064
4,192374
4,685296
5,196152
5,724334
6,26929
6,83052
7,407564
8
8,607439
9,229518
9,865901
10,51627
11,18034

297,445121
335,389922
374,823692
415,692194
457,946722
501,543218
546,441580
592,605096
640,000000
688,595091
738,361429
789,272070
841,301848
894,427191

850763741
860100851
869506454
878980800
888524138
898136717
907818787
917570598
927392400
937284442
947246973
957280243
967384502
977560000

236471,9839
239084,5981
241716,9825
244369,1794
247041,2338
249733,1929
252445,1061
255177,0243
257929
260701,0869
263493,3398
266305,8147
269138,5683
271991,658

297,445121
335,389922
374,823692
415,692194
457,946722
501,543218
546,44158
592,605096
640
688,595091
738,361429
789,27207
841,301848
894,427191

295,2190267
333,4185311
373,3020029
414,7718649
457,7250431
502,0528351
547,640775
594,3684957
642,1095885
690,7314589
740,0951809
790,0553476
840,4599198
891,1500711

Penjelasan dari Tabel V.14


Hubungan elevasi tampungan debit (H S D) sebagai berikut :
1. Elevasi

= 90 m

2. Elevasi

= 90,01 m

= 0,000 m

= 0,01 m

H3/2

= 0,000 m3

H3/2

= 0,001 m3

= 743970000 m3 /dt

= 744395181,6 m3 /dt

S/t + D/2

= 206776,4793 m3 /dt

S/t + D/2 = 206658,3333 m /dt

= 0,000 m3 /dt

= 0,08 m3 /dt

= -0,00700208 m3 /dt

= 0,089215029 m3 /dt

Contoh uraian sebagai berikut :


- Regresi dari kurva karakteristik waduk (Lihat Lampiran)
- S/t + D/2= 744395181 , 6 + 0 , 08
3600
2
= 206776,4793 m3 /dt
- D = C. B.H3/2
= 2 x 40 x (0,01)3/2

Kolom (4)
Kolom (5)

Kolom (6)

= 0,08 m3 /dt
- 1 = Hasil regresi dari kolom (5) dan kolom (6) (Lihat Lampiran)
Kolom (7)

Elevasi
(m)
90
90
90
90,00284
90,00924
90,02007
90,03752
90,06461
90,10565
90,17379
90,25516
90,34039
90,42332
90,50019
90,56952
90,63145
90,68652
90,73556
90,77945
90,81885
90,8543
90,88626
90,91511
90,94117
90,96471
90,98599
91,00522
91,02262
91,03836
91,05263
91,0656
91,07742
91,08821
91,09806
91,10707
91,11531
91,12283
91,12971
91,13599

Tabel V.15. Penelusuran Banjir Lewat Waduk dengan Metode Puls Grapichal
dengan t = 1 jam
t
I
2S/t-D
1+(I1+I2)/2
Outflow
H
(1)
(jam) (m3/dt)
(m3/dt)
(m3/dt)
(m3/dt)
(m)
1
2
3
4
5
6
0
0
206658,3333 206659,7063
0
0
1
2,746 206658,3333 206667,3108
0
0
2
15,209 206658,3333 206687,2498
0
0
3
42,624 206691,9052 206757,9737 0,01212977
0,0028434
4
89,513 206767,4106 206892,1736 0,07104037
0,0092387
5
160,013 206895,3278 207104,1848 0,22749719
0,020072
6
257,701 207101,4272 207422,9377
0,5814455
0,0375214
7
385,32 207421,5891 207886,8566 1,31390914
0,0646126
8
545,215 207907,024
208463,752 2,74717023
0,1056486
9
568,241 208714,4849 209273,7709 5,79610637
0,1737925
10
550,331 209680,9989 210213,3724
10,311358
0,2551627
11
514,416
210696,09
211185,731 15,8872215
0,3403862
12
464,866 211686,7453 212120,8103 22,0341022
0,4233214
13
403,264 212607,4982 212983,2002 28,3006929
0,5001935
14
348,14 213440,0003 213764,3458 34,3839632
0,5695222
15
300,551 214185,3247 214465,3337 40,1418862
0,6314494
16
259,467 214849,5402 215093,2322 45,5065919
0,6865248
17
227,917 215442,0454 215657,4159 50,4685993
0,7355646
18
202,824 215973,1352 216165,3957 55,0518762
0,7794497
19
181,697 216450,6635
216623,354 59,2785277
0,8188511
20
163,684 216880,8703 217036,8088 63,1693703
0,8543012
21
148,193 217269,1697 217410,4462 66,7470056
0,8862601
22
134,36 217620,0813 217748,1703 70,0326424
0,9151108
23
121,818 217937,3269 218053,4589 73,0450765
0,9411683
24
110,446 218224,1921 218329,4831 75,8027714
0,9647099
25
100,136 218483,6559 218579,1184 78,3242118
0,9859859
26
90,789 218718,4092 218804,9607 80,6274385
1,0052218
27
82,314
218930,877
219009,349 82,7297439
1,0226204
28
74,63 219123,2417 219194,5847 84,6475015
1,0383636
29
68,056 219297,6514 219362,9899 86,3979434
1,0526297
30
62,621 219456,2765 219516,4955 87,9995276
1,0655984
31
57,817 219600,9215
219656,594 89,4678349
1,077419
32
53,528 219732,9799 219784,5809
90,814889
1,0882067
33
49,674 219853,6624 219901,5764 92,0513038
1,0980614
34
46,154 219964,0152 220008,5342 93,1863779
1,1070697
35
42,884 220064,9301 220106,2946 94,2281065
1,115305
36
39,845 220157,1924 220195,6259 95,1836207
1,1228321
37
37,022 220241,5212 220277,2312 96,0595538
1,1297102
38
34,398 220318,5749 220351,7544 96,8620665
1,1359935

91,14173
91,14697
91,15175
91,15611
91,16008
91,16371
91,167
91,17
91,17273
91,17521
91,17747
91,17951
91,18136
91,18304
91,18456
91,18593
91,18716
91,18828
91,18928
91,19018
91,19099
91,19171
91,19235
91,19293
91,19344
91,19389
91,19428
91,19463
91,19494
91,19521
91,19544
91,19564
91,19581
91,19595
91,19607
91,19617
91,19625
91,19631
91,19636
91,19639
91,19641
91,19642
91,19643
91,19642

39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82

31,961
29,696
27,592
25,637
23,820
22,133
20,564
19,107
17,753
16,495
15,326
14,240
13,231
12,294
11,423
10,613
9,861
9,163
8,513
7,910
7,350
6,829
6,345
5,895
5,478
5,089
4,729
4,394
4,082
3,793
3,524
3,275
3,043
2,827
2,627
2,441
2,268
2,107
1,958
1,819
1,690
1,570
1,459
1,356

220388,9567
220453,2201
220511,8719
220565,3776
220614,1638
220658,6225
220699,1133
220735,9661
220769,4846
220799,9474
220827,6106
220852,7093
220875,4599
220896,0611
220914,6957
220931,5307
220946,7201
220960,4063
220972,7188
220983,777
220993,691
221002,5615
221010,4805
221017,533
221023,7972
221029,3443
221034,2399
221038,5444
221042,3122
221045,594
221048,436
221050,8808
221052,9672
221054,73
221056,2015
221057,4117
221058,3873
221059,1526
221059,7302
221060,1407
221060,4024
221060,5322
221060,5458
221060,4574

220419,7852
220481,8641
220538,4864
220590,1061
220637,1403
220679,971
220718,9488
220754,3961
220786,6086
220815,8579
220842,3936
220866,4448
220888,2224
220907,9196
220925,7137
220941,7677
220956,2321
220969,2443
220980,9303
220991,407
221000,7805
221009,1485
221016,6005
221023,2195
221029,0807
221034,2533
221038,8014
221042,7824
221046,2497
221049,2525
221051,8355
221054,0398
221055,9022
221057,457
221058,7355
221059,7662
221060,5748
221061,1851
221061,6187
221061,8952
221062,0324
221062,0467
221061,9533
221061,7654

97,5968783
98,2692944
98,8842274
99,4462292
99,9595072
100,427959
100,855185
101,244507
101,599003
101,92151
102,214647
102,480832
102,722296
102,941099
103,139136
103,318147
103,479743
103,625411
103,756513
103,874302
103,979938
104,074483
104,158909
104,234114
104,300928
104,360103
104,412337
104,458271
104,498483
104,533511
104,563849
104,589948
104,612223
104,631044
104,646756
104,659678
104,670096
104,678268
104,684437
104,68882
104,691615
104,693001
104,693147
104,692202

1,1417314
1,1469696
1,1517495
1,1561093
1,1600839
1,1637055
1,1670035
1,1700048
1,1727343
1,1752148
1,1774671
1,1795104
1,1813624
1,1830394
1,1845562
1,1859264
1,1871627
1,1882765
1,1892786
1,1901785
1,1909852
1,1917071
1,1923515
1,1929253
1,1934351
1,1938864
1,1942847
1,194635
1,1949416
1,1952086
1,1954398
1,1956387
1,1958085
1,1959519
1,1960716
1,1961701
1,1962495
1,1963117
1,1963587
1,1963921
1,1964134
1,196424
1,1964251
1,1964179

91,1964
91,19638
91,19636
91,19633
91,19629

83
84
85
86
87

1,260
1,170
1,087
1,010
0,939

221060,2795
221060,0232
221059,6986
221059,3157
221058,8832

221061,4945
221061,1517
221060,7471
221060,2902
221059,3527

104,690303
104,687565
104,684099
104,68001
104,675392

1,1964034
1,1963826
1,1963562
1,196325
1,1962898

Penjelasan dari Tabel V.15 :


Penelusuran banjir lewat waduk dengan Metode Puls Grapichal dengan t= 1
jam, lihat pada Tabel V.15 dan seterusnya.
Baris ke 1 saat

Elevasi

= 90,0 m

Kolom 1

= 0,0 jam

Kolom 2

= 0,00 m3 /dt

Kolom 3

= 206658,333 m3 /dt

Kolom 4

1+(I1+I2)/2

= 206663,277 m3 /dt

Kolom 5

Outflow

= 0,00

m3 /dt

= 0,00

m3 /dt

Kolom 6

Baris ke 2 saat

Elevasi

= 90,0 m

Kolom 1

= 1 jam

Kolom 2

= 2,746 m3 /dt

Kolom 3

= 206658.3333 m3 /dt

Kolom 4

1+(I1+I2)/2

= 206667,3108 m3 /dt

Kolom 5

Outflow

= 0,00 m3 /dt

Kolom 6

= 0,00 m3 /dt

Pada baris ke 2 lebih jelasnya sebagai berikut :


Kolom 1 , lihat t = 0,00, t = 1, t = dan seterusnya
Kolom 2 ,I = dari Tabel V.12
Kolom 3 dengan regresi dari kurva karakeristik waduk
1 = 2 S
t

D dengan S dari Tabel V.14 kolom 4

= 206658,3333 m3 /dt
Kolom 4 = 1+(I1+I2)/2 = 206667,3108 m3 /dt
Kolom 5 mencari H dengan fungsi logika IF pada program Excell
Kolom 6 mencari Q dengan fungsi logika IF pada program Excell

Tabel V.16. Data Untuk Kapasitas Waduk metode Goodrich's

H
(m)
1
0
0,01
0,02
0,03
0,04
0,05
0,06
0,07
0,08
0,09
0,1
0,11
0,12
0,13
0,14
0,15
0,16
0,17
0,18
0,19
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
1,4
1,6
1,8
2
2,2
2,4
2,6
2,8
3
3,2

H3/2
(m)
2
0
0,001
0,002828
0,005196
0,008
0,01118
0,014697
0,01852
0,022627
0,027
0,031623
0,036483
0,041569
0,046872
0,052383
0,058095
0,064
0,070093
0,076368
0,082819
0,089443
0,252982
0,464758
0,715542
1
1,314534
1,656502
2,023858
2,414953
2,828427
3,263127
3,718064
4,192374
4,685296
5,196152
5,724334

D
(Outflow)
m3/dt
3
0
0,08
0,22627417
0,41569219
0,64
0,89442719
1,17575508
1,48162073
1,81019336
2,16
2,52982213
2,91862982
3,32553755
3,74977333
4,19065627
4,64758002
5,12
5,60742365
6,10940259
6,62552639
7,15541753
20,238577
37,1806401
57,2433402
80
105,162731
132,520187
161,908616
193,196273
226,27417
261,050187
297,445121
335,389922
374,823692
415,692194
457,946722

Storage
m3
4
743970000
744395181,6
744820526,3
745246034,2
745671705,3
746097539,6
746523537,3
746949698,2
747376022,5
747802510,2
748229161,2
748655975,7
749082953,6
749510095,1
749937400
750364868,6
750792500,7
751220296,4
751648255,8
752076378,8
752504665,6
761104828,8
769770739,2
778502646,4
787300800
796165449,6
805096844,8
814095235,2
823160870,4
832294000
841494873,6
850763740,8
860100851,2
869506454,4
878980800
888524137,6

2S/Dt + D
5
413316,6667
413552,9586
413789,4075
414025,9902
414262,6985
414499,5276
414736,4742
414973,5362
415210,7116
415447,999
415685,3972
415922,9051
416160,522
416398,247
416636,0796
416874,019
417112,0648
417350,2165
417588,4737
417826,836
418065,303
422856,2546
427687,5913
432558,7136
437469,3333
442419,3014
447408,5451
452437,0393
457504,7909
462611,8297
467758,2022
472943,9678
478169,1961
483433,965
488738,3589
494082,4676

3,4 6,26929 501,543218


3,6 6,83052 546,44158
3,8 7,407564 592,605096
4
8
640
4,2 8,607439 688,595091
4,4 9,229518 738,361429
4,6 9,865901 789,27207
4,8 10,51627 841,301848
5
11,18034 894,427191
Penjelasan dari Tabel V.16 :
Kolom (1)

= asumsi

Kolom (2)

= (1)3/2

Kolom (3)

= D =C. B.H3/2

898136716,8
907818787,2
917570598,4
927392400
937284441,6
947246972,8
957280243,2
967384502,4
977560000

499466,3859
504890,2122
510354,0487
515858
521402,1738
526986,6797
532611,6294
538277,1365
543983,3161

= 2. 40. H3/2
Kolom (4)

= Regresi dari kurva karakeristik waduk

Kolom (5)

= 2 x ( 4 ) + (3)
3600

Tabel V.17. Penelusuran Banjir Lewat Waduk Menggunakan Metode Goodrichs

Elevasi
(m)
90
90
90
90
90,00545
90,01719
90,03554
90,0625
90,10135
90,14816
90,19459
90,27574
90,35796
90,43614
90,50789
90,57278
90,63104
90,68329
90,73031
90,77271
90,81101
90,84565
90,877
90,90541
90,93113
90,95445
90,97558
90,99476
91,01215
91,02796
91,04238
91,05555
91,06745
91,07821
91,08809
91,09716
91,10549
91,11313
91,12015
91,12659

Waktu
t
(Jam)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

I
(m3/dt)
0
2,746
15,209
42,624
89,513
160,013
257,701
385,32
545,215
568,241
550,331
514,416
464,866
403,264
348,14
300,551
259,467
227,917
202,824
181,697
163,684
148,193
134,36
121,818
110,446
100,136
90,789
82,314
74,63
68,056
62,621
57,817
53,528
49,674
46,154
42,884
39,845
37,022
34,398
31,961

Fungsi Tampungan
2S/Dt-D
413316,6667
413316,6667
413316,6667
413316,6667
413445,2868
413722,6465
414155,9268
414793,2898
415712,1878
416821,0371
417922,5577
419851,6396
421811,4543
423680,201
425399,5793
426958,3619
428360,752
429620,9648
430757,0023
431783,1539
432711,1744
433551,5804
434313,3437
435003,9831
435630,2245
436198,2214
436713,5691
437181,3338
437606,0914
437992,3395
438344,607
438666,6778
438957,8702
439221,2755
439463,1669
439685,3007
439889,285
440076,5932
440248,5764
440406,4737

2S/Dt+D
413319,4127
413334,6217
413374,4997
413448,8037
413694,8128
414140,3605
414798,9478
415723,8248
416825,6438
417939,6091
418987,3047
420830,9216
422679,5843
424431,605
426048,2703
427518,3799
428848,136
430051,7058
431141,5233
432128,5349
433023,0514
433834,1334
434569,5217
435236,2471
435840,8065
436389,1464
436886,6721
437338,2778
437748,7774
438123,0165
438465,045
438774,1688
439053,6982
439310,3135
439545,8959
439762,1677
439960,705
440142,9522
440310,2334
440463,7617

Outflow

(m3/dt)
0
0
0
0
0,03216031
0,1803405
0,5358938
1,2500771
2,58105547
4,56219415
6,86708655
11,5834559
17,1330482
23,0423757
28,9561826
34,6794979
40,1027267
45,1852562
49,928698
54,3398958
58,4291808
62,2118681
65,7041614
68,9214553
71,8799007
74,596433
77,0880911
79,3715593
81,4628839
83,3791488
85,1387859
86,7574767
88,2290424
89,5667337
90,8006123
91,9382704
92,9868033
93,9528275
94,8425085
95,6615841

(m)
0
0
0
0
0,00544695
0,01719236
0,03553523
0,06250257
0,1013456
0,14815712
0,19459052
0,27573937
0,3579561
0,43613892
0,50788753
0,57278092
0,63103863
0,68328912
0,73030931
0,77271476
0,81101062
0,84564646
0,87700471
0,90540517
0,93113286
0,95444751
0,97558445
0,99475611
1,01215385
1,02796497
1,04237738
1,05554791
1,06745044
1,07821284
1,08809261
1,09716235
1,10548848
1,11313177
1,12014789
1,12658783

91,1325
91,13792
91,1429
91,14746
91,15165
91,15549
91,15901
91,16224
91,16519
91,1679
91,16997
91,17233
91,1745
91,17647
91,17828
91,17992
91,18142
91,18279
91,18404
91,18517
91,1862
91,18714
91,18799
91,18876
91,18946
91,19009
91,19067
91,19118
91,19165
91,19207
91,19244
91,19278
91,19308
91,19335
91,19359
91,19381
91,194
91,19416
91,19431
91,19444
91,19455
91,19465
91,19474
91,19481

40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83

29,696
27,592
25,637
23,820
22,133
20,564
19,107
17,753
16,495
15,326
14,240
13,231
12,294
11,423
10,613
9,861
9,163
8,513
7,910
7,350
6,829
6,345
5,895
5,478
5,089
4,729
4,394
4,082
3,793
3,524
3,275
3,043
2,827
2,627
2,441
2,268
2,107
1,958
1,819
1,690
1,570
1,459
1,356
1,260

440551,4215
440684,4636
440806,557
440918,5826
441021,3486
441115,5974
441202,0133
441281,2245
441353,8094
441420,3001
441470,9843
441529,113
441582,2429
441630,7801
441675,0971
441715,5378
441752,4204
441786,0355
441816,6512
441844,5157
441869,8561
441892,8811
441913,7833
441932,7411
441949,9171
441965,4615
441979,5134
441992,1987
442003,6344
442013,9285
442023,1803
442031,4808
442038,9123
442045,5518
442051,4702
442056,7317
442061,3952
442065,5155
442069,1426
442072,3217
442075,095
442077,5011
442079,5759
442081,3512

440604,6505
440733,9206
440852,51
440961,2796
441061,0196
441152,4574
441236,2613
441313,0455
441383,3754
441436,9811
441498,4553
441554,638
441605,9599
441652,8161
441695,5711
441734,5618
441770,0964
441802,4585
441831,9112
441858,6947
441883,0301
441905,1211
441925,1563
441943,3081
441959,7351
441974,5845
441987,9894
442000,0737
442010,9514
442020,7275
442029,4983
442037,3508
442044,3663
442050,6198
442056,1792
442061,1067
442065,4602
442069,2925
442072,6516
442075,5817
442078,124
442080,3161
442082,1919
442083,7812

96,4153847
97,1088633
9,7466113
98,3328938
98,8716594
99,3665643
99,8210016
100,238109
100,62079
100,971732
101,239497
101,546859
101,828038
102,085118
102,320019
102,534517
102,730263
102,908767
103,071425
103,219535
103,354284
103,476768
103,587998
103,688911
103,780367
103,863156
103,938013
104,005604
104,066549
104,121419
104,170741
104,214997
104,254625
104,290034
104,321599
104,349664
104,374541
104,396522
104,415873
104,432835
104,447632
104,460471
104,471542
104,481015

1,13249832
1,13792225
1,1428989
1,1474644
1,15165189
1,15549177
1,15901207
1,16223848
1,16519467
1,16790239
1,16996624
1,17233304
1,17449614
1,1764721
1,17827614
1,17992228
1,18142351
1,18279167
1,1840377
1,1851717
1,18620294
1,18713993
1,1879905
1,18876192
1,18946083
1,19009332
1,19066508
1,19118122
1,19164651
1,19206534
1,19244176
1,19277947
1,19308182
1,19335195
1,19359273
1,19380679
1,19399652
1,19416415
1,19431171
1,19444105
1,19455387
1,19465176
1,19473617
1,19480839

91,19487
91,19492
91,19496
91,195
91,19502
91,19505
91,19506
91,19507
91,19508
91,19508
91,19508
91,19507
91,19506
91,19505

84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97

1,170
1,087
1,010
0,939
0,872
0,810
0,753
0,700
0,650
0,604
0,561
0,521
0,485
0,450

442082,8554
442084,1154
442085,1565
442086,0017
442086,6714
442087,1835
442087,5554
442087,8025
442087,939
442087,9776
442087,93
442087,8069
442087,6177
442087,3712

442085,1124
442086,2124
442087,1055
442087,813
442088,3541
442088,747
442089,0081
442089,1522
442089,1931
442089,1428
442089,0127
442088,8129
442088,5524
442087,8214

104,489042
104,495766
104,501322
104,505833
104,509406
104,512139
104,514124
104,515443
104,516171
104,516377
104,516123
104,515466
104,514457
104,513141

1,19486959
1,19492085
1,1949632
1,19499759
1,19502483
1,19504566
1,19506079
1,19507085
1,1950764
1,19507797
1,19507604
1,19507103
1,19506333
1,1950533

H. Hasil Pembahasan

Dari analisis hidrologi dan penelusuran banjir di atas diperoleh hasil seperti
tertera dalam Tabel V.18 berikut ini:
Tabel V.18 Hasil Pembahasan dari berbagai metode yang digunakan

Keterangan
- Dari

hidrograf

banjir

Hasil
rancangan 568,241 m3 /dt

menunjukkan bahwa banjir mencapai


maksimum terjadi setelah waktu puncak
(peak time) mencapai 9 jam dan debit
banjir rencana maksimum untuk periode
ulang 1000 tahunan adalah
- Debit keluaran (outflow) maksimum 104,693147 m3 /dt
yang melewati pelimpahan berdasarkan
metode Puls Grapichal
- Debit keluaran (outflow) maksimum 104,516377 m3 /dt
yang melewati pelimpahan berdasarkan
metode Goodrichs
- Redaman

banjir

yang

di

berdasarkan metode Puls

dapat = Selisih Puncak Inflow & Puncak


Outflow/Puncak Inflow (dalam %)
= (528,241-104,693147)/528,241
= 0,801807987 x 100 %
= 80,18079873 %

- Redaman

banjir

yang

di

berdasarkan metode Goodrichs

dapat = Selisih Puncak Inflow & Puncak


Outflow/Puncak Inflow (dalam %)
= (528,241-104,516377)/528,241
= 0,802142626 x 100 %
= 80,21426262 %

- Berdasarkan ordinat HSS Nakayasu, 141 jam


tinggi

muka

air

waduk

mencapai

keadaan normal setinggi puncak spillway


setelah mencapai periode waktu
- Berdasarkan metode Puls elevasi muka 91,19643 m
air banjir maksimum terjadi pada saat air
mencapai ketinggian
- Berdasarkan metode Goodrichs elevasi 91,19508 m
muka air banjir maksimum terjadi pada
saat air mencapai ketinggian
Berdasarkan tinggi bendungan yang

Tinggi jagaan teoritis berdasarkan

direncanakan,

metode Puls :

maka

angka

standar

untuk tinggi jagaan pada bendungan

= (Elevasi puncak bendungan)

urugan adalah sebagai berikut :

(Elevasi

Lebih rendah dari 50 m

maksimum)

Freeboard > 2,0 m

= 95 91,19643 m

Dengan tinggi antara 50 100 m

Freeboard > 3,0 m


Lebih tinggi dari 100 m

Freeboard > 3,5 m

muka

waduk

= 3,80357 m > 3,0 m (ok)


Tinggi jagaan teoritis berdasarkan
metode Goodrichs :
= (Elevasi puncak bendungan)

Berdasarkan data bendung diketahui

(Elevasi

tinggi bendung 96 m, maka di pakai

maksimum)

Freeboard > 3,0 m.

air

muka

air

waduk

= 95 91,19508 m
= 3,80492 m > 3,0 m (ok)

Hasil perhitungan yang diperoleh dari kedua metode hampir sama karena
metode Puls maupun metode Goodrichs menggunakan metode water balance
yang sama. Freeboard dari hasil perhitungan sebesar 3,80357 m menurut metode
Puls dan 3,80492 m menurut metode Goodrichs lebih besar dari freeboard teori
sebesar 3 m, sehingga dapat disimpulkan bahwa waduk Kedung Ombo aman
terhadap bahaya overtopping.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

Dari hasil analisis dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
1. Inflow maksimum yang diperoleh berdasarkan metode HSS Nakayasu
adalah sebesar 568,241 m3/dt sedangkan debit keluaran (outflow)
maksimum yang melewati pelimpahan berdasarkan metode Puls
Grapichal sebesar 104,693147 m3 /dt pada elevasi 91,19643 m dan
berdasarkan metode Goodrichs sebesar 104,516377 m3 /dt pada elevasi
91,19508 m.
2. Dengan didapatkannya tinggi jagaan waduk lebih besar dari tinggi jagaan
praktis yang dipersyaratkan (3,80357 m > 3,0 m) berdasarkan metode
Puls dan (3,80492 m > 3 m) berdasarkan metode Goodrichs maka
kondisi waduk Kedung Ombo aman terhadap bahaya limpasan yang
disebabkan datangnya debit banjir maksimum periode ulang 1000 tahun.
3. Redaman banjir yang di dapat berdasarkan metode Puls sebesar
80,18079873

dan

berdasarkan

metode

Goodrichs

sebesar

80,21426262 %.
B.

Saran-saran

Saran-saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut :


1. Untuk penelitian selanjutnya perlu dilakukan analisis routing banjir
dengan selisih waktu yang lebih kecil (t 0,1 jam) sehingga didapatkan
hasil penelitian yang lebih teliti.
2. Perlu adanya analisis routing banjir dengan Q PMF (Probable Maksimum

Flat) atau routing banjir yang kemungkinan terjadi di waduk, sehingga


dapat diketahui keamanan Waduk Kedung Ombo terhadap banjir
rancangan dengan Q PMF.

DAFTAR PUSTAKA

Chow, V. T, Rosalina, E. V. N, 1989, Hidrolika Saluran Terbuka, Erlangga,


Jakarta.
Linsley, R. K, Kholer, M. A, Paulhus, J. L. H, Hermawan, Y, 1989, Hidrologi
Untuk Insinyur, Erlangga, Jakarta.
Linsley, R. K, FranZini, J. B. Sangsongko, D, 1986, Teknik Sumber Daya Air,
Erlangga, Jakarta.
Schulz, E. F., 1979, Problems in Applied Hidrology, Fort Colling, Water
Resources Publication, Colombo.
Soemarto, C. D., 1986, Hidrologi Teknik, Erlangga, Jakarta.
Sosrodarsono, S., Takeda, K, 1989, Bendungan Type Urugan, PT Pradnya
Paramita, Jakarta.
Sosrodarsono, S., Takeda, K, 1993, Hidrologi Untuk Pengairan, PT Pradnya
Paramita, Jakarta.
Sri Harto, Br., 1981, Hidrologi Terapan, Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil
Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Hesti Wulan Prasetiani, D., 2000, Kajian Muka Air Banjir Waduk Sermo, Tugas
Akhir, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Danang Jaya, D., 2002, Analisis Routing Banjir Waduk Mrica Banjarnegara,
Tugas Akhir, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Djati Wibowo, G., 2004, Perbandingan Beberapa Metode Routing Banjir di
Waduk , Penelitian, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Pusat Studi Ilmu Teknik, 1994, Studi Optimalisasi Pola Eksploitasi dan
Pemutakhiran Data Kapasitas Waduk Kedung Ombo dengan
Pengukuran Echo Sounding, Laporan Akhir, Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta.
Puslitbang, 2006, Tingkat Keamanan Bendungan di Jawa Volume II : Jawa
Tengah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air, Jakarta
.
Wanielista, Martin.,P., 1997, Hidrologi Water Quantity and Quality Control, John
Wliey & Sons. Inc, Canada.

Data Curah Hujan Bulanan


Pada Masing-masing Stasiun Klimatologi

Data Curah Hujan Maksimum (mm) Stasiun Klimatologi Gede


no
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Periode

Curah Hujan Maksimum (mm)

pengamatan

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002

69
58
73
84
101
73
97
52
82
79

0
0
104
56
114
36
63
76
51
31

64
95
75
65
62
116
66
96
49
48

58
60
67
34
62
94
54
54
72
47

47
22
64
14
57
42
40
57
19
26

66
0
32
20
3
25
46
23
21
51

0
0
41
5
0
61
38
47
38
0

23
0
0
35
0
26
15
47
0
43

36
0
51
16
0
35
21
24
4
0

2
49
47
20
27
71
101
79
65
41

56
46
0
93
51
52
61
41
41
100

47
41
83
105
55
105
63
95
67
119

Maks
(mm)
69
95
104
105
114
116
101
96
82
119

Sumber : Data di lapangan (oleh PLTA Kedung Ombo)

Data Curah Hujan Maksimum (mm) Stasiun Klimatologi Kemusu


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Periode

Curah Hujan Maksimum (mm)

pengamatan

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002

46
95
45
34
80
77
58
56
43
98

140
64
42
47
0
96
56
58
46
27

97
52
45
25
37
81
37
46
36
78

96
81
34
19
74
96
46
46
18
85

23
24
17
21
13
47
16
18
18
26

21
14
0
35
0
47
7
34
18
30

14
0
31
5
0
43
18
17
22
62

24
11
14
0
0
21
12
0
0
3

34
0
78
7
0
21
18
8
7
48

32
21
42
13
23
32
28
33
43
82

56
16
73
17
28
47
18
23
0
84

56
74
115
45
56
79
47
42
0
48

Maks
(mm)
140
95
115
47
80
96
58
58
46
98

Sumber : Data di lapangan (oleh PLTA Kedung Ombo)

Data Curah Hujan Maksimum (mm) Stasiun Klimatologi Sambi


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Periode

Curah Hujan Maksimum (mm)

pengamatan

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002

166
55
78
86
75
38
106
41
101
72

94
0
115
131
63
70
99
25
112
90

84
84
62
35
50
84
42
75
47
96

32
56
162
67
32
69
60
32
0
0

36
15
80
55
32
23
51
80
151
31

25
0
61
20
0
85
0
7
94
8

29
0
30
0
0
39
10
7
40
7

6
0
0
81
0
65
15
28
0
0

26
0
85
15
0
13
0
5
25
0

75
26
68
94
18
17
58
68
96
26

69
80
62
60
78
60
52
0
94
35

80
25
91
78
107
50
65
30
99
101

Sumber : Data di lapangan (oleh PLTA Kedung Ombo)

Maks
(mm)
166
84
162
131
107
85
106
80
151
101

Distribusi Log PEARSON Tipe III Untuk Koefisien Kemencengan C1


Waktu balik dalam
C1
Peluan

Dikutip dari DR. M.M.A. SHANIN/Statistical Analysis in Hidrology

Kurva karakteristik Waduk Kedung Ombo.


No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.

Elevasi
40,0
41,0
42,5
45,0
47,5
50,0
52,5
55,0
57,5
60,0
62,5
64,0
64,5
65,0
67,5
70,0
72,5
75,0
77,5
80,0
82,5
85,0
87,5
90,0

Luas (km )
Tahun 1989
Tahun 1994
0,396
0,396
0,908
0,908
1,046
1,036
1,651
1,629
2,580
2,273
3,490
3,091
4,740
3,234
5,038
3,829
6,737
6,697
7,066
7,065
7,128
7,122
8,294
8,280
12,359
11,960
14,412
14,318
15,050
14,980
18,291
18,201
23,235
23,029
24,892
24,794
25,864
25,589
27,365
26,248
34,009
33,909
39,705
38,462
46,034
45,964

Volume (juta m )
Tahun 1989
Tahun 1994
1,650
1,648
2,077
2,075
5,878
5,868
7,692
7,642
14,401
14,055
20,576
19,153
32,134
28,948
43,483
35,699
58,490
49,986
76,025
67,100
86,576
85,051
90,648
89,016
95,353
93,751
126,719
124,235
166,233
163,926
204,139
201,268
259,108
256,270
317,576
313,861
382,998
379,431
447,335
441,693
524,108
516,506
616,590
608,648
723,161
711,273

REGRESI KARAKTERISTIK WADUK


KEDUNG OMBO
800
700

V o lu m e

600
500
400
300
200
100
0
0

20

40

60

80

Elevasi
y = 0.0052x 3 - 0.5884x2 + 22.062x 266.37
R2 = 0.9997

100

Kurva ukur kapasitas Waduk Kedung Ombo berdasarkan pengukuran echo


sounding tahun 1989 (merah) dan 1994 (biru).
2

Luas Genangan (m )
0

10

15

20

25

30

35

40

45

50

100

90
100
80
Elevasi (m)

90

70
80
60
70
50
60
40
50

40
0

100

200

300

400

500
3

Vol. Tampungan (m )

600

700

800

Elevasi (m)

REGRESI PULS I
3
In flo w

2
1
0
206500
-1

207000 207500

208000

Storage
y = -0.00000000040708053346x 3 +
0.00025415169824322200x 2 52.88814274652910000000x +
3668399.53487692000000000000
R2 = 0.99996534884933900000

I n fl o w

REGRESI PULS II
1000
800
600
400
200
0
-200 0

100000

200000

Storage
y = -0.00000000000117267772x 3 +
0.00000094216047223750x 2 0.23452305895100600000x +
18575.32332038590000000000
R2 = 0.99995894565730900000

300000

REGRESI GOODRICH'S I

8
O u tflo w

6
4
2
0
-24E+0 4E+0 4E+0 4E+0 4E+0
5
5
5
5
5
Storage
y = -0.00000000001745079951x 3 +
0.00002194435032315260x 2 9.19608655498733000000x +
1284279.23233906000000000000
R2 = 0.99996887789834000000

REGRESI GOODRICH'S II

I n fl o w

1000
500
0
-500

200000

400000

600000

Storage
y = -0.00000000000014658472x 3 +
0.00000023554011805938x2 0.11726152947550300000x +
18575.32332038590000000000
R2 = 0.99995894565730900000

Grafik Inflow - Outflow Waduk


Kedung Ombo
600

Debit (m3/dt)

500
400
300
200
100
0
1 11 21 31 41 51 61 71 81 91
Waktu (jam)

Inflow
Outflow Goodrich's
Outflow pull

Peta Lokasi Waduk Kedung Ombo

PETA DAS WADUK KEDUNG OMBO


SKALA 1 : 250.000

Sta. Kemusu

Sta. Karanggede

Sta. Sambi

DAS WADUK
KEDUNG OMBO
PETAPETA
STASIUN
PENCATAT
HUJAN
SKALA 1 : 250.000

Sta Sambi

Sta Sambi

Sta. Kemusu

Sta. Karanggede

Sta. Sambi

PETA DAS
WADUK KEDUNG
OMBO
PETA
POLIGON
THIESSEN
SKALA 1 : 250.000