Anda di halaman 1dari 3

Erwin K.

Edison 07120080028 BAB 2 Cara manusia Menghayati Ketuhanan Dalam bab ini yang menjadi topik bahasan adalah mengenai bagaimana manusia memahami, mengenal, dan menghayati tentang konsep Tuhan dalam berbagai sudut pandang agama yang ada. Ada berbagai agama yang ada di dunia ini. Tetapi tidak semua ada peran Tuhan di dalamnya. Konsep ketuhanan lebih luas cakupannya dibandingkan dengan kata Tuhan. Ketuhanan mencakup segala persepsi terhadap sesuatu realitas yang ada di belakang, di atas, di dalam, di bawah realitas indarawi sehari-hari. Kata Allah menekankan Tuhan yang personal dalam agama tertentu, yakni agama Abrahamistik. Dari sudut pandang sosiologi, agama adalah kebersamaan suatu kelompok dalam mengungkapkan penghayatan melalui ritus-ritus dan kepercayaan barsama. Saya menyadari bahwa tidak semua agama memiliki Tuhan dalam ajarannya dan Allah hanya ada dalam agama Abrahamistik. Dalam bacaan ini dijabarkan satupersatu mengenai bagaimana manusia menghayati Tuhan. Penghayatan aseli. Semua masyarakat di dunia merupakan orang yang beragama. Tidak ada masyarakat yang tidak beragama. Sejak jaman dahulu sebelum munculnya agama- agama besar yang seperti sekarang muncul, kehidupan orang pra-sejarah juga sudah memahami adanya kekuatan-kekuatan gaib. Terbukti dengan adanya lukisan-lukisan di gua yang menunjukan mereka telah mempercayai adanya kekuatan gaib dalam kehidupan sehari-hari mereka. Agama yang di maksud adalah dimensi yang meresapi semua aspek kehidupan. semua kekuatan gaib, dan kejadian-kejadian alam merupakan kekuatan yang tidak terlihat. Kekuatan-kekuatan tersebut ada yg bersifat melindungi, ada juga yang bersifat merugikan atau mengancam.kekuatan tersebut bisa berupa roh-roh yang tidak tampak. Ketuhanan dipahami sebagai kekuatan yang meresap dalam alam, dan selalu berhubungan dengan kehidupan sehari. Tidak ada pemisahan antara alam dengan dengan yang kuasa. Melalui acara-acara ritual dan upacara-upacara tertentu ditujukan untuk kekuatan-kekuatan gaib. Semua benda di alam semesta, diangap memeiliki kekuatan tertentu dan tidak hanya dilihat secara indrawi saja. Intinya tidak ada pemisahan antara gejalagejala alami dengan yang bersifat agama dan rohani. Penghayatan Hinduisme. Hindu merupakan agama yang paling pertama muncul. Hindu sebenarnya bukan suatu agama, tetapi lebih menunjukan penghayatan dengan banyak agama, dan 1/3

Erwin K. Edison 07120080028 dengan banyak sekali perbedaan dalam agama Hindu. Brahaman sebagai Atman yaitu jiwa yang ada dalam diri masing-masing. Dalam agama Hindu terdapat ribuan dewa dan dewi yang dijabarkan dalam kisah Ramayana dan Mahabarata. Dewa dan dewi merupakan sesuatu yang personifikasi dan abstrak. Melalui dewa dewi ketuhanan menjadi hadir. sekitar terdapat dewa dewi, roh dan kekuatan gaib. Buddhism. Agama budha dilatar belakangi oleh ribuan dewa dan dewi. Yang paling mencolok dalam ajaran agama Budha adalah tidak adanya system kasta dalam agama Budha. Dalam agama Budha, semua dewa dan dewi tidak berperan sama sekali. Ajaran Budah berupa ajaran yang lengkap dan bulat, sedangkan agama Hindu merupakan berbagai cerita, ajaran, dan mitos. Sang Budha diam terhadap ketuhanan bukan berarti tidak percaya kepada Tuhan, Lingkungan alami

melainkan lebih menekankan pada setiap tindakan dan perbuatan. Dalam agama Budha, Sang Budha mengajarkan kita untuk harus bisa merendahkan hati dan melakukan apa yang dapat dilakukan sesuai dengan yang telah di ajarkan oleh sang Budha. Dalam ajaran agama Budha, lebih diutamakan bagai mana jalan hidup kita, maka dari ini agama Budha sering disebut sebagai agama etis. Agama yang didasarkan oleh perbuatan-perbuatan yang dilakukan. Keagamaan Thionghoa. Unsur-unsur yang terdapat dalam ajaran Tionghoa ada 3 poin. Poin pertama adalah keselarasan Kosmis. Inti dari keselarasan kosmis adalah jika segala hal yang ada di alam semesta berada pada tempatnya, maka semua akan selamat. Semua aspek kehidupan harus selaras. Semua benda-benda kosmis harus berada dalam posisi yang semestinya. Selalu dalam keadaan yang selaras. Poin yang kedua adalah panghayatan keselarasan yang berkaitan dengan hormat kepada nenek moyang. Dengan menghormati nenek moyang, manusia menjadi selaras dengan menempatkan diri pada ikatan dengan mereka. Dan yang ketiga adalah kepercayaan bahwa di belakang segala kejadian alam raya terdapat dao, jalan atau hukum dan sumber segala-galanya. Tao tidak dapat dinalar, hanya bisa didapat melalui semadi. Apabila dapat menemukan Tao maka telah berhasil menemukan diri mereka sendiri. Dalam tingkat kesadaran yang lebih dalam, kehidupan dihayati berlangsung dalam acuan pada keselarasan alam raya. Refleksi saya adalah saya mendapai sebuah nilai positif bagi saya dari keagamaan

Tionghoa yaitu ajaran mengenai menghormati nenek moyang. Kerena tanpa mereka saya tidak mungkin hadir dalam dunia ini.

2/3

Erwin K. Edison 07120080028 Dualisme. Daulisme dalam arti sebenarnya adalah lebih tajam. Relitas berdasarkan dua prinsip yang saling bertolak belakang. Dualism merupakan kepercayaan yang bersumber dalam pengalaman tentang polaritas dan konflik. Dualisme merupakan kebalikan dari monoisme. Monoisme menganggap masalah sebagai pluralitas, sedangkan dualisme dengan dua prinsip dasar dapat menjelaskan kenyataan kemajemukan dalam dunia dengan lebih mudah, apalagi dengan keadaan yang saling berhadapan seperti baik dan buruk, pro dan kontra. Manusia menghayati diri sebagai medan pertempuran antara dua prinsip itu. Keagamaan Abrahamistik. Maksudnya adalah penghayatan yang berlainan. Suatu kejadian ketika Abraham diminta Yahweh (yang menjadi Tuhan mereka) untuk menjadi perantara sebuah tempat baru. Abraham merasa dipanggil oleh Yahweh. Yahweh bertanggung jawab kepada Abraham. Yahweh awalnya bukan merupakan Allah satu-satunya. Namun yang digunakan hanya satu Allah. Karena dewa-dewi yang lain tidak dapat menandingi Yahweh. Pada perjalanannya agama Abrahamistik terjadi perpisah menjadi Kristen dan Islam. Yahweh merupakan satu-satunya Tuhan sehingga menjadi monotheis. Yahweh berada di atas langit, Dia menciptakan semua tentang penciptaan namun yang menyebabkan perbedaan adalah dia terus bertahta di atas bumi dan langit, yahweh itu transenden. Ada tiga penghayatan dasar yaitu monoisme, dualisme, paham tentang ketuhanan transenden. Secara geogrefis semua paham-paham tersebut bertemu di sugai Indus (Pakistan). Setelah saya membaca bacaan ini pikiran saya lebih terbuka mengenai berbagai penghayatan tentang ketuhanan yang berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah yang lain, dari satu golongan masyarakat dengan yang lain. Ada yang menghayati dengan cara yang berbeda dengan penghayatan saya, ada yang sama, dan ada juga yang sebagian sama dengan penghayatan saya tentang ketuhanan. Dari sini pikiran saya lebih terbuka untuk tidak menyamaratakan pandangan saya tentang ketuhanan. Selama ini saya mengangap bahwa Tuhan itu dipandang dengan posisi yang sama oleh semua agama. Ternyata tidak demikian. Ada berbagai macam penghayatan tentang ketuhanan.

3/3