Anda di halaman 1dari 17

II.

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1

Tinjauan Pustaka

Menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992, Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Koperasi sebagai organisasi ekonomi yang berwatak sosial harus mampu menjalankan kegiatannya secara seimbang, jangan sampai kegiatan ekonominya tidak diisi dan hanya dilandasi oleh nilai-nilai kemasyarakatan saja. Sebagai badan usaha koperasi adalah sebuah perusahaan yang harus mampu berdiri sendiri menjalankan kegiatan usahanya mendapatkan laba sehingga dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan jasmani anggota-anggotanya (Sumarsono, 2003). Sebagai lembaga ekonomi yang berwatak sosial maka jelas kiranya bahwa sistem manajemen di lembaga koperasi harus mengarah pada manajemen partisipatif dimana adanya kebersamaan, keterbukaan sehingga setiap anggota koperasi, baik yang turut serta dalam pengelolaan (kepengurusan usaha) ataupun yang diluar kepengurusan (anggota biasa), memiliki rasa bertanggung jawab bersama dalam organisasi koperasi (Anoraga P. Dan Widiyanti N., 1999). Landasan Koperasi Indonesia merupakan pedoman dalam menentukan arah, tujuan serta kedudukan koperasi terhadap pelaku-pelaku ekonomi lainnya di dalam sistem perekonomian Indonesia. Sebagaimana dinyatakan dalam UndangUndang Nomor 25/1992 tentang Pokok-pokok Perkoperasian di Indonesia

Universitas Sumatera Utara

mempunyai landasan sebagi berikut: Landasan Idil (Pancasila), Landasan Struktural (Undang-Undang Dasar1945), Landasan mental (Baswir,1997). Dalam undang-undang No.12 tahun 1967, bagian 2, pasal 4, tentang fungsi koperasi telah diperinci sebagai berikut: 1. Koperasi Indonesia berfungsi sebagai alat perjuangan ekonomi untuk mempertinggi kesejahteraan rakyat 2. Koperasi Indonesia berfungsi sebagai alat pendemokrasian ekonomi nasional 3. Koperasi Indonesia berfungsi sebagai salah satu urat nadi perekonomian Bangsa Indonesia 4. Koperasi Indonesia berfungsi sebagai alat pembina insan masyarakat untuk memperkokoh kedudukan ekonomi bangsa Indonesia serta bersatu dalam mengatur tata laksana perekonomian rakyat (Kartasapoetra,dkk, 1987) Koperasi mempunyai dua aspek yaitu ekonomi dan sosial. Sebagai organisasi ekonomi maka koperasi tunduk pada hukum, hukum ekonomi dan efisiensi. Sebagai organisasi sosial maka koperasi perlu mengutamakan dimensi kehidupan sosial yaitu peningkatan kualitas kehidupan masyarakat oleh karena itu perlu diingat bahwa koperasi mempunyai dua tujuan yaitu: tujuan utama adalah peningkatan kualitas terhadap masyarakat baik anggota koperasi maupun masyarakat lingkungan koperasi itu dan tujuan antara adalah tujuan ekonomis (Harsoyo,dkk, 2006). Koperasi mempunyai fungsi sebagai alat perjuangan ekonomi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat; alat untuk menciptakan demokrasi ekonomi

Universitas Sumatera Utara

nasional; salah satu bentuk usaha yang melaksanakan kegiatan ekonomi yang diandalkan menopang perekonomian nasional; dan sebagai alat yang mampu mengelola perekonomian rakyat untuk memperkokoh kehidupan ekonomi nasional berdasarkan azas kekeluargaan (Downey dan Erikson, 1992). Sesuai ketentuan yang terdapat dalam pasal 16 UU RI No.25 Tahun 1992 beserta penjelasannya dinyatakan bahwa jenis koperasi didasarkan pada kesamaan kegiatan dan kepentingan ekonomi anggotanya. Penjenisan koperasi dapat ditinjau dari berbagai sudut pendekatan: 1. Berdasarkan pada kebutuhan dan efisiensi dalam ekonomi sesuai dengan sejarah timbulnya gerakan koperasi, maka dikenal jenis-jenis koperasi sebagai berikut: Koperasi Konsumsi, Koperasi Kredit, Koperasi Produksi, Koperasi Jasa, Koperasi Distribusi 2. Berdasarkan Golongan fungsional, maka dikenal jenis-jenis koperasi sebagai berikut: Koperasi Pegawai Negeri, Koperasi Angkatan Darat, Koperasi Angkatan Laut, Koperasi Angkatan Udara, Koperasi Kepolisian, Koperasi Pensiunan Angkatan Darat, Koperasi Pensiunan, Koperasi Karyawan, Koperasi Sekolah 3. Berdasarkan Lapangan Usaha, maka dikenal beberapa jenis koperasi sebagai berikut: Koperasi Desa, Koperasi Konsumsi, Koperasi Pertanian, Koperasi Peternakan, Koperasi Perikanan, Koperasi Kerajinan/Industri, Koperasi Simpan Pinjam/Kredit, Koperasi Asuransi, Koperasi Unit Desa (Firdaus dan Susanto, 2002). Menurut Inpres Nomor 2 Tahun 1978, KUD adalah suatu organisasi ekonomi yang berwatak sosial dan merupakan wadah bagi pengembangan

Universitas Sumatera Utara

berbagai kegiatan ekonomi masyarakat pedesaan yang diselenggarakan oleh dan untuk masyarakat itu sendiri (Departemen Perdagangan dan Koperasi, 1992). Adapun yang menjadi wilayah usaha dan wilayah keanggotaan KUD adalah: 1. Wilayah usaha KUD harus cukup luas sehingga memungkinkan KUD tersebut tumbuh menjadi Koperasi Primer yang kuat kedudukannya dan meliputi beberapa desa dalam satu kecamatan. 2. Luas wilayah KUD harus sedemikian rupa sehingga KUD mampu meberikan pelayanan dalam berbagai bidang kegiatan ekonomi kebutuhan para anggotanya maupun masyarakat di wilayahnya. (Departemen Perdagangan dan Koperasi, 1992). Keseluruhan anggota KUD terdiri dari tiga macam keanggotaan, yaitu: 1. Anggota yang dilayani, yaitu anggota KUD yang mendapat pelayanan secara teratur. 2. Calon anggota, yaitu anggota yang sudah membayar simpanan pokok tetapi belum penuh atau memenuhi persyaratan sebagai anggota penuh. 3. Anggota penuh yaitu anggota yang mempunyai hak suara. (Departemen Perdagangan dan Koperasi, 1992). Dalam rangka memberikan pelayanan berbagai kegiatan perekonomian pedesaan KUD memiliki dan melaksanakan fungsi-fungsi: a. Perkreditan b. Penyediaan dan penyaluran sarana-sarana produksi, barang-barang keperluan sehari-hari dan jasa-jasa lainnya c. Pengolahan dan pemasaran hasil produksi serta

Universitas Sumatera Utara

d. Kegiatan-kegiatan perekonomian lainnya (Departemen Perdagangan dan Koperasi, 1992). Menurut Departemen Perdagangan dan Koperasi, 1992, adapun bagan organisasi Koperasi Unit Desa dapat dilihat pada Gambar 1. berikut ini. Gambar 1.Bagan Organisasi Badan Usaha Unit Desa/Koperasi Unit Desa

Rapat Anggota KUD Pembina Ditjen Koperasi Pengurus BUUD Pembimbing Pengurus KUD Badan Pemeriksa

Manajer

Perkreditan

Sarana Produksi

Pemasaran

DLL

Penyuluh

Unit-unit Kegiatan Usaha Produktif

Keterangan: = Lingkup organisasi BUUD/KUD = Penyuluh Tehnis = Pelaksanaan Teknis Operasional = Pembinaan Umum Perkoperasian

Universitas Sumatera Utara

Sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang No.25 Tahun 1992, salah satu syarat pendirian koperasi adalah tersedianya 20 orang anggota. Artinya jumlah anggota pada saat pendirian koperasi sekurangkurangnya adalah 20 orang. Walaupun demikian, hal itu tidak berarti bahwa setiap terdapat 20 orang anggota, dapat didirikan sebuah koperasi baru di lingkungan yang telah ada koperasi sejenis. Selain memperhatikan aspek jumlah anggota, pendirian sebuah koperasi juga perlu memperhatikan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan kelayakan usahanya, seperti kondisi pasar, kondisi persaingan, dan lain sebagainya (Baswir, 1997). Pengaruh sosial ekonomi besar sekali pada hubungan keanggotaan. Dalam penghidupan pertanian maka para anggota dari masyarakat pertanian akan tergantung sekali hidupnya satu sama lain. Hal ini disebabkan banyaknya pekerjaan-pekerjaan petani yang volumenya cukup besar tetapi harus diselesaikan dalam jangka waktu yang relatif singkat agar supaya mereka tidak terlambat untuk periode tanaman berikutnya. Koperasi di daerah semacam ini lebih dapat diharapkan berhasil. Hubungan keanggotaan sudah lebih erat, masyarakatnya lebih homogen. Tugas yang harus dilaksanakan tinggallah mengusahakan adanya harmoni dan kemauan baik, masing-masing anggota atau orang harus betul-betul menginsyafi bahwa ia tergantung pada orang lain, yaitu anggota masyarakat harus menghormati hak-hak dari anggota lainnya seperti hak sendiri (Widiyanti, 2004). Pola pembangunan top-down menyebabkan kurangnya inisiatif dan peran serta yang bermakna dari masyarakat lapisan bawah dari koperasi. Koperasi yang ditumbuhkan dari atas yang bagi masyarakat desa misalnya, merupakan suatu inovasi yang sangat kompleks dan sulit membudidayakan dalam kalangan

Universitas Sumatera Utara

penduduk desa. Tetapi dampak lain yang penting dari pola pendekatan top-down, pola pembangunan ini membatasi devolusi pembuatan keputusan dari pemerintah pusat ke masyarakat pada tingkat desa, konsekuensinya koperasi desa cenderung merupakan lembaga yang memberikan pelayanan bukan usaha-usaha yang mampu mendorong sendiri yang mendapat dukungan dari masyarakat desa secara luas. Hal ini mengurangi keefektifan koperasi-koperasi dalam memperbaiki kesejahteraan penduduk lapisan bawah (Anoraga, 1995). Agar koperasi dapat menjalankan kegiatannya dengan baik, maka koperasi harus memiliki alat perlengkapan organisasi. Alat perlengkapan organisasi sebagaimana diketahui adalah pilar-pilar yang akan menentukan atau runtuhnya koperasi. Alat perlengkapan organisasi juga merupakan alat yang akan menentukan cara-cara untuk mencapai tujuan, serta tercapai tidaknya tujuan itu pada akhirnya, ditegaskan dalam Bab VI Undang-Undang No.25/1992, perangkat organisasi koperasi secara keseluruhan terdiri atas: Rapat Anggota, Pengurus, Pengawas. Di antara ketiga alat perlengkapan organisai ini rapat anggota adalah pemegang kekuasaan tertinggi (Baswir, 1997). Meskipun koperasi Indonesia bukan merupakan perkumpulan modal, namun sebagai suatu badan usaha maka di dalam menjalankan usahanya koperasi memerlukan modal pula. Tetapi pengaruh modal dan penggunaannya dalam koperasi tidak mengaburkan dan mengurangi makna koperasi, yang lebih menekankan kepentingan kemanusiaan daripada kepentingan kebendaan. Menurut UU No. 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian pasal 41 dinyatakan bahwa modal koperasi terdiri dari Modal Sendiri dan Modal Pinjaman. Modal sendiri dapat berasal dari: Simpanan Pokok, Simpanan Wajib, Dana Cadangan, Hibah.

Universitas Sumatera Utara

Sedangkan Modal Pinjaman dapat berasal dari: anggota, koperasi lainnya dan/ atau anggotanya, bank dan lembaga keuangan lainnya, penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya, sumber lain yang sah (Firdaus dan Susanto, 2002).

2.2

Landasan Teori Menurut Prawiro Suntoro, 1999 (dalam bukunya Tika, 2006)

mengemukakan bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu. Unsur-unsur yang terdapat dalam kinerja terdiri dari: 1. Hasil-hasil fungsi pekerjaan 2. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prestasi karyawan/pegawai seperti:motivasi, kecakapan, persepsi peranan dan sebagainya. 3. Pencapaiaan tujuan organisasi 4. Periode waktu tertentu Menurut Mahmudi (dalam bukunya Ramli, 2007) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah: 1. Faktor Personal/Individual, meliputi: pengetahuan, keterampilan,

kemampuan, kepercayaan diri, motivasi , dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu. 2. Faktor Kepemimpinan, meliputi: kualitas dalam memberikan dorongan, semangat, arahan, dan dukungan yang diberikan manajer dan team leader.

Universitas Sumatera Utara

3. Faktor Tim, meliputi: kualitas dukungan dan semangat yang diberikan rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim, kekompakan dan keeratan anggota tim. 4. Faktor Sistem, meliputi: sistem kerja, fasilitas atau infrastruktur yang diberikan organisasi, proses organisasi, kultur kinerja dalam organisasi. 5. Faktor Situsional, meliputi: tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal. Menurut Dharma (dalam bukunya Ramli, 2007) garis-garis besar bagi penentuan ukuran-ukuran kinerja: 1. Ukuran-ukuran itu harus berhubungan dengan hasil-hasil yang dicapai, bukan usaha untuk mendapatkannya. 2. Hasil-hasil tersebut harus berada di bawah kendali si pemegang pekerjaan. 3. Ukuran yang dipakai harus bersifat objektif dan dapat diamati. 4. Data harus tersedia dalam pengukuran. 5. Ukuran-ukuran yang sudah ada harus dipakai atau dimanfaatkan bilamana mungkin. Dalam melakukan pengukuran kinerja suatu badan usaha, maka hendaknya ditilik bukan dari satu aspek saja melainkan dari empat perspektif, yaitu dari perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif pengembangan (proses belajar dan berkembang). Agar pengukuran kinerja menghasilkan informasi yang berguna ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu: sistem pengukuran harus sesuai dengan tujuan organisasi, dapat dimengerti para pegawai, mudah diukur dan dievaluasi serta dapat digunakan oleh organisasi secara konsisten. Dalam mengoperasionalkan visi dan

Universitas Sumatera Utara

misi suatu organisasi usaha, perlu upaya menterjemahkan kedalam tujuan yang tingkat keberhasilannya perlu diukur melalui indikator kinerja (Sinaga, 2004). Koperasi selaku badan usaha yang tergolong organisasi modern (Hanel,1989) dan oleh karena itu dalam aktivitasnya diharapkan telah melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, pengembangan organisasi, pengelolaan asset, pengembangan pemasaran dan pengelolaan keuangan serta pengembangan kemitraan. Dengan demikian, pengukuran kinerja dengan balanced scorecard tersebut pada hakekatnya dapat dilakukan berdasarkan kajian berbagai aspek dan jika diperlukan dapat dilakukan modifikasi sesuai dengan karakter organisasi koperasi sebagai badan usaha dan kumpulan orang yang disebut anggota. Selanjutnya didalam implementasinya terhadap koperasi perlu ditentukan variabel pengukuran kinerja yakni aspek keorganisasian, aspek keanggotaan, aspek keuangan dan aspek kemitraan serta aspek pemasaran/pelayanan

(Sinaga, 2004). Secara umum, variabel kinerja koperasi yang diukur untuk melihat perkembangan atau pertumbuhan koperasi di Indonesia terdiri dari kelembagaan (jumlah koperasi per provinsi, jumlah koperasi per jenis/kelompok koperasi, jumlah koperasi aktif dan non aktif), keanggotaan, volume usaha, permodalan, asset dan sisa hasil usaha. Variabel-variabel tersebut pada dasarnya belumlah dapat mencerminkan secara tepat untuk dipakai melihat peranan atau pangsa koperasi terhadap pembangunan ekonomi nasional. Akan tetapi variabel ini cenderung hanya dijadikan sebagai salah satu alat untuk melihat perkembangan koperasi sebagai badan usaha (Sitio dan Tamba, 2001).

Universitas Sumatera Utara

Koperasi sebagai lembaga bisnis dalam ekonomi pasar memerlukan basis ekonomi yang kuat untuk bekerja dan mengembangkan diri. Koperasi harus mampu memanfaatkan sumber daya yang langka sebaik mungkin seperti halnya lembaga-lembaga bisnis lainnya serta mampu mengelola kegiatannya sesuai dengan metoda manajemen modern, meskipun tujuan perusahaan koperasi berbeda dengan tujuan perusahaan komersil (Sumarsono,2003). Keputusan individu bergabung dalam ke dalam koperasi adalah agar anggota memperoleh beberapa manfaat, antara lain: meningkatkan efisiensi biaya, meningkatkan kualitas produk dan melaksanakan pengembangan produk, kemudahan memperoleh sumber-sumber pembiayaan, pengurangan risiko-risiko usaha, pengembangan fungsi-fungsi baru atau meningkatkan fungsi yang sudah ada (Joesron, 2005). Suatu pelayanan yang berkualitas kepada anggota merupkan aset yang berharga bagi koperasi untuk mencapai keunggulan untuk bersaing untuk menciptakan nilai kesejahteraan bagi anggota. Ada terdapat lima dimensi kualitas pelayanan, yaitu: 1. Reliability (keandalan) merupakan kemampuan yang dapat diandalkan dalam memberikan jasa secara cepat, tepat, akurat dan konsiten sehingga dapat memuaskan anggota sebagai pelanggan. 2. Responsiveness (daya tanggap) adalah keinginan pribadi para staf dan karyawan perusahaan yang secara sadar ingin membantu pelanggan dan memberikan jasa sesegera mungkin sehingga memuaskan anggota. 3. Assurance(ketejaminan) mencakup pengetahuan, kemampuan dan

ketrampilan, kesopananan dan sifat yang dapat dipercaya.

Universitas Sumatera Utara

4.

Emphaty yang mencakup perhatian individu dalam memahami kebutuhan pelanggan, kemudahan melakukan hubungan, komunikasi yang baik dan mudah dipahami.

5.

Tangible (keberwujudan fisik) meliputi sarana fisik seperti bangunan dan perlengkapan, penampilan karyawan, sarana komunikasi yang menjadi perhatian pelanggan (Joesron, 2005). Pemerintah diharapkan dapat menciptakan iklim usaha yang mendorong

perkembangan koperasi secara sehat. Sebagai organisasi ekonomi, perkembangan koperasi tidak mungkin dapat dilepaskan dari kondisi persaingan yang dihadapinya dengan pelaku-pelaku ekonomi yang lain. Persaingan koperasi dengan pelaku-pelaku ekonomi yang lain, selain memiliki arti positif; dapat pula memiliki arti negatif bagi perkembangan koperasi. Hal itu sangat tergantung pada iklim usaha tempat berlangsungnya proses persaingan tersebut. Sehubungan dengan itu, maka pemerintah diharapkan dapat menjamin berlangsungnya proses persaingan itu secara sehat (Sumarsono, 2003). Tidak ada bedanya dengan usaha-usaha swasta non-koperasi, koperasi juga memerlukan tenaga-tenaga yang baik, tidak saja tenaga-tenaga pimpinan, tetapi juga tenaga pelaksana. Sebab sebagai badan yang begerak di bidang ekonomi, juga segi-segi komersialnya harus dibina menurut dasar-dasar komersial dan untuk itu diperlukan tenaga-tenaga yang cakap, jujur, lincah dan berpandangan jauh. Dengan sendirinya mereka itu harus mempunyai keahlian mengenai segisegi perkoperasian, terutama cita-citanya yang menyebabkan kekhasan daripada koperasi sebagai usaha yang bercorak ekonomi. Maka dari itu adalah mutlak,

Universitas Sumatera Utara

bahwa koperasi perlu mengadakan pendidikan bagi pengurus dan pegawaipegawainya (Widiyanti, 2004). Pengurus sebagai pucuk pimpinan/administrator (Top manajemen) di dalam koperasi mempunyai tugas mengendalikan koperasi secara keseluruhan tanpa menitikberatkan kepada salah satu unsur, baik organisasi, usaha, keuangan, dan pembukuan. Unsur-unsur tersebut semua dikelola karena menjadi tugas dan kewajibannya yang harus dilaksanakan dan wajib dipertanggungjawabkan kepada rapat anggota, sebab pengurus dipilih dan diangkat oleh rapat anggota. Untuk kelancaran tugas pengelolaan usaha dan pelayanan kepada anggota serta urusanurusan lain (baik urusan luar maupun dalam), pengurus dapat mengangkat manajer dan karyawan untuk membantu dalam pelaksanaan tugas sehari-hari (Sudarsono dan Edilius, 1994). Adapun pengurus mempunyai tugas, wewenang, dan kewajiban sebagai berikut: 1. Menetapkan kebijaksanaan yang meliputi: keputusan-keputusan kerja menetapkan sasaran dan tujuan koperasi tindakan lain demi perbaikan dan kemajuan koperasi, pemupukan modal, penyediaan sarana dan prasarana, menetapkan harga, produksi pemasaran, penggunaan dana-dana, mewakili di dalam maupun di luar pengadilan, hubungan dengan instansi-instansi terkait lainnya, pengangkatan dan pemberhentian manajer dan karyawan, gaji/honor, pendidikan dan latihan kerja baik di dalam maupun ke luar negeri dan lain-lain. 2. Merencanakan kegiatan kerja secara keseluruhan. 3. Menyediakan modal sarana dan prasarana.

Universitas Sumatera Utara

4. Penanggung jawab koperasi secara keseluruhan baik di dalam maupun keluar. 5. Melakukan pengawasan atau pelaksanaan manajer dan karyawan. 6. Membuat laporan pertanggungjawaban kepada rapat anggota dan pejabat koperasi. Adapun hal-hal yang dilimpahkan kepada manajer: 1. Mengkoordinir seluruh kegiatan kepala-kepala usaha dan karyawan 2. Memimpin dan melaksanakan kegiatan-kegiatan usaha koperasi sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam anggaran rumah tangga, rencana kerja, rencana anggaran belanja dan pendapatan dari koperasi itu sendiri. 3. Mengelola usaha produksi dan jasa, fasilitas-fasilitas dan pemasaran yang ada dalam perjanjian kontrak kerja. 4. Mengelola keuangan/permodalan untuk usaha yang disepakati bersama. 5. Menggunakan dan memelihara sarana-sarana dan peralatan-peralatan. 6. Memberikan pelayanan kepada anggota dan masyarakat. 7. Dan lain-lain yang termuat dalam perjanjian/kontrak kerja (Sudarsono dan Edilius, 1994). Jangkauan koperasi dalam meningkatkan kecerdasan para anggotanya, ialah agar mereka dapat lebih mengembangkan perkoperasian, misalnya dengan mendirikan subunit-subunit Industri yang sejalan dengan produk-produk yang dihasilkannya yang selalu dipasarkan melalui koperasi, sehingga pendapatannya pun akan lebih meningkat dan usahanya dapat menyerap tenaga kerja (Kartasapoetra,dkk, 1987).

Universitas Sumatera Utara

Berbicara tentang pengembangan koperasi untuk masa yang akan datang, kita membutuhkan peningkatan mutu profesional dari para fungsionaris koperasi, seperti pengurus, badan pemeriksa, manager, dan para karyawan.sehubungan dengan itu maka pendidikan anggota-anggota koperasi untuk menjadi insan koperasi yang memahami visi, tujuan, dan usaha-usaha koperasi perlu semakin digalakkan dari waktu ke waktu. Pendidikan anggota meningkatkan pengetahuan, keterampilan, bersikap mental sebagai warga koperasi yang juga memahami makna peningkatan profesionalisme dalam koperasinya (Mutis, 1992).

2.3

Kerangka Pemikiran

Koperasi Unit Desa adalah sebuah organisasi di mana didalamnya terdapat anggota yang pada umumnya adalah petani, di mana mereka mempunyai tujuan yang sama. Koperasi sebagai organisasi ekonomi yang berwatak sosial harus mampu menjalankan kegiatannya secara seimbang, supaya dari setiap usaha yang dijalankan dapat menghasilkan laba yang dapat meningkatkan perekonomian anggota koperasi tersebut. Koperasi unit desa ini bergerak dalam beberapa unit usaha, yaitu: toko, agrobisnis dan simpan pinjam. Anggota koperasi akan memanfaatkan setiap unit usaha yang ada dan itu akan mendatangkan pendapatan bagi koperasi. Dari pendapatan tersebut akan diperoleh laba berupa sisa hasil usaha yang mana akan dibagikan kepada anggota sesuai dengan ketentuan yang ada sisanya sebagai sumber modal koperasi. Hasil laba yang diperoleh merupakan salah satu ukuran dari kinerja koperasi. Kinerja itu merupakan suatu hasil yang dicapai dalam mencapai tujuan

Universitas Sumatera Utara

yang diharapkan. Dengan kinerja koperasi yang baik maka pendapatan koperasi akan bertambah dan SHU yang akan dibagikan kepada anggota tersebut semakin besar dan modal koperasi pun semakin bertambah sehingga dapat meningkatkan unit usaha yang ada sehingga melalui peningkatan tersebut diharapakan tercapainya kesejahteraan dari anggota koperasi. Adapun gambar skema kerangka pemikirannya dapat dilihat pada Gambar 2. berikut ini Unit Usaha: 1. Toko 2. Agrobisnis 3. Simpan Pinjam

Kinerja KUD

Pendapatan Koperasi

Kesejahteraan anggota

Anggota

SHU

Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran

Keterangan = Menyatakan Hubungan = Pemanfaatan kegiatan usaha

Universitas Sumatera Utara

2.4

Hipotesis Penelitian

1. Kinerja koperasi unit desa (KUD) di daerah penelitian adalah baik. 2. Kinerja koperasi yang baik berdampak terhadap kesejahteraan anggota.

Universitas Sumatera Utara