Anda di halaman 1dari 13

1

PROPOSAL DAN JUDUL SKRIPSI Nama Nim / Nimko Jurusan Tahun Akademik Judul Skripsi : MUJAHIDIN : 06.25.479 / 707.0725. 017 : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) : 2010/2011 : UPAYA GURU DALAM MEMBANGKITKAN MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA PERGURUAN HIDAYATUL ISLAMIYAH KUALA TUNGKAL.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Di dalam Undang-undang Pendidikan No. 20 tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional BAB II pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar

menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.1 Dengan landasan pemikiran tersebut, pendidikan disusun sebagai usaha sadar untuk memungkinkan bangsa Indonesia mempertahankan kelangsungan hidupnya dan mengembangkan dirinya secara terus menerus dari suatu generasi ke generasi berikutnya, pendidikan sebagai alat dan tujuan yang amat penting dalam perjuangan mencapai cita-cita.

Ukim Komarudin, Sukarjo M, Landasan Pendidikan Konsep Dan Aplikasiny, Jakarta : Rajawali Pres, 2009 . Hlm. 14

Kerena pada hakekatnya tujuan pendidikan dicapai melalui proses belajar mengajar, maka administrasi pendidikan merupakan adalah seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan / diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh disertai pembinaan secara kontinue untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan, dengan memanfatkan dan mendaya gunakan segala sumber material dan non material secara efektif dan efesien dalam proses belajar mengajar khususnya, dan dalam pendidikan umumnya. Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika telah mampu menyebutkan kembali secara lisan sebagian besar informasi yang terdapat dalam buku atau yang diajarkan oleh guru. Disamping itu pula, ada pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis. Berdasarkan persepsi semacam ini, biasanya bisanya mereka akan merasa cukup puas bila mereka telah mampu memperlihatkan keterampilan jasmaniah tertentu walaupun tanpa pengetahuan mengenai arti, hakikat, dan tujuan keterampilan tersebut. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Dalam artian, berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidik

itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. 2 Oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai oleh peserta didik. Belajar juga memainkan peran penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu maju karena belajar. Meskipun dari proses belajar tersebut selain muncul dampak yang positif juga akan muncul dampak negatif. Dalam perspektif Islam, belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang yang beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan derajat kehidupan mereka. Seperti halnya yang dijabarkan dalam Al Quran Surat Al Mujadalah ayat 11:

...

Artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa darajat. 3 Pendidikan bagi kehidupan umat manusia di muka bumi merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan

Muhibbin, Syah, Psikologi Belajar, Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, Cet 3, 2001, hlm. 59. Anonim, Al-Quran dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsiran Al-Quran Depertemen Agama RI, 2006.

mustahil suatu kelompok manusia dapat berkembang, sejahtera dan bahagia menurut konsep dan pandangan hidup mereka. Pendidikan menjadi sasaran utama yang perlu dikelola secara sistematis dan konsisten, berdasarkan berbagai pandangan teoritikan dan praktikal sepanjang waktu sesuai dengan lingkungan kehidupan manusia.4 Sedangkan yang dimaksud dengan minat merupakan keinginan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu tingkah laku. Dalam artian minat adalah keinginan untuk merubah sesuatu yang tadinya ada menjadi ada, yang tadinya mampu menjadi mampu, dan yang tadinya tidak mengerti menjadi faham. Pendidikan ditinjau dari sudut psikososial (kejiwaan kemasyarakatan) adalah upaya menumbuhkembangkan sumber daya manusia melalui proses hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi) yang berlangsung dalam lingkungan masyarakat yang terorganisasi, dalam hal ini masyarakat pendidikan dan keluarga. 5 Merupakan tugas pokok para pendidik atau guru untuk

membangkitkan minat siswa dalam kegiatan belajar mereka, baik itu belajar yang bersifat formal yaitu proses belajar yang dilaksanakan di sekolah ataupun informal yaitu proses belajar yang dilaksanakan di luar sekolah yang

Aminudin Rasyad, M, Arifin, Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1992, hlm. 1. 5 Op Cit, hlm. 35.

sering didapat dari hasil interaksi sosial yang dilakukan oleh siswa pada lingkungan atau kehidupan sosialnya. Permasalahan yang penulis temukan adalah masih terdapatnya siswa yang malas, mengantuk dan suka minggat pada jam pelajaran. Yang memperhatikan kurangnya minat belajar siswa SMA PHI Kuala Tungkal, ini menunjukan adanya indikasi yang kurang berpengaruh dan perangsang guru dalam menciptakan model dan kondisi belajar yang baik dan nyaman bagi siswa SMA PHI Kuala Tungkal. Selain itu masih kurangnya upanya guru SMA PHI Kuala Tungkal dalam membantu kesulitan dan permasalahan siswanya dalam meningkatkan minat belajarnya. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas maka timbullah keinginan penulis untuk mengangkat permasalahan ini dalam sebuah karangan ilmiah dengan menetapkan sebagai judul adalah: Upaya Guru Dalam Membangkitkan Minat Belajar Siswa Terhadap Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SMA PHI Kuala Tungkal .

B. Perumusan dan Pembatasan Masalah 1. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian dan pembahasan skripsi ini adalah : 1. Bagaimana minat belajar siswa terhadap bidang studi pendidikan agama Islam di SMA PHI Kuala Tungkal ?

2. Bagaimana upaya guru dalam membangkitkan minat belajar siswa terhadap bidang studi pendidikan agama Islam di SMA PHI Kuala Tungkal ? 3. Apa kendala yang dihadapi oleh guru dalam upaya membangkitkan minat belajar siswa terhadap bidang studi pendidikan agama Islam di SMA PHI Kuala Tungkal ?

2. Pembatasan Masalah Untuk memudahkan dalam penyelesaian penulisan skripsi ini, serta menghindari kesalahan pemahaman. Maka penulis angap perlu

memberikan batasan masalah. Adapun yang menjadi objek penelitian ini, disini penulis mengambil guru bidang studi pendidikan agama Islam.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Adapun Tujuan Penilitian penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : a. Untuk mengetahui bagaimana minat belajar siswa terhadap bidang studi pendidikan agama Islam di SMA PHI Kuala Tungkal. b. Untuk mengetahui bagaimana upaya guru dalam membangkitkan minat belajar siswa terhadap bidang studi pendidikan agama Islam di SMA PHI Kuala Tungkal.

c. Untuk mengetahui apa kendala yang dihadapi oleh guru dalam upaya membangkitkan minat belajar siswa terhadap bidang studi pendidikan agama Islam di SMA PHI Kuala Tungkal.

2. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan dari hasil penelitian ini adalah : a. Ingin mengetahui bagaimana upaya guru dalam membangkitkan minat belajar siswa terhadap bidang studi pendidikan agama Islam di SMA PHI Kuala Tungkal. b. Sebagai bahan masukan, khususnya bagi kepala sekolah dan guru bidang studi pendidikan agama Islam di SMA PHI Kuala Tungkal untuk lebih meningkatkan mutu dan kualitas dalam membangkitkan minat belajar siswa terhadap bidang studi pendidikan agama Islam. c. Sebagia persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S.1) dalam ilmu pendidikan agama Islam pada STAI An-Nadwah Kuala Tungkal.

D. KerangkaTeori Supaya penelitian ini dapat terarah dan terfokus pada pokok permasalahan yang telah dirumuskan, maka perlu kerangka teori yang dapat dijadikan dasar dalam analisis dan menarik kesimpulan. Kemampuan seorang guru dalam mengelolah proses pembelajaran hendaknya guru dapat menciptakan situasi pembelajaran yang dapat merangsang siswa baik pikiran, perasaan, sehingga dapat membawa dan

mengarahkan pikiran dan kreativitasnya terhadap pelajaran yang disajikan. Dengan maksud agar siswa akan terangsang untuk ikut aktif mengikuti pelajaran dengan kesungguhan, semangat dan minat belajar yang besar. Seorang guru tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran saja, tetapi guru juga harus memiliki kreativitas dalam mengelolah proses pembelajaran, mampu mentransportasikan ilmunya dan memotivasi siswa untuk selalu aktif dalam proses pembelajaran. Minat merupakan dasar yang sangat memungkinkan keberhasilan dalam proses pembelajaran. Minat tidak hadir begitu saja atau dibawa sejak lahir, tetapi minat dapat lahir atau timbul setelah adanya rangsangan. Suharsimi Arikunto, dalam bukunya yang berjudul Serba Serbi Pendidikan mengatakan bahwa : Minat tersebut timbul setelah adanya rangsangan dari luar, bukan dibawa sejak lahir.6 Dalam proses pembelajaran motivasi sangat penting sebagai daya penggerak tingkah laku dan pikiran serta emosi yang berpengaruh secara dinamik, jadi setiap kreativitas dan kesiapan guru dalam mengajar harus diarahkan untuk membangkitkan minat belajar. Minat adalah suatu landasan yang paling memungkinkan demi keberhasilan suatu proses belajar. Jika seseorang guru memiliki rasa ingin belajar ia akan cepat mengerti dan mengingatkannya. Belajar akan merupakan siksaan dan tidak akan membe ri manfaat jika tidak disertai sifat terbuka bagi bahan-bahan pelajaran.

Suharsimi,Arikunto, Serba Serbi Pendidikian, Jakarta : Rineka Cipta, 1983, hlm. 57

Proses pembalajaran adalah merupakan suatu rangkaian fase yang mesti ditempuh oleh siswa yang belajar dengan guru yang mengajar dalam upaya mencapai tujuan pendidikan tertentu itu diperlukan suatu perencanaan yang harus disusun dan dirumuskan berdasarkan kepada tujuan pendidikan itu sendiri, perbedaan individual, perkembangan intlektual, perbedaan

kebutuhan, bakat dan minat siswa. Untuk itu seorang guru harus memiliki kreativitas agar dapat mengetahui hal tersebut, sehingga ia dapat merumuskan serta merencanakan persiapan mengajar yang sesuai dan tepat dengan tingkat perkembangan siswa. Kemampuan guru dalam menciptakan sesuatu yang beda / Kreativitas guru dalam merumuskan dan merencanakan persiapan mengajar secara jelas dan sepesifik akan memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan berhasil / tidaknya proses pembelajaran. Seperti dikutip dari Kamus Besar Indonesia sebagai berikut : Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta, daya cipta, prihal berkreasi , kreativitas.7 Pada saat kegiatan belajar mengajar tidak jarang para guru kurang memberikan kesempatan untuk berpartisipasi kepada siswa, akibatnya tidak sedikit siswa sering bolos pada jam pelajaran tengah berlangsung. Sebab mereka kurang dihargai dalam kelas. Seharusnya program belajar menggajar merupakan suatu kontak sosial antara guru dengan siswa dalam rangka mencapai suatu tujuan pendidikan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.

Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1998, hlm. 59

10

Guru

dalam

kegiatan

belajar

mengajar

hendaknya

dapat

memperlakukan siswa sebagain subjek didik yang memiliki potensi, bakat dan minat yang perlu ditumbuh kembangkan dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan secara maksimal, bukan sebaliknya

memperlakukan siswa sebagai objek didik. Dalam kenyataan masih banyak kegiatan pembelajaran dilaksanakan tanpa memisahkan materi pelajaran atau membedakan materi pelajaran

antara kelas yang satu dengan kelas yang lain, artinya bahan pelajaran masih seragam untuk semua kelas yang tingkatannya sama. Ini terlihat pada SMA PHI Kuala Tungkal. Hal ini akan membawa rasa malas belajar dan rasa rendah diri bagi siswa yang lambat dalam menerima pelajaran serta akibat negatifnya. Oleh karena itu seorang guru harus memiliki daya cipta dalam mengelolah proses pembelajaran agar mental siswa tetap setabil dan siswa tidak lari dari pelajaran tidak hanya berjalan sesuai dengan apa yang ada dalam buku pelajaran. Dengan demikian maka seorang guru perlu menyajikan materi pelajaran yang sesuai dengan tingkat kecerdasannya, sebab materi pelajaran yang sukar akan menjadi siswa tidak dapat atau sukar memahaminya. Hal seperti itu akan menyebabkan siswa lari dari pelajaran itu. Selanjutnya Al-Ghazali, secara tegas menegaskan : Kewajiban pertama-tama bagi seorang juru pendidik ialah mengajarkan kepada anakanak apa-apa yang mudah dipahaminya, oleh karena itu mata pelajaran yang

11

sukar akan menyebabkan kericuan mental/akal dan menyebabkan anak -anak lari dari guru.8 Menciptakan situasi belajar yang dapat merangsang siswa untuk selalu aktif mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian dan minat belajar yang besar. Hal itu merupakan tantangan bagi seorang guru dalam proses belajar mengajar. setiap situasi mempunyai unsur-unsur pokok dan guru perlu mempunyai kreativitas untuk menghubungkan kesemua unsur belajar tersebut secara dinamis yang dapat beradaptasi dengan situasi dan kondisi belajar. Jadi guru dalam usahanya menciptakan situasi pendidikan kreatif dalam mengelolah proses pembelajaran dengan menghubungkan ketiga unsur dari situasi pendidikan secara dinamis. Penerapan metode pengajaran dalam suatu bidang studi dapat dilihat dari kreativitas guru dalam menerangkan bahan pelajaran, hubungan intraksinya dengan siswa, memberi dorongan dan rangsangan serta pujian. Memberi ataupun menerima ide-ide dan pertanyan siswa dalam usaha membangkitkan minat, semangat dan perhatian siswa terhadap pelajaran yang disajikan. Dari pada itu seorang guru harus lebih bersikap bijaksana didalam mengambil suatu keputusan. Begitu juga terjadi salah pengertian dan salah paham antara guru dengan siswa, harus menjadi siswa memandang adil hasil keputusan yang diambil guru juga adil dalam memberi nilai belajar. Selanjutnya pembelajaran akan mengalami kesukaran, apabila rasa ingin tahu siswa tidak dapat tumbuh dengan wajar dalam usaha guru
8

M. Athiyah, Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1990, hlm. 88.

12

membangkitkan minat belajar siswa. Rasa ingin tahu siswa bisa berupa ideide atau pertanyaan siswa, baik tentang materi pelajaran yang tengah disampaikan maupun yang telah disajikan oleh guru. Dari beberapa teori yang dikemukakan tentang penerapan metode mengajar diatas dapat ditarik suatu kesimpulan/kerangka teori, bahwa : Seorang guru yang sangat miskin akan metode pencapaian tujuan, yang tidak menguasai berbagai tehnik mengajar atau mungkin tidak mengetahui adanya metode-metode itu, akan berusaha mencapai tujuan dengan jalan yang tidak wajar. Hasil pengajaran yang serupa ini selalu menyedihkan guru, guru akan menderita dan murid pun demikian. Akan timbul masalah disiplin, rendahnya mutu pelajaran, kurangnya minat anak-anak, dan tidak ada perhatian dan kesungguhan belajar. Kemampuan atau kreativitas guru dalam hubungan intraksi dengan siswa memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam usaha membangkitkan dan merangsang minat belajar siswa. Sebagai simbol moral guru harus menjadi tokoh idola bagi siswa dalam proses pembelajaran. Tingkah laku, tutur kata, cara berpakaian dan berjalan menjadi ukuran bagi siswa. Apabila hubungan intraksi antara guru dengan siswa terjalin secara harmonis, maka guru akan lebih mempengaruhi dan membawa pikiran serta perhatian siswa terhadap apa-apa yang guru berikan dalam proses suatu pembelajaran. Hubungan harmonis menggambarkan adanya keakraban, kasih sayang dan rasa aman. Dengan begitu timbul rasa simpatik siswa terhadap

13

guru, yang pada akhirnya menjadikan hubungan tersebut untuk saling bekerjasama antara kedua belah pihak, sehingga hubungan itu produktif dan kreatif.