Anda di halaman 1dari 233

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kemajuan suatu negara salah satunya ditentukan oleh suatu indikator yang

disebut Indeks Pembangunan manusia (IPM) yang terdiri dari bidang kesehatan,

pendidikan dan ekonomi. Untuk itu diharapkan kesehatan sebagai salah satu

komponen terpenting indeks pembangunan dapat mengembangkan kinerja dan

perhatiannya dalam memberi pelayanan kesehatan yang optimal kepada seluruh

masyarakat.

Menuju INDONESIA SEHAT 2010, dalam bidang kesehatan dengan

menekankan PARADIGMA SEHAT yang lebih mengedepankan usaha preventif

(pencegahan) dan promotif (promosi). Usaha pencegahan dan promotif kesehatan

mengarahkan masyarakat untuk mempertahankan kesehatan dengan upaya-upaya

pencegahan baik terhadap faktor-faktor yang berhubungan maupun terhadap

determinannya.

Sehat menurut WHO 1947 adalah suatu keadaan kesejahteraan fisik, mental,

sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa absennya atau keadaan lemah

tertentu. Tapi sejak tahun 1984, WHO menambahkan aspek spiritual

(kerohanian/agama) salah satu unsur tambahan dalam pengertian kesehatan

seutuhnya. Sehat paripurna adalah sehat fisik, psikologi, sosial dan spiritual.
2

Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan terhadap usaha preventif

terhadap masyarakat, walaupun gangguan psikosomatik tidak menjadi salah satu

diagnosa yang terdapat dalam pelaporan puskesmas, yang terlapor adalah gangguan

jiwa, neurotik, dan skizofrenia. Hal ini menjadi perhatian penulis, sejauh mana

sebenarnya pasien mengenal keluhannya, adakah pengaruh psikis yang membebani

keluhan fisiknya, bagaimana pasien mengelola stressnya, dan sejauh mana pasien

termotivasi agar meningkatkan ibadahnya, sehingga keluhan fisik dan tekanan

terhadap psikis tidak berkepanjangan dan menjadi lebih buruk menjadi gangguan

jiwa atau bahkan sakit jiwa.

Gangguan jiwa dan perilaku menurut the world health Report 2001 dialami

oleh kira-kira 25 % dari seluruh penduduk pada suatu masa dari hidupnya dan lebih

dari 40 % diantaranya didiagnosa tidak tepat sehingga menghabiskan biaya untuk

pemeriksaan laboratorium dan pengobatan yang tidak tepat. Gangguan jiwa dan

perilaku dialami kira-kira 10 % populasi orang dewasa. Dalam laporan itu dikutip

juga penelitian yang menemukan bahwa 24 % dari pasien yang mengunjungi dokter

pada pelayanan kesehatan dasar ternyata mengalami gangguan jiwa. 69 % dari pasien

tersebut datang dengan keluhan fisik dan banyak diantaranya ternyata tidak

ditemukan gangguan fisiknya.(Yulizar dkk, Depkes , 2004:1)

Pada tahun 2002, RSJ (Rumah Sakit Jiwa ) Bandung, melaluikan survei

bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Jabar yang dilakukan di 120 puskesmas (pusat

kesehatan masyarakat) di 24 kota dan kabupaten di Jawa Barat. Hasilnya,

memperlihatkan sebanyak 37,5 % pasien yang berobat di puskesmas, ternyata


3

mengalami gangguan jiwa yang berdampak kepada gangguan fisik. "Karena gejala

klinisnya berupa pusing, mual, atau tidak bisa tidur, dokter puskesmas

mendiagnosisnya sebagai penyakit fisik. Sehingga, gangguan jiwa yang dialami

sebahagian pasien puskesmas tidak terdeteksi oleh dokter," katanya. Kemudian juga

survei tahun 2003 yang dilakukan di klinik Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

puskesmas di 24 kota, dan kabupaten di Jabar didapati hasil sebanyak 27% ibu hamil

dan menyusui, mengalami gangguan jiwa. Selain merujuk kepada beberapa kali

survei, perkiraan angka 30% juga melihat perilaku sebagian masyarakat sekarang

yang cenderung brutal, anti sosial, dan tanpa merasa bersalah mengambil hak orang

lain. Menurut Machmud, sampai dengan bulan September 2005, jumlah pasien

gangguan jiwa yang dirawat di RSJ Bandung sudah lebih dari 12.000 orang, tahun

2004 lalu sebanyak 13.000. Di antara pasien yang rawat inap di RSJ Bandung bahkan

ada yang masih anak-anak yakni berusia 13 tahun.(Pikiran Rakyat 28 oktober 2005)

Ditambahkan lagi Menurut Surat Kabar pikiran rakyat tanggal 28 oktober

2005, penderita ganguan jiwa di Jawa Barat diperkirakan lebih dari 30 % penduduk,

yang jumlah nya makin bertambah dengan kesulitan ekonomi, bahkan di Cirebon

sendiri mencapai 250 sampai dengan 350 %. Menurut Wahid, satu-satunya psikiater

di Rumah Sakit Gunung Jati, mengemukakan, bahwa usia terbanyak yang datang ke

poliklinik maupun praktek pribadi didominasi oleh keluarga muda, laki-laki

merupakan jumlah terbesar dengan usia antara umur 30-40 tahun. Dengan status

sosial merata dari yang rendahan, sampai menengah keatas. Wahid juga

menyebutkan jenis-jenis penyakit psikologi yang dialami pasiennya. Yang ringan dan
4

sedang seperti stres, cemas, gangguan susah tidur (insomnia), dan sejenisnya. Sampai

yang berat seperti skizoprenia, depresi berat dan juga, faktor ekonomi menjadi

penyebab terbesar masalah psikis.

Gangguan psikosomatik terselubung dalam berbagai penyakit seperti: (1)

penyakit kulit dengan timbulnya pruritus, neurodermatosis; (2) pada otot dan tulang

terdapat rhematoid artritis, mialgia, artralgia; (3) saluran pernafasan sindroma

hiperventilasi, asma bronkiale; (4) jantung dan pembuluh darah , hipertensi esensial,

sakit kepala vaskuler, sakit kepala vasogenik, migren; (5) saluran pencernaan sebagai

manifestasi gangguan psikosomatik, dispepsia, konstipasi; (6) alat kelamin dan kemih

berupa rasa nyeri dan parestesi di panggul, dismenorea, disparenia; (7) Sistem

endokrin seperti hipertiroid, sindroma menopause.

Diharapkan puskesmas sebagai pemberi pelayanan kesehatan terdepan dapat

mengobati pasien tidak hanya secara fisik saja, tapi juga dapat memberikan

pendidikan kesehatan yang baik dan optimal kepada pasiennya.

Adakah manusia yang tidak pernah dihinggapi stress? Adakah manusia yang

hidupnya tidak pernah gelisah ? Adakah manusia yang tidak pernah mengalami

cobaan hidup, atau masalah, yang menyebabkan perubahan dalam hidupnya, sehingga

ia harus menyesuaikan dirinya? Jawabnya pasti semua manusia pernah mengalami

kegelisahan, konflik, frustasi, tekanan, dan stress. Semua yang memberatkan dan

menimbulkan masalah itu tidak dapat dihindari memang, yang ada adalah bagaimana

kita dapat menyikapi segala permasalahan yang timbul agar tekanan yang muncul
5

tidak menumpuk dan menjadi stress berkepanjangan yang akhirnya menyebabkan

gejala psikosomatik, bahkan kelainan jasmani dan mental.

Sebuah kasus, Seseorang pasien wanita berumur 50 tahun datang ke

Puskesmas astapada, datang dengan keluhan terasa sakit di ulu hati, dada seperti

ditusuk-tusuk benda tajam, jantung berdebar-debar, banyak keluar keringat, timbul

perasaan sesak nafas, sehingga harus bernafas panjang dan dalam, sering mual,

perasaan sakit perutnya juga sering pindah-pindah, karena peneliti melihat bahwa

gejala psikis terasa memdominasi keluhan pasien, peneliti menanyakan apakah ada

sesuatu masalah yang memberatkan hati pasien, dan pasien yang tadinya datang

dengan hanya keluhan fisik, akhirnya mau menceritakan beban pikiran dan hati yang

menyebabkan banyaknya timbul gejala fisik diatas. Kemudian pasien diberi obat

sesuai dengan keluhan, di sarankan untuk lebih tenang, dan lebih banyak

melaksanakan ibadah karena pasti Allah tidak akan mungkin memberikan cobaan

diatas kemampuan umatnya. Setelah 2 minggu bertemu kembali, pasien terlihat lebih

baik, dan gejala-gejala diatas telah hilang.

Kalau diagnosa psikosomatik sudah terdeteksi secara dini, maka pasien

tersebut tidak akan pernah bolak-balik kesana kemari mencari pertolongan, karena

bila kita mengetahui bahwa keluhan yang diderita pasien adalah akibat psikisnya

yang berat, maka kita dapat memberikan solusi dan pendidikan kepada pasien akan

penyebab yang menyebabkan gangguan dan keluhannnya, bukan hanya sekedar obat

saja.
6

Gangguan psikosomatik, atau istilahnya psychosomatic illness, di

klasifikasikan dalam ICD 10, F 45. Walaupun tidak ada data spesifik diagnosa

gangguan psikosomatik di seluruh puskesmas sekabupaten Cirebon, data kasus

penyakit yang ada, selama kurun waktu satu tahun 2006 ditemukan jumlah kasus

penyakit sebagai berikut: (Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon)

1. Gangguan emosi (neurotic) sebanyak 358 orang;

2. Hipertensi esensial 97.441 orang, (umur 15-44 tahun 17.074, umur 45-54

tahun 26.647 orang, umur 55-64 tahun 29,182 orang, > 65 tahun 24,538

orang;

3. Asma 20,235 orang;

4. Tukak lambung 80,570 orang;

5. Gangguan Jiwa dan Prilaku 62 orang;

6. Skizofrenia 254 orang.

Berdasarkan peringkat penyakit, ditemui terbanyak pada gangguan hipertensi

esensial, tukak lambung, asma, gangguan neurotik, skizofrenia, dan gangguan jiwa

dan perilaku.

Untuk kunjungan selama setahun di Puskesmas Astapada pada tahun 2006,

didapat Pasien dengan keluhan mialgia (pegal-pegal) sebanyak 5.700 orang, tukak

lambung 3.468 orang, hipertensi 1.403 orang, sakit kepala 1118 orang, asma 188

orang, jumlah pasien sakit jiwa sebanyak kurang lebih 20 orang.

Hasil penelitian tersebut angka kejadian gangguan psikosomatik di wilayah

Jakarta juga cukup tinggi, Yoga seorang peneliti dari Departemen Ilmu penyakit
7

dalam Falkutas Kedokteran Universitas Indonesia bahwa, “Angka kejadian gangguan

psikosomatik yang berupa depresi sebesar 28,4 persen dan anksietas (kekhawatiran)

sebesar 39,8 persen.”

Di Indonesia, gangguan psikosomatik sudah mendapat perhatian sejak tahun

1960 oleh bagian penyakit dalam RSCM, didirikan pertama oleh Prof Aulia, yang

sekarang jadi sub bagian psikosomatik, karena banyak pasien yang mengunjungi

dokter dengan keluhan yang bermacam-macam yang secara kuantitas dan kualitas

tidak sebanding dengan apa yang didapat secara klinis, medis, internistis, sehingga

pasien mengembara dari satu dokter ke dokter yang lain, ke dukun, tetap saja tidak

sembuh, masih merasa sakit.

Bila kita menghadapi seorang manusia, maka pendekatan yang harus di

terapkan adalah pendekatan holistik (menyeluruh), melihat manusia sebagai mahluk

yang terdiri dari 4 unsur (fisik, jiwa, sosial , spiritual).

B. Rumusan Masalah

Tesis ini akan mengangkat beberapa masalah, terdapat tiga variabel yang menjadi

fokus penelitian, dengan variabel bebas yaitu motivasi beribadah dan kekebalan

stress serta variabel terikatnya yaitu pencegahan gangguan psikosomatik. Dengan

demikian dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Apakah ada hubungan antara motivasi beribadah dengan pencegahan

gangguan Psikosomatik ?
8

b. Apakah ada hubungan antara Kekebalan stress dengan pencegahan

gangguan Psikosomatik?

c. Sejauh mana hubungan antara motivasi beribadah dan Kekebalan stress

terhadap pencegahan gangguan psikosomatik?

C. Batasan Masalah

Penelitian ini akan meneliti pasien dewasa yang berkunjung ke Puskesmas,

yang berumur antara 20 sampai dengan 50 tahun. Karena populasi pasien tersebut

yang terbanyak datang dengan berbagai keluhan. Diperiksa setelah menentukan

diagnosanya, bila terlihat tanda-tanda psikis yang mendominasi gejala dan keluhan

maka peneliti akan memberikan wawancara dan kuesioner, untuk melihat korelasi

antara penyakit, keluhannya, bagaimana pasien menanggulangi stress, motivasi

beribadah dengan skala motivasi ibadah, skala holmes, untuk melihat tingkat stress,

skala Smith dan Miller modifikasi untuk melihat kekebalannya terhadap strees. Dan

skala untuk mengetahui adanya gangguan psikosomatis.

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk menyusun tesis pada Program

Pasca Sarjana Psikologi Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Cirebon,

bertujuan untuk memperoleh gambaran dan kejelasan tentang:

1. Hubungan motivasi beribadah dengan pencegahan gangguan psikosomatik

2. Hubungan kekebalan stress dengan pencegahan gangguan psikosomatik

3. Sejauh mana hubungan motivasi beribadah dan kekebalan stress terhadap

Pencegahan gangguan psikosomatik.


9

E. Manfaat penelitian

Kegunaan penelitian ini diharapkan akan memberikan masukan secara teoritis

dan praktis sebagai berikut

1) Aspek teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperkuat teoritis bahwa

beribadah dan pengelolaan kekebalan stress dapat dijadikan sebagai salah

satu upaya pencegahan terhadap gangguan psikosomatik, yang akhirnya

mencegah penyakit fisik yang lebih parah, kelainan jiwa dan mental yang

berat.

2) Aspek Praktis, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu tuntunan

bagi kita atau masyarakat agar dapat memotivasi dirinya menjalankan ibadah

dan meningkatkan kekebalan diri terhadap stress sehingga dapat tercegah dari

gangguan psikosomatik.

F. Kerangka Berfikir

Tesis ini membicarakan tentang motivasi beribadah dan kekebalan stress

sejauh mana dapat mencegah penyakit psikosomatik. Dalam kerangka berfikir ini ada

empat hal yang dibicarakan : (1) Motivasi dan perilaku, (2) beribadah, (3) Kekebalan

stress, dan (4) penyakit psikosomatik.

Motivasi adalah kecenderungan yang timbul pada seseorang sesuatu aksi atau

tindakan dengan tujuan tertentu yang dikehendakinya, motivasi terdiri dari motivasi

intrinsik dan ekstrinsik.


10

Ibadah Menurut Kamus Indonesia adalah amalan yang diniatkan untuk

berbakti kepada Allah SWT, dengan menjauhi larangan-Nya dan melaksanakan

perintah-Nya, yang pelaksanaanya diatur, secara syariah.

Membicarakan ibadah dan keimanan maka kita pun berbicara tentang agama,

Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban. Agama

dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu

hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan

mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau) (Rakhmat,

2004:50)

Tidak ada satupun definisi tentang agama (religion) yang dapat diterima

secara umum, karena para filsuf, sosiolog, psikolog merumuskan agama menurut

caranya masing-masing, menurut sebagian filsuf religion adalah ”Supertitious

structure of incoheren metaphisical notion. Sebagian ahli sosiolog lebih senang

menyebut religion sebagai ”collective expression of human values”. Para pengikut

Karl Marx mendefinisikan Religion sebagai “the opiate of people”. Sebagian

Psikolog menyimpulkan religion adalah mystical complex surrounding a projected

superego” disini menjadi jelas bahwa tidak ada batas tegas mengenai agama atau

religion yang mencakup berbagai fenomena religion. (Endang ,1979:111)

Menurut Einstein, ”ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka

yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman, tetapi

sumber perasaan itu berasal dari tataran agama, termasuk didalamnya keimanan pada

kemungkinan bahwa semua peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat
11

rasional, artinya dapat dipahami akal. Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuwan

sejati yang tidak mempunyai keimanan yang mendalam seperti itu, ilmu pengetahuan

tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta.

Beribadah merupakan proses keimanan yang diawali dengan niat yang

kemudian di amalkan dan dilaksanakan dengan ketaatan. Dengan beragama manusia

mempunyai aturan petunjuk dan nasehat dalam menjalankan kehidupannya.

Motivasi Ibadah adalah dorongan seseorang untuk berbakti kepada Allah

untuk mencapai tujuan hidupnya, yang ditunjukan dengan sikap dan perilaku yang

baik yaitu untuk mendapat ridho Allah:’Sesungguhnya Shalat, ibadah, hidup dan

matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam ” (al-An’amm:162)

Kekebalan Stress adalah tingkat stress seseorang yang diukur dengan sebuah

skala yaitu skala Smith dan Miller, bila kekebalan terhadap stress baik, maka

seseorang menjalankan pengelolaan stress yang baik, maka kekebalan stressnya pun

menjadi baik, Menurut Hawari Ada beberapa pengelolaan terhadap stress, yaitu :

1. Olah raga.

2. Rekreasi

3. Kasih sayang

4. Sosial ekonomi

5. Menghindari Rokok

6. Pergaulan/Silaturahmi

7. Tidur yang cukup

8. Makanan yang seimbang dan teratur


12

9. Pengelolaan waktu yang baik

10. Agama yang dijalankan dengan ketaatan

Kesehatan yang sempurna harus dilandasi dengan ketaatan dan kedisiplinan.

Begitu juga dengan gangguan kesehatan seperti gangguan psikosomatik ini.

Gangguan psikosomatik adalah gangguan atau penyakit dengan gejala-gejala

yang menyerupai penyakit fisis dan diyakini adanya hubungan yang erat antara suatu

peristiwa psikososial tertentu dengan timbulnya gejala-gejala tersebut (IPD

Mudjaddid, Shatri: 684).

Penyembuhan seseorang akibat gangguan psikosomatik ini tidak hanya berupa

obat-obatan yang disesuaikan dengan gejala yang timbul tapi juga dengan

menganjurkan pola hidup yang baik, olah raga, menyalurkan hobi, relaksasi,

penyesuaian diri yang positif terhadap masalah dan yang juga sangat penting adalah

meningkatkan ibadah. Dengan peningkatan motivasi beribadah dan sikap beribadah,

maka pasien akan memperkuat mental dan psikisnya, dan mendapat ketenangan.

Dengan mengingat Allah maka harinya akan menjadi tenang dan tentram seperti

Dalam Al-Quran surat Al-Rad (13:28) Allah berfirman:


13

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan

mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi

tenteram.

Bagaimana kita menanggulangi stress agar terhindar dari psikosomatik, antara

lain adalah dengan beribadah yang iklash hanya untuk Allah semata. Meningkatkan

kekebalan stress kita sehingga kita terhindar dari stress yang berkepanjangan.

QS Az-zumar 39:2. Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al

Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan

ketaatan kepada-Nya.

Dengan memberikan motivasi kepada pasien dengan reedukasi yang baik kita

berupaya menimbulkan motivasi intrinsik pada diri pasien untuk mau menjalankan

ibadah dengan ketaatan dan keiklahlasan seperti yang diperintahkan dalam rukun

Islam seperti Shallat, puasa, zikir, zakat dan shodaqah, haji dengan iklash diharapkan

hati ini dapat menjadi lebih tenang, ketenangan akan mengurangi stress seseorang dan

upaya ini dapat menjadi salah satu usaha mencegah timbulnya gangguan

psikosomatik.

Beribadah adalah pengakuan kita terhadap Allah, dimana kita bergantung

hanya pada satu yaitu Allah yang menciptakan manusia, dunia, dan alam semesta.

Dengan pengakuan ini, timbulkan rasa aman dalam jiwa manusia bahwa ada

pendukung hidupnya yang amat dekat, yang tidak akan pernah membuatnya sedih.

QS, At-Taubah :40 ....La tahzan Innalaha Ma’ana, ”janganlah kamu bersedih

sesugguhnya Allah berserta kita”


14

Dalam beribadah kita memerlukan motivasi, motivasi menggerakkan sikap,

tampa ada motivasi yang didasari keiklasan, apalagi semata-mata hanya menjalankan

kewajiban, maka ibadah tersebut menjadi kering tampa makna. Bila kita membaca

Al-Quran tampa mengerti artinya, nasehat Allah kepada kita tidak akan masuk dalam

dalam hati maupun jiwa kita. Bila tidak tertanam dalam jiwa, bagaimana

mengamalkannya? Dalam Surah Fushilat: 44 Allah berfirman”Qul huwa lil ladziina

aamanuu hudaw wa syifaa ” yang artinya ” katakanlah :”Al-quran itu adalah petunjuk

dan penawar bagi orang-orang yang beriman”(QS, 41:44)

Gambar 1.1 Kerangka berfikir

Motivasi Beribadah

Pencegahan Gangguan
Psikosomatis

Kekebalan stress

Keterangan : a : faktor lain yang tidak diteliti

1. Aspek /Gangguan Kepribadian

2. Tingkat kognitif seseorang dalam menghadapi stress

3. Kebiasaan budaya setempat dan Kehidupan masa kecil

4. Penyesuaian diri dalam tahun terakhir

H. Hipotesis Penelitian
15

Dari uraian diatas, maka peneliti mengajukan hipotesis yang merupakan jawaban

sementara dari pengujian masalah . Adapun Hipotesis yang ingin diujikan adalah:

a. Hipotesis Mayor

Ada pengaruh positif antara motivasi beribadah, dan kekebalan stress terhadap

Pencegahan gangguan psikosomatis

b. Hipotesis Minor

1. Adanya pengaruh positif motivasi beribadah terhadap pencegahan

gangguan Psikosomatik

2. Adanya pengaruh positif kekebalan stress terhadap pencegahan gangguan

Psikosomatik.

BAB II
16

TINJAUAN TEORITIS

Sesuai dengan Judul tesis maka kajian teoritis ini khususkan ke dalam hal

yang berhubungan dengan motivasi ibadah, stress, dan gangguan psikosomatik.

Untuk memudahkan pemahaman maka disusunlah tinjauan teoritis ini dimulai dengan

bagaimana melihat manusia secara konsep kedokteran dan psikologi, kemudian

bagaimana manusia dalam konsep medis Islam, kaitan antara stress dan terjadinya

penyakit fisik dan mental, kemudian kolaborasi ibadah sebagai tuntunan hidup dan

kaitannya dengan kesehatan.

A. Manusia Dalam Konsep Kedokteran Dan Psikologi

1. Kesehatan Jiwa
Menurut UU No.23 tahun 1992, Ps 24, 25, 26 dan 27, Kesehatan jiwa adalah

suatu kondisi mental sejahtera yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif

sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang, dengan memperhatikan

semua segi kehidupan manusia dengan ciri menyadari sepenuhnya kemampuan

dirinya, mampu menghadapi stress kehidupan yang wajar, mampu kerja produktif dan

memenuhi kebutuhan hidupnya, dapat berperan serta dalam lingkungan hidup,

menerima baik dengan apa yang ada pada dirinya, merasa nyaman bersama dengan

orang lain.

Masalah kesehatan jiwa meliputi:

- Masalah perkembangan manusia yang harmonis dan peningkatan kualitas

hidup, yaitu masalah kesehatan jiwa yang berkaitan dengan siklus

kehidupan.
17

- Masalah psikososial yaitu setiap perubahan dalam kehidupan individu

baik yang bersifat psikologis ataupun sosial yang mempunyai pengaruh

timbal balik dan dianggap berpotensi cukup besar sebagai faktor penyebab

terjadinya gangguan jiwa (atau gangguan kesehatan) secara nyata, atau

sebaliknya masalah kesehatan juwa yang berdampak sosial.\

- Gangguan jiwa adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang

menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yaitu menimbulkan

penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran

sosial. (Yulizar dkk,2004:13-14)

Menurut penulis, seorang yang disebut sehat, tidak hanya sehat fisik, dan

mental saja tapi dia harus mampu menjalin hubungan vertikal secara spiritual kepada

Tuhan dan hubungan horizontal terhadap sesamanya. Mempunyai kecerdasan

inteligensia (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).

Kecerdasan menurut C.P.Chaplin (1975) sebagai kemampuan menghadapi dan

menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. (Syamsu Yusuf,

2005:113).

Sedangkan kecerdasan emosional menurut Daniel goleman (1997), meliputi :

1. Mengenali emosi diri


2. Mengelola emosi
3. Memotivasi diri sendiri
4. Mengenali emosi orang lain
5. Membina hubungan
18

Danah Zohar menyebutkan tanda-tanda seseorang yang memiliki kapasitas

SQ yang berkembang sebagai berikut :

1. Kemampuan bersikap adaptif secara spontan dan aktif


2. Mempunyai tingkat kesadaran diri yang tinggi.
3. Mempunyai kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit.
4. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
5. Mempunyai kualitas hidup yang dilhami oleh visi dan nilai-nilai.
6. Mempunyai kecenderungan untuk melihat sesuatu secara holistik.
7. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
8. Kecenderungan nyata untuk bertanya "Mengapa?" dan "Bagaimana?" untuk
mencari jawaban yang mendasar.
9. Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai "bidang mandiri" / field
independent.
Secara Konseptial Keadaan Normal sehat dapat dirumuskan sebagai berikut

(Winkel,1991):

a. Menurut Karl Menninger, seorang Psikiater, memberikan rumusan sebagai


berikut, kesehatan mental adalah penyesuaian manusia terhadap dunia dan satu
sama lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum. Ia bukan
hanya berupa efisiensi atau hanya perasaan puas atau keluwesan dalam
mematuhi aturan permainan dengan riang hati, kesehatan mental mencakup itu
semua. Kesehatan mental meliputi kemampuan menahan diri, menunjukan
kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain dan sikap
hidup yang bahagia”.
b. H.B. English seorang psikolog memberikan rumusan sebagai berikut:”Kesehatan
mental adalah keadaan relatif tetap dimana sang pribadi menunjukan
penyesuaian atau mengalami aktualisasi diri atau realisasi diri, Kesehatan
19

mental merupakan keadaan positif bukan sekedar absennya gangguan mental.


(Ardani, Rahayu, Sholichatun, 2007 :16)

2. Ciri-Ciri Kepribadian Sehat dan Normal


Kepribadian yang sehat dan normal mempunyai ciri-ciri, seperti menurut

coleman dan Winkel bahwa ciri perilaku yang normal adalah seseorang itu dapat

menerima dirinya baik kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri secara realistik,

berkepribadian yang matang, mandiri, bertanggung jawab, memiliki jati diri yang

baik, mempunyai kekebalan terhadap stress yang baik, mempunyai kedewasaan yang

matang dan intelektual yang baik, adapun lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel

dibawah ini:

Tabel 2.1 Enam aspek penyesuaian diri yang diiringi dengan ciri perilaku (Coleman
dalam Winkel 1991).
No Aspek Penyesuaian Diri Ciri Perilaku
1 Sikap terhadap Diri sendiri Seseorang menunjukan ciri dapat menerima diri,
memiliki jati diri yang baik (positif), memiliki
penilaian yang realistik terhadap berbagai
kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri
2 Persepsi terhadap realitas Mempunyai pandangan yang realistik (sesuai
dengan realitas) terhadap diri sendiri dan terhadap
dunia orang maupun benda disekelilingnya
3 Integrasi Mempunyai kepribadian yang utuh, bebas dari
konflik-konflik batin yang melumpuhkan,
memiliki kekebalan yang baik terhadap strees
4 Kompetensi Mempunyai kompetensi-kompentensi fisik,
intelektual, emosional, dan sosial yang optimal
dalam mengatasi berbagai problema hidup
5 Otonomi Memiliki kemandirian, tanggung jawab dan
penentuan diri (self determination, self direction)
yang memadai disertai kemampuan cukup untuk
membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial
6 Pertumbuhan aktualisasi Menunjukan kecenderungan diri kearah menjadi
semakin matang kemampuan-kemampuannya dan
memcapai pemenuhan diri sebagai pribadi
20

(Ardani, Rahayu, Sholichatun, 2007 :17)

3. Abnormalitas (Ardani, Rahayu, Sholichatun, 2007 :19-20)


Kriteria Abnormalitas menurut Coleman dan Winkel, terdapat beberapa

kriteria:

a. Penyimpangan dari norma-norma statistik, yang abnormal biasanya menunjukan

yang bisa saja tidak lazim, luar biasa dan menyimpang dari norma yang ada,

makin jauh dari nilai rata-rata .

b. Penyimpanan dari norma-norma sosial

Sifat tidak patuh dan tidak sejalan dengan norma sosial, yang biasanya dipakai

istilah relativitas budaya, yang umumnya adalah normal walaupun tidak selalu

sepakat tapi patokan seperti ini sering berlaku dalam masyarakat.

c. Maladjustment

Abnormalitas dipandang sebagai ketidak mampuan individu menghadapi,

menanggapi, menangani atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan

fisik dan sosial-nya maupun yang bersumber dari kebutuhannya sendiri. Kriteria

semacam ini jelas bersifat negatif, artinya tidak memperhitungkan fakta bahwa

seseorang individu dapat berpenyesuaian baik (weel adjusted) tanpa

memanfaatkan dan mengembangkan kemampuan-kemampuannya. Tidak sedikit

orang yang secara umum disebut ”berhasil” dalam menjalankan hidup secara

lumrah baik namun sebagai pribadi tidak pernah berkembang secara maksimal

optimal, orang-orang yang tidak gelisah ” adem ayem” tentram belaka.


21

d Tekanan batin

Abnormalitas dipandang sebagai perasaan-perasaan cemas, depresi atau sedih

atau perasaan bersalah yang mendalam, namun ini bukan patokan yang baik

untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal atau sebaliknya.

Tekanan batin yang kronik seperti tak berkesudahan mungkin memang

merupakan indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sebaliknya sangat

normal bila orang merasa sedih atau tertekan manakala mengalami musibah,

kekecewaan atau ketidak adilan. Ketabahan merupakan sesuatu indikator

kedewasaan menghadapi bencana, namun dalam keadaan biasa wajar, misalnya

akan terkesan aneh bila orang merasa gembira menghadapi kematian orang

yang terkasih.

e. Ketidakmatangan

Seseorang dikatakan abnormal bila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat

usianya, tidak selaras dengan situasinya. Masalahnya, sering sulit menemukan

patokan tentang kepantasan dan kematangan. Coleman, Butcher dan Carson

(1980) dengan tetap menyadari kekurangannya akhirnya menggunakan dua

kriteria yaitu abnormalitas dalam arti apa saja yang bersifat maladaptif, yang

akhirnya berarti apa saja yang tidak menunjang kesejahteraan sang individu

sehingga pada akhirnya juga tidak menunjang kemaslahatan masyarakat.

Kesejahteraan atau kemaslahatan masyarakat meliputi baik kemampuan

bertahan maupun perkembangan pencapaian pemenuhan diri atau aktualisasi

dari berbagai kemampuan yang dimiliki.


22

Kalau kita melihat manusia, perilaku, emosi , maka semuanya akan berhubungan

dengan otak. Dibawah ini beberapa teori tentang otak manusia sebagai pengendali

dalam semua aktivitas fisik, emosional dan perilaku.

4. Otak Manusia

Otak manusia mempunyai berat 2% dari berat badan orang dewasa (3 pon),

menerima 20 % curah jantung dan memerlukan 20% pemakaian oksigen tubuh dan

sekitar 400 kilokalori energi setiap harinya. Otak merupakan jaringan yang paling

banyak memakai energi dalam seluruh tubuh manusia dan terutama berasal dari

proses metabolisme oksidasi glukosa. Jaringan otak sangat rentan terhadap perubahan

oksigen dan glukosa darah, aliran darah berhenti 10 detik saja sudah dapat

menghilangkan kesadaran manusia. Berhenti dalam beberapa menit, merusak

permanen otak. Hipoglikemia yang berlangsung berkepanjangan juga merusak

jaringan otak (Prince,Wilson, 2006:1024)

Ketika lahir seorang bayi telah mempunyai 100 miliar sel otak yang aktif dan

900 miliar sel otak pendukung, setiap neuron mempunyai cabang hinggá 10.000

cabang dendrit yang dapat membangun sejumlah satu kuadrilion koneksi.

komunikasi.perkembangan otak pada minggu-minggu pertama lahir diproduksi

250.000 neuroblast (sel saraf yang Belum matang), kecerdasan mulai berkembang

dengan terjadinya koneksi antar sel otak, tempat sel saraf bertemu disebut synapse,

makin banyak percabangan yang muncul, makin berkembanglah kecerdasan anak

tersebut, dan kecerdasan ini harus dilatih dan di stimulasi, tampa stimulasi yang baik,

potensi ini akan tersia-siakan.


23

Otak manusia, adalah organ yang unik dan dasyat, tempat diaturnya proses

berfikir, berbahasa, kesadaran, emosi dan kepribadian, secara garis besar, otak

terbagi dalam 3 bagian besar, yaitu neokortek atau kortex serebri, system limbik dan

batang otak, yang berkerja secara simbiosis. Bila neokortex berfungsi untuk berfikir,

berhitung, memori, bahasa, maka sistek limbik berfugsi dalam mengatur emosi dan

memori emosional, dan batang otak mengarur fungsi vegetasi tubuh antara lain

denyut jantung, aliran darah, kemampuan gerak atau motorik, Ketiganya bekerja

bersama saling mendukung dalam waktu yang bersamaan, tapi juga dapat bekerja

secara terpisah.

Otak manusia mengatur dan mengkordinir, gerakan, perilaku dan fungsi

tubuh, homeostasis seperti tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, keseimbangan

cairan, keseimbangan hormonal, mengatur emosi, ingatan, aktivitas motorik dan lain-

lain. Otak terbentuk dari dua jenis sel: yaitu glia dan neuron. Glia berfungsi untuk

menunjang dan melindungi neuron, sedangkan neuron membawa informasi dalam

bentuk pulsa listrik yang di kenal sebagai potensial aksi. Mereka berkomunikasi

dengan neuron yang lain dan keseluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam

bahan kimia yang disebut neurotransmitter. Neurotransmitter ini dikirimkan pada

celah yang di kenal sebagai sinapsis. Neurotransmiter paling mempengaruhi sikap,

emosi, dan perilaku seseorang yang ada antara lain Asetil kolin, dopamin, serotonin,

epinefrin, norepinefrin. Fungsi masing masing neurotransmiter dapat dilihat dibawah

ini:

Tabel 2.2
24

Neurotransmitter Pada Sistem Saraf Pusat (Sumber: Mary C Towsend, 1996)

Neurotransmiter Lokasi/Fungsi Implikasinya pada


penyakit Jiwa
Kolinergik: Sistem saraf otonom simpatis dan parasimpatis, Meningkatkan
Asetil kolin terminal saraf presinapsis parasimpatik, terminal derajat depresi
postsinapsis

Sistem saraf pusat : korteks serebral


hipokampus, struktur limbik, basal ganglia Menurunkan
derajat penyakit
Fungsi : tidur, bangun persepsi nyeri , alzeimer, korea
pergerakan memori hutington, penyakit
parkinson.

Monoamin
Sistem syaraf otonom terminal saraf post
Norepinefri sinapsis simpatis
n
Sistem saraf pusat: talamus, sistem limbik, Menurunkan
hipokampus, serebelum, korteks serebri derajat depresi

Fungsi pernafasan, pikiran, persepsi, daya Meningkatkan


penggerak, fungsi kardiovaskuler, tidur dan derajat mania,
bangun keadaan
kecemasan,
skizofrenia.

Dopamin Frontal korteks, sistem limbik, basal ganglia,


talamus, hipofisis posterior, medula spinalis
Menurunkan
Fungsi: pergerakan dan koordinasi, emosional, derajat penyakit
penilaian, pelepasan prolaktin parkinson dan
depresi

Meningkatkan
derajat mania dan
skizofrenia

Serotonin Hipotalamus, talamus, sistem limbik, korteks


serebral, serebelum, medula spinalis Menurunkan
derajat depresi
Fungsi : tidur, bangun, libido, nafsu makan,
25

perasaan, agresi persepsi nyeri, koordinasi dan Meningkatkan


penilaian derajat kecemasan

Hipotalamus Menurunkan
Histamin derajat depresi

Asam amino
Hipotalamus, hipocampus, korteks, serebelum,
GABA (gamma basal ganglia, medula spinalis, retina Menurunkan
derajat korea
Amino butyric Fungsi kemunduran aktivitas tubuh huntington,
acid gangguan ansietas,
skizofrenia, dan
berbagai jenis
epilepsi

Medula spinalis, batang otak Derajat


Glisin toksik/keracunan
Fungsi: menghambat motor neuron berulang “glycine
encephalopaty”

Sel-sel piramid/kerucut dari korteks, serebelum


dan sistem sensori aferen primer, hipocampus, Menurunkan
talamus, hipotalamus, medula spinalis tingkat derajat yang
berhubungan
Glutamat dan dengan gerakan
aspartat Fungsi: menilai informasi sensori, mengatur
motor spastik
berbagai motor dan reflek spinal

Modulasi aktivitas
Hipotalamus , talamus, struktur limbik dan
dopamin oleh opiod
Neuropeptida batang otak, enkedalin juga ditemukan pada
peptida dapat
traktus gastrointestinal
menumpukkan
Endorfin dan berbagai ikatan
terhadap gejala
enkefalin skizofrenia
Fungsi modulasi (mengatur) nyeri dan
mengurangi peristaltik (enkefalin)
26

Hipotalamus struktur limbik otak tengah, batang


otak, talamus, basal ganglia, dan medula
spinalis, juga ditemukan pada traktus Menurunkan
gastrointestinal dan kelenjar saliva derajat korea
Substansi P hutington
Fungsi: pengaturan nyeri

Korteks serebral, hipokampus, talamus, basal


ganglia, batang otak, medula spinalis

Fungsi: menghambat pelepasan norepinefrin, Menurunkan


merangsang pelepasan serotonin, dopamin dan derajat penyakit
Somatostatin asetil kolin alzeimer

Meningkatkan
derajat korea
hutington

(dikutip oleh Sulistiwati dkk, 2005:58-60)

Fungsi Dopamin sebagai neururotransmiter kerja cepat disekresikan oleh

neuron-neuron yang berasal dari substansia nigra, neuron-neuron ini terutama

berakhir pada regio striata ganglia basalis. Pengaruh dopamin biasanya sebagai

inhibisi.(Guyton,1997: 714).

Dopamin bersifat inhibisi pada beberapa area tapi juga eksitasi pada beberapa

area. Sistem norepinefrin yang bersifat eksitasi menyebar ke setiap area otak,

sementara serotonin dan dopamin terutama ke regio ganglia basalis dan sistem

serotonin ke struktur garis tengah (midline).(Guyton,1997: 932)


27

Serotonin disekresikan oleh nukleus yang berasal dari rafe medial batang otak

dan berproyeksi disebahagian besar daerah otak, khususnya yang menuju radiks

dorsalis medula spinalis dan menuju hipotalamus. Serotonin bekerja sebagai bahan

penghambat jaras rasa sakit dalam medula spinalis, dan kerjanya di daerah sistem

syaraf yang lebih tinggi diduga untuk membantu pengaturan kehendak seseorang,

bahkan mungkin juga menyebabkan tidur (Guyton 1997: 714).

Serotonin berasal dari dekarboksilasi triptofan, merupakan vasokontriksi kuat

dan perangsang kontraksi otak polos. Produksi serotonin sangat meningkat pada

karsinoid ganas penyakit yang ditandai sel-sel tumor penghasil serotonin yang

tersebar luas didalam jaringan argentafin rongga abdomen (Martin,David .1987:364)

Sistem respons fisiologik pada stress akut dan kronik, terdapat respon fight

and flight dimana berperan hormon epinefrin, norepinefrin dan dopamin, respon

terhadap ancaman meliputi penyesuaian perpaduan banyak proses kompleks dalam

organ-organ vital seperti otak, sistem kardiovaskular, otot, hati dan terlihat sedikit

pada organ kulit, gastrointestinal dan jaringan limfoid. (Martin, David, 1987:625)

Sistem norepinefrn dan sistem serotonin normalnya menimbulkan dorongan

bagi sistem limbik untuk meningkatkan perasaan seseorang terhadap rasa nyaman,

menciptakan rasa bahagia, rasa puas, nafsu makan yang baik, dorongan seksual yang

sesuai, dan keseimbangan psikomotor, tapi bila terlalu banyak akan menyebabkan

serangan mania. Yang mendukung konsep ini adalah kenyataan bahwa pusat-pusat

reward dan punishment di otak pada hipotalamus dan daerah sekitarnya menerima
28

sejumlah besar ujung-ujung saraf dari sistem norepinefrin dan serotonin (Guyton

1997:954)

Pada pasien penyakit jiwa seperti skizofrenia terdapat berbagai keadaan yang

diyakini disebabkan oleh salah satu atau lebih dari tiga kemungkinan berikut:

(1) terjadi hambatan terhadap sinyal-sinyal saraf di berbagai area pada lobus

prefrontalis atau disfungsi pada pengolahan sinyal-sinyal; (2) perangsangan yang

berlebihan terhadap sekelompok neuron yang mensekresi dopamin dipusat-pusat

perilaku otak, termasuk di lobus frontalis, dan atau; (3) abnormalitas fungsi dari

bagian-bagian penting pada pusat-pusat sistem pengatur tingkah laku limbik di

sekeliling hipokampus otak (Guyton,1997:954)

Dopamin telah diduga kemungkinan penyebab skizofrenia secara tidak

langsung karena banyak pasien parkison yang mengalami gejala skizofrenia ketika

diobati dengan obat yang disebut L-DOPA. Obat ini melepaskan dopamin dalam otak,

yang sangat bermanfaat dalam mengobati parkinson, tetapi dalam waktu bersaman

obat ini menekan berbagai bagian lobus prefrontalis dan area yang berkaitan dengan

lainnya. Telah diduga bahwa pada skizofrenia terjadi kelebihan dopamin yang

disekresikan oleh sekelompok neuron yang mensekresikan dopamin yang badan

selnya terletak tegmentum ventral dari mesensefalon, disebelah medial dan anterior

dari sistem limbik, khususnya hipokampus, amigdala, nukleus kaudatus anterior dan

sebagian lobus frefrontalis ini semua pusat-pusat pengatur tingkah laku yang sangat

kuat. Suatu alasan yang sangat kuat. Suatu alasan yang lebih meyakinkan untuk

mempercayai skizofrenia mungkin disebabkan produksi dopamin yang berlebihan


29

ialah bahwa obat-obat yang bersifat efektif mengobati skizofrenia seperti

klorpromazin, haloperidol, dan tiotiksen semuanya menurunkan sekresi dopamin

pada ujung-ujung syaraf dopaminergik atau menurunkan efek dopamin pada neuron

yang selanjutnya (Guyton,1997:954 )

Kerusakan sedikit saja pada otak akan membawa dampak yang luar biasa pada

seseorang, seperti operasi otak, akibat stroke, pasien yang pernah mengalami stroke,

setelah sembuh banyak yang mengalami perubahan kepribadian.

Otak yang pernah mengalami perdarahan, trauma, misalnya seperti akibat

stroke ataupun operasi contohnya pada otak depan atau frontal bagian ventromedial

akan timbul gejala si pasien akan kehilangan moral, tatakrama, tidak bisa

memdudukan diri pada posisi semestinya. Seorang laki-laki bernama Gage usia 25

tahun bekerja di Burlington New England mengalami kecelakaaan kerja, ketika

sebuah besi baja menembus kepalanya dan merusak frefrontal otak, ia lolos dari maut

setelah operasi tapi setelah sembuh malah menjadi orang baru, dari yang ramah, tidak

mudah marah, disiplin menjadi orang yang kasar, mudah tersinggung, tidak disiplin,

Gage berubah menjadi orang yang asing, yang kehilangan aspek moralitas.

Kalau menyimak apa yang Allah firmankan dalam Al-Quran, QS 96:15-16.

Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik

ubun-ubunnya (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Ubun ubun

disini adalah bagian frontal otak, dimana menjadi pusat perilaku manusia, aspek

moralistas manusia, seperti cerita diatas ketika terjadi kerusakan pada frontal Gage, ia

mengalami kelainan afek, perilaku, menjadi kasar, dan kehilangan aspek moralitas.
30

Bagian limbik yang menjadi pusat emosi yang berada di amygdala dan

hippocampus berfungsi mengatur emosi manusia dan memori emosi, menunjukan

seorang penderita epilepsi yang mendapat terapi operasi otak dengan diangkatnya

amigdala dan hypocampus memperlihatkan gejala hiperseks dan rakus setelah

operasi.

Istilah Limbik berarti perbatasan aslinya limbik digunakan untuk menjelaskan

struktur tepi sekeliling regio basal serebrum, dan pada perkembangan selanjutnya

diperluas artinya keseluruh lintasan neuronal yang mengatur tingkah laku emosional

dan dorongan motivasional.

Bagian utama sistem limbik adalah hipotalamus dengan struktur berkaitan,

selain mengatur prilaku emosional juga mengatur kondisi internal tubuh seperti suhu

tubuh, osmolalitas cairan tubuh, dan dorongan untuk makan dan minum serta

mengatur berat badan Fungsi internal ini secara bersama-sama disebut fungsi

vegetatif otak yang berkaitan erat pengaturannya dengan perilaku.

Bagaimana kerja Hipotalamus dan sistem limbik, dalam Guyton diterangkan

Fungsi Perilaku dari Hipotalamus dan Sistem Limbik (Guyton, 1997:937)

1. Perangsangan pada hipotalamus lateral tidak hanya mengakibatkan timbulnya

rasa haus dan nafsu makan tapi juga besarnya aktivitas emosi binatang seperti

timbulnya rasa marah yang hebat dan keinginan berkelahi.

2. Perasangan nukleus ventromedial dan area sekelilingnya bila dirangsang

menimbulkan rasa kenyang dan menurunkan nafsu makan dan binatang

menjadi tenang.
31

3. Perangsangan pada zone tipis dari nuklei paraventrikuler yang terletak sangat

berdekatan dengan ventrikel ketiga (atau bila disertai dengan perangsangan

pada area kelabu dibagian tengah mesensefalon yang merupakan kelanjutan

dari bagian hipotalamus biasanya berhubungan dengan rasa takut dan reaksi

terhukum.

4. Dorongan seksual dapat timbul bila ada rangsangan pada beberapa area

hipotalamus. Khususnya pada sebagian besar bagian anterior dan posterion

hipotalamus.

Hipotalamus, daerah pengatur utama untuk sistem limbik, berhubungan

dengan semua tingkat limbik. Hipotalamus mewakili kurang dari 1 persen masa otak,

namun merupakan bagian penting dari jaras pengatur keluaran sistem limbik. Sebagai

contoh perangsangan Kardiovaskular hipotalamus. Perangsangan efek neurogenik

pada sistem kardiovaskular meliputi kenaikan tekanan arteri, penurunan tekanan

arteri, peningkatan atau penurunan frekuensi denyut jantung. Pada umumnya,

perangsangan bagian posterior dan lateral hipotalamus meningkatkan tekanan arteri

dan frekuensi denyut jantung, sedangkan perangsangan area preoptik sering

menimbulkan efek yang berlawanan. Pengaturan gastrointestinal, dimana

perangsangan pada hipotalamik lateral berhubungan dengan pusat lapar, bila daerah

ini rusak maka pada percobaan binatang, akan terjadi kehilangan nafsu makan

menyebabkan kematian karena kelaparan (lethal starvation). Pusat kenyang terdapat

di nukneus ventromedial, bila daerah ini dirangsang dengan listrik pada binatang

percobaan akan menghentikan makannya dan benar-benar mengabaikan makanannya.


32

Bila area ventromedial ini rusak secara bilateral maka, maka binatang tersebut jadi

rakus, dan terjadi kegemukan yang hebat.(Guyton, 1997:933)

Menurut seorang ahli bedah otak dari Amerika bernama Vilyanur

Ramachandran bahwa ada “God Spot “ di lobus temporalis. Orang yang mengaku

ateis secara lisan, hati kecilnya pasti akan mengakui bahwa ada Tuhan yang mungkin

tidak dikenalnya tapi dia rasakan, karena memang adanya Got spot di bagian

temporal manusia menunjukan bahwa Tuhan sebenarnya telah memperkenalkan

dirinya pada manusia, tapi kadang manusia lalai dan tidak mau mengakui

keberadaannya.

a. Bagian-bagian otak secara anatomis

1. Telensefalon (endbrain)
Hemisferum serebri
Korteks serebri
Rhinensefalon (sistem limbik)
Basal Ganglia
Nukleus Kaudatus
Nukleus lentikularis
Klaustrum
Amigdala

2. Diensefalon (interbrain)
Epitalamus
Talamus
Subtalamus
Hipotalamus

3. Mesensefalon (midbrain)
Korpora quadrigemina
Kolikulus superior
Kolikulus inferior
Tegmentum
Nukleus ruber
Substantia nigra
33

Pedunkulus serebri

4. Metensefalon (afterbrain)
Pons
Serebelum

5. Mienlesefalon (marrow brain)


Medula Oblongata
(Prince,Wilson, 2006:1007)

Gambar 2.1 Otak dan bagian-bagiannya (www.medem.com)

c. Fungsi Bagian-Bagian Otak Cerebral

Fungsi bagian otak dapat dilihat secara singkat pada tabel dibawah ini:

Tabel 2.3
34

Fungsi Otak

Lobus Serebral Fungsi Gangguan


Frontal Penilaian Gangguan Penilaian
Kepribadian bawaan Gangguan Penampilan diri
dan kebersihan diri
Keahlian Mental Kompleks Gangguan Afek
Abstraksi , membuat Gangguan proses fikir
konsep , memperkirakan Gangguan fungsi motorik
masa depan

Memori pendengaran Gangguan memori


Temporal Memori kejadian yang baru kejadian yang baru terjadi
terjadi Kejang Psikomotor
Daerah auditorius primer Tuli
yang mempengaruhi
kesadaran

Parietal Bicara Afasia


Dominan Berhitung (matematika) Agrafia
Akalkulia
Topograhi kedua sisi tubuh Agnosia
Gangguan sensorik
(bilateral)

Kesadaran sensorik Disorientasi


Non Dominan Sintesis ingatan yang Distorsi Konsep Ruang
kompleks Hilang kesadaran sisi
tubuh yang berlawanan

Memori visual penglihatan Defisit penglihatan dan


Oksipital buta
(Prince,Wilson, 2002: 1048)

5. Stress Dan Respon Biologis.

Menurut Rippetoe-Kilgore, Stress adalah kondisi yang dihasilkan ketika

seseorang berinteraksi dengan lingkungannya yang kemudian merasakan suatu


35

pertentangan, apakah itu riil ataupun tidak, antara tuntutan situasi dan sumber daya

system biologis, psikologis dan sosial, dalam terminologi medis, stress akan

mengganggu system homeostasis tubuh yang berakibat terhadap gejala fisik dan

psikologis. Baik secara mental, fisiologi tubuh, anatomi, atau fisik, ”Stress is the

condition that results when person-environment transactions lead the individual to

perceive a discrepancy, whether real or not, between the demands of a situation and

the resources of the person's biological, psychological or social systems. In medical

terms, stress is the disruption of homeostasis through physical or psychological

stimuli. Stressful stimuli can be mental, physiological, anatomical or physical

(Rippetoe-Kilgore, Mark and Lon. 2006)

Richard Lazarus pada tahun 1974 yang membagi stress ke dalam 2 bentuk

yaitu eustress dan distress.( Lazarus RS , 1993:1) stress yang berpengaruh positif

adalah eustress sedangkan distress adalah stress yang bersifat negatif yang

menyebabkan gangguan fungsional maupun organ tubuh.

Istilah stress sendiri ditemukan oleh Hans Selye, seorang ahli fisiologi dari

Universitas Montreal merumuskan bahwa stress adalah tanggapan tubuh yang

sifatnya nonspesifik terhadap aksi tuntutan atasnya. Sehingga tubuh bereaksi secara

emosi dan fisis untuk mempertahankan kondisi fisis yang optimal reaksi ini disebut

General adaptation syndrome (GAS) 1936.

Respon tubuh terhadap perubahan tersebut yang disebut GAS terdiri dari 3

fase yaitu:

a. Waspada, (alarm reaction/reaksi peringatan)


36

Respons Fight or flight (respons tahap awal) Tubuh kita bila bereaksi terhadap

stress, stress akan mengaktifkan sistem syaraf simpatis dan sistem hormon tubuh kita

seperti kotekolamin, epinefrin, norepinefrine, glukokortikoid, kortisol dan kortison.

Sistem hipotalamus-pituitary-adrenal (HPA) merupakan bagian penting dalam sistem

neuroendokrin yang berhubungan dengan terjadinya stress, hormon adrenal berasal

dari medula adrenal sedangkan kortikostreroid dihasilkan oleh korteks adrenal.

Hipotalamus merangsang hipofisis, kemudian hipofisis akan merangsang saraf

simpatis yang mempersarafi:

1. Medula adrenal yang akan melepaskan norepinefrin dan epinefrin;

2. Mata menyebabkan dilatasi pupil;

3. Kelenjar air mata dengan peningkatan sekresi;

4. Sistem pernafasan dengan dilatasi bronkiolus, dan peningkatan pernafasan;

5. Sistem Kardiovaskular (jantung) dengan peningkatan kekuatan kontraksi

jantung, peningkatan frekwensi denyut jantung, tekanan darah yang

meningkat;

6. Sistem Gastrointestinal (lambung dan usus), motilitas lambung dan usus yang

berkurang, kotraksi sfingter yang menurun;

7. Hati, peningkatan pemecahan cadangan karbohidrat dalam bentuk glikogen

(glikogenolisis) dan peningkatan kerja glukoneogenesis, penurunan sintesa

glikogen. Sehingga gula darah akan meningkat di dalam darah;

8. Sistem Kemih terjadi peningkatan motilitas ureter, kontraksi otot kandung

kemih, relaksasi sfingter;


37

9. Kelenjar keringat, peningkatan sekresi;

10. Sel lemak, terjadi pemecahan cadangan lemak (lipolisis);

Adapun lebih jelasnya fungsi dari syaraf simpatis yang terangsang saat terjadinya

stress dapat dilihat di gambar dibawah ini:

Gambar 2.2 Fungsi Syaraf Simpatis dan syaraf Parasimpatis

b. The Stage of resistance (Reaksi pertahanan)

Reaksi terhadap stressor sudah melampaui batas kemampuan tubuh, timbul

gejala psikis dan somatik.

Individu berusaha mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan

psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi untuk mengatur stresor,
38

tubuh akan berusaha mengimbangi proses fisiologi yang terjadi pada fase waspada,

sedapat mungkin bisa kembali normal, bila proses fisiologis ini telah teratasi maka

gejala stress akan turun, bila stresor tidak terkendali karena proses adaptasi tubuh

akan melemah dan individu akan tidak akan sembuh.

c. Tahap kelelahan

Pada fase ini gejala akan terlihat jelas. Karena terjadi perpanjangan tahap awal

stress yang telah terbiasa, energi penyesuaian sudah terkuras, individu tidak dapat lagi

mengambil dari berbagai sumber untuk penyesuaian, timbullah gejala penyesuaian

seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, hipertensi, dispepsia

(keluhan pada gastrointestinal), depresi, ansietas, frigiditas, impotensia.

Bila terjadi stress, kecemasan, kegelisahan, maka tubuh akan bereaksi secara

otomatis berupa perangsangan hormon dan neurotransmiter, untuk menahan stresor,

sehingga penting untuk mempertahankan kondisi mental dan fisik mahluk hidup.

Dalam hal ini stress akan merangsang pusat hormonal di otak yang bernama

hipotalamus (raja endokrin).

Fungsi Hipotalamus disini adalah: mengatur keseimbangan air, suhu tubuh,

pertumbuhan tubuh, rasa lapar, mengontrol marah, nafsu, rasa takut, integrasi respons

syaraf simpatis, mempertahankan homeostasis. Bila syaraf simpatis terangsang maka,

denyut nadi dan jantung akan meningkat, aliran darah ke jantung, otak, dan ototpun

meningkat, sehingga tekanan darah pun akan ikut terpengaruhi, pemecahan gula di

hati meningkat sehingga gula darah ikut meningkat di darah. Kortisol yang

dikeluarkan oleh korteks adrenal karena perangsangan hipotalamus, menyebabkan


39

rangsangan susunan syaraf pusat otak. Tubuh waspada dan menjadi sulit tidur

(insomnia). Kortisol merangsang sekresi asam lambung yang dapat merusak mukosa

lambung. Menurunkan daya tahan tubuh.

Menurut Maramis bila kita tidak dapat mengatasinya stress dengan baik,

maka akan muncul gangguan badan atau gangguan jiwa. Sumber stress psikologik

adalah masalah penyesuaian atau keadaan stress yang dapat bersumber pada frustasi,

konflik, tekanan atau krisis. Dalam stress ada yang disebut daya tahan stress atau

disebut juga nilai ambang frustasi (stress/frustation tolerance, ”frustratic drempel),

yang pada setiap orang berbeda-beda tergantung somato-psiko-sosial orang tersebut.

(Maramis, 1980:65)

Frustasi timbul bila ada aral melintang antara kita dan maksud (tujuan) kita.

Konflik terjadi bila kita tidak dapat memilih antara atau dua lebih macam kebutuhan

atau tujuan. Tekanan juga dapat menimbulkan masalah penyesuaian, biarpun kecil,

bila bertumpuk-tumpuk dapat menjadi stress yang hebat, tekanan seperti juga frustasi

boleh berasal dari dalam maupun dari luar (Maramis, 1980:67-68).

Frustasi digunakan psikolog untuk mengetahui keadaan yang timbul apabila

ada halangan dalam usaha untuk memenuhi keinginan, kebutuhan tujuan, harapan

atau tindakan tertentu.

Frustasi sendiri adalah keadaan dimana satu kebutuhan tidak bisa dipenuhi,

tujuan tidak bisa tercapai. Frustasi ini juga bisa menimbulkan situasi positif atau yang

destruktif (negatif). Reaksi frustasi dengan demikian sifatnya bisa negatif bisa positif.

(Ardani,Rahayu, Solichatun 2006:39)


40

1. Reaksi-reaksi Frustasi yang Sifatnya Positif


a. Mobilitas dan peningkatan aktifitas, karena adanya rangsangan akibat

rintangan, individu memperbesar keuletannya, kerja kerasnya,

keberaniannya, tekatnya untuk menyelesaikan masalahnya.

b. Berfikir mendalam dengan kejernihan

Frustasi memberikan masalah, membuka wawasan realitas, dengan berfikir

lebih obyektif, mencari alternatif jalan keluar yang lebih baik.

c. Regignation ( kapasrahan kepada Allah)

Menerima situasi yang ada dengan nalar dan rasional. Dengan tawakal kepada

Allah, dan iktiar, tapi tetap berpegang pada kekuasaan Allah dalam menyikapi

rintangan

d. Dapat fleksibel sesuai kebutuhan

Bila satu ide sudah tidak dapat dipertahankan lagi, tidak sesuai dengan

kebutuhan, kita dapat mengikuti perkembangan yang ada yang lebih sesuai

dengan tata kehidupan yang baru dan lebih dinamis.

e. Kompensasi dari tujuan

Kompensasi adalah usaha untuk mengimbangi kegagalan dan kekalahan

dalam satu bidang tapi sukses dalam bidang yang lain, sebagai jalan

menghidupkan stimulus dalam diri dan pantang menyerah

f. Sublimasi

Yaitu usaha untuk mengganti kecenderungan egoistic, nafsu seks animalistik,

dorongan biologis primitive dan aspirasi sosial yang tidak sehat dalam bentuk
41

tingkah laku terpuji yang bisa diterima masyarakat, misalnya disalurkan hasrat

sexual ke bidang olah raga, seni dan lain-lain.

2. Reaksi-reaksi Frustasi yang sifatnya Negatif


Reaksi-reaksi ini sangat merugikan individu, ada beberapa reaksi negatif
sebagai berikut:
a. Agresi: yaitu bentuk reaksi kemarahan yang luar biasa, sehingga sampai

melakukan penyerangan terhadap orang lain, bisa dengan senjata tajam,

pembunuhan.

b. Regresi: yaitu reaksi kembalinya seseorang pada pola tingkah laku kekanak-

kanakan, seperti mengompol, mengisap tangan, membanting barang,

menangis sambil meraung-raung, histeris. Tingkah laku diatas ekspresi dari

putus asa, mental yang lemah, ekspersi rasa menyerah kalah.

c. Fixatie: adalah reaksi frustasi dengan melakukan suatu tingkah laku stereotipi

memakai pola yang sama, misalnya menyelesaikan kesulitan dengan

membentur-bentukan kepala, berlari-lari histeris, menggedor-gedor pintu.

Dilakukan sebagai alat pencapaian tujuan, menyalurkan balas dendam.

d. Pendesakan dan komplek terdesak

Usaha menekan kebutuhan, pikiran yang jahat, nafsu, perasaan negatif, karena

ditekan sehingga secara tidak sadar muncul mimpi-mimpi yang menakutkan,

halusinasi, delusi, ilusi, salah baca, dan lain-lain

e. Rasionalisme yaitu usaha pembenaran diri secara tidak wajar.


42

f. Proyeksi adalah usaha memproyeksikan sikap dirinya yang negatif pada orang

lain.

g. Identifikasi adalah usaha menyamakan diri dengan orang lain, tujuannya

untuk memberikan keputusan yang semu pada dirinya sendiri.

h. Narsisme adalah perasaan cinta diri sendiri yang patologis dan berlebihan,

cenderung egoistis dan tidak perduli dengan dunia luar, merasa paling

superior, paling penting.

i. Autisme adalah gejala menutup diri secara total dari dunia diluar dirinya yang

nyata, tidak mau berkomunikasi dengan dunia lain, merasa dunia luar itu

kotor, penuh kepalsuan, sehingga lama-lama konflik batin yang menumpul

mengdesintegrasi kepribadian individu tersebut.

j. Tehnik jeruk manis yaitu memberi alasan yang baik terhadap kegagalan,

kelemahan dirinya. Misalnya seorang panglima perang mengatakan mundur

dari medan perang bukan sebagai kekalahan tapi sebagai taktik international.

k. Tehnik Anggur Asam, Usaha memberikan alasan yang negatif pada

kegagalannya, seperti gagal ujian karena tidak sesuai dengan bahan yang

diberikan.

6. Gangguan Psikosomatik Dan Kekebalan Stress

Psikosomatik menurut kamus Inggris adalah kelainan fisik yang disebabkan

faktor mental seperti stress atau efek yang berhubungan dengan beberapa penyakit.

Psychosomatic Illness, illness that has no basic physical or organic cause but

appears to be the result of psychological conditions, such as stress, anxiety, and


43

depression. Such illnesses reflect the general belief that the mind is capable of

strongly affecting bodily reactions, and that a person’s mental condition can actually

cause changes in the chemistry of the body, thereby creating physical illness. In cases

of psychosomatic illness, a marked change in the body can often be readily

detected.(Microsoft ® Encarta 2008.Microsoft Corporation)

Psychosomatic disorder, now more commonly referred to as

psychophysiologic illness, is an illness whose symptoms are caused by mental

processes of the sufferer rather than immediate physiological causes. If a medical

examination can find no physical or organic cause, if an illness appears to result

from emotional conditions such as anger, anxiety, depression and guilt, then it might

be classified psychosomatic. The interaction between psychological factors and the

immune system is studied in psychoneuroimmunology. Gangguan psikosomatik

umumnya dihubungkan dengan gangguan psikofisiologi, yang lebih cenderung

karena faktor mental daripada penyebab fisiologis, bila pemeriksaan tidak dapat

menemukan gangguan fisik atau organik yang berarti dan gangguan timbul lebih

diakibatkan karena faktor emosional seperti marah, anxietas, depresi, perasaan

bersalah, maka keluhan ini dimasukan dalam gangguan psikosomatik. (Wikipedia, the

free encyclopedia)

Gangguan psikosomatik adalah gangguan atau penyakit dengan gejala-gejala

yang menyerupai penyakit fisis dan diyakini adanya hubungan yang erat antara suatu

peristiwa psikososial tertentu dengan timbulnya gejala-gejala tersebut (IPD

Mudjaddid, Shatri, 684).


44

Gangguan psikosomatik tidak terlepas dari berbagai stresor psikososial

dimana setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan

seseorang, sehingga ia harus menyesuaikan diri menanggulangi segala perubahan

yang timbul, dan jenis-jenis stresor yang timbul misalnya: (1) stresor sosial seperti

masalah pekerjaan, masalah ekonomi, masalah pendidikan, masalah keluarga,

hubungan interpersonal, perkembangan, penyakit fisik, masalah kekerasan rumah

tangga; (2) stresor psikis seperti perasaan rendah diri, frustasi., malu, merasa berdosa;

(3) stresor fisis (panas, dingin, bising, bau yang menyengat, banjir) dan lain-lain.

Keluhan Psikosomatik yaitu keluhan fisik atau jasmani yang diduga berkaitan

erat dengan masalah kejiwaan (mental emosional). Contoh: berdebar-debar, tekuk

pegal, tekanan darah tinggi (gejala kardiovaskular); ulu hati perih, kembung,

gangguan pencernaan (gejala gastrointertinal); sesak nafas, mengik (gejala

respiratorius), gatal, eksim (gejala dematologi); encok, pegal, kejang, sakit kepala

(gejala muskuloskeletal); gangguan haid, keringat dingin disertai berdebar-debar

(gejala hormonal-endokrin).(Yulizar dkk, 2004:21)

6.1 Diagnosa pada gangguan psikosomatik terdiri atas kriteria sebagai berikut:

1. Keadaan pasien tidak menunjukan gejala jiwa atau kelainan psikiatri

(distorsi realita , waham dan sebagainya)

2. Keluhan yang timbul selalu berhubungan dengan emosi tertentu

3. keluhan berganti-ganti dari satu sistem ke sistem yang lain

4. Ditemukan adanya ketidak seimbangan vegetatif

5. Riwayat hidup pasien penuh dengan konflik dan stress


45

6. Terdapat perasaan negatif (dongkol, cemas, sedih, cemburu, dsb)

7. Ada faktor predisposisi (biologis atau perkembangan kejiwaan)

8. Terdapat faktor presipasi/pencentus (fisis, atau psikis)

Tidak harus semuanya harus ada, tetapi apabila terdapat beberapa kriteria yang

sesuai sudah merupakan indikasi kearah gangguan psikosomatik (E, Mujjadid,

Hamzah , IPD, 687)

6.2 Gangguan-gangguan Psikosomatik antara lain :

1. Dispepsia Fungsional , menurut lagarde dan spiro (1984) adalah keluhan tidak

enak diperut bagian atas yang bersifat intermitten, sedang pada pemeriksaan

tidak ada kelainan organik. Patofisiologi rangsangan psikis terhadap asam

lambung dipengaruhi oleh syaraf otonom cara dengan jalur syaraf, konflik

emosi mempengaruhi kerja hipotalamus anterior nukleus vagusnervus

vagus lambung. Jalur kedua, dari hipotalamus anterior, kemudian keluar

kortikotropin  merangsang korteks adrenalasam lambung.

2. Hipertensi esensial, diagnosa ini ditegakkan karena hingga kini belum

ditemukan penyebab, morfologis, kimiawi atau diagnosa klinis yang

membuktikannya, sehingga untuk menetapkan diagnosa nya harus disisihkan

penyebab adanya gangguan ginjal, hormonal, jantung, dan syaraf. Hipotesa

Groen bahwa pasien hipertensi sebagian besar memiliki kepribadian obsesi

kompulsif dengan predisposisi emosi yang tinggi. Kebutuhan cinta yang

besar, kebutuhan kekuasaan . membuat mereka tidak mudah melupakan dan


46

memecahkan konflik dan penyesuaian diri terhadap tekanan dan perubahan

keadaan

3. Asma bronkiale dikenal sebagai gangguan pernafasan dengan terhalangnya

aliran ekspirasi , sehingga ketika itu akan terdengar wheezing atau mengi.

Penyakit yang sebabnya multifaktorial ini selalu dihubungkan dengan konflik

psikis

4. Depresi , merupakan gangguan afektif yang ditandai dengan adanya mood

depresi (sedih). Hilang minat dan mudah lelah. Pada umumnya pasien datang

ke klinik penyakit dalam dengan keluhan somatik, (PABDI,2006: 269)

Pada Panduan Pelayanan Medik (PAPDI) diagnosa Depresi meliputi:


Gejala A :
- Perasaan sedih , tidak bisa menikmati hidup
- Kurang atau tidak ada perhatian pada lingkungan
- Mudah lelah
Gejala B :
- Konsentrasi dan perhatian yang kurang
- Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang
- Perasaan bersalah tidak berguna
- Pandangan masa depan suram/pesimis
- Tidur terganggu
- Nafsu makan kurang/bertambah
Diagnosa ditegakkan apabila ada gejala-gejala tersebut dengan atau tanpa
gejala somatik, derajat depresi :
1. Ringan : 2 gejala A dan 2 gejala B
2. Sedang : 2 gejala A dan 3 gejala B
3. Berat : 3 gejala A dan 4 gejala B
47

5. Ansietas merupakan kecemasan yang berlebihan dan lebih bersifat subyektif.

Pada umumnya pasien datang ke poliklinik dengan keluhan somatik, dengan

gejala cemas berlebihan(PABDI , 2006: 275)

Gejala Ansietas
Diagnosa ansietas
1. Perasaan cemas berlebihan, subyektif , tidak realistis
2. Terdapat Keluhan dan gejala sebagai berikut:
- Ketegangan motorik : kedutan otot, kaku, pegal, sakit dada, sakit
persendian.
- Hiperaktif otonom : sesak nafas, jantung berdebar, telapak tangan basah,
mulut kering, rasa mual, mules , diare
- Bila ditemukan adanya kelainan organis pada umumnya keluhan tidak
sebanding dengan kelainan organ yang ditemukan
- Kewaspadaan berlebihan dan daya tangkap berkurang : mudah terkejut,
cepat tersinggung, sulit konsentrasi, sukar hidup, dan lain-lain
3. Aktifitas sehari-hari terganggu: kemampuan kerja menurun , hubungan
sosial yang terganggu, dan kurang merawat diri.
6. Nyeri Psikogenik adalah keluhan nyeri yang penyebabnya bukan penyebab

penyakit organik ditemukan gejala nyeri tampa kelainan organ yang jelas

misalnya nyeri kepala, migren, mialgia, atralgia, kolik abdomen, ada stresor

psikososial. Disertai dengan gejala depresi dan ansietas.

7. Chronic Fatique Syndrome

Sindrom lelah kronik adalah rasa lelah yang berlangsung lama dan tidak

hilang dengan istirahar tanpa penyebab organik yang jelas.


48

Mempunyai gejala utama adanya rasa lelah berkepanjangan yang terus

menerus berkepanjangan, dan bertambah bila melakukan aktivitas atau saat

stress emosional dan tidak pulih sepenuhnya dengan istirahat. Mempunyai

gejala tambahan yang dapat disertai seperti mialgia, sefalgia, nyeri sendi,

nyeri tenggorokan, demam, limfadenopati terutama bagai leher atau aksila,

juga terdapat gejala-gejala neuropsikologis seperti depresi, kecemasan,

insomnia. Gejala terutama dalam 6 bulan atau disertai minimal empat gejala

tambahan, dan tidak didapatkan penyakit kronis lainnya.(E.Mudjaddin, 196)

8. Penyakit Jantung Fungsional (neurosis kardiak)

Penyakit dengan keluhan seperti penyakit jantung, tanpa disertai kelainan

organik, Dengan keluhan adanya sakit dada yang tidak khas, sesak nafas,

dapat menyerupai angina pektoris, berdebar, rasa jantung seakan berhenti, rasa

ingin mati, mudah terkejut, adanya cemas yang berlebihan, biasanya timbul

sudah serin sebelum pasien datang kerumah sakit. Stresor pencetusmya jelas

kecuali ansietas panik, pada pemeriksaan tidak didapat kelainan yang spesifik,

dapat dijumpai adanya takikardia, aritmia, kadang-kadang prolaps katup

mitral, pada EKG didapat elevasi/depresi segmet ST.(Hamzah Shatri, IPD.

2000:194)

9. Sindrom Hiperventilasi

Dengan keluhan sesak nafas yang tidak khas, merasa kekurangan udara

sehingga harus menarik nafas panjang, sering disertai adanya takipnea, dan

rasa sempit didada, kadang disertai adanya keluhan pada jantung , parestesi.
49

Badan terasa enteng, gejala fisik yan glain tidak khas, adanya gangguan

emosional terutama rasa takut, stresor psikososial.(Hamzah Shatri,IPD.

2000:195)

10. Sindrom Kolon Iritabel

Adalah sakit perut disertai gangguan buang air besar tanpa dijumpai kelainan

organik. Ditandai dengan rasa nyeri/tidak enak, diperut disertai diare atau

konstipasi , perut kembung, yang tampak dengan jelas, rasa nyeri diperut

hilang setelah buang air besar, keluhan psikis menonjol seperti gejala ansietas

atau depresi, feses yang lembek pada saat timbulnya rasa sakit, feses campur

lendir dan tidak berdara., penurunan berat badan tidak lebih dari 5 % dalam

satu tahun terakhir, pemeriksaan feses tidak ditemui pararsis dan penemuan

barium enema maupun kolonoskopi normal.(E. Mudjaddid, 2000:197)

6.3 Terapi gangguan psikosomatik

Terapi dilakukan secara holistik atau keseluruhan, karena tidak hanya dengan

obat saja tapi juga dengan berbagai faktor. Menurut Hawari terapi dilakukan meliputi

segi psikologik, organobiologik, psikososial, dan spiritual. Dengan psikoterapi

psikiatrik, psikoterapi agama, psikofarmaka. Terapi somatik, relaksasi dan terapi

perilaku
50

MANUSIA

BADAN JIWA SPIRITUAL LINGKUNGAN

SOMATOTERAPI MOTIVASI
PSIKOTERAPI SOSIOTERAPI
BERIBADAH

Gambar 2.3 Terapi secara Holistik

Dan diperlukan diagnosa multiaksial yang meliputi:

aksis 1 : Jenis gangguan Jiwa,

aksis 2 : Aspek/gangguan kepribadian,

aksis 3 : kelainan fisik (organ),

aksis 4 : Stresor psikososial,

aksis 5 : kemampuan adaptasi dalam tahun terakhir.

6.3.1 Pengobatan Gangguan Psikosomatik terdiri dari beberapa hal yaitu

adalah sebagai berikut.

(1) Farmakoterapi atau dengan menggunakan obat-obatan yang sesuai dengan

keluhan (simtomatis), fisioterapi , bisa juga sampai operatif. Yang tidak kalah

pentingnya reedukasi, memberi pendidikan kepada pasien untuk menjalankan


51

pola hidup yang sehat. Untuk obat anti depresan memerlukan waktu antara 2 – 3

minggu, dan perubahan akan dirasakan bertahap. Dilatasi pupil menandai dosis

yang cukup, dan pengobatan diteruskan selama 3 bulan dan berangsur dikurangi.

Dan tidak perlu takut menjadi ketagihan (addicted) karena memerlukan waktu

yang lama. Tahapan perubahan yang ada akan meliputi pulihnya nafsu makan,

pola tidur, energi, dan depresinya sendiri merupakan perubahan pada tahap akhir.

Obat yang digunakan antara lain: seperti :(a) Golongan tricyclic dan tetracyclic

anti depresan (TCAs) contohnya imipramine (Tofranil), amitriptyline (laroxyl),

Doxepin, Maprotiline (Ludiomil), clomipramine, mianserin (Tolvon). (b)

Golongan monoamine oxidase inhibitor (MAOIs) seperti moclobemide (Aurorix).

(c) golongan anti depresan atipikal seperti Opipramol di HCl (insidon),

Amineptine (Survector), Trazodone, (d) Golongan SSRI seperti Setraline Hcl

(Zoloft). Paroksetin, fluoksetin, fluvoksamin.

Secara farmakologi kerja obat anti depresi misalnya penghambat Mono Amin

Oksidase yang digunakan sejak lama. MAO dalam tubuh berfungsi dalam proses

deaminasi oksidatif katekolamin di mitokondria. Proses ini dihambat oleh

Penghambat MAO akubatnya kadar epinefrin, norepinefrin, dan 5-HT naik dalam

otak

(2) Psikoterapi dengan bersikap empati kita terhadap pasien, diberi kesempatan

pasien untuk mengutarakan isi hatinya (ventilasi) dengan demikian mereka dapat

merasa tenang, puas dan lega, beban yang terasa bisa menjadi lebih ringan,
52

ketegangan jiwanya bisa lebih rileks, memberikan edukasi, pendidikan dan

meluruskan pendapat akan apa yang dideritanya.

(3) Memberi Motivasi beribadah, bahwa ibadah adalah mendekatkan diri kita kepada

yang Maha yaitu Allah , sebagai tempat kita bergantung dan mengadu,

mengingatnya, akan memberi ketenangan jiwa, yang kemudian akan

meningkatkan daya tahan mental dan imunitas tubuh pasien tersebut.

(4) Sosioterapi, dimana anggota keluarga dan lingkungan sekitarnya diajak ikut serta

membantu pasien agar memberi dukungan penyembuhan terhadap hal-hal yang

memberikan stresor pada pasien tersebut.

(5) Meningkatkan kekebalan stress, Menurut Dadang Hawari ada beberapa

pengelolaan terhadap stress, yaitu:

a. Olah raga

Dengan olah raga yang teratur minimal 2 kali seminggu , tubuh ini dapat lebih

bugar, dan lebih sehat sehingga mental dan kekebalan tubuh dapat lebih

meningkat.

b. Rekreasi

Rekreasi dapat membebaskan diri dari kejenuhan pekerjaan atau kehidupan

yang monoton amat baik memulihkan ketahanan fisik dan mental, rekreasi

dapat dilakukan bersama pasangan kita, agar hubungan bisa selalu mesra, dan

juga rekreasi bersama anak sehingga sarana komunikasi diantara anggota

keluarga bisa berjalan efekif, mempererat hubungan psikososial diantara

anggota keluarga.
53

c. Kasih sayang

Perhatian kita terhadap anak , istri atau suami, hubungan harmonis yang terus

terjaga akan memberi ketentraman batin dan kedamaian, menurut Hawari,

penelitian menunjukan bahwa 80 % stress disebabkan oleh adanya masalah

dalam hubungan antara suami-istri, dan merupakan faktor dominan bagi

menurunnya daya tahan atau kekebalan seseorang terhadap stress.

d. Sosial ekonomi

Pengelolaan keuangan yang baik tidak akan memberi dampak stress, apalagi

bila tidak dapat mengatur pengeluaran yang lebih besar pasak dari pada tiang,

atau mengejar status tampa melihat kemampuan dan penghasilan.

e. Rokok

Menurut Hawari , penelitian membuktikan bahwa jangan merokok lebih dari

10 batang sehari, lebih dari itu tubuh tidak akan mampu menetralisir efek

negatif rokok, tapi yang lebih baik tidak merokok. Tiap satu batang rokok usia

diperpendek 12 menit.

f. Pergaulan/Silaturahmi

Manusia tidak dapat hidup tampa manusia lain karena manusia adalah mahluk

sosial yang memerlukan teman, sahabat, tempat bertukar pikiran, tetangga

adalah saudara terdekat, hubungan yang terjalin baik dan harmonis dengan

orang lain membuat hidup kita jadi lebih berarti.

g. Tidur
54

Tidur yang teratur 7-8 jam sehari amat baik untuk memulihkan segala

keletihan fisik dan mental. Bila kita kurang tidur, maka daya tahan tubuh akan

turun, badan tidak bugar, pekerjaan jadi tidak lancar. Maka kekebalan tubuh

kita terhadap stress akan berkurang

h. Makanan

Makan yang seimbang dan teratur, tidak berlebihan maupun kekurangan,

memberi dampak bagi kesehatan fisik dan kekebalan tubuh .

i. Waktu

Pengelolaan waktu yang baik, apakah lebih banyak menghabiskan waktu

menonton TV, kurang membaca buku untuk menambah ilmu pengetahuan,

sehingga waktu terbuang percuma.

j. Agama

Seperti yang telah dijelaskan diatas, penghayatan agama yang baik akan

memberikan dampak terhadap bagaimana kita memaknai hidup ini.

Kemantapan beragama membawa kita kepada ketenangan hidup kita.

Pemahaman yang salah terhadap sesuatu yang musyrik, bisa membuat kita

terjebak terhadap perilaku yang tidak benar, sehingga pemahaman spitual kita

tercampur dengan yang batil.

Bila terjadi stress, kecemasan, kegelisahan, maka tubuh akan bereaksi secara

otomatis berupa perangsangan hormon dan neurotransmiter, untuk menahan stresor,

sehingga penting untuk mempertahankan kondisi mental dan fisik mahluk hidup.
55

Dalam hal ini stress akan merangsang pusat hormonal di otak yang bernama

hipotalamus (raja endokrin).

6.3.2 Pengukuran Kekebalan Stress (Miller & Smith)

Adalah suatu alat ukur untuk mengetahui taraf kekebalan terhadap stress dari

seseorang, terdapat 20 item dimana masing-masing score diberi nilai 1-5, angka score

1 ( selalu dikerjakan) dan score 5 (tidak pernah dikerjakan), sesuai dengan ukuran

berapa jauh berlakunya bagi yang bersangkutan, untuk memperoleh kekebalan,

jumlah nilai score diatas dan lalu dikurangi dengan 20. Jumlah angka score kurang

dari 30, orang tersebut kebal, Score diatas 30 kurang kebal dan score diatas 50 yang

bersangkutan tidak kebal terhadap stress. Dengan kekebalan stress yang baik,

diharapkan seseorang tidak mudah menderita penyakit fisik maupun mental. Karena

dengan pola hidup yang baik seperti yang ada dalam pengelolaan kekebalan stress,

maka pencegahan terhadap penyakit akan meningkat, dibawah ini terdapat tabel

wawancara yang dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana kekebalan kita

terhadap stress.

Tabel 2.4
Kekebalan stress Miller & Smith

No Item Score 1- 5
1 Tiap hari saya sedikitnya sesekali menghadapi makanan yang
hangat dan berimbang
2 Sedikitnya empat malam dalam seminggu saya tidur 7 – 8 jam
3 Saya secara teratur menerima dan memberi kasih sayang
4 Sedikitnya saya mempunyai seseorang saudara dalam jarak 75
56

Km yang bisa saya andalkan


5 Setidaknya dua kali seminggu saya gerak badan sampai
berkeringat
6 Saya merokok kurang dari setengah pak sehari
7 Dalam seminggu saya kurang dari 5 kali minum alkohol
8 Saya mempunyai penghasilan cukup untuk menutup
pengeluaran pokok
9 Berat badan saya sesuai dengan tinggi badan
10 Saya memperoleh kekuatan dari agama saya
11 Saya secara teratur menghadiri kegiatan-kegiatan seperti,
kegiatan arisan atau sosial
12 Saya mempunyai lingkungan bersahabat dan kenalan
13 Saya mempunyai sahabat atu atau lebih kepada siapa saya
dapat percaya soal-soal pribadi saya
14 Kesehatan saya baik (termasuk mata, telinga, dan gigi)
15 Saya bicara terus terang mengutarakan perasaan hati diwaktu
marah atau gelisah
16 Saya secara teratur bercakap-cakap dengan orang-orang dengan
siapa saya tinggal, soal urusan domestik misalknya kebersihan
rumah dan kehidupan sehari-hari
17 Setidaknya seminggu sekali saya melakukna sesuatu untuk
hiburan
18 Saya bisa mengatur waktu secara efektif
19 Dalam sehari saya minum kurang dari 3 cangkit kopi/teh atau
cola
20 Saya setiap hari mencari waktu untuk ketenangan diri
total

6.3.3 Strategi menghadapi stress dalam perilaku


a. Memecahkan Persoalan dengan Cara Yang Tenang

Seseorang menyikapi stress dan kecemasannya dengan menentukan langkah-

langkah pemecahannya dengan cara yang bijak, mengevaluasi, membuat

perencanaan kembali dan iktiar disertai ketaqwaan terhadap Allah SWT.

b. Menarik diri respon paling umum, seseorang memilih untuk tidak mengambil

tindakan apa-apa, biasanya disertai sikap apatis dan depresi.


57

c. Mengelak, individu yang mengalami stress yang beralut-larut cenderung

berprilaku mengelak, melakukan prilaku berulang tertentu misalnya dengan

minum-minum alkohol, obat-obat terlarang.

d. Agresi, stress yang di akhiri dengan marah dan sikap agresi sebagai respon

penyesuaian diri.

e. Regresi yaitu kondisi menghadapi stress dengan prilaku mundur kekanak-

kanakan, ini merupakan respon umum frustasi.

6.3.4. Strategi menghadapi stress secara kognitif


Untuk mengatasi stress secara kognitif pada seseorang antara lain dengan

(Ardani, Rahayu, Sholichatun,2007:45)

a. Intelektualisasi , individu menggunakan taktik , dipelajari masalahnya dengan

mencari tahu tujuan sebenarnya agar tidak terlalu terlibat dalam persoalan

secara emosional. Dengan cara ini seseorang dapat mengurangi pengaruh

yang tidak menyenangkan dirinya, sehingga ada kesempatan baginya

menelaah persoalannya secara subjektif.

b. Proyeksi, dengan tehnik ini seseorang dengan cepat menunjukan ciri pribadi

orang lain yang tidak disukainya dengan sesuatu yang kemudian dibesar-

besarkan. Dipakai untuk mengurangi kecemasannya karena harus berhadapan

dengan kebururkannya sendiri.

c. Represi adalah usaha seseorang menyingkirkan kecemasan, stress dan

frustasinya .
58

d. Fantasi, dengan menghayal, seseorang membayangkan dirinya telah mencapai

tujuannya, keberhasilannya, bila fantasi ini dilakukan tidak berlebihan dan

dengan pengendalian kesadaran yang baik , fantasi dapat dipakai sebagai cara

yang cukup baik menghadapi stress.

e. Rasionalisasi dipakai sebagai usaha seseorang mencari alasan yang dapat

diterima secara sosial untuk menutupi kelakuannya yang buruk, untuk menipu

diri sendiri dengan menganggap baik yang buruk dan menganggap yang buruk

sebagai yang baik.

f. Menyangkal kenyataan

Menipu diri sendiri dengan menyangkal kenyataan, ia melindungi diri sendiri

dengan mengatakan belum berpengalaman.

6.3.5 Cara mengatasi stress

Setiap orang mempunyai cara masing-masing dalam menyelesaikan

masalahnya tergantung dari standar budaya dimana ia dibesarkan, gaya perlakuan

orang tua sehingga terbentuk kepribadian seorang anak, tingkat kognitif

mempengaruhi seseorang mengatasi stressnya, penyesuaian dirinya terhadap stress

Perlakuan orangtua terhadap anak yang memberikan konstribusinya terhadap

kompentensi sosial, emosional, dan intelektual anak.

Pada penelitian oleh Diana Baumrind di bedakan adanya pola pengasuhan

orang tua yang bersikap Authoritarian, permissive, authotaritative. Pada penelitian

yang dilakukan oleh hurlock, shneiders dibedakan pola perilaku orang tua kedalam 7
59

kriteria yaitu: overprotective, permissive, rejection, acceptance, domination,

submission, puniveness (overdisipline). (Syamsu Yusuf ,2005 :51)

Becker, Deutsch, Kohn, sheldon, tentang kaitan antara pola asuh orang tua

berdasar kelas sosial (Samsu Yusuf ,2005:53) sebagai berikut:

a) kelas bawah cenderung lebih keras dan menggunakan hukuman fisik terjadap
kelas menengah, anak dari kelas bawah bersikap lebih agresif, independen,
lebih awal dalam pengalaman seksual;
b) kelas menengah cenderung lebih memberikan pengawasan dan perhatian
sebagai orang tua. Para ibunya merasa bertanggung jawab terhadap tingkah
laku anak-anaknya dan menerapkan ambisi untuk meraih status tinggi, dan
menekan anak untuk mengejar statusnya melalui pendidikan dan latihan
profesional;
c) kelas atas cenderung lebih memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan
tertentu, lebih memiliki latar belakang pendidikan yang reputasinya tinggi,
dan biasanya senang mengembangkan apresiasi estetikanya, anak-anaknya
cenderung memiliki rasa percaya diri dan cenderung memanipulasi aspek
realititas;

Tabel 2.5 Pola Asuh Orang tua terhadap Perilaku Anak (Syamsu Yusuf, 2005:50-51)
60

Pola Asuh Sikap Perilaku Orang Tua Profil Perilaku Anak

Authoritarian Sikap ”acceptace” rendah, namun Mudah tersinggung, penakut,


kontrolnya tinggi, suka pemurung , tidak bahagia, mudah
menghukum secara fisik, bersikap terpengaruh, mudah stress, tidak
mengkomando mempunyai arah masa depan yang
(mengharuskan/memerintah anak jelas, tidak bersahabat
untuk melakukan sesuatu tanpa
kompromi, bersikap kaku ,
cenderung emosional dan bersikap
menolak

Permissive Bersikap impulsif dan agresif,


Sikap ”acceptance” tinggi namun suka memberontak, kurang
kontrolnya rendah, memberikan memiliki rasa percaya diri dan
kebebasan terhadap anak untuk pengendalian diri, suka
menyatakan dorongan mendominasi, tidak jelas arah
keinginannya hidupnya , rendah prestasinya

Authoritative Sikap ”acceptance” dan kontrolnya Bersikap bersahabat, memiliki rasa


tinggi, bersikap responsif terhadap percaya diri, mampu
kebutuhan anak, mendorong anak mengendalikan diri , bersikap
untuk menyatakan pendapat atau sopan, mau bekerja sama,
pertanyaan, memberikan penjelasan memiliki rasa ingin tahunya yang
tentang dampak perbuatan yang tinggi, mempunyai arah hidup
baik dan buruk yang jelas, merorientasi terhadap
prestasi.

Domination Mendominasi anak Bersikap sopan dan sangat berhati-


(dominasi) hati, pemalu, penurut, inferior dan
mudah bingung, tidak dapat
bekerja sama

Submission Senantiasa memberikan sesuatu Tidak patuh, tidak bertanggung


(penyerahan) yang diminta anak berperilaku jawab, agresif, teledor, bersikap
semaunya dirumah otoriter, terlalu percaya diri

Punitiveness Mudah memberikan hukuman, Impulsif, tidak dapat mengambil


(overdiscipline menanamkan kedisiplinan secara keputusan, nakal, sikap
) keras bermusuhan/agresif
61

6.3.6 Macam-Macam Kepribadian Manusia

Menurut PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa di

Indonesia III). Pada Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ III (Rusdi,2000:102-105)

Terdapat Yang di sebut dengan diagnosa Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa

dewasa antara lain adalah sebagai berikut:

1. Gangguan Kepribadian paranoid dengan ciri-ciri:

a. Kepekaan berlebihan terjadap kegagalan dan penolakan;


b. kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam;
c. kecurigaan dan kecenderungan mendistorsikan pengalaman dengan
menyalah artikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat
sebagai suatu sikap permusuhan dan penghinaan;
d. perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa
memperhatikan situasi yang ada (actual situation);
e. kecurigaan yang berulang, tanpa dasar (justification) tentang kesetiaan
seksual dari pasangannya;
f. kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan yang
bermanifestasi dalam sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri (self-
referential attitude);
g. preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidak
substatantuf dari suatu peristiwa baik yang menyangkut diri pasien
sendiri maupun dunia pada umumnya.
Untuk mendiagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
2. Gangguan kepribadian Skizoid, ditandai dengan deskripsi berikut:
a. sedikitnya (bila ada) aktivitas yang memberikan kesenangan;
b. emosi dingin, efek mendatar, atau tak peduli (detachment);
c. kurang mampu untuk mengekspresikan kehangatan, kelembutan atau
kemarahan terhadap orang lain;
62

d. tampak nyata ketidak-pedulian baik terhadap pujian maupun kecaman;


e. kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual dengan orang
lain (perhitungkan usia penderita);
f. hampir selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri;
g. preokupasi dengan fantasi dan intropeksi yang berlebihan;
h. tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab
(kalau ada hanya satu) dan tidak ada keinginan untuk menjalin
hubungan seperti itu;
i. sangat sensitif terhadap norma dan kebiasaan sosial yang berlaku;
Untuk mendiagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas,
3. Gangguan kepribadian Dissosial
a. bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain;
b. sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus-
menerus (persistent), serta tidak peduli terhadap norma, peraturan dan
kewajiban sosial;
c. tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama,
meskipun tidak ada kesulitan untuk mengembangkannya;
d. toleransi terhadap frustasi sangat rendah dan ambang yang rendah
untuk melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan;
e. tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari
pengalaman, khususnya dari hukuman;
f. sangat cenderung menyalahkan orang lain, atau menawarkan
rasionalisasi yang masuk akal, untuk perilaku yang membuat pasien
konflik dengan masyarakat;
Untuk diagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
4. Gangguan kepribadian emosional tak stabil
a. terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara
impulsif tanpa mempertimbangkan konsekuensinya;
63

b. dua varian yang khas adalah berkaitan denga impulsivitas dan


kekurangan pengendalian diri;
5. Gangguan Kepribadian Histrionik
a. ekspresi emosi yang dibuat-buat (self dramatization) seperti
bersandiwara (theariticality) yang dibesar-besarkan (exaggerated);
b. bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau oleh
keadaan;
c. keadaan afektif yang dangkal dan labil;
d. terus-menerus mencari kegairahan (excitement). Penghargaan
(appreation) dari orang lain, dan aktivitas dimana pasien menjadi pusat
perhatian;
e. penampilan atau perilaku ”merangsang” (seductive) yang tidak
memadai;
f. terlalu peduli dengan daya tarik fisik;
Untuk diagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas
6. Gangguan Kepribadian Anankastik ditandai dengan ciri-ciri:
a. perasaan ragu-ragu dan hati-hati yang berlebihan;
b. preokupasi dengan hal-hal yang rinci (detail), peraturan, daftar, urutan,
organisasi, atau jadwal;
c. perfeksionisme yang mempengaruhi penyelesaian tugas;
d. ketelitian yang berlebihan, terlalu berhati-hati, dan keterikatan yang
tidak semestinya pada produktifitas, sampai mengabaikan kepuasan
dan hubungan interpersonal;
e. keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan pada kebiasaan sosial;
f. kaku dan keras kepala;
g. pemaksaan yang tak beralasan agar orang lain mengikuti persis
caranya mengerjakan sesuatu atau keengganan yang tak beralasan
untuk mengizinkan orang lain mengerjakan sesuatu;
64

h. mencampur-adukan pikiran dan dorongan yang memaksa dan yang


enggan.
Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
7. gangguan kepribadian Cemas (menghindar)
a. perasaan tegang dan taku yang menetap dan pervasif;
b. merasa dirinya tidak mampu, tidak menarik atau lebih rendah dari
orang lain;
c. preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan penolakan dalam
situasi sosial;
d. keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin
akan disukai;
e. pembatasan dalam gaya hidup karena alasan keamanan fisik;
f. menghindari aktivitas sosial atau pekerjaan yang banyak melibatkan
kontak interpersonal karena takut dikritik, tidak didukung atau ditolak.
Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas
8. Gangguan Kepribadian Dependen
a. mendorong dan membiarkan orang lain untuk mengambil sebahagian
besar keputusan penting untuk dirinya;
b. meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah dari orang lain kepada
siapa ia bergantung dan kepatuhan yang tidak semestinya terhadap
keinginan mereka;
c. keengganan untuk mengajukan permintaan yang layak kepada orang
dimana tempat ia bergantung;
d. perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian, karena
ketakutan yang dibesar-besarkan tentang ketidak mampuan mengurus
diri sendiri;
e. preokupasi dengan ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang dekat
dengan nya dan dibiarkan untuk mengurus dirinya sendiri;
65

f. terbatasnya kemampuan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa


mendapat nasehat yang berlebihan dan dukungan dari orang lain.
Untuk diagnososa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas

7. Motivasi Manusia

Dalam melakukan semua hal manusia harus mempunyai motivasi, dengan

motivasi yang baik maka akan timbul prilaku dan sikap yang baik.

Motivasi dalam kamus Inggris berarti memberikan alasan kepada seseorang

untuk bereaksi , aksi yang memberi seseorang alasan atau insentif melakukan sesuatu.

Giving of reason to act: the act of giving somebody a reason or incentive to do

something (Encarta 2006, Microsofword).

Menurut Syamsudin Makmun Banyak definisi tentang motivasi, namun pada

intinya motivasi berbicara tentang :

a. Suatu kekuatan (power) atau tenaga (forces) atau daya (energy) atau

b. Keadaan Kompleks (a complek state) dan kesiapsediaan (preparatory

set) dalam diri individu organisme untuk bergerak (to move, motion,

motive) kearah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari

Dipandang dari segi motifnya setiap gerak perilaku manusia selalu

mengandung tiga aspek yang kedudukannya bertahap yaitu:

2. Motivating states (timbulnya kekuatan yang terjadi akibat adanya kebutuhan

jaringan atau sekresi, gejolak hormonal dalam diri organisme atau karena

terangsang oleh stimulus tertentu.


66

3. Motivated behavior (bergeraknya organisme ke arah tujuan tertentu sesuai

dengan kebutuhan yang hendak dipuaskan. Dengan demikian setiap perilaku

pada hakikatnya bersifat instrumental (sadar atau tidak sadar)

4. Satisfied conditions (dengan berhasilnya dicapai tujuan yang diinginkan) yaitu

stabilnya homeostasis, rasa puas, namun secara kenyataan, tidak semuanya

kebutuhan dapat terpenuhi menurut keinginan sehingga timbullah stress dan

frustasi.

Syamsuddin Makmun menggambarkan lingkaran gerak dinamik, karena

terjadinya metabolisme, pelepasan kalori, perangsangan kembali, kepuasan

bersifat temporal . oleh karena itu gerak dinamik prose prilaku yang sebenarnya

terjadi secara siklik seperti dibawah ini:


67

Gambar 2.4 Alur Motivasi

Motif

Rasa puas
Lega/kecewa
Prilaku
Lingkaran
instrumental
motivasi

insentif

Beberapa Cara Pengukuran dan Usaha Peningkatan Kekuatan Motivasi:


68

Meskipun motivasi merupakan sesuatu kekuatan, Namun tidaklah merupakan

substansi yang dapat kita amati . Yang dapat kita lakukan ialah mengidentifikasi

beberapa indikator dalam term-term tertentu antara lain: (Syamsuddin Makmun

2005:40):

Indikator Motivasi sendiri terdiri atas 8 item yaitu:

1. Durasinya kegiatan (berapa lama kemapuan penggunaan waktunya untuk

melakukan kegiatan);

2. Frekwensinya kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode

tertentu);

3. Persistensinya (ketetapan dan kelekatannya ) pada tujuan kegiatan

5. Ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan dan

kesulitan memcapai tujuan;

6. Devosi (pengabdian) dan pengorbanan (uang , tenaga, pikiran, bahkan jiwa)

untuk mencapai tujuan.

7. Tingkatan aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran , target dan

idolanya) yang hendak dicapai dengan kegiatan ingin dilakukan

8. Tingkatan kualifikasinya prestasi atau output yang ingin dicapai dari

kegiatannya, apakah memuaskan

9. Arah sikap terhadap sasaran kegiatan (suka atau tidak suka)

Dengan melihat indikator tersebut diatas maka berbagai tehnik pendekatan dan

pengukuran dapat dilakukan


69

1. Test tindakan (performance test) disertai observasi untuk memperoleh

informasi .

2. Kuesioner dan inventory terhadap subyek untuk memdapatkan informasi

tentang devosi dan pengorbanan aspirasinya

3. Test prestasi dan skala sikap untuk mengetahui kualifikasi dan arah sikap.

Menurut Az-zahrani (2005:96) motivasi (dorongan diri) adalah kekuatan yang

mampu memunculkan aktivitas dalam diri manusia. Hal ini dimulai dari adanya

perilaku yang diarahkan pada tujuan tertentu yang menjadikan aktivitas tersebut

adalah satu tugas yang harus dilaksanakan, motivasi inilah yang mampu mendorong

manusia dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya, sebagaimana ia pula yang

mendorong manusia dalam melaksanakan banyak kegiatan penting yang bermanfaat

yang sesuai dengan keinginan.

Motivasi menurut stagner dibagi menjadi 3 bagian: (1) motivasi-motivasi

biologis yang menyatakan bentuk primer atau dasar yang menggerakan kekuatan

seseorang yang timbul sebagai akibat dari keperluan organik seperti lapar, dahaga,

kekurangan udaram letih; (2) emosi seperti rasa takut, marah , gembira, cinta, benci

dan jijik, emosi-emosi seperti ini menunjukkan adanya keadaan-keadaan dalam yang

mendorong seseorang untuk mengerjakan tingkah laku tertentu. ini berbeda dengan

motivasi biologis yang tidak secara langsung berhubungan denga keperluar organik;

(3) Nilai-nilai dan minat : nilai-nilai dan minat seseorng bekerja sebagai motivasi-

motivasi yang mendorong seseorang membuat tingkah laku seseai dengan nilai dan

minat yang dimilikinya. Sudah tentu seseorang yang beragama terdorong oleh nilai-
70

nilai yang dimilikinya dalam segala tingkah lakunya. Seseorang yang cenderung

mengerjakan jenis aktivitas tertentu akan selalu terdorong untuk mengerjakan

aktivitas-aktivitas yang diminatinya, nilai dan minat tidak ada hubungannya dengan

struktur fisiologis seseorang (Langgunung, 1992,55-56)

Motivasi dibagi menjadi 2 bagian penting yaitu: (1) Motivasi Utama atau

motivasi Psikologi; (2) Motivasi Kejiwaan (spiritual). (Az-Zahrani ,2005:97)

Motivasi utama atau psikologi adalah motivasi yang fitrah yang sudah menjadi tabiat

dan bawaan manusia sejak lahir, berhubungan erat dengan segala sesuatu yang

berkaitan dengan fisik. motivasi psikologi yang terpenting adalah

(1) Motivasi menjaga kelangsungan hidup dengan pemehuhan rasa lapar, haus ,

lelah, sakit , bernafas. Rasa takut dan lapar menjadi ujian dari Allah kepada

manusia untuk melihat kesabarannya dan kekuatannya menghadapi cobaan

sebagaimana Allah berfirman” QS. Al-Baqarah 2:155-156.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,

kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita

gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila


71

ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi

raaji'uun"

(2) Motivasi Kejiwaan dan Spiritual, seperti motivasi untuk tetap konsisten

menjalankan ajaran agama, motivasi bertaqwa, mencintai kebaikanm

kebenaranm dan membenci kezaliman.

Davis membagi motivasi kepada dua jenis yaitu: (1) Motivasi intrinsik yang

mengacu kepada faktor-faktor dari dalam; (2) Motivasi ekstrinsik yaitu motivasi

yang mengacu kepada factor-faktor dari luar diri, baik pujian dari orang lain terhadap

seseorang maupun ancaman hukuman.

Dengan memberikan motivasi yang dapat menimbul motivasi intrinsik dari

diri sendiri iklash menjalankan ibadah seperti yang diperintahkan dalam rukun Islam

seperti Shallat, puasa, zikir, zakat dan shodaqah, haji dengan iklash diharapkan hati

ini dapat menjadi lebih tenang, ketenangan akan menanggulangi stress dan

pencegahan terhadap psikosomatik.

Beribadah adalah pengakuan kita terhadap Allah, dimana kita bergantung

hanya pada satu yaitu Allah yang menciptakan manusia, dunia, dan alam semesta.

Dengan pengakuan ini, timbulkan rasa aman dalam jiwa manusia bahwa ada

pendukung hidupnya yang amat dekat, yang tidak akan pernah membuatnya sedih.

QS, At-Taubah :40 ....La tahzan Innalaha Ma’ana, ”janganlah kamu bersedih

sesugguhnya Allah berserta kita”

Dalam beribadah kita memerlukan motivasi, tampa ada motivasi yang didasari

keiklasan, apalagi semata-mata hanya menjalankan kewajiban, maka ibadah tersebut


72

menjadi kering tampa makna. Bila kita membaca Quran tampa mengerti artinya,

nasehat Allah kepada kita tidak akan masuk dalam dalam hati maupun jiwa kita.Bila

tidak tertanam dalam jiwa, bagaimana mengamalkannya? Dalam Surah Fushilat : 44

Allah berfirman”Qul huwa lil ladziina aamanuu hudaw wa syifaa ” yang

artinya ” katakanlah :”Al-quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang

yang beriman”(QS, 41;44)

Dengan memberikan motivasi yang dapat menimbul motivasi intrinsik dari

diri sendiri iklash menjalankan ibadah seperti yang diperintahkan dalam rukun Islam

seperti Shallat, puasa, zikir, zakat dan shodaqah, haji dengan iklash diharapkan hati

ini dapat menjadi lebih tenang, ketenangan akan menanggulangi stress dan

pencegahan terhadap psikosomatik.

B. Manusia Dalam Konsep Islam

1. Konsep Manusia Dalam Al-Quran

Allah menerangkan tentang Manusia dalam Al-Quran antara lain :

a. Manusia menurut surat Al-Mu’minun ayat 12-14, Allah berfirman ”Dan


sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah. Kemudian Kami jadikan saripati (nutfah) itu air mani (yang disimpan)
dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani (nutfah) itu Kami jadikan
segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging
(mudghah), dan segumpal daging (mudghah) itu Kami jadikan tulang belulang,
lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan
73

dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang
Paling Baik.”
Nutfah yang dimaksud adalah nutfah amsyaj yang terdiri atas unsur

nuthfah laki-laki dan perempuan. Laki-laki mengeluarkan sebagian nuthfah dari

tubuhnya agar keturunannya berlanjut dan demikian juga wanita, mereka berperan

dalam pembentukan nuthfah amsyaj itu dengan kadar yang seimbang. Kemudian

Nuthfah masuk ke rahim dan bergantung pada dinding rahim dan ini disebut

Alaqah, menurut Ibnu Jauzi dalam kitab Zad Al-Masir, alaqah adalah sejenis

darah yang menggumpal kental dan kemudian menjadi Mudhgah (sepotong

daging tempat pembentukan janin) yang terbentuk mulai kira-kira minggu ke-

empat. Setelah embrio terbentuk mulailah terlihat ciri-ciri pertama susunan syaraf

dan aliran darah. Setelah mudhgah , mulailah terbentuk proses permulaan tulang

belulang, otot. Dalam buku-buku kedokteran tidak membedakan antara fase

mudhgah , tulang dan otot (daging) mereka hanya menyusun dengan standar

minggu dan hari serta membagi fase pertumbuhan janin menjadi dua yaitu fase

janin (embrio) dan fase fetus, jadi Al-Quran lebih urut dalam menyebutkan

kesesuaian urutan terbentuknya proses pembentukan janin. (Izzaddin Taufiq

:2006:26, 61, 69 ,70)

Dalam istilah kedokteran Nuthfah laki-laki adalah sperma dan nuthfah

wanita adalah ovum, sedangkan alaqah adalah fase perubahan pertemuan ovum

dan sperma yang kemudian membelah berkembang dari morula blastula dan

blastula inilah yang akan menggantung di dalam rahim. Pada minggu-minggu


74

berikut maka alaqah atau blastula mempersiapkan diri untuk fase

Mudhgah.(embrio). Yang mulai pada awal minggu ke empat, dan pada minggu

keempat ini sudah terjadi pembentukan yang nyata dari anggota tubuh.

b. Manusia adalah Mahluk yang mengandung unsur Materi dan non materi

berbentuk Fisik, otak, psikis yang sebelumnya tidak tau apa-apa kemudian

diberikannya pancaindera dan hati, agar mahluk yang beryukur dan berfikir.

Allah berfirman dalam surat An-Nahl ,“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari
perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi
kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS.16:78)

Kalau kita mau berfikir lebih dalam , maukah kita menukar panca indra

kita contohnya saja kedua mata ini dengan segunung emas, pasti jawabnya tidak,

tidak terbilang karunia Allah bagi kaum yang berfikir untuk selalu bersyukur.

c. Allah dengan segala kemurahannya memberikan bentuk dan rupa yang sebagus-

bagusnya kepada manusia. Dalam Al-Quran Allah berfirman


75

(QS.95:4),”. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang


sebaik-baiknya.” (QS.64:3),” Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia
membentuk rupamu dan dibaguskanNya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah
kembali(mu). “
Walaupun sudah diberikan rupa yang bagus, kadang manusia tidak pernah puas

dengan segala yang didapatnya, terkadang ingin mengubah hidungnya, matanya,

dan lain-lainnya. Sehingga kadang-kadang merusak yang sudah ada. Sedih

rasanya bila terdengar kabar ada seorang wanita yang meninggal akibat silikon

yang disuntikan di hidungnya oleh orang yang tidak bertanggung jawab sesuai

bidangnya, sehingga menyebabkan syok yang fatal dan berakhir dengan kematian

. Apalagi silikon memang zat yang sudah dilarang penggunaannya untuk urusan

kecantikan manusia dan dapat menyebabkan kanker.

d. Manusia diciptakan Allah sesuai dengan fitrahNya, namun manusia kadang tidak

Mengetahui. Dalam Al-Quran Allah berfirman:


76

QS 30:30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah;


(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu
. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
e. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah dibumi (QS.2:30), dan di ciptakan

Allah bukan untuk main-main (QS.23:115), melainkan untuk mengembangkan

amanah (QS.33:72) dan untuk beribadah kepadaNya (QS.51:56) serta selalu

menegakkan kebajikan sekaligus menghilangkan keburukan (QS.3:110) dengan

segala tanggung jawab (QS.75:36), Keistimewaan lain manusia adalah memiliki

kebebasan luas untuk mengembangkan diri setinggi-tingginya atau serendah-

rendahnya (QS.91:7-10), bahkan agama pun tidak dipaksakan kepadanya

(QS.2:256). Namun manusia pun dilengkapi dengan banyak kelemahan seperti

ketergesah-gesahan (QS.17:11), pembantah (QS.18:54), melampaui batas

(QS.10:12), Kikir (QS.70:19), mudah putus asa (QS.41:49), selalu berkeluh kesah

(QS.70:20), ingkar (QS.80:17), tidak mau bersyukur (QS.100:6), mudah lalai

setelah mendapat nikmat (QS.17:83) Walaupun demikian fitrah manusia adalah

suci dan beriman (QS.7:72). Kecenderungan terhadap agama adalah sikap


77

dasarnya (QS.30:30), Dalam keadaan sadar ataupun tak sadar manusia selalu

merindukan Allah (QS.39:8; S.39:49), taat, khusuk, tawakal dan tidak ingkar (QS.

17:66-69), terutama bila sedang mengalami malapetaka dan kesulitan hebat

(QS.31:32, S.17:66). (Bastaman,1995:56).

Menurut Harun Nasution, manusia tersusun dari unsur materi dan imateri,

jasmani dan Rohani, Tubuh manusia yang berasal dari tanah dan ruh atau jiwa berasal

dari substansi imateri di alam gaib. Tubuh pada akhirnya akan kembali menjadi tanah

atau jiwa akan pulang ke alam Gaib. Dalam Ruh atau jiwa ada yang disebut al-Nafs

mempunyai dua daya, daya pikir yang disebut akal yang berpusat di kepala dan daya

rasa yang berpusat dikalbu yang berpusat di dada. Daya rasa yang berpusat didada

dipertajam dengan ibadah (shalat, puasa, haji, zakat), karena intisari dari semua

ibadah dalam islam adalah mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha Suci. Yang

maha Suci hanya dapat didekatkan oleh ruh yang suci. Ibadah adalah latihan

menyucikan ruh atau jiwa. Makin banyak seseorang beribadah secara iklash, makin

suci pula jiwa dan ruhnya. Daya pikir atau akal berpusat dikepala dalam sejarah

islam diperkuat oleh dorongan ayat-ayat kauniah. Nasution menambahkan jadi

manusia menurut ajaran Islam, tersusun dari unsur materi, yaitu tubuh yang

mempunyai hayat dan unsur imateri yaitu roh yang mempunyai dua daya, daya rasa

di dada dan daya pikir dikepala. Daya rasa, jika diasah dengan baik, mempertajam

hari nurani dan daya pikir, jika dilatih, mempertajam penalaran.(Nasution, 1996:37-

38)
78

Dalam konteks keislaman ada empat istilah yang digunakan untuk

menyebutkan jiwa , yaitu (1) Hati, (2) Ruh, (3) Nafs, dan (4) Akal, Al-Ghazali

memberikan batasan mengenai empat tersebut diatas (Sholeh,2006:124):

a. Hati mempunyai dua pengertian, yaitu : (a)Segumpal daging sanubari yang

terletak disebelah kiri dada bersifat material; (b)Bersifat im-material merupakan

rasa rohaniah yang halus yang berkaitan dengan hati jasmani

b. Ruh juga mempunyai dua makna, yaitu : (a) Jism atau jasad halus yang bersumber

dari rongga hati jasmani, ia beredar keseluruh bagian tubuh; (b) Sesuatu yang

halus yang tahu dan mengerti

c. Nafsu mempunyai dua makna , yaitu : (a) Cakupan makna dari kekuatan amarah

dan syahwat yang bersifat material; (b) Sesuatu yang halus, yang merupakan

hakikat manusia yang bersifat im-material

d. Akal mempunyai dua makna juga, yaitu: (a) Ilmu tentang hakikat segala sesuatu,

yang merupakan sifat dari ilmu yang bertempat dalam hati; (b) Sesuatu yang

halus, yang merupakan hakikat manusia yang bersifat im-material.

Menurut Psikofisik manusia memiliki komponen jasad dan ruh yang saling

terintegrasi Nafs memiliki natur gabungan antara natur jasad dan ruh, bila ia

berorientasi dengan natur jasad maka tingkah laku menjadi buruk dan celaka, tetapi

bila mengacu pada natur ruh maka kehidupannya menjadi baik dan

selamat.(Mujib,2005: 79)

Tabel dibawah ini akan memperlihatkan perbedaan antara jasad, ruh dan nafs
79

Tabel 2.6

Perbedaan substansi Ruh , Jasad, dan Nafs

NO SUBSTANSI RUH SUBSTANSI JASAD SUBSTANSI NAFS


1 Adanya di alam arwah Adanya dialam dunia./jasad Adanya dialam jasad dan
(imateri) atau alam (materi) atau alam ruhani
perintah (amar) penciptaan (khalq)

Tercipta secara langsung Tercipta secara bertahap Terkadang tercipta secara


2.
dari Allah tanpa melalui atau berproses dan melalui bertahap atau berproses
proses graduasi perantara dan terkadang tidak
Antara berbentuk atau
3 Tidak memiliki bentuk , Memiliki bentuk, rupa, tidak, berkadar atau
rupa, kadar, dan tidak kadar dan dapat disifati tidak, berkadar atau tidak
dapat disifati , dan dapat disifati atau
tidak

Naturnya antara baik-

4 Naturnya halus dan suci Naturnya buruk dan kasar, buruk , halus-kasar,
(cenderung ber-islam bahkan mengejar dan menikmati
atau bertauhid) dan kenikmatan syahwat. kenikmatan ruhani dan
mengejar kenikmatan syahwat
ruhani
Memiliki energi
5 Memiliki energi rohani Memiliki energi jasmaniah rohaniah, jasmaniah
yang disebut dengan al- yang disebut dengan al-
amanah hayah (nyawa/daya hidup)
Eksistensi energi jasmaniah Energi nafsani
6 Eksistensi energi ruhaniah tergantung pada makanan tergantung pada ibadah,
tergantung ibadah bergizi makanan bergizi
Eksistensinya aktualisasi
80

7 Eksistensinya memotivasi Eksistensinya menjadi atau realisasi diri


kehidupan wadah ruh

Antara terikat dan tidak


8
Tidak terikat oleh ruang Terikat oleh ruang dan mengenai ruang dan
dan waktu waktu waktu

Dapat menangkap antara


9 Dapat menangkap Hanya mampu menangkap yang kongkret dan
beberapa bentuk yang satu bentuk kongkret dan abstrak, satu bentuk atau
konkrit dan abstrak tidak mampu menangkap beberapa bentuk
yang abstrak
Substansinya antara
10 Substansinya abadi tanpa Substansinya temporer dan abadi dan temporerSU
ada kematian hancur setelah kematian

Antara dapat dibagi-bagi


11
Tidak dapat dibagi-bagi Dapat dibagi-bagi dengan dan tidak
karena satu keutuhan beberapa komponen

(Mujid, 2005:82).

T Burchardt (1983) seperti yang dikutif Maumana amjad, menyimpulkan nafs

dalam berbagai istilah” bahwa pertama nafs al-kulliyah merupakan nafs yang bersifat

universal , termasuk didalamnya semua jiwa individu yang berhubungan dengan ruh

dan daya pikir.(akal) . Kedua bahwa al-nafs dalam jiwa terbagi dalam 4 bagian , yaitu

al-nafs haywaniyah (nafsu binatang), al-nafs al-ammarah (nafsu amarah) yang


81

berhubungan dengan nafsu, jiwa yang egois, Al-nafs al-lawwamah (jiwa yang sadar

akan ketidak sempurnaan) dan nafs Al-Mutma’innah yang berhubungan dengan nafsu

yang tenang. (Maumana Amjad, 2006:47)

T burchardt defines the different meaning of Nafs as follows:


1. Al-Nafs al-kulliyah: the Universal soul which includes all individual souls,
This corresponds to the guarded tablet and is the complement of the spirit al
ruh or first intellect and is analogous to the psyche of Plotinus.

2. Al-Nafs the soul, the psyche, the subtle reality of an individual, the ‘I’. As
opposes to the spirit or the intellect (Aql) the nafs appears in a negative
aspect, because it is made up of the sum of individual or egocentric
tendencies. But a distinction os made between: (a) al-nafs al-haywaniyah: the
animal soul, the soul as passively obedient to natural impulses; (b) al-nafs al-
ammarah bi al-su : the soul which commands man to evil; the passionate,
egoistic soul; (c) al-nafs al-lawwamah; the soul aware of its own inperfection
and, (d) al-nafs al-Mutma’innah: the soul at peace the soul reintegrated in the
spirit and at rest in centainty.

Al-Nafs ini harus selalu diberi nutrisi dan latihan, pengamalan ibadah adalah

latihan dan nutrisi agar jiwa dan akal menjadi lebih tenang, al-Nafs muthma’innah.

Hati adalah hati spiritual, contohnya , kita menyebut seseorang yang tulus dan

berniat baik sebagai seseorang yang memiliki hati. Hati menurut Frager yang juga

seorang musyid sufi dan profesor psikologi pada institute of Transpersonal

Psychology, California setelah islam bernama Syekh Raqib al-jerahi, bahwa hati

menyimpan percikan roh ilahi didalam diri kita . Karenanya, hati adalah kuil Tuhan.

Rumah cinta tersebut disebut hati, Cinta adalah dasar disiplin spiritual sufi.(Frager,

2003:30)

Qalbu atau hati manusia itu menurut Ahmad Tafsir seperti lilin yang menyala,

mulanya nyala itu kecil saja. Lilin menyala itu terletak dalam sirr, sirr itu dalam lubb,
82

lubb itu didalam syaghaf, syafgaf itu didalam fu’ad dan fu’ad itu didalam qalb (kalbu)

dan seterusnya.(Tafsir,2006:29)

Menurut Hadist, bahwa Rasulullah bersabda dalam hadist qutsi: ” aku jadikan

pada manusia itu ada istana (qash). Didalam istana itu ada (shadr), didalam shadr itu

ada kalbu (qalb), didalam qalb itu ada Fu’ad , didalam fu’ad itu ada syaghaf, didalam

syaghaf itu ada lubb, didalam lubb ada sirr, dan didalam sirr itu ada aku (Ana).

Susunan itu lebih jelas dalam gambar diatas. Hadist ini menjelaskan bahwa aku

menjadi inti. Aku didalam hadist ini adalah Allah yang bersifat Ilahiyah.

Organ di dalam tubuh yang dihubungkan dengan qalb adalah heart (jantung),

Quran mengatakan 22:46,”maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi ini, lalu

mereka mempunyai hati dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga

yang dengan itu mereka dapat mendengar ? karena sesungguhnya bukanlah mata itu

yang buta tetapi yang buta adalah hati yang didalam dada.”

Burckhardt (1983) mendefinisikan qalb sebagai organ suprarational yang

berhubungan dengan jantung (heart) dan juga otak (brain).

Ketika dada dan hati ini telah bersih dan suci, menurut sufi kita dapat

melampaui permukaan luar dan merasakan yang tersembunyi dalam diri. Perilaku

yang baik akan membuat hati menjadi lembut dan peka, sedang perilaku yang buruk

akan menutup dan mengeraskan hati.

Pengetahuan hati. Nabi muhamad berkata, ”Ada dua jenis pengetahuan:

pengetahuan lidah dan pengetahuan hati, pengetahuan yang benar-benar berharga.” di

barat, kita terlalu menekankan pada ”pengetahuan lidah,” atau mempelajari buku-
83

salah satu tingkat kecerdasan buatan. Inilah batasan psikologi Barat tradisional, yang

belum mengenal pengetahuan yang lebih dalam dari-hati kecerdasan utuh. (Frager,

2003:65)

Frager seorang orientalis yang kemudian menjadi muslim dan seorang sufi

menambahkan tentang Takut kepada Tuhan. Hati adalah rumah takwa, yang kerap

diartikan dengan ’takut kepada Tuhan.” pada tingkat rendah, takwa bermakna rasa

takut terhadap hukuman Tuhan. Bagi kaum sufi, takwa bermakna rasa takut akan

kehilangan rasa cinta terhadap Tuhan, rasa kedekatan dengan Tuhan, dan cinta Tuhan.

Mereka yang takut kepada Tuhan dalam makna ini menaati perintah Tuhan dengan

senang hati, bukan karena rasa takut akan hukuman-Nya. Mungkin terjemahan yang

paling tepat adalah ”Menyadari kehadiran Tuhan.” Mereka mengatakan bahwa rasa

takut kepada Tuhan membimbing kita melawan keraguan, penyembahan terhadap

tuhan-tuhan palsu, ketidaksetiaan, ketidaktulusan dan kemunafikan.( Frager, 2003:66)

Lain dengan Frager, maka Ary Ginanjar Agustian mengemukakan tentang

Suara hati, istilah ini menurutnya dasarnya adalah universal dengan catatan bahwa

manusia telah mencapai titik Fitrah (God-Spot) dan terbebas dari segala paradigma

dan belenggu. Menurut Ary, dengan mencermati Al-Quran surat As-Sajadah ayat 9

dimana Allah meniupkan ruh ciptaan-Nya yang bersifat mulia kepada manusia, maka

sebenarnya Allah telah meniupkan pula keinginan-Nya kedalam hati manusia. Dan

bila disimak dalam al-Quran syran Al-A’raf ayat 172, yaitu ketika jiwa manusia

mengakui dan mengangguk kepada Allah bahwa Allahlah Tuhannya. Anggukan yang
84

membenarkan suara hati itu masih terus berjalan dan masih bisa dirasakan hingga

saat ini kecuali hati yang tertutup (Agustian, 2003: 68).

Sekarang ini kita banyak mengenal istilah Kecerdasan spiritual, Kerdasan otak

dan kecerdasan emosional. Dalam islam, ibadah adalah cara untuk kita

mengembangkan kecerdasan spiritual dan emosional, sedangkan kecerdasan otak

kita kembangkan dengan berfikir, bernalar, mengembangkan ilmu pengetahuan.

Manusia pun diberi akal untuk berfikir dan mencari rahasia alam semesta yang indah

dan penuh dengan ilmu pengetahuan.

Dalam A-Quran Allah memerintahkan menusia untuk berfikir melihat

kebesaran Allah (QS.13:3) “Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan

menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya

semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi

kaum yang memikirkan.”

Manusia harus mengembangkan segala unsur yang ada dalam dirinya, tidak

akan sempurna seseorang yang hanya mempunyai fisik yang baik tapi tidak cerdas

pikir dan tingkah lakunya. Tidak sehat juga kalau hanya mempunyai kepintaran tapi

tidak mau melatih fisik dan mentalnya. Daya rasa dan daya pikir harus diasah dengan

baik, karena memang manusia adalah terdiri dari kolaborasi unsur yang harus

seimbang dikembangkan.

Sebagai Umat Islam kita harus berbangga karena, Allah melalui Rasulnya

begitu banyak memberikan kita pelajaran yang amat berguna dalam menjalani
85

kehidupan didunia ini. Rasulullah SAW memberikan kita tuntunan dalam mengasah

diri secara holistik atau keseluruhan, walaupun Rasullullah bukan seorang dokter, tapi

tuntunannya sejak 1400 tahun yang lalu sampai sekarang menjadi panutan bagi kita

semua.

Perkembangan Kedokteran pada masa Islam (Khadem Yamani 2005:41)

Beberapa ajaran dan tuntunan Rasulullah yang mengandung kajian dan nilai-nilai

kedokteran antara lain:

(1) Cara bersuci yang diajarkan Rasullullah SAW,


(2) Cara berwudhu, membasuh anggota badan yang biasanya tampak
(3) Kewajiban bercebok dan memegang kemaluan (harus) dengan tangan kiri
(4) Larangan kencing di kolam air yang tergenang
(5) Sunah untuk berkhitan yaitu memotong khulub bagi laki-laki dan
memotong sebagian ”labia minora” yang memanjang bagi perempuan
(6) Perintah memotong kuku, membersihkan bulu ketiak dan kemaluan
(7) Kewajiban mandi selepas bertubuh
(8) Keharusan membersihkan rumah dan halaman
(9) Contoh dalam gerakan-gerakan shalat fardhu dan tahajud
(10) Ibadah Shaum di bulan Ramadahan dan shaum sunah
(11) Tuntunan melambatkan makan sahur dan menyegerakan berbuka
(12) Larangan makan-minum sambil berdiri, berbaring, dan bersandar, serta
aturan minum dan lain-lain
(13) Keharusan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
(14) Larangan makan sampai terlalu kenyang dan tidur selepas makan
(15) Diharamkan bangkai , darah, babi, sembelihan untuk berhala, khamar baik
basah maupun kering
(16) Dimakruhkan hewan buas
86

(17) Anjuran melihat warna-warna hijau


(18) Larangan memasuki dan keluar negeri ketika berjangkit penyakit menular
(19) Larangan menyatukan hewan yang sakit dan hewan yang sehat
(20) Larangan mencukur bulu alis, mencacah (mentato) dan memotong atau
mengikir gigi
(21) Larangan berobat dengan barang haram
(22) Anjuran memberikan harapan kepada seorang penderita
(23) Disebutkan madu sebagai obat dalam Al-Quran dan Hadist Rasulullah
SAW
(24) Disebutkan kurma yang tumbuh ditanah berbatu hitam sebagai obat dalam
hadist Rasulullah SAW.
(25) Makanan yang dimakan ketika masih panas itu kurang berkat dan lainnya
Kesehatan dalam islam

Begitu banyak aspek kehidupan yang Allah firmankan kedalam Al-Quran dan

begitu banyak aspek masalah yang nabi gambarkan dalam hadist.

Kaitannya dengan manusia tidak hanya dalam hal fisik, jiwa, ruh, nafs tapi

bagaimana kita mengembangkannya, tidak lain adalah dengan pendidikan.

Pendidikan merupakan kunci keberhasilan di dunia dan Akherat. Tampa pendidikan

maka manusia manusia akan seperti binatang, hanya menggunakan naluri tapi tidak

mempunyai intelektual, baik inteletual secara emosional, otak dan spiritual.

Kepribadian seseorang terbentuk secara multifaktor, antara lain oleh genetika,

pendidikan orang tua dan lingkungan.

Pendidikan dalam Islam, yang diajarkan oleh Rasulullah merupakan

pendidikan yang sempurna dan luar biasa, dalam rangka mempersiapkan generasi

muda Islam, Nabi begitu besar perhatiannya terhadap pendidikan sejak seorang anak
87

berupa nutfah, sampai mereka tumbuh dewasa. Jadi Nabi sudah memberikan

pendidikan secara sempurna, yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotor secara

simultan.

2. Pendidikan Nabi Terhadap Anak

Dari buku yang ditulus oleh Jamal Abdurrahman Athfal al-Muslimin, kaifa

Rabaahum an-Nabiy al-Amin, yang sudah diterjemahkan, tentang cara Rasulullah

pendidikan anak, diringkas penulis dibawah ini:

Pendidikan Rasulullah dibagi dalam 4 bagian:

a. Anak sejak dari pembuahan sampai usia 3 tahun

b. Anak usia 4 tahun sampai dengan 10 tahun

c. Anak usia 10 tahun sampai dengan 14 tahun

d. anak usia 15 tahun sampai 18 tahun

a. Usia Sejak Pembuahan sampai Usia 3 tahun

1. Nabi menganjurkan kepada kaum musimin untuk selalu berdoa sebelum

bersetubuh seperti pada hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari: “ Jika kaliam

mendatangi istrimu untuk bersetubuh maka berdoalah:” Ya Allah jauhkan

kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak-anak yang Engkau berikan

kepada kami. “ Maka jika dari hubungan itu lahir seorang anak, setan

selamanya tidak berani menggodanya. “ (HR Bukhari)

2. Nabi saw mendoakan calon bayi yang masih dalam perut. Seorang ibu yang

sedang mengandung harus banyak berzikir, membaca Al-Quran, suara yang

terdengar pada janin dapat meningkatkan kecerdasan otaknya.


88

3. Nabi Membacakan dzikir-dzikir untuk keselamatan bayi, Fatimah ra, putri


Nabi saw, ketika hampir melahirkan menyuruh Ummu Salamah dan Zainab
binti Jahsay untuk datang kepadanya dan membacakan ayat Kursi
disampingnya dan membaca QS. al-A’raf:54 : Allah berfirman: Sesungguhnya
Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam
masa, lalu Ia bersemayam di atas Arsy. Dia menutup malam kepada siang
dan mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula ) matahari, bulan
dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya, Ingatlah,
menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan
semesta alam.”
4. Nabi menjelaskan tentang kedudukan janin yang mengalami abortus (gugur
sebelum sempurna masa lahirnya). Nabi saw bersabda ,”Demi dzat yang
jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya sesungguhnya bayi yang gugur akan
menarik ibunya dengan tali pusarnya ke surga jika ibunya sabar atas
kematiannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
5. Nabi mengazani bayi ketika lahir pada telinga kanannya. Dari Abi Rafi,
sesungguhnya ia berkata” Sesungguhnya aku melihat Rasulullah
mengumandangkan adzan pada telinga al-Hasan bin Ali ketika Fatimah
melahirkannya,” (HR.Abu Dawud dan At-Turmudzi)
6. Nabi saw mentahmik (mengolesi) anak yang baru lahir dengan kurma, yang
telah dikunyah lebih dulu oleh orang tuanya sampai lembuh dan basah,
berdoa untuknya dan memohonkan berkah atasnya. Dalam hadis sahir
Bukhari Muslim dijelaskan bahwa Anas ra berkata: “Ketika Ummu Sulaim
melahirkan seorang putra, ia membawa bayinya bersamaku kepada Nabi
saw, dan aku membawa kurma. Maka aku mendatangi Rasulullah saw dengan
kurma tersebut dan di atasnya terdapat tutup. Nabi berkata,” Apakah engkau
Membawa kurma?” aku menjawab :”Ya,” Maka Nabi mengambil kurma
tersebut, lalu mengunyahnya. Kemudian Nabi mengumpulkan ludahnya. Lalu
membuka mulut bayi, dan memberikan makanan itu pada ujung lidah bayi
89

sehingga bayi itu merasakannya. Rasulullah saw bersabda: “kesukaan orang


Anshar adalah kurma.” Kemudian Nabi mentahniknya dan memberi nama
bayi tersebut dengan nama Abdullah. Setelah itu, tidak ada seorang pemuda
Anshar yang lebih utama dari dia.”
7. Nabi memberikan pentunjuk kepada orang tua supaya menjaga anak-anak
mereka dari bahaya dengan berzikir dan bersyukur kepada Allah atas
pemberian-Nya. Anas ra , Nabi saw bersabda” tidak ada nikmat di berikan
Allah kepada hamba-Nya berupa sebuah keluarga atau anak, kemudian ia
mengatakan alhamdulillahi rabbil’alamin , kecuali Allah akan memberikan
yang lebih baik daripada sesuatu yang telah ia peroleh.”.
8. Nabi saw membagikan warisan pada bayi yang berhak sebab kelahirannya.
Nabi saw bersabda :” Bayi yang baru lahir belum mendapat warisan kecuali
setelah menangis dengan menjerit.” Yang dimaksud dengan istihlal disini
adalah juka ia menjerit, menangis atau bersin (HR.ath-Thabrani).
9. Nabi saw belas kasih terhadap anak kecil sekalipun lahir dari hasil zina. Nabi
memberikan. Nabi berkata agar wanita itu pulang dan melahirkan anaknya,
menyusui sampai masa menyapih, dan kemudian wanita tersebut datang lagi
kepada Nabi saw sambil membawa bayinya yang telah menyapih dan telah
diberi dapat makan makanan, dan Nabi menyuruh untuk menyerahkan bayi
tersebuh kepada seorang laki-laki dari daum muslimin, kemudian Nabi
menyuruh wanita itu untuk dipendam sampai dadanya, lalu baru dilakukan
hukum rajam. Hadis ini diriwayatkan Muslim.
10. Nabi mengadakan aqiqah dan berwasiat kepada umatnya untuk aqiqah ketika
seorang anak lahir. Bila dia laki-laki aqiqah dengan dua kambing dan bila
yang lahir wanita maka aqiqah dengan satu kambing. Nabi bersabda,”Setiap
anak itu tergadaikan sebab aqiqahnya. Hewan tersebut disembelih darinya
pada hari ketujuh (dari kelahirannya) dan bayi itu dipotong rambutnya dan
ia diberi nama.” (HR.an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Turmudzi).
90

Dengan aqiqah ini ada makna rasa syukur, sedekah, berbagi kebahagiaan
dengan orang lain.
11. Nabi saw, memberikan nama pada anak-anak dengan nama yang paling baik
dan indah, nama yang baik akan menjadi doa kepada anaknya.
12. Nabi saw menyuruh supaya rambut anak dipotong pada hari ketujuh,
membersihkannya dan menghilangkan penyakit darinya
13. Nabi saw bermain bersama anak kecil dengan penuh kecintaan, bergurau
dengan cara halus bersama anak-anak dalam bentuk ucapan maupun perilaku.
14. Nabi saw memperhatikan khitan dan mengangapnya sebagai sunah fitrah
15. Nabi saw mengajari anak-anak etika berpakaian.
16. Nabi saw Memberikan hadiah kepada anak-anak dan beliau mengusap kepala
mereka. Menyempatkan diri bermain bersama anak kecil
17. Nab saw menganjurkan orang tua untuk selalu jujur terhadap anak dan tidak
berdusta kepadanya.

b. Pada Anak Usia Empat sampai Sepuluh Tahun


1. Pada saat ini orang tua hendaknya menjadi teman bagi anak, agar ia belajar
dari dirinya dimana mengajari anak adalah kewajuban orang tua, Ini nasihat
Nabi kepada anak kecil: “ Wahai anak kecil aku akan mengajarimu beberapa
kalimat, jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah maka
engkau akan menemukan-Nya dihadapanmu, jika engkau meminta maka
mohonlah kepada Allah, ketailah bahwa andaikata umat berkumpul untuk
memberikan sesuatu yang bermanfaat kepadamu, maka mereka tidak akan
mampu memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuatu itu telah ditetapkan
oleh Allah untukmu, Dan andaikata mereka berkumpul untuk
membahayakanmu, maka tidak akan membahayakanmu kecuali sesuatu itu
telah ditetapkan oleh Allah atas kamu, pena-pena telah diangkat dan
lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Turmudzi dan Ahmad).
91

2. Nabi menentukan permainan untuk anak-anak kecil, nabi memberikan


kebebasan dan ketetapan pada anak kecil untuk bermain dengan mainannya
karena sesungguhnya anak kecil itu ingin mengembangkan daya pikirnya,
meluaskan keingin tahuannya, menyibukkan panca inderanya.
3. Nabi tidak pernah menghentikan anak-anak yang sedang bermain.
4. Nabi melarang memisahkan anak dengan keluarganya, Nabi bersabda,”
barang siapa yang memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah telah
memisahkan antara dia dan para kekasihnya pada hari kiamat.” (HR
Turmudszi dan Ibnu Majah).
5. Nabi saw Mengajak anak-anak untuk berahlak mulia
6. Nabi saw minta izin kepada anak-anak bila ada kaitannya dengan hak-hak
mereka.
7. Nabi saw mengajari anak-anak untuk selalu menjaga rahasia. Dengan
demikian terbangunlah rasa percaya diri, merasa dirinya dihargai sebab
membawa rahasia penting.
8. Nabi saw makan bersama anak-anak, kesempatan itu beliau gunakan untuk
mengarahkan dan membernarkan kesalahan mereka
9. Nabi saw menyuruh orang tua berbuat adil diantara anak-anaknya baik laki-
laki ataupun perempuan.
10. Nabi saw mengancam orang yang menganiaya dan akan berbuat aniaya
terhadap anak yatim.
11. Nabi saw menyuruh orang tua melarang anaknya berkeliaran bila malam
telah gelap.
12. Nabi saw mengajari shalat kepada anak, ketika berusia tujuh tahun dan
memukul mereka karena meninggalkan shalat ketika berumur 10 tahun.
c. Anak Usia Sepuluh sampai Empat belas Tahun
1. Nabi saw mengajak anak-anak untuk segera tidur setelah shalat isya,
memisahkan tempat tidur anak-anak setelah mereka berusia sepuluh tahun.
Nabi bersabda “ Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat pada umur tujuh
92

tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya pada usia sepuluh


tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka, jika salah satu dari kalian telah
menikahkan budaknya atau pelayannya maka janganlah dilihat auratnya.
Sesungguhnya anggota bagian bawah dari pusat sampai lutut adalah
auratnya,”(HR. Abu Dawud).
2. Nabi saw membiasakan anak-anak untuk menjaga pandangan dan auratnya
3. Nabi saw tidak pernah memukul anak-anak selamanya, tetapi beliau
menjelaskan prinsip-prinsip dasar dan aturan dalam memukul. Kaidah-
kaidanya adalah sebagai berikut:
a. Pukulan tidak boleh diberikan sebelum usia sepuluh tahun.
b. Pukulan boleh sedikit diberikan pada anggota tubuh yang
memungkinkan, batas maksimal hukuman pukulan hanya sepuluh kali
itupun hanya kepada anak yang baligh dan mukallaf. Dan jangan
memukul terlalu keras sehingga sampai terangkat ketiak. Dan jangan
pada tempat sensitif.seperti wajah atau kepala.
4. Nabi saw melarang orang tua berlebihan dalam memanjakan anaknya, karena
hal itu terdapat bahaya, hendaknya anak dijaga untuk tidak bergaul dengan
teman-temannya yang biasa hidup boros, pamer memakai pakaian megah.
5. Nabi saw dengan bijaksana membenarkan pemahaman dan kesalahan anak-
anak, mengajari anak yang masih belum baik dalam pekerjaannya.
6. Nabi melatih anak dengan pengobatan alami, dalam hadis Umar ra ketika
Rasullullah saw terkena tendangan ontanya sehingga tubuh beliau terasa
sakit, maka beliau mengajarkan pada anak kecil bagaimana cara menggosok
dan memijat ura-uratnya untuk meringankan rasa sakit tersebut.
7. Nabi menghukum seorang anak dengan cara halus dan lembut, mengajak
berdialog dengan mereka, mengajari salam, mengajari etika ketika masuk dan
bertemu dengan keluarga mereka. Nabi bersabda,” wahai anakku, jika
engkau masuk menemui keluargamu maka ucapkanlah salam, maka berkah
itu akan berlimpah padamu dan keluargamu.” (HR. Turmudzi).
93

8. Nabi memberikan motivasi kepada anak-anak untuk menghadiri sebuah acara


dan mengunjugi kerabat untuk belajar dari pengalaman.
9. Nabi saw menyuruh anak-anak untuk duduk bersama ulama dan berperilaku
sopan terhadap mereka, Rasulullah saw bersabda :”Sesungguhnya Luqman
berkata kepada putranya:”Wahai anakku, bergaullah bersama ulama,
dengarkanlah ucapan mereka, karena sesunggunya Allah menghidupkan hati
yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Allah menghidupkan bumi
yang mati dengan hujan yang lebat.”(HR.Thabrani)
10. Nabi mengajari anak etika berbicara dan menjelaskan kepada mereka akan
kedudukan saudaranya yang lebih besar. Nabi juga mengajari anak-anak
untuk berdiri ketika ayah atau orang tua atau guru mereka datang, yaitu untuk
menyambutnya. Sebagaimana Nabi saw, jika Fatimah puteri beliau, datang
untuk menemui Nabi, maka beliau menyambutkan kemudian Nabi mencium
Nabi dan mempersilahkan duduk di Majlisnya.” (HR. Turmudzi)
11. Nabi saw mengajari anak-anak etika untuk minta izin. Nabi saw bersabda,”
Hai orang-orang beriman, hendalah budak-budak (lelaki dan wanta) yang
kamu miliki, dan orang-orang yang belum baliqh di antara kamu, meminta
izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari)yaitu sebelum sembahyang
subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian luarmu ditengah hari dan sesudah
sembahyang isya, (itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan
tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu itu. Mereka melayani kamu
sebagaian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain), demikianlah
Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur, 58-59).
12. Nabi saw mendidik anak-anak untuk tidak membuat marah orang lain,
terutama tetangga. Nabi saw bersabda :” Jika engkau membeli buah-buahan,
maka berilah anak tetanggamu, Jika engkau tidak melakukannya, maka
masukanlah buah tersebt secara sembunyi, dan anakmu tidak diperbolehkan
keluar yang dapat membuat iri pada anak tetangga,” (HR Thabrani)
94

13. nabi saw memberikan peringatan kepada anak-anak untuk tidak mengancam
orang lain dengan pedangnya, sekalipun dalm bentuk gurauan. DARI Abu
Hurairah ra, ia berkata:”Rasulullah saw bersabda:”Barang siapa yang
memberikan isyarah terhadap saudaranya dengan besi, maka sesungguhnya
malaikat akan melaknatnya sehingga ia meninggalkannya, sekalipun ia
adalah saudara dari ayah dan ibunya.” (HR Muslim).
14. Nabi melarang anak-anak untuk tidak menakut-nakuti orang lain sekalipun
itu dalam bentuk gurauan.
15. Nabi memberikan keringatan kepada anak-anak kerena terbatasna
kemampuan akal mereka.
16. Nabi saw mengajarkan anak laki-laki untuk tidak mnyerupai perempuan.
Diharamkan pakaian sutera dan emas atas laki-laki dari umatku, dan
dihalakan bagi perempuan-perempuan mereka.” (HR Turmudzi)
17. Nabi saw membiasakan anak-anak untuk hidup prihatin dan kuat
menanggung beban hidupnya. Sayidina Umar ra pernah berkata:”Ajarilah
anak-anak kalian berenang, memanah dan menunggang kuda.” Beliau juga
berkata:”Menjadi dewasalah kalian, dan biasakanlah hidup prihatin.”(HR.
Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Asakir).
18. Nabi saw berwasiat tentang anak-anak perempuan, Nabi saw bersabda:”
Barang siapa yang mempunyai tiga anak perempuan, kemudian ia sabar atas
keberadaan mereka, baik sengsara dan bahagia mereka, maka Allah akan
memasukkanya kedalam surga dengan mendapat keutamaan rahmat Allah
terhadap mereka.”Seorang laki-laki berkata;”Kalau dua anak perempuan
wahai Rasulullah?” Nabi menjawab;”Demikian pula dua anak perempuan.”
Laki-laki itu berkata:”Kalau seorang anak perempuan wahai Rasulullah?”
Nabi menjawab;”Demikian pula seorang anak perempuan.” (HR Ahmad)
19. Nabi saw menghukum dosa kepada orang yang menyia-nyiakan hak mereka
dalam pemberian nafkah dan pendidikan. Nabi saw bersabda; “Cukuplah
95

dosanya bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berhak diberi


nafkah darinya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
20. Nabi memberikan peringatan kepada ana-anak yang menghina dan mencela
manusia. “Janganlah engkau menampakkan celaan kepada saudaramu, karena
Allah akan belas kasih kepadanya dan akan mengujimu.” (HR Turmudzi)
Dalam Al-Quran Allah berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman,
janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain karena boleh jadi
mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-ngolok).
Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-ngolok) wanita yang lain (karena)
boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang
mengolok-ngolok)(QS. Al-Hujura:11)

d. Anak Usia Lima Belas sampai Delapan Belas Tahun


1. Nabi menganjurkan anak-anak muda untuk memanfaatkan waktu paginya,
“Tidur pada waktu shubuh (awal siang) akan mencegah datangnya rizki,
“ (HR Ahmad). Ada hadis yang lain,”Rasulullah saw berdoa;”Ya Allah
berkahilah untuk umatku pada waktu paginya,”(HR. Thabrani.)
2. Nabi Saw Mengajak anak muda untuk memanfaatkan waktu kosongnya,
dengan aktivitas yang berguna, seperti olah raga, zaman Nabi olah raga yang
dianjurkan seperti memanah, berkuda.
3. Nabi saw mengajari anak-anak muda untuk mencintai Nabi, keluarga dan
Sahabatnya serta cinta membaca Al-Qur’an. “Tidak sempurna iman salah
seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anak, ayah,
dan seluruh manusia,” (HR. Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu
Hibban dan Abu Ya’la).
4. Nabi saw menjadi teladan bagi anak-anak dalam pergaulannya yang baik.
5. Nabi saw mengajarkan kepada anak-anak agar percaya diri, makan dari hasil
tangannya, menjauhi sifat menunda-nunda dan malas. Nabi saw bersabda,”
96

Sesungguhnya Allah mencintai orang mukmin yang bekerja (kreatif),” (HR.


Thabrani)
6. Nabi menetapkan hak anak-anak dalam mencari ilmu dan belajar Al-Qur’an.
Nabi bersabda,”mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, dan orang-orang
yang memberikan ilmu kepada selain ahlinya (artinya kepada orang yang
belum saatnya menerima ilmu tersebut) itu. Seperti orang yang mengalungkan
mutiara, permata dan emas pada babi,” (HR Ibnu Majah).
7. Nabi saw menyuruh anak-anak untuk memilih guru yang saleh. Nabi
bersabda,”Seseorang itu tergantung atas agama temannya, hendaklah salah
seorang di antara kalian melihat siapa orang yang diajak berteman,” (HR.
Turmudzi, Abu Dawud dan Ahmad). Seorang guru harus mengamalkan
ilmunya dan ucapannya sesuai dengan perbuatannya, Allah SWT berfirman:
“Apakah kalian memerintahkan kepada manusia melakukan kebaikan dan
melupakan diri kalian sendiri, dan Firman Allah yang lain “Besar dosanya
disisi Allah jika kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian perbuat.”
8. Nabi saw menyuruh anak-anak perempuan untuk menutup auratnya ketika
mereka telah baliqh. Dalam Al-Quran (QS, Al-Ahzab:59) Allah berfirman,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istri orang-orang mukmin: hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” .
9. Nabi saw menerintahkan anak-anak supaya mereka menikah jika mereka telah
baliq dan mampu menanggung beban-beban hidupnya. Nabi bersabda,”Wahai
para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu memberikan nafkah
maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebih memejamkan
penglihatan dan lebih menjaga farji, Maka barang siapa yang belum mampu
maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu menjadi
benteng,” (HR. Bukhari, Muslim, Turmudzi, An-Nassai, Abu Dawud, Ibnu
Majah, Ahmad dan Ad-Darami).
10. Nabi saw mengajari anak-anak agar dapat menjaga amanat dan bertanggung
jawab ketika mereka telah baligh.Nabi bersabda:” Seorang laki-laki dalam
97

harta ayahnya itu menjadi pemimpin dan bertanggung jawab dari apa yang
dipimpinnya, maka setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab
dari yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Ahmad).
11. Nabi saw menghukum anak yang curang dalam memegang tanggung
jawabnya, Nabi juga melihat bagaimana mereka berpikir.
12. Nabi saw memberikan pujian kepada anak-anak ketika mereka dan
memberikan nasihat sehingga menggerakan hati dan jiwa mereka. Abdullah
bin Umar ra, berkata: “Pada masa Rasulullah saw, ketika aku masih jejaka,
aku tidur di masjid, maka aku bermimpi ada dua malaikat yang menarikku
lalu membawaku ke neraka. Neraka itu dilipat seperti bibir sumur, mempunyai
dua taring dan ternyata didalamnya terdapat orang-orang yang telah aku kenal,
maka aku berkata:” A’uzu billahi minnari (aku mohon perlindungan kepada
Allah dari siksa api neraka).”Abdulllah bin Umar melanjutkan
ceritanya:”kemudian aku melihat malaikat yang lain, maka dia berkata
kepadaku:”Mengapa engkau bingung?” Kemudian aku menceritakannya
kepada Hafshah dan Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah saw, maka
beliau berkata:”Sebaik-baiknya orang laki-laki adalah Abdullah, andaikata dia
mau rajin shalat pada malam hari (Tahajud),”Setelah kejadian itu, Abdullah
bin Umar tidak pernah tidur pada malam hari kecuali sebentar (HR Bukhari,
Muslim, dan Ahmad). Disini pujian Nabi saw kepada Abdullah bin Umar itu
dapat menggerakkannya untuk selalu melaksanakan shalat Malam.

3. Tinjauan Pengamalan Ibadah Dalam Kajian Islam dan Kedokteran

3.1 Shalat

a. Shalat Menurut Islam


98

Shalat menurut bahasa 'Arab: doa. Menurut istilah syara' ialah ibadat yang

dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah

Mendirikan Shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melengkapi

syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin,

seperti khusu' ,memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.

Begitu dasyat makna shalat bagi Nabi maupun sahabat-sahabatnya. Bila kita

melihat kilas balik kebelakang, salah satunya cerita tentang Ali ra, diceritakan jika

waktu shalat tiba, wajah Ali karramullahu wajhah ra, sahabat nabi dan menantu nabi

ini akan berubah, tubuhnya gemetar, bila orang bertanya mengenai penyebabnya, Ali

ra akan menjawab, ”Sekarang waktunya untuk menunaikan amanat yang tidak

mampu di tunaikan oleh langit dan bumi, gunung-gunung pun tak sanggup

menunaikan amanat ini. Saya tidak tahu apalah saya mampu menunaikan amanat ini.

Sampai-sampai Ali ra ketika dalam suatu pertempuran terkena panah yang sangat

sulit dikeluarkan, memutuskan untuk mencabut anak panah ketika beliau sedang

sholat, dan ketika ia sujud maka sahabatnya menarik sekuat tenaga anak panah

tersebut, setelah selesai shalat ali masih bertanya heran kepada sahabatnya karena Ali

tidak merasakan sama sekali ketika panah tersebut berusaha dicabut oleh sahabat-

sahabatnya.

Begitu pula Abdullah bin Abbas bila mendengar suaran azan, ia akan

menangis sehingga serbannya basah, urat-uratnya akan timbul, wajahnya memerah,

ketika seorang bertanya kepadanya,”Engkau mendengar suara adzan biasa, tidak ada

apa-apanya, mengapa engkau sangat khawatir?” kemudian Abbaspun menjawab,”


99

Andai manusia mengetahui apa yang sedang dikumandangkan oleh muadzhin, ia

tidak akan dapat tidur dan istirahat dengan tenang, bahkan kantuknya pun akan

hilang,” Kemudian ia menjelaskan makna setiap kalimat adzan secara rinci.

Menurut Quraishi Shihab Shalat pada hakikatnya merupakan kebutuhan

mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa

manusia, sebagaimana ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yang

diharapkan oleh manusia seutuhnyanya. Shalat dibutuhkan oleh pikiran dan akal

manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungan dengan Tuhan,

hubungan yang mengambarkan pengetahuan tentang tata kerja alam raya ini, yang

berjalan dalam kesatuan sistem, shalat juga mengambarkan tata intelegensi semesta

yang total yang sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan yang Maha

dasyat dan Maha mengetahui, Tuhan yang maha esa, Dan bila demikian, maka

tidaklah keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang

tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula ia

melaksanakan shalat. (Shihab, 1992:343)

Mahmud Abdullah dosen ulumul Quran Al-Azhar mesir, menyatakan bahwa

shalat 5 waktu adalah asupan bernutrisi bagi ruh, jika seorang hamba bermunajat

kepada Tuhannya melalui shalat, hatinya akan semakin terang, dan dadanya pun

semakin lapang. Dia akan memohon kepada Allah tanpa sesuatu penghalang apapun.

Dia berdiri dihadapan-Nya kapanpun dia mau dan berdialog dengan-Nya tanpa satu

pun penerjemah, dengan demikian , dia akan selalu merasa dekat dengan Allah dan

tidak sedikit pun merasa jauh dari-Nya. Dia juga akan dengan mudahnya memohon
100

pertolongan-Nya yang Maha mulia tanpa menghina hamba-Nya sedikitpun yang

datang kepadanya, yang Maha kaya dan memiliki kerajaan langit dan bumi tanpa

sedikitpun kikir dalam memberikan permintaan hamba-hamba-Nya. Hal ini selaras

dengan firman Allah (Abdullah, 2006:72)

Dalam Surat Albaqoroh ayat:153. Allah berfirman

”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai

penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ”

Berarti disini sabar dan shalat menjadi cara yang paling bijaksana dan paling

benar bagi seorang muslim menyikapi masalah dan cobaan yang menimpanya

sehingga kegelisahan tidak menjadi stress yang berkepanjangan

Dalam Tafsir Al Maraghi, Sesungguhnya kewajiban yang dibebankan kepada

orang Muslim ialah mengetahui, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata dan Dia

tidak ada Tuhan selain Allah semata, dan Dia tidak mempunyai sekutu, Jika telah

diakui bahwa Akulah Tuhan yang Haq dan tidak ada sembahan selain aku, maka

beribadahlah hanya kepada Ku dan tunduklah kepada seluruh apa yang aku bebankan

kepadaMu. Lakukanlah Shallat menurut aturan yang telah aku perintahkan kepadamu

dengan rukun dan syaratnya agar dalam Shalat itu kamu mengingat Aku dan berdoa

kepada ku dengan doa yang tulus dan bersih tampa dicampuri syirik dan tidak

menghadap diri kepada selain aku.


101

Disebutkan shalat secara khusus diantara ibadah yang lainnya, karena ia

mempunyai keutamaan atas yang lainnya. Didalam shalat, seseorang mengingat

sembahannya dan hati serta lisan sibuk dengan itu. Oleh sebab itu, shalat dapat

mencegah perbuatan yang keji dan mungkar.

Al-Ankabuut:45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al

Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari

(perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah

(shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah

mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dari Tirmidzi dan Ibnu Majah dalam jamaah lain mengeluarkan riwayat dari

Abu Hurairah, Bahwa Rasullullah saw, bersabda” Barang siapa lupa akan suatu

Shalat, maka hendaklah ia mengerjakan shalat itu ketika mengingatnya, karena

sesungguhnya Allah berfirman,” dirikanlah Shallat untuk mengingatKu. ( Al-

Magraghi jilid 16 :168 – 169)

Ketika usaha sedemikian sulit, ketika musibah datang bertubi-tubi, ketika

kehilangan pekerjaan, ketika kita ditinggal oleh orang yang terkasih, dan kesabaran

menjadi lemah, maka shalat menjadi sarana yang paling penting untuk kita

laksanakan sebagai sarana kita mengadukan semua persoalan kita kepada Allah SWT.
102

Shalat merupakan penolong yang akan selalu memperbaharui kekuatan dan

bekal yang akan selalu memperbaiki hati. Dengan shalat kesabaran akan tetap ada dan

tidak akan terputus. Justru shalat akan mempertebal kesabaran, Sehingga akhirnya

kamu muslimin akan ridha, tenang, teguh dan yakin. (Sayyid Qutbh, Tafsir Fi Zhilalil

Qur’an jilid 1: 171)

Menurut tafsir Ibnu katsir (jilid 4:90) memurnikan ketaatan kapada-Nya

adalah mengabdikan kepada-Nya dan serulah semua orang untuk mengabdi kepada

Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya, karena tidak layak beribadat kecuali bagi-Nya saja.

Oleh karena itu Allah SWT berfirman, Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama

yang bersih,” maksudnya, tidak ada amalan yang diterima kecuali bila amalan itu

iklash semata-mata karena-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Iklash berarti kita memurnikan ketaatan kita, beribadah yang iklash berarti

kita semata-mata beribadah hanya untuk Allah, bukan terhadap yang lain

Al-Hijr:98. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di

antara orang-orang yang bersujud (shalat).

Dalam Al-Quran surat Thaha:132 Allah berfirman:


103

”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah

kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang

memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang

bertakwa.”

Sebuah hadist menyebutkan bahwa jika keluarga Nabi saw, ditimpa suatu

masalah, beliau akan menyuruh mereka mengerjakan shallat sambil membacakan

ayat diatas, Seluruh Nabiyullah, jika mengalami kesulitan, mereka pun segera

menyibukkan diri dengan shalat. Namun sayangnya dewasa ini kita sangat

melalaikan. Kita tidak memperdulikan shalat, padahal kita sering mengaku sedang

mengajak kita agar memperhatikan shalat kita akan mencelanya dan mendebatnya,

sebenarnya hal ini menghancurkan diri kita sendiri ( Al-Kandahlawi, 2003:285)

Ibrahim: 40. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang

tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Doa diatas dihaturkan Nabi Ibrahim ketika di usia tuanya dianugerahkan anak,

Ibrahim berkata ,”Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadanya,
104

Ismail dan Ishak. Doa inipun seharusnya menjadi salah satu doa yang seharusnya kita

ingat dalam mendidik anak-anak kita.

Al-Maarij 34-35 Dan orang-orang yang memelihara shalatnya., Mereka itu

(kekal) di syurga lagi dimuliakan.

Orang yang memelihara shalatnya, orang yaitu orang-orang yang selalu

memelihara waktunya, kewajiban-kewajibannya, tenang dan khusyu, ketika

melaksanakannya, merekalah yang akan dijanjikan Allah memasuki syurga yang

dimuliakan.

Shalat harus dikerjakan dalam keadaan apapun, dalam keadaan takut

sekalipun dan dimanapun seperti dalam firman Allah Al-Baqarah

Al-Baqarah :239. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah

sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka

sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa

yang belum kamu ketahui.

Allah memerintahkan kita mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan

berjamaah dalam melakukan shalat, terutama bagi laki-laki. Menjalankan shalat

secara jamaah akan meningkatkan ukhuwah islamiah dan akan memakmurkan

mesjid. Persatuan dan kesatuan dapat tercipta melalui ukhuwah diantara sesama
105

muslim. Ibarat Lidi yang terjalin menjadi sapu akan lebih kuat dan tidak mudah

patah.

Al-Baqarah :43. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah

beserta orang-orang yang ruku

Menurut Al-Kandahlawi banyak hadist yang menerangkan dan menegaskan

tentang keberkahan dan keuntungan shalat, namun terlalu banyak jika ditulis semua,

sehingga dibuatlah rangkuman terjemahan hadist tentang shalat sebagai mana berikut

dibawah ini. Rasulullah saw bersabda:

1. Perintah yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat ialah shalat

2. Takutlah kepada Allah dalam masalah shalat, takutlah kepada Allah dalam

masalah shalat, takutlah kepada Allah dalam masalah shalat

3. Pembeda antara seseorang dengan syirik adalah shalat

4. Shalat adalah satu tanda keislaman. Barang siapa shalat dengan khusyu’ tepat

waktu, dan memperhatikan rukun serta sunah-sunahnya, ia pasti seseorang

mukmin

5. Diantara semua perintah Allah swt, iman dan shallat adalah kewajiban yang

paling utama. Jika ada sesuatu yang lebih baik dari itu, maka Allah akan

memerintahkan para malaikat-Nya, yang sebagian dari mereka pada waktu


106

siang dan malam hari ada yang senantiasa ruku, dan sebagian lainnya ada

yang terus sujud

6. Shalat adalah tiang agama

7. Shalat menghitamkan mulut syaitan

8. Shalat adalah nur bagi orang-orang beriman

9. Shalat adalah jihad yang paling utama

10. Selama seseorang memperhatikan shalatnya, maka Allah tidak akan

mengabaikannya

11. Jika suatu musibah turun dari langit, maka orang yang memakmurkan masjid

pasti selamat

12. Jika seorang muslim dimasukkan ke neraka karena dosa-dosanya yang besar,

maka api neraka tidak dapat membakar anggota tubuhnya yang telah bersujud

ketika shalat

13. Allah mengharamkan api neraka bagi orang yang bersujud kepada_nya

14. Amal yang paling disukai Allah adalah shallat tepat pada waktunya

15. Allah swt sangat menyukai orang-orang yang bersujud kepada-Nya dengan

perasaan yang sangat hina

16. Allah swt sangat dekat dengan hamba-Nya ketika hamba-Nya sujud kepada-

Nya

17. Shallat adalah anak kunci surga


107

18. Jika seseorang berdiri untuk shalat, pintu-pintu surga akan terbuka dan Allah

swt akan menyingkapkan hijab antara ia dengan Allah. Selama ia tidak

melakukan hal-hal yang dibenci dalam shalat

19. Orang yang shalat diibaratkan sedang mengetuk pintu rumah Allah.

Sebagaimana pada umumnya, pintu yang diketuk itu akan dibuka

20. Derajat shalat dalam agama seperti kedudukan kepala di badan

21. Shalat adalah nur bagi hati. Barang siapa ingin hatinya senantiasa bersinar

maka sinarilah dengan shalat

22. Barang siapa berwudhu dengan sempurna, lalu mengerjakan shalat dengan

khusyu dan khudhu, baik shalat fardhu ataupun sunah, dan ia ingin agar dosa-

dosanya diampuni Allah, maka Allah akan mengampuninya

23. Setiap bumi yang diatasnya didirikan shalat atau mengingat Allah, maka tanah

itu akan merasa bangga dibandingkan tanah lainnya

24. Barang siapa mengerjakan shalat dua rakaat lalu berdoa kepada Allah, Allah

pasti akan mengabulkan doanya. Adakalanya dipercepat atau diperlambat,

sesuai dengan kepentingannya, yang jelas, doanya akan dikabulkan

25. Barang siapa mengerjakan shalat dua rakaat sendirian, tanpa seorangpun yang

melihatnya kecuali Allah dan para malaikat-Nya, maka api neraka tidak akan

menyentuhnya.

26. Jika seorang muslim mendirikan shalat fardhu, maka Allah swt, akan

mengabulkan salah satu doanya


108

27. Barang siapa mengerjakan shalat lima waktu dengan khusyu’, dan melakukan

ruku’, sujud, wudhu dan sebagainya dengan sempurna, maka wajib baginya

surga dan haram atasnya neraka

28. Seorang muslim yang benar-benar menjaga shalat lima waktunya dengan

istiqamah, maka syaitan akan takut kepadanya. Namun jika tidak

memperdulikan shalat lima waktunya, syaitan akan menguasainya dan akan

menyesatkannya

29. Amal yang paling utama adlah shalat pada awal waktu

30. Shalat adalah kurbanya para muttaqin

31. Amal yang disenangi Allah ialah Shalat pada awal waktu

32. Barang siapa pergi untuk menunaikan shalat shubuh, berarti ia sedang

membawa bendera iman ditangannya. Dan barang siapa pergi ke pasar berarti

dia membawa bendara syaitan di tangannya

33. Empat rakaat sebelum Zhuhur sama pahalanya dengan empat raka’at shalat

tahajud

34. Empat rakaat sebelum Zhuhur sama dengan empat rakaat shalat tahajud

35. Rahmat Allah swt bercucuran keatas orang yang berdiri shalat

36. Sebaik-baiknya shalat (setelah shalat fardhu) adalah shalat malam, namun

sangat sedikit yang mengerjakannya

37. Jibril as berkata kepadaku dan berkata, ”Ya Muhammad, berapa lamapun

engkau hidup, kamu pasti akan mati juga, betapun engkau mencintai sesuatu,

suatu hari engkau akan berpisah dengannya. Sesungguhnya engkau akan


109

menerima balasan atas apa saja yang engkau lakukan (baik atau buruk), tidak

diragukan lagi bahwa kehormatan seorang mukmin adalah dalam tahajudnya,

dan kemuliaan seseorang mukmin adalah dalam qana’ahnya

38. Shalat malam dua rakaat lebih berharga dari pada kekayaan didunia ini, jika

tidak memberatkan umatku, aku akan mewajibkan shalat tahajud

39. Jagalah shalat tahajud, karena tahajud adalah amalan para shalihin dan

penyebab untuk mendekatkan diri kepada Allah, menghentikan perbuatan

dosa, penyebab ampunan dosa, dan menyehatkan badan.

40. Allah berfirman, ”Hai anak adam , janganlah malas untuk mengerjakan empat

rakaat pada permulaan pagi, karena aku akan mencurahkan rejekimu pada hari

itu.” (Al-Kandahlawi,2003: 241-242)

Ada beberapa 12 hal yang harus diperhatikan dalam shalat (As-

Samarqandi,1999:495-499)

1. Dalam melakukan sesuatu ibadah kita harus mengetahui ilmunya, Nabi

bersabda amal yang sedikit dengan ilmu itu lebih baik dari pada amal banyak

tanpa ilmu.” Pengetahuan disini :

a) Mengetahui mana yang wajib dan yang sunah dalam shalat

b) Mengetahui mana yang wajib dan sunah dalam berwudhu

c) Mengetahui tipu daya setan sehingga ia bisa memeranginya

2. Wudu Karena Nabi bersabda :” Tidak sah shalat melainkan dengan suci”.

Sempurnanya wudhu dengan tiga hal, yaitu:


110

a) Membersihkan hati dari rasa dengki dan jahat

b) Membersihkan badan dari dosa

c) Membasuh anggota-anggota wudu dengan sempurna tanpa memboroskan

air

3. Pakaian , karena Allah SWT berfirman:

QS. Al-A’raf:31 , artinya” pakailah pakaianmu yang bagus setiap kali

(memasuki) mesjid.” Maksudnya berpakaianlah kamu setiap mengerjakan

shalat.

Sempurnannya pakaian dengan tiga hal, yaitu:

a) Pakaian itu berasal dari usaha yang halal

b) Bersih dari najis

c) Sesuai dengan sunah. Berpakaian bukan untuk bermegah-megahan.

4. Memelihara waktu, karena Allah Ta’ala berfirman: QS. An-Nisa:103,

”Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas

orang- orang yang beriman.”

Sempurnanya pemeliharaan waktu dengan tiga hal yaitu:

a) Mata selalu memperhatikan jalannya matahari, bulan dan bintang untuk

mengetahui waktu shalat

b) Telinga selalu memperhatikan suara azan

c) Hati selalu mengingat dan memperhatikan tibanya waktu shalat

5. Menghadap Kiblat karena Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah:150,

”Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kamu


111

berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.

Kesempurnaan menghadap Kiblat dengan tiga hal, yaitu:

a) Menghadap muka ke arah kiblat

b) Menghadap Allah dengan sepenuh hati

c) Khusyuk dan merendahkan diri

6. Niat karena Nabi Saw, bersabda,” Sesungguhnya segala amalan perbuatan itu

tergantung pada niatnya, dan bagi seseorang apa yang diniatkan.”

Kesempurnaan niat tiga hal, yaitu:

a) Mengetahui shalat apa yang dikerjakan

b) Menyadari bahwa ia sedang berdiri dihadapan Allah

c) Menyadari bahwa Allah mengetahui segala hal yang ada didalam

hati,

maka bersihkanlah hati dari kesibukan memikirkan masalah dunia

7. Kesempurnaan Takbiratul ihram dengan tiga hal, yaitu

a) Takbir dengan benar dan mantap

b) Mengarahkan hati hati hanya kepada Allah

c) Tidak menoleh ke kanan dan kekiri

8. Membaca ayat-ayat Al-Quran, karena Allah berfirman ” Bacalah apa yang

mudah (bagimu) dari Al-Quran “(QS. Al-Muzammil:20).Kesempurnaan

bacaan Quran dengan tiga hal, yaitu:

a) Membaca surat Al-fatihah dengan bacaan yang benar dan tartil

b) Membaca dengan merenungi artinya


112

c) Mengamalkan apa yang dibaca

9. Rukuk , karena Allah Ta’ala berfirman ” Dan rukuklah kamu,” (QS. Al-

Hajj:77). Kesempurnaan rukuk dengan tiga hal, yaitu:

a) Meluruskan tulang punggung

b) Meletakan kedua tangan pada lutut dan merenggangkan jari-jari

c) Thuma’ninah dalam rukuk dalam rukuk seraya membaca tasbih dengan

mengagungkan Allah.

10. Kesempurnaan Duduk dengan tiga hal , yaitu:

a) Duduk di atas kaki kiri dan menegakkan telapak kaki kanan

b) Membaca tashahud (tahiyat) dengan ta’zhim serta berdoa untuk diri

sendiri dan segenap kaum mukminin

c) Mengucapkan salam dengan sempurna. Adapun kesempurnaan salam itu

dengan niat memberi salam dari lubuk hati, Semoga kesejahteraan

dilimpahkan ke malaikat dan segenap orang yang berada disebelah kanan

dan disebelah kiri, serta pandangan tidak melebihi kedua bahu.

11. Berdiri, karena Allah berfirman dalam Qs, Al-Baqarah:238 ,”Berdirilah

karena Allah (dalam salatmu) dengan khuyuk.”

12. Kesempurnaan Iklash juga dengan tiga hal, yaitu

a) Shalat itu ditujuan hanya untuk mengharapkan rida Allah

b) Merasa bahwa mengerjakan shalat itu karena taufik dari Allah

c) Memelihara shalat agar bisa bersama-sama menghadap Allah nanti pada

hari kiamat.
113

b. Shalat Menurut Kedokteran

Gerakan shalat menurut para ilmuwan dan dokter salah satu terbaik untuk

menyembuhkan rematik (terutama untuk tulang punggung), yang disebabkan oleh

ketidak seimbangan otot. Berdasarkan saran dokter tidak ada solusi yang berbaik

untuk menghindari rematik sejak dini dengan melaksanakan sholat 5 waktu secara

konsisten dan juga banyak melakukan gerak untuk meminimalisir kemungkinan

penyakit tulang punggung, memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin

mengembalikan keseimbangan pada persendian dan otot tubuh, dan otot tubuh, dan

hendaknya hal ini tetap dilaksanakan walaupun ada kerusakan tulang atau setelah

penggunaan gips. Dapat disimpulkan bahwa gerakan sholat adalah jenis gerakan

terbaik yang selaras dengan saran dokter dan mampu mengembalikan fungsi otot

dengan baik, gerakan yang dimaksud diantaranya gerakan rukuk, berdiri tegak, sujud

dalam waktu yang lama dan dilakukan berulang (Abdullah, 2006: 37-38)

Gerakan shalat pun merupakan gerakan olah raga ringan yang baik untuk

melancarkan peredaran darah tubuh, lancarnya peredaran darah, akan melancarkan

suply oksigen dan nutrisi keseluruh organ tubuh dan otak.

Selain baik untuk jantung dan peredaran darah, gerakan shalat ini juga dapat

memperkuat tulang karena tulang yang banyak digerakan secara terus menerus akan

menjadi lebh baik ,lebih tebal tidak gampang kropos atau dapat terhindar dari

osteoporosis, karena mengandung lebih banyak kalsium dibanding tulang yang tidak

sering digerakkan.
114

Berwudhu yang kita lakukan sebelum shalat dapat menetralisir jumlah kuman

yang patogen atau berbahaya akibat kulit yang terpapar dengan debu. Sehingga

kebersihan kulit lebih terjaga dari infeksi kulit, membilas kulit dengan air yang

berulang-ulang dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap bakteri, sehingga

meningkatkan imunitas.

Berwudhu juga dapat menghindari kanker kulit, kulit yang terpapar dengan

berbagai zat kimia , dengan membilas kulit sebanyak 5 kali sehari dapat mengurangi

efek kimiawi yang terpapar ke kulit kita, sehingga dampat zat kimia dapat

diminimalisir.

Dalam sebuah penelitian di falkutas kedokteran di Iskandariyah Mesir, bekerja

sama dengan kelompok peneliti ilmiah dan tehnologi melakukan penelitian untuk

mengungkapkan hubungan antara ilmu pengetahuan dan wudhu dilihat dari kesehatan

mengungkapkan bahwa hidung bagian dalam yang tidak dibasuh air umumnya

berwarna pucat, berminyak, serta penuh dengan debu dan kotoran, sedangkan pintu

hidungnya yang tampak bagian luar, tampak berwarna cerah dan terdapat bulu hidung

padanya. Bulu hidung umumnya rentan dihinggapi debu dan kotoran. Sedangkan

pada hidung kelompok yang disiplin melakukan wudhu tidak didapati kumpulan

bakteri dan mikroba.

Hembing memaparkan membasuh wajah waktu wudhu dengan air bersih akan

merangsang titik-titik akupuntur dibagian wajah yang efeknya sangat bermanfaat

untuk kesehatan. Rangsangan yang ditimbulkan fungsinya sesuai dengan therapi

akupuntur. Pada wajah terdapat pusat akupuntur organ seperti titik, dada, usus kecil,
115

usus besar, ginjal, kaki, tangan, tempurung lutut, faring, hati/ limfa, jantung, kandung

kemih, lambung, paru-paru, kandung empedu. Ketika membasuh kedua tangan

sampai siku pun terdapat titik akupuntur yang terangsang antara lain. Meridien yien

untuk menyembuhkan penyakit pada dada, paru-paru, tenggorokan, lambung,

jantung, dan organ gerakan bagian atas. Rangsangan pada meridien yang ditangan

dapat menyembuhkan penyakit pada kepala, wajahm mata, kuping, hidung, mulut,

gigi, tenggorokan dan organ gerak bagian atas leher (Hembing,1994:47-49)

Bila kita melihat titik akupuntur pada telinga, terdapat berbagai titik

akupuntur organ, sehingga perangsangan telinga dengan membasuhnya tiga kali juga

otomatis akan menyeimbangkan organ-organ tubuh

Hembing menambahkan bahwa dalam pengobatan oriental atau cina dengan

akupuntur, terdapat sistem meridien pada tubuh, saluran-saluran yang membujur

(cing) dan saluran yang melintang (Lo) yang tersebar secara simetris di seluruh tubuh,

serta menghubungkan titik akupuntur tertentu, selama sehat sirkulasi energi vital akan

berada pada keadaan seimbang, sedangkan ketidak seimbangan membuat sakit,

dengan merangsang titik meridien tersebut, keseimbangan aliran energi akan

diperbaiki dan akan kembali sehat, dengan berwudhu, saat kita membasuh tangan,

wajah, kedua kaki, hidung, telinga, bagian kepala, maka meridien yang terdapat di

bagian tubuh tersebut akan tersentuh. Rangsangan terhadap meridien dan titik

akupuntur terkait dengan berbagai disiplin ilmu mulai dari fisiologi, anatom, patologi.

Titik Akupuntur dan meridien berhubungan erat dengan aktivitas susunan

syarat otonom, yang terdiri dari syaraf simpatis dan parasimpatis yang berpusat di
116

hipotalamus otak,. Sifat syaraf simpatis bersifat Yang dan syaraf parasimpatis bersifat

Yin. Penjelasan sistem syaraf simpatis dan para simpatis dapat lebih jelas dibaca

dalam mekanisme stres yang dipengaruhi hormonal tubuh.

Membasuh kepala ketika wudhu dapat memberikan kebersihan kulit kepala

dan rambut dari debu, dan juga dapat menjernihkan otak. Bisa terasa ketika hati dan

emosi sedang marah, air wudhu yang membasahi kepala dapat menurunkan emosi

kita dan menyeimbangkan hormon stress dalam tubuh. Hormon kortisol merupakan

salah satu hormon yang meningkat ketika terjadi stress dan emosi amarah, yang

bekerja meningkatkan seluruh kerja organ untuk bersikap fight and fligh atau

waspada, dimana kerja jangtung meningkat, tekanan darah bertambah, kita menjadi

waspada, wajah memerah, dan bila hal ini tidak di kendalikan, kemarahan bisa

memuncak ke alam bawah sadar sehingga orang bila khilaf atau kalau sifatnya kronis

membawa ke penyakit fisik.

Shalat yang khusyuk, dimana seluruh pikiran dalam keadaan kosentrasi dan

komunikasi dengan Allah, terdapat waktu dimana otak memperoleh istirahat yang

sempurna untuk menetralisir peningkatan jumlah zat kimia yang dihasilkan otak

dalam menghadapi stresor.


117

Gambar 2.5 Hasil SPECT Images Pada orang yang Meditasi dan yang tidak.

www.kaheel7.com

Dr Noha abo-krysha dalam tulisannya tentang The Effect of Prayer on the

Human Body menjelaskan tentang hasil Single photon CT scan yang menunjukan

adanya peningkatan aliran darah pada otak besar (cerebrum) ketika seseorang

melakukan berdoa/meditasi, gambar yang sebelah kiri menunjukan sebelum berdoa

dan kanan menunjukan peningkatan aktivitas otak yang bertambah setelah meditasi

Atau berdoa Warna merah menunjukkan aktivitas yang tinggi, sedang kuning dan

hijau menunjukan aktifitas yang rendah, Selama meditasi atau berdoa asupan darah

ke otak terutama bagian lobus frontal akan bertambah, seperti yang kita ketahui

bagian frontal cerebrum bertanggung jawab dalam mengontrol emosi dan agitasi pada

manusia.

Hasil ini adalah hasil riset oleh Dr. Newberg, the assistant Professor at X-Ray

division of the Pennsylvania University Medical Center, terhadap grup yang


118

menjalankan aktivitas doa yang berasal dari berbagai latar belakang agama yang

berbeda.

3.2 Puasa

a. Puasa Menurut Islam

Puasa telah dilakukan sejak zaman dulu, tidak hanya oleh umat Islam saja, tapi oleh

umat beragama yang lain, dengan cara masing-masing yang dipercayainya. Dengan

puasa kita bisa sehat secara jasmani dan rohani.

Dalam medis puasa bisa membersihkan toksin dan zat-zat yang menumpuk

dalam seluran pencernaan, ginjal, dan organ yang lain akibat bahan pengawet, zat

pewarna, pemanis buatan, zat karninogenik yang menyebabkan kanker, asap rokok

dan lain-lainnya yang menumpuk bertahun-tahun. Walaupun tubuh kita sendiri

mempunyai kemampuan mekanisme untuk mengobati sediri, tapi kapasitas tubuh

sendiri juga ada batasnya. Dengan puasa ini kerja tubuh melindungi organ-organnya

bisa lebih sempurna.

Dalam Islam puasa yang kita lakukan dalam bulan ramadhan maupun puasa

sunah diluar Ramadhan membuat kita bisa menjadi lebih taqwa dan lebih sabar, bila

yang halal saja dapat kita tahan dengan puasa, apalagi yang haram.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Abu Hurairah r.a , katanya

Rasullullah bersabda ”Allah ’Azza wa Jalla berfirman: ”Setiap amal anak Adam

teruntuk baginya kecuali puasa, puasa itu adalah untuk Ku dan Aku akan memberinya

pahala. Puasa itu perisai. Apabla kamu puasa janganlah kamu rusak puasamu itu
119

dengan sanggama dan jangan menghina orang. Apabila kamu yang dihina atau

dipukul orang, maka katakanlah :”Aku puasa,” Demi Allah yang jiwa Muhammad

berada ditangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang puasa lebih harum disisi Allah

pada hari kiamat kelak dari pada bau kesturi. Dan bagi orang puasa ada dua

kegembiraan. Apabila dia berbuka dia gembira dengan bukaannya dan apabila dia

menemui Tuhannya (meninggal) dia gembira dengan puasanya. (Muslim:hadist 1117)

Mulut yang orang yang berpuasa yang tercium memang akibat adanya proses

metabolisme yang terjadi dalam tubuh kita, yang sedang membersihkan dari zat-zat

yang menumpuk yang dapat mengganggu kesehatan kita, seperti lemak dan

sebagainya.

Puasa secara etimologis berarti mencegah makan, minum, berhubungan

seksual. Dan secara terminologi puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang bisa

membatalkan, atau dari makanan, minuman, dan bersetubuh mulai dari terbitnya fajar

sampai terbenamnya matahari.. Dalam bahasa arab puasa sama dengan shaum, dalam

Mu’jan al Watsith, kata puasa diartikan sebagai mencegah diri untuk tidak berbuat

atau berkata sesuatu. Sedangkan kata shama, shauman dan shiyaman artinya adalah

menahan. Kata shaum dan syiyam bermakna sama, sedangkan kata shauman (puasa)

dalam surah Maryam ayat 26, artinya adalah membisu, tidak berbicara (Ash-

Shawi,2006:18).

Allah berfirman tentang puasa dalam beberapa ayat dalam Al-Quran sebagai

berikut:
120

1. Bahwa Puasa adalah wajib hukumnya agar kita dapat menjadi orang yang

bertaqwa.

Dalam Alquran Qs Al-Baqarah 2:183.Allah berfirman,” Hai orang-orang

yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas

orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

2. Bahwa puasa bukan ibadah yang memberatkan karena dalam keadaan sakit atau

dalam perjalanan, kita dapat menggantinya dilain hari sebanyak bilangan yang

kita tinggalkan. Qs Al-Baqarah 2:184 Allah berfirman:

”Dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang

sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa)

sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi
121

orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar

fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan

kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan

berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Qs Al-Baqarah 2:185 Allah berfirman:

”Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di

dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan

penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan

yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat

tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan

barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah

baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang

lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran

bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu


122

mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu

bersyukur.

3. Puasa yang kita lakukan setelah terbit fajar dan terbenamnya matahari, pada saat

itu kita tidak boleh melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan,

minum, berhubungan dengan istri, dan menahan diri dari segala yang mengurangi

pahala puasa. Dalam Qs Al-Baqarah 2:187, Allah berfirman,”Dihalalkan bagi

kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka

adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah

mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah

mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah

mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan

minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah

kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan

Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan

ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa puasa adalah menahan diri dari

makan, minum berijma disertai niat iklash karena Allah SWT. Pada permulaan Islam,

puasa dilaksanakan 3 hari setiap bulan, kemudian pelaksanaannya dinasakh oleh

puasa pada bulan ramandhan. Dari Muazh, ibnu Mas’ud dan yang lainnya dikatakan

bahwa puasa itu senantiasa disyariatkan sejak zaman nabi Nuh hingga Allah

menasakh ketentuan itu dengan puasa Ramandhan (Tafsir Ibnu Katsir I: 286-287)
123

Allah mewajibkan puasa karena puasa dapat menyucikan badan.. Allah juga

memberikan kemudahan, kemudahan bagi yang sakit, berpergian untuk tidak

berpuasa, namun boleh mengqadha di hari yang lain. Orang yang merasa berat (0rang

tua yang tidak sanggup puasa) untuk memberi makan kepada orang-orang muskin

(fidyah) setiap hari berbuka. Demikian pula pada orang yang hamil dan menyusui jika

keduanya mengkhawatikan keselamatan anaknya dan menggantinya dikemudian hari.

Sesuai bilangan yang ditinggalkan. Fidyah adalah mengeluarkan satu mud (sama

dengan 800 gram gandum atau sejenisnya) setiap hari, dan setiap mud diberikan

kepada satu orang miskin.

Untuk wanita hamil yang hampir melahirkan dan sedang menyusui, ada

beberapa pendapat dalam persoalan fidyah (kifarah) yaitu:( Mughniyah,2005:158)

1. Hanafi, tidak mewajibkan fidyah secara mutlak

2. Maliki, hanya mewajibkan bagi wanita yang menyusui, bukan yang hamil

3. Hambali dan syafi’i, menyatakan bahwa setiap wanita yang hamil dan

menyusui wajib membayar fidyah, bila hanya khawatir bagi anaknya saja,

tetapi bila khawatir terhadap dirinya dan anaknya secara bersamaan, maka dia

harus meng-qadha (menggantinya), tanpa membayar fidyah.

4. Imamiyah, kalau wanita hamil yang saat kelahirannya sudah dekat dan

membahayakan dirinya bila berpuasa, atau membahayakan dirinya bila

berpuasa, atau dia harus berbuka dan tidak boleh berpuasa, karena yang

membahayakan itu diharamkan. Mereka sepakat bahwa bagi wanita yang

khawatir membahayakan anaknya harus meng-qadha’ (menggantinya) dan


124

membayar fidyah satu mud. Tetapi kalau khawatir membahayakan dirinya,

mereka berbeda pendapat, sebagian harus meng-qahda (menggantinya) dan

tidak usah membayar fidyah, dan yang lainnya harus meng-qhada dan

membayar fidyah.

Menurut Quraish Shihab puasa yang dilakukan umat Islam digaris bawahi

oleh Al-Quran sebagai ”bertujuan untuk memperoleh taqwa”, Tujuan tersebut tercapai

dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Memahami dan menghayati arti puasa

memerlukan pemahaman terhadap dua hal pokok menyangkut hakikat manusia dan

kewajiban di bumi, Pertama, manusia diciptakan Allah dari tanah, kemudian

dihembuskan kepadaNya Ruh ciptaan-Nya dan diberi potensi untuk mengembangkan

dirinya hingga mencapai satu tingkat yang menjadikannya wajar untuk menjadi

khalifah (pengganti) Tuhan dalam memakmurkan bumi ini, menurut hadis pula

bahwa tuhan menciptakan manusia menurut ”petanya”, dalam arti memberikan

potensi untuk memiliki sifat-sifat sesuai dengan kemampuannya sebagai mahluk,

Kedua, dalam perjalanan manusia menuju Bumi , ia (Adam) melewati (” transit”di)

surga agar pengalaman, yang diperolehnya disana dapat dijadikan bekal dalam

menyukseskan tugas pokoknya dibumi ini, Pengalaman tersebut antara lain adalah

persentuhan dengan keadaan di surga itu sendiri. Disana telah tersedia segala macam

kebutuhan manusia, antara lain sandang pangan serta ketentraman lahir dan batin (QS

20 :118-119 dan QS 56: 25). Hal ini mendorong manusia untuk menciptakan

bayangan surga di bumi, sebagaimana pengalamannya dengan dengan setan


125

mendorongnya untuk berhati-hati agar tidak terpedaya lagi sehingga mengalami

kepahitan yang dirasakan ketika terusir dari surga. Kebutuhan fisiologis, seperti

makan, minum, hubungan suami istri merupakan kebutuhan paling mendasar yang

harus terpenuhi dulu sebelum menginjak kebutuhan berikutnya, bila seseorang dapat

mengendalikan kebutuhan dasarnya maka akan mudah mengendalikan kebutuhan

yang lainnya. (Shihab,1998:308)

Teori tentang kebutuhan manusia yang dicetuskan Abraham Maslow (pelopor

aliran psikologi humanistik). Bahwa manusia tergerak untuk memahami dan

menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal adalah teori tentang

Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurutnya, manusia termotivasi untuk

memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki

tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis), kedua

kebutuhan akan rasa aman dan tentram, ketiga kebutuhan untuk dicintai dan

disayangi, keempat kebutuhan untuk dihargai dan yang paling tinggi adalah

kebutuhan aktualisasi diri

Quraishi Shihab menambahkan bahwa Tujuan Puasa yang sebenarnya adalah

meneladani Allah dalam sifat-sifatNya yang berjumlah sembilan puluh sembilan itu.

Dan manusua meneladaninya sesuai dengan kemampuan sebagai manusia, dengan

demikian, dengan mencontoh sifat-sifat Tuhan berarti membangun dan

memakmurkan bumi ini sehingga pada akhirnya bumi ini menjadi ”bayang-bayang ”
126

surga yang penuh dengan keamanan dan kedamaian, serta pemenuhan segala

kebutuhan hidup manusia seperti sandang, pangan, papan.

Hasan Basri menggambarkan keadaan orang yang meleladani Tuhan sehingga

mencapai tingkat taqwa yang sebenarnya dengan ungkapan :”Anda akan menjumpai

orang tersebut teguh dalam keyakinan, teguh tapi bijaksana, tekun dalam menuntut

ilmu, semakin berilmu semakin merendah, semakin berkuasa semakin bijaksana,

tampak wibawanya didepan umum, jelas syukurnya dikala beruntung, menonjol

qana’ah (kepuasan)-nya dalam pembagian rezeki, senantiasa berhias walaupun

miskin, selalu cermat, tidak boros walaupun kaya, murah hati dan murah tangan,

tidak menghina, tidak mengejek, tidak menghabiskan waktu dalam permainan dan

tidak berjalan membawa fitnah, disiplin dalam tugasnya, tinggi dedikasinya, serta

terpelihar identitasnya, tidak menuntut yang bukan haknya dan tidak menahan hak

orang lain. Kalau ditegur ia menyesal, kalau bersalah ia istighfar, bila dimaki ia

tersenyum sambil berkata: ”Jika makian anda benar, maka aku bermohon semoga

Tuhan mengampuniku. Dan jika makian anda keliru, maka aku memohon semoga

Allah mengapunimu.”(Shihab, 1998:310).

Menurut Muhammad Ali As-Shabuni dalam ensiklopedia islam bahwa puasa

sedikitnya mempunyai empat hikmah yaitu:

a. Sarana Pendidikan bagi manusia agar tetap bertaqwa, membiasakan diri untuk

patuh, terhadap perintah Allah SWT, penghambaan diri terhadap Allah SWT.
127

b. PendidIkan jiwa dan membiasakan diri untuk tetap sabar dan tahan terhadap

segala penderitaan demi menempuh dan melaksanakan perintah Allah. Menahan

diri dari segala keinginan dan hawa nafsunya

c. Merupakan sarana menumbuhkan sayang dan rasa persaudaraan terhadap orang

lain sehingga terdorong membantu dan menyantuni orang yang tidak

berkecukupan.

d. Dapat menanamkan dalam diri manusia rasa takwa kepada Allah SWT dengan

senantiasa menjalankan perintahnya dalam keadaan sembunyi-sembunyi maupun

terang-terangan.

b.Puasa Menurut Kedokteran

Puasa dapat meningkatkan kekebalan tubuh atau imun system terhadap

berbagai penyakit. Ditunjukkan dengan peningkatan fungsi sel limfa yang

memproduksi sel limfosit T yang secara significan bertambah, setelah puasa. (Riyad

Albiby and Ahmed Elkadi :84 )

Untuk penyakit seperti diabetes sekalipun puasa ramadhan tidak akan

berbahaya , malah memberikan banyak manfaat (Sulimami, dll, 1988: 549-552)

Menurut Jalal Saour bahwa berkurangnya cairan pada puasa akan menurunkan

heart rate atau kerja jantung, pencegahan terhadap penggumpalan darah yang

termasuk penyebab serius panyakit jantung.(Jalal, Riyad,1990)


128

Malah puasa juga aman untuk pasien yang mempunyai gangguan ulcer pada

lambung. Penelitian dilakukan oleh Muzam MG, Ali M.N dan Husain dalam

observasi terhadap efek puasa ramadhan terhadap asam lambung (Muzam :1963:228)

Puasa adalah salah satu metode dalam mendetoksikasi tubuh, meningkatkan

kekebalan tubuh terhadap penyakit, dengan puasa kita bisa mengistirahatkan organ-

organ tubuh dan membersihkan tubuh dari sisa residu dan zat karsinogenik yang ada

dalam makanan. Menyeimbangkan metabolisme tubuh dan emosi. Yang terpenting,

puasa dapat meningkatkan kualitas hidup kita.

Menurut Elson M. Haas M.D. Direktur Medical Centre of Marin (sejak 1984)

. Dalam puasa (cleasing dan detoksifikasi) merupakan bagian dari trilogy nutrisi,

balancing, building( toning). Elson percaya bahwa puasa adalah bagian yang hilang

“missing link” dalam diet di dunia barat. Kebanyakan orang di barat over eating atau

terlalu banyak makan, makan dengan protein yang berlebihan, lemak yang

berlebihan pula. Sehingga ia menyarankan agar orang lain mulai mengatur

makanannya agar lebih seimbang dan mulai berpuasa, karena puasa bermanfaat

sebagai: purifikasi, peremajaan, istirahat pada organ pencernaan, anti aging,

mengurangi alergi, mengurangi berat badan, detoksikasi, relaxasi mental dan emosi,

perubahan kebiasaan dari kebiasaan makan yang buruk menjadi lebih seimbang dan

lebih terkontrol, meningkatkan imunitas tubuh. dan lebih baik lagi bila dalam

pengawasan dokter. Puasa dapat mengobati penyakit seperti Influeza, bronkitis, diare,
129

konstipasi, alergi makanan, astma, aterosklerosis, penyakit jantung koroner,

hipertensi, diabetes, obesitas, kanker, epilepsi, sakit pada punggung, sakit mental,

angina pectoris (nyeri dada karena jantung), panas dan insomnia.

(www.healthynet.com)

Puasa sudah diakui menjadi penyembuh terhebat dalam menanggulagi

penyakit, bahkan di amerika ada pusat puasa yang diberi nama ”Fasting Center

International, Inc” ,Director Dennis Paulson yang berdiri sudah sejak 35 tahun yang

lalu, dengan pasien dari 220 negara. Yang merekomendasikan: (1) program

penurunan berat badan, (2) mengeluarkan toxin tubuh, (3) puasa dapat memperbaiki

energy, kesehatan mental, kesehatan fisik dan yang paling terpenting meningkatkan

kualitas hidup.

Beberapa Ilmuwan telah melakukan beberapa penelitian tentang puasa

diantaranya secara ringkas dibawah ini: (Seperti yang dikutip oleh Ash-Shawi)

1. Puasa dapat mengurangi jumlah hormon pemicu stress, Dr Sabah al-Baqir dan

kawan-kawan dari Falkutas kedokteran Universitas King Saud.yang melakukan

studi terhadap hormon prolaktin, insulin dan kortisol, pada tujuh orang laki-laki

yang berpuasa sebagai sampel. Hasilnya bahwa tidak ada perubahan signifikan

pada level kortisol. Prolaktin, dan insulin. Ini menunjukkan bahwa puasa bulan

ramadhan bukanlah pekerjaan yang memberatkan, dan tidak mengakibatkan

tekanan mental maupun saraf. Percobaan ini menunjukan peningkatannya terjadi

pada perbedaan waktu saja, bila pada hari tidak puasa prolaktin mengalami

kenaikan tertinggi pada jam 16.00. sementara pada bulan Ramadhan mengalami
130

puncaknya pada pukul 21.00 dan menurun lagi sampai batas terendahnya pukul

04.00. Sementara insulin meningkat pada pukul 16.00, sedang pada bulan

ramadhan pukul 21.00, menurun sampai batas terendah pukul 16.00. Sedang

Kortisol pada hari biasa mencapai puncaknya pukul 09.00, menurun pada pukul

21.00, sementara pada bulan Ramadhan tidak ada perubahan berarti

2. Dr Ahmad al-Qadhi, Dr. Riyadh al-Bibabi, bersama rekannya di Amerika

melakukan uji laboratorium terhadap sejumlah sukarelawan yang berpuasa selama

bulan Ramadhan. Hasil penelitian ini menunjukan pengaruh positif puasa yang

cukup signifikan terhadap sistem kekebalan tubuh. Indikator fungsional sel-sel

getah (lymfocytes) membaik hingga sepuluh kali lipat, walaupun jumlah

keseluruhan sel-sel getah bening tidak berubah, namun prosentase jenis getah

bening yang bertanggung jawab melindungi tubuh dan melawan berbagai

penyakit yaitu sel T mengalami kenaikan yang pesat.

3. Dr Riyadh Sulaiman dan kawan-kawan tahun 1990 dari RS Universitas King

Khalid, Riyadh Saudi melakukan penelitian terhadap pengaruh puasa Ramadhan

terhadap 47 penderita diabetes jenis kedua (pasien yang tidak tergantung insulin).

Dan sejumlah orang sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puasa bulan

ramadhan tidak menimbulkan penurunan berat badan yang signifikan. Tidak ada

pengaruh apapun yang berarti pada kontrol penyakit diabetes diabetes dikalangan

penderita ini. Sejauh ini puasa Ramadhan aman saja bagi penderita diabetes

sejauh dilakukan dengan kesadaran dan kontrol makanan serta obat-obatan.


131

4. Dr. Muhammad Munib dan kawan-kawan dari Turki juga melakukan sebuah

penelitian terhadap seratus responden muslim, Sampel darah mereka diambil

sebelum dan diakhir bulan ramadhan, untuk dilakukan analisis dan pengukuran

terhadap kandungan protein , total lemak (total lipid), lemak fosfat, asam lemak

bebas, kolesterol, albumin, globulin, gula darah, tryglycerol, dan unsur-unsur

pembentuk darah lainnya, dan didapat, antara lain bahwa terjadi penurunan umum

pada kadar gula (glukosa) dan tryacyglicerol orang yang berpuasa, terjadinya

penurunan parsial dan ringan pada berat badan, tidak terlihat adanya aseton dalam

urin, baik dalam awal maupun akhir puasa, sebab sebelum puasa ramadhan,

kenyataan ini menegaskan tidak adanya pembentukan zat-zat keton yang

berbahaya bagi tubuh selama bulan puasa islam, Dengan keutamaan puasa,

glikogen dalam tubuh mengalami peremajaan, memompa gerakan lemak yang

tersimpan, sehingga menghasilkan energi yang lebih meningkat (Ash-Shawi

2006:85-86)

Sejak zaman dulu puasa dipakai sebagai pengobatan yang terbaik seperti kata

Plato bahwa puasa adalah untuk mengobati sakit fisik dan mental. Philippus

Paracelsus mengatakan bahwa “Fasting is the greatest remedy the physician within!"

Puasa dapat dilakukan untuk pencegahan penyakit dan penyembuhan

penyakit, menurut Ash-Shawi secara ringkas perbedaan dan persamaan puasa yang

dilakukan untuk pengobatan dan puasa Islam adalah sebagai berikut

1. Puasa dalam Islam dilakukan pada waktu yang telah ditentukan, yaitu bulan

Ramadhan setiap tahun, selama satu bulan dan juga bisa dilakukan di luar
132

bulan ramadhan yaitu sebagai puasa sunah. Sedangkan puasa medis dilakukan

pada waktu tidak tertentu, tergantung kesadaran pasien atau anjuran dokter.

Dan biasanya dalam pengawasan dokter

2. Puasa medis biasanya dengan pantangan beberapa zat makanan sesuai dengan

tujuan pengobatannya. Sedangkan puasa Islam tidak memantang makanan,

namun seimbang energi, protein , vitamin dan mineral.

3. Puasa Islam dilakukan dengan hati yang senang, begitulah janji Allah bahwa

puasa yang umat Islam lakukan membawa dua kegembiraan, namun puasa

medis biasanya membuat membuat pasien agak tertekan, dilakukan karena

banyaknya bahan makanan yang dipantang. Dan pantangan sepanjang waktu

sampai batas yang ditentukan dokter.

4. Puasa Islam dilakukan oleh orang yang sehat, sedangkan pada kondisi tertentu

puasa diberikan keringanan, terutama pada wanita hamil. menyusui, orang tua

yang sudah tidak kuat lagi melaksanakan puasa. Pada puasa medis biasanya

dilakukan karena petunjuk dokter pada seseorang yang mengalami kelainan

medis tertentu.

3.3 Zikir Dan Membaca Al-Quran

a. Zikir Menurut Islam

Al-Quran adalah penawar kekedihan dan kecemasan. Dengan membaca Al-

Quran dan tahu artinya maka kecemasan dan ketakutan kita terhadap segala hal akan

hilang, misalnya ketika kita sedang sakit dan kita membaca Al-Quran, surat Asy-

Syu’araa: 80-81, Allah berfirman “ Dan apabila aku sakit, Dialah yang
133

menyembuhkan aku , dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan

aku (kembali)”.

Zikir dan membaca Al-Quran adalah bagian dalam mengingat Allah,

bersyukur kepada-Nya disetiap waktu, dengan sebanyak-banyaknya. Dengan

mengingat Allah, kita akan merasakan penjagaan dan pengawasan Allah terhadap

kita, hingga makin besarlah tertanam dalam hatinya keridhaan, keiklasan kelapangan

hati dan ketenangan. Ketenangan menjaga kita dari penyakit hati dan fisik.

Dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab 41, Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir

yang sebanyak-banyaknya.”

Mengingat Allah dalam kondisi apapun baik sedang duduk, berbaring. Dalam

Al-Quran surat Ali-Imram 3:191, Allah berfirman

”(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau

dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan
134

bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan

sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Allah Taala mencela orang yang tidak mau mengambil pelajaran dari mahluk-

mahluk-Nya yang menunjukan kepada zat, sifat, syariat, takdir, dan tanda-tanda

kebesarannya. Allah Ta’ala berfirman,” dan betapa banyaknya tanda-tanda kebesaran-

Nya yang terdapat di langit dan bumi..sedang mereka menyekutukan Allah,”Allah

memuji hamba-hambanya yang beriman,”yang mengingat Allah ketika duduk, berdiri

berbaring. Mereka merenungkan penciptaan langit dan bumi” sambil berkata.,” Ya

Tuhan kami, tidaklah engkau ciptakan ini dengan sia-sia”Yakni , tidaklah engkau

ciptakan mahluk ini dengan main-main , namun secara hak agar engkau membalas

orang-orang yang beramal buruk sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan serta

membalas orang yang berbuat baik dengan balasan kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid

I: 635)

Dengan banyak berzikir kita akan selalu mengingat Allah, kita berharap hanya

kepada Allah yang selalu dekat kepada kita, yang akan mengabulkan permohonan

hambanya yang iklash dan taat kepada perintah Allah dan selalu berada dalam

kebenaran.

Qs. Al-Baqarah :186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu

tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan

permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah

mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-

Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.


135

Dalam dunia sufi seorang syek menerangkan kepada muridnya bagaimana

cara berbicara kepada Allah,”Seorang syek bertanya kepada darwisnya, apakah ia

ingin berbicara dengan Tuhan, ketika sang darwis mengiyakannya, sang Syek

mengajarkan sang darwis, bahwa setiap kali ia berada dalam kesendirian, ia harus

mengucapkan doa berikut. .Ya ALLAH Tampa-Mu wahai kekasih, aku tidak bisa

tentram, aku tidak dapat menghitung anugerah yang kau limpahkan kepadaku,

Bahkan jika setiap helai rambut dari tubuh ku menjadi lidah, aku tidak mampu

mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepadaMu”( Frager R :307)

Seorang muhaddist terkenal Hafizh Ibnu Qayyim rah.a telah menulis sebuah

kitab berbahasa Arab Al-wabilush-Shayyib yang banyak membicarakan manfaat zikir

dibawah ini akan disebutkan secara ringkas dan berurutan faedah zikir yaitu: (Al-

Kandahlawi Rah.a, 2003 :409) Antara lain disebutkan:

1. Zikir menimbulkan kecintaan kepada Allah swt. Dan cinta adalah ruh

Islam pusat agama, juga sumber kebahagiaan dan keselamatan,

Barang siapa ingin mencapai kecintaan sejati kepada Allah,

perbanyaklah zikir. Sebagaimana bermudzakarah, adalah pintu ilmu

maka zikir adalah pintu cinta kepada Allah SWT.

2. Zikir adalah alat kembali kepada Allah SWT, membawa seseorang

menyerahkan diri kepada Allah sehingga secara berlahan-lahan Allah

swt menjadi tempat perlindungan dan bentengnya dari segala hal, ia

senantiasa berlindung kepada Allah dari setiap musibah..


136

3. Zikir mendekatkan diri kepada Allah swt, sejauh mana ia

memperbanyak zikir kepada Allah sejauh itu ia mendekati Allah, dan

semakin ia melalaikan zikir sejauh itu ia menjauhi Allah swt

4. Zikir Meningkatkan derajat manusia, ia berzikir dikala sehat maupun

sakit, di tempat tidur, di pasar, ketika sibuk dengan kesenangan

maupun dalam keadaan susah. Sehingga hati dipenuhi dengan nur

zikir.

5. Nur zikir orang yang selalu berzikir akan selalu menyertai baik ketika

di dunia dikubur, maupun shirat. Dan nur tersebut akan terus berada

didepan orannya sebagai petunjuk sebagai mana firman Allah Surat

Al-An’am : 122

Beberapa hadist Tentang Zikir adalah sebagai Berikut:

1. Barang siapa yang ditimpa kedukaan (kesusahan) dan keresahan, maka perbanyak

mengucapkan ”La Haula Wala Quwwata Illa Billah ( tiada daya dan upaya kecuali

Allah)” (HR Bukhari dari Ibnu Abbas)

2. Barang siapa yang terbiasa beristigfar, maka Allah akan memberikannya jalan

keluar dari setiap kesulitan yang dihadapinya dan jalan keluar dari segala

keresahannya serta memberikannya rezeki dari jalan yang tiada terduga (HR

Abu Dawud)

3. Allah berfirman dalam hadist Qutsi, aku ada dalam prasangka hamba-Ku kepada-

Ku dan aku akan selalu bersamanya selama ia mengingat-Ku. Apabila ia


137

mengingat-Ku dalam dirinya, maka aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.

Apabila ia mengingat-Ku dalam kelompok, maka akupun akan mengingatnya

pada satu kelompok yang lebih baik darinya. Apabila ia mendekati-Ku satu

jengkal, maka aku akan mendekatinya sehasta, jika ia mendekatiku dengan

berjalan, maka aku akan mendekatinya dengan berlari (HR Bukhari dan Muslim).

4. Barang siapa yang mengucapkan ,”Laa Ilaha Illallah Laa Syariikalah, lahul Mulku

Wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syai’in qadiir (Tiada Tuhan selain Allah, tiada

sekutu bagi-Nya, Kepunyaan-Nya segala kerajaan dan semua syukur dan Dia

Maha Berkuasa)” sebanyak seratus kali dalam seharinya, maka baginya pahala

membebaskan sepuluh budak dan akan dituliskan baginya seratus kebaikan serta

dihapuskan darinya seratus kesalahan. Ia pun akam memiliki perisai dari segala

godaan setan pada hari itu hingga sore menjelang, Tiada seorangpun yang lebih

baik darinya kecuali apabila ada seseorang mengerjakan hal tersebut lebih banyak

darinya, Barang siapa yang mengucapkan ”Subhanallah wa bi hamdihi (Mahasuci

Allah dan dengan pujian untuk-Nya) seratus kali dalam seharinya, maka semua

dosa dan kesalahannya akan diampuni walaupun dosa dan kesalahannya tersebut

bagai buih di lautan. (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi)

b. Zikir Menurut Kedokteran

Penelitian tentang doa dan zikir telah banyak dilakukan antara lain menurut

Hawari:
138

1. Penelitian yang dilakukan oleh Comstock, GW dan kawan-kawan (1972)

seperti yang termuat dalam Journa of Chronic Diseases, menyatakan bahwa

bagi mereka yang melakukan kegiatan keagamaan secara teratur disertai

doa dan zikir, ternyata risiko kematiannya akibat jantung koroner lebih

rendah 50 %, sementara kematian akibat emphisema (paru-paru ) lebih

rendah 56 %, kematian akibat penyakit hati (cirrhosis hepatis) lebih rendah

74 % dan kematian akibat bunuh diri lebih rendah 53 %.

2. Penelitian yang dilakukan ilmuwan Larson dan kawan-kawan (1989)

terhadap pasien dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi dibandingkan

dengan kelompok (bukan pasien hipertensi), diperoleh kenyataan bahwa

komitmen agama kelompok kotrol lebih baik dan dikemukakan bahwa

kegiatan agama seperti doa, zikir mencegah seseorang dari hipertensi.

3. Penelitian Levin dan Vanderpool (1989) demikian pula terhadap penyakit

jantung dan pembuluh darah , bahwa kegiatan agama akan memperkecil

risiko menderita penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler)

Alfred Tomatis seorang dokter dari Perancis yang lima puluh tahun

mengadakan eksperimen tentang hubungan antara rangsang pendengaran terhadap

tubuh, dimana pendengaran dapat mengotrol regulasi kerja tubuh dalam mengontrol

dan mengendalikan sistem syaraf.

Dalam eksperimen, Alfred menemukan syaraf pendengaran berhubungan

dengan seluruh otot tubuh, dan merupakan alasan mengapa keseimbangan dan

fleksibilitas tubuh, and seluruh kerja tubuh dipengaruhi oleh suara, frekwensi suara
139

dari labirin telinga berhubungan dengan seluruh bagian tubuh seperti jantung, paru-

paru, hati, pencernaan dan usus halus.

1960 seorang ilmuwan bernama Hans Jenny menemukan bahwa efek suara

mempengaruhi bentuk , dan material sel didalamnya. Tahun 1974 seorang peneliti

Fabien Maman and Sternheimer menemukan bahwa setiap bagian dari tubuh

mempunyai system vibrasi. Beberapa tahun kemudian Fabien dan Grimal

menemukan bahwa suara, berefek pada sel kanker khususnya suara yang mempunyai

efek yang kuat terhadap perubahan sel kanker itu sendiri. www.kaheel7.com

Gambar 2.6 Perubahan sel Kanker yang hancur Karena Suara Al-Quran

Gambar diatas menunjukan suara lantunan Al-Quran mempunyai efek terbaik

menghancurkan sel kanker yang tidak terobati. Suara Al-Quran yang dilantunkan
140

memberikan frekuensi yang merangsang sel secara keseluruhan. Suara dari telinga

menuju sel otak dan mempengaruhi kerja otak, dan sel tubuh. Yang hanya dapat

dirasakan dengan pengalaman dan pengulangan. . (www.kaheel7.com)

Gambar 2.7 Perubahan sel darah merah karena Suara Al-Quran

Gambar diatas menunjukan sel darah merah yang dengan suara Al-Quran dapat

melawan virus yang masuk kedalam kuat, ini menunjukan bahwa suara dapat

meningkatkan imunitas tubuh dalam melawan penyakit. (www.kaheel7.com(

3.4 Zakat dan infaq sadaqah


141

Dalam Al-Quran surat AlBaqarah 2:110 Allah berfirman ”Dan dirikanlah

shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi

dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah

Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

Zakat dan sadaqah adalah ibadah rohani amaliah, untuk kepentingan ijtima’i

(masyarakat). kita diharapkan dapat berbagi dengan sesama, saling menolong,

menciptakan keamanan diri, maupun lingkungan, pengentasan kemiskinan,

solidaritas sesama, keamanan akan membawa rasa tenang dan menjauhi kegelisahan.

Menurut Quraish Shihab zakat adalah ibadah yang berkaitan dengan harta benda, bila

seseorang telah memenuhi syarat-syarat dituntut untuk menunaikannya, bukan

semata-mata atas dasar kemurahan hatinya, tetapi kalau terpaksa ”dengan tekanan

penguasa”, oleh karena itu agama menetapkan ”amilin atau petugas-petugas khusus

yang mengelolanya, disamping menetapkan sanksi-sanksi duniawi dan ukhrawi

terhadap mereka yang enggan. (Shihab, 1998:323)

Landasan filosofis kewajiban Zakat menurut Quraish Shihab mengandung tiga

aspek yaitu :

(1) Istikhlaf (penugasan sebagai khalifah di Bumi), Allah sebagai pemilik alam

semesta dan manusua dititipi kewajiban untuk memenuhi ketetapan yang

digariskan Allah, dan zakat adalah ketetapan Allah menyangkut harta. Harta
142

benda menjadi sarana kehidupan untuk umat manusia dan harus diarahkan

guna untuk kepentingan bersama.

(2) Solidaritas Sosial sebagai mahluk sosial manusia, yang tidak dapat hidup

tanpa masyarakat, dan hasil yang didapatnya betapapun seseorang memiliki

kepandaian namun hasil material yang di perolehnya adalah berkat bantuan

pihak-pihak lain. Manusia mengelola, tetapi Allahlah yang menciptakan dan

memilikinya, dan wajar bila Allahpun memerintahkan untuk mengeluarkan

sebagian kecil dari harta yang diamanatkannya kepada seseorang untuk

mepentingan orang lain

(3) Persaudaraan, bahwa manusia berasal dari satu keturunan, hubungan

persaudaraan bukan sekadar memberi dan menerima tapi juga memberi tanpa

menanti imbalan, atau membatu tanpa diminta bantuan, terutama bila dalam

satu lingkungan.

Dampak zakat

1. Mengkikis kekikiran .Nabi bersabda ,”orang kikir jauh dari Allah, jauh dari

surga, jauh dari manusia , dekat dengan neraka, sedangkan orang yang dermawan,

dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan orang dan jauh dari

neraka.”
143

2. Membentengi harta , dan menghindari musibah dalam Hadist Nabi bersabda

,”Bentengi hartamu dengan zakat, obatilah orang-orang sakit dengan sedekah, dan

hadapilah berbagai musibah dengan doa.”

3. Membentengi badan dari dosa, sebagai mana firman Allah dalam surat QS. At-

Taubah:103 artinya :”ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu

kamu membersihkan diri dan mensucikan mereka

4. Memberi ketentraman batin dan kegembiraan kepada orang lain yang miskin

5. Membawa berkah dalam kelapangan rejeki sebagaimana Allah berfirman dalam

surat Al-Quran, Saba: 39 :” Dan barang siapa yang kamu nafkahkan, maka Allah

akan menggantikannya

3.5 Ibadah Haji/umroh

Haji adalah rukun Islam ke-lima dengan syarat baliq, berakal dan mampu

Surat Al-Imran 3:97. ”..; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah,

yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa

mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak

memerlukan sesuatu) dari alam semesta.

Al-Baqarah 2:196 ,.... Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena

Allah

Haji/umroh dilaksanakan sekali seumur hidup bila mampu, mengandung

ibadah amaliah, jasmani, dan rohani karena didalamnya terkandung latihan fisik dan
144

latihan kesabaran. Dengan niat Haji dalam hati setiap umat Muslim ada gemuruh rasa

aman, tenang dan bahagia. Umat muslim melatih dirinya dari beban fisik dan lelah.

Dengan pakaian haji yang sama dan sederhana, mereka menanggalkan kemewahan,

tidak membedakan tingkatan dan derajat, menguatkan semangat persaudaraan dari

seluruh umat di dunia. Ketika Ihram umat muslim dilatih untuk mengekang hawa

nafsunya dari syahwat, bertengkar, mencela, berdebat, tidak melakukan hal yang

menimbulkan kefasikan.

Berkata Qatadah:” Ketika Allah SWT memerintah kepada Ibrahim (Shalawat

dan salam Allah atasnya dan atas Nabi kita Muhammad, serta hamba Allah yang

terpilih) agar ia menyerukan kepada manusia, sesungguhnya Allah membangun

sebuah rumah dan pergilah kamu kesana.

Telah bersabda Rasullullah saw:”Barang siapa berhaji ke Rumah Allah

(ka’bah) lalu ia tidak mengucapkan kata-kata kotor dan tidak pula melakukan

perbuatan keji, maka ia terlepas dari dosa dosanya (sehingga menjadi suci bersih)

seperti ketika bari dilahirkan oleh ibunya (bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah),

Sabda beliau lagi ” Setan tidak pernah terlihat, suatu hari lebih kecil, lebih hina, lebih

remeh, lebih marah dari pada wukuf di Arafah (malik dari Thalhah bin Abdullah bin

Kuraiz secara mursal). (Al-Ghazali,2000:14)

Dalam kitab Al-Ghazali diceritakn tentang Seseorang dari kalangan

muqarrabin pernah ter-kasyaf-kan baginya sosok iblis di padang ’Arafah, waktu itu

iblis tampak dalam bentuk seorang manusia yang kurus dan pusat dalam keadaan

menangis dan punggungnya bungkuk


145

”Mengapa engkau menangis , wahai Iblis?” tanya orang itu .

:Oh, aku menangis karena melihat orang-orang mengerjakan ibadah haji

secara tulus, tidak dicampuri oleh usaha perdagangan apapun. Dan aku khawatir

bahwa segala permohonan mereka akan dikabulkan, itulah sebanya aku

menangis,”jawab iblis.

”Lalu apa yang menyebabkan engkau kurus kering ?”

”Suara ringkik kuda fi sabillillah (di jalan Allah), tetapi dijalanku tentunya hal

itu lebih kusukai.

”Dan apa yang menyebabkan engkau pucat

”kerja sama dan saling tolong-menolong antara manusia dalam mengerjakan

ketaatan kepada Allah . Seandainya mereka saling tolong-menolong dalam

kemaksiatan, tentunya lebih kusukai

”Dan apa yang menyebabkan punggungmu menjadi bungkuk?”

”Doa manusia memohon Husn al-khatimah (akhir hidup dalam kebaikan) .

Setiap kali aku mendengar seperti itu, aku berkata kepada diriku:”Betapa celakanya

aku !Bila orang ini akan berbangga dan terkelabui oelh amalannya? Aku khawatir ia

cukup waspada terhadap tipu dayaku,”

Syarat-syarat sahnya Haji ada dua yang berkaitan dengan keislaman seseorang

dan waktu pelaksanaannya. Haji dianggap sah apabila dilakukan oleh seorang

Muslim, walaupun belum dewasa. Seorang anak yang mumayyiz (kira-kira berusia

enam tahum keatas dan sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk)

hendaklah ia meniatkan (ihram) haji atas namanya sendiri. Tetapi apabila ia masih
146

terlalu kecil belum mumayyiz, maka walinya yang meniatkan (ihram) untuknya, lalu

diajak bersama-sama mengerjakan apa yang harus dikerjakan dalam haji seperti

thawaf, sai dan lain-lain

Syarat kedua berkaitan dengan sahnya ibadah Haji, Ialah waktu

pelaksanaannya, yaitu dimulai bulan syawal, Dzulkaidah dan sembilan hari pertama

bulan Dzulhijah sambai terbit fajar hari kesepuluh atau yang disebut juga Yaum an-

Nahr (hari Raya Haji – Penerjemah) maka barang siapa yang ber-ihram untuk haji

diluar waktu-waktu tersebut, maka ihramnya beralih menjadi ”umroh.

Rukun-rukun haji terdiri lima yaitu :ihram, thawaf, sai (setelah thawaf),

wukuf di padang ”Arafah dan bercukup. Begitu juga Rukun Umroh kecuali wukuf di

’Arafah.

Cara-cara melaksanakan Haji dan Umroh

(1) Ifrad yaitu dengan menyelesaikan haji dahulu secara sempurna. Setelah

selesai dari amalan haji , lalu melakukan umroh dan kemudian amalan umrah.

(2) Qiran, yaitu meniatkan haji dan umroh bersama-sama dengan mengucapkan

Labaika bi hajjatin wa’umrotin ma’a (atau ma’an). Ya Allah, aku bertalbiyah

(memenuhi panggilan-Mu) dengan melakukan haji dan umrah.

(3) Tamattu adalah melakukan amalan-amalan umrah lebih dahulu pada bulan-

bulan haji dan setelah itu baru melaksanakan amalan haji.

Masalah keutamaan mana yang paling utama dari ketiga cara haji diatas dari

ke- empat mahzab, mempunyai beberapa pendapat seperti: (Mughniyah 2005:223)


147

Syafi’i: ifrad dan tamatu lebih utama dari Qiran. Hanafi berpendapat qiran lebih

utama dari pada keduanya. Menurut Maliki, ifrad lebih utama dari yang lain,

sedangkah hambali dan imamiyah berpendapat tamattu lebih utama. (al-fiqhu ’ala Al-

Madzahid Al-arba’ah, AL-Mughni, Mizan AL-Sya’rani, dan Fiqhus Sunnah, jillid 5)

Masalah membayar qurban, ulama bersepakat bahwa haji ifrad tidak

diharuskan memberikan kurban, tetapi bila ingin juga memberi kurban secara

sukarela itu lebih baik

Haji dan kesehatan. Bila kita menunaikan Haji , maka kita dapat menikmati

air zamzam. Air ini ditemukan oleh Siti Hajar dan Ismail anaknya ketika mereka

berdua saja di padang pasir Mecca dalam keadaan sangat haus. Air zamzam yang

tidak pernah habis , walaupun diminum oleh bermilyar-milyar orang sejak jaman Siti

Hajar sampai dengan sekarang abad 21 ini.

Air zamzam kaya akan mineral dan berkhasiat untuk berbagai macam

penyakit, tidak mengandung bakteri, tidak berbau, tidak berwarna, dengan kadar

keasaman 7,5, mengandung 30 jenis mineral, yang terbanyak adalah natrium,

magnesium, fluor. Menurut penelitian dari lebih 50 penelitian di 9 negara terdapat

hubungan antara air yang kekurangan zat magnesium dan kalsium. Penambahan

kalsium dan magnesium pada air minum akan mengurangi angka kematian akibat

penyakit jantung, hal ini berhubungan dengan fungsi magnesiup dalam berbagai

biokimia dan fisiologi tubuh (Bahar Azwar,2007:37)


148

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Dan Desain Penelitian

Metoda penelitian yang peneliti gunakan adalah metoda survei yaitu

penelitian dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan, dalam hal ini peneliti

melakukan penelitian di puskesmas dan kunjungan kerumah pasien, mengambil data

yang terjadi pada saat penelitian dilakukan, dan mengadakan pengolahan data secara

kuantitatif dengan bantuan SPSS 13.

B. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini variabel yang diungkap adalah

Variabel X1 : Motivasi ibadah

Variabel X2 : Kekebalan stress

Variabel Y : Pencegahan Gangguan Psikosomatik

C. Definisi Operasional

a. Motivasi Ibadah

Motivasi adalah kecenderungan yang timbul pada seseorang untuk melakukan

sesuatu aksi atau tindakan dengan tujuan tertentu yang dikehendakinya. Motivasi
149

mempunyai beberapa 4 indikator yang meliputi ,attenton, relevance. Confidence,

satisfaction. Skala motivasi Ibadah yang diukur meliputi Ibadah Shalat, puasa,

shadaqah, zikir, membaca Al-Quran, ibadah Haji. Indikator motivasinya meliputi

mencakup hal-hal sebagai berikut:

1. Attention, perhatian terhadap ibadah, bagaimana frekwensinya, persistensinya, apa

kandungan maknaannya, bagaimana adakahperhatiaannya terhadap ibadah .

2. Relevansinya, motivasi ibadahnya dengan kebutuhannya, apakah ibadah dapat

memenuhi kebutuhan rohani, jasmani, spiritual, bagaimana manfaatnya secara

pribadi atau terhadap orang lain.

3. Confidence. Kepercayaan bahwa ibadah yang dilakukannya dapat meningkatkan

percaya diri, bahwa ia mampu menjalani kehidupan ini, mengatasi masalah dan

tekanan.

4. Satisfaction (kepuasan), Motivasi ibadah dapat memberikan kepuasan kepada

seseorang karena ia dapat memjadi sehat, jasmani, rohani dan akal.

Indikator-indikator variabel dapat dirumuskan sebagai berikut:

Tabel 3.1
Operasional Variabel Penelitian

Variabel Indikator Subindikator No Item


soal
Positif Negatif
Motivasi Ibadah Syukur dan 18,19
beribadah (X1) iklash

Motivasi Attention 1,4


150

Sholat Relevance 2
Confidence 3
Satisfaction 1

Motivasi Attention 7
Puasa Relevance 5
Confidence 6
Satisfaction 6

Motivasi Attention 8
shadaqah Relevance 8
Confidence 10
Satisfaction 9

Motivasi Attention 12
Membaca Relevance 11
Al-Quran Confidence 12
Satisfaction 13

Zikir Attention 17
Relevance 16
Confidence 16
Satisfaction 16

Motivasi haji Attention 14


Relevance
Confidence 15
Satisfaction 15

Kriteria penilaian
Tabel 3.2
Kriteria penilaian Motivasi Ibadah
Kriteria ibadah Nilai
Baik 19 – 38
Sedang 39 - 57
Buruk 58 - 95
151

b.1 Kekebalan Stress adalah tingkat stress seseorang yang diukur dengan sebuah

skala yaitu skala Smith dan Miller , bila kekebalan terhadap stress baik , maka

seseorang menjalankan pengelolaan stress yang baik, maka kekebalan stressnya pun

menjadi baik. Kuesioner di buat hasil adaptasi dari skala ini.

Indikator-indikator variabel dapat dirumuskan sebagai berikut:


Tabel 3.3
Operasional Variabel Penelitian Kekebalan Stress
Variabel Indikator Subindikator No Item
soal
Positif Negatif

Kekebalan Kekebalan Olah raga 5


Stress Kesehatan 7
stress (X2) 15
Skala Miller Rekreasi
& Smith Kasih sayang 3,4
10
Sosio
Jumlah angka 9
ekonomi
score kurang 11,14
Pergaulan 6
dari 30, orang Rokok
tersebut kebal, 2
Tidur
Score diatas 30
Makanan, 1,19
kurang kebal
dan score minuman
diatas 50 yang Waktu 16
bersangkutan Agama 10
tidak kebal Mengatasi
terhadap stress masalah 12,13,19

Pengukuran Skala Holmes Skala diatas 300


Nilai maslah menunjukan
yang dialami bahaya
152

Kriteria Penilaiannya adalah sebagai berikut.


Tabel 3.4
Kriteria Penilaian Kekebalan Stress:
Kriteria kekebalan Nilai
stress
Baik 17 – 34
Sedang 35 - 51
Buruk 52 - 85

b.2.Skala Holmes
Dengan skala ini kita dapat mengetahui sejumlah faktor yang mempengaruhi
penyebab stress. Masing-masing faktor diberi nilai, kalau seseorang dalam
setahunnya mendapatkan jumlah score melampaui 300, hal ini menunjukan bahwa ia
sudah dalam keadaan bahaya. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 3.5
Skala Holmes

No Item Tanda Score


1 Kematian Suami/istri 100
2 Kematian keluarga dekat 63
3 Perkawinan 50
4 Kehilangan jabatan 47
5 Pensiunan/Pengasingan diri 45
6 Kehamilan istri 40
7 Kesulitan sex 39
8 Tambah anggota keluarga baru 39
9 Kematian kawan dekat 37
10 Konflik suami/istri 35
11 Menggadaikan rumah 31
12 Perubahan dalam tanggung jawab pekerjaan 29
13 Konflik dengan ipar , mertua, menantu 29
14 Perasaan tersinggung atau penyakit 53
15 Rujuk dalam perkawinan 45
16 Perubahan kesehatan seseorang anggota keluarga 44
17 Perubahan dalam status keuangan 38
18 perceraian 65
19 Peralihan jenis pekerjaan 36
153

20 Mencegah terjadinya penggadaian/pinjaman 30


21 Anak laki-laki/perempuan meninggalkan rumah 29
22 Prestasi pribadi yang luar biasa 28
23 Istri mulai atau berhenti bekerja 29
24 Kesulitan dengan atasan 23
25 Tukar tempat tinggal 20
26 Perubahan dalam hiburan 19
27 Pinjaman dengan rumah sebagai jaminannya 17
28 Perubahan dalam jumlah pertemuan keluarga 15
29 Pelanggaran ringan 11
30 Menukar kebiasaan pribadi 24
31 Perubahan jam kerja/syarat kerja 20
32 Tukar sekolah 20
33 Tukar kegiatan sosial 18
34 Tukar kebiasaan tidur 16
35 Perubahan dalam kebiasaan makan 15
36 Berlibur 13
total

Penilaian : 0 - <150 Tidak ada kemungkinan untuk stress akibat penyakit


150 –199 Tingkat krisis hidup ringan ----> kemungkinan terkena
penyakit 35 %
200 – 299 Tingkat krisis hidup sedang ----> Kemungkinan terkena
Penyakit 50 %
300 atau Lebih Tingkat krisis hidup berat ----> Kemungkinan terkena
penyakit 80 %
c.Pencegahan Gangguan Psikosomatis
Gangguan psikosomatik adalah gangguan atau penyakit dengan gejala-gejala yang

menyerupai penyakit fisis yang disebabkan karena gangguan psikis

Gejala Psikosomatik terdiri dari

a. Gejala depresi
b. Gejala Ansietas
c. Dispepsia fungsional
154

4. Nyeri psikogenik
5. Penyakit Jantung fungsional
6. Chronic Fatique Syndrome
7. Penyakit Kolon iritabel
Indikator-indikator variabel dapat dirumuskan sebagai berikut:
Tabel 3.6
Operasional Variabel Penelitian Pencegahan Gangguan Psikosomatik

Variabel Indikator Subindikator No Item


soal
Positif Negatif
Gangguan Depresi 8 1,2,3,4,5,6,7
Psikosomatik ,9
(Y) Anxietas &
Psikosomatis ,1011,12,13,
14,15,
16,17,18,19,

Kriteria Penilaian Variabel Pencegahan Gangguan Psikosomatik:


Tabel 3.7
Penilaian Kriteri Pencegahan Gangguan Psikosomatik
Kriteria Pencegahan Gangguan Nilai
Psikosomatik
Psikosomatik 38 - 95
Bukan Psikosomatik (baik) 19 - 38

D. Populasi dan Sampel


1. Populasi
155

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Apabila seseorang meneliti

semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan

penelitian populasi.(Arikunto, 2002: 108)

Populasi penelitian yang dipakai penulis meliputi beberapa pasien dewasa

yang datang dalam kurun waktu 1 bulan ke Puskesmas Astapada. Pada bulan

desember 2007.

2. Sampel
Adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian

sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel.

Disini yang dimaksud adalah untuk mengangkat kesimpulan penelitian sabagai

sesuatu yang berlaku bagi populasi (Arikunto, 2002: 109)

Diharapkan sampel yang diambil dari sampel pasien yang disurvei selama 1

bulan bisa dipakai sebagai kesimpulan penelitian penulis. Tentang pengaruh antara

motivasi beribadah dan kekebalan stress terhadap pencegahan gangguan

psikosomatik.

Karakteristik pasien yang digunakan pada penelitian ini adalah pasien dewasa

yang berkunjungan ke Puskesmas Astapada. Diambil sampel dengan kriteria umur

antara 20 – 50 tahun, dengan berbagai keluhan, antara lain, Hipertensi, mialgia, asma,

depresi, anxietas. Gangguan pencernaan.

Tehnik Sampling yang digunakan adalah porposive dan, dilakukannya

purposive sample dengan tujuan tertentu, sesuai dengan pertimbangan penulis,


156

karena penulis sehari-hari bekerja di tempat penelitian dilaksanakan sehingga sumber

data sesuai dengan variabel yang diteliti.

E. Jenis dan Sumber Data


Dalam penelitian ini penulis mengambil sumber data secara primer yaitu data

yang diambil peneliti langsung dari kunjungan pasien di puskesmas, dan kunjungan

langsung kerumah pasien atau responden dengan menggunakan daftar pertanyaan ,

wawancara , ataupun observasi.

F. Tehnik Pengumpulan Data


Tehnik pengumpulan data yang penulis pergunakan dalam penyusunan tesis

ini adalah sebagai berikut:

1. Kuesioner : dengan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden, dan kuesioner yang di gunakan peneliti

adalah model kuesioner tertutup, dimana sudah disediakan jawabannya

sehingga respondennya tinggal memilih, jawabannya bersifat langsung

(menjawab tentang dirinya ). Disini digunakan juga skala stress holmes untuk

mengukur stress , skala pengukuran kekebalan stress Miller dan smith, skala

untuk mengukur gejala depresi, anxitas, dan kelainan psikosomatis

2. Observasi adalah kegiatan pengamatan secara langsung terhadap obyek

penelitian dengan mencatat, mendengar, memeriksa secara langsung pasien,

peneliti mengkolaborasi hasil observasi dengan wawancara, dan kuesioner,

sehingga observasi menjadi observasi yang sistematis (berpedoman dan


157

memakai istrumen yang telah dibuat sebagai bagian dalam mencari data

tersebut).

3. Wawancara : dengan tanya jawab langsung, penulis mengadakan wawancara

langsung, untuk mendapatkan data dan informasi secara langsung.

Pelaksanaannya secara terpimpin dibekali dengan kuesioner yang telah

disediakan oleh penulis sendiri.

G. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data

.Peneliti menggunakan tifa daftar pertanyaan untuk tiga variabel yang di teliti, daftar

pertanyaan yang digunakan dibuat oleh peneliti berdasarkan teori-teori yang ada

dalam pembahasan, dan alternatif jawaban alat ukur disajikan peneliti dengan

menggunakan skala pengukuran likert .

Skala model likert digunakan dalam pertanyaaan angket yang bergradasi pada

salah satu dari 5 kemungkinan, disini responden diminta untuk membaca dengan

seksama setiap pertanyaan yang terdapat dalam format dengan lima pilihan, bila

jawabannya sangat positif maka ditempatkan pada pilihan yang pertama dan yang

terakhir sebagai pilihan yang paling negatif.

Dengan kategori sebagai berikut.

a.Untuk Pertanyaan yang bersifat positif maka kategori jawaban dan skor nya adalah :
158

Tabel.3.8
Skor Jawaban Item Soal Bersifat Positif
Kategori Jawaban Skor nilai
Setuju Sekali 5
Setuju 4
Kurang setuju 3
Tidak setuju 2
Sangat tidak setuju 1

b. Pertanyaan yang bersifat negatif maka score akan terhitung sebagai berikut

Tabel 3.9

Skor Jawaban Item Soal Bersifat Negatif

Kategori Jawaban Skor nilai


Setuju Sekali 1
Setuju 2
Kurang setuju 3
Tidak setuju 4
Sangat tidak setuju 5

H. UJI VALIDITAS DAN REABILITAS INSTRUMENT PENELITIAN

1.Uji Validitas

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana

ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam mengukur suatu data. (Hastono,

2001:48)

Validitas tes adalah tingkat suatu tes mampu mengukur apa yang hendak di

ukur. (Arikunto,2005: 170) dengan uji validitas kita dapat melihat apakah instrumen

yang akan diuji sudah valid untuk dijadikan alat uji penelitian.

Pada tesis ini Peneliti mengunakan program komputer. SPSS 13 for Windows

.SPSS for window adalah sngkatan dari statistical program for social science, yang
159

merupakan sebuah program untuk mengolah dan menganalisa data penelitian.

Adapun cara singkat penggunaan SPSS ini dapat dilihat dilampiran halaman ini.

Untuk mengukur validitas instrumen .Tehnik korelasi yang dipakai adalah

tehnik Korelasi” Product Momen” yang dirumuskan sebagai berikut :

N ( ∑ XY ) − ( ∑ X )( ∑ Y )
r=
{N ∑ X 2
− (∑ X )
2
}{N ∑ Y 2
− (∑Y )
2
}

Keterangan :

rxy = Koefisien validitas

N = Jumlah responden

X = Skor item

Y = Skor total

Hasil yang signifikans didapat dengan menilai hasil korelasi (rxy)

dibandingkan dengan nilai kritik r. Validitas yang cukup tinggi didapat bila r hitung

(rxy) lebih besar dari nilai r tabel .

Keputusan Uji, Bila r hitung lebih besar dari pada r tabel maka Ho ditolak

artinya variabel valid, sedangkan bila r hitung lebih kecil dari pada r tabel maka Ho

gagal ditolak, artinya variable tidak valid.

2.Uji Reliabilitas
160

Reliabilitas adalah suatu ukuran yang menunjukan sejauh mana hasil

pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih gejala yang

sama dan dengan alat pengukur yang sama (Hastono, 2001:48)

Pada penelitian ini digunakan tehnik belah dua (split halve method). Yang

telah disusun dibelah atau dibagi dua, pertanyaan yang valid dihitung sedang yang

tidak valid dibuang, kemudian melakukan uji korelasi dengan rumus korelasi produc

moment.

I. Tehnik Analisa Data


Data kuantitatif yang dapat setelah dikumpulkan kemudian dikelola secara

statistik.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan

korelasi Product Moment dari Karl person. Analisis korelasi digunakan untuk

mengukur derajat hubungan antar variable X1 (motivasi ibadah) dan X2 (kekebalan

stress) dengan variabel Y (gangguan psikosomatik), dengan rumus sebagai berikut :

1. Menentukan nilai korelasi

n ∑x1y – (∑x1) (∑y)


rx1y =
√ {n∑x12– (∑x1)2 } { n∑y2 – (∑y)2 }

n ∑x2y – (∑x2) (∑y)


rx2y =
√ {n∑x2 2– (∑x2)2 } { n∑y2 – (∑y)2 }

n ∑x1x2 – (∑x1) (∑x2)


rx2x1 =
√ {n∑x12– (∑x1)2 } { n∑x22 – (∑x2)2 }
161

ryx1x2 = √ r2yx1+r2yx2-2ryx1ryx2ryx1x2
1-r2x1x2

2. Menentukan Interprestasi Nilai korelasi

Menurut Colton kekuatan hubungan dua variable secara kualitatif dapat di

bagi dalam 4 area, yaitu

> 0,76 - <1,00 = Sangat kuat/sempurna

> 0,51 - < 0,75 = Kuat

> 0,26 - < 0,50 = Sedang

> 0,00 - < 0,25 = Lemah/tidak ada hubungan

3. Uji Signifikan dengan rumus

R2
k
F=
( 1 – R2 )
( n – k - 1)

Data kuantitatif yang dikumpulkan diolah dengan rumus-rumus statistik yang

sudah tersedia, bila telah terkumpul data maka dikelompokkan, bila itu data

kuantitatif maka akan berbentuk angka-angka. bila berbentuk kualitatif dinyatakan

dengan kata-kata dan simbol. Data yang didapat dari angket dan cek list dijumlahkan

atau dikelompokan sesuai dengan instrumen yang digunakan. Dalam Penelitian ini

digunakan SPSS 13 untuk membantu mendapatkan angka yang lebih akurat dan lebih

cepat.
162

Dalam penelitian ini juga digunakan uji Analisis Regresi linier ganda, yang

merupakan perluasan dari regresi linier sederhana. Karena pada analisis ini terdapat

beberapa variabel independen (motivasi ibadah, dan Kekebalan stress) dan satu

variabel dependen (Pencegahan Gangguan Psikosomatik).Cara menggunakan

Program SPSS dengan ini dapat dilihat pada lampiran.

J. Rancangan dan Jadwal Penelitian

Tabel 3.10
Jadwal Penelitian

No Kegiatan november desember januari februari


1 Penyusunan Proposal
penelitian v
2 Pengumpulan data v

3 Pengolahan dan analisa v


data
4 Penyusunan tesis v v v v

BAB IV

ANALISA HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil Puskesmas Astapada


163

Wilayah kerja UPTD Puskesmas Astapada terletak di Kecamatan Tengah Tani

Kabupaten Cirebon dengan luas wilayah 577,748 Ha. Puskesmas Astapada

mempunyai jumlah Desa binaan 8 Desa dengan jumlah penduduk saat ini adalah

37.008 jiwa. Wilayah kerja Puskesmas berbatasan dengan di sebelah utara dengan

kecamatan Kedawung, sebelah selatan dengan Kecamatan Talun, Sebelah barat

dengan Kecamatan Plered, dan sebelah timur berbatasan dengan Kodya Cirebon.

Mata pencaharian penduduk di Puskesmas Astapada sebagian besar adalah

buruh sebanyak 9.671 orang (26,1 %). Dan hanya sebagian kecil yang menjadi

pedagang sebanyak 3.109 orang (8,4 %), pengusaha sebanyak 2.629 orang (7,1 %)

petani sebanyak 1.366 orang (3,7 %) dan PNS/ TNI POLRI sebanyak orang 398

orang (1,0 %). Sebagian besar penduduknya adalah buruh, hal ini tentunya akan

mempengaruhi daya beli masyarakat. Kondisi tersebut diatas jelas tidak

menguntungkan bagi kesehatan masyarakat itu sendiri, karena status ekonomi yang

masih rendah juga berperan penting dalam mempengaruhi derajat kesehatan

masyarakat .

Rata-rata penduduknya tamatan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 8.749 orang

( 23,6 %) dan hanya sebagian kecil yang tamat SLTP sebanyak 2.818 orang (7,6 %)

dan lulus SLTA sebanyak 2.552 orang ( 6,8 %) serta sedikit sekali yang lulus

Perguruan Tinggi sebanyak 630 orang ( 1,7 %), sehingga Sumber daya Masyarakat

(SDM) di wilayah Puskesmas Astapada sangat rendah dan kurang mendukung dalam

pelaksanaan program pembangunan kesehatan maupun program lainnya.(Sumber

Desa 2006)
164

Sebagai Pusat kesehatan Masyarakat Puskesmas merupakan pengembangan,

pembinaan dan pelayanan kesehatan masyarakat yang sekaligus merupakan pos

terdepan dalam pembangunan kesehatan masyarakat.

Sebagai Unit Pelaksana Teknis Dasar (UPTD) Puskesmas Astapada adalah unit

organisasi dilingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon yang berfungsi

melaksanakan tugas tehnis dan administrative pada pelayanan tingkat dasar,

merupakan suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional, sebagai pusat

pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat

serta pusat pelayanan kesahatan strata dalam bentuk kegiatan pokok sehingga dapat

mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

Visi Puskesmas Astapada adalah “ Mewujudkan Puskesmas Astapada yang

berkualitas dalam pembangunan berwawasan kesehatan dengan meningkatkan mutu

pelayanan masyarakat dan peningkatan sumber daya petugas menuju Indonesia

Sehat 2010”

Misi Puskesmas Astapada , untuk mewujudkan visi diatas maka memiliki misi

sebagai berikut:

1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan

2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat

3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan

pelayanan kesehatan

4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan

masyarakat beserta lingkungannya


165

5. Meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), kemitraan, kualitas dan

profesionalisme pelaksanaan pelayanan kesehatan.

B. Pengujian Instrumen Penelitian

Pengujian instrumen peneltian ditujukan untuk mencari apakah butir soal

yang akan diteliti sudah valid dan reliabel untuk dipakai sebagai alat ukur yang

benar dan dapat dipertanggung jawabkan. Uji coba instrumen dilaksanaka pada 200

orang responden yang datang sebagai pasien ke Puskesmas Astapada.

1. Hasil uji Validitas

Uji coba dari 55 butir soal yang dibagikan kepada 200 orang responden

dimaksudkan untuk mendapatkan keabsahan (valid) yang akan digunakan untuk

penelitian selanjutnya. Dengan menggunakan korelasi skor butir dengan skor

pengujian instrumen, Dari 55 soal dikelompokan dalam tiga variabel pengujian yang

dibuat berdasarkan indikator dari masing-masing bidang tersebut, Yaitu Variabel-

variabel motivasi ibadah (X1), kekebalan stress (X2) dan pencegahan gangguan

Psikosomatik (Y). Kemudian analisa dilakukan terhadap instrumen melalui program

SPSS 13 dimana batas angka tabel (r kritis) adalah 0,05. Kriteria pengujian adalah

dengan membandingkan antara r hitung dengan r tabel. Jika r hitung lebih besar atau

same dengan r tabel maka instrumen penelitian dianggap valid sebaliknya bila r

hitung lebih kecil dari pada r tabel maka dianggap tidak valid sehingga instrumen

tersebut bila tidak valid tidak dapat lagi digunakan dalam penelitian.
166

Instrumen penelitian diberikan kepada 200 orang ini dapat dijadikan syarat

minimal dalam memberikan tanggapan dan penilaian secara obyektif, jujur dan

transparan sesuai dengan keadaan yang di teliti.

Setelah dilakukan pengujian terhadap instrumen penelitian kepada 200 dengan

taraf significan 0,05 (5%) dipakai uji satu arah dari r tabel didapat hasil adalah r =

0,194. Hasil uji validitas selanjutnya untuk masing-masing variabel dapat di lihat

dengan tabel sebagai berikut:

a) Variabel Motivasi Ibadah (X1)

Berdasarkan kajian teori tentang Motivasi Ibadah yang di analisa dalam bentuk

premis , ditentukan 4 indikator yang dikembangkan menjadi 19 soal butir Ke

19 butir soal kemudian di uji dengan Uji validitas, bila soal menunjukan r hasil

lebih besar dari r tabel maka soal ini dapat digunakan untuk penelitian

selanjutnya. Dan soal itu disebut valid atau sahih.

Tabel 4.1

Hasil Pengujian Validitas Instrumen Variabel Motivasi Ibadah (X1)


167

No r kritis r hasil Keputusan


Item
soal
1. 0.194 0,550 Valid
2. 0.194 0,259 Valid
3. 0.194 0,563 Valid
4. 0.194 0,398 Valid
5. 0.194 0,545 Valid
6. 0.194 0,606 Valid
7. 0.194 0,484 Valid
8. 0.194 0,404 Valid
9. 0.194 0,486 Valid
10. 0.194 0,403 Valid
11. 0.194 0,565 Valid
12. 0.194 0,492 Valid
13. 0.194 0,601 Valid
14. 0.194 0,340 Valid
15. 0.194 0,365 Valid
16. 0.194 0,658 Valid
17. 0.194 0,412 Valid
18. 0.194 0,460 Valid
19. 0.194 0,368 Valid

Dari hasil pengujian 19 soal dari variabel motivasi beribadah (X 1), pernyataan

berdasar data diatas menunjukkan keseluruhannya adalah valid (sahih) dan dapat

digunakan untuk dasar melakukan penelitian dan perhitungan statistik. (Data SPSS

13 dapat dilihat dalam Lampiran)

2.Variabel Kekebalan Stress (X2)


168

Berdasarkan kajian teori yang dianalisa dari hasil modifikasi skala Miller dan

Smith maka dikembangkan 17 butir soal yag diberikan kepada 200 orang responden

Setelah dilakukan pengujian terhadap instrumen penelitian kepada 200 orang

responden dengan taraf signifikansi 0,05 (5%) dipakai uji satu arah dan didapat r

tabel sebesar 0,194 maka hasil uji validitas dala dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel. 4.2

Hasil Pengujian Validitas Instrumen kekebalan Stress (X 2)

No r kritis r hasil Keputusan


Item
soal
1 0.194 0,371 Valid
2 0.194 0,318 Valid
3 0.194 0,282 Valid
4 0.194 0,238 Valid
5 0.194 0,369 Valid
6 0.194 0,204 Valid
7 0.194 0,259 Valid
8 0.194 0,322 Valid
9 0.194 0,270 Valid
10 0.194 0,413 Valid
11 0.194 0,303 Valid
12 0.194 0,268 Valid
13 0.194 0,293 Valid
14 0.194 0,255 Valid
15 0.194 0,311 Valid
16 0.194 0,249 Valid
17 0.194 0,277 Valid
169

Hasil pengujian untuk variabel kekebalan stress (X2) dari 17 butir pernyataan

berdasarkan data diatas menunjukan seluruhnya valid dan dapat digunakan sebagai

instrumen pelaksanaan penelitian selanjutnya (Data SPSS 13 dapat dilihat pada

Lampiran).

3. Variabel Pencegahan Terhadap Gangguan Psikosomatik (Y)

Tabel. 4.3
Hasil Pengujian Validitas Instrumen variabel Gangguan Psikosomatik (Y)

No Item r kritis r hasil Keputusan


soal
1 0.194 0,368 Valid
2 0.194 0,528 Valid
3 0.194 0,327 Valid
4 0.194 0,453 Valid
5 0.194 0,570 Valid
6 0.194 0,568 Valid
7 0.194 0,377 Valid
8 0.194 0,473 Valid
9 0.194 0,494 Valid
10 0.194 0,479 Valid
11 0.194 0,294 Valid
12 0.194 0,480 Valid
13 0.194 0,543 Valid
14 0.194 0,559 Valid
15 0.194 0,495 Valid
16 0.194 0,516 Valid
17 0.194 0,494 Valid
18 0.194 0,448 Valid
19 0,194 0,473 Valid

Hasil Uji validitas untuk variabel Gangguan Psikosomatik (Y) dari 19 butir

instrumen diatas menunjukkan seluruhnya valid dan secara keseluruhan semua butir

pernyataan diatas dapat dipakai sebagai pernyataan kuesioner dan dapat menjadikan
170

dasar dalam melaksanakan penelitian dan perhitungan statistic (Data SPSS 13 dapat

dilihat di Lampiran).

2 .Hasil Uji Reabilitas

Pengujian terhadap koefisien reliabilitas instrumen dimaksud untuk melihat

konsistensi jawaban butir-butis soal yang diberikan kepada responden. Untuk

menguji reliabilitas ini digunakan alat dengan metode belah dua (split half) yaitu

metoda yang mengkirelasikan stor totalk ganjil lawan genap selanjutnya dihitung

reabilitasnya dengan menggunakan rumus ”Alpha Cronbach”’ Perhitungan dengan

menggunakan Program SPSS 13 di komputer.

Dengan jumlah responden sebanyak 200 orang didapat r tabel (r kritis) adalah

0,194 dengan jumlah responden sebanyak dan hasil perhitungan dengan SPSS 13

didapat cronbach’s Alpha sebesar 0,850 dari 19 soal motivasi ibadah, sedangkan

cronbach’s Alpha sebesar 0,494 dari 17 soal kekebalan stress, cronbach’s Alpha

sebesar 0,864 dari 19 soal pencegahan gangguan Psikosomatik karena hasil

Cronbach’s Alpha ( α ) yang didapat lebih besar dari pada r tabel sehingga
171

menunjukan bahwa instrumen penelitian ini adalah bersifat reliabel. Dan dapat

digunakan untuk penelitian selanjutnya.

Hasil pengolahan data uji coba instrumen penelitian baik validitas maupun

realibitas dengan menggunakan program SPSS selengkapnya dapat dilihat pada

lampiran (realibity).

C.Deskripsi Data

Jumlah responden yang diberi kuesioner sebanyak 200 orang, responden

didapat antara lain yang berobat ke Puskesmas sejak tanggal 6 februari sampai

dengan 30 desember 2007 , beberapa kuesioner ada yang dibawa pulang ada yang di

isi dan di wawancara di Puskesmas,

1. Berdasarkan jenis kelamin. Jumlah wanita sebanyak 87 orang (43.5 %) orang

dan laki-laki sebanyak 113 orang (56,5 %) .

2. Berdasarkan Pendidikan adalah sebagai berikut:

a. SD : 97 orang (48,5 %)
b. SMP : 34 orang (17,0 %)
c. SMA : 56 orang (28,0 %)
d. Perguruan Tinggi : 13 orang ( 6,5 %)
172

Terbanyak yang menjadi responden adalah yang mempunyai pendidikan rendah

yang sebanyak 48 % yang SD dan 34 orang yang SMP

3. Berdasarkan Ekonomi didapat, sebagian besar mempunyai taraf ekonomi yang

Rendah sebanyak kurang lebih 81 persen , dan hanya 19 % yang penghasilannya

diatas 1 juta.

a. Penghasilan < 500 ribu sebanyak 44 orang (22 %)

b. Penghasilan 500 ribu – 1 juta sebanyak 118 orang (59 %)

c. Penghasilan diatas 1 juta sebanyak 38 orang (19 %)

4. Dari hari 200 orang yang diperiksa didapatkan data hampir 63 % dengan kriteria

motivasi Ibadah baik, 37 % dengan motivasi ibadah yang sedang .

Tabel. 4.4 Deskripsi Hasil kuesioner Motivasi Ibadah

Kriteria Motivasi Ibadah persentase frekwensi


Baik 63,0 % 126 orang
Sedang 37,0 % 74 orang
Buruk 0 % 0 orang
Total 100 % 200 orang

5. Dari 200 responden yang diperiksa, responden yang mempunyai kekebalan stress

yang baik adalah sebanyak 52 orang atau 26 %, yang mempunyai kekebalan stress

yang sedang sebanyak 148 orang 74 %

Tabel. 4.5 Hasil Deskripsi Kekebalan Stress

Kriteria Kekebalan stress Frekwensi Persentase


Baik 52 orang 26 %
Sedang 148 orang 74 %
173

6. Pada variabel gangguan psikosomatik, responden yang menderita tidak menderita

gangguan psikosomatik adalah sebanyak 149 orang 74,5 % dan yang mengalami

gangguan psikosomatik 51 orang atau 25,5 %, dari 200 responden yang diteliti.

Tabel. 4.6 Hasil Deskripsi untuk Variabel Pencegahan Gangguan Psikosomatik

Kriteria Dengan Pencegahan Frekwensi Persentase

Gangguan Psikosomatik
Bukan Psikosomatik 149 Orang 74,5 %
Psikosomatik 51 Orang 25,5 %
Total 200 Orang 100 %

7. Dari skala Holmes digunakan untuk melihat stresor psikososial yang ada.

Sehingga dengan kuesioner ini kita mengetahui sampai sejauh mana masalah

yang dihadapi responden dalam satu tahun terakhir, apakah mempunyai stresor

psikososial yang membahayakan atau tidak. Hasil yang didapat. responden yang

mengalami masalah sampai pada taraf yang membahayakan adalah sebanyak 2

orang saja, sedangnya yang 200 orang mempunyai masalah yang tidak pada tahap

yang berbahaya.

Tabel. 4.7 Deskripsi Masalah Yang Dihadapi Responden

Kriteria Holmes Frekwensi Persentase


< 300 = tidak berbahaya 198 98

> 300 = berbahaya 2 2


174

8. Distribusi antara motivasi ibadah dan pencegahan psikosimatik

Tabel 4.8 Distribusi Responden Menurut Kriteria Motivasi Ibadah Dan

Pencegahan Gangguan Psikosomatik

Pencegahan Gangguan Total


Psikosomatik
Baik Psikosomatik
Motivasi Baik 126 (100%) 0 (0%) 126 (100%)
Sedang 23 (31,1%) 51 (68,9%) 74 (100%)
Ibadah
Total 149 (74,5%) 51 (25,5%) 200 (100%)

Hasil tabel diatas menunjukan bahwa dengan menurunnya motivasi ibadah makin

meningkat angka kejadian gangguan psikosomtik, dari 200 orang responden, 51

orang mengalami psikosomatik ringan, and semuanya mempunyai motivasi

ibadah sedang

9. Distribusi frekwensi kekebalan stress dan pencegahan psikosomatik

Tabel 4.9 Distribusi Responden Menurut Kriteria Kekebalan Stress Dan

Pencegahan Gangguan Psikosomatik

Pencegahan Gangguan Total


Psikosomatik
Baik Psikosomatik
Kekebalan Baik 52 (100%) 0 (0%) 52 (100%)
Stress Sedang 97 (65,5%) 51 (34,5%) 148 (100%)
Total 149 (74,5%) 51(25,5%) 200 (100%)
175

Makin rendahnya kekebalan stress, makin tingginya angka kejadian gangguan

psikosomatik. Dari 148 responden yang mempunyai kekebalan stress sedang ,

yang mengalami gangguan psikosomatik sebanyak 51 orang. Atau 34,5 %,

sedangkan yang mempunyai kekebalan stress yang baik tidak ada yang

mengalami gangguan psikosomatik.

10. Distribusi Frekwensi Item Jawaban variabel Motivasi Ibadah

Tabel 4.10

Frekwensi Jawaban Motivasi Ibadah

No Soal SS S Ks Ts STS
f % f % f % f % f %
1 Dengan shalat hatiku 65 32,5 128 64 4 2 3 1,5 0 0
cemas jadi hilang

2 Kalau kesedihan melanda 40 20 118 9 27 13,5 12 6 3 1,5


aku jadi banyak shalat

3 Shalat tahajud bagiku 52 26 132 66 13 6,5 3 1,5 0 0


dapat menyembuhan
kegelisahanku

4 Shalat tahajud aku 16 8 88 44 66 33 26 13 4 2


kerjakan dengan teratur

5 Bagiku puasa menyehat 44 22 141 70.5 11 5,5 4 2 0 0


badanku dan
menyembuhkan sakitku

6 Dengan puasa aku jadi 86 43 103 51,5 10 5 1 0,5 0 0


lebih sabar

7 Puasa menjadi 87 43,5 102 51 10 5 1 0,5 0 0


kebiasaanku untuk
mendekatkan diri pada
Allah SWT

8 Bagiku sodakhah tidak 54 27 137 68,5 7 3,5 2 1 0 0


harus dengan uang

9 Dengan sodakhah hatiku 50 25 140 70 9 4,5 1 0,5 0 0


jadi makin bahagia
176

10 Dengan sodakhah pasti 103 51,5 89 44,5 6 3 2 1 0 0


Allah akan membalasnya
berlipat ganda

11 Al-Quran adalah obat 59 29,5 129 64,5 10 5 2 1 0 0


jiwaku yang sedang
gelisah

12 Aku membaca Al-Quran 15 7,5 82 41 76 38 25 12,5 2 1


setiap hari beserta artinya
13 Aku merasa Al-Quran 68 34 125 62,5 7 3,5 0 0 0 0
adalah penyejuk hati
nasehat yang menyejukan
jiwa
14 Aku berniat haji , mudah- 76 38 110 55 10 5 3 1,5 1 0,5
mudahan Allah memberi
rizki

15 Mulai saat ini aku 45 22,5 95 47,5 30 15 28 14 2 1


menabung sedikit demi
sedikit untuk naik haji

16 Aku merasa zikir dapat 52 26 139 69,5 8 4 1 0,5 0 0


menyenangkan jiwa dan
mengurangi
kegelisahanku

17 aku melakukan zikir 34 17 97 48,5 53 26,5 13 6,5 3 1,5


setiap waktu

18 .Aku merasa hidupku 43 21,5 151 75,5 6 3 0 0 0 0


penuh rasa syukur dan
barokah

19 Aku percaya apa yang aku 112 56,0 79 39,5 8 4 1 0,5 0 0


usahakan (harta, uang,
mobil, rumah) didunia ini
adalah titipan Allah.

Dari tabel frekwensi Motivasi ibadah, dari 19 item pertanyaan, 16 item

pertanyaan mempunyai jawaban yang baik. Hampir diatas 80 % setuju dengan

jawaban yang pernyataannya positif, seperti setuju bahwa shalat dapat

menghilangkan kecemasan, puasa dapat menyembuhkan sakit, dan memberikan

kesabaran, hanya 3 pertanyaan yang jawabannya agak timpang yaitu terutama dalam

hal pengamalan, yaitu pertanyaan tentang Shalat tahajud yang di kerjakan dengan
177

teratur , membaca Al-Quran setiap hari beserta artinya, dan melakukan zikir setiap

waktu dari 200 responden yang ada, rata-rata yang melaksanakannya 52 % yang

melaksanakan shalat tahajud teratur, 48 % yang membaca Al-Quran beserta artinya,

dan yang melakukan zikir setiap waktu adalah 65,5 %.

11. Distribusi Frekwensi Item Jawaban variabel kekebalan stress

Tabel 4.11
Frekwensi Jawaban Kekebalan Stress.

Soal SS S Ks Ts STS
f % f % f % f % f %
No
1 Saya cukup makan 27 13,5 152 76 15 7,5 5 2,5 1 0,5
sayur , lauk pauk, nasi,
berimbang setiap hari

2 Saya tidur cukup teratur 29 14,5 138 69 23 11,5 9 4,5 1 0,5


7- 8 jam sehari-hari.

3 Pasangan saya atau 48 24 142 71 8 4 1 0,5 1 0,5


orang tua saya cukup
memberikan kasih
saying dan perhatian
kepada saya.

4 Saya mempunyai 9 4,5 115 57,5 40 20 26 13 10 5


saudara yang tinggalnya
tidak begitu jauh (< 75
Km) yang bisa saya
andalkan

5 Minimal 2 kali 12 6 108 54 59 29,5 18 9 3 1,5


seminggu saya gerak
badan sampai
berkeringat

6 Saya merokok kurang 7 3,5 19 9,5 28 14 19 9,5 14 7


dari setengah pak sehari

7 Tinggi badan dan berat 19 9,5 123 61,5 35 17,5 22 11 1 0,5


badan saya cukup baik,
tidak kurus , tidak
gemuk
178

8 Keluarga 13 6,5 116 58 54 27 15 7,5 2 1


berpenghasilan yang
cukup untuk
pengeluaran
9 Saya merasa bahwa 72 36 120 60 6 3 1 0,5 1 0,5
ibadah memberikan
kekuatan lahir dan batin
saya

10 Saya merasa bahwa 11 5,5 78 39 66 33 39 19,5 6 3


ibadah memberikan
kekuatan lahir dan batin
saya

11 Tetangga dan teman 40 20 152 76 6 3 1 0,5 1 0,5


saya baik kepada saya

12 Saya mempunyai 40 20 149 74,5 8 4 2 1 1 0,5


keluarga atau teman
tempat berbagi cerita
(curhat)

13 Saya secara teratur 33 16,5 134 67 24 12 7 3,5 2 1


bercakap-cakap dengan
orang rumah masalah
urusan ruman ,
sehidupan sehari-hari

14 Setidaknya seminggu 17 8,5 84 42 68 34 24 12 7 3,5


sekali saya jalan-jalan
dengan keluarga atau
teman mencari hiburan

15 Saya dapat mengatur 22 11 140 70 30 15 5 2,5 3 1,5


waktu dengan baik

16 Dalam sehari saya 6 3 83 41,5 50 25 39 19,5 22 11


minum kopi, teh,
kurang dari 3 cangkir
sehari

17 Saya setiap mencari 9 4.5 97 48,5 67 33,5 21 10.5 6 3


waktu untuk
menenangkan diri

Dari 17 item soal, jawaban responden rata-rata di atas 70 % yang menjawab

positif, hanya 5 item soal yang dijawab kurang memuaskan sehingga hal ini
179

menyebabkan kekebalan stressnya menjadi berkurang yaitu, Bahwa rata-rata yang

menjawab berolah raga secara teratur hanya 60 % selebihnya 40 % tidak mempunyai

waktu untuk olah raga teratur. Olah raga selain menyehatkan fisik, juga mental,

karena dengan olah raga keluarlah suatu zat yang bernama endorphin yang dapat

memberikan rasa senang dan bahagia.

Untuk penghasilan yang cukup untuk pengeluaran, 116 orang (58 %),

menjawab setuju dan 13 orang (6,5 %) menjawab sangat setuju , dari 200 responden,

yang penghasilannya kurang dibanding pengeluaran ada 27 % menjawab kurang

setuju, 7,5 % tidak setuju dan hanya 2 orang saja yang sangat tidak setuju. Berarti

secara rata-rata 66 % responden dapat mengelola keuangan nya dengan baik.

Pada item soal bagaimana ibadah dapat memberikan kekuatan batin dijawab

oleh responden 78 orang setuju (39 %) dan 11 orang sangat setuju (5,5 %) selebihnya

kurang setuju sebanyak 66 orang (33%) dan 39 orang (19,5 %) menjawab tidak

setuju, dan sangat tidak setuju bahwa ibadah dapat memberikan kekuatan batin adalah

6 orang (3 %). Jadi dari 200 responden yang menberikan jawaban positif bahwa

ibadah memberikan kekuatan batin adalah 45,5 %. Bila ibadah dilakukan teratur,

maka akan meningkatkan kekuatan mental kita, sehingga otomatis akan mencegah

kita dari penyakit mental atau penyakit jiwa.

Untuk item soal rekreasi bersama keluarga dan teman seminggu sekali

dijawab setuju oleh 84 orang (42%) sedangkan yang sangat setuju sebanyak 17 orang

(8,5%). Selebihnya tidak teratur dan malah sangat jarang, jadi hanya 50,5 % yang

berekreasi bersama keluarga. Padahal rekreasi bersama keluarga dapat meningkatkan


180

kekebalan terhadap stress dan mempererat hubungan batin dalam keluarga,

menyenangkan istri dan anak.

Kesibukan membuat responden yang punya waktu untuk menenangkan diri ,

hanya 97 orang yang menjawab setuju (48,5 %) sedangkan 9 orang menjawab sangat

setuju ( 4,5 %). dan selebihnya 47 % tidak mempunyai waktu yang cukup untuk dapat

menenangkan diri. Bila kita mempunyai waktu untuk menenangkan diri, di harapkan

peningkatan hormon yang terjadi karena stress dapat menurun dan mengurangi

ketegangan yang kita rasakan.

12. Distribusi Frekwensi Item Jawaban variabel Pencegahan Gangguan

Psikosomatik

Tabel 4.12

Frekwensi Jawaban Pencegahan Psikosomatik

No Soal SS S Ks Ts STS
f % f % f % f % f %
1 Saya merasa sedih, 3 1,5 25 12,5 82 41 51 25,5 39 19,5
sehingga tidak dapat
menikmati hidup

2 Saya kurang 1 0,5 23 11,5 84 42 74 47 18 9


memperhatikan
lingkungan
3 Saya sering merasa 10 5 90 45 62 31 32 16 6 3
mudah lelah sekarang
4 Saya merasa 4 2 45 22,5 88 44 56 28 7 3,5
konsentrasi dan
perhatian saya
berkurang
5 Saya merasa harga diri 7 3,5 18 9 76 38 72 36 27 13,5
dan percaya diri saya
berkurang
6 Saya sering merasa 6 3 13 6,5 55 27,5 85 42,5 41 20.5
tidak berguna
181

7 Tidur saya sering 9 4,5 59 29,5 46 23 75 37,5 11 5,5


terganggu sekarang-
sekarang ini
8 Nafsu makan saya 5 2,5 34 17 70 35 81 40.5 10 5
sekarang berkurang
9 Saya merasa pesimis 3 1,5 36 18 51 25,5 87 43,5 23 11,5
sekarang
10 Saya merasakan 4 2 18 9 92 36 71 35,5 35 1,5
kecemasan yang
berlebihan
11 Saya sering merasa 10 5 113 56,5 45 22,5 27 13,5 5 2,5
pegal, kaku otot, sakit
presendian

12 Saya mengeluh sesak 6 3 17 8,5 77 38,5 78 39 22 11


nafas, jantung berdebar,
telapak tangan basah,
mual, diare, mulut
terasa kering.

13 Kewaspadaan saya 9 4,5 48 24 83 41,5 49 24,5 11 5,5


bertambah , mudah
terkejut, cepat
tersinggung, sulit
konsentrasi.

14 Kemampuan kerja saya 5 2,5 49 24,5 85 42,5 52 26 9 4,5


menurun.

15 Saya kurang merawat 5 2,5 48 24 79 39,5 53 26,5 15 7,5


diri
16 Saya merasa sakit di ulu 2 1 32 16 73 36,5 70 35 23 11,5
hati, kembung, cepat
kenyang, sering disertai
cemas, atau rasa sedih.

17 Saya merasa lelah 7 3,5 44 22 78 39 54 27 17 8,5


berkepanjangan yang
tidak hilang dengan
istirahat, sering disertai
pegal, nyeri sendi,
kurang tidur, cemas

18 Saya sering merasa 14 7 81 40,5 64 32 36 18 5 2.5


sakit kepala, atau
migren, atau nyeri
sendi, nyeri otot, yang
disertai perasaan cemas
dan banyak pikiran,
kurang tidur.

19 Saya sering merasa 4 2 21 10,5 60 30 77 38,5 38 19


gangguan buang air
besar seperti sembelit,
disertai perasaan yang
sering cemas atau stress
182

Pada Item kuesioner variabel Pencegahan Psikosomatik. Pada soal dengan

pertanyaan perasaan sedih sehingga membuat responden tidak dapat menikmati hidup

ada sebanyak 25 orang yang menjawab setuju dan 3 orang yang menjawab sangat

setuju, perasaan sedih seperti ini merupakan salah satu gejala tambahan depresi.

Pada Item pertanyaan saya kurang memperhatikan lingkungan ada sebanyak

23 orang yang menjawab setuju dan 1 orang yang sangat setuju, orang yang sedang

depresi biasanya sudah tidak punya keinginan untuk memperhatikan lingkungannya .

Jawaban item bahwa responden sering merasa mudah lelah sekarang ada

sebanyak 90 orang dengan jawaban setuju dan 10 orang dengan jawaban sangat

setuju, perasaan mudah lelah bisa disebabkan oleh kelelahan fisik dan psikis.

Gangguan psikosomatik seperti depresi, Chronic Fatique Syndrome atau Sindrom

lelah kronik dengan gejala rasa lelah yang berlangsung lama dan tidak hilang dengan

istirahar tanpa penyebab organik yang jelas.

Chronic fatique syndrome juga dialami oleh 44 orang responden atau 22 %

dengan jawaban yang setuju dan 7 orang (3,5 %) menjawab sangat setuju. Saya merasa

lelah berkepanjangan yang tidak hilang dengan istirahat, sering disertai pegal, nyeri sendi,

kurang tidur, cemas

Item soal seperti merasa konsentrasi dan perhatian berkurang dijawab sangat

setuju oleh 4 orang dan 45 orang menjawab setuju. Sedang pertanyaan merasa harga

diri dan percaya diri yang berkurang dijawab setuju oleh 18 orang responden dan 7

orang yang sangat setuju, merasa hidup pesimis dijawab oleh 36 orang dengan
183

jawaban setuju dan 3 orang dengan jawaban sangat setuju, Nafsu makan yang

berkurang dijawab oleh 34 orang responden dengan jawaban setuju dan 5 orang

menjawab sangat setuju, jawaban seperti harga diri yang sudah mulai berkurang,

pesimis, konsentrasi yang sudah mulai berkurang, nafsu makan yang berkurang

biasanya dialami oleh orang yang depresi, jadi dari 200 responden yang diperiksa ini

kurang lebih ada 23 % mengalami depresi.

Dari item soal pertanyaan Saya merasa sakit di ulu hati, kembung, cepat

kenyang, sering disertai cemas, atau rasa sedih. Atau yang menurut penulis

mengalami gangguan psikosomatik dispepsia fungsional adalah sebanyak 32 orang

responden (16 %) dengan jawaban setuju dan 2 orang menjawab sangat setuju (1%).

Responden yang menjawab Saya sering merasa pegal, kaku otot, sakit persendian

Ada sebanyak 56,5 % dengan jawaban setuju dan 5 % dengan jawaban sangat setuju,

Gejala seperti ini bisa karena kelelahan fisik, atau gangguan psikosomatik yang

disebut Nyeri Psikogenik

Responden dengan yang menjawab Saya sering merasa sakit kepala, atau migren,

atau nyeri sendi, nyeri otot, yang disertai perasaan cemas dan banyak pikiran, kurang tidur.

Ada sebanyak 14 orang (7 %) yang sangat setuju dan 81 orang (40,5 %) menjawab setuju.

Keluhan nyeri psikogenik sendiri adalah adalah keluhan nyeri yang penyebabnya bukan

penyebab penyakit organik ditemukan gejala nyeri tampa kelainan organ yang jelas

misalnya nyeri kepala, migren, mialgia, atralgia, kolik abdomen, ada stresor

psikososial. Disertai dengan gejala depresi dan ansietas.


184

Sedangkan responden yang menjawab Saya mengeluh sesak nafas, jantung

berdebar, telapak tangan basah, mual, diare, mulut terasa kering. Dijawab oleh 6 orang

responden dengan jawaban sangat setuju dan 17 orang setuju, jadi ada 11,5 % yang

mengalami gangguan psikosomatik kemungkinan Penyakit Jantung Fungsional (neurosis

kardiak). Penyakit dengan keluhan seperti penyakit jantung, tanpa disertai kelainan

organik, Dengan keluhan adanya sakit dada yang tidak khas, sesak nafas, dapat

menyerupai angina pektoris, berdebar, rasa jantung seakan berhenti, rasa ingin mati,

mudah terkejut, adanya cemas yang berlebihan.

Dari 200 responden yang di wawancara ada 21 orang (10,5 %) dengan

jawaban setuju dan 4 orang (2%) dengan jawaban sangat setuju menpunyai gangguan

Sindrom Kolon Iritabel adalah sakit perut disertai gangguan buang air besar tanpa

dijumpai kelainan organik. Ditandai dengan rasa nyeri/tidak enak, diperut disertai

diare atau konstipasi, perut kembung, yang tampak dengan jelas, rasa nyeri diperut

hilang setelah buang air besar, keluhan psikis menonjol.

D. Pengujian Hipotesis Penelitian dan Pembahasan

Pengujian Statistik dalam penelitian bertujuan untuk menguji tiga variable

hipotesa yang sebelumnya telah di rumuskan pada bab 1, yaitu: (1) terdapat

hubungan antara motivasi ibadah dengan pencegahan gangguan Psikosomatik. (2)

terdapatnya hubungan antara kekebalan stress and pencegahan gangguna

psikosomatik. Pengujian terhadap ketiga hipotesa ini menggunakan rumus korelasi

person atau product moment dan regresi melalui program SPSS 13.
185

Adapun hasil perhitungan uji hipotesis dari ketiga variable dapat diuraikan

sebagai berikut

I. Hubungan Antara Motivasi Ibadah dan Pencegahan Gangguan Psikosomatik

Tabel 4.13

Statistik Dekskriptip

Variabel Mean Std Deviasi N

Motivasi Ibadah (X1) 1,2550 0.43695 200


Kekebalan Stress (X2) 1,3700 0.48402 200
Pencegahan gangguan Psikosomatik (Y) 1,7400 0,43973 200

Berdasarkan data deskripstip diketahui bahwa kasus yang diteliti adalah 200

responden. Diperoleh data nilai mean untuk X1 = 1,3700 dengan standar deviasi

0,43973 , variabel kedua nilai mean X2 = 1,7400 dan standar deviasinya 0,43973

sedangkan variabel ketiga nilai mean adalah Y = 1,2550 dan standar deviasi 0,43695

.Dengan nilai standar deviasi yang semuanya lebih kecil dari pada nilai mean, hal ini

menggambarkan bahwa ketiga variabel yang dihasilkan dari penelitian ini lebih

homogen, artinya temuan penelitian diperoleh dari sumber yang sama dan ini

menunjukan validitas data yang dihasilkan.

Hipotesis pertama dalam penelitian ini di rumuskan sebagai

berikut:”Terdapatnya hubungan positif yang signifikan antara motivasi Ibadah dengan

Pencegahan Gangguan Psikosomatik di Puskesmas Astapada Kabupaten Cirebon.

Untuk pengujian hipotesis ini digunakan analisa regresi linier


186

Untuk mengetahui signifikan hasil korelasi atau hubungan tersebut maka

dirumuskan hipotesa sebagai berikut:

Ho = Tidak terdapat hubungan (korelasi) signifikan antara Motivasi Ibadah dengan

Pencegahan Gangguan Psikosomatik.

Ha = Terdapatnya hubungan korelasi antara Motivasi Ibadah dengan Pencegahan

Gangguan Psikosomatik

Pengujian dengan dua sisi berdasarkan pengambilan keputusan didasarkan

pada angka probabilitas :

Jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima,

Jika Probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak

Dari hasil pengolahan data Program SPSS 13 dihasilkan korelasi X1 dengan Y

= 0,763 . setelah dibandingkan dengan r tabel ternyata r hitung lebih besar dari pada r

tabel atau 0.753 >0,194, terdapat hubungan yang kuat, dan Ho ditolak dan Ha

diterima. Dengan demikian dapat dijelaskan adanya hubungan positif dan signifikan

antara Motivasi ibadah dan Pencegahan gangguan Psikosomatik, makin tingginya

motivasi ibadah maka makin meningkat juga pencegahan terhadap gangguan

psikosomatik.(tabel dapat di lihat pada lampiran)

b
Berdasarkan table ANOVA atau F tes tenyata didapat f hitung sebesar

276,597 dengan tingkat significan 0.000, karena probabilitas dibawah angka 0,05

maka ,model regresi ini dapat digunakan untuk memprediksikan motivasi ibadah,
187

demikian juga dari table koefisien menggambarkan bahwa persamama regresi adalah

sebagai berikut memprediksikan motivasi ibadah, demikian juga dari tabel koefisien

menggambarkan bahwa persamama regresi adalah sebagai berikut :

Y = a + bi = 0,322 + 0,190 X1 dapat menyatakan bahwa jika tidak ada peningkatan

ibadah maka pencegahan gangguan psikosomatik tidak akan meningkat atau

mengalami perubahan. Koefisien regresi sebesar 0,190 menyatakan bahwa setiap

penambahan satu nilai atau satu point motivasi ibadah akan dapat meningkatkan

pencegahan gangguan psikosomatik sebesar 0,190 atau 19 %.

Sedangkan untuk menyatakan besar kecilnya konstribusi (sumbangan)

variable X1 terhadapa variable Y, dapat diketahui dari koefisien determinan = r2 x

100 % atau ( 0,763 ) 2 X 100 % = 58,2 % sisanya 100 - 58,2 % = 41,8 % ditentukan

oleh variabel lain diluar penelitian

2. Hubungan Antara Kekebalan Stress (X2) dengan Pencegahan Gangguan

Psikosomatik (Y)

Hipotesa kedua dalam penelitian ini dirumuskan :”Terdapat hubungan positif

yang signifikan antara kekebalan stress dan pencegahan gangguan psikosomatik.” .

Untuk mengetahui significan hasil korelasi atau hubungan tersebut dirumuskan

hipotesa sebagai berikut:

Ho = Tidak adanya hubungan (korelasi ) antara kekebalan stress dengan

Pencegahan gangguan Psikosomatik

Ha = Terdapatnya hubungan (korelasi) antara Kekebalan stress dengan pencegahan


188

gangguan Psikosomatik

Pengujian dilakukan dengan dua sisi, maka dasar pengambilan keputusannya

didasarkan pada angka probabilitas :

Jika probabilitas > 0.05 maka Ho diterima,

Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak

Pada Pengujian terhadap tidak adanya hubungan antara kekebalan stress (X2)

dengan Pencegahan gangguan psikosomaktik (Y) diketahui korelasi positif artinya

makin tingginya kekebalan stress akan makin tercegah dari gangguan psikosomatik.

Hasil pengolahan data melalui program SPSS, dihasilkan korelasi X2 dengan Y =

0,347 . setelah dibandingkan antara r tabel dan r hitung, ternyata r hitung lebih besar

dari r tabel atau 0,347 > 0,194 maka Ho ditolak dan Ha diterima

b
Berdasarkan table ANOVA atau F tes tenyata didapat f hitung sebesar 27,067

dengan tingkat significan 0.000 , karena probabilitas dibawah angka 0,05 maka

,model regresi ini dapat digunakan untuk memprediksikan kekebalan stress, demikian

juga dari tabel koefisien menggambarkan bahwa persamaan regresi adalah sebagai

berikut memprediksikan kekebalan stress, demikian juga dari tabel koefisien

menggambarkan bahwa persamaan regresi adalah sebagai berikut :

Y = a + bi = 0,655 + 0,347 X1 dapat menyatakan bahwa jika tidak ada peningkatan

kekebalan maka pencegahan gangguan psikosomatik tidak akan meningkat atau

mengalami perubahan. Koefisien regresi sebesar 0,347 menyatakan bahwa setiap


189

penambahan satu nilai atau satu point kekebalan stress akan dapat meningkatkan

pencegahan gangguan psikosomatik sebesar 0,347 atau 34,7 %.

Sedangkan untuk menyatakan besar kecilnya konstribusi (sumbangan) variable

X1 terhadap variable Y, dapat diketahui dari koefisien determinan = r2 x 100 % atau (

0,347 ) 2 X 100 % = 12.04 % sisanya 100- 12,04 % = 87,96 % ditentukan oleh

variabel lain diluar penelitian

3. Hubungan Antara Motivasi Ibadah (X1), Kekebalan stress (X2) dengan

Pencegahan Gangguan Psikosomatik (Y)

Hipotesa kedua dalam penelitian ini dirumuskan :”Terdapat hubungan positif

yang signifikan antara motivasi ibadah, kekebalan stress dan pencegahan gangguan

psikosomatik.”. Untuk mengetahui signifikan hasil korelasi atau hubungan tersebut

dirumuskan hipotesa sebagai berikut:

Ho = Tidak adanya hubungan (korelasi ) antara motivasi ibadah, kekebalan stress

dengan Pencegahan gangguan Psikosomatik

Ha = Terdapatnya hubungan (korelasi) antara motivasi ibadah, Kekebalan stress

dengan pencegahan gangguan Psikosomatik

Pengujian dilakukan dengan dua sisi, maka dasar pengambilan keputusannya

didasarkan pada angka probabilitas :

Jika probabilitas > 0.05 maka Ho diterima,

Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak


190

Pada Pengujian terhadap tidak adanya hubungan antara Motivasi ibadah (X 1)

kekebalan stress (X2) dengan Pencegahan gangguan psikosomaktik (Y) diketahui

korelasi positif artinya makin tingginya kekebalan stress akan makin tercegah dari

gangguan psikosomatik.

Hasil pengolahan data melalui program SPSS, dihasilkan korelasiX1, X2

dengan Y = 0,778 . atau adanya hubungan yang kuat positif antara motivasi ibada,

kekebalan stress dan pencegahan gangguan Psikosomatik, setelah dibandingkan

antara r tabel dan r hitung, ternyata r hitung lebih besar dari r tabel atau 0,778 > 0,194

maka Ho ditolak dan Ha diterima

Setelah dilakukan analisis dengan metode backward ternyata variable yang

terlihat pada kotak model summary terlihat koefisien determinan (R square)

menunjukan nilai 0,605 bahwa model regresi yang diperoleh dapat menjelaskan 60,

5% variasi variabel dependen Pencegahan gangguan Psikosomatik. Atau dengan kata

lain variabel motivasi ibadah, kekebalan stress, dapat menjelaskan variasi Pencegahan

gangguan psikosomatik sebesar 60,5 %. dan dalam bidang kesehatan masyarakat

dikatakan baik bila nilai R square minimal sekitar 60 %. Kemudian pada kotak

Anova, kita lihat uji F yang menunjukan nilai P (signifikan F ) adalah sebesar 0,287

berarti lebih besar dari pada alpha 5 % , menunjukan tidak adanya signifikan bila

kedua variabel diatas bila di uji secara parsial dengan regression linier ganda.

Walaupun secara korelasi terdapat hubungan yang tinggi, sebesar 0,778 berarti secara

simultan kedua variabel mempunyai konstribusi tapi tidak signifikan. Berarti ada

variabel diluar penelitian yang harus diteliti lebih lanjut.


191

Pada kotak Koefisien kita memperoleh persamaan garisnya, Pada kolom

variabel in equation diatas kita dapat mengetahui masing masing koefisien regresi

masing-masing variabel and hasil diatas menunjukan

Y = 0,94 + 0,652 X1 + 0,154 X2

Dengan model persamaan ini dapat diperkirakan bahwa Pencegahan gangguan

Psiksomatik dengan menggunakan variabel motivasi ibadah dan kekebalan stress,

Variabel Pencegahan gangguan Psikosomatik akan meningkat sebesar 0,652 (65,2

poin) bila motivasi ibadah meningkat. dan meningkat 15,4 poin bila kekebalan stress

meningkat,

Pada kolom Beta diketahui variabel yang paling besarlah yang berpengaruh

paling besar terhadap menentukan variabel dependen, semakin besar nilai beta makin

besar pengaruhnya terhadap variabel dependen, diketahui bahwa ibadah

mempengaruhi sebesar 0,722 atau 72,2 poin terhadap pencegahan gangguan

psikosomatik dan 15,5 poin disumbangkan oleh kekebalan stress terhadap

pencegahan gangguan psikosomatik

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
192

Berdasarkan hasil penelitian antara motivasi ibadah, dan kekebalan stress

terhadap pencegahan gangguan Psikosomatik di Puskesmas Astapada dapat

disimpulkan sebagai berikut

1. Terdapatnya hubungan yang positif kuat dan signifikan antara motivasi ibadah

dengan pencegahan gangguan psikosomarik sebesar 0,763 atau 76,3 % atas dasar

itu berpengaruh signifikan terhadap pencegahan gangguan psikosomatik, makin

tingginya motivasi ibadah makin meningkatlah pencegahan kita dari gangguan

psikosomatik,

2. Terdapatnya hubungan positif sedang antara kekebalan stress dengan pencegahan

gangguan psikosomatik sebesar 0,347 atau 34,7 %. atas dasar itu maka dengan

meningkatnya kekebalan stress, makin tinggilah angka pencegahan tubuh kita

tercegah dari gangguan psikosomatik.

3. Terdapat hubungan positif yang kuat 0,778 atau 77,8 %, dan namun tidak

signifikan secara bersama-sama antara motivasi ibadah, kekebalan stress dan

pencegahan gangguan psikosomatik.

Menurut pendapat penulis ada variabel diluar penelitian yang harus diteliti lebih

lanjut, keterbatasan waktu, biaya dan tenaga, disini sehingga penulis hanya

menggunakan 2 variabel penelitian. Begitu banyak determinan variabel yang

mempengaruhi penyakit psikosomatik. Karena gangguan ini bersifat lebih banyak

karena stresor psikososial yang masing-masing individu berbeda, antara lain

perbedaan tiap individu itu :

faktor lain yang tidak diteliti


193

i. Gangguan Kepribadian

ii. Tingkat kognitif seseorang dalam menghadapi stress

iii. Kebiasaan budaya setempat dan Kehidupan masa kecil

iv. Penyesuaian diri

B. SARAN

1. Untuk meningkatkan Pencegahan kita terhadap gangguan Psikosomatik maka

kita harus meningkatkan motivasi ibadah kita, motivasi ibadah yang tinggi
194

akan meningkatkan pencegahan gangguan psikosomatik secara signifikan,

Ibadah yang dilakukan dengan motivasi yang baik akan menyeimbangkan

hormonal tubuh, yang biasanya keluar pada saat tubuh mengalami stress.

Pengamalan ibadah yang dibarengi dengan motivasi ibadah yang tinggi, dapat

dijadikan salah satu alternatif sebagai psikoterapi suportif yang dapat

mestabilkan hormon stress yang biasanya terpicu dalam jumlah banyak ketika

stresor yang datang bertubi-tubi dan menyebabkan gejala-gejala psikosomatik.

Sebelum gejala tersebut berkepanjangan, pasien di motivasi untuk

mempertinggi ibadahnya sehingga selain diberikan pengobatan somatoterapi,

juga kita memberi beberapa tuntunan Ibadah seperti menjalankan solat 5

waktu tepat waktu, solat tahajud pada sepertiga malam terakhir, puasa sunah ,

zikir dan sodaqah. Nasehat secara verbal dapat memberi support kepada

pasien agar dapat menjalankan hidup ini lebih rileks dan memperbanyak

Ibadah secara Iklash.

2. Tidak hanya ibadah saja yang kita tingkatkan tapi juga kekebalan stress kita,

antara lain dengan melaksanakan olah raga yang teratur, tidur 7-8 jam sehari

yang teratur, kita pupuk kasih sayang dalam keluarga, cukup memperoleh

makanan yang berimbang, mengurangi kebiasaan rokok. Mengatur

pengeluaran yang pemasukan kita, menjalankan ibadah sebaik mungkin.

Mempunyai teman atau sahabat yang baik , meluangkan waktu untuk

berekreasi bersama keluarga, meluangkan waktu untuk menenangkan diri.

Menjaga silaturahmi dengan keluarga dan tetangga. Mengatur waktu dengan


195

efektif dan efisien. Dengan demikian kekebalan stress kita akan baik, dengan

meningkatnya kekebalan kita terhadap stress, maka akan meningkatkan

pencegahan kita terhadap gangguan psikosomatik.

3. Seseorang juga harus mampu mengelola stressnya dengan baik. Strategi

pengelolaan stress memang tergantung pada kebiasaan standar budaya dimana

ia dibesarkan, kepribadian yang terbentuk sejak kecil, tingkat kognitif

seseorang untuk mengatasi stressnya.

Daftar Pustaka

Al-Quran dan terjemahan, Penerbit Sari Agung, Jakarta 2005


Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, Nasehat Bagi yang lalai,
196

Penerjeman Abu Juhaidah, Pustaka Amani , Jakarta, 1999


Az-Zahrani, Musfir, Konseling Terapi, Penerbit Gema Insani, Jakarta 2005
Al-Magraghi, Tafsir Al-Quran jilid 16
Ar-Rifai M. N ,Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerbit Gema Insani Press,
Jakarta 1999
Arikunto, S, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek , Rineka Cipta 2002
Ash-Shawi, A.J, Terapi Puasa, Manfaat Puasa Ditinjau dari Perspektif Sains
Modern, Penerjemah Aan Wahyudin, Penerbit Republika, Jakarta 2006
Ahmad, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Reality Publisher, Jakarta , 2006
Ardani, Rahayu, Sholichatun, Psikologi Klinis, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007
Azis Rani. E Mudjaddid, Hamzah Shatri dkk,. Pedoman Diagnosa dan Terapi di
Bidang Ilmu Penyakit Dalam, Pusat Informasi dan Penerbit
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Falkutas Kedokteran Universitas
Indonesia.2000.
Bastaman, H.D.Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju psikologi islam
Yogyakarta, Pustaka Pelajar. 1995
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II , (Mudjaddid, Shatri) Edisi III, Balai
Penerbit FK UI , Jakarta, 2001
Bahar Azwar, Manfaat Haji dan Umrah bagi Kesehatan, Qultum Media, Jakarta
2007.
Endang Saifuddun Anshari M. A. Ilmu, Filsafat dan Agama, Penerbit Bina Ilmu 1979
Frager R (Syekh Ragib al-Jerahi Hati Diri dan Jiwa , Psikologi Sufi untuk
Transformasi, (Heart, sefl, & Soul) Penerjemah Hasmiyah Rauf, Penerbit
Serambi, Jakarta, 2003
Ginanjar Ary, ESQ, Penerbit Arga, Jakarta, 2003
Guyton, Hall, Text Book of Medical Physiology ed 9, Buku Ajar Fisiologi
197

Kedokteran, Alih Bahasa dr. Irawati Setiawan dkk, Penerbit


EGC,Jakarta,1997
Goleman, Daniel, Emotional Intelligence, Alih Bahasa T. Hermaya, Penerbit
Gramedia Jakarta, 1997
Hawari, Dadang, Doa dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis, Dana Bhakti
Primayasa , Jakarta , 1997
------------Al-Quran, Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Dana Bhakti
Primayasa, 1998
Harun Nasution , Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran Prof. DR. Harun Nasution
Penerbit Mizan, Bandung, 1995
Jalal Saour: Does Ramadan Fasting Complicate Antcoagulant Therapy? Fasting: Its
Efects on health and Diseases Basic Priniciples and Clinical Practive
(Abstracts). College of Medicine King Saud University , Riyadh, December
1990 .

Jalaluddin Rakhmat , Psikologi Agama sebuah pengatar, Mizan, Bandung, 2004

Khadem Yamani, Ja’far, Kedokteran Islam, Sejarah Dan Perkembangannya, Alih


Bahasa Tim Dokter IDAVI editor A.D El Marzdedeq, DIM, Av. Dzikra .2005

Lazarus RS (1993). "From psychological stress to the emotions: a history of


changing outlooks". Annual Review of Psychology 44: 1-22.

Langgunung , H, Teori-Teori Kesehatan Mental, Penerbit Balai Pustaka Al Husna ,


Jakarta, 1992
Martin,David W,(et al) Biokimia , Harper’s Reviem of Biochemistry, alih bahasa
Iyan Darmawan, EGC, Jakarta 1987
Microsoft ® Encarta ® 2006
Maramis, W. F. Ilmu Kedokteran Jiwa , Penerbit Air langga Press ,1980
198

Muhammad Nasir Ar-rifai, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (Kemudahan Dari Allah),
Jilid 1 , Gema Insani , Jakarta 2000

Muzam MG,. Ali M. N. and Husain A. (1963): Observations on the Effects Of


Ramadan Fasting On Gastric Acidity , the Medicus 25: 228 .

Maumana Amjad, et al, editor Zafar Afaq Ansari, Qur’anic Consepts of Human
Psyche, Adam Publisher New delhi-110002, edition 2006

Muhammad Jawad Mughniyah, Figh Lima Mazhab, (Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’i,
Hambali). Penerjemah Drs.Syihabuddin, Penerbit Lentera, Jakarta 2005

Muhammad Izzuddun Taufiq , Dalil Anfus Al-Quran dan Embriologi (Ayat-Ayat


Tentang Penciptaan manusia) , Darussalam Kairo, Penerjemah Muhammad
Arifin Dkk, editor,Ch Al-Qois, Fiedha L Hasim, Penerbit Tiga Serangkai,
Solo, 2006

M.Mahmud Abdullah, Mukjizat Gerak dan Bacaan Shalat, serta Aplikasi Khusu,
penerjemah, Sari Narulita, Penerbit Pustaka Iman, Jakarta, 2006

Maulana Muhammad Al-Kandahlawi Rah.a., Fadhilah Amal, Penerjemah Ust


A.Abdurrahman Ahmad, Penerbit Ash-Shaff, Yogyakarta ,2003

Notoatmojo, Soekidjo, Metodologi Penelitian Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta,


Jakarta ,2005.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Panduan Pelayanan
Medik, Penerbit Departemen IPD FK UI, 2006
Price, Wilson ,Patofisiologi Edisi 6 vol.2, Alih Bahasa dr. Brahm dkk, Penerbit
EGC, Jakarta 2002
Quraish Shihab, Membumikan AL-Quran, Penerbit Mizan, Bandung, 1992
199

Sulimami R. A. Famuyiwa F. O. Laaga M. A. (1988): Diabetes Mellitus and


Ramadan Fasting: the Need for Critical Appraisal. Diabetes Medicine 8:
549-552 .
Suliswati, Tjie Anita, Jeremia, Yenny, Sumijatun, Konsep Dasar Keperawatan
Kesehatan Jiwa, EGC, Jakarta, 2005

Riyad Albiby and Ahmed Elkadi: A preliminary Report on Effects of Islamic Fasting
on Lipoprotens and Immunity. JMA, vol , 17 188 page 84 .

Rippetoe-Kilgore, Mark and Lon.. Practical Programming for Strength Training.


2006

Ron de Kloet, E; Joels M. & Holsboer F. (2005). "Stress and the brain: from
adaptation to disease". Nature Reviews Neuroscience 6 (6): 463-475.

Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa,Rujukan Ringkas Dari PPDGJ III, editor Rusdi
maslim, 2000

Shahih Muslim, penerjemah Ma’mur Daud, Penerbit Widjaya, Jakarta, 1983.


Sholeh , M, Terapi Salat Tahajud, Menyembuhkan berbagai Penyakit, Penerbit
Hikmah Populer Mizan, Bandung , 2006
Sayyid Qutbh, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an jilid 1, Penerbit Gema Insani Press , Jakarta
2000
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Penerbit Rosda, 2005
Sutanto Priyo Hastono, Modul Analisis Data, Falkutas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia .Jakarta 2001
Sulistia Gan dkk, Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi Falkutas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta, 1997
200

Yulizar Darwis, Dkk. Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa Dasar Di purkesmas,


Departemen Kesehatan RI, Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat
Kesehatan Jiwa Masyarakat Jakarta 2004
http://www.medem.com
http://www.kaheel7.com
http://www.Islam-online.com
201

Lampiran Kuesioner
MOTIVASI BERIBADAH DAN PENANGGULANGAN STRESS DENGAN
PREVENTIF GANGGUAN PSIKOSOMATIK
Tanggal wawancara:
Nama : (Pria/wanita)
Umur : Tahun
Pekerjaan : Penghasilan : Perbulan
Pendidikan :
Status : menikah/ janda/duda/tidak menikah/cerai

A. Kuesioner I
Tandailah jawaban anda dibawah ini dengan tanda (X) yang sesuai dengan anda:
a. Setuju sekali (SS) b. Setuju (S) c. Kurang setuju (KS)
d. Tidak setuju (TS) e. Sangat tidak setuju (STS)

1. Dengan shalat hatiku yang cemas jadi hilang


a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
2. Kalau kesedihan melanda aku jadi banyak shalat
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
3. Shalat tahajud bagiku dapat menyembuhan kegelisahanku
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
4. Shalat tahajud aku kerjakan dengan teratur
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
5. Bagiku puasa menyehat badanku dan menyembuhkan sakitku
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
6. Dengan puasa aku jadi lebih sabar
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
7. Puasa menjadi kebiasaanku untuk mendekatkan diri pada Allah SWT
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS}
8. Bagiku sodakhah tidak harus dengan uang
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
9. Dengan sodakhah hatiku jadi makin bahagia
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
10. Dengan sodakhah pasti Allah akan membalasnya berlipat ganda
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
11. Al-Quran adalah obat jiwaku yang sedang gelisah
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
12. Aku membaca Al-Quran setiap hari beserta artinya
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
13. Aku merasa Al-Quran adalah penyejuk hati nasehat yang menyejukan jiwa
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
202

14. Aku berniat haji , mudah-mudahan Allah memberi rizki


a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
15. Mulai saat ini aku menabung sedikit demi sedikit untuk naik haji
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
16. Aku merasa zikir dapat menyenangkan jiwa dan mengurangi kegelisahanku
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
17. aku melakukan zikir setiap waktu
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
18. Aku merasa hidupku penuh rasa syukur dan barokah
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
19. Aku percaya apa yang aku usahakan (harta, uang, mobil, rumah) didunia ini
adalah titipan Allah.
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]

Kuesioner II
Penanggulangan stress
1. Saya cukup makan sayur , lauk pauk, nasi, berimbang setiap hari
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
2. Pasangan saya atau orang tua saya cukup memberikan kasih saying dan
perhatian kepada saya.
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
3. Sayang mempunyai saudara yang tinggalnya tidak begitu jauh (< 75 Km)
yang bisa saya andalkan
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
4. Minimal 2 kali seminggu saya gerak badan sampai berkeringat
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
5. Saya merokok kurang dari setengah pak sehari.
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
6. Tinggi badan dan berat badan saya cukup baik, tidak kurus , tidak gemuk
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
7. Keluarga berpenghasilan yang cukup untuk pengeluaran
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
8. Saya merasa bahwa ibadah memberikan kekuatan lahir dan batin saya
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
9. Saya teratur mengikuti kegiatan yang dilakukan desa
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
10. Tetangga dan teman saya baik kepada saya
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
11. Saya mempunyai keluarga atau teman tempat berbagi cerita (curhat)
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
12. Saya akan bicara terus terang mengutarakan perasaan hati ketika marah atau
gelisah.
203

a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]


13. Saya secara teratur bercakap-cakap dengan orang rumah masalah urusan
ruman , sehidupan sehari-hari
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
14. Setidaknya seminggu sekali saya jalan-jalan dengan keluarga atau teman
mencari hiburan
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
15. Saya dapat mengatur waktu dengan baik
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
16. Dalam sehari saya minum kopi, teh, kurang dari 3 cangkir sehari
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
17. Saya setiap mencari waktu untuk menenangkan diri
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]

Kuesioner III
Pencegahan Gejala Psikosomatik

1. Saya merasa sedih, sehingga tidak dapat menikmati hidup


a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
2. Saya kurang memperhatikan lingkungan
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
3. Saya sering merasa mudah lelah sekarang
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
4. Saya merasa konsentrasi dan perhatian saya berkurang
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
5. Saya merasa harga diri dan percaya diri saya berkurang
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
6. Saya sering merasa tidak berguna
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
7. Tidur saya sering terganggu sekarang-sekarang ini
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
8. Nafsu makan saya sekarang berkurang
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
9. Saya merasa pesimis sekarang
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
10. Saya merasakan kecemasan yang berlebihan
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
11. Saya sering merasa pegal, kaku otot, sakit presendian
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
12. Saya mengeluh sesak nafas, jantung berdebar, telapak tangan basah, mual,
diare, mulut terasa kering.
204

a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]


13. Kewaspadaan saya bertambah , mudah terkejut, cepat tersinggung, sulit
konsentrasi.
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
14. Kemampuan kerja saya menurun.
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
15. Saya kurang merawat diri
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
16. Saya merasa sakit di ulu hati, kembung, cepat kenyang, sering disertai
cemas, atau rasa sedih.
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
17. Saya merasa lelah berkepanjangan yang tidak hilang dengan istirahat, sering
disertai pegal, nyeri sendi, kurang tidur, cemas
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
18. Saya sering merasa sakit kepala, atau migren, atau nyeri sendi, nyeri otot,
yang disertai perasaan cemas dan banyak pikiran, kurang tidur.
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
19. Saya sering merasa gangguan buang air besar seperti sembelit, disertai
perasaan yang sering cemas atau stress
a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS}

Skala Holmes
Berikut ini tandai masalah apa saja yang anda hadapi selama setahun terakhir ini,
boleh lebih dari satu.
No Item Tanda Score
1 Kematian Suami/istri 100
2 Kematian keluarga dekat 63
3 Perkawinan 50
4 Kehilangan jabatan 47
5 Pensiunan/Pengasingan diri 45
6 Kehamilan istri 40
7 Kesulitan sex 39
8 Tambah anggota keluarga baru 39
9 Kematian kawan dekat 37
10 Konflik suami/istri 35
11 Menggadaikan rumah 31
12 Perubahan dalam tanggung jawab pekerjaan 29
13 Konflik dengan ipar , mertua, menantu 29
14 Perasaan tersinggung atau penyakit 53
15 Rujuk dalam perkawinan 45
16 Perubahan kesehatan seseorang anggota keluarga 44
17 Perubahan dalam status keuangan 38
205

18 perceraian 65
19 Peralihan jenis pekerjaan 36
20 Mencegah terjadinya penggadaian/pinjaman 30
21 Anak laki-laki/perempuan meninggalkan rumah 29
22 Prestasi pribadi yang luar biasa 28
23 Istri mulai atau berhenti bekerja 29
24 Kesulitan dengan atasan 23
25 Tukar tempat tinggal 20
26 Perubahan dalam hiburan 19
27 Pinjaman dengan rumah sebagai jaminannya 17
28 Perubahan dalam jumlah pertemuan keluarga 15
29 Pelanggaran ringan 11
30 Menukar kebiasaan pribadi 24
31 Perubahan jam kerja/syarat kerja 20
32 Tukar sekolah 20
33 Tukar kegiatan sosial 18
34 Tukar kebiasaan tidur 16
35 Perubahan dalam kebiasaan makan 15
36 Berlibur 13
total
206

Lampiran Hasil SPSS 13

Lampiran 1. Realibility dan Validitas data Item Soal

Reliability

Case Proce ssing Summary

N %
Cases Valid 200 100.0
Excludeda 0 .0 Reliability Statistics
Total 200 100.0 Cronbach's
a. Listwise deletion based on all Alpha N of Items
variables in the procedure. .850 19

Ite m Statistics

Mean Std. Deviation N


a1 1.7250 .57535 200
a2 2.1000 .83876 200
a3 1.8350 .59964 200
a4 2.5700 .88828 200
a5 1.8750 .58402 200
a6 1.6300 .60409 200
a7 1.6300 .62855 200
a8 1.7850 .54797 200
a9 1.8050 .52760 200
a10 1.5350 .60879 200
a11 1.7750 .57970 200
a12 2.5850 .84042 200
a13 1.6950 .53235 200
a14 1.7150 .67532 200
a15 2.2350 .98724 200
a16 1.7900 .52658 200
a17 2.2700 .87230 200
a18 1.8150 .46025 200
a19 1.4900 .60142 200
207

Item-Total Statistics

Scale Corrected Cronbach's


Scale Mean if Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted
a1 34.1350 39.866 .550 .839
a2 33.7600 41.761 .159 .859
a3 34.0250 39.582 .563 .838
a4 33.2900 38.991 .398 .847
a5 33.9850 39.834 .545 .839
a6 34.2300 39.243 .606 .837
a7 34.2300 39.947 .484 .841
a8 34.0750 41.055 .404 .845
a9 34.0550 40.645 .486 .842
a10 34.3250 40.693 .403 .845
a11 34.0850 39.726 .565 .839
a12 33.2750 38.361 .492 .841
a13 34.1650 39.867 .601 .838
a14 34.1450 40.798 .340 .847
a15 33.6250 38.728 .365 .850
a16 34.0700 39.553 .658 .836
a17 33.5900 38.947 .412 .846
a18 34.0450 41.259 .460 .844
a19 34.3700 40.998 .368 .846

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items


35.8600 44.191 6.64766 19

ANOVA with Tukey's Test for Nonadditivity

Sum of
Squares df Mean Square F Sig
Between People 462.846 199 2.326
Within People Between Items 364.054 18 20.225 58.009 .000
Residual Nonadditivity 9.781 a 1 9.781 28.267 .000
Balance 1239.113 3581 .346
Total 1248.894 3582 .349
Total 1612.947 3600 .448
Total 2075.794 3799 .546
Grand Mean = 1.8874
a. Tukey's estimate of power to which observations must be raised to achieve additivity = .114.
208

Reliability

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items
.638 17

Item-Total Statistics

Scale Corrected Cronbach's


Scale Mean if Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted
b1 35.5000 21.638 .274 .464
b2 35.4300 21.603 .222 .469
b3 35.6800 22.631 .207 .489
b4 34.9400 21.916 .279 .498
b5 35.0450 21.018 .253 .461
b6 36.1300 19.229 279 .539
b7 35.1900 22.759 .217 .507
b8 35.1200 21.994 .314 .450
b9 35.8100 19.887 .205 .474
b10 34.7500 21.595 .332 .439
b11 35.6500 22.385 .338 .459
b12 35.6300 22.852 .256 .482
b13 35.4500 20.800 .222 .503
b14 34.9050 21.159 .219 .466
b15 35.3700 21.574 .295 .457
b16 34.5650 21.576 .277 .503
b17 34.9150 21.157 .254 .481

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items


37.6144 31.999 5.65674 17
209

Reliability

Case Proce ssing Summary

N %
Cases Valid 200 100.0
Excludeda 0 .0
Total 200 100.0
a. Listwise deletion based on all
variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items
.864 19

Ite m Statistics

Mean Std. Deviation N


c1 3.4900 .99238 200
c2 3.4250 .82935 200
c3 2.6700 .90842 200
c4 3.0850 .84934 200
c5 3.4700 .95586 200
c6 3.7100 .96465 200
c7 3.1000 1.03215 200
c8 3.2850 .89318 200
c9 3.4550 .96573 200
c10 3.5750 .94809 200
c11 2.5200 .87947 200
c12 3.4650 .90713 200
c13 3.0250 .94277 200
c14 3.0550 .88651 200
c15 3.1250 .94543 200
c16 3.4000 .92427 200
c17 3.1500 .97584 200
c18 2.6850 .93281 200
c19 3.6200 .97486 200
210

Ite m-Total Statistics

Scale Corrected Cronbach's


Scale Mean if Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted
c1 57.8200 83.626 .368 .862
c2 57.8850 82.635 .528 .856
c3 58.6400 84.995 .327 .863
c4 58.2250 83.532 .453 .858
c5 57.8400 80.587 .570 .853
c6 57.6000 80.523 .568 .853
c7 58.2100 83.122 .377 .862
c8 58.0250 82.798 .473 .857
c9 57.8550 81.733 .494 .857
c10 57.7350 82.156 .479 .857
c11 58.7900 87.323 .194 .868
c12 57.8450 82.554 .480 .857
c13 58.2850 81.180 .543 .855
c14 58.2550 81.558 .559 .854
c15 58.1850 81.930 .495 .856
c16 57.9100 81.811 .516 .856
c17 58.1600 81.623 .494 .856
c18 58.6250 82.818 .448 .858
c19 57.6900 81.984 .473 .857

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items


61.3100 91.290 9.55460 19
211

Lampiran 2 . Tabel Korelasi dan regresi linier ganda

Frequencies

Statistics

VAR00006
N Valid 200
Missing 0

Correlations

Corre lations

kekebala
ibadah nstress psikosomatik
ibadah Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
kekebalanstress Pearson Correlation .265**
Sig. (2-tailed) .000
N 200
psikosomatik Pearson Correlation .763** .347**
Sig. (2-tailed) .000 .000
N 200 200
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Regression

De scriptiv e Statistics

Mean Std. Deviation N


psikosomatik 1.2550 .43695 200
ibadah 1.3700 .48402 200
kekebalanstress 1.7400 .43973 200
212

Corre lations

kekebala
psikosomatik ibadah nstress
Pearson Correlation psikosomatik 1.000 .763 .347
ibadah .763 1.000 .265
kekebalanstress .347 .265 1.000
Sig. (1-tailed) psikosomatik . .000 .000
ibadah .000 . .000
kekebalanstress .000 .000 .
N psikosomatik 200 200 200
ibadah 200 200 200
kekebalanstress 200 200 200

Variable s Ente re d/Re movebd

Variables Variables
Model Entered Removed Method
1 kekebalan
stress,a . Enter
ibadah
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: psikosomatik

M ode l Summaryb

Adjusted Std. Error of


Model R R Square R Square the Estimate
1 .778 a .605 .601 .27595
a. Predictors: (Constant), kekebalanstress, ibadah
b. Dependent Variable: psikosomatik

ANOVAb

Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 22.993 2 11.497 150.975 .000 a
Residual 15.002 197 .076
Total 37.995 199
a. Predictors: (Constant), kekebalanstress, ibadah
b. Dependent Variable: psikosomatik
213

Coefficie ntsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) .094 .088 1.067 .287
ibadah .652 .042 .722 15.555 .000
kekebalanstress .154 .046 .155 3.341 .001
a. Dependent Variable: psikosomatik

Re siduals Statisticsa

Minimum Maximum Mean Std. Deviation N


Predicted Value .8997 1.7059 1.2550 .33992 200
Std. Predicted Value -1.045 1.326 .000 1.000 200
Standard Error of
.029 .052 .033 .005 200
Predicted Value
Adjusted Predicted Value .8977 1.7158 1.2553 .34058 200
Residual -.70585 .29415 .00000 .27456 200
Std. Residual -2.558 1.066 .000 .995 200
Stud. Residual -2.576 1.073 -.001 1.004 200
Deleted Residual -.71576 .29828 -.00032 .27949 200
Stud. Deleted Residual -2.614 1.074 -.004 1.013 200
Mahal. Distance 1.263 6.120 1.990 1.059 200
Cook's Distance .000 .051 .006 .012 200
Centered Leverage Value .006 .031 .010 .005 200
a. Dependent Variable: psikosomatik

Variable s Ente re d/Re movebd

Variables Variables
Model Entered Removed Method
1 ibadaha . Enter
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: psikosomatik
214

M ode l Summary

Adjusted Std. Error of


Model R R Square R Square the Estimate
1 .763 a .583 .581 .28294
a. Predictors: (Constant), ibadah

ANOVAb

Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 22.144 1 22.144 276.597 .000 a
Residual 15.851 198 .080
Total 37.995 199
a. Predictors: (Constant), ibadah
b. Dependent Variable: psikosomatik

Coe fficie ntsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) .311 .060 5.163 .000
ibadah .689 .041 .763 16.631 .000
a. Dependent Variable: psikosomatik

Regression

Variable s Ente re d/Re movebd

Variables Variables
Model Entered Removed Method
1 kekebalan
a . Enter
stress
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: psikosomatik

M ode l Summary

Adjusted Std. Error of


Model R R Square R Square the Estimate
1 .347 a .120 .116 .41087
a. Predictors: (Constant), kekebalanstress
215

ANOVAb

Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 4.569 1 4.569 27.067 .000 a
Residual 33.426 198 .169
Total 37.995 199
a. Predictors: (Constant), kekebalanstress
b. Dependent Variable: psikosomatik

Coefficie ntsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) .655 .119 5.514 .000
kekebalanstress .345 .066 .347 5.203 .000
a. Dependent Variable: psikosomatik

Regression

Variable s Ente re d/Re movebd

Variables Variables
Model Entered Removed Method
1 ibadah,
kekebalan
a
. Enter
stress
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: psikosomatik

M ode l Summary

Adjusted Std. Error of


Model R R Square R Square the Estimate
1 .778 a .605 .601 .27595
a. Predictors: (Constant), ibadah, kekebalanstress
216

ANOVAb

Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 22.993 2 11.497 150.975 .000 a
Residual 15.002 197 .076
Total 37.995 199
a. Predictors: (Constant), ibadah, kekebalanstress
b. Dependent Variable: psikosomatik

Coefficie ntsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) .094 .088 1.067 .287
kekebalanstress .154 .046 .155 3.341 .001
ibadah .652 .042 .722 15.555 .000
a. Dependent Variable: psikosomatik

Crosstabs

Case Proce ssing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
ibadah * psikosomatik 200 100.0% 0 .0% 200 100.0%

ibadah * psikosomatik Crosstabulation

psikosomatik
baik psikosomatik Total
ibadah baik Count 126 0 126
Row % 100.0% .0% 100.0%
sedang Count 23 51 74
Row % 31.1% 68.9% 100.0%
Total Count 149 51 200
Row % 74.5% 25.5% 100.0%
217

Chi-Square Te sts

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 116.561 b 1 .000
a
Continuity Correction 112.961 1 .000
Likelihood Ratio 135.382 1 .000
Fisher's Exact Test .000 .000
Linear-by-Linear
115.978 1 .000
Association
N of Valid Cases 200
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 18.
87.

Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
For cohort
3.217 2.292 4.517
psikosomatik = baik
N of Valid Cases 200

Crosstabs

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
ibadah * kekebalanstress 200 100.0% 0 .0% 200 100.0%

ibadah * ke ke balanstre ss Crosstabulation

kekebalanstress
baik sedang Total
ibadah baik Count 44 82 126
Row % 34.9% 65.1% 100.0%
sedang Count 8 66 74
Row % 10.8% 89.2% 100.0%
Total Count 52 148 200
Row % 26.0% 74.0% 100.0%
218

Chi-Square Te sts

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 14.085 b 1 .000
a
Continuity Correction 12.860 1 .000
Likelihood Ratio 15.494 1 .000
Fisher's Exact Test .000 .000
Linear-by-Linear
14.015 1 .000
Association
N of Valid Cases 200
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 19.
24.

Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for ibadah
4.427 1.950 10.052
(baik / sedang)
For cohort
3.230 1.610 6.482
kekebalanstress = baik
For cohort
kekebalanstress = .730 .628 .848
sedang
N of Valid Cases 200
219

Lampiran 3 tabel frekwensi tiap item soal

Frequency Table

a1

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 65 32.5 32.5 32.5
setuju 128 64.0 64.0 96.5
kurang setuju 4 2.0 2.0 98.5
tidak setuju 3 1.5 1.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

a2

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 40 20.0 20.0 20.0
setuju 118 59.0 59.0 79.0
kurang setuju 27 13.5 13.5 92.5
tidak setuju 12 6.0 6.0 98.5
5.00 3 1.5 1.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

a3

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 52 26.0 26.0 26.0
setuju 132 66.0 66.0 92.0
kurang setuju 13 6.5 6.5 98.5
tidak setuju 3 1.5 1.5 100.0
Total 200 100.0 100.0
220

a4

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 16 8.0 8.0 8.0
setuju 88 44.0 44.0 52.0
kurang setuju 66 33.0 33.0 85.0
tidak setuju 26 13.0 13.0 98.0
sangat tidak setuju 4 2.0 2.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

a5

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 44 22.0 22.0 22.0
setuju 141 70.5 70.5 92.5
kurang setuju 11 5.5 5.5 98.0
tidak setuju 4 2.0 2.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

a6

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 86 43.0 43.0 43.0
setuju 103 51.5 51.5 94.5
kurang setuju 10 5.0 5.0 99.5
tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0

a7

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 87 43.5 43.5 43.5
setuju 102 51.0 51.0 94.5
kurang setuju 10 5.0 5.0 99.5
sangat tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0
221

a8

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 54 27.0 27.0 27.0
setuju 137 68.5 68.5 95.5
kurang setuju 7 3.5 3.5 99.0
tidak setuju 2 1.0 1.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

a9

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 50 25.0 25.0 25.0
setuju 140 70.0 70.0 95.0
kurang setuju 9 4.5 4.5 99.5
tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0

a10

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 103 51.5 51.5 51.5
setuju 89 44.5 44.5 96.0
kurang setuju 6 3.0 3.0 99.0
tidak setuju 2 1.0 1.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

a11

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 59 29.5 29.5 29.5
setuju 129 64.5 64.5 94.0
kurang setuju 10 5.0 5.0 99.0
tidak setuju 2 1.0 1.0 100.0
Total 200 100.0 100.0
222

a12

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 15 7.5 7.5 7.5
setuju 82 41.0 41.0 48.5
kurang setuju 76 38.0 38.0 86.5
tidak setuju 25 12.5 12.5 99.0
sangat tidak setuju 2 1.0 1.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

a13

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 68 34.0 34.0 34.0
setuju 125 62.5 62.5 96.5
kurang setuju 7 3.5 3.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

a14

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 76 38.0 38.0 38.0
setuju 110 55.0 55.0 93.0
kurang setuju 10 5.0 5.0 98.0
tidak setuju 3 1.5 1.5 99.5
sangat tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0

a15

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 45 22.5 22.5 22.5
setuju 95 47.5 47.5 70.0
kurang setuju 30 15.0 15.0 85.0
tidak setuju 28 14.0 14.0 99.0
sangat tidak setuju 2 1.0 1.0 100.0
Total 200 100.0 100.0
223

a16

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 52 26.0 26.0 26.0
setuju 139 69.5 69.5 95.5
kurang setuju 8 4.0 4.0 99.5
tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0

a17

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 34 17.0 17.0 17.0
setuju 97 48.5 48.5 65.5
kurang setuju 53 26.5 26.5 92.0
tidak setuju 13 6.5 6.5 98.5
sangat tidak setuju 3 1.5 1.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

a18

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 43 21.5 21.5 21.5
setuju 151 75.5 75.5 97.0
kurang setuju 6 3.0 3.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

a19

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 112 56.0 56.0 56.0
setuju 79 39.5 39.5 95.5
kurang setuju 8 4.0 4.0 99.5
tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0
224

b1

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 27 13.5 13.5 13.5
setuju 152 76.0 76.0 89.5
kurang setuju 15 7.5 7.5 97.0
tidak setuju 5 2.5 2.5 99.5
sangat tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0

b2

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 29 14.5 14.5 14.5
setuju 138 69.0 69.0 83.5
kurang setuju 23 11.5 11.5 95.0
tidak setuju 9 4.5 4.5 99.5
sangat tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0

b3

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 48 24.0 24.0 24.0
setuju 142 71.0 71.0 95.0
kurang setuju 8 4.0 4.0 99.0
tidak setuju 1 .5 .5 99.5
sangat tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0

b4

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 9 4.5 4.5 4.5
setuju 115 57.5 57.5 62.0
kurang setuju 40 20.0 20.0 82.0
tidak setuju 26 13.0 13.0 95.0
sangat tidak setuju 10 5.0 5.0 100.0
Total 200 100.0 100.0
225

b5

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 12 6.0 6.0 6.0
setuju 108 54.0 54.0 60.0
kurang setuju 59 29.5 29.5 89.5
tidak setuju 18 9.0 9.0 98.5
sangat tidak setuju 3 1.5 1.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

b6

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid .00 113 56.5 56.5 56.5
sangat setuju 7 3.5 3.5 60.0
setuju 19 9.5 9.5 69.5
kurang setuju 28 14.0 14.0 83.5
tidak setuju 19 9.5 9.5 93.0
sangat tidak setuju 14 7.0 7.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

b7

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 19 9.5 9.5 9.5
setuju 123 61.5 61.5 71.0
kurang setuju 35 17.5 17.5 88.5
tidak setuju 22 11.0 11.0 99.5
sangat tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0

b8

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 13 6.5 6.5 6.5
setuju 116 58.0 58.0 64.5
kurang setuju 54 27.0 27.0 91.5
tidak setuju 15 7.5 7.5 99.0
sangat tidak setuju 2 1.0 1.0 100.0
Total 200 100.0 100.0
226

b9

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 72 36.0 36.0 36.0
setuju 120 60.0 60.0 96.0
kurang setuju 6 3.0 3.0 99.0
tidak setuju 1 .5 .5 99.5
sangat tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0

b10

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 11 5.5 5.5 5.5
setuju 78 39.0 39.0 44.5
kurang setuju 66 33.0 33.0 77.5
tidak setuju 39 19.5 19.5 97.0
sangat tidak setuju 6 3.0 3.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

b11

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 40 20.0 20.0 20.0
setuju 152 76.0 76.0 96.0
kurang setuju 6 3.0 3.0 99.0
tidak setuju 1 .5 .5 99.5
sangat tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0

b12

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 40 20.0 20.0 20.0
setuju 149 74.5 74.5 94.5
kurang setuju 8 4.0 4.0 98.5
tidak setuju 2 1.0 1.0 99.5
sangat tidak setuju 1 .5 .5 100.0
Total 200 100.0 100.0
227

b13

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 33 16.5 16.5 16.5
setuju 134 67.0 67.0 83.5
kurang setuju 24 12.0 12.0 95.5
tidak setuju 7 3.5 3.5 99.0
sangat tidak setuju 2 1.0 1.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

b14

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 17 8.5 8.5 8.5
setuju 84 42.0 42.0 50.5
kurang setuju 68 34.0 34.0 84.5
tidak setuju 24 12.0 12.0 96.5
sangat tidak setuju 7 3.5 3.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

b15

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 22 11.0 11.0 11.0
setuju 140 70.0 70.0 81.0
kurang setuju 30 15.0 15.0 96.0
tidak setuju 5 2.5 2.5 98.5
sangat tidak setuju 3 1.5 1.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

b16

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 6 3.0 3.0 3.0
setuju 83 41.5 41.5 44.5
kurang setuju 50 25.0 25.0 69.5
tidak setuju 39 19.5 19.5 89.0
sangat tidak setuju 22 11.0 11.0 100.0
Total 200 100.0 100.0
228

b17

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 9 4.5 4.5 4.5
setuju 97 48.5 48.5 53.0
kurang setuju 67 33.5 33.5 86.5
tidak setuju 21 10.5 10.5 97.0
sangat tidak setuju 6 3.0 3.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

c1

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 3 1.5 1.5 1.5
setuju 25 12.5 12.5 14.0
kurang setuju 82 41.0 41.0 55.0
tidak setuju 51 25.5 25.5 80.5
sangat tidak setuju 39 19.5 19.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

c2

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 1 .5 .5 .5
setuju 23 11.5 11.5 12.0
kurang setuju 84 42.0 42.0 54.0
tidak setuju 74 37.0 37.0 91.0
sangat tidak setuju 18 9.0 9.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

c3

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 10 5.0 5.0 5.0
setuju 90 45.0 45.0 50.0
kurang setuju 62 31.0 31.0 81.0
tidak setuju 32 16.0 16.0 97.0
sangat tidak setuju 6 3.0 3.0 100.0
Total 200 100.0 100.0
229

c4

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 4 2.0 2.0 2.0
setuju 45 22.5 22.5 24.5
kurang setuju 88 44.0 44.0 68.5
tidak setuju 56 28.0 28.0 96.5
sangat tidak setuju 7 3.5 3.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

c5

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 7 3.5 3.5 3.5
setuju 18 9.0 9.0 12.5
kurang setuju 76 38.0 38.0 50.5
tidak setuju 72 36.0 36.0 86.5
sangat tidak setuju 27 13.5 13.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

c6

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 6 3.0 3.0 3.0
setuju 13 6.5 6.5 9.5
kurang setuju 55 27.5 27.5 37.0
tidak setuju 85 42.5 42.5 79.5
sangat tidak setuju 41 20.5 20.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

c7

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 9 4.5 4.5 4.5
setuju 59 29.5 29.5 34.0
kurang setuju 46 23.0 23.0 57.0
tidak setuju 75 37.5 37.5 94.5
sangat tidak setuju 11 5.5 5.5 100.0
Total 200 100.0 100.0
230

c8

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 5 2.5 2.5 2.5
setuju 34 17.0 17.0 19.5
kurang setuju 70 35.0 35.0 54.5
tidak setuju 81 40.5 40.5 95.0
sangat tidak setuju 10 5.0 5.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

c9

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 3 1.5 1.5 1.5
setuju 36 18.0 18.0 19.5
kurang setuju 51 25.5 25.5 45.0
tidak setuju 87 43.5 43.5 88.5
sangat tidak setuju 23 11.5 11.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

c10

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 4 2.0 2.0 2.0
setuju 18 9.0 9.0 11.0
kurang setuju 72 36.0 36.0 47.0
tidak setuju 71 35.5 35.5 82.5
sangat tidak setuju 35 17.5 17.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

c11

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 10 5.0 5.0 5.0
setuju 113 56.5 56.5 61.5
kurang setuju 45 22.5 22.5 84.0
tidak setuju 27 13.5 13.5 97.5
sangat tidak setuju 5 2.5 2.5 100.0
Total 200 100.0 100.0
231

c12

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 6 3.0 3.0 3.0
setuju 17 8.5 8.5 11.5
kurang setuju 77 38.5 38.5 50.0
tidak setuju 78 39.0 39.0 89.0
sangat tidak setuju 22 11.0 11.0 100.0
Total 200 100.0 100.0

c13

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 9 4.5 4.5 4.5
setuju 48 24.0 24.0 28.5
kurang setuju 83 41.5 41.5 70.0
tidak setuju 49 24.5 24.5 94.5
sangat tidak setuju 11 5.5 5.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

c14

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 5 2.5 2.5 2.5
setuju 49 24.5 24.5 27.0
kurang setuju 85 42.5 42.5 69.5
tidak setuju 52 26.0 26.0 95.5
sangat tidak setuju 9 4.5 4.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

c15

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 5 2.5 2.5 2.5
setuju 48 24.0 24.0 26.5
kurang setuju 79 39.5 39.5 66.0
tidak setuju 53 26.5 26.5 92.5
sangat tidak setuju 15 7.5 7.5 100.0
Total 200 100.0 100.0
232

c16

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 2 1.0 1.0 1.0
setuju 32 16.0 16.0 17.0
kurang setuju 73 36.5 36.5 53.5
tidak setuju 70 35.0 35.0 88.5
sangat tidak setuju 23 11.5 11.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

c17

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 7 3.5 3.5 3.5
setuju 44 22.0 22.0 25.5
kurang setuju 78 39.0 39.0 64.5
tidak setuju 54 27.0 27.0 91.5
sangat tidak setuju 17 8.5 8.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

c18

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 14 7.0 7.0 7.0
setuju 81 40.5 40.5 47.5
kurang setuju 64 32.0 32.0 79.5
tidak setuju 36 18.0 18.0 97.5
sangat tidak setuju 5 2.5 2.5 100.0
Total 200 100.0 100.0

c19

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sangat setuju 4 2.0 2.0 2.0
setuju 21 10.5 10.5 12.5
kurang setuju 60 30.0 30.0 42.5
tidak setuju 77 38.5 38.5 81.0
sangat tidak setuju 38 19.0 19.0 100.0
Total 200 100.0 100.0
233

Lampiran 4 Jawaban responden pada Tabel SPSS 13