Anda di halaman 1dari 8

SISTEM RESPIRASI.

Sistem respirasi mulai berkembang selama kehidupan embryo, berlanjut sampai kehidupan fetal dan masuk pada usia anak. Perkembangan paru-paru dibagi dalam empat tahapan 1. Periode pseudoglandular (5 sampai 17 minggu): pembentukan trachea, bronchi, dan lung bud. Respirasi masih belum terjadi (tampak seperti kelenjar). 2. Periode Canalicular (16 sampai 24 minggu) pembesaran bronchi dan bronchiolus bagian terminal dan pembentukan struktur vaskular dan alveoli primitif. Pernafasan mungkin terjadi pada akhir periode ini. Bayi lahir mungkin hidup dengan perawatan yang intensif. 3. Periode terminal sac (24 minggu sampai lahir matang) : pembentukan lebih banyak alveoli primitif dengan suplai darah. Sel-sel aveolar khusus mensekresikan surfactant pulmoner (zat pembasah) pada bagian interior alveoli. Surfactan memfasilitasi ekspansi alveoli saat lahir dengan

menetralisir kekuatan tekanan permukaan. Fetus yang lahir antara minggu 24 dan 32 dapat bertahan hidup. Setelah minggu ke 32, surfactan dalam jumlah yang cukup terdapat pada alveoli yang berkembang dan infant memiliki harapan hidup yang baik. 4. Periode alveolar (Periode akhir sampai sekitar 8 tahun); meningkatnya jumlah alveoli immatur, pembentukan alveoli yang matang, meningkatnya ukuran alveoli. Gangguan pertumbuhan dapat terjadi setiap saat dari ketiga fase pertumbuhan paru. Gangguan ginjal yang menyebabkan tidak terdapatnya cukup air ketuban, dapat mengganggu tumbuh-kembang paru sehingga proses kanalisasi terhambat. Jika ketuban pecah scbelum umur kehamilan 20 minggu, dapat menghambat pembentukan susunan bronkus dan pembentukan tulang rawan. Ketuban pecah sesudah umur kehamilan 24 minggu tidak terlalu banyak menimbulkan gangguan tumbuh -kembang paru.

Surfaktan Surfaktan adalah bahan yang dikeluarkan oleh sel pada alveoli paru yang dapat menurunkan tekanan antara udara dan jaringan sehingga memudahkan

perkembangan paru saat bayi bernapas pertama. Diketahui bahwa tumbuhkembang paru bayi terus berlangsung hingga umur 8 tahun. Surfaktan terdiri dari dua kata, yaitu surface (permukaan/bahan) dan active (aktif). Artinya bahan yang dapat mengaktifkan per mukaan paru sehingga paru mudah berkembang saat pernapasan. Surfaktan dibentuk oleh sel pneumonosit tipe II, yang mempunyai ciri khas sebagai berikut: 1. Terdapat badan multivesikuler 2. Terdapat badan berlapis sebagai pembentuk dan pengikat surfaktan. Pada masa intrauteri badan berlapis dihentuk oleh sel pneumosit tipe II yang selanjutnva dialir oleh air kctuban yang masih mengisi alveoli menuju air ketuban di kantong amnion, saat terjadi gerakan pernapasan janin intrauteri. Saat janin bernapas pertama kali hingga terjadi kontak antara udara dan jaringan, merupakan kesempatan sel tipe II untuk membentuk dan melepaskan surfactant. Dengan demikian terjadi penurunan tekanan permukaan paru sehingga paru mudah mengembang dan teus bertumbuh-kembang sampai usia bayi sekitar 8 tahun.

Komposisi surfaktan Menurut penelitian Gluck (1972) dan Hallman (1976) sur factant terdiri dari susunan dan subsistim sebagai berikut. 1. 90% terdiri dari lipid dengan susunan subsistem a. 80% dipalmitoilfosfatidilkolin/lesitin
y 50% dnaturated lecithin y 30% unsaturated lecithin

b. 8-15 % merupakan lipid dalam bentuk fosfatidilgli serol yang berfungsi untuk menurunkan tekanan permukaan paru, fungsi pastinya belum diketahui dengan baik. 2. 10 % terdiri dari protein Bayi yang lahir dengan perbandingan L/S aterm, lebih dari 2, pernapasannya akan berlangsung dengan baik.

Pembentukan surfaktan Proses pembentukan "surfactant" terjadi pada sel pneumocytes II melalui mekanisme sebagai berikut: 1. Bagian proteinnya disebut apoprotein, dibentuk oleh endoplasmin reticulum yang terdiri dari: a. Apoprotein SP AA1 dan A2 b. Fungsinya mendorong pembentukan gliserofosfolipid. c. Pengikatan kembali SP A, khususnya SP A2 oleh reseptor mediated endocytosis, dapat menghambat pembentukan surfaktan,

glyceophospholipid dan sekresinya ke dalam lumen bronkioli dan alveoli. d. Makin meningkat konsentrai SP protein A, B, dan C

makin meningkat pembentukan surfaktan paru, e. SP A sangat penting khususnya untuk transformasi struktur badan berlapis menuju lumen myelin tubulus yang terdapat di dalam alveoli. f. SP A berfungsi juga untuk ekskresi dan pembentukan surfaktan. g. Apoprotein surfaktan baru tampak pada umur kehamilan 29 minggu. 2. Glycerophosholipid a. Dibentuk berdasarkan interaksi beberapa organella dalam sel pneumocytes tipe II. b. Pembentukannya dirangsang oleh SP A (terutama SP A 1) sebagai mediator yang berulang-ulang di dalam sel pneumonocytes tipe II paru. c. Aktivitas pembentukan surfaktan dapat ditingkatkan oleh:
y CAMP-siklik adenomonofosfat y Endodermalgrowth barman y Triiodotironin

d. Fungsi utama dari gliserofosfolipid adalah untuk menurunkan tekanan permukaan paru sehingga memudahkan perkembangan dan perrumbuhan sampai bayi berumur 8 tahun. e. Makin tua kehamilan akan terjadi ketimpangan pembentukan

gliserofosfolipid, yaitu:
y Dipalmitoilfosfatidilkolin (lesitin) makin meningkat. y Fosfatidilinositol (spingomielin) makin menurun. y Perubahan perbandingan ini dapat dijumpai pada air ketuban

sehingga dapat dilakukan pemeriksaan dengan cara kocok menurut Clement, 1972. Dalam percobaan pada binatang domba, Liggins 1969, menemukan bahwa pembentukan surfaktan dapat ditingkatkan dengan jalan memberikan "bethametason " menjelang persalinan sekitar 48 jam sebelumnya. Cara kerja bethamerason mungkin dcngan cara menekan pembentukan SP A2 sehingga SP Al makin meningkat sebagai mediator pembentukan surfaktan. Percobaan yang dilakukan dengan menarnbah: 1. Aminofilin 2. CAMP 3. Prolaktin 4. Thyroid releasing hormon tidak menambah keherhasilan pematangan paru pada kasus prematuritas. Dalam upaya pematangan paru hanya direkomendasikan pcnggunaan dcksametason dan betametason. Cikal bakal pertumbuhan paru berasal dari tonjolan depan; rancangan pembentukan sistem gastrointestinal janin, yang muncul pada umur janin 4 minggu. Selanjutnya paru bertumbuhkembang dan bercabang-cabang laksana batang pohon sampai ke ranting serta daunnya. Alveolus saat lahir berjumlah sekitar 20 juta dan pada umur 8 tahun menjadi 300 juta. Pembentukan Surfaktan Paru Epitel alveoli merupakan perubahan transisi dari epitel kolum net menjadi epitel net selapis gepeng yang berlangsung sejak umur kehamilan 5 bulan. Lapisan tipis epitel alveoli terdiri dari dua ripe; tipe I dan tipe 11. Tipe I merupakan subselluler organella. Tipe II banyak mitochondria, rotikulom endoplasmik, Organ Golgi. Tipe II merupakan badan berlapis yang mengandung surfaktan.

Surfaktan paru mengandung komponen penting: 1. 80 % phospholipids: a. Unsaturatedphosphatidylcholin b. Saturatedphosphatidylcholin c. Dengan komponen dipalmitoyl 80 % 3% 5% 2% 25 % 45 %

d. Phosphatidylcholin e. f. Phosphatidylethanollamine Phosphatidylglyceral

g. Phosphatidyllainnya 2. 10 % protein spesifik surfaktan: a. Surfaktan protein A b. Surfaktan protein B c. Surfaktan protein C d. Surfaktan protein D? e. 10 % lipids netral Fungsi masing-masing komponen surfaktan

Masing-masing komponen surfaktan mempunyai fungsi khusus sebagai berikut. 1. Saturated phosphatidylcholine, terutama: dipalmitoyl phosphatidylcholine (DPPC), berfungsi menurunkan ketegangan antara udara-cairan pada alveoli sehingga memberikan peluang kepada paru untuk berkembang/mengembung. 2. Protein surfaktan (SP) A berfungsi: a. Mengoordinasikan protein surfaktan lainnya dan lipids. b. Memperbaiki sifat-sifat alveoli. c. Mengatur dan pengambilan kembali surfaktan sehingga dapat dilakukan daur ulang. 3. Protein surfaktan B dan C merupakan lipophilic protein untuk memfasilitasi pelekatan dan penyebaran lipid untuk membentuk lapisan surfaktan tunggal. 4. Protein surfaktan D merupakan kesamaan protein surfak dan berfungsi tan sebagai pertahanan paru.

SURFACTANT PULMONAR. Detersi adanya surfactant pulmonar, surfactantactif phopholipid, dalam cairan amnion digunakan untuk menentukan derajat kematangan paru pulmonal, atau kemampuan paru-paru untuk berfungsi setelah kelahiran. Lecithin adalah surfactant alveolar yang sangat kritis yang diperlukan untuk ekspansi paru selama post natal. Lecitin meningkat jumlahnya setelah minggu kedua puluh empat. Phospolipid pulmonal lainnya, sphingomyelin, dipelihara dalam jumlah yang konstan. Dengan demikian ukuran lecit hi n (L) dala m hubungannya dengan sphingomyelin (S), atau ratio L/S adalah 2 : l, digunakan untuk menentukan kematangan paruparu fetal. Kejadian ini terjadi kurang lebih minggu ke 35 kehamilan. Kondisi maternal yang baik berhu-bungan dengan perkembangan paru-paru fetal. Kondisi ini mempercepat kema-tangan paru-paru yang umumnya menyebabkan menurunnya aliran darah placenta maternal. Gambaran hypoksia fetal menunjukkan adanya stress pada fetus, meningkatnya kadar corticosteroid darah yang mempercepat perkembangan surfactan dan alveolar. Kondisi-kondisi seperti kehamilan dengan diabetes dan glomerulonefritis dapat menghambat pematangan paru-paru fetal. Pada akhir-akhir ini terdapat penggunaan surfactant intrabronchial sintesis dalam penatalaksanaan syndroma distress pernafasan pada bayi baru lahir yang dapat memperbaik harapan hidup pada bayi-bayi preterm (Paynton, 1991)(lihat bab 37). Pergerakan respirasi fetal dapat dilihat pada ultrasound pada awal kehamilan 1l minggu. Pergerakan ini membantu dalam perkemabngan otot-otot dinding dada dan mengatur volume cairan paru. Paru fetal menghasilkan cairan yang memperluas rongga udara pada paru. Cairan mengalir keluar masuk kedalam cairan amnion atau terhisap oleh fetus. Sebelum lahir, sekresi cairan paru menurun. Proses kelahiran yang normal mendorong keluar kurang lebih satu pertiga cairan. Bayi yang lahir melalui operasi cesarea tidak memiliki makna dari proses pengeluaran ini jadi bayi yang lahir dengan caesaria ini memiliki kesulitan pernafasan yang lebih pada saat lahir. Sisa cairan pada paru-paru pada saat lahir biasanya direabsorbsi oleh darah bayi dalam dua jam kelahiran. Usaha napas . Usaha napas bayi baru lahir harus tanpa tenaga dengan

kecepatan 30 sampai 60 kali per menit. Pada "periksa cepat," perawat hanya mengkaji usaha napas bayi. Setiap upaya yang tidak lazim untuk mempertahankan napas harus diperiksa lebih lanjut. Gr unting, napas cuping hidung, dan retraksi adalah seluruh tanda pada bayi baru lahir yang menunjukkan mekanisme kompensasi untuk mempertahankan ventilasi normal.

GBR. 26-4 Pengamatan retraksi. Indeks Silverman-Anderson tentang distres pernapasan


ditentukan dengan memberi nilai pada setiap kriteria dari 5 kriteria secara acak: nilai 0 menunjukkan tidak ada kesulitan; nilai 1 menunjukkan kesulitan sedang; dan nilai 2 menunjukkan kesulitan bernapas maksimum. Nilai retraksi adalah jumlah seluruh nilai ini. Nilai total 0 menandakan tidak ada dispnea, sementara nilai total 10 menunjukkan distres pernapasan maksimum. (Dimodifikasi dari Silverman W, Anderson D: Pediatrics 17:1,1956).

Grunting terjadi bila bayi mengeluarkan napas dengan glotis dan pita suara (vocal cords) tertutup sebagian. Keadaan ini menghasilkan tekanan jalan napas positif yang terus -menerus dan merupakan upaya untuk mempertahankan alveoli tetap terbuka pada akhir ekspirasi. Jika terjadi kolaps alveoli pada Ease ekspirasi, tekanan untuk membuka alveoli ke atas selama inspirasi berikutnya meningkat.

Pelebaran lubang hidung (pares) pada inspirasi disebut napas cuping hidung (flaring). Keadaan ini akan menurunkan tahanan jalan napas secara efektif. Dengan pelebaran lubang hidung, bayi akan dapat menarik napas lebih dalam sehingga meningkatkan oksigenisa si dan penurunan usaha napas. Retraksi dinding dada mengindikasikan peningkatan upaya napas. Tekanan negatif intrapleura yangdiperlukan untuk mengembangkan paru ditentukan berdsarkan kombinasi dorongan diafragma, organ mekanis paru, dan stabilitas dinding dada. Dinding dada neonatus sangat liat. Retraksi dinding dada terjadi bila tekanan negatif intrapleura yang lebih tinggi dibutuhkan untuk membuka paru selama inspirasi (Fanaroff & Martin, 1992). Gbr. 26-4 menunjukkan skala tingkatan fenomena ini. Secara ringkas, "Periksa Cepat" memberi perawat informasi segera untuk mengidentifikasi diagnosa keperawatan dan menetapkan hasil akhir yang di harapkan dari bayi baru lahir berisiko. Setelah melakukan pengkajian singkat ini, perawat harus menstabilkan dan mengkaji lebih lanjut bayi baru lahir berisiko per sistem tubuh.