Anda di halaman 1dari 31

TEORI DAN IMPLEMENTASI MEDIASI DALAM SISTEM PERADILAN AGAMA (Kajian Implementasi Mediasi dalam Penyelesaian Perkara di Pengadilan

Agama Jawa Barat) I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mediasi merupakan salah satu upaya penyelesaian sengketa dimana para pihak yang berselisih atau bersengketa bersepakat untuk menghadirkan pihak ketiga yang independen guna bertindak sebagai mediator (penengah). Mediasi sebagai salah satu proses penyelesaian sengketa di luar pengadilan, dewasa ini digunakan oleh pengadilan sebagai proses penyelesaian sengketa. Bentuk penyelesaian sengketa dengan cara mediasi yang sekarang dipraktikkan terintegrasi dengan proses peradilan.1 Penyelesaian sengketa dengan cara mediasi yang dewasa ini dipraktikkan di pengadilan memiliki kekhasan, yaitu dilakukan ketika perkara sudah di daftar di pengadilan (connected to the court). Landasan yuridisnya diawali pada tahun 2002 dan terus mengalami perbaikan baik dalam proses maupun pelaksanaannya dengan Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 2 Tahun 2003 dan Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Peradilan agama sebagai salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman telah mempraktikkan mediasi di dalam proses penyelesaian perkara. Secara teoritis, penyelesaian sengketa melalui mediasi di pengadilan agama membawa sejumlah keuntungan, diantaranya perkara dapat diselesaiakan dengan cepat dan biaya riangan dan mengurangi kemacetan dan penumpukan perkara (court congestion) di pengadilan. Namun, di Pengadilan Agama Depok, Bandung dan Ciamis sebagai objek penelitian dalam disertasi ini, penyelesaian perkara
1

Mediasi dalam proses hukum acara perdata dilihat dari segi administrasi akan mengurangi tekanan perkara di pengadilan sehingga pemeriksaan perkara dapat dilakukan lebih bermutu (karena tidak ada ketergesa-gesaan), efektif, efisien dan mudah dikontrol. Lihat dalam Bagir Manan, Peran Sosok Hakim Agama sebagai Mediator dan Pemutus Perkara serta Kegamangan masyarakat terhadap Keberadaan lembaga Peradilan, sambutan Ketua Mahkamah Agung RI. Pada Serah Terima Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan. (22 Agustus 2003) hlm. 4

2 melalui mediasi belum mencapai hasil yang optimal. Jumlah perkara yang dimediasi di tiga pengadilan agama yang dijadikan penelitian adalah 1480 perkara dengan tingkat keberhasilan sebanyak 179 perkara atau setara dengan 12,0% sedangkan perkara yang gagal dimediasi sebanyak 1301 perkara atau setara dengan 88,0%. Data ini menunjukkan bahwa mediasi di tiga pengadilan agama belum menunjukkan angka keberhasilan yang signifikan atau keberhasilan mediasi belum mencapai setengah dari perkara yang dimediasikan sepanjang tahun 2008-2010. B. Identifikasi dan Perumusan Masalah Peradilan agama telah mempraktikkan mediasi berdasarkan Perma Nomor 1 Tahun 2008. Namun demikian, terdapat sejumlah kesenjangan antara teori mediasi dengan implementasinya di pengadilan agama, yaitu: 1. Secara teoritis, mediasi di peradilan agama memiliki tujuan yang sangat mulya. Tujuan tersebut diarahkan kepada para pihak yang sedang berperkara dan kepada Pengadilan Agama itu sendiri. Bagi para pihak yang berperkara mediasi bertujuan untuk (a) tercapainya penyelesaian sengketa yang menghasilkan keputusan yang dapat diterima oleh semua pihak sehingga para pihak tidak menempuh upaya banding dan kasasi, (b) penyelesaian perkara lebih cepat dan biaya murah, (c) hubungan baik para pihak yang bersengketa tetap dapat di jaga, dan (d) lebih tinggi tingkat kemungkinan untuk melaksanakan kesepakatan. Sedangkan bagi Pengadilan Agama, tujuan mediasi adalah (a) mengurangi kemacetan dan penumpukan perkara (court congestion) di pengadilan, dan (b) memperlancar jalur keadilan (acces to justice) di masyarakat. 2
Tujuan adanya mediasi yang terintegrasi dalam proses berperkara di pengadilan menurut Perma Nomor 1 Tahun 2008 dalam diktum menimbangnya dikatakan adalah (a) bahwa mediasi merupakan salah satu proses penyelesaian sengketa yang lebih cepat dan murah, serta dapat memberikan akses yang lebih besar kepada para pihak menemukan penyelesaian yang memuaskan dan memenuhi rasa keadilan. (b) bahwa pengintegrasian mediasi ke dalam proses beracara di pengadilan dapat menjadi salah satu instrumen efektif mengatasi masalah penumpukan perkara di pengadilan serta memperkuat dan memaksimalkan fungsi

3 2. Dalam implementasinya penyelesaian perkara melalui mediasi dapat menambah waktu, menambah beban kerja hakim sebagai mediator, kemampuan mediator lemah terbukti dari minimnya mediator hakim bersertifikat mediator dan sikap para pihak yang memandang mediasi sebagai sarana yang dapat menghambat para pihak menyelesaikan sengketanya di pengadilan. Semua problem implementasi ini bermuara pada keberhasilan dan kegagalan mediasi di pengadilan agama yang ditunjukkan dengan perolehan angka keberhasilan mediasi di tiga pengadilan agama yang diteliti yaitu Pengadilan Agama Ciamis, Pengadilan Agama Bandung dan Pengadilan Agama Depok bahwa perkara yang berhasil dimediasi sebanyak 179 perkara atau setara dengan 12,0% dari jumlah perkara yang dimediasi sebanyak 1480 perkara, sedangkan perkara yang gagal dimediasi sebanyak 1301 perkara atau setara dengan 88,0% sepanjang tahun 2008-2010. 3 Oleh karena itu, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana latarbelakang lahirnya kebijakan peraturan mengenai mediasi di Peradilan Agama ? 2. Bagaimana landasan sosiologis dan yuridis keberlakuan mediasi di peradilan agama ? 3. Bagaimana transformasi penyelesaian sengketa melalui ishlah dan tahkim dalam al-Quran ke dalam peraturan mengenai mediasi ? 4. Bagaimana implementasi mediasi dalam penyelesaian perkara di pengadilan agama Ciamis, Bandung dan Depok?

lembaga pengadilan dalam penyelesaian sengketa di samping proses pengadilan yang bersifat memutus (ajudikatif). Mencermati kedudukan pranata mediasi di dalam PMA tersebut menurut hasil sebuah penelitian yang dikemukakan oleh Indonesian Institute for Conflict Transformation (IICT) setahun sejak diberlakukannya Perma No. 2/2003 tentang Mediasi di Pengadilan, jumlah perkara yang berhasil diselesaikan melalui prosedur mediasi di empat pengadilan percontohan yang mempraktikkan mediasi hanya mencapai 2,6 persen.

4 C. Tujuan Penelitian 1. Untuk menemukan latarbelakang lahirnya kebijakan peraturan mengenai mediasi di Peradilan Agama; 2. Untuk memahami lebih mendalam landasan sosiologis dan yuridis keberlakuan mediasi di peradilan agama; 3. Untuk menganalisis transformasi penyelesaian sengketa melalui ishlah dan tahkim dalam al-Quran ke dalam peraturan mengenai mediasi; 4. Untuk mengkaji implementasi mediasi dalam penyelesaian perkara di pengadilan agama Ciamis, Bandung dan Depok D. Kajian Pustaka Berikut beberapa diantara hasil kajian mengenai mediasi: 1. Masykur Hidayat, 2006. Keberadaan Lembaga Perdamaian (Dading) Setelah Berlakunya Perma Nomor 2 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Tesis, Tidak diterbitkan. Dalam penelitiannya, Masykur Hidayat mengemukakan bahwa hadirnya mediasi sebagai salah satu proses yang wajib dilaksanakan sebagaimana diatur dalam Perma Nomor 2 Tahun 2003 akan sangat membantu mengurangi formalitas perdamaian dan dapat meningkatkan penyelesaian sengketa secara damai. Hasil penelitian Masykur baru sebatas mengkaji mediasi di Peradilan Umum. 2. I Made Sukadana (2006). Disertasi, Mediasi dalam Sistem Peradilan Indonesia untuk Mewujudkan Proses Peradilan Yang Cepat dan Biaya Ringan. Unbraw. Dalam penelitian disertasinya, I Made Sukadana menyimpulkan bahwa mediasi dapat membantu menekan proses peradilan yang lambat menjadi cepat. 3. Yayah Yarotul Salamah (2009). Mediasi dalam Proses Beracara di Pengadilan: Studi Mengenai Mediasi di Pengadilan Negeri Proyek Percontohan Mahkamah Agung RI. Disertasi. Dalam kesimpulan disertasinya menyatakan bahwa pengintegrasian mediasi dalam proses beracara di pengadilan tidak sulit untuk dilaksanakan karena disamping hukum acara perdata Indonesia berdasarkan pasal 130 HIR dan pasal 154 RBg telah memberikan celah bagi terintegrasinya mediasi dalam

5 proses beracara di pengadilan. Selain itu dikemukakan bahwa ada 3 (tiga) faktor yang mempengaruhi penyelesaian sengketa melalui mediasi di pengadilan negeri proyek percontohan Mahkamah Agung dapat berhasil, yaitu para pihak yang bersengketa beritikad baik, hakim mediator berusaha dengan sungguh-sungguh mendorong para pihak mencapai kesepakatan dan ketiga adalah jenis sengketanya mudah diselesaikan. Menurut hasil kajiannya, ada 25 jenis sengketa hutang piutang dan sedikitnya ada 41 jenis sengketa wanprestasi dari 184 sengketa yang berhasil diselesaikan melalui proses mediasi di pengadilan negeri proyek percontohan. Selanjutnya, kegagalan mediasi di pengadilan negeri percontohan disebabkan oleh faktor para pihak yang tidak memiliki itikad baik dan lemahnya profesionalisme hakim mediator. E. Kerangka Teori 1. Grand Theory; Teori Ishlah (mendamaikan) Secara bahasa, akar kata ishlah berasal dari lafazh - yang berarti baik, yang mengalami perubahan bentuk. Kata ishlah merupakan bentuk mashdar dari wazan yaitu dari lafazh , yang berarti memperbaiki, memperbagus, dan mendamaikan, (penyelesaian pertikaian). Kata merupakan lawan kata dari ( /rusak). Sementara kata biasanya secara khusus digunakan untuk menghilangkan persengketaan yang terjadi di kalangan manusia. Secara istilah, term ishlah dapat diartikan sebagai perbuatan terpuji dalam kaitannya dengan perilaku manusia.4 Karena itu, dalam terminologi Islam secara umum, ishlah dapat diartikan sebagai suatu aktifitas yang ingin membawa perubahan dari keadaan yang buruk menjadi keadaan yang baik. Sementara menurut ulama fikih, kata ishlah diartikan sebagai perdamaian, yakni suatu perjanjian yang ditetapkan untuk menghilangkan persengketaan di antara manusia yang bertikai, baik individu maupun kelompok. 5
4

E. van Donzel, B. Lewis, dkk (ed), Encyclopedia of Islam, (Leiden: E.J. Brill, 1990), Jil. IV, h. 141 Abu Muhammad Mahmud Ibn Ahmad al-Aynayni, al-Bidyah fi Syarh al-hidyah, (Beirut: Dar al-Fikr, t,th), Jil. 9, h. 3.

6 Berdasarkan penjelasan terminologi di atas, studi ini memilih menggunakan kata ishlah untuk menjelaskan mediasi di pengadilan agama. Dari kata ishlah ini kemudian dikembangkan menjadi teori ishlah. Teori Ishlah bersumber dari al-Quran. Ishlah disebut dalam beberapa ayat di dalam al-quran sebagai berikut: 1. Ishlah antar sesama muslim yang bertikai dan antara pemberontak (muslim) dan pemerintah (muslim) yang adil; Q.S. al-Hujurat:9-10, 2. Ishlah antara suami-isteri yang di ambang perceraian; dengan mengutus al-hakam (juru runding) dari kedua belah pihak; Q.S. al-Nisa:35. dan lain-lain. 3. Ishlah memiliki nilai yang sangat luhur dalam pandangan Allah, yaitu pelakunya memperoleh pahala yang besar (al-Nisa 114) 4. Ishlah itu baik, terutama ishlah dalam sengketa rumah tangga (an-nisa: 128) Teori ishlah ini jika diterapkan untuk memahami mediasi di pengadilan agama berbunyi sebagai berikut: 1. Para pihak yang bersengketa di pengadilan agama adalah orang mukmin. Setiap orang mukmin dengan sesama mukmin lainnya adalah bersaudara. Persaudaraan antara orang mumin merupakan persaudaraan seagama yang memiliki konsekuensi hukum yaitu antara orang mukmin dilarang saling mendhalimi dan membiarkannya didhalimi, perumpaan seorang mumin dengan mumin lainnya laksana seperti tubuh tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara (wa kunu ibadallahi ikhwana). 6 2. Akibat persaudaraan antara orang mumin, jika mereka bersengketa di pengadilan agama maka mereka harus mencari penyelesaian sengketa tersebut dengan ishlah karena ishlah merupakan perintah al-Quran yang ditujukan bagi orang yang beriman (fa ashlihu baina akhawaikum);. 3. Pasangan suami isteri yang bersengketa di pengadilan agama adalah orang mumin. Jika mereka mengangkat seorang hakam untuk mengishlahkan mereka di dalam menghadapi kemelut
6

Lihat ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-Adhim. (Beirut: dar El-Fikr, 1999), juz II hlm. 296-297

7 dalam rumah tangganya Allah akan memberi taufiq kepada suami isteri itu (an-nisa ayat 35) Para pihak yang bersengketa di pengadilan agama dan menyelesaikan sengketa dengan ishlah memiliki nilai yang sangat luhur dalam pandangan Allah, yaitu pelakunya memperoleh pahala yang besar (al-Nisa 114) Jika salah satu pihak yang bersengketa di pengadilan agama berkeinginan untuk melakukan ishlah, maka pihak lain ikut juga berdamai sambil bertawakkal kepada Allah atas apa yang akan dan telah diputuskan dalam perdamaian itu (al-Anfal 61);

4.

5.

2.

Middle Theory : Teori sistem hukum Teori sistem hukum dari Lawrence M. Friedman digunkan untuk melihat implementasi mediasi. Menurutnya, sistem hukum terdiri atas tiga elemen, yaitu elemen struktur, substansi dan budaya hukum.7 Kelembagaan hukum adalah bagian dari struktur hukum seperti Mahkamah Agung, dan badan-badan peradilan di bawahnya termasuk pengadilan agama beserta aparaturnya. Hakim pengadilan sebagai struktur pengadilan memiliki peran yang penting di dalam meningkatkan keberhasilan mediasi. Keberhasilan dan kegagalan mediasi ditopang oleh kemampuan dan kecakapan hakim mediator di dalam menjalankan perannya. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan merupakan salah satu elemen substansi hukum. Elemen substansi ini dapat memberikan kepastian kepada para pihak yang bersengketa untuk menemukan jalan keluar dari sengketa yang sedang dihadapi. Peraturan mediasi ini paling tidak berisi mengenai substantif dan prosedural mediasi. Terkait dengan budaya hukum ini, mediasi di pengadilan agama sesungguhnya merupakan produk dari sistem hukum yang cara pemanfaatan dan penggunaannya sangat tergantung dengan nilai dan keyakinan masyarakat sebagai pengguna mediasi tersebut. Nilai dan keyakinan merupakan bagian dari budaya masyarakat. Jika masyarakat menilai dan berkeyakinan bahwa mediasi dapat berperan
Lawrence M. Friedman, American Law (New York: W.W. Norton and Company, 1984) hlm. 7-12

8 sebagai sarana penyelesaian masalah sengketa yang dihadapi maka tujuan mediasi akan tercapai sebagai mekanisme penyelesaian sengketa yang cepat dan biaya ringan, reputasi para pihak tidak terganggu, dan hubungan baik tetap terjaga. 3. Operational Theory: Teori equitabel and legal remidies Untuk menganalisis mengapa suatu perkara berhasil diselesaikan melalui mediasi atau tidak, dipilih teori yang dikemukakan oleh Lucy V Kazt.8 Yaitu keberhasilan proses penyelesaian sengketa alternative melalui mediasi dikarenakan adanya equitable and legal remidies yang memberikan adanya kesederajatan yang sama dan penggantian kerugian secara hukum yang harus dihormati oleh para pihak. Para pihak mempunyai keyakinan bahwa penyelesaian sengketa melalui mediasi akan mendapat remedy for damages bagi mereka dengan win-win solution dan bukan win lose solution. Di sini, para pihak sama-sama menang tidak saja dalam arti ekonomi atau keuangan, melainkan termasuk juga kemenangan moril dan reputasi (nama baik dan kepercayaan). F. 1. Metodologi Penelitian Metode Penelitian Pendekatan yang dipilih dalam penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif karena penelitian ini dilakukan dengan cara meneliti bahan-bahan pustaka atau data sekunder berkaitan dengan mediasi. Namun demikian, penelitian ini juga mengkaji implementasi mediasi di tiga pengadilan agama yang berada di wilayah Jawa Barat sehingga pendekatan penelitian ini juga menggunakan pendekatan yuridis empiris. 9 Sedangkan metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif analisis terhadap teori-teori mediasi dan terhadap implementasi mediasi di pengadilan agama. Metode penelitian deskriptif ini dipiliah karena dapat menjelaskan suatu masalah yang bersifat

Lucy V. Kazt, Enforcing an ADR Clause-Are Good Intention All You Have ?, American Bussiness Law Journal 575. (1988) hlm. 588 Lihat Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. (Jakarta: Rajawali Press, 1999) dan Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, . (Jakarta: Sinar Grafika, 2009)

9 kasuistik dengan cara menggambarkan kasus yang sedang diteliti, berdasarkan hubungan antara teori dengan kenyataan di lapangan.10 2. Lokasi Penelitian Penelitian ini berlokasi di tiga Pengadilan Agama, yaitu Pengadilan Agama Ciamis, Pengadilan Agama Bandung dan Pengadilan Agama Depok. 3. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas sumber data primer dan sumber data sekunder. Yang termasuk dalam sumber data primer ini adalah: a. Pejabat dan Mantan Ketua Mahkamah Agung RI. Pejabat yang menjadi sumber primer dalam penelitian ini adalah Tuada Perdata MARI, Tuada Uldilag MARI, Ketua PTA Bandung M. Zainal Imamah, Wakil Ketua PA Bandung, Wakil Ketua PA Ciamis. b. Hakim Pengadilan Agama. c. Para pihak berperkara. Sumber data sekunder terdiri dari : a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, dalam hal ini Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan; b. Bahan hukum sekunder berupa buku-buku referensi yang secara khusus membahas teori mediasi. c. Bahan hukum tertier berupa bahan hukum yang memberikan petunjuk dan menjelaskan terhadap bahan hukum primer, yaitu berkas-berkas perkara rekap mediasi.; d. Data mengenai profil pengadilan agama yang diteliti. 4. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan sebagai berikut: a. Deepth interview (wawancara mendalam) dilakukan sebagai sarana untuk mengetahui secara mendalam mengenai latar belakang mediasi di pengadilan agama dan pelaksanaan mediasi. Wawancara dilakukan kepada pejabat, mantan Ketua MARI, para ketua/wakil ketua Pengadilan Agama dan
10

Anonimous, Pedoman Penyusunan Karya Ilmiah Skripsi, Tesis, dan Disertasi UIN SGD Bandung. (Bandung: Tanpa Penerbit, 2009), hlm 19.

10 hakim/mediator di pengadilan agama. Selain itu juga kepada para pihak mengemai pelaksanaan mediasi; secara langsung b. Observasi dilakukan untuk mengamati mengenai pelaksanaan mediasi, mulai dari proses, pelaksanaan dan penyelesaian perkara melalui mediasi. c. Studi Kepustakaan dilaksanakan dengan cara mempelajari dan mengkaji Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2008 dan peraturan lainnya, buku-buku yang berisi mengenai teori mediasi atau jenis bacaan lain yang ada hubungannya dengan masalah mediasi. 5. Analisis Data Proses analisis data dimulai dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, sumber data sekunder, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya. Langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data. Langkah-langkah yang dilakukan adalah menajamkan analisis, menggolongkan atau pengkategorisasian ke dalam tiap permasalahan melalui uraian singkat, dan mengorganisasikan data sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. Setelah dilakukan reduksi data, langkah selanjutnya adalah menyusunya dalam satuan-satuan. Langkah pertama dalam penyusunan satuan ialah membaca dan mempelajari secara teliti seluruh jenis data yang sudah terkumpul agar satuan-satuan itu dapat diidentifikasi. Tahap akhir dari analisis data ialah mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Setelah selesai tahap ini, kemudian dilanjutkan dengan tahap penafsiran data dalam mengolah data sehingga menjadi data yang valid. II. TEORI MEDIASI A. Pengertian Mediasi Yang dimaksud dengan teori mediasi di sini adalah pemikiran atau butir-butir pendapat mengenai suatu konsep (mediasi). Sejalan pula dengan yang dikemukakan oleh M.Solly Lubis bahwa teori

11 adalah suatu penjelasan secara rasional yang sesuai dengan objek yang dijelaskannya.11 Mediasi secara etimologi berasal dari bahasa latin, mediare yang berarti berada di tengah. Makna ini menunjuk pada peran yang ditampilkan pihak ketiga sebagai mediator dalam menjalankan tugasnya menengahi dan menyelesaikan sengketa antara para pihak. Penjelasan mediasi dari segi kebahasaan ini belum lengkap, oleh karena itu perlu ditambah dengan penjelasan lain secara terminologi yang dikemukakan oleh para ahli resolusi konflik, diantaranya: 1. Menurut Laurence Boulle, mediation is a decision making process in wich the parties are assisted by a mediator, the mediator attempt to improve the process of decision making and to assist the parties the reach an out come to wich of them can assent;12 2. Menurut Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan dinyatakan bahwa Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator; B. Tujuan dan Manfaat Mediasi 1. Mempercepat proses penyelesaian sengketa dan menekan biaya; 2. Keputusan pengadilan tidak menyelesaikan perkara. Menang jadi arang kalah jadi abu; 3. Untuk mengurangi kemacetan dan penumpukan perkara (court congestion) di pengadilan. 4. Untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat (desentralisasi hukum) atau memberdayakan pihak-pihak yang bersengketa dalam proses penyelesaian sengketa; 5. Untuk memperlancar jalur keadilan (acces to justice) di masyarakat;
11

12

M. Solly Lubis, Filsafat Hukum dan Penelitian. (Bandung:Mandar Maju, 1994). Hlm. 80. Lihat juga W. Friedman, Teori dan Filsafat Hukum Telaah Kritis atas Teori-teori Hukum.(Jakarta: Grafindo Persada 1996) hm. 157. Laurence Boulle, Mediation: Principle, process, practice (Sydney: Butterworths, 1996), hlm. 1

12 6. Untuk memberi kesempatan bagi tercapainya penyelesaian sengketa yang menghasilkan keputusan yang dapat diterima oleh semua pihak sehingga para pihak tidak menempuh upaya banding dan kasasi; Bersifat tertutup/rahasia (confidential); Lebih tinggi tingkat kemungkinan untuk melaksanakan kesepakatan, sehingga hubungan pihak-pihak bersengketa di masa depan masih dimungkinkan terjalin dengan baik;

7. 8.

C. Tahap-Tahap Mediasi Setuju untuk menengahi (Agree to mediate), menghimpun sudut pandang (Gather points of view), memusatkan perhatian pada kebutuhan (Focus on interest), menciptakan pilihan terbaik (Create win-win options), mengevaluasi pilihan (Evaluate options), dan menciptakan kesepakatan (Create an agreement). D. Model-model Mediasi Lawrence Boulle menyebutkan ada empat model mediasi, yaitu settlemen mediation, facilitative mediation, transformative mediation dan evaluative mediation. Settlement mediation dikenal dengan mediasi kompromi yang merupakan mediasi dengan tujuan utamanya adalah mendorong terwujudnya kompromi dari tuntutan kedua belah pihak yang sedang bertikai. Facilitative mediation yang juga disebut sebagai mediasi yang berbasis kepentingan (interest-based) dan problem solving yang bertujuan untuk menghindarkan para pihak yang bersengketa dari posisi mereka dan menegosiasikan kebutuhan dan kepentingan para pihak dari hak-hak legal mereka secara kaku. 13 Transformative mediation, juga dikenal dengan mediasi terapi dan rekonsiliasi. Mediasi model ini menekankan untuk mencari penyebab yang mendasari munculnya permasalahan di antara para pihak yang bersengketa, dengan pertimbangan untuk meningkatkan

13

Allan J. Stitt, Mediation: A Practical Guide. (London: Routledge Cavendish, 2004). Hlm. 2

13 hubungan diantara mereka melalui pengakuan dan pemberdayaan sebagai dasar resolusi konflik dari pertikaian yang ada. 14 Evaluative mediation yang juga dikenal sebagai mediasi normative merupakan model mediasi yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan berdasarkan hak-hak legal dari para pihak yang bersengketa dalam wilayah yang diantisipasi oleh pengadilan. 15 E. Proses Mediasi Proses mediasi dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu tahap pra mediasi, tahap pelaksaaan mediasi dan tahap akhir mediasi. Pada tahap pra mediasi mediator melakukan beberapa langkah antara lain, membangun kepercayaan diri, menghubungi para pihak, menggali dan memberikan informasi awal mediasi, fokus pada masa depan, mengoordinasikan pihak bertikai, mewaspadai perbedaan budaya, menentukan siapa yang hadir, menentukan tujuan pertemuan, kesepakatan waktu dan tempat dan menciptakan rasa aman bagi kedua belah pihak untuk bertemu dan membicarakan perselisihan mereka.16 Tahap pelaksanaan mediasi adalah tahap di mana pihak-pihak yang bertikai sudah berhadapan satu sama lain dan memulai proses mediasi. Dalam tahap ini, terdapat beberapa langkah penting antara lain, sambutan pendahuluan mediator, presentasi dan pemaparan kisah para pihak, mengurutkan dan menjernihkan permasalahan, berdiskusi dan negosiasi masalah yang disepakati, menciptakan opsi-opsi, menemukan butir kesepakatan dan merumuskan keputusan, mencatat dan menuturkan kembali keputusan dan penutup mediasi. Tahap Akhir Hasil Mediasi. Tahap ini merupakan tahap di mana para pihak hanyalah menjalankan hasil-hasil kesepakatan, yang telah mereka tuangkan bersama dalam suatu perjanjian tertulis.

14

15 16

Robert A. Baruch Bush dan Josep P. Folger, The Promise of Mediation: Transformative Approach to Conflict. (USA: Willey, 2004). Hlm. 41. Allan J. Stiitt, Op.Cit., hlm. 2 Ronal S. Kraybill, Alice Frazer Evans dan Robert A. Evans, Peace Skill, Panduan Mediator terampil Membangun Perdamaian. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006). Hlm. 63-67.

14 F. Pengertian dan Syarat-syarat Mediator Menurut Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan yang disebut dengan mediator adalah pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian. Persyaratan mediator antara lain; 1. Kemampuan membangun kepercayaan para pihak. 2. Kemampuan menunjukkan sifat empati. 3. Tidak menghakimi dan memberikan reaksi positif terhadap sejumlah pernyataan yang disampaikan para pihak dalam proses mediasi. 4. Memiliki kemampuan komunikasi yang baik, jelas dan teratur serta mudah dipahami 5. Kemampuan menjalin hubungan antar personal. 6. Disetujui oleh kedua belah pihak; 7. Tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai dengan derajat kedua dengan salah satu pihak yang bersengketa; 8. Tidak memiliki hubungan kerja dengan salah satu pihak yang bersengketa; 9. Tidak memiliki kepentingan finansial atau kepentingan lain terhadap kesepakatan para pihak;

G. Fungsi Mediator Fuller dalam Leonard L. Riskin dan James E. Westbrook menyebutkan 7 (tujuh) fungsi mediator, yaitu :17 Sebagai katalisator (catalyst), sebagai pendidik (educator), sebagai penerjemah (translator), sebagai narasumber (resource person), sebagai penyandang berita jelek (bearer of bad news), sebagai agen relitas (agent of reality) dan sebagai kambing hitang (scapegoaf), H. Kewenangan dan Tugas Mediator 1. Mengontrol proses dan menegaskan aturan dasar. 2. Mempertahankan struktur dan momentum dalam negosiasi.
17

Ibid. hlm. 95-96

15 3. 1. 2. 3. 4. 5. Mengakhiri proses bilamana mediasi tidak produktif lagi.. Sementara itu, tugas seorang mediator adalah : Melakukan diagnosis konflik dan mengidentifikasikan masalah serta kepentingan-kepentingan kritis para pihak. Menyusun agenda, memperlancar dan mengendalikan komunikasi.; Mediator mengubah pandangan egosentris masing-masing pihak menjadi pandangan yang mewakili semua pihak; Mediator bertugas menyusun proposisi mengenai permasalahan para pihak dalam bahasa dan kalimat yang tidak menonjolkan unsur emosional; Mediator bertugas menjaga pernyataan para pihak agar tetap berada dalam kepentingan yang saling menguntungkan.

III. LATAR BELAKANG DAN LANDASAN MEDIASI DALAM SISTEM PERADILAN AGAMA A. Latar Belakang Pengaturan Mediasi di Pengadilan Agama Latar belakang mengapa Mahkamah Agung Republik Indonesia (MARI) mewajibkan para pihak menempuh mediasi sebelum perkara diputus oleh hakim melalui Peraturan Mahkamah Agung (Perma), didasari atas beberapa alasan, yaitu :18 1. Proses mediasi diharapkan dapat mengatasi masalah penumpukan perkara. 2. Proses mediasi dipandang sebagai cara penyelesaian sengketa yang lebih cepat dan murah dibandingkan dengan proses litigasi. 3. Pemberlakuan mediasi diharapkan dapat memperluas akses bagi para pihak untuk memperoleh rasa keadilan. 4. Institusionalisasi proses mediasi ke dalam sistem peradilan dapat memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembaga pengadilan dalam menyelesaikan sengketa. 5. Trend penyelesaian hukum di berbagai negara di dunia. B. Landasan Yuridis Mediasi 1. HIR pasal 130 (=Pasal 154 RBg.=Pasal 31 Rv)
18

Anonimous. Buku Komentar Peraturan Mahkamah Agung RI No. 01 Tahun 2008 tentang Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan. Dibuat atas kerjasama MARI, Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Indonesia Institute for Conflikct Transformation (IICT), 2008 hlm. 7-12

16 2. 3. 4. 5. C. UU No. 1 tahun 1974 Pasal 39, UU No. 3 tahun 2006 Pasal 65, KHI Pasal 115, 131 (2), 143 (1-2), 144, dan PP No. 9 tahun 1975 Pasal 32. SEMA No. 1 tahun 2002 tentang Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Menerapkan Lembaga Damai Perma No. 2 tahun 2003 Perma Nomro 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan

Landasan Sosiologis Mediasi Landasan sosiologis mediasi merupakan pertimbangan sosial lahirnya peraturan mengenai mediasi di pengadilan agama. Pertimbangan sosiologis itu berupa fakta-fakta dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Indonesia di dalam menyelesaikan sengketa. Beberapa bukti diantaranya : 1. Di pedalaman Kalimantan, Hudson dalam tulisannya yang berjudul Padju Epat mengemukakan bahwa banyak sengketa yang diselsaikan oleh para tua-tua adat saja. 2. Di daerah Toraja disekitar Ranrepao dan Makele ada sebuah Dewan yang bernama Dewan hadat dan merupakan lembaga adat asli toraja, sejak dulu telah berfungsi untuk menyelesaikan sengketa. 3. Di Minangkabau, dikenal Kerapatan Nagari yang dikepali oleh Wali Nagari. Dalam Kerapatan Nagari yang bertindak sebagai badan pencegah adalah hakim perdamaian dalam sengketa. 4. di kalangan masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok ada puladikenal suatu lembaga penyelesaian sengketa yang diberinama Begundem. IV. TRANSFORMASI KONSEP ISLAH DAN TAHKIM KE MEDIASI Transformasi konsep ishlah dan tahkim dapat diamati dari tercantumnya rumusan mengani keterlibatan pihak ketiga yang bertugas menyelesaikan sengketa di dalam Perma Nomor 1 Tahun 2008. Namun demikian, terdapat perbedaan pada segi-segi tertentu, terutama pada kandungan konsep yang terkandung di dalam ishlah dan tahkim sehingga ishlah, tahkim dan mediasi memiliki segi-segi perbedaan yang cukup banyak di dalam implementasinya.

17

V.

IMPLEMENTASI MEDIASI DI PENGADILAN AGAMA CIAMIS, BANDUNG DAN DEPOK A. Perkara yang Berhasil dan Gagal Dimediasi Tahun 20092010 Untuk menggambarkan tingkat keberhasilan dan kegagalan mediasi di pengadilan agama dalam wilayah PTA Bandung dapat dijelaskan dalam tabel 5.1 di bawah ini. Tabel 5.1 Rekapitulasi Mediasi Di Pengadilan Agama Wilayah PTA Bandung
No 1 2 Tahun 2009 2010 Jumlah Perkara dimediasi 1467 2137 3594 Berhasil 138 115 253 % Berhasil 9,6 % 5,4 % 7,2 % Gagal 1326 2022 3328 % Gagal 90,4 % 94,6 % 92,8 %

Sumber: Diolah dari Statistik Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan Agama Wilayah PTA Bandung tahun 2009 dan tahun 2010

Sedangkan jumlah perkara yang dimediasi untuk pengadilan agama yang diteliti dapat dilihat dalam tabel 5.2. Tabel 5.2. Rekapitulasi Mediasi Di Pengadilan Agama Wilayah Pengadilan Tinggi Agama Bandung Tahun 2009-2010
No 1 2 3 Pengadilan Agama Bandung Ciamis Depok Jumlah Perkara dimediasi 585 599 296 1480 Berhasil 88 62 29 179 % Berhasil 15,0 % 10,3 % 10,0 % 12,0 % Gagal 497 537 267 1301 % Gagal 85,0 % 88,7 % 90,0 % 88,0 %

Sumber: Diolah dari Laporan Pemberdayaan Lembaga Perdamaian di Pengadilan Agama Bandung, Ciamis dan Depok tahun 2009 dan tahun 2010

18 Untuk menggambarkan apakah ada peningkatan keberhasilan mediasi antara tahun 2009 dengan tahun 2010 dapat dilihat dalam tabel 5.6 di bawah ini.

Tabel 5.3. Jumlah Perkara Mediasi Di Pengadilan Agama Wilayah PTA Bandung Per Tahun
No Tahun Pengadilan Agama Bandung 1 2009 Ciamis Depok Bandung 2 2010 Ciamis Depok Perkara dimediasi 349 398 180 236 201 116 Berhasil 49 35 14 39 27 15 % Berhasil 14,0 % 8,8 % 7,7 % 16,5 % 13,4 % 13,6 % Gagal 300 363 166 197 174 82 % Gagal 86,0 % 91,2 % 92,2 % 83,5 % 86,5 % 74,5 %

Sumber: Diolah dari Laporan Pemberdayaan Lembaga Perdamaian di Pengadilan 19 Agama Bandung, Ciamis dan Depok tahun 2009 dan tahun 2010

Adanya peningkatan keberhasilan mediasi antara tahun 2009


dan tahun 2010 di tiga pengadilan agama, belumlah menunjukkan keberhasilan mediasi, sebab jika perkara yang berhasil dimediasi dijumlahkan dalam waktu dua tahun hanya mencapai 30,5%, 21,3% dan 20,0% untuk Pengadilan Agama Bandung, Ciamis dan Depok. Prosentase angka ini belumlah menunjukkan keberhasilan mediasi yang memuaskan, jika tujuan mediasi adalah menurunkan jumlah perkara. Sekalipun tidak dijumlahkan menjadi dua tahun, keberhasilan mediasi di tiga pengadilan agama yang diteliti belum mencapai angka 50%. Maksimal keberhasilan adalah 30,5 % yang diperoleh Pengadilan Agama Bandung.

B. Faktor-faktor Penyebab Kegagalan Implementasi Mediasi 1. Aspek perkara


19

Data mediasi tahun 2010 sampai dengan bulam Juli 2010

19 Jumlah terbesar perkara yang diajukan ke pengadilan agama adalah perkara perceraian. Perkara perceraian yang diajukan ke pengadilan agama oleh pasangan suami isteri telah diawali oleh berbagai proses penyelesaian kasus yang melatar belakanginya yang diselesaikan oleh para pihak secara langsung maupun menggunakan pihak lain yang berasal dari kalangan keluarga maupun seseorang yang ditokohkan. Dengan gambaran seperti ini perkara perceraian yang diajukan ke peradilan agama pada dasarnya merupakan perkara perceraian yang masalahnya sudah sangat rumit sehingga dapat dikatakan bahwa perkawinan antara pasangan suami dan isteri telah pecah.20 Perkara perceraian yang dimediasi dan mengalami kegagalan sangat bervariasi sebab dan latar belakangnya. Untuk kasus-kasus perceraian yang disebabkan oleh KDRT, penyelesaian melalui mediasi acapkali gagal. Selain KDRT, sebab perceraian oleh ketiadaan cinta, PIL dan WIL, dan PHK ada yang berhasil tetapi pada umumnya gagal. Untuk kasus perceraian yang disebabkan terakhir ini, tidak dapat digeneralisir keberhasilan dan kegagalan mediasinya. Artinya, untuk kasus perceraian yang disebabkan oleh PIL dan WIL adakalanya para pihak rukun dan damai kembali dan ada juga para pihak yang ingin melanjutkan ke perceraian.21

2. Aspek mediator
Kegagalan mediasi dilihat dari sudut mediator dapat diidentifikasi dari keterbatasan waktu yang dimiliki para mediator, lemahnya keterampilan/skill mediator, kurang motivasi dan gigih menuntaskan perkara, dan mediator bersertifikat masih sedikit. 22 3. Aspek para pihak Kegagalan proses mediasi yang disebabkan oleh para pihak dapat diidentifikasi oleh adanya persepsi para pihak tentang mediasi,
20

21 22

Soal kegagalan mediasi dalam perkara perceraan dikemukakan dan diakui oleh Dirjen Badilag Wahyu Widiyana, bahwa perbandingan keberhasilan mediasi di beberapa negara dengan di Indonesia, apalagi dengan lingkungan PA, sangat jomplang. Di manapun, hati suami-isteri yang sudah pecah berantakan, apalagi sudah dibawa ke pengadilan, sudah saling membuka borok, akan sangat sulit untuk dapat didamaikan. (Lihat dalam www.badilag.net., Ruang Mediasi Yang Refresentatif Perlu Disiapkan di Pengadilan Agama. Acep Sayefudin (Hakim PA Bandung), Hasil wawancara : Bandung, 7 Mei 2010 Ujang Jamaludin (Hakim PA Ciamis), Hasil wawancara : Ciamis, 24 Mei 2010

20 kebulatan tekad para pihak untuk bercerai sangat kuat, para pihak tertutup untuk mengutarakan masalahnya, lebih mengutamakan kepentingan pribadi, proses perundingan untuk mencari titik temu sudah dilakukan berulang-ulang di luar pengadilan dengan kesimpulan bercerai dan rasa gengsi. 4. Aspek Advokat Advokat yang tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagaimana mestinya dan menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan kliennya akan memberi dampak negatif terhadap efektifitas mediasi dan terhadap keberhasilan mediasi. 23 5. Tempat mediasi Di tiga pengadilan agama yang diteliti, sudah ada ruangan mediasi yang cukup layak. Namun demikian, di peradilan agama yang sudah tersedia ruangan mediasipun, pada saat mediasi berlangsung dengan jumlah perkara yang dimediasi cukup banyak, mediator kesulitan menemukan ruangan mediasi yang layak, sehingga sering dijumpai ruangan aula, ruangan hakim dan ruangan rapat digunakan untuk mediasi dengan kondisi ruangan yang tidak standar untuk proses mediasi.

C. Faktor-faktor Penyebab Keberhasilan Mediasi


1. Aspek Mediator Keberhasilan mediasi dilihat dari aspek mediator dapat didentifikasi dari adanya kegigihan mediator untuk merealisasikan keberhasilan mediasi dan kemampuan/skill dan penguasaan mediator terhadap teknik mediasi. 2. Aspek Perkara Keberhasilan mediasi dari aspek perkara dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik perkara yang melatarbelakanginya. Keberhasilan mediasi tidak dapat digenelarisir. Setiap perkara yang dilatarbelakangi oleh cemburu misalnya, potensi keberhasilannya tinggi, sebaliknya tidak selalu perkara yang dilatarbelakangi oleh cemburu berhasil. Sama halnya dengan perkara KDRT yang dimediasi acapkali gagal, tetapi tidak selalu perkara perceraian yang dilatarbelakangi KDRT gagal sebab adakalanya berhasil. Keber23

Nata Sasmita (Advokat di PA Bandung), Hasil wawancara : Bandung, 2 Juli 2010.

21 hasilan dan kegagalan suatu perkara lebih tepat dipandang sebagai pengalaman mediasi pada setiap pengadilan.24 Karakteristik perkara perceraian yang dimediasi berhasil diantaranya perkara yang diajukan ke pengadilan tetapi para pihak belum matang membicarakannya, atau motivasi ke pengadilan dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada salah satu pihak, perkara yang dilatarbelakangi oleh cemburu, nafkah, salah satu pihak menjadi pemabuk, tidak terbuka masalah keuangan dan tersinggung oleh salah satu pihak yang berulang-ulang. 3. Aspek para pihak Faktor keberhasilan mediasi dari aspek para pihak, yaitu usia perkawinan, tingkat kerumitan perkara yang dihadapi oleh para pihak, para pihak memiliki itikad baik untuk mengakhiri sengketa melalui mediasi dan para pihak memiliki kesadaran untuk berdamai dan menyadari kekeliruannya. 4. Aspek Sarana Di Pengadilan Agama Ciamis, Bandung dan Depok ruang mediasi tersedia dengan memadai. Hal ini dapat ikut membantu proses keberhasilan mediasi. D. Temuan Disertasi 1. Teori Islah Ishlah adalah proses mendamaikan pihak-pihak yang bertikai dengan menghilangkan segala bentuk pertikaian dan permusuhan. Para pihak yang berperkara ke peradilan agama pada dasarnya mereka yang terlibat perselisihan. Secara formal para pihak tersebut beragama Islam. Teori ishlah mengandung beberapa prinsip yang dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Ishlah merupakan norma dasar di dalam menghadapi setiap sengketa yang terjadi antara orang-orang yang beriman. Sumber teori ishlah adalah surat al-hujurat ayat 9 dan 10. Berdasarkan ayat 9 surat al-hujurat (wa in thaifatani minal muminina iqtataluu faashlihu ) bahwa sengketa yang terjadi antara orang yang beriman harus diselesaikan dengan ishlah. Oleh karena itu, menurut al-Quran ishlah merupakan haq Allah yang bersifat
24

Didi Sopandi (Hakim di PA Ciamis), Hasil wawancara : Bandung, 14 Juli 2010.

22 taabudi yang harus ditaati oleh orang mumin ketika menghadapi sengketa, sedangkan haq insaniah-nya adalah teknis melaksanakan ishlah baik berupa metode, syarat dan kewenangan dalam forum ishlah. Diperingatkan oleh al-Quran bahwa perintah ishlah (faaslihu) itu bukan hanya ditujukan kepada orang/lembaga yang berwenang mengadakan ishlah melainkan juga menjadi kewajiban para pihak yang berperkara. Hal ini ditegaskan di dalam surat al-hujurat ayat 10, Orangorang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Maka damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Perintah ishlah dalam rangka memelihara hubungan baik antara orang-orang yang beriman disebabkan hubungan antara orangorang yang beriman adalah saudara berdasarkan surat al-hujurat ayat 10 (innamal muminuuna ikhwatun faashlihuu baina akhawaikum ). Makna saudara dalam ayat itu sama dengan saudara sekandung. Diantara saudara sekandung dilarang saling menyakiti, mencaci, memfitnah dan saling memarahi. Namun, hubungan saudara sekandung masih lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan hubungan persaudaraan seiman (seagama). Hubungan persaudaraan dapat putus jika salah satu berpindah agama dan atas perpindahan agama itulah menyebabkan putusnya hubungan kewarisan. Hubungan antara orang mumin itu diikat oleh hubungan iman (agama). Jika antara orang mumin bersengketa, maka ingatlah bahwa kalian bersaudara seiman yang derajatnya lebih tinggi daripada sekedar hubungan persaudaraan seketurunan (senasab). Oleh karena itu, berdamailah jika bersengketa dengan orang mumin sebab ishlah dengan orang mumin merupakan bentuk ketaqwaan kepada Allah yang pelakunya akan mendapat rahmat (laallakum turhamuun). Demikian pula di peradilan agama, para pihak yang berperkara hendaklah melakukan ishlah dalam menghadapi sengketa sebab persengketaan itu terjadi antara orang-orang beriman yang merupakan saudara seagama. Jika para pihak yang bersengketa berhasil didamaikan, maka mereka akan mendapat rahmat Allah. (Q.S. Al-hujurat ayat 10).

b.

23 Ishlah diberlakukan kepada masalah sengketa yang bertujuan bukan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Penyelesaian sengketa dengan ishlah ditujukan pada masalah sengketa yang bertujuan untuk mengembalikan keadaan yang diperintahkan oleh agama. Jika perselisihan dan pertikaian yang terjadi untuk mengharamkan yang halal, maka ishlah tidak dapat dilakukan. d. Keberhasilan ishlah ditentukan oleh mushlih (juru damai). Kriteria yang seorang mushlih adalah taqwa, khauf, kharismatik, faqih dan memahami masalah yang disengketakan. Kriteria ini sifatnya taaqquli, yang dewasa ini dapat dimaknai dengan seorang juru runding yang professional. Walupun demikian, kriteria mushlih di atas harus dipertimbangkan karena kriteria tersebut menunjukkan kharisma dan kewibawaan seoarang juru damai yang berbeda dengan kriteris seorang mediator. e. Kriteria sulh adalah kembali kepada keadaan semula. Jika suami isteri cekcok dan memutuskan ingin bercerai, maka kriteria sulhnya adalah kembali hidup rukun sebagaimana adanya. Oleh karena itu, kriteria keberhasilan mediasi di peradilan agama dalam perkara perceraian terletak pada kembalinya pasangan suami isteri hidup rukun. Demikian pula dalam sengketa waris, pengasuhan anak, harta bersama dan ekonomi syariah kriteria keberhasilan mediasi terletak pada kembali kepada keadaan aturan yang diatur di dalam perundang-undangan. f. Faaslihu merupakan perintah yang ditujukan kepada penguasa atau yang memiliki kekuasaan, baik kekuasaan politik, dalam hal ini negara yang diwakili oleh peradilan, maupun oleh tokoh masyarakat dan ulama yang memiliki kekuasaan ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Kalimat faashlihu juga menunjukkan bahwa sebelum sengketa diselesaikan di peradilan selesailkanlah melalui ishlah. Oleh karena itu ishlah merupakan pintu pertama penyelesaian sengketa sedangkan peradilan dipandang sebagai penyelesaian sengketa alternative. Atas dasar itulah, penulis mengajukan suatu kaidah hukum bahwa: c.

24 Pada dasarnya penyelesaian perselisihan itu dilakukan dengan cara damai 2. Teori Segitiga Mediasi Keberhasilan mediasi di peradilan agama ditentukan oleh tiga aspek yang satu sama lain saling berhubungan. Tiga aspek itu digambarkan sebagai bangunan segitiga yang satu sama lain saling menopang. Jika salah satu aspek ini hilang atau tidak tercapai dalam proses mediasi, maka mediasi akan gagal. Oleh karena itu, teori ini dinamakan dengan segitiga mediasi. Keberhasilan mediasi di peradilan agama ditentukan oleh aspek substantif, prosedural dan psikologis. Aspek substantif keberhasilan mediasi menyangkut kepuasan khusus yang diperoleh para pihak di dalam menyelesaikan sengketanya. Misalnya dalam perkara perceraian, kepuasan khusus itu dipenuhi dengan salah satu pihak mengalah dan mengakui kekeliruannya serta berusaha berjanji untuk memperbaiki diri. Aspek keberhasilan mediasi berikutnya adalah aspek prosedur. Yang di maksud aspek prosedur adalah adanya perasaan puas yang dialami para pihak mengikuti proses mediasi dari awal sampai akhir. Kepuasan prosedur ditandai oleh adanya perlakuan yang fair antara para pihak di dalam menegosiasikan sengketa yang dialami. Dalam perkara perceraian, baik suami maupun isteri kendatipun dalam posisi yang dianggap salah, salah satu pihak masih memperlakukannya secara wajar sehingga suami maupun isteri merasa dalam posisi yang terhormat. Keberhasilan mediasi dari aspek prosedur ini dapat pula dilihat dari netralitas mediator dalam proses mediasi untuk mendengarkan dan memahami dengan baik perasaan dan bahasa para pihak sehingga diantara para pihak tidak ada yang merasa dirugikan. Keberhasilan mediasi dari aspek psikologis adalah menyangkut kepuasan emosi para pihak yang terkendali, saling menjaga perasaan, menghormati, dan penuh dengan keterbukaan. Sikap-sikap para pihak yang muncul untuk menyelesaikan sengketa dengan baik dapat mendorong lahirnya kepuasan psikologis diantara para pihak. Merasa dihargai dalam forum mediasi oleh suami atau isteri, atau para pihak yang terlibat dapat ikut mendorong terciptanya proses mediasi yang berhasil.

25 3. Multi Doors Mediasi Berdasarkan hasil dalam penelitian ini, keberhasilan perkara yang diselesaikan melalui mediasi masih rendah. Oleh karena itu, pengadilan agama dapat melakukan banyak pilihan di dalam mediasi dengan melibatkan unsur-unsur di luar pengadilan. Mekanisme banyak pilihan ini disebut dengan multi door mediasi. Gagasan ini intinya menghendaki agar suatu pengadilan yang besar dapat menyediakan program penyelesaian sengketa dengan banyak pintu (multi doors) atau program di mana perkara-perkara dapat didiagnosa dan dirujuk melalui pintu yang tepat untuk penyelesaian perkara. Mediasi bukan hanya dilakukan secara integral di peradiilan agama. Mahkamah Agung dapat segera membuka pintu mediasi di luar peradilan agama melalui optimalisasi peran BP4 dan mendirikan lembaga-lembaga mediasi yang terakreditasi oleh Mahkamah Agung. Perguruan Tinggi Agama Islam, khususnya Fakultas Syariah dan Hukum dapat ditunjuk sebagai lembaga yang kompeten menangani mediasi, baik sebagai mediator maupun lembaga penyelenggara pelatihan. Lembaga mediasi dapat pula berdiri di pesantrenpesantren. Para ulama dan kiyai dapat berperan sebagai mediator bagi para pihak yang memiliki sengketa keperdataan. Keterlibatan para ulama dan kiyai menjadi mediator didasarkan atas pendapat para ulama tafsir yang mensyaratkan bahwa seorang juru damai (mushlih, hakam dan mediator) memiliki syarat khauf, taqwa, faqih dan faham masalah yang sedang disengketakan. Para kiyai dan ulama dipandang sebagai sosok yang memiliki kwalifikasi tersebut dan kharisma yang mampu mempengaruhi para pihak yang bertikai. Secara teknis, pelaksanaan mediasi dilakukan oleh BP4, perguruan tinggi dan ulama/kiyai. Jaringan BP4 sejauh ini menjangkau sampai kecamatan. Perguruan tinggi berada di kabupaten dan ulama/kiyai berada hampir di setiap desa. Para pihak yang bersengketa bisa mendaftarkan dulu perkaranya ke pengadilan agama atau tidak. Kemudian mereka menyelesaikan sengketanya melalui salah satu pintu yang disediakan, yaitu melalui BP4, perguruan tinggi dan ulama/kiyai. Jika para pihak yang bersengkata itu sudah didamaikan tetapi tidak berhasil, maka mereka melanjutkan perkaranya ke pengadilan agama dengan perkara yang sudah didaftar terlebih dahulu jika perkaranya sudah didaftar. Tetapi jika mediasi

26 berhasil, maka diadakan perdamaian dengan membuat akta perdamaian. Gagasan mengenai multi doors mediasi sebagaimana di atas, hanya dapat terjadi dengan mengubah Peraturan Mahkamah Agung tentang mediasi. VI. PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab di atas, penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Latar belakang lahirnya kebijakan peraturan mengenai mediasi di Peradilan Agama adalah (a) adanya manfaat yang dapat diperoleh jika mediasi dijadikan sarana di dalam penyelesaian sengketa, yaitu proses mediasi dapat mengatasi masalah penumpukan perkara, proses mediasi dipandang sebagai cara penyelesaian sengketa yang lebih cepat dan murah dibandingkan dengan proses litigasi, pemberlakuan mediasi dapat memperluas akses bagi para pihak untuk memperoleh rasa keadilan, (b) Trend penyelesaian hukum di berbagai negara di dunia. (c) ketetapan adanya upaya damai dalam peraturan perundang-undangan. (d) masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang suka berdamai. 2. Landasan yuridis : pasal 130 HIR/Pasal 154 RBg dan UU No. 1 tahun 1974 Pasal 39, UU No. 3 tahun 2006 Pasal 65, KHI Pasal 115, 131 (2), 143 (1-2), 144, dan PP No. 9 tahun 1975 Pasal 32, SEMA No. 1 tahun 2002 tentang Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Menerapkan Lembaga Damai. Perma No. 2 tahun 2003 dan diubah dengan Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Landasan sosiologis yang menjadi pertimbangan lahirnya Perma Nomor 1 Tahun 2008 dapat dilacak dari praktik mediasi atau damai yang dilakukan di dalam masyarakat Indonesia. 3. Transformasi konsep ishlah dan tahkim dapat diamati dari tercantumnya rumusan mengani keterlibatan pihak ketiga yang bertugas menyelesaikan sengketa di dalam Perma Nomor 1 Tahun 2008. Namun demikian, terdapat perbedaan pada segisegi tertentu, terutama pada kandungan konsep yang terkandung

27 di dalam ishlah dan tahkim sehingga ishlah, tahkim dan mediasi memiliki segi-segi perbedaan yang cukup banyak di dalam implementasinya. 4. Implementasi penyelesaian sengketa melalui mediasi di pengadilan agama dilakukan dengan dua cara, yaitu mediasi awal litigasi, dan mediasi selama litigasi. Jumlah perkara yang berhasil dan gagal dimediasi selama tahun 2009-2010 di tiga pengadilan agama sebagai berikut: a. Pengadilan Agama Bandung, perkara dimediasi 585 perkara, berhasil 69 perkara (15,0%) dan gagal 497 (85,0%); b. Pengadilan Agama Ciamis, perkara dimediasi 599 perkara, berhasil 62 perkara (10,3%) dan gagal 537 (88,7%); c. Pengadilan Agama Depok, perkara dimediasi 296 perkara, berhasil 29 perkara (10,0%) dan gagal 267 (90,0%). Faktor pendorong kegagalan mediasi dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: a. Aspek perkara. Perkara yang seringkali gagal dimediasi terjadi dalam perkara perceraian dengan berbagai sebab atau latar belakang. Untuk kasus-kasus perceraian yang disebabkan oleh KDRT, penyelesaian melalui mediasi acapkali gagal. Selain KDRT, sebab perceraian oleh ketiadaan cinta, PIL dan WIL, dan PHK ada yang berhasil tetapi pada umumnya gagal. b. Aspek mediator; keterbatasan waktu yang dimiliki para mediator, lemahnya keterampilan/skill mediator, kurang motivasi dan gigih menuntaskan perkara, dan mediator bersertifikat masih sedikit. c. Aspek para pihak; persepsi para pihak tentang mediasi, kebulatan tekad para pihak untuk bercerai sangat kuat karena kondisi rumah tangganya sudah berada diambang kehancuran, para pihak tertutup untuk mengutarakan masalahnya, proses perundingan untuk mencari titik temu sudah dilakukan berulang-ulang di luar pengadilan dengan kesimpulan bercerai dan rasa gengsi. d. Aspek advokat. Advokat yang menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan kliennya akan memberi dampak

28 negatif terhadap efektifitas mediasi dan terhadap keberhasilan mediasi. Sedangkan faktor pendorong keberhasilan mediasi di pengadilan agama disebabkan oleh : a. Aspek perkara. Keberhasilan mediasi dalam perkara perceraian dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik perkara yang melatar belakanginya. Keberhasilan dan kegagalan suatu perkara lebih tepat dipandang sebagai berdasarkan pada pengalaman mediasi pada setiap pengadilan. Selain perkara perceraian sebagaimana dikemukakan di atas yang berhasil dimediasi, perkara di luar perceraian seperti sengketa harta bersama dan kewarisan dari temuan-temuan di lapangan banyak mencapai kata sepakat dan mediasi berhasil. Perkara di luar perceraian yang berhasil dimediasi dilihat dari segi perkara menunjukkan bahwa perkara yang terkait dengan financial value cukup berhasil diselesaikan melalui mediasi. b. Aspek mediator. Adanya kegigihan mediator untuk merealisasikan keberhasilan mediasi dan kemampuan/skill dan penguasaan mediator terhadap teknik mediasi. c. Aspek para pihak. yaitu usia perkawinan, tingkat kerumitan perkara yang dihadapi oleh para pihak, para pihak memiliki itikad baik untuk mengakhiri sengketa melalui mediasi dan para pihak memiliki kesadaran untuk berdamai dan menyadari kekeliruannya. d. Aspek sarana. Di Pengadilan Agama Ciamis, Bandung dan Depok ruang mediasi yang tersediia telah memadai. Dengan demikian, kegagalan mediasi di pengadilan agama pada dasarnya disebabkan oleh karena implementasi mediasi belum memenuhi semua unsur islah sebagaimana dijelaskan dalam teori islah yang meliputi aspek kesadara para pihak dan standar kelayakan sebagai seorang mediator (muslih). B. Rekomendasi dan Saran-saran 1. Mahkamah Agung dapat memaksimalkan fungsi BP4 dan membentuk lembaga mediasi di kampus. 2. Mengkaji kembali kurikulum dan silabus di fakultas syariah dan hukum dengan cara menambah matakuliah yang relevan dengan

29 mediasi di pengadilan agama, misalnya matakuliah alternatif penyelesaian sengketa/ ADR, psikologi keluarga atau teknik negosisasi konflik; Fakultas syariah dan hukum dapat membuat bahan-bahan mediasi dalam bentuk karya tulis (hasil kajian dan penelitian), buku panduan praktis mediasi untuk hakim pengadilan agama, workshop dan seminar mediasi; Fakultas syariah dan hukum dapat melakukan kerjasama dengan Mahkamah Agung khususnya di dalam rangka menyiapkan atau melatih mediator-mediator bersertifikat yang akan berpraktik di pengadilan agama. Secara teknis, kerjasama itu dapat dilakukan dengan PTA di mana PTAI itu berada; Membuat lembaga khusus mediasi yang berperan menangani konflik yang ada di masyarakat (bukan hanya untuk PA) atau memperkuat lembaga hukum yang sudah ada dengan memasukan mediasi sebagai bagian dari struktur lembaga hukum tersebut.

3.

4.

5.

30 DAFTAR PUSTAKA

Abu Muhammad Mahmud Ibn Ahmad al-Aynayni. (t.t.). Bidyah fi Syarh al-hidyah. Beirut: Dar al-Fikr, t,th, Jil. 9.

al-

Allan J. Stitt. (2004). Mediation: A Practical Guide. London: Routledge Cavendish. Anonimous. (2008). Buku Komentar Peraturan Mahkamah Agung RI No. 01 Tahun 2008 tentang Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan. Dibuat atas kerjasama MARI, Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Indonesia Institute for Conflikct Transformation (IICT). Anonimous. (2009). Pedoman Penyusunan Karya Ilmiah Skripsi, Tesis, dan Disertasi UIN SGD Bandung. Bandung: Tanpa Penerbit. Bagir Manan. (2003). Peran Sosok Hakim Agama sebagai Mediator dan Pemutus Perkara serta Kegamangan masyarakat terhadap Keberadaan lembaga Peradilan, sambutan Ketua Mahkamah Agung RI. Pada Serah Terima Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan. (22 Agustus 2003). Tidak diterbitkan. E. van Donzel, B. Lewis, dkk (ed), (1990). Encyclopedia of Islam, Leiden: E.J. Brill. Jil. IV. Ibnu Katsir. (1999). Tafsir al-Quran al-Adhim. Beirut: dar El-Fikr, juz II. Lawrence M. Friedman. (1984). American Law. New York: W.W. Norton and Company. _____________. (1996). Teori dan Filsafat Hukum Telaah Kritis atas Teori-teori Hukum. Jakarta: Grafindo Persada.

31 Lucy V. Kazt. (1988). Enforcing an ADR Clause-Are Good Intention All You Have ?, American Bussiness Law Journal Laurence Boulle (1996). Mediation: Principle, process, practice Sydney: Butterworths. M. Solly Lubis (1994). Filsafat Hukum dan Penelitian. Bandung: Mandar Maju Robert A. Baruch Bush dan Josep P. Folger (2004). The Promise of Mediation: Transformative Approach to Conflict. USA: Willey, 2004. Ronal S. Kraybill, Alice Frazer Evans dan Robert A. Evans (2006). Peace Skill, Panduan Mediator terampil Membangun Perdamaian. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, (1999). Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta: Rajawali Press www.badilag.net., Ruang Mediasi Yang Refresentatif Perlu Disiapkan di Pengadilan Agama. Zainuddin Ali. (2009). Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika.