P. 1
ASKEP Trauma Kepala

ASKEP Trauma Kepala

|Views: 213|Likes:
Dipublikasikan oleh Ruri Andrie Rusen

More info:

Published by: Ruri Andrie Rusen on Aug 15, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2015

pdf

text

original

BAB II TRAUMA CAPITIS Pengertian Trauma capitis adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang

tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001). Trauma capitis adalah pukulan atau benturan mendadak pada kepala dengan atau tanpa kehilangan kesadaran. (Susan Martin, 1996) B. Penilaian GCS 1. Eye • • • • 2. • • • • • • • • • • • Verbal Orientasi baik Percakapan yang membingungkan Penggunaan kata-kata yang tidak benar Tidak Jelas, mengerang kesakitan Tidak ada respon 3. Motorik Melakukan perintah yang benar Merasakan nyeri, mengenali nyeri Menarik dari rangsangan nyeri Fleksi abnormal Ekstensi abnormal Tidak ada respon 6 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1 Nilai Spontan Terhadap rangsangan suara Terhadap rangsangan nyeri Tidak ada respon Nilai Nilai 4 3 2 1

1

C. Klasifikasi Klasifikasi trauma kepala berdasarkan Nilai Skala Glasgow (SKG): 1. Minor • • • 2. Sedang • • • 3. Berat • • • Etiologi 1. 2. Trauma oleh benda tajam Trauma oleh benda tumpul Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan mobil. Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan. Cedera akibat kekerasan. Menyebabkan cidera setempat dan menimbulkan cedera local Menyebabkan cidera menyeluruh    SKG 3 – 8 Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam. Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intrakranial. SKG 9 – 12 Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang Dapat mengalami fraktur tengkorak. SKG 13 – 15 Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerebral, hematoma.

menit.

dari 24 jam.

Patofisiologis Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi, energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hamper seluruhnya melalui

2

proses oksidasi, otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak waluapun sebentar akan memnyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 10mg % karma akan menimbulkan koma, kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala-gejala permulaan disungsi cerebral. Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolic anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah, pada kontusia berat hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolic. Trauma capitis menyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas antypid myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udema paru, perubahan pada otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan distritma, tibrilas antrilim dan ventrikel takikardi. Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteri akan berkontraksi. Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteri otak tidak begitu besar. Trauma capitis menurut patofisiologi dibagi 2 yaitu : 1. Cidera kepala primer Akibat langsung pada mekanisme dinamik ke celerasi-celerasi otakyang menyebabkan gangguan pada jaringan. Pada cidera primer dapat terjadi : Gegar kepala ringan Memar otak Laserasi

2. Cidera kepala sekunder Pada cidera kepala sekunder akan timbul gejala : Hipotensi sistemik 3

E. Manifestasi Klinis -

Hipoksia Komplikasi pernafasan Infeksi / komplikasi pada organ tubuh yang lain

Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih Kebingungan Pucat Mual dan muntah Pusing kepala Terdapat hematoma Kecemasan Sukar untuk dibangunkan Bila fraktur, mungkin adanya ciran serebrospinal yang keluar dari hidung (rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal.

Komplikasi Hemorrhagie : Perdarahan yang terjadi akibat dari pecahnya pembuluh darah Infeksi Edema Herniasi

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium : darah lengkap (hemoglobin, leukosit, CT, BT) Rotgen Foto CT Scan MRI : mendeteksi perubahan struktur tulang, perubahan struktur garis : tanpa / adanya kontras mengidentifikasi adanya hemoragik fragmen tulang menentukan ukuran ventrikuler, pergeseran jarngan otak

4

Penatalaksanaan Secara umum penatalaksanaan therapeutic pasien dengan trauma kepala adalah sebagai berikut: 1. Observasi 24 jam 2. Jika pasien masih muntah sementara dipuasakan terlebih dahulu. 3. Berikan terapi intravena bila ada indikasi. 4. Anak diistirahatkan atau tirah baring. 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obat analgetik. 6. Kolaborasi dengan dokter bila adanya indikasi pembedahan.

5

6

WOC (Web of Caution) Trauma tajam

Trauma tumpul

Reseptor vena dalam ruang serebral Hematoma subdural Hs. Akut Perubahan pupil kesadaran Perubahan pupil kesadaran Kompensasi tubuh vasokontriksi Gangguan guteogulasi Hs. Sub Akut Gangguan neurologis MK : Perubahan purseps sensori Hilang kontrol Hs. Kranik Robek vena subdural Perubahan lambat

Trauma capitis Benturan pada kranium Gangguan jaringan otak Kantusio serebral Oedema otak Volume otak meningkat TIK ↓ tingkat kesadaran MK : - Ggn. Mobilitas fisik - Resiko infeksi - Resiko Ggn. Nutrisi krg dari kebutuhan tubuh Sumber : Carpenito, 1998 6 Ph↓, PCO2↑, PO2↓ MK : Perubahan perfusi jaringan serebral

MK : Pola nafas tidak efektif

MK : - Kekurangan volume cairan - Reaka infeksi

Iskemik Hipoksia

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian 1. Identitas klien Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, alamat, penanggung jawab, tanggal masuk,dll. 2. Riwayat kesehatan: a. Riwayat Kesehatan Sekarang Waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status kesadaran saat kejadian, pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian. b. Riwayat Kesehatan Dahulu Apakah klien pernah mengalami penyakit ini sebelumnya. c. Riwayat Kesehatan Keluarga Apakah ada anggota keluarga yang menalami penyakit yang sama dengan klien sebelumnya. 3. Pemeriksaan fisik a.Kepala b. Leher Adanya pembesaran kelenjar tyroid dan getah bening : Terdapat hematoma, luka lecet dan luka robek Rambut : Warna rambut, bersih / tidak Mata : Simetris kiri kanan, sclera ikterik / tidak, palpebra anemis / tidak Hidung Telinga : Simetris kiri kanan, terjadi perdarahan / : Simetris kiri kanan, pendengaran baik / : Mukosa bibir kering / tidak, gigi tidak, ada serumen / tidak tidak, ada serumen / tidak Mulut dan gigi lengkap / tidak

7

c. Thorak - Jantung I P P A I P P A d. Abdomen I : Asites / tidak A : Bising usus meningkat / tidak P : Terdapat massa / tidak P : Tymphani e. Punggung Terdapat lesi / pembengkakan f. Ekstremitas - Atas g. Genitalia Terpasang Kateter / tidak h. Integument Turgor kulit baik / buruk i. j. k. Sistem respirasi : suara nafas, pola nafas Kardiovaskuler : pengaruh perdarahan organ atau pengaruh PTIK (Peningkatan Tekanan Intra Kranial) Sistem saraf :  Kesadaran  GCS. : 5555 5555 5555 5555 - Bawah : : Iktus terlihat : Iktus tidak teraba : Sonor : Frekuensi nadi 60-90 x/i : Simetris kiri dan kanan : Simetris kiri dan kanan : Sonor : Vesikuler

- Paru-paru

8

 Fungsi saraf kranial  trauma yang mengenai/meluas ke batang otak akan melibatkan penurunan fungsi saraf kranial.  Fungsi sensori-motorik  adakah kelumpuhan, nyeri, gangguan diskriminasi suhu, riwayat kejang. l. Sistem pencernaan  Bagaimana sensori adanya makanan di mulut, refleks menelan, kemampuan mengunyah, adanya refleks batuk, mudah tersedak. Jika pasien sadar  tanyakan pola makan?  Retensi urine, konstipasi, inkontinensia. m. n. saraf fasialis. o. Psikososial  data ini penting untuk mengetahui dukungan yang didapat pasien dari keluarga. Kemungkinan Diagnosa 1. Perubahan perfusi jringan serebral b/d penghentian aliran darah (haemoragi, hematoma) edema cerebral 2. Resiko tinggi pola nafas tidak efektif b/d kerusakan neurovaskuler (cidera pada pusat pernafasan otak) 3. Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi atau kognitif 4. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d status hipermetabolik Kemampuan bergerak : kerusakan area motorik  hemiparesis (lumpuh), gangguan gerak volunter, ROM, kekuatan otot. Kemampuan komunikasi : kerusakan pada hemisfer dominan  disfagia atau afasia akibat kerusakan saraf hipoglosus dan

9

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN XXXXXXXXXXXXXXXXX

B.

Implementasi

Semua tindakan keperawatan yang dilakukan yang sebelumnya telah direncanakan dalam pemberian asuhan keperawatan kepada pasien. C. Evaluasi Hasil penilaian dari asuhan keperawatan yang telah diberikan kepada pasien dengan penilaian SOAP.

10

DAFTAR PUSTAKA 1. Suriadi & Rita Yuliani. Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I. Jakarta: CV Sagung Seto; 2001. 2. Hudak & Gallo. Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Volume II. Jakarta: EGC; 1996. 3. Cecily LB & Linda AS. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 3. Jakarta: EGC; 2000. 4. Suzanne CS & Brenda GB. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi 8. Volume 3. Jakarta: EGC; 1999. 5. Doengoes. E. Marylin. Recana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC ; 1999

11

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->