Anda di halaman 1dari 9

REVITALISASI PUSKESMAS SEBAGAI PELAYANAN PENCEGAHAN PENULARAN HIV/AIDS DARI IBU KE ANAK (PMTCT) Disusun Oleh : Nisa Maolinda/Universitas

Padjadjaran

Human Immunodeficiency Virus (HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Akibat infeksi virus ini penderita bisa mengalami Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang merupakan sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik. HIV/AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak negara di seluruh dunia. HIV/AIDS menyebabkan berbagai krisis secara multidimensi, baik dari krisis kesehatan, pembangunan negara, ekonomi, pendidikan, dan kemanusiaan. Angka kejadian HIV/AIDS disetiap negara hampir setiap tahun terus meningkat dan terjadi pada seluruh kelompok usia. Menurut data Departemen Kesehatan, di Indonesia sampai dengan 30 Juni 2008 secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan adalah 12.686 kasus dan HIV 6.277 kasus. Distribusi usia penderita AIDS pada 2008 memperlihatkan tingginya persentase jumlah usia muda dan jumlah usia anak. Penderita dari golongan usia 20-29 tahun mencapai 53,62%, dan bila digabung dengan golongan usia sampai 49 tahun, maka angka menjadi 89,27%. Dengan semakin banyak generasi muda yang terinfeksi HIV, resiko anak terlahir dengan HIV semakin banyak pula, karena sebagian besar anak di bawah usia sepuluh tahun tertular akibat dari transmisi perinatal (vertikal) ketika ibu hamil yang terinfeksi HIV meneruskan infeksi kepada bayinya selama proses persalinan dan masa menyusui. Dibawah ini alur penularan HIV/AIDS pada anak:

Suami/Pasangan 1. Seks tanpa kondom dengan perempuan lain (PSK) 2. Pengguna narkoba suntikan (jarum tak steril, pakai bergantian) 3. Istri yang terinfeksi Bayi berisiko tertular HIV Istri hamil dengan HIV dan AIDS Istri Tertular HIV Tertular HIV

Hubungan seks tanpa kondom dengan istri

Hingga bulan Juni 2008, Departemen Kesehatan mendapatkan laporan anak yang terkena HIV/AIDS usia dibawah 14 tahun adalah sebanyak 228 anak dengan rincian dibawah usia 1 tahun 62 orang, usia 1-4 tahun 129 orang dan usia 5-14 tahun 47 orang. Diluar laporan tersebut diperkirakan sebanyak 4.360 anak tertular HIV dari ibunya yang HIV positif dan separuhnya telah meninggal. Adapun berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 30 September 2010, persentase kumulatif kasus AIDS menurut kelompok umur untuk usia kurang dari 1 tahun sebanyak 1%, usia 1- 4 tahun sebesar 1,2%, dan usia 5-14 tahun sebesar 0,7%. Sementara anak usia 15-19 tahun sebesar 2,9%. Sebagai tambahan, kumulatif kasus AIDS segala umur totalnya tercatat 22.726 kasus. Adapun menurut estimasi Badan PBB untuk Masalah AIDS (UNAIDS), pada 2005 diperkirakan 3.000 bayi lahir dengan HIV setiap tahunnya di Indonesia. HIV/AIDS pada anak terjadi pada saat proses persalinan dan proses menyusui. Pada saat proses persalinan, tekanan pada plasenta meningkat yang bisa menyebabkan terjadinya sedikit percampuran antara darah ibu dan darah bayi. Hal ini sering terjadi jika plasenta meradang atau terinfeksi. Pada saat persalinan, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir. Kulit dari bayi yang baru lahir masih sangat lemah dan lebih mudah terinfeksi jika kontak dengan HIV. Bayi mungkin juga terinfeksi karena menelan darah ataupun lendir ibu. Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan HIV dari ibu ke

bayi juga semakin meningkat karena akan semakin lama terjadinya kontak antara bayi dengan darah dan lendir ibu. Ketuban pecah lebih dari empat jam sebelum persalinan akan meningkatkan risiko penularan hingga dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari empat jam sebelum persalinan. Antara 10-20% bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV positif akan terinfeksi HIV melalui pemberian ASI (hingga 18 bulan atau lebih). Risiko ini dapat dihindari jika bayinya diberi pengganti ASI dengan susu formula. Namun, jika susu formula tidak memenuhi standar WHO yaitu AFASS (Acceptable = mudah diterima, Feasible = mudah dilakukan, Affordable = harga terjangkau, Sustainable = berkelanjutan, Safe = aman penggunaannya), risiko lain pada bayinya menjadi semakin tinggi. Upaya layanan pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak diintegrasikan dengan paket pelayanan kesehatan ibu dan anak dan layanan keluarga berencana di tiap jenjang pelayanan kesehatan mulai dari puskesmas sampai rumah sakit rujukan ODHA. Program pelayanan pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak dikenal dengan istilah PMTCT (mother to child HIV transmission). Program ini merupakan bagian dari pelayanan perawatan, dukungan dan pengobatan/CST bagi pasien HIV/AIDS. Pelayanan PMTCT dapat dilakukan di berbagai sarana kesehatan (puskesmas dan rumah sakit) dengan proporsi pelayanan yang sesuai dengan keadaan sarana tersebut. Namun yang terutama dalam pelayanan PMTCT adalah tersedianya tenaga/staf yang mengerti dan mampu/berkompeten dalam menjalankan PMTCT karena tidak hanya tim medis saja yang terlibat dalam program PMTCT tapi berbagai lintas sektor. Tujuan program PMTCT adalah mencegah penularan HIV dari ibu ke anak dan mengurangi dampak epidemi HIV terhadap ibu dan anak. Strategi program PMTCT mencakup pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduktif, pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif, pencegahan penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya dan memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV positif beserta bayi dan keluarganya. Sasaran program PMTCT sangat luas, mulai dari remaja (sekolah maupun di luar sekolah), remaja beresiko (IDU), perempuan usia reproduksi, ibu hamil HIV positif serta bayi yang dilahirkannya. Aspek jender

juga menjadi perhatian pada program PMTCT, sehingga melibatkan pula pasangan/lelaki dari perempuan hamil dan ibu HIV positif. Kegiatan yang dijalankan sangat beragam, mulai dari penjangkauan, penyuluhan/edukasi, VCT, pemberian ARV profilaksis, konseling & bantuan persalinan aman, konseling & bantuan pemberian makanan bayi, perawatan bayi, bantuan layanan kesehatan dan pendidikan bagi anak dari keluarga HIV positif, hingga bantuan usaha kerja mandiri bagi Odha dari keluarga ekonomi lemah. Berikut ini adalah alur pelayanan PMTCT 1
Untuk Ibu Hamil

Sumber. Depkes RI

Sistem PMTCT

Sumber : Depkes RI

Dari gambar diatas, puskesmas memiliki peranan penting dalam pelaksanaan PMTCT. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang merupakan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, memiliki enam tugas pokok yang disebut dengan Basic Six. Tugas tersebut meliputi upaya promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), upaya perbaikan gizi, Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), dan balai pengobatan dasar. Puskesmas juga dapat mengembangkan program lainnya berdasarkan karakteristik permasalahan di wilayah kerja masing-masing. Tugas pokok inilah yang menjadi dasar puskesmas menjadi salah satu pelayanan PMTCT. Secara umum puskesmas bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan preventif, promotif, kuratif sampai dengan rehabilitatif baik melalui upaya kesehatan perorangan (UKP) atau upaya kesehatan masyarakat (UKM). Dalam memberikan pelayanan di masyarakat, puskesmas biasanya memiliki subunit pelayanan seperti puskesmas pembantu, puskesmas keliling, posyandu, pos kesehatan desa maupun pos bersalin desa (polindes). Sebagai salah satu institusi kesehatan dasar yang paling dekat dengan masyarakat, keberadaan puskesmas merupakan komponen vital dan memiliki peran strategis dalam memperkuat derajat kesehatan masyarakat. Fungsi operasional puskesmas secara garis besar terdiri dari tiga bagian, yaitu sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan, serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang mengarah langsung pada pembentukan masyarakat yang secara mandiri berupaya meningkatkan derajat kesehatannya (Setiawan, 2007). Dari fungsi puskesmas ini dapat dijelaskan bahwa peran puskesmas bukan saja persoalan teknis medis, tetapi juga bagaimana keterampilan sumber daya manusia kesehatan di puskesmas mampu mengorganisir modal sosial yang ada di masyarakat. Puskesmas selain memiliki tiga fungsi operasional juga mencakup dua fungsi struktural. Fungsi pertama puskesmas adalah sebagai perpanjangan tangan

dari pemerintah yang diharuskan mampu survive, melayani masyarakat dengan optimal, memberi kemudahan aksesibilitas layanan kesehatan, dan sebagai pusat pemberdayaan kesehatan dengan memperkuat upaya kemandirian masyarakat. Sedangkan fungsi kedua, puskesmas dihadapkan beban kerja yang tinggi dan cakupan wilayah kerja yang luas, yaitu 30.000 penduduk, untuk menjamin status kesehatan masyarakat setempat berada dalam taraf optimal. Revitalisasi puskesmas dapat diartikan sebagai usaha untuk menghidupkan kembali fungsi atau kinerja puskesmas yang semestinya memiliki prioritas kerja pada fungsi preventif dan promotif dengan melibatkan peran aktif masyarakat setempat. Tujuannya adalah untuk memberikan masyarakat melakukan perawatan atau pemeliharaan kesehatan secara mandiri. Revitalisasi puskesmas melalui strategi pengorganisasian masyarakat mempunyai misi untuk mengoptimalkan fungsi dan kinerja puskesmas terutama dalam penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan maupun upaya kesehatan masyarakat di basis komunitas. Pengorganisasian masyarakat merupakan proses untuk membangun kekuatan komunitas dengan melibatkan anggota masyarakat sebanyak mungkin melalui proses menemukan modal sosial, problematika, merumuskan alternatif pemecahan masalah (dalam hal ini bidang kesehatan), serta membangun institusi sosial yang demokratis, berdasarkan aspirasi, keinginan, kekuatan dan potensi yang tumbuh dalam komunitas (Christianto, 2005). Puskesmas ditempatkan bersama masyarakat sebagai titik penentu kelanjutan hidup penderita HIV/AIDS, karena upaya pelayanan PMTCT tidak terhenti setelah ibu melahirkan, karena ibu tersebut terus menjalani hidup dengan HIV di tubuhnya, maka membutuhkan dukungan psikologis, sosial dan perawatan sepanjang waktu. Jika bayi dari ibu tersebut tidak terinfeksi HIV, tetap perlu dipikirkan tentang masa depannya, karena kemungkinan tidak lama lagi akan menjadi yatim dan piatu. Sedangkan bila bayi terinfeksi HIV, perlu mendapatkan pengobatan ARV seperti ODHA lainnya. Dengan dukungan psikososial yang baik, ibu HIV positif akan bersikap optimis dan bersemangat mengisi kehidupannya. Diharapkan ia akan bertindak bijak dan positif untuk senantiasa menjaga kesehatan diri dan anaknya, dan berperilaku sehat agar tidak terjadi penularan HIV dari dirinya ke orang lain.

Melalui revitalisasi peran puskesmas, puskesmas dapat mengoptimalkan fungsi operasional dari puskesmas dan mendayagunakan pelayanan dari subunit pelayanan seperti puskesmas pembantu, puskesmas keliling, posyandu, pos kesehatan desa maupun pos bersalin desa (polindes) dalam melakukan upaya promotif dan preventif pada masyarakat luas mengenai HIV/AIDS, dan melakukan upaya kuratif dan rehabilitatif bagi penderita HIV/AIDS. Hal ini bisa menjadi salah satu solusi alternatif pelayanan PMTCT sehingga program ini dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat. Pemerintah dapat meningkatkan sumber daya manusia dan sarana prasarana yang ada di puskesmas demi peningkatan PMTCT, karena sampai sekarang pelayanan PMTCT sedikit tersendat dikarenakan ada sebagian layanan kesehatan yang tidak lengkap, pengetahuan yang tidak cukup di antara komunitas, sumber daya tim medis yang minim sehingga jangkauan PMTCT rendah untuk dijangkau oleh masyarakat. Kolaborasi yang baik antara pemerintah, puskesmas, dan masyarakat dapat menjadi kekuatan yang menurunkan resiko penularan HIV dari ibu ke anak.

RIWAYAT HIDUP

Nama Tempat / Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Alamat (KOSAN)

: Nisa Maolinda : Garut, 26 Oktober 1990 : Perempuan : Islam Jln Raya Jatinangor No 275 Rt/Rw 01/08 Desa : Hegarmanah Kecamatan Jatinagor Kabupaten Sumedang 45363 Pondok Trijasa Indah Jln.Ciledug Kp. Cibelik No 619 RT/RW 03.10 Kelurahan Regol Kecamatan Garut Kota Kab.Garut 44114 : 085221560100 : nisamaolinda@yahoo.com : Keperawatan : Padjadjaran : 220110080122 Kampus FKep Unpad Jl. Raya Sumedang Km. 21 : Jatinangor 45363

(RUMAH) Nomor HP Email Fakultas Universitas NPM Alamat