Anda di halaman 1dari 39

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar belakang

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Nomor

47/Men.Kes/SK/II/1983 tentang Kebijaksanaan Obat Nasional menyatakan bahwa Kebijakan Obat Nasional merupakan

penjabaran dari Sistem Kesehatan Nasional khusus untuk pembangunan di bidang obat menjadi pedoman dan petunjuk pelaksanaan bagi penyelanggaraan se mua upaya di bidang obat. Dalam keputusan tersebut dicantumkan bahwa yang dimaksud dengan obat ialah bahan atau paduan bahan -bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. (Soekanto. S, Aspek Hukum Apotek dan Apoteker, 1990) Farmasis adalah tenaga ahli yang mempunyai kewenangan di bidang kefarmasian melalui keahlian yang diperolehnya selama pendidikan tinggi kefarmasian. Sifat kewenangan yang

berlandaskan ilmu pengetahuan ini memberinya semacam otoritas dalam berbagai aspek obat atau proses kefarmasian yang tidak dimiliki oleh tenaga kesehatan lainnya.

Dengan demikian pada dasarnya kaitan tugas -pekerjaan Farmasis dalam melangsungkan berbagai proses kefarmasian, bukannya sekedar membuat obat, melainkan juga menjamin serta meyakinkan bahwa produk kefarmasian yang diselenggarakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses penyembuhan penyakit yang diderita pasien. (Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, Standar Kompetensi Farmasi Indonesia, 2004) Apotek merupakan sarana pelayanan tertentu yang terkait dalam usaha pelayanan kesehatan dibidang obat-obatan. Apotek juga merupakan tempat untuk pengabdian Sarjana Fa rmasi yang melakukan pekerjaan kefarmasian serta penyaluran pembekalan farmasi pada masyarakat. Pekerjaan kefarmasian tertuang dalam peraturan Kementerian Kesehatan No. 1332/Menkes/SK/IX/2002 dimana pada peraturan ini tercantum tentang kesehatan meliputi pembuatan, termasuk pengendalian mutu sediaan obat serta pengembangan obat, bahan dari obat tradisional. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kefarmasian serta makin tingginya kesadaran masyarakat dalam meningkatkan kesehatan, ma ka dituntut juga kemampuan dan kecakapan para petugas dalam rangka mengatasi permasalahan yang mungkin timbul dalam pelaksanaan pelayanan kefarmasian kepada masyarakat.

Oleh sebab itu, pelaksanaan Kuliah Kerja Profesi (KKP) bagi mahasiswa Universitas Indonesia Timur Fakultas MIPA jurusan Farmasi sangat perlu dilakukan dalam rangka mempersiapakn diri untuk berperan langsuang dalam rangka mempersiapkan diri untuk berperan langsung dalam pengelolaan apotek sesuai fungsi dan kompetensi Sarjana Farmasi.
B. Maksud dan tujuan

1. Tujuan umum a) Sebagai media mengaplikasikan pengetahuan teoritis dan praktis dalam pengembangan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dalam rangka meningkatkan

relevansi pendidikan. b) Agar lembaga perguruan tinggi dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang berkualitas sebagai penerus

pembangunan yang lebih menghayati masalah -masalah yang sangat kmpleks yang dihadapi oleh masyarakat. c) Membantu pemerintah, masyarakat dalam mempercepat gerak laju pembangunan. 2. Tujuan khusus Menambah wawasan dan pengembangan berpikir secara intern dan non disipliner mahasiswa, melalui proses sosialisasi kepribadian/akademis, proses penemuan, pengenalan masalah dan konsep pemecahan masalah dengan mengaplikasikan ilmu

yang diperoleh dalam kondisi dan situasi nyata y ang dialami atau ditemui pada kelompok masyarakat sebagai objek.
C. Manfaat

1. Perguruan Tinggi Universitas Indonesia Timur secara langsung dapat mengembangkan dan menerapkan teori pembangunan masyarakat yang sangat berguna baik sebagai mahasiswa, dosen atau perguruan tinggi pengetahuan. 2. Mahasiswa KKP Universitas Indonesia Timur dapat terlatih dalam kanca kehidupan yang nyata untuk mengembangkan diri menjadi kader pembangunan bangsa. sebagai pusat riset ilmu

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI KKP

A. Profil Lokasi KKP

Apotek Baji Minasa Farma merupakan apotek yang didirikan pada tanggal 21 April 2009. Apotek Baji Minasa Farma merupakan apotek yang berfungsi sebagai apotek pelayanan. Apotek Baji Minasa Farma oleh Sufiady, AS sebagai PSA dan seorang Apoteker pengelola apotek yaitu Hasriani, Apt dan pelayanan kefarmasian diakukan dengan tiga bantuan asisten apoteker dan satu orang bagian administrasi. Apotek Baji Minasa Farma melayani pembelian resep umum dan pembelian obat bebas. Apotek baji minasa farma belum memiliki dokter praktek, tetapi apotek ini tetap ramai didatangi oleh pasien. Kegiatan yang dilakukan Apotek Baji Minasa Farma dimulai pada pagi hari mulai pukul 09.00 wita sampai dengan pukul 22.00 wita. Apotek Baji Minasa Farma memberikan pelayanan kepada masyarakat setiap hari, kecuali hari libur ( tanggal merah dan hari raya ). Karyawan terbagi dalam dua sift dan melaksanakan aktifitas yang meliputi pembersihan seluruh ruangan apotek Baji Minasa Farma serta persiapan pelayanan.

B. Keadaan Geografis

Apotek Baji Minasa Farma berlokasi di salah satu jalan kota makassar yaitu jalan Nuri no. Apotek ini terletak di persimpangan jalan baji minasa dan Nuri samping SMA Baji Minasa. Apotek Baji Minasa Farma berlokasi di tempat yang cukup strategis bila ditinjau dari segi jumlah penduduknya.
C. Keadaan Demografis

Setiap apotek merupakan gambaran suatu sistem yang dapat melaksanakan aktifitasnya dengan baik dan membutuhkan suatu struktur organisasi, begitu pula Apotek Baji Minasa Farma. Apotek Baji Minasa Farma mempunyai struktur organisasi yang berupa struktur organisasi yang berupa sistem intekasi antara individu dalam kelompok yang bekerja untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan adanya organisasi dalam suatu apotek akan memperjelas tugas dan wewenang serta tanggung jawab . Kemajuan Apotek Baji Minasa Farma didukung pula oleh tenaga karyawan yang ada pada apotek tersebut. Selain itu, kerjasama yang baik antara pimpina dan karyawan juga merupakan hal yang sangat mendukung. Adapun jumlah tenaga kerja Apotek Baji Minasa Farma berjumlah 5 orang yang terdiri atas : 1. Seorang Pemilik Sarana Apotek 2. Seorang Apoteker Pengelola Apotek

3. Dua orang asisten apoteker 4. Seorang perawat Struktur organisasi Apotek Baji Minasa Farma sebagai berikut :

PSA

APA

Perawat

Asisten Apoteker

Tugas, kewajiban, tangggung jawab dan wewenang masing masing bagian adalah sebagai berikut :
1. Pemilik Sarana Apotek ( PSA )

Tugas, kewajiban dan tanggung jawab : a. Menentukan anggaran biaya bagi keperluan apotek dan mengelola keuangan. b. Mengadakan pemberian gaji kepada karyawan. c. Menyenggalaran sesuatu yang berhubungan dengan

administrasi pembelian dan penjualan pada apotek. Wewenang : Mengadakan penilaian kembali sistem pengelolaan apotek tiap akhir tahun untuk mengetahui kemajuan pengelolaan apotek .

2. Apoteker Pengelola Apotek

Tugas dan Kewajiban a. Mengatur dan mengawasi penyimpanan dan kelengkapan yang sesuai dengan syarat-syarat teknik farmasi terutama dibidang peracikan. b. Membina dan memberi petunjuk soal teknis farmasi kepada karyawan, terutama pemberian informasi ( PIO ) kepada pasien. Tanggung Jawab Bertanggung jawab penuh kepada PSA atas pelaksanaan tugas dan fungsinya sebagai APA meliputi : a. Bidang persediaan barang, yaitu pengadaan yang sehat dan tata cara penyimpanan obat. b. Bidang inventaris, yaitu pengggunaan yang efisien untuk memelihara keamanan obat.
Wewenang

Berwenang untuk mengelola dan memimpin seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian dan karyawan di apotek, sesuai dengan petunjuk pemimpin apotek dan perundang -undangan yang berlaku.

3. Asisten Apoteker

Tugas dan Kewajiban : a. Pelayanan resep meliputi penentuan harga, pemeriksaan dosis obat dan jumlah obat serta jenis obat, penimbanga obat atau bahan obat, peneriksaan jumlah dan jenis obat sesuai resep. b. Bekerja dalam penjualan obat bebas atau obat bebas terbatas. c. Menerima dan mengorder barang ( obat dan alkes ) yang kosong. Tangggun Jawab : Bertanggung jawab kepada APA sesuai dengan tugas yang diserahkan kepadanya, bertanggung jawab atas keberadaan segala tugas yang disesuaikan, tanpa adanya kesalahan, kekurangan, kehilangan dan kerusakan. Wewenang : Menyelesaikan tugas pelayanan kefarmasian sesuai batas pekerjaan yang ditugaskan kepadanya.

D. Sarana dan Prasana Sosial Ekonomi

1. Gedung dan fasilitasnya Gedung Apotek Baji Minasa kokoh, bersih dan sangat layak digunakan untuk pelayanan apotek. Gedung ini terdiri dari beberapa rungan yaitu : a. Ruang tunggu pasien yang dilengkapi dengan kursi dan televisi b. Beberapa etalase yang berfungsi sebagai tempat pajangan obat bebas dan tempat penyerahan obat. c. Lemari pendingin untuk meletakkan obat -obat yang memerlukan penyimpanan pada suhu dibawah suhu kamar. d. Ruangan racikan sebagai tempat meracik obat. e. Gudang tempat penyimpanan obat dalam jumlah banyak untuk persediaan. 2. Ruang lingkup dan kegiatan Apotek Baji Minasa a. Pengelolaan barang Pengadaan barang di Apotek Baji Minasa

dilakukan berdasarkan tingkat kebutuhan apotek atau rata-rata pemakain perbulan, akan tetapi dapat pula dilakukan pemesanan setiap saat apabila persediaan apotek menipis. Pemesanan barang dilakukan setelah mendapat informasi mengenai kebutuhan barang dari

buku defecta. Pelaksanaan pembelian dilaksanakan melalui salesman atau melalui telepon ke Pedagang Farmasi (PBF) atau distributor, untuk menanyakan barang yang dibutuhkan ada tidaknya atau dengan menulis srat pesanan untuk PBF. Dengan melakukan pembelian/pengadaan ada beberapa hal yang perlu diperhitungkan, yaitu : 1) Analisis kebutuhan barang Kebutuhan barang dalam hal ini menyangkut jenis dan jumlah barang yang dibutuhkan, berdasarkan atas kebutuhan konsumen dan kekuatan modal serta memperhatikan kapasitas tempat

penyimpanan dan barang-barang yang laku keras, laku sedang dan krang laku untuk menjaga agar tidakterjadi kekosongan. 2) Analisis harga Hal yang penting untuk diperhatikan dalam analisis harga adalah keterangan har ga dari sumber penyalur resmi, masa pembayaran kredit, harga termurah serta syarat-syarat pembayaran yang ringan.

3) Sumber pembelian Penyalur yang dipilih harus resmi agar mutu dan kualitas barang dapat terjamin dan disertai dengan Surat Pesanan (SP). Hal ini penting untuk

pengecekan barang yang masuk dan barang yang keluar, sehingga tidak terjadi kesalahan. 4) Waktu pengiriman Pemesanan barang diuhasakan memesan pada penyalur dengan pelayanan pengiriman yang cepat, sehingga barang yang dipesan datang pada saa t yang dibutuhkan atau tepat pada waktunya. b. Penerimaan dan pemeriksaan barang Setelah menerima surat pesanan, pihak distributor akan mengirim pesanan sesuai dengan pesanan disertai surat pengantar/faktur. Barang yang diterima oleh petugas apotek, kemudian di cek apakah sesuai dengan yang tertulis pada surat pesanan tentang jenis barang dan jumlahnya. Tidak lupa petugas memeriksa kualitas barang tersebut apakah dalam keadaan baik atau rusak serta tanggal kadaluarsa.

Jika setelah disetujui oleh petugas, mak a faktur dan salinannya akan ditandatangani oleh petugas apotek penerimaan barang, kemudian salah satu fakturnya menjadi arsip apotek. Penerimaan barang kemudian dicatat dalam buku penerimaan barang. c. Penyimpanan Barang yang telah diterima, disimpan pada te mpat yang sesuai dengan syarat penyimpanan.

Penyimpanan dilakukan untuk memelihara mutu obat, mencegah kerusakan, menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab serta memudahkan pencarian dan pengawasan. Penyimpanan barang di Apotek Baji Minasa disimpan pada tempat yang aman, tidak terkena matahari langsusng, bersih dan tidak lembab, disusun sistemis (cair-padat dan alphabetis). Adapun sistem penyimpanan di Apotek Baji Minasa yaitu : 1) Penyimpanan barang dagangan dengan

menggunakan sistem FIFO (First In First Out) untuk menghindari kerusakan dan waktu kadaluarsa obat. 2) Penyimpanan obat secara abjad.

3) Penyimpanan berdasarkan bentuk sediaan serta golongan obat generik dan golongan obat paten. Penyimpanan barang di Apotek Baji Minasa terdiri atas: 1) Penyimpanan dimeja peracikan, dimana

penyimpanan ini berdasarkan obat -obat pelayanan resep, agar dalam pengerjaan atau peracikan mudah dijangkau. 2) Penyimpanan yang memerlukan perlakuan khusus misalnya obat-obat yang dalam lemari terkunci seperti narkotik dan psikotropika atau obat-obat termolabil yang disimpan dalam lemari pendingin. 3) Penyimpanan di ruang penjualan bebas,

penyimpanan ini untuk pelayanan obat golongan bebas atau barang tanpa resep dari dokter. d. Pengeluaran Sistem pengeluaran obat, alat kesehatan dan bahan obat silakukan sistem FIFO dengan

memperhatikan waktu kadaluarsa. Pengeluaran obat keras, narkotik dan psikotropika dilakukan atas permintaan dokter, tanpa resep dokter obat tidak boleh diberikan. Sedangkan pengeluaran obat tanpa resep untuk obat bebas dan obat bebas

terbatas yang berasal dari pabrik harus dilakukan dalam wadah asli pabrik yang membuatnya. e. Penjualan Penjualan di Apotek Baji Minasa dibedakan atas 2 tahap, yang dimana meliputi : 1) Penjualan obat dengan resep Penjualan ini merupakan sa lah satu bagian yang penting dalam pengelolaan apotek yang meliputi obat racikan, obat jadi dengan alur sebagai berkut : Resep yang diterima oleh Asisten Apoteker yang kemudian diteliti keabsahan resep dan dilihat apakah obat yang diminta ada dalam persedi aan serta dikalkulasi harga obat tersebut, kemudian diinformasikan kepada pasien. Apabila pasien dapat menebus obat tersebut, maka obat bisa diserahkan kepada pasien setelah pasien

menyerahkan uang sesuai dengan harga obat dab dicap lunas. Uang tersebut diserahkan kepada kasir. Bila yang diminta obat jasi, Asisten Apoteker mengambil persediaan di etalase. Apabila obat yang diminta berupa obat racikan maka Asisten Apoteker akan menyediakannya. Setelah diracik, dibungkus atau dimasukkan dalam botol atau

kapsul. Obat yang telah disiapkan diberi etiket dan diperiksa kebenaran obat dan jumlahnya. Bila copy resep dan kuitansi pembeli diminta atau diperlukan dapat dibuat. Sebelum diserahkan kepada pembeli obat diteliti lagi oleh assistan apoteker kemudian diserahkan dengan informasi tentang cara

pemakaian serta keterangan lain yang diperlukan dan mencatat alamat pasien. 2) Penjualan obat bebas/OTC (Over the Counter) Di Apotek Baji Minasa Farma penjualan obat bebas merupakan penjualan yang hanya dikhususkan pada obat golongan bebas dan bebas terbatas tanpa disertai resep dari dokter. Pada setiap penjualan obat dilakukan pencatatan pada buku penjualan harian. Apoteker atau assisten apoteker yang melayani penjualan bebas, wajkib memberikan informasi kepada konsumen atau pasien mengenai cara pemakaian obat serta kebutuhan informa si lainnya. f) Pengelolaan obat kontrasepsi Kontrasepsi merupakan alat untuk pencegahan kehamilan. Untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai cara dilakukan antara lain penggunaan obat peroral dan

intravaginal ataupun intravena. Pada apotek Baji Minasa melayani obat dan alat kontrasepsi yaitu pil KB, larutan injeksi KB, kondom dan alat tes kehamilan.

BAB III IDENTIFIKASI MASALAH DAN ALTERNATIF MASALAH

A. Identifikasi masalah Selama melaksanakan Kuliah Kerja Profesi di apotek Baji Minasa kami telah banyak mendapatkan pengalaman yang sangat bermanfaat karena dapat menambah keterampilan dan pengetahuan kami. Tetapi selain itu terdapat pula masalah yang ditemukan dalam lingkup apotek Baji Minasa antara lain sebagai berikut : 1) Banyaknya pasien dan kurangnya pegawai pada bagian pelayanan resep, peracikan dan penyerahan obat sehingga menyebabkan dilayani. 2) Masih terbatasnya stok persediaan obat persediaan obat yang ada di apotek sehinga menyebebkan pasien harus menebus resepnya di apotek lain. 3) Kadang kala terjadi kekosongan akibat keterlambatan pemesanan obat, sehingga pelayanan resep dokter maupun penjualan obat bebas kepada pasien dapat terhambat. pasien menunggu agak lama sebelum

4)

Terdapat

obat

yang

dilet akkan dapat

dibagian

atas

lemari untuk

penyimpanan

sehingga

menyulitkan

mengambilnya bila diperlukan. 5) Pasien kurang menanggapi informasi obat yang di berikan sehingga terjadi penggunaan obat yang tidak rasional. B. Alternatif Pemecahan Masalah : Sebagai suatu solusi pemecahan masalah ini hendaknya dilakukan : 1) Untuk mengingatkan pelayanan diusulkan untuk menambah tenaga farmasisnya. 2) Hendaknya apotek dapat menyediakan berbagai macam obat yang sering diresepkan atau dibutuhkan oleh pasien walaupun dalam jumlah se dikit. 3) Untuk mencegah kekosongan obat, stok persediaan obat harus sering dikontrol dan pemesanan obat dilakukan sebelum stok obat habis. 4) Meningkatkan kerjasama dengan apotek lain sehingga dapat menyediakan obat yang dibutuhkan oleh pasien. Agar dapat menarik konsumen untuk merasa terlayani dengan baik di apotek. 5) Hendaknya diadakan alat bantu untuk memudahkan

mengambil obat dibagian atas lemari.

6) Memberikan informasi obat kepada pasien dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien dan berusaha untuk meyakinkan pasien dalam pemberian obat tersebut.

BAB IV RENCANA KEGIATAN PROGRAM KERJA

A. Kegiatan fisik 1. Pelayanan obat dengan resep Pelayanan obat dengan resep dokter meliputi peracikan, pemberian etiket, penyerahan obat yang disertai dengan informasi obat. Obat yang diresepkan dapat berupa salep, obat racikan yang ditujukan kepada bayi atau balita yang belum bias menelan obat diberikan dalam bentuk serbuk dibungkus dengan menggunakan kertas perkamen terdiri dari beberapa macam obat yang diserbuk dan

dihomogenkan sesuai dosis yang diresepkan dokter. Sedangkan yang ditujukan kepada orang dewasa berupa kapsul yaitu beberapa obat yang dicampur dan

dihomogenkan dan dimasukkan kedalam cangkang kapsul sesuai dosis yang diresepkan oleh dokter. 2. Pelayanan obat tanpa resep dokter Melayani pembelian obat dari pasien yang dibutuhkan dan memberikan informasi obat tersebut. Obat yang dilayani merupakan golongan obat bebas. Obat bebas terbatas, suplemen dan obat tradisional.

3. Pemeriksaan stok Pemeriksaan stok obat dilakukan untuk mengetahui

persediaan obat yang ada di apotek agar kebutuhan obat di apotek dapat terpenuhi. 4. Penerimaan obat/ barang dari PBF Barang/ obat yang diterima oleh assisten apoteker dari PBF di cek tanggal kadaluarsanya, jumlahnya, nama barang/ obat dicocokkan dengan faktur dan surat pesanan. Kemudian Barang/obat fakturnya dicatat ditandatangani dalam kartu dan di stempel. kemudian

stoknya

dimasukkan dalam lemari penyimpanan obat. 5. Pengadaan buku tentang interaksi obat. Diharapkan dengan buku ini dapat membantu tenaga farmasis di apotek untuk memberikan pelayanan informasi obat. B. Kegiatan Non Fisik. Pelayanan Informasi Obat Pelayanan informasi obat diberikan oleh assisten apoteker misalnya tentang aturan pakai dan penggunaan klinis dari masing-masing obat karena masih banyak masyarakat atau pasien yang kurang memahami tenteng pemakaian dan penggunaan klinis obat.

BAB V HASIL PROGRAM KERJA A. Intervensi Fisik

1. Pelayanan Obat Dengan Resep Kegiatan pelayanan obat dengan resep dokter terlaksana dengan hasil yang dicapai 85 %. Hal ini disebabkan karena ketidaktersediaan obat yang tercantum dalam resep . 2. Pelayanan Obat Tanpa Resep Kegiatan pelayanan obat tan pa resep (penjualan obat bebas ) terlaksana dengan hasil yang dicapai 90 %. 3. Pemeriksaan Stok Kegiatan pemeriksaan stok obat terlaksana dengan hasil yag dicapai 95%. 4. Penerimaan Obat Dari PBF Kegiatan penerimaan obat dari PBF ter laksana dengan hasil 80%. 5. Pengadaan Buku Tentang Interaksi Obat Pengadaan buku tentang interaksi obat terlaksana dengan hasil 90%.
B. Intervensi Non Fisik

Pelayanan informasi obat dilaksanakan secara maksimal setiap harinya sesuai dengan permintaan pasien atau tanpa permintaan pasien ( penjualan obat bebas dan resep ) dengan hasil 90 %.

C. Faktor Pendukung Dan Penghambat

Faktor pendukung dalam melaksanakan KKP ini yaitu dengan adanya bantuan dari pihak apotek terhadap program kerja mahasiswa KKP. Adapun yang menjadi faktor penghambat yaitu tentang pelayanan informasi obat yaitu sebagian pengunjung apotek tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik.

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapangan di Apotek Baji Minasa Farma maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan Kuliah Kerja Profesi yang meliputi kegiatan fisik (pelayanan obat dengan resep dokter dan tanpa resep dokter, pemer iksaan stok obat, penerimaan obat / barang dari PBF, pengadaan buku tentang interaksi obat) dan kegiatan non fisik ( pelayanan informasi obat) telah terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana program kerja). B. Saran 1. Kerjasam antar Apotek Baji Minasa Farma dengan UIT agar dikembangkan dan dipertahankan untuk tahun berikutnya. 2. Peningkatan mutu pelayanan di Apotek Baji Minasa Farma hendaknya selalu dilakukan, khusus untuk tenaga farmasis sebagai pemberi informasi obat, sehingga kepercayaan yang diberikan pasien semakin besar demi kesuksesan apotek.

Biodata Mahasiswa
Nama Stambuk Tempat / Tanggal Lahir Prog. Studi Agama Asal Telp / HP : Rizka Ariani : 10.201.692 : Jakarta, 12 Agustus 1990 : Farmasi : Islam : Belopa, Luwu :

Makassar, Mei 2011

(Rizka Ariani)

Biodata Mahasiswa
Nama Stambuk Tempat / Tanggal Lahir Prog. Studi Agama Asal Telp / HP : Rizka Clara Sagita : 10.201.698 : Kendari, 08 Desember 1987 : Farmasi : Islam : Kendari :

Makassar, Mei 2011

(Rizka Clara Sagita)

Biodata Mahasiswa
Nama Stambuk Tempat / Tanggal Lahir Prog. Studi Agama Asal Telp / HP : Silvia Sahrin . M : 10.201.697 : Toli-toli, 19 Maret 1989 : Farmasi : Islam : Kendari :

Makassar, Mei 2011

(Silvia Sahrin. M)

JURNAL / CATATAN HARIAN MAHASISWA KKP UIT MAKASSAR

No 1

Hari/Tanggal Senin, 28/03/11

Jam 09.00-16.00

Kegiatan
a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep

KET

Selasa, 29/03/11

09.00-16.00

a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep

Rabu, 30/03/11

09.00-16.00

a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep c. Penerimaan pesanan obat

a. Pelayanan obat bebas

Kamis, 31/03/11

09.00-16.00
b. Meracik Obat dengan resep c. Penulisan SP d. Penerimaan Pesanan Obat

Jumat, 01/04/11

09.00-16.00

a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep c. Penulisan SP d. Penerimaan Pesanan Obat

Makassar, April 2011 Supervisor Instansi Pembimbing

____________________

Hasrani, S.si, Apt

JURNAL / CATATAN HARIAN MAHASISWA KKP UIT MAKASSAR

No 6

Hari/Tanggal Sabtu, 02/04/11

Jam 09.00-16.00

Kegiatan
a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep

KET

Senin, 04/04/11

09.00-16.00

a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep

Selasa, 05/04/11

09.00-16.00

a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep c. Penerimaan pesanan obat

a. Pelayanan obat bebas

Rabu, 06/04/11

09.00-16.00
b. Meracik Obat dengan resep c. Penulisan SP d. Penerimaan Pesanan Obat

10

Kamis, 07/04/11

09.00-16.00

a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep c. Penulisan SP d. Penerimaan Pesanan Obat

Makassar, April 2011 Supervisor Instansi Pembimbing

____________________

Hasrani, S.si, Apt

JURNAL / CATATAN HARIAN MAHASISWA KKP UIT MAKASSAR

No 11

Hari/Tanggal Jumat, 08/04/11

Jam 09.00-16.00

Kegiatan
a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep

KET

12

Sabtu, 09/04/11

09.00-16.00

a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep

13

Senin, 11/04/11

14.00-21.00

a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep c. Penerimaan pesanan obat

a. Pelayanan obat bebas

14

Selasa, 12/04/11

14.00-21.00
b. Meracik Obat dengan resep c. Penulisan SP d. Penerimaan Pesanan Obat

15

Rabu, 13/04/11

14.00-21.00

a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep c. Penulisan SP d. Penerimaan Pesanan Obat

Makassar, April 2011 Supervisor Instansi Pembimbing

____________________

Hasrani, S.si, Apt

JURNAL / CATATAN HARIAN MAHASISWA KKP UIT MAKASSAR

No 16

Hari/Tanggal Kamis, 14/04/11

Jam 14.00-21.00

Kegiatan
a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep

KET

17

Jumat, 15/04/11

14.00-21.00

a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep

18

Sabtu, 16/04/11

14.00-21.00

a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep c. Penerimaan pesanan obat

a. Pelayanan obat bebas

19

Senin, 18/04/11

14.00-21.00
b. Meracik Obat dengan resep c. Penulisan SP d. Penerimaan Pesanan Obat

20

Selasa, 19/04/11

14.00-21.00

a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep c. Penulisan SP d. Penerimaan Pesanan Obat

Makassar, April 2011 Supervisor Instansi Pembimbing

____________________

Hasrani, S.si, Apt

JURNAL / CATATAN HARIAN MAHASISWA KKP UIT MAKASSAR

No 21

Hari/Tanggal Rabu, 20/04/11

Jam 14.00-21.00

Kegiatan
a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan resep a. Pelayanan obat bebas

KET

22

Kamis, 21/04/11

14.00-21.00

b. Meracik Obat dengan resep c. Penulisan SP d. Penerimaan Pesanan obat a. Pelayanan obat bebas b. Meracik Obat dengan

23

Sabtu, 23/04/11

14.00-21.00

resep c. Penulisan SP d. Penerimaan Pesanan obat

Makassar, April 2011 Supervisor Instansi Pembimbing

____________________

Hasrani, S.si, Apt