Anda di halaman 1dari 10

SYARI'AT, TARIKAT, HAKIKAT Inilah jalan penghidup keyakinan syariat, tarikat, hakikat menuju kemuliaan dengarlah yang tersirat

dalam gambaran yang tersurat dalam bisikan. Inilah gambaran dari jalan menuju akhirat, yakni melalui syari'at, tariqat dan haqiqat. Melalui jalan ini seseorang akan mudah mengawasi ketakwaannya dan menjauhi hawa nafsu. Tiga jalan ini secara bersama-sama menjadi sarana bagi orang-orang beriman menuju akhirat tanpa boleh meninggalkan salah satu dari tiga jalan ini. Hakikat tanpa syari'at menjadi batal, dan syari'at tanpa hakikat menjadi kosong. Dapat dimisalkan di sini, bahwa apabila ada orang memerintahkan sahabatnya mendirikan shalat, maka ia akan menjawab: Mengapa harus shalat? Bukankah sejak zaman azali dia sudah ditetapkan takdirnya? Apabila ia telah ditetapkan sebagai orang yang beruntung, tentu ia akan masuk surga walaupun tidak shalat. Sebaliknya, apabila ia telah ditetapkan sebagai orang yang celaka maka, ia akan masuk neraka, walaupun mendirikan solat. Ini adalah contoh haqiqat tanpa syari'at. Sedangkan syariat tanpa hakikat, adalah sifat orang yang beramal hanya untuk memperoleh syurga. Ini adalah syari'at yang kosong, walaupun ia yakin. Bagi orang ini ada atau tidak ada syari'at sama saja keadaannya, karena masuk surga itu adalah semata-mata anugerah Allah SWT. Syariat adalah peraturan Allah SWT yang telah ditetapkan melalui wahyu, berupa perintah dan larangan. Tarikat adalah pelaksanaan dari peraturan dan hukum Allah SWT (syariat). Hakikat adalah menyelami dan mendalami apa yang tersirat dan tersurat dalam syariat, sebagai tugas menjalankan firman Allah SWT. Mendalami syariat sebagai peraturan dan hukum Allah SWT menjadi kewajiban umat Islam terutama yang berkaitan dengan ibadah muhzhah, ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah SWT. Seperti dalam firman:

()
yang artinya: "Hanya kepada Engkau (Allah), aku beribadah, dan hanya kepada engkau aku memohon pertolongan. (Surah AlFatihah: 4-5). Sedangkan yang dimaksud dengan menjaga hakikat adalah usaha seorang hamba melepaskan dirinya dari kekuatannya sendiri dengan kesedaran bahwa semua kemampuan dari perbuatan yang ada padanya, hanya akan terlaksana dengan pertolongan Allah SWT semata-mata.

Pada dasarnya kewajiban seorang mukmin adalah melaksanakan semua perintah Allah SWT dan meninggalkan laranganNya, dengan tidak memikirkan bahwa amal perbuatannya itulah yang akan menyelamatkannya dari siksaan neraka, atau menjadikannya masuk surga. Atau ia beranggapan tanpa amal ia akan masuk neraka, atau beranggapan hanya dengan amal ia akan masuk syurga. Sebenarnya ia harus berpikir dan meyakini bahwa semua amalannya hanya semata-mata untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan mendapatkan keridhaanNya. Seperti firman Allah SWT:

()
Apabila Allah SWT menganugerahkan pahala atas amal perbuatannya hanyalah merupakan pengurniaan Allah SWT belaka. Demikian juga apabila menyiksanya, maka itu semua merupakan keadilan Allah SWT jua, yang tidak perlu dipertanyakan pertanggungjawabannya. Imam Hasan al-Basri mengatakan bahwasanya ilmu hakikat tidak memikirkan adanya pahala atau tidak dari suatu amal perbuatan. Akan tetapi tidak berarti meninggalkan amal perbuatan atau tidak beramal. Sayyidina Ali Karamallah Wajhah mengatakan, barangsiapa beranggapan, tanpa adanya perbuatan yang sungguh-sungguh, ia akan masuk syurga, maka itu adalah khayalan, sedangkan orang yang beranggapan bahwa dengan amal yang sungguh-sungguh dan bersusah payah ia akan masuk syurga, maka hal itu sangat sia-sia. Orang pertama adalah mutamanni dan orang yang kedua adalah muta' anni. Pernah dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki Yahudi dari Bani Israil, ia telah beribadah selama tujuh puluh tahun. Pada suatu saat ia memohon kepada Allah agar dia ditetapkan berada bersamasama para malaikat. Maka Allah SWT, mengutus malaikat untuk menyampaikan kepadanya bahwa dengan ibadahnya yang sekian lama itu, tidak pantas baginya untuk masuk surga. Laki-laki ini mengatakan pula kepada malaikat itu setelah mendengar berita dari Allah SWT. "Kami diciptakan Allah di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah, maka sepantasnyalah kami berkewajiban beribadah (tunduk) kepadaNya" Tatkala malaikat itu kembali melaporkan apa yang didengarnya dari hamba Allah SWT tersebut, ia berkata: "Ya Allah, Engkau lebih mengetahui apa yang diucapkan oleh laki laki tersebut." Allah SWT pun berfirman. "Jika ia tidak berpaling dan tunduk beribadah kepada-Ku, maka dengan karunia dan kasih sayang-Ku, Aku tidak

akan meninggalkannya. Saksikanlah oleh mu, sesungguhnya Aku telah mengampuninya". Syari'at Ibarat bahtera itulah syariat Ibarat samudera itulah tarikat Ibarat mutiara itulah hakikat. Ungkapan dari syair di atas menjelaskan kedudukan tiga jalan menuju akhirat. Syariat ibarat kapal, yakni sebagai instrumen mencapai tujuan. Tarikat ibarat lautan, yakni sebagai wadah yang mengantar ke tempat tujuan. Hakikat ibarat mutiara yang sangat berharga dan banyak manfaatnya. Untuk memperoleh mutiara hakikat, manusia harus mengarungi lautan dengan ombak dan gelombang yang dahsyat. Sedangkan untuk mengarungi lautan itu, tidak ada jalan lain kecuali dengan kapal. Sebahagian ulamak menerangkan tiga jalan ke akhirat itu ibarat buah pala atau buah kelapa. Syariat ibarat kulitnya, tarikat isinya dan hakikat ibarat minyaknya. Pengertiannya ialah, minyak tidak akan diperoleh tanpa memeras isinya, dan isi tidak akan diperoleh sebelum menguliti kulit atau sabutnya. Agama ditegakkan di atas syariat, karena syari'at adalah peraturan dan undang-undang yang bersumber kepada wahyu Allah SWT. Perintah dan larangannya jelas dan dijalankan untukkesejahteraan seluruh manusia. Menurut Syeikh Al Hayyiny, syariat dijalankan berdasarkan taklif (beban dan tanggungjawab) yang dipikul kepada orang yang telah mampu memikul beban atau tanggungjawab (mukallaf). Hakikat adalah apa yang telah diperoleh sebagai makrifat. Syariat dikukuhkan oleh haqiqat dibuktikan oleh syari'at. Adapun syari'at adalah bukti pengabdian manusia yang diwujudkan berupa ibadah, melalui wahyu yang disampaikan kepada para Rasul. Haqiqat itu sendiri merupakan bukti dari penghambaan (ibadah) manusia terhadap Allah SWT, dengan tunduk kepada hukum syariat tanpa perantaraan apapun. TariKat Adalah thariqat itu suatu sikap hidup Orang yang teguh pada pegangan yang genap Ia waspada dalam ibadah yang mantap Bersikap wara' berperilaku dan sikap Dengan riyadhah itulah jlam yang tetap.

Para ulamak berpendapat tarikat adalah jalan yang ditempuh dan sangat waspada dan berhati-hati ketika beramal ibadah. Seseorang tidak begitu saja melakukan rukhshah (ibadah yang meringankan) dalam menjalankan macam-macam ibadah. Walaupun ada kebolehan melakukan rukhshah, akan tetapi sangat berhati-hati melaksanakan amal ibadah. Di antara sikap hati-hati itu adalah bersifat wara'. Menurut Imam Qusyairy, wara' artinya berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang bersifat syubhat (sesuatu yang diragukan halal haramnya). Bersikap wara' adalah suatu pilihan bagi ahli thariqat. Imam Ghazali membagi sifat wara' dalam empat tingkatan. Tingkat yang terendah adalah wara'ul'adl (wara' orang yang adil) yakni meningga1kan suatu perbuatan sesuai dengan ajaran Fiqih, seperti makan riba atau perjanjian-perjanjian yang meragukan dan amal yang dianggap bertentangan atau batal. Tingkat agak ke atas adalah waraush shalihin (wara' orang-orang saleh). Yakni menjauhkan diri dari semua perkara subhat, seperti makanan yang tidak jelas asal usulnya, atau ragu atas suatu yang ada di tangan atau sedang dikerjakan, atau disimpan. Tingkat yang atasnya lagi, adalah wara'ul muttaqqin (wara' orangorang yang takwa). Yakni meninggalkan perbuatan yang sebenarnya dibolehkan (mubah), karena kuatir kalau-kalau membahayakan, atau mengganggu keimanan, seperti bergaul dengan orang-orang yang membahayakan, orang-orang yang suka bermaksiat, memakai pakaian yang serupa dengan orang- orang yang beraklak jelek, menyimpan barang-barang berbahaya atau diragukan kebaikannya. Contoh, sahabat Umar bin Khattab meninggalkan sembilan per sepuluh dari hartanya yang halal karena kuatir berasal dari perilaku haram. Tingkat yang tertinggi adalah, wara' shiddiqin (wara' orang-orang yang jujur). Yakni menghindari sesuatu walaupun tidak ada bahaya sedikitpun, umpamanya hal-hal yang mubah yang terasa syubhat. Kisah-kisah berikut ini menunjukkan sifat-sifat orang yang wara'. Pada masa Imam Ahmad bin Hambal, hiduplah seorang sufi bernama Bisyir al-Hafy. la mempunyai saudara perempuan yang bekerja memintal benang tenun. Biasanya pekerjaan itu dikerjakan di loteng rumahnya. la bertanya kepada Imam Ahmad, "Pada suatu malam ketika ia sedang memintal benang, cahaya obor lampu orang Thahiriyah (mungkin tetangga) masuk memancar ke loteng kami. Apakah kami boleh memanfaatkan cahaya lampu obor tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan kami?" Imam Ahmad menjawab "Sungguh dari dalam rumahmu telah ada cahaya orang

yang sangat wara', maka janganlah engkau memintal benang dengan memanfaatkan cahaya obor itu. Abu Hurairah mengatakan: "Pada suatu hari seorang saudaraku datang mengunjungiku. Untuk menyajikan makanan buat menghormatinya, saya belikan lauk seekor ikan panggang. Setelah selesai menyantap makanan itu, saya ingin membersihkan tangannya dari bau ikan bakar itu. Dari dinding rumah tetangga, saya mengambil debu bersih untuk membersihkan dan menghilangkan bau amis dari tangannya. Akan tetapi saya belum minta izin tetangga tersebut untuk menghalalkan perbuatan saya itu. Saya menyesali atas perbuatan saya itu empat puluh tahun lamanya". Dikisahkan juga bahwa ada seorang laki-laki mengontrak sebuah rumah. la ingin menghiasi ruangan rumah itu, lalu menuliskan khatkhat riq'i pada salah satu dindingnya. la berusaha menghilangkan debu-debu pada dinding rumah kontrakan itu. Karena ia merasa bahwa perbuatan itu baik dan tidak ada salahnya. Ketika ia sedang membersihkan debu-debu pada dinding rumah itu, didengarnya suara, "Hai orang yang menganggap remeh pada debu engkau, akan mengalami perhitungan amal yang sangat lama". Imam Ahmad bin Hanbal pernah menggadaikan sebuah bejana tembaga kepada tukang sayu Mekkah. Ketika hendak ditebusnya bejananya itu, si tukang sayur mengeluarkan dua buah bejana lalu ia berkata: "Ambillah salah satu, mana yang jadi milikmu". Imam Ahmad berkata, saya sendiri ragu, mana dari dua bejana itu yang menjadi milikku. Untuk itu ambil olehmu bejana dan uang tebusannya. Saya rela semua untukmu. Tukang sayur itu serta merta menunjukkan, mana bejana milik Imam Ahmad, lalu berkata: "Inilah milikmu". Imam Ahmad berkata, "Sesungguhnya aku hanya menguji kejujuranmu! Sudah, saya tidak akan membawanya lagi sambil berjalan meninggalkan tukang sayur itu." Diriwayatkan bahwasannya Ibnu Mubarak pulang pergi dari Marwan ke Syam untuk mengembalikan setangkai pena, yang belum sempat dikembalikan kepada pemiliknya. Hasan al-Basri pernah menanyakan kepada seorang putera sahabat Ali bin Abi Thalib, ketika itu sedang bersandar di Ka'bah sambil memberi pelajaran. Hasan Bashry bertanya: "Apakah yang membuat agama menjadi kuat?" Dijawabnya: "yang menguatkan agama adalah sifat wara". "Apa yang merusak agama?" "yang merusak agama adalah tama". Jawaban itu mengagumkan Hasan Basry, lalu ia berkata "Dengan sifat wara' yang ikhlas lebih baik dari seribu kali shalat dan puasa ".

Itulah beberapa kisah yang menghiasi akhlak para sufy masa lampau. Sifat yang mengagumkan yang melekat dalam hidup mereka. Demikian juga sifat mulia para sahabat tabiin dan tabiittabiin. Kata wa-azimatun, menurut lughat, artinya cita-cita yang kuat. Maksudnya penuh kesungguhan dan sabar menghadapi bermacammacam masalah hidup, akan tetapi kuat menghadapinya dan mampu mengendalikan hawa nafsu. Demikian juga melatih diri dengan riyadhah yang dapat memperkuat ibadah dan melakukan ketaatan. Umpamanya riyadhah mengendalikan keinginan yang mubah, seperti puasa makan, minum, tidur, menahan lapar seperti puasa, sunnat, atau meninggalkan hal-hal yang kurang berguna bagi kemantapan dan konsentrasi jiwa kaum suji. Nabi SAW bersabda: "Cukurlah kiranya bagi manusia beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Apabila ingin lebih dari itu, hendaklah ia membagi perutnya;sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga lagi untuk bernafas". Dalam hadis lain Nabi SAW bersabda: "Bukankah manusia itu tertelungkup dalam neraka, tidak lain karena buah omongan lisannya. Sedangkan usia manusia itu adalah modal pokok perdagangannya. Apabila disia-siakan dengan makhluk perbuatan yang tidak berguna, maka sungguh ia telah merusaknya dengan kesia-siaan". Oleh karena itu mengamalkan ilmu thariqat sama dengan menghindari segala macam perbuatan mubah, seperti telah dicontohkan di atas. Itulah jalan suci akan mengantarkan manusia kepada ketaatan dan kebahagiaan. HaKiKat Hakikat adalah akhir perjalanan mencapai tujuan Menyaksikan cahaya nan gemerlapan Dari marifatullah yang penuh harapan Untuk menempuh jalan menuju akhirat haqiqat adalah tonggak terakhir. Dalam hakikat itulah manusia yang mencari dapat menemukan marifatu1lah. Ia menemukan hakikat yang tajalli dari kebesaran Allah Penguasa langit dan bumi. Menurut Imam Ghazali, tajalli adalah rahsia Allah SWT berupa cahaya yang mampu membuka seluruh rahasia dan ilmu. Tajalli akan membuka rahasia yang tidak dapat dipandang oleh mata kepala. Mata hati manusia menjadi terang, sehingga dapat memandang dengan jelas semua yang tertutup rapat dari penglihatan lahiriah manusia.

Imam Qusyairi membezakan antara syari'at dan haqiqat sebagai berikut. Haqiqat adalah penyaksian manusia tentang rahasiarahasia ketuhanan dengan mata hatinya. Syari'at adalah kepastian hukum dalam ubudiyah, sebagai kewajiban hamba kepada AIKhaliq. Syari'at ditunjukkan dalam bentuk kaifiyah lahiriyah antara manusia dengan Allah SWT . Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa, perumpamaan syari'at adalah ibarat kepala, tariqat ibarat lautan, dan haqiqat ibarat mutiara. Seperti pada bunyi syair, barang siapa yang ingin mendapatkan mutiara di dalam lautan, maka ia harus mengarungi lautan dengan menumpang kapal (ilmu syari'at), kemudian ia harus pula menyelam untuk mendapatkan perbendaharaan yang berada di kedalaman laut, yakni bernama mutiara (i1mu haqiqat). Para penuntut i1mu tasawuf tidak akan mencapai kehidupan yang hakiki, kecuali telah menempuh tingkatan hidup ruhani yang tiga tersebut. Manuju kesempurnaan hidup ruhani dan jasmani yang hakiki menuju hidup akhirat yang sempurna, tiga jalan itu hendaklah ditempuh bersama-sama dan bertahap. Apabila tahaptahap itu tidak ditempuh maka penuntut tasawuf atau mereka yang berminat mencari hidup ruhani yang tentram, tidak akan mendapatkan mutiara yang sangat mahal harganya itu. Wajib Bersyari'at Thariqat dan haqiqat bergantung kepada syari'at. Dua tahapan itu tidak akan berhasil ditempuh oleh para penuntut, kecuali melalui syari'at. Dasar pokok i1mu syari'at adalah wahyu Allah yang tertulis jelas dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Sebab ibadah mahdzah dan ghairu mahdzah serta ibadah muamalah tercantum dengan jelas dalam i1mu syari'at. Siapa pun tidak boleh menganggap dirinya terlepas dari syari'at, walaupun ia ulama sufi yang besar dan piawai, atau wali sekalipun. Orang yang menganggap dirinya tidak memerlukan syari'at untuk mencapai thariqat sangat tersesat dan menyesatkan.

Karena syari'at itu seluruhnya bermuatan ibadah dan muamalah, maka menjadi satu paduan dengan thariqat dan haqiqat. Ibadah seperti itu tidak gugur kewajibannya walaupun seseorang telah mencapai tingkat wali. Bahkan ibadah syari'atnya wajib melebihi tingkat ibadah manusia biasa. Umpamanya mutu ibadah seorang waliyullah melebihi mutu ibadah orang-orang awam. Sebagaimana Rasulullah saw, ketika mendirikan shalat dengan penuh kekhusyu'an dan begitu lama berdiri, ruku' dan sujudnya, sehingga dua kakinya menjadi membengkak, karena dikerjakan dengan penuh kecintaan dan ketulusan. Ketika Nabi saw ditanya berkaitan dengan ibadah-nya yang begitu hebat dan sungguh-sungguh, beliau menjawab: "Mengapa saya tidak menjadi hamba yang bersyukur?" Karena ibadah itu termasuk salah satu cara untuk mensyukuri nikmat Allah dan semua anugerahNya. Maka para shufiyah atau waliyullah sekalipun tetap berkewajiban melaksanakan ibadah syari' at yang ditak1ifkan kepada setiap mus1imin dan muslimat. Oleh karena itu wajib bagi penuntut kehidupan akherat dan para penuntut ilmu-i1mu Islam secara intensif mempelajari i1mu syari'at. Sebab semua i1mu yang berkaitan erat dengan kehidupan dunia dan akhirat, bergantung erat kepada i1mu syari'at. Ilmu tasawuf dengan pendekatan kebatinan (ruhaniyah) tetap bergantung erat dengan syari'at. Tanpa syari'at semua ilmu dan keyakinan ruhaniah tidak ada artinya. Hati para shufiyah akan cemerlang sinamya dalam menempuh kehidupan ruhaniyah yang tinggi, hanya akan diperoleh dengan i1mu syari'at. Demikian juga kemaksiatan batin dan pencegahannya sudah tercantum dari teladan Nabi saw, semuanya tercantum dalam i1mu syari'at. Ilmu tasawuf, adalah bahagian dari akhlaq mahmudah, hanya akan diperoleh dari uswah hasanahnya Nabi Muhammad saw. Cahaya yang bersinar dari kehidupan Nabi saw adalah pokok dasar bagi pengembangan ilmu tasawuf atau dasar pribadi bagi para penuntut i1mu tasawuf. Menurut tuntunan Nabi saw, hati adalah ukuran pertama penuntut i1mu tasawuf. Dengan kesucian hati dan ketulusannya melahirkan akhlak mahmudah dan mencegah akhlak mazmumah, seperti yang diajarkan dalam sunnah Nabi saw, sebagian dari i1mu syari'at. Dengan pengertian lain, hati manusia shufiyah itu akan ditempati oleh thariqat yang berdasarkan syari'at. Ma'rifatul1ah

Para ulama tashawuf dan kaum shufiyah beberapa cara untuk mecapai tingkat tertinggi dalam shufiyah, atau ma'rifatullah. Untuk mencapai ma'rifatullah ini setiap penuntut shufiyah menempuh jalan yang tidak sama. Ma'rifatullah adalah tingkat telah mencapai tariqat alhaqiqah. Akan tetapi tidak berarti tariqat menuju ma'rifatullah itu harus secara khusyusiah, lalu menempatkan diri hanya dalam ibadah batiniyah belaka. Akan tetapi untuk mencapai tingkat tariqat ma'rifatullah itu, para penuntut dapat juga mencapai melalui berguru langsung dengan para syaikh yang mursyid. Para syaikh yang mursid, biasanya suka memberi pelajaran dan pendidikan kepada masyarakat untuk memberi petunjuk kaifiyat ibadah dan tauhid Uluhiyah yang bersih dan uswah hasanah Nabi saw. Imam Al Ghazaly berkata: "Barang siapa beri1mu dan beramal serta mengajarkan i1munya, maka ia termasuk orang yang mendapat predikat "orang mulla" di kerajaan langit. la telah berma'rifat kepada Allah. la adalah ibarat matahari yang menyinari dirinya sendiri, atau laksana minyak misik yang harum yang menyebarkan keharuman disekitarnya, sedangkan ia sendiri berada dalam keharuman. Ketika seorang guru (da'i) sedang asyik mengajarkan ia berada dalam suasana yang agung dan suci. Oleh karena itu seorang da'i atau guru yang sedang mengajar Al Islam, hendak1ah selalu menjaga kesucian dan adab-adabnya. Ada pu1a yang menempuh jalan zikrullah dengan mewiridkan zikir-zikir yang ma'stur atau amalan yang bernilai ibadah, seperti membaca Al Qur'an, bertahmid, tasbih dan tahli1. Cara ini dijalankan oleh penuntut i1mu mutajarridah (konsentrasi diri untuk semata-mata beribadah), termasuk jalan yang ditempuh oleh orang-orang saleh. Cara lain lagi yang ditempuh ialah dengan menghidmatkan diri kepada ulama' Fiqoh, atau ulama' tasawuf atau ulama Islam umumnya. Cara berguru, belajar dan mengajar seperti ini sangat penting dan lebih utama dari shalat sunnat. Karena perbuatan atau amal seperti itu termasuk maslahah mursalah (kepentingan umum), karena juga berni1ai ibadah.

Sayyid Abdul Qadir Jailany RA, berkata: "Saya tidak akan mencapai ma'rifatullah dengan hanya qiyamullail, atau berpuasa sepanjang hari. Akan tetapi sampainya saya kepada ma'rifatullah, adalah juga dengan amalan maslahatmursalah, seperti bermurah hati dan menyantuni semua orang, tasamuh dan tawadu' . Ada juga yang beribadah untuk membantu dan menggembirakan orang lain. Termasuk berusaha mencari nafkah, seperti mencari kayu bakar di hutan, lalu dijual dan hasilnya disedekahkan bagi kepentingan umum. Cara-cara seperti ini merupakan ibadah, selain banyak manfaatnya, juga akan mencapai ma'rifatullah karena akan memperoleh do' anya masyarakat umum dan kaum dhu'afa.