Anda di halaman 1dari 9

BAB II HAID PRE ( PRE-MENSTRUAL SYNDROME )

2.1 Pengertian Pre-Menstrual Syndrome (PMS)


PMS adalah singkatan dari pre-mestrual syndrome, yaitu suatu kumpulan gejala yang meliputi gejala fisik, mental, dan perilaku, yang terkait erat dengan siklus menstruasi pada wanita. Secara defisini, maka gejala-gejala ini terjadi beberapa hari sebelum hari H menstruasi. Biasanya gejala ini hilang sendiri pada hari pertama atau kedua haid. Sampai 80 % wanita mungkin mengalami PMS, dan bentuknya sangat bervariasi satu dengan yang lain. Bahkan antar siklus pun bisa bervariasi gejalanya pada seseorang. Menurut penelitian, PMS lebih banyak terjadi pada wanita usia 30-49 tahun. Bahkan pada wanita yang sudah mengalami operasi pengangkatan rahim, masih juga bisa mengalami PMS jika sedikitnya satu ovarium masih ada. Sebagian lagi, 3-8 % wanita, mungkin mengalami gangguan yang lebih berat, yang disebut premenstrual dysphoric disorder (PMDD). PMS dan PMDD tidak sama. Wanita dengan PMDD dapat mengalami depresi sampai seminggu atau lebih sebelum menndapatkan haid, sedangkan PMS, lebih pendek durasinya, lebih ringan, dan juga gejalanya lebih ke arah fisik. Seorang bisa mengalami PMS saja, atau PMDD, atau kedua-duanya.

2.2 Penyebab Pre-Menstrual Syndrome (PMS)


PMS terjadi pada fase luteal pada siklus menstruasi. Fase ini terjadi segera setelah sebuah telur dilepaskan dari ovarium, dan terjadi mulai dari hari 14 sampai hari ke 28 pada siklus menstruasi normal (hari pertama haid dihitung sebagai hari 1). Pada fase luteal ini, hormon dari ovarium menyebabkan lapisan rahim akan menebal dan membentuk seperti sponge. Pada waktu yang sama, telur akan dilepaskan dari ovarium. Jika saat itu ada hubungan seksual, maka telur dapat bertemu sperma yang masuk, dan telur yang sudah dibuahi ini akan menempel di lapisan uterus yang sudah menebal dan spongy tadi untuk tumbuh menjadi janin. Pada saat itu, kadar hormon progesteron akan meningkat, sebaliknya estrogen mulai menurun. Jika pada masa itu

tidak ada hubungan seksual yang menyebabkan pembuahan, maka lapisan rahim yang sudah siap tadi menjadi kecewa, .. dan luruh, menjadi darah haid. Pergeseran keberadaan hormon dari estrogen menjadi progesteron inilah yang menyebabkan beberapa gejala PMS. Yang pertama, para ahli percaya bahwa perubahan kadar progesteron dalam tubuh ini yang menyebabkan perubahan mood, perilaku, dan fisik pada wanita pada fase luteal ini. Progesteron berinteraksi dengan bagian tertentu otak yang terkait dengan relaksasi. Studi yang lebih baru menyatakan bahwa ada perubahan hormon dan neurotransmiter yang mungkin juga bisa menjadi penyebabnya. Contohnya, pada seseorang itu ada hormon tertentu di sistem saraf pusat yang disebut endorfin. Endorfin ini hormon yang menyebabkan perasaan senang, happy mood, dan sekaligus juga membuat orang kurang sensitif terhadap nyeri (obat seperti heroin dan morfin beraksi seperti endorfin). Hormon ini dapat turun kadarnya pada fase luteal dalam siklus haid. Karenanya, pada fase luteal ini kadang wanita merasa kurang happy dan nyeri-nyeri, seperti nyeri haid atau sakit kepala. Beberapa wanita dengan PMS juga menjadi bertambah berat badan atau sedikit membengkak. Hal ini karena terjadi penahanan air di dalam tubuh. Hormon tadi dapat mempengaruhi ginjal, yang mengatur keseimbangan air dan garam dalam tubuh. Kelebihan air dalam tubuh ini kadang juga bisa menyebabkan gejala PMS, terutama berat badan bertambah, sehingga meningkatkan persepsi negatif dan memperburuk kondisi emosi seorang wanita. Siklus hormonal juga mempengaruhi kadar serotonin, suatu senyawa kimia di otak yang mengatur banyak fungsi, termasuk mood dan sensitivitas terhadap nyeri. Jika dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami PMS, wanita dengan PMS memiliki kadar serotonin otak yang lebh rendah pada fase luteal ini. Rendahnya kadar serotonin terkait dengan terjadinya depresi. Teori lain yang mencoba menjelaskan PMS melibatkan prostaglandin, suatu senyawa kimia tubuh yang merupakan mediator inflamasi/radang. Prostaglandin dihasilkan di area-area dimana terjadi PMS, seperti payudara, otak, saluran reproduksi, ginjal, saluran cerna. Ia diduga

berkonntribusi terhadap gejala-gejala PMS seperti kram, payudara sakit, diare, atau konstipasi/sembelit.

2.3 Tipe dan Gejala Pre-Menstrual Syndrome (PMS)


Tipe PMS bermacam-macam menurut Dr. Guy E.Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA, AS, membagi PMS menurut gejalanya yakni PMS tipe A, H, C, dan D. Delapan puluh persen gangguan PMS termasuk tipe A. Penderita tipe H sekitar 60%, PMS C 40%, dan PMS D 20%. Kadang-kadang seorang wanita mengalami gejala gabungan, misalnya tipe A dan D secara bersamaan. Setiap tipe memiliki gejalanya sendiri: 1.PMS tipe A(anxiety) Ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil. Bahkan beberapa wanita mengalami depresi ringan sampai sedang saat sebelum mendapat haid. Gejala ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesterone. Hormon estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon progesteron. Pemberian hormon progesteron kadang dilakukan untuk mengurangi gejala, tetapi beberapa peneliti mengatakan, pada penderita PMS bisa jadi kekurangan vitamin B6 dan magnesium. Penderita PMS A sebaiknya banyak mengkonsumsi makanan berserat dan mengurangi atau membatasi minum kopi. 2.PMS tipe H (hyperhydration) Memiliki gejala edema(pembengkakan), perut kembung, nyeri pada buah dada,

pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat badan sebelum haid. Gejala tipe ini dapat juga dirasakan bersamaan dengan tipe PMS lain. Pembengkakan itu terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan di luar sel (ekstrasel) karena tingginya asupan garam atau gula pada diet penderita. Pemberian obat diuretika untuk mengurangi retensi (penimbunan) air dan natrium pada tubuh hanya mengurangi gejala yang ada. Untuk mencegah terjadinya gejala ini penderita dianjurkan mengurangi asupan garam dan gula pada diet makanan serta membatasi minum

sehari-hari. 3.PMS tipe C (craving) Ditandai dengan rasa lapar ingin mengkonsumsi makanan yang manis-manis

(biasanya coklat) dan karbohidrat sederhana (biasanya gula). Pada umumnya sekitar 20 menit setelah menyantap gula dalam jumlah banyak, timbul gejala hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing kepala yang terkadang sampai pingsan. Hipoglikemia timbul karena pengeluaran hormon insulin dalam tubuh meningkat. Rasa ingin menyantap makanan manis dapat disebabkan oleh stres, tinggi garam dalam diet makanan, tidak terpenuhinya asam lemak esensial (omega 6), atau kurangnya magnesium. 4.PMS tipe D(depression) Ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa,

bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata (verbalisasi), bahkan kadang-kadang muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Biasanya PMS tipe D berlangsung bersamaan dengan PMS tipe A, hanya sekitar 3% dari selururh tipe PMS benar-benar murni tipe D. 5.PMS tipe D Murni disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen, di

mana hormone progesteron dalam siklus haid terlalu tinggi dibandingkan dengan hormone estrogennya. Kombinasi PMS tipe D dan tipe A dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu stres, kekurangan asam aminotyrosine, penyerapan dan penyimpanan timbal di tubuh, atau kekurangan magnesium dan vitamin B (terutama B6). Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 dan magnesium dapat membantu mengatasi gangguan PMS tipe D yang terjadi bersamaan dengan PMS tipe A. Pada hari pertama atau satu hari menjelang datang bulan, banyak wanita yang mengeluh sakit perut atau tepatnya kram perut. Gangguan kram perut ini tidak termasuk PMS walaupun ada kalanya bersamaan dengan gejala PMS. Kram pada waktu haid atau nyeri haid merupakan suatu gejala yang paling sering. Gangguan nyeri yang hebat, atau dinamakan

dismenorea, sangat mengganggu aktivitas wanita, bahkan acap kali mengharuskan penderita beristirahat bahkan meninggalkan pekerjaannya selama berjam-jam atau beberapa hari.Dismenorea memang bukan PMS.Dismenorea primer umumnya tidak ada hubungannya dengan kelainan pada organ reproduksi wanita dan hanya terjadi sehari sebelum haid atau hari pertama haid. Nyeri perut ini juga tidak ada hubungannya dengen PMS yang mulai terasa 10 14hari sebelum haid. Gejala malah hilang begitu haid datang. Kalaudismenorea membaik atau bahkan hilang sama sekali setelah seseorang melahirkan, tidak demikian dengan PMS. Wanita yang pernah melahirkan malah berisiko lebih tinggi menderita PMS. Yang perlu diketahui : y Kurangi Stres Perhatikan jadwal kerja Anda, apakah saat ini Anda dikejar tenggang waktu soal pekerjaan Anda. Bila saja Anda perhatikan, adanya stres kerja ini dapat membuat menstruasi Anda terlambat. y Tidak sebanyak yang anda pikirkan Anda tidak perlu takut kehilangan jumlah darah terlalu banyak. Secara rata-rata, setiap bulannya seorang wanita hanya kehilangan sekitar 3 ons darah. y Lama atau Sebentar itu Normal kebanyakan wanita akan mengeluarkan darah sekitar dua hari sampai tujuh hari. Bila menstruasi Anda lebih dari delapan hari, itu belum tergolong masalah besar. y Terjadi Pembuahan Kebanyakan wanita hanya mengalami ovulasi sekali dalam sebulan, sekitar 14 hari sebelum datang mensturasi. Pembuahan memang hanya berlangsung selama satu atau dua hari saja, tetapi karena sperma dapat hidup sampai tujuh hari di dalam vagina, Anda harus pencegah kehamilan. menggunakan

Menghitung Siklus Saat Anda mendapatkan menstruasi di hari pertama, itu merupakan hari pertama Anda memasuki siklus menstruasi. Jadikanlah hari itu sebagai patokan untuk siklus berikutnya. Siklus yang normal berlangsung sekitar 21 hari hingga 35 hari.

2.4 Pencegahan Pre-Menstrual Syndrome (PMS)


Di bawah ini ada beberapa cara mengurangi gejala PMS: 1. Pengaturan makan/diet : untuk mengurangi kembung dan penahanan air dalam tubuh, hindari makanan bergaram tinggi, terutama seminggu sebelum haid; cukupi kebutuhan vitamin dan mineral , seperti : Vitamin E, vitamin B, kalsium, Magnesium (dapat diperoleh dari makanan misalnya kacang-kacangan, gandum, sayuran hijau, seafood dan daging). Pencegahan PMS (sindrom pra-menstruasi) dapat dilakukan melalui diet yang tepat dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: y Batasi kosumsi makanan tinggi gula, tinggi garam, daging merah(sapi dan kambing), alkohol, kopi, teh, coklat, serta minuman bersoda. y y y Kurangi rokok atau berhenti merokok. Batasi konsumsi protein (sebaiknya sebanyak 1,5 gr/kg berat badan per orang). Meningkatkan konsumsi ikan, ayam, kacang-kacangan, dan biji-biji-bijian sebagai sumber protein. y Batasi konsumsi makanan produk susu dan olahannya (keju, es krim, dan lainnya) dan gunakan kedelai sebagai penggantinya. y Batasi konsumsi lemak dari bahan hewani dan lemak dari makanan yang digoreng lanjutan y y Meningkatkan konsumsi sayuran hijau. Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung asam lemak esensial linoleat seperti minyak bunga matahari, minyak sayuran.

Konsumsi vitamin B kompleks terutama vitamin B6, vitamin E, kalsium, magnesium juga omega-6 (asam linolenat gamma GLA).

Di samping diet, perhatikan pula hal-hal berikut ini untuk mencegah munculnya PMS:

y y y

Melakukan olahraga dan aktivitas fisik secara teratur. Menghindari dan mengatasi stres. Menjaga berat badan. Berat badan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko menderita PMS.

Catat jadwal siklus haid Anda serta kenali gejala PMS-nya.

Perhatikan pula apakah Anda sudah dapat mengatasi PMS pada siklus-siklus datang bulan berikutnya

2. Latihan aerobik dan relaksasi 3. Menggunakan obat. Beberapa obat yang dapat digunakan antara lain adalah obat anti radang dan penghilang nyeri. Parasetamol dan ibuprofen, merupakan pilihan yang cukup aman untuk mengatasi nyeri haid, sakit kepala, sakit payudara, dll. Kedua, golongan obat penenang dan anti depresan, tapi ini hanya jika sangat diperlukan, misalnya pada PMDD, dan harus diperoleh dengan resep dokter. Contohnya: diazepam (Valium), alprazolam, fluoksetin, sertralin. Ketiga, diuretik, yaitu untuk meningkatkan pengeluaran urin. Ini akan membantu mengurangi cairan tubuh sehingga mengatasi gejala PMS seperti kembung, payudara bengkak, atau peningkatan berat badan. Tapi ini pun harus diperoleh dengan resep dokter.

Untuk mengurangi beberapa kondisi yang tidak nyaman menjelang SPM, coba lakukan beberapa hal di bawah ini : y Buatlah semacam diary atau jurnal yang mencatat kapan gejala-gejala itu muncul. Dengan demikian, Anda mempunyai patokan waktu yang tepat untuk mengatasinya. y Agar sehat, makanlah sedikit tetapi sering. Jika Anda menderita konstipasi, konsumsilah bahan makanan yang mengandung banyak serat. y Saat sedang minum obat diuretik, biasanya Anda akan lebih sering buang air kecil yang memungkinkan mineral penting ikut terbuang. Karena itu, tambah makanan yang mengandung potassium (buah, makanan laut, kacang-kacangan), juga makanan, minuman ekstra atau suplemen yang mengandung vitamin B dan C. y Untuk mengurangi terjadinya penumpukan cairan, sebisa mungkin kurangi garam dalam makanan Anda. Garam bisa menyerap air dan hal ini dapat meningkatkan pembengkakan. y Perbanyak waktu istirahat untuk menghindari kelelahan. Selain itu cobalah menghindari situasi yang bisa membuat Anda stres. y Coba bicarakan perasaan Anda kepada sahabat yang dapat percaya dan dapat mendengarkan keluhan Anda. Pastikan pula keluarga tahu mengenai kondisi Anda. y Cobalah minum beberapa ramuan tumbuhan tertentu yang telah terbukti membantu meningkatkan kesehatan wanita, misalnya kunyit asam, dan lain-lain. Untuk mengatasi rasa nyeri yang hebat, seperti dysmernorrhoea, cobalah aspirin untuk meringankannya. y Cobalah lakukan olahraga seperti berenang dan berjalan kaki. Tarik nafas dalam- dalam lalu buang secara perlahan juga dapat membantu Anda meringankan rasa tidak nyaman. Juga, tak ada salahnya mencoba melakukan relaksasi.