Anda di halaman 1dari 37

www.umamnoer.co.

cc – spread your wings and soar

NGAMBON:
Profil Desa Yang Sedang Berubah, Antara Mobilitas
Penduduk, Okupasi Lahan, dan Permasalahan
Tenaga Kerja

Diajukan sebagai Laporan Akhir Mata Kuliah Antropologi Pedesaan daan


Metode Penelitian Antropologi, di Desa Ngambon, Kecamatan Ngambon,
Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur

Disusun oleh:

Fajar Alam Pawaka 070316858


Ani Pamungkas 070316962
Devinta Friyandina 070316972
Khaerul Umam N 070317043
Uswatun Hasanah 070317044
M. Choyruddin 070317067
Indraini Puji Lestari 070317086

JURUSAN ANTROPOLOGI SOSIAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2006

 1 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Desa adalah unit terkecil dalam kehidupan bernegara, desa


merupakan tempat tinggal sekelompok orang yang umumnya masih
memiliki hubungan kekerabatan. Meskipun banyak desa-desa di Jawa
yang tidak lagi homogen, namun tidak sedikit yang tetap memiliki
hubungan kekerabatan yang kuat. Tidak dapat dipungkiri, hampir tidak
ada desa yang benar-benar homogen dan/atau tetap seperti dahulu.
Adanya modernisasi dan dukungan dari pemerintah akhirnya membuat
desa tidak pernah sama seperti sebelumnya.

Salah satu isu terpenting dalam jagat politik di desa adalah otonomi
desa. Desa tidak hanya merupakan unit administratif, namun juga
merupakan unit dari suatu entitas kultural (Santoso, 2003:23).
Berfungsinya lembaga-lembaga sosial, politik dan pemerintahan mengacu
pada konteks kultural. Hal ini berarti bahwa otonomi desa tidak hanya
memiliki dimensi administratif, namun juga memiliki dimensi kultural.

Meskipun desa merupakan suatu daerah administratif terkecil,


namun desa sebagai suatu entitas kultural tidak boleh dipandang sebelah
mata. Desa dan permasalahannya merupakan suatu gambaran dari
masalah yang lebih kompleks, dalam hal ini negara. Secara teori, salah
satu cara untuk 'membantu' desa untuk maju adalah penggunaan sumber
daya alam yang ada dipergunakan semaksimal mungkin untuk menolong
desa itu sendiri. Namun demikian, ternyata tidak semudah itu
memperbaiki keadaan desa.

Demografi, topografi, dan keadaan iklim seringkali menjadi faktor


pembatas dalam pengelolaan sumber daya alam di desa. Ketika kondisi
wilayah akhirnya menjadi faktor pembatas, hal ini justru mendorong
penduduk untuk memilih bentuk ekonomi dan pertanian yang berbeda

 2 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

yang tentunya sesuai dengan kondisi lahan yang ada pada mereka, yakni
dengan pergeseran okupasi lahan. Selain itu, tidak sedikit yang justru
keluar dari sektor pertanian dan memilih untuk bekerja dibidang lain.

Meskipun kehidupan desa tidak pernah sama dengan sebelumnya,


terutama dengan semakin mudahnya sarana transportasi dan semakin
mobilnya penduduk desa. Mobilitas penduduk telah menjadi suatu hal
yang umum terjadi di desa-desa. Mobilitas hanyalah sebagian kecil dari
perkembangan yang terjadi di desa-desa, lebih dari itu, banyak
permasalahan yang telah ada dan berkembang di desa, seperti masalah
kemiskinan dan ekonomi, okupasi lahan, dan pergerakan tenaga kerja.
Kesemuanya pada akhirnya membentuk suatu konfigurasi desa yang
sangat jauh berbeda dengan keadaan yang stabil, yang sering
digambarkan orang tentang desa, dan akan membawa perubahan yang
signifikan terhadap keadaan desa tersebut.

Desa dan segala permasalahannya merupakan suatu bentuk nyata


dari pergolakan yang ada di desa. Salah satu masalah yang ada adalah
pertanian. Tawney (dalam Scott, 1981:1) mengatakan bahwa "Ada
daerah-daerah dimana posisi penduduk pedesaan ibarat orang yang
selamanya berdiri terendam dalam air hingga ke leher, sehingga ombak
yang kecil sekalipun sudah cukup untuk menenggelamkannya." Hal ini
mungkin gambaran yang sangat umum mengenai kehidupan penduduk
desa. Di satu sisi mereka terhimpit oleh berbagai persoalan yang mereka
hadapi, dan di sisi lain, mereka harus bekerja keras untuk menjaga
eksistensi mereka.

I.2. Fokus Penelitian

Fokus penelitian dibuat agar penelitian ini tidak hanya mencari data
dilapangan sebanyak-banyaknya tanpa adanya suatu kerangka masalah.
Adapun fokus penelitian ini adalah:

Bagaimana kondisi Desa Ngambon, dilihat dari sisi ekonomi,


okupasi lahan pertanian, dan masalah tenaga kerja. Selain itu juga akan

 3 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

dibahas faktor-faktor lain yang mendorong perubahan dan permasalahan


umum yang ada di Desa Ngambon .

I.3. Tujuan Penelitian

Dalam hal ini, tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah


sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan berbagai hal yang ada di Desa Ngambon; dan

2. Menganalisa berbagai permasalah yang ada di Desa Ngambon.

I.4. Kerangka Teori

Definisi desa menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979


adalah "suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai
kesatuan masyarakat termasuk didalamnya kesatuan masyarakat hukum,
yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah
Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam
ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia." Dari definisi ini dapat dilihat
bahwa definisi yang diberikan pada desa sebagai wilayah administratif,
dan melupakan desa sebagai suatu entitas kultural yang sebenarnya jauh
lebih penting. Sebagai suatu entitas kultural, desa lebih dapat dilihat dari
berbagai permasalahan yang dihadapi.

Desa Ngambon, Kecamatan Ngambon, Kabupaten Bojonegoro


terletak didaerah ketinggian, dengan demikian, tidak memungkinkan
adanya aliran air sepanjang waktu. Untuk mengatasi masalah tersebut,
maka perilaku adaptif merupakan jawaban yang paling memungkinkan.
Adaptasi mengacu pada proses interaksi antara perubahan yang
ditimbulkan oleh organisme pada lingkungannya dan perubahan yang
ditimbulkan oleh lingkungan pada organisme (Havilland, 1988:3-7).
Manusia beradaptasi melalui medium kebudayaan, pada saat
mengembangkan cara-cara untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan
sumber daya yang mereka miliki dan juga dalam batas-batas lingkungan
tempat mereka hidup.

 4 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Dalam ekologi desa, seringkali masyarakat menjadi sangat


bergantung pada alam. Adanya relung ekologis yang khas dibeberapa
tempat menyebabkan daerah tersebut sangat rawan terhadap resiko-
resiko subsistensi. Dapat dikatakan bahwa masalah yang dihadapi
keluarga petani adalah bagaimana dapat menghasilkan beras yang cukup
untuk makan sekeluarga, untuk membeli beberapa barang kebutuhan, dan
untuk memenuhi tagihan-tagihan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dari
pihak-pihak luar (Scott, 1981:4).

Masyarakat Desa Ngambon bermatapencaharian sebagai petani-


peladang, hal ini dapat dilihat dari komoditas yang mereka tanam. Dari sisi
topografi yang cenderung kering, maka tidak mengherankan jika
masyarakat lebih memilih untuk menanam komoditas yang tahan dalam
kondisi tersebut, yaitu padi gogo dan jagung. Selain itu mereka tidak
selalu bergantung pada komoditas tersebut. Merekan juga menanam
pisang, ketela, dan kacang-kacangan sebagai komoditas lain. Mereka
memiliki pengetahuan mengenai siklus musim yang disesuaikan dengan
tanaman yang akan mereka tanam, mereka juga telah memiliki suatu
acara yang secara ekonomi sangat menguntungkan, yakni Pasar Legi,
dimana berbagai komoditas yang mereka tanam dijual dipasar tersebut.

Goodenough menyatakan, budaya adalah sistem pengetahuan dan


kepercayaan yang disusun sebagai pedoman manusia dalam mengatur
pengalaman dan persepsi, menentukan tindakan dan memilih diantara
alternatif yang ada (Keesing, 1989:68). Kebudayan adalah keseluruhan
pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk sosial; yang
isinya adalah perangkat-perangkat model-model pengetahuan yang
secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasi
lingkungan yang dihadapi, dan untuk mendorong dan menciptakan
tindakan-tindakan yang diperlukannya (Suparlan, 1986:8).

Dari definisi diatas, kebudayaan merupakan perangkat model


pengetahuan untuk menginterpretasi lingkungan dan pendorong untuk
menciptakan tindakan yang diperlukan. Tindakan-tindakan yang dipilih

 5 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

oleh sebagian besar warga merupakan cara yang dianggap mereka paling
sesuai dengan lingkungan dan kebudayaannya. Dengan demikian, salah
satu cara 'memanipulasi' kemampuan guna memenuhi kebutuhan sehari-
hari adalah dengan menyesuaikan diri. Hal ini dapat secara jelas dilihat
pada masyarakat Desa Ngambon, bahwa mereka lebih memilih untuk
menanam komoditas yang tahan kering, dan hal tersebut merupakan
bagian dari kebudayaan yang mereka miliki.

Tidak dapat dipungkiri, adanya tekanan dari alam akan


menyebabkan masyarakat untuk beradaptasi dengan hal tersebut. Bagi
Scott (1981:7), satu hal yang khas bahwa yang dilakukan oleh petani
adalah berusaha menghindari kegagalan yang akan menghancurkan
kehidupannya dan bukan berusaha memperoleh keuntungan besar
dengan mengambil resiko. Tindakan tersebut merupakan keputusan
'enggan resiko' (risk-averse) yang meminimumkan kemungkinan subyektif
dari kerugian maksimum. Selain itu juga adanya prinsip 'dahulukan
selamat' (safety first) yang memungkinkan terjaganya eksistensi mereka,
meskipun dalam banyak hal para petani enggan untuk menerima
pembaruan, kecuali bahwa mereka tahu dan mereka yakin dengan
pembaruan tersebut akan memberikan keuntungan bagi mereka.

Adanya tekanan alam dan pihak luar dalam bidang pertanian pada
gilirannya akan berpengaruh pada berbagai aspek lain dalam kehidupan
di Desa Ngambon. Tidak sedikit dari golongan muda di desa tersebut
beralih pilihan, dan tidak lagi memilih untuk bertani. Meskipun pilihan
tersebut tidak hanya karena alasan alam, namun merupakan akumulasi
dari berbagai faktor. Mobilitas penduduk, tekanan ekonomi, dan semakin
majunya tingkat pendidikan menjadi pendorong atas hal tersebut.
Keengganan para generasi muda pada akhirnya akan menyisakan
golongan tua untuk bekerja dilahan pertanian mereka, bahkan secara
umum, telah terjadi pergeseran tidak hanya dalam bidang pertanian,
namun juga bidang-bidang lainnya.

 6 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Desa Ngambon mungkin sedang dalam perjalanan menuju krisis


tenaga kerja dan juga, mungkin, kepemilikan lahan. Bahwa alam telah
'menakdirkan' desa tersebut dalam kondisi yang kering tidak serta-merta
menyurutkan keinginan masyarakat untuk mengeksplorasi alam,
meskipun dalam berbagai hal banyak yang menjadi kendala. Eksplorasi
alam akan berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi masyarakat desa.
Kemiskinan merupakan suatu gejala sosial, dimana banyak pihak yang
tidak mampu menggunakan sumber daya yang ada untuk memenuhi
kebutuhan mereka.

I.5. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode partisipasi observasi yang


bertujuan untuk memberikan deskripsi yang menyeluruh tentang gejala
yang ada di suatu komunitas. Metode partisipasi observasi berarti
berpartisipasi dalam banyak aspek kehidupan masyarakat, dan
mengamati tingkah laku banyak warga dari kelompok masyarakat yang
bersangkutan, dan memahami suatu pandangan hidup dari sudut
pandang penduduk (Spradley, 1997:3). Dalam program perubahan
kebudayaan terencana, di mana faktor-faktor sosial, psikologi dan budaya
hampir tak terbatas dan tak di ketahui dengan jelas, pendekatan yang
eksploratif dengan tujuan terbuka menghasilkan hal-hal yang sering kali
penting. Oleh karena itu, penelitian partisipasi observasi melibatkan
belajar mengenai dunia orang yang telah belajar melihat, mendengar,
berbicara, berpikir dan bertindak dengan cara yang berbeda-beda,
sehingga si peneliti sedikit-banyak akan mengerti mengenai dunia orang-
orang tersebut.

I.5.1 Pemilihan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian terketak di Desa Ngambon, Kecamatan


Ngambon, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini dipilih
karena beberapa alasan, yaitu:

Pertama, selama ini penelitian yang dilakukan di pedesaan di Jawa


lebih pada daerah pertanian basah dengan air melimpah sepanjang tahun,

 7 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

dan hal ini mendorong kami untuk meneliti di daerah dengan sistem
pertanian tadah hujan. Daerah yang kering jelas lebih sulit untuk
bercocok-tanam, dan hal ini membutuhkan adaptasi yang lebih keras
ketimbang daerah dengan air yang melimpah.

Kedua, adalah kewajiban bagi kami untuk melaksanakan kuliah


lapangan di salah satu desa yang dipilih secara mufakat, dan Bojonegoro
dapat dikatakan merupakan daerah yang jarang dijadikan tujuan penelitian
antropologi.

I.5.2. Teknik Penentuan Informan

Informan adalah orang-orang yang diharapkan mengetahui tentang


hal-hal yang menjadi fokus penelitian (Dyson, 1997:5). Oleh karena itu,
orang-orang yang dijadikan informan adalah mereka ynag telah lama
menetap dan mengalami enkulturasi penuh (proses pembudidayaan alami
pada lingkungan tertentu). Pemilihan informan dilakukan secara purposive
agar mendapatkan informasi yang sesuai dengan penelitian.
Koentjaraningrat (1994:130) menyatakan bahwa ketika kali pertama
peneliti datang, maka yang harus dicari adalah informan pangkal yang
dapat menunjukkan tentang adanya individu lain dalam masyarakat yang
dapat memberikaan informasi tentang fokus yang di inginkan. Selain itu,
juga terdapat informan kunci yaitu orang-orang yang mempunyai
kemampuan dan ahli tentang sektor-sektor masyarakat atau unsur-unsur
kebudayaan yang ingin diketahui.

Penelitian ini mengambil Kepala Desa Ngambon sebagai informan


kunci, dan juga para staff dikelurahan Ngambon. Selain itu, penelitian ini
juga mengambil berbagai informan dengan berbagai latar ekonomi, seperti
pedagang, petani, pemilik warung, dan juga para penduduk dengan
berbagai latar usia. Pengambilan informan bertujuan untuk mengetahui
jawaban dari berbagai masalah yang kami jadikan sebagai topik
penelitian.

I.5.3. Teknik Pengumpulan Data

 8 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Data diperoleh dengan cara studi lapangan yang hasilnya


dipergunakan sebagai data utama dan studi pustaka sebagai data
pelengkap. Data dikumpulkan melalui beberapa teknik tahapan
pengumpulan data, yaitu:

I.5.3.a. Observasi

Observasi atau pengamatan bertujuan melihat perilaku nyata atau


faktual dan keadaan lingkungan serta benda-benda fisik (Dyson, 1997:4).
Pengamatan merupakan metode yang pertama-tama digunakan dalam
melakukan penelitian ilmiah, yang pada mulanya diarahkan kepada usaha
untuk memperoleh sebanyak mungkin pengetahuan mengenai lingkungan
alam manusia (Bachtiar, 1994:109-110).

Observasi atau pengamatan secara langsung, dilakukan peneliti


sejak awal datang, dan masuk dalam kehidupan penduduk meskipun tidak
terlalu lama. Hal ini menyebabkan para peneliti sedikit-banyak mengetahui
apa yang dirasakan oleh subyek yang secara langsung merupakan
sumber data bagi peneliti. Biasanya, dalam mempelajari hubungan antar
manusia, kegiatan manusia dalam hubungan mereka satu sama lain,
harus di amati ditempat mereka dijumpai (Bachtiar, 1994:119).

I.5.3.b. Wawancara

Teknik wawancara menurut Lincoln dan Gulba, dimaksudkan untuk


mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi,
perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain (Moleong,
1993:135). Peneliti melakukan wawancara dengan para penduduk, Kepala
Desa dan staff, meskipun tidak mendalam (indepth interview) dan tidak
terlalu menggunakan pedoman wawancara. Hal ini dikarenakan karena
peneliti lebih menggunakan wawancara spontan untuk mengetahui
berbagai hal mengenai masalah yang kami jadikan topik. Pedoman
wawancara memang telah kami buat, dan kami gunakan ketika
mewawancarai Kepala Desa Ngambon, sedangkan bagi penduduk, kami
tidak terlalu terpaku pada pedoman yang telah kami buat.

 9 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Wawancara dengan Kepala Desa dilakukan di Kantor Kelurahan


dan rumah Kepala Desa, sedangkan wawancara dengan penduduk
dilakukan ditempat dimana penduduk tersebut berada pada waktu
wawancara, seperti wawancara para pedagang di pasar, dan para petani
dilahan mereka masing-masing.

I.5.3.c. Bahan Dokumen

Peneliti juga menggunakan data yang telah tersedia dan dapat


langsung digunakan berupa monografi desa Ngambon. Dalam hal ini,
dokumentasi termasuk data pelengkap yang digunakan peneliti.

I.5.4 Teknik Analisa Data

Teknik data tidak dimaksudkan untuk membuat atau membuktikan


hipotesis yang telah dirumuskan sebelum penelitian diadakan atau
hipotesis yang ada sebelumnya, analisis ini merupakan pembentukan
abstraksi berdasarkan bagian-bagian yang telah dikumpulkan, kemudian
dikelompok-kelompokkan (Moleong, 1993:5-6). Data dan/fakta adalah
suatu pernyataan, rumusan atau istilah dalam rangka pemikiran tertentu
yang dapat dibuktikan ada atau tidak ada dalam kenyataan (Bachtiar,
1994:112).

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang


tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang
telah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen resmi, gambar, peta
dan lain sebagainya. Kemudian data-data itu diberi kode sesuai dengan
kategori yang dibuat berdasarkan kepentingan penelitian dan konsep yang
di ilustrasikan oleh informan. Kemudian dari kategori konseptual yang
telah dibuat, disusun menjadi suatu struktur agar mudah melihat
hubungan-hubungan yang terjadi antara kategori-kategori tersebut dan
mempermudah interpretasi.

 10 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

BAB II
PROFIL DESA NGAMBON

II.1. Lokasi Desa

Desa Ngambon terletak di Kecamatan Ngambon, Kabupaten


Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Luas desa sebesar ± 289.975 ha.
Ketinggian tanah berada berada pada ketinggian ± 371 dpl, dengan suhu
udara rata-rata 25-30 ºC. Jarak dari Ibu Kota Kabupaten ± 45 km,
sedangkan dari Ibu Kota Provinsi ± 153 km. Desa Ngambon di batasi oleh:

Sebelah utara :Desa Kacangan, Tambak Rejo

Sebelah Selatan :Desa Nglampin, Kecamatan Ngambon

Sebelah Timur :Desa Bondol, Kecamatan Ngambon

Sebelah Barat :Desa Setren dan Mediyunan, Kecamatan


Ngasem

II.2. Pertanahan dan Peruntukan

Dengan luas wilayah sebesar ± 289,974 ha, Desa Ngambon


memiliki status sebagai Tanah Kas Desa sebesar ± 25,585 ha dan tanah
desa lainnya sebesar ± 18,094 ha. Dengan luas tanah sedemikian besar,
desa ini memiliki peruntukan tanah sebagai berikut:

a. Jalan : 3,100 km

b. Sawah dan Ladang : 129,195 ha

c. Bangunan Umum : 3,430 ha

d. Lapangan Olah Raga : 1,000 ha

e. Pemakaman : 3,450 ha

f. Lain-lain : 5,260 ha

Berbagai peruntukan tanah di Desa Ngambon tidak hanya untuk


berbagai keperluan sebagaimana di atas, namun juga memiliki
penggunaan yang tidak jauh berbeda. Penggunaan lahan seperti berikut:

 11 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

a. Industri : 0,260 ha

b. Perkantoran : 2,774 ha

c. Pasar Desa : 1,500 ha

d. Tanah Wakaf : 0,95 ha

e. Tanah Sawah:

- Irigasi Tadah Hujan : 76,010 ha

f. Tanah Kering:

- Pekarangan : 47,236 ha

- Tegalan : 53,185 ha

g. Tanah yang Belum dikelola:

- Hutan Negara : 95,450 ha

Dari peruntukan dan penggunaan lahan, dapat diketahui bahwa


sesuai dengan kondisi topografinya, Desa Ngambon terletak didaerah
ketinggian, maka sistem pertaniannya lebih pada tadah hujan. Hal ini juga
dibuktikan dengan jumlah tanah sawah dengan irigasi tadah hujan
sebesar ± 76,010 ha, lebih besar jika dibandingkan tanah pekarangan
(± 47,236 ha) dan tegalan (± 53,185). Irigasi model ini akan berpengaruh
terhadap komoditas tanamaan yang dapat ditanam. Yang cukup menarik
adalah adanya tanah berupa hutan negara, yang jumlahnya lebih besar,
yakni sekitar ± 95,450 ha, adanya hutan ini dapat dilihat dengan
ditanaminya dengan pohon jati.

II.3. Kependudukan dan Pertanian-Perkebunan

Penduduk Desa Ngambon berjumlah 2498 jiwa, dengan Kepala


Keluarga sebanyak 630 kk. Ada kejanggalan dalam jumlah penduduk di
desa ini. Jika dilihat dari jumlah WNI sebesar 2558 jiwa sedangkan jumlah
penduduk tertulis 2498, berarti terdapat selisih hingga 60 jiwa. Adapun
perincian jumlah penduduk seperti dibawah ini:

 12 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Penduduk Jumlah
Laki-laki 1.296 orang
Perempuan 1.202 orang
Jumlah total 2.498 orang
Sumber: Monografi Desa Ngambon (2004), diolah

Dengan jumlah penduduk sebesar 2.498 orang, penduduk desa ini


hanya menganut agama Islam dan Kristen, sebagaimana dibawah:

Tabel 2. Jumlah Penduduk Menurut Agama

Agama Jumlah
Islam 2554 orang
Kristen 4 orang
Budha - orang
Hindu - orang
Total 2558 orang
Sumber: Monografi Desa Ngambon (2004), diolah

Masyarakat Desa Ngambon, sebagaimana desa lainnya memiliki


berbagai matapencaharian, namun yang terbesar adalah petani. Hal ini
dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Matapencaharian

Matapencaharian Jumlah
Karyawan/PNS 92 orang
Wiraswasta/pedagang 83 orang
Petani Belum terdata dengan pasti
Pertukangan 59 orang
TNI/Polri 8 orang
Lain-lain 122 orang
Jumlah total 364 orang
Sumber: Monografi Desa Ngambon (2004), diolah.

 13 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Meskipun data tabel diatas agak membingungkan, namun


berdasarkan pengakuan salah satu pegawai desa dan beberapa informan,
dapat diketahui bahwa mayoritas penduduk bermatapencaharian sebagai
petani, terutama para petani dengan usia tua. Sangat disayangkan tidak
ada data jumlah penduduk berdasarkan usia. Jumlah penduduk yang
tersisa dari tabel tersebut ada sekitar 2.194 orang, dan dari jumlah ini
masih terdapat keterangan yang masih rancu, apakah semuanya petani,
atau bercampur dengan pengangguran, misalnya.

Dengan asumsi bahwa mayoritas matapencaharian penduduk


Desa Ngambon sebagai petani, hal ini didukung dengan adanya data
jumlah pertanian dan perkebunan. Data pertanian dan perkebunan seperti
berikut:

Tabel 4. Pertanian di Desa Ngambon

Pertanian Jumlah
Padi & palawija 76.010 ha
Sayur-sayuran 16.130 ha
Buah-buahan 31.106 ha
Total 123.246 ha
Tabel 5. Perkebunan di Desa Ngambon

Perkebunan Jumlah
Jumlah usaha perkebunan 19 buah
Jumlah luas usaha perkebunan 53.185 ha
Sumber: Monografi Desa Ngambon (2004), diolah

Tabel 4, data pertanian dengan jumlah ± 123.246 ha merupakan


akumulasi dari tanah sawah irigasi tadah hujan (± 76.010 ha) dan tanah
kering pekarangan (± 47.236 ha), sedangkan perkebunan dengan luas
53.185 ha merupakan tanah kering tegalan dengan jumlah yang sama.
Data yang lebih lengkap dapat dilihat di monografi pertanian Desa
Ngambon tahun 1995-1996, seperti dibawah:

Tabel 6. Monografi Pertanian Desa Tahun 1995-1996

 14 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Sektor Populasi Produksi


1. Pangan
a. tanaman pangan
Padi (ha) 95,7 5,5 ton/ha
Jagung (ha) 138,0 1,2 ton/ha
Kedelai (ha) 42,6 1,1 ton/ha
Ubi Kayu (ha) 41,0 20,0 ton/ha
b. tanaman produksi
Mangga (pohon) 1483 buah 200 kg/pohon
Pisang (pohon) 8975 buah 15 kg/pohon
c. sayuran
Lombok (ha) 8,2 2 ton/ha
Terong (ha) 5,0 6 ton/ha
Tomat (ha) 3,4 3 ton/ha
Kacang panjang (ha) 3,8 4 ton/ha
2. Peternakan
Sapi 263 ekor
Kambing/domba 1656 ekor
Ayam buras/kampung 5674 ekor
Ayam ras -
Itik 329 ekor
3. Perkebunan
Tembakau 26 ha 4 ton/ha
Kelapa 144 pohon 21 butir/phn
Empon-empon/toga 2534 m² 2-5 kg/m²
4. Perikanan
Ikan lele 210 m² 5-6 kg/ m²
Tombro 16 m² 5 kg/ m²
Sumber: Monografi Pertanian Desa Ngambon 1995-1996, diolah

Selain beberapa data mengenai peruntukan lahan dan


matapencaharian, di Desa Ngambon juga terdapat sarana pendidikan,

 15 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

baik pendidikan umum maupun pendidikan khusus, selengkapnya di


bawah ini:

Tabel 7. Sarana Pendidikan di Desa Ngambon

Pendidikan Gedung Guru Murid


A. Pendidikan Umum
Kelompok bermain - - -
TK 1 2 66
SD 2 15 395
SMTP 1 33 570
SMTA 1 15 114
B. Pendidikan Khusus
Pondok pesantren - - -
Madrasah - - -
SLB - - -
Pendidikan non-formal - - -
TKA-TPA 1 6 66
Total 6 71 421
Sumber: Monografi Desa Ngambon (2004), diolah

Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa rata-rata masyarakat Desa


Ngambon telah menyadari mengenai pentingnya pendidikan bagi anak-
anak mereka. Pada gilirannya, pendidikan akan mengubah berbagai sendi
dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam bidang pengelolaan lahan.
Disayangkan tidak adanya data yang lengkap mengenai pekerjaan yang
terkait dengan tingkat pendidikan. Tidak hanya pendidikan yang akan
mengubah wajah Desa Ngambon, ada banyak faktor yang mempengaruhi
perjalanan desa ini kedepannya.

II.4. Tipe Fisik Bangunan

Mayoritas tipe rumah penduduk Desa Ngambon berdindin tembok


dan kayu atau papan, dengan berlantai tanah, adukan semen kasar, tegel
atau ubin keramik, dengan ukuran rumah yang cukup besar dan lapang.
Bentuk atap rumah rata-rata berbentuk limasan, meskipun ada beberapa

 16 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

yang tidak memiliki bentuk umum. Bagian dalam rumah dibagi menjadi
beberapa ruangan, yaitu ruang teras dan ruang tamu dibagian depan;
ruang keluarga dan ruang tidur dibagian dalam; dapur, ruang makan (ada
juga yang ruang makannya didalam bersama dengan ruang keluarga),
dan dapur di bagian belakang. Di samping dapur terkadang ada ruang
untuk gudang dan juga kandang, disamping rumah terletak ruang jemur,
dan terkadang juga ladang untuk menanam ketela dan kacang-kacangan.

Didepan rumah biasanya ditanam pohon mangga, pohon pepaya,


dan ppohon-pohon yang agak rindang. Disepanjang jalan utama juga
mudah ditemukan pohon jati, yang mungkin baru berusia sekitar 2-5
tahun. Beberapa pohon yang ditanam disekitar rumah adalah pohon-
pohon yang memiliki kegunaan, dan umumnya merupakan pohon yang
hasilnya untuk konsumsi sendiri, terkecuali pohon mangga. Pohon
mangga yang ditanam disekitar rumah umumnya buahnya dijual dalam
bentuk penjualan borongan, yakni pembeli berhak mengambil semua
buah yang ada dalam pohon tersebut, baik yang sudah matang maupun
yang masih mentah.

II.5. Pemerintahan Desa

Desa Ngambon dipimpin oleh Kepala Desa yang diperbantukan


oleh sekretaris desa dan Tata Usaha. Kepala Desa secara struktural
membawahi unsur pelaksana dan unsur wilayah. Unsur pelaksana adalah
unsur yang terkait dengan pemerintahan dan pembangunan, sedangkan
unsur wilayah adalah para Kepala Dusun yang menjadi penanggungjawab
bagi dusunnya masing-masing. Adapun struktur pemerintahan seperti
dibawah ini.
Bagan 1. Susunan Organisasi Pemerintahan Desa Ngambon

 17 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Kepala
Desa
Qaharrudin

Sekretaris
Desa
Wadjiman

Tata Usaha
Muhadi
Sutasim

Unsur Unsur
Pelaksana Wilayah

Pembangun
Pemerintahan Kerja Badegan Ngambon Karang
Nurdjidan
an
Sali Musli Dadji Sukurdi Tarbianto

 18 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

BAB III
NGAMBON: PROFIL DESA YANG SEDANG BERUBAH

III.1. Pertanian dan Mata Pencaharian Petani

Pertanian merupakan salah satu mata pencaharian terbesar.


Hampir seluruh masyarakat yang ada dibelahan dunia berkutat dalam
bidang ini. Dengan pertanian senbagai mata pencaharian, maka orang
yang berkecimpung didalamnya disebut dengan petani. Petani
didefinisikan sebagai orang-orang yang mengorganisasikan produksi
dengan status sebagai buruh-buruh tanpa gaji dalam suatu keluarga inti
dan kelompok kekerabatan yang erat. Selain itu, mereka memproduksi
hanya untuk kebutuhan konsumsi mereka sendiri atau menjual sebagian
produk-produk mereka ke pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi
mereka yang mengandung pengertian kultural, sehingga mereka dinilai
hampir swadaya dan swasembada dalam hal produksi dan konsumsi
(Lehman, 2000:739).

Acapkali terjadi perbedaan antara definisi petani sebagai kata ganti


orang atau label terhadap masyarakat pertanian dengan kata ganti sifat
yang menggambarkan sistem-sistem produksi pertanian. Dalam
kenyataannya, sangat sulit membedakan keduanya. Petani juag sering
kali disebut 'petani pedesaan', hal ini tentunya dirujuk pada suatu kondisi
dimana pertanian umumnya terletak di pedesaan, dan menafikan
kemungkinan bahwa daerah perkotaan pun masih terdapat 'petani'. Dalam
berbagai kondisinya, istilah petani selalu membawa katagori stratifikasi
sosial. Adanya petani dan petani buruh merupakan suatu kondisi yang
dimungkinkan. Dengan demikian, istilah 'petani pedesaan' hanya
menunjuk pada kepada suatu hubungan struktural yang asimetris antara
penghasil-penghasil surplus dan orang-orang yang berkuasa atau
controllers (Wolf, 1985:14).

Masyarakat Desa Ngambon sebagian besar bermata pencaharian


sebagai petani, matapencaharian yang lain diantaranya adalah pedagang,

 19 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

pengrajin, pertukangan, dan sektor jasa. Didalam melakukan pekerjaan


pertanian, banyak diantara mereka yang menggarap tanah pertaniannya
untuk dibuat lahan kering (tegalan), terutama mereka yang hidup didaerah
pegunungan dan perbukitan. Padi merupakan tanaman utama, disamping
itu, terdapat beberapa jenis tanaman palawija juga ditanam sebagai
tanaman utama di tegalan maupun sebagai tanaman penyela di sawah
pada waktu-waktu musim kemarau dimana air sangat kurang untuk
pengairan. Beberapa komoditas yang juga ditanam adalah ketela, jagung,
pisang, kacang-kacangan, cabe, tomat, terung, dan tanaman holtikultura
lainnya.

Sebagaimana diketahui, mayoritas mata pencaharian masyarakat


Desa Ngambon adalah petani dengan kondisi lahan tegalan kering.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pertanian di Desa Ngambon
sangat dipengaruhi oleh alam. Kondisi alam yang kering dan hanya
mengandalkan sistem pengairan tadah hujan telah memaksa para petani
untuk hanya menanam tanaman yang mampu bertahan dalam kondisi
kekurangan air. Untuk membantu hal tersebut, pemerintah daerah telah
membangun sebuah bendungan di Kecamatan Ngasem. Dengan adanya
bendungan tersebut, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air untuk
irigasi di desa sekitarnya, termasuk Desa Ngambon.

Beberapa tanaman yang mungkin menjadi komoditas pertanian


dengan model tegalan kering merupakan jenis tanaman yang mereka tahu
mampu bertahan dalam kondisi tersebut. Model yang digunakan adalah
model pertanian hidrolik yang ada didaerah yang mempunyai curah hujan
kurang dari sepuluh inci per tahun. Khususnya di daerah-daerah kering,
air sebagai pemberi kehidupan merupakan faktor yang sangat penting
bagi keberhasilan pertanian (Wolf, 1985:45). Bagaimana memperoleh air
dalam jumlah yang cukup merupakan masalah yang sangat menentukan
dan yang selalu dihadapi oleh petani, tertutama petani dalam lingkungan
kering.

 20 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Petani seringkali harus menghadapi berbagai masalah untuk tetap


mempertahankan eksistensinya, begitu pula dengan petani di Desa
Ngambon. Tekanan yang datang seringkali berasal dari lingkungan alam
yang kadang dapat 'dikuasai' bahkan tidak dapat dikuasai sama sekali.
Seperti musim kering yang menghancurkan ladang-ladang dan musim
hujan yang akan membanjiri dengan air yang 'berlebihan', serangan
belalang, atau bahkan konsekuensi yang muncul apabila rumput
ditegalannya habis dimakan ternak, atau apabila lahannya terlalu sering
ditanami, atau erosi akibat ulahnya sendiri.

Petani dan sawah pertanian merupakan suatu kesatuan yang tidak


dapat dipisahkan. Dalam berbagai hal, tanah merupakan suatu kebutuhan
utama bagi petani, dan masyarakat pada umumnya. Bagi para petani di
Ngambon, meskipun memiliki lahan yang tidak terlalu luas, terutama jika
dibandingkan dengan tanah bengkok, hal tersebut tidak terlalu masalah.
Moral subsistensi petani telah mendorong para petani untuk
mempertahankan eksistensinya dengan prinsip dahulukan selamat, yakni
bagaimana mendapatkan keuntungan maksimal dengan meminimalkan
kerugian (Scott, 1981:7-8). Hal yang paling terlihat adalah menanam
beberapa komoditas tanam dalam satu lahan dalam satu waktu, seperti
tanaman jagung dan kacang panjang, atau ketela dan kacang panjang,
atau cabai dan kacang panjang. Hal ini bertujuan untuk menghindari
resiko sekaligus menambah keuntungan.

Lebih jauh Scott (1981 [1976]) menjelaskan bahwa petani yang ada
dipedesaan senantiasa menganut gaya hidup gotong royong, saling tolong
menolong, saling percaya, dan melihat suatu persoalan yang ada secara
kolektif. Kondisi semacam itu menyebabkan adanya hal-hal berikut: (1)
jika petani merasa terjepit maka mereka akan melakukan upaya
penyelamatan diri secara bersama-sama, (2) adanya pola upah bagi hasil
dalam menjalankan usaha tani, dan (3) adanya pola selamatan sebagai
tanda pemerataan 'rizki' diantara sesamanya. Adanya pola subsistensi
justru menyebabkan para petani di Desa Ngambon bertindak untuk
melindungi kepentingannya dengan menjauhi sejauh mungkin resiko yang

 21 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

mungkin timbul. Untuk itu, mereka telah belajar dari pengalaman bahwa
lahan yang mereka miliki tidak sama dengan lahan lain, dan
membutuhkan pengelolaan yang lebih keras.

Para petani di Desa Ngambon sadar betul bahwa lahan yang ada
tidak memungkinkan untuk jenis tanaman yang 'butuh air dalam jumlah
besar'. Untuk itu, mereka hanya akan menanam padi dengan jenis tertentu
dan menghindari jenis lainnya. Mereka juga menolak menanam padi satu
tahun tiga kali, karena mereka sadar sepenuhnya bahwa lahan yang
mereka miliki tidak memiliki kapasitas seperti itu. Sebagaimana yang
ditunjukkan oleh Fatchan dan Basrowi (2004:132-142) bahwa penanaman
dengan pola tanam monokultur justru merugikan bagi petani, terutama
karena harga gabah di kuasai oleh pemerintah dan berada jauh dibawah
batas ekonomis. Untuk itu, pihak pesantren dibeberapa daerah 'membelot'
dari kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Orde Baru, dan
memerintahkan 'pengikutnya' untuk menggunakan pola tanam multikultur.

Model pertanian multukultur juga di anut oleh para petani di Desa


Ngambon. Mereka lebih memilih pola tanam padi-palawija atau holtikultura
sepanjang tahun, atau pola tanam padi-palawija/holtikultura-sayur, atau
pola multiplecropping padi, palawija, holtikultura, sayur. Pola-pola tersebut
dapat dilihat pada skema dibawah ini.

Skema 1. Pola Tanam Padi-Palawija/Holtikultura Sepanjang Tahun

Tahun I Tahun II
Padi ! Padi !
Palawija/holtikultura Palawija/holtikultura

Skema 2. Pola Tanam Padi-Palawija/Holtikultura-sayur

Tahun I Tahun II
Padi ! Palawija/holtikultura Padi ! Palawija/holtikultura
! sayur ! sayur
Skema 3. Pola Tanam Multiplecropping Padi, Palawija, Holtikultura, Sayur

 22 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Musim Hujan Musim Kemarau


Padi + Jagung + K. Panjang Palawija + Holtikultura
Sumber: Fatchan dan Basrowi (2004:135-137)

Dari ketiga skema ini, yang paling sering muncul adalah Skema 3.
Hal ini sangat wajar mengingat bahwa skema ini dapat dikatakan sangat
sesuai dengan kondisi lahan kering. Ketika penelitian ini dilakukan, musim
penghujan sudah dimulai, dan yang terlihat adalah komoditas tanaman
padi, jagung, dan kacang panjang. Komoditas ini merupakan komoditas
yang paling mungkin untuk tumbuh dalam kondisi demikian. Selain itu,
pola multikultur dan/atau multiplecropping secara jelas telah
menguntungkan para petani. Pola multiplecropping merupakan pola
tanam yang paling banyak dilakukan oleh petani berlahan sempit. Pola
tanam ini dapat menambah masa panen yang lebih sering, dengan jenis
tanaman yang lebih bervariasi, dan waktu panen yang lebih singkat.
Dengan demikian, produktivitas luas lahan meningkat, demikian juga
penghasilan petani. Pola ini akhirnya merupakan pola yang paling umum
dibandingkan pola tanam monokultur.

III.2. Pertanian dan Tenaga kerja

Tidak dapat dipungkiri, pertanian sebagaimana aspek lainnya


dalam kehidupan pasti akan berubah. Salah satu perubahan yang paling
terlihat adalah masalah tenaga kerja, yakni berkurangnya tenaga buruh
tani. Kurangnya tenaga buruh tani memang telah dirasakan, bahkan
didaerah yang berpenduduk sangat padat. Kekurangan itu terjadi karena
ketertarikan orang ke pekerjaan yang lebih menarik di daerah urban, dan
oleh perasaan orang-orang muda yang berpendidikan menengah yang
tidak lagi tertarik bekerja sebagai buruh tani (Collier dkk, 1996:56).

Masalah tenaga kerja tidak hanya bagi petani dengan kepemilikan


lahan yang relatif luas, bahkan bagi petani dengan lahan kecil. Yang
tersisa hanyalah petani tua dan buruh tani yang semakin sedikit. Hal ini
diakui oleh berbagai informan, bahwa anak mereka lebih tertarik untuk
bekerja diluar sektor pertanian, diluar daerah daerah, bahkan diluar

 23 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

negeri. Pertanian tidak lagi menjadi primadona di Desa Ngambon.


Sejumlah besar orang muda yang memilih bekerja ke kota, bekerja di
pabrik dan sektor lainnya. Orang-orang muda berpendidikan SLTP/SMP,
SLTA/SMU, dan Sarjana tidak lagi mau bekerja dalam sektor pertanian.
Dibanyak desa, para buruh tani bahkan diambil dari luar desa (Collier dkk,
1996:58).

Kurangnya tenaga kerja berakibat pada semakin tingginya minat


pada buruh tani. Hal ini rupanya mendorong para buruh tani, yang
menyadari bahwa mereka memiliki posisi tawar menguntungkan, telah
menaikkan 'tarif' untuk mengelola lahan yang ada. Adanya tekanan untuk
mempertahankan produktifitas lahan dan kurangnya tenaga kerja telah
mendorong para pemilik lahan pada pilihan yang sulit, tetap mengelola
lahan yang ada atau justru menjadikannya sebagai 'komoditas dagang'.
Meskipun tanah memiliki keterkaitan khusus, bahkan bersifat magis, bagi
masyarakat pedesaan, namun banyaknya tekanan dari berbagai pihak
menyebabkan para pemilik lahan berpikir ulang untuk mengubah
peruntukan lahan. Tanah merupakan salah satu masalah yang paling pelik
bagi masyarakat. Adanya perubahan pada tenaga kerja berakibat
langsung pada pengelolaan lahan. Bagi masyarakat Desa Ngambon yang
mampu dan berkecukupan, mereka lebih memilih untuk 'menggaji' buruh
tani yang umumnya masih berkerabat dengan pemilik lahan, namun bagi
yang kurang mampu, umumnya mereka mengelola lahan mereka sendiri,
dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Yang terpenting bagi
mereka adalah bahwa lahan yang ada tidak di sia-siakan.

Banyak faktor yang menyebabkan orang muda tidak mau bekerja di


sektor pertanian. Selain bahwa mereka umumnya berpendidikan cukup
tinggi, hal ini merupakan kesadaran para orang tua tentang pentingnya
pendidikan. Untuk itu, mereka menyekolahkan anak-anak mereka dengan
harapan bahwa anak mereka bernasib lebih baik dibanding mereka.
Adanya dorongan tersebut secara tidak langsung telah mengubah pola
pikir generasi muda untuk mencari peruntungan diluar sektor yang digeluti
orang tuanya, yakni sektor pertanian. Mereka menganggap bekerja diluar

 24 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

kota, bahkan luar negeri jauh lebih menguntungkan bahkan lebih memiliki
kebanggaan tersendiri. Salah satu faktor yang tidak boleh dilupakan
adalah mobilitas penduduk.

Dengan semakin mudahnya sarana transportasi dan keadaan yang


mendukung untuk terjadinya mobilitas yang lebih intensif. Semakin
mudahnya sarana transportasi telah mengubah cara pandang penduduk
Desa Ngambon mengenai jarak. Jika pada masa lalu bepergian ke pusat
kota Bojonegoro merupakan hal yang sulit, terlebih lagi ke kota yang jauh
seperti Surabaya atau Semarang, merupakan sesuatu yang sangat jarang
dikunjungi. Namun dengan semakin mudahnya sarana transportasi, tidak
sedikit yang menganggap perjalanan ke Surabaya atau Semarang tidak
lebih sebagai jalan-jalan biasa. Bahkan ke luar negeri sudah pernah
dilakukan, meskipun hal tersebut tidak menjadi fenomena umum
mengingat biaya yang tidak sedikit. Yang ingin ditekankan disini adalah
perubahan persepsi mengenai jarak.

Salah satu masalah yang nampaknya sangat penting dihadapi


adalah pengangguran. Meskipun banyak generasi muda yang
berpendidikan enggan untuk kembali ke sektor pertanian, namun tidak
sedikit pula yang tidak memiliki pendidikan yang juga enggan untuk terjun
ke sektor pertanian. Hal ini menyebabkan munculnya golongan
pengangguran di Desa Ngambon. Tidak menutup kemungkinan bahwa
golongan ini mungkin aktif di kegiatan Karang Taruna, namun demikian,
tanpa adanya pendidikan dan kemampuan berkompetisi dibidang di luar
sektor pertanian, mereka hanya akan menjadi 'golongan yang
tersingkirkan'. Ketika penelitian dilakukan, kami menemukan beberapa
tempat yang sering digunakan sebagai tempat bertemu dan ditempat itu
yang mereka lakukan hanya bersendagurau dan bermain kartu. Harus di
akui, pengangguran adalah masalah yang cukup rawan, terutama jika
tidak disikapi dengan bijaksana.

Meskipun sektor pertanian tidak lagi dilirik menjadi primadona di


Desa Ngambon, dan lebih banyak buruh tani yang bekerja disektor ini.

 25 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Kebanyakan buruh tani masih merupakan kerabat dengan pemilik tanah,


hal ini memungkinkan terjadinya pengawasan yang lebih kendur jika
dibandingkan pihak luar. Tidak sedikit pula yang menggunakan buruh
diluar daerah, terutama bagi yang mampu secara ekonomi untuk
mengupah tenaga buruh. Yang menjadi 'trend' adalah sekarang lebih
sedikit buruh yang disewa untuk satu musim, mereka umumnya disewa
harian atau menurut pekerjaan yang ada (Scott, 1981:114). Akibatnya
adalah, bila mereka berhalangan, mereka tidak lagi mendapat
kelonggaran seperti dulu, besar kemungkinan bagi yang berhalangan
untuk dipotong upahnya untuk setiap hari ia tidak masuk kerja.

III.3. Peruntukan Lahan dan Ekonomi

Ketika penelitian dilakukan, lahan yang ada disepanjang jalan


utama umumnya beralih fungsi menjadi rumah atau bangunan toko,
sedangkan lahan biasanya terletak disamping atau dibelakang rumah
penduduk. Banyak lahan disekitar rumah yang ditanami oleh tanaman
ketela, dan kacang-kacangan. Sedangkan lahan yang memang
diperuntukkan untuk pertanian ditanami padi, jagung, kacang panjang,
cabai, dan terung. Adanya perubahan ini sangat wajar terjadi, mengingat
bahwa adanya jalan sebagai akses transportasi sehingga menyebabkan
terjadinya pola perumahan penduduk yang lebih terkonsentrasi
disepanjang jalan utama dan dekat dengan pasar.

Pola perumahan penduduk jika lihat dari tipologi menurut Paul


Landis lebih pada pola arranged isolated farm type. Dalam tipe ini,
penduduk bertempat tinggal disekitar jalan-jalan yang berhubungan
dengan pusat perdagangan, sedangkan sawah ladang terletak disekitar
tempat tinggal dan pusat perdagangan. Desa Ngambon memiliki dua buah
pasar, yakni Pasar Desa Ngambon dan Pasar Legi. Pasar Legi ramai
dikunjungi pada hari Pon dan Legi, sedangkan pasar Desa Ngambon ada
setiap hari meskipun pengunjungnya tudak terlalu banyak. Di desa ini juga
ada Pasar Kayu yang ramai hanya pada hari Pon dan Kliwon.

 26 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Dalam bidang ekonomi, tidak terdapat batasan yang jelas, terutama


di Desa Ngambon. Seseorang yang memiliki sawah tapi tidak memiliki
hewan ternak dengan orang yang memiliki ternak tapi tidak memiliki
sawah mungkin akan menganggap diri mereka sama, dalam artian satu
pihak tidak lebih kekurangan dibanding pihak lainnya. Jika dilihat
monografi Desa Ngambon dapat diketahui bahwa mengenai pembagian
lahan, baik itu untuk keperluan desa maupun tanah diluar keperluan desa.
Pertanian sebagai mata pencaharian utama sudah tentu membutuhkan
lahan yang tidak sedikit, adanya lahan untuk pertanian yang tidak sedikit
sudah barang tentu membutuhkan tenaga kerja yang juga tidak sedikit
untuk mengelola lahan tersebut. Sebagaimana telah di uraikan diatas
mengenai tenaga kerja, masalah ini memang menjadi suatu dilema bagi
para pemilik tanah, baik pemilik lahan yang besar maupun yang kecil.
Tenaga kerja nampaknya menjadi masalah tersendiri dalam sektor
pertanian.

Tingkat ekonomi masyarakat Desa Ngambon sendiri dapat


dikatakan relatif sama, dalam artian tidak ada batasan yang jelas
mengenai pembagian kelas ekonomi. Secara umum, masyarakat Desa
Ngambon tinggal dirumah yang dindingnya terbuat dari kayu atau papan.
Namun demikian, tidak berarti bahwa mereka masuk dalam kategori
miskin, untuk hal ini kami bahas dalam sub judul tersendiri. Secara
ekonomi, kebanyakan penduduk Desa Ngambon bermatapencaharian
sebagai petani, dan daerah tersebut menjadi semakin terbuka, namun
mereka tetap mempertahankan pola subsistensi mereka, atau tetap
bermental petani. Sikap mental petani yang utama adalah sikap
'subsistens', artinya, bagi petani tersebut, orang bekerja adalah untuk
sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Kalau kebutuhan hidup telah
terpenuhi, maka orang tidak perlu bekerja keras lagi (Marzali, 2005:143).
Sikap ini masih dapat ditemukan pada penduduk Desa Ngambon,
meskipun ada diantara mereka yang memiliki mentalitas priyayi, yang
menganggap bahwa tujuan bekerja untuk mendapatkan kebahagiaan, dan

 27 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

kebahagiaan terwujud dalam kedudukan yang tinggi, kekuasaan, dan


kepemilikan lambang-lambang kekayaan.

Meskipun masih banyak diantara rumah penduduk yang masih


belum berlantai, dan lebih banyak lagi yang berdinding papan, namun bagi
mereka, hal tersebut sudah cukup. Mereka umumnya tidak merasa
kekurangan, terutama karena banyak diantara mereka yang
menggunakan lahan yang mereka miliki untuk memenuhi berbagai
kebutuhan mereka. Baru ketika terjadi surplus produksi mereka akan
menjualnya di Pasar Desa Ngambon atau Pasar Legi. Surplus ini
adakalanya memang disengaja, dalam artian bahwa mereka telah
melakukan komersialisasi pertanian, dimana mereka tetap
mempertahankan subsistensi mereka, namun disisi lain mereka juga
menjual sebagian hasil dari lahan mereka untuk mendapatkan keuntungan
tambahan.

III.4. Kemiskinan, Pembangunan, dan Otonomi Desa

Kemiskinan seringkali dipandang sebagai sepenuhnya masalah


ekonomi. Kemiskinan bagi Sahlin (dalam Transformasi, t.t:31) adalah
hubungan antar manusia dalam satu hubungan sosial. Dengan demikian,
kemiskinan adalah faktor yang tidak terelakkan dari ketimpangan sosial
dan ekonomi. Fenomena kemiskinan menunjukkan adanya kekayaan
dipihak lain. Dari interaksi dan dari sudut lain, yakni tidak adanya interaksi
antara kaum miskin dan kaum tidak miskin atau kaya, timbullah
kemiskinan sebagai suatu masalah sosial yang nyata. Namun demikian,
kemiskinan adalah relatif, dalam artian sangat sulit mencari suatu
standardisasi terhadap apa yang disebut miskin dan kaya.

Sebagaimana telah diuaraikan sebelumnya, bahwa ukuran


kemiskinan yang digunakan sangat relatif, demikian pula bagi masyarakat
Desa Ngambon. Dihampir semua provinsi, sebagian besar penduduk
miskin adalah mereka yang bekerja disektor pertanian (Mustasya,
2005:39). Lebih rendahnya pendapatan petani di pedesaan jika
dibandingkan dengan pendapatan sektor lainnya, terutama di perkotaan

 28 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

adalah hal yang lazim terjadi. Dari sinilah kemudian terjadi transformasi
besar-besaran dalam struktur ketenagakerjaan, yakni semakin sedikitnya
jumlah petani karena berpindah ke sektor ekonomi lain.

Bagi masyarakat Desa Ngambon yang mayoritas berada disektor


pertanian, istilah kemiskinan tidak terlalu berarti banyak. Pola subsistensi
dan eratnya budaya Jawa yang lebih mengutamakan kebersamaan tidak
serta merta menjadikan masyarakat desa menjadi golongan miskin.
Kemiskinan bagi mereka adalah sesuatu yang tidak terpikirkan. Selama
mereka masih mampu bertahan hidup dari apa yang mereka hasilkan,
selama itu pula mereka tidak menganggap diri mereka miskin. Adalah
sangat simplistis, bahkan terlalu optimistis anggapan bahwa ketika sektor
pertanian tidak lagi menguntungkan dan tekanan hidup ditempat asal akan
mendorong orang desa mencari pekerjaan di luar sektor pertanian,
terutama diperkotaan, sehingga pendapatan mereka menjadi lebih tinggi
dan masalah terselesaikan. Bagi masyarakat Desa Ngambon, pertanian
adalah sektor yang penting, karena hanya pada sektor inilah masyarakat
menggantungkan hidup mereka.

Memang pertanian tidak selalu membawa keuntungan yang


maksimal, terutama mengingat bahwa kebutuhan hidup yang semakin
melambung tinggi. Bagi masyarakat petani, pola subsistensi mereka
setidaknya akan mempertahankan kehidupan mereka, meskipun hal
tersebut tidak dapat berlangsung selamanya. Untuk menyelesaikan
masalah kehidupan petani di pedesaan, dibutuhkan komitmen tinggi dan
juga keseriusan dari berbagai pihak. Pembangunan desa harusnya
bertujuan untuk memajukan kehidupan masyarakat pedesaan. Salah satu
faktor penghambat dalam pembangunan adalah budaya petani (the
subculture of peasantry).

Masyarakat dipedesaan sudah terbiasa hidup dalam budaya


gotong-royong, kekeluargaan, dan kebersamaan. Dalam masyarakat
seperti itu, setiap orang berusaha untuk tidak terlalu jauh menyimpang
dari pola umum. Seseorang tidak terlalu baik untuk terlalu kreatif, ambisius

 29 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

dalam harta dan pangkat, mendahului dan mengkritik pemimpin, dan


sebagainya. Pola ini sejalan dengan pola kepemimpinan desa yang
bersifat patrimonial. Semua kegiatan yang menyangkut masyarakat luas
harus mendapat 'lampu hijau' dari pemimpin. Yang wajar adalah kalau
semua inisiatif dan perintah datang dari pimpinan (Marzali, 2005:80).
Demikian pula masyarakat Desa Ngambon, seluruh keputusan yang
berkenaan dengan masyarakat harus diputuskan oleh Kepala Desa.
Ketika penelitian hendak berakhir, akan di adakan kerja bakti Karang
Taruna dan masyarakat umum, yakni dengan menanam pohon di sekitar
jalur utama. Bahkan ketika wawancara dilaksanakan, rapat yang
membahas hal tersebut baru saja selesai, dimana seluruh pihak, Kepala
Desa, Kepala Dusun, dan Karang Taruna tengah berkumpul di kediaman
Kepala Desa.

Gambaran mengenai demokratisasi di Desa Ngambon cukup jelas


terlihat. Setiap orang memiliki hak untuk berbicara dan mengeluarkan
pendapat, dan setiap orang memiliki kewajiban dan hak yang sama dalam
kehidupan bermasyarakat. Demokratisasi yang ada pada gilirannya akan
membawa pada kemajuan dalam otonomi desa. Otonomi desa bukan
sekedar kemandirian yang ditopang oleh swadaya masyarakat. Lebih dari
sekedar swadaya, otonomi desa adalah persoalan pembagian
kewenangan yang membuat desa sebagai local-self government (Eko dan
Rozaki, 2005:51).

Swadaya masyarakat berarti solidaritas sosial dan bagian dari


modal sosial yang telah lama menjadi penyangga penghidupan
berkelanjutan masyarakat desa. Otonomi desa tidak berarti mandiri dari
berbagai pihak, otonomi desa tidak akan lepas dari konteks antara desa
dan negara, sebab desa menjadi bagian dari negara yang juga
menjalankan kewajiban yang dibebankan oleh negara. Otonomi disini
adalah pemerataan dan keadilan hubungan antara negara dan desa.
Otonomi desa mengandung prinsip keleluasaan (discretionary), kekebalan
(imunitas), dan kapasitas (capacity). Keterpaduan ini akan melahirkan
kemandirian desa, yakni kemandirian mengelola pemerintahan,

 30 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

mengambil keputusan, dan mengelola sumber daya lokal sendiri yang


sesuai dengan preferensi masyarakat lokal (Eko dan Rozaki, 2005:52-53).

Pada masyarakat Desa Ngambon, harus kami akui bahwa dalam


waktu yang sangat minim, kami tidak terlalu mengeksplorasi mengenai
otonomi desa. Namun demikian, dapat dikatakan bahwa desa pada saat
ini telah mendapatkan keluasaan yang lebih dari masa sebelumnya. Jika
sebelumnya berbagai kegiatan harus melalui berbagai alur birokrasi,
namun kini cukup Kepala Desa yang memutuskan berbagai kegiatan yang
berkaitan dengan masyarakat umum. Kepala Desa di satu sisi merupakan
representasi dari pemerintah, namun disisi lain merupakan wakil dari
masyarakat. Berbagai kejadian dan konflik yang ada akan 'melewati'
Kepala Desa, dan mungkin akan diselesaikan oleh Kepala Desa dengan
keputusan yang dianggap menguntungkan semua pihak.

Pembangunan Desa Ngambon mungkin tidak sepesat


pembangunan di desa-desa yang terletak tidak jauh dari pusat kabupaten,
namun dapat dikatakan bahwa pembangunan desa ini cukup pesat dan
maju, ketimbang dengan desa-desa lain di Kecamatan Ngambon. Sarana
transportasi yang baik, akses informasi yang terbuka, berdirinya berbagai
sarana kebutuhan masyarakat seperti puskesmas, KUD, sekolah-sekolah,
dan yang terpenting adalah pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi.
Berbagai sarana yang ada sedikit-banyak telah mengubah wajah Desa
Ngambon, selain kenyataan bahwa Desa ini merupakan pusat dari
Kecamatan Ngambon, sehingga pembangunan desa dapat dicapai.

Otonomi Desa Ngambon terlihat cukup jelas ketika terjadi konflik


perebutan Pasar Legi. Ketika pemerintah desa berkeinginan untuk
memperbarui Pasar Legi, hal tersebut mendapat tentangan dari
masyarakat di Desa Kacangan, untuk menghindari konflik yang lebih
besar, dan untuk tetap mempertahankan roda perekonomian, maka
dibuatlah sebuah pasar baru, yakni Pasar Desa Ngambon yang berjarak
agak jauh dari Pasar Legi. Usaha ini jelas merupakan kewenangan dari
pemerintah desa, namun dalam konteks otonomi, yang dilakukan oleh

 31 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

pemerintah desa sudah mencerminkan semangat otonomi, yaitu


mempertahankan perekonomian desa. Selain itu juga adanya berbagai
usaha untuk membentuk suatu jaringan kerja untuk memasarkan hasil
perkebunan di Desa Ngambon.

Hasil perkebunan berupa pisang dan mangga merupakan


primadona masyarakat di Kecamatan Ngambon, terutama Desa
Ngambon. Untuk itu, pihak pemerintah desa berupaya untuk memajukan
perekonomian masyarakat. Pisang menguasai hampir 64% dari hasil
perkebunan, dan mangga lebih dari 25% hasil perkebunan di Desa
Ngambon (Monografi Desa Ngambon 1995). Tidak mengherankan bahwa
pemerintah desa berupaya keras memajukan sektor ini, mengingat bahwa
Bojonegoro sendiri merupakan penghasil penganan tradisional ledre yang
bahan bakunya terbuat dari pisang.

Kebangkitan ekonomi masyarakat pedesaan merupakan suatu


harapan bersama, dimana dengan kebangkitan tersebut, masyarakat
pedesaan tidak perlu terlalu menggantungkan hidupnya di daerah
perkotaan. Kebangkitan ekonomi juga akan meningkatkan minat
masyarakat ke sektor pertanian dan perkebunan. Meskipun harus di akui,
sektor industri masih memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat dibanding
sektor pertanian dan perkebunan. Otonomi desa pada gilirannya akan
membawa suatu kemajuan baru, dimana segala usaha pemerintah desa
memang ditujukan bagi kemajuan desa, bukan sekedar laporan 'asal
bapak senang'. Otonomi desa harusnya membawa suatu perubahan dan
perkembangan bagi masyarakat desa itu sendiri, dan membawa desa
tersebut pada suatu kemandirian dalam berbagai bidang.

 32 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

BAB IV

KESIMPULAN

Ngambon, suatu desa yang terletak di Kecamatan Ngambon,


Keabupaten Bojonegoro. Dengan kondisi geografis dataran tinggi, kering,
dan lebih menggunakan sistem pertanian tadah hujan. Kondisi alam yang
kurang mendukung sedikit-banyak mempengaruhi matapencaharian
penduduk Desa Ngambon. Meskipun dirasakan kurang mencukupi,
pertanian merupakan matapencaharian utama. Dengan pertanian,
masyarakat desa ini, sebagaimana masyarakat desa lainnya, masih
mempertahankan subsistensi. Subsistensi tidak hanya dimaksudkan untuk
menjaga eksistensi pertanian, mengingat bahwa hasil subsistensi
digunakan untuk konsumsi pribadi, namun juga sebagian hasil dijual di
Pasar Desa Ngambon dan/atau Pasar Legi. Ekonomi moral yang dianut
oleh masyarakat desa setidaknya telah menyelamatkan lahan yang
mereka miliki, meskipun bahwa mereka sadar benar bahwa mereka tidak
dapat menggantungkan hidupnnya hanya dari sektor pertanian.

Kondisi lahan yang tidak mendukung untuk menanam padi


sepanjang tahun, akhirnya membuat masyarakat desa mempraktekkan
model pertanian multiplecropping, dengan menanam padi, jagung dan
kacang panjang ketika musim hujan, dan palawija dan holtikultura pada
musim kemarau. Pola ini secara nyata telah memberikan keuntungan,
terutama bagi petani dengan lahan sempit, bahwa dengan satu waktu
mereka dapat memanen lebih dari dua jenis tanaman. Pola ini juga
memberikan keuntungan secara ekonomis, karena hasil dari lahan yang
digarap dapat mereka jual di Pasar.

Secara umum dapat dikatakan bahwa kehidupan ekonomi Desa


Ngambon sudah cukup mapan. Meskipun masih banyak yang masih
berlantai tanah, dan mayoritas rumah masih menggunakan dinding kayu
dan papan, namun mereka cukup mampu, hal ini dapat dilihat bahwa
hampir seluruh anak-anak telah bersekolah disekolah-sekolah yang ada di

 33 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

sekitar Desa Ngambon. Tidak adanya standardisasi dalam masalah


kemiskinan juga menyulitkan dalam mengkategorikan masyarakat Desa
Ngambon. Hampir setiap orang memiliki cara pandang bahwa mereka
berkecukupan, dengan asumsi bahwa pola subsisten mereka akan
mempertahankan hidup mereka, mengingat bahwa sebagian besar dari
mereka adalah petani.

Perkembangan yang cukup menarik adalah, masyarakat telah


menyadari bahwa pendidikan sangat penting bagi anak-anak mereka, hal
ini mendorong mereka untuk menyekolahkan, bahkan pada jenjang yang
lebih tinggi. Hal ini akhirnya berakibat pada kurangnya tenaga kerja di
sektor pertanian. Para generasi muda dengan pendidikan tinggi akhirnya
enggan bekerja disektor pertanian, dan lebih memilih untuk bekerja diluar
sektor pertanian. Selain itu, masalah yang harus dihapadi adalah
penganguran. Pendidikan yang minim dan keengganan untuk terjun
disektor pertanian telah menyebabkan munculnya golongan
pengangguran. Meskipun golongan ini juga muncul sebagai akumulasi
dari faktor-faktor lain. Pekerjaan yang ada juga dipengaruhi oleh semakin
terbukanya akses transportasi dan mobilitas penduduk yang semakin
tinggi. Sarana transportasi yang mendukung dan mobilitas tinggi pada
gilirannya akan mengubah cara pandang masyarakat mengenai jarak dan
ruang. Jika dahulu untuk ke Surabaya orang akan berpikir masalah jarak
dan waktu tempuh, namun kini dengan semakin mudahnya transportasi,
jarak ke Surabaya tidak lagi menjadi masalah. Banyak dari para penduduk
yang bekerja di luar kota, di luar pulau, bahkan di luar negeri.

Kurangnya tenaga kerja disektor pertanian akan membawa suatu


implikasi serius, yakni bergesernya pengelolaan lahan. Karena yang
tertinggal hanyalah para petani tua, maka mereka lebih memilih untuk
menggunakan tenaga upahan, yang umumnya masih berkerabat dengan
mereka. Tenaga upahan pun tidak lagi bekerja selama satu tahun penuh,
namun lebih pada paruh musim, bahkan ada yang menggunakan sistem
harian. Hal ini juga berdampak bagi kehidupan bermasyarakat, yakni
semakin mengendurnya ikatan komunal desa. Harus diakui, berkurangnya

 34 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

ikatan ini tidak hanya terjadi saat ini, namun telah dimulai ketika terjadi
mekanisasi pertanian sekitar tahun 1970-an. Dengan digunakannya alat
dalam pertanian, maka tenaga manusia dalam jumlah banyak tidak lagi
dibutuhkan. Namun bagi masyarakat Desa Ngambon yang terletak
didaerah kering, tenaga ekstra tetap dibutuhkan, terutama dalam musim
kemarau. Untuk menanggulangi hal tersebut memang telah dibangun
suatu bendungan, namun fungsi bendungan kurang dirasakan mengingat
sarana pengaliran air yang masih minim. Penggunaan lahan secara
maksimal baru terjadi ketika musim hujan, pada musim ini, berbagai
varietas tanaman yang sekirnya mampu tumbuh ditanam, baik untuk
konsumsi sendiri maupun untuk dijual dipasar. Ekonomi moral mereka
masih sangat menguasai untuk hal tersebut.

Berbagai masalah yang ada di Desa Ngambon tidak jauh berbeda


dengan desa lainnya, kemiskinan, perubahan okupasi lahan, tenaga kerja,
pengangguran, dan berbagai persoalan lain. Ngambon tidak lebih dari
sebuah desa yang terus berubah dan pasti akan terus berubah. Berbagai
persoalan yang muncul pada akhirnya akan membawa desa ini pada
sebuah kemajuan yang idam-idamkan atau justru kehancuran yang tidak
di inginkan. Di era otonomi, sudah seharusnya berbagai kebijakan yang di
ambil oleh Kepala Desa bertujuan untuk kemajuan desanya, dan
dimaksudkan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat desa.
Dibutuhkan kesadaran dan komitmen dari berbagai pihak untuk menjaga
eksistensi desa ini, meskipun desa ini tidak akan pernah sama dengan
sebelumnya, dan Ngambon merupakan profil desa sedang berubah,
diinginkan atau pun tidak.

 35 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Daftar Pustaka

Bachtiar, H.W.
1994 "Pengamatan Sebagai Suatu Metode Penelitian” dalam
Metode Penelitian Masyarakat, Koentjaraningrat (ed).
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Collier, W.L., K. Santoso, Soentoro, dan R. Wibowo.


1996 Pendekatan Baru Dalam Pembangunan Pedesaan di Jawa,
Kajian Pedesaan Selama Dua Puluh Lima Tahun. Cetakan
pertama. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Dyson, L.
1997 Metodelogi Penelitian Etnografi & Penelitian Antropologi bagi
Guru-guru seGerbangkertosusilo. Surabaya: Fisip dan LPKM
Universitas Airlangga

Eko, S., dan A. Rozaki (ed.)


2005 Prakarsa Desentralisasi & Otonomi Desa. Cetakan kedua.
Yogyakarta: IRE Press

Fatchan, A., dan Basrowi


2004 Pembelotan Kaum Pesantren dan Petani di Jawa. Surabaya:
Yayasan Kampusina

Havilland, W.A
1988 Antropologi. Jilid dua. Jakarta: Erlangga

Keesing, R.M.
1989 Antropologi Budaya, Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta:
Erlangga

Koentjaraningrat
1994 "Metode wawancara" dalam Metode Penelitian Masyarakat.
Koentjaraningrat (ed.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Lehman, D.
2000 "peasants (kaum petani)" dalam Ensiklopedi Ilmu-Ilmu
Sosial. Adam K., dan Jessica K., (ed.). Edisi kedua. Cetakan
pertama. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Marzali, A.
2005 Antropologi & Pembangunan Indonesia. Cetakan pertama.
Jakarta: Kencana

 36 
www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Moeleong, L.J
1993 Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya

Monografi Desa
1995 Monografi Pertanian Desa Ngambon 1995-1996.
Bojonegoro: Desa Ngambon
2004 Monografi Desa Ngambon, Kecamatan Ngambon.
Bojonegoro: Desa Ngambon

Mustasya, T.
2005 "Petani, Tak Putus Dirundung Malang" dalam Harian
Kompas 26 Desember.

Santoso, P. (ed.)
2003 Pembaharuan Desa Secara Partisipatif. Cetakan pertama.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerjasama dengan Program
S2 Politik Lokal dan Otonomi Daerah Universitas Gadjah
Mada

Scott, J.C.
1981 Moral Ekonomi Petani, Pergolakan dan Subsistensi di Asia
Tenggara. Cetakan pertama. Jakarta: LP3ES

Spradley, J.P.
1997 Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana

Suparlan, P
1986 "Kebudayaan dan Pembangunan" dalam Dialog No. 21 Th.
XI Edisi September. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Agama Departemen Agama RI. Hlm. 7-24

Transformasi
t.t "Mutiara Dalam Lumpur: Tinjauan Kembali Terhadap Budaya
Kemiskinan" dalam Tranformasi 'Polemik Dalam Studi dan
Budaya Kemiskinan'. Jakarta: Yayasan API bekerjasama
dengan Forum Ilmu Sosial Transformatif

Wolf, E.R.
1985 Petani, Suatu Tinjauan Antropologis. Cetakan kedua.
Jakarta: Rajawali Pers

 37 