Anda di halaman 1dari 2

Tengkyu mbak ajeng.........

Hari kamis yang lalu (5 juni 2008) saya mengalami musibah, ponsel saya tertinggal di
warung internet dekat kos saya, dan parahnya saya tidak sadar sampai ketika saya ingin
mengirimkan pesan singkat. Alhasil saya kelimpungan mencari ponsel saya tersebut.
Kamar kos saya obrak-abrik, bahkan saya mendatangi setiap tempat yang saya telah saya
kunjungi, mulai dari warnet, warung tempat saya beli es, hingga tukang jual gorengan di
depan kos saya, semuanya nihil. Sampai saya baru teringat, bahwa saya punya ponsel lain
yang dapat saya gunakan untuk menelpon ponsel saya yang hilang, saya menelpon
dengan harapan sapa tahu yang menemukan akan berbaik hati mengembalikan ponsel
saya itu.

Teman saya pernah bilang terdapat kekeliruan mendasar tentang apa yang kita anggap
sebagai ‘nilai timur’ orang Indonesia, baginya orang Indonesia tidak lah sejujur dahulu.
Terus terang saya setuju, sebab saya sudah pernah kehilangan ponsel sebelumnya, dan
orang yang menemukan ponsel tidak mau mengembalikan ponsel saya, padahal saya
sudah memberikan iming-iming untuk memberikan imbalan. Apa iya orang indonesia
tidak jujur? Terus terang saya gembira, bahwa masih ada orang indonesia yang jujur,
salah satunya ya Mbak Ajeng ini. ketika saya menelpon ponsel saya yang hilang, dia
dengan senang hati mengangkat dan memberitahukan bahwa ponsel saya ada di tangan
dia, dan dia menunggu saya untuk mengambil ponsel tersebut di tempat kosnya. Saya
rasa, figur seperti Ajeng lah yang harus menjadi contoh dasar kejujuran orang indonesia.
Saya pikir tidak adil jika klaim ketidakjujuran orang indonesia dijadikan sebagai asumsi
yang general, yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Saya mengakui bahwa banyak orang
indonesia yang tidak jujur, tapi saya pun menyadari bahwa lebih banyak lagi orang jujur
di indonesia. Persoalannya adalah, mengapa orang yang tidak jujur menjadi representasi
orang indonesia? Alangkah menggelikannya jika bangsa ini dicap tidak jujur hanya
karena representasi yang keliru tentang rakyat indonesia.

Persoalannya adalah, mereka yang menjadi representasi adalah mereka yang berada di
jalur kekuasaan maupun ekonomi. Saya tidak menuduh seluruh pejabat negara itu
pembohong semua, tapi toh yang muncul adalah mereka yang korup. Representasi ini
muncul ketika media memberitakan dengan sangat intens mereka yang terlibat kasus
korupsi, sehingga memunculkan sebuah bayangan bahwa bangsa ini bukan bangsa yang
jujur. Saya pun harus mengakui bahwa mereka yang tidak jujur bersuara lebih lantang
ketimbang mereka yang jujur. Teman saya pernah bergurau bahwa anjing yang
menggonggong paling kencang bukan lah anjing yang galak, bisa dibilang mereka
menggonggong karena tersudut. Saya kemudian tersenyum sendiri ketika
menganalogikan kisah anjing tersebut pada kasus pejabat negara yang rajin teriak di tv
soal betapa kerasnya kerja mereka, barangkali mereka pun tersudut sehingga berteriak
lebih lantang. Barangkali anda akan protes pada saya dengan analogi anjing tersebut, tapi
toh saya rasa analogi itu cukup representatif.

Persoalan utama terletak pada representasi. Terus terang saya jengkel dengan masalah
representasi. Jika ketidakjujuran sebagian pengusaha dan elite pemerintah dijadikan
representasi atas bangsa indonesia, saya rasa tidak menjadi persoalan jika saya
merepresentasikan sebagian pejabat negara yang berkoar seperti anjing tadi atas semua
pejabat negara. Barangkali tidak adil, tapi saya sendiri tidak terlalu pusing memikirkan
hal tersebut. Saya rasa anda pun tidak sepatutnya menjadikan persoalan anjing tadi
sebagai persoalan yang penting anda pikirkan, masih banyak hal penting lain yang harus
dipikirkan ketimbang memikirkan kisah anjing tadi. Ah barangkali saya terlalu kasar
dalam menuliskan kisah ini, tapi terus terang saya tidak peduli. Adalah hak semua warga
negara untuk menumpahkan unek-uneknya, “ini negara demokrasi, Bung!!”, begitu lah
biasanya teman saya berkelit ketika saya menyebut tindakannya subversif, dan saya pun
ketularan penyakit dia, yakni dengan tidak ambil pusing dan berlindung di balik
demokrasi.

Kembali ke kasus ponsel saya, saya harus meninjau ulang segala pandangan saya
mengenai bangsa ini secara keseluruhan. Saya memafkan orang yang mengambil ponsel
saya dan tidak mengembalikannya kepada saya, saya pun memaafkan orang yang telah
mencuri dompet saya, tentu dengan harapan bahwa saya pun akan di maafkan jika saya
bertindak tidak jujur. Hei setidaknya saya telah mencoba jujur pada diri saya sendiri.
Jelas saya bukan lah orang paling jujur di dunia, tapi saya yakin bahwa saya lebih jujur
ketimbang anggota dewan, dan karena itu lah saya menggugat mereka yang tidak jujur
yang telah menjadikan diri mereka sebagai barometer kejujuran di negara ini. coba anda
bayangkan, jika seorang maling mobil dijadikan sebagai pemimpin dan menjadikan
moralnya sebagai standar umum, maka saya tidak heran jika maling motor akan semakin
banyak, alasannya pun jelas: ikut pemimpin tanpa melebihkan kapasitas pemimpin. Saya
tidak menuduh presiden kita sebagai maling mobil, toh saya rasa harga dirinya akan
mencegah dirinya menjadi maling, tapi siapa yang berani menjamin orang yang ada di
bawahnya bukan maling?

Teman saya pernah berkata bahwa negeri ini negeri maling, bahkan mantan jaksa agung
sendiri mengakui bahwa dirinya seperti ustaz di kampung maling. Saya jadi bertanya-
tanya, benarkah persoalan maling ini menjadi sangat penting? Teman saya langsung
menjawab “ya iya lah, masa ya iya donk”, saya tanya “kenapa?”, dan dia cuma bilang
“alasannya sederhana, jika maling tidak dihukum maka akan tumbuh maling-maling
lainnya”, barangkali benar pikiran teman saya itu, kata orang perilaku buruk itu menular,
lalu apa iya sudah sebegitu parahnya kah hilangnya kejujuran dalam portofolio bangsa
indonesia. Akhirnya saya berkata pada teman saya, karena toh saya sudah jenuh berdebat
dengannya “Ya mudah-mudahan yang maling itu insaf dan mengaku kalau dia maling”,
rupanya kalimat penutup saya justru ditanggapi dengan sangat sarkastis oleh teman saya,
dia bilang “Kalau ada maling ngaku itu tandanya kiamat datang lebih dini, lagian kalau
ada maling ngaku penjara pasti udah penuh, dan nusakambangan bakalan ga muat, masa
lo mau pulau kalimantan diubah jadi penjara buat para maling?”, ah lagi-lagi ia benar,
dan menyerah lah saya atas kondisi ini, saya pun terdiam dalam keremangan malam.