Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN HYPERKES

PENGUKURAN TINGKAT KELELAHAN DAN PENDENGARAN


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hyperkes

Disusun Oleh 1. M. Dwi Putra 2. Wahyu Handoyo Putro 3. Yoga Pradipta

: (PO7133109081) (PO7133109095) (PO7133109096)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2011

LAPORAN PRAKTIKUM KELELAHAN KERJA AUDIOMETER

Waktu Pelaksanaan

Jumat, 27 Mei 2011 Pukul 09.00 WIB

Tempat Pelaksanaan

Laboratorium Hyperkes POLTEKES Yogyakarta

A. Tujuan

1. Mahasiswa

mengetahui

cara

pengukuran

kelelahan

kerja

dengan

menggunakan audiometri untuk tingkat sesitivitas terhadap suara. 2. Mahasiswa mengetahui tingkat sensitivitas indera pendengaran masing masing.

B. Dasar Teori

Menurut Sumakmur (1988) untuk mengurangi kelelahan kerja dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, yaitu dengan memperbaiki keadaan umum dan keadaan fisik di tempat kerja. Misalnya dengan pengaturan jam kerja, memberikan kesempatan istirahat yang memadai, pemberian cuti, rekreasi, pengurangan kebisingan, tekanan panas, penerangan serta penyelenggaraan ventilasi yang cukup dan berfungsi dengan baik. Pengendalian kelelahan kerja ini dapat dilaksanakan dalam jangka pendek dan jangka panjang melalui promosi kesehatan ke rja, preventif, kuratif, dan rehabilitasi kelelahan kerja. Penanggulangan jangka pendek meliputi latihan singkat bagi para pengawas atau tenaga personalia perusahaan tentang tata cara pendeteksian kelelahan kerja di perusahaan. Sedangkan penanggulangan

jangka panjang bersifat promosi kesehatan kerja dalam bentuk pemberian ceramah, diskusi dan peninjauan peraturan kerja serta sikap tenaga kerja. Dalam praktikum pengukuran kelelahan kerja seseorang dapat dilakukan dengan menggunakan alat audiometer untuk meng etahui tingkat sensitifitas indera pendengar. Tingkat intensitas suara minimum yang dapat didengar oleh telinga manusia adalah 20 mikropaskal, hal ini dikenal sebagai sebagai tingkat ambang akustik 0 dB. Pada audiometric digunakan tingka referensi lain yan g dikenal sebagai tingkat ambang dengar 0 dB. Pada frekuensi 3000 Hz, tingkat ambang dengar lebih tinggi 10 Db diatas tingkat akustik. Hasil pemeriksaan normala berada dalam kisaran kurang dari 25 dB terutama pada frekuensi 500 atau 1000 Hz, kemungkinan terdapat latar belakang kebisingan yang tinggi pada ruang pemeriksaan. Bila terdapat perbedaan > 40 Db antara telinga kanan dan kiri, maka dilakukan prosedur masking untuk menentukan tingkat ambang dengar sebenarnya. Audiogram orang yang mendengar tuli akiba t bising awal menunjukkan tingkat ambang dengar normal pada frekuensi 500 -2000 Hz (frekuensi rendah) dan penurunan tingkat ambang dengar pada frekuensi 3000 -6000 Hz (frekuensi tinggi) dengan puncaknya pada frekuensi 4000 Hz, kemudian kembali membaik pada frekuensi 8000 Hz. Frekuensi rendah menunjukkkan kuatnya pembicaraan dan frekuensi tinggi memberikan kejelasan pembicaraan. Pada tuli akibat bising mereka tidak bermasalah dengan kerasnya suara tapi mereka tidak mendengar kejelasan pembicaraan khususnya konsonn t, k, dan p.

C. Prosedur Pelaksanaan

1. Memberikan instruksi kepada orang yang diper iksa untuk memberikan respon dengan menekan tombol respon setiap mendengar nada melalui earphone. 2. Menempatkan earphone sesuai dengan liang telinga (warna merah pada telinga kanan dan warna biru pada telinga kiri). 3. Mengisi data ID orang yang diperiksa yang ada dikomputer tentang jenis kelamin, umur, dll. 4. Pilih Autometic agar lebih mudah pemerikasaanya. 5. Memulai pemeriksaan dengan menekan mulai. 6. Mendahulukan telinga yang lebih baik pendengarannya atau telinga kanan (menekan tombol untuk memeriksa telinga kanan). 7. Setelah selesai hentikan pemeriksaan dengan mengklik STOP 8. Setelah itu lihat grafiknya pada audiografik 9. Karena menggunakan audiogram yang ada dikomputer sehingga hasil pemeriksaan dapat langsung dapat diprint-out

D. Pembahasan

Pada hasil pengukuran audiometri terlihat bahwa 1. M. Dwi Putra : telinga kanan (warna merah) pada frekuensi 250 Hz

mengalami sensitivitas/kepekaan yang kurang terhadap nada di earphone karena baru menunjukkan respon penguatan pada 18 dB, pada frekuensi 500 Hz menunjukkan respon penguatan 0 dB, untuk frekuensi 750 menunjukkan respon penguatan 4 dB dan pada frekuensi 1000 - 4000Hz menunjukkan respon penguatan 0 dB . Telinga kiri (warna biru) sensitivitas terhadap suara

kurang peka karena pada frekuensi 250 Hz baru menunjukkan respon pada penguatan 0 dB, dan pada 500 Hz menunjukkan respon pada penguatan 2 dB, sedang pada frekuensi 750 4000 Hz menunjukkan respon pada penguatan 0 dB. 2. Wahyu HP : telinga kanan (warna merah) pada frekuensi 250 Hz

mengalami sensitivitas/kepekaan yang kurang terhadap nada di earphone karena tidak terdapat bulatan terhadap frekusi 250 Hz , pada frekuensi 500 4000 Hz mengalami respon penguatan 0 dB, untuk telinga kiri (warna biru) sensitivita / kepekaan yang kurang terhadap suara karena pada frekuensi 250 Hz menunjukkan respon penguatan pada 12 Hz, pada frekuensi 500 HZ mengalami kepekaan penguatan 4 dB, sedangkan pada 750 4000 Hz menunjukkan respon penguatan kepekaan 0 dB. . 3. Yoga Pradipta : telinga kanan (warna merah) pada frekuensi 250 Hz mengalami sensitivitas/kepekaan yang sangat kurang terhadap nada di earphone karena baru menunjukkan re spon penguatan pada 8 dB, pada frekuensi 500 Hz baru menunjukkan respon pada penguatan 6 dB, pada 750 Hz menunjukkan respon pada penguatan 2 dB, frekuensi 1000 Hz - 4000 Hz menunjukkan respon pada penguatan 0 dB. Sedangkan untuk telinga kiri (warna biru) sensitivitas terhadap suara kurang peka karena pada frekuensi 250 Hz baru menunjukkan respon pada penguatan 4 dB, pada 500 Hz menunjukkan respon pada penguatan 4 dB, frekuensi 750 Hz - 4000 Hz menunjukkan respon pada penguatan 0 dB .

E. Kesimpulan

. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat pendengaran tiap orang itu berbeda-beda tergantung frekuensi sering tidaknya telinga digunakan untuk mendengarkan atau menangkap suara. Biasanya telinga kiri lebih peka terhadap suara dibandingkan dengn tel inga kanan, hal ini dikarenakan telinga kanan lebih sering terkena radiasi dan juga tergantung d ari tempat dimana seseorang itu saat dilakukan pengukuran. Dari kurang sensitifnya telinga kanan mungkin dapat di sebbakan karena kurang tahunya bunyi ynag kelu ar pertama kalinya sedangkan dari lokasi pengukuran kemarin walaupun sudah masuk dalam bok seseorang masih dapat mendengar suara yang ada diluar bok tersebut, sehingga hasil yang didapatkan tidak maksimal.