Anda di halaman 1dari 63

MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN BUDIDAYA UDANG PUTIH (Litopenaeus vannamei) DI PT ARUNA WIJAYA SAKTI TULANG BAWANG LAMPUNG

(Laporan Tugas Akhir Mahasiswa)

Oleh

Anjar Purbaya

08742003

BAWANG LAMPUNG (Laporan Tugas Akhir Mahasiswa) Oleh Anjar Purbaya 08742003 POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2011

POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

2011

MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN BUDIDAYA UDANG PUTIH (Litopenaeus vannamei) DI PT ARUNA WIJAYA SAKTI TULANG BAWANG LAMPUNG

Oleh

Anjar Purbaya

08742003

Laporan Tugas Akhir Mahasiswa

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Sebutan Ahli Madya (A.Md) pada Program Studi Budidaya Perikanan Jurusan Peternakan

Ahli Madya (A.Md) pada Program Studi Budidaya Perikanan Jurusan Peternakan POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2011

POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

2011

HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul Tugas Akhir Mahasiswa :

Manajemen Pemberian Pakan pada Budidaya Udang Putih (Litopenaeus vannamei) di PT Aruna Wijaya Sakti Tulang Bawang Lampung

2. Nama Mahasiswa

:

Anjar Purbaya

3. Nomor Pokok Mahasiswa

4. Program Studi

5. Jurusan

: 08742003 : Budidaya perikanan : Peternakan Menyetujui, Ketua Jurusan Peternakan
:
08742003
:
Budidaya perikanan
:
Peternakan
Menyetujui,
Ketua Jurusan Peternakan

Dosen Pembimbing II

Dosen Pembimbing I

Ninik Purbosari, S.Pi., M.Si. NIP. 19750616 200003 2002

Juli Nursandi, S.Pi., M.Si. NIP. 19770702 200012 1002

Ir. Yadi Priabudiman, M.P. NIP. 19580518 199001 1001

Tanggal Ujian : 02 Agustus 2011

MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN BUDIDAYA UDANG PUTIH (Litopenaeus vannamei) DI PT ARUNA WIJAYA SAKTI TULANG BAWANG LAMPUNG

Oleh

Anjar Purbaya

ABSTRAK

Di bawah bimbingan Ninik Purbosari, S.Pi, M.Si. sebagai Dosen Pembimbing I dan Juli Nursandi, S.Pi, M.Si sebagai Dosen Pembimbing II

Keunggulan yang dimiliki oleh udang putih (Litopenaeus vannamei) antara lain responsif terhadap pakan yang diberikan atau nafsu makan yang tinggi, lebih tahan terhadap serangan penyakit dan lingkungan yang kurang baik serta bisa dipelihara dengan padat tebar yang relatif tinggi dengan pola intensif. Budidaya pola intensif tentu membutuhkan jumlah pakan yang banyak namun harga pakan di pasaran semakin tinggi, sedangkan biaya pakan menempati 6070% dalam perhitungan biaya produksi. Manajemen pakan perlu dilakukan sebagai langkah dalam menekan nilai FCR dalam mencapai keberhasilan dalam budidaya. Manajemen pakan pada prinsipnya adalah memberikan pakan secara tepat sesuai kebutuhan udang untuk hidup dan tumbuh optimal. Tingkat pemberian pakan yang kurang (under feeding) mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat, sedangkan pemberian pakan berlebih (over feeding) bisa menimbulkan pencemaran air yang berasal dari akumulasi sisa pakan pada dasar tambak. Manajemen pakan udang secara mendasar harus mengacu pada sifat dan behaviour udang dalam kaitannya dengan feeding habits dan foods habits dari udang itu sendiri. Hal tersebut yang mengharuskan manajemen pakan dilakukan dengan berbagai kegiatan diantaranya adalah pemilihan pakan, melakukan program pemberian pakan yang meliputi blind feeding dan demand feeding, perhitungan score anco dan kegiatan sampling. Hasil dari manajemen pakan yang dilakukan pada tambak 23 modul 7 (luas tambak 2000 m 2 , padat tebar 65 ekor/ m 2 , jumlah tebar 130.000 ekor) diperoleh berat rata-rata (MBW) udang 17,85 gr, SR 80,11 %, biomass 1.859,47 kg, dan FCR 1,7 dengan pakan komulatif 3.156 kg. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka kegiatan manajemen pakan sudah dilakukan dengan baik karena telah mencapai FCR yang optimal.

RIWAYAT HIDUP

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Mojopahit, Lampung Tengah pada tanggal 23 Juli 1990 merupakan anak pertama

Penulis dilahirkan di Mojopahit, Lampung Tengah pada

tanggal

23

Juli

1990

merupakan

anak

pertama

dari

dua

bersaudara dari pasangan ayahanda Cep Suharianto dan ibunda

Rumidah.

Penulis

menyelesaikan

pendidikan

Taman

Kanak-Kanak

(TK)

Xaverius

Dipasena pada tahun 1995, Sekolah Dasar (SD) Xaverius Dipasena pada tahun

2002 dan menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP

Negeri 2 Punggur pada tahun 2005. Penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah

Menengah Atas (SMA) Kartikatama Metro selesai pada tahun 2008.

Penulis melanjutkan perguruan tinggi di Politeknik Negeri Lampung di

Jurusan Peternakan, Program Studi Budidaya Perikanan melalui jalur Ujian

Masuk Politeknik Negeri (UMPN) pada tahun 2008. Penulis pernah mengikuti

Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) Dikti pada tahun 2010 dan Program

Kreatifitas Mahasiswa (PKM) 2010.

Motto

Sepi ing pamrih rame ing gawe, banter tan mbancangi, dhuwur tan ngungkuli

Aku tak pernah memikirkan masa depan, ia akan datang segera

(Albert Eeinstein)

Bekerjalah dengan rasa cinta, bagaikan menenun kain dengan benang yang di tarik dari jantungmu seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak

(Khalil Gibran)

Karya kecilku ini kudedikasikan untuk kedua orang tua tercinta, saudara-saudaraku, sahabat- sahabat terbaikku dan wanita terkasih…

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan

karunianya

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan

Laporan

Tugas

Akhir

Mahasiswa yang berjudul Manajemen Pemberian Pakan Budidaya Udang

Putih (Litopenaeus vannamei) di PT Aruna Wijaya Sakti” sebagai salah satu

syarat

untuk

mencapai

sebutan

Ahli

Madya

(A.Md).

Laporan

ini

disusun

berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT Aruna Wijaya Sakti

Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang dari tanggal 28 Februari

2011 sampai 29 April 2011.

Pada

kesempatan

ini

penulis

mengucapkan

terima

kasih

yang

sebesar-

besarnya kepada :

 

1. Ayahanda

Cep

Suharianto

dan

Ibunda

Rumidah

yang

selalu

memberi

semangat, motivasi, doa serta dukungan baik moril maupun materil.

2. Bapak Ir. Ridwan Baharta, M.Sc, selaku Direktur Politeknik Negeri Lampung

3. Bapak Ir. Yadi Priabudiman, M.P, selaku Ketua jurusan Peternakan.

4. Ibu Ninik Purbosari, S.Pi, M.Si, selaku Ketua Program Studi Budidaya

Perikanan dan Dosen Pembimbing I yang telah memberi arahan dalam

menyelesaikan Laporan Tugas Akhir Mahasiswa.

5. Bapak Juli Nursandi, S.Pi, M.Si. selaku Dosen Pembimbing II yang telah

memberikan

bimbingan

dalam

menyelesaikan

Laporan

Tugas

Akhir

Mahasiswa.

i

6.

Bapak Ir. Jentu Jatmiko, selaku pembimbing lapang di PT Aruna Wijaya

Sakti.

7. Seluruh rekan-rekan karyawan Treatment Pond Operator (TPO) dan Manajer

Teknis (MT) di Research and Development (RND) PT Aruna Wijaya Sakti.

8. Sahabat seperjuangan di PT Aruna Wijaya Sakti (Agus, Suyadi, Kabul) dan

seluruh teman-teman Budidaya Perikanan angkatan 2008.

Penulis menyadari dalam penulisan Laporan Tugas Akhir Mahasiswa ini

masih banyak terdapat kekurangan, seperti kata pepatah “tiada gading yang tak

retak” oleh karena itu penulis mengharapkan kritik yang membangun dari semua

pihak. Akhirnya penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi

penulis maupun pihak yang lain.

Bandar Lampung, Agustus 2011

ii

Penulis

DAFTAR ISI

 

Halaman

DAFTAR TABEL

v

DAFTAR GAMBAR

vi

DAFTAR LAMPIRAN

vii

I. PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Tujuan

3

1.3 Waktu dan Tempat

3

1.4 Metode Pelaksanaan

3

II. TINJAUAN PUSTAKA

4

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Udang Putih (Litopenaeus vannamei)

4

2.2 Fisiologi Udang Putih (Litopenaeus vannamei)

5

2.3 Pergantian Kulit (Moulting)

7

2.3.1 Proses moulting

7

2.3.2 Faktor-faktor moulting

8

2.3.3 Kegagalan moulting dan pencegahannya

9

2.4 Kebiasaan Makan Udang Putih (Litopenaeus vannamei)

9

2.5 Pakan Udang Putih (Litopenaeus vannamei)

10

2.6 Manajemen Pakan Udang

12

2.6.1

Pemilihan jenis pakan

12

` 2.6.2 Program pemberian pakan

12

2.6.3 Cara pemberian pakan

13

2.6.4 Frekuensi pakan

14

2.6.5 Pengecekan anco

15

2.7

Pengaruh Pemberian Pakan Terhadap Kualitas Air

16

III. Keadaan Umum Lokasi

18

3.1 Sejarah Singkat Perusahaan

18

3.2 Lokasi Perusahaan

19

iii

3.3

Stuktur Organisasi

19

3.4 Sarana dan Prasarana Perusahaan

21

3.5 Peralatan Tambak dan Perlengkapannya

21

IV. MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN

23

4.1 Prinsip Manajemen Pakan

23

4.2 Jenis dan Kode Pakan

25

4.3 Kandungan Gizi Pakan

26

4.4 Syarat Penyimpanan dan Standar Kualitas Pakan

27

4.5 Pemberian Pakan

30

4.5.1 Tahapan pemberian pakan

31

4.5.2 Feeding area

31

4.5.3 Waktu dan frekuensi pemberian pakan

32

4.6

Program Pemberian Pakan (feeding program)

33

4.6.1 Program pemberian pakan bulan pertama (blind feeding)

33

4.6.2 Program pakan berdasarkan kebutuhan udang (demand feeding)

33

4.7

Manajemen Sampling

37

4.7.1 Perhitungan Mean Body Weight (MBW)

38

4.7.2 Perhitungan Average Daily Growth (ADG)

39

4.7.3 Perhitungan Survival Rate (SR)

40

4.7.4 Perhitungan populasi

40

4.7.5 Perhitungan biomass

41

4.7.6 Perhitungan pakan per hari (P/H)

42

4.7.7 Perhitungan Feed Convertion Rate (FCR)

43

V. KESIMPULAN DAN SARAN

45

5.1 Kesimpulan

45

 

5.2 Saran

45

DAFTAR PUSTAKA

46

iv

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Fase moulting pada udang putih dewasa (Litopenaeus vannamei)

7

2. Interval Moulting dan Penambahan Bobot Badan

8

3. Syarat mutu pakan udang putih (Litopenaeus vannamei)

11

4. Kesesuaian nomor pakan dengan MBW udang putih (Litopenaeus vannamei)

12

5. Jumlah anco per luasan tambak budidaya

15

6. Pengaruh tingkat pemberian pakan terhadap kondisi udang, kualitas air dan dasar tambak menurut Haliman dan Adijaya (2005)

24

7. Kesesuaian nomor pakan dengan Mean Body Weight (MBW) udang putih (Litopenaeus vannamei)

26

8. Kesesuaian kandungan nutrisi dengan nomor pakan yang digunakan di PT Aruna Wijaya Sakti

27

9. Jumlah pakan per hari (P/H), pakan per minggu dan pakan komulatif pada tambak 23 modul 7 selama blind feeding

33

10. Persentase (%) pakan untuk setiap anco dan lama cek anco (jam)

34

11. Penambahan dan pengurangan jumlah pakan/hari berdasarkan score anco

35

12. Contoh perhitungan penambahan dan pengurangan jumlah pakan/hari

36

13. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat akurasi pengecekan anco

36

14. Berat rata-rata (MBW) udang pada tambak 23 modul 7

38

15. Pertumbuhan rata-rata harian (ADG) udang pada tambak 23 modul 7 .

39

16. Tingkat kelangsungan hidup (SR) udang pada tambak 23 modul 7

40

17. Populasi udang pada tambak 23 modul 7

41

18. Biomass udang pada tambak 23 modul 7

41

19. Jumlah pakan per hari (P/H), pakan per minggu dan pakan komulatif pada tambak 23 modul 7

42

20. Nilai FCR pada tambak 23 modul 7 sampai DOC 119 (panen)

43

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Morfologi udang putih (Litopenaeus vannamei)

5

2. Anatomi udang putih (Litopenaeus vannamei)

5

3. Penempatan posisi anco yang tepat pada tambak budidaya

16

4. Struktur Organisasi PT Aruna Wijaya Division

Sakti pada Aquaculture

20

5. Pemanfaatan pakan untuk kebutuhan udang putih (Litopenaeus vannamei)

25

6. Pakan udang putih (Litopenaeus vannamei) jenis 01, 02, 03, 04S dan

04

26

7. Penumpukkan dan penyimpanan pakan yang baik

28

8. Pakan udang yang baik dan pakan yang buruk (berjamur)

29

9. Pemberian Pakan (feeding) di PT Aruna Wijaya Sakti

30

10. Feeding area dengan luas tambak 2000 m 2

32

11. Pengecekan anco

34

12. Sampling udang di PT Aruna Wijaya Sakti

37

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Tabel blind feeding selama budidaya

48

2. Data tambak fase demand feeding selama budidaya

49

3. Contoh Perhitungan Hasil Sampling

50

vii

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Udang putih (Litopenaeus vannamei) berasal dari perairan Amerika dan

masuk ke Indonesia pada tahun 2001 (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,

2009). Daerah penyebaran udang putih meliputi Pantai Pasifik, Meksiko, Laut

Tengah dan Selatan Amerika. Sebuah wilayah dimana suhu air secara umum

berkisar di atas

20 0 C sepanjang tahun yang merupakan tempat populasi udang

putih (Litopenaeus vannamei) berada (Wyban, et al. 1991 dalam Wibowo, 2009).

Spesies ini relatif mudah untuk berkembang biak dan dibudidayakan, maka udang

putih menjadi salah satu spesies andalan dalam budidaya udang di beberapa

negara dunia.

Beberapa

keunggulan

yang

dimiliki

udang

putih

antara

lain

responsif

terhadap pakan yang diberikan, lebih tahan terhadap serangan penyakit dan

lingkungan yang kurang baik. Udang putih juga memiliki pasaran yang pesat di

tingkat internasional (Ariawan, 2005). Bahkan udang ini sudah dapat dijual pada

saat berukuran 7,0 - 10,0 gr/ekor atau pada saat udang berumur sekitar 60 hari di

tambak. Briggs, et al. (2004) dalam Darma (2011) menerangkan bahwa udang

putih membutuhkan pakan dengan kandungan protein 25-30%, lebih rendah

daripada udang windu. Di samping itu feeding efficiency-nya juga lebih baik,

dengan Feed Convertion Rate (FCR) 1,2-1,8 pada budidaya udang putih secara

intensif, sedangkan FCR udang windu 1,5-2. Dari kedua alasan tersebut dan

dengan pertumbuhan yang lebih cepat dan sintasan yang lebih tinggi, maka biaya

2

produksi udang putih lebih rendah hingga 25-30% daripada biaya produksi udang

windu.

Salah satu perusahaan yang melakukan kegiatan budidaya udang putih dalam

usaha pembesaran adalah PT Aruna Wijaya Sakti. Proses pembesaran udang putih

yang dilakukan PT Aruna Wijaya Sakti pada mengacu pada Standar Operation

Procedure

(SOP)

dan

Best

Aquaculture

Practices

(BAP)

sebagai

pedoman

budidaya yang bersifat dinamis seiring dengan permasalahan yang ditemukan di

lapangan dan perkembangan teknologi budidaya udang yang ada.

Pada budidaya udang putih dengan pola intensif manajemen pemberian pakan

merupakan langkah awal yang harus diperhatikan untuk menentukan baik jenis,

ukuran

frekuensi

dan

total

kebutuhan

pakan

selama

masa

pemeliharaan

(Adiwidjaya, et al. 2005). Hal tersebut harus diperhatikan karena ketergantungan

udang terhadap adanya suplai pakan dari luar lingkungannya akan semakin tinggi.

Padat penebaran yang relatif tinggi menyebabkan ketersediaan pakan alami di

dalam perairan tambak akan semakin cepat habis dan dalam kondisi seperti ini

akan meningkatkan terjadinya proses kanibalisme udang di dalam tambak.

Manajemen pakan merupakan salah satu dari beberapa aspek keberhasilan

budidaya udang. Hal ini karena biaya pakan menempati 60

70% dalam

perhitungan biaya produksi (Haryanti, 2003). Pengelolaan pakan harus dilakukan

sebaik mungkin dengan memperhatikan apa, berapa banyak, kapan, berapa kali,

dan dimana udang diberi pakan. Penerapan program pakan hendaknya disesuikan

dengan

tingkah

laku

makan

kultivan,

serta

siklus

alat

pencernaan

guna

memaksimalkan penggunaan pakan (Tacon, 1987 dalam Tahe, 2008). Maka para

pembudidaya selalu berusaha menekan biaya produksi yang seefisien mungkin

dari berbagai komponen produksi, salah satunya adalah dengan berbagai aplikasi

3

dan teknik pemberian pakan buatan pada budidaya udang. Berdasarakan hal

tersebut diatas maka Laporan Tugas Akhir ini mengambil tema manajemen

pemberian pakan pada budidaya udang putih (Litopenaeus vannamei).

1.2 Tujuan

Tujuan penulisan Laporan Tugas Akhir dengan tema “Manajemen Pakan

pada Budidaya Udang Putih (Litopenaeus vannamei)” adalah :

1.

Menambah pengetahuan dalam menentukan program pakan untuk budidaya

udang putih (Litopenaeus vannamei).

2.

Mengetahui efektifitas pemberian pakan buatan pada usaha budidaya udang

putih (Litopenaeus vannamei).

1.3

Waktu dan Tempat

Tugas Akhir ini diambil dari kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) yang

dilaksanakan mulai tanggal 28 Februari 2011 sampai 29 April 2011. Lokasi PKL

di PT Aruna Wijaya Sakti Tulang Bawang, Lampung.

1.4 Metode Pelaksanaan

Pengambilan data Praktik Kerja Lapang untuk Tugas Akhir mahasiswa

dilakukan dengan 3 metode yakni:

1. Mengumpulkan data primer, melalui keikutsertaan langsung dalam kegiatan

budidaya di lapangan.

2. Mengumpulkan data sekunder, dari studi pustaka, wawancara dengan para

staf, karyawan maupun petambak.

3. Mengikuti kegiatan budidaya udang putih (Litopenaeus vannamei) di tambak

khususnya pada manajemen pemberian pakan dan pengamatan pertumbuhan

udang.

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Udang Putih (Litopenaeus vannamei)

Klasifikasi udang putih menurut (Effendie, 1997) adalah sebagai berikut :

Kingdom

: Animalia

Subkingdom

: Metazoa

Filum

: Arthropoda

Subfilum

: Crustacea

Kelas

: Malacostraca

Subkelas

: Eumalacostraca

Superordo

: Eucarida

Ordo

: Decapoda

Subordo

: Dendrobrachiata

Famili

: Penaeidae

Genus

: Litopenaeus

Spesies

: Litopenaeus vannamei

Haliman dan Adijaya (2004) menjelaskan bahwa udang putih memiliki tubuh

berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar (eksoskeleton) secara periodik

(moulting). Bagian tubuh udang putih sudah mengalami modifikasi sehingga

dapat digunakan untuk keperluan makan, bergerak, dan membenamkan diri ke

dalam lumpur (burrowing), dan memiliki organ sensor, seperti pada antena dan

antenula.

Kordi, K. (2007) juga menjelaskan bahwa kepala udang putih terdiri dari

antena, antenula, dan 3 pasang maxilliped. Kepala udang putih juga dilengkapi

dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki berjalan (periopoda). Maxilliped

sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Pada

5

ujung peripoda beruas-ruas yang berbentuk capit (dactylus). Dactylus ada pada

kaki ke-1, ke-2, dan ke-3

Abdomen terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen

terdapat 5 pasang (pleopoda) kaki renang dan sepasang uropods (ekor) yang

membentuk kipas bersama-sama telson (Suyanto dan Mujiman, 2003).

ADROSTRAL CARINA

ADROSTRAL CARINA EPIGASTRIC SPINE HEPATIC SPINE GASTRO -ORBITAL CARINA HEPATIC CARINA ANTENNAL SPINE ABDOMINAL SEGMENT

EPIGASTRIC SPINE

HEPATIC SPINE GASTRO -ORBITAL CARINA HEPATIC CARINA ANTENNAL SPINE ABDOMINAL SEGMENT ROSTRUM ANTENNAL SCALE
HEPATIC SPINE
GASTRO -ORBITAL CARINA
HEPATIC CARINA
ANTENNAL SPINE
ABDOMINAL SEGMENT
ROSTRUM
ANTENNAL
SCALE
SEGMENT
THIRD MAXILLIPED
PLEOPODA
PEREOPODA
(SWIMMERET)
(WALKING LEG)
ANTENNAL FLAGELLUM
UROPODA (TAIL FAN)

ANTENNULAR

FLAGELLUM

SIXTH ABDOMINAL

TELSON

Gambar 1. Morfologi udang putih (Litopenaeus vannamei) (Primavera, 1994)

STERNAL MIDGUT PYLORIC ARTERY SEGMENTAL INTESTINE STOMACH HEART ARTERY DORSAL OSTEUM SUPRAESOPHAGEAL ABDOMINAL
STERNAL
MIDGUT
PYLORIC
ARTERY
SEGMENTAL
INTESTINE
STOMACH
HEART
ARTERY
DORSAL
OSTEUM
SUPRAESOPHAGEAL
ABDOMINAL
GANGLION
POSTERIOR
ARTERY
OVARIUM
LOBE
HIND GUT
CARDIAC
STOMACH
VENTRAL NERVE
ESOPHAGEAL
CORD
ANUS
CONNECTIVE
OVIDUCT
MIDGUT GLAND
ANTENNAL
(HEPATOPANCREAS)
ARTERY
OVARY
VENTRAL
LATERAL
THORACIC ARTERY
ANTERIOR
OVARIAN
OVARIAN
LOBE
LOBE

Gambar 2. Anatomi udang putih (Litopenaeus vannamei) (Primavera, 1994)

2.2 Fisiologi Udang Putih (Litopenaeus vannamei)

Hendrajat (2003) menyatakan bahwa udang putih (Litopenaeus vannamei)

semula digolongkan kedalam hewan pemakan segala macam bangkai (omnivorus

scavenger) atau pemakan detritus. Usus udang menunjukkan bahwa udang ini

6

adalah

merupakan

omnivora

namun

cenderung

crustacea

kecil

dan

polychaeta.

Adapun

sifat

karnivora

yang

memakan

yang

dimiliki

udang

putih

(Litopenaeus vannamei) menurut (Fegan, 2003) adalah sebagai berikut :

A. Nocturnal

Secara alami udang merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari

untuk

mencari

makan,

sedangkan

pada

siang

hari

bersembunyi di dalam substrat atau lumpur.

B. Kanibalisme

sebagian

dari

mereka

Udang putih suka menyerang sesamanya, udang sehat akan menyerang udang

yang lemah terutama pada saat moulting atau udang sakit. Sifat kanibal akan

muncul terutama bila udang tersebut dalam keadaan kekurangan pakan pada padat

tebar tinggi.

C. Omnivora

Udang putih termasuk jenis hewan pemakan segala, baik dari jenis tumbuhan

maupun hewan (omnivora). Sehingga kandungan protein pakan yang diberikan

lebih rendah dibandingkan dengan pakan untuk udang windu yang bersifat

cenderung karnivora, sehingga biaya pakan relatif lebih murah.

D. Moulting (Pergantian Kulit)

Proses moulting ini menghasilkan peningkatan ukuran tubuh (pertumbuhan)

secara berkala. Ketika moulting, tubuh udang menyerap air dan bertambah besar,

kemudian terjadi pengerasan kulit. Setelah kulit luarnya keras, ukuran tubuh

udang tetap sampai pada siklus moulting berikutnya.

E. Ammonothelic

Amonia dalam tubuh udang putih dikeluarkan lewat insang.

7

2.3 Pergantian Kulit (Moulting)

Haliman dan Adijaya (2004) menjelaskan bahwa genus pennaeid mengalami

pergantian kulit (moulting) secara periodik untuk tumbuh, termasuk udang putih.

Proses moulting diakhiri dengan pelepasan kulit luar dari tubuh udang. Fase

moulting udang putih disajikan pada (Tabel 1).

Tabel 1. Fase moulting pada udang putih dewasa (Litopenaeus vannamei)

Fase

Lama

Ciri-ciri

Postmoulting awal 6 9 jam Kulit luar licin, lunak, dan membentuk semacam membran yang tipis dan transparan. Udang berada di dasar tambak dan diam. Lapisan kulit luar hanya terdiri dari epikutikula dan eksokutikula. Endoskutikula belum terbentuk

Postmoulting

1- 1,5 hari

Epidermis

mulai

mensekresi

lanjutan

endoskutikula. Kulit luar, mulut, dan bagian tubuh lain tampak mulai mengeras. Udang mulai mau makan.

Intermoult

4 5 hari Kulit luar mengeras permanen. Udang sangat aktif dan nafsu makan kembali normal.

Persiapan (Moulting Premoult)

8 10 hari Kulit luar lama mulai memisah dengan lapisan epidermis dan terbentuk kulit luar baru, yaitu epitelkutikula dan eksokutikula baru dibawah lapisan kulit luar yang lama. Sel-sel epidermis membesar. Pada tahap akhir, kulit luar mengembang seiring peningkatan volume cairan tubuh udang (haemolymp) karena menyerap air.

Moulting (ecdysis) 30 40 detik Terjadi pelepasan atau ganti kulit luar dan tubuh udang. Kulit udang yang lepas disebut exuviae

Sumber : Chanratcakool (1995) dalam Haliman dan Adijaya (2005)

2.3.1 Proses moulting

Genus Penaeid, termasuk udang putih mengalami pergantian kulit atau

moulting secara periodik untuk tumbuh. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan

moulting tergantung jenis dan umur udang. Pada saat udang masih kecil (fase

8

tebar atau PL 12), proses moulting terjadi setiap hari. Dengan bertambahnya

umur, siklus moulting semakin lama, antara 720 hari sekali. Nafsu makan udang

mulai menurun pada 12 hari sebelum moulting dan aktivitas makannya berhenti

total sesaat akan moulting. Persiapan

yang dilakukan udang putih sebelum

mengalami moulting yaitu dengan menyimpan cadangan makanan berupa lemak

di dalam kelenjar pencernaan (hepatopancreas) (Kordi K, 2007). Hubungan

moulting

dengan

pertambahan

bobot

tubuh

udang

putih

dapat

dilihat

pada

(Tabel 2).

Tabel 2. Interval Moulting dan Penambahan Bobot Badan

Bobot (gr)

Moulting (hari)

2

5

7 8

6

9

8 9

10

15

9 12

16

22

12 13

23

40

14 16

Sumber : Chanratcakool (1995) dalam Haliman dan Adijaya (2004)

2.3.2 Faktor faktor moulting

Moulting akan terjadi secara teratur pada udang yang sehat. Bobot badan

udang akan bertambah setiap kali mengalami moulting. Arifin (2005) menyatakan

bahwa

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

moulting

massal

yaitu

kondisi

lingkungan yaitu saat terjadi penurunan volume air (pasang-surut).

A. Air Pasang Surut

Air pasang yang disebabkan oleh bulan purnama bisa merangsang proses

moulting pada udang putih. Hal ini terutama banyak terjadi pada udang putih yang

dipelihara di tambak tradisional. Di alam, moulting biasanya terjadi diikuti saat

bulan purnama, dimana air laut mengalami pasang tertinggi sehingga perubahan

lingkungan tersebut sudah cukup merangsang udang untuk melakukan moulting.

9

Oleh karena itu, di tambak tradisional proses moulting tampak jelas karena air di

tambak

hanya

mengandalkan

pergantian

air

dari

pasang

surut

air

laut.

Penambahan volume air pada saat bulan purnama dapat menyebabkan udang

melakukan moulting. Penurunan volume air tambak saat persiapan panen juga

dapat

menyebabkan

moulting.

Moulting

sebelum

panen

bisa

menyebabkan

persentase udang yang lembek (soft shell) meningkat.

B. Kondisi Lingkungan

Proses

moulting

akan

dipercepat

bila

kondisi

lingkungan

mengalami

perubahan. Namun demikian, perubahan lingkungan secara drastis dan disengaja

justru

akan

menimbulkan

trauma

pada

udang.

Beberapa

tindakan

tersebut

diantaranya terlalu sering mengganti air tambak, tidak hati-hati saat melakukan

sipon (membersihkan tambak), dan pemberian saponin yang berlebihan.

2.3.3 Kegagalan moulting dan pencegahannya

Proses moulting dapat berjalan tidak sempurna atau gagal bila kondisi

fisiologis udang tidak normal. Kegagalan tersebut menyebabkan udang menjadi

lemah karena tidak mempunyai cukup energi untuk melepas kulit lama menjadi

kulit

baru.

Udang

yang

tidak

melakukan

moulting

dalam

waktu

lama

menunjukkan gejala kulit luar ditumbuhi lumut dan protozoa. Usaha pencegahan

kegagalan bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti dengan mengganti air

tambak (Haliman dan Adijaya, 2005).

2.4 Kebiasaan Makan Udang Putih (Litopenaeus vannamei)

Udang

putih

merupakan

omnivora

dan

scavenger

(pemakan

bangkai).

Makanannya biasanya berupa crustacea kecil dan polychaetes (cacing laut).

Udang mempunyai pergerakan yang hanya terbatas dalam mencari makanan dan

10

mempunyai

sifat

dapat

menyesuaikan

diri

terhadap

makanan

yang

tersedia

lingkungannya (Wyban, et al.1991 dalam Mahendra, 2007).

Udang putih termasuk golongan udang penaeid. Maka sifatnya antara lain

bersifat nocturnal artinya aktif mencari makan pada malam hari atau apabila

intensitas cahaya berkurang. Sedangkan pada siang hari yang cerah lebih banyak

pasif, diam pada rumpon yang terdapat dalam air tambak atau membenamkan diri

dalam lumpur (Effendi, 2000).

Pakan yang mengandung senyawa organik, seperti protein, asam amino, dan

asam lemak maka udang akan merespon dengan cara mendekati sumber pakan

tersebut. Saat mendekati sumber pakan, udang akan berenang menggunakan kaki

jalan yang memiliki capit. Pakan langsung dijepit menggunakan capit kaki jalan,

kemudian dimasukkan ke dalam mulut. Selanjutnya, pakan yang berukuran kecil

masuk

kedalam

berukuran

lebih

kerongkongan

(esophagus).

besar,

akan

dicerna

secara

maxilliped di dalam mulut (Kordi K, 2007).

Bila

pakan

yang

kimiawi

terlebih

dikonsumsi

dahulu

oleh

2.5 Pakan Udang Putih (Litopenaeus vannamei)

Pemeliharaan secara intensif dewasa ini pada prinsipnya hanya mengandalkan

pakan buatan yaitu bahan makanan yang telah dihancurkan menjadi bubuk dan

butiran. Pakan buatan udang putih adalah campuran dari berbagai bahan baku

pakan yang diformulasikan dengan kandungan nutrisi tertentu dalam bentuk

crumble dan pellet dengan tidak mengandung zat atau senyawa yang dapat

menimbulkan gangguan kesehatan pada udang putih serta memenuhi persyaratan

keamanan pangan dan lingkungan (Ghufran dan Kordi, 2004).

11

Penggunaan pakan buatan untuk udang harus memperhatikan kualitas dan

jumlah pakan. Kualitas pakan diantranya adalah sifat fisik dan sifat kimia yaitu

kandungan zat-zat dalam bahan yang mempengaruhi nilai nutrisi pakan. Pakan

yang berkualitas baik harus mengandung nutrisi yang lengkap dan seimbang bagi

kebutuhan udang (Lovell, 1989 dalam Herawati 2005).

Kualitas pellet sangat dipengaruhi, selain oleh kualitas bahan pakan penyusun

pellet

serta

cara

penyimpannya,

juga

dipengaruhi

oleh

sifat

fisik.

Dalam

menyusun formula pakan udang atau ikan pertimbangan yang perlu dilakukan

terutama

adalah

kandungan

protein,

lemak

atau

kalori

dan

ketersediaan

bahan-bahan pakan yang berkualitas baik dan mudah didapat serta relatif murah

harganya (Afrianto dan Liviawaty, 2005).

Kebutuhan nutrisi udang untuk pertumbuhan berbeda berdasarkan umur dan

bobot udang (Haryanti, 2003). Pakan buatan untuk udang putih diklasifikasikan

menjadi 3 jenis yaitu starter, grower dan finisher yang dapat berbentuk crumble

atau pellet dan pada masing-masing jenis memiliki kandungan nutrisi yang

berbeda. Syarat mutu pakan untuk udang putih disajikan pada (Tabel 3).

Tabel 3. Syarat mutu pakan udang putih (Litopenaeus vannamei)

Persyaratan Mutu

No

Kriteria Uji

Satuan

Starter

Grower

Finisher

1

Kadar air , maks

%

12

12

12

2

Kadar protein , min

%

32

30

28

3

Kadar lemak, min

%

6

6

5

4

Kadar serat kasar , maks

%

4

4

4

5

Kadar abu, maks

%

15

15

15

6

Kestabilan dalam air (setelah 90 menit), min

%

90

90

90

7

Nitrogen bebas, maks

%

0,15

0,15

0,15

9

Kandungan antibiotik

0

0

0

10

Bentuk dan diameter

mm

crumble

pellet

pellet

 

(< 1,6)

(1,6-2)

(> 2)

Sumber : SNI 7549:2009

12

2.6 Manajemen Pakan Udang

Manajemen pakan pada dasarnya suatu metode/cara pemberian pakan udang

dalam satu siklus budidaya. Kegiatan ini ikut menentukan tingkat keberhasilan

suatu sistem budidaya udang secara menyeluruh terutama keterkaitannya dengan

tingkat biaya produksi yang telah dikeluarkan, sehingga dalam penyusunannya

perlu kecermatan dan ketepatan dalam menentukan tingkat kebutuhan udang

terhadap

pakan.

Program

pakan

meliputi

pemilihan

jenis

pakan,

program

pemberian pakan, pemberian pakan, waktu pemberian pakan, dan pengecekan

anco (Taslihan,2007).

2.6.1 Pemilihan jenis pakan

Pemilihan jenis pakan harus disesuaikan dengan tingkatan umur dan berat

udang. Hal ini dikarenakan bukaan mulut dan tingkat kebutuhan pada udang akan

berbeda seiring dengan bertambahnya berat dan umur. Kesesuaian bentuk pakan

disajikan seperti berikut pada (Tabel 4).

Tabel 4.

Kesesuaian nomor pakan dengan MBW udang putih (Litopenaeus vannamei)

Umur udang (hari)

Berat udang

(gr)

Bentuk pakan

Nomor pakan

 

1

-

15

0,1

-

1,0

fine crumble

 

0

16

-

30

1,1

-

2,5

crumble

1+2

31

-

45

2,6

-

5,0

crumble

2

45

-

60

5,1

-

8,0

pellet

2+3

61

-

75

8,1

-

14,0

pellet

3

76

-

90

14,1

-

18,0

pellet

3+4

91

-

105

18,1

-

20,0

pellet

4

106

-

120

20,1

-

22,5

pellet

4

Sumber : SNI 7549:2009

 

2.6.2

Program pemberian pakan

 

Effendi

(2000)

mengatakan

pemberian

pakan

pada

udang

putih

dibagi

menjadi 2 yaitu pemberian pakan pada bulan pertama blind feeding dan pemberian

13

pakan berdasarkan kebutuhan udang (demand feeding). Blind Feeding adalah

pemberian pakan berdasarkan tabel estimasi program pemberian pakan bulan

pertama. Program ini dilakukan biasanya pada Day Of Culture (DOC) 1 hingga

DOC 30. Hal ini dilakukan pada saat tersebut populasi udang belum dapat dicek

dan kebutuhan pakannya belum diketahui secara tepat, karena udang masih

berukuran

kecil

belum

dapat

dilakukan

sampling.

Pada

saat

blind

feeding,

pemberian pakan tidak mengalami pengurangan, walaupun pada kenyataannya

udang tidak mau makan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk pembentukan air

tambak.

Haliman dan Adijaya (2005) menyatakan bahwa pemberian pakan udang

setelah blind feeding, dilakukan berdasarkan kebutuhan udang (demand feeding).

Tingkat kebutuhan udang dapat dilihat dari nafsu makan udang berdasarkan

scoring anco. Hal yang perlu diperhatikan dalam program pemberian pakan

dengan scoring anco yaitu Feeding Rate (FR), Feed Convertion Rate (FCR) dan

nafsu makan udang.

FR yaitu persentase pakan yang digunakan untuk mencapai pertumbuhan.

FCR merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang diberikan dengan jumlah

biomassa udang yang dihasilkan. Nafsu udang makan sangat mempengaruhi

dalam pembuatan program pemberian pakan udang. Hal yang mempengaruhi

nafsu makan udang antara lain kondisi kualitas air, cuaca, kondisi dasar tambak

yang kotor, suhu, kondisi pakan, periode moulting massal, penyakit, dan teknik

pengoplosan pakan saat pergantian nomor pakan (Sobana, 2008).

2.6.3 Cara pemberian pakan

Pemberian pakan ditebar merata di feeding area. Feeding area adalah bagian

dasar tambak yang digunakan sebagai sasaran penebaran pakan dan dikondisikan

14

selalu dalam keadaan bersih. Feeding area merupakan daerah yang sering dihuni

oleh udang. Untuk keperluan itu dipasang kincir untuk mengumpulkan kotoran di

dasar tambak agar tersentralisasi dan mudah dibersihkan atau disipon. Feeding

area ini memiliki lokasi yang berbeda sesuai dengan perkembangan pertumbuhan

udang (Adiwidjaya, et al. 2005).

2.6.3 Frekuensi Pakan

Frekuensi pakan merupakan salah satu bagian dari program pakan yang

memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan suatu program pakan

pada satu periode budidaya. Frekuensi pakan dapat diartikan sebagai berapa kali

suatu kegiatan pemberian pakan diberikan dalam satu hari (Sumeru dan Anna

2001).

Edhy (2006) menyatakan bahwa frekuensi pakan perlu disusun berdasarkan

pemikiran sebagai berikut :

1. Tingkat kebutuhan udang akan pakan relatif selalu berubah (fluktuatif)

berdasarkan waktu.

2. Nafsu makan udang relatif berbeda antara pagi, siang, sore dan malam.

3. Menghindari adanya over feeding (jumlah pakan berlebihan).

Frekuensi pakan merupakan program harian sehingga pemberian pakan dapat

menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan udang. Efektifitas dan efisiensi program

pakan

melalui

tolok

ukur FCR

dapat

terkontrol

secara harian.

Penyusunan

frekuensi pakan merupakan program yang berkesinambungan dalam satu siklus

budidaya yaitu dari mulai tebar sampai udang dipanen (Kristianto, 2008).

Adiwidjaya, et al. (2005) menjelaskan dalam menyusun frekuensi pakan

diperlukan pengamatan terhadap tingkat kebutuhan udang yang sebenarnya pada

suatu waktu. Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan adalah padat penebaran

15

benur, jumlah pakan per hari (P/H), waktu pemberian pakan, ukuran pakan, persen

pakan, persen pakan di anco dan waktu pengecekan pakan di anco.

2.6.5 Pengecekan Anco

Anco

merupakan

salah

satu

alat

yang

terbuat

dari

kain

kassa

dari

(nylon

strimmin) berbentuk

kotak dengan

ukuran

tertentu.

Anco

digunakan

sebagai pengontrol program pakan, pertumbuhan serta kualitas udang secara

harian/insidental. Pengecekan anco dibutuhkan untuk memantau naik turunnya

nafsu makan udang sehingga kebutuhan pakan pada saat itu bisa diestimasikan

agar

tidak

terjadi

under

feeding

berlebihan) (Tahe, 2008).

(pakan

kurang)

atau

over

feeding

(pakan

Edhy (2008) menjelaskan bahwa jumlah anco yang digunakan dalam satu

petakan

tambak

berbeda-beda

menurut

luasan

petakan

tersebut.

Hal

ini

dikarenakan semakin luas petakan tambak semakin luas feeding area-nya, maka

dengan penggunaan anco lebih

banyak akan menghasilkan tingkat akurasi

pengecekan yang lebih baik. Perbandingan penggunaan jumlah anco terhadap

luasan tambak dilihat pada (Tabel 5).

Tabel 5. Jumlah anco per luasan tambak budidaya

Luas tambak (Ha)

Jumlah anco (unit)

0,5

3 - 4

0,6 0,7 0,8 1,0

4 5 5 6

Sumber : PSBU (Pedoman Standar Budidaya Udang) PT AWS (2005)

Pemberian pakan di anco dilakukan

setelah penebaran pakan selesai. Pakan

ditebar secara merata di anco, kemudian anco diturunkan perlahan-lahan sampai

di dasar tambak. Posisi anco di dasar harus dalam keadaan datar atau tidak

miring, posisi miring menyebabkan pakan di anco terkumpul dalam satu sisi. Jika

posisi anco miring akan berpengaruh terhadap kebenaran informasi nafsu makan

16

udang ditambak (Haliman dan Adijaya, 2005). Penempatan posisi anco yang

tepat dapat dilihat pada (Gambar 3).

Benar Salah

Benar

Benar Salah

Salah

Sumber : PSBU (Pedoman Standar Budidaya Udang) PT AWS (2005)

Gambar 3. Penempatan posisi anco yang tepat pada tambak budidaya

2.7 Pengaruh Pemberian Pakan yang Berlebihan (overfeeding) Terhadap Kualitas Air

Pemberian jumlah pakan yang berlebihan juga memiliki pengaruh terhadap

penurunan

kualitas

air.

Salah

satu

parameter

kualitas

air

yang

cenderung

dipengaruhi oleh jumlah pemberian pakan adalah kadar amonia (NH 3 ). Amonia

merupakan hasil pengeluran kotoran dan sisa pakan yang tidak termakan oleh

udang yang larut dalam air. Amonia akan mengalami proses nitrifikasi dan

denitrifikasi sesuai dengan siklus nitrogen dalam air sehingga menjadi nitrit (NO 2 )

dan nitrat (NO 3 ). Proses ini dapat berjalan lancar bila tersedia nitrobacter dan

nitrosomonas, karena nitrobacter akan mengubah amonia menjadi nitrit dan

bakteri nitrosomonas akan mengubah nitrit menjadi nitrat. Hal ini disebabkan

amonia dan nitrit merupakan senyawa yang beracun maka harus diubah menjadi

senyawa lain yang tidak berbahaya yaitu nitrat. Salah satu cara meningkatkan

bakteri

nitrifikasi

dan

denitrifikasi

yaitu

dengan

aplikasi

probiotik

yang

mengandung bakteri yang dibutuhkan (Haliman dan Adijaya, 2005)

17

Amonia bebas ini terbentuk karena proses penguraian bahan organik tidak

berjalan dengan baik. Seperti diketahui bahwa dalam budidaya udang, pakan yang

diberikan

mengandung

kadar

protein

yang

tinggi.

Sedangkan

udang

yang

dibudidayakan mempunyai sistem pencernaan yang sangat sederhana, sehingga

kotoran udang masih mengandung kadar protein yang tinggi. Sisa pakan yang

tidak terkonsumsi dan kotoran udang akan menumpuk menjadi bahan organik

dengan kadar protein tinggi. Jika protein tersebut tidak terurai dengan baik, maka

kandungan amonia dalam perairan tambak akan tinggi. Kadar amonia bebas dalam

perairan tambak udang yang distandarkan adalah maksimal 0,01 ppm. Jika lebih

dari itu, dasar tambak harus disipon. Amonia sangat beracun bagi udang meskipun

pada konsentrasi rendah ± 0,1 mg/liter (Effendi, 2000). Pengukuran kadar amonia

bebas dilakukan setiap 7 hari sekali, diukur menggunakan Ammonia Test Kit.

18

III. KEADAAN UMUM LOKASI

3.1 Sejarah Singkat Perusahaan

PT Aruna Wijaya Sakti

adalah PT Dipasena Citra Darmaja yang kemudian

berganti nama pada 12 Juni 2007. PT Aruna Wijaya Sakti merupakan perusahaan

udang yang terdiri dari budidaya tambak pembesaran udang, pabrik pakan,

industri pengolahan udang dan pemasarannya. Pada tahun yang sama, telah

diberikan konsesi pertama untuk mengembangkan 16.250 hektar lahan pasang

surut yang sebelumnya tak berpenghuni di Propinsi Lampung, Sumatera Selatan.

Perusahaan

menyelesaikan konversi lahan menjadi fasilitas akuakultur

yang

terintegrasi dengan 18.064 tambak (sebanyak 3.613 hektar areal budidaya) dan

infrastruktur pendukung termasuk 1.300 km kanal inlet dan outlet.

Pada tahun 1991 memproduksi 1.873 ton udang windu yang melonjak

menjadi 11.068 ton pada 1994. Setahun kemudian naik menjadi 16.250 ton.

Ekspor udang sebagian besar ke pasaran Jepang, Amerika Serikat dan sebagian

negara-negara Eropa. Citra Indonesia di mata dunia, pada tahun 1997, sempat

terangkat sebagai produsen udang terbesar kedua di dunia.

Pada tahun 2007 komoditas produksi berubah

menjadi udang putih. PT

Aruna Wijaya Sakti menerapkan sistem Best Aquaculture Practice dan sistem

biosecurity. Selain itu, teknologi budidaya water close system dan module based

dimana

pembuatan

tandon

penampungan

air

yang

akan

digunakan

untuk

mensterilisasi air dan mengolah kualitas air yang digunakan untuk berbudidaya

sebagai solusi memperkecil kerugian akibat penyakit.

19

PT Aruna Wijaya Sakti dalam menghasilkan produk udang berpedoman pada

Good Aquaculture Practices (GAP) yang berdasarkan pada Standar Operating

Prosedur (SOP). Tujuan utama dari GAP adalah menghasilkan produk udang

yang

sehat

dan

aman

untuk

dikonsumsi

oleh

manusia.

Standar

Operating

Prosedur (SOP) dari kegiatan budidaya adalah penjelasan detail dari total seluruh

aktivitas produksi selama priode budidaya, dari persiapan tambak hingga panen.

3.2 Lokasi Perusahaan

PT Aruna Wijaya Sakti dengan 16.250 hektar ini terletak wilayah Kecamatan

Rawajitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang yang berada di antara Muara Way

Mesuji dan Muara Way Tulang Bawang. Kampung-kampung yang terdapat di

areal pertambakan adalah: Kampung Bumi Dipasena Sentosa, Bumi Dipasena

Utama, Bumi Dipasena Agung, Bumi Dipasena Jaya, Bumi Dipasena Mulia,

Bumi Dipasena Sejahtera, dan Bumi Dipasena Abadi. Adapun batas batas

wilayah PT Aruna Wijaya Sakti yaitu sebelah utara berbatasan dengan Sungai

Way Mesuji, sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Way Tulang Bawang,

sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Rawajitu Selatan dan sebelah timur

berbatasan dengan Laut Jawa.

3.3 Struktur Organisasi

Organisasi adalah suatu proses penempatan dan pembagian pekerjaan yang

akan di lakukan, pembatasan tugas dan tanggung jawab serta wewenang dan

penempatan hubungan antara unsur organisasi, sehingga memungkinkan orang

dapat bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan.

Struktur organisasi setiap

perusahaan berbeda karena disusun berdasarkan kebutuhan perusahaan yang

bersangkutan.

20

Semakin

luas

dan

semakin

besar

bidang

usahanya,

maka

struktur

organisasinya akan menjadi lebih lengkap dan komplek. Bagian dari manajemen

PT Aruna Wijaya Sakti yang berkaitan dengan aktifitas budidaya di lapangan dan

bertanggung jawab atas kelangsungan aktifitas perusahaan adalah sebagai berikut

(Gambar 4) :

aktifitas perusahaan adalah sebagai berikut (Gambar 4) : Gambar 4. Struktur Organisasi PT Aruna Wijaya Sakti

Gambar 4.

Struktur Organisasi PT Aruna Wijaya Sakti pada Aquaculture Division

Keterangan :

1. Manager Modul bertanggung jawab dan membantu proses produksi dan

membimbing para pengawas serta membuat strategi perencanaan budidaya.

2. Section Head bertanggung jawab membimbing pengawas dan pelaksana

produksi budidaya, dan membawahi Supervisior, Treatment Pond Operation

(TPO), dan Pond Operation (PO) serta petani plasma.

3. Supervisor bertanggung jawab mengawasi dan memberi bimbingan budidaya

udang kepada pelaksana produksi Treatment Pond Operation (TPO), Pond

Operation (PO) dan petani plasma.

4. Treatment Pond Operator bertanggung jawab mengelola air pada treatment

pond dan mencatat data monitoring tambak budidaya.

5. Pond Operator dan Petani Plasma bertanggung jawab menjalankan segala

aktivitas budidaya udang di lapangan.

21

3.4 Sarana dan Prasarana Perusahaan

PT Aruna Wijaya Sakti, selain membangun tambak, kawasan yang semula

berupa rawa, juga ditata menjadi tujuh areal infrastruktur seluas 753.28 hektar dan

sebuah infrastruktur Tata Kota seluas 1.000 hektar. PT AWS juga membangun

dermaga ekspor khusus untuk pengapalan udang segar ke mancanegara. Adapun

sarana dan prasarana PT Aruna Wijaya Sakti antara lain transportasi dan angkutan

umum, perumahan karyawan dan petambak plasma, pasar lokal, bank, koperasi,

lapangan olah raga, pabrik pakan dan gudang pakan, instalasi pendingin (cold

storage), laboratorim research & development, tambak operasional dan fasilitas

pendidikan.

3.5 Peralatan Tambak dan Perlengkapanya

Aktivitas budidaya dengan padat penebaran tinggi memerlukan perhatian dan

perlakuan

yang lebih

terhadap

udang

yang dibudidayakan,

oleh karena itu

aktivitas budidaya memerlukan peralatan dan perlengkapan tambak yang optimal.

Peralatan dan perlengkapan dengan pola budidaya secara intensif memerlukan

peralatan dan perlengkapan sebagai berikut:

A. Kincir (Paddle Whell Aerator), kincir berfungsi untuk menghasilkan oksigen

terlarut,

melokalisir

lumpur

yang

berada

pada

dasar

tambak,

dan

menyeimbangkan parameter kualitas air terutama suhu dan oksigen terlarut.

Kincir terdiri dari dua jenis yaitu kincir 1 HP dan kincir 2 HP.

B. Pompa Air Elektrik (Electric Water Pump), pompa air elektrik adalah alat

listrik yang digunakan untuk memompa air masuk dan keluar pada tambak,

pompa yang digunakan adalah pompa 8 inchi dan pompa 6 inchi.

22

C. Anco dan Jembatan Anco, anco adalah alat yang digunakan untuk mengontrol

populasi udang pada Day Of Culture (DOC) awal mengontrol konsumsi

pakan udang dan memonitor kesehatan udang. Anco berbentuk bujur sangkar

dengan ukuran 0,9×0,9m, terbuat dari strimin 100mikron (0,1mm) dengan

menggunakan bingkai stainless steel. Satu anco diasumsikan dapat meng-

cover luas tambak 1.600m 2 , sehingga pada tambak seluas 2.000m 2 digunakan

3 anco. Jembatan anco adalah tempat untuk melakukan pengecekan anco

yang posisinya menjorok ± 2,5m dari dinding tambak ke arah tengah.

D. Strimin

Filter,

strimin

filter adalah

alat

untuk

menyaring kotoran

atau

organisme air yang terbawa air masuk ke lingkungan tambak.

Strimin filter

yang berbentuk kondom yang digunakan di pipa inlet, central drain, side

drain, pipa flush out, quarantine pond dan pipa pompa pemasukan air.

E. Alat sipon, alat sipon merupakan seperangkat alat yang digunakan untuk

menyedot endapan, kotoran (lumpur) di dasar tambak dan mengeluarkanya

keluar tambak. Alat sipon terdiri dari 2 jenis, yaitu alat sipon sistem gravitasi

dan pompa sipon elektrik. Perlengkapan sipon terdiri dari pompa sipon, pipa

T, sok sipon, dan selang spiral.

F. Secchi disk, adalah alat yang digunakan untuk mengukur kecerahan air dalam

satuan cm yang berbentuk

lingkaran dengan pegangan berupa kayu yang

diberi skala dan dicat hitam dan putih.

G. Serok halus dan serok kasar, serok halus adalah alat yang digunakan untuk

membuang klekap dan busa yang berada di permukaan air tambak. Serok

kasar adalah alat untuk mengambil udang yang menempel di dinding, udang

lemah, udang sakit, dan udang keropos dari dalam tambak.

23

IV. MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN BUDIDAYA UDANG PUTIH (Litopenaeus vannamei)

4.1 Prinsip Manajemen Pakan

Pada budidaya udang putih (Litopenaeus vannamei) secara intensif di PT

Aruna Wijaya Sakti, manajemen pakan merupakan hal sangat besar pengaruhnya

terhadap keberhasilan budidaya. Hal tersebut disebabkan pertumbuhan udang

sangat bergantung terhadap konsumsi pakan yang diberikan. Selain itu biaya

pakan menempati 6070% dalam perhitungan biaya produksi. Namun biaya

produksi untuk pengelolaan pakan masih dapat ditekan dengan membuat program

pemberian pakan agar pakan yang diberikan tidak berlebihan dan pertumbuhan

udang pun tetap berlangsung dengan optimal (Sumeru dan Anna, 2001).

Manajemen pakan pada prinsipnya adalah memberikan pakan secara tepat

sesuai kebutuhan udang untuk hidup dan tumbuh optimal. Tingkat pemberian

pakan

yang

kurang

(under

feeding)

mengakibatkan

pertumbuhan

udang

terhambat, sedangkan pemberian pakan berlebih (over feeding) bisa menimbulkan

pencemaran air yang berasal dari

akumulasi sisa pakan pada dasar tambak.

Akibatnya udang mudah stres sehingga pertumbuhan udang terhambat. Selain itu,

daya tahan udang terhadap penyakit pun menurun sehingga angka mortalitasnya

meningkat (Haliman dan Adijaya, 2005).

Teknis pemberian pakan pada budidaya udang putih merupakan langkah awal

yang harus diperhatikan untuk menentukan baik jenis, ukuran frekuensi dan total

kebutuhan pakan selama masa pemeliharaan (Adiwidjaya, et al. 2005). Pada suatu

petakan tambak, udang relatif tidak mempunyai alternatif lain dalam memilih dan

24

mencari sumber makanan karena ruang gerak dan habitatnya dibatasi oleh petakan

tambak. Situasi ini mengarahkan udang dalam suatu kondisi ketergantungan

pakan yang disuplai dari luar lingkungannya, karena ketersediaan pakan alami

yang ada di dalam perairan tersebut semakin menipis dengan bertambahnya

ukuran udang dan bahkan pada waktu tertentu akan mengakibatkan habisnya

pakan alami tersebut. Oleh karena itu PT AWS lebih mengandalkan pemberian

pakan dengan menggunakan pakan buatan. Pengaruh tingkat pemberian pakan

terhadap kondisi udang, kualitas air dan dasar tambak disajikan pada (Tabel 6).

Tabel 6. Pengaruh tingkat pemberian pakan terhadap kondisi udang, kualitas air dan dasar tambak

Kisaran tingkat pemberian pakan

Pengaruh

Over feeding

Pertumbuhan cepat namun hanya sementara.

Dasar tambak kotor.

Kualitas air buruk.

Kondisi udang lemah.

Under feeding

Pertumbuhan lambat udang lemah.

Dasar tambak bersih.

Kualitas air bagus.

Optimal feeding

Pertumbuhan bagus, udang sehat.

Dasar tambak bersih.

Kualitas air bagus.

Sumber : Haliman dan Adijaya (2005)

Kegiatan pemberian pakan udang secara mendasar harus mengacu pada sifat

dan behaviour udang dalam kaitannya dengan feeding habits (kebiasaan pola

makan) dan foods habits (kebiasaan makan berdasarkan jenis makanan) dari

udang itu sendiri agar pemberian pakan yang dilakukan merupakan kegiatan yang

terukur dan tepat sasaran baik dari segi waktu dan tingkat kebutuhan udangnya.

Pada

dasarnya

udang

memiliki

batas

maksimum

terhadap

pakan

yang

dimakan. Jika saat perut udang penuh, udang akan berhenti mengkonsumsi pakan

dan menunggu hingga beberapa jam lagi untuk kembali memakan makanan

25

setelah

perutnya

kosong.

Maka,

pemberian

pakan

dengan

jumlah sebanyak

banyaknya bukan solusi yang tepat untuk mendapatkan pertumbuhan udang yang

baik. Batas makanan yang mampu dimakan oleh setiap ekor udang berbeda

menurut

Mean

Body

Weight

(MBW)

udang

(Hendrajat,

2003).

Berikut

ini

pemanfaatan pakan untuk kebutuhan udang putih dapat dilihat (Gambar 5).

pakan untuk kebutuhan udang putih dapat dilihat (Gambar 5). Sumber : Primavera (1994) Gambar 5 .

Sumber : Primavera (1994)

Gambar 5.

Pemanfaatan

pakan

untuk

kebutuhan

udang

putih

(Litopenaeus

vannamei)

4.2 Jenis dan Kode Pakan

Budidaya udang intensif, sepenuhnya produksi didasarkan pada pakan buatan

yang diberikan. Pemberian pakan dianggap efektif bila pakan yang diberikan

secara keseluruhan dapat dicerna oleh udang (Hutabarat, 1990 dalam Herawati,

2005). Oleh karena itu pakan yang diberikan

bentuk

fisik

sesuai

dengan

kebutuhan

udang

pertumbuhan dan efisiensi pakan.

harus mempunyai ukuran dan

sehingga

akan

meningkatkan

Pakan untuk budidaya udang intensif berupa pellet. Pakan udang yang

digunakan di pertambakan PT Aruna Wijaya Sakti adalah pakan

pellet dengan

merek Bestari Indoprima. Pakan pellet yang diberi nomor sesuai dengan berat

rata-rata atau Mean Body Weight (MBW) dan umur atau Daily Of Culture (DOC)

26

udang. Berikut ini adalah kesesuaian kode dan bentuk pakan berdasarkan ukuran

dan Mean Body Weight (MBW) udang (Tabel 7 dan Gambar 6).

Tabel 7. Kesesuaian nomor pakan dengan Mean Body Weight (MBW) udang putih (Litopenaeus vannamei)

 

Nomor Pakan

Bentuk Pakan

MBW (gr)

01

Crumble

0,01 - 1,0 1,0 - 2,0 2,0 - 4,0 4,0 - 5,0 5,0 - 7,0 7,0 - 8.0 8,0 -11,0 11,0 - 12,0

01+02

Crumble

02

Crumble

02+03

Crumble

03

Crumble

03+04s

Crumble/pellet

04s

Pellet

04s+04

Pellet

04

Pellet

>12,0

Sumber : PSBU (Pedoman Standar Budidaya Udang) PT AWS (2005)

 
 
01 02 03 04S 04
01
02
03
04S
04

Gambar 6.

Pakan udang putih (Litopenaeus vannamei) jenis dan 04

01, 02, 03, 04S

4.3 Kandungan Gizi Pakan

Nutrisi dan pemberian pakan memegang peranan penting untuk kelangsungan

usaha budidaya hewan akuatik (Haryanti, 2003). Oleh karena itu, upaya perbaikan

komposisi nutrisi dan perbaikan efisiensi penggunaan pakan tambahan perlu

dilakukan guna menigkatkan produksi hasil perikanan budidaya dan mengurangi

biaya

pengadaan

pakan,

serta

meminimalkan

produksi

limbah

pada

media

budidaya,

sehingga

dapat

tercipta

budidaya

udang

yang

berkelanjutan

(Adiwidjaya, et al. 2005).

27

Ghufran dan Kordi (2004) menyatakan bahwa pada prinsipnya komponen

pakan dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar yaitu: 1) komponen

makro, 2) komponen mikro, dan 3) komponen suplemen atau food additives.

Protein, karbohidrat, dan lemak termasuk dalam

komponen

makro, sedangkan

yang termasuk dalam komponen mikro adalah vitamin, mineral dan

zat pengikat

(binder). Makanan yang baik bagi udang putih adalah yang mengandung protein

paling bagus minimal 30% dan dalam memberikan pertumbuhan maksimum

banyaknya protein akan menurun bersamaan dengan meningkatnya umur udang

(Sumeru dan Anna, 2001). Di PT AWS pemberian pakan dengan merek Bestari

Indoprima. Kandungan nutrisi pada pakan tersebut dibedakan menurut kode dan

umur udang putih (Tabel 8).

Tabel 8. Kesesuaian kandungan nutrisi dengan nomor pakan yang digunakan di PT Aruna Wijaya Sakti

Nomor Pakan

Protein

Lemak

Kadar Air

Serat Kasar

Minimal (%)

Minimal (%)

Maksimal (%)

Maksimal (%)

01

38

3

12

4

02

38

3

12

4

03

37

3

11

3

04s

37

3

11

3

04

36

3

11

3

Sumber : Kemasan pakan merek Bestari Indoprima (2011)

4.4 Syarat Penyimpanan dan Standar Kualitas Pakan

Penyimpanan pakan yang baik akan memperpanjang waktu penyimpanan.

Pakan yang terkena air akan menyebabkan kandungan nutrisi berkurang, aroma

berubah, dan berjamur. Pakan yang terlalu lama terkena sinar matahari juga tidak

baik karena kandungan vitamin C-nya akan rusak. Penyimpanan yang baik

dilakukan di tempat yang kering yang memiliki sirkulasi udara lancar, serta

terlindung dari air dan matahari (Afrianto dan Liviawaty, 2005).

28

Pada proses manajemen pakan di PT AWS para

petambak melakukan

penyimpanan pakan yang disyaratkan sebagai berikut :

1. Tempat dalam kondisi kering, tidak lembab dan berventilasi baik.

2. Pada

tempat

penyimpanan

pakan

harus

pengerat, unggas dan serangga.

aman

dari

gangguan

binatang

3. Pakan harus terlindung dari sinar matahari

4. Memakai alas atau landasan dalam meletakkan pakan.

5. Penumpukan tidak melebihi 10 sak, untuk menjaga agar pakan tidak hancur

karena pengaruh tekanan (Gambar 7).

agar pakan tidak hancur karena pengaruh tekanan (Gambar 7). Gambar 7 . Penumpukkan dan penyimpanan pakan

Gambar 7. Penumpukkan dan penyimpanan pakan yang baik

6. Tempat penyimpanan pakan tidak disatukan dengan

penyimpanan bahan-

bahan lain misalnya: bahan-bahan kimia, oli, minyak dll. Hal ini untuk

mencegah pakan terkontaminasi oleh bahan tersebut.

7. Memakai konsep first in first out (FIFO) artinya pakan yang datang lebih

awal harus digunakan terlebih dahulu.

8. Lama penyimpanan maksimal 10 hari.

Penggunaan pakan harus memiliki standar kualitas yang baik. Adapun standar

tersebut terdiri dari :

29

1. Syarat Fisik

Pakan yang diberikan harus memiliki keseragaman ukuran dan warna pakan.

Permukaan pakan pellet halus.

Pakan yang diberikan mempunyai aroma yang merangsang dan menarik bagi

udang.

Pakan yang digunakan harus bersih dan sehat serta tidak mengandung racun

dan jamur yang membahayakan bagi kesehatan udang.

Berikut ini adalah perbandingan kualitas pakan yang baik dan buruk (Gambar 8) :

A
A
B
B

Gambar 8. (a) pakan udang yang baik dan (b) pakan yang buruk (berjamur)

2. Water Stability

Pakan yang berkualitas tinggi, saat dimasukkan ke dalam air memiliki

kestabilan selama 1,5 jam, karena pakan yang memiliki kestabilan air yang

rendah akan mengakibatkan pemborosan, polusi dan biaya produksi yang

tinggi.

3. Pelletability

Pakan yang berkualitas tinggi apabila dicoba akan terasa manis dan gurih

karena berasal dari ikan yang masih segar.

Bila pakan terasa pahit jika dirasakan, hal tersebut disebabkan tepung ikan

yang digunakan sudah tidak segar.

30

4. Attract Ability (daya rangsang)

Pakan dengan attractan yang baik akan tercium menyengat (bau yang disukai

udang) dan memiliki daya rangsang yang kuat untuk dikonsumsi, sehingga pakan

akan cepat habis.

4.5 Pemberian Pakan

Pemberian pakan harus dilakukan sebaik mungkin dengan memperhatikan

apa, berapa banyak, kapan, berapa kali, dimana udang diberi pakan. Hal tersebut

bertujuan agar setiap pakan yang diberikan dapat dicerna secara merata oleh setiap

individu udang sehingga pertumbuhan udang lebih porposional dan pemanfaatan

pakan lebih efisien. Pemberian pakan udang di PT Aruna Wijaya Sakti seperti

pada (Gambar 9).

udang di PT Aruna Wijaya Sakti seperti pada (Gambar 9). Gambar 9 . Pemberian Pakan (

Gambar 9. Pemberian Pakan (feeding) di PT Aruna Wijaya Sakti

31

4.5.1 Tahapan pemberian pakan

Tahapan pemberian pakan di PT AWS adalah sebagai berikut :

1. Pakan yang akan diberikan dilakukan penimbangan. Pakan

yang ditimbang

berdasarkan jumlah pakan yang diberikan per jam pakan. Penimbangan

dilakukan

dengan

menggunakan

alat

timbang

dengan

kapasitas

25

kg

(timbangan posyandu) atau kapasitas 15 kg (timbangan gantung). Penentuan

jumlah pakan yang diberikan berdasarkan takaran tidak diperbolehkan.

2. Kincir tetap dioperasikan 100% pada setiap jam pakan. Mematikan kincir

pada saat pemberian pakan menyebabkan Disolved Oksigen (DO) turun yang

berakibat pada turunnya nafsu makan dan gangguan metabolisme.

3. Pakan diberikan

merata di atas feeding area (daerah dimana udang banyak

berkumpul dan mencari makan).

4. Pakan

dalam

bentuk

crumble

(nomor

1

dan

2)

saat

sebelum

ditebar

dicampur/dibasahi

dengan

air,

tenggelamnya pakan.

hal

ini

bertujuan

untuk

mempercepat

5. Pemberian pakan di anco dilakukan setelah penebaran pakan selesai. Pakan

ditebar secara merata di anco, kemudian anco diturunkan perlahan-lahan

sampai di dasar tambak.

6. Jumlah pakan yang diberikan dan skor anco ditulis pada Daily Pond Record

(DPR) atau catatan perkembangan tambak harian.

4.5.2 Feeding Area

Feeding Area yaitu daerah dimana udang banyak berkumpul dan mencari

makan. Feeding area selalu dikondisikan dalam kondisi bersih, agar pakan yang

diberikan dapat termakan oleh udang. Maka tambak diperlukan penataan kincir

yang baik untuk central drain (saluran pembuangan), sehingga kotoran tersebut

32

tersentralisasi dan

mudah dibersihkan. Feeding area memiliki lokasi yang

berbeda sesuai dengan perkembangan umur udang pada (Gambar 10).

Supply canal (2 - 4) m texttext Jembatan anco Area Pemberian pakan
Supply canal
(2 - 4) m
texttext
Jembatan anco
Area Pemberian pakan
Supply canal (4 - 12) m text text Jembatan anco Area Pemberian pakan
Supply canal
(4 - 12) m
text
text
Jembatan anco
Area Pemberian pakan

DOC 1- 30

DOC >30

Gambar 10. Feeding area dengan luas tambak 2000 m 2

4.5.3 Waktu dan frekuensi pemberian pakan

Frekuensi pemberian pakan (feeding) di PT AWS yaitu 3-4 kali sehari. Pada

waktu blind feeding frekuensi pemberian pakan 3 kali (DOC 1-35), karena udang

masih sangat mengandalkan pakan alami (plankton) sebagai makanannya dan

belum terbiasa dengan pakan buatan (pellet). Setelah program blind feeding

selesai maka frekuensi pemberian pakan selanjutnya yatu sebanyak udang 4 kali

sehari (DOC 36-panen), karena ketersediaan pakan alami sudah tidak mencukupi

kebutuhan udang, sehingga udang sangat bergantung pada pakan buatan (pellet).

Selain itu, pakan per hari (P/H) pada waktu demand feeding juga semakin banyak

(>20 kg) sehingga frekuensi pemberian pakan yang dibutuhkan juga lebih banyak.

Frekuensi pemberian pakan (feeding) yang dilakukan di PT AWS adalah 3 kali

sehari pada jam 07.00, 11.00 dan 16.00 dan 4 kali sehari pada jam 07.00, 11.00,

16.00 dan 21.00.

33

4.6 Program Pemberian Pakan (feeding program)

Program pemberian pakan (feeding program) berpengaruh dalam menentukan

tingkat keberhasilan suatu sistem budidaya udang secara menyeluruh terutama

keterkaitannya dengan

tingkat biaya produksi

yang

yang telah dikeluarkan,

sehingga dalam penyusunannya perlu kecermatan dan ketepatan dalam dalam

menentukan tingkat kebutuhan udang terhadap pakan. Program pemberian pakan

di PT AWS terdiri dari program blind feeding (DOC 1-35) dan program demand

feeding (DOC 36-panen).

4.6.1 Program pakan bulan pertama (blind feeding)

Pemberian pakan di bulan pertama hanya ditentukan berdasarkan blind

feeding (pakan buta). Blind Feeding adalah pemberian pakan berdasarkan tabel

estimasi program pemberian pakan bulan pertama. Program ini dilakukan pada

DOC-1

hingga

DOC-35,

karena

pada

saat

tersebut

belum

dapat

dilakukan

sampling, maka populasi dan kebutuhan pakannya belum dapat ditentukan secara

tepat. Jumlah pakan yang digunakan pada fase blind feeding (Tabel 9).

Tabel 9. Jumlah pakan per hari (P/H), pakan per minggu dan pakan komulatif pada tambak 23 modul 7 selama blind feeding

DOC (hari)

P/H (kg)

Pakan per minggu (kg)

Pakan Komulatif (kg)

7

5,77

29,29

29,29

14

9,46

55,16

84,45

21

13,16

81,04

165,49

28

16,86

106,91

272,39

35

20,55

132,78

405,18

Sumber : PT Aruna Wijaya Sakti (2011)

4.6.2 Program pakan berdasarkan kebutuhan udang (demand feeding)

Selepas program blind feeding program selanjutnya adalah demand feeding,

yaitu pemberian pakan yang diberikan disesuaikan dengan tingkat konsumsi

udang. Jumlah pakan per hari selama demand feeding sangat fluktuatif mengikuti

34

nafsu makan udang itu sendiri yang sangat dipengaruhi oleh faktor internal

(kesehatan udang) dan faktor ekternal (lingkungan) dapat diketahui melalui

penentuan score anco.

A. Pengecekan Anco Sebagai Pengontrol Jumlah Pemberian Pakan

Penggunaan anco sangat penting untuk mengontrol pakan. Prinsip pemakaian

anco yaitu jumlah pakan yang ditebar ke dalam anco lebih besar dibandingkan

jumlah pakan yang ditebar ke dalam tambak. Anco dapat memberikan informasi

tentang konsumsi pakan, kesehatan dan dan angka kehidupan udang dan kondisi

dasar kolam. Kegiatan pengecekan anco dapat dilihat pada (Gambar 11).

Kegiatan pengecekan anco dapat dilihat pada (Gambar 11). Gambar 11 . Pengecekan anco Pada tambak 2000

Gambar 11. Pengecekan anco

Pada tambak 2000 m 2 di PT AWS digunakan 3 buah anco. Pengecekan anco

dilakukan 3-4 kali dalam sehari atau disesuaikan dengan frekuensi pemberian

pakan (feeding). Nilai persentase pakan dan waktu pengecekan pakan di anco

disajikan pada (Tabel 10).

Tabel 10. Persentase (%) pakan untuk setiap anco dan lama cek anco (jam)

MBW (gr)

Pakan yang diberikan pada tiap anco (%)

Lama cek anco (jam)

 

< 5

0,6

2

5

-

8

1,0

2

8

- 10

1,3

1,5

10 - 12

1,5

1,5

 

>12

1,9

1,0

Sumber : PT Aruna Wijaya Sakti (2011)

35

Hasil pengecekan anco berupa score anco, yaitu angka yang menunjukkan

persentase sisa pakan di dalam anco dengan jangka waktu yang telah ditentukan.

Nilai persentase pakan di anco untuk udang berbeda sesuai dengan ukuran tubuh

udang itu sendiri. Semakin besar MBW udang maka persentase pakan di anco

juga semakin besar. Begitu juga dengan jam cek anco, semakin besar MBW

udang maka jam cek anco juga semakin cepat. Hal ini diasumsikan bahwa

semakin besar MBW udang aktifitas makannya pun semakin cepat. Perhitungan

jumlah pakan berdasarkan score anco adalah sebagai berikut (Tabel 11).

Tabel 11. Penambahan dan pengurangan jumlah pakan/hari berdasarkan score anco

Score Cek Anco

Penambahan Pakan (%)

Pengurangan Pakan (%)

0-0-0

 

5

0-0-1

 

5

0-1-1

10

1-1-1

15

Sumber : PT Aruna Wijaya Sakti (2011)

 

Pada

tambak

yang

mempunyai

populasi

udang

dengan

SR

tinggi

dan

pertumbuhan normal antara DOC 15 sampai DOC 20, score cek anco sudah bisa

0-0-0, oleh karena itu sangat penting mulai DOC 14 memasukkan pakan di setiap

anco dengan takaran yang tepat (0,6 % dari pakan yang diberikan pada jam

tersebut). Misal pakan pada jam tersebut 3 kg, pakan yang diberikan di setiap anco

18 gram atau satu setengah sendok makan. Misal pakan pada jam tersebut 4 kg,

pakan yang diberikan di setiap anco 24 gram atau dua sendok makan.

Hasil (score) anco menjadi acuan dalam penambahan dan pengurangan

jumlah pakan harian. Bila sisa pakan di anco sedikit atau habis berarti nafsu

makan udang tinggi maka pakan ditambah keesokan harinya pada jam yang

sama,dan sebaliknya jika pakan yang tersisa di anco banyak berarti nafsu makan

udang rendah (turun) maka pakan harus dikurangi keesokan harinya pada jam

36

yang sama. Penambahan dan pengurangan pakan pada DOC 67- DOC 71 dapat

dilihat pada (Tabel 12).

Tabel 12. Contoh perhitungan penambahan dan pengurangan pakan berdasarkan score anco

Waktu pemberian pakan

Jam cek anco

DOC

P/H

07.00

11.00

16.00

21.00

08.30

12.30

17.30

22.30

(kg)

Score

Score

Score

Score

 

(kg)

(kg)

(kg)

(kg)

anco

anco