Anda di halaman 1dari 58

1. a.

Pengertian Dislokasi ialah keluarnya (bercerainya)

kepala sendi dari mangkuknya.

Dislokasi merupakan suatu

kedaruratan yang memerlukan pertolongan segera (Kapita Selecta Kedokteran, 2000). Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligmen ligmennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya sendi itu akan gampang mengalami dislokasi kembali. Apabila dislokasi itu disertai pula patah tulang, pembetulannya menjadi sulit dan harus dikerjakan di rumah sakit. Semakin awal usaha pengembalian sendi itu dikerjakan, semakin baik penyembuhannya. Tetapi apabila setelah dikirim ke rumah sakit dengan sendi yang cedera sudah dibidai. b. Traksi adalah : Suatu metode yang dipakai yang mengalami

untuk mempertahankan reduksi ekstremitas Dislokasi.

Traksi adalah : pemasangan gaya tarikan ke bagian tubuh. 2. Macam Macam Dislokasi a. Dislokasi Sendi Rahang

Dislokasi sendi rahang dapat terjadi karena : a) b) Menguap atau terlalu lebar. Terkena pukulan keras ketika

rahang sedang terbuka, akibatnya penderita tidak dapat menutup mulutnya kembali.

Tindakan Pertolongan : Rahang ditekan ke bawah dengan kedua ibu jari sudah dilindungi balutan tadi. Ibu jari tersebut diletakkan di graham yang paling belakang. Tekanan itu harus mantap tapi pelan pelan. Bersamaan dengan penekanan itu jari jari yang lain mengangkat dagu penderita ke atas. Apabila berhasil rahang itu akan menutup dengan cepat dan keras. Setelah selesai untuk beberapa saat pasien tidak diperbolehkan terlalu sering membuka mulutnya. b. Dislokasi Sendi Jari. Sendi jari mudah mengalami dislokasi dan bila tidak ditolong dengan segera sendi tersebut akan menjadi kaku kelak. Sendi jari dapat mengalami dislokasi ke arah telapak tangan atau punggung tangan. Tindakan Pertolongan : Jari yang cedera dengan tarikan yang cukup kuat tapi tidak disentakkan. Sambil menarik, sendi yang terpeleset ditekan dengan ibu jari dan telunjuk. Akan terasa bahwa sendi itu kembali ke tempat asalnya. Setelah diperbaiki sebaiknya untuk sementara waktu ibu jari yang sakit itu dibidai. Untuk membidai dalam kedudukan setengah melingkar seolah olah membentuk huruf O dengan ibu jari.

c.

Dislokasi Sendi Bahu

Dislokasi yang sering ke depan. Yaitu kepala lengan atas terpeleset ke arah dada. tetapi kemampuan arah dislokasi tersebut ia akan menyebabkan gerakan yang terbatas dan rasa nyeri yang hebat bila bahu digerakkan. Tanda tanda lainnya : Lengan menjadi kaku dan siku agak terdorong menjauhi sumbu tubuh. Ujung tulang bahu akan nampak menonjol ke luar. Sedang di bagian depan tulang bahu nampak ada cekungan ke dalam. Tindakan Pertolongan : Usaha memperbaiki letak sendi yang terpeleset itu harus dikerjakan secepat mungkin, tetapi harus dengan tenang dan hati hati. Jangan sampai itu justru merusak jaringan jaringan penting lainnya. Apabila usaha itu tidak berhasil, sebaiknya jangan diulang lagi. Kirim saja klien ke Rumah sakit segera. Apabila tidak ada patah tulang, dislokasi sendi bahu dapat diperbaiki dengan cara sebagai berikut : Ketiak yang cedera ditekan dengan telapak kaki (tanpa sepatu) sementara itu lengan penderita ditarik sesuai dengan arah letak kedudukannya ketiak itu.Tarikan itu harus dilakukan dengan pelan dan semakin lama semakin kuat, hal itu untuk menghidarkan rasa nyeri yang hebat yang dapat mengakibatkan terjadinya shock. Selain tarikan yang mendadak merusak jaringan jaringan yang ada di sekitar sendi. Setelah ditarik dengan kekuatan yang tetap beberapa menit, dengan

hati hati lengan atas diputar ke luar (arah menjauhi tubuh). Hal ini sebaiknya dilakukan dengan siku terlipat dengan cara ini diharapkan ujung tulang lengan atas menggeser kembali ke tempat semula. d. Dislokasi Sendi Siku Jatuh pada tangan dapat menimbulkan dislokasi sendi siku ke arah posterior. Reposisi dilanjutkan dengan membatasi gerakan dalam sling atau gips selama tiga minggu untuk memberikan kesembuhan pada sumpai sendi. e. Phalangeal Dislokasi disebabkan oleh hiperekstensi ekstensi persendian direposisi secara hati hati dengan tindakan manipulasi tetapi pembedahan terbuka mungkin diperlukan untuk mengeluarkan jaringan lunak yang terjepit di antara permukaan sendi. f. Dislokasi Sendi Pangkal Paha Diperlukan gaya yang kuat untuk menimbulkan dislokasi sendi ini dan umumnya dislokasi ini terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (tabrakan mobil). Dalam posisi duduk benturan dash board pada lutut pengemudi diteruskan sepanjang tulang femur dan mendorong caput femuris ke arah poterior ke luar dati acetabulum yaitu bagian yang paling pangkal. Tindakannya adalah reposisi dengan anestesi umum dan pemasangan gips selama enam minggu atau tirah baring dengan traksi yang ringan untuk mengistirahatkan persendian dan memberikan Dislokasi Sendi Metacarpophalangeal Dan Inter

kesembuhan bagi ligamentum. Dislokasi sendi lutut dan eksremitas bawah sangat jarang terjadi kecuali peda pergelangan kaki di mana dislokasi disertai fraktur. 3. Macam Macam Traksi a. Traksi lurus atau langsung Pada traksi ini memberikan gaya tarikan dalam satu garis lurus dengan bagian tubuh berbaring di tempat tidur. b. Traksi Suspensi Seimbang Traksi ini memberikan dukungan pada eksremitas yang sakit di atas tempat tidur sehingga memungkinkan mobilisasi pasien sampai batas tertentu tanpa terputusnya garis tarikan. c. Traksi Kulit Traksi kulit tidak membutuhkan tindakan pembedahan. Traksi kulit terjadi apabila beban menarik kulit, spon karet, atau bahan kanvas yang diletakkan pada kulit, beratnya bahan yang dapat dipasang sangat terbatas, tidak boleh melebihi toleransi kulit, yaitu tidak lebih dari 2 sampai 3 kg beban tarikan yang dipasang pada kulit. Traksi pelvis pada umumnya 4,5 sampai dengan 9 kg tergantung dari berat badan. Rumus traksi kulit : 1/7 x BB d. Traksi Skelet Dipasang langsung pada tulang, metode traksi ini digunakan paling sering untuk menangani fraktur tibia, humerus dan tulang

leher. Traksi skelet biasanya menggunakan 7 12 kg untuk dapat mencapai efek therapi, Rumus traksi skelet 1 / 10 x BB. e. Traksi Manual Traksi yang dipasang untuk sementara, saat akan dilakukan pemasangan gibs. 4. Anatomi Fisiologi Tulang pelvis adalah penghubung antara badan dan anggota bawah yaitu tulang sakrum dan koksigis bersendi antara satu dengan yang lainnya. Pada simfasis pubis pelvis terbagi atas 2 bagian : 1. Pelvis mayor atau rongga panggul besar. 2. Pelvis minor atau rongga panggul kecil Di antara ke 2 rongga tersebut dibatasi oleh garis tepi atau linea terminalis. Sendi sendi pelvis antara lain : sendi sakro iliaka adalah sendi antara ilium yang disebut aurikuler dan kedua sisi sakrum, gerakan ini sangat sedikit karena ligamennya sangat kuat menyatukan permukaan sendi sehingga membatasi gerakan ke seluruh jurusan.

5. Penyebab Dislokasi a. Trauma

Jika disertai fraktur, keadaan ini disebut fraktur dislokasi. b. Kongenital Sebagian anak dilahirkan dengan dislokasi, misalnya dislokasi pangkal paha. Pada keadaan ini anak dilahirkan dengan dislokasi sendi

pangkal paha secara klinik tungkai yang satu lebih pendek dibanding tungkai yang lainnya dan pantat bagian kiri serta kanan tidak simetris. Dislokasi congenital ini dapat bilateral (dua sisi). Adanya kecurigaan yang paling kecil pun terhadap kelainan congenital ini mengeluarkan pemeriksaan klinik yang cermat dan sianak diperiksa dengan sinar X, karena tindakan dini memberikan hasil yang sangat baik. Tindakan dengan reposisi dan pemasangan bidai selama beberapa bulan, jika kelainan ini tidak ditemukan secara dini, tindakannya akan jauh sulit dan diperlukan pembedahan. c. Patologis

Akibatnya destruksi tulang, misalnya tuberkolosis tulang belakang

6. Tanda dan Gejala 1. Deformitas pada persendiaan Kalau sebuah tulang diraba secara sering akan terdapat suatu celah. 2. Gangguan gerakan Otot otot tidak dapat bekerja dengan baik pada tulang tersebut. 3. Pembengkakan Pembengkakan ini dapat parah pada kasus trauma dan dapat menutupi deformitas. 4. Rasa nyeri terdapat sering terjadi pada dislokasi Sendi bahu, sendi siku, metakarpal phalangeal dan sendi pangkal paha servikal.

7. Lokasi Yang Sering Terjadi Dislokasi Sendi bahu, sendi siku, metakarpal phalangeal dan sendi pangkal paha servikal. 8. Patofisiologi Dislokasi panggul paling sering dialami oleh dewasa muda dan biasanya diakibatkan oleh abdukasi. Ekstensi dan ekstra traumatik yang berlebihan. Contohnya posisi melempar bola berlebihan. Caput humeri biasanya bergeser ke anterior dan inferior melalui robekan traumatik pada kapsul sendi panggul.

Skema Patofisiologis Abdukasi Posisi Ekstensi Akstra Traumatik Pergeseran Berlebihan dan Dalam Waktu Cepat

Dislokasi Inferior Kekakuan Sendi Karena Terjadi Dislokasi Dengan tanda : yeri N

Dislokasi Anterior

engkak aku sendi

B K

9. Penatalaksanaan a. Dislokasi

Penatalaksanaan dislokasi sebagai berikut : 1) 2) Lakukan reposisi segera. Dislokasi sendi kecil dapat direposisi di

tempat kejadian tanpa anestesi, misalnya : dislokasi siku, dislokasi bahu, dislokasi jari pada fase syok), sislokasi bahu, siku atau jari dapat direposisi dengan anestesi loca; dan obat penenang misalnya valium. 3) Dislokasi sendi besar, misalnya panggul

memerlukan anestesi umum. b. Traksi

Periksa sesering mungkin kulit pasien mengenai tanda tekanan atau lecet. Perhatian lebih ditekankan pada tonjolan tulang. Lakukan perubahan posisi sesering mungkin untuk membantu mencegah kerusakan kulit.

10. Prinsip Traksi Efektif

Pada setiap pemasangan traksi harus dipikirkan adanya kontratraksi. Kontratraksi adalah gaya yang bekerja dengan arah yang berlawanan (hukun Newton yang ketiga mengenai gerak. Menyebutkan bahwa bila ada aksi maka akan terjadi reaksi dengan besar yang sama namun arahnya berlawanan). Umumnya berat badan pasien pengaturan posisi tempat tidur mampu memberikan kontraksi. Prinsip prinsip traksi efektif adalah : 1. Kontraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif. 2. Traksi skelet tidak terputus 3. Pemberat / beban tidak boleh diambil kecuali bila traksi dimaksudkan intermiten. 4. Tubuh pasien harus dalam keadaan sejajar dengan pusat tempat tidur ketika traksi dipasang. 5. Tali tidak boleh macet. 6. Pemberat harus tergantung bebas dan tidak boleh terletak pada tempat tidur atau lantai. 7. simpul pada tali atau telapak kaki tidak boleh menyentuh katrol atau kaki tempat tidur.

11. Tindakan Pada Dislokasi a. Dengan memanipulasi secara hati hati, permukaan

diluruskan kembali. Tindakan ini sering memerlukan anestesi umum untuk melemaskan otot otonya.

10

b.

Pembedahan terbuka mungkin diperlukan

khususnya

kalau jaringan lunak terjepit di antara permukaan sendi. c. Persendian tersebut, disangka dengan pembebatan dengan

gips. Misalnya : pada sendi pangkal paha, untuk memberikan kesembuhan pada ligamentum yang teregang. d. Fisioterapi harus segera dimulai untuk mempertahankan

fungsi otot dan latcher (exercise) yang aktif dapat diawali secara dini untuk mendorong gerakan sendi yang penuh khususnya pada sendi bahu.

12. Dampak Masalah Bila salah satu anggota tubuh mengalami gangguan yang mengakibatkan cedera, maka tubuh akan memberikan reaksi baik fisik maupun psikologis sebagai mekanisme pertahanan tubuh, disamping itu juga akan memberikan pengaruh atau dampak terhadap kebutuhan penderita sebagai makluk hidup yang holistik dan juga akan berpegaruh terhadap keluarga klien. Pola Persepsi dan Tata Laksana Kesehatan Bahwa biasanya klien dislokasi mempunyai harapan dan alasan masuk Rumah Sakit, Adapun alasannya ingin segera sembuh dari penyakitnya dan harapan tersebut adalah tidak ingin terjadi kecacatan pada dirinya kelak di kemudian hari. Pola Nutrisi dan Metabolisme.

11

Pola nutrisi dan metabolik pada klien dislokasi jarang mengalami gangguan kecuali apabila terdapat trauma pada abdomen atau komplikasi lain yang dapat menyebabkan klien antreksia. Pola Aktifitas dan Latihan Pada klien dislokasi setelah dilakukan pemasangan traksi akan mempengaruhi gerak dan pola. Aktivitasnya, oleh sebab itu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari hari, klien akan di bantu oleh perawat atau keluarganya dan suami mungkin untuk dilakukan latihan rentang gerak baik aktif maupun pasif. Pola Tidur dan istirahat Terganggunya pola tidur dan kebutuhan istirahat pada klien pemasangan traksi dengan dislokasi biasanya di sebabkan olah raga nyeri dan pemasangan juga di sebabkan adanya traksi. Pola Perceptual dan Kognitif Klien biasanya kurang memahami tentang proses penyembuhan dan pembentukan atau penyambungan sendi kembali yang memerlukan proses dan waktu sehingga dalam tahap tahap perawatan perlu kata penatalaksanaan yang kompraktif. Pola Defekasi dan Miksi Klien kadang kadang masih dalam perawatan di rumah sakit membatasi makan dan minum, hal ini dikarenakan adanya immobilisasi pemasangan traksi yang mengharuskan pasien tidak mempergunakan

12

kakinya yang cedera untuk aktifitas sehingga klien kurang beraktifitas dan dapat mengakibatkan konstipasi (sembelit).

Pola Seksual dan Repraduksi Klien Dislokasi dengan pemasangan traksi jelas akan

mempengaruhi pola kebutuhan seksualitas, di samping klien harus menjaga agar daerah traksi seminimal mungkin mendapat beban dan rasa nyeri yang tidak memungkinkan klien untuk melakukan aktifitas seksualnya. Pola Hubungan Peran Pola hubungan peran berpengaruh sekali terutama sekali apabila klien seorang kepala rumah tangga yang merupakan satu satunya orang yang mencari nafkah bagi keluarganya. Dampak Psikologis Dampak psikologis yang ditimbulkan adalah rasa kuatir terhadap kecacatan yang mungkin terjadi kelak dikemudian hari sehingga memungkinkan tidak mampu beraktifitas seperti biasa. Immobilisasi Untuk memungkinkan kesembuhan fragmen yang dipersatukan.

13. Komplikasi a. Komplikasi yang dapat menyertai dislokasi antara lain :

13

a) b) c) b. a) b) c) d) e) f)

Fraktur. Kontraktur. Trauma jaringan. Komplikasi yang dapat terjadi akibat pemasangan traksi : Dekubitus Kongesti paru dan pneumonia Konstipasi Anoreksia Stasis dan infeksi kemih Trombosis vena dalam

B. Asuhan Keperawatan 1. a. 1) Anamnese a) Klien Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, agama, suku bangsa, status perkawinan, pendidikan dan pekerjaan. b) Utama Klien Pada anamnese ini yang perlu dikaji adalah apa yang diperlukan pada saat itu seperti nyeri, bengkak, kelainan Keluhan Identitas Pengkajian Pengumpulan data

14

bentuk, hilangnya fungsi dan krepitasi serta pada daerah mana dislokasi terjadi. c) Penyakit Sekarang Dalam pengkajian ini meliputi riwayat terjadinya terutama apakah dikarenakan kecelakaan, terjatuh atau terjadi benturan langsung dengan vektor kekerasan dan sifat pertolongan yang pernah diberikan. d) Penyakit Dahulu Dalam pengkajian ini perlu ditanyakan meliputi riwayat yang berhubungan dengan trauma pada tulang, apakah klien mempunyai penyakit tulang seperti osteomylitis, ostroporasis dan apakah klien pernah mengalami riwayat trauma Riwayat Riwayat

sebelumnya. 2) a) Umum Klien Klien dislokasi dengan pemasangan traksi biasanya terbaring total dengan seminimal mungkin melaksanakan aktifitas gerak ini disebabkan karena adanya immobilisasi dan rasa nyeri akibat pemasangan traksi, sehingga klien takut untuk bergerak, keadaan umum klien biasanya baik tetapi dapat menimbulkan Pemeriksanan Fisik Keadaan

15

dampak seperti gangguan miksi dan defekasi, integritas kulit dan gangguan aktivitas lain yang menunjang kehidupan sehari hari. b) Dislokasi Gejala klinis dari dislokasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu : 1) Tanda tanda pasti Gerakan abnormal pada tempat terjadinya dislokasi Gejala Klinis

menjadi sendi palsu sehingga terjadi gerakan yang deformitas pada persendian; apabila sebuah tulang diraba secara sering akan terdapat suatu celah. Gangguan gerak : otot otot tidak dapat bekerja

dengan baik pada sendi tersebut. Pembengkakan : pembengkakan ini dapat parah

pada kasus trauma dan dapat menutupi deformitasnya.

2) Tanda tanda tidak pasti Rasa nyari, bengkak dan berubah warna (membiru)

dikarenakan terjadi pendarahan di sekitar bagian dislokasi rasa nyeri hebat terutama apabila dilakukan pergerakan atau aktivitas. Kelainan bentuk (deformitas), hal ini disebabkkan

oleh karena adanya perdarahan dan pembengkakan.

16

Hilangnya fungsi (fungtiolaesa), disebabkan oleh

rasa nyari serta terlepasnya sebuah sendi sehingga tidak mampu melakukan pergerakan. c) Penunjang atau Tambahan Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium darah lengkap seperti Pemeriksaan

hemoglobin, trombosit, leukosit, glukosa sewaktu. Pemeriksaan faal hemostasis meliputi waktu

pendarahan, waktu pembekuan. Pemeriksaan kimia klinik rutin, yaitu sikap darah

puasa, agot, sgpt. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan Radiologi digunakan untuk menguatkan diagnosa patah tulang yang dapat menggambarkan

kerusakan tulang, ketidaklurusan tulang dan kesalahan bentuk dari tulang itu sendiri, sedangkan posisi foto tulang dilakukan secara : Dua waktu yang berbeda yaitu setelah terjadi

trauma dan sehari setelah dilakukan tindakan. Dua extremitas sebagai pembanding apabila garis

patah tulang meragukan. 3) Analisa Data

17

Setelah data dikumpulkan dan dikelompokkan kemudian dianalisa sebagai berikut, untuk pengelompokkan data dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu data subyektif dan data obyektif. Data subyektif yaitu data yang didapat dari ungkapan atau keluhan, klien sendiri atau keluarga dan data obyektif yaitu data yang didapat dari suatu pengamatan, observasi, pengukuran dan hasil pemeriksaan. Data tersebut dikumpulkan berdasarkan perannya untuk menunjang suatu masalah, di mana masalah berfokus pada klien dan respon klien. 4) Diagnosa Keperawatan Dari analisa data kemudian dirumuskan suatu diagnosa keperawatan berikut ini adalah beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada dislokasi dengan pemasangan traksi (Suzanne c smetler dn brenda G Bare (2001) ). 1. Nyeri berhubungan dengan traksi dan imobilisasi. 2. Kerusakan mobilitas fisik yang proses penyakit, immobilisasi, dan traksi. 3. Kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan pemasangan traksi dan immobilisasi. 4. Defisit perawatan diri, makan, hygiene atau toileting yang berhubungan dengan traksi. berhubungan dengan

18

5. Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan / alat traksi. 6. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang program therapi.

2.

Perencanaan Berdasarkan pada pengkajian keperawatan mengenai kebutuhan dan

pengetahuan pasien tentang perawatan pasien yang menjalani program traksi, khususnya pada pasien dengan dislokasi sendi panggul (pelvis). Dalam perencanaan mempunyai beberapa tahap antara lain : penentuan tujuan dan kriteria hasil serta merumuskan rencana tindakan keperawatan. Diagnosa I. Nyeri berhubungan dengan pemasangan traksi immobilisasi Tujuan : Mengatakan nyeri hilang Kriteria hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang, klien tidak gelisah, klien menunjukkan tindakan santai, mampu beradaptasi dengan aktivitas nyeri 1 3. Rencana Tindakan : a. Kaji lokasi, tipe dan intensitas nyeri / tidak / istirahat, skala

dengan menggunakan skala (1 10.) b. c. Ukur tanda tanda vital. Jelaskan penyebab nyeri.

19

d.

Anjurkan mempergunakan teknik alternatif

penghilang nyeri dengan napas dalam.

Diagnosa II. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan immobilisasi. Tujuan : Meningkatkan / mempertahankan mobilitas pada tingkat yang paling tinggi. Kriteria hasil : Mempertahankan posisi fungsional, meningkatkan kekuatan / fungsi yang sakit dan mengkompensasi

bagian tubuh menunjukkan teknik yang merupakan melakukan aktivitas.

Rencana Tindakan : 1) Kaji derajat immobilisasi yang dihasilkan oleh pengobatan dan perkalian persepsi pasien terhadap immobilisasi. 2) Instruksikan pasien untuk melakukan latihan rom pasif dan aktif pada extremitas yang sakit dan tidak sakit sesuai toleransi. 3) Bantu klien dalam perawatan diri kebersihan. 4) Ubah posisi periodik dan dorong untuk latihan napas dalam. 5) Auskultasi bising usus, awasi kebiasaan eliminasi dan berikan keteraturan defekasi rutin. 6) Kolaborasi dengan rehabilitasi dalam terapi fisik / okupasi.

20

Diagnosa III. Resiko terjadi kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan pemasangan traksi. Tujuan : Menyatakan ketidaknyamanan hilang.

Kriteria hasil : Menunjukkan perilaku / uniq untuk mencegah kerusakan kulit / memudahkan penyembuhan sesuai indikasi, mencapai penyembuhan luka sesuai waktu. Rencana Tindakan : 1) Kaji kedaan kulit, kemerahan, pendaharan, perubahan warnadan rasa nyeri. 2) Ubah posisi sesering mungkin. 3) Observasi untuk potensial ares yang tertahan, khususnya pada akhir dan bawah babatan.

Diagnosa IV. Defisit perawatan diri, makan, hygiene, atau toileting yang berhubungan dengan traksi. Tujuan : Kebutuhan perawatan diri, makan, hygiene atau toileting terpenuhi. Kriteria Hasil : Mengungkapkan perasaan segar, bersih dan menyenangkan. Rencana Tindakan : 1) Tentukan hambatan saat ini dan hambatan untuk berpartisipasi dalam perawatan.

21

2) Ikut sertakan klien dalam formulasi perawatan pada tingkat kemampuan klien. 3) Dorong perawatan diri, bekerja dengan kemampuan yang ada saat ini, jangan menekan klien di luar kemampuannya. 4) Berikan dan tingkatkan keleluasan pribadi termasuk selama mandi. 5) Dorong / bantu klien dengan perawatan mulut / gigi setiap hari.

Diagnosa V. Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan krisis. Tujuan : Ansietas berkurang atau hilang. Kriteria hasil : Mengungkapkan perasaan lebih santai, memperagakan teknik relaksasi dengan tepat.

Rencana Tindakan : 1) Pantau tingkat ansietas klien. 2) Berikan penekanan penjelasan dokter mengenai pengobatan dan tujuan, klarifikasi kesalahan konsep. 3) Berikan dan luangkan waktu untuk mengungkapkan perasaan. 4) Ajarkan dan bantu dalam teknik manajemen stress. 5) Berikan dorongan untuk berinteraksi dengan orang terdekat dengan teman serta saudara.

22

Diagnosa VI. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penatalaksanaan perawatan dan program therapi. Tujuan : Kurang pengetahuan dapat teratasi. Kriteria hasil : Mengungkapkan pengertian tentang prognosis, pengobatan sdan program rehabilitasi, mengekspresikan tentang gejala, potensial komplikasi. Rencana Tindakan : 1) Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya. 2) Tekankan pentingnya rencana rehabilitasi aktivitas, istirahat dan latihan. 3) Diskusikan tanda dan gejala untuk dilaporkan pada dokter : nyeri hebat, perubahan suhu tubuh.

23

BAB III LAPORAN KASUS

Pada bab ini penulis akan melaporkan hasil pengelolaan asuhan keperawatan pada Tn. M dengan dislokasi sendi panggul (pelvis) di Ruang Cempaka Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie Samarinda tanggal 12 sampai dengan 14 September 2003. A. Pengkajian 1. Pengumpulan Data

Identitas klien Klien bernama Tn. M yang berumur 40 tahun, klien berjenis kelamin laki - laki, beragama Islam, suku Jawa dengan status duda beranak satu, pendidikan terakhir SMA. Klien tinggal di jalan Sulawesi No. 26 Sangata. Masuk Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie Samarinda pada hari Kamis, 08 Juli 2004, dengan nomor Register 04018961 dengan diagnosa medik / klinik Dislokasi HIP Sinistra. Adapun pengkajian ini dilakukan pada hari Senin, tanggal 12 Juli 2004 pukul 08.30wita. 2. a. 1) Riwayat Keperawatan Keluhan Utama : Saat masuk tanggal 08 Juli 2004 klien menyatakan

sangat nyeri pada daerah dislokasi yaitu pada paha dan panggul. 2) Saat mengkaji 12 Juli 2004

24

Klien menyatakan nyeri pada daerah dislokasi yaitu pada ekstremitas yang terkena. b. Riwayat Penyakit Sekarang Pada tanggal 8 Juli 2004 jam 09.000 wita, klien mengalami tabrakan mobil, waktu kejadian sadar, klien mengeluh pusing, dan sangat nyeri pada paha kanan dan tidak bisa digerakkan kemudian klien dibawa ke IGD Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie Samarinda setelah dilakukan foto rontgen pada femoralis kanan, didapatkan dislokasi sendi panggul oleh dokter jaga dikonsultasikan ke spesialis ortopedi dan dilakukan tindakan pemasangan traksi, lebih kurang satu jam klien sadar dan dikirim ke ruang Cempaka dan mengalami perawatan, sampai dengan penulis mengadakan pengkajian. c. Riwayat Penyakit Dahulu Klien tidak pernah menderita penyakit yang kronis atau berat, klien juga tidak mempunyai penyakit tulang seperti osteomylitis dan osteoporosis dan juga klien pernah mengalami riwayat kecelakaan sebelumnya. Yaitu fraktur tibia dekstra. d. Riwayat Penyakit Keluarga Dalam anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular ataupun penyakit keturunan.

25

3.

Genogram Keluarga : S

Tn.M 40

Sr . 39

S 7 th

Keterangan : : Perempuan : Laki laki : Klien : Meninggal : Tinggal Serumah. S : Sehat : Cerai. Dari keterangan genogram di atas menyebutkan bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia sejak usia, 61 th untuk bapak dan 50 th untuk ibu, sedangkan penyebab meninggalnya klien tidak tahu, karena klien hidup terpisah jauh dengan kedua orang tuanya, saat ini klien tinggal sendiri dalam satu rumah.

4.

Data Psikososial dan Ekonomi

26

Status psikologis klien gelisah, hubungan sosial klien dengan keluarga / saudara berlangsung baik, selama di rumah sakit ditunggu oleh saudaranya, klien pasrah dan memberikan kepercayaan sepenuhnya pada petugas kesehatan untuk dilakukan tindakan keperawatan dan pengobatan. Untuk biaya pengobatan / perawatan rumah sakit ditanggung oleh klien dan keluarga.

5.

Data Spiritual Klien beragama Islam, selama di rumah sakit tidak bisa melakukan

ibadah, klien selalu berdoa dan berzikir, klien optimis akan diberi kesembuhan oleh Tuhan.

6. a.

Pola Kebiasaan Sehari hari Pada pola nutrisi kebiasaan makan di rumah tiga kali

sehari, minum kurang lebih tujuh sampai delapan gelas sehari. Adapun jenis minuman antara lain : teh, susu, kopi dan air putih, sedangkan di rumah sakit klien tidak ada perubahan pola makan, selera makan dan minum seperti biasa. b. Pada pola eliminasi kebiasaan di rumah buang air besar

satu kali sehari dengan konsistensi lembek terbentuk. Kemudian buang air kecil kurang lebih tiga sampai lima kali sehari. Sedang selama di rumah sakit sejak masuk rumah sakit sampai dengan saat penulis mengkaji belum pernah buang air besar.

27

c.

Pada kebiasaan istirahat klien biasa tidur di rumah pada

malam hari, sekitar enam sampai tujuh jam, sedangkan istirahat siang jarang dilakukan, sedangkan selama di rumah sakit istirahat tidur siangpun klien tidak teratur tiga sampai empat jam saja. d. Sedangkan pada aktivitas dan gerak di rumah, semua

aktivitas dapat dilakukan seperti biasa, tidak ada hambatan sedangkan pada saat di rumah sakit kebutuhan sehari hari klien dibantu oleh keluarga dan perawat. Dan gerak klien terbatas karena adanya

immobilisasi daerah dislokasi, klien hanya berbaring di tempat tidur. e. Untuk memenuhi personal hygiene klien selama di rumah

mandi dua kali sehari, ganti pakaian dua kali dan berpenampilan rapi sedangkan di rumah sakit klien diseka oleh perawat dan tidak dapat memenuhi kebutuhan personal hygiene sendiri. 7. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik ini penulis menggunakan empat teknik pemeriksaan yaitu inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pada kesadaran klien sadar penuh atau compos mentis sedangkan tanda tanda vital didapatkan tekanan darah 120/60 mmHg suhu tubuh 36,60C denyut nadi 84 kali per menit dan pernapasan 18 kali per menit. Pada pemeriksaan selanjutnya rambut klien bertekstur kasar dan tidak terawat, karena selama dirawat tidak pernah dicuci, pada kulit kepala kotor, tidak didapatkan ketombe ataupun bekas luka, wajah berbentuk bulat simetris ekspresi wajah meringis menahan sakit dan kusam, pada

28

mata sklera tidak ikterik dan konjungtiva tidak anemis pada mulut didapatkan bau mulut mukosa bibir lembab, sariawan tidak ada, caries tidak ada, gigi kotor, lidah kotor, karena selama dirawat klien tidak pernah gosok gigi, nyeri menelan tidak ada. Sedangkan pada hidung bentuk simetris dapat mengidentifikasi bau dengan jelas. Septum di tengah, polip tidak ada, pada leher bentuk simetris kaku kuduk tidak ada, mobilitas leher baik, nyeri gerak tidak ada, tidak terjadi distensi pada vena jugularis. Pada pemeriksaan dada dilakukan inspeksi bentuk simetris, pada palpasi tidak teraba massa, tidak ada nyeri tekan, pada periksa ketuk area dinding dada bunyi sonor pada periksa dengar (auskultasi) didapatkan bunyi paru vesikuler tidak ada, ronchi tidak ada, whezing bunyi jantung S1, S2 regular. Pada abdomen sama dengan pemeriksaan dada dilakukan inspeksi perut terlihat datar, simetris, asites tidak ada, periksa dengar (auskultasi) bising usus enam kali permenit irreguler dan lemah, periksa ketuk

(perkusi) didapatkan tympani kemudian palpasi tidak teraba pembesaran lien atau hepar. Pada pemeriksaan tungkai didapatkan kekuatan otot pada tungkai kanan kekuatan otot satu sedangkan sebelah kiri lima, pada kaki kanan terdapat pemasangan traksi. Klien meringis kesakitan pada daerah pemasangan traksi, klien menunjukkan skala nyeri empat sampai enam. Nyeri terutama bila bagian yang cedera digerakkan.

29

Pada pemeriksaan punggung didapatkan bentuk simetris. Pada pemeriksaan lengan didapatkan adanya pemasangan infus pada lengan kanan kekuatan otot sebelah kanan lima dan sebelah kiri lima. Sedangkan pada pemeriksaan kulit ditemukan elastisitas kulit baik turgor kembali ke dalam kurang dari dua detik. Posisi traksi baik, bandul atau beban dalam keadaan tergantung. 8. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium kimia darah pada tanggal 09 Juli 2004, glukosa sewaktu 140 m/dl, bilirubin total 0,5 mg/dl, albumin 3,3g/dl, globulin 2,8 mg/dl. Ureum 23,6 mg/dl, creatinun 0,8 mg/dl, dan laju endap darah 85 mg/dl. Pada pemeriksaan foto rontgen ditemukan Post Reposisi Skin Traksi. 9. Penatalaksanaan Diit tinggi kalori tinggi protein Obat oral : Danalgin 3 x 1tablet, Amoxillin 3 x 1 tablet

Pronalges. Supp 2 x II/ Anus. 10. a. Data Fokus Data Subyektif Klien menyatakan nyeri saat menggerakkan kaki, paha dan pada daerah dislokasi dan pemasangan traksi,

pinggangnya

ekstremitas bawah kanan. Klien mengatakan tidak dapat buang air besar sejak

masuk rumah sakit.

30

Klien mengatakan tidak dapat tidur nyenyak selama di

rumah sakit tidur hanya 4 jam perhari saja. Klien mengatakan tidak dapat melakukan aktivitas tanpa

bantuan perawat atau keluarga. Klien mengatakan selama di rumah sakit belum pernah

mandi dan menggosok gigi. Klien mengatakan ingin cepat sembuh. Klien mengatakan badannya terasa lemas. Klien mengatakan perutnya terasa penuh. Klien mengatakan tidak tahu tentang keadaannya dan

meminta penjelasan. b. Klien mengatakan badannya terasa kotor. Data Objektif Terdapat pemasangan traksi pada tungkai kanan. Klien meringis kesakitan pada daerah dislokasi sendi

panggul. Klien menunjukkan skala nyeri 4 - 6. Penampilan klien tidak rapi dan bersih. Klien gelisah Klien tidak dapat melakukan aktivitas, nyeri bila kaki

kanan digerakkan. Klien hanya berbaring di tempat tidur Hasil foto rontgen menunjukkan Post Reposisi Skin Traksi

31

tidak. -

Klien lemas Lingkar mata hitam Klien sering bertanya tentang kondisi kakinya patah atau

Bising usus 6 kali permenit irreguler dan lemah

11. a.

Analisa Data Kelompok data pertama 1) Data Subyektif

Klien mengeluh nyeri pada daerah dislokasi dan pemasangan traksi. 2) Data Obyektif Terdapat pemasangan traksi pada tungkai kanan. Klien meringis menahan nyeri. Klien menunjukkan skala nyeri 4 6. Klien gelisah hasil foto rontgen menunjukkan Post Reposisi

Skin Traksi. 3) 4) dislokasi. b. 1) Kelompok data kedua Data Subyektif Masalah : nyeri Penyebab discontinuitas jaringan saraf akibat

32

Klien menyatakan tidak dapat melakukan aktivitas sehari

hari seperti biasa tanpa bantuan perawat atau keluarganya. Klien menyatakan kaki, pinggang dan paha kanan nyeri bila

digerakkan. 2) Data Obyektif Klien tidak dapat melakukan aktivitas, nyeri bila kaki dan

paha digerakkan. Klien hanya berbaring di tempat tidur Klien tidak dapat melakukan aktivitas tanpa bantuan Hasil foto rontgen menunjukkan terjadi Post Reposisi Skin

Traksi 3) 4) c. 1) Masalah : gangguan mobilitas fisik. Penyebab : Imobilisasi fisik Kelompok data ketiga Data Subyektif Klien mengatakan tidak dapat buang air besar selama 5 hari

sejak masuk rumah sakit. 2) 3) 4) Klien mengatakan perutnya terasa penuh. Data Obyektif Klien hanya berbaring di atas tempat tidur. Bising usus enam kali permenit irreguler dan lemah Masalah : Gangguan eliminasi BAB (Konstipasi) Penyebab : Kurangnya mobilitas fisik

33

d. 1)

Pengelompokkan data Data Subyektif

Klien mengatakan tidak dapat tidur lelap selama di rumah sakit. 2) Data Obyektif

Klien gelisah, lemah, sering menguap, lingkar mata hitam tidur hanya 4 jam sehari. 3) dan tidur. 4) e. 1) Penyebab : Stress psikologis Pengelompokkan data kelima Data Subyektif Klien mengatakan selama di rumah sakit belum pernah Masalah : Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat

mandi dan menggosok gigi karena tidak dapat melakukannya sendiri. 2) Klien mengatakan badannya terasa kotor. Data Obyektif

Terdapat bau mulut, penampilan klien tidak rapi dan bersih, keluarga tidak mampu membantu klien dalam pemenuhan ADL. 3) 4) f. 1) Masalah : Defisit perawatan diri. Penyebab : Keterbatasan aktivitas. Pengelompokkan data ke enam. Data Subyektif

34

Klien mengatakan tidak tahu tentang keadaannya, dan meminta penjelasan dari perawat. 2) Data Obyektif

Klien sering bertanya apakah kakinya patah atau tidak dan bagaimana cara menggerakkan kakinya. 3) Masalah : Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis dan program therapi. 4) Penyebab : Kurang mendapatkan informasi.

1. Berdasarkan Prioritas Masalah 5)

Diagnosa

Keperawatan

Nyeri berhubungan dengan discontinuitas jaringan

syaraf akibat dislokasi. 6) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan

immobilitas dan nyeri. 7) Gangguan eliminasi buang air besar (konstipasi)

berhubungan dengan kurangnya mobilitas fisik. 8) Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur

berhubungan dengan stress psikologis. 9) keterbatasan aktivitas. 10) Kurangnya pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang Defisit perawatan diri berhubungan dengan

kondisi prognosis berhubungan dengan kurang mendapatkan informasi.

35

B. Perencanaan 1. Diagnosa keperawatan pertama : Nyeri berhubungan dengan

discontinuitas jaringan saraf akibat dislokasi. Tujuan : Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama satu kali dua pukuh empat jam. Kriteria hasil : Klien menyatakan nyeri telah berkurang; Klien lebih rileks; Klien menunjukkan skala nyeri 5; Tanda tanda vital : tensi 120/80, suhu 36 370C, nadi 60 80 x menit, respirasi 16 20 x menit; Klien dapat beraktivitas sesuai toleransi. Rencana Tindakan : 1) Kaji lokasi, durasi dan frekuensi nyeri dengan menggunakan skala nyeri. Rasional : Mempengaruhi pilihan pengawasan keefektifan intervensi tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi / reaksi terhadap nyeri. 2) Ukur tanda tanda vital setiap satu jam, jelaskan proses terjadinya nyeri. Rasional : Sebagai petunjuk nyeri non verbal. 3) Diskusikan tindakan penghilang nyeri yang efektif misalnya dengan teknik napas dalam. Rasional : Meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri. 4) Hindari penggunaan sprei / bantal plastik di bawah ekstremitas yang terkena.

36

Rasional : Meningkatkan produksi panas.

ketidaknyamanan karena peningkatan

5) Berikan obat golongan analgetik. Rasional : Analgetik ditujukan menekan nyeri 6) Selidiki adanya keluhan nyeri yang tidak biasa / tiba tiba. Rasional : Menandakan terjadi komplikasi seperti infeksi. 2. Diagnosa keperawatan kedua : Gangguan mobilitas fisik

berhubungan dengan imobilisasi dan nyeri. Tujuan : Kerusakan mobilitas fisik dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam. Kriteria hasil : Klien dapat melakukan mobilitas fisik tanpa bantuan keluarga / perawat sesuai dengan kemampuan klien, tidak terjadi

kontraktur sendi. Rencana Tindakan : 1) Berikan papan / bantal pada kaki. Rasional : Mempertahankan posisi fungsional eksremitas kaki mencegah kontraktur. 2) Tempatkan dalam posisi telentang secara periodik bila traksi digunakan untuk menstabilkan daerah dislokasi bawah. Rasional : menurunkan risiko kontraktur fleksi panggul. 3) Bantu / dorong perawatan diri / kebersihan, seperti : mandi, mencukur, menggosok gigi. Rasional : meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi.

37

4) Awasi tekanan darah dengan melakukan aktivitas. Perhatikan keluhan pusing. Rasional : Hipotensi postural adalah masalah umum menyerta tirah baring lama. 5) Kaji integritas alat traksi Rasional : Ikatan dapat mengubah tekanan kerangka dan menyebabkan kesalahan posisi. 6) Dorong klien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi. Rasional : mencegah kekakuan sendi, kontraktur dan kelelahan otot. Meningkatkan kembalinya aktivitas sehari hari secara dini. 7) Mengajarkan dan membantu klien dalam rentang gerak (ROM) Rasional : Mencegah kekakuan sendi, dan kelelahan sendi. 3. Diagnosa Keperawatan ketiga : Gangguan pola eliminasi BAB

(konstipasi) berhubungan dengan kurangnya mobilitas fisik. Tujuan : Gangguan pola eliminasi dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan, dalam waktu 3 x 24 jam. Kriteria Hasil : klien mengatakan BAB lunak dan berbentuk, BAB satu kali sehari. Rencana Tindakan : 1) Mulai program latihan, istirahat dan diet individual. Rasional : tergantung pada kebutuhan klien, kehilangan tonus musculer akan mengurangi peristaltik, atau dapat merusak kontrol sfingter rektal.

38

2) Batasi makanan atau minuman sejenis susu. Rasional : meningkatkan konsistensi feses, dan meningkatkan pengeluaran feses. 3) Anjurkan diet dengan kadar serat tinggi misalnya : tepung sereal, roti, buah buahan dan sayur - sayuran. Rasional : meningkatkan konsistensi faeces normal. meningkatkan pengeluaran feses. 4) Anjurkan klien untuk banyak minum. Rasional : meningkatkan konsistensi feses normal. 5) Berikan obat sesuai program tehrapi. Rasional : meningkatkan regularitas dengan meningkatkan serat.

4.

Diagnosa

Keperawatan

keempat

Gangguan

pemenuhan

kebutuhan istirahat dan tidur berhubungan dengan stres psikologis. Tujuan : Klien mampu menciptakan pemenuhan kebutuhan tidur yang adekuat dengan penurunan terhadap pikiran yang melayang layang setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3 x 24 jam. Kriteria Hasil : Klien mengatakan pemenuhan kebutuhan tidur terpenuhi. Rencana Tindakan : 1) Berikan kesempatan untuk beristirahat atau tidur sejenak. Rasional : Karena aktifitas mental maupun fisik yang lama mengakibatkan kelelahan. 2) Evaluasi tingkat stres / orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.

39

Rasional : peningkatan kebingungan dapat melanggar pemenuhan kebutuhan tidur. 3) Anjurkan klien untuk makan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase. Rasional : Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk. 4) Menganjurkan klien untuk mendengarkan musik lembut atau dengan suara yang jernih. Rasional : Menurunkan stimulasi sensori dengan menghambat suara suara lain dari lingkungan sekitar yang akan menghambat tidur nyenyak. 5. Diagnosa keperawatan kelima : defisit perawatan diri berhubungan

dengan keterbatasan aktivitas. Tujuan : klien dapat menunjukkan aktivitas perawatan diri setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3 x 24 jam. Kriteria : klien mengatakan dapat memenuhi kebutuhan personal hygienenya. Rencana Tindakan : 1) Ikut sertakan klien dalam formulasi rencana perawatan pada tingkat kemampuan. Rasional : Meningkatkan perasaan kontrol dan meningkatkan kerja sama dan perkembangan kemandirian. 2) Dorong perawatan diri, bekerja dengan kemampuan yang sekarang.

40

Rasional : Melakukan untuk dirinya sendiri akan meningkatkan harga diri. 3) Jangan menekan pasien di luar kemampuannya. Rasional : Kegagalan dapat menyebabkan keputusasaan dan depresi. 4) Seka klien setiap pagi dan sore Rasional : memberikan rasa segar kepada klien. 5) Bantu dengan perawatan mulut / gigi setiap hari. Rasional : Mengurangi risiko penyakit gusi / kehilangan gigi. 6. Diagnosa keperawatan keenam : Kurang pengetahuan (kebutuhan

belajar) tentang kondisi, prognosis berhubungan dengan kurang masukan informasi. Tujuan : Klien mengatakan paham tentang kondisi dengan prognosisnya setelah diberikan pendidikan kesehatan dalam waktu 25 menit. Kriteria : Klien memperlihatkan peningkatan tingkat pengetahuan tentang keadaan dan kondisinya. Rencana Tindakan : 1) Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai intruksi dengan therapis fisik bila diindikasikan. Rasional : Banyak fraktur dan dislokasi memerlukan gips, traksi : bebat atau penjepit selama proses penyembuhan. Kerusakan lanjut dapat memperlambat penyembuhan. 2) Berikan pendidikan kesehatan tentang dislokasi.

41

Rasional : Mengetahui pengertian, penyebab dan tindakan keperawatan yang diberikan. 3) Bicara perlahan dan berjarak dengan menggunakan kalimat sederhana. Rasional : Membantu dalam pemahaman komunikasi, klien dapat berespon buruk terhadap bicara kasar atau keras. 4) Gunakan tindakan kreatif untuk membantu dalam komunikasi misalnya : leaflet, lembar balik. Rasional : Untuk memudahkan klien dalam mengingat. 5) Identifikasi tanda tanda dan gejala gejala yang memerlukan evaluasi medik misalnya. Nyeri berat, demam atau menggigil bau tidak enak.

C. Pelaksanaan Pelaksanaan berikut realisasi dari rencana tindakan yang telah ditentukan dan diuraikan sesuai dengan prioritas sebagai berikut : 1. a. Tanggal 12 Juli 2004 Diagnosa Keperawatan I Jam : 09.30 Mengkaji lokasi durasi dan frekuensi nyeri dengan menggunkan skala nyeri. Hasil : DS : Klien mengatakan nyeri pada daerah pinggang dan paha sampai kakinya. DO : Skala nyeri 6, klien meringis menahan sakit. Jam : 10.00. Mengukur tanda tanda vital.

42

Hasil : DS : Klien menanyakan hasil tekanan darah. DO : TD : 120/80 mmHg, S : 36 0C N : 80 x/I, RR : 18 x/i. b. Diagnosa Keperawatan II Jam : 09.30 Membantu dan mendorong klien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi. Hasil : DS : Klien mengatakan dapat melakukan gerakan aktif dan pasif dengan bantuan perawat. DO : Klien menggerakkan kedua tangan dan kaki kirinya secara aktif di tempat tidur kecuali kaki dan paha kanan yang terpasang traksi. Jam 09.30 : Mengukur tekanan darah sebelum dan sesudah melakukan aktivitas. Hasil : DS : klien menanyakan hasil vital signnya. DO : TD : 120/80 mmHg, S : 36,6 0C, N : 80 x/I, RR : 18 x/i. Jam 09.30 : Mengawasi tekanan darah sebelum dan sesudah melakukan aktivitas. Hasil : DS : klien menanyakan hasil vital signnya. DO : TD : 120/80 mmHg, S : 36,6 0C, N : 80 x/I, RR : 18 x/i. Jam 13.55 : Menempatkan klien dalam posisi telentang, bila traksi digunakan untuk menstabilkan daerah dislokasi. Hasil : DS : Klien mengatakan lebih merasa nyaman dengan posisi

43

terlentang. DO : Klien berbaring dengan poisisi terlentang, posisi traksi tidak berubah dan klien rileks. Jam 21.30 : Memberikan papan kaki atau bantalan kaki pada eksremitas yang terkena dislokasi. Hasil : DS : Klien mengatakan dirinya merasa lebih nyaman dengan menggunakan bantalan kaki. DO : Tungkai yang terkena disangga dengan bantal, posisi kaki dan paha tidak berubah, beban dalam posisi tergantung. Jam 23.10 : Mengkaji integritas alat traksi. Hasil : DS : Klien mengatakan beban tidak pernah disangga di kaki tempat tidur oleh siapa pun. DO : Beban dalam posisi menggantung, posisi kaki tidak berubah. C. Diagnosa Keperawatan III Jam 11.30 : Menganjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi seperti sayuran (buah buahan), roti dan makanan yang berasal dari tepung sereal. Hasil : DS : Klien mengatakan sudah dua kali makan (buah Buahan), tetapi belum BAB juga. DO : Klien makan buah pepaya dan pisang setelah makan Nasi dan sayuran.

44

Jam 13.30 : Memberikan obat pronalges supp 2 x II, melalui anus sesuai therapi medis. Hasil : DS : Klien bertanya obat apa yang diberikan kepadanya. DO : Obat masuk dan tidak terdapat tanda tanda infeksi, perawat memberi penjelasan tentang kegunaan

pronalges supp. Jam 16.30 : Memulai program latihan, istirahat dan diet individual. Hasil : DS : Klien mengatakan akan melakukan program latihan gerak, sesuai yang telah dianjurkan oleh perawat. DO : Klien melakukan gerakan sesuai kemampuannya untuk anggota gerak yang tidak sakit, namun pada anggota gerak yang sakit klien hanya mampu memfleksikan jari jari kakinya. Jam 17.00 : Menganjurkan klien untuk banyak minum. Hasil : DS : Klien mengatakan dirinya sering minum. DO : Klien menghabiskan 1500 ml aqua dalam sehari. Jam 21.30 : Membatasi mkanan dan minuman sejenis susu. Hasil : DS : Klien mengatakan dalam sehari hanya satu kali saja minum susu. DO : Klien minum susu satu gelas pada sore hari bila akan tidur. D. Diagnosa Keperawatan IV. Jam 14.00 : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat

45

tidur sejenak. Hasil : DS : Klien menyatakan akan mencoba menenangkan pikiran dan beristirahat atau tidur. DO : Klien mau beristirahat dan memejamkan mata untuk memulai tidur. Jam 20.00 : Mengevaluasi tingkat stres, orientasi sesuai perkembangan hari demi hari. Hasil : DS : Klien mengatakan tidak mengetahui keadaan dan kondisi yang sebenarnya terjadi pada dirinya. DO : Klien sering bertanya kepada perawat tentang keadaan dan kondisinya, gelisah. Jam 22.10 : Menganjurkan klien untuk makan makanan kecil, minum susu hangat dan mandi pada sore hari. Hasil : DS : Klien mengatakan mandi sore hari hanya selama dirawat oleh suster theresia. DO : Klien sudah mandi sore hari dibantu oleh perawat, dan minum 1 gelas susu hangat. Jam 22.30 : Menganjurkan klien untuk mendengarkan musik lembut melalui walkman. Hasil : DS : Klien mengatakan akan mengikuti anjuran perawat. DO : Klien dan keluarganya kooperatif, mau bekerjasama dengan perawat dalam proses keperawatan. E. Diagnosa Keperawatan V

46

Jam 05.30 : Mengikut sertakan klien dalam formulasi rencana perawatan pada tingkat kemampuan klien. Hasil : DS : Klien mengatakan ia dapat menyeka kedua tangan dan menggosok gigi di tempat tidur, dengan bantuan perawat. DO : Klien menyeka kedua tangan dan menggosok gigi di tempat tidur, dengan bantuan perawat. Jam 05.35 : Tidak menekan klien di luar kemampuannya. Hasil : DS : Klien mengatakan dirinya tidak dapat menyeka daerah kaki dan punggung. DO : Klien hanya mampu menyeka kedua tangan dan menggosok giginya di tempat tidur dengan bantuan perawat. Jam 16.00 : Membantu menyeka klien Hasil : DS : Klien mengatakan badannya terasa segar kembali, setelah 3 hari tidak mandi. DO : Klien bersih, penampilan rapi, mulut tidak berbau lagi. F. Diagnosa Keperawatan VI Jam 11.00 : Mengidentifikasi tanda tanda dan gejala gejala yang memerlukan evaluasi medik. Hasil : DS : Klien mengatakan selama dipasang traksi dirinya tidak mengetahui penyebab yang sebenarnya

47

terjadin. DO : Klien sering bertanya tanya tentang keadaan dan kondisinya. Jam 11.30 : Mengkaji tanda tanda vital. Hasil : DS : Klien menanyakan hasil tanda tanda vital DO : TD : 120/80 mmHg, S : 35,5 0C, N : 84 x/I, RR : 18 x/i.

48

Pelaksanaan tanggal 13 Juli 2004 a. Diagnosa Keperawatan I : Jam 09.00 : Mendiskusikan tindakan penghilang rasa nyeri (bernafas dalam) Hasil : DS : Klien mengatakan jika nyeri datang ia akan menerapkan teknik nafas dalam. DO : Klien antusias mau bekerjasama dengan perawat dalam manajemen pengurangan nyeri. b. Diagnosa Keperawatan II :

Jam 10.00 : Membantu dan mendorong klien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi. Hasil DS : Klien mengatakan dapat melakukan latihan aktif pada kedua tangannya sendiri namun. Untuk tungkai yang sakit klien meminta bantuan perawat. DO : Klien melakukan gerakan aktif sendiri. Gerakan pasif pada tungkai yang terkena dilakukan oleh perawat. Jam 11.30 : Mengkaji tanda tanda vital klien setelah melakukan aktivitas gerak. Hasil DS : Klien menanyakan hasil tekanan darahnya dan

mengatakan badannya terasa lelah. DO : Klien berkeringat, TD : 120/90x/menit, N : 84x/menit, RR : 20x/menit, Suhu : 35,7 0C. Jam 12.00 : Menempatkan klien dalam posisi terlentang.

49

Hasil DS : Klien mengatakan punggungnya terasa pegal. Dengan berbaring terlentang. DO : Tidak ada tanda tanda dekubitus, tidak ada lecet, tidak ada nyeri tekan. Jam 20.00 : Mengkaji integritas alat traksi. Hasil DS : Klien mengatakan tidak pernah mengubah posisi traksi. DO : Beban traksi tetap pada posisi menggantung. c. Diagnosa Keperawatan III

Jam 08.50 : Menganjurkan klien untuk banyak mengkonsumsi makanan berserat tinggi. Hasil DS : Klien mengatakan akan memperbanyak lagi makan buah yang berserat. DO : Klien makan Pepaya dan Pisang Jam 10.00 : Memulai program latihan gerak dan istirahat Hasil DS : Klien mengatakan dirinya akan melakukan latihan gerak pada anggota tubuh yang tidak sakit, sesuai yang telah diajarkan perawat. DO : Klien melakukan gerak aktif pada kedua lengan dan kepalanya tanpa bantuan perawat. Jam 13.40 : Memberikan obat : Pronalges supp 2 x II / Anus. Hasil DS : Klien mengatakan sudah satu kali memakai obat tersebut tetapi belum BAB juga.

50

DO : Klien selalu mengeluh tentang keadaaan yang dialami, perawat memberi penjelasan tentang pola BAB dan aktivitas. d. Diagnosa Keperawatan IV

Jam 14.30 : Memberikan kesempatan kepada klien untuk beristirahat dan tidur. Hasil DS : Klien mengatakan pikirannya tidak tenang sehingga ia dapat tidur. DO : Klien mengeluh tidak tahu tentang keadaan dan kondisi yang sebenarnya terjadi pada kakinya. Jam 20.00 : Menganjurkan klien untuk mendengarkan musik lembut melalui wolkman. Hasil DS : Klien mengatakan dirinya akan mendengarkan musik Lembut, dan mencoba untuk tenang dan berdoa. DO : Klien mendengarkan musik lembut melalui walkman. e. Diagnosa Keperawatan V

Jam 05.50 : Membantu klien dalam perawatan diri seperti mandi dan gosok gigi. Hasil DS : Klien mengatakan badannya terasa segar DO : Klien bersih penampilan segar dan rapi. Jam 1630 : Membantu klien dalam perawatan diri seperti mandi dan gosok gigi. Hasil DS : Klien mengucapkan terimakasih kepada perawat karena

51

sudah membantunya dalam perawatan diri. DO : Klien terlihat segar penampilan rapi. f. Diagnosa Keperawatan VI

Jam 14.30 : Mengkaji tanda tanda vital klien. Hasil DS : Klien menanyakan hasil pemeriksaan tanda tanda vital. DO : Tensi 110/80mmHg, N : 80x/menit, S : 36,4oC, RR : 20x/menit. Jam 17.00 : Mengidentifikasikan kembali tanda tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medis. Hasil DS : Klien mengatakan hingga saat ini dirinya tidak mengalami demam, menggigil. DO : Klien masih bertanya tanya keadaan dan kondisinya.

Pelaksanaan tanggal 14 Juli 2004 a. Diagnosa Keperawatan I durasi dan frekuensi nyeri dengan

Jam 11.15 : Mengkaji

menggunakan skala nyeri. Hasil DS : Klien mengatakan dirinya dapat mengontrol nyeri dengan teknik bernafas dalam. DO : Skala nyeri 3 klien tidak meringis. Jam 14.00 : Selidiki keluhan yang tidak biasa atau tiba tiba. Hasil DS : Klien mengatakan nyeri datang bila ia menggerakkan pinggang, paha dan kakinya.

52

DO

: Klien meringis menahan nyeri skala nyeri 5.

Jam 16.00 : Memberikan obat Danalgin 3 x 1 tablet oral sesuai program therapi. Hasil DS : Klien mengatakan nyerinya berkurang setelah minum obat yang diberikan perawat. DO : Nyeri berkurang, skala nyeri 2, klien tidak meringis, klien rileks. b. Diagnos Keperawatan II

Jam 09.50 : Membantu dan mendorong klien untuk melakukan gerak aktif untuk sendi. Hasil DS : Klien mengatakan dapat melakukan gerakan aktif pada kepala dan kedua tangannya sendiri tanpa bantuan orang lain namun untuk anggota gerak yang sakit klien meminta bantuan perawat. DO : Klien melakukan aktivitas gerak untuk gerak atas tanpa dibantu perawat dan anggota gerak yang sakit klien masih dibantu, klien hanya dapat menggerakkan jari jari kaki saja. Jam 10.00 : Mengukur tanda tanda vital klien Hasil DS : Klien menanyakan hasil pemeriksaan tekanan darahnya. DO : T : 120/70mmHg, N : 84x/menit, S : 36,30C, RR 20x/menit. c. Diagnosa Keperawatan III

53

Jam 09.00 : Memulai program latihan gerak dan istirahat pada klien. Hasil DS : Klien mengatakan dapat melakukan gerak aktif sendiri tanpa bantuan perawat untuk anggota gerak yang tidak sakit, namun untuk anggota gerak yang sakit klien mengatakan masih membutuhkan perawat. DO : Klien melakukan latihan gerak pada anggota yang

sakit hanya sebatas memfleksikan jari jari kakinya saja. Jam 13.40 : Memberikan obat Pronalges supp 2 x II / Anus. Hasil DS : Klien mengatakan sudah berak satu kali. DO : Konsistensi lembek berbentuk berwarna hitam kehijauan. d. Diagnosa Keperawatan IV

Jam 20.00 : Memberikan kesempatan kepada klien untuk beristirahat dan tidur. Hasil DS : Klien mengatakan badannya sangat lelah, dan akan

mencoba untuk tidur. DO : Klien sering menguap, setelah ditinggal sejenak oleh perawat klien pun tertidur mulai pukul 20.05 hingga ppukul 05.25. Jam 05.35 : Menanyakan kepada klien tentang pemenuhan kebutuhan tidurnya semalam. Hasil DS : Klien mengatakan tadi malam tidurnya lelap hingga pagi. DO : Klien terlihat rileks dan tidak menguap. e. Diagnosa Keperawatan V

54

Jam 05.30 : Membantu klien dalam program keperawatan diri seperti mandi dan menggosol gigi. Hasil DS : Klien mengatakan badannya terasa segar. DO : Klien bersih, penampilan rapi, mulut klien tidak berbau. Jam 16.30 : Membantu klien dalam program perawatan diri, mandi dan menggosok gigi. Hasil DS : Klien mengucapkan terima kasih kepada perawat dan mengatakan badannya terasa segar. DO : Klien bersih, penampilan rapi. f. Diagosa Keperawatan VI

Jam 09.30 : Memberikan pendidikan kesehatan tentang dislokasi dan tindakan penangannya. Hasil DS : Klien mengatakan sudah mengetahui tentang keadaan dan kondisi yang dialaminya. DO : Klien sudah tidak bertanya tanya lagi tentang

keadaannya. Jam 09.30 : Membicarakan secara perlahan dan sederhana. Hasil DS : Klien mengatakan mengerti dan paham dengan cara penyampaian perawat. DO : Klien kooperatif, mau memperhatikan dan mendengarkan penyampaian perawat Jam 09.30 : Menggunakan tindakan kreatif untuk membantu dalam koomunikasi.

55

Hasil DS : Klien bertanya tentang komplikasi dari dislokasi. DO : Klien mengerti tentang komplikasi dari dislokasi setelah mendapatkan penjelasan dari perawat.

1. 2.

Evaluasi Diagnosa Keperawatan I padaa tanggal 12 Juli 2004

S : Klien mengatakan klien masih ada nyeri jika ia menggerakkan kakinya. O : Skala nyeri 6, klien meringis menahan nyeri saat mencoba untuk menggerakan kakinya. T : 120/70mmHg, N : 84x/menit, S : 36,30C, RR : 18x/menit. A : Masalah nyeri masih terjadi, karena klien masih terpasang alat traksi untuk mereposisi sendi tulang. P : Rencana tindakan diteruskan. 1, 2, 4, 5. 3. Diagnosa Keperawatan II tanggal 14 Juli 2004

S : Klien mengatakan dapat melakukan gerakan aktif pada kepala dan kedua tangannya tanpa bantuan perawat, namun pada daerah yang terpasang traksi klien mengatakan belum dapat melakukan pergerakan sendiri tanpa bantuan. O : Klien melakukan aktivitas gerak untuk anggota gerak atas tanpa dibantu, namun pada anggota gerak yang sakit dan terpasang traksi, gerakan yang dilakukan klien hanya sebatas menggerakkan jari jari kaki (fleksi saja) dan, klien hanya berbaring di tempat tidur saja.

56

A : Masalah moobilitas fisik klien belum teratasi dikarenakan klien masih menggunakan alat traksi. P : Rencana tindakan diteruskan 1, 2, 4, 5 . 4. Diagnosa Keperawatan III tanggal 14 Juli 2004

S : Klien mengatakan BAB satu kali setelah mendapatkan anjuran dan pemberian obat oleh perawat. O : Klien BAB dengan konsistensi lembek berbentuk, dan berwarna kehijauan. A : Masalah konstipasi pada klien teratasi setelah mengikuti anjuran dan tindakan pemberian obat oleh perawat. P : Rencana tindakan dipertahankan 1, 2, 3, 4. 5. Diagnosa Keperawatan IV tanggal 14 Juli 2004

S : Klien mengatakan tadi malam tidurnya lelap hingga pagi hari. O : Terlihat lebih rileks, dan tidak menguap, klien tidur 6 7 jam. A : Masalah pemenuha kebutuhan tidur sudah teratasi dikarenakan klien dapat tidur lelap hingga pada pagi hari. P : Rencana tindakan keperawatan dipertahankan 1, 2, 3, 4. 6. Diagnosa Keperawatan V tanggal 14 Juli 2004

S : Klien mengatakan belum dapat melakukan perawatan diri sendiri tanpa bantuan perawat. O : Klien hanya berbaring di tempat tidur saja, klien diseka oleh perawat setiap pagi dan sore, klien bersih dan rapi.

57

A : Masalah perawatan diri sudah teratasi dikarenakan klien dibantu oleh perawat dalam melakukan aktivitas perawatan diri, klien berbaring di tempat tidur. P : Rencana tindakan diteruskan1, 2, 3, 4, 5. 7. Diagnosa Keperawatan VI tanggal 14 Juli 2004 hanya

S : Klien mengatakan sudah mengerti dan paham tentang keadaan dan kondisi yang sebenarnya. O : Klien tidak bertanya tanya dan tidak mengeluh tentang kondisinya. A : Masalah kurang pengetahuan sudah teratasi dikarenakan klien tidak bertanya tanya lagi setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang dislokasi oleh perawat. P : Rencana tindakan dipertahankan 5.

58