P. 1
Kasus Makanan

Kasus Makanan

|Views: 83|Likes:
Dipublikasikan oleh Yanita Hanastasia

More info:

Published by: Yanita Hanastasia on Aug 20, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2011

pdf

text

original

ARTIKEL –ARTIKEL BERITA Keracunan Es Potong, Ratusan Warga Kritis, 2 Tewas

Senin, 30 Maret 2009 | 8:18 WIB | Posts by: jps KUPANG | SURYA-Ratusan warga Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur mengalami keracunan setelah mengkonsumsi es potong yang dibeli dari penjual keliling. Bahkan, dua warga dilaporkan tewas. Jumlah warga korban keracunan yang dalam keadaan kritis sedikitnya 145 orang. Para korban masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit terdekat. Adapun dua warga yang tewas, yakni, Mikron Edison Lopo, 18, siswa kelas II SMAN I Amanuban Selatan dan Lukius Tse, 15, warga Desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan. Pemerintah setempat sejak Sabtu (28/3), telah mengambil langkah darurat dengan membuka posko pengobatan. “Dapur umum juga telah disediakan untuk membantu menyediakan makanan bagi para korban dan anggota keluarganya,” kata Paulus Mella, Bupati Timor Tengah Selatan, Minggu (29/3) siang. Menurut Mella rata-rata korban adalah pelajar. “Sebagian besar siswa SD dan SMA,” lanjutnya. Keracunan massal ini terjadi Jumat lalu, saat warga mengkonsumsi es potong yang dijual pedagang. Sementara itu, bantuan darurat yang sudah tiba posko penanganan korban keracunan yakni berupa beras 250 kg, mie instan 40 dos, 20 dus air mineral, karpet dua rol besar dan air bersih. Dari 145 korban yang masih dirawat, 105 di antaranya dirawat di Puskesmas Panite, 34 rawat jalan, dan empat lainnya dirawat di RSUD Soe. “Dua di antaranya meninggal dunia,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Timor Tengah Selatan, Markus Righuta. Menurutnya, semua rungan Puskesmas terisi penuh ratusan pasien yang mengalami keracunan. Bahkan sebagian lorong yang menghubungkan ruangan pun terisi. Tempat tidur yang tersedia tidak mampu menampung ratusan pasien sehingga meja-meja dari sekolah terdekat dipinjam dan dijadikan sebagai tempat tidur sementara bagi para korban. Sebagian besar korban mengalami kejang dengan mulut mengeluarkan busa. “Bahkan ada yang langsung diare,” lanjutnya.Untuk memastikan penyebab keracunan, menurut Markus, pihaknya telah mengambil sampel urin dan feses para korban untuk diteliti di laboratorium. Diakses dari : www.surya.co.id, 24 Agustus 2009, 20:49.

2 Siswa SMA Tewas Keracunan Es Potong
Senin, 30 Maret 2009 04:17 Administrator SoE, Indowarta

Dua orang siswa SMA 1 Amanuban meninggal dunia dan ratusan orang lainnya dirawat di rumah sakit, diduga karena keracunan es potong yang dibeli di sekitar sekolah mereka. Korban meninggal bernama Mikron Edison Lopo (18 th), warga Kampung Baru Dusun Anifu Desa Polo dan Lukius Tse (15 th) warga Desa Bena Kec Amanuban Selatan. Jumlah korban keracunan mencapai 138 orang, 100 orang masih dirawat di Puskesmas Panite Kec Amanuban Selatan, 31 orang rawat jalan, 5 orang dirujuk di RSUD Soe. Sedangkan guru yang juga ikut dirawat dirujuk ke RSUD Soe yaitu Jabes E Nabuasa, Yoranika Mandonsa, Maris Thon dan Justi Nubatonis.Beberapa korban lainnya yang ditemui di ruang perawatan Puskesmas Panite, Jum’at (27/3) masih muntah dan diare, kondisi mereka masih lemah. Kepala Dinas Kesehatan Kab TTS, dr. Markus Ng Righuta yang ditemui di Puskesmas Panite mengatakan, kondisi para pasien mulai membaik, tidak seperti saat datang di puskesmas, hampir semua korban mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan. Untuk menangani permasalahan ini, Dinas Kesehatan Kab TTS menurunkan 10 dokter dan 18 para medis, termasuk 1 orang dokter ahli penyakit dalam, Dr. Ferdy. dr Markus mengatakan, untuk menangani kasus ini digunakan system jemput bola yaitu mencari dan menjemput penderita di rumah mereka masing-masing. Hal ini dilakukan untuk menghindari timbul korban jiwa. Dilihat dari gejala-gejala yang dialami para pasien yaitu kepala pusing, muntah-muntah hingga diare, kejang-kejang, bahkan ada yang mulutnya keluar busa, diduga merupakan gejala keracunan. Efek keracunan makanan tidak selamanya muncul dalam waktu yang singkat, bisa jadi karena bahan-bahan kimia yang tercemar dalam makanan yang dikonsumsi para korban baru bereaksi satu hari kemudian. Sementara itu menurut dr Ferdy, penanganan pertama adalah pemberian antibiotic secara empiris untuk membunuh semua bakteri karena belum diketahui bakteri apa penyebab para pasie keracunan. Untuk mengetahui bakteri penyebab keracunan, Dinas Kesehatan

Ibu kota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia berpesan kepada para siswa yang masuk sekolah untuk mencari rekan-rekan mereka yang mengalami gejala muntah-muntah dan diare untuk segera ke Puskesmas. langsung mencret dan muntah-muntah. sumber air yang dikonsumsi penduduk serta bahan pembuat es potong itu diduga kuat telah tercemar bakteri e-coli. Warna es potong bervariasi ada yang berwarna coklat. "Kami menduga bahan baku es tersebut dibuat dari air mentah yang sudah terkontaminasi dengan bakteri e-coli. juga terserang diare dan muntahmuntah. Seorang ayah berusia sekitar 60-an tahun ke atas. penjual es potong belum diidentifikasi. Melkianus Adoe. Itu terjadi pada Jumat (27/3/2009) atau dua hari setelah mengkonsumsi es potong yang hanya seharga Rp 500. Mereka adalah korban keracunan setelah makan es potong. Tidak semua yang makan es potong itu mengalami diare dan muntah. "Saya minum air mentah di kebun. Rabu (1/4/2009) bersama Ketua DPRD NTT. saya sendiri juga tidak tahu. di bawah tenda perawatan yang dibangun Dinas Sosial NTT itu. sekitar 90 Km arah timur Kupang. Diakses dari : www." katanya ketika ditanya Gubernur Lebu Raya soal keadaan kesehatannya selama menjalani perawatan di puskesmas tersebut sejak Jumat (27/3/2009) lalu. karena kami tidak mendapatkan lagi es potong yang menjadi sumber bencana sosial itu.com. sejak peristiwa itu terjadi pada pekan lalu." katanya. pihak kepolisian masih menyelidikan keberadaan penjual es tersebut. putih dan kacang hijau dengan harga 500 rupiah per potong. tetapi menurut guru-guru. para konsumen mulai terkena diare dan muntah-muntah." kata Yanti Asbanu (17).Anak-anak sekolah yang mengonsumsi es potong (es crim dibuat di rumah tangga dan dijual dengan kereta dorong) tersebut tidak langsung terserang diare dan muntah-muntah. . Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Amanuban Selatan. "Awal mulanya saya merasakan perut sakit. sehingga infus yang tertancap di tangannya pun dicabut oleh petugas kesehatan setempat. siswi kelas II SMAN I Panite. namun menurut para korban. Tidak lama kemudian. untuk memastikan penyebab terjadinya kasus tersebut. 24 Agustus 2009. berdasarkan hasil tes urine di Laboratorium Kesehatan Kupang. tetapi mengalami keadaan tersebut setelah dua hari kemudian. tutur Abdonius Lumboris. karena terbatasnya ruang perawatan di puskesmas tersebut. dan menurut guru-guru esnya memang enak”. Setelah mengonsumsi es potong yang dijual seorang pedagang keliling pada Rabu (25/3/2009) dan Kamis (26/3/2009) di SMA Negeri I Panite dan Pasar Panite. 20:54 Air Tercemar E Coli dan Tragedi Es Potong LEBIH dari 100 orang berbaring tanpa daya dengan infus tertancap di tangan di ruang perawatan Puskesmas Panite di Kecamatan Amanuban Selatan.Sejauh ini. penjuang es itu seorang pria dengan menggunakan sepeda motor dan box berisi es. Pemandangan memilukan itu terlihat ketika Gubernur NTT. menunjukkan adanya bakteri e-coli (Escherichia coli).00/potong itu. Melihat kecenderungan tersebut. Kepala Dinas Kesehatan TTS. Yanti merupakan salah satu korban. Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). dr. Rata-rata para korban merasakan mual disusul muntah dan diare satu hari setelah memakan es potong. Abdonius Lumboris meliburkan sekolah dengan cara memulangkan siswa lebih pagi pada Jum’at (27/3) karena banyak siswanya yang tidak masuk karena keracunan. sehingga mudah menjangkit ke mana-mana. kata Righuita. mengatakan.indowarta. “Tukang es yang berjualan di sekitar sekolah memang tidak ijin berdagang di situ. Seorang siswa SMAN 1 Amanuban Selatan. gadis ini mulai tampak mulai segar dan merasa agak lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Potifar Toni mengatakan dirinya tidak sakit meski makan es berwarna coklat yang dibeli dari penjual yang sama pada hari Rabu (26/3). namun bukan karena mengkonsumsi es potong. Frans Lebu Raya menjenguk para korban di Puskesmas Panite.TTS sudah mengirim sampel kotoran dan muntah para korban ke laboratorium Dinas kesehatan Prov NTT di Kupang. Ada pula pasien terpaksa menjalani rawat inap di bawah tenda serta di lorong-lorong puskemas. dan ketika berbincang-bincang dengan Antara. tukang es itu sudah berjualan sejak hari Sabtu (21/3). merah. Markus Ng Righuta. Menurut dia. Ini hasil analisis kami.

gubernur juga mengharapkan agar masyarakat desa membudayakan kebiasaan mengkonsumsi air yang telah dimasak serta mencuci tangan sebelum makan. "Jika kita mampu menjaga kebersihan diri dan lingkungan.jumlah korban keracunan es potong dan mengkonsumsi air mentah saat ini mencapai 216 orang. Dari jumlah tersebut. "Saya harapkan sekolah-sekolah di NTT dapat mengelola kantin yang lebih sehat agar tidak terjadi tragedi yang menimpa anak-anak seperti dalam kasus keracunan es potong tersebut. (ant) Diakses dari : Jurnalis-ntt. ibu kota Kabupaten TTS dan seorang lainnya dirujuk ke RSUD Prof WZ Yohannes Kupang. . Nama : Yanita Hanastasia Sinaga Nim : 15307012 . seorang pasien dirujuk ke RSUD SoE. serta dua orang lainnya meninggal dunia. Di sisi lain. penduduk setempat lebih suka mengkonsumsi air mentah ketimbang air yang telah dimasak. Sumur penduduk yang menjadi sumber air kehidupan masyarakat setempat sering tercemar kotoran yang terbawa banjir dari daerah dataran tinggi. 118 orang rawat jalan." ujarnya. kita bisa terhindar dari segala macam penyakit seperti dalam kasus es potong yang akhirnya membawa tragedi sosial bagi masyarakat di Panite saat ini. Panite terletak di daerah dataran rendah sehingga menjadi pusat genangan air yang datang dari daerah pegunungan di sekitarnya. 94 orang di antaranya menjalani rawat inap di Puskesmas Panite." ujarnya. saya optimistis. 20:54." kata Gubernur Lebu Raya.blogspot. "Mereka meninggal karena terlambat dibawa ke puskesmas untuk mendapat pertolongan lebih lanjut dari petugas kesehatan. 24 Agustus 2009. Di sisi lain. sehingga mudah terkena penyakit jika sumber mata air atau sumur penduduk sudah terkontaminasi dengan bakteri atau virus lainnya.com. Frans Lebu Raya mengatakan. kasus es potong yang awal mulanya menyerang anak-anak sekolah itu hendaknya menjadi pelajaran bagi semua sekolah di NTT untuk memperhatikan kantin serta usaha warung makan lainnya di sekitar sekolah serta makanan jajan yang dijual oleh para pedagang keliling.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->