Anda di halaman 1dari 13

BAB 1 PENGERTIAN JALAN RAYA 1.

1 PENGERTIAN JALAN RAYA Jalan raya adalah tanah yang telah direncanakan dan disiapakan untuk dapat dilalui lalu lintas. 1.2 SUSUNAN KONSTRUKSI JALAN RAYA Pada konstruksi jalan raya dapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu : Geometric jalan raya Perkerasan bidang muka tanah Drainase jalan 1.3 RIWAYAT TEKNIS PERTUMBUHAN JALAN RAYA 1. Bentuk purba suatu jalan raya yaitu berburu binatang. 2. Bentuk umum jalan berkembang karena jumlah manusia di muka bumi bertambah. Manusia mulai berpindah secara berkelompok dan memakai alat angkut. 3. Revolusi 1 jalan raya, maksudnya manusia menciptakan roda yang lancer memerlukan bidang jalan yang rata dan baik. 4. Revolusi 2 jalan raya, maksudnya penemuan mesin uap dan motor baker berakibat penggunaan alat angkut yang dapat bergerak lebih cepat dari mengangkut kapasitas daya angkut yang lebih banyak. 5. Penggunaan batu pecah pondasi ukuran besar yang dipasang berdiri adalah penemuan Thelfrod tahun 1970. penggunaan stinslang sebagai lapisan pengisi adalah jasa Mac Adam 1815. 6. Revolusi dijalan raya, maksudnya penggunaan ban angina yang ditukan oleh Dunlop tahun 1888 menyebabkan angkutan di jalan raya berkembang dengan pesat. 1.4 RIWAYAT BENTUK KONNSTRUKSI PERKERASAN JALAN RAYA A. Konstruksi perkerasan jalan raya yang teknis dan yang tertua terdapat dalam perang (heir wegan) di zaman sampai tahun 1950. Keterangan : 1. Batu alam putih 2. Pasir kasar 3. Pasir campur kerikil 4. Bongkahan batu merah B. Perkerasan jalan system Thelfrod Mac Adam Keterangan : 1. Lapisan pengisi menurut Mac Adam 2. Pondasi berdiri menurut Thelfrod 3. Lapisan pasir sebagai perbaikan tanah 4. Badan tanah dipadatkan seperlunya. C. Perkerasan jalan system AASHTO BINA MARGA Keterangan : 1. Lapisan aus surface course bitumen 2. Pondasi basi course of crust stone 3. Pondasi bawah sub base of sanf gravel 4. Badan tanah yang dipadatkan baik sub grade

1.5 FUNGSI JALAN RAYA jalan raya dibuat untuk keperluan sebagai berikut : a. Untuk mempermudah hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lain. b. Untuk pertumbuhan perekonomian. c. Pertahanan keamanan. d. Perkembangan social dan budaya. 1.6 KLASIFIKASI JALAN RAYA A. Menurut Fungsi Umum 1. Jalan utama 2. Jalan sekunder 3. Jalan penghubung B. 1. 2. 3. C. 1. 2. 3. D. 1. 2. 3. E. Menurut Fungsi Ekonomi Jalan kolektor Jalan feoder Jalan arteri Menurut Lembaga yang Mengelola Jalan propinsi atau bina marga Jalan kabupaten Jalan desa Economic Feasibility Study, meliputi : Countruction study Road use cost analysis Economic evaluation

Garis Besar Desain Jalan Raya 1. Gambar gambar perencanaan Suatu gambar yang berisi perencanaan geometric perkerasan dan drainase dari suatu taguhan jalan sepanjang 300 400 m. desain dari suatu ruas jalan segmen a 200 km, terdiri dari beberapa kumpulan gambar yang dinamakan Paln. 2. General spasification, berupa buku penjelasan dengan uraian 3. Special spasificatiaon, berupa buku penjelasan dengan uraian dan hitungan. 4. Denang report, penjelasan berupa kesimpulan.

1.7 PERENCANAAN GEOMETRIK Perencanaan geometric adalah bagian dari perencanaan dimana geometric atau dimensi nyata dari suatu jalan beserta bagiannya disesuaikan dengan tuntutan dan sifat lalu lintas. Melalui perencanaan geometrik ini perencanaan merupakan suatu usaha menciptakan hubungan baik antara waktu dan ruang sehubungan dengan kendaraan yang bersangkutan, sehingga dapat menciptakan efisiensi, keamanan yang paling optimal dalam batas batas pertimbangan ekonomi yang masih layak. Peranana geometric ini secara tidak langsung menyangkut aspek aspek perencanaan mengenai pelaksanaan konstruksi jalan yang bersangkutan, hal mana baru diperhatikan apabila kenyataan aspek aspek tersebut akan memberikan pengaruh yang berarti pada bentuk fisik yang bersangkutan. Pada perencanaan geometric ini bersabgkut pada lalu lintas.

1. Alinemen Horizontal Alinemen horizontal trase adalah garis proyeksi sambu tegak lurus bidangg peta trase jalan yang dimaksud tertera pada bidang kertas gambar. Biasanya disebut gambar situasi jalan, secara umum menunjukkan arah jalan. Pengetahuan tentang trase jalan tidak hanya penting dalam perencanaan, tetapi juga untuk keperluan administrasi. Trase jalan merupakan susunan dari satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan lengkung lengkung yang dapat berupa busur lingkaran ditambah busur peralihan atau busur busur saja, yang biasanya disebut dengan istilah tikungan atau lengkung Horizontal. 2. Alinemen Vertikal Alinemen vertical adalah garis potong yang dibentu oleh bidang vertical melalui samba jalan. Menyatakan geometric jalan dalam arah vertical. Garis alinemen vertical di gambar dalam bidang kertas dimana ditunjukkan ketinggian dari setiap titik serta bagian bagian penting dari suatu jalan. Gambar ini bisa dari garis garis yang lurus satu sama lain dihubungkan dengan lenkung vertical. Bentuk dari penampang panjang memberi pengaruh yang sangat besar terhadap kecepatan jarak pandang, dan kenyamanan pengemudu tersebut. 1.8 KONSTRUKSI JALAN RAYA

BAB I PENGERTIAN DEOMETRI JALAN RAYA 1.1 Umum. a. Pengertian Jalan Raya Jalan raya adalah sebidang tanah yang telah direncanakan dan telah dipersiapkan untuk dapat dilalui arus lalu lintas. Susunan konstruksi jalan raya pada jalan raya dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu : Geometri jalan raya Perkerasan bidang muka jalan Drainase jalan raya b. Riwayat Teknik pertumbuhan Jalan Raya Bentuk purba suatu jalan raya yaitu berburu hewan Bentuk umum jalan raya berkembang karena jumlah manusia di muka bumi semakin bertambah. Bertambah secara berkelompok dan dipakai sebagai alat pengangkut. Revolusi jalan raya maksudnya, manusia menciptakan roda yang lancar memerlukan bidang jalan raya yang rata dan lebih keras. Revolusi jalan raya maksudnya menemukan mesin up dan motor baker mengakibatkan alat angkut yang dapat bergerak lebih cepat dan berat. Penggunaan pondasi batu pecah yang lebih besar dan dipandang dengan memasang secara berdiri adalah penemuan Telford (1970). Penggunaan Stinslag sebagai lapisan adalah jasa Mc Adam Revolusi jalan raya maksudnya menggunakan ban angin yang ditemukan oleh Dunlop (1998) menyebabkan jalan raya berkembang secara pesat.

c. Riwayat bentuk konstruktur jalan raya Konstruksi jalan raya teknik tertua terdapat pada jalan raya (Hair Wegan) zaman Romawi Perkerasan jalan raya dengan sistem Telfor Mc Adam Perkerasan jalan raya dengan system AASHTO = Bina Marga

d. Fungsi jalan raya Jalan dibuat untuk keperluan hal hal sebagai berikut : Untuk mempermudah manusia Untuk mempermudah ekonomi daerah Mempercepat jalan roda pemerintahan Untuk pertahanan dan keamanan Perkembangan pariwisata

1.2 Syarat Teknik Perencanaan Jalan Raya. a. Menurut Fungsi Umum * Jalan Umum * Jalan Sekunder

* Jalan Penghubung b. Menurut Lembaga yang Mengelola * Jalan Kodya * Jalan Kabupaten * Jalan Desa * Jalan Perkebunan * Jalan Propinsi atau Bina Marga c. Menurut fungsi ekonomi * Jalan Kolektor * Jalan Feeder * Jalan Arteri d. Menurut Cara Pembinaan Jalan * Jalan Umum * Jalan Tol e. Menurut Lokasi Geografis Jalan * City Road * Urban Road * Rural Road f. Menurut Klasifikasi Sebelum Tahun 1960 Didasarkan pada besarnya beban as jalan yang dapat diterima oleh jembatan yang terletak di jalan tersebut. Kelas I (7 ton) Kelas II (5 ton) Kelas III (3,5 ton) Kelas III-A (2,5 ton) Kelas IV (2 ton) Kelas V (1,5 ton) g. Menurut Klasifikasi Setelah Tahun 1960 Didasarkan pada volume lalu lintas setiap hari yaitu : Kelas I LHR 20.000 satuan mobil penumpang Kelas II-A LHR 16.000 20.000 Smp Kelas II-B LHR 800 1.600 Smp Kelas II-C LHR 2000 Smp Kelas III kalau tidak diperhitungkan lalu lintas Beban Jalan Raya 1. Jenis Beban Pada bagian bagian jalan raya bekerja jenis beban yang berbeda, yaitu : a. Yang bekerja pada geometri jalan adalah data data lalu lintas b. Yang bekerja pada bidang perkerasan tanah Pengaruh alam cuaca Beban as kendaraan Kondisi bidang jalan c. Yang bekerja pada drainase jalan adalah curah hujan dan debit sungai 2. Pengaruh Alam dan Cuaca Pada Perkerasan Jalan Pengaruh alam dan cuaca terdiri dari : a. Pengaruh air hujan dapat mengakibatkan bidang muka tanah tidak beraspal menjadi beralur b. Pengaruh air tanah, tinggi air kapiler pengaruh pada dukung pengerasan aspal c. Panas matahari dapat menyebabkan beberapa jenis aspal meleleh d. Parah berganti dapat menyebabkan pecahnya batu yang dipakai e. Perpohonan di tepi jalan bayang bayang pohon memelihara kadar air pengerasan jalan.

3. Pengaruh Karena Kendaraan Beban as kendaraan dapat bekerja statis dan dinamis. Sifat kerja beban as kendaraan ada beberapa macam : a. Normal terhadap bidang muka tanah jalan yang tidak beraspal menjadi beralur b. Normal terhadap bidang muka jalan dengan syarat bahwa tegangan normal terbesar W = faN (waktu pengiriman). Dimana Fn = Koefisien gesek normal. c. Tangensial as jalan pada bidang jalan muka yaitu sebesar W = faN (waktu pengiriman). Dimana Fn = koefisien Gesek normal d. Transfer as jalan pada permukaan jalan e. Gerakan penyebab tekanan udara di belakang kendaraan berkurang sehingga menyebabkan terjadinya hisapan atau putaran 4. Pengaruh bidang muka jalan kondisi muka jalan mungkin kurang keras atau pengaruh kurang rata. a. Kalau bidang muka tanah kurang keras, maka bidang muka tanah tersebut akan melendut dan terjadi gaya normal sebesar (B = d/(R/P)). b. kalau bidang muka tanah tidak rata, maka terjadi gaya normal tambahan sebesar (B = R-S x P/a). 5. Pengaruh Data Data Lalu Lintas Data lalu lintas merupakan beban utama dari geometri jalan raya : a. Pengertian data lalu lintas Yang dimaksud data lalu lintas adalah : Volume lalu lintas Pertumbuhan lalu lintas Kapasitas jalan Kecepatan rencana Kendaraan rencana b. Data-data lalu lintas dapat diperoleh dengan cara dan usaha sbb : * Menghitung lalu lintas yang terjadi * Mengadakan suatu origin destination study * Mengumpulkan data kepemilikan dan penggunaan kendaraan bermotor secara teratur (Vehicle ownership and Use) c. Original and Destination Kalau jumlah data dari hitungan lalu lintas kurang cukup, maka dilakukan Origin and Destination Study. Hal ini dilakukan dengan tanya jawab dipinggir jalan dengan pemakai jalan di pos lalu lintas sementara d. Vehicle ownership and use Data ini diperoleh dari kepolisian lalu lintas. e. Cara menghitung data lalu lintas. Lalu lintas kendaraan dijalan raya pada pos perhitungan lalu lintas yang dilakukan oleh petugas. Ada yang dilakukan tetap atau sementara yang dilakukan di pinggir jalan. Sistem yang dipakai sejak tahun 1971 adalah sebagai berikut : Hitung optimis selama waktu yang tidak terbatas. Pos untuk kegiatan dinamakan A stasiun tiap 2 bulan menghitung lalu lintas selama 7 hari @ 24 jam, hitungan dilakukan oleh petugas dinamakan B Count Station.

Prosedur Pekerjaan Jalan Raya 1. Jenis pekerjaan. Pekerjaan jalan raya dapat dibedakan menurut banyak cara, yaitu : a. Menurut Pekerjaan Fisik * Pekerjaan Perancangan * Pekerjaan Merencanakan * Pekerjaan Melaksanakan b. Menurut Proses Teknik * Pekerjaan Fleasibility Study * Pekerjaan Pleniminary Design * Pekerjaan Final Engineering Design c. Menurut Aktivitas yang dilakukan * Pekerjaan mengumpulkan macam macam data * Pekerjaan evaluasi data di atas 2. Garis besar pekerjaan merancang Merancang terdiri dari pekerjaan sebagai berikut : Sudah ada dan dapat berpengaruh pula pada jalan yang ingin kita rencanakan Data-data tersebut sebagai berikut : Lokasi pada jalan situasi Lalu lintas barisan rata rata pada beberapa terakhir Kecepatan yang umum dipakai Jenis penutup bidang muka jalan, tahun pembuatan dan kondisinya Ukuran potongan melintang jalan Data belokan dan tanjakan Besarnya biaya OMR Umumnya data-data tersebut disusun dalam suatu gambar : Travic Intertary Origin and Destination Motor Vehicle Ownership and Use Study High Way Finance Study Meramal lalu lintas yang akan datang Road 3. Garis besar design jalan raya * Engineering Deasibility Study, meliputi Climatology and Hidrolig Studi Cost Study * Economic Fesibility, meliputi : * Construction Cost Study * Road User Cost Analisis * Economic Evaluasi dengan cara mencari benefit cost rasio, internal rate returnat present value 4. Garis besar design jalan raya Gambar-gambar perencanaan satu lembar berisi perencanaan geometrik perkerasan dan drainase tegihan sepanjang 300 400 m. Design dari suatu ruas sigma a = 200 km terdiri dari beberapa perkumpulan gambar, satu kumpulan dinamakan plan. Generation Specification, berupa buku penjelasan, berupa uraian Specifikation Special, berupa buku penjelasan dengan uraian hitungan Design Report, merupakan penjelasan yang bersifat menyimpulkan.

5. Pekerjaan Pelaksanaan Pekerjaan pelaksanaan jalan raya di Indonesia di atur dengan buku peraturan yang diterbitkan oleh Dirjen Bina Marga dengan judul Syarat-syarat Pelaksanaan Jalan Raya 1.3. Standart Perencanaan Geometrik. Standart perencanaan geometrik adalah bagian dari perencanaan jalan raya dimana geometrik atau dimensi nyata dari suatu jalan raya beserta bagiannya dengan tuntutan beserta sifat lalu lintas. Melalui perencanaan geometrik umumnya berusaha menciptakan hubungan yang baik antara waktu ruang, sehubungan, dengan kendaraan yang bersangkutan, sehingga menghasilkan efisiensi, keamanan serta kenyamanan yang optimal dalam batasbatas ekonomi yang matang. Perencanaan geometrik secara umum adalah menyangkut aspek-aspek perencanaan bagian dari lebar tikungan, kelandaian jarak pandang serta kombinasi dari bagian-bagian tersebut, baik untuk jalannya sendiri maupun untuk pertemuan tertentu. Perencanaan geometrik ini secara langsung maupun tidak langsung mencakup dari perencanaan konstruksi jalan raya yang bersangkutan. Pelaksanaan konstruksi jalan raya yang bersangkutan, pada bentuk fisik atau pada perencanaan geometrik yang bersangkutan dengan lalu lintas. 1.4. Jarak Pandang. Syarat jarak pandang henti dalam perencanaan jalan raya adalah sebagai berikut : Jarak Pandang Henti Jarak ini harus dipenuhi dalam setiap perencanaan jalan raya dan besarnya bergantung dalam daftar lalu lintas. Jarak Pandang Menyiap Jarak ini diperlukan untuk jalan raya dua jalur,karena beratnya syarat untuk memenuhi jarak pandang menyiap minimum, maka apabila pertimbangan biaya memaksa, syarat ini hanya untuk lalu lintas yang menyiap. Ketentuan Untuk Menentukan Jarak Pandang Jarak pandang diukur dari ketinggian mata pengemudi ke puncak penghalang untuk jarak pandang henti. Ketinggian mata pengemudi adalah 132 cm dan ketinggian penghalang adalah 10 cm, sedangkan untuk jarak menyiap ketinggian penghalang adalah 125 cm. Lebar Perkerasan Lebar baru yang diperkeras berkisar antara 1 m untuk kelas jalan II-C di daerah pegunungan sampai 3 m untuk jalan jelas I di daerah pegunungan. Untuk jalan penghubung tergantung pada keadaan setempat. Untuk jalan kelas I pegunungan bahu jalan sama sekali tidak dilanjutkan, bahkan diluar tepi bahu harus ada bahu lunak selebar minimal 2 m, hal yang sama juga digunakan untuk jalan kelas II-A, bila segala sesuatu memungkinkan. Drainase Perlengkapan drainase karena merupakan bagian yang sangat penting dari suatu jalan seperti saluran tepi, saluran dan lain-lain harus direncanakan berdasarkan aturan.

1.5. Alinemen Horizontal. Yang dimaksud Alinemen Horizontal adalah garis proyeksi sumbu tegak lurus bidang kertas gambar, biasanya disebut gambar situasi jalan, secara umum menunjukkan arah dari jalan. Pengetahuan mengenai trase jalan tidak penting hanya pada perencanaan, tetapi juga penting untuk keperluan administrasi. Trase jalan merupakan susunan dari potongan-potongan garis yang biasanya disebut dengan istilah tangant, yang satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan lengkung-lengkung yang dapat berupa busur lingkaran ditambah busur peralihan, atau busur peralihan saja yang biasanya disebut dengan Tikungan atau Lengkung Horizontal. Untuk memenuhi syarat-syarat, maka alinemen ini perlu dipahami mengenai hubungan antara kecepatan dengan keadaan lengkung-lengkung pada tikungan jalan raya. 1.6. Alinemen Vertikal. Yang dimaksud Alinemen Vertikal adalah potongan yang dibentuk oleh bidang vertikal melalui sumbu jalan atau menyatakan geometrik jalan adalah alinemen vertikal. Garis lurus vertikal digambarkan dalam bidang kertas gambar dimana menunjukkan ketinggian dari setiap titik serata bagian-bagian penting dari suatu jalan. Gambar ini disebut penampang memanjang yang umumnya terdiri dari garisgaris lurus yang satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan lengkung yang diketahui. Pada alinemen vertikal perhatian tidak hanya ditujukan pada lengkung, tetapi justru yang paling penting adalah bagian yang lurus yang mana keadaannya merupakan landai, baik dilihat dari sudut ekonomi maupun dari sudut teknik lalu lintas satu penampang memanjang yang merupakan bagian paling ideal. Dengan keadaan yang semacam ini daya yang diperlukan oleh kendaraan yang lewat adalah sangat kecil dan lalu lintas yang ada dapat jalan dengan kecepatan yang dikehendaki. Dengan sendirinya ini sukar dipahami atau dipenuhi sehingga penampang umumnya selalu terdapat pendakian atau penurunan. 1.7. Konstruksi Jalan. Konstruksi jalan terdiri dari tanah yang perkerasan jalan penampang beserta tanah dasar material yang akan menduduki bagian dari rencana tanah dasar dan material-material yang akan menjadi bagian dari konstruksi pengerasan yang harus didasarkan pada penelitian dan penyelidikan dari laboratorium pada ahli Tanah Dasar. Kekuatan tanah dasar tergantung dari sifat-sifat dan daya dukung tanah yang umumnya dipakai adalah CBR. Dalam hal ini digunakan monogram yang penempatan tebal perkerasan, maka harga CBR tersebut dikorelasikan terhadap daya dukung tanah (DDT). Penentuan daya dukung tanah dasar berdasarkan evaluasi pemeriksaan laboratorium tidak menyangkut secara detail sepanjang suatu bagian jalan. Koreksi perlu dilakukan dalam perencanaan yang disesuaikan dengan keadaan atau kondisi setempat. Koreksi seperti ini akan diberikan dalam gambar rencana spesifikasi pelaksanaan.

1. 2. 3. 4. 5.

Umumnya pelaksanaan menyangkut tanah dasar adalah : Perubahan bentuk tetapi dari macam tanah tertentu akibat lalu lintas Sifat pengembangan dan menyusut dari tanah tertentu akibat penambahan kadar air. Daya dukung tanah yang tidak merata dan sukar ditentukan secara pasti pada daerah macam tanah yang sangat berbeda sifat dan kedudukannya akibat pelaksanaan. Lendutan dan lendutan balik selama dan sesudah pembebanan lalu lintas dari macam tersebut. Tambahan pemadatan yang akibatnya tanah berbutir kasar yang tidak didapatkan secara baik pada pelaksanaan. Untuk mendapatkan atau mencegah persoalan diatas, maka tanah dasar harus dikerjakan sesuai dengan pelaksanaan jalan raya.

Lapisan Pondasi Bawah Bermacam-macam tipe tanah dasar setempat (CBR 20 %, PI 10 %) yang relatif lebih baik dari tanah dasar dapat digunakan sebagai tambahan pondasi bawah. Campuran tanah setempat dengan kapur atau PC dalam beberapa hal yang sangat dianjurkan agar dapat bantuan yang efektif terhadap kestabilan konstruksi pengerasan. Fungsi dari lapisan pondasi bawah adalah : Sebagai bagian dari konstruksi pengerasan untuk mendukung dan menyebarkan beban merata Mencapai efisiensi penggunaan material yang relatif lebih murah Lapisan Permukaan Bahan-bahan untuk pondasi umumnya hanya cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan beban-beban roda sebelum menentukan suatu bahan yang dijadikan bahan pondasi. Bahan untuk permukaan, umumnya sama dengan bahan untuk pondasinya, hanya saja prasyaratnya lebih tinggi. Penggunaan jalan aspal diperlukan agar dapat bersifat kedap air dan disamping itu bahan aspal memberikan tegangan tarik. Pemilihan bahan untuk lapisan permukaan perlu dipertimbangkan kegunaannya, umur rencana serta penahan-penahan konstruksi agar mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari biaya yang dikeluarkan. Fungsi: Sebagai bahan perkerasan untuk menahan roda Sebagai lapisan kedap air untuk melindungi badan jalan dari kerusakan akibat cuaca Sebagai lapisan (warning corse) lapisan US Pekerjaan drainase atau pengairan pada suatu jalan adalah penting, baik pada waktu pelaksanaan maupun jalan tersebut setelah dikerjakan. Dalam pekerjaan sangat mempengaruhi kelancaran pekerjaan, diusahakan agar jalan saat hujan tidak menggenang atau menyebar pada ROW pada waktu jalan dari pengaruh jelek air tersebut. Untuk keperluan tersebut maka dibangun sistem bangunan air yang disebut saluran tepi (Side Dith) dan saluran melintang. Didalam menentukan drainase harus didasarkan pada data-data hidrologi.

BAB II TEBAL PERHITUNGAN PERKERASAN JALAN RAYA 2.1. Perhitungan Perkerasan Dengan Metode Fleksibel. Pada system ini pengembangan dinamakan as ekivalen atau beban dari kendaraan itu sendiri. Oleh karena itu, secara umum kerusakan jalan yang dikarenakan beban dari lalu lintas yang dilewatinya. Secara umum komposisi beban as lalu lintas yang dilewati ini terdiri dari : Beban as tunggal Beban as ganda Beban as triple Distribusi pembebanan pada ban ganda di atas permukaan jalan dapat ditinjau sebagai berikut : Pada kedalaman d/2 terjadi daerah kritis akibat pembebanan secara bersamaan dari kedua ban tersebut Pada kedalaman 2 akibat dari penyebaran dari kedua ban yang seolah-olah terjadi pembebanan rata pada tanah dasar, sehingga pembebanan yang diterima oleh tanah dasar semakin kecil. $. Untuk as ganda MST 15.000 Kg $. Untuk as triple MST 30.000 Kg Sedangkan komposisi dari sumbu yang ada pada setiap tipe kendaraan dinyatakan : @ Sumbu tunggal, roda tunggal @ Sumbu tunggal, roda ganda @ Sumbu ganda, roda tunggal @ Sumbu ganda, roda ganda Dalam perhitungan volume lalu lintas, biasanya dipakai LHR (Lalu Lintas Harian Rata-rata), semua kendaraan berat (< 5 ton) dihitung dari penyusunan komposisi beban as sesuai dengan aturan dari pihak yang berwenang. Adapun cara melaksanakan konstruksi pekerjaan dengan metode fleksibel menurut Bina Marga ada 2 faktor: #. Faktor lalu lintas yang berisi : Intensitas harian rata-rata Lintas Ekivalen Tengah (LET) Lintas Ekivalen Atas (LEA) Lintas Ekivalen Rencana (LER) #. Faktor struktur perkerasan : Indeks perkerasan (IP) Daya dukung tanah (DDT)

2.2. Perhitungan Perkerasan Dengan Cara Biasa. Data lalu lintas : #. Jenis, berat, sumbu kendaraan Mobil penumpang, bus, truk 2 as, truk 2 as gandeng. #. Perkerasan lalu lintas Masa perencanaan Masa pelaksanaan Umur rencana 22 tahun jika dimulai dari tahun 1995. Data bahan : Kelas A, CBR = 90 % Kelas B, CBR = 70 % Kelas C, CBR = 50 % Data tanah untuk tanah dasar diketahui 2.3. Perkerasan Rigid Povement.

Fungsi utama dari suatu kekerasan adalah untuk memikul beban lalu lintas secara aman untuk mencegah terjadinya kerusakan atau memperlambat kerusakan. Untuk mendapat perkerasan Rigid harus : Mampu memprediksi tegangan yang terjadi pada tanah dasar sampai batas kemampuan tanah tersebut, tanpa menimbulkan perbedaan lendutan yang dapat merusak kekerasan itu sendiri Direncanakan dan dibangun sedemikian rupa, mampu mengatasi kembang susut dan penurunan tanah dasar, serta pengaruh cuaca dan kondisi lingkungan. 2.4. Struktur dan Jenis Perkerasan Kaku. Perkerasan kaku adalah struktur yang terdiri dari pelat semen bersambungan atau tanpa sambungan, terletak diatas lapisan pondasi. Sifat plat yang sangat kaku menyebabkan beban pada bidang yang luas dan menghasilkan tegangan yang rendah pada lapisan dibawahnya. Jenis perkerasan kaku dikelompokkan dalam : #. Perkerasan beton semen dibagi menjadi : Perkerasan beton semen yang tersambung tulangan Perkerasan beton semen yang bersambungan dengan tulangan Perkerasan beton semen yang menerus tanpa tulangan Perkerasan beton semen prat tekan Perkerasan komposit, yaitu perkerasan kaku dengan plat beton semen sebagai lapis pondasi dan aspal beton sampai lapisan permukaan. 2.5. Dasar Perencanaan. Dalam perencanaan perkerasan kaku, tebal beton agar mampu menahan tegangan yang ditimbulkan oleh beberapa roda kendaraan, perubahan suhu dan kadar air, perubahan volume pada lapisan dibawahnya. Untuk mengatasi repetisi atau penulangan pembebanan lalu lintas sesuai dengan konfigurasi dengan beban sumbunya. Perencanaan tebal kaku didasarkan pada : Kekuatan tanah dasar yang didasarkan pada reaksi tanah dasar Tebal dan jenis pondasi bawah Kekuatan beton yang dinyatakan dalam kekuatan lentur 2.6. Faktor yang Mempengaruhi Perencanaan * Perencanaan dan tingkat pelayanan * Lalu lintas * Umur perencanaan * Kapasitas jalan * Tanah dasar * Lapisan pondasi bawah * Badan jalan * Kekuatan beton 2.7. Persyaratan dan Pembatasan Penggunaan Untuk hasil yang baik harus memenuhi persyaratan pembebanan : Modulus reaksi tanah dasar (k) minimum 2 Kg/cm Kelandaian memanjang jalan maksimum = 10 % Pelaksanaan harus sesuai dengan perkerasan kaku.

2.8. Penentuan Lalu Lintas Rencana Untuk lalu lintas dinyatakan : Jumlah sumbu dari kendaraan niaga (75) Jumlah data volume data lalu lintas (LHR) Jumlah kendaraan niaga

haria

Ad.1 konfigurasi beban sumbu Sumbu tunggal, roda tunggal (STRT) Sumbu tunggal, roda ganda (STRG) Sumbu ganda, roda ganda (SGRG) Ad.2 untuk perhitungan LHR diambil dalam jumlah kendaraan niaga