Anda di halaman 1dari 24

LEMBAR KERJA SISWA MAPEL GEOGRAFI

Di Museum Ronggo Warsito Semarang

Di Museum Ronggo warsito Semarang terdapat beberapa koleksi KOSMOLOGIKA dianatara a. b. c. d. e. f. Lukisan Galaksi Lukisan terjadinya planet-planet Lukisan gerakan matahari Lukisan atmosfer bumi Lukisan orbit planet Benda angkasa luar (batu meteorit)

Berikan penjelasan (1 sampai f) dan disertai gambar di lukisan tersebut! Jawab : a. Lukisan Galaksi Galaksi NGC 4414, spiral galaksi pada rasi bintang Coma Berenices, berdiameter sekitar 17.000 parsec dan berjarak 20 juta parsec. Galaksi adalah sebuah sistem yang terikat oleh gaya gravitasi yang terdiri atas bintang (dengan segala bentuk manifestasinya, antara lain bintang neutron dan lubang hitam), gas dan debu kosmik medium antarbintang, dan kemungkinan substansi hipotetis yang dikenal dengan materi gelap.[1][2] Kata galaksi berasal dari bahasa Yunani galaxias [ ], yang berarti "susu," yang merujuk pada galaksi Bima Sakti (bahasa Inggris: Milky Way). Tipe-tipe galaksi berkisar dari galaksi kerdil dengan sepuluh juta[3] (107) bintang hingga galaksi raksasa dengan satu triliun [4] (1012) bintang, semuanya mengorbit pada pusat galaksi. Matahari adalah salah satu bintang di galaksi Bima Sakti; tata surya termasuk bumi dan semua benda yang mengorbit matahari. Kemungkinan terdapat lebih dari 100 miliar (1011) galaksi pada alam semesta teramati.[5] Sebagian besar galaksi berdiameter 1000 hingga 100.000 [4] parsec dan biasanya dipisahkan oleh jarak yang dihitung dalam jutaan parsec (atau megaparsec).[6] Ruang antar galaksi terisi dengan gas yang memiliki kerapatan massa kurang dari satu atom per meter kubik. Sebagian besar galaksi diorganisasikan ke dalam sebuah himpunan yang disebut klaster, untuk kemudian membentuk himpunan yang lebih besar yang disebut superklaster. Struktur yang lebih besar ini dikelilingi oleh ruang hampa di dalam alam semesta.[7] Meskipun belum dipahami secara menyeluruh, materi gelap terlihat menyusun sekitar 90% dari massa sebagian besar galaksi. Data pengamatan menunjukkan lubang hitam supermasif kemungkinan ada pada pusat dari banyak (kalau tidak semua) galaksi. Etimologi Kata galaksi diturunkan dari istilah bahasa Yunani untuk Milky Way (galaksi kita), galaxias ( ), atau kyklos galaktikos. Kata ini berarti "lingkaran susu", sesuai dengan penampakannya di angkasa. Dalam mitologi Yunani, Zeus menempatkan anak laki-lakinya yang dilahirkan oleh manusia biasa, bayi Heracles, pada payudara Hera ketika Hera sedang tidur sehingga bayi tersebut meminum susunya dan karena itu menjadi manusia abadi. Hera terbangun ketika sedang menyusui dan kemudian menyadari ia sedang menyusui bayi yang tak

dikenalnya: ia mendorong bayi tersebut dan air susunya menyembur mewarnai langit malam, menghasilkan pita cahaya tipis yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Milky Way (jalan susu) b. Terjadinya Planet Hipotesis Nebula Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (1688-1772)[1] tahun 1734 dan disempurnakan oleh Immanuel Kant (1724-1804) pada tahun 1775. Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace[2] secara independen pada tahun 1796. Hipotesis ini, yang lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula Kant-Laplace, menyebutkan bahwa pada tahap awal, Tata Surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula, dan unsur gas yang sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya menyebabkan kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu kabut memanas, dan akhirnya menjadi bintang raksasa (matahari). Matahari raksasa terus menyusut dan berputar semakin cepat, dan cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam dan planet luar. Laplace berpendapat bahwa orbit berbentuk hampir melingkar dari planet-planet merupakan konsekuensi dari pembentukan mereka.[3] Hipotesis Planetisimal Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa Tata Surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang lewat cukup dekat dengan matahari, pada masa awal pembentukan matahari. Kedekatan tersebut menyebabkan terjadinya tonjolan pada permukaan matahari, dan bersama proses internal matahari, menarik materi berulang kali dari matahari. Efek gravitasi bintang mengakibatkan terbentuknya dua lengan spiral yang memanjang dari matahari. Sementara sebagian besar materi tertarik kembali, sebagian lain akan tetap di orbit, mendingin dan memadat, dan menjadi benda-benda berukuran kecil yang mereka sebut planetisimal dan beberapa yang besar sebagai protoplanet. Objek-objek tersebut bertabrakan dari waktu ke waktu dan membentuk planet dan bulan, sementara sisa-sisa materi lainnya menjadi komet dan asteroid. Hipotesis Pasang Surut Bintang Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jeans pada tahun 1917. Planet dianggap terbentuk karena mendekatnya bintang lain kepada matahari. Keadaan yang hampir bertabrakan menyebabkan tertariknya sejumlah besar materi dari matahari dan bintang lain tersebut oleh gaya pasang surut bersama mereka, yang kemudian terkondensasi menjadi planet.[3] Namun astronom Harold Jeffreys tahun 1929 membantah bahwa tabrakan yang sedemikian itu hampir tidak mungkin terjadi.[3] Demikian pula astronom Henry Norris Russell mengemukakan keberatannya atas hipotesis tersebut.[4] Hipotesis Kondensasi Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa Tata Surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa. Hipotesis Bintang Kembar Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya Tata Surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil. Serpihan itu terperangkap oleh gravitasi bintang yang tidak meledak dan mulai mengelilinginya

c. Mengenal Gerakan Matahari di Langit Pada waktu-waktu tertentu, Utami sering mendapati saat bangun jam lima pagi dan melihat keluar jendela, keadaan di luar sudah tampak terang. Tetapi di lain waktu, pada jam yang sama ternyata di luar keadaan masih gelap. Wah, mengapa yah? Apakah ada yang salah dengan jam tangan Utami? Keadaan terang atau gelap di Bumi tergantung kepada posisi Matahari. Kita akan menyebut fajar saat cahaya matahari masih malu-malu menerangi Bumi kita. Demikian juga sebutan siang hari untuk keadaan saat Matahari bersinar terang di langit. Di malam hari saat gelap gulita, Matahari tentunya sudah tidak tempak di langit. Keteraturan muncul dan menghilangnya Matahari ini menjadi acuan manusia untuk menentukan hitungan waktu dalam satu hari. Bagaimana dengan pengalaman Utami? Mengapa terdapat perbedaan terang dan gelap pada jam yang sama di musim yang berbeda? Dilihat dari Bumi, sepanjang tahun Matahari di langit seolah-olah bergerak sejauh 23.5 ke Utara dan 23.5 ke Selatan dari garis ekuator. Pergerakan ini terjadi karena sumbu rotasi Bumi memiliki kemiringan 23.5. Garis edar Matahari semu ini disebut garis ekliptika. Cara mudah untuk melihat pergerakan ini, perhatikan bahwa tempat terbit dan tenggelam Matahari bergeser dari waktu ke waktu. Tanam sebatang tongkat di tanah, perhatikan arah bayangan pada pagi hari di bulan Juni dan Desember. Pada bulan Juni, tampak arah bayangan condong ke Selatan, artinya Matahari sedang berada di Utara. Sedangkan pada bulan Desember, arah bayangan miring ke arah Selatan, yang berarti Matahari sedang berada di titik Selatan. Di langit, posisi benda-benda langit seperti bintang dan planet digambarkan dengan koordinat langit yang terdiri dari deklinasi dan asensiorekta. Deklinasi dihitung dari ekuator, dalam koordinat Bumi sejajar dengan lintang. Satuan deklinasi adalah derajat. K arah Selatan, deklinasi memiliki tanda negatif, ke arah Utara tanda deklinasi positif. Sedangkan asensiorekta bersesuaian dengan bujur langit, dihitung dari sebuah titik acuan yang dinamakan Titik Aries, yang menjadi perpotongan garis ekuator dan ekliptika. Biasanya asensiorekta memakai satuan jam.

Gambar 1. Koordinat langit dan titik-titik equinox. Kemiringan sumbu rotasi Bumi menyebabkan terjadinya perbedaan musim di Bumi. Saat Matahari berada di utara, maka Bumi Bagian Utara mengalami musim panas. Puncak musim panas di Bumi Bagian Utara terjadi pada bulan Juni. Matahari berada di titik paling Utara pada tanggal 21 Juni. Pada saat itu Matahari memiliki sudut deklinasi maksimum +23.5 atau juga disebut summer solstice . Kemudian Matahari akan bergerak ke Selatan dan berada di garis ekuator pada tanggal 21 Maret. Sudut deklinasi Matahari 0, saat itu Matahari berada di titik

musim gugur atau vernal equinox. Pada tanggal 21 Desember Matahari berada di titik musim dingin atau winter solstice, sudut deklinasi -23.5 , artinya Matahari berada di titik paling Selatan. Selanjutnya Matahari akan kembali bergerak ke utara dan mencapai ekuator pada tanggal 21 September yang disebut titik musim semi atau autumn equinox. Penamaan titik-titik istimewa itu disesuaikan dengan musim di Bumi Bagian Utara. Musim yang berlangsung di Bumi Bagian Selatan merupakan kebalikan dari musim di Bumi Bagian Utara. Contohnya pada bulan Desember di Australia sedang terjadi musim panas, sementara di Kanada musim dingin. Pada musim panas, siang di sebuah tempat akan lebih panjang daripada malam. Contohnya di Eropa Utara, panjang siang bisa lebih dari 15 jam, sedangkan malam cuma 9 jam. Di Denmark, pada musim panas Matahari masih tampak terang padahal sudah jam 9 malam. Semakin tinggi lintang sebuah tempat, baik di Utara mau pun di Selatan, maka perbedaan waktu siang dan malam di setiap musim akan terasa. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar 2.

Gambar 2. Garis edar Matahari pada musim panas dan musim dingin. Garis putus-putus adalah garis edar Matahari di atas horizon pengamat. Bagi orang yang tinggal di daerah ekuator, perbedaaan tidak terlalu terasa. Perbedaan panjang siang dan malam tidak akan mencapai lebih dari setengah jam. Pulau Jawa berada di belahan Bumi Bagian Selatan tapi tidak terlalu jauh dari ekuator, yaitu sekitar 6 8 LS. Panjang siang maksimum akan dialami saat Matahari bergerak dari ekuator ke Selatan, selama kurang lebih sebulan setelah tanggal 21 September. Kemudian setelah dari titik paling Selatan pada bulan Desember, Matahari akan kembali ke ekuator pada tanggal 21 Maret. Panjang siang maksimum kembali terjadi selama kurang lebih sebulan sebelum titik musim gugur. Saat panjang siang maksimum ini, berarti Matahari terbit lebih cepat dan tenggelam lebih lama dari waktu rata-rata. Akibatnya pada jam 5 pagi sudah terang dan pada jam 6 sore masih terang juga. Periode panjang siang maksimum terjadi antara bulan Oktober dan Februari. Dengan demikian saat Matahari berada di utara, yaitu sebelum dan sesudah bulan Juni, panjang siang lebih pendek daripada malam. Akibatnya, jam 5.30 baru terang dan jam 6 sore pun sudah agak gelap. Sedangkan pada tanggal di mana Matahari tepat berada di ekuator, yaitu tanggal 21 Maret dan 21 September, panjang siang dan malam di semua tampat akan sama, yaitu 12 jam.

Gambar 3. Pada bulan Juni, Bumi bagian Utara mendapat cahaya Matahari lebih banyak. Pada bulan Desember Bumi bagian Selatan mendapat cahaya Matahari lebih banyak.

d. Atmosfer Lapisan-lapisan di Atmosfer Bumi Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Di bumi, atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan bumi. Atmosfer tersusun atas beberapa lapisan, yang dinamai menurut fenomena yang terjadi di lapisan tersebut. Transisi antara lapisan yang satu dengan yang lain berlangsung bertahap. Studi tentang atmosfer mula-mula dilakukan untuk memecahkan masalah cuaca, fenomena pembiasan sinar matahari saat terbit dan tenggelam, serta kelap-kelipnya bintang. Dengan peralatan yang sensitif yang dipasang di wahana luar angkasa, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang atmosfer berikut fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya. Atmosfer Bumi terdiri atas nitrogen (78.17%) dan oksigen (20.97%), dengan sedikit argon (0.9%), karbondioksida (variabel, tetapi sekitar 0.0357%), uap air, dan gas lainnya. Atmosfer melindungi kehidupan di bumi dengan menyerap radiasi sinar ultraviolet dari matahari

dan mengurangi suhu ekstrem di antara siang dan malam. 75% dari atmosfer ada dalam 11 km dari permukaan planet. Atmosfer tidak mempunyai batas mendadak, tetapi agak menipis lambat laun dengan menambah ketinggian, tidak ada batas pasti antara atmosfer dan angkasa luar. Troposfer Lapisan ini berada pada level yang terendah, campuran gasnya paling ideal untuk menopang kehidupan di bumi. Dalam lapisan ini kehidupan terlindung dari sengatan radiasi yang dipancarkan oleh benda-benda langit lain. Dibandingkan dengan lapisan atmosfer yang lain, lapisan ini adalah yang paling tipis (kurang lebih 15 kilometer dari permukaan tanah). Dalam lapisan ini, hampir semua jenis cuaca, perubahan suhu yang mendadak, angin tekanan dan kelembaban yang kita rasakan sehari-hari berlangsung. Suhu udara pada permukaan air laut sekitar 27 derajat Celsius, dan semakin naik ke atas, suhu semakin turun. Dan setiap kenaikan 100m suhu berkurang 0,61 derajat Celsius (sesuai dengan Teori Braak). Pada lapisan ini terjadi peristiwa cuaca seperti hujan, angin, musim salju, kemarau, dsb. Ketinggian yang paling rendah adalah bagian yang paling hangat dari troposfer, karena permukaan bumi menyerap radiasi panas dari matahari dan menyalurkan panasnya ke udara. Biasanya, jika ketinggian bertambah, suhu udara akan berkurang secara tunak (steady), dari sekitar 17 sampai -52 . Pada permukaan bumi yang tertentu, seperti daerah pegunungan dan dataran tinggi dapat menyebabkan anomali terhadap gradien suhu tersebut. Di antara stratosfer dan troposfer terdapat lapisan yang disebut lapisan Tropopause, yang membatasi lapisan troposfer dengan stratosfer. Stratosfer Perubahan secara bertahap dari troposfer ke stratosfer dimulai dari ketinggian sekitar 11 km. Suhu di lapisan stratosfer yang paling bawah relatif stabil dan sangat dingin yaitu - 70oF atau sekitar - 57oC. Pada lapisan ini angin yang sangat kencang terjadi dengan pola aliran yang tertentu.Disini juga tempat terbangnya pesawat. Awan tinggi jenis cirrus kadang-kadang terjadi di lapisan paling bawah, namun tidak ada pola cuaca yang signifikan yang terjadi pada lapisan ini. Dari bagian tengah stratosfer keatas, pola suhunya berubah menjadi semakin bertambah semakin naik, karena bertambahnya lapisan dengan konsentrasi ozon yang bertambah. Lapisan ozon ini menyerap radiasi sinar ultra ungu. Suhu pada lapisan ini bisa mencapai sekitar 18oC pada ketinggian sekitar 40 km. Lapisan stratopause memisahkan stratosfer dengan lapisan berikutnya.

Mesosfer Kurang lebih 25 mil atau 40km diatas permukaan bumi terdapat lapisan transisi menuju lapisan mesosfer. Pada lapisan ini, suhu kembali turun ketika ketinggian bertambah, sampai menjadi sekitar - 143oC di dekat bagian atas dari lapisan ini, yaitu kurang lebih 81 km diatas permukaan bumi. Suhu serendah ini memungkinkan terjadi awan noctilucent, yang terbentuk dari kristal es. Termosfer Transisi dari mesosfer ke termosfer dimulai pada ketinggian sekitar 81 km. Dinamai termosfer karena terjadi kenaikan temperatur yang cukup tinggi pada lapisan ini yaitu sekitar 1982oC. Perubahan ini terjadi karena serapan radiasi sinar ultra ungu. Radiasi ini menyebabkan reaksi kimia sehingga membentuk lapisan bermuatan listrik yang dikenal dengan nama ionosfer,

yang dapat memantulkan gelombang radio. Sebelum munculnya era satelit, lapisan ini berguna untuk membantu memancarkan gelombang radio jarak jauh. Fenomena aurora yang dikenal juga dengan cahaya utara atau cahaya selatan terjadi disini. Pengertian Lapisan Termosfer sebagai Lapisan Atmosfir Pengertian Lapisan Termosfer sebagai Lapisan Atmosfir) Lapisan Termosfer Berada di atas mesopouse dengan ketinggian sekitar 75 km sampai pada ketinggian sekitar 650 km. Pada lapisan ini, gas-gas akan terionisasi, oleh karenanya lapisan ini sering juda disebut lapisan ionosfer. Molekul oksigen akan terpecah menjadi oksegen atomik di sini. Proses pemecahan molekul oksigen dan gas-gas atmosfer lainnya akan menghasilkan panas, yang akan menyebabkan meningkatnya suhu pada lapisan ini. Suhu pada lapisan ini akan meningkat dengan meningkaknya ketinggian. Ionosfer dibagi menjadi tiga lapisan lagi, yaitu : 1. Lapisan Udara Terletak antara 80 150 km dengan rata-rata 100 km dpl. Lapisan ini tempat terjadinya proses ionisasi tertinggi. Lapisan ini dinamakan juga lapisan udara KENNELY dan HEAVISIDE dan mempunyai sifat memantulkan gelombang radio. Suu udara di sini berkisar 70 C sampai +50 C . 2. Lapisan udara F Terletak antara 150 APPLETON. 400 km. Lapisan ini dinamakan juga lapisan udara

3. Lapisan udara atom Pada lapisan ini, benda-benda berada dalam lbentuk atom. Letaknya lapisan ini antara 400 800 km. Lapisan ini menerima panas langsung dari matahari, dan diduga suhunya mencapai 1200 C . Eksosfer Adanya refleksi cahaya matahari yang dipantulkan oleh partikel debu meteoritik. Cahaya matahari yang dipantulkan tersebut juga disebut sebagai cahaya Zodiakal Komposisi dari atmosfer bumi

Gas-gas penyusun atmosfer Atmosfer tersusun oleh: Nitrogen ( Oksigen ( Argon ( Air ( Ozon ( Karbondioksida ( ) ) ) ) ) )

y y y y y y

e. Lintasan Orbit Planet

Zona Tata Surya yang meliputi, planet bagian dalam, sabuk asteroid, planet bagian luar, dan sabuk Kuiper. (Gambar tidak sesuai skala) Di zona planet dalam, Matahari adalah pusat Tata Surya dan letaknya paling dekat dengan planet Merkurius (jarak dari matahari 57,9 106 km, atau 0,39 SA), Venus (108,2 106 km, 0,72 SA), Bumi (149,6 106 km, 1 SA) dan Mars (227,9 106 km, 1,52 SA). Ukuran diameternya antara 4.878 km dan 12.756 km, dengan massa jenis antara 3,95 g/cm3 dan 5,52 g/cm3. Antara Mars dan Yupiter terdapat daerah yang disebut sabuk asteroid, kumpulan batuan metal dan mineral. Kebanyakan asteroid-asteroid ini hanya berdiameter beberapa kilometer (lihat: Daftar asteroid), dan beberapa memiliki diameter 100 km atau lebih. Ceres, bagian dari kumpulan asteroid ini, berukuran sekitar 960 km dan dikategorikan sebagai planet kerdil. Orbit asteroid-asteroid ini sangat eliptis, bahkan beberapa menyimpangi Merkurius (Icarus) dan Uranus (Chiron). Pada zona planet luar, terdapat planet gas raksasa Yupiter (778,3 106 km, 5,2 SA), Uranus (2,875 109 km, 19,2 SA) dan Neptunus (4,504 109 km, 30,1 SA) dengan massa jenis antara 0,7 g/cm3 dan 1,66 g/cm3. Jarak rata-rata antara planet-planet dengan matahari bisa diperkirakan dengan menggunakan baris matematis Titus-Bode. Regularitas jarak antara jalur edaran orbit-orbit ini kemungkinan merupakan efek resonansi sisa dari awal terbentuknya Tata Surya. Anehnya, planet Neptunus tidak muncul di baris matematis Titus-Bode, yang membuat para pengamat berspekulasi bahwa Neptunus merupakan hasil tabrakan kosmis. f. Meteorit Batu bintang

Willamette Meteorite ditemukan di negara bagian AS bagian Oregon meteorit adalah obyek alami yang berasal dari luar angkasa yang bertahan dampak dengan permukaan Bumi. Meteorit bisa besar atau kecil. Kebanyakan meteorit berasal dari kecil obyek astronomi disebut meteoroid , tetapi mereka juga kadang-kadang dihasilkan oleh dampak asteroid . Ketika memasuki atmosfer, tekanan dampak menyebabkan tubuh memanas dan memancarkan cahaya, sehingga membentuk suatu bola api , juga dikenal sebagai meteor atau menembak / bintang jatuh. Istilah ini bolide baik badan luar angkasa yang

bertabrakan dengan Bumi, atau ke sebuah, bola api seperti meteor terang sangat terlepas dari apakah itu akhirnya dampak permukaan. Secara umum, sebuah meteorit di permukaan setiap benda angkasa adalah obyek alami yang telah datang dari tempat lain di ruang angkasa. Meteorit telah ditemukan di Bulan dan Mars . Meteorit yang pulih setelah diamati saat mereka transit suasana atau berdampak Bumi disebut jatuh. Semua meteorit lainnya dikenal sebagai menemukan. Pada Februari 2010, ada sekitar 1.086 menyaksikan jatuh memiliki spesimen di dunia koleksi. Sebaliknya, ada lebih dari 38.660-didokumentasikan dengan baik menemukan meteorit. Meteorit secara tradisional telah dibagi menjadi tiga kategori: meteorit batuan adalah batuan, terutama terdiri dari mineral silikat ; meteorit besi yang sebagian besar terdiri dari logam besi-nikel, dan, besi meteorit batuan mengandung jumlah besar baik dan berbatu bahan logam. Modern klasifikasi skema meteorit membagi menjadi kelompok-kelompok menurut struktur mereka, kimia dan komposisi isotopik dan mineralogi. Penamaan Meteorit selalu nama untuk tempat di mana mereka ditemukan, biasanya kota terdekat atau fitur geografis. Dalam kasus-kasus dimana banyak meteorit ditemukan di satu tempat, nama yang mungkin akan diikuti oleh nomor atau huruf (misalnya, Allan Hills 84001 atau Dimmitt (b)). Beberapa meteorit memiliki julukan informal: yang Sylacauga meteorit kadangkadang disebut "Hodges meteorit" setelah Ann Hodges , wanita yang terkena itu, sedangkan Diablo Canyon meteorit , yang membentuk Kawah Meteor telah puluhan alias ini. Namun, resmi, nama tunggal yang ditunjuk oleh Masyarakat Meteoritical digunakan oleh para ilmuwan, catalogers, dan kolektor paling. Fall fenomena

Lihat juga: atmosfer entri Meteorit yang jatuh di Wisconsin pada tahun 1868 ( gambar penuh ). Kebanyakan meteoroid hancur ketika memasuki atmosfer bumi. Namun, diperkirakan 500 meteorit ukuran mulai dari kelereng ke bola basket atau lebih besar tidak mencapai permukaan setiap tahunnya, hanya 5 atau 6 dari biasanya pulih dan diketahui oleh para ilmuwan. Beberapa meteorit yang cukup besar untuk membuat besar dampak kawah . Sebaliknya, mereka biasanya tiba di permukaan pada mereka kecepatan terminal dan, paling, membuat sebuah lubang kecil. Meskipun demikian, meteorit jatuh dilaporkan menyebabkan kerusakan terhadap properti, dan luka-luka ternak dan manusia. Campo del Cielo meteorit besi dengan lubang alam meteoroid besar bisa menyerang tanah dengan fraksi yang signifikan kecepatan kosmik mereka, meninggalkan hypervelocity kawah dampak. Jenis kawah akan tergantung pada komposisi, ukuran, derajat fragmentasi, dan sudut masuk dari penabrak tersebut. Kekuatan tabrakan tersebut memiliki

potensi untuk menyebabkan kerusakan yang luas. [6] [7] yang sering hypervelocity paling cratering peristiwa di bumi disebabkan oleh meteoroid besi, yang paling mudah bisa transit atmosfer utuh. Contoh kawah disebabkan oleh meteoroid besi termasuk Barringer Meteor Crater , Odessa Meteor Crater , kawah Wabar , dan kawah Wolfe Creek ; meteorit besi ditemukan dalam hubungan dengan semua kawah. Sebaliknya, relatif besar bahkan berbatu atau badan dingin seperti kecil komet atau asteroid , hingga jutaan ton, yang terganggu di atmosfer, dan tidak membuat dampak kawah. [8] Meskipun peristiwa gangguan tersebut jarang, mereka dapat menyebabkan cukup gegar otak terjadi, yang terkenal peristiwa Tunguska mungkin merupakan akibat dari insiden semacam itu. Sangat objek berbatu-batu besar, ratusan meter dengan diameter atau lebih, beratnya puluhan juta ton atau lebih, bisa mencapai permukaan dan menyebabkan kawah besar, namun sangat jarang. peristiwa tersebut umumnya begitu energik yang penabrak sudah benar-benar hancur, tanpa meninggalkan meteorit. (Yang pertama contoh yang sangat dari batu meteorit yang ditemukan dalam hubungan dengan kawah dampak besar, kawah Morokweng di Afrika Selatan, dilaporkan pada Mei 2006. [9] ) Beberapa fenomena terdokumentasi dengan baik selama menyaksikan meteorit jatuh terlalu kecil untuk menghasilkan kawah hypervelocity. [10] The bola api yang terjadi sebagai Meteoroid melewati atmosfer dapat tampak sangat terang, menyaingi matahari dalam intensitas, walaupun sebagian besar masih jauh meredup dan mungkin bahkan tidak diperhatikan pada siang hari. Berbagai warna telah dilaporkan, termasuk kuning, hijau dan merah. Berkedip dan semburan cahaya dapat terjadi sebagai objek putus. Ledakan, ledakan, dan gemuruh sering terdengar selama meteorit jatuh, yang dapat disebabkan oleh boom sonic serta gelombang kejut yang dihasilkan dari kejadian fragmentasi besar. Suara ini dapat didengar di area yang luas, sampai ribuan km persegi. Siulan dan suara mendesis juga kadang-kadang terdengar, tetapi kurang dipahami. Berikut petikan dari bola api, tidak biasa bagi jejak debu tetap hidup dalam suasana untuk beberapa waktu. Sebagai meteoroid dipanaskan selama masuk atmosfer , permukaannya meleleh dan pengalaman ablasi . Mereka dapat diukir dalam berbagai bentuk selama proses ini, kadangkadang mengakibatkan dalam "cetak-thumb" seperti lekukan pada permukaannya yang disebut regmaglypts. Jika Meteoroid memelihara orientasi tetap selama beberapa waktu, tanpa jatuh, mungkin mengembangkan "kerucut hidung" kerucut atau "panas perisai" bentuk. Seperti berkurang kecepatannya, akhirnya cair lapisan permukaan membeku menjadi kerak fusi tipis, yang pada kebanyakan meteorit hitam (pada beberapa achondrites, kerak fusi mungkin sangat terang berwarna). Pada meteorit batuan, yang terkena dampak zona panas paling besar beberapa mm yang mendalam, dalam meteorit besi, yang lebih konduktif termal, struktur logam mungkin akan terpengaruh oleh panas hingga 1 cm di bawah permukaan. Meteorit kadangkadang dilaporkan hangat dengan sentuhan tanah bila tanah mereka, tetapi mereka tidak pernah panas. Laporan, bagaimanapun, sangat bervariasi, dengan beberapa meteorit dilaporkan

sebagai "panas membara untuk sentuhan" atas arahan, [11] [12] dan lain-lain membentuk es pada permukaan mereka. [13] Meteoroid yang mengalami gangguan di atmosfer bisa jatuh dan hujan meteorit, yang bisa berkisar dari hanya beberapa sampai ribuan individu yang terpisah. Daerah di mana mandi meteorit jatuh dikenal sebagai bidang bertebaran nya. bertube bidang umumnya elips dalam bentuk, dengan sumbu utama sejajar dengan arah penerbangan. Dalam kebanyakan kasus, meteorit terbesar di mandi ditemukan terjauh ke-range di bidang bertebaran. Meteorit jenis Marilia Meteorit, sebuah H4 chondrite, yang jatuh di Marilia, So Paulo negara, Brazil, pada tanggal 5 Oktober 1971, jam 05:00 Kebanyakan meteorit meteorit batuan, digolongkan sebagai chondrites dan achondrites . Hanya 6% dari meteorit yang meteorit besi atau campuran batu dan logam, besi meteorit batuan . klasifikasi modern dari meteorit adalah kompleks, review kertas et al Krot. (2007) [14] merangkum meteorit taksonomi modern. Sekitar 86% dari meteorit yang jatuh di bumi adalah chondrites , [4] [15] [16] yang diberi nama untuk, bulat partikel kecil yang dikandungnya. Partikel-partikel ini, atau chondrules , yang sebagian besar terdiri dari mineral silikat yang tampaknya telah dicairkan saat mereka-benda terapung bebas dalam ruang. Beberapa jenis chondrites juga mengandung sejumlah kecil bahan organik , termasuk asam amino , dan biji-bijian presolar . Chondrites biasanya sekitar 4,55 miliar tahun dan diperkirakan merupakan bahan dari sabuk asteroid yang pernah dibentuk ke dalam tubuh besar. Seperti komet , asteroid chondritic adalah beberapa bahan dan paling primitif tertua di tata surya. Chondrites sering dianggap sebagai "blok bangunan dari planet". Sekitar 8% dari meteorit yang jatuh di Bumi adalah achondrites (yang berarti mereka tidak mengandung chondrules), beberapa di antaranya mirip dengan terestrial mafik batuan beku . Kebanyakan achondrites juga batuan kuno, dan dianggap mewakili material kerak asteroid. Satu keluarga besar achondrites (yang meteorit tidur ) mungkin berasal dari asteroid 4 Vesta . Lainnya berasal dari asteroid yang berbeda. Dua kelompok kecil achondrites istimewa, karena mereka lebih muda dan tidak tampaknya datang dari sabuk asteroid. Salah satu kelompok ini berasal dari Bulan, dan termasuk batu serupa dengan yang dibawa kembali ke Bumi oleh Apollo dan Luna program. Kelompok yang lain adalah hampir pasti dari Mars dan bahan hanya dari planet lain yang pernah ditemukan oleh manusia. Sekitar 5% dari meteorit yang jatuh adalah besi meteorit dengan intergrowths besinikel paduan , seperti kamacite dan taenite . Kebanyakan meteorit besi diperkirakan berasal dari inti dari sejumlah asteroid yang pernah cair. Seperti di Bumi, logam padat dipisahkan dari bahan silikat dan tenggelam ke pusat asteroid, membentuk inti. Setelah asteroid dipadatkan, itu pecah di sebuah tabrakan dengan asteroid lain. Karena kelimpahan rendah besi di daerah koleksi seperti Antartika, di mana sebagian besar bahan meteorit yang jatuh dapat dipulihkan, adalah mungkin bahwa persentase sebenarnya dari besi-meteorit jatuh lebih rendah dari 5%. Stony-besi meteorit merupakan sisanya 1%. Mereka adalah campuran logam besi-nikel dan silikat mineral. Salah satu jenis, yang disebut pallasites , diperkirakan berasal di zona batas atas wilayah inti di mana meteorit besi berasal. Jenis utama lainnya meteorit batuan-besi adalah mesosiderites . Tektites (dari tektos Yunani, cair) tidak sendiri meteorit, tetapi kaca benda-benda alam bukan sampai beberapa sentimeter dalam ukuran yang dibentuk-menurut kebanyakan ilmuwanoleh dampak meteorit besar di permukaan Bumi ini. Beberapa peneliti telah disukai tektites berasal dari Bulan sebagai ejecta vulkanik, namun teori ini telah kehilangan banyak dukungan yang selama beberapa dekade terakhir.

1. Lukisan GEOLOGIKA dan GEOGRAFIKA juga melengkap museum Ronggo Warsito diantaranya adalah a. Ilustrasi penjamanan bumi b. Gerakan tanah c. Diaroma stalakmid dan stalaktid d. Sungai bawah tanah e. Formasi batuan dari karang sambung Berikan penjelasan (1 sampai f) dan disertai gambar di lukisan tersebut! Jawab: a. Teori pembentukan Bumi Teori pembentukan Bumi adalah berbagai teori yang diajukan sebagai penjelasan asal usul terbentuknya bumi.[1] Banyak ilmuwan yang meneliti dan menyimpulkan peristiwa terbentuknya bumi, dengan berbagai teori dan hipotesis mereka.[1] Teori Kant Pada tahun 1755, seorang filosof Jerman yang bernama Immanuel Kant mengemukakan tata surya yang terdiri atas matahari, bumi, bulan, planet, serta asteroida pada mulanya berbentuk nebula atau kumpulan bintang yang menyerupai awan atau gas dengan massa yang berat.[1] Melalui proses pendinginan, nebula tersebut berubah menjadi bumi, bulan, matahari, dan planet - planet.[1] Teori Buffon Pada waktu yang hampir bersamaan muncul teori dari ahli ilmu alam Perancis George Louis Leelere Comte de Buffon.[1] Beliau mengemukakan bahwa dahulu kala terjadi tumbukan antara matahari dengan sebuah komet yang menyebabkan sebagian massa matahari terpental ke luar.[1] Massa yang terpental ini menjadi planet.[1] Teori Laplace Seorang ahli Matematika dan astronomi Perancis Pierre Simon Marquis de Laplace 1796 mengemukakan bumi terbentuk dari gugusan gas panas yang berputar pada sumbunya, kemudian terbentuk cincin - cincin.[1] Sebagian cincin gas tersebut, terlempar ke luar dan tetap terus berputar.[1] Cincin gas yang berputar akan mengalami pendinginan, sehingga terbentuklah gumpalan - gumpalan bola yang menjadi planet - planet, termasuk bumi.[1] Teori Planetisimal Hypothesis Gambaran Teori Planetisimal

Pada awal abad ke-20, Forest Ray Moulton, seorang ahli astronomi Amerika bersama rekannya T.C Chamberlain, seorang ahli geologi, mengemukakan teori Planetisimal Hypothesis, yang mengatakan matahari terdiri dari massa gas bermassa besar sekali, pada suatu saat didekati oleh sebuah bintang lain yang melintas dengan kecepatan tinggi di dekat matahari.[1] Pada waktu bintang melintas di dekat matahari dan jarak keduanya relatif dekat, maka sebagian massa gas matahari ada yang tertarik ke luar akibat adanya gravitasi dari bintang yang melintas tersebut.[1] Sebagian dari massa gas yang tertarik ke luar ada yang pada lintasan bintang dan sebagian lagi ada yang berputar mengelilingi matahari karena gravitasi matahari.[1] Setelah bintang melintas berlalu, massa gas yang berputar mengelilingi matahari menjadi dingin dan terbentuklah cincin yang lama kelamaan menjadi padat dan di sebut planetisimal.[1] Beberapa planetisimal yang terbentuk akan saling tarik - menarik bergabung menjadi satu dan pada akhirnya membentuk planet, termasuk bumi.[1]

Teori Tidal Dua orang ilmuwan Inggris, James Jeans dan Harold Jeffreys, pada tahun 1918 mengemukakan teori tidal.[1] Mereka mengatakan pada saat bintang melintas di dekat matahari, sebagian massa matahari tertarik ke luar sehingga membentuk semacam cerutu.[1] Bagian yang membentuk cerutu ini akan mengalami pendinginan dan membentuk planet - planet, yaitu merkurius, venus, bumi, mars, yupiter, saturnus, uranus, plato.[1] Teori Weizsaecker Pada tahun 1940, C.Von Weizsaecker, seorang ahli astronomi Jerman mengemukakan tata surya pada mulanya terdiri atas matahari yang dikelilingi oleh massa kabut gas.[1] Sebagian besar massa kabut gas ini terdiri atas unsur ringan, yaitu hidrogen dan helium.[1] Karena panas matahari yang sangat tinggi, maka unsur ringan tersebut menguap ke angkasa tata surya, sedangkan unsur yang lebih berat tertinggal dan menggumpal.[1] Gumpalan ini akan menarik unsur - unsur lain yang ada di angkasa tata surya dan selanjutnya berevolusi membentuk palnet - planet, termasuk bumi.[1] Teori Kuiper Gerald P.Kuiper mengemukakan bahwa pada mulanya ada nabula besar berbentuk piringan cakram.[1] Pusat piringan adalah protomatahari, sedangkan massa gas yang berputar mengelilingi promatahari adalah protoplanet.[1] Dalam teorinya, beliau juga memasukkan unsur unsur ringan, yaitu hidrogen dan helium. Pusat piringan yang merupakan protomatahari menjadi sangat panas, sedangkan protoplanet menjadi dingin.[1] Unsur ringan tersebut menguap dan malia menggumpal menjadi planet - planet.[1] Teori Whipple Fred L.Whipple, seorang ahli astronom Amerika mengemukakan pada mulanya tata surya terdiri dari gas dan kabut debu kosmis yang berotasi membentuk semacam piringan.[1] Debu dan gas yang berotasi menyebabkan terjadinya pemekatan massa dan akhirnya menggumpal menjadi padat, sedangkan kabutnya hilang menguap ke angkasa.[1] Gumpalan yang padat saling bertabrakan dan kemudian membentuk planet - planet. b. Pengenalan Gerakan Tanah 1. PENDAHULUAN Batasan : Gerakan tanah adalah perpindahan material pembentuk lereng, berupa batuan, bahan timbunan, tanah atau material campuran tersebut, bergerak kearah bawah dan keluar lereng ( Varnes, D.J, 1978). Gerakan tanah adalah suatu massa tanah yang bergerak dari atas ke bawah

di sepanjang lereng. Gerakan tanah terjadi apabila gaya yang menahan (Resisting Forces) massa tanah di lereng tersebut lebih kecil dari pada gaya yang mendorong/ meluncurkan tanah di sepanjang lereng. Adapun gaya yang menahan masa tanah di sepanjang lereng tersebut dipengaruhi oleh kedudukan muka air tanah, sifat fisik / mekanisme tanah antara lain kohesi / daya ikat (c) dan sudut dalam tahanan geser tanah ( ) yang bekerja disepanjang bidang luncuran. Sedangkan gaya pendorong ini dipengaruhi diantaranya oleh kandungan air, beban bangunan, berat masa tanah itu sendiri. Kemantapan lereng biasanya dievaluasi dengan menghitung faktor keamanan (FS), yaitu perbandingan antara gaya yang menahan dengan gaya yang meluncurkan; Gaya menahan FS = ___________________ Gaya peluncur Bila gaya menahan < dari gaya peluncur, maka lereng akan mantap/stabil, nilai FS>1. tetapi bila FS<1, maka lereng tersebut akan bergerak/tidak mantap. Pada dasarnya setiap sesuatu perubahan yang menyebabkan berkurangnya gaya yang menahan atau menambah gaya yang meluncurkan akan menambah kemungkinan untuk terjadi gerakan tanah. Untuk daerah permukiman yang dibangun yaitu (pada lereng yang terjal disarankan agar nilai FS nya >1.3 Nilai angka kemanan (FS) tergantung dari sifat fisik/mekanik tanah atau batuan , yaitu : Sudut geser dalam tahanangeser ( ). Kohesi/daya ikat tanah (c). Berat isi ( ). Kedudukan muka air tanah dan Susunan tanah/batuan serta sudut lereng. Meskipun analisis kemantapan lereng selalu di gunakan dalam perhitungan tetapi analisis ini mempunyai kelemahan disebabkan analisis kemantapan lereng biasanya dilakukan secara dua dimensi sedangkan gerakan tanah mempunyai kenampakan tiga dimensi, yang sangat memungkinkan di daerah dinding samping longsoran mempunyai mekanisme gaya lebih kecil bila dibandingkan dengan bagian tengah. Selain itu sifat sifat tanah / batuan sangatlah bervariasi yang kadang kadang sukar diukur, sehingga hasil 3 perhitungan akan mempunyai koreksi kesalahan, Sedangkan penyebaran daerah rawan gerakantanah, yang mempunyai angka kemantapan lereng kecil biasanya perlu didukung dengan metode indentifikasi gerakantanah yang ada di daerah tersebut. 2. JENIS GERAKAN TANAH Gerakan tanah dikelompokan menjadi 6 (enam) jenis berdasarkan kepada kecepatan gerakan tanah, yaitu : Gerakan tanah Rotasi Aliran Bahan Rombakan a. Gerakan tanah Rotasi Aliran Bahan Rombakan b. Gerakan tanah Translasi c. Runtuhan batu Longsoran batu d. Rayapan 3. FAKTOR PENYEBAB

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah adalah bertambahnya tegangan geser dan berkurangnya tahanan geser pada lereng. 3.1. Geologi .Struktur Geologi. Sifat bawaan batuan. Hilangnya perekat tanah. Gempa. 3.2. Keairan Curah hujan Curah hujan akan menyebabkan kandungan air pada lapisan tanah meningkat dan jenuh air, yang mengakibatkan : Tekanan air pori bertambah besar dan mengakibatkan kuat geser menurun. Kandungan air tanah naik dan terjadi pembuburan tanah ataupengembangan lempung, mengakibatkan kuat geser tanah akanmenurun atau bahkan hilang,disamping itu masa tanah bertambah yangakan mengurangi tegangan geser. Lapisan tanah jenuh air. 3.3. Vegetasi. Peranan vegetasi dalam gerakan tanah merupakan masalah kompleks, karena vegetasi merupakan fungsi dari beberapa faktor termasuk iklim, topografi dan sejarah kebakaran hutan yang semuanya mempengaruhi kemantapan lereng. 3.4. Perbuatan Manusia. Gerakan tanah dapat diakibatkan oleh kegiatan manusia, umumnya gerakan tanah yang diakibatkan oleh kegiatan manusia terjadi karena mengubah/ berubahnya bentuk lereng dan atau berubahnya tata guna lahan, kegiatan ini mengakibatkan air masuk ke dalam tanah yang mempengaruhi bobot masa tanah yang berdampak pada kestabilan/kemantapan lereng. 4. STRATEGI PENANGGULANGAN GERAKAN TANAH Di dalam hal ini peranan geologi adalah memberikan masukan, rekomendasi secara teknis, diantaranya apakah gerakan tanah ini masih aktif atau tidak ? Kemudian menentukan areal yang aman dari gerakan tanah sebagai tempat relokasi bila diperlukan. Analisis kestabilan lereng serta indentifikasi gejala gerakan tanah sangat membantu, yang perlu dilakukan dalam penanggulangan bencana gerakan tanah perlu mempertimbangkan skala prioritas : Segera selamatkan jiwa dan harta. Kebutuhan yang mendesak, contohnya korban yang sakit, luka, kebutuhan utama tandu dan obat obatan, tenda diperlukan untuk penampungan korban sementara. Kemana dan bagaimana korban dievakuasi. Dengan sarana dan prasarana apa evakuasi dilakukan termasuk sarana,rute atau trace jalan. Tindakan apa yang perlu dilakukan setelah evakuasi baik tindakan social maupun teknis. Kemampuan keamanan petugas dan korban dalam evakuasi.

Informasi dan komunikasi, dalam hal ini sistem informasi melalui apa informasi dilaksanakan. Karena penanggulangan memerlukan waktu yang tepat dan cepat. 5. REHABILITASI 5.1. Pengembalian Fungsi. Terjadinya bencana gerakan tanah, disadari atau tidak akan merubah fungsi struktur masyarakat baik sarana maupun prasarananya. Upaya mengembalikan fungsi struktur masyarakat dan prasarananya yang dikenal dengan istilah rehabilitasi. Rehabilitasi dilakukan dengan pendekatan baik secara psikologis, sosiologis maupun secara teknis. Peran geologi dalam rehabilitasi ini diutamakan pada permasalahan teknis, yaitu dalam pengembalian fungsi sarana dan prasarana serta informasi pengembangan bencana tersebut. Untuk mengembalikan fungsi sarana dan prasarana ini perlu masukan data geologi yang beraspek keteknikan guna relokasi pemukiman, bila diperlukan . 5.2. Rekonstruksi Pemulihan kembali bangunan dan tatanan masyarakat, akibat bencana berkaitan erat pembangunan nasional yang meliputi aspek penataan struktur sosial serta sarana dan prasarana. Perencanaan yang baik harus memperhatikan kondisi masyarakat, letak serta ruangnya, program pengembangan wilayah, baik jangka pendek maupun panjang. 5.3. Mitigasi. Upaya untuk mengurangi atau menghindarkan dampak dari bencana, perlu dilakukan mitigasi diantaranya : Penyebaran informasi kepada intansi yang terkait maupun masyarakat luasmengenai daerah bahaya gerakan tanah serta penanggulangannya. Pembuatan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah. Peta ini menggambarkan daerah penyebaran gerakan tanah, sehingga diketahui daerah mana yang mempunyai gerakan tanah aktif maupun yang tidak, sehingga dapat dilakukan tindakan sedini mungkin dalam melakukan upaya prevetif. Pembenahan fungsi lahan dan tatanan air terutama sebelum musim penghujan, karena curah hujan merupakan pemicu terjadinya gerakan tanah yang cukup signifikan. Penyebaran informasi penanggulangan bahaya gerakan tanah dilakukan dengan cara penyebaran melalui poster dan media cetak/elektronik,penyuluhan dan sebagainya c. Stalaktit

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Stalaktit dari jenis yang disebut "sedotan soda", di gua Choranche, Vercors, Perancis. , stalasso, artinya "yang menetes") adalah jenis Stalaktit (bahasa Yunani: speleothem (mineral sekunder) yang menggantung dari langit-langit gua kapur. Ia termasuk dalam jenis batu tetes (bahasa Inggris: dripstone). Stalaktit terbentuk dari pengendapan kalsium karbonat dan mineral lainnya, yang terendapkan pada larutan air bermineral. Batu kapur adalah batuan kalsium karbonat, yang dilarutkan oleh air yang mengandung karbon dioksida, sehingga membentuk larutan kalsium bikarbonat. Rumus kimia untuk reaksi ini adalah:[1] CaCO3(s) + H2O(l) + CO2(aq) Ca(HCO3)2(aq)

Larutan ini mengalir melalui bebatu sampai mencapai sebuah tepi, dan jika tepi ini berada di atap gua maka larutan akan menetes ke bawah. Ketika larutan mengalami kontak dengan udara, terjadi reaksi kimia yang terbalik dari sebelumnya dan partikel kalsium karbonat tersimpan sebagai endapan. Reaksi kimia terbalik tersebut adalah sebagai berikut:[1] Ca(HCO3)2(aq) CaCO3(s) + H2O(l) + CO2(aq)

Tingkat pertumbuhan rata-rata stalaktit adalah 0,13 mm (0,005 inci) setahun. Pertumbuhan stalaktit tumbuh tercepat adalah yang dibentuk oleh air yang mengalir cepat serta kaya akan karbonat kalsium dan karbon dioksida, sehingga dapat tumbuh 3 mm (0,12 inci) per tahun

d. Sungai Dasar Laut Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. (QS Fushshilat : 53)

e.

Karangsambung, 'Black-Box'-nya Proses Alam

Karena banyak yang belum tahu tentang kawasan geologi Karangsambung Kabupaten Kebumen, akibatnya minat untuk berkunjung ke kawasan tersebut masih sangat kecil. Padahal di kawasan tersebut, terdapat berbagai monumen geologi yang sangat unik. Fenomena geologinya juga sangat khas sepanjang evolusi bumi. Mulai dari zaman kapur atau sekitar 120 juta tahun yang lalu. Demikian pula dengan basement Pulau Jawa yang berupa batuan metamorf, tersingkap dengan baik di kawasan tersebut. Di Karangsambung, tersingkap aneka batuan dari berbagai umur dan proses kejadiannya. Batuan-batuan itu merupakan rekaman peristiwa pembentukan muka bumi ini. "Karangsambung adalah black box-nya proses alam. Sangat menarik untuk dikunjungi," kata Sekretaris Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Rochadi Abdulhadi di UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian (UPT BIKK) LIPI Karangsambung, Selasa (4/9). Dengan berkunjung ke kawasan geologi Karangsambung sekaligus masuk ke museum geologi yang ada di Kampus UPT BIKK LIPI Karangsambung, bisa diperoleh

jawaban atas pertanyaan apakah bumi itu, bagaimana mula jadinya, apa evolusi itu dan apa artinya bagi kehidupan manusia. Harapannya, manusia menjadi lebih arif memperlakukan bumi. Karena selain mengandung potensi sumberdaya alam, bumi juga memiliki potensi bencana. Karena itu bumi harus dicermati dan diperlakukan dengan baik. Dengan jalan-jalan menjelajahi kawasan geologi Karangsambung, akan melihat bukti keunikan dan keanekaragaman batuan yang tersingkap akibat tumbukan lempeng Samudra India-Australia dengan lempeng Asia Tenggara yang terjadi pada zaman Kapur Akhir sampai Tersier Awal (sekitar 70 juta tahun yang lalu). Karangsambung merupakan salah satu situs geologi penting di Pulau Jawa. Fenomena geologinya sangat langka. Situs-situsnya berkaitan erat dengan sejarah pembentukan dan perkembangan cekungan selama akhir mesozoikum hingga permulaan tersier berdasar pendekatan tektonik. Oleh para ahli geologi, Karangsambung dianggap sebagai miniatur keanekaragaman bumi atau geodiversity. Selain itu, menjadi kompleks fosil daerah tunjaman. Di mana batuan asal benua dan batuan asal samudera tercampur aduk menjadi satu secara tektonik. Di Karangsambung juga terdapat batuan-dasar tertua di Pulau Jawa yang tersingkap. karangsambung situsnya batuan Inilah beberapa situs yang bisa dipelajari untuk mengetahui sejarah bumi, khususnya proses evolusi lempeng Asia bagian tenggara. 1. Situs batuan metamorf serpentinit di Pucangan Batuan berwarna kehijauan ini berasal dari perut bumi di bawah lantai samudra. Batu ini malihan dari batu ultra basa hasil pembekuan magma pada kerak samudra. Batu ini berubah ketika bersentuhan dengan air laut dan berubah lagi ketika masuk zona tunjaman dan terangkat ke permukaan bumi. 2. Situs batuan metamorf sekis mika di Kali Brengkok Batuan dengan mineral mika yang berkilauan ketika tertimpa sinar matahari ini adalah batu tertua yang tersingkap di Pulau Jawa. Pengukuran dengan radioaktif menunjukkan batuan ini berumur 121 juta tahun, dari Zaman Kapur. Batuan alas Pulau Jawa ini memiliki nilai ilmiah tinggi karena membuktikan bahwa sejak zaman itu telah terjadi tumbukan lempeng samudra dengan lempeng benua di kawasan Karangsambung. Batuan ini berasal dari batuan pasir yang mengandung mineral asam dari lempeng benua yang masuk ke zona subduksi dan berubah menjadi sekis mika. 3. Situs batu rijang dan lava basal berbentuk bantal di Kali Muncar Batuan sedimen ini terbentuk di dasar samudra purba 80 juta tahun lampau. Batu ini memberi fakta kuat bahwa dahulu Karangsambung adalah dasar samudra yang terangkat oleh proses geologi. Batuan sedimen berwarna merah memanjang sekitar 100 meter pada dinding Kali Muncar itu ibarat layar pertunjukan wayang kulit, atau kelir dalam bahasa Jawa. Hal ini membuat masyarakat setempat menamainya Watu Kelir, apalagi di atasnya terdapat batuan beku yang bentuknya mirip kenong dan gong. Batuan sedimen merah ini terdiri atas lapisan rijang dan lapisan lempung merah gampingan. Rijang berwarna merah karena mengandung unsur besi dan berisi fosil Radiolaria berusia 80 juta tahun atau Zaman Kapur Atas. Batuan dasar samudra pada kedalaman minimal

4.000 meter ini seharusnya horizontal, tapi menjadi tegak karena pengaruh tektonik yang mengangkatnya. Batuan beku di bagian atasnya adalah lava basal dari gunung berapi di dasar laut. Lava bantal ini terbentuk pada zona pemekaran dasar samudra, yang langsung membeku ketika terkena air laut. Batu ini adalah bukti adanya kegiatan vulkanis bawah laut yang mengakibatkan pemekaran tengah laut. 4. Situs batuan breksi di Bukit Waturanda Batuan kehitaman ini mengandung fragmen andesit dan lava. Singkapan batuan di tepi jalan dengan lereng tebing vertikal ini perselingan batu pasir dengan breksi. Formasi Waturanda ini ditafsirkan sebagai fluxoturbidite yang diendapkan pada cekungan muka busur. Sumber material diperkirakan berasal dari aktivitas magmatik Eosen-Miosen. Dokumentasi visual struktur geologi, batuan beku dan batuan metamorfosa kompleks Bancuh Karangsambung Jawa Tengah Desa Karangsambung yang dikenal sebagai Luk Ulo merupakan salah satu daerah penting dalam bidang geologi. Singkapan di daerah ini merupakan yang terlengkap di Pulau jawa, berupa singkapan batuan beku, sedimen dan metamorfosa berumur Pra Tersier, serta pola struktur khas yang merupakan komponen hasil tumbukan. di daerah ini kemudian dibangun Kampus Lapangan yang dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geoteknologi LIPI. Batuan tertua berumur Pra-Tersier, terkelompok dalam Kompleks bancuh Luk Ulo yang terdiri dari fragmen-fragmen batuan-batuan metamorf, beku basa-ultrabasa dan sedimen laut dalam, dengan massa-dasar batu lempung terekristalisasi. Kontak batuan berupa struktur gerusan merupakan salah satu ciri kompleksini. Kompleks ini ditutupi oleh batuan sedimen Formasi karangsambung terdiri dari batulempung gampingan hingga napal, berwarna abu-abu gelap mempelihatkan struktur lengseran (slump), blok batulempung foraminifera (Nummulites dan Discocyclina) yang terimbbrikasi, juga konglomerat polimik di sekitar batugamping. formasi Totogan sering kali disebut sebagai satuan Breksi-Lempung, Fragmen dalam lempung bersisik berukuran samapi bongkah, terdiri dari batulempung, batupasir, batugamping, konglomerat dan batuan beku basaltik. Kedua formasi ini mewakili endapan bancuh sedimemter atau endapan olistostrom. Selaras di atas formasi Totogan dijumpai formasi Waturanda yang terdiri dari breksi volkanik berselingan dengan batupasir tufan, berumur Miosen bawah. secra berangsur litologi yang ada berubah menjadi batupasir gampingan dan napal taufan yang dikenal sebagai Formasi Penosongan. Batuan beku di daerah ini terbentuk dalam tiga periode magmatik, diwakili oleh biabas, andesit basaltis dan riolit. Periode magmatik pertama pada zaman Pra-Tersier berafinitas toliet punggung tengah samudra, produk magmatiknya merupakan bagian dari bancuh Luk-Ulo. Periode kedua (Eosen akhir) dan ketiga (Oligosen) merupakan batuan terobosan berafinitas kalkalkalin berasosiasi dengan proses subduksi. penelitian ini dimaksudkan untuk membuat dokumentasi visual terhadap data geologi yang belum pernah dilakukan sebelumnya. KEBUMEN-mertokondo-widoro-kedung waru-kaligending-baniara-KARANG SAMBUNG kebumen dan kebumian PADA 1 Januari 2006, Kabupaten Kebumen memasuki usia ke-70. Suatu masa jika dihitung dengan usia manusia tentu sudah tua namun dari segi usia suatu kota belumlah tua. Kabupaten yang sarat dengan potensi alam itu terletak di 70-80 LS dan 1.090-1.100 BT. Luas wilayahnya 128.111, 50 ha. Kabupaten dengan moto Bersih, Indah, dan Manfaat (Beriman) serta

Gerakan Pemerintahan secara Serentak di bidang Pertanian, Industri, Pertambangan, dan Pariwisata (Gertak Tandus Ditampar) ternyata mempunyai potensi tambang dan pariwisata yang menjanjikan selain pertanian dan industri berbasis hasil pertanian. Ada pertanyaan yang selalu menggelitik, mengapa daerah itu dinamai Kebumen? Mengapa Karangsambung dengan segala keunikan alamnya berada dalam wilayah Kebumen? Kebumen berasal dari kata ''bumi'', nama sebutan bagi Kiai Pangeran Bumidirdja yang mendapat awalan ''ka'' dan akhiran ''an'' sehingga menjadi Kabumian yang berarti tempat. Hal itu berarti Kebumen mula-mula adalah tempat tinggal Kiai Bumidirdja. Pangeran Bumidirdja adalah paman Sunan Amangkurat I (Raja Mataram 1645-1677) yang meninggalkan Mataram karena perselisihan paham dengan sang Raja yang dikenal tidak bijaksana. Dia mengembara ke barat hingga menuju ke Panjer (merupakan lumbung padi bagi Kerajaan Mataram dan sangat berjasa membantu logistik tentara Sultan Agung ketika menyerang Belanda di Batavia) yang saat itu diperintah oleh Ki Gede Panjer Roma II. Di daerah ini, Pangeran Bumidirdjo diberi pelungguh tanah di utara kelokan Sungai Luk Ulo yang kemudian dijadikan pondok/padepokan yang amat terkenal. Untuk menyamarkan, Pangeran Bumidirdjo memakai nama Kiai Bumi atau Ki Bumi sehingga daerah sekitar padepokannya sering menyebutnya Kibumian atau Kabumian yang kemudian lebih terkenal sebagai Kebumen. Lambang Kabupaten Kebumen adalah burung lawet/walet. Burung ini secara alamiah berada di gua-gua yang terbentuk di kawasan karst Karangbolong. Sarangnya (walaupun sebenarnya dihasilkan dari ludah burung) berharga mahal dan banyak dikonsumsi untuk kesehatan. Hasil sarang burung walet dahulu pernah menjadi primadona pendapatan daerah. (sekarang hasilnya menurun drastis) sehingga burung walet dinobatkan sebagai simbol kabupaten itu. Potensi bahan galiannya, antara lain andesit, marmer, pasir, lempung, kaolin, batu gamping, fosfat, dan bentonit. Kebumen juga dikenal dengan objek wisatanya, seperti Gua Jatijajar, Gua Petruk, Pantai Ayah, Pantai Karangolong, Pantai Petanahan, Pemandian Air Panas Krakal, Waduk Sempor, dan Wadaslintang. Selain itu, di wilayah tersebut masih dijumpai objekobjek potensial lainnya, seperti 49 gua di kawasan Karangbolong dengan Gua Barat yang mempunyai panjang lorong 3.305 meter, Pantai Karangboto, dan kawasan Karangsambung dengan keunikan bebatuannya. Semua objek wisata dan objek potensial lain di Kabupaten Kebumen ternyata mengandalkan alam sebagai kekuatan daya tariknya. Untuk itu, jika akan memgoptimalkan daya tarik objek wisata Kebumen, unsur-unsur kekuatan alam harus dimaksimalkan sehingga akan meningkatkan segmen pasar. B. Beberapa Batuan di Karang Sambung Untuk menuju Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI, dari pusat Kota Kebumen dapat menempuh jalan datar beraspal namun berkelok-kelok mengikuti Sungai Luk Ulo yang berada di sebelah baratnya. Tersedia juga angkutan umum berupa bis kecil berukuran atau angkot yang menempuh rute Terminal Kebumen-Karang Sambung. Beberapa singkapan batuan yang menarik untuk diamati ialah Bukit Jatibungkus, Gunung Parang, Bukit Wagir Sambeng, Gunung Sipako, Krakal, dan Kali Brengkok. Bukit Jatibungkus Bukit berukuran 350 x 150 meter ini tampak terisolir di antara dataran di sisi utara dan selatannya. Di lokasi ini terdapat batugamping dengan fosil berupa Foraminifera besar, ganggang merah, ganggang hijau, serta Milliodidae. Selain itu, ditemukan juga pecahan-pecahan kuarsa, rijang, dan batuan metamorf, yang mengindikasikan bahwa batuan ini diendapkan dekat dengan sumbernya. Gunung Parang

Di gunung ini, dapat diamati bentuk kekar kolom seperti yang terdapat pada Devil s Tower di Wyoming, Amerika Serikat. Gunung yang tersusun dari batuan beku Diabas ini merupakan intrusi konkordan berupa sill yang menerobos Fm. Karangsambung dan Fm. Totogan. Bukit Wagir Sambeng Gunung ini seluruhnya tersusun oleh asosiasi rijang dan batulempung gampingan berwarna merah. Singkapan yang merupakan endapan laut dalam ini berlapis hampir vertikal membentuk puncak-puncak punggungan yang sempit, memberikan kenampakan yang mempesona sebagai suatu monumen. Morfologi amphiteater dan kondisi geologi Karangsambung dapat dilihat dari puncak gunung ini. Gunung Sipako Di sini terdapat singkapan filit berwarna hitam pada dinding sungai yang terjal. Batuan ini terbentuk selama proses penunjaman serta merupakan batuan metamorf berderajat rendah. Proses tektonik dan deformasi lebih lanjut berupa patahan geser searah aliran sungai, membentuk lipatan-lipatan kecil serta struktur gores garis pada batuan filit. Krakal Daerah yang terletak di Kecamatan Alian ini berupa pemandian air panas. Terbentuknya mataair panas yang bersifat basa ini bukan karena aktivitas gunungapi, tetapi hasil induksi panas dari dalam bumi akibat adanya patahan yang mengenai daerah ini. Untuk menuju tempat ini, dapat menggunakan angkot jurusan Kebumen-Alian langsung dari Kebumen. Kali Brengkok

Di tempat ini terdapat sekis mika berwarna abu-abu cerah dan tampak mengkilap terkena sinar matahari dan merupakan batuan tertua di Pulau Jawa, yang menjadi alas pulau ini. Batuan yang terdiri dari mineral mika ini terbentuk karena pengaruh tekanan yang sangat kuat hingga menjadi sekis mika di dalam kulit bumi. Selain batuan-batuan tersebut, masih ada beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi. Sayangnya, belum semua situs bernilai ilmiah tinggi ini dibebaskan menjadi milik negara. Dari 30 situs, baru delapan yang telah dibebaskan menjadi milik negara. Sisanya masih berada di tangan masyarakat sehingga menjadi obyek penggalian batu dan pasir. Gunung Parang misalnya, tiap musim kemarau selalu terkikis palu para pencari batu untuk bahan bangunan (gambar 7). Padahal, kalau dibandingkan, nilai ekonominya tidak lebih tinggi daripada nilai ilmiahnya. LIPI memang telah melindungi sebagian Gunung Parang itu, terutama struktur kolom yang mirip dengan Devil s Tower di Wyoming, Amerika Serikat. Masalahnya, bagian belakang gunung itu belum dibebaskan dan masih terus digali. Jika penggalian tersebut dibiarkan, maka bagian depannya akan habis juga. Penggalian batuan juga mengakibatkan hilangnya batugamping Orbitulina yang terletak di Kabupaten Banjarnegara. Selain itu, batugamping di Jatibungkus, yang mengandung fosil koral dan alga, dikhawatirkan kelestariannya. Sebab jika dipecah-pecah dan dimasukkan ke tungku, batugamping tersebut bisa menjadi kapur tohor. Lahirnya keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang mengangkat status lapangan geologi ini menjadi cagar alam geologi pertama di Indonesia itu diharapkan dapat

memberi kekuatan hukum untuk menghentikan kegiatan penggalian batu langka ini. Selain itu, diperlukan juga kesadaran masyarakat akan pentingnya kawasan ini bagi ilmu geologi.