Anda di halaman 1dari 17

Pendahuluan Generasi merupakan generasi penerus perjuangan bangsa dan sumber daya insani bagi pembangunan nasional, sehingga

diharapkan mampu memikul tugas dan tanggung jawab untuk melestarikan kehidupan bangsa dan negara. Untuk itu generasi muda perlu mendapatkan perhatian khusus dan kesempatan yang seluas-luasnya guna dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik jasmani, rohani maupun sosialnya. Cara ini diharapkan dapat memberikan kreativitas secara bebas bagi generasi muda untuk berkembang. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, terdapat generasi muda yang menyandang permasalahan sosial seperti kenakalan remaja, penyalahgunaan obat dan narkota, anak jalanan dan sebagainya baik yang disebabkan oleh faktor dari dalam dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Oleh karena itu perlu adanya upaya, program dan kegiatan yang secara terus menerus melibatkan peran serta semua pihak baik keluarga, lembaga pendidikan, organisasi pemuda, masyarakat dan terutama generasi muda itu sendiri. Arah kebijakan pembinaan generasi muda dalam pembangunan nasional menggariskan bahwa pembinaan perlu dilakukan dengan mengembangkan suasana kepemudaan yang sehat dan tanggap terhadap pembangunan masa depan, sehingga akan meningkatkan pemuda yang berdaya guna dan berhasil guna. Dalam hubungan itu perlu dimantapkan fungsi dan peranan wadah bagi generasi muda, misalnya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Pramuka, Karang Taruna, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Organisasi mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi dan organisasi fungsional pemuda lainnya. Dalam kebijakan tersebut terlihat bahwa karang taruna secara ekslpisit merupakan wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda yang bertujuan untuk mewujudkan generasi muda aktif dalam pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan bidang kesejahteraan sosial pada khususnya. Karang Taruna sebagai salah satu wadah kreativitas generasi muda mempunyai peranan sangat penting bagi tumbuh kembangnya kegiatan yang dilakukan. Kegiatan yang dilakukan diharapkan dapat merupakan suatu yang bersifat positip dan menambah wawasan generasi muda. Problematika Generasi Muda Sebagaimana dikemukakan di atas, generasi muda dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya menghadapi berbagai

permasala-han yang perlu diupayakan penanggulangannya dengan melibatkan semua pihak. Permasalahan umum yang dihadapi oleh generasi muda di Indonesia dewasa ini antara lain dapat dikelompok dalam: Terbatasnya lapangan kerja yang tersedia. Dengan adanya pengangguran dapat merupakan beban bagi keluarga maupun negara sehingga dapat menimbulkan permasalahan lainnya. Penyalahgunaan Obat Narkotika dan Zat Adiktif lainnya yang merusak fisik dan mental bangsa. Masih adanya anak-anak yang hidup menggelandang. Pergaulan bebas diantara muda-mudi yang menunjukkan gejala penyimpangan perilaku (deviant behavior). Masuknya budaya barat (westernisasi culture) yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita yang dapat merusak mental generasi muda. Perkawinan dibawah umur yang masih banyak dilakukan oleh golongan masyarakat, terutama di pedesaan. Masih merajalelanya kenakalan remaja dan permasalahan lainnya. Permasalahan tersebut akan berkembang seiring dengan perkembangan jaman apabila tidak diupayakan pemecahannya oleh semua pihak termasuk organisasi masyarakat, diantaranya karang taruna. Karang Taruna Sebagai Wadah Pembinaan Generasi Muda Karang Taruna sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Sosial RI No. 83/HUK/2005 adalah suatu organisasi sosial wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah Desa/Kelurahan atau komunitas sederajat dan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial, sedangkan keanggotannya bersifat stelsel pasif, artinya seluruh generasi muda dalam lingkungan Desa/Kelurahan atau komunitas adat sederajat yang bersusia 11 tahun sampai 45 tahun yang selanjutnya disebut warga karang taruna. Dengan adanya Karang Taruna dimaksudkan sebagai wadah untuk menampung aspirasi masyarakat, khususnya generasi muda dalam rangka mewujudkan rasa kesadaran dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat pada umumnya. Tujuannya tidak lain adalah terwujudnya kesejahteraan sosial yang semakin meningkat bagi generasi muda di Desa/Kelurahan yang memungkinkan pelaksanaan fungsionalnya sebagai manusia pembangunan yang mampu mengatasi masalah kesejahteraan sosial di lingkungannya melalui usaha-usaha pencegahan, pelayanan dan pengembangan sosial.

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

Dengan demikian jelas bahwa sasaran yang ingin dicapai oleh karang taruna dititikberatkan pada kesadaran dan tanggung jawab sosial, sehingga dapat mewujudkan dengan baik kesejahteraan sosial yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Untuk mencapai sasaran tersebut, maka tugas pokok Karang Taruna adalah bersama-sama dengan pemerintah dan komponen masyarakat lainnya untuk menanggulangi berbagai masalah kesejahteraan sosial terutama yang dihadapi generasi muda, baik yang bersifat preventif, rehabilitatif maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya. Sejalan dengan tugas pokok yang telah disebutkan di atas, Karang Taruna melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut: Penyelenggara usaha kesejahteraan sosial Penyelenggara pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat Penyelenggara pemberdayaan masyarakat terutama generasi muda di lingkungannya secara komprehensif, terpadu dan terarah serta berkesinambungan Penyelenggaraan kegiatan pengembangan jiwa kewirausahaan bagi generasi muda di lingkungannya Penanaman pengertian, memupuk dan meingkatkan kesadaran tanggung jawab sosial generasi muda Penumbuhan dan pengembangan semangat kebersamaan, jiwa kekeluargaan, kesetiakawanan sosial dan memperkuat nilainilai kearifan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia Pemupukan kreatifitas generasi muda untuk dapat mengembangkan tanggung jawab sosial yang bersifat rekreatif, kreatif, edukatif, ekonomis produktif dan kegiatan praktis lainnya dengan mendayagunakan segala sumber dan potensi di lingkungannya secara berswadaya Penyelenggaraan rujukan, pendamping dan advokasi sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial Penguatan sistim jaringan komunikasi, kerjasama, informasi dan kemitraan dengan berbagai sektor lainnya Penyelenggaraan usaha-usaha pencegahan permasalahan sosial yang aktual. Berdasarkan fungsi-fungsi di atas, terlihat bahwa kegiatan Karang Taruna diarahkan untuk menciptakan watak yang taqwa, terampil dan dinamis serta penanaman kesadaran dan tanggung jawab sosial yang tinggi. Kesadaran dan tanggungjawab sosial yang tinggi pada gilirannya akan menumbuhkan disiplin sosial dalam kehidupan pribadi dan kelompok sehingga menjadikan generasi muda memiliki kesiapan dalam menanggulangi berbagai masalah sosial dilingkungannya. Jadi pembinaan disini selain dapat menolong generas muda itu sendiri, juga dapat menolong

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

orang lain yang menyandang masalah sosial. Sedangkan yang menjadi sasaran kualitatif yang hendak dicapai dalam pembinaan Karang Taruna adalah: Karang Taruna sebagai wadah pembinaan generasi muda ditingkat Desa dan Kelurahan mampu berperan sebagai organisasi sosial kepemudaan dalam mencegah kenakalan remaja. Karang Taruna mampu menjadi wadah penyiapan kepeloporan dan kemandirian. Karang Taruna menjadi wadah penyelenggara usaha-usaha ekonomi produktif. Karang Taruna diharapkan mampu menggali dan memanfaatkan potensi-potensi kesejahteraan sosial secara berdaya guna dan berhasil guna. Dalam pengembangannya, Karang Taruna dapat membentuk Unit Teknis sesuai dengan kebutuhann pengembangan organisasi dan program. Unit Teknis dimaksud merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kelembagaan Karang Taruna dan pembentukannya harus melalui mekanisme pengambilan keputusan dalam forum yang refresentatif dan sesuai kapasitasnya. Untuk itu, sebagai contoh Unit Perbengkelan, Unit Peternakan, Unit Perikanan, Unit Pertukangan dan sebagainya Visi Misi dan Landasan Hukum Karang Taruna berasal dari kata Karang yang berarti pekarangan, halaman, atau tempat. Sedangkan Taruna yang berarti remaja. Jadi Karang Taruna berarti tempat atau wadah pengembangan remaja yang ada di Indonesia. Karang Taruna pertama kali lahir sebagai problem solver terhadap masalah sosial generasi muda di kampung melayu tahun 1960 dan secara resmi berdiri di Jakarta tanggal 26 September 1960, yang merupakan organisasi sosial wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan atau kominitas adat sederajat dan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial. Visi Kemandirian dan peran aktif Karang Taruna dalam penanganan masalah sosial. Misi Menumbuhkembangkan prakarsa Karang Taruna dalam pembangu-nan kesejahteraan sosial Meningkatkan tanggung jawab sosial Karang Taruna dalam pembangunan kesejahteraan sosial Mengembangkan sistem jaringan dan kemitraan dalam penanganan permasalahan kesejahteraan sosial.

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

Landasan Hukum Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah tertanggal 15 Oktober 2004 Peraturan Pemerintah nomor 72 tentang Desa tertanggal 30 Desember 2005 Peraturan Pemerintah nomor 73 tentang Kelurahan tertanggal 30 Desember 2005 Permensos RI nomor 83/HUK/2005 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna tertanggal 27 Juli 2005 Permendagri RI nomor 5 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Lembaga tertanggal 5 Februari 2007 Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Timur nomor 188/228/KPTS/013/2006 tentang Pengukuhan Pengurus Karang Taruna Jatim masa bhakti 2006-2011 tertanggal 16 Agustus 2006 Kedudukan Pengurus Karang Taruna Berdasarkan landasan hukum sebagaimana tersebut diatas, Karang Taruna Jawa Timur merupakan komponen masyarakat fungsional yang sejajar dengan PKK dalam pemberdayaan perempuan, RT, RW dan lembaga kemasyarakatan desa lainnya (Undang-undang nomor 32 / 2004 Pasal 211 ayat). Oleh karena itu, sebagaimana Peraturan Mentri Sosial nomor 83/2005 kepengurusan Karang Taruna Jawa Timur merupakan organisasi fungsional yang dikukuhkan oleh Gubernur Jawa Timur (SK No. 188/228/KPTS/013/2006), harus diselenggarakan dengan kondisi: Memperoleh subsidi untuk pengelolaan organisasinya Memiliki akses terdekat dengan program pemberdayaan sosial khususnya dalam pembangunan kesejahteraan sosial Memiliki hak untuk terlibat aktif dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan program-program kesejahteraan sosial Memiliki akses kuat dalam membangun kemitraan di internal instansi sosial dalam program pemberdayaan sosial Memiliki akses yang signifikan dalam membangun kemitraan dengan instansi lain yang merupakan Pembina Teknis Karang Taruna Menjadi Ujung Tombak Pembangunan Kesejahteraan Sosial yang diberi kepercayaan penuh oleh pemerintah propinsi Jatim dan masyarakat. Keanggotaan Karang Taruna Keanggotaan Karang Taruna menganut sistem stelsel pasif yang berarti seluruh generasi muda dalam lingkungan desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat yang berusia 11 tahun sampai 45 tahun, selanjutnya disebut sebagai warga Karang

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

Taruna. Pengurus Karang Taruna dipilih secara musyawarah dan mufakat oleh warga Karang Taruna yang bersangkutan dan memenuhi syarat-syarat untuk diangkat sebagai pengurus yaitu: Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 Dapat membaca dan menulis Memiliki pengalaman serta aktif dalam kegiatan Karang Taruna Memiliki pengetahuan dan keterampilan berorganisasi, kemauan dan kemampuan, pengabdian di bidang kesejahteraan sosial Sebagai warga penduduk setempat dan bertempat tinggal tetap Berumur 17 tahun sampai 45 tahun Untuk mendayagunakan pranata jaringan komunikasi, informasi, kerjasama dan kolaborasi antar Karang Taruna yang lebih berdayaguna dan berhasilguna, maka diadakan Forum pertemuan Karang Taruna yang mana bentuk dari Forum tersebut adalah: Temu Karya Rapat Kerja Rapat Pimpinan Rapat Pengurus Pleno Rapat Konsultasi Rapat Pengurus Harian Karang Taruna dapat memiliki identitas lambang, bendera, panji yang telah ditetapkan dalam keputusan Menteri Sosial RI Nomor 65/HUK/KEP/XII/1982 dan lagu mars dan hymne. Identitas yang telah ditetapkan dan/atau digunakan tersebut menjadi identitas resmi Karang Taruna dan hanya dapat dirubah dengan Keputusan Menteri Sosial. Karang Taruna memiliki tugas pokok untuk bersama-sama pemerintah dan komponen masyarakat lainnya untuk menanggulangi masalah-masalah kesejahteraan sosial secara preventif, pasca rehabilitatif maupun pendampingan dan pengembangan serta mengarahkan pembinaan dan pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya. seiring dengan tugas pokok tersebut, Karang Taruna melaksanakan fungsi sebagai berikut: Melaksanakan kegiatan-kegiatan pendidikan yang berorientasi pada pembangunan Menyelenggarakan usaha-usaha kesejahteraan sosial yang mendukung upaya peningkatan taraf kesejahteraan sosial masyarakat Menyelenggarakan dan menumbuhkembangkan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat lokal untuk mendukung

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

implementasi kebijakan otonomi daerah yang lebih terarah, terpadu, dan berkesinambungan

Pedoman Dasar Pedoman Dasar Karang Taruna di atur dalam Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia nomor 83 /HUK / 2005 ditetapkan di Jakarta pada tanggal 27 Juli 2005 yang ditanda tangani oleh Menteri Sosial Republik Indonesia H. Bachtiar Chamsyah, SE sebagai berikut: BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan: 1. Karang Taruna adalah Organisasi Sosial wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat dan terutama bergerak dibidang usaha kesejahteraan sosial 2. Anggota Karang Taruna adalah setiap generasi muda dari usia 11 tahun sampai dengan 45 tahun yang berada didesa/kelurahan atau komunitas adat sederajat 3. Komunitas Adat Sederajat adalah warga masyarakat yang tinggal dan hidup bersama di daerah yang dibatasi oleh wilayah adat dan kedudukannya sederajat dengan desa/kelurahan 4. Majelis Pertimbangan Karang Taruna ( MPKT ) adalah wadah penghimpun mantan pengurus Karang Taruna dan tokoh masyarakat lain yang berjasa dan bermanfaat bagi kemajuan Karang Taruna, yang tidak memiliki hubungan struktural dengan Kepengurusan Karang Tarunanya. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 1. Setiap Karang Taruna berdasarkan Pancasila 2. Tujuan Karang Taruna adalah: a. Terwujudnya pertumbuhan dan perkembangan kesadaran tanggung jawab sosial setiap generasi muda warga Karang Taruna dalam mencegah, menangkal, menanggulangi dan mengantisipasi berbagai masalah sosial

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

b. Terbentuknya jiwa dan semangat kejuangan generasi muda warga Karang Taruna yang trampil dan berkepribadian serta berpengetahuan c. Tumbuhnya potensi dan kemampuan generasi muda dalam rangka mengembangkan keberdayaan warga Karang Taruna d. Termotivasinya setiap generasi muda warga Karang Taruna untuk mampu menjalin toleransi dan menjadi perekat persatuan dalam keberagaman kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara e. Terjalinnya kerjasama antara generasi muda warga Karang Taruna dalam rangka mewujudkan taraf kesejahteraan sosial bagi masyarakat f. Terwujudnya kesejahteraan sosial yang semakin meningkat bagi generasi muda di desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat yang memungkinkan pelaksanaan fungsi sosialnya sebagai manusia pembangunan yang mampu mengatasi masalah kesejahteraan sosial dilingkungannya. g. Terwujudnya pembangunan kesejahteraan sosial generasi muda di desa/kelurahan atau komunitas dat sederajat yang dilaksanakan secara komprehensif, terpadu dan terarah serta berkesinambungan oleh Karang Taruna bersama pemerintah dan komponen masyarakat lainnya. BAB III KEDUDUKAN, TUGAS POKOK DAN FUNGSI Pasal 3 1. Setiap Karang Taruna berkedudukan di desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat didalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Setiap Karang Taruna mempunyai tugas poko secara bersamasama dengan Pemerintah dan komponen masyarakat lainnya untuk menanggulangi berbagai masalah kesejahteraan sosial terutama yang dihadapi generasi muda, baik yang bersifat preventif, rehabilitatif maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya. 3. Setiap Karang Taruna melaksanakan fungsi: a. Penyelenggara Usaha Kesjahteraan Sosial. b. Penyelenggara Pendidikan dan Pelatihan Bagi Masyrakat c. Penyelenggara pemberdayaan masyarakat terutama generasi muda di lingkungannya secara komprehensif, terpadu dan terarah serta berkesinambungan d. Penyelenggara kegiatan pengembangan jiwa kewirausahaan bagi generasi muda dilingkungannya

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

e. Penanaman pengertian, memupuk dan meningkatkan kesadaran tanggung jawab sosial generasi muda f. Penumbuhan dan pengembangan semangat kebersamaan, jiwa kekeluargaan, kesetiakawanan sosial dan memperkuat nilai-nilai kearifan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia g. Pemupukan kreatifitas generasi muda untuk dapat mengembangkan tanggung jawab sosial yang bersifat rekreatif, kreatif, edukatif, ekonomis produktif dan kegiatan praktis lainnya dengan mendayagunakan segala sumber dan potensi kesejahteraan sosial dilingkungannya secara swadaya h. Penyelenggara rujukan, pendampingan, dan advokasi sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial i. Penguatan sistem jarngan komunikasi, kerjasama, informasi dan kemitraan dengan berbagai sektor lainnya j. Penyelenggara usaha-usaha pencegahan permasalahan sosial yang aktual. BAB IV KEANGGOTAAN Pasal 4 1. Keanggotaan Karang Taruna menganut sistim stelsel pasif yang berarti seluruh generasi muda dalam lingkungan desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat yang berusia 11 tahun sampai 45 tahun, selanjutnya disebut sebagai warga Karang Taruna. 2. Setiap generasi muda dalam kedudukannya sebagai warga Karang Taruna mempunyai hak dan kewajiban yang sama tanpa membedakan asal keturunan, golongan, suku dan budaya, jenis kelamin, kedudukan sosial, pendirian politik dan agama. BAB V KEORGANISASIAN Pasal 5 1. Keanggotaan Karang Taruna diatur berdasarkan aspirasi warga Karang Taruna yang bersangkutan di desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat setempat. 2. Untuk memantapkan komunitas, kerjasama, pertukaran informasi dan kolaborasi antar Karang taruna, dapat dibentuk wadah di lingkup Kecamatan, Kabupaten/Kota, Propinsi dan Nasional sebagai sarana organisasi Karang Taruna yang pemantapannya melalui para pengurus disetiap lingkup masing-masing.

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

BAB VI KEPENGURUSAN Pasal 6 1. Pengurus Karang Taruna dipilih secara musyawarah dan mufakat oleh warga Karang Taruna yang bersangkutan dan memenuhi syarat-syarat untuk diangkat sebagai pengurus Karang Taruna yaitu: a. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa b. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 c. Dapat membaca dan menulis d. Memiliki pengalaman serta aktif dalam kegiatan Karang Taruna e. Memiliki pengetahuan dan ketrampilan berorganisasi, kemauan dan kemampuan, pengabdian di bidang sosial f. Sebagai warga penduduk setempat dan bertempat tinggal tetap g. Berumur 17 tahun sampai dengan 45 tahun 2. Susunan Pengurus Karang Taruna dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan. 3. Kepengurusan Karang Taruna sesuai dengan keorganisasianny diatur sebagi berikut: a. Pengurus Karang Taruna Desa/Kelurahan atau Komunitas Adat Sederajat yang terpilih dan disahkan dalam Temu Karya di wilayahnya adalah sebagi pelaksana organisasi dalam wilayah yang bersangkutan dan dikukuhkan oleh Kepala Desa/Lurah atau Kepala/Ketua Komunitas Adat Sederajat setempat. b. Pengurus dilingkup Kecamatan yang disahkan dalam Temu Karya Kecamatan adalah sebagai pengembangan jaringan komunikasi, kerjasama, informasi dan kolaborasi antar Karang Taruna dalam lingkup/wilayah Kecamatan dan dikukuhkan oleh Camat setempat. c. Pengurus dilingkup Kabupaten/Kota yang disahkan dalam Temu Karya Kabupaten/Kota adalah sebagai pengembangan jaringan komunikasi, kerjasama, informasi dan kolaborasi antar Karng Taruna dalam lingkup/wilayah Kabupaten/Kota dan dikukuhkan oleh Bupati/Walikota setempat d. Pengurus di lingkup Provinsi yang disahkan dalam Temu Karya Provinsi adalah sebagai pengembangan jaringan komunikasi, kerjasama, informasi dan kolaborasi antar Karang Taruna dalam lingkup/wilayah Provinsi dan dikukuhkan oleh Gubernur setempat.

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

10

e. Pengurus di lingkup Nasional yang disahkan dalam Temu Karya Nasional adalah sebagi pengembangan jaringan komunikasi, kerjasama, informasi dan kolaborasi antar Karang Taruna dalam lingkup/wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan dikukuhkan oleh Menteri Sosial f. Susunan pengurus disetiap lingkup Kecamatan Kabupaten/Kota, Provinsi dan Nasional disesuaikan dengan kebutuhan dimasing-masing lingkup. BAB VII MEKANISME KERJA Pasal 7 Pengurus Karang Taruna Desa/Kelurahan atau Komunitas Adat Sederajat melaksanakan fungsi-funfsi operasional dibidang kesejahteraan sosial sebagi tugas poko Karang Taruna dan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) serta program kerja lainnya yang dilaksanakan bersama Pemerintah dan komponen terkait sesuai dengan Peraturan Prundangundangan yang berlaku. Pengurus disetiap lingkup yang ditetapkan sebagai pranata jaringan komunikasi, informasi, kerjasama dan kolaborasi antar Karang Taruna mulai dari pengurus dilingkup Kecamatan sampai dengan Nasional melaksanakan fungsi sebagi berikut: a. Pengelola sistem informasi dan komunikasi b. Pemberdaya, mengembangkan dan memperkuat sistem jaringan kerjasama (networking) antar Karang Taruna serta dengan pihak lain yang terkait c. Penyelenggara mekanisme pengambilan keputusan organisasi, pendampingan, dan advokasi d. Konsolidasi dan sosialisasi dalam rangka memelihara solidaritas, konsistensi dan citra organisasi. Mekanisme hubungan komunikasi, informasi, kerjasma dan kolaborasi antar Karang taruna dengan wadah pengurus dilingkup Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Nasional adalah bersifat koordinatif, konsultatif dan kolaboratif secara fungsional serta bukan operasional. Untuk mendayagunakan pranata jaringan komunikasi, informasi, kerjasama dan kolaborasi anatr Karang Taruna yang lebih berdayaguna dan berhasilguna, maka diadakan Forum pertemuan Karang Taruna yang diatur sebagai berikut: Bentuk-bentuk Forum terdiri dari 1). Temu Karya 2). Rapat Kerja 3). Rapat Pimpinan

1.

2.

3.

4.

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

11

5. 6.

7.

8.

9.

4). Rapat Pengurus Pleno 5). Rapat Konsultasi 6). Rapat Pengurus Harian Mekanisme Forum pertemuan tersebut diatur lebih lanjut dalam Pedoman pelaksanaan Karang Taruna Forum-forum pertemuan Karang Taruna sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a diatas, dinyatakan sah apabila dihadiri oleh lebih dari setengah jumlah peserta/pengurus dari lingkup yang bersangkutan. Pengambilan keputusan dalam setiap Forum pertemuan Karang Taruna wajib dilakukan secara musyawarah dan mufakat, dan apabila hal itu tidak tercapai maka keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. Forum Pertemuan Karang Taruna yang diadakan secara Nasional dan Khusus dalam rangka usulan untuk bahan perubahan Pedoman Dasar/Pedoman pelaksanaan Karang Taruna, diatur sebagai berikut: a. Minimal 2/3 (dua pertiga) dari jumlah peserta/pengurus dari lingkup Provinsi diseluruh wilayah Indonesia harus hadir ditambah unsur dari Departemen Sosial selaku Pembina Fungsional. b. Usulan perubahan Pedoman Dasar/Pedoman Rumah Tangga Karang Taruna dapat dinyatakan sah apabila didasarkan pada persetujuan minimal 2/3 (dua pertiga) dari jumlah Provinsi peserta yang hadir dan mendapat persetujuan dari Pembina Fungsional Pusat ( Departemen Sosial). c. Rekomendasi usulan guna perubahan tersebut, diusulkan sebagi bahan untuk disahkan atau ditetapkan oleh Menteri Sosial. Kedudukan, pemilihan dan masa bakti pengurus sebagai berikut: a. Pengurus Karang Taruna berkedudukan di desa/kelurahan atau Komunitas Adat Sederajat setempat. b. Pengurus dilingkup Kecamatan, Kabupaten/Kota dan Provinsi berkedudukan di Ibukota masing-masing dan pengurus dilingkup Nasional berkedudukan di Ibukota Negara c. Pemilihan pengurus dilakukan secara musyawarah dan mufakat dalam Temu Karya serta wajib memenuhi persyaratan yang telah ditentukan d. Masa bakti Pengurus Karang Taruna di Desa/Kelurahan atau Komunitas Adat Sederajat paling lama 3 (tiga) tahun dan Pengurus di lingkup Kecamatan sampai dengan Nasional, masing-masing selama 5 (lima) tahun serta dapat dipilih

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

12

kembali untuk yang kedua persyaratan yang berlaku.

kalinya

serta

memenuhi

BAB VIII PENGUKUHAN DAN PELANTIKAN PENGURUS Pasal 8 1. Pengukuhan Pengurus Karang Taruna Desa/Kelurahan atau Komunitas Adat Sederajat dan Pengurus di lingkup Kecamatan sampai dengan Nasional dilakukan dengan Surat Keputusan Pejabat yang berwenang sesuai dengan tingkatan lingkupnya 2. Surat Keputusan Pejabat yang berwenang tersebut pada ayat (1) diatas adalah: a. Surat Keputusan Kepala Desa/Lurah atau Komunitas Adat Sederajat b. Untuk pengukuhan Pengurus Karang Taruna setempat c. Surat Keputusan Camat untuk pengukuhan Pengurus dilingkup Kecamatan setempat d. Surat Keputusan Bupati/ Walikota untuk pengukuhan Pengurusu di lingkup Kabupaten/Kota setempat e. Surat Keputusan Gubernur untuk pengukuhan Pengurus di lingkup Provinsi setempat f. Surat Keputusan Menteri Sosial untuk pengukuhan Pengurus dilingkup Nasional 3. Pelantikan Pengurus Karang Taruna Desa/Kelurahan atau Komunitas Adat Sederajat dan Pengurus dilingkup Kecamatan samapai dengan Nasional dilakukan oleh Pejabat yang berwenang sesuai dengan tingkatan lingkupnya masingmasing. BAB IX PEMBINA Pasal 9 1. Karang Taruna sebagai Organisasi Sosial Generasi Muda diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, memiliki Pembina Utama, Pembina Fungsional dan Pembina Teknis 2. Pembina Utama sebagimana dimaksud pada ayat (1) adalah Presiden Republik Indonesia. 3. Pembina Umum, Pembina Fungsional dan Pembina Teknis sebagimana dimaksud pada ayat (1) , di Pusat dan di daerah adalah: Pembina di Pusat terdiri: 1). Menteri dalam Negeri Selaku Pembina Umum 2). Menteri Sosial selaku Pembina Fungsional

a.

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

13

3). Pimpinan Departemen/Kementerian Negara/Lembaga atau b. Badan Negara yang terkait sebagai Pembina Teknis Karang Taruna. Pembina di Daerah terdiri dari: Pembina Umum 1) Gubernur untuk Provinsi 2) Bupati/Walikota untuk Kabupaten/Kota 3) Camat untuk Kecamatan 4) Kepala Desa/Lurah atau Komunitas Adat Sederajat untuk Desa/Kelurahan atau Komunitas Adat Sederajat Pembina Fungsional 1) Kepala Dinas/Instansi Sosial Provinsi 2) Kepala Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota 3) Kepala Seksi/Unit yang tugasnya berkaitan langsung dengan bidang kesejahteraan sosial di Kecamatan dan/atau di Desa/Kelurahan atau Komunitas Adat Sederajat Pembina Teknis 1) Pimpinan Instansi/Lembaga/Badan Daerah Propinsi yang terkait. 2) Pimpinan Instansi/Jawatan/Lembaga atau Badan daerah Kabupaten/Kota yang terkait. 3) Pimpinan Unit Kecamatan, Desa/Kelurahan atau Komunitas Adat Sederajat yang terkait dengan Penyediaan dukungan bagi peningkatan Fungsi Karang Taruna di wilayah setempat. BAB X KEUANGAN Pasal 10 1. Keuangan Karang Taruna dapat diperoleh dari : a. Iuran warga Karang Taruna b. Usaha sendiri yang diperoleh secara sah c. Bantuan masyarakat yang tidak mengikat d. Bantuan/Subsidi dari Pemerintah e. Usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB XI MAJELIS PERTIMBANGAN DAN UNIT TEKNSI KARANG TARUNA Pasal 11 1. Setiap Karang Taruna dapat membentuk Majelis Pertimbangan Karang taruna ( MPKT ) pada forum tertinggi (Temu Karya) di

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

14

masing-masing wilayahnya yang kemudian dikukuhkan oleh forum tersebut. 2. Majelis Pertimbangan Karang Taruna dipimpin oleh seorang Ketua merangkap anggota, seorang Sekretaris dan beberapa orang Wakil Sekretaris ( sesuai kebutuhan) merangkap anggota, dan para anggota yang jumlahnya ditentukan sesuai dengan jumlah mantan aktivis Karang Taruna di wilayahnya masing-masing ditambah beberapa tokoh yang dianggap layak, apabila memungkinkan. Pasal 12 1. Karang Taruna dapat membentuk Unit Teknis sesuai dengan kebutuhan pengembangan organisasi dan programprogramnya 2. Unit Teknis dimaksudkan merupakan bagian yang tidak terpisahklan dari kelembagaan Karang Taruna dan pembentukannya harus melalui meakanisme pengambilan keputusan dalam forum yang representatif dan sesuai kapasitasnya untuk itu 3. Unit Teknis disahklan dan dilantik oleh Karang Taruna yang membentuknya dan harus berkoordinasi serta mempertanggung-jawabkan kinerjanya kepada Karang Taruna yang membentuknya. BAB XII IDENTITAS Pasal 13 1. Karang Taruna dapat memiliki identitas lambang bendera, panji, yang telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia nomor 65/HUK/KEP/XI/1982 dan lagu mars serta hymne 2. Identitas yang telah ditetapkan dan/atau digunakan tersebut menjadi identitas resmai Karang Taruna dan hanya dapat dirubah dengan Keputusan Menteri Sosial 3. Mekanisme penggunaan identitas Karang Taruna diatur lebih lanjut dalam Pedoman pelaksanaan Karang Taruna.

BAB XIII KETENTUAN LAIN Pasal 14

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

15

Sesuai dengan kebutuhan, setiap Karang Taruna dapat menyusun dan/atau menyesuaikan Anggaran Rumah Tangga berdasarkan Pedoman Dasar Karang Taruna ini. BAB XIV PENUTUP Pasal 15 1. Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan ini, akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Direktur Jenderal Pemberdayan Sosial 2. Dengan ditetapkannya Peraturan ini, maka keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia nomor 11/HUK/ 1988 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna, dinyatakan tidak berlaku lagi 3. Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan dibetulkan sebagaimana mestinya. Struktur Organisasi

Organisasi karang taruna ini termasuk ke dalam organisasi informal, organisasi tersebut dipimpin oleh ketua karang taruna. Ketua karang taruna berperan untuk memimpin jalannya organisasi dan bertanggung jawab atas dasar semua yang dilakukan. Ketua karang taruna didampingi oleh wakil ketua, wakil ketua karang taruna yang berperan membantu ketua dalam segala hal, jika ketua sedang tidak dapat melakukan pekerjaannya, tugas dari wakil ketua adalah untuk membantu ketua yang telah ditetapkan. Jabatan lain dalam struktur organisasi karang taruna adalah seketaris dan bendahara, keduanya memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Bendahara, sebagaimana organisasi lainnya

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

16

bertugas untuk melakukan koordinasi dalam hal keuangan dan financial yang dibutuhkan olah karang taruna. Pengumpulan dapat dilakukan dalam menyimpan, mengatur sirkulasi keuangan. Dengan demikian posisi keuangan karang taruna sangat dibutuhkan jika akan dilaksanakan suatu acara atau kegiatan lain yang bersifat organisatoris. Seketaris berperan untuk membuat undangan-undangan dan surat-surat mengenai kegiatan karang taruna, tugas lain adalah yang berkaitan dengan semua aktivitas pencatatan dan kearsipan. Yang tidak kalah pentingnya dalam struktur kepengurusan karang taruna adalah anggota. Anggota sangat berperan dalam organisasi tersebut, karena setiap organisasi harus memiliki anggota, anggota juga mempunyai tugas untuk membantu jalannya suatu kegiatan yang akan di lakukan misalnya pada peringatan hari ulang tahun (HUT) tanggal 17 Agustus atau kegiatan sosial di sekitar domisili organisasi karang taruna. Logo Karang Taruna

Organisasi Karang Taruna dan Pemberdayaan Potensi Pemuda-

17