Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

1.2 Gambaran Umum


Stadion Gedebage merupakan stadion sepakbola bertaraf internasional yang terletak di Kelurahan Mekar Mulya, Kecamatan Gede Bage, Kota Bandung, Jawa Barat. Stadion ini juga berada di antara ruas Jalan Tol Cileunyi-Padalarang dan Jalan Bypass Soekarno-Hatta Bandung yang secara berada tak jauh dari Mapolda Jabar. Klub sepakbola Persib Bandung akan menggunakan stadion ini untuk menjalani partai kandang di kompetisi Liga Super Indonesia. Selain itu, stadion ini juga direncanakan untuk menyambut Sea Games 2011 karena Jawa Barat menjadi salah satu dari tuan rumah. Stadion tersebut dibangun sesuai standar FIFA dengan tempat duduk 28 ribu orang dan untuk daya tampungnya bisa mencapai 70 ribu kursi. Hanya saja, saat ini masih dalam tahap pembangunan yang diperkirakan akan selesai pada bulan Desember 2011. Selain itu, stadion ini dibangun di atas tanah sawah dengan lempung lunak seluas 24,5 hektar yang dilengkapi dengan lapangan sepakbola, atletik, kantor, sirkulasi, tribun, servis, dan atap yang menyerupai alat musik tabuh khas Sunda kendang dan dapat menutupi bagian tribun barat yang terdiri dari empat lantai sehingga kalau ditotal dengan fasilitas pendukung lain itu dapat mencapai 40 hektar. Gedung ini dilengkapi dengan kursi tahan api, kaca anti peluru pada ruang VVIP dan landasan helicopter. Pembangunan ini dikerjakan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk dengan dibantu dana bantuan dari pemerintah provinsi setempat sebesar Rp 50 miliar sejak Juni 2010 sehingga total memakan biaya sekitar Rp 600 miliar. Dalam proses pembangunannya, pihak kontraktor membuat jalan akses langsung di kilometer 151 tol Purbaleunyi untuk memudahkan pengangkutan tanah yang bervolume sampai 800 ribu meter kubik. Sebenarnya hal ini menimbulkan pro kontra di mata public karena meski dapat membuat pekerjaan lebih cepat selesai, pengangkutan tanah ini melanggar persyaratan tonase yang sebenarnya tidak boleh melebihi kapasitas jalan. Selain itu, operasi yang selama 24 jam terus menerus ini juga mengganggu situasi warga sekitar. Pembangunan ini juga terkena kendala cuaca yang menjadikan waktu selesai proyek tersebut tidak bisa diperkirakan. Intensitas curah hujan yang mencapai 61% atau 266 hari pada tahun 2010 benar-benar menghambat pembangunan ini karena seharusnya, normal curah hujan yang mendukung proyek hanya sampai 20% saja. Oleh karena stadion ini dibangun di atas tanah lempung lunak, maka diperlukan pengerasan tanah dengan teknik konstruksi menyerupai obras tanah. Tanah juga dilapisi dengan geotextile sejenis lapisan plastik yang bertujuan untuk menjaga stadion ini agar tahan gempa dan tidak jatuh karena pergerakan tanah. Selain itu, sebelum ditekan dengan tanah beban, jalurjalur Prefabricated Vertikal Drain (PVD) juga ditanamkan dahulu untuk mengeluarkan air dari tanah lempung sehingga tanah lunak setinggi 30 meter yang biasanya secara alami padat dalam puluhan tahun menjadi dapat dipadatkan dalam hanya beberapa bulan saja. Perlakuan tanah

dalam hal ini disebabkan oleh elevasi banjir yang biasa terjadi di daerah tersebut sehingga stadion tersebut dibangun setinggi 5 meter dari permukaan tanah.

1.2

Peraturan Perundangan

Berdasarkan Pasal 1 UU 23/1997, pembangunan yang dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan wajib memiliki analisa mengenai dampak lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif yang terjadi karena pembangunan tersebut juga menyangkut berbagai aspek penting, seperti kesejahteraan dan generasi masa yang akan datang dan menurut KepMen LH no 17 tahun 2001, stadion gede bage ini merupakan jenis usaha yang wajib amdal untuk mengelola sumber daya secara bijaksana. Hal ini dikarenakan bangunan ini dibangun di atas lahan lebih dari 5 ha atau 10.000 meter persegi. Besaran diperhitungkan berdasarkan:

Pembebasan lahan Daya dukung lahan Tingkat kebutuhan air sehari-hari Limbah yang dihasilkan Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (getaran, kebisingan, polusi udara, dll) Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan Koefisien Luas Bangunan (KLB) Jumlah dan jenis pohon yang mungkin hilang Dampak untuk pusat perdagangan/perbelanjaan yang terkonsentrasi dengan luas tersebut

1. Konflik sosial akibat pembebasan lahan (umumnya berlokasi dekat pusat kota yang memiliki kepadatan tinggi). 2. Struktur bangunan bertingkat tinggi dan basement yang menyebabkan masalah dewatering dan gangguan tiang pancang terhadap akuifer sumber air sekitar. 3. Bangkitan pergerakan (traffic) dan kebutuhan permukiman dari tenaga kerja yang besar. 4. Bangkitan pergerakan dan kebutuhan parker pengunjung. 5. Produksi sampah. Dokumen ini mengacu pada panduan penilaian dokumen amdal berdasarkan KepMen LH no 2 tahun 2000. Dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup ini juga merupakan dasar dalam sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System). Berdasarkan peraturan menteri negara lingkungan hidup nomor 14 tahun 2010, kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota adalah kepala instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup kabupaten/kota. Kepala instansi lingkungan hidup provinsi adalah instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup provinsi. Deputi Menteri adalah Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang amdal dan dalam hal ini, menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

BAB II

RUANG LINGKUP STUDI


Komponen rencana kegiatan yang dikaji
1. 1. Tahap Pra Konstruksi Komponen kegiatan pada tahap pra konstruksi Stadion Gedebage diperkirakan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap lingkungan sekitar stadion antara lain : 1. Penentuan lokasi pembangunan bangunan Meliputi penentuan lokasi proyek stadion tersebut, inventarisasi lahan, bangunan dan sarana lainnya yang akan dibebaskan, status kepemilikan dan pematokan lokasi. 1. Persetujuan Melalui Pemerintah Kota Bandung sebagai pemberi izin terhadap pembangunan Stadion Gedebage. 2. Pengadaan tanah/pemadatan tanah Meliputi penyuluhan, penentuan jenis, nilai ganti rugi, kompensasi, serta pemberian ganti rugi atas tanah/lahan, bangunan serta sarana lain yang dibebaskan. Berdasarkan catatan sejarah geologisnya, daerah yang akan dibangun Stadion Gedebage ini dulunya adalah titik terendah dari danau purba Bandung, sehingga tanahnya saat ini bersifat lempungan dan lunak. Maka setelah lahan dibebaskan, proses yang sekarang dikerjakan adalah pemadatan tanah atau masih 1.5 persen. 1. Menggunakan teknologi geotekstile. Beberapa teknologi terbaru sedang dilakukan, salah satunya adalah dengan menggunakan sistem geotekstile. Sistem ini bertujuan untuk mengeluarkan air yang terkandung dalam tanah. Jadi keadaan lempung ini seperti gabus, kita harus mengeluarkan air yang terdapat didalamnya dengan cara menyuntikan alat, sehingga air yang terdapat didalam gabus itu dapat dikeluarkan 1. 2. Tahap Konstruksi Kegiatan pada tahap ini dibedakan atas tahap persiapan konstruksi dan tahap pelaksanaan konstruksi. 1. Persiapan Konstruksi o Pengadaan alat-alat berat dan basecamp untuk konstruksi tersebut o Pembersihan lahan, persiapan konstruksi dasar fondasi bangunan. 1. Pelaksanaan Konstruksi o Pekerjaan tanah meliputi galian dan timbunan o Pekerja lapis perkerasan o Pembuatan bangunan pelengkap

o o o

Pengangkutan tanah dan material bangunan Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas

1. 3. Tahap Pasca Konstruksi Kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan pada tahap ini mencakup : 1. Pengoprasian gerbang utama, akses jalan tol, lahan parkir 2. Pemeliharaan bangunan dan taman serta fasilitas yang ada di stadion Gedebage

Dampak kegiatan yang dikaji


Persiapan Konstruksi 1. Terganggunya lalu lintas di sekitar proyek pembangunan SUS Gedebage 2. Peningkatan intesitas kebisingan dari pembuatan akses jalan ke tempat proyek Pelaksanaan Konstruksi 1. 2. 3. 4. 5. Peningkatan intensitas kebisingan dan getaran Terganggunya aktifitas masyarakat setempat Penurunan kualitas udara Penurunan kualitas maupun jumlah air tanah Terbuka kesempatan kerja untuk penduduk sekitar SUS Gedebage

Pasca Konstruksi 1. 2. 3. 4. 5. Terganggunya aktifitas masyarakat setempat Perubahan fungsi lahan Kerawanan gangguan ketertiban dan keamanan Terbukanya kesempatan kerja Peningkatan intesitas kebisingan dari pembuatan akses jalan ke tempat proyek

Batas wilayah studi


Batas proyek Batasan dari proyek pembangunan SUS Gedebage ini lahan seluas 6 8 ha yang terletak di daerah Gedebage, Bandung, Jawa Barat. Seperti gambar di bawah ini. Batas Ekologis

Luas persebaran dari dampak SUS Gedebage terhadap lingkungan sekitar seperti tanah, air, dan udara sebatas di sekitar SUS Gedebage. Seperti sungai yang terletak di samping SUS Gedebage. Batas Sosial SUS Gedebage di kelilingi oleh jalan tol yang mengarah ke Cileunyi, perswahan, dan pemukiman warga Giya Cempaka Arum yang memiliki delapan rukun warga. Batas Waktu Kajian Batas dari waktu kajian dari proyek ini pada akhir tahun 2011 pada bulan Desember atau sebelum SUS Gedebage selesai dan beroperasi.

BAB III METODE STUDI


3.1 Metode Pengumpulan dan Analisa Data
Terdapat dua jenis data yang dibutuhkan, yaitu data primer dan data sekunder: 1. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan metode sampling, observasi, dan wawancara. 1. Metode Observasi Metode observasi yaitu kami akan langsung ke lapangan untuk mendapatkan data secara terperinci dan mendetail mengenai kondisi proyek pembangunan yang akan memudahkan proses analisa. 1. Metode Wawancara Metode wawancara yaitu dengan bertemu langsung dengan orang-orang yang berkaitan dengan masalah dan membicarakan berbagai hal seperti aspek social, ekonomi, budaya, serta tanggapan dari warga sekitar mengenai dampak dari pembangunan proyek ini. 1. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari data yang sudah ada sebelumnya. Data sekunder didapat dari internet, dokumentasi dari institusi/badan terkait, seperti data Tata Ruang Kota dari Pemda Kota Bandung, serta riset yang telah dilakukan berbagai pihak. Parameter yang diukur No Parameter yg Alat/metode yang Waktu Titik sampling

diukur digunakan 1 Kualitas Udara Wawancara 2. Kualitas Air Wawancara Tanah 3. Stabilitas tanah Wawancara 4. Intensitas kebisingan Wawancara

sampling 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali

Lokasi proyek dan daerah sekitar proyek. Air tanah di sekitar daerah proyek. Lokasi proyek dan daerah sekitar proyek. Lokasi proyek, daerah permukiman dan akses jalan sekitar proyek

3.2

Metode Perkiraan Dampak Penting

Prakiraan dampak penting untuk menentukan besarnya dampak yang akan terjadi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Dalam prakiraan dampak ini, bila besarnya melebihi atau di bawah baku mutu yang telah ditentukan dianggap dampak penting. Metode perkiraan dampak penting yang akan digunakan: 1. Penilaian ahli profesional Ahli dalam bidang topografi dan geologi sangat diperlukan untuk memperkirakan dampak yang akan terjadi dalam perencanaan pembangunan proyek ini. 1. Model Judgement Adalah model yang memperkirakan dampak penting dari aktivitas perusahaan. Seperti, perkiraan jumlah limbah cair yang dikeluarkan tiap hari yang berdampak langsung ke sungai.

3.3

Metode Evaluasi Dampak Penting

Evaluasi dampak dilakukan setelah analisis secara terpadu keseluruhan komponen lingkungan yang mengalami perubahan mendasar (dampak penting). Dari hasil evaluasi dampak tersebut dapat diketahui kelayakan lingkungan suatu proyek, pengaruh proyek terhadap masyarakat yang terkena dampak (kerugian dan manfaat), serta menjadi dasar untuk menetapkan dampak-dampak negatif yang perlu dilakukan pengelolaan dan dampak-dampak positif yang perlu dikembangkan/ditingkatkan. Tahap evaluasi terhadap dampak penting dilakukan dengan menggunakan Metode Matriks. Dengan bentuk matriks maka dapat ditentukan hubungan antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitar lokasi, atau dapat diketahui penyebab-penyebab terjadinya dampak penting tersebut. Metode Matriks merupakan bentuk checklist dalam dua dimensi, dengan bentuk matriks tersebut dapat ditetapkan interaksi antara aktivitas proyek dengan komponen lingkungan.