Anda di halaman 1dari 7

KAJIAN SNI BIDANG KONSTRUKSI BANGUNAN

Oleh

A.Rachman Mustar*)
Abstrak Kesepakatan TBT mewajibkan negara-negara anggota WTO untuk menggunakan standar internasional sebagai basis dalam penerapan regulasi teknis. Oleh karena itu didalam perumusan suatu standar nasional harus harmonis dengan standar internasional. Untuk mengetahui sejauh standar SNI bidang permukiman yang merupakan bagian dari SNI bidang konstruksi bangunan, harmonis dengan standar internasional, telah dilakukan suatu kajian terhadap 20 SNI sample yang terkait dengan bidang permukiman. Hasil kajian menunjukkan bahwa dari ke 20 SNI tersebut tidak ada satupun SNI yang harmonis dengan standar internasional, oleh karena itu ke 20 SNI tersebut perlu direvisi. Kata kunci: harmonisasi, TBT, WTO

Abstract The agreements on TBT impose obligation on WTO member countries to use international standards as a basis for implementation of the technical regulations, so in formulation of national standard shall be harmonized to international standard. The review of 20 SNI in sector residential building that is part of building and construction standard has been conducted to identify how far that standards harmonized with international standard. The result of review shows that 20 SNI in sector residential building is not harmonized with international standard, so they should be revised. Keywords: harmonization, TBT, WTO

I.

PENDAHULUAN

Salah satu faktor penting dalam menunjang pembangunan adalah standardisasi. Dengan standardisasi diharapkan akan menciptakan keteraturan dalam berbagai kegiatan, terutama yang menyangkut jaminan mutu produk dan jasa dalam kegiatan perdagangan serta yang menyangkut keselamatan, keamanan dan lingkungan dalam rangka menjamin perlindungan terhadap masyarakat pengguna produk dan jasa. Dengan pesatnya perkembangan pembangunan khususnya di bidang prasarana seperti permukiman perumahan, maka diperlukan adanga standar nasional (SNI) yang terkait dengan prasarana air bersih, lingkungan dan keselamatan bangunan dan bahan bangunan. Pada saat ini telah dirumuskan beberapa standar nasional yang terkait dengan prasarana pembangunan. Latar belakang kajian ini adalah untuk mengkaji sejauh mana standar nasional yang telah ada tersebut harmonis dengan standar internasional sesuai dengan kesepakatan TBT-WTO[4] yang mewajibkan dalam perumusan suatu standar nasional agar harmonis dengan standar internasional. Sehingga diharapkan didalam kegiatan perdagangan dan perlindungan terhadap masyarakat
*)

Peneliti Badan Standardisasi Nasional

yang terkait dengan keselamatan, keamanan dan kesehatan serta lingkungan dapat mengacu kepada suatu standar nasional yang harmonis dengan standar internasional. Dengan demikian standar nasional ini dapat dijadikan sebagai acuan atau pedoman bagi pihak-pihak yang berkepentingan seperti pelaku usaha serta masyarakat pemakai jasa. Dalam kajian ini dibatasi untuk mengkaji sebanyak 20 SNI bidang permukiman yaitu bagian dari standar di bidang konstruksi bangunan yang merupakan prioritas untuk dikaji. Alasan menetapkan 20 SNI tersebut dengan memperhatikan hal-hal berikut, bahwa SNI tersebut telah berusia lebih dari 5 tahun, sehingga perlu dilakukan kaji ulang menyesuaikan dengan kebutuhan pihak-pihak terkait dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Disamping itu perlunya untuk mengetahui sejauh mana SNI tersebut telah harmonis dengan standar internasional sesuai dengan kesepakatan TBT-WTO. TBT (Technical Barriers to Trade) adalah hambatan-hambatan teknis dalam perdagangan, sedangkan WTO (World Trade Organization) adalah organisasi perdagangan dunia. II. METODA KAJIAN

Kajian dilakukan dengan mempelajari isi dan format dari ke 20 SNI tersebut dengan mengacu dan memperhatikan pada pedoman-pedoman yang harus diikuti dalam merumuskan suatu standar yaitu: a. Pedoman pengembangan SNI (PSN 01-2005) b. Pedoman adopsi standar ISO/IEC menjadi SNI (PSN 03-2005) c. Pedoman BSN Nomor 8-2000 (Penulisan SNI) III. DASAR TEORI

Harmonisasi standar ialah ekivalensi atau kesetaraan suatu standar terhadap standar internasional. Terdapat beberapa unsur yang harus ada didalam suatu standar dan harus mengikuti pedoman seperti: prakata, ruang lingkup, istilah dan definisi, acuan normatif, struktur dan metoda adopsi. Prakata dalam standar merupakan jenis unsur pendahuluan yang bersifat informatif dan merupakan unsur yang dipersyaratkan. Prakata berisi hal umum seperti nama pantek yang menyiapkan standar, informasi berkaitan dengan penetapan standar dan ketentuan yang digunakan seperti pedoman BSN. Selain itu prakata berisi hal teknis seperti perubahan teknis yang penting , hubungan dengan standar lain atau dokumen lain, pernyataan lampiran yang bersifat normatif dan infomatif, pernyataan pembatalan atau penggantian standar lain secara sebagian atau keseluruhan dan petunjuk instansi lain yang mempunyai kontribusi dalam perumusan standar. Dalam prakata tidak dicantumkan persyaratan, gambar ataupun tabel. Ruang lingkup merupakan jenis unsur umum yang bersifat normatif adalah unsur yang dipersyaratkan. Ruang lingkup dicantumkan di awal standar, tidak bermakna ganda. Isi ruang lingkup adalah aspek yang dicakup dan batas penerapan standar atau bagian khusus dari

standar. Ruang lingkup tidak berisi persyaratan. Misalnya Standar ini menetapkan metode pengujian air dan digunakan hanya untuk air minum. Istilah dan definisi merupakan jenis unsur teknis yang bersifat normatif. Unsur ini menguraikan definisi seperlunya untuk memberikan pemahaman tentang istilah tertentu dalam suatu standar. Acuan normatif merupakan jenis unsur umum yang bersifat normatif dan bukan merupakan persyaratan normatif. Isi acuan normatif adalah daftar dokumen normatif yang diacu dalam standar yang sangat diperlukan dalam penerapan standar tersebut. Pada prinsipnya dokumen normatif adalah standar internasional atau standar nasional. Substansi yang dimaksud adalah isi dari suatu standar yang strukturnya sesuai dengan standar internasional. Suatu standar tidak seharusnya berisi seluruh unsur teknis mormatif, tetapi suatu standar dapat berisi unsur teknis normatif lain. Standar yang merupakan adopsi dari suatu standar internasional seperti ISO atau IEC, maka harus mengikuti pedoman adopsi yang diterbitkan oleh ISO/IEC yaitu ISO/IEC Guide 21-1 tahun 2005. Tingkat kesetaraan adopsi dibagi menjadi tingkat kesetaraan identik, modifikasi dan tidak ekivalen. Dalam penetapan apakah suatu harmonis dengan standar internasional, dilakukan kajian dengan melihat isi prakata. Apakah terdapat informasi tentang adopsi identik atau adopsi modifikasi. Selain itu memeriksa struktur dan unsur-unsur yang ada didalam standar dan kemudian memeriksa isi substansi dari pada standar. Apabila suatu standar adalah adopsi identik atau adopsi modifikasi dari suatu standar internasional dan sesuai dengan persyaratan, maka disimpulkan bahwa standar tersebut harmonis dengan standar internasional. IV. PELAKSANAAN KAJIAN

Kajian dilakukan dengan mengevaluasi dan memeriksa butir-butir isi dari SNI yaitu: a. Prakata b. Ruang lingkup c. Acuan normatif d. Istilah dan definisi e. Substansi SNI f. Adopsi: Identik/modifikasi Hasil kajian data sebagaimana dalam Tabel 1. Tabel 1 Data Hasil Kajian
No Hasil kajian Prakata R.lingkup AcuanIstilah Sub stansi 1. 03-2492-2002 Metoda pengambilan benda uji beton inti N N N Y N 2. 03-6898-2002 Tata cara pelaksanaan pengambilan pengujian N N N Y N kuat tekan beton inti 3. 03-3449-2002 Tata cara rencana pembuatan campuran beton N N N Y N ringan dengan agregat ringan No SNI Judul SNI

No 4. 5. 6. 7. 8.

No SNI 03-2915-2002 03-2491-2002 03-2461-2002 03-2494-2002 03-2410-2002

9. 03-3433-2002

Hasil kajian Prakata R.lingkup AcuanIstilah Sub stansi Spesifikasi beton tahan sulfat Y N N Y N Metoda pengujian kuat tarik belah beton N N N Y N Spesifikasi agregat ringan untuk beton struktural N N N Y N Spesifikasi agregat untuk beton penahan radiasi N Y N Y Y Tata cara pengecatan dinding tembok dengan cat N N Y Y N emulsi Tata cara pengecatan genteng keramik N N N Y N Judul SNI N N N Y Y N N N N Y Y Y N N N

10. 03-6896-2002 Tata cara pengecatan genteng beton 11. 03-2407-2002 Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung 12. 03-2837-2002 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan pelesteran untuk kostruksi bangunan dan perumahan 13. 03-2839-2002 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan langit-langit untuk konstruksi bangunan dan perumahan 14. 03-2835-2002 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan tanah untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan. 15. 03-3434-2002 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan kayu untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan. 16. 03-2836-2002 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan pondasi untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan. 17. 03-6897-2002 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan pasangan dinding 18. 06-2399-2002 Tata cara perencanaan bangunan MCK umum 19. 06-2398-2002 Tata cara perencanaan tangki septik dengan sistem resapan 20. 06-1730-2002 Tata cara perencanaan bangunan gedung sekolah menengah umum. Catatan: N = tidak sesuai pedoman Y = sesuai dengan pedoman

N N N N

N N N N

N N N N

Y N N Y

N N N N

3 1

Prakata R.Lingkup Acuan Istilah Substansi

18

Grafik 1 Jumlah unsur SNI

4% 4% 75%

13%

4%

Prakata R.Lingkup Acuan Istilah Substansi

Grafik 2 Persentase Unsur SNI

20 Jumlah SNI 15 10 5 0
p an ta h Pr ak a
3 1 1

18

Unsur SNI
1

R. L

Unsur SNI

Grafik 3 Perbandingan unsur SNI V. EVALUASI DAN PEMBAHASAN

Dari hasil kajian terhadap isi dari 20 SNI menunjukkan: 1) Hanya 1 SNI yang isi prakatanya sesuai dengan pedoman, pada umumnya isi prakata bervariasi bahkan ada yang menggambarkan lingkup SNI pada prakata. 2) Hanya 3 SNI yang isi ruang lingkup sesuai dengan pedoman, pada umumnya isi ruang lingkup menuliskan butir-butir isi SNI. 3) Hanya 1 SNI yang isi acuan normatifnya sesuai dengan pedoman, pada umumnya acuan normatif berisi daftar dokumen acuan atau referensi yang digunakan dalam merumuskan SNI yang dikutip sebagian darinya, yang seharusnya daftar dokumen tersebut dituliskan pada lembar bibliografi. 4) Terdapat 18 SNI yang cara penulisan istilah dan definisinya sudah benar dan memenuhi pedoman. 5) Dari hasil kajian hanya ada 1 SNI yang menggambarkan struktur batang tubuh standar internasional sesuai dengan pedoman.

Su

bs ta ns

in gk u

Ac u

Is til a

Hasil kajian dapat dilihat pada grafik 1, grafik 2 dan grafik 3. Beberapa SNI menuliskan acuan normatif dari standar internasional, tetapi kadar acuannya relatif sangat kecil sehingga tidak dapat dikatakan bahwa SNI tersebut telah mengadopsi standar internasional dan penulisan daftar dokumen standar internasional yang diacu tersebut seharusnya ditulis dalam daftar bibliografi. Bahkan ada SNI yang masih mengacu ke SII (Standar Industri Indonesia yang sebenarnya tidak berlaku lagi dan sudah menjadi SNI). Pada umumnya SNI dibuat berdasarkan hasil-hasil penelitian dan disesuaikan dengan kondisi dan penerapan di lapangan. Hal ini menggambarkan bahwa SNI diperlukan untuk diterapkan sesuai kebutuhan yang dijadikan sebagai referensi atau pedoman dalam suatu kegiatan. Namun hal ini akan sulit apabila kegiatan tersebut terkait dengan perdagangan internasional ataupun penerapan SNI yang akan diwajibkan, karena tidak sesuai dengan peraturan internasional yang merekomendasikan suatu standar nasional harus harmonis dengan standar internasional. Sebagian besar substansi SNI tidak mencirikan struktur suatu standar internasional, bahkan beberapa SNI isinya hanya merupakan pedoman (guide) atau prosedur untuk melaksanakan suatu kegiatan yang isinya relatif sangat sederhana. Beberapa isi substansi SNI menggambarkan informasi hasil-hasil penelitian dan tidak menunjukkan struktur suatu standar. Hanya ada satu SNI yang menunjukkan gejala adopsi dari suatu standar internasional, namun tidak jelas berapa persentase modifikasinya. Bebarapa SNI menuliskan kata pendahuluan dan daftar isi, walaupun unsur-unsur ini bukan merupakan suatu persyaratan. Acuan normatif yang digunakan dalam perumusan SNI ini adalah ASTM dan BSI. Dari hasil kajian menunjukkan bahwa dari ke 20 SNI yang dikaji, tidak satupun SNI yang harmonis dengan standar internasional sesuai dengan persyaratan harmonisasi standar. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perumusan suatu SNI kurang memahami isi pedomanpedoman yang harus diikuti. Dari hasil kajian terhadap ke 20 SNI tersebut dapat dirumuskan data-data sesuai Tabel 2. Tabel 2 Data Hasil Kajian SNI
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11 12. No SNI Judul SNI Hasil Kajian Harmonis Tidak harmonis ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya

13.

03-2492-2002 Metoda pengambilan benda uji beton inti 03-6898-2002 Tata cara pelaksanaan pengambilan pengujian kuat tekan beton inti 03-3449-2002 Tata cara rencana pembuatan campuran beton ringan dengan agregat ringan 03-2915-2002 Spesifikasi beton tahan sulfat 03-2491-2002 Metoda pengujian kuat tarik belah beton 03-2461-2002 Spesifikasi agregat ringan untuk beton struktural 03-2494-2002 Spesifikasi agregat untuk beton penahan radiasi 03-2410-2002 Tata cara pengecatan dinding tembok dengan cat emulsi 03-3433-2002 Tata cara pengecatan genteng keramik 03-6896-2002 Tata cara pengecatan genteng beton 03-2407-2002 Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung 03-2837-2002 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan pelesteran untuk kostruksi bangunan gedung dan perumahan 03-2839-2002 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan langit-

ya

No.

No SNI

Judul SNI langit untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan tanah untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan kayu untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan pondasi untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan pasangan dinding Tata cara perencanaan bangunan MCK umum Tata cara perencanaan tangki septik dengan sistem resapan Tata cara perencanaan bangunan gedung sekolah menengah umum.

Hasil Kajian Harmonis Tidak harmonis

14. 03-2835-2002 15. 03-3434-2002 16 03-2836-2002 17 03-6897-2002 18 03-2399-2002 19 03-2398-2002 20 03-1730-2002

ya ya ya ya ya ya ya

VI. 1.

KESIMPULAN Dari hasil kajian terhadap ke 20 SNI yang dijadikan sampel dalam kajian ini dapat disimpulkan bahwa semua SNI tersebut tidak ada satupun yang harmonis dengan standar internasional. Dalam merumuskan SNI tim perumus maupun tim editor kurang memperhatikan aturan dan pedoman dalam merumuskan suatu standar. Ke 20 SNI harus segera direvisi, karena tidak sesuai dengan pedoman dan umur SNI telah melebihi 5 tahun yang menurut aturan harus dikaji ulang untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pemakai dan menyesuaikan dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi.

2. 3.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. International Trade Centre; Influencing and meeting International Standards Volume 1, Geneva 2003 BPP Departemen PU; Daftar Standar Bidang Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil, Edisi Maret 2006 Pedoman pengembangan SNI (PSN 01-2005) Pedoman adopsi standar ISO/IEC menjadi SNI (PSN 03-2005) Pedoman BSN Nomor 8-2000 (Penulisan SNI)