Anda di halaman 1dari 13

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

Diah Pratiwi (0702005016) Gita Saraswati (0702005139) Adi Suryana (0702005155)

BAB I PENDAHULUAN

KEHAMILAN EKTOPIK
di luar lokasi normal endometrium gejala akut abdomen

TRIAS Amenore Nyeri abdomen akut Perdarahan pervaginam

Kondisi ini merupakan suatu kegawatan, dimana apabila terlambat ditangani akan berakibat fatal bagi penderita.

Pada tahun 1992 di Amerika Serikat angka kejadian kehamilan ektopik hampir 2% dari seluruh kehamilan kehamilan ektopik menyebabkan 10% kematian yang berhubungan dengan kehamilan.

Di Indonesia, laporan dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, angka kejadian kehamilan ektopik ialah 153 diantara 4007 persalinan atau 1 diantara 26 persalinan

Di Amerika Serikat, sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 35-44 tahun.

Di Indonesia berdasarkan penelitian kehamilan ektopik di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo selama 3 wanita yang mengalami kehamilan ektopik terbanyak pada usia 26-30 tahun yaitu 44,59 %.

Resiko untuk mengalami kehamilan ektopik yang berulang dikatakan 7-13 kali lebih besar atau sekitar 10-25% dibandingkan wanita yang tidak pernah mengalami kehamilan ektopik.

Penyebab yang paling sering adalah salpingitis yang terjadi sebelumnya akibat penyakit menular seksual seperti infeksi gonokokal, klamidia, atau salpingitis yang mengikuti abortus septik dan sepsis puerperium Faktor-faktor mekanis yang mencegah atau menghambat perjalanan ovum yang telah dibuahi ke kavum uteri yaitu salpingitis, adhesi peritubal, kelainan pertumbuhan tuba, Kehamilan ektopik sebelumnya, pembedahan sebelumnya pada tuba, Abortus induksi, Tumor yang mengubah bentuk tuba, pnggunaan alat kontrasepsi dalam rahim Faktor-faktor fungsional yang memperlambat perjalanan ovum yang telah dibuahi ke dalam kavum uteri adalah migrasi eksternal ovum, refluks menstrual, berubahnya motilitas tuba, peningkatan daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang telah dibuahi, implantasi ovum pada tuba

Gambaran klinis KET biasanya ditandai oleh trias klasik namun kadang-kadang gambaran klinis KET tidak khas, sehingga menyulitkan diagnosa. Yang perlu diingat adalah bahwa setiap wanita dalam masa reproduksi dengan keluhan telat haid yang disertai dengan nyeri perut bagian bawah perlu dipikirkan kemungkinan terjadinya KET pada wanita tersebut Seiring dengan kemajuan ilmu kedokteran, penderita KET telah dapat ditangani secara adekuat, sehingga mengurangi angka kematian karena komplikasi penyakit tersebut. Hal yang harus diingat ialah KET bisa dihadapi baik oleh dokter umum maupun dokter spesialis, sehingga setiap dokter umum harus dapat mengenali tanda-tanda KET, sehingga penderita dapat segera tertangani.

IDENTITAS PENDERITA Nama : Ni Wayan Sulastri Umur : 29 tahun Suku : Bali Agama : Hindu Status Perkawinan : Menikah Pekerjaan : Pegawai Negeri Alamat : Jl. Pungutan Gang 1 no 8 Sanur Tgl Pelaksanaan PBL : Senin, 11 Januari 2011

KELUHAN UTAMA Nyeri perut mendadak

ANAMNESIS Pasien ditemui di rumahnya dalam keadaan baik dan sehat. Pasien sebelumnya datang ke Instalasi Rawat Darurat RSUP Sanglah dengan keluhan nyeri perut bagian bawah sejak 5 Juli 2011. Nyeri dirasakan di seluruh perut bagian bawah, mendadak, dirasakan seperti tertusuk dan terjadi terus menerus hingga pasien masuk rumah sakit. Nyeri tidak menghilang meskipun pasien mengganti posisi tubuhnya dan mengakibatkan pasien kesulitan berjalan. Keluhan nyeri seperti ini belum pernah dirasakan sebelumnya oleh pasien. Pasien juga mengeluh keluar flek-flek darah lewat kemaluannya sejak 5 hari lalu, sedikit-sedikit, berwarna kecoklatan, dan keluar terus menerus. Pasien menduga flekflek ini biasa terjadi pada wanita hamil sehingga tidak memeriksakan keluhannya ini ke dokter. Pasien juga mengeluh merasa sangat lemas sejak saat itu hingga pasien tidak dapat beraktivitas seperti biasa. Kepala dirasakan sedikit pusing dan pandangan kadang-kadang berkunang-kunang. Keluhan mual-mual ringan tanpa disertai muntah juga dirasakan oleh pasien sejak awal kehamilannya, keluhan ini terutama dirasakan di pagi hari. Tidak ada keluhan BAK dan BAB. Riwayat pingsan dan panas disangkal pasien.

Riwayat Pengobatan Pasien pernah memeriksakan diri sekali ke bidan pada awal kehamilan. Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat atau makanan. Tidak memiliki riwayat operasi sebelumnya. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien menyangkal pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Riwayat hipertensi, diabetes melitus, asma dan penyakit jantung disangkal pasien. Riwayat Ginekologi Saat ini merupakan kehamilan yang pertama bagi pasien dengan HPHT tanggal 10 Mei 2011. Riwayat menstruasi dikatakan teratur setiap 28-30 hari dengan lamanya menstruasi tiap bulan 3-5 hari. Pasien mendapatkan haid pertama kali (menarche) kurang lebih umur 13 tahun. Saat datang bulan pasien sering mengeluh nyeri perut yang hebat, sehingga pasien meminum obat penghilang rasa sakit. Pasien memeriksakan kehamilannya pada bidan pada awal kehamilannya. Saat ini pasien sudah menikah selama 7 tahun dan belum memiliki anak. Pasien juga tidak memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi. Riwayat Keluarga Riwayat penyakit yang sama pada anggota keluarga yang lain disangkal pasien. Riwayat Sosial Pasien adalah seorang karyawan toko salah satu toko di kota Denpasar. Pasien saat ini tinggal di rumah orang tuanya bersama suaminya. Suami pasien adalah seorang perokok.

PEMERIKSAAN FISIK Status Present (7 Juli 2011) Keadaan umum : baik Kesadaran : compos mentis Tekanan darah : 90/60 mmHg Nadi : 100 x/ menit Respirasi : 18 x/ menit Temperatur : 36,70C

Status General Kepala : normo cephali Mata : anemis +/+, ikterus -/THT : dalam batas normal Leher : kelenjar limfe dalam batas normal kelenjar parotis dalam batas normal kelenjar tiroid dalam batas normal Thorak : Cor : S1S2 tunggal reguler, murmur (-) Po : ves +/+, rh-/-, wz-/Abdomen : dalam batas normal Ekstremitas: dalam batas normal

PEMERIKSAAN GINEKOLOGI Abdomen : Fut ttb, distensi (-), BU (+) N Defance musculare (+) Tanda cairan bebas (+) Shifting dullness (+) Nyeri tekan (+) Vagina (Insp) : Flx (+), fl (-), P J (-), livide (+) (VT) : Po : Flx (+), P J (-), nyeri goyang (+) CU : AF b/c ~ N 6 - 8 minggu AP : massa -/-, nyeri +/+ CD : menonjol, nyeri +

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium WBC : 23,9 HCT : 27 Hb : 9,2 PLT : 463 Ultrasonografi (USG) : - GS intrauterin (-) - Tanda cairan bebas (+) di cavum abdomen Kesan : Kehamilan ektopik terganggu TERAPI Terapi

DIAGNOSIS Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)

: Laparatomi cito Cefotaxim 2 g IV Vitamin C 2x1 Transfusi PRC sampai dengan Hb > 10.00 Monitoring : Keluhan Vital Sign KIE : Pasien dan suami tentang kondisi pasien termasuk diagnosa Tentang rencana tindakan segera beserta manfaat dan resiko

PROBLEM LIST Sebelumnya pasien tinggal berlima dengan suami, bapak dan ibu serta anaknya (adopsi) sehingga hampir semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan sendiri. ANALISIS KEBUTUHAN PASIEN Kebutuhan Fisik Biomedis Kecukupan Gizi Pasien mengaku penghasilan yang diperoleh dari bekerja sebagai karyawan toko dan penghasilan suami sebagai pegawai swasta cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Nafsu makan baik tiga sampai empat kali sehari dengan menu bervariasi (nasi, daging, sayur, buah) dan susu sekali sehari dan tidak ada pantangan makan. Pada awal kehamilan pasien mengalami mual dan muntah namun tidak mempengaruhi nafsu makan. Saat ini, kebutuhan gizi setelah dilakukan operasi cukup bagi pasien. Akses Pelayanan Kesehatan Pasien tinggal di rumah orang tuanya di jalan Pungutan, Sanur yang tidak jauh dari sarana pelayanan kesehatan baik puskesmas, bidan praktek swasta, dokter spesialis kandungan dan kebidanan, serta rumah sakit. Jarak ke RSUP Sanglah ditempuh selama 20 menit sehingga akses ke pelayanan kesehatan dikatakan tidak ada kendala. Selama ini pasien kontrol kehamilan di bidan praktek swasta. Selain itu, pasien dapat mengontrol keadaan pasien paska operasi secara teratur. Lingkungan Pasien tinggal di rumah orang tuanya di daerah Sanur yang cukup ramai. Terdapat 3 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 dapur dan ruang tamu. Rumah pasien tergolong bersih dengan atap bangunan dari genteng, tembok permanen dengan cat putih bersih, lantai rumah dari bahan keramik, dan terdapat ventilasi yang cukup. Penempatan barang-barang rumah tangga pun cukup rapi. Di halaman belakang terdapat garasi, di bagian depan dan samping rumah terdapat taman kecil yang ditumbuhi berbagai tanaman hijau.

Kebutuhan Emosi Pasien sudah menikah tujuh tahun lalu. Saat ini hubungan pasien dengan suaminya baik-baik saja. Hubungan dengan keluarga juga sangat baik. Pasien dan suami juga mengadopsi anak yang saat ini sudah berumur satu tahun. Pasien adalah ibu rumah tangga yang sebagian besar waktunya untuk mengurus rumah tangganya disamping bekerja di toko, pasien kadang mengeluh kelelahan. Analisis Biopsikososial Lingkungan Biologis Selama hamil, nafsu makan pasien meningkat walaupun pada awal kehamilan pasien mengeluh mual dan muntah. Pasien makan tiga hingga empat kali dengan menu nasi, ikan, daging, sayur, buah dan susu. Nutrisi yang kurang saat kehamilan dapat mempengaruhi pertumbuhan janin, terutama pada trimester pertama kehamilan yang merupakan masa pembentukan organ. Nutrisi yang kurang juga mempengaruhi perbaikan kondisi umu pasien paska operasi. Faktor Psikososial Hubungan pasien dengan suami dan keluarganya sangat baik. Interaksi dengan tetangga dan teman kerja juga baik. SARAN-SARAN TERHADAP PROBLEM LIST, FISIK BIOMEDIS, DAN BIOPSIKOSOSIAL Pasien disarankan untuk mengurangi aktifitas yang berat setelah menjalani operasi. Pasien dianjurkan untuk makan dengan nutrisi cukup sehingga mempercepat pemulihan kondisi tubuh pasien. KIE pasien tentang operasi yang sudah dijalani pasien, dan keinginan untuk memiliki anak di kemudian hari. Terangkan pada pasien faktor predisposisi terjadinya kehamilan ektopik antara lain infeksi pada genital, kontrasepsi ( khusunya IUD), merokok atau paparan rokok sehingga pasien dapat menghindarinya. Menjelaskan pada pasien tentang pentingnya kontrol saat kehamilan, karena pasien yang pernah mengalami kehamilan ektopik memiliki kemungkina kambuh sekitar 7-15 %. Untuk sementara pasien disarankan tidak berhubungan badan untuk menghindari resiko pendarahan paska operasi.

TERIMAKASIH