Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN GERONTIK HIPERTENSI PADA LANSIA

DIBUAT OLEH : NAMA NIM : BENDI IRA APLONIA MANU : 10160015

PROGRAM STUDI PROFESI NERS STASE KEPERAWATAN GERONTIK UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA 2011

HIPERTENSI PADA LANSIA


a. Definisi

Hipertensi adalah apabila tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg, atau apabila pasien memakai obat anti hipertensi (Slamet Suyono, 2001 dan Arif Mansjoer, 2001). Hipertensi menurut WHO adalah hipertensi jika tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg atau tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Hipertensi adalah peningkatan dari tekanan sistolik standar dihubungkan dengan usia, tekanan darah normal adalah refleksi dari kardiak out put atau denyut jantung dan resistensi puerperal. Hipertensi adalah desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah, hipertensi, berkaitan dengan kenaikan tekanan diastolik, dan tekanan sistolik atau kedua-duanya secara terus menerus.
b. Etiologi

Hipertensi dapat disebabkan oleh interaksi bermacam-macam faktor antara lain: 1. Kelelahan 2. Proses penuaan 3. Keturunan 4. Diet yang tidak seimbang 5. Stress 6. Akibat/ komplikasi dari penyakit hipertensi: Gagal jantung, gagal ginjal, stroke (kerusakan otak), kelumpuhan.
c. Patofisiologi

Komponen-komponen utama pada system kardiovaskuler adalah jantung dan vaskularisasinya. Jantung pada lansia normal tanpa hipertensi atau penyalit klinis tetap mempunyai ukuran yang sama atau menjadi sedikit lebih kecil daripada usia setengah bayi. Secar umum frekuensi denyut jantung menurun, isi sekuncup menurun dan curah jantung berkurang 30-40%. Perubahan juga terjadi pada katup mitral dan aorta, katup-katup tersebut mengalami sklerosis dan penebalan. Endokardium menebal dan terjadi sklerosis, miokard menjadi lebih kaku dan lebih lambat dalam pemulihan kontraktilitas dan kepekaan, sehingga stress mendadak/lama dan takikardia kurang diperhatikan. Peningkatan

frekuensi jantung dalam berespon terhadap stress berkurang dan peningkatan frekuensi jantung lebih lama untuk pengembalian pada kondisi dasar. Untuk mengkompensasi adanya masalah dalam frekuensi jantung, maka isi sekuncup meningkat, sehingga meningkatkan curah jantung yang dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah Penurunan kadar hemoglobin pada lansia mengakibatkan penurunan pada konsentrasi oksigen yang dapat ditransportasi oleh darah sehinga oksigenasui menjadi tidak adekuat. Ditambah lagi dengan masukan diet yang buruk, kondisi psikologis seperti kesepian, serta adanya penyakit kronis dapat menjadi faktor pemberat anemia Perubahan-perubahan normal pada jantung (kekuatan otot jantung berkurang), pembuluh darah (arteriosklerosis;elastisitas dinding pembuluh darah berkurang), dan kemampuan memompa dari jantung harus bekerja keras sehingga terjadi hipertensi. Semua hal tersebut ini berhubungan dengan proses menua dimana dapat mengubah fungsi dan menempatkab para lansia pada resiko terhadap penyakit. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Jantung :
1.

Pada miokardium terjadi brown atrophy disertai akumulasi lipofusin (aging pigment) pada serat-serat miokardium.

2.

Terdapat fibrosis dan kalsifikasi dari jaringan fibrosa yang menjadi rangka dari jantung. Selain itu pada katup juga terjadi kalsifikasi dan perubahan sirkumferens menjadi lebih besar sehingga katup menebal. Bising jantung (murmur) yang disebabkan dari kekakuan katup sering ditemukan pada lansia.

3.

Terdapat penurunan daya kerja dari nodus sino-atrial yang merupakan pengatur irama jantung. Sel-sel dari nodus SA juga akan berkurang sebanyak 50%-75% sejak manusia berusia 50 tahun. Jumlah sel dari nodus AV tidak berkurang, tapi akan terjadi fibrosis. Sedangkan pada berkas His juga akan ditemukan kehilangan pada tingkat selular. Perubahan ini akan mengakibatkan penurunan denyut jantung.

4.

Terjadi penebalan dari dinding jantung, terutama pada ventrikel kiri. Ini menyebabkan jumlah darah yang dapat ditampung menjadi lebih sedikit walaupun terdapat pembesaran jantung secara keseluruhan. Pengisian darah ke jantung juga melambat.

5.

Terjadi iskemia subendokardial dan fibrosis jaringan interstisial. Hal ini disebabkan karena menurunnya perfusi jaringan akibat tekanan diastolik menurun.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada Pembuluh darah :


1.

Hilangnya elastisitas dari aorta dan arteri-arteri besar lainnya. Ini menyebabkan meningkatnya resistensi ketika ventrikel kiri memompa sehingga tekanan sistolik dan afterload meningkat. Keadaan ini akan berakhir dengan yang disebut Isolated aortic incompetence. Selain itu akan terjadi juga penurunan dalam tekanan diastolik.

2.

Menurunnya respons jantung terhadap stimulasi reseptor -adrenergik. Selain itu reaksi terhadap perubahan-perubahan baroreseptor dan kemoreseptor juga menurun. Perubahan respons terhadap baroreseptor dapat menjelaskan terjadinya Hipotensi Ortostatik pada lansia.

3.

Dinding kapiler menebal sehingga pertukaran nutrisi dan pembuangan melambat.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada Darah :


1. 2.

Terdapat penurunan dari Total Body Water sehingga volume darah pun menurun. Jumlah Sel Darah Merah (Hemoglobin dan Hematokrit) menurun. Juga terjadi penurunan jumlah Leukosit yang sangat penting untuk menjaga imunitas tubuh. Hal ini menyebabkan resistensi tubuh terhadap infeksi menurun. Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak

dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,

mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).

d. Pathway
e. Tanda dan gejala

Tanda dan gejala hipertensi pada lansia secara umum adalah : Sakit kepala, Perdarahan hidung, Vertigo, Mual muntahPerubahan penglihatan, Kesemutan pada kaki dan tangan, Sesak nafas, Kejang atau komaNyeri dada Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : 1. Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.

2. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : mengeluh sakit kepala, pusing, lemas, kelelahan, sesak nafas, gelisah, mual muntah, epistaksis, kesadaran menurun.

f.

Komplikasi

Akibat atau komplikasi dari penyakit hipertensi yang dapat terjadi pada lansia adalah : 1. 2. 3. 4. gagal jantung gagal ginjal stroke kelumpuhan.

g. Pemeriksaan penunjang

1. Hemoglobin / hematokrit : Untuk mengkaji hubungan dari selsel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktorfaktor resiko seperti hiperkoagulabilitas dan anemia 2. BUN : Memberikan informasi tentang perfusi ginjal 3. Glukosa : Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi) 4. Kalium serum : Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik. 5. Kalsium serum : Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi 6. Kolesterol dan trigliserid serum : Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler) 7. Pemeriksaan tiroid : Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi 8. Kadar aldosteron urin/serum : Untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab)

9. Urinalisa : Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal atau adanya diabetes. 10. Asam urat : Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi 11. Steroid urin : Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme 12. IVP : Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal, batu ginjal/ureter. 13. Foto dada : Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung 14. CT scan :Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati 15. EKG : Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi
h. Penatalaksanaan 1. Pencegahan Primer

Faktor resiko hipertensi antara lain: tekanan darah diatas rata-rata, adanya hipertensi pada anamnesis keluarga, ras (negro), tachycardi, obesitas dan konsumsi garam yang berlebihan dianjurkan untuk: a) Mengatur diet agar berat badan tetap ideal juga untuk menjaga agar tidak terjadi hiperkolesterolemia, Diabetes Mellitus, dsb. b) Dilarang merokok atau menghentikan merokok. c) Merubah kebiasaan makan sehari-hari dengan konsumsi rendah garam. d) Melakukan exercise untuk mengendalikan berat badan. e) Pencegahan sekunder 2. Pencegahan sekunder dikerjakan bila penderita telah diketahui menderita hipertensi berupa: a) Pengelolaan secara menyeluruh bagi penderita baik dengan obat maupun dengan tindakan-tindakan seperti pada pencegahan primer. b) Harus dijaga supaya tekanan darahnya tetap dapat terkontrol secara normal dan stabil mungkin. Faktor-faktor resiko penyakit jantung ischemik yang lain harus dikontrol. c) Batasi aktivitas

Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi : a. Terapi tanpa Obat Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi : 1) Diet Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
-

Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh Penurunan berat badan Penurunan asupan etanol Menghentikan merokok

2) Latihan Fisik Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah dianjurkan untuk penderita hipertensi. Macam olah raganya yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain. Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan berkisar antara 20 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu 3) Edukasi Psikologis. Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
-

Tehnik Biofeedback Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.

Tehnik relaksasi Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks

4) Pendidikan Kesehatan (Penyuluhan) Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut. b. Terapi dengan Obat Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita. Pengobatannya meliputi : 1) Step 1 : Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor 2) Step 2 : Alternatif yang bisa diberikan : Dosis obat pertama dinaikkan., Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama, Ditambah obat ke 2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator 3) Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh : Obat ke-2 diganti, Ditambah obat ke-3 jenis lain 4) Step 4 : Alternatif pemberian obatnya : Ditambah obat ke-3 dan ke-4, Reevaluasi dan konsultasi dan Follow Up untuk mempertahankan terapi

Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan (perawat, dokter) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan.

2. Pengkajian

1. Aktifitas/ istirahat Gejala Tanda : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton : Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea

2. Sirkulasi Gejala Tanda : Riwayat hipertensi, penyakit jantung koroner aterosklerosis. : Kenaikan tekanan darah, tachycardi, disrythmia, denyutan nadi jelas, bunyi

jantung murmur, distensi vena jugularis 3. Integritas Ego Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah, faktor

stress multiple (hubungan, keuangan, pekerjaan) Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian, tangisan

yang meledak, otot muka tegang (khususnya sekitar mata), peningkatan pola bicara 4. Eliminasi Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi, obstruksi, riwayat

penyakit ginjal ), obstruksi. 5. Makanan/ cairan Gejala : Makanan yang disukai (tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol), mual,

muntah, perubahan berat badan (naik/ turun), riwayat penggunaan diuretik. Tanda : Berat badan normal atau obesitas, adanya oedem.

6. Neurosensori Gejala : Keluhan pusing berdenyut, sakit kepala sub oksipital, gangguan

penglihatan. Tanda : Status mental: orientasi, isi bicara, proses berpikir,memori, perubahan

retina optik. Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman tangan. 7. Nyeri/ ketidaknyamanan

Gejala

: Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, nyeri abdomen/ masssa.

8. Pernafasan Gejala : Dyspnea yang berkaitan dengan aktifitas/ kerja, tacyhpnea, batuk dengan/

tanpa sputum, riwayat merokok. Tanda : Bunyi nafas tambahan, cyanosis, distress respirasi/ penggunaan alat bantu

pernafasan. 9. Keamanan Gejala : Gangguan koordinasi, cara brejalan

3. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul 1. Gangguan rasa nyaman nyeri (sakit kepala) b/d peningkatan tekanan vaskuler

serebral. 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi inadekuat 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. 4. Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistic. 5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan dengan kurangn 6. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah. 7. Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan defisit lapang pandang, motorik atau persepsi.

4. Intervensi keperawatan 1. Nyeri akut b.d agen injury biologis

NOC : control Nyeri Kriteria hasil : Melaporkan ketidanyamanan hilang atau terkontrol. NIC : manejemen nyeri dan analgetik administration 2. Pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi inadekuat

Tujuan

: Setelah tindakan keperawatan selama 4 hari kebutuhan nutrisi klien

terpenuhi secara adekuat Kriteria : - nafsu makan klien meningkat porsi yang disediakan habis klien makan 3 kali dengan kalori yang cukup Dalam waktu 1-2 bulan ada peningkatan BB Intervensi : a. Kaji pengetahuan klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh Rasional : Pengetahuan yang kurang tentang nutrisi mempengaruhi dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi. b. Beri penjelasan tentang pentingnya nutrisi yang adekuat bagi tubuh terutama pada lansia Rasional : Penjelasan yang adekuat akan meningkatkan pemahaman tentang nutrisi c. Anjurkan klien makan sedikit sedikit tapi sering Rasional : meningkatkan asupan makanan d. Anjurkan klien membiasakan makan pagi Rasional : pola yang baik meningkatkan asupan makanan disamping menghindari kekosongan lambung e. Ajarkan jenis-jenis makanan yang harus dikonsumsi oleh usila dan pentingnya tinggi serat bagi tubuh Rasional : dengan mengetahui makanan yang dikonsumsi serta pentingnya serat akan memperbaiki pencernaan usus/proses asorbsi f. Ciptakan lingkungan tempat makan yang nyaman Rasional : lingkungan yang nyaman akan meningkatkan selera makan. g. dampingi klien saat makan Rasional : Mendeteksi asupan makanan klien h. Pantau berat badan klien setiap 2 hari sekali

Rasional : dengan pemantauan BB diketahui peningkatan atau penurunan BB i. Kerjasama dengan petugas panti menu klien lansia yang adekuat Rasional : Sebagai upaya perbaikan menu agar meningkatkan nafsu makan 3. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. Tujuan : tidak terjadi intoleransi aktivitas Kriteria Hasil : Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan atau diperlukan Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur

Intervensi a. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter : frekwensi nadi 20 x/menit diatas frekwensi istirahat, catat peningkatan TD, dipsnea, atau nyeri dada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat, pusing atau pingsan. Rasional : Parameter menunjukan respon fisiologis pasien terhadap stress, aktivitas dan indikator derajat pengaruh kelebihan kerja jantung. b. Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan

kelemahan/kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri. Rasional : Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual. c. Dorong memajukan aktivitas/toleransi perawatan diri. Rasional : Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung. d. Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi/rambut dengan duduk dan sebagainya. Rasional : Teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen

4. Inefektif koping individu b.d mekanisme koping tidak efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistik. Tujuan : klien menunjukkan tidak ada tanda-tanda inefektif koping

Kriteria Hasil : - Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya menyatakan kesadaran kemampuan koping / kekuatan pribadi mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari dan mengubahnya Intervensi a. Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku, Misalnya : kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan. Rasional : Mekanisme adaptif perlu untuk megubah pola hidup seorang, mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari b. Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya Rasional : Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stressor c. Libatkan klien dalam perencanaan perwatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan. Rasional : Keterlibatan memberikan klien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan. Memperbaiki keterampilan koping, dan dapat menigkatkan kerjasama dalam regiment teraupetik 5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakitnya. Tujuan : Klien menunjukkan peningkatan pengetahuan mengenai penyakitnya

Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regiment pengobatan Intervensi a) Kaji tingkat pemahaman klien tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala, pencegahan, pengobatan, dan akibat lanjut.

Rasional : Mengidentifikasi tingkat pegetahuan tentang proses penyakit hipertensi dan mempermudah dalam menentukan intervensi. b) Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko kardivaskuler yang dapat diubah, misalnya : obesitas, diet tinggi lemak jenuh, dan kolesterol, pola hidup monoton, merokok, pola hidup penuh stress dan minum alcohol (lebih dari 60 cc/hari dengan teratur). Rasional : Faktor-faktor resiko ini telah menunjukan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler serta ginjal. c) Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat. Rasional : Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minimal klien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan dan prognosis. Bila klien tidak menerima realitas bahwa membutuhkan pengobatan kontinyu, maka perubahan perilaku tidak akan dipertahankan. d) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit hipertensi (pengertian,penyebab,tanda dan gejala,pencegahan, pengobatan, dan akibat lanjut) melalui penkes. Rasional : Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan klien tentang proses penyakit hipertensi.

6. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah. Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung

Kriteria Hasil : Klien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah/beban kerja jantung Mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat diterima, Memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentang normal pasien

Intervensi a. Observasi tekanan darah Rasional : Perbandingan dari tekanan darah memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan vaskuler. b. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer Rasional : Denyutan karotis, jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati saat palpasi. Denyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokontriksi dan kongesti vena. c. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium, perkembangan S3 menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi, adanya krakels, mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik. d. Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler. Rasional : Adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mencerminkan dekompensasi/penurunan curah jantung. e. Kolaborasi dengan dokter dalam pembrian terapi anti hipertensi dan diuretik. Rasional : Menurunkan tekanan darah. 7. Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan defisit lapang pandang, motorik atau persepsi. Tujuan : Tidak terjadi cidera

Kriteria hasil: Mengidentifikasi faktor yang meningkatkan resiko terhadap cedera. Memperagakan tindakan keamanan untuk mencegah cedera. Meminta bantuan bila diperlukan

Intervensi: a. Lakukan tindakan untuk mengurangi bahaya lingkungan. Rasional : Membantu menurunkan cedera.

b. Bila penurunan sensitifitas taktil menjadi masalah ajarkan klien untuk melakukan: Kaji suhu air mandi dan bantalan pemanas sebelum digunakan. Kaji ekstremitas setiap hari terhadap cedera yang tak terdeteksi. Pertahankan kaki tetap hangat dan kering serta kulit dilemaskan dengan lotion emoltion. Rasional : Kerusakan sensori pasca CVA dapat mempengaruhi persepsi klien terhadap suhu. c. Lakukan tindakan untuk mengurangi resiko yang berkenaan dengan pengunaan alat bantu. Rasional : Penggunaan alat bantu yang tidak tepat atau tidak pas dapat meyebabkan regangan atau jatuh. d. Anjurkan klien dan keluarga untuk memaksimalkan keamanan di rumah. Rasional : Keamanan yang baik meminimalkan terjadinya cidera