Anda di halaman 1dari 20

TATA TERTIB PRAKTIKUM

1. Praktikum harus datang 10 menit sebelum praktikum dimulai. 2. Selama praktikum berlangsung, praktikan harus mengenakan jas praktikum. 3. Tidak diperkenankan makan, minum, merokok dan bersenda gurau di laboratorium selama praktikum berlangsung. 4. Setiap acara praktikum, praktikan harus telah membuat jurnal percobaan yang akan dilakukan. 5. Setelah selesai praktikum, praktikan harus membuat laporan sementara yang diperiksa dan ditanda tangani oleh asisten pembimbing. 6. Laporan resmi praktikum, harusdibuat dan diserahkan kepada asisten sebelum acara praktikum berikutnya dimulai. 7. Apabila belum menyerahkan laporan resmi, maka praktikan tidak diperkenankan melanjutkan acara praktikum berikutnya. 8. Apabila praktikan berhalangan hadir / tidak masuk , diwajibkan memberitahukan dan mohon ijin kepada asisten pembimbing dengan surat. 9. Apabila praktikan tidak mengikuti praktikum selama 3 kali percobaan tanpa keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan melanjutkan praktikum pada semester tersebut. 10. Praktikum wajib menjaga kebersihan laboratorium. 11. Selesai melakukan praktikum, praktikan wajib mengembalikan alat dan bahan. 12. Tiap kelompok wajib membawa kain lap dan kertas tisu. 13. Apabila praktikan merusakkan / memecahkan alat, praktikan harus mengganti sesuai dengan barang yang dirusakkan/ dipecahkan. 14. Hal-hal yang belum tercantum dalam tata tertib ini akan diatur berdasarkan kebijaksanaan asisten.

DAFTAR ISI Percobaan 1 Percobaan 2 Percobaan 3 Percobaan 4 Percobaan 5 Percobaan 6 Percobaan 7 : Penentuan Kadar Protein Secara Titimetri : Penentuan Etanol dalam minuman menggunakan Kromatografi Gas : Ekstraksi dan Analisa Kromatografi Lapis Tipis ( KLT ) Bahan Alam : Pemisahan Bahan Alam dengan Menggunakan Kromatografi Kolom : Penentuan kadar asam ascorbat ( Vit. C ) dengan HPLC : Pemisahan K+ dari H + denagan Kromatografi Penukar Kation : Pemisahan Tembaga (Cu) dari Kobalt (Co) dengan Ekstraksi Kompleks Ditizon dalam pelarut Kloroform

PERCOBAAN 1 PENENTUAN KADAR PROTEIN SECARA TITRIMETRI A. Tujuan Menentukan kadar protein dalam limbah cair tahu secara titrimetri. B. Dasar Teori Protein merupakan suatu zat makanan yang penting bagi tubuh. Protein merupakan sumber asam amino yang mengandung unsure C, H, O ,N. Dalam tubuh manusia protein dapat dipecah menjadi komponen yang lebih kecil yaitu asam amino dan peptida. Analisa protein dapat dilakukan dengan metode Kjeldahl. Nitrogen Kjeldahl adalah jumlah N organis dan N ammonia bebas. Analisa Kjeldahl pada umumnya hanya dilaksanakan pada sampel air yang di duga mengandung zat organis seperti air buangan penduduk, air buangan industri, dan air sungai. Prinsip uji protein adalah mengubah senyawa nitrogen organik dengan asam sulfat pekat dan katalis menjadi garam ammonium yang dengan penambahan basa kuat akan diubah menjadi ammonia yang dibebaskan dan bereaksi dengan asam borat atau asam sulfat membentuk senyawa ammonium. Senyawaan ammonium yang terbentuk dapat ditetapkan dengan spektrofotometri, titrimetri, atau secara elektroda selektif ion. Nitrogen dapat ditemui di setiap badan air dalam bermacam-macam bentuk. Bentuk unsure tersebut tergantung dari tingkat oksidasinya, antara lain NH3, -N2, -NO2-. Biasanya senyawa nitrogen tersebut adalah senyawa terlarut.

Gambar 1. Struktur protein

Gambar 2. Struktur asam amino

Gambar 3. Alat destruksi Kjeldahl

Gambar 4. Alat destilasi Kjeldahl

Gambar 5. Alat titrasi Kjeldahl C. Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. D. Bahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. E. Cara Kerja 1. Destruksi a. Sebanyak 10 ml limbah cair tahu dimasukkan ke dalam erlemnmeyer 250 ml ditambahkan 1,5 gram katalis dan 10 ml H2SO4 pekat. b. Larutan poin a dipanaskan hingga terjadi perubahan warna. c. Larutan poin b didinginkan, kemudian dilanjutkan dengan tahap destilasi. Limbah cair tahu H2SO4 pekat CuSO4.5H2O K2SO4 Aquadest Na2S2O3.5H2O NaOH Asam borat 4 % Indikator mix HCl 0,02 N Seperangkat alat Kjeldahl Erlenmeyer 250 ml , 150 ml Kompor listrik Gelas beaker 100 ml, 150 ml, 250 ml Drag ball Buret asam Pipet volume 10 ml, 25 ml

2. Destilasi a. Sampel yang telah dingin dimasukkan ke dalam labu Kjeldahl 500 ml, selanjutnya ditambahkan 50 ml aquadest dan 50 ml larutan Na2S2O3. 5H2O. b. Destilat ditampung pada Erlenmeyer 150 ml yang telah berisi 10 ml asam borat 4% dan 2 etes indikator mix. 3. Titrasi a. b. Destilat hasil dari tahap destilasi dititrasi dengan HCl 0,02 N hingga diperoleh volume HCl yang dibutuhkan. Dilakukan analisa kadar protein.

F. Perhitungan Kadar Protein = N HCl x V HCl ( sampel-blangko) x 6,25 x 14,007 x 1000 ppm V sampel uji Nilai 6,25 adalah faktor konversi yang diperoleh dari konversi serum albumin yang umumnya mengandung 16 % nitrogen ( Winarno, 2002 ) dan 14,007 adalah massa atom dari nitrogen.

PERCOBAAN II PENENTUAN KADAR ETANOL DALAM MINUMAN MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI GAS ( GC) A. TUJUAN 1. Menjelaskan prinsip kerja GC 2. Menganalisis kandungan etanol dalam minuman menggunakan GC baik secara kualitatif maupun kuantitatif. B. Dasar Teori Kromatografi merupakan metode pemisahan campuran yang didasarkan pada perbedaan distribusi dari komponen campuran dalam dua fase, yaitu fase diam ( stationary ) dan fase gerak ( mobile ). Fase diam dapat berupa zat padat atau zat cair, sedangkan fase gerak dapat berupa zat cair atau gas. Kromatografi gas dapat dipakai untuk setiap campuran dimana semua komponennya mempunyai tekanan uap yang berarti, suhu tekanan uap yang dipakai untuk proses pemisahan. Tekanan uap atau keatsirian memungkinkan komponen menguap dan bergerak bersama sama dengan fase gerak yang berupa gas. Komponen campuran dapat di identifikasikan dengan menggunakan waktu tambat ( waktu retensi ) yang khas pada kondisi yang sesuai. Waktu retensi ( Rt ) adalah waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detector. Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel di injeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu. Analisa kualitatif dapat dilakukan dengan mencocokkan waktu retensi dan similarity indeks ( SI ) kromatogram sampel dengan standar yang akan dianalisis atau dengan metode spiking sampel dengan standar yang akan dianalisis. Sedangkan analisis kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, seperti : 1. Metode standar tunggal atau spiking standar tunggal 2. Metode kurva kalibrasi atau kurva standar 3. Metode standar addisi C. Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. D. Bahan 1. Etanol 2. Sampel Seperangkat alat GC dengan detector UV-254 nm, kolom 18 Syringe 10 l Pipet ukur 10 ml Pipet tetes Erlenmeyer 150 ml Glas firn Gelas beaker 100 ml

E. Cara Kerja 1. Panaskan alat GC selama beberapa jam sebelum digunakan untuk menstabilkan alat dan mencuci kolom dengan eluen yang akan digunakan selama pemanasan. 2. Injekskan larutan etanol standar ( Larutan A ) dengan konsentrasi tertentu ke dalam tempat sampel GC menggunakan syringe dengan eluen gas yang tersedia. 3. Catat tR , intensitas, dan hitung luas permukaan peak utama dari kromatogram standar tersebut. 4. Injeksikan larutan sampel yang mengandung etanol ( Larutan B ) dengan eluen dan kondisi yang sama. 5. Tambahkan 1 ml Larutan A dan 9 ml Larutan B 6. Injeksikan campuran Larutan tersebut ke dalam GC menggunakan eluen dan kondisi yang sama. 7. Analisalah kromatogram yang diperoleh. 8. Hitung kadar etanol dalam sampel. F. Perhitungan

atau

Dimana : A = Luas permukaan peak I = Intensitas C = Konsentrasi

PERCOBAAN III EKSTRAKSI DAN ANALISA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS ( KLT ) BAHAN ALAM A. Tujuan 1. Mengekstaksi senyawa-senyawa kimia dari bahan menggunakan ekstraksi cair-cair atau padat-cair. 2. Menganalisis Ekstrak bintangur dengan menggunakan KLT

alam

dengan

B. Dasar Teori Ekstraksi merupakan salh satu metode pemisahan kimia berdasarkan atas perbedaan distribusi komponen sampel di dalam 2 pelarut dengan sifat kepolaran yang berbeda. Maserasi merupakan salah satu metode ekstraksi padat cair yang dilakukan dengan jalan perendaman bahan dengan pelarutnya. Waktu perendaman dalam pelarut yang digunakan juga cukup besar, berkisar antara 10 20 kali jumlah sampel. C. Alat 1. Corong pisah 2. Erlenmeyer 3. Gelas beaker 4. Gelas ukur 5. Pipet tetes 6. Lampu UV 7. Chamber 8. Penyemprot KLT D. Bahan 1. Serbuk bintangur 2. Metanol 3. Kertas saring 4. N-heksan 5. Etil asetat 6. Cerium sulfat 7. Plat KLT

Gambar 1. Ilustrasi teknik metode KLT

Gambar 2. Contoh hasil pemisahan dengan KLT dari buah alam

E. Cara Kerja 1. Serbuk bintangur di maserasi selama 30 menit dengan menggunakan methanol, kemudian disaring dan diekstraksi dengan n-heksan. 2. Ambil fase n-heksan kemudian dievaporasi sehingga sehingga memperoleh Ekstrak kental. Catat berapa banyak Ekstrak kental tersebut. 3. Lakukan analisa dengan KLT Ekstrak kental tersebut dengan menggunakan eluen n-heksan dan etil asetat. 4. Tandai noda yang nampak saat dilihat dengan lampu UV. Semprot plat dengan cerium sulfat dan keringkan. 5. Hitung Rf dari masing-masing noda yang nampak.

PERCOBAAN IV PEMISAHAN BAHAN ALAM DENGAN MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI KOLOM A. Tujuan Melakukan pemisahan komponen-komponen hasil ekstraksi metanol dengan menggunakan kromatografi kolom.

B. Dasar Teori Kromatografi kolom merupakan jenis kromatografi serapan yang didasarkan pada distribusi zat diantara padatan penyerap (fasa diam) dan pelarut (fasa gerak). Kromatografi dapat digunakan untuk memisahkan senyawa dalam jumlah yang cukup banyak. Kolom kromatografi dapat berupa tabung kaca yang dilengfkapi dengan kran pada salah satu ujungnya. Ukuran kolom biasanya berdiameter 1-5 cm dan panjangnya 10-100 cm. Perbandingan ukuran antara diameter dengan panjang kolom ditentukan oleh kesukaran pemisahan.

C. Alat 1. Kolom 2. Corong gelas 3. Gelas beker 4. Gelas ukur 5. Pipet tetes 6. Pipa kapiler 7. Chamber 8. Penyemprot klt 9. Lampu UV

D. Bahan 1. Silika gel 2. N-heksan 3. Cerium sulfat 4. Ekstrak N-hesan bintangur 5. Plat KLT 6. Etil Asetat 7. Kertas Saring

Gambar 3. Ilustrasi kolom kromatografi

E. Cara Kerja

1. Ekstrak N-heksan dilakukan kromatografi kolom dengan menggunakan eluen N-helsan dan etil asetat dengan perbandingan tertentu dari hasil KLT awal. 2. Eluat ditampung pada flakon flakon kemudian masing-masing eluat dianalisis dengan KLT dengan eluen N-heksan dan etil asetat.

PERCOBAAN V PENENTUAN KADAR ASAM ASKORBAT (VIT. C) DENGAN HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAFY (HPLC) A. Tujuan 1. Mempelajari prinsip kerja dari HPLC 2. Mengetahui komponen-kemponen dari HPLC 3. Dapat melakukan analisis kuantitatif asam askorbat menggunakan HPLC fase balik

B. Dasar Teori High Performance Liquid Chromatografy atau kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC)merupakan salah satu contoh kromatografi cair. Pemisahan dalam HPLC

normalnya lebih efisien dan tidak membutuhkan kolom yang panjang. Proses pemisahan komponen-komponen dalam suatu sampel dengan menggunakan HPLC dibutuhkan tekanan yang cukup tinggi sehingga proses pemisahannya lebih sempurna dan cepat. Analisa kualitatif dapat dilakukan denganmencocokan waktu retensi dan similarity indeks (SI) kromatogram sampel dengan standard yang akan dianalisis atau denagn standarad yang akan dianalisa. Sedangkan analisis kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, seperti : 1. 2. 3. Metode standard tunggal atau spiking standard tunggal Metode kurva kalibrasi/kurva standard Metode standard adisi

C. Alat 1. HPLC denagn detektor UV 254 Vnm, kolom C18 2. Syringe 50 l 3. Erlenmeyer 4. Neraca Analitik 5. Pipet volume 10 ml

D. Bahan 1. Asm askorbat standar 2. Asam askorbat sampel 3. Metanol 4. Aquabides

E. Cara Kerja 1. Panaskan alat HPLC selama bebrapa jam sebelum digunakan untuk menstabilkan alat 2. Cuci kolom dengan eluen yang akan digunakan selama pemanasan 3. Larutkan 0,1 gram asam askorbat standard dalam 100 ml aquabides atau metanol (Larutan A) 4. Injeksikan larutan asam askorbat standard tersebut ke dalam tempat sampel HPLC menggunakan syirenge denga eluen metanol:aquabides (70:30)
5. Catat TR, intensitas dan hitung luas permukaan peak utama dari kromatogram standard

tersebut 6. Larutkan 0,1 gram sampel yang mengandung asam askorbat (Vit. C) dengan 100 ml aquabides atau metanol kemudaian disaring (Larutan B).

7. Injeksikan sampel tersebut ke dalam tempat sampel HPLC menggunakn syringe dengan eluen dan kondisi yang sama. 8. Tambahkan 10 ml larutan A ke dalam A ke dalam 90 ml larutan B. 9. Injeksikan campuran larutan tersebut ke dalam HPLC menggunakan eluen dan kondisi yang sama 10. Analisalah kromatogram yang diperoleh dan hitung kadar asam askorbat dalam sampel.

atau

PERCOBAAN VI PEMISAHAN TEMBAGA (Cu) DARI KOBALT (Co) DENGAN EKSTRAKSI KOMPLEKS DITIZON DALAM PELARUT KLOROFORM

A. Tujuan 1. Mengetahui dasar-dasar pemisahan dengan tehnik ekstraksi cair-cair 2. Memisahkan tembaga dari kobalt berdasarkan perbedaan kemampuan pembentukan kompleks dengan ditizon pada tiga titik pH berbeda dengan ekstraksi cair-cair
3. Menentukan rendemen Cu yang terambil pada ekstraksi cair-cair dan menentukan

interferensi Cd yang ikut terekstrak ditizon pada tiga titik pH yang berbeda.

B. Dasar Teori Ditizon (1,5 difenil-3-mercatoformosom) merupakan salah satu pereaksi organik yang cukup luas penggunaannya dalam proses ekstraksi. Ditizon merupakan sebnyawa yang berbentuk kristal, dengan warna hitam keunguan mempunyai 2 bentuk tautomer dan merupakan asam lemah monobosa dengan harga pKa = 4,5. Beberapa ion logam yang dapat membentuk kompleks dengan ditizon antara lain adalah:Ag+, Au+, Ca+, Cd+, Co+, Fe+, Hg+, Zn+. Kompleks yang terjadi adalah tidak bermuatan sehingga memungkinkan untuk terekstrak ke fasa organik pada proses ekstraksi pelarut.

Gambar 1. Struktur Ditizon

Gambar 2. Pemisahan logam-komplek dengan corong pisah

Pada pemisahan ekstraksi, ion logam (Mn+) yang larut dalam pelarut polar harus dikomplekskan dalam bentuk senyawa yang tidak bermuatan agar bisa terakstrak ke dalam pelarut non polar (kloroform). Reaksi pembentukan kompleks dapat ditulis sebagai berikut:

Dimana Mn+ adalah ion logam dan HR adalah ligan.

Dimana Keks adalah koefisien ekstraksi. Bila perbandingan distribusi (D) adalah

Sehingga

Dengan membuat kurva log D vs pH akan didapat informasi harga Keks, serta banyaknya mol ligan yang bersenyawa per mol Mn+. Daerah optimum pengambilan Mn+ dapat dicari dengan membuat kurva %E vs Ph.

Berdasarkan penelitian dari Sung (2001) Cu (II) dapat membentuk kompleks dengan ditizon pada pH tertentu sedangkan Cd (II) tidak dapat membentuk kompleks pada keadaan tersebut. Disamping itu, pada pH yang lain kedua logam tersebut dapat terambil kedua-duanya dengan fraksi kedua logam berbeda. Dengan demikian pemisahan dapat dilakukan dengan cara ekstraksi cair-cair dikarenakn kompleks Cuditizon dpat larut didalam kloroform sedangkan Co dalam bentuk ion akan tetap berada didalam fasa air. Randemen (%) banyaknya Co yang terambil dengan cara ekstraksi cair-cair dapat ditentukan dengan rumus:

C. Alat 1. Voltametri Metrohm 2. pH meter 3. Pengaduk magnet 4. Neraca magnet 5. Neraca analitik 6. Corong Pisah 7. Hair Dryer

D. Bahan 1. Larutan HCl (1:1) 2. NaOH 3. Larutan Ditizon 0,01 M dalam kloroform 4. Larutan tembaga 0,1 M 5. Larutan Kobalt 0,1 M

E. Cara Kerja
1. Buatlah 3 buah sampel yang mengandung 0,01 M CuCl2 dan 0,01 M CoCl2 sebanyak

masing-masing 10 ml dalam labu ukur 25 ml, aturlah pH masing-masing 2, 6, dan 8 setelah dilakukan pengenceran sampai batas dengan penambahan asam/basa.

2. Kemudian pindahkan ketiga larutan sampel tersebut keadaan erlenmeyer 50 ml. 3. Tambahkan masing-masing sampel tersebut dengan ditizon 0,01 M dalam kloroform sebanyak 10 ml pada masing-masing larutan dalam erlenmeyer. 4. Lakukan ekstraksi terhadap sampel yang mempunyai pH 2 tersebut dengan corong pisah (lakukan pengicokan sampel kurang lebih 10 menit untuk masing-masing ekstraksi). 5. Diamkan beberapa saat agar fasa air dan fasa organik kelihatan jelas memisah dan ambil fasa organiknya.
6. Kedalam bagian fasa organik, tanbahkan asam pekat sedikit-demi sedikit, sambil

dipnaskan sampai semua kloroform menguap. (kloroform berbahaya, jauhkan penciuman anda waktu memanaskan). Encerkan dengan aquades hingga volume 25 ml dengan menggunakan labu ukur. 7. Lakukan analisis kandungan tembaga dan kobalt dari larutan aquadest tersebut dengan menggunakian instrumen voltametri secara adsi standar. 8. Lakukan juga ekstraksi dan analisis tembaga dan kobalt dari sampel pada pH 6 dan pH 8. 9. Tentukan persentae rendemen tembaga terekstrak dan fraksi tembaga terekstrak dari ekstrasi cair-cair dengan pengompleks ditizon tersebut diatas dari sampel pH 2, pH 6, dan pH 8.

E. Tugas

1. Jelaskan prinsip pemisahan Cu dan Co dengan ekstraksi kompleks ditizon dalam kloroform! 2. Gambarkan bentuk kompleks Ditizon-Cu!
3. Apa pengaruh penambahan HCl (1:1) dalam fasa organik?