Anda di halaman 1dari 22

Rekomendasi

Kebijakan UMKM di Indonesia


Oleh: Dr. T. M. Zakir Machmud Pengantar oleh: Atte Sugandi Aboel (Anggota DPR RI Komisi VI)

Rekomendasi Kebijakan UMKM di Indonesia


Dr. T. M. Zakir Machmud

Penerbit Friedrich-Naumann-Stiftung fur die Freiheit

Rekomendasi Kebijakan UMKM di Indonesia


Penulis : Dr. T. M. Zakir Machmud Pengantar Oleh : Atte Sugandi Aboel (Anggota DPR RI Komisi VI) Desain cover & tata letak: Freshwater Communication Dicetak di Indonesia. Penerbit: Friedrich-Naumann-Stiftung fr die Freiheit, Indonesia Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dipersilakan mengutip atau memperbanyak sebagian isi buku ini dengan seizin tertulis dari penulis dan/atau penerbit. Indeks ISBN: 978-979-1157-32-2 Copyright 2011. Friedrich-Naumann-Stiftung fr die Freiheit Jl. Rajasa II No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta 12110 Tel.: 62-21-7256012-13 Fax: 62-21-7203868 E-mail: Indonesia@fnst.org www.fnsindonesia.org

Pengantar
PADA JUNI 2010, Friedrich-Naumann-Stiftung (FNS) mengundang sekelompok kecil yang terdiri dari anggota DPR RI, pengamat ekonomi, dan staff ahli DPR RI, Kamar Dagang Indonesia (KADIN), serta Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Mikro dan Menengah, untuk melakukan kunjungan perkenalan dan dialog ke Jerman, terkait dengan Usaha Kecil dan Menengah, serta Kebijakan Ekonomi Mikro Pemerintah Republik Federal Jerman. Saya bersama enam orang lainnya selama satu minggu lebih melakukan dialog dan bertukar pikiran, berkunjung ke berbagai institusi pelaku usaha kecil, mikro dan menengah di Jerman, serta berbagai institusi yang relevan terkait dengan kebijakan UMKM di Jerman. Kunjungan dan dialog tersebut antara lain dilakukan dengan Komisi di Parlemen Jerman yang khusus menangani persoalan UMKM, kementerian pemerintah yang menangani kebiajakan UMKM, pemerintah daerah, pusat-pusat pelatihan pengembangan UMKM, lembaga keuangan, dan beberapa perusahaan yang berkembang, berasal dari UMKM. Bagi Jerman, sektor Mittelstand, yang sama artinya dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), merupakan sektor ekonomi yang cukup penting karena ia menyerap hampir 70% tenaga kerja. Umumnya Mittelstand merupakan perusahaan yang berbasis keluarga, sehingga keputusan yang diambil bisa dengan mudah dan fleksibel.

iii

Namun yang lebih penting adalah melihat bagaimana dukungan yang diberikan oleh pemerintah federal dan parlemen Jerman terhadap sektor usaha ini. Saat berkunjung ke sebuah daerah setingkat kabupaten di Jerman, Kabupaten Teltow-Flming, kami berdialog mengenai wilayah-wilayah usaha-usaha perekonomian dan perluasan dari berbagai struktur perekonomian yang ada di kabupaten tersebut, pembangunan infrastruktur transportasi, pengembangan pariwisata regional, dan sebagainya. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ditempatkan dalam sebuah koridor pembangunan regional, bahkan terkait pula dengan pembangunan infrastruktur komunikasi seperti broadband internet, yang memberi kemudahan para pelaku usaha kecil, mikro dan menengah melakukan komunikasi. Indonesia sendiri perlu belajar banyak terkait dengan upaya peningkatan peran UMKM dalam pembangunan ekonomi nasional, terutama terkait dengan pembukaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan serta pembangunan ekonomi regional. Pemerintah dapat berperan lebih signifikan, seperti halnya di banyak negara, dengan justifikasi dan kadar yang berbeda-beda. Konsep dan paradigma terkait dengan peran pemerintah dalam memberdayakan UMKM harus tetap berpedoman pada prinsip membangun kemandirian ekonomi. Kebijakan tersebut harus direalisasikan dalam bentuk-bentuk kebijakan yang kondusif dan tidak menciptakan ketergantungan yang baru. Perlu sebuah penawaran pengembangan untuk badan usaha UMKM yang sedang berkembang, yang diberikan kepada pemerintah. Selain itu, pemerintah dapat pula memerankan fungsi bagi konsolidasi dan penangulangan masalah keuangan pada badan usaha yang sudah berdiri. Hal-hal inilah yang dirasa masih kurang dan perlu ditingkatkan lebih serius. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah perlu terkait dengan berbagai promosi di sektor yang lain, sektor pariwisata misalnya. Hal tersebut perlu dilakukan guna menciptakan peluang lapangan kerja yang

iv

lebih luas dan pasar produk UMKM yang lebih besar. Pelaku UMKM perlu mendapat pemahaman dasar mengenai prinsip-prinsip dasar dan pengembangan cabang usaha yang mereka miliki. Beberapa program atau kebijakan yang menyangkut aspek teknis produksi terkait UMKM seperti pengembangan Pusat Industri Kecil (PIK), Program Input Bersubsidi, Pelatihan Manajemen dan Teknologi, Pusat Inovasi UKM, Bantuan Pengawasan Kualitas, Program Bapak Angkat, Program BIPIK dan sebagainya perlu diberdayakan lebih baik. Sementara itu tak kalah pentingnya Mensinerjikan program-program yang terkait aspek teknis dengan program yang terkait aspek ekonomi seperti beberapa program atau kebijakan yang pernah diluncurkan mencakup beragam bentuk kredit bersubsidi (KIK, KMKP KUK, KUPEDES, LPDB, KKMB KUR), di bidang pemasaran di antaranya meliputi: Pusat Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI), Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), Business Development Services (BDS), Klinik Konsultasi Bisnis, Sistem Inkubator, Koperasi di Sentra-sentra Industri KOPINKRA, Akses Internet WARSI, Optimalisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan skim lainnya. Satu hal yang tak kalah penting adalah koordinasi, sinergi dan sinkronisasi langkah kebijakan yang diambil antar instansi terkait di tingkat pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Tumpang tindih atau benturan kebijakan antar kementerian harus dihilangkan, guna menghasilkan kebijakan yang lebih efektif.

Jakarta, 7 Juli 2011 Atte Sugandi Aboel Anggota DPR RI Komisi VI Fraksi Partai Demokrat

Rekomendasi Kebijakan UMKM di Indonesia


1. Beberapa Catatan dan Rekomendasi Kebijakan UMKM di Indonesia Mengingat peran pentingnya bagi perekonomian nasional, terutama dari perspektif kesempatan kerja, pengentasan kemiskinan serta pembangunan ekonomi regional, adalah suatu yang wajar apabila pemerintah berpihak pada UMKM. Hal seperti ini juga terjadi dibanyak negara, walaupun dengan justifikasi yang berbeda-beda. Namun konsep dan paradigma keberpihakan ini seyogyanya tetap berpedoman pada prinsip kemandirian ekonomi dan direalisasikan dalam bentuk langkah-langkah kebijakan yang kondusif dan konstruktif bagi pengembangan UMKM secara menyeluruh. Sejatinya, keberpihakan terhadap UMKM sudah dilakukan sejak lama oleh pemerintah Republik Indonesia (RI). Terbukti dari banyaknya kebijakan UMKM yang telah dilaksanakan dan mencakup segala aspek baik yang bersifat teknis dan manajemen produksi, finansial, maupun pemasaran.1 Walaupun
 l: P I Kcl (PIK), P I , Plh

ada sejumlah keberhasilan, namun sampai saat ini keberpihakan tersebut secara umum masih belum mampu menunjukan hasil sesuai dengan harapan. Isu-isu yang berkaitan dengan UMKM masih saja menjadi bahan perdebatan yang cukup menyedot perhatian banyak pihak. Berbagai kendala klasik baik dari sisi internal (teknis produksi) maupun sisi eksternal (bisnis) masih sering dijumpai. Tentunya kenyataan ini menimbulkan pertanyaan mendasar yakni seberapa efektifkah kebijakan yang selama ini telah ditempuh? Mengapa hal ini masih terjadi? Terkait dengan kondisi ini ada beberapa catatan khusus yang mengemuka terhadap kebijakan UMKM selama ini: a. Langkah kebijakan yang ditempuh selama ini terkesan masih bersifat parsial, tidak komprehensif dan terintegrasi, atau hanya fokus pada salah satu aspek. Misalnya, titik berat kebijakan pengembangan UMKM saat ini hanya terfokus pada Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan (sepertinya) melupakan aspek lainnya. b. Bukan itu saja, langkah kebijakan yang selama ini ditempuh juga terkesan bersifat seragam dan digeneralisir (one size fits all policy), padahal karakteristik UMKM sangat bervariasi, misalnya dalam hal skala usaha, sektor usaha, bentuk badan usaha, tujuan usaha, orientasi penjualannya, dll. Tentunya ini membawa implikasi bahwa kebijakan/bantuan/fasilitas yang dibutuhkan akan berbeda-beda sesuai dengan karakteristik masing-masing usaha.
M Tl, P Iv UKM, Pw Kl, P A, P IPIK ll. S , h lc c (KIK, KMKP KUK, KUPEDES, LPD, KKM KUR), l: P Plh E I (PPEI), I T P C (ITPC), Dvl Svc (DS), Kl Kl , S I, K S I KO PINKRA, A I WARSI, ll.

c.

d.

e.

f.

Koordinasi, sinergi dan sinkronisasi langkah kebijakan yang diambil antar instansi terkait di tingkat pemerintah pusat masih lemah. Masih sering dijumpai tumpang tindih atau benturan kebijakan antara satu instansi dengan instansi lainnya sehingga berujung pada inefektifitas kebijakan. Bukan hanya di tingkat pusat, lemahnya koordinasi, sinergi dan sinkronisasi langkah kebijakan juga terjadi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Seringkali keputusan yang ada di pusat tidak dapat direalisasikan dengan baik di daerah. Minimnya upaya terobosan dalam merancang mekanisme implementasi kebijakan yang lebih kongkrit dan aplikatif di lapangan. Kebijakan yang ditempuh selama ini masih menggunakan cara-cara yang relatif konvensional. Belum tersedianya tolok ukur atau kriteria evaluasi yang jelas atas keberhasilan atau kegagalan suatu langkah kebijakan yang diambil.

Berangkat dari catatancatatan tersebut diatas, dapat ditarik benang merah bahwa kelemahan kebijakan UMKM selama ini terletak pada aspek manajemen atau pengelolaan kebijakannya, terutama aspek variasi, koordinasi dan monitoring evaluasi kebijakan yang ada, dibanding aspek isi (content) kebijakannya. Dengan dasar pemikiran ini, maka upaya revitalisasi kebijakan UMKM jangka pendek maupun menengah seyogyanya lebih difokuskan pada pembenahan manajemen dan pengelolaannya yang bersifat across the board daripada fokus pada isi dan materi kebijakannya itu sendiri. Untuk itu, ada beberapa rekomendasi kebijakan yang bisa diajukan di antaranya meliputi: 1. Kebijakan pengembangan UMKM yang ditempuh harus mengedepankan kombinasi antara kebijakan vertikal yang bersifat memperkuat aspek teknis produksi dan hubungan struktural usaha dengan dan kebijakan horizontal yang bersifat

menciptakan iklim bisnis maupun persaingan yang kondusif dan implementasinya dilaksanakan secara bersamaan. 2. Sejalan dengan ini, perlu dipikirkan untuk merancang kebijakan UMKM yang mempertimbangkan dan disesuaikan dengan variasi karakteristiknya. Umpamanya perlu ada skema kredit/ bantuan/fasilitasi khusus untuk UKM yang terlibat dalam jejaring produksi yang berbeda dengan UKM usaha mandiri yang menjual produknya langsung ke konsumen. Juga perlu ada pembedaan bantuan/fasilitas terhadap UMKM yang bergerak di sektor industri manufaktur dengan yang bergerak di sektor jasa perdagangan, misalnya. Untuk itu, kerjasama dan koordinasi aparat Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Mikro dan Menengah (KUKM) dengan aparat kementerian teknis baik di level pemerintah pusat maupun daerah merupakan prasyarat utamanya. 3. Perlu ada pola koordinasi dan sinkronisasi baru di tingkat pemerintah pusat terhadap pelaksanaan kebijakan UMKM yang bersifat multisektoral (mencakup beragam aspek dan melibatkan berbagai institusi). Bentuk koordinasi yang ada sekarang kurang efektif karena dilakukan oleh instansi pada tingkat yang sejajar (Kementerian KUKM). Untuk itu ada baiknya dipikirkan alternatif melakukan koordinasi dan sinkronisasi kebijakan di level yang lebih tinggi dengan memanfaatkan institusi yang sudah ada, seperti misalnya kantor Kementerian Koordinator Perekonomian atau kantor Wakil Presiden. 4. Terkait dengan poin di atas, perlu ada redefinisi posisi Kementerian KUKM. Tugas pokok dan fungsi Kementerian KUKM sebaiknya lebih difokuskan sebagai perancang kebijakan strategis KUKM, dan bukan lagi sebagai institusi pelaksana di lapangan.

Kementerian ini merancang grand strategi KUKM untuk masa mendatang, menentukan target-target pencapaian, memberikan panduan kriteria seleksi UMKM yang dapat dibantu hingga menentukan indikator keberhasilan suatu program kebijakan, dan menyerahkan wewenang pelaksanaan di lapangan kepada kementerian teknis terkait. Peran dan keterlibatan pemerintah daerah setempat secara langsung dalam upaya pengembangan UMKM harus diberikan porsi yang lebih besar lagi seiring dan konsisten dengan kebijakan otonomi daerah. Dalam implementasinya, pemerintah daerah terus didorong untuk mengembangkan sentra (cluster) UMKM didaerahnya yang diselaraskan dengan karakteristik dan kekuatan sektor ekonomi yang ada di daerah bersangkutan. Selanjutnya, upaya pengembangan UMKM di daerah dilakukan dengan melibatkan dan memberdayakan berbagai institusi yang sudah ada seperti Bank Pembangunaan Daerah (BPD), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Kamar Dagang dan Industri Daerah (KADINDA), dan LSM-LSM daerah, karena mereka inilah yang lebih memahami situasi dan kondisi dilapangan. Di sisi lain, pemerintah pusat melalui Kementerian KUKM selain dapat memberikan arahan target pencapaian maupun pengukuran indikator keberhasilan program secara umum sebagai acuan bagi para penyelenggara kegiatan di daerah, juga dapat membantu dengan mengalokasikan dan menyalurkan bantuan pendanaan kepada pemerintah daerah dengan memanfaatkan mekanisme dana transfer seperti Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Dana Dekon TP) yang dipertanggungjawabkan. 6. Pemerintah pusat maupun daerah harus semakin memperbesar keterlibatan peran aktif institusi non-pemerintah (swasta), baik berupa komunitas bisnis, lembaga keuangan baik bank maupun non-bank, lembaga pendidikan, lembaga penelitian 10

dan pengembangan, termasuk LSM dalam upaya menumbuhkembangkan UMKM. Dalam pelaksanaannya, pemerintah pusat maupun daerah perlu memfasilitasi institusi-institusi tersebut dengan menciptakan iklim dan regulasi yang kondusif serta konstruktif ataupun dengan menyiapkan sistem insentif bagi institusi tersebut. Umpamanya mempermudah izin pendirian sarana pendidikan dan ketrampilan usaha oleh swasta guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil, atau melibatkan asosiasi pengusaha dalam pembuatan kurikulum sekolah-sekolah kejuruan agar sesuai dengan kebutuhan dunia bisnis. Upaya lainnya misalnya mendorong munculnya pusat-pusat kajian UMKM atau inkubator bisnis di berbagai universitas lokal. 7. Perlu terus digali upaya-upaya terobosan yang kongkrit dan aplikatif dalam menemukan solusi kebijakan pengembangan UMKM. Penggunaan berbagai skema risk sharing seperti (Public Private Partnership PPP) bisa menjadi salah satu alternatif. Kongkritnya, dengan melibatkan pihak swasta, pemerintah daerah dapat membentuk badan usaha daerah (BUMD) untuk mengembangkan dan mengelola sentra (cluster) industri UMKM didaerahnya secara profesional, atau mendirikan trading house guna menjembatani hubungan kerjasama dengan industri terkait yang ada. BUMD ini nantinya bisa meningkatkan kapasitas permodalannya guna perbaikan servis kepada UMKM. Berbagai bentuk skema penjaminan usaha juga perlu dikaji lebih jauh. Misalnya, selain penjaminan aset seperti program KUR, penjaminan dalam bentuk kelangsungan berusaha dari perusahaan induk juga bisa diperkenalkan dan lebih disosialisasikan. 2. Kerangka Kebijakan UMKM Secara umum, kerangka kebijakan yang ada sekarang sebenarnya sudah cukup memadai. Setidaknya ada dua aspek krusial yang 11

menjadi titik tolak dalam kebijakan pengembangan UMKM di Indonesia. Pertama, aspek teknis produksi yang di antaranya mencakup standarisasi produk, teknologi, inovasi, manajemen produksi, produktivitas tenaga kerja, dll. Kedua, aspek ekonomi yang di antaranya meliputi finansial, penjaminan, pemasaran, networking, logistik, persaingan usaha, dll. Kedua aspek ini saling terkait satu dengan lainnya dan bersifat lintas sektoral. Penguatan hanya pada salah satu aspek saja akan membuat kebijakan pengembangan UMKM menjadi timpang dan kurang efektif. Dengan dasar kerangka pemikiran diatas, kedua aspek diatas dijabarkan menjadi empat elemen dasar yang penting. Keempat elemen ini terdiri dari: (i) pendidikan dan pelatihan, (ii) penelitian dan pengembangan, (iii) komersial dan bisnis, dan (iv) finansial. Dua elemen pertama merupakan penjabaran kongkrit dari aspek teknis produksi, sementara dua sisanya adalah perwujudan dari aspek ekonomi. Elemen pendidikan dan pelatihan membutuhkan peran serta sekolah kejuruan, universitas, korporasi, maupun LSM sebagai pelaksana dan bertujuan untuk menghasilkan wirausahawan dan/atau tenaga kerja terampil yang memiliki produktifitas tinggi. Kewenangan teknis untuk urusan ini berada di bawah Kementerian Pendidikan Nasional (DIKNAS). Sedangkan elemen penelitian dan pengembangan memerlukan keterlibatan aktif dari universitas, lembaga penelitian milik swasta ataupun pemerintah (seperti LIPI dan BPPT) sebagai implementornya dan memiliki tujuan untuk pengembangan kapasitas teknologi dan inovasi UMKM. Kementerian Pendidikan Nasional (DIKNAS) dan Kementerian Riset dan Teknologi (RISTEK) adalah dua insititusi yang memiliki kewenangan teknis untuk urusan ini. Elemen bisnis dan komersial pada intinya memiliki tujuan utama untuk membantu UMKM dalam menciptakan iklim berusaha yang kondusif. Untuk itu, diwujudkan melalui par12

tisipasi KADIN, asosiasi bisnis, maupun korporasi, sebagai representasi pihak swasta dan keterlibatan kementerian teknis seperti perindustrian, perdagangan, pertanian, pariwisata, kehutanan, dan kementerian lainnya sebagai institusi yang berwenang. Sementara elemen finansial melibatkan lembaga keuangan baik perbankan maupun non-perbankan (modal ventura, asuransi, maupun kredit mikro) sebagai channeling agent dan bertujuan untuk mendukung pengembangan bisnis UMKM. Di sini, Bank Indonesia (BI) selaku pengawas perbankan, dan Kementerian Keuangan (BAPEPAM-LK) sebagai pengawas lembaga keuangan non-bank (asuransi, modal ventura, leasing, lembaga kredit mikro) memiliki kewenangan teknis. Agar efektif, keempat elemen dasar tadi memerlukan payung aturan perundangan dan regulasi dari lembaga eksekutif (pemerintah pusat maupun daerah) beserta lembaga legislatif (DPR maupun DPRD). Ketika kerangka ini diimplementasikan terutama di daerah-daerah maka sejalan dengan kebijakan desentralisasi, keterlibatan Kementerian Dalam Negeri menjadi penting. Secara sederhana kaitan antar elemen terhadap pengembangan UMKM bisa dilihat pada gambar dibawah.

G. K A El Dl R P UMKM

13

Kerangka pikir diatas mensyaratkan adanya keterkaitan antar elemen (lintas sektoral) yang cukup erat satu dengan lainnya, sehingga sangat dibutuhkan koordinasi dan sinkronisasi kebijakan yang kuat. Sebenarnya hal ini disadari oleh pemerintah, hanya saja tidak bisa diimplementasi dengan baik, karena berbagai alasan. Dengan memperhatikan tatanan seperti ini, agak sulit rasanya bagi Kementerian KUKM untuk dapat memegang kendali sebagai koordinator bagi kebijakan pengembangan UMKM seperti yang diamanatkan oleh tugas pokok dan fungsi dari institusi. Apalagi masing-masing kementerian teknis memiliki unit maupun anggaran program pengembangan UMKM tersendiri.2 Oleh karena itu, dengan tetap mempertimbangkan tatanan yang ada sudah seyogyanya dilakukan Pengkajian ulang terhadap posisi Kementerian KUKM agar terhindar dari tumpang tindih kebijakan. Salah satu alternatif jangka pendek yang paling realistis dan perlu dipertimbangkan adalah mengubah fungsi Kementerian KUKM supaya fokus pada fungsi sebagai pembuat grand design kebijakan pengembangan UMKM secara umum, dan menyerahkan wewenang teknis pembinaan dan pengembangan kepada institusi teknis terkaitnya. Dengan dasar grand design tersebut, Kementerian KUKM bekerja sama dengan kementerian teknis maupun pihak swasta, merancang kebijakan dan program strategis sektoral, menentukan target pencapaian, kriteria seleksi hingga indikator kinerja utama (key performance indicators). Dengan begini peran dari Kementerian KUKM menjadi lebih cair (fluid) dan fleksibel sehingga bisa masuk ke segala elemen, tanpa harus terlibat dengan hal-hal teknisnya. Misalnya, bersama-sama
2 M f l l FNS l A 200, 7 l UMKM , l KUKM, l ll c R. 20 l.

14

dengan Kementerian Pendidikan Nasional (DIKNAS) serta melibatkan pihak swasta (KADIN, Asosiasi Bisnis), Kementerian KUKM menyusun strategi dan kurikulum menciptakan entrepreneur dan tenaga kerja terampil untuk UMKM. Persoalan izin pendirian lembaga pendidikan maupun ketersediaan prasarana fisiknya biar ditangani oleh Kementerian DIKNAS dan pihak swasta. Atau bisa juga dengan melibatkan pihak Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), serta asosiasi bisnis terkait,Kementerian KUKM menyusun strategi dan implementasi untuk memperbesar bantuan/fasilitas finansial bagi UMKM, termasuk merancang tolok ukur keberhasilan program ini. Hal yang menyangkut penyaluran bantuan/fasilitas biar diserahkan kepada lembaga keuangan bank ataupun non-bank sedangkan pengawasannya biar menjadi wewenang Bank Indonesia atau Kemenkeu. 3. Latar belakang Kebijakan UMKM di Indonesia 3.1. Kontribusi dan Profil Sektor UMKM Indonesia Kenyataan menunjukan pentingnya peran UMKM dalam mendukung perekonomian nasional. Ini ditunjukkan dari jumlah perusahaan UMKM yang mencapai kurang lebih 51 juta unit, atau lebih dari 95% total perusahaan di Indonesia, selain juga kemampuannya menyerap lebih dari 90% total pekerja. Namun demikian, kontribusi UMKM terhadap output nasional (baik secara nominal maupun riil), masih di bawah kontribusi usaha besar (UB) yang nota bene jumlahnya maupun penyerapan tenaga kerjanya jauh lebih kecil dibanding UMKM. Secara sektoral, UMKM di Indonesia umumnya masih terkonsentrasi di tiga sektor utama yaitu: (i) sektor pertanian, diikuti berturut-turut oleh (ii) sektor perdagangan hotel dan restaurant dan (iii) sektor industri pengolahan, dengan persentase 15

masing-masing sebesar 51,5%, 28,8% dan 6,5% pada tahun 2008 (Kementerian KUKM 2009). Sementara di dalam sektor industri pengolahan, persentase terbesar jumlah UMKM masih terlibat di dalam kelompok industri berteknologi rendah, yang masih didominasi oleh: kelompok industri makanan, minuman dan tembakau (29.6%), kelompok industri kayu dan barang-barang dari kayu (26.2%) dan kelompok industri textil, pakaian jadi dan barang kulit dan alas kaki (21.6%). Sementara hanya sebagian kecil yang sudah menggunakan teknologi tinggi (BPS 2009). Ditinjau dari lokasi geografis, Pada tahun 2009 komposisi UMKM yang ada di Indonesia berada di Jawa (58%) disusul Sumatera (17.9%), Sulawesi (8.7%), Kalimantan (7.3%), Bali dan Nusa Tenggara (6.7%) dan sisanya Indonesia Timur (1.3%), di mana proporsi terbesar dari pengusaha UMKM tersebar didaerah-daerah pedesaan dibanding dengan perkotaan. Hal ini konsisten dengan kenyataan cukup besarnya jumlah UMKM yang bergerak di sektor pertanian. Secara umum ekspor UMKM masih jauh dibanding dengan usaha besar, dimana kontribusinya terhadap total ekspor nasional hanya berkisar 15%, dan sebagian besarnya disumbangkan oleh usaha menengah. Yang juga menarik disimak adalah kebanyakan dari UMKM yang berorientasi ekspor ini ternyata tidak melakukannya secara langsung, melainkan menggunakan pihak ketiga, seperti trading house, perusahaan ekspor (Tambunan 2007). Sudah banyak studi yang dilakukan terkait dengan UMKM, dan secara umum, profil UMKM di Indonesia digambarkan memiliki karakteristik sebagai berikut: a. Mayoritas UMKM dimiliki secara domestik dan hanya sedikit proporsi yang melibatkan kepemilikan asing, baik secara utuh (FDI) maupun usaha patungan (joint venture). b. Terkait dengan point diatas, mayoritas UMKM masih menjual sebagian besar produknya ke pasar dalam negeri (domestic oriented) daripada melakukan ekspor. 16

c.

d.

e.

Sebagian besar UMKM masih mengandalkan tenaga kerja yang berpendidikan SLTA ke bawah dan umumnya masih memiliki hubungan kekerabatan. Mayoritas UMKM menjual produksinya secara langsung kepada konsumen akhir, dan hanya sedikit proporsi UMKM yang sudah terlibat dalam jejaring produksi (production network).3 Khusus di skala mikro, mayoritas usahanya masih berstatus informal yang tidak memiliki izin usaha ataupun berbadan hukum.

3.2. Review Kebijakan UMKM saat ini Walaupun banyak kebijakan yang telah dijalankan pemerintah, efektifitasnya secara umum masih belum sesuai dengan harapan. Beberapa studi diantaranya Klapwijk (1997), Lall (1998), Tambunan (1998, 2000, 2006), Sato (2000), Sandee, dkk (2000), van Dierman (2004), ADB (2005) yang walaupun tidak secara eksplisit mengkaji kinerja program-program pengembangan UMKM, menunjukan bahwa program-program pemerintah yang (pernah) ada pada umumnya masih belum terlalu mengenai sasaran yang diinginkan. Studi ADB (2005) mengkaji sejauh mana hasil dari upaya-upaya pemerintah dan swasta dalam membantu UMKM nonpertanian. Hasil surveynya menemukan bahwa walaupun telah banyak program yang dijalankan, hasilnya belum memuaskan. Hambatan keterbatasan informasi masih menjadi kendala, di mana hanya ada sedikit jalur komunikasi antara lembaga pe3 S Mch S (2009) hw UKM f I l l (production network) lf h , h 2 00 h. S f h lh, () l ; (2) c ; (3) c l . U lh l lh h://www../ch/20098.hl.

17

merintah dan UMKM, dan masih banyak pengusaha UMKM yang tidak mengetahui adanya pelayanan-pelayanan publik untuk pengembangan bisnis. Hal ini bisa disebabkan oleh keengganan pihak UMKM sendiri atau kesalahan pemberi layanan publik ataupun dua-duanya. Juga dilaporkan bahwa seringkali lembaga pemberi pelayanan seperti Business Development Center (BDS) tidak mengetahui secara pasti apa sebenarnya yang dibutuhkan pengusaha UMKM. Pendapat senada juga dilontarkan oleh Klapwijk (1997) yang memberi alasan rendahnya partisipasi pengusaha UMKM dalam program-program pelatihan karena petugasnya tidak mengetahui materi teknis atau memiliki pengalaman bisnis memadai. Lebih jauh, pelatihan-pelatihan atau fasilitas teknis yang diadakan sebagian besar sesuai dengan arahan para perencana di pusat dari pada sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Sejalan dengan temuan diatas, Sandee (2004) juga menemukan rendahnya kualitas materi pelatihan sehingga kurang efektif untuk meningkatkan kapabilitas teknologi ataupun teknik produksi dari pengusaha-pengusaha yang dilatih. Efektifitas progam bantuan teknologi melalui Unit Pelayanan Teknis (UPT) secara umum kurang memuaskan seperti diungkapkan oleh van Dierman (2004). Ditambah lagi UPT-UPT tersebut kini terbengkalai semenjak diberlakukannya kebijakan otonomi daerah yang menyerahkan pengelolaannya kepada pemerintah daerah. Rendahnya kapasitas aparat pemda menjadi salah satu faktor utamanya. Van Dierman juga menegaskan bahwa kebijakankebijakan makro yang menciptakan iklim bisinis yang kondusif terkadang jauh lebih efektif dan memberikan dampak lebih nyata kepada UMKM daripada program-program khusus UMKM. Senada dengan pendapat diatas, Sandee, dkk. (2000) berdasarkan studi mereka di kluster industri mebel di Jepara, menyimpulkan bahwa kebijakan intervensi publik lebih besar kon18

tribusinya terhadap keberhasilan suatu kluster, dibandingkan dengan hanya mengandalkan program-program khusus UMKM tanpa memperhitungkan lingkungan yang lebih luas. Intinya, pemberian bantuan dalam satu paket yang mencakup beragam aspek, mulai dari fasilitas pelayanan umum (seperti UPT) untuk pengeringan kayu, pelatihan ekspor dan dukungan untuk berpartispiasi dalam pameran-pameran perdagangan internasional serta didukung dengan investasi publik di bidang infrastruktur (telepon, jalan raya, dll) sangat menolong pengusaha-pengusaha di dalam kluster. Rendahnya efektifitas kebijakan pemerintah dalam mendukung UMKM juga diutarakan oleh Tambunan (1998). Dengan menggunakan studi kasusnya di Padang, Tambunan menemukan bahwa inefektifitas kebijakan ini salah satunya disebabkan oleh tidak adanya koordinasi lintas departemen dalam membantu UMKM. Banyak sentra UMKM yang menerima bantuan pelatihan dari berbagai institusi, baik oleh Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Perindustrian, Balai Latihan Kerja (BLK) Kementerian Tenaga Kerja, maupun Perguruan Tinggi Negeri (PTN) namun dengan materi yang relatif hampir sama. Kelemahan koordinasi dan sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah juga ditelaah oleh studi LP3ES baru-baru ini. Studi ini masih menemukan ketidaksinkronan penerapan kebijakan antara pemerintah pusat dengan daerah, misalnya dalam skema perkuatan bantuan LPDB (Antara News 2010). Selain itu, Unit Pelayanan Teknis (UPT) yang pernah dibangun di daerah-daerah guna meningkatkan kemampuan teknis dan teknologi UMKM kini praktis banyak yang terlantar dan tidak terurus semenjak kebijakan otonomi daerah diberlakukan. Ini menandakan bahwa masih adanya perbedaan prioritas antara pemerintah pusat dan daerah dalam pengembangan UMKM. 19

4. Penutup Upaya mewujudkan UMKM yang kuat, mandiri, dan berdaya saing tinggi perlu diawali dengan mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi UMKM saat ini. Selain kendala internal, yang juga tidak kalah pentingnya adalah mengatasi kendala ekternal yang dihadapi UMKM. Sayangnya, dalam banyak kasus kebijakan dan peraturan pemerintah yang kurang kondusif cukup memiliki porsi dalam kendala eksternal ini. Lemahnya koordinasi, baik antar institusi di pusat maupun antara pusat dengan daerah dan kurang inofatifnya kebijakan yang ada selama ini justru menimbulkan UMKM yang kurang mandiri dan berdaya saing. Secara khusus, tulisan ini menelaah kebijakan UMKM yang ada selama ini, dan terutama menekankan pada peran yang dimainkan oleh Kementerian KUKM dalam tatanan yang ada. Ditemui bahwa manajemen atau pengelolaan kebijakan UMKM yang ada selama ini sangat lemah, dan kerap berujung pada tumpang tindih antar insititusi yang terlibat. Dengan memperhatikan situasi dan kondisi ini, revitalisasi dan redefinisi posisi Kementerian KUKM sebagai institusi yang menaungi UMKM merupakan salah satu langkah alternatif yang patut dipertimbangkan dalam jangka pendek maupun menengah. Sebenarnya upaya revitalisasi dan redefinisi ini tidak serta merta mengubah tatanan yang ada, melainkan hanya menata ulang saja. Secara khusus, tugas pokok dan fungsi kementerian ini lebih dipertajam yakni fokus sebagai institusi pembuat kebijakan strategis UMKM dengan melepas fungsi koordinasi dan kewenangan teknis yang dipegang selama ini. Sehingga dengan demikian, tumpang tindih kebijakan yang ada selama ini bisa dihindari dan tidak terulang lagi di masa mendatang.

20

Friedrich-Naumann-Stiftung fr die Freiheit (FNS)


Didirikan pada 1958 oleh Presiden pertama Republik Federal Jerman, Theodor-Heuss. Ia menamakan lembaga ini sesuai dengan nama seorang pemikir Jerman, FriedrichNaumann (1860-1919), yang memperkenalkan pendidikan kewarganegaraan di Jerman untuk mewujudkan warga yang sadar dan terdidik secara politik. FNS mengawali kegiatannya di Indonesia pada 1969 dan memulai kerja sama resminya dengan pemerintah Indonesia sejak 26 April 1971. FNS membagi pengetahuan dan nasihat kepada para politisi, pembuat keputusan, masyarakat sipil, dan masyarakat secara umum. Lembaga ini bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintahan, organisasi masyarakat dan institusi-institusi pendidikan untuk berbagi pengetahuan dan membantu menciptakan perubahan yang positif dan damai pada masyarakat di negara-negara itu.

Friedrich-Naumann-Stiftung fr die Freiheit Jl. Rajasa II No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta 12110 p. +62 21 725 6012-13 f. +62 21 7203868 email. indonesia@fnst.org www. fnsindonesia.org FNSIndonesia