Anda di halaman 1dari 9

BALAI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI PEMALI JRATUN

DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL

DEPARTEMEN KEHUTANAN

RENCANA KERJA
RENCANA PEMBANGUNAN AREAL MODEL DAS MIKRO (MDM) TAYU TAHUN 2010

SEMARANG, 2010

LEMBAR PENGESAHAN
RENCANA KERJA RENCANA PEMBANGUNAN AREAL MODEL DAS MIKRO (MDM) TAYU TAHUN 2010

Dinilai Oleh : Kepala Seksi Program DAS

Disusun Oleh :

Ir. EKO GATHUT WIRAWANTO, MP NIP. 19580912 199203 1 001

Disahkan oleh Kepala Balai,

Drs. C. KUKUH SUTOTO, MSi NIP. 19571105 198503 1 002

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam konteks unit kajian dan unit pengelolaan, didefinisikan sebagai bentang lahan yang dibatasi oleh topografi pemisah aliran (topographic divide), yaitu punggung-punggung bukit/gunung yang menagkap curah hujan, menyimpan dan kemudian mengalirkannnya melalui saluran-saluran pengaliran ke satu titik patusan (outlet) (Manan, 1976; Linsley, 1980; diskusi pengelolaan DAS di Bogor tahun 1978 dalam Putro et.al, 2003). Dalam UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pasal 1 disebutkan bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu daratan yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah pengairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. DAS sebagai kesatuan ekosistem merupakan suatu komponen yang utuh dalam mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Dalam DAS terdapat berbagai komponen sumberdaya, sumberdaya alam (natural capital) yaitu udara, tanah dan batuan penyusunnya, vegetasi, satwa, sumberdaya manusia (human capital) beserta pranata institusi formal maupun informal masyarakat (social capital), maupun sumberdaya buatan (man made capital) yang satu sama lain saling berinteraksi, perubahan terhadap suatu komponen sumberdaya akan berpengaruh terhadap komponen lainnya (Putro et.al, 2003). Kawasan Gunung Muria merupakan daerah yang penting bagi daerah bawahan yang perlu dijaga dan diselamatkan Kawasan Gunung Muria meliputi beberapa wilayah DAS dan Sub DAS, salah satu diantaranya adalah Sub DAS Tayu. Dari aspek degradasi lahan walaupun tidak tampak mencolok adanya kejadian erosi, tanah longsor dan sedimentasi, namun kejadian banjir/banjir bandang yang kerap terjadi telah menimbulkan kerugian materi maupun korban jiwa. Dugaan pertama penyebab banjir ini adalah wilayah hulu DAS tidak mampu menahan dan menampung tingginya curah hujan. Ditinjau dari aspek lingkungan, kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat di kawasan Gunung Muria sudah tidak memperhatikan kelestarian ekosistem bentang lahan misalnya adanya pencemaran sungai oleh limbah pabrik.

Permasalahan lain, pada masa reformasi tahun 1998 terjadi penyerobotan lahan di hutan lindung seluas 3.952,8 ha. Penyerobotan lahan tersebut dilakukan untuk penanaman kopi disertai dengan pelaksanaan budidaya pertanian semusim tanpa pelaksanaan teknik konservasi tanah dan air. Perubahan kondisi hidrologi DAS sebagai dampak dari pengurasan sumberdaya alam, baik hutan, lahan maupun bahan tambang, tanpa memperhatikan daya dukungnya seringkali mengarah pada kondisi yang kurang diinginkan, yaitu peningkatan erosi dan sedimentasi, penurunan produktivitas lahan dan percepatan degradasi lahan. Atas dasar fenomena tersebut maka DAS sebagai satu perencanaan dalam pembangunan berbasis pengelolaan sumberdaya alam haruslah dipahami. Pelaksanaan pengelolaan DAS memerlukan upaya yang tidak sederhana karena melibatkan kepentingan multipihak termasuk masyarakat, lintas sektor/instansi terkait, lintas wilayah administrasi pemerintahan dan lintas disiplin ilmu. Untuk itu diperlukan keterpaduan pengelolaan berbagai sektor dari daerah hulu sampai hilir dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan, kondisi biofisik dan social ekonomi yang ada dalam DAS. Berbagai kegiatan dalam rangka pengelolaan DAS telah dilakukan yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan meningkatkan pendapatan masyarakat; menurunkan laju erosi dan sedimentasi; mengendalikan banjir, tanah longsor, kekeringan serta mengubah perilaku pola bercocok tanam petani kea rah system pertanian yang mengikuti kaidah konservasi tanah dan air. Pendekatan yang dilakukan berorientasi pada pembangunan infrastruktur fisik dan target serta bersifat massal meliputi kegiatan penanaman, pembangunan unit percontohan, praktek budidaya pertanian dan konservasi tanah, model perhutanan rakyat (agroforestry, hutan rakyat, dan kebun bibit desa/KBD), dan pembuatan bangunan sipil teknis konservasi tanah dan air. Agar kegiatan-kegiatan pengelolaan DAS yang dilakukan berdampak secara nyata terhadap penurunan luas lahan kritis, banjir, erosi dan sedimentasi serta kekeringan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) Pemali Jratun bersama dengan pihak terkait termasuk masyarakat mengembangkan model pengelolaan DAS terpadu dalam luasan yang relatif kecil (DAS Mikro) yang

mencakup kegiatan yang lengkap dengan prinsip pengelolaan sumberdaya alam secara lestari dari aspek biofisik, sosial ekonomi dan kelembagaan. B. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari Penyusunan Rencana Induk Pembangunan MDM Tayu adalah memberikan arahan, program dan kegiatan yang terdiri dari pembangunan secara fisik maupun non fisik selama kurun waktu 5 tahun untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Adapun tujuannya adalah dapat dihasilkan rumusan norma, standar, kriteria, prosedur dan pedoman pengelolaan sumberdaya alam yang efektif untuk dikembangkan dalam skala yang lebih luas. C. SASARAN WILAYAH Sasaran lokasi penyusunan Rencana Induk Pembangunan MDM adalah Sub DAS Tayu di wilayah Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah. D. LINGKUP KEGIATAN Lingkup kegiatan penyusunan Rencana Induk Pembangunan MDM meliputi pengumpulan data dan informasi dasar yang meliputi data biofisik, social ekonomi, dan kelembagaan; analisa potensi dan permasalahan pengelolaan Sub DAS Tayu; Perumusan rencana pembangunan MDM, serta legalisasi dan sosialisasi rencana pembangunan MDM. E. PENGERTIAN-PENGERTIAN 1. digunakan Model sebagai DAS Mikro (MDM) adalah suatu contoh

pengelolaan DAS dalam skala lapang dengan luas kurang dari 5000 ha yang tempat untuk memperagakan proses partisipatif pengelolaan sumberdaya alam, rehabilitasi hutan dan lahan, teknik-teknik konservasi tanah dan air, system usaha tani yang sesuai dengan kemampuan lahan, social, ekonomi, budaya dan kelembagaan masyarakat. 2. Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan

yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau laut secara alami, yang batas di darat

merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai daerah pengairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. 3. Pengelolaan DAS adalah upaya manusia dalam mengatur

hubungan timbale balik antara sumberdaya alam (terutama vegetasi, tanah dan air) dengan manusia dan segala aktivitasnya di dalam DAS (tertentu), agar terwujud kelestarian dan keserasian ekosistem DAS serta meningkatnya kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia secara berkelanjutan. 4. Tata air DAS adalah suatu sistem hubungan antar

komponen hidrologi yang membentuk keseimbangan air di suatu DAS. 5. Konservasi tanah dan air adalah upaya untuk melindungi,

melestarikan, meningkatkan daya dukung dan produktivitas tanah dan air sebagai penyangga kehidupan. 6. Rehabilitasi hutan dan lahan adalah upaya untuk

memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan perananannya dalam mendukung system penyangga kehidupan tetap terjaga. 7. Hutan dan lahan kritis adalah hutan dan lahan yang berada

di dalam dan di luar kawasan hutan yang sudah berkurang dan/atau tidak berfungsi lagi sebagai media pengatur tata air dan unsure produktivitas lahan sehingga menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem DAS.

II. METODE PELAKSANAAN A. Konsep Dasar MDM Secara fisik DAS mikro adalah bagian dari DAS yang termasuk ordo 1-3 dan ordo-1 adalah alur sungai paling hulu (Strahler, 1979). Luas MDM bervariasi sampai dengan 500 ha. Respon hidrologi akibat pengaruh tindakan/kegiatan dalam DAS mikro dapat diamati dan diukur. Model DAs Mikro adalah suatu wadah pengelolaan DAS dalam skala lapang yang digunakan sebagai tempat untuk memperagakan proses partisipatif dalam pengelolaan (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi) kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), teknik-teknik konservasi tanah dan air, usaha tani yang sesuai dengan kemampuan lahan, social ekonomi dan kelembagaan masyarakat. Kondisi MDM sedapat mungkin mewakili karakteristik fisik DAS bagian hulu dan tengah (kemiringan dan aspek lahan, jenis tanah) dan masalah-masalah utama pengelolaan DAS. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kemudahan dijangkau (aksesibilitas), sehingga kegiatan pokok dalam MDM dapat mudah dilihat oleh masyarakat dan dipraktekkan di tempat lain terutama di dalam DAS dimana MDM tersebut berada. Tujuan pembanguan areal MDM adalah : a. Tersedianya wadah kegiatan pengembangan model pengelolaan DAS terpadu dalam skala mikro yang melibatkan berbagai pihak secara partisipatif. b. Terwujudnya setempat. c. Dihasilkan data dan informasi megenai pengelolaan DAS yang efektif dengan dampak terhadap biofisik, sosial ekonomi, dan kelembagaan yang terukur untuk dikembangkan dalam skala lebih luas. B. Pemilihan Lokasi MDM Pemilihan lokasi MDM sangat mempengaruhi keberhasilan tahapan model pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan (sustainable) berdasarkan kondisi biofisik, social ekonomi dan budaya masyarakat

pelaksanaan serta keberlanjutan model-model yang dikembangkan. Pemilihan lokasi Model DAS Mikro harus dilaksanakan secara partisipatif. Pemilihan lokasi Model DAS Mikro diperlukan kriteria biofisik dan kriteria lain yang dapat menunjang keberhasilan model tersebut yaitu berupa dukungan pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Kriteria utama pemilihan lokasi Model DAS Mikro adalah sebagai berikut : 1. Kriteria Biofisik : Merupakan bagian (Sub) DAS Prioritas I atau II, diutamakan di DAS Geologinya tidak termasuk kapur/karst Luas sampai 5000 Ha Terdapat lahan kritis Terdapat lahan pertanian, hutan (negara/adat), pemukiman Terdapat dalam satu kabupaten/kota Prioritas I, aksesibilitas dan biaya transportasi menuju lokasi tidak mahal.

2. Terdapat isu /permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan DAS 3. Adanya dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat Prosedur pemilihan terdirii dari tahapan : penentuan calon lokasi dan penetapan lokasi terpilih (definitif). Penentuan calon lokasi dilakukan dengan menggunakan peta tematik dengan langkah-langkah sebagai berikut : a. Pengumpulan peta-peta yang diperlukan (geologi, topografi/rupabumi, penggunaan lahan, lahan kritis dan peta lainnya) dengan skala lebih besar dari 1 : 50.000 terutama untuk peta topografi/rupabumi untuk DAS Prioritas I atau II. b. Analisis peta dengan cara tumpang tindih (superimpose) peta topografi dengan peta tematik (geologi, penggunaan lahan, lahan kritis dll), kemudian deliniasi batas sub DAS ordo terkecil dan batas wilayah administratif desa dan kecamatan. c. Berdasar hasil analisis peta tersebut dipilih beberapa lokasi (3 -5) sub-sub DAS yang memenuhi kriteria biofisik MDM sebagai calon lokasi. Pemilihan lokasi MDM definitif dilakukan melalui 3 tahapan, yaitu : (1) Penentuan Kriteria Pemilihan Lokasi yang terdiri dari Kriteria Utama dan Kriteria Tambahan yang disepakati oleh para pihak secara partisipatif melalui Focus Group Discussion (FGD), (2) Proses Analisis Skoring dan (3) Penetapan Lokasi MDM Definitif. Lokasi MDM Definitif/Terpilih adalah calon lokasi yang mendapat skor tertimbang tertinggi dari kriteria yang digunakan. Kriteria penentuan lokasi Definitif MDM dan pengukurannya adalah sebagai berikut :

Tabel. 1 Kriteria Penentuan Lokasi Definitif MDM dan Pengukurannya NO URAIAN KRITERIA X1 Keberadaan isu permasalahan utama X2 Aksesibilitas ATRIBUT YANG DIUKUR dua isu 3 5 isu >isu Jarak dari pusat ibukota kabupaten/kota lebih dari 40 km B. Jarak dari pusat ibu kota kabupaten/kota antara 2040 km c. Jarak dari pusat ibu kota a. b. c. a. SKOR 1 2 3 1 2 BOBOT 25 15

C. D.

Perencanaan Pembangunan MDM III. RENCANA PELAKSANAAN