Anda di halaman 1dari 6

GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT

Menyongsong Jaman Keemasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (Economic Development)

Disusun Oleh:

Yohan Suryanto Pramono (10 / 310533 / PEK / 15410)

MAGISTER BISNIS FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA 2011

A. Latar Belakang Makroekonomi menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, pergeseran ke atas dalam permintaan yang bersifat agregat akan selalu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan tingkat inflasi. Simulasi data empiris menegaskan bahwa negara-negara yang berada dalam pengalaman tahap produktif tidak hanya mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun juga pertumbuhan yang lebih tinggi dari tingkat inflasi. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sekarang ini mengalami pertumbuhan, masih perlu lebih ditingkatkan agar dapat menghadapi persaingan ekonomi regional dan global. Pertumbuhan ekonomi harus dilakukan dengan prinsip-prinsip adil dan berkelanjutan dengan mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut mencakup penyediaan infrastruktur secara merata di seluruh wilayah terutama dalam pembangunan infrastruktur transportasi yang dapat meningkatkan konektivitas karena merupakan salah satu persyaratan untuk pemerataan pertumbuhan ekonomi. Tantangan lain adalah rendahnya jumlah industri yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah dan kualitas sumber daya manusia yang saat ini sekitar 55 persen dari angkatan kerja Indonesia masih lulusan SD dan hanya 8,8 persen dari angkatan kerja adalah lulusan program diploma atau mempunyai gelar. Untuk mencapai pertumbuhan, pemerataan dan pembangunan ekonomi yang tinggi serta berkelanjutan, suatu negara perlu melakukan percepatan transformasi ekonomi. Percepatan itu hanya bisa dilakukan dengan pola pikir dan pandangan bahwa ekonomi dibangun dengan kolaborasi bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, pemerintah daerah milik perusahaan dan sektor swasta. B. Dasar Teori Pertumbuhan ekonomi diukur sebagai perubahan persentase dalam Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Nasional Bruto (PNB). Kedua langkah tersebut mempunyai perhitungan sedikit berbeda untuk total jumlah yang dibayarkan untuk barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara. Sebagai contoh mengukur pertumbuhan ekonomi, sebuah negara yang menciptakan $ 9000000000 barang dan jasa pada tahun 2010 dan kemudian menciptakan $ 9090000000 pada tahun 2011 maka memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi 1% untuk 2011. Untuk membandingkan per kapita pertumbuhan ekonomi antara negara-negara, total penjualan negara-negara untuk dibandingkan dapat dikutip dalam mata uang tunggal. Hal ini memerlukan mengkonversi nilai mata uang dari berbagai negara ke dalam mata uang yang dipilih, misalnya dolar AS. Salah satu cara untuk melakukan konversi ini adalah kebergantungan pada nilai tukar antara mata uang. Pendekatan lain adalah dengan menggunakan metode paritas daya beli. Metode ini didasarkan pada berapa banyak konsumen harus membayar untuk barang yang sama di setiap negara.

Inflasi atau deflasi dapat membuat menyulitkan dalam mengukur pertumbuhan ekonomi. Jika PDB, misalnya, naik di sebuah negara sebesar 1% dalam setahun, adalah sematamata untuk ini karena kenaikan harga (inflasi) atau karena lebih banyak barang dan jasa yang diproduksi dan disimpan. Untuk mengungkapkan pertumbuhan nyata daripada perubahan harga untuk barang yang sama, statistik pertumbuhan ekonomi sering disesuaikan dengan inflasi atau deflasi. Sebagai contoh, bila ada perubahan PDB pada periode 1990-2000, seperti yang diungkapkan pada tahun 1990 dolar AS maka ini berarti bahwa mata uang tunggal yang digunakan adalah US dollar dengan daya beli itu di AS pada tahun 1990. Data PDB tersebut mungkin menyebutkan bahwa angka-angka ini disesuaikan dengan inflasi atau nyata. Jika tidak ada penyesuaian dibuat untuk inflasi, mungkin bisa membuat kita tidak menyebutkan inflasi yang disesuaikan atau mungkin menyebutnya sebagai harga nominal. Selama jangka waktu yang lama, bahkan tingkat pertumbuhan yang kecil seperti peningkatan tahunan 2%, akan memiliki dampak yang besar. Misalnya, Inggris mengalami peningkatan 1,97% rata-rata inflasi-disesuaikan PDB antara 1830 dan 2008. Pada tahun 1830, PDB adalah 41.373 juta pound. Ini tumbuh menjadi 1.330.088 juta pound pada tahun 2008. Angka ini disesuaikan untuk inflasi dan menyatakan pada tahun 2005 nilai pound. Tingkat pertumbuhan yang rata-rata 1,97% selama 178 tahun menghasilkan peningkatan 32 kali lipat dalam PDB pada 2008. Dampak besar dari tingkat pertumbuhan yang relatif kecil selama jangka waktu yang panjang adalah karena kekuatan perencanaan yang juga melihat pertumbuhan eksponensial. Tingkat pertumbuhan 2,5% per tahun menyebabkan penggandaan dari PDB dalam waktu 29 tahun, sementara tingkat pertumbuhan 8% per tahun dapat menyebabkan dua kali lipat dari PDB dalam waktu 10 tahun. Jadi, perbedaan kecil dalam tingkat pertumbuhan ekonomi antara negara-negara dapat menghasilkan standar hidup yang sangat berbeda untuk populasi mereka jika perbedaan ini kecil terus berlangsung selama bertahun-tahun. C. Rumusan Masalah Pada karya tulis ini, penulis menggunakan data dari World Development Indicator (WDI) yang menunjukkan data bahwa dalam 50 tahun terakhir sejak 1960, negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang yang masing-masing mengalami momen emas selama sekitar lima dan 10 tahun. Amerika dipelihara selama sekitar enam tahun (1960-1966) dan Jepang selama sekitar 10 tahun (1960-1970). Korea Selatan mempertahankan momen emas selama delapan tahun (1982-1990), sementara Malaysia dan Thailand juga telah mengalaminya. Negara-negara yang memiliki titik tolak yang sama dalam hal pembangunan ekonomi dengan Indonesia telah mengalaminya. Setelah menggunakan acuan data tersebut, penulis akan membahas pencapaian momen emas yang akan dialami Negara Indonesia. D. Pembahasan Periode Pertumbuhan Ekonomi setelah Kemerdekan Indonesia Berdasarkan perhitungan, tingkat inflasi di Indonesia selalu lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi riil. Selain itu, dalam periode tertentu, inflasi telah melonjak ke tingkat yang jauh lebih tinggi. Pada tahun 1965 sampai 1970, misalnya, Indonesia mencapai rata-rata,

pertumbuhan ekonomi riil sekitar 5,4 persen, sedangkan tingkat inflasi berada pada 284 persen. Ini terjadi selama masa transisi politik dari Orde Lama (Orla) ke Orde Baru (Orba). Hal yang serupa melanda Indonesia lagi selama krisis ekonomi Asia Tenggara pada 1990-an. Hal ini bertepatan dengan transisi politik yang lain dari Orba ke Era Reformasi. Kali ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia anjlok sampai 13 persen sedangkan tingkat inflasi naik menjadi 58 persen. Setelah krisis ekonomi (2000-2005), Indonesia masih harus menghadapi rata-rata yang tinggi daripada inflasi yaitu 8,4 persen jika dibandingkan dengan pertumbuhan riil ekonomi yaitu 4,8 persen. Indonesia tampaknya tidak mengalami saat-saat emas pertumbuhan ekonomi sejak kemerdekaannya pada 1945. Seperti yang telah diperkirakan, agar saat-saat pertumbuhan ekonomi tersebut dapat tercapai, maka Indonesia harus menjaganya, rata-rata di sekitar 8 persen dari pertumbuhan ekonomi riil bersama juga dengan tingkat inflasi 4 persen terus menerus selama 10 tahun. Jika pemilihan umum tahun 2014 berjalan dengan baik, Indonesia akan memiliki periode kesempatan antara 2016 dan 2026 ketika pendapatan per kapita Indonesia diharapkan bergeser dari tengah ke negara berpenghasilan tinggi penghasilan (> 10.000 US $ per kapita per tahun).

E. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Setidaknya ada lima faktor yang dapat dibahas:

1. Ekonomi berbasis Teknologi.


Seorang ekonom Inggris di awal abad 20, EF Schumacher, mengatakan bahwa "konten utama politik adalah ekonomi, dan isi utama dari ekonomi adalah teknologi." Jika kita memiliki teknologi yang tepat maka kita akan memiliki pertumbuhan ekonomi yang stabil dan jika kita produktif maka tingkat inflasi akan menurun. Jika perekonomian tumbuh dengan baik, bidang politik tetap stabil. Teknologi merupakan faktor penting dalam mentransformasikan negara manapun dari berkembang ke tingkat dikembangkan. Namun demikian, setidaknya ada tiga tantangan yang harus dihadapi.

1) Kebutuhan untuk mengembangkan teknologi baru. Hal ini diperlukan untuk


mengatasi permintaan dunia masa depan, menemukan cara-cara praktis untuk mendukung jaringan teknologi produksi di negara-negara maju yang sudah ada dan persaingan negara-negara berkembang satu sama lain.

2) Perlunya mengembangkan teknologi dengan wajah manusia. Dari titik pandang


konsumen, teknologi harus memenuhi kebutuhan manusia, sementara menurut pandangan produsen, proses yang harus memanusiakan manusia. Manusia harus berada di pusat dari setiap perkembangan teknologi.

3) Perlunya mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan. Teknologi ini harus


efisien dalam hal menggunakan bahan baku dan meminimalkan emisi limbah. 1. Sumber Daya Manusia:

Teknologi canggih tidak berguna tanpa orang yang berpendidikan, terlatih dan sehat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator penting. Indonesia perlu masuk setidaknya dalam 25 IPM di dunia. Saat ini Indonesia adalah peringkat 83 di dunia. Selain indikator fisik, pengembangan sumber daya manusia, juga perlu pendekatan nonmaterial, seperti disiplin, tekad, kerja keras dan kemampuan untuk bekerja dalam tim, dan menghormati sistem. 2. Sumber daya alam Untuk sumber daya tak terbarukan, seperti energi bahan bakar fosil (minyak & gas), Indonesia harus menerapkan setidaknya dua kebijakan penting: pertama, menjual energi non-terbarukan pada harga pasar yang rasional dan kedua, mendukung tindakan yang komprehensif dalam mencari alternatif sumber energi yang aman untuk mengurangi penipisan energi non-terbarukan. 3. Kelembagaan reformasi Kebutuhan untuk meningkatkan peran yang berfungsi baik, lembaga akuntabel dan transparan. Demokrasi membutuhkan birokrasi yang bersih dan profesional di mana hubungan antara politisi, pemerintah dan perusahaan swasta dimonitor untuk mencegah korupsi dan skandal kerah putih serta menciptakan efisiensi. Sistem politik di Indonesia, pengawasan hukum dan reformasi birokrasi harus terus ditingkatkan. Ini akan meningkatkan pertumbuhan Produktivitas Faktor Total di Indonesia. 4. Globalisasi Ini adalah tempat kita tuju. Perdagangan, khususnya perdagangan internasional, diyakini menjadi pemicu globalisasi. E. Kesimpulan Ini adalah takdir Indonesia untuk siap bersaing di pasar internasional. Jika Negara Indonesia bisa menang melawan persaingan global, maka kita akan menang pula di pasar domestik kita. Pengusaha lokal harus siap bersaing dengan pesaing internasional mereka di semua tingkatan. Jika tantangan ini dapat diatasi, Indonesia akan memiliki kesempatan untuk mencapai momen keemasan pertumbuhan ekonomi dan menjadi salah satu negara maju di masa depan, bersama dengan Brasil, Rusia, India dan Cina (BRIC). Daftar Pustaka GDP growth (annual %) and GDP (in millions US$), Indonesia, accessed 24 August 2011 at http://www.data.worldbank.org Indonesias moment of economic growth, Jakarta, accessed 24 August 2011 at http://www.thejakartapost.com Laporan Perekonomian Indonesia, BI Jakarta, accessed 24 August 2011 at

http://www.bi.go.id

Badan Pusat Statistik (BPS). Tabel Input-Output, Jakarta, 1990, 1995, 2000. Dumairy. Perekonomian Indonesia, Jakarta, Penerbit Erlangga, 1996. Soesastro, H., and M. C. Basri. The political economy of trade policy in Indonesia, CSIS Working Paper Series, WPE 092, 2005. Tambunan, T. T. H. Perekonomian Indonesia: Beberapa Masalah Penting. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia, 2003. World Bank (2009) Indonesia Economic Quarterly Report June 2009: Weathering The Storm, World Bank, Washington DC. World Bank. The East Asian Miracle: Economic Growth and Policy. New York: Oxford University Press, 1993.