Anda di halaman 1dari 30

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

PENDAHULUAN

Bab 1

1.1 LATAR BELAKANG


Wilayah Sungai (WS) Cimanuk-Cisanggarung meliputi wilayah seluas 7.711 km2, terdiri dari beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS), antara lain DAS Cimanuk (3584 km 2), DAS Cisanggarung (1325 km2), DAS Cipanas-Pangkalan (982 km2), serta DAS sungai-sungai kecil yang mengalir ke Laut Jawa sepanjang Pantura Ciayu (1820 km2). DAS Cimanuk dengan luas wilayah 3.584 km2, mempunyai curah hujan tahunan rata-rata 2.800 mm dan potensi air permukaan rata-rata sebesar 7,43 milyar m3/tahun. Adapun infrastruktur sumber daya air yang telah dibangun di Sungai Cimanuk, berupa Bendung Rentang dengan sistem irigasinya seluas 90.000 Ha, terletak di Wilayah Kabupaten Majalengka, Cirebon, Indramayu yang sepenuhnya tergantung ketersediaan air di Sungai Cimanuk. Lahan kritis DAS Cimanuk pada saat ini telah mencapai 110.000 Ha atau sekitar 31% dari luas DAS Cimanuk. Potensi air sungai Cimanuk di Rentang rata-rata sebesar 4,3 milyar m3/tahun dan hanya dapat dimanfaatkan 28% saja, sisanya terbuang ke laut karena belum ada waduk. Sistem irigasi Rentang seluas 90.000 Ha sepenuhnya mengandalkan pasokan air dari Sungai Cimanuk (River Runoff), sehingga pada musim kemarau selalu mengalami defisit air irigasi yang mengakibatkan kekeringan. Disamping itu, di wilayah hilir Sungai Cimanuk (Pantura CIAYU) pada musim kemarau terjadi pula krisis ketersediaan air baku untuk keperluan domestik, perkotaan dan industri. Oleh karena itu, Bendungan Jatigede perlu segera dibangun guna mengatasi krisis air tersebut, baik untuk menjamin ketersediaan air irigasi rentang maupun air baku untuk wilayah Pantura CIAYU. Lokasi pembangunan Bendungan Jatigede terletak di atas daerah rawan gempa dengan adanya struktur patahan yang telah menyebabkan gempa pada tahun 1912 dan 1990 akibat pergeseran zona sesar dalam. Harus dijadikan pertimbangan pula bahwa

Bendungan Jati Gede

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

kondisi DAS Cimanuk yang akan dibendung telah mengalami kerusakan. Struktur tanah di lokasi tidak stabil sehingga pada proses pekerjaan konstruksinya mengalami hambatan akibat longsornya tanah sehingga diperlukan pekerjaan tambahan untuk mengatasinya. Dalam hal ini, kontraktor mengambil alternatif stabilisasi tanah pondasi (grouting) untuk mengatasi permasalahan tanah longsor di sekitar konstruksi bendungan. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya, pekerjaan grouting yang tidak tercantum dalam dokumen kontrak ini memerlukan pengawasan lebih ketat.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN


Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka maksud dari penyusunan Kertas Kerja Pengawasan Stabilisasi Tanah Untuk Pondasi (Grouting) Bendungan Jatigede ini adalah memberikan penjelasan mengenai hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pekerjaan grouting dan pengawasannya sehingga grouting dapat dilakukan secara maksimal dan efisien. Sedangkan tujuan dari laporan ini adalah memberikan gambaran teknis sehingga dapat dilaksanakan terhadap mutu dari pekerjaan grouting.

1.3 RUANG LINGKUP


Ruang lingkup dalam Kertas Kerja ini adalah mengetahui metode pelaksanaan dan pengawasan pekerjaan stabilitas tanah pondasi dengan grouting berdasarkan sistem pengendalian mutu, waktu, sumber daya manusia, dan peralatan.

Bendungan Jati Gede

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

GAMBARAN KEADAAN YANG ADA

Bab 2

2.1 PENJELASAN UMUM


2.1.1 Pengertian Grouting Grouting adalah salah satu perbaikan pondasi bendungan yang merupakan pekerjaan masukan bahan yang masih dalam keadaan cair untuk perbaikan tanah, dengan cara tekanan, sehingga bahan tersebut akan mengisi semua retak-retak dan lubang-lubang, kemudian setelah beberapa saat bahan tersebut akan mengeras, dan menjadi satu kesatuan dengan tanah yang ada. 2.1.2 Jenis Grouting

Tipe grouting berdasarkan fungsinya antara lain: 1. Curtain Grouting : Untuk mengurangi rembesan air lewat bawah pondasi dan abutment bendungan, serta mengurangi gaya tekan ke atas 2. Blanket Grouting : Untuk mengurangi gaya tekan ke atas. 3. Consolidation Grouting : Untuk menutup lubang, celah, rekahan yang ada di bawah pondasi bendungan sehingga menjadi lebih kuat dan menambah modulus deformasi batuan.

Menurut Warner (2005), Grouting dapat dibedakan menjadi 6 tipe, yaitu: a. Sementasi Penembusan (Permeation Grouting) Grouting penembusan (permeation Grouting) disebut juga Grouting penetrasi (penetration Grouting), yang meliputi pengisian retakan, rekahan atau kerusakan pada batuan, rongga pada sistem pori-pori tanah serta media porous lainnya. Tujuan Grouting penembusan adalah untuk mengisi ruang pori (rongga), tanpa merubah formasi serta konfigurasi maupun volume rongga. Grouting jenis ini dapat dilakukan untuk tujuan penguatan formasi, menghentikan aliran air yang melaluinya,

Bendungan Jati Gede

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

maupun kombinasi keduanya. Grouting penembusan dapat meningkatkan kohesi tanah. b. Sementasi Pemadatan (Compaction Grouting) Grouting pemadatan dilakukan dengan cara menginjeksi material Grouting sangat kaku (stiff) pada tekanan tinggi ke dalam tanah. Grouting pemadatan merupakan mekanisme perbaikan yang bertujuan untuk meningkatkan daya dukung tanah. Karena volume struktur pori tanah berkurang, maka permeabilitasnya juga akan berkurang. Meskipun begitu, Grouting pemadatan tidak dapat sepenuhnya mencegah terjadinya rembesan. Grouting pemadatan mampu meningkatkan beban tanah untuk mengompakkan atau memadatkannya. c. Sementasi Rekahan (Fracture Grouting) Grouting rekahan dilakukan pada rekahan hidrolik yang terdapat pada tanah dengan fluida suspensi atau material Grouting slurry, untuk menghasilkan hubungan antar lensa Grouting dan memberikan penguatan kembali (reinforcement). Umumnya Grouting rekahan digunakan pada tanah dengan permeabilitas rendah. Grouting rekahan dapat dilakukan pada beberapa jenis tanah dan kedalam, terutama sangat baik pada material lempung. d. Sementasi Campuran/ Jet (Mixing/ Jet Grouting) Grouting jet dilakukan dengan cara mengikis tanah menggunakan jet bertekanan tinggi dan injeksi serentak ke dalam tanah yang terganggu dengan jet monitor. Grouting tipe ini juga dapat digunakan untuk melakukan penyemenan di sekeliling tiang atau pondasi. e. Sementasi Isi (Fill Grouting) Semua rongga yang dihasilkan secara alami maupun buatan, kadang-kadang membutuhkan suatu pengisian atau penutupan. Pada jaman dahulu, pengisian dilakukan menggunakan peralatan yang sama dengan alat Grouting tipe lainnya. Saat ini, Grouting isi dilakukan menggunakan peralatan khusus dengan campuran concrete atau mortar.

Bendungan Jati Gede

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

f. Sementasi Vakum (Vacuum Grouting) Umumnya pekerjaan Grouting dilakukan dengan cara mendorong material Grouting ke dalam formasi dengan tekanan tinggi. Akan tetapi, pada kondisi tertentu hasilnya tidak memuaskan. Oleh karena itu, vakum digunakan untuk menyedot material Grouting masuk ke dalam bagian yang mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut harus diisolasi dari tekanan barometrik terlebih dahulu, sehingga dengan kondisi yang vakum, material Grouting akan tersedot dan tertarik ke dalam kerusakan tersebut.

2.1.3

Tujuan dilakukan Grouting

1. Untuk memperkuat formasi dari lapisan tanah dan sekaligus menjadikan lapisan tanah tersebut menjadi padat, sehingga mampu untuk mendukung beban bangunan yang direncanakan. Seperti sudah dijelaskan di atas tanah selalu mempunyai lubang-lubang, retakretak, celah-celah. Rongga ini harus diisi dengan bahan pengisi yang kuat, sehingga lapisan tanah dibawah rencana bangunan akan menjadi bagian dari pondasi yang kuat.

2. Untuk menahan aliran air, misalnya pada bangunan dam, agar air tidak mengalir melalui bawah bangunan dam. Air yang mengalir di bawah bangunan dam secara bertahun-tahun akan membawa partikel tanah, yang akan mengakibatkan terjadinya rongga-rongga di bawah bangunan, dan hal ini dapat membahayakan kestabilan dam tersebut, grouting pada dam ini biasa disebut Tirai sementasi , guna tirai sementasi ini untuk menghambat laju air,

Bendungan Jati Gede

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

sehingga aliran air semakin panjang, karena aliran semakin panjang maka air akan mengalami kehilangan energi.

3. Untuk menahan aliran air tanah agar tidak masuk ke dalam suatu kegiatan bangunan yang sedang berjalan. Bangunan di bawah permukaan tanah apabila lokasi nya dibawah permukaan air tanah, akan selalu terganggu oleh adanya air tanah yang masuk dari dinding galian.Namun biasanya masih dapat diatasi dengan pompa.

2.1.4

Bahan Grouting

Bahan- bahan yang dapat digunakan untuk grouting antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Campuran semen dan air Campuran semen, abu batu dan air Campuran semen, clay dan air Campuran semen,clay, pasir dan air Asphalt Campuran clay dan air Campuran bahan kimia

Bendungan Jati Gede

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

2.1.5 Sifat-sifat Groting Sifat-sifat grouting antara lain: - Terdiri dari satu komponen - Workability dan kekuatan tinggi - Tahan beban impact dan beban bergerak - Tidak terjadi penyusutan dan segregasi - Ekonomis

2.2 KEADAAN PADA SAAT INI


2.2.1 Situasi Bendungan Jati Gede Bendungan Jati Gede terdapat di kabupaten Sumedang Jawa Barat dan pada saat ini masih dalam proses pembangunan konstruksi. Berikut ini adalah gambaran lokasi Bendungan Jati Gede pada saat ini:

Gambar 2.1 Lokasi sungai Cimanuk Cisanggarung

Bendungan Jati Gede

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Gambar 2. 2 Situasi Bendungan Jati Gede

2.2.2 Manfaat Bendungan Jati Gede

Gambar 2.3 Manfaat Waduk Jatigede

Bendungan Jati Gede

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

2.2.3 Peta Daerah Genangan Bendungan

Gambar 2.4 Peta Daerah Genangan Bendungan

2.2.4 Nilai Kontrak dan Masa Konstruksi a. Nilai Kontrak Foreign Currency Local Currency Senilai / ekuivalen = US$ 144,067,642 = Rp. 869.099.084.442 ~ US$ 239,573,036

b.

Masa Konstruksi 15 Nopember 2007 s/d 30 Desember 2013

2.2.5 Data Teknis Bendungan Jati Gede a. Hidrologi Luas Catchment Area Volume run-off tahunan b. Waduk Muka Air (MA) banjir max : El +262 : 1.462 km2 : 2,5 x 109 m3

Bendungan Jati Gede

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

MA operasi max (FSL) MA operasi min (MOL) Luas permukaan waduk (El +262) Volume gross (El +260) Volume efektif (antara El +221 dan +260) c. Bendungan Tipe Elevasi mercu bendungan Panjang bendungan Lebar mercu bendungan Tinggi bendungan maksimum Volume timbunan d. Spillway Lokasi Tipe Crest Dimensi radial gates Q outflow e. Intake Irigasi Lokasi Irrigation inlet appron Tipe Dimensi condoit f. Terowongan Pengelak Lokasi Inlet level Tipe Debit rencana (Q100) Dimensi terowongan g. PLTA Lokasi Power Inlet appron Headrace tunnel

: El +260 : El +230 : 41,22 km2 : 980 x 106 m3 : 877 x 106 m3

: Urugan batu, inti tegak : El +265 : 1.715 m : 12 m : 110 m : 6,7 x 106 m3

: at the dam body : Gated spillway with chute way : Lebar 50 m, El. +247 : 4 bh (W=13; H=14,5m) : 4,468 m3 /det (PMF = 11.000 m3 /det)

: Di bawah spillway : El +204 : Reinforced concrete conduit : D=4,5 m; L=400 m

: under the spillway : El +164 : Circular lined reinforced concrete : 3.200 m3 /det : D=10 m; L=556 m

: Right abutment : El +210 : D=4,5 m; L=3.095 m

Bendungan Jati Gede

10

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Design head Tipe turbin Kapasitas terpasang Produksi rata-rata

: 170 m : Francis : 2 x 55 GWH =110 MW : 690 GWH/tahun

2.2.6 Struktur Organisasi 1 2 3 EMPLOYER EMPLOYERS REPRESENTATIVE SUPERVISION CONSULTANT : : : Menteri Pekerjaan Umum SNVT Pembangunan Waduk Jatigede Konsultan Nasional ( PT. Indra Karya, PT. Mettana, PT. Tata Guna Patria, PT. Wiratman & Ass, PT. Indah Karya) 4 DED CONSULTANT : SWHI (Sichuan Water Resources and Investigation & Design) 5 CONTRACTOR : Sinohydro JO-CIC (Consortium of Indonesian Contractors) CIC (Consortium of Indonesian Contractors): 2.2.7 Jenis Grouting Bendungan Jati Gede Untuk jenis grouting yang digunakan di Bendungan Jatigede dijelaskan sebagai berikut: 1. Grouting perlu dilakukan untuk menutup rekahan (crack) pada pondasi batuan dan harus meningkatkan kekedapan (water tightness). 2. Grouting tirai (curtain grouting) berfungsi sebagai zone kedap air dan diletakkan pada tengah impervious core atau dibagian hulu impervious facing (membrane). 3. Grouting selimut (blanket grouting) berfungsi menahan rembesan pada permukaan pondasi yang retak-retak. 4. Bila grouting tidak dapat dilakukan, dapat diganti dengan impervious blanket pada bagian hulu dan atau pembuatan drain dibagian hilir. PT. Wijaya Karya, PT. Waskita Karya, PT. Pembangunan Perumahan, PT. Hutama Karya. Hydroelectric

Bendungan Jati Gede

11

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Gambar 2.5.1 Potongan Melintang Bendungan Jatigede

Gambar 2.5.2 Potongan Melintang Bendungan Jatigede

Bendungan Jati Gede

12

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Gambar 2.5.3 Potongan Melintang Bendungan Jatigede

2.2.8 Perbaikan Pondasi Bendungan dengan Grouting

Gambar 2.6.1 Gambar Perbaikan Pondasi Bendungan dengan Grouting

Bendungan Jati Gede

13

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Gambar 2.6.2 Gambar Perbaikan Pondasi Bendungan dengan Grouting

2.2.9 Lokasi Pelaksanaan Grouting

Bendungan Jati Gede

14

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

2.2.10 Progres Fisik

Bendungan Jati Gede

15

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

GAMBARAN KEADAAN YANG DIHARAPKAN

Bab 3

Bendungan Jatigede merupakan bendungan dengan tipe timbunan (Embankment Dam) dengan struktur langsung menumpu pada tanah, sehingga perlu tanah yang memiliki ultimate bearing capacity sesuai dengan perhitungan gaya dan tegangan yang akan diterima oleh tanah sebagai pondasi.

Kesetabilan tanah juga sangat mempengaruhi kesetabilan dari struktur bangunan Bendungan Jatigede, karena jika terdapat pergerakan berupa penurunan (settlement) atau deformasi tanah yang berlebihan maka akan dapat menyebabkan kegagalan bangunan pada struktur Bendungan Jatigede.

Kegagalan Struktur yang terjadi dapat menimbulkan potensi korban jiwa yang sangat besar, oleh karena itu resiko ini harus diminimalisir dengan memastikan kondisi pondasi tanah sesuai dengan desain perencanaan. Jika kondisi tanah tidak sesuai dengan apa yang direncanakan, maka diperlukan perbaikan kondisi tanah, sehingga kondisi tanah sesuai dengan yang direncanakan.

3.1 SUMBER DAYA MANUSIA


Sumber daya manusia yang digunakan dalam pelaksanaan perbaikan tanah tergantung dari metode untuk perbaikan tanah. Pembangunan Bendungan Jatigede sesuai dengan pelaksanaan kontrak, maka perbaikan tanah bisa dengan menggunakan metode dynamic compaction untuk tanah sand dan compaction dengan menggunakan vibro roller untuk tanah clay.

Dengan metode dynamic compaction, maka SDM yang dibutuhkan hanyalah operator peralatan mesin compactor. Untuk pengawasan mutu dilakukan oleh Quality Engineer dari

Bendungan Jati Gede

16

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

konsultan maupun kontraktor. Jumlah SDM perlu disesuaikan dengan kebutuhan waktu penyelsaian pekerjaan dan kapasitas dari alat yang digunakan.

Pengawasan pada SDM dilakukan berdasarkan kapasitas produksi dari SDM yang bekerja, apabila kapasitas SDM tidak mencukupi untuk mengejar progress, maka perlu ditambah tenaga untuk pencapaian progress.

3.2 MATERIAL/ BAHAN


Pelaksanaan Compaction ini tidak menggunakan material, metode perbaikan tanah ini hanya menggunakan peralatan untuk memperbaiki kepadatan tanah secara fisik dengan merapatkan ruang rongga pada tanah sehingga tanah lebih padat dan memiliki kekuatan dan kesetabilan yang lebih baik.

3.3 PERALATAN
Untuk dynamic compaction peralatan yang digunakan adalah mesin crawler crane dengan kapasitas 180-200 Ton, untuk mengangkat heavy weight compactor dengan berat 5-10 ton dengan ketinggian 5-10 m.

Gambar 3.1. Metode Dynamic Compaction

Sedangakan untuk tanah clay, tanah dapat dipadatkan dengan menggunakan vibro roller dengan kapasitas 10-20 Ton.

Bendungan Jati Gede

17

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Gambar 3.2. Compaction dengan menggunakan vibro roller

Untuk pengawasan pada peralatan perlu diperhatikan perawatan peralatan berat selama pelaksanaan kegiatan pembangunan. Karena dalam pekerjaan ini alat berat memiliki peran yang vital, sehingga perlu terus dilakukan perawatan rutin setiap harinya. Selain itu juga perlu untuk di adakan suku cadang agar jika terdapat kerusakan, maka akan dengan cepat dapat ditangani.

3.41 METODE KERJA


Untuk metode kerja dari dynamic compaction, adalah dengan memadatkan tanah dengan cara menjatuhkan benda berat (Heavy Weight Compactor) 5-10 ton dengan ketinggian 510 m, penjatuhan benda berat tersebut dilakukan berkali-kali sesuai dengan ketentuan dan juga dilakukan dengan sistim grid (setiap berapa meter/ sistim koordinat)

Gambar 3.3. Metode Kerja Dynamic Compaction

Metode Kerja dari compaction dengan menggunakan vibro roller adalah dengan menggiling tanah dengan kecepatan tertentu dengan ketebalan tanah bertahap, maksimal 60 Cm. Vibro roller berjalan untuk memadatkan tanah pada lokasi tertentu beberapa kali, sehingga tanah menjadi lebih padat.

Bendungan Jati Gede

18

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

ANALISIS PERMASALAHAN

Bab 4

Pondasi merupakan bagian dasar dari struktur bangunan dari dam dan merupakan dasar dari kesetabilan struktur dari bangunan saluran pengalih, sehingga diperlukan kesetabilan yang didapat dari jenis tanah pada struktur konstruksi tersebut. Kriteria tanah bagus atau tidak ditinjau dari segi kestabilan lerang, daya dukung tanah terhadap tekanan bangunan diatasnya dan daya dukung tanah terhadap rembesan. Setelah dilakukan Grouting maka diharapkan mutu tanah akan mencapai sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan. Pada kontrak spesifikasi tanah pada lokasi pembangunan bendungan Jatigede memiliki tanah yang bagus, tetapi pada kenyataannya tanah pada lokasi pembangunan bendungan tersebut tidak memiliki tanah yang bagus sehingga diperlukan kegiatan perbaikan tanah (soil stabilization) dengan metode Grouting. Bagus atau tidak nya tanah pada lokasi pembangunan Bendungan Jatigede dilihat berdasarkan nilai Lugeon dari uji permeabilitas/ lugeon test, dimana nilai tersebut menurut spesifikasi yang diperlukan adalah <5.
Tabel 4.1. Kondisi diskontinuitas massa batuan terkait dengan nilai Lugeon (Maurice Lugeon, 1933).

Lugeon Range

Classification

Hydraulic Conductivity Range (cm/sec)

Condition of Rock Mass Discontinuities

Reporting Precision (Lugeons)

<1 1-5 5-15 15-50 50-100 >100

Very Low Low Moderate Medium High Very High

< 1 x 10-5 1 x 10-5 - 6 x 10-5 6 x 10-5 - 2 x 10-4 2 x 10-4 - 6 x 10-4 6 x 10-4 - 1 x 10-3 > 1 x 10-3

Very tight Tight Few partly open Some open Many open Open closely spaced or voids

<1 0 1 5 10 >100

Bendungan Jati Gede

19

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Pada hasil lugeon testGeologi dan Permeabilitas (Lugeon) bendungan Penampang pada pelaksanaan pekerjaan pembangunan Jatigede didapat hasil sebagai berikut :

Pondasi Dam

Penampang Geologi dan Permeabilitas (Lugeon) Pondasi Dam

Gambar 4.1 Profil Geologi Pondasi Bangunan Jatigede (Prakiraan awal)

Gambar 4.2 Profil Geologi Pondasi Bangunan Jatigede (Kenyataan di lapangan)

DIV-CRU-9

RD-8

RD-9

U-8

DIV-C

DIV-C

-CR

-CR DIV

U-1
DI VCR D10

7 D-

DI

V-

CR

DIV

IV -C

-1 1

Lu = 6.48 Lu = 39.2 5 Lu = 16.3 4 Lu = 32.8 9 Lu = 22.5 3 Lu = 32.2 3


Lu = 22.0 0

Lu = 67.91

= 8.

Lu = 116

Lu = 11 .80

= 36

.95

35

Lu

71

= 3.

Lu = 11 .64

= 7.

Lu = 72.2

Lu

29

Lu = 38.06

.45

Lu = 6. 33

= 30

Lu

Lu = 149

.95

Lu

= 26

.69

Lu

Lu = 35.6

Lu = 35.2

Lu = 26.8

Bendungan Jati Gede

DI VCR
Lu = 0.92

U7
DI

CR VDI

11 D-

DI

V-

CR V-

CR

DIV

DIV

D6

DIV

2 U-1 -CR

3 D-

-CR

-CR

DIV-C

DIV-C

DIV-CRU-5

U-6

DIV-C

RD-1

U-4

RD-5

DIV-CRU-13
8

Lu = 39.8 Lu = 1.13

Lu = 53.6

6 Lu = 18.3 7 Lu = 13.9 4 Lu = 40.7 5 Lu = 28.1 3 Lu = 10.3 7

Lu

21.45

Lu .36

8.58

Lu

Lu

1.7

= 34 .7 6

= Lu

DIV-CR D-13

Lu = 15

RD-4

30 .40 Lu
Lu = 8.7 7

.39

Lu

= 8. 77

DIV
.19 Lu

-CR

Lu = 22 = 6. 71

U-1

DI VCR

D14

LEGEND
LU < 3 3 < LU < 5 5 < LU < 10 10 < LU < 20 > 20

DI VCR U3

D -C IV R U 5 -1

DI VCR D2

CR VDI

DIV -CR U-2

DIV

15 D-

Gambar 4.3 Monitoring Grouting pada Diversion Tunnel

DIV-C RD-1

DIV-C

-CR

DIV-CRU-1

6 U-1

RD-16

20

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Gambar 4.4 Curtain Upstream And Downstream At Left Bank Sta.0+165.00 Sta.0+812.00 (Sebelum pekerjaan Grouting)

Bendungan Jati Gede

21

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Gambar 4.5 Curtain Upstream And Downstream At Left Bank Sta.0+165.00 Sta.0+812.00 (Setelah dilakukan pekerjaan Grouting)

4.1 SUMBER DAYA MANUSIA


Untuk dapat melaksanakan pekerjaan Grouting ini maka diperlukan sumber daya manusia yang memadai. Dimulai dari perencanaan yang matang, pelaksanaan pekerjaan yang sesuai dengan spesifikasi dan pengawasan pekerjaan yang baik sehingga hasil yang diharapkan sesuai dengan spesifikasi yang direncanakan. Pekerjaan Grouting ini direncanakan oleh konsultan perencana setelah

mendapatkan data berupa lugeon map. Hasil dari water testing pada lokasi bendungan Jatigede. Dari hasil itu maka diketahui lokasi-lokasi yang dibutuhkan perbaikan tanah (soil stabilization) maka direncanakan oleh konsultan perencana untuk dilakukan pekerjaan perbaikan tanah oleh kontraktor yang memiliki spesialisasi dalam pekerjaan Grouting. Pada pelaksanaan pekerjaan, kontraktor harus memperhitungkan jumlah tenaga untuk melaksanakan pekerjaan Grouting ini dibandingkan dengan jumlah kebutuhan

Bendungan Jati Gede

22

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Grouting di lapangan sehingga dapat diketahui waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan Grouting tersebut. Aspek pengawasan yang dilakukan oleh pengendali dari segi sumber daya manusia yakni melalui konsultan pengawas yang mengawasi bagaimana pekerjaan tersebut dikerjakan oleh tenaga-tenaga kerja yang berkompeten sesuai dengan daftar personil inti yang disebutkan di dokumen kontrak kontraktor. Konsultan akan melaporkan kepada pengendali apabila ada ketidaksesuaian antara kondisi personil di lapangan dengan daftar personil yang disebutkan di dalam dokumen kontrak.

4.2 MATERIAL / BAHAN


Menurut Dwiyanto (2005), Grouting merupakan metode untuk memperkuat tanah/batuan atau memperkecil permeabilitas tanah/batuan dengan cara menyuntikkan pasta semen atau bahan kimia ke dalam lapisan tanah/batuan. Material / Bahan yang diperlukan untuk proses Grouting antara lain: 1. Pasta Semen Dalam memperbaiki kualitas tanah dengan metode Grouting digunakan semen dengan perbandingan campuran yang sudah ditetapkan sesuai dengan batas tekanan yang ditentukan. 2. Bahan Kimia (admixture) Aspek pengawasan yang dilakukan oleh pengendali dari segi material yakni melalui konsultan pengawas yang mengawasi bagaimana pekerjaan tersebut menggunakan material / bahan yang sesuai dengan daftar material / bahan yang disebutkan di dokumen kontrak kontraktor. Konsultan akan melaporkan kepada pengendali apabila ada ketidaksesuaian antara kondisi material / bahan di lapangan dengan kondisi material / bahan yang disebutkan di dalam dokumen kontrak.

4.3 PERALATAN
Grouting adalah penyuntikan bahan semi kental (slurry material) ke dalam material tanah/batuan dengan bertekanan dan melalui lubang bor spesial, dengan tujuan menutup

Bendungan Jati Gede

23

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

diskontinuitas terbuka rongga-rongga dan lubang- lubang pada lapisan/strata yang dituju (Pangesti, 2005).

Gambar 4.6 Model peralatan Grouting (Warner, 2005). Peralatan yang dibutuhkan dalam proses Grouting antara lain: 1. Alat Pengebor 2. Alat Injeksi 3. Pompa 4. Mixer Aspek pengawasan yang dilakukan oleh pengendali dari segi peralatan yakni melalui konsultan pengawas yang mengawasi bagaimana pekerjaan tersebut dikerjakan menggunakan peralatan yang sesuai dengan daftar peralatan yang disebutkan di dokumen kontrak kontraktor. Konsultan akan melaporkan kepada pengendali apabila ada ketidaksesuaian antara kondisi peralatan di lapangan dengan kondisi peralatan yang disebutkan di dalam dokumen kontrak.

4.4 METODE KERJA


Tanah atau batuan dasar pondasi bangunan tidak sepenuhnya dapat memenuhi kriteria perencanaan. Untuk memenuhi kriteria perencanaan, maka diperlukan perbaikan terhadap kondisi tanah/batuan. Salah satu metode peningkatan daya dukung tanah/ batuan adalah dengan melakukan Grouting.

Bendungan Jati Gede

24

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Grouting adalah penginjeksian material perekat ke dalam tanah/batuan yang lulus air dengan tujuan untuk menutup pori/ rekahan. Grouting merupakan salah satu metode penanggulangan gerakan tanah melalui rekayasa kimia dan mekanis. Pada prinsipnya, metode ini menekankan pada upaya perkuatan lereng dan meningkatkan daya dukung tanah. Pekerjaan Grouting dilakukan dengan cara menyuntikkan pasta semen ke dalam tanah atau batuan melalui lubang bor dengan tujuan menutup diskontruksi terbuka, rongga-rongga dan lubang-lubang pada lapisan yang dituju untuk meningkatkan kekuatan tanahnya. Grouting awalnya hanya digunakan untuk mengontrol aliran air, tetapi sekarang telah meluas dan aplikasinya tidak terbatas, anya adalah digunakan untuk mengurangi aliran atau rembesan air, meningkatkan daya dukung tanah/batuan, pemadatan (mengisi rongga dan celah/rekahan pada tanah/batuan), dan memperbaiki kerusakan struktur. Menurut James Warner (2005), tipe tipe sementasi (Grouting) berdasarkan tujuannya dapat dibedakan menjadi enam (6) jenis, yaitu sementasi penembusan (permeation Grouting), sementasi pemadatan (compaction Grouting), sementasi rekahan (fracture/claquage Grouting), sementasi campuran/jet (mixing/jet Grouting), sementasi isi (fill Grouting) dan sementasi vakum (vacuum Grouting). Sedangkan menurut Soedibyo (1993), tipe sementasi (Grouting) berdasarkan bahan yang digunakan ada 3 tipe, yaitu injeksi bahan kimia, injeksi sistem Soletanche dan injeksi dengan semen. Metode ini mempunyai kelebihan dapat dilakukan pada ruang terbatas, efektifitas dari pekerjaan dalam metode ini juga terbilang sangat efektif. Tidak memerlukan alat berat dalam pelaksanaan kegiatannya karena hanya menggunakan bor,mixer, dan pompa saja. Daya tahan lereng setelah pelaksanaan kegiatan juga bagus dan tidak membutuhkan perawatan berkala setelah pekerjaan karena Grouting akan menambah kekuatan antar partikel tanah/batuan yang menyusun lereng tersebut. Jika ditinjau dari segi estetika pemanfaatan lahannya, geometri lereng juga tidak berubah karena Grouting akan tetap menjaga keaslian dari lereng tersebut. Jumlah pekerja dalam pelaksanaan kegiatan juga relatif sedikit dibandingkan dengan metode penanggulangan gerakan tanah lainnya. Dalam memperbaiki kualitas tanah dengan metode Grouting digunakan semen dengan perbandingan campuran yang sudah ditetapkan sesuai dengan batas tekanan yang ditentukan. Tetapi untuk jangka panjang metode Grouting terbilang lebih ekonomis dibandingkan metode lainnya karena hasil dari pelaksanaan kegiatan tersebut bisa

Bendungan Jati Gede

25

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

bertahan lama dan tidak membutuhkan perawatan berkala serta tidak merubah luas area tersebut.

Pelaksanaan Grouting Setelah dilakukan penyelidikan geologi teknik di suatu daerah baik penyelidikan permukaan dan bawah permukaan, dan telah diketahui nilai SPT (Standart Penetration Test) dan bisa direkomendasikan untuk bisa dilakukan Grouting. Pelaksanaan Grouting meliputi penentuan titik Grouting, uji permebilitas, pemboran dan Grouting (Dwiyanto, 2005). Berikut ini adalah uraian secara singkat mengenai tahap pelaksanaan Grouting: Penentuan titik Grouting Penentuan titik Grouting berpatokan pada stasiun-stasiun yang ditentukan di lapangan melalui penyelidikan oleh tenaga ahli. Jarak tiap-tiap titik Grouting disesuaikan dengan kebutuhan. Pemboran Pelubangan titik Grouting dilakukan dengan cara di bor. Dalam Grouting ada 2 macam pemboran, yaitu pemboran dengan pengambilan core dan pemboran tanpa core. Diameter lubang bor adalah 76 cm untuk pemboran coring dan 46 mm untuk pemboran non coring. Khusus untuk permboran dengan coring diperlukan mesin dengan penggerak hidrolik agar kualitas core yang dihasilkan lebih bagus.

Uji Permeabilitas atau Test Lugeon Uji permeabilitas pertama kali diperkenalkan oleh Lugeon pada tahun 1933, yang bertujuan untuk mengetahui nilai lugeon (Lu) dari deformasi batuan. Nilai lugeon adalah suatu angka yang menunjukkan berapa liter air yang bisa merembes ke dalam formasi batuan sepanjang satu meter selama periode satu menit, dengan menggunakan tekanan standar 10 Bars atau sekitar 10 kg/cm2. Angka ini hampir sama dengan koefisien kelulusan air sebesar 1 x 10-5 cm/detik. Nilai lugeon dapat memberikan informasi mengenai sifat aliran dalam batuan dan sifat batuan itu sendiri terhadap aliran air yang melaluinya. Metode pengujiannya adalah dengan cara memasukkan air bertekanan ke dalam lubang bor, menggunakan peralatan yang disebut rubber packer, yang digunakan

Bendungan Jati Gede

26

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

untuk menyumbat lubang bor. Peralatan lain yang digunakan dalam uji permeabilitas antara lain: Waterflow Meter untuk mengetahui debit air Stop Watch untuk menentukan waktu rembesan Pressure Gauge untuk mengetahui tekanan air Water Pump untuk memompa air Untuk pengujian dengan tekanan kurang dari 10 kg/cm2, dibuat ekstrapolasi sehingga bentuk persamaannya menjadi: Lu= 10Q/PL Keterangan: Lu Q P L Harga = Lugeon unit (l/mnt/m) = debit aliran yang masuk (l/mnt) = tekanan total (Po+Pi) (kg/cm2) = panjang lubang yang di uji (m) Lugeon Unit adalah angka yang menunjukkan beberapa volume air yang (3-1)

masuk (dalam liter) ke dalam setiap satu meter formasi batuan setiap satu meter formasi batuan setiap menitnya. Lugeon unit memberikan gambaran tentang : Sifat aliran dalam batuan. Sifat batuan itu sendiri terhadap aliran air yang melaluinya. Tekanan total yang diterima sebesar 10 kg/cm2. Setelah Test Lugeon selesai maka akan diketahui nilai lugeon, nilai tersebut digunakan untuk menentukan Grouting diperlukan atau tidak dan berapa campuran awal yang akan diinjeksikan. Dalam hal ini standar yang dipakai adalah Grouting dilaksanakan jika nilai lugeon lebih dari 5 dan sebaliknya jika nilai lugeon kurang dari 5 maka tidak perlu di Grouting. Tahap pekerjaan Grouting dilakukan dengan cara menyuntikkan bahan semi kental (slurry material) ke dalam tanah atau batuan melalui lubang bor. Untuk penentuan campurannya akan dirubah ke perbandingan yang lebih kental sampai tekanan maksimum Grouting tercapai dengan urutan sebagai berikut : Jika nilai lugeon 5-20 aka campuran awal semen : air = 1:5. Jika nilai lugeon lebih dari 20 maka campuran awal semen;air = 1:3.

Bendungan Jati Gede

27

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Campuran akan dirubah keperbandingan yang lebih kental sampai tekanan maksimum Grouting tercapai dengan urutan sebagai berikut : Campuran 1:5 sampai 240 liter/min/m, jika tekanan belum tercapai dirubah ke, Campuran 1:3 sampai 240 liter/min/m, jika tekanan belum tercapai dirubah ke, Campuran 1:2 sampai 240 liter/min/m, jika tekanan belum tercapai dirubah ke, Campuran 1:1 sampai 480 liter/min/m, jika tekanan belum tercapai maka Grouting dihentikan dan lubang dicuci kemudian dilakukan Grouting selama 8 jam. Grouting dianggap selesai apabila tekanan maksimum dapat tercapai dan aliran volume injeksi yang masuk lebih kecil atau sama dengan 0,2 liter/min/m. Campuran yang lebih kental misalnya 1:0,8 atau lebih kental diperlukan untuk mengatasi jika terjadi kebocoran (leakage), hal ini dilaksanankan atas persetujuan konsultan pengawas.

Perhitungan Volume Grouting Tahap perhitungan volume Grouting sebenarnya tidak masuk dalam lingkup pelaksanaan pekerjaan Grouting. Akan tetapi, tahap perhitungan volume Grouting ini berguna untuk menentukan jumlah campuran yang akan digunakan, agar tidak terjadi kerugian akibat campuran yang tidak terpakai dan dibuang sia-sia. Tahap perhitungan volume Grouting meliputi: Volume campuran Grouting yang diinjeksikan dalam m3 Volume bahan untuk Grouting dalam hal ini adalah semen atau pasir dalam ton Perhitungan dapat dilakukan secara elektronik dengan menggunakan peralatan otomatis maupun dengan cara perhitungan volume secara manual. Untuk perhitungan secara manual dapat dilakukan seperti pada contoh berikut ini: Air dengan berat jenis 1 maka 1 kg = 1 liter Semen dengan berat jenis 3,14 maka 1 kg = 0,318 liter, sehingga 1 sak (50 kg) = 15,92 liter.

Bendungan Jati Gede

28

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

Tabel 3.1. Perbandingan semen dan air untuk campuran Grouting (Widioko, 2007). CAMPURAN 1:5 1:3 1:2 1:1 SEMEN (Kilogram) 50 50 50 50 AIR (Liter) 250 150 100 50 VOLUME TOTAL (Liter) 265,92 65,92 115,92 65,92

Dengan mengetahui volume injeksi, maka dapat diketahui pula volume berat (kg) material yang akan diinjeksikan. Dalam pekerjaan Grouting tidak seluruh campuran bisa diinjeksikan, karena akan ada sisa di dalam selang sirkulasi. Jika tidak ada lubang Grouting lain yang sudah siap maka sisa campuran dibuang. Pembuangan campuran ini merupakan pemborosan, maka perlu dilakukan pengamatan debit campuran yang masuk. Jika campuran yang masuk sudah mulai sedikit mendekati 0,2 liter/menit/meter, maka tidak perlu membuat campuran lagi. Menurut Chen, dkk., (2000), dalam Dwiyanto (2005), penentuan lokasi dan kedalaman titik Grouting untuk perencanaan perbaikan lereng dapat dilakukan dengan menggunakan rumus: H = h + kh Keterangan: H h k = kedalaman Grouting (m) = tinggi tebing (m) = konstanta (besarnya antara 0,8 sampai 1,2) (3-2)

Lebar area yang terkena sementasi adalah antara 0,6 h - 0,8 h.

Aspek pengawasan yang dilakukan oleh pengendali dari segi metode kerja yakni melalui konsultan pengawas yang mengawasi bagaimana pekerjaan tersebut dikerjakan dengan menggunakan metode kerja yang sesuai dengan metode kerja yang disebutkan di dokumen kontrak kontraktor. Konsultan akan melaporkan kepada pengendali apabila ada ketidaksesuaian antara metode kerja yang dilaksanakan di lapangan dengan metode kerja yang disebutkan di dalam dokumen kontrak.

Bendungan Jati Gede

29

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Kelompok II

KESIMPULAN DAN SARAN

Bab 5

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasul peninjauan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Site Investigation merupakan suatu pekerjaan penting saat dilakukan perencanaan, terlebih dengan kondisi geologi pegunungan tidak menentu sehingga diperlukan adanya survey mengenai kondisi geologi secara detail sebelum dilaksanakannya proses perencanaan. Penggunaan metode grouting dalam perbaikan tanah (Soil Treatment) merupakan metode perbaikan tanah yang efektif untuk dilakukan pada daerah yang memiliki kondisi geologi buruk. 2. Dalam pembangunan Bendungan Jatigede perbaikan tanah dengan menggunakan grouting menjadi suatu pekerjaan yang tak terduga (unpredictable works) yang harus diantisipasi untuk biaya, mutu, dan waktu dari pelaksanaan proyek ini.

5.2 SARAN
Dari peninjauan yang telah dilakukan dan mengacu pada data yang diperoleh, maka ada beberapa saran yang dikemukakan oleh penulis diantaranya : 1. Dalam melaksanakan site investigation, penting untuk melakukan geology survey untuk mengetahui kondisi tanah di lokasi pembangunan. 2. Harus ada peningkatan kapasitas pekerjaan, karena pekerjaan grouting merupakan pekerjaan yang berada pada jalur keritis, sehingga diperlukan perubahan metode atau penambahan kapasitas produksi.

Bendungan Jati Gede

30