Anda di halaman 1dari 1

JAKARTA - Penyalahgunaan konversi elpiji sebagai pengalihan minyak tanah cukup

besar. Hal ini terbukti dari hasil penghitungan Departemen ESDM.


"Penyalahgunaannya besar sekali. Rata-rata konversinya 0,3 persen dari total konsumsi
BBM. Seharusnya hanya 0,2 persen saja," ujar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro,
usai raker dengan Komisi VII DPR, di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Rabu (17/9/2008).
Dengan demikian, penggunaan konversi elpiji secara tepat guna tidak sebesar yang
diperhitungkan. Padahal alokasi konversi elpiji itu cukup besar. Targetnya, 0,5 persen
dari total konsumsi BBM.
Purnomo mencontohkan, dengan konversi 0,5 persen saja, jika konsumsi BBM 10 juta
kiloliter, berarti elpijinya 5.000 ton.

JAKARTA - Untuk memastikan apakah tabung elpiji 3 kg beserta kompor telah


diterima oleh pihak yang berhak, pemerintah telah menerjunkan tim untuk melakukan
verifikasi pelaksanaan konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg sejak pekan kemarin. Tim
verifikasi ini diharapkan dapat menyelesaikan tugasnya pada akhir 2008.
"Kita lihat berapa (tabung dan kompor) yang harusnya disalurkan, subsidi Pertamina
keluarnya berapa. Kan kita ada datanya," ujar Dirjen Migas Departemen ESDM Evita H
Legowo, seperti dikutip dalam keterangan tertulis Ditjen Migas, di Jakarta, Jumat
(12/9/2008).
Apabila dari hasil verifikasi tersebut terdapat ketidakcocokan data, misalnya PT
Pertamina merasa telah menyalurkan tabung dan kompor ke pihak yang berhak
sementara pihak itu belum menerimanya, maka pemerintah akan tetap meminta
Pertamina memberikan peralatan tersebut.
Sementara itu, Evita mengungkapkan, penggunaan kartu kendali atau sistem distribusi
tertutup untuk mengantisipasi beralihnya pengguna elpiji tabung 12 kg dan 50 kg ke
elpiji tabung 3 kg, masih merupakan wacana dan memerlukan pembahasan lebih lanjut.
Sebagai informasi, elpiji tabung 3 kg merupakan bahan bakar tertentu yang disubsidi
pemerintah dan telah dijamin tidak akan dinaikkan harga jualnya. (rhs)

JAKARTA - Program konversi minyak tanah ke gas kembali mengalami kendala.


Operasional di 17 perusahaan baja nasional yang memproduksi tabung gas ukuran 3
kilogram (kg) untuk program tersebut tersendat.
Hal itu karena perusahaan tersebut belum memegang RO (Repeat Order) dari PT
Pertamina. RO ini terkait pemesanan baja dari PT Krakatau Steel (PT KS). Dengan
tidak adanya RO, maka KS tidak bisa mengirim baja ke perusahaan. Sehingga pasokan
baja tertumpuk di KS. "Kita harus segera mengirim surat ke Pertamina supaya
menerbitkan RO ke pabrik. Kita akan kirim surat itu besok," kata Direktur Logam
Depperin, Putu Suryawirawan di Gedung Depperin, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta,
Selasa (19/8/2008).
Saat ini, operasional 17 perusahaan tersebut terhenti. Kondisi itu sudah terjadi sejak dua
pekan lalu. Depperin tidak bisa memastikan kapasitas 17 perusahaan itu. Diharap
kapasitasnya tergolong kecil. Karena perusahaan yang berkapasitas besar tidak hanya
memproduksi tabung elpiji ukuran 3 kg.
"17 perusahaan itu statusnya idle. Kalau idle, pabrik untuk kembali beroperasi berat.
Perlu start up pelan-pelan sampai kapasitas tinggi baru bisa beroperasi," tambahnya.
Permasalahan tenaga kerja di perusahaan itu juga akan semakin menganggu kelancaran
produksi. "Produksi di 17 perusahaan ini terganggu, program konversi juga
terganggu.Yang dikhawatirkan seolah olah industri dalam negeri tidak sanggup,"
ujarnya.
Namun, melihat target pengadaan tabung hingga September mendatang, Depperin
melihat masih ada celah untuk mencapai target ini. "Programnya kan
Juli,Agustus,September. Berarti masih ada waktu," pungkasnya. (ade)

Beri Nilai