Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang HIV, yang dahulu disebut virus limfotrofik sel-T manusia tipe III (HTLV-III) atau virus limfadenopati (LAV), adalah suatu retrovirus manusia sitopatik dari famili lentivirus. Retrovirus mengubah asam ribonukleatnya (RNA) menjadi asam deoksiribonukleat (DNA) setelah masuk ke dalam sel pejamu. HIV-1 dan HIV-2 adalah lentivirus sitopatik, dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS di seluruh dunia. (Sylvia Price.Patofisiologi Penyakit.2005) AIDS (Acquired Immunodeficiency Virus) adalah sekumpulan keadaan klinis atau penyakit yang merupakan akibat akhir dari infeksi HIV. AIDS merupakan salah satu masalah kesehatan yang sedang dihadapi masyarakat dunia akhir-akhir ini. Saat ini tidak ada negara yang terbebas dari HIV (Human Imunnodeficiency Virus) maupun AIDS. HIV/AIDS menyebabkan krisis multidimensi yaitu krisis kesehatan, pembangunan negara, ekonomi, pendidikan maupun kemanusiaan. (Djauzi dan Djoerban, 2007) Menurut data dari World Health Organization (WHO) dan Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), sebanyak 33.2 juta orang yang hidup dengan HIV yang terdiri daripada 30.8 juta orang dewasa, 15.4 juta orang wanita dan 2.1 juta orang anak anak di bawah usia 15 tahun. Lebih kurang 6800 infeksi HIV baru dalam sehari dalam tahun 2007 yang terdiri dari 5800 dewasa di mana hampir 50% adalah wanita, dan 40% terdiri dari golongan muda yang berumur antara 1524 tahun. Jumlah penderita lebih kurang 1200 orang anakanak berumur di bawah 15 tahun dan lebih 96% dari negara golongan pendapatan rendah dan sederhana (WHO dan UNAIDS, 2007). Pada anakanak yang didiagnosa AIDS ketika berumur kurang dari 13 tahun, 90% dari mereka mendapat infeksi melalui ibu mereka yang terinfeksi HIV ke fetus. Di Indonesia, sejak tahun 1987 perkembangan jumlah kasus AIDS maupun HIV (+) cenderung meningkat pada setiap tahunnya. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemkes) pada tahun 2009, memperkirakan total jumlah 186.257 orang yang terinfeksi HIV di Indonesia. Laporan kumulatif triwulan yang disampaikan Kemkes menunjukkan hingga Maret 2011 terdapat 24.482 kasus AIDS dan 59.941 kasus HIV, dengan total berjumlah 84.423 kasus

atau sekitar 45% dari estimasi nasional. Data yang masuk berasal dari 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Data jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia pada dasarnya bukanlah merupakan gambaran jumlah penderita yang sebenarnya. Pada penyakit ini berlaku teori gunung es dimana penderita yang kelihatan hanya sebagian kecil dari yang semestinya. Untuk itu WHO mengestimasikan bahwa dibalik 1 penderita yang terinfeksi telah terdapat kurang lebih 100-200 penderita HIV yang belum diketahui. Dari risiko cara penularan, penularan melalui transmisi seksual (heteroseksual dan lelaki seks lelaki) merupakan yang tertinggi, sebanyak 56,1%, disusul penggunaan narkoba suntik 37,9%, dari Ibu kepada anak 2,6%, dan tranfusi darah 0,2%. Dari faktor usia, dilaporkan, usia muda antara 20-29 tahun merupakan kelompok yang tertinggi 47,2%, disusul kelompok umur 30 -39 tahun sebanyak 31,1% dan usia 40-49 tahun sebesar 9,5%. Sedangkan dari wilayah yang melaporkan, 10 daerah dengan kasus AIDS tertinggi, berturut-turut berasal dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara dan DI Yogyakarta. Dari segi jumlah, penderita HIV/AIDS di Bali menempati urutan kelima tingkat nasional. Namun dari segi prevalensi (perbandingan jumlah penderita dengan jumlah penduduk di wilayah setempat), Bali menempati peringkat kedua nasional setelah Provinsi Papua. Berdasarkan Data Dinas kesehatan Propinsi Bali juga menyebutkan, hingga bulan Maret 2011, ada laporan penambahan jumlah penderita yakni sebanyak 245 penderita, 117 penderita AIDS 117 dan 138 HIV. Sementara Jumlah penderita HIV/AIDS di Bali secara keseluruhan kini sebanyak 4.314 orang, dimana 369 orang di antaranya sudah meninggal. HIV/AIDS sampai sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini dan prognosisnya buruk. Sehingga pasien yang menderita penyakit ini akan mengalami penderita mengalami stress. Apabila stres yang dialami pasien sangat tinggi, maka kelenjar adrenal akan menghasilkan kortisol dalam jumlah banyak sehingga dapat menekan sistem imun (Clancy, 1998). Adanya penekanan sistem imun inilah nampaknya akan berakibat pada penghambatan proses penyembuhan dan memerlukan waktu perawatan yang lebih lama dan bahkan akan mempercepat terjadinya komplikasi-komplikasi selama perawatan Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan perbaikan kinerja kepada perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan model holistik, yaitu biopsikososiospiritual. Salah satu model yang digunakan dalam penerapan teknologi ini adalah berdasar pengembangan teori

adaptasi dari S.C. Roy. Pada teori ini ditekankan pada pemenuhan perawat kepada pasien secara holistik, yaitu aspek fisik (atraumatic care); psikis (memfasilitasi koping yang konstruktif); dan aspek sosial (menciptakan hubungan dan lingkungan yang konstruktif dengan melibatkan keluarga dalam perawatan. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka diperlukan upaya untuk mengkaji secara mendalam penerapan teori adaptasi (Callista Roy) sebagai intervensi keperawatan dalam upaya modulasi imunitas pasien HIV/AIDS untuk pencegahan infeksi oportunistik, salah satunya dalam bentuk karya ilmiah. Karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan membuka cakrawala masyarakat luas khususnya dalam bidang keperawatan dalam upaya memerangi salah satu masalah kesehatan global, yaitu pandemi HIV/AIDS.

1.2 Rumusan Masalah Adapun permasalahan yang dikaji dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana hubungan penerapan teknik model holistik berdasarkan teori adaptasi (Callista Roy) dengan respon imun pada pasien yang terinfeksi HIV/AIDS ? 2. Bagaimana implikasi keperawatan serta hubungannya dengan peran dan fungsi perawat dalam penerapan teknik model holistik terhadap upaya untuk memodulasi respon imun pada pasien HIV/AIDS ? 3. Apa saja hambatan dalam penerapan model holistik berdasarkan teori adaptasi (Callista Roy) sebagai upaya modulasi respon imun? 4. Bagaimana solusi yang dapat diberikan perawat dalam hambatan-hambatan yang ditemui dalam penerapan model holistik berdasarkan teori adaptasi (Callista Roy) ?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui hubungan penerapan teknik model holistik berdasarkan teori adaptasi (Callista Roy) dengan respon imun pada pasien yang terinfeksi HIV/AIDS. 2. Mengetahui implikasi keperawatan serta hubungannya dengan peran dan fungsi perawat dalam penerapan teknik model holistik terhadap upaya untuk memodulasi respon imun pada pasien HIV/AIDS.

3.

Mengetahui hambatan dalam penerapan model holistik berdasarkan teori adaptasi (Callista Roy) sebagai upaya modulasi respon imun.

4.

Mengetahui solusi yang dapat diberikan perawat dalam hambatan-hambatan yang ditemui dalam penerapan model holistik berdasarkan teori adaptasi (Callista Roy) ?

1.4 Manfaat Penulisan Hasil penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat: 1. Memberikan sumbangan pemikiran kepada masyarakat luas khususnya dalam bidang keperawatan dalam upaya memerangi salah satu masalah kesehatan global, yaitu pandemi HIV/AIDS. 2. Mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya pembangunan di bidang kesehatan menuju peningkatan daya saing bangsa melalui perbaikan kinerja kepada perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan model holistik, yaitu biopsikososiospiritual.