Anda di halaman 1dari 6

OBAT PATEN DAN OBAT GENERIK

A. Obat Paten Obat-obatan yang tersedia saat ini terbagi menjadi dua macam, yaitu obat paten dan obat generik. Obat paten adalah obat yang masih memiliki hak paten, biasanya selama 20 tahun, setelah 20 tahun baru boleh di produksi oleh perusahaan lain. Obat paten merupakan paten yang diberikan pada zat kimia atau obat baru. Jadi sifatnya seperti hak cipta. Dengan kata lain, hanya industri farmasi yang memproduksinya yang memiliki hak paten atas obat tersebut. Tanpa izin pemilik hak paten, obat ini tidak boleh ditiru, diproduksi dan dijual dengan nama generik oleh pabrik lain.

Obat paten diproduksi melalui penelitian yang bertahap,rumit dan panjang. Setelah melewati berbagai uji baik laboratorium,uji pada hewan percobaan maupun pada manusia dan terbukti lolos atau memiliki efek terapi yang baik dan efek samping yang minimal,obat ini di patenkan untuk kemudian dijual. Obat paten sangat mahal karena biaya penelitian yamg mencapai puluhan tahun yang menekan biaya sangat besar. Obat paten yang sudah di produksi dan dijual dalam waktu yang lama akhirnya mencapai masa diluar hak paten. Jika masa berlaku hak paten ini habis, maka obat paten dapat diproduksi oleh siapa saja dan biasanya disebut dengan obat generik (Putro, 2009).

Beberapa contoh obat paten adalah: 1. Ponstan, sebuah obat yang berkhasiat sebagai analgesik yang dimiliki oleh perusahaan farmasi Pfizer yang mengandung zat aktif asam mefenamat.

2. Zoloft, sebuah obat anti depresi dengan zat aktif Sertraline HCl keluaran Pfizer. Efek samping Zoloft bisa berfungsi sebagai "obat kuat" alias menghambat ejakulasi pada pria.

3. Viagra, merupakan obat keluaran Pfizer untuk mengatasi disfungsi ereksi. Menimbulkan efek samping pusing, masalah pencernaan dan gangguan visual.

4. Lipitor, sebuah obat anti kolesterol yang dimiliki oleh perusahaan farmasi Pfizer yang mengandung zat aktif Atorvastatin Ca.

5. Norvasc, sebuah obat anti hipertensi yang dimiliki oleh perusahaan farmasi Pfizer. Kadaluarsa hak paten yaitu pada bulan September 2007. Perusahaan-

perusahaan lain bisa memproduksi obat ini karena masa hak paten telah habis dan dapat menggunakan nama generik Amlodipine.

B. Obat Generik Obat Generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia dan INN (International Non Propietary Names) serta WHO (World Health Organization) untuk zat berkhasiat yang dikandungnya (Panduan Pelayanan Info Obat, 1990) Obat generik hanya menggunakan nama yang sesuai dengan zat berkhasiat yang dikandungnya, walaupun diproduksi oleh pabrik yang berlainan. Kebijakan produksi obat generik sangat jelas yaitu ditujukan untuk : a. Menjamin suplai dan ketersediaan obat Esensial (obat terpilih yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan) b. Menjamin mutu obat c. Meningkatkan penggunaan obat secara rasioanal d. Menjamin agar harga terjangkau oleh masyarakat

Ketersediaan obat generik dapat dilihat melalui dua hal : 1). Tersedianya semua obat dengan nama generik Tidak semua macam atau jenis obat tersedia obat generiknya. Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan subsidi pemerintah guna pengadaan bahan baku dari obat tersebut. Sebagian besar bahan baku obat masih diimport, sehingga

membutuhkan biaya yang besar guna menyediakan obat generik jenis baru. Pemerintah juga harus memastikan obat tersebut benar-benar dibutuhkan oleh konsumen bila akan menyediakan obat generik jenis baru. 2) Distribusi Ditribusi merupakan semua kegiatan yang mencakup pemindahan fisik barang dari produsen kepada konsumen atau pemakai akhir (end user) yang menyangkut faedah yang diciptakan saluran pemasaran. Faedah yang dimaksud adalah faedah tempat. Sebagin besar produsen bekerja sama dengan perantara untuk

mendistribusikan produk mereka ke pasar. Para perantara pemasaran membentuk suatu saluran pemasaran (disebut juga saluran pemasaran perdagangan atau saluran ditribusi) Stern & El-Ansary (dalam Kotler,1997:140) mendefinisikan saluran pemasaran sebagai serangkaian organisasi yang saling bergantung yang terlibat dalam proses untuk menjadikan suatu produk atau jasa siap untuk digunakan atau dikonsumsi. Kelancaran distribusi obat dari produsen ke PBF (Pedagang Besar Farmasi) kemudian ke apotek-apotek sangat diperlukan guna menjamin tersedianya obat bagi pasien (konsumen).

Dapat ditarik kesimpulan bahwa ketersediaan obat generik dapat dilihat dari dua faktor yaitu: pertama tersedianya semua obat dengan nama generik dipengaruhi oleh subsidi dari pemerintah dan seberapa besar kebutuhan masyarakat akan obat tersebut. Kedua distribusi melalui perantara yang terbentuk dalam saluran pemasaran untuk menjadikan suatu produk atau jasa siap untuk digunakan atau dikonsumsi. Contoh obat generik seperti parasetamol, antalgin, ketoconazole, acyclovir, amoksisilin, asam mefenamat dll. Selain itu, terdapat juga obat generik bermerek

yaitu obat generik tertentu yang diberi nama atau merek dagang sesuai kehendak produsen obat. Biasanya salah satu suku katanya mencerminkan nama produsennya. Contoh: natrium diklofenak (nama

generik). Di pasaran memiliki berbagai nama merek dagang, misalnya: Voltaren, Voltadex, Klotaren, Voren, Divoltar, dan lain-lain.

NB: Cuma segitu bahan yang dikirim ke aku mitaaaaa.. Smangat bikin ppt nyaaaa... ^.^

DAFTAR PUSTAKA Putro, W.A. 2009. Obat Paten vs Obat Generik. Available online at: http://winardiandalas-putro.blogspot.com/2009/03/obat-paten-vs-obat-generik.html [Diakses tanggal 4 Juni 2011]

Sekaa Teruna Bali. 2011. Meninjau perbedaan Obat Generik dan Paten. Available online at: http://www.sttbali.com/component/content/article/61-kleming/219meninjau-perbedaan-obat-generik-dan-paten.html [Diakses tanggal 4 Juni 2011]