Anda di halaman 1dari 230

PENGARUH AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI

TERHADAP PENGELOLAAN KEUANGAN MADRASAH

(Pada MTs Negeri Se-Kab. Bandung)

KEUANGAN MADRASAH (Pada MTs Negeri Se-Kab. Bandung) DARMAWAN, SPd.,MAB SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI LEMBAGA

DARMAWAN, SPd.,MAB

SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA PROGRAM MAGISTER ILMU ADMINISTRASI MANAJEMEN KEUANGAN NEGARA JAKARTA

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

 

1

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Pokok Permasalahan

6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

 

7

1. Tujuan Penelitian

 

7

2. Manfaat Penelitian

7

BAB II LANDASAN TEORITIS

 

9

A. Tinjauan Teori dan Konsep Kunci

9

a. Manajemen Keuangan

 

9

b. Akuntabilitas

26

c. Trasnparansi

34

d. Pengertian dan Karakteristik Madrasah

 

37

B. Definisi Operasional Variabel dan Indikator

40

C. Model Penelitian

 

43

a. Hubungan antara Akuntabilitas dengan Pengelolaan Keuangan

44

b. Hubungan antara Transparansi dengan Pengelolaan Keuangan

48

c. Hubungan

antara

Akuntabilitas

dan

Transparansi

dengan

Pengelolaan keuangan

 

50

D. Rumusan Hipotesis

51

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

 

52

A. Metode Penelitian

 

52

B. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

 

53

C.

Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

54

D.

Metode dan Teknik Analisis Data

55

BAB IV HASIL PENELITIAN

68

1. Objek Penelitian

68

2. Deskripsi Data

79

3. Hasil Uji Validitas dan Realibilitas

82

 

a. Pengujian Validitas

82

b. Pengujian Realibilitas

85

c. Pengujian Asumsi Klasik

86

4. Analisis Deskriptif

92

5. Pengujian Hipotesis

108

6. Pembahasan Hasil Penelitian

125

 

a.

Hasil Penelitian

125

 

a. Pengaruh Akuntabilitas terhadap Pengelolaan Keuangan

125

b. Pengaruh Transparansi terhadap Pengelolaan Keuangan

128

c. Pengaruh Akuntabilitas dan Transparansi terhadap Pengelolaan

keuangan

132

 

b.

Analisis Konsolidasi Hasil Penelitian

135

7. Keterbatasan Penelitian

139

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

141

A. Kesimpulan

141

B. Saran

 

146

Daftar Pustaka

148

Lampiran – Lampiran

152

DAFTAR TABEL

 

Hal

4.1. Data Karekteristik Responden Berdasarkan Jabatan

 

80

1.2. Data Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

 

81

1.3. Data Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

81

1.4. Hasil Uji Validitas Variabel Akuntabilitas

 

83

1.5.Hasil Uji Validitas Variabel Transparansi

84

1.6.Hasil Uji Validitas Variabel Pengelolaan Keuangan

84

1.7. Hasil Uji Realibilitas

 

86

1.8. Hasil Uji KS satu sampel

86

1.9. Hasil

Pengujian Multikolenieritas

 

89

4.10.

Distribusi Frekuensi Tanggapan Responden pada Indikator Kualitas

Penyusunan APBM

 

94

4.11.Distribusi Frekuensi Tanggapan Responden pada Indikator Laporan

Keuangan Periodik dan Tahunan

 

95

4.12.

Distribusi

Frekuensi

Tanggapan

Responden

pada

Indikator

Partisipasi Stakeholders dalam Menciptakan Akuntabilitas

 

96

4.13.Distribusi

Frekuensi

Tanggapan

Responden

pada

Indikator

Akuntabilitas Secara Keseluruhan

 

97

4.14.

Distribusi

Frekuensi

Tanggapan

Responden

pada

Indikator

Kejelasan Peran dan Tanggung jawab Pengelola Keuangan Sekolah

99

4.15.Distribusi

Frekuensi

Tanggapan

Responden

pada

Indikator

Ketersediaan Informasi Bagi Publik

 

100

4.16. Distribusi

Frekuensi

Tanggapan

Responden

pada

Indikator

Penyusunan, Pelaksanaan dan Pelaporan Anggaran Madrasah Secara

Terbuka

101

4.17. Frekuensi

Distribusi

Tanggapan

Responden

pada

Indikator

Jaminan Integritas

102

4.18.Distribusi Frekuensi Tanggapan Responden pada Indikator Proses

Merencanakan

104

4.19. Distribusi

Frekuensi

Tanggapan

Responden

pada

Indikator

Organisasi dan Koordinasi

105

4.20. Distribusi

Frekuensi

Tanggapan

Responden

pada

Indikator

Pelaksanaan dan Pelaporannya

 

106

4.21. Frekuensi

Distribusi

Tanggapan

Responden

pada

Indikator

Pengawasan

107

4.22.Hasil Korelasi Linear Akuntabilitas dengan Pengelolaan

 

109

4.23.Hasil Korelasi Linear Transparansi dengan Pengelolaan

110

4.24. Hasil Korelasi Parsial Akuntabilitas dengan Pengelolaan dengan

Transparansi sebagai Variabel Kontrol

 

111

4.25. Hasil Korelasi Parsial Transparansi dengan Pengelolaan Keuangan

dengan Akuntabilitas sebagai Variabel Kontrol

 

112

4.26. Hasil Korelasi Berganda Akuntabilitas dan Transparansi dengan

Pengelolaan Keuangan

114

4.27. Hasil Analisis Regresi Sederhana X 1 dan Y

 

116

4.28. Hasil Analisis Regresi Sederhana X 2 dan Y

119

4.29. Hasil Analisis Regresi Berganda

121

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Public Sector Accounting

11

Gambar 2. Siklus Manajemen Keuangan Pendidikan

15

Gambar 3. Model Penelitian

44

Gambar 4. Struktur Organisasi Madrasah

79

Gambar 5. Normal Q-Q Plot of Akuntabilitas

87

Gambar 6. Normal Q-Q Plot of Transparansi

88

Gambar 7. Normal Q-Q Plot of Pengelolaan

88

Gambar 8. Uji Linieritas Akuntabilitas – Pengelolaan

90

Gambar 9. Uji Linieritas Transparansi – Pengelolaan

91

Gambar 10. Hasil Uji Heteroskedastisitas

92

Gambar 11. Model Hasil Penelitian

124

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Paradigma reformasi

di

Indonesia ditandai

dengan

munculnya

semangat

demokratisasi, akuntabilitas, dan transparansi dalam setiap aspek kehidupan.

Fenomena yang terjadi dalam perkembangan sektor publik di Indonesia dewasa

ini adalah menguatnya tuntutan akuntabilitas atas lembaga-lembaga publik, baik

di pusat maupun daerah.

Menurut

Indra

Bastian

(2007:

52),

dalam

pelayanan

dan

penyediaan

pendidikan, terbatasnya alokasi dana dari pemerintah adalah salah satu kendala

yang membuat kualitas pendidikan sekolah belum juga beranjak. Untuk itu,

sekolah harus menggunakan dana dengan seefektif dan seefisien mungkin demi

peningkatan

pelayanan

dan

kualitas

pendidikan

sekolah.

Apabila

dana

dari

pemerintah tidak mencukupi, sekolah dapat mengupayakan melalui dana dari

masyarakat. Pengelolaan dana, dari pemerintah maupun dari masyarakat, harus

dilandasi semangat akuntabilitas dan transparansi. Dengan pengelolaan dana yang

transparan,

masyarakat

dibelanjakan.

Selama

ini,

sekolah

dapat

mengetahui

hanya

memiliki

kemana

saja

dana

laporan-laporan

dan

sekolah

itu

surat-surat

pertanggungjawaban sebagai bentuk transparansi pengelolaan keuangan sekolah.

Sekarang laporan arus kas, serta perhitungan biaya yang dihabiskan oleh setiap

sekolah diharapkan memiliki laporan pertanggungjawaban, termasuk laporan

keuangan sekolah yang terdiri dari realisasi anggaran, laporan surplus defisit dan

siswa. Sehingga pemerintah dan masyarakat dapat mengetahui dengan lebih

mudah berapa besar kebutuhan tiap murid dalam setiap bulan, semester, atau

tahunnya.

Selanjutnya

Pemerintah

dapat

mengambil

tindakan

dan

kebijakan

terkait dengan pembangunan sektor pendidikan. Atau dengan kata lain, pelaporan

keuangan sekolah harus dapat menyediakan informasi yang bermanfaat bagi para

penyedia dana dan pemakai lainnya, baik berjalan maupun potensial, dalam

membuat keputusan rasional tentang alokasi dana ke sekolah tersebut.

Sejalan dengan pasal 51 ayat (1) UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional, bahwa pengelolaan satuan pendidikan dilaksanakan dengan

prinsip

Manajemen

Berbasis

Sekolah

(MBS).

Hal

ini

akan

mendorong

pengelolaan pendidikan lebih terarah dan lebih terkoordinasi baik dari segi

penyelenggaraan, pendanaan, pengembangan, dan pengawasan. Sesuai dengan

ketentuan dalam MBS bahwa dalam pengelolaan keuangan sekolah juga harus

menganut prinsip transparansi dan akuntabilitas publik. Dalam mekanisme MBS

perlu ditinjau unsur-unsur apa saja yang dapat dicermati dan komponen apa saja

yang menjadi kebutuhan dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk laporan

keuangan,

yang

dapat

mencerminkan

aktivitas

segala

kegiatan

sekolah.

Manajemen keuangan berbasis sekolah mengkaji bagaimana sekolah agar dapat

merencanakan, menggali, dan mengatur keuangannya sesuai dengan kebutuhan

dan potensi yang ada dan mempertanggung-jawabkannya kepada publik secara

luas baik kepada orang tua siswa, pemerintah, dan masyarakat.

Sesuai dengan ketentuan dalam MBS bahwa dalam pengelolaan keuangan

sekolah

juga

harus

menganut

prinsip

transparansi

dan

akuntabilitas

publik.

Berdasarkan Kepmendagri 13/2006 tentang Pelaporan Pengelolaan Keuangan

Daerah, akuntabilitas diartikan sebagai mempertanggungjawabkan pengelolaan

sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada Pemda dalam

mencapai tujuan yang ditetapkan secara periodik. Lebih lanjut akuntabilitas dapat

dilihat dari sudut pandang pengendalian tindakan pada pencapaian tujuan. Dalam

hal

ini,

akuntabilitas

mengandung

arti

kewajiban

untuk

menyajikan

dan

melaporkan segala tindak tanduk dan kegiatan seseorang atau lembaga terutama di

bidang administrasi keuangan kepada pihak yang lebih tinggi/atasannya.

Terdapat

beberapa

jenis

akuntabilitas

antara

lain

adalah

akuntabilitas

keuangan, akuntabilitas manfaat, dan akuntabilitas prosedural (LAN dan BPKP

dikutip

oleh

Halim,

2004:

167).

Akuntabilitas

keuangan

merupakan

pertanggungjawaban mengenai integritas keuangan, pengungkapan, dan ketaatan

terhadap peraturan perundang-undangan. Sasaran pertanggungjawaban ini adalah

laporan keuangan yang disajikan dan peraturan perundangan yang berlaku yang

mencakup

penerimaan,

penyimpanan

dan

pengeluaran

uang

oleh

instansi

pemerintah. Pelaporan kinerja yang diterbitkan secara regular akan menjadi

langkah maju dalam mendemonstrasikan proses akuntabilitas.

Berdasarkan Kepmendagri 13/2006 tentang Pelaporan Pengelolaan Keuangan

Daerah, transparansi adalah memberikan informasi keuangan yang terbuka dan

jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki

hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban

pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya

dan ketaatannya pada peraturan perundang-undangan. Informasi adalah adalah

informasi mengenai semua aspek kebijakan pemerintah yang dapat dijangkau oleh

publik. Prinsip ini memiliki dua aspek, yakni

1) aspek komunikasi publik oleh

pemerintah, dan 2) hak masyarakat terhadap akses informasi. Hal ini akan sulit

dilakukan

jika

pemerintah

tidak

menangani

dengan

baik

kinerja,

karena

manajemen kinerja yang baik adalah titik awal dari transparansi.

Berdasarkan uraian di atas, maka sekolah sangat memerlukan akuntansi dalam

upaya

mewujudkan

prinsip

transparansi

dan

akuntabilitas

pengelolaan

keuangannya.

Peran

dan

fungsi

akuntansi

dalam

dunia

pendidikan

adalah

menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan, agar berguna

dalam pengambilan keputusan ekonomi dalam entitas pendidikan.

Pelaporan keuangan sekolah harus mencakup informasi tentang jasa-jasa yang

dihasilkan,

kinerja

manajer

sekolah,

sumber

daya

dan

kewajiban,

kinerja

organisasi,

mendapatkan

dan

membelanjakan

sumber

daya,

informasi

yang

lengkap dan mudah dipahami oleh pengguna, yang semuanya bisa dimanfaatkan

untuk pengambilan keputusan tentang entitas sekolah. Bentuknya berupa APBM,

laporan realisasi APBM, laporan surplus defisit, laporan pengelolaan kas, dan

laporan kinerja sekolah.

Dengan adanya pelaporan keuangan tersebut, dan semua stakeholders dapat

mengakses

informasi

tersebut

diharapkan

keluhan

atau

sinyalemen

dalam

penyalahgunaan dalam pengelolaan keuangan sekolah dapat dihindari. Namun

dalam

kenyataannya

masih

dijumpai

adanya

beberapa

permasalahan

dalam

pengelolaan keuangan di sekolah, antara lain : Anggaran di sekolah sebagian

besar terserap untuk tambahan kesejahteraan guru, kegiatan administrasi, dan hal-

hal lain yang tidak berhubungan langsung dengan peningkatan mutu (Bastian,

2007: 169); pengalokasian anggaran yang tidak mencerminkan prioritas, sifat, dan

kebutuhan siswa, serta peningkatan konsumsi aktivitas bagi siswa dalam proses

pencapaian tujuan pendidikan (Bastian, 2007: 140); makin mahalnya pungutan

pada masyarakat oleh sekolah-sekolah negeri, sehingga akses orang miskin untuk

memperoleh pendidikan menengah yang baik semakin tertutup (Ginting dalam

Bastian, 2007:132); dana-dana hibah dari luar negeri, dana kontinjensi, bantuan

alumni, dan sumbangan dari masyarakat lebih sering tidak dimasukkan dalam

APBM karena belum diperhitungkan ketika rancangannya disodorkan pada awal

tahun pelajaran. Dana-dana tersebut dapat masuk kapan saja.

Sekarang setiap sekolah memiliki Komite Sekolah sebagai pengawas. Namun,

di banyak sekolah, komite sekolah tidak memiliki akses yang memadai terhadap

dana-dana tersebut. Komite sekolah justru lebih sering menjadi legitimator bagi

setiap langkah kepala sekolah. Posisi bendahara komite biasanya dipegang oleh

salah satu guru di sekolah itu yang notabene bawahan kepala sekolah, sehingga

sepak terjang kepala sekolah dalam penggunaan dana sekolah hampir tidak

terkontrol (Bastian, 2007 :91).

Berdasarkan pemahaman di atas, motivasi yang melandasi penelitian ini

adalah: pertama, belum ada penelitian tentang transparansi dan akuntabilitas

pengelolaan keuangan madrasah di Kabupaten Bandung. Kedua, fakta adanya

dugaan

distorsi

dalam

pengalokasian

anggaran

di

madrasah,

kurangnya

pengawasan dalam pengelolaan keuangan di madrasah-madrasah negeri, pada sisi

lain pertanggungjawaban madrasah kepada Komite Madrasah selalu bisa diterima

dengan baik, dan masih belum jelasnya regulasi mekanisme pelaporan keuangan

entitas satuan pendidikan di daerah. Di kabupaten Bandung, hal ini terutama

terjadi pada pengelolaan dana BOS, baik BOS provinsi maupun kabupaten. Juga

pada pengelolaan dana GAKIN

berupa pengelolaan dana bantuan bagi siswa

miskin yang banyak diantaranya disalurkan tidak sesuai peruntukannya.

Untuk itu perlu penelitian ilmiah untuk menemukan bukti empiris tentang

hubungan transparansi dan akuntabilitas terhadap pengelolaan keuangan satuan

pendidikan, peneliti memfokuskan di MTsN se-Kabupaten Bandung.

D. Pokok Permasalahan

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan permasalahan

penelitian sebagai berikut :

1. akuntabilitas

Apakah

mempunyai

pengaruh

terhadap

pengelolaan

keuangan

madrasah

di

Lingkungan

Kantor

Kementerian

Agama

Kabupaten Bandung?

2. Apakah transparansi mempunyai pengaruh terhadap pengelolaan keuangan

madrasah

di

Lingkungan

Kantor

Kementerian

Agama

Kabupaten

Bandung?

3. Apakah secara bersama-sama akuntabilitas dan transparansi mempunyai

pengaruh terhadap pengelolaan keuangan madrasah di Lingkungan Kantor

Kementerian Agama Kabupaten Bandung ?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian.

Berdasarkan permasalahan yang telah penulis kemukakan di atas, maka

tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh akuntabilitas terhadap

pengelolaan keuangan madrasah di Lingkungan Kantor Kementerian

Agama Kabupaten Bandung

b. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh transparansi terhadap

pengelolaan keuangan madrasah di Lingkungan Kantor Kementerian

Agama Kabupaten Bandung

c. Untuk

mengetahui

dan

menganalisa

pengaruh

akuntabilitas

dan

transparansi

secara

bersama-sama

terhadap

pengelolaan

keuangan

madrasah

di

Lingkungan

Kantor

Kementerian

Agama

Kabupaten

Bandung

2. Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini diperoleh manfaat sebagai berikut :

a.

Manfaat

teoritis,

yaitu

Hasil

penelitian

ini

secara

teoritis

dapat

memberikan masukan bagi pengembangan ilmu administrasi pendidikan,

khususnya dalam pengembangan pengelolaan keuangan satuan pendidikan

yang transparan dan akuntabel.

b.

Manfaat praktis, yaitu Sebagai masukan bagi satuan pendidikan untuk

dapat

melaksanakan

prinsip

transparan dan akuntabel.

pengelolaan

keuangan

madrasah

yang

BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Tinjauan Teori dan Konsep Kunci

Penelitian ilmiah adalah suatu bentuk penelitian dengan cara berpikir dan

bertindak secara sistematis. Oleh karena itu kajiannya perlu didukung oleh suatu

landasan

teori

atau

dasar

rujukan

dalam

menganalisa

permasalahan

serta

memberikan kejelasan arah dalam melakukan penelitian selanjutnya, maka akan

diuraikan tentang kerangka teori yang berkaitan dengan aspek – aspek dalam

penulisan ini.

1. Manajemen Keuangan

a. Perencanaan dan Pengendalian Manajerial

Perencanaan dan pengendalian manajerial merupakan suatu proses siklus yang

berlanjut dan saling berkesinambungan, sehingga salah satu tahap akan terkait

dengan

tahap

yang

lain

dan

terintegrasi

dalam

satu

organisasi.

Jones

dan

Pendlebury

(Mardiasmo,

2002:

63)

membagi

proses

perencanaan

dan

pengendalian manajerial pada organisasi sektor publik menjadi lima tahap, yaitu:

a) Perencanaan tujuan dan sasaran dasar. Tahap ini merupakan proses perumusan

tujuan dasar dari organisasi yang tergambarkan dengan visi dan misi organisasi.

Perencanaan

ini

dilakukan

diluar

perencanaan

operasional.

Perencanaan

ini

dirumuskan dan disusun oleh manajemen tingkat atas dan merupakan proses

perencanaan yang rumit dan pelik karena menyangkut keberlangsungan organisasi

dan

terkait

dengan

harapan

dan

tujuan

dasar

organisasi,

b)

perencanaan

operasional. Tahap ini merupakan perencanaan yang dirumuskan dan disusun

untuk tercapainya tujuan dan sasaran dasar organisasi, c) penganggaran. Tahap ini

adalah proses penyusunan anggaran untuk mendukung perencanaan operasional

yang telah disusun serta untuk melaksanakan tujuan-tujuan dan target-target

organisasi dalam jangka pendek (kegiatan operasional), d) pengendalian dan

pengukuran.

Tahap

ini

merupakan

proses

pengendalian,

pengawasan

dan

pengukuran atas anggaran yang telah disepakati untuk dilaksanakan. Tahap ini

juga merupakan proses pelaksanaan tujuan-tujuan dan target-target jangka pendek

organisasi (kegiatan operasional), e) pelaporan, analisis dan umpan balik. Tahap

ini merupakan proses akhir dari siklus perencanaan dan pengendalian manajerial.

Tahap ini terdiri atas proses pelaporan hasil kegiatan operasional yang telah

dicapai selama periode berlangsung, analisa atas seluruh kegiatan yang telah

dilaksanakan maupun kegiatan yang gagal dilaksanakan, serta umpan balik untuk

pelaksanaan kegiatan periode berlangsung ataupun periode berikutnya.

Siklus

perencanaan

dan

pengendalian

manajerial

tersebut

diilustrasikan

dengan gambar proses perencanaan dan pengendalian manajerial organisasi sektor

publik berikut:

Sumber: Jones and Pendlebury dalam Mardiasmo (2002: 63) Gambar 1. Akutansi Sektor Publik Sedangkan anggaran

Sumber: Jones and Pendlebury dalam Mardiasmo (2002: 63) Gambar 1. Akutansi Sektor Publik

Sedangkan anggaran sendiri memiliki beberapa fungsi utama (Mardiasmo,

2003: 77-82) yaitu, sebagai alat perencanaan, anggaran merupakan alat untuk

mencapai visi dan misi organsasi. Anggaran digunakan untuk merumuskan tujuan

serta sasaran kebijakan agar sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan.

Kemudian

untuk

merencanakan

berbagai

program

dan

kegiatan

serta

merencanakan alternatif sumber pembiayaan.

 

Sebagai

Alat

Pengendalian,

Anggaran

digunakan

untuk

mengendalikan

(membatasi kekuasaan) eksekutif, mengawasi kondisi keuangan dan pelaksanaan

operasional program karena anggaran memberikan rencana detail atas pendapatan

(penerimaan) dan pengeluaran pemerintah sehingga pembelanjaan yang dilakukan

dapat diketahui dan dipertanggungjawabkan kepada publik.

Sebagai Alat Kebijakan Fiskal, Anggaran digunakan untuk menstabilkan

ekonomi

dan

mendorong

pertumbuhan

ekonomi.

Melalui

anggaran

dapat

diketahui arah kebijakan fiskal pemerintah. Anggaran juga digunakan untuk

mendorong, memfasilitasi dan mengkoordinasikan kegiatan ekonomi masyarakat

sehingga dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Sebagai Alat Politik, Anggaran merupakan dokumen publik sebagai komitmen

eksekutif dan kesepakatan legislatif atas penggunaan dana publik. Sebagai Alat

Koordinasi dan Komunikasi, Penyusunan anggaran memerlukan koordinasi dan

komunikasi dari seluruh unit kerja sehingga apabila terjadi inkonsistensi suatu

unit kerja dapat dideteksi secara cepat. Sebagai Alat Penilaian Kinerja, Kinerja

eksekutif akan dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran dan efisiensi

pelaksanaan anggaran. Sebagai Alat Motivasi, Anggaran hendaknya bersifat

menantang tetapi dapat dicapai (challenging but attainable) atau menuntut tetapi

dapat diwujudkan (demanding but achiveable) sebagai motivasi bagi seluruh

pegawai agar dapat bekerja secara ekonomis, efektif dan efisien dalam mencapai

target dan tujuan organisasi.

Anggaran

menjadi

penting

karena

beberapa

alasan,

yaitu,

Anggaran

merupakan

alat

bagi

pemerintah

untuk

mengarahkan

pembangunan

sosial

ekonomi,

menjamin

kesinambungan

dan

meningkatkan

kualitas

hidup

masyarakat.

Anggaran

diperlukan

karena

adanya

kebutuhan

dan

keinginan

masyarakat yang tak terbatas dan terus berkembang, sedangkan sumber daya yang

ada terbatas. Anggaran diperlukan untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah

bertanggung jawab terhadap rakyat. Dalam hal ini anggaran publik merupakan

instrumen pelaksanaan akuntabilitas publik.

b. Pemahaman Pengelolaan dari Sisi Pendidikan

Walaupun bukan satu-satunya sumber kinerja,

keuangan madrasah tentu

merupakan

bagian

yang

tak

terbantahkan

sebagai

pokok

penting

dalam

pengembangan

sumber

daya

madrasah.

Keuangan

dan

pembiayaan

merupakan

salah

satu

yang

secara

langsung

menunjang

efektifitas

dan

efisiensi

pengelolaan pendidikan. Hal tersebut lebih terasa lagi dalam implementasi MBS,

yang menuntut kemampuan madrasah untuk merencanakan, melaksanakan dan

mengevaluasi

serta

mempertanggungjawabkan

pengelolaan

dana

secara

transparan kepada masyarakat dan pemerintah.

Dalam penyelenggaraan pendidikan, keuangan dan pembiayaan merupakan

potensi yang sangat menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan

dalam kajian manajemen pendidikan. Komponen keuangan dan pembiayaan pada

suatu madrasah merupakan komponen produksi yang menentukan terlaksananya

kegiatan belajar-mengajar di madrasah bersama dengan komponen-komponen

yang lain. Dengan kata lain setiap kegiatan yang dilakukan madrasah memerlukan

biaya, baik itu disadari maupun yang tidak disadari. Komponen keuangan dan

pembiayaan ini perlu dikelola sebaik-baiknya, agar dana-dana yang ada dapat

dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan.

Tanpa visi yang jelas dari seorang administrator yang andal, (Mohammad

Amien Rais, 2008: 249) pengembangan madrasah yang mengandalkan idealisme

semata

hanya

akan

membentur

tembok

realita

yang

tidak

perlu.

Dalam

penyusunan Renstra dan selanjutnya sampai dengan RAPBM tentu diperlukan

seorang administrator pendidikan yang kompeten.

Tujuan

Manajemen

Keuangan

Pendidikan

dalam

perspektif

administrasi

publik adalah membantu pengelolaan sumber keuangan organisasi pendidikan

serta

menciptakan

mekanisme

pengendalian

yang

tepat,

bagi

pengambilan

keputusan keuangan yang dalam pencapaian tujuan organisasi pendidikan yang

transparan, akuntabel dan efektif. Pengendalian yang baik terhadap administrasi

manajemen keuangan pendidikan akan memberikan pertanggungjawaban sosial

yang baik kepada berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholder).

Dalam perspektif akuntansi, setiap kepala madrasah wajib menyampaikan

laporan di bidang keuangan, terutama mengenai penerimaan dana pengeluaran

keuangan madrasah kepada Komite Madrasah dan pemerintah. Dengan demikian,

standar

akuntansi

keuangan

diberlakukan

sebagai

kriteria

pelaporan

yang

disajikan bagi pihak pengelola madrasah. Hal ini akan menjamin akuntabilitas

publik, khususnya bagi pengguna jasa pendidikan.

Sumber: Imron Fauzi (2008:2) Gambar 2. Siklus Manajemen Keuangan Pendidikan Dilihat dari perspektif akuntansi, peran

Sumber: Imron Fauzi (2008:2) Gambar 2. Siklus Manajemen Keuangan Pendidikan

Dilihat dari perspektif akuntansi, peran manajemen keuangan pendidikan

adalah melakukan analisis setiap keputusan dari aspek keuangan pendidikan,

melakukan analisis pendanaan untuk kepentingan investasi, melakukan analisis

biaya terkait dengan penentuan cost jasa pendidikan, dan melakukan analisis arus

kas operasi pendidikan.

Terkait dengan pengelolaan keuangan madrasah, Sesuai dengan Keputusan

Menteri

Agama

No.

17

Tahun

2006

tentang

Pemuktahiran

data

inventaris

kekayaan negara di lingkungan Depag, setiap satuan kerja wajib menyampaikan

laporan keuangan dengan menggunakan sistem akuntansi instansi (SAI) setiap

bulannya. Untuk MI/MTs, sudah ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

yang

dianggarkan

pemerintah

pusat.

Jika

dana

tersebut

belum

mencukupi,

madrasah bisa menghimpun dana melalui persetujuan wali murid dan komite

madrasah.

c.

Pemahaman Pengelolaan dari Dasar Hukum

Dalam perspektif politik, sebelum berlakunya UU No. 20 Tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional, Sistem pendidikan nasional kita mengacu pada UU

No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dimana pendanaan tidak

diatur secara khusus. Namun, dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional, pendanaan pendidikan sudah diatur secara khusus dalam

Bab XIII. Substansinya antara lain, 1) pendanaan pendidikan menjadi tanggung

jawab bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Masyarakat, 2) sumber

pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan

keberlanjutan, 3) pengelolaan dana pendidikan berdasarkan prinsip keadilan,

efisiensi,

transparansi,

dan

akuntabilitas

public,

4)

pengalokasian

dana

pendidikan, dan 5) perkembangan Perspektif Manajemen Keuangan Pendidikan

(Sekolah/Madrasah).

Namun,

secara

teknis,

petunjuk

teknis

tentang

manajemen

keuangan

pendidikan, khususnya tentang pelaporan keuangan, belum diatur secara khusus.

Peran masyarakat dalam mendukung serta mengontrol manajemen keuangan

pendidikan, belum jelas. Di samping itu, standar pembiayaan dalam PP No. 19

tahun 2005 mengatur hanya elemen biaya, tanpa petunjuk perhitungan cost

pendidikan.

Disinilah,

pendekatan

terpadu

dalam

pengelolaan

keuangan

pendidikan di Indonesia, baik dari regulator, pengawas, evaluator, dan operator,

perlu dilakukan.

d.

Administrasi Pembiayaan Pendidikan

Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya

biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.(PP No. 19 Tahun

2005

tentang

Standar

Nasional

Pendidikan,

Pasal

1

ayat

10).

Pembiayaan

pendidikan terdiri atas; a) Biaya investasi, b) Biaya operasi, c) Biaya personal.

Pelaksanaan ketiga hal di atas diperlukan adanya proses merencanakan,

mengorganisasikan,

mengarahkan,

mengkoordinasikan,

mengawasi,

dan

melaporkan kegiatan bidang keuangan agar tujuan sekolah dapat tercapai secara

efektif dan efisien.

i.

Perencanaan.

Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam menyusun rencana

keuangan sekolah. Perencanaan harus realistis, artinya perencanaan harus mampu

menilai bahwa alternatif yang dipilih sesuai dengan kemampuan sarana/fasilitas,

daya/ tenaga, dana, maupun waktu. Perlunya koordinasi dalam perencanaan,

Perencanaan harus mampu memperhatikan cakupan dan sarana/ volume kegiatan

sekolah

yang

kompleks.

Perencanaan

harus

berdasarkan

pengalaman,

pengetahuan, dan intuisi. Karena pengalaman, pengetahuan, dan intuisi, mampu

menganalisa berbagai kemungkinan yang terbaik dalam menyususn perencanaan.

Perencanaan

juga

harus

fleksible

(luwes),

karena

perencanaan

mampu

menyesuaikan dengan segala kemungkinan yang tidak diperhatikan sebelumnya

tanpa harus membuat revisi. Perencanaan yang didasarkan penelitian, perencanaan

yang berkualitas perlu didukung suatu data yang lengkap dan akurat melalui suatu

penelitian.

Perencanaan

sesuai

dengan

tujuan,

Perencanaan

yang

baik

akan

menentukan mutu kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan.

Anggaran belanja adalah suatu pernyataan yang terurai tentang sumber-

sumber keuangan yang perlu untuk melaksanakan berbagai program sekolah

selama

periode

satu

tahun

fiskal.

Proses

pembuatan

anggaran

pendidikan

melibatkan penentuan pengeluaran maupun pendapatan yang bertalian dengan

keseluruhan operasi sekolah.

Ada beberapa jenis Kegiatan di madrasah. Kegiatan operasi, yaitu kegiatan-

kegiatan dengan menggunakan alat atau tanpa alat yang berkaitan dengan proses

belajar mengajar baik di dalam maupun di luar kelas. Kegiatan perawatan, yaitu

kegiatan perawatan yang dilakukan untuk memelihara dan memperbaiki sarana

dan prasarana yang ada di sekolah agar sarana prasarana tersebut dapat berfungsi

dalam menunjang kelancaran proses belajar mengajar.

Sumber dana untuk penyelenggaraan kegiatan pendidikan di sekolah bisa dari

pemerintah berupa Anggaran Rutin (DIK), Anggaran Operasional, pembangunan

dan perawatan (OPF), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Dana Penunjang

Pendidikan (DPP). Dari orang tua siswa, adalah dana yang dikumpulkan melalui

komite sekolah dari orang tua siswa. Atau bisa juga diperoleh dari masyarakat,

misalnya

sumbangan

perusahaan

masyarakat, alumni, dsb.

industri,

lembaga

sosial

donatur,

tokoh

Dalam penyusunan Rencana Operasional (RENOP) sebaiknya menempuh

kebijakan berimbang, dan pelaksanaan operasional di sekolah membentuk team

work yang terdiri dari para wakil kepala sekolah dibantu para wakil kepala

sekolah dibantu beberapa guru senior. Atas dasar hasil kerja team tersebut baru

dibahas dalam forum rapat dewan guru dan nara sumber lain yang dianggap perlu,

sehingga akan bertanggung jawab terhadap keberhasilan rencana tersebut.

Untuk memformat program kerja tersebut, langkah-langkah yang dilakukan

adalah dengan menginventarisir kegiatan sekolah pada tahun ajaran mendatang,

menyusun daftar kegiatan menurut skala prioritas, menentukan sasaran atau

volume, menentukan unit cost dengan membandingkan unit cost atau penjajakan

ke jalan dan menghimpun data pendukung. Data pendukung bisa berupa data

sekolah ( murid, guru, pegawai, pesuruh, jam mengajar, praktik laboratorium) atau

data fisik ( gedung, ruang kepsek, ruang guru, ruang laboratorium, WC, dan lain-

lain). Pembuatan data pendukung ini bisa dilakukan dengan membuat kertas kerja

dan laporan,

menentukan sumber dana dan pembenahan anggaran, Menuangkan

dalam format baku untuk usulan RENOP, dan proses usulan atau pengiriman.

ii. Organisasi dan Koordinasi

Kepala sekolah dituntut untuk dapat mengorganisasikan dengan menetapkan

orang-orang yang akan melaksanakan tugas pekerjaan, membagi tugas, dan

menetapkan kedudukan, serta hubungan kerja satu dengan lainnya agar tidak

terjadi benturan dan kesimpangsiuran satu dengan lainnya. Orang-orang yang

diperlukan untuk mengelola kegiatan dana di sekolah antara lain, bendahara,

pemegang buku kas umum, pemegang buku pembantu mata anggaran, buku bank,

buku pajak regristasi SPM, dan lain-lain. Kemudian ada pembuat laporan dan

pembuat arsip pertanggungjawaban keuangan.

Staf yang dipilih untuk untuk membantu pengelolaan keuangan sekolah

dituntut untuk memahami tugasnya yang meliputi paham pembukuan, memahami

peraturan yang berlaku dalam penyelenggaraan administrasi keuangan, Layak dan

mempunyai dedikasi tinggi terhadap pimpinan dan tugas, Memahami bahwa

bekerja di bidang keuangan adalah pelayanan. Karena kurang tanggapnya bagian

keuangan akan dapat mempengaruhi kelancaran pencapaian tujuan.

iii.

Pelaksanaan

Pelaksanaan

administrasi

keuangan

terdiri

dari

pengurusan

Keuangan,

kelengkapan dan penataan keuangan . Hal-hal yang berkenaan dengan pengurusan

keuangan adalah SK Bendaharawan Sekolah, Bendaharawan bukan Guru atau

Kepala

Tata

Usaha,

Penunjukkan

Bendaharawan

memenuhi

persyaratan,

Pemeriksaan keuangan oleh Kepala Sekolah, Pemisahan antara bendaharawan

Rutin, OPF, SPP – DPP – Komite Sekolah, BOS, BIS, BOM, Sanggar PKG/LKG.

Sedangkan kelengkapan Tata Usaha keuangan sekolah, meliputi; Daftar Gaji,

Daftar lembur dan atau daftar honorarium, Buku Kas Tabelaris, Buku Kas dan

Buku Kas Pembantu, Tempat penyimpanan uang, kertas berharga dan tanda bukti

pengeluaran, Brand Kas. Sementara pencatatan keuangan meliputi; Pengerjaan

pembukuan

kas

umum/tabelaris

sesuai

dengan

peraturan

yang

berlaku,

Penerimaan

SPMU

otorisasi

rutin,

dibukukan

pada

buku

register

SPMU,

sedangkan penerimaan OPF dalam buku tersendiri, Penerimaan dan penyetoran

SPP dibukukan sesuai dengan peraturan yang berlaku (tanda bukti setoran),

Penerimaan dan penggunaan DPP dibukukan sesuai dengan peraturan

yang

berlaku, Penerimaan dan penyetoran PPh dan PPn dibukukan pada buku kas

umum/tabelaris, Penerimaan dan penggunaan dana bantuan pemerintah setempat

atau dari Komite Sekolah dibukukan dalam buku kas khusus, Telah dibuat berita

acara penutupan kas pada saat penutupan buku kas setiap tiga bulan (inspeksi

mendadak

minimal

tiga

bulan

sekali),

Tanda

bukti

pengeluaran

(surat

pertanggungan jawab disampaikan ke KPKN, tidak melewati tanggal 10 bulan

berikutnya), Laporan penggunaan keuangan menurut sumbernya kepada atasan

yang bersangkutan, Peringatan/teguran tertulis kepada Bendaharawan apabila ada

penggunaan uang yang tidak sesuai dengan tanda bukti yang ada dan penggunaan

diluar

rencana,

perlu

diperhatikan/diteliti

ada

tidaknya

tunggakan

untuk

pembayaran listrik, telepon, air, atau gas pada sekolah yang bersangkutan.

iv.

Pengawasan

Pengawasan adalah usaha untuk mencegah terjadinya penyimpangan dari

aturan, prosedur atau ketentuan. Dengan pengawasan (controlling) diharapkan

penyimpangan yang mungkin terjadi dapat ditekan sehingga kerugian dapat

dihindari. Pengawasan dapat ditempuh melalui Pemeriksaan Kas.

Pemeriksaan adalah suatu proses sistematis untuk memperoleh bukti secara

objektif

tentang

pernyataan-pernyataan

berbagai

kejadian/kegiatan

sekolah

dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyatan

tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, dan penyampaian hasil-hasilnya

kepada yang berkepentingan.

Prosedur pemeriksaan kas yang biasa dilakukan oleh pemeriksa yang pada

pelaksanaannya dilakukan dengan tiba-tiba. Bendaharawan wajib mengeluarkan

uang yang dikuasainya dalam lingkup tanggung jawab atasnya. Yang meliputi,

adakah

bukti-bukti

pembayaran

yang

belum

dibukukan,

adakah

surat-surat

berharga. Bendahawan harus membuat surat pernyataan dengan bentuk yang

sudah dibakukan, Adakah bukti-bukti pengeluaran yang belum disahkan oleh

kepala sekolah, Sisa kas harus sama dengan sisa dibuku kas umum. Sisa kas

terdiri dari (uang kertas, uang logam) saldo bank, surat berharga. Setelah selesai

pemeriksaan kas, maka perlu dibuat register penutupan kas. Selanjutnya BKU

ditutup dan ditandatangani oleh bendaharawan dan kepala sekolah. Buat Berita

Acara Pemeriksaan kas dengan format yang telah dibakukan dan Penyampaian

Berita Acara pemeriksaan kas.

v. Evaluasi Kinerja Keuangan

Menurut Soedarjono (dalam Akhmad Solikin, 2006 1-15) usaha-usaha untuk

menerapkan pelaporan kinerja pemerintah dapat ditelusuri sebelum krisis ekonomi

melanda Indonesia pada tahun 1997/1998. Memang secara faktual, peraturan yang

berkaitan baru ditetapkan dalam bentuk Inpres 7/1999 tentang akuntabilitas

kinerja instansi pemerintah. Dalam Inpres 7/1999 tersebut disebutkan bahwa

Laporan

Akuntabilitas

Kinerja

Instansi

Pemerintah

merupakan

alat

untuk

melaksanakan

akuntabilitas

kinerja

instansi

pemerintah.

Tujuan

Sistem

Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah untuk mendorong terciptanya

akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai salah satu prasyarat untuk

terciptanya pemerintah yang baik dan terpercaya. Sedangkan sasaran sistem

tersebut adalah Menjadikan instansi pemerintah yang akuntabel sehingga dapat

beroperasi secara efisien, efektif dan responsif terhadap aspirasi masyarakat dan

lingkungannya;

terwujudnya

transparansi

instansi

pemerintah;

terwujudnya

partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan nasional; terpeliharanya

kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Dalam Keputusan ini, dipakai sistem berjenjang untuk mengkaitkan antara

visi dengan kegiatan. Sebagai contoh, dalam Rencana Strategis (Renstra) dikenal

adanya Perencanaan Kinerja 1 (PK-1) untuk menjelaskan kegiatan, PK-2 untuk

menguraikan sasaran, dan PK-3 untuk menguraikan program. Dengan demikian,

antara kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh suatu organisasi akan dapat

ditelusuri kaitannya dengan program unit atau instansi yang lebih tinggi, bahkan

sistem ini dapat menjamin keterkaitan antara kegiatan yang dilaksanakan dengan

pencapaian visi dan misi pemerintah. Demikian pula dalam mengevaluasi kinerja,

juga dipakai sistem berjenjang. Dengan demikian terdapat Evaluasi Kinerja 1

(EK-1) untuk mengevaluasi kinerja kegiatan, EK-2 untuk mengevaluasi kinerja

sasaran, dan EK-3 untuk mengevaluasi kinerja program.

Pada tahun 2003, terbit Keputusan Kepala LAN Nomor 239/1X/6/8/2003

tentang

Perbaikan

Pedoman

Penyusunan

Pelaporan

Akuntabilitas

Instansi

Pemerintah. Dalam keputusan ini, tetap ada Rencana Strategis (Renstra) yang

berisi visi, misi, tujuan, sasaran, dan bagaimana mencapai sasaran tersebut (dalam

bentuk uraian kebijakan dan program). Renstra meliputi waktu 5 tahun. Kebijakan

dan program tersebut kemudian setiap tahun akan dipilih kebijakan dan program

mana yang akan dilaksanakan, dalam bentuk kegiatan-kegiatan (Rencana Kinerja

Tahunan/RKT). Masih sama dengan peraturan

yang lama, indikator kinerja

kegiatan masih memakai masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome),

manfaat (benefit) dan dampak (impact).

vi.

Prinsip Prinsip Pengelolaan Pembiayaan Pendidikan

Pengaturan mengenai pendanaan pendidikan dalam Pasal 46, Pasal 47, Pasal

48, dan Pasal 49, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional disusun berdasarkan semangat desentralisasi dan otonomi

satuan pendidikan dalam perimbangan pendanaan pendidikan antara pusat dan

daerah.

Dengan

demikian

pendanaan

pendidikan

menjadi

tanggung

jawab

bersama antara pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Yang menjadi

pokok kemudian batasan-batasan pengelolaan dan sumber dana selalu menjadi hal

yang multi tafsir atau “dimultitafsirkan”. Hal ini tentu sangat berbahaya, di

lingkungan madrasah harus diakui audit pengelolaan keuangan seperti yang di

amanatkan paket UU Keuangan Negara atau bahkan lebih jauh audit kinerja pada

lembaga Madrasah Negeri masih jauh panggang dari pada api.

Banyak hal yang menjadi penyebabnya. Diantaranya audit yang di lakukan

baik pihak internal maupun eksternal madrasah masih belum memiliki instrumen

yang cukup untuk dilaksanakan. Audit invetigasi adalah gawang terakhir yang

menjadi harapan masyarakat. Tetapi tentu hal ini dilakukan hanya jika mencapai

nilai nominal yang cukup sesuai prinsip audit, atau bahkan biasanya karena

adanya blow up masalah dari pemangku kepentingan eksternal. Jika keadaan ini

terus berlanjut, tentu kerugian negara akan semakin besar. Terlebih kepentingan

kita” yang menaruh harapan pada kemajuan madrasah dimasa depan.

Menurut PP No. 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan pasal 58,

Prinsip dalam pengelolaan dana pendidikan oleh Pemerintah, pemerintah daerah,

penyelenggara dan satuan pendidikan yang didirikan oleh masyarakat terdiri atas:

a. prinsip umum; dan b. prinsip khusus. Prinsip umum sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 58 huruf a adalah: a. prinsip keadilan; b. prinsip efisiensi; c. prinsip

transparansi; dan d. prinsip akuntabilitas publik.

Prinsip keadilan dilakukan dengan memberikan akses pelayanan pendidikan

yang seluas-luasnya dan merata kepada peserta didik atau calon peserta didik,

tanpa

membedakan

latar

kemampuan

atau

status

belakang

suku,

ras,

sosial-ekonomi.

Prinsip

agama,

jenis

kelamin,

dan

efisiensi

dilakukan

dengan

mengoptimalkan akses, mutu, relevansi, dan daya saing pelayanan pendidikan.

Prinsip transparansi dilakukan dengan memenuhi asas kepatutan dan tata kelola

yang baik oleh Pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan yang

didirikan masyarakat, dan satuan pendidikan sehingga: (a.) dapat diaudit atas

dasar standar audit yang berlaku, dan menghasilkan opini audit wajar tanpa

perkecualian; dan (b.) dapat dipertanggungjawabkan secara transparan kepada

pemangku kepentingan pendidikan. Prinsip akuntabilitas publik dilakukan dengan

memberikan

pertanggungjawaban

atas

kegiatan

yang

dijalankan

oleh

penyelenggara atau satuan pendidikan kepada pemangku kepentingan pendidikan

sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Selanjutnya Prinsip Transparansi dan akuntabilitas publik kemudian menjadi

indikator utama dalam hampir setiap penilaian terhadap kualitas pengelolaan

keuangan

sebuah

madrasah.

Sementara

peraturan

pemerintah

ini

belum

menjelaskan secara lebih rinci kedua prinsip ini, sehingga perlu di berikan

penjelasan lebih jauh tentang filosofi sampai instrumen pembangun kedua prinsip

ini.

Definisi konseptual pengelolaan keuangan madrasah adalah seluruh upaya

yang dilakukan pengelola madrasah agar komponen keuangan dan pembiayaan

dikelola sebaik-baiknya, agar tujuan madrasah dapat tercapai secara efektif dan

efisien, yang didalamnya meliputi biaya investasi, biaya operasi, dan biaya

personal.

Isu

akuntabilitas

2.

Akuntabilitas

akhir-akhir

ini

semakin

gencar

dibicarakan

seiring

dengan adanya tuntutan masyarakat akan pendidikan yang bermutu. Bahkan

resonansinya semakin keras, sekeras tuntutan akan reformasi dalam segala bidang.

Ini membuktikan bahwa kecenderungan masyarakat pada masa kini berbeda

dengan masa lalu. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:87) menyatakan: Bila di

masa

lalu

masyarakat

cenderung

menerima

apa

pun

yang

diberikan

oleh

pendidikan, maka sekarang mereka tidak dengan mudah menerima apa yang

diberikan oleh pendidikan. Masyarakat yang notabene membayar pendidikan

merasa berhak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik bagi dirinya dan

anak-anaknya.

Bagi lembaga-lembaga pendidikan hal ini mulai disadari dan disikapi

dengan melakukan redesain sistem yang mampu menjawab tuntutan masyarakat.

Caranya adalah mengembangkan model manajemen pendidikan yang akuntabel.

Menurut Rita Headintong (2000:84), Akuntabiltas bukan hal baru. Ia

mengemukakan:

As far back as the 1830 when public was used to establish a national education

system 'some were concerned that the spending of public money should be

properly

supervised

and

controlled,

and

others

were

dissatisfied

with

the

practical aspects such as the poor quality of the teachers

Kalau begitu apa sebenarnya akuntabilitas itu? Menurut Slamet (2005:5),

"Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau

untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi

kepada pihak yang memiliki hak atau kewajiban untuk meminta keterangan atau

pertanggungjawaban. Sementara Zamroni (2008:12) mendefinisikan akuntabilias

"is the degree to which local governments have to explain or justify what they

have done or failed to do." Lebih lanjut dikemukakan bahwa "Accountability can

be seen as validation of participation, in that the test of whether attempts to

increase participation prove successful is the extent to which people can use

participation to hold a local government responsible for its action." Pendapat

Zamroni

mengenai

akuntabilitas

dikaitkan

dengan

partisipasi.

Ini

berarti

akuntabilitas hanya dapat terjadi jika ada partisipasi dari stakeholders sekolah.

Semakin

kecil

partisipasi

stakeholders

dalam

penyelenggaraan

manajemen

sekolah, maka akan semakin rendah pula akuntabilitas sekolah.

Asian Development Bank menegaskan adanya konsensus umum bahwa

good governance dilandasi oleh 4 pilar yaitu (1) akuntabilitas, (2) transparansi, (3)

dapat di prediksi, dan (4) partisipasi (ADB, 2008). Jelas bahwa jumlah komponen

atau pun prinsip yang melandasi tata pemerintahan yang baik sangat bervariasi

dari satu institusi ke institusi lain, dari satu pakar ke pakar lainnya. Namun paling

tidak ada sejumlah prinsip yang dianggap sebagai prinsip-prinsip utama yang

melandasi good governance, yaitu (1) Akuntabilitas, (2) Transparansi, dan (3)

Partisipasi Masyarakat.

Ketiga prinsip tersebut di atas tidaklah dapat berjalan sendiri-sendiri, ada

hubungan yang sangat erat dan saling mempengaruhi, masing-masing adalah

instrumen yang diperlukan untuk mencapai prinsip yang lainnya, dan ketiganya

adalah instrumen yang diperlukan untuk mencapai manajemen publik yang baik.

Walaupun begitu, akuntabilitas menjadi kunci dari semua prinsip ini

(ADB, 2008) Prinsip ini menuntut dua hal yaitu (1) kemampuan menjawab

(answerability), dan (2) konsekuensi (consequences). Komponen pertama (istilah

yang bermula dari responsibilitas) adalah berhubungan dengan tuntutan bagi para

aparat

untuk

menjawab

secara

periodik

setiap

pertanyaan-pertanyaan

yang

berhubungan

dengan

bagaimana

mereka

menggunakan

wewenang

mereka,

kemana sumber daya telah dipergunakan, dan apa yang telah dicapai dengan

menggunakan sumber daya tersebut.

Miriam

Budiardjo

mendefinisikan

akuntabilitas

sebagai

“pertanggungjawaban pihak yang diberi mandat untuk memerintah kepada mereka

yang memberi mandat itu.” (Miriam Budiarjo, 1998: 107) Akuntabilitas bermakna

pertanggungjawaban

dengan

menciptakan

pengawasan

melalui

distribusi

kekuasaan

pada

berbagai

lembaga

pemerintah

sehingga

mengurangi

penumpukkan

kekuasaan

sekaligus

menciptakan

kondisi

saling

mengawasi

(checks and balances sistem). Lembaga pemerintahan yang dimaksud adalah

eksekutif (presiden, wakil presiden, dan kabinetnya), yudikatif (MA dan sistem

peradilan) serta legislatif (MPR dan DPR). Peranan pers yang semakin penting

dalam fungsi pengawasan ini menempatkannya sebagai pilar keempat.

Guy

Peter

menyebutkan

adanya

3

tipe

akuntabilitas

yaitu

:

(1)

akuntabilitas

keuangan,

(2)

akuntabilitas

administratif,

dan

(3)

akuntabilitas

kebijakan publik (Guy Peter, 2000: 299-381). Akuntabilitas publik adalah prinsip

yang menjamin bahwa setiap kegiatan

penyelenggaraan pemerintahan dapat

dipertanggungjawabkan secara terbuka oleh pelaku kepada pihak-pihak yang

terkena dampak penerapan kebijakan.

Pengambilan keputusan didalam organisasi-organisasi publik melibatkan

banyak pihak. Oleh karena itu, wajar apabila rumusan kebijakan merupakan hasil

kesepakatan antara warga pemilih (constituency) para pimpinan politik, teknokrat,

birokrat atau administrator, serta para pelaksana dilapangan.

Sedangkan

dalam

bidang

politik,

yang

juga

berhubungan

dengan

masyarakat

secara

umum,

akuntabilitas

didefinisikan

sebagai

mekanisme

penggantian

pejabat

atau

penguasa,

tidak

ada

usaha

untuk

membangun

monoloyalitas secara sistematis, serta ada definisi dan penanganan yang jelas

terhadap

pelanggaran

kekuasaan

dibawah

rule

of

law.

Sedangkan

public

accountability didefinisikan sebagai adanya pembatasan tugas yang jelas dan

efisien (Meuthia Gani, 2000: 141)

Akuntabilitas yang tinggi hanya dapat dicapai dengan pengelolaan sumber

daya sekolah secara efektif dan efisien. Akuntabilitas tidak datang dengan sendiri

setelah lembaga-lembaga pendidikan melaksanakan usaha-usahanya. Ada tiga hal

yang memiliki kaitan, yaitu kompetensi, akreditasi dan akuntabilitas. Menurut

Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:88): Tiga aspek yang dapat memberi jaminan

mutu suatu lembaga pendidikan, yaitu kompetensi, akreditasi, dan akuntabilitas.

Lulusan pendidikan

yang dianggap telah memenuhi semua persyaratan dan

memiliki

kompetensi

yang

dituntut

berhak

mendapat

sertifikat.

Lembaga

pendidikan beserta perangkat-perangkatnya yang dinilai mampu menjamin produk

yang

bermutu

disebut

sebagai

lembaga

terakreditasi

(accredited).

Lembaga

pendidikan yang terakreditasi dan dinilai mampu untuk menghasilkan lulusan

bermutu, selalu berusaha menjaga dan menjamin mutuya sehingga dihargai oleh

masyarakat adalah lembaga pendidikan yang akuntabel.

Institusi pendidikan

yang akuntabel adalah institusi pendidikan

yang

mampu menjaga mutu keluarannya sehingga dapat diterima oleh masyarakat. Jadi,

dalam hal ini akuntabel tidaknya suatu lembaga pendidikan bergantung kepada

mutu outputnya. Di samping itu, akuntabilitas suatu lembaga juga bergantung

kepada

kemampuan

suatu

lembaga

pendidikan

mempertanggungjawabkan

pengelolaan keuangan kepada publik. Fredrik Kande (2008) mengelompokkan

akuntabiltas yang pertama sebagai akuntabilitas kinerja, sementara yang kedua

sebagai akuntabilitas keuangan.

Tujuan akuntabilitas adalah agar terciptanya kepercayaan publik terhadap

sekolah.

Kepercayaan

publik

yang

tinggi

akan

sekolah

dapat

mendorong

partisipasi

yang lebih tinggi pula terdapat pengelolaan manajemen sekolah.

Sekolah akan dianggap sebagai agen bahkan sumber perubahan masyarakat.

Slamet

(2005:6)

menyatakan:

“Tujuan

utama

akuntabilitas

adalah

untuk

mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu syarat

untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya”. Penyelenggara sekolah

harus memahami bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan hasil kerja

kepada publik. Selain itu, tujuan akuntabilitas adalah menilai kinerja sekolah dan

kepuasaan publik terhadap pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh

sekolah, untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan

dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada

publik.

Codd, seorang pakar kebijakan pendidikan dalam Marks Olssen, dkk

(2004:1), menyatakan bahwa dalam perspektif global, akuntabilitas dipengaruhi

oleh kecenderungan manusia yang mengutamakan kebebasan. Kebebasan yang

muncul secara baru (neoliberalisme) ikut mempengaruhi ketahanan moral orang

dalam melaksanakan akuntabilitas.

Sekolah

sebagai

tempat

penyelenggaran

manajemen

yang

akuntabel

merupakan suatu pranata sosial. Dikatakan sebagai pranata sosial karena di tempat

tersebut

teradapat

orang-orang

dari

berbagai

latar

belakang

sosial

yang

membentuk suatu kesatuan dengan nilai-nilai dan budaya tertentu. Nilai-nilai dan

budaya tersebut potensial untuk mendukung penyelenggaraan manajemen sekolah

yang akuntabel, tetapi juga sebaliknya bisa menjadi penghambat. Dalam sebuah

ilustrasi

perusahaan,

Stephen

Robins

(2001:14)

menyatakan:

Workforce

diversity has important implication for management practice. Manager will need

to shift their philosophy from treating every one alike to recognizing differences

and responding to those differences in ways that will ensure employe retention

and greater productivity while, at the same time not discriminating”. Artinya,

keberagaman tenaga kerja mempunyai implikasi penting pada praktik manajemen.

Para manejer harus mengubah filosofi mereka dari memperlakukan setiap orang

dengan cara yang sama menjadi mengenali perbedaan dan menyikapi mereka

yang

berbeda

dengan

cara-cara

yang

menjamin

kesetiaan

karyawan

dan

peningkatan produktifitas sementara, pada saat yang sama, tidak melakukan

diskriminasi.

Apa yang dikemukakan Robins berangkat dari asumsi akan perbedaan

nilai dan budaya dari setiap anggota organisasi. Ada nilai-nilai yang dapat

mendukung nilai-nilai organisasi, tetapi ada juga yang sebaliknya. Dalam konteks

ini, dibutuhkan peran pemimpin untuk dapat mengelolanya.

Jadi, faktor yang mempengaruhi akuntabilitas terletak pada dua hal, yakni

faktor

sistem

dan

faktor

orang.

Sistem

menyangkut

aturan-aturan,

tradisi

organisasi. Sedangkan faktor orang menyangkut motivasi, persepsi dan nilai-nilai

yang dianutnya mempengaruhi kemampuannya akuntabilitas. Kalau ditelisik lebih

jauh faktor orang sendiri sebenarnya tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan

produk dari masyarakat dengan budaya tertentu.

Rumusan

tujuan

akuntabilitas

di

atas

hendak

menegaskan

bahwa,

akuntabilitas bukanlah akhir dari sistem penyelenggaran manajemen sekolah,

tetapi merupakan faktor pendorong munculnya kepercayaan dan partisipasi yang

lebih tinggi lagi. Bahkan, boleh dikatakan bahwa akuntabilitas baru sebagai titik

awal menuju keberlangsungan manajemen sekolah yang berkinerja tinggi.

Menurut Slamet (2005:6) ada delapan hal yang harus dikerjakan oleh

sekolah untuk peningkatan akuntabilitas: Pertama, sekolah harus menyusun aturan

main tentang sistem akuntabilitas termasuk mekanisme pertanggungjawaban.

Kedua, sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan

kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas

dan

tegas.

Ketiga,

sekolah

menyusun

rencana

menyampaikan

kepada

publik/stakeholders

di

pengembangan

sekolah

dan

awal

setiap

tahun

anggaran.

Keempat, menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah dan

disampaikan kepada stakeholders. Kelima, melakukan pengukuran pencapaian

kinerja

pelayanan

pendidikan

dan

menyampaikan

hasilnya

kepada

publik/stakeholders diakhir tahun. Keenam, memberikan

tanggapan

terhadap

pertanyaan dan pengaduan publik. Ketujuh, menyediakan informasi kegiatan

sekolah kepada publik yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. Kedelapan,

memperbaharui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru.

Kedelapan upaya di atas, semuanya bertumpu pada kemampuan dan

kemauan sekolah untuk mewujudkannya. Alih-alih sekolah mengetahui sumber

dayanya,

sehingga

dapat

digerakan

untuk

mewujudkan

dan

meningkatkan

akuntabilitas.

Sekolah

dapat

melibatkan

stakeholders

untuk

menyusun

dan

memperbaharui

sistem

yang

dianggap

tidak

dapat

menjamin

terwujudnya

akuntabilitas di sekolah. Komite sekolah, orang tua siswa, kelompok profesi, dan

pemerintah dapat dilibatkan untuk melaksanakannya. Dengan begitu stakeholders

sejak awal tahu dan merasa memiliki akan sistem yang ada.

Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas berhubungan

dengan kewajiban dari institusi pemerintahan maupun para aparat yang bekerja di

dalamnya untuk membuat kebijakan maupun melakukan aksi yang sesuai dengan

nilai yang berlaku maupun kebutuhan masyarakat. Akuntabilitas publik menuntut

adanya pembatasan tugas yang jelas dan efisien dari para aparat birokrasi. Karena

pemerintah bertanggungjawab baik dari segi

penggunaan keuangan

maupun

sumber daya publik dan juga akan hasil, akuntabilitas internal harus dilengkapi

dengan akuntabilitas eksternal, melalui umpan balik dari para pemakai jasa

pelayanan maupun dari masyarakat.

Definisi konseptual akuntabilitas dalam penelitian ini adalah suatu ukuran

yang menunjukkan seberapa besar tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan

dengan ukuran nilai-nilai atau norma-norma eksternal yang dimiliki oleh para

pemangku kepentingan yang berkepentingan dengan pelayanan tersebut.

3.

Transparansi

Transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap

orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni

informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-

hasil yang dicapai (BAPENAS, 2002: 18)

Transparansi yakni adanya kebijakan terbuka bagi pengawasan. Sedangkan

yang

dimaksud

dengan

informasi

adalah

informasi

mengenai

setiap

aspek

kebijakan pemerintah yang dapat dijangkau oleh publik. Keterbukaan informasi

diharapkan

akan

menghasilkan

persaingan

politik

yang

sehat,

toleran,

dan

kebijakan dibuat berdasarkan pada preferensi publik (Meuthia Gani, 2000: 151).

Prinsip ini memiliki 2 aspek, yaitu (1) komunikasi publik oleh pemerintah, dan (2)

hak masyarakat terhadap akses informasi. Keduanya akan sangat sulit dilakukan

jika pemerintah tidak menangani dengan baik kinerjanya. Manajemen kinerja

yang baik adalah titik awal dari transparansi.

Komunikasi

publik

menuntut

usaha

positif

dari

pemerintah

untuk

membuka

dan

menyebarkan

informasi

maupun

aktivitasnya

yang

relevan.

Transparansi

harus

seimbang

dengan

kebutuhan

akan

kerahasiaan

lembaga

maupun informasi-informasi yang mempengaruhi hak privasi individu. Karena

pemerintahan menghasilkan data dalam jumlah besar, maka dibutuhkan petugas

informasi professional, bukan untuk membuat dalih atas keputusan pemerintah,

tetapi

untuk

menyebarluaskan

keputusan-keputusan

yang

penting

kepada

masyarakat serta menjelaskan alasan dari setiap kebijakan tersebut.

sebagai

Peran media juga sangat penting bagi transparansi pemerintah,

baik

sebuah

kesempatan

untuk

berkomunikasi

pada

publik

maupun

menjelaskan berbagai informasi yang relevan, juga sebagai “watchdog” atas

berbagai aksi pemerintah dan perilaku menyimpang dari para aparat birokrasi.

Jelas, media tidak akan dapat melakukan tugas ini tanpa adanya kebebasan pers,

bebas dari intervensi pemerintah maupun pengaruh kepentingan bisnis.

Keterbukaan membawa konsekuensi adanya kontrol yang berlebihan dari

masyarakat

dan

bahkan

oleh

media

massa.

Karena

itu,

kewajiban

akan

keterbukaan harus diimbangi dengan nilai pembatasan, yang mencakup kriteria

yang jelas dari para aparat publik tentang jenis informasi apa saja yang mereka

berikan dan pada siapa informasi tersebut diberikan.

Menurut Nurudin Jauhari (2009:2) Selama ini terutama sebelum era

desentralisasi dan reformasi, pengelolaan pendidikan dibanyak sekolah sangat

tertutup bagi pihak luar. Masyarakat, orang tua murid dan sebagian besar guru

tidak banyak mengetahui seluk beluk pengelolaan pendidikan di sekolah, tidak

mengetahui

pendapatan

dan

belanja

sekolah,

tidak

dilibatkan

di

dalam

mengevaluasi kekuatan dan kelemahan kinerja sekolah dsb.

Pengelolaan yang tidak transparan berdampak negatif bagi pengembangan

sekolah karena masyarakat dan orang tua murid akan meragukan apakah kalau

mereka

diminta

untuk

ikut

sumbangan

yang

mereka

memikirkan

kekurangan

pendanaan

pendidikan,

berikan

akan

benar-benar

dimanfaatkan

bagi

kepentingan pendidikan atau akan terjadi penyimpangan yang tidak diharapkan?

dilain pihak, pimpinan sekolah yang menerapkan pengelolaan tertutup merasa

bahwa pihak lain tidak perlu ikut campur dengan masalah pengelolaan sekolah

karena sudah cukup ditangani oleh kepala sekolah dan satu dua orang staf

kepercayaan

kepala

sekolah.

Mereka

khawatir

keterbukaan

akan

sangat

merepotkan dan tidak dapat memecahkan masalah yang dihadapi sekolah.

Sebenarnya

kekhawatiran

seperti

itu

tidak

perlu,

karena pengalaman

lapangan menunjukkan bahwa semakin tinggi transparansi pengelolaan suatu

sekolah, semakin tinggi pula kepercayaan masyarakat dan rasa ikut memiliki

sekolah, dan semakin banyak sumbangan pemikiran, dana dan fasilitas lain yang

diperoleh

sekolah

dari

masyarakat

dan

pihak

terkait

lainnya.

Transparansi

menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah/sekolah dan masyarakat,

melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan dalam memperoleh

informasi yang memadai.

Transparansi pengelolaan antara lain mencakup: 1) Pengelolaan keuangan,

keterbukaan dalam pendapatan dan belanja sekolah baik dari pemerintah, donor

maupun

sumber-sumber

lain,

2)

Pengelolaan

staf

/personalia

:

kebutuhan

ketenagaan, kualifikasi, kemampuan dan kelemahan, kebutuhan pengembangan

professional, dsb. 3) Pengelolaan kurikulum, termasuk keterbukaan dalam hal

prestasi

dan

kinerja

siswa,

ketersediaan

sarana

dan

prasarana

penunjang

pelaksanaan kurikulum, visi, misi, dan program peningkatan mutu pendidikan.

Definisi konseptual transparansi dalam penelitian ini adalah prinsip yang

menjamin akses atau kebebasan bagi setiap pemangku kepentingan madrasah

untuk memperoleh informasi tentang pengelolaan keuangan madrasah, yakni

informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-

hasil yang dicapai madrasah.

4. Pengertian dan Karakteristik Madrasah

a. Pengertian Madrasah

Kata "madrasah" dalam bahasa Arab adalah bentuk kata "keterangan tempat"

(zharaf makan) dari akar kata "darasa". Secara harfiah "madrasah" diartikan

sebagai "tempat belajar para pelajar", atau "tempat untuk memberikan pelajaran"

(Mehdi Nakostee, 1996: 66). Dari akar kata "darasa" juga bisa diturunkan kata

"midras" yang mempunyai arti "buku yang dipelajari" atau "tempat belajar"; kata

"al-midras" juga diartikan sebagai "rumah untuk mempelajari Kitab Taurat". Jika

diterjemahkan

kedalam

Bahasa

Indonesia,

kata

"madrasah"

memiliki

arti

"sekolah" kendati pada mulanya kata "sekolah" itu sendiri bukan berasal dari

bahasa Indonesia, melainkan dari bahasa asing, yaitu school atau scola (Abu

Luwis, 1996: 221).

Sungguhpun secara teknis, yakni dalam proses belajar-mengajarnya secara

formal, madrasah tidak berbeda dengan sekolah, namun di Indonesia madrasah

tidak lantas dipahami sebagai sekolah, melainkan diberi konotasi yang lebih

spesifik

lagi,

yakni

"sekolah

agama",

tempat

di

mana

anak-anak

didik

memperoleh pembelajaran hal-ihwal atau seluk-beluk agama dan keagamaan

(dalam hal ini Agama Islam).

Dalam prakteknya memang ada madrasah yang disamping mengajarkan ilmu-

ilmu

keagamaan

(al-'ulum

al-diniyyah),

juga

mengajarkan

ilmu-ilmu

yang

diajarkan

di

sekolah-sekolah

umum.

Selain

itu

ada

madrasah

yang

hanya

mengkhususkan

diri

pada

pelajaran

ilmu-ilmu

agama,

yang

biasa

disebut

madrasah diniyyah. Kenyataan bahwa kata "madrasah" berasal dari bahasa Arab,

dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menyebabkan masyarakat

lebih memahami "madrasah" sebagai lembaga pendidikan Islam, yakni "tempat

untuk belajar agama" atau "tempat untuk memberikan pelajaran agama dan

keagamaan".

b. Pengertian Madrasah di Indonesia

Di

Indonesia,

madrasah

tetap

dipakai

dengan

kata

aslinya,

madrasah,

kendatipun pengertiannya tidak lagi persis dengan apa yang dipahami pada masa

klasik,

yaitu

lembaga

pendidikan

tinggi,

pendidikan tingkat dasar sampai menengah.

karena

bergeser

menjadi

lembaga

Dalam beberapa hal penyebutan istilah madrasah di Indonesia juga seringkali

menimbulkan konotasi "ketidakaslian", dibandingkan dengan sistem pendidikan

Islam yang dikembangkan di masjid, dayah (Aceh), surau (Minangkabau), atau

pesantren (Jawa), yang dianggap asli Indonesia. Berkembangnya madrasah di

Indonesia diawal abad ke-20 M ini, memang merupakan wujud dari upaya

pembaharuan

pendidikan

Islam

yang

dilakukan

para

cendikiawan

Muslim

Indonesia, yang melihat bahwa lembaga pendidikan Islam "asli" (tradisional)

tersebut dalam beberapa hal tidak lagi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan

zaman. Di samping itu, kedekatan sistem belajar-mengajar ala madrasah dengan

sistem belajar-mengajar ala sekolah yang, ketika madarash mulai bermunculan,

memang sudah banyak dikembangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, membuat

banyak orang berpandangan bahwa madrasah sebenarnya merupakan bentuk lain

dari sekolah, hanya saja diberi muatan dan corak ke-Islaman (Maksum, 1999: 80-

81).

Diawal abad ke-20 M di Indonesia secara berangsur-angsur tumbuh dan

berkembang pola pembelajaran Islam yang dikelola dengan sistem "madrasi" yang

lebih modern, yang kemudian dikenal dengan nama "madrasah". Karena itu sejak

awal kemunculannya, madrasah di Indonesia sudah mengadopsi sistem sekolah

moderen dengan ciri-ciri: digunakannya sistem kelas, pengelompokkan pelajaran-

pelajaran, penggunaan bangku, dan dimasukkannya pengetahuan umum sebagai

bagian dari kurikulumnya (Hanun Asrohah, 1999: 193)

B. Definisi Operasional

Fred N. Kerlinger (1990:51) mengartikan definisi operasional sebagai

ikhtiar peneliti dalam meletakkan arti pada suatu konstruk atau variabel

dengan cara menetapkan kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang perlu

dilakukan

untuk

mengukur variabel

itu.

Untuk

menghindari

salah

tafsir

terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu penjelasan

sebagai berikut:

1.

Variabel pengelolaan keuangan madrasah adalah seluruh upaya yang

dilakukan pengelola madrasah agar komponen keuangan dan pembiayaan

dikelola sebaik-baiknya, agar tujuan madrasah dapat tercapai secara efektif

dan efisien, yang didalamnya meliputi biaya investasi, biaya operasi, dan

biaya personal.

Variabel

pengelolaan

keuangan

madrasah

bertindak

terikat dengan indikator sebagai berikut:

sebagai

variabel

a. Adanya proses merencanakan kegiatan yang akan di laksanakan

madrasah yang kemudian dibuat anggaran penerimaan dan belanja

madrasah.

Anggaran

penerimaan

dan

belanja

madrasah

ini

merupakan

rencana

kegiatan

seluruh

pemangku

kepentingan

madrasah sehingga tentu saja harus mengakomodir kepentingan

seluruh warga madrasah.

b. Adanya

proses

mengorganisasikan,

mengarahkan,

mengkoordinasikan yang dilakukan oleh kepala madrasah. Hal ini

penting di lakukan agar ada kejelasan bagi setiap warga madrasah

mengenai peran, tugas, dan tanggung jawab masing-masing warga

madrasah yang diserahi tugas tertentu dalam pengelolaan keuangan

madrasah.

c. Adanya proses melaksanakan kemudian melaporkan, supaya setiap

kegiatan

madrasah

tercatat

dengan

rinci

penerimaan

dan

pengeluaran keuangannya. Sehingga akan terlihat jelas hasil-hasil

yang di capai oleh madrasah dengan kegiatan yang dilakukannya.

d. Adanya proses

pengawasan

baik

oleh

internal

madrasah

oleh

kepala madrasah terhadap para bendahara dan pelaksana kegiatan.

2.

Maupun

oleh

eksternal

madrasah,

misalnya

pengawasan

oleh

inspektorat jendral, BPKP, maupun BPK.

Variabel Akuntabilitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa

besar tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan ukuran nilai-

nilai atau norma-norma eksternal yang dimiliki oleh para pemangku

kepentingan yang berkepentingan dengan pelayanan tersebut.

Variabel akuntabilitas bertindak sebagai variabel bebas dengan indikator

sebagai berikut:

a. Kualitas penyusunan APBM (Anggaran Pendapatan dan Belanja

Madrasah).

Kualitas APBM ditentukan oleh ketepatan waktu penyusunannya

agar bisa digunakan pada setiap tahun ajaran

sehingga tidak

menggangu kegiatan belajar mengajar secara keseluruhan. APBM

juga harus mengakomodir kepentingan seluruh warga madrasah

sehingga tentu saja jika akan dibuat perubahan APBM juga harus

di konsultasikan dengan seluruh pemangku kepentingan madrasah.

b. Laporan keuangan periodik dan pertanggungjawaban tahunan

Laporan keuangan madrasah dilakukan setiap bulan, semester dan

tahunan. Laporan ini diberikan kepada instansi vertikal kementrian

agama (Kantor kementerian agama kabupaten/kota dan kantor

wilayah kementerian agama provinsi) dan departemen keuangan

melalui KPPN.

c. Partisipasi

stakeholders

dalam

menciptakan

akuntabilitas,

partisipasi ini bisa dalam bentuk komite madrasah maupun rapat

kerja dewan guru.

d. Akuntabilitas

secara

keseluruhan

yang

merupakan

pandangan

umum terhadap tanggung jawab dan peranan madrasah dalam

pelaksanaan

pengelolaan

keuangan

pemangku kepentingan madrasah.

madrasah

kepada

para

3. Variabel transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan

bagi setiap pemangku kepentingan madrasah untuk memperoleh informasi

tentang

pengelolaan

keuangan

madrasah,

yakni

informasi

tentang

kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-hasil yang

dicapai madrasah.

Variabel transparansi bertindak sebagai variabel bebas dengan indikator

sebagai berikut:

a. Kejelasan peran dan tanggungjawab pengelola keuangan sekolah.

Tugas pokok dan fungsi serta tanggung jawab pengelola keuangan

madrasah terdefinisi dengan jelas sehingga tidak ada tumpang

tindih antar para pengelola keuangan madrasah tersebut.

b. Ketersediaan informasi bagi publik.

Warga madrasah memiliki akses yang memadai terhadap APBM,

realisasi

APBM

dan

perbandingan

terhadap

sebelumnya sebagai pembanding.

APBM

tahun

c. Penyusunan, pelaksanaan, dan pelaporan anggaran sekolah secara

terbuka.

Warga madrasah memiliki akses terhadap pengambilan kebijakan

kegiatan madrasah

yang kemudian di tuangkan dalam bentuk

APBM

sehingga

warga

madrasah

APBM dan pelaksanaannya.

d. Jaminan integritas.

paham

betul

bagian-bagian

Warga madrasah baik guru maupun komite madrasah bisa dengan

mudah meminta laporan kegiatan dan keuangan madrasah.

C. Model Penelitian

Dalam

penelitian

korelasi

yang

dilakukan

penulis

untuk

memudahkan langkah dalam melakukan tahapan penelitian maka penulis

membuat model penelitian dengan indikator yang akan di jelaskan pada

kisi-kisi penelitian.