Anda di halaman 1dari 18

Pertemuan 1

SILABI HUMAN RELATION Silabi adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata kuliah/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. INFORMASI UMUM Nama Matkul/ Kode/ Komp : Human Relation/ BKB 11/ MKB Dosen/ NIP/ HP. : Primi Rohimi, S.Sos./ 150378531/ 08156518195 Hari/ Jam/ Ruang : Selasa/ III (12.00 13.40)/ K6 Jurusan/ Prodi : Dakwah/ BPI (Bimbingan dan Konseling Islam) Program/ Bobot/ Sem. : S1/ 2 SKS/ 7 Email/ Friendster : primirohimi@yahoo.ca Website : www.primirohimi.blogspot.com atau http://materikuliahprimi.multiply.co m Manfaat mata kuliah : Ada hub. dg tuj. Prodi: Memahami masalah dasar berhubungan dengan manusia. Pengembangan dari mata kuliah2 Psikologi. Penunjang mata kuliah Profesi BPI Deskripsi Matkul : Mata kuliah keahlian berkarya yang mempelajari tentang persepsi, teknik-teknik, dan hambatan human relation yang dijabarkan ke dalam topik Persepsi
Modul Human Relation

Pertemuan 1

interpersonal dalam human relation; Faktor-faktor konsep diri dalam human relation; Atraksi interpersonal dalam human relation; Hubungan interpersonal dalam human relation; Sensasi dalam konteks human relation; Persepsi dalam konteks human relation; Memori dalam konteks human relation; Berpikir dalam konteks human relation; Proses berpikir sebagai dasar human relation yang harmonis; Teknikteknik human relation; Evasi dan hambatan human relation Kompetensi Standar : Mahasiswa paham tentang hubungan manusiawi. Kompetensi Dasar : Mahasiswa paham tentang hubungan manusiawi yaitu hubungan yang berlangsung atas dasar saling menghargai dan membutuhkan. Mahasiswa trampil dalam berkomunikasi secara individual dengan orang lain sebagai bekal dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Indikator Hasil Belajar : Mahasiswa dapat menjelaskan tentang hubungan manusiawi. Mahasiswa dapat melakukan komunikasi secara individual dengan orang lain sebagai bekal dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Topik Inti : 1. Persepsi interpersonal dalam human relation. 2. Faktor-faktor konsep diri dalam human relation. 3. Atraksi interpersonal dalam human relation. 4. Hubungan interpersonal dalam human relation.
Modul Human Relation

Pertemuan 1

5. 6. 7. 8. 9.

Sensasi dalam konteks human relation. Persepsi dalam konteks human relation. Memori dalam konteks human relation. Berpikir dalam konteks human relation. Proses berpikir sebagai dasar human relation yang harmonis. 10. Teknik-teknik human relation. 11. Evasi dan hambatan human relation Strategi Perkuliahan/ Metode Pembelajaran: Active Learnning Media pembelajaran Perpustakaan. : Ruang kuliah,

Tugas, TTS, TAS : 1. Tugas: Makalah Kelompok Kls dibagi 4 kelompok dg tema 1) Deskripsi Islamic Human Relation, 2) Implementasi Islamic Human Relation dalam Praktik BPI, 3) Problematika Islamic Human Relation, 4) Pengembangan Islamic Human Relation sebagai Suatu Kajian. Presentasi stlh TTS Kelompok presenter dan audience melaporkan makalah dan alur diskusi (ketik komputer) 2. TTS: Essay (Close book, & materi teoritis) 3. TAS: Essay (Close book, materi teoritis, & analisis kasus) Sistematika Makalah : 1. Pendahuluan (Latar Belakang Makalah, Perumusan Makalah, Tujuan Penulisan Makalah, Signifikansi Makalah: Teoritis & Praktis, Kerangka Teori) 2. Pembahasan 2. Penutup: Simpulan 3. Daftar Pustaka

Modul Human Relation

Pertemuan 1

Sistematika Laporan Diskusi @Kelompok (Presenter Dan Audience): 1. Nama dan tugas anggota kelompok ketika presentasi 2. Nama dan uraian audience yang menanggapi 3. Nama & tanggapan dari presenter 4. Simpulan hasil diskusi 5. Nilai: Kelompok Presenter untuk Kelompok Audience dan sebaliknya Pelaksanaan Diskusi : 1 Pertemuan 1 kelompok presentasi Moderator dari kelompok lain Sesi1 : Kontrak Sesi 2 : Kelompok presenter membacakan poin makalah Sesi 3 : Tanya jawab Sesi 4 : Pembacaan Simpulan yang dibuat oleh kelompok presenter berdasarkan hasil diskusi. Kriteria Penilaian : 1. Makalah Kelompok Nilai Kelompok: Kesesuaian tema dg isi & pelaksanaan diskusi Nilai individu: Keaktifan ketika diskusi 2. TTS: Sesuai dengan materi dari dosen 3. TAS: Sesuai dengan materi dari dosen baik teori maupun analisis kasusnya Sistem Penilaian : Mengacu Buku Panduan Akademik 2006 hal 42 46 ------ < 30 PAP; > 30 PAN Kehadiran 75% dari 13 pertemuan (11 kelas, TTS, TAS) = 9 masuk kelas

Modul Human Relation

Pertemuan 1

Prosentase Penilaian: (Kehadiran 15%, Keaktifan di kls 20%, Makalah kelompok 20%, Keaktifan dlm diskusi kelompok 15%, TTS 15%%, TAS 15%)

Jadwal Perkuliahan : Tgl Pert Pokok Bahasan . 26 Ags 1 Kontrak Perkuliahan Pengertian human relation. 2 Sep 2 Persepsi interpersonal dalam human relation. Faktor-faktor konsep diri dalam human relations 9 Sep 3 Atraksi interpersonal dalam human relation. Hubungan interpersonal dalam human relation. 16 Sep 4 Sensasi dalam konteks human relation. Persepsi dalam konteks human relation. 23 Sep 5 Memori dalam konteks human relation. Berpikir dalam konteks human relation. 14 Okt 6 Proses berpikir sebagai dasar HR yang harmonis. Teknik-teknik human relation. 28 Okt 7 Evasi dan hambatan human relation 21 Okt 8 TTS 4 Nov/18 Nov/2 Des 16 Des Nov/11 9-12 Diskusi Nov/25 Des/9 13 TAS

Modul Human Relation

Pertemuan 1

Referensi : Alo Liliweri, Komunikasi Antarpribadi. Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi. Jalaluddin Rakhmad, Psikologi Komunikasi. Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. Onong Uchjana Effendy, Human Relation dan Public Relation

Modul Human Relation

Pertemuan 1

Pokok Bahasan 1. PENGERTIAN HUMAN RELATION Kompetensi Dasar Setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa dapat memahami konsep-konsep dasar Human Relation serta istilah-istilah terkait. Indikator Kompetensi 1. Menjelaskaan konsep-konsep dasar Human Relation. 2. Menjelaskaan pengertian istilah-istilah terkait dengan Human Relation. Ruang lingkup: 1. Pengertian Human Relation 2. Ruang Lingkup Human Relation 3. Sejarah Human Relation 4. Human Relation sebagai Kegiatan Komunikasi 5. Kunci Aktivitas Human Relation Prosedur Perkuliahan 1. Lecturing 2. Pre Test 3. Interaksi kelas Tugas yang harus ditempuh mahasiswa: Mencari ayat dalam Al Quran yang tafsirannya Human Relation. Sumber : 1. Onong, 1993: 40-52, 69-70; 2001: 138 2. Alo, 1997: 28, 42 Uraian Materi: PENGERTIAN HUMAN RELATION

Modul Human Relation

Pertemuan 1

Di negara-negara yang sudah maju human relations semakin mendapat perhatian karena semakin dirasakan pentingnya dalam rangka memecahkan berbagai masalah yang menyangkut faktor manusia dalam manajemen. Human relation juga dirasakan pentingnya oleh para manajer untuk menghilangkan luka-luka akibat salah komunikasi (mis-communication) dan salah interpretasi (mis-interpretation) yang terjadi antara manager beserta karyawannya dengan publik di luar organisasi. Tidaklah mudah untuk mencari sebuah perkataan dalam bahasa Indonesia yang benar-benar tepat sebagai terjemahan dari istilah human relation. Ada yang menerjemahkannya menjadi hubungan manusia dan ada pula yang mengalihbahasakannya menjadi hubungan antar manusia. Secara harfiah terjemahan tersebut mungkin tidak salah tetapi kedua-duanya tidak mengandung makna yang sebenarnya yang dikandung oleh human relation itu. Baik pada istilah hubungan manusia maupun hubungan antar manusia tidak terdapat ciri hakiki human relation. Ciri hakiki human relation bukan human dalam pengertian wujud manusia (human being) melainkan dalam makna proses rohaniah yang tertuju kepada kebahagiaan berdasarkan watak, sifat , perangai, kepribadian, sikap, tingkah laku dan lain-lain aspek kejiwaan yang terdapat pada diri manusia. Karena itu, terjemahan yang paling mendekati makna dan maksud human relation adalah hubungan manusiawi atau hubungan insani. Hubungan manusiawi adalah terjemahan dari human relation. Ada juga orang yang menerjemahkannya menjadi hubungan manusia dan hubungan antarmanusia, yang sebenarnya tidak terlalu salah karena yang berhubungan satu sama lain adalah manusia. Hanya saja, di sini sifat hubungan tidak seperti orang berkomunikasi biasa, bukan hanya merupakan
Modul Human Relation

Pertemuan 1

penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain, tetapi hubungan antara orang-orang yang berkomunikasi itu mengandung unsur-unsur kejiwaan yang amat mendalam. Ditinjau dari ilmu komunikasi, hubungan manusiawi itu termasuk ke dalam komunikasi antarpersona (interpersonal communication) sebab berlangsung pada umumnya antara dua orang secara dialogis. Dikatakan bahwa hubungan manusiawi itu komunikasi karena sifatnya action oriented, mengandung kegiatan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang. Komunikasi antar pribadi yang manusiawi berarti komunikasi yang telah memasuki tahap psikologis yang komunikator dan komunikannya saling memahami pikiran, perasaan dan melakukan tindakan bersama. Ini juga berarti bahwa apabila kita hendak menciptakan suatu komunikasi yang penuh dengan keakraban yang didahului oleh pertukaran informasi tentang identitas dan masalah pribadi yang bersifat sosial. Contoh berikut ini akan memperjelas pengertian human relation. Seorang karyawan sebuah perusahaan berkata kepada teman sekerjanya: Direktur kita itu adalah paman saya. Sang teman tersenyum. Antara si karyawan dengan direkturnya itu terdapat hubungan, baik hubungan keluarga maupun hubungan kerja. Dan hubungan itu adalah hubungan manusia atau hubungan antar manusia tetapi apa yang diucapkannya itu bukan human relation. Seorang ayah berkata kepada anaknya: Tolong bawa kacamataku kemari, nak. Si anak mengambilnya lalu menyerahkannya. Antara sang ayah dan si anak terdapat hubungan. Dan hubungan itu adalah hubungan manusia atau hubungan antar manusia tetapi bukan kegiatan human relation. Untuk memperoleh kejelasan mengenai yang mana hubungan manusia atau hubungan antar manusia dan yang mana human relation berikut ini adalah kisah singkat di sebuah rumah tangga sebagai contoh
Modul Human Relation

Pertemuan 1

sederhana. Seorang suami berkata kepada istrinya: Aku nanti pulang terlambat, bu. Jangan lupa si bungsu beri obet batuk. Jangan kawatir pak, dan jangan terlalu malam, jawab sang istri. Dialog singkat itu bukan human relation. Keesokan harinya ketika sang suami pulang kantor dan menyerahkan uan rapel kenaikan pangkat yang tidak kecil jumlahnya bagi mereka kepada istrinya, tampak ia amat gembira. Belikan kalung mas saja, ya pak, aku ingin sekali. Sejak menikah sampai punya anak tiga sekarang, kalungku hanya ini saja dari mas imitasi, kata istrinya memelas. Suaminya terdiam. Termenung sejenak. Lalu berkata: Bagaimana ya ..... Bukan aku tidak sayang padamu, bu. Tetapi aku rasa ada yang lebih penting dari itu. Bagaimana pendapatmu kalau rapel yang sekarang ini kita belikan kursi setelan untuk di kamar depan dan lemari pakaian. Kursi rotan kita itu sudah rusak dan pakaian selalu berserakan. Aku berjanji rapel yang akan datang akan kubelikan kalung mas untukmu. Atau siapa tahu kita dapat rezeki dalam waktu dekat. Akan kukabulkan keinginanmu itu. Bagaimana bu? Betul juga katamu itu, pak. Aku setuju sekali dengan gagasanmu itu, jawab istrinya dengan muka cerah. Dialog yang terakhir ini adalah human relation. Di sini terdapat kegiatan komunikatif-persuasif-sugestif dan kedua pihak merasa hatinya puas yang merupakan aspek-aspek manusiawi dari human relation. Atas dasar itu maka human relation akan lebih mendekati ketepatan apabila diterjemahkan menjadi hubungan manusiawi daripada hubungan manusia dan hubungan antar manusia. Dari paparan di atas jelas bahwa human relation bersifat action oriented bukan hanya hubungan yang pasif dan yang dituju adalah kepuasan batin. Karena itu human relation banyak diterapkan dalam manajemen. RUANG LINGKUP HUMAN RELATION

Modul Human Relation

10

Pertemuan 1

Ada dua pengertian hubungan manusiawi, yakni hubungan manusiawi dalam arti luas dan hubungan manusiawi dalam arti sempit. a. Hubungan manusiawi dalam arti luas Hubungan manusiawi dalam arti luas ialah interaksi antara seseorang dengan orang lain dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan. Jadi, hubungan manusiawi dilakukan dimana saja: di rumah, di jalan, dalam bis, dalam kereta api, dan sebagainya. Berhasilnya seseorang dalam melakukan hubungan manusiawi ialah karena ia bersifat manusiawi: ramah, sopan, hormat, menaruh penghargaan, dan lainlain sikap yang bernilai luhur. Bahwa manusia harus bersikap demikian sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa sebab secara kodratiyah, selain homo sapiens sebagai makhluk berpikir yang membedakannya dnegan hewan, manusia juga merupakan homo socius, makhluk bermasyarakat. Tidak mungkin ia hidup tanpa orang lain. Dan sebagai makhluk sosial, ia harus berusaha menciptakan keserasian dan keselarasan dengan lingkungannya. Sebagai anggota masyarakat, manusia hidup dalam dua jenis pergaulan yang oleh Ferdinand Tonnies disebut Gemeinschaft dan Gesellschaft. Dalam Gemeinschaft seseorang bergaul dalam suatu kehidupan yang sangat akrab, sedemikian akrabnya sehingga penderitaan atau kebahagiaan yang dialami oleh orang lain dirasakan olehnya seperti penderitaan atau kebahagiaannya sendiri. Kehidupan keluarga atau kehidupan berteman yang sangat akrab termasuk ke dalam Gemeinschaft. Ciri lain dari Gemeinschaft ialah bahwa seorang anggota Gemeinschaft tidak bisa keluar masuk masyarakat itu menurut kemauannya saja. Seorang ayah, umpamanya, walau apapun yang terjadi, tetap ayah dari anak-anaknya. Ia tidak bisa membebaskan diri dari status ayah itu. Sifat pergaulan hidup Gemeinschaft ialah statis-pribadi-tak rasional. Dikatakan statis karena pergaulan hidup dalam masyarakat demikian tidak banyak mengalami
Modul Human Relation

11

Pertemuan 1

perubahan. Interaksi yang terjadi dalam suatu rumah tangga setiap hari antara ayah, ibu, dan anak tidak mengalami dinamika. Sifatnya pribadi (personal). Jika terjadi perselisihan, dapat diselesaikan dengan segera. Tidak rasional maksudnya tidak ada tata cara yang mengatur pergaulannya. Lain sekali dengan pergaulan hidup dalam Gesellschaft, yakni kehidupan dalam suatu organisasi yang sifatnya dinamis, tidak pribadi dan rasional. Dinamis artinya hubunganya dengan orang banyak bergantian. Tidak pribadi artinya tidak akrab sehingga jika terjadi benturan psikologis, tidak mudah menyelesaikannya. Rasional artinya ada aturan-aturan ketat yang mengikat. Dalam Gesellschaft orang bergaul berdasarkan perhitungan untung rugi. Seseorang baru memasuki pergaulan hidup Gesellschaft apabila diperkirakan ada keuntungan baginya. Ia juga bebas masuk dan keluar dari Gesellschaft sesuai dengan ada tidaknya pamrih padanya. Akan tetapi pergaulan hidup seperti yang dikemukakan Ferdinand Tonnies itu sebenarnya hanyalah tipe-tipe ideal. Pada kenyataannya tipe-tipe ekstrem 100% tidaklah mutlak ada, yang ada hanyalah tekanan atau titik berat pada salah satu dari jenis pergaulan hidup itu. Artinya: jika titik beratnya rasio, dinamakan Gesellschaft; jika titik beratnya perasaan, dinamakan Gemeinschaft. Dalam Gesellschaft tujuan pergaulan lebih banyak ditekankan pada keuntungan; dalam Gemeinschaft untuk mendapat hubungan kekeluargaan atau kekerabatan. Kalaupun dalam Gemeinschaft ada keuntungan yang dapat diperoleh, keuntungan itu datang dengan sendirinya; dalam Gesellschaft datang karena kewajiban yang dipaksakan dari luar. Dalam Gemeinschaft kewajiban datang bukan dari luar, melainkan dari dalam diri pribadi. Apa pun sifat pergaulan itu, apakah Gemeinschaft atau Gesellschaft, tujuan hubungan manusiawi adalah pemusatan hati masingmasing yang terlibat dalam kegiatan itu.

Modul Human Relation

12

Pertemuan 1

Eduard C. Lindeman dalam bukunya yang terkenal, The Democratic Way of Life, mengatakan bahwa Hubungan manusiawi adalah komunikasi antar persona (interpersonal communication) untuk membuat orang lain mengerti dan menaruh simpati. Orang akan menaruh simpati jika dirinya dihargai. Dalam hubungan ini William James, seorang ahli ilmu jiwa dari Harvard University, Amerika Serikat mengatakan bahwa tiap manusia dalam hati kecilnya ingin dihormati dan dihargai. Dalam pada itu, Keith Davis mengatakan bahwa human dignity (harga diri) merupakan etika dan dasar moral bagi hubungan manusiawi. Hasil penyelidikan mengenai personal wants (keinginan pribadi) telah menunjukkan bahwa tiap manusia ingin diperlakukan sebagai human being (manusia) dengan respect (kehormatan) dan dignity (penghargaan). Agar seseorang merasa bahwa dirinya dihargai sebagai layaknya manusia dapat ditunjukkan dengan berbagai cara bergantung pada situasi, kondisi, dan tujuan dilakukannya human relations itu. b. Hubungan manusiawi dalam arti sempit Hubungan manusiawi dalam arti sempit adalah juga interaksi antara seseorang dengan orang lain. Akan tetapi interaksi di sini hanyalah dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan (work organization). Dipandang dari sudut pemimpin yang bertanggung jawab untuk memimpin suatu kelompok, hubungan manusiawi adalah interaksi orang-orang yang menuju satu situasi kerja yang memotivasikan mereka untuk bekerja sama secara produktif dengan perasaan puas, baik ekonomis, psikologis, maupun sosial. Demikian kata Keith Davis dalam bukunya, Human Relations at Work. Dikatakan oleh Keith Davis selanjutnya bahwa hubungan manusiawi adalah seni dan ilmu pengetahuan terapan (applied arts and science). Jelas bahwa ciri khas hubungan manusiawi adalah interaksi atau komunikasi antarpersona yang sifatnya manusiawi. Karena manusia yang berinteraksi itu terdiri
Modul Human Relation

13

Pertemuan 1

atas jasmani dan rohani yang berakal dan berbudi yang selain merupakan makhluk pribadi juga makhluk sosial maka dalam melakukan hubungan manusiawi kita harus memperhitungkan diri manusia dengan segala kompleksitasnya itu. Seperti telah disinggung di muka, dalam organisasi kekaryaan manusia merupakan strategic component karena mempunyai peranan yang sangat penting. Organisasi kekaryaan dewasa ini cenderung menganut filsafat yang people centered yakni bahwa dalam organisasi kekaryaan manusia bukan pelaksanaan atau alat produksi belaka melainkan merupakan faktor pendorong dalam mencapai tujuan. Hubungan manusiawi dalam organisasi kekaryaan inilah yang banyak dipelajari, diteliti dan dipraktekkan di negara-negara yang sudah maju sebab faktor manusia ini sangat berpengaruh pada usaha mencapai tujuan organisasi: dapat memperlancar, dapat juga menghambat. Dengan hubungan manusiawi, para pemimpin organisasi dapat memecahkan masalah yang timbul dalam situasi kerja karena faktor manusia, bahkan selanjutnya dapat menggairahkan dan menggerakkannya ke arah yang lebih produktif. SEJARAH HUMAN RELATION Menurut Jack Hallowan dalam bukunya Apllied Human Relation, An Organizational Approach, meskpun tidak dapat ditentukan tanggal berapa gerakan human relation dimulai namun tahunnya dapat disebutkan yakni sekitar tahun 1850 ketika perhatian banyak ditumpahkan kepada kebutuhan para pekerja dan tatkala disadari bagaimana kebutuhan tersebut mempengaruhi keseluruhan produktivitas. Sebelumnya para manajer memandang para pekerja sebagai komoditi untuk dijual dan dibeli seperti komoditi lainnya. Bekerja sehari-harian yang teramat lama dengan upah yang rendah serta kondisi kerja yang menyedihkan merupakan kenyataan bagi kehidupan rata-rata pekerja. Persatuan kaum buruh
Modul Human Relation

14

Pertemuan 1

masih berjuang untuk dapat berdiri dan masih belum dapat memenangkan hak untuk mewakili kekuatan kaum buruh. Kemudian pada tahun-tahun di sekitar peralihan abad muncul Frederick Taylor dengan teorinya yang terkenal dengan apa yang dinamakan scientific management. Teori ini menyatakan bahwa produktivitas yang lebih besar akan dapat diperoleh dengan memerinci tugas-tugas secara khusus. Tujuan utama dari scientific management tersebut menurut Taylor adalah untuk menghilangkan antagonisme antara majikan dan bawahannya. Dia merasa yakin bahwa apabila para pengusaha dan para pekerjanya bersama-sama mengkonsentrasikan dirinya pada metode untuk meningkatkan produksi dan bersamasama menumpahkan perhatian terhadap peningkatan, bukannya mempersoalkan pembagian surplus maka surplus tersebut akan menjadi sedemikian besarnya sehingga tidak akan menimbulkan konflik mengenai bagaimana membaginya karena sudah lebih dari cukup. Teori Taylor ini ternyata mendapat kecaman juga yakni bahwa manajemen ilmiah tersebut cenderung untuk lebih mengeksploitasi para pekerja daripada memberikan keuntungan kepadanya. Dikatakan bahwa teori tersebut menitikberatkan kontrol dan disiplin pada pengrusakan morale atau daya juang para pekerja. Si pencipta scientific management itu dituduh menganggap para pekerja semata-mata alat ekonomi, dipisahkan, hampir-hampir mekanik dan merupakan bagian dari proses produksi bukan sebagai manusia dengan kebutuhannya. Lepas dari banyaknya kecaman tersebut, pengenalan scientific management itu telah meluas pula ke kalangan industriawan dan para manager. Dengan menyebarnya teknik-teknik manajemen ilmiah itu dalam rangka meningkatkan penentuan tugas dan produser penempatan para pekerja para usahawan dan industriawan menyadari bahwa kemampuan para pekerja secara individual adalah unik.
Modul Human Relation

15

Pertemuan 1

Pada tahun 1920 citra para pekerja telah berubah banyak dibandingkan dengan tahun-tahun pada waktu peralihan abad. Pandangan baru menyatakan bahwa semua pekerja adalah manusia-manusia yang komplek dan unik yakni bahwa ketrampilan dan kemampuannya secara individual dapat diukur, diuji dan dilatih. Seorang pekerja secara individual dapat dianggap sebagai perpaduan dari berbagai sifat, sifat yang dapat diukur secara cermat dan dikembangkan dengan latihan yang tepat. Selama dekade ini para manajer menjadi percaya bahwa testing dapat memecahkan, jika tidak seluruh masalah, setidak-tidaknya penentuan tugas, penempatan dan kenaikan pangkat. Pada waktu yang sama ketika citra baru dari para pekerja berkenan di hati para manajer, serikat buruh menjadi semakin kuat. Antara tahun 1897 dan 1904 di Amerika Serikat keanggotaan serikat buruh meningkat dari 400.000 menjadi 2 juta. Dan pada tahun 1920 serikat-serikat buruh di seluruh negeri telah mendapat pengakuan dari para industriawan beserta para manajernya. Perkembangan yang terpisah, teknik-teknik manajemen ilmiah, perjuangan pemimpin-pemimpin serikat buruh, dan teknologi yang berubah cepat, kesemuanya menuju kepada pengakuan bahwa seorang pekerja adalah manusia dengan segala kebutuhannya. Ketiga perkembangan tersebut juga menyebabkan para manajer mengkaji kembali citranya masing-masing. Mereka menilik diri dan mulai mempertanyakan kearifannya mengenai pandangan-pandangan yang tradisional terhadap gaya kepemimpinan dan pengambilan keputusannya. Pada pertengahan tahun 1920 titik vokal dari pendekatan humanistik dalam bisnis dan industri adalah Studi Hawthorne yang sangat terkenal yang dilakukan oelh Elton Mayo dan kawan-kawannya pada National Research Council yang bekerjasama dengan Massachusetts Institute of Technology. Regu Mayo ini memulai studinya mengenai efek penerangan lampu,
Modul Human Relation

16

Pertemuan 1

ventilasi dan kepenatan para pekerja Hawthorne Plant of Western Electric. Setelah eksperimen yang berlangsung selama beberapa tahun itu selesai, menjadi jelas bagi para peneliti bagaimana pentingnya faktor-faktor morale atau daya juang kelompok dan motivasi pribadi. Sebagai kesimpulan, studi Hawthorne itu menunjukkan bahwa dengan pengukuran secara kuantitatif, interaksi normal dari para pekerja yang sedang melakukan tugasnya selamanya menciptakan suatu jaringan sosial yang dinamakan organisasi informal yang amat besar pengaruhnya terhadap pola tingkah laku para pekerja. Sejak itu bagi manajemen, sudah tidak mungkin lagi memandang para pekerja semata-mata sebagai alat ekonomi atau sebagai unit yang terpisahkan dari proses produksi. Mereka harus dilihat sebagai manusia yang kompleks yang interaksinya berpengaruh terhadap hasil produksi secara keseluruhan tanpa mempersoalkan proses teknologi yang rumit. Perhatian dan minat terhadap human relation itu pernah menurun di sekitar tahun 1930-an selama berlangsungnya depresi di Amerika Serikat. Tetapi pada tahun-tahun Perang Dunia II dan sesudahnya para industriawan dan usahawan telah menunjukkan pengertian yang lebih mendalam terhadap hubungan antara produktivitas dan kepuasan hati para pekerja. Sejak itu amat banyak studi yang dilakukan dan diterbitkan oleh para teoritisi bisnis dan ilmuwan sosial. Menurut Jack Hallowan, dua di antaranya yang dianggap paling penting adalah karya McGregor mengenai teori management tradisional yang ia namakan Theory X sebagai lawan dari pendekatan humanistik yang disebut Theory Y dan studi Abraham Maslow mengenai jenjang kebutuhan manusia (hierarchy of human needs). Kontribusi kepada disiplin ilmu yang cepat berkembang itu mengalami peningkatan selama tahun 1940-an dan 1950-an. Berbagai studi dilakukan, di antaranya oleh para psikolog seperti Carl Rogers dan Kurt Lewin; para sosiolog Daniel Bell dan C.Wright Mills; dan
Modul Human Relation

17

Pertemuan 1

para manajer organisasi-organisasi besar antara lain Chester I. Barnard. Pada tahun 1960-an dan 1970-an para usahawan di berbagai negara maju telah menunjukkan penilaiannya bagaimana pentingnya kontribusi secara teoritis dan eksperimental tersebut. KUNCI AKTIVITAS HUMAN RELATION Human relation adalah suatu komunikasi persuaasif, bukan hanya sekedar relasi atau hubungan saja. Jadi human relationbukan suatu keadaan yang pasif melainkan suatu aktifitas, suatu action oriented. Suatu kegiatan untuk mengembangkan hasil yang lebih produktif dan memuaskan. Karena itu human relation adalah seni dan ilmu pengetahuan terapan (applied art and science). Kunci aktivitas human relation adalah motivasi. Motivasi berbeda dengan motif. Motif adalah kondisi seseorang yang mendorong untuk mencari suatu kepuasan atau mencapai suatu tujuan. Motif adalah daya gerak yang mendorong seseorang berbuat sesuatu. Motivasi adalah kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki. Motivasi berarti membangkitkan motif. Seseorang melaksanakan kecakapannya karena ada motif. Kalau motif itu tidak timbul, belum tentu ia berbuat sesuatu melaksanakan kecakapannya meskipun ia sanggup berbuat demikian.

Modul Human Relation

18